• Fri. Nov 27th, 2020

aslibumiayu.net

Bisa Karena Terbiasa

Di Mana Allah Sebelum Arsy Diciptakan ?

Di Mana Allah sebelum Menciptakan Arsy?

Mereka yang tidak meyakini bahwa Allah memiliki sifat uluw (tinggi) dan istiwa’ (bersemayam), dengan akal-akalan mereka akan bertanya kepada kita “kalau Allah istiwa’ di atas Arsy lalu sebelum Allah ciptakan Arsy Allah ada di mana?” Bahkan mereka anggap pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang mematikan yang akan membungkam Ahlus Sunnah yang asli.

Untuk menjawab syubhat mereka, maka perlu dijelaskan tentang perbedaan sifat uluw (tinggi) dan istiwa’ (bersemayam) di atas Arsy. Syaikh Dr. Muhammad bin Musa aalu Nashr berkata: ” dan perbedaan antara dua sifat uluw dan istiwa’ ada 3 sisi:

1. Sesungguhnya al-istiwa’ adalah ketinggian khusus di atas Arsy.

Adapun Al-uluw maaka. Dia umum di atas seluruh makhluk-Nya. Atas dasar itu maka tidak boleh dikatakan: “Allah bersemayam di atas makhluk-Nya, atau istawa’ di atas langit, akan tetapi dia istawa’ di atas Arsy secara khusus.

2. Sesungguhnya Al-uluw adalah sifat dzatiyyah, adapun istiwa’ adalah sifat fi’liyah (perbuatan) ikhtiyariyyah (sesuai dengan keinginan) yang berkaitan dengan masyi’ah (kehendak).

Maka uluw (ketinggian) Allah adalah sifat yang lazim (terus-menerus) sedangkan istiwa’ adalah perbuatan dari perbuatan-perbuatannya. (Artinya perbuatan tersebut dilakukan atau tidak dilakukan sesuai dengan kehendak Allah)

3. Sesungguhnya Al-uluw adalah sifat yang di tunjukkan oleh akal, Fitroh, bersama dengan dalil naql dari Qur’an dan Hadits.

Adapun istiwa’ maka dia adalah sifat khobariyyah saja, tidak di tunjukkan kecuali dari kabar dan naql seperti sifat Nuzul (turun) dan datangnya Allah. (Artinya sifat khobariyyah kalaulah tidak ada dalil dari Al-Qur’an dan hadits tentu kita tidak bisa menetapkannya, kita tidak tahu sifat istiwa’, Nuzul, maji’ kecuali karena ada Nash yang menjelaskan demikian.)

Sungguh Allah telah bersemayam di atas Arsy setelah menciptakan langit dan bumi sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya Rabb kalian Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari kemudian dia bersemayam di atas Arsy” al-A’raf: 54, yunus: 3. Kata (ثم) disini menunjukkan tertib zaman bukan sebatas athof (penggabungan saja) sebagaimana orang yang mentafsirkan istiwa’ dalam ayat dengan kekuatan dan kemenangan.

Dan tidak harus dipahami bahwa tidak istiwa’ nya Allah di atas Arsy sebelum menciptakan langit dan bumi menunjukkan tidak tingginya Allah. Bahkan dia maha tinggi (‘aali) -jalla jalaaluhu- kemudian setelah menciptakan langit dan bumi Ia maha tinggi dengan ketinggian yang khusus di atas Arsy yaitu istiwa’. (Al-Intishor bisyarh aqidati aimmatil amshor, hal 170)

Jadi kesimpulannya bahwa sebelum Allah menciptakan Arsy Allah maha tinggi (Al-aliy) dan berada di atas ketinggian.

Dika Wahyudi Lc.

Sumber : https://web.facebook.com/mahadarrisalahkarawang/photos/a.1794411547521011/2360604097568417/

Penjelasan para ulama ahlusunnah tentang istiwa bisa dibaca di sini

Print Friendly, PDF & Email