• Sat. Nov 28th, 2020

aslibumiayu.net

Bisa Karena Terbiasa

Kalau Bumi Bulat Allah Di Atas Sebelah Mana..?

Syubhat: “Kalau Bumi Bulat dan Allah di Atas maka Atas itu sebelah mana?

Pertanyaan tersebut bersumber dari kesalahan mereka yang terus berulang dalam memahami ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat Allah. Yaitu mereka mengqiyaskan apa yang ada pada mahkluk dengan Allah ta’ala.
Hal ini sama saja dengan mereka mentasybih (menyerupakan) Allah ta’ala dengan makhluk-nya terlebih dahulu, setelah itu baru mereka menta’thil (membatalkan/menolak) sifat-sifat tersebut.
Tiap kali akal mereka yang dangkal belum sampai kepada tujuan, mereka langsung menolak ayat dan hadits yang hakikatnya tidak bertentangan dengan akal sehat manusia. Sehingga sudah bisa di pastikan akal merekalah yang sakit.
Jawaban dari pertanyaan tersebut terangkum dalam beberapa point berikut ini:
[1]. falak (orbit langit) bentuknya bulat seperti bola yang mengelilingi bumi. Arah/jihat bagi bola hanya ada dua: [1] atas, yaitu kulit yang mengelilingi seluruh bagian dan [2] bawah, yaitu inti dari bola bagian dalamnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata:
فَمِنْ الْمَعْلُومِ بِاتِّفَاقِ مَنْ يَعْلَمُ هَذَا أَنَّ الْأَفْلَاكَ مُسْتَدِيرَةٌ كُرَوِيَّةُ الشَّكْلِ وَأَنَّ الْجِهَةَ الْعُلْيَا هِيَ جِهَةُ الْمُحِيطِ وَهِيَ الْمُحَدَّبُ وَأَنَّ الْجِهَةَ السُّفْلَى هُوَ الْمَرْكَزُ وَلَيْسَ لِلْأَفْلَاكِ إلَّا جِهَتَانِ الْعُلُوُّ وَالسُّفْلُ فَقَطْ
“Di antara perkara yang sudah disepakati bagi orang yang mengetahui hal ini bahwa falak-falak ini bulat seperti bentuk bola.
Dan sesungguhnya sisi atasnya adalah sisi yang meliputi seluruh bagian bola dan dialah bagian yang cembung. Dan sisi bawahnya yaitu bagian dalam intinya. Tidaklah falak memiliki sisi kecuali bagian atas dan bawah saja. [Majmu’ Fatawa, VI/565]
[2]. kalau dimungkinkan dua buah batu dari belahan bumi yang berbeda di lempar ke dalam lubang ke dalam inti bumi, pasti akan bertemu di inti bumi dan itulah bagian paling bawah.
Demikian juga jika dua orang di lempar ke inti bumi dari dua belahan bumi yang berbeda niscaya kedua kaki mereka akan bertemu, tidak bisa dikatakan si A berada di bawah B dan sebaliknya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata:
وَ”أَهْلُ الْهَيْئَةِ” يَقُولُونَ: لَوْ أَنَّ الْأَرْضَ مَخْرُوقَةٌ إلَى نَاحِيَةِ أَرْجُلِنَا وَأُلْقِيَ فِي الْخَرْقِ شَيْءٌ ثَقِيلٌ – كَالْحَجَرِ وَنَحْوِهِ – لَكَانَ يَنْتَهِي إلَى الْمَرْكَزِ حَتَّى لَوْ أُلْقِيَ مِنْ تِلْكَ النَّاحِيَةِ حَجَرٌ آخَرُ لَالْتَقَيَا جَمِيعًا فِي الْمَرْكَزِ وَلَوْ قُدِّرَ أَنَّ إنْسَانَيْنِ الْتَقَيَا فِي الْمَرْكَزِ بَدَلَ الْحَجَرَيْنِ لَالْتَقَتْ رِجْلَاهُمَا وَلَمْ يَكُنْ أَحَدُهُمَا تَحْتَ صَاحِبِهِ؛ بَلْ كِلَاهُمَا فَوْقَ الْمَرْكَزِ وَكِلَاهُمَا تَحْتَ الْفَلَكِ
“Dan Ahli astronomi mengatakan: “kalau sekiranya bumi dilubangi di bawah kaki kita dan dilemparkan ke dalam lubang itu sesuatu yang berat seperti batu dan semisalnya, pastilah akan sampai ke inti bumi walaupun dilempar dari sisi bumi yang lain batu yang lain niscaya akan bertemu di inti bumi (inilah bagian bawah bumi, pent.).
Kalaulah dianggap mungkin dua orang manusia bertemu di inti bumi sebagai ganti dari dua batu tersebut, niscaya kedua kaki mereka akan bertemu, tidaklah dikatakan bahwa salah seorangnya berada di bawah orang lainnya, akan tetapi keduanya berada di atas inti bumi, dan keduanya berada di bawah falak” [Majmu’ Fatawa, VI/568]
[3]. apabila semut menempel di atap (langit-langit) rumah dan kakinya berada di atas, tidak bisa kita mengatakan semut menghadap ke atas, tapi kita sebut semut menghadap ke bawah. Demikian kalau ada orang yang digantung terbalik, kita pasti mengatakan ia menghadap ke bawah, bukan ke atas.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata:
كَمَا لَوْ كَانَتْ نَمْلَةٌ تَمْشِي تَحْتَ سَقْفٍ فَالسَّقْفُ فَوْقَهَا وَإِنْ كَانَتْ رِجْلَاهَا تُحَاذِيه. وَكَذَلِكَ مَنْ عُلِّقَ مَنْكُوسًا فَإِنَّهُ تَحْتَ السَّمَاءِ وَإِنْ كَانَتْ رِجْلَاهُ تَلِي السَّمَاءَ
“Sebagaimana kalau seekor semut berjalan di bawah langit-langit rumah, maka langit-langit tetap dikatakan berada di atasnya walaupun kaki-kakinya menghadap (membawahi) langit-langit.
Demikian juga kalau ada orang digantung terbalik, sesungguhnya dia berada di bawah langit walaupun kedua kakinya menghadap langit” [Majmu’ Fatawa, VI/566]
4. apabila ada benda yang naik atau terbang maka naik adalah ke arah atas kepala mereka.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata:
فَلَوْ قُدِّرَ رَجُلٌ أَوْ مَلَكٌ يَصْعَدُ إلَى السَّمَاءِ أَوْ إلَى مَا فَوْقَ: كَانَ صُعُودُهُ مِمَّا يَلِي رَأْسَهُ أَقْرَبَ إذَا أَمْكَنَهُ ذَلِكَ وَلَا يَقُولُ عَاقِلٌ إنَّهُ يَخْرِقُ الْأَرْضَ ثُمَّ يَصْعَدُ مِنْ تِلْكَ النَّاحِيَةِ وَلَا أَنَّهُ يَذْهَبُ يَمِينًا أَوْ شِمَالًا أَوْ أَمَامًا أَوْ خَلْفًا إلَى حَيْثُ أَمْكَنَ مِنْ الْأَرْضِ ثُمَّ يَصْعَدُ
“Kalau dianggap bisa seorang manusia ataupun malaikat naik ke langit atau naik ke atas. Maka naiknya tersebut ke arah atas kepalanya itu lebih dekat apabila dia mungkin untuk terbang. Tidaklah seorang berakal mengatakan bahwa ia menggali bumi kemudian naik ke atas dari sisi bumi lainnya.
Dan bukan juga ia pergi ke kanan atau kekiri atau ke depan atau kebelakang kemana saja ia bisa terbang, kemudian baru naik ke atas.” [Majmu’ Fatawa, VI/568-569]
[5]. Apabila seorang menghadap matahari dan bulan, maka ia akan menghadap arah atas di belahan bumi manapun.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata:
وَلَوْ أَنَّ رَجُلًا أَرَادَ أَنْ يُخَاطِبَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ فَإِنَّهُ لَا يُخَاطِبُهُ إلَّا مِنْ الْجِهَةِ الْعُلْيَا مَعَ أَنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ قَدْ تُشْرِقُ وَقَدْ تَغْرُبُ؛ فَتَنْحَرِفُ عَنْ سَمْتِ الرَّأْسِ فَكَيْفَ بِمَنْ هُوَ فَوْقَ كُلِّ شَيْءٍ دَائِمًا لَا يَأْفُلُ وَلَا يَغِيبُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالى؟
“Kalau ada seseorang ingin berbicara dengan matahari dan bulan, sesungguhnya dia tidak berbicara kecuali dari arah atasnya, padahal matahari dan bulan terbit dan juga terbenam (di belahan bumi lainnya) ia bergerak dari arah kepala.
Lalu bagaimana dengan Dzat yang terus menerus di atas segala sesuatu tidak terbenam dan tidak hilang -subhanahu wa ta’ala-? [Majmu’ Fatawa, VI/569]
[6]. apabila mereka masih ngeyel dengan mengatakan: “kalau begitu boleh dong kita berdoa dan munajat kepada Allah menghadap ke bawah, karena hakikatnya Allah juga berada di atas di belahan bumi di bawah kita”
Kita jawab: “ini jelas menyelisihi fitroh, karena:
[Pertama]: Permisalan tersebut seperti orang yang pergi haji ke mekah dari maghrib kemudian dia pergi ke khurosan kemudian pergi ke mekah.
[Kedua]: Seperti orang yang terbang ke langit, kemudian turun ke bumi menembus bumi bagian lain, lalu terbang ke atas. Inipun kalau memungkinkan seorang menembus bumi.
[Ketiga]: Seperti orang yang memanggil orang lain di atas gunung, akan tetapi ia menghadap ke kanan, atau ke kiri, atau membelakangi orang tersebut, bukan menghadap langsung orang yang di atas gunung.
[Keempat]: Seorang yang menginginkan bertemu orang lain ia akan menemuinya dengan jalan yang paling dekat dengan jalan yang lurus . Bukan malah berputar jauh.
Lihat majmu’ fatawa (VI/569-571)
[7]. Arsy adalah atap seluruh makhluk dan berada di atas semua makhluk dan hal ini juga di sepakati oleh asyariyyah.
Tidak ada yang mengatakan bahwa asry berada di bawah orang di belahan bumi barat dan di atas orang belahan bumi timur.
Allah berfirman:
وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ، ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ
“Dan Dialah Dzat yang maha pengampun dan penyayang, yang memiliki Arsy yang agung” QS. al-Buruj: 14-15
قال ابن كثير رحمه الله: «وهو رب العرش العظيم: أي هو مالك كل شيء وخالقه، لأنه رب العرش العظيم الذي هو سقف المخلوقات، وجميع الخلائق من السماوات والأرضين وما فيها وما بينهما تحت العرش مقهورين بقدرة الله تعالى، وعلمه محيط بكل شيء، وقدره نافذ في كل شيء، وهو على كل شيء وكيل
Berkata Imam Ibnu Katsir -rahimahullah- dan Dialah robbul Arsy yang agung, yaitu dialah pemilik segala sesuatu dan penciptanya, karena ia adalah Robb (pemilik) Arsy yang agung, yang Arsy merupakan atap bagi seluruh makhluk.
Seluruh makhluk berupa langit, bumi, apa yang ada di dalamnya dan di antara keduanya semuanya di bawah Arsy, mereka tunduk dalam kekuasaan Allah. Dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Keputusannya berlaku kepada segala sesuatu. Dan Ia adalah pelindung bagi segala sesuatu.
Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:
إِنَّ الله عَلَى عَرْشِهِ وَ إِنَّ عَرْشَهُ عَلَى سَمَوَاتِهِ وَ أَرْضِهِ كَهَكَذَا وَ قَالَ بِأَصَابِعِهِ مِثْلَ اْلقُبَّة
“Sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy-Nya dan Arsy-Nya di atas langit-langit dan bumi, seperti begini dan beliau memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti kubah” HR Ibnu Abi Ashim dalam As-sunnah 1/252
[8]. bumi sangatlah kecil dibandingkan langit apalagi arsy, lalu bagaimana dengan besarnya Allah yang meliputi segala sesuatu.
Perbandingan bumi dibandingkan Arsy saja sangatlah kecil sekali. Maka bumi bagi Allah lebih kecil lagi. Allah berfirman:
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.
Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. Surat Az-Zumar, Ayat 67
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Perumpamaan langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi seperti cincin yang dilemparkan di padang sahara yang luas, dan keunggulan ‘Arsy atas Kursi seperti keunggulan padang sahara yang luas itu atas cincin tersebut.”
lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (I/223 no. 109).
Justru akal merekalah yang menolak Allah berada di atas yang tidak mengagungkan Allah dengan sebenarnya, mengqiyaskan Allah dengan makhluk-nya yang kecil dan terbatas pada arah dan sisi tertentu dalam alam semesta.
Arsy yang begitu besar merupakan atap bagi seluruh makhluk dan dia berada di atas seluruh makhluk dari segala sisinya, belahan barat, timur, selatan, Utara, semuanya dinaungi oleh Arsy di atas makhluk tersebut.
Kalau Arsy saja bisa meliputi seluruh makhluk yang ada di bawahnya, bagaimana dengan Allah ta’ala yang memiliki nama dan sifat (المحيط/Yang Maha Meliputi). ولله المثل الأعلى
[9]. Enam arah yang dinafikan bagi Allah adalah arah bagi makhluk yang bersifat nisbi, sedangkan uluw bagi Allah adalah uluw muthlak yaitu ketinggian di atas seluruh makhluk yaitu di luar makhluk dan alam semesta.
[Enam arah adalah nisbi]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata:
وَأَمَّا الْجِهَاتُ السِّتُّ فَهِيَ لِلْحَيَوَانِ فَإِنَّ لَهُ سِتَّ جَوَانِبَ يَؤُمُّ جِهَةً فَتَكُونُ أَمَامَهُ وَيُخْلِفُ أُخْرَى فَتَكُونُ خَلْفَهُ وَجِهَةٌ تُحَاذِي يَمِينَهُ وَجِهَةٌ تُحَاذِي شِمَالَهُ وَجِهَةٌ تُحَاذِي رَأْسَهُ؛ وَجِهَةٌ تُحَاذِي رِجْلَيْهِ وَلَيْسَ لِهَذِهِ الْجِهَاتِ السِّتِّ فِي نَفْسِهَا صِفَةٌ لَازِمَةٌ؛ بَلْ هِيَ بِحَسَبِ النِّسْبَةِ وَالْإِضَافَةِ فَيَكُونُ يَمِينُ هَذَا مَا يَكُونُ شِمَالُ هَذَا وَيَكُونُ أَمَامَ هَذَا مَا يَكُونُ خَلْفَ هَذَا وَيَكُونُ فَوْقَ هَذَا مَا يَكُونُ تَحْتَ هَذَا. لَكِنَّ جِهَةَ الْعُلُوِّ وَالسُّفْلِ لِلْأَفْلَاكِ لَا تَتَغَيَّرُ فَالْمُحِيطُ هُوَ الْعُلُوُّ وَالْمَرْكَزُ هُوَ السُّفْلُ (565)
“Adapun arah yang enam maka ia untuk makhluk hidup, sesungguhnya bagi mereka ada enam sisi. Ia menghada suatu arah maka itu adalah depannya. Ia membelakangi suatu arah maka itu adalah belakangnya, dan sisi yang sejajar dengan kanannya, sisi yang sejajar dengan kirinya, sisi yang searah dengan kepalanya, dan sisi yang searah dengan kedua kakinya.
Dan bukanlah enam arah ini merupakan sifat yang lazim (pasti tidak berubah) akan tetapi tergantung nisbah dan penyandaran. Maka ia adalah sebelah kanan benda ini bukan sebelah kirinya. Ia di depan benda ini bukan di belakangnya, di atas benda ini bukan di bawahnya.
AKAN TETAPI KETINGGIAN/ATAS DAN BAWAH BAGI FALAK TIDAKLAH BERUBAH. MAKA YANG MELIPUTI DIALAH YANG ATAS DAN YANG INTI DIALAH YANG BAWAH” [Majmu’ Fatawa, VI/565]
Kanan sebagai contoh, maka kanan tersebut tidak bersifat mutlak, tapi nisbi kepada suatu dzat tertentu atau benda.
Kursi yang ada di sebelah kanan anda, bukan berarti kursi berada di sebelah kanan dari segala sesuatu. Apabila ada lagi benda di sebelah kanan kursi, sepeda misalnya, maka sepeda adalah kanannya kursi, bahkan kursi ditinjau dari sepeda menjadi sebelah kiri. Inilah maksud arah yang enam, dalam alam semesta disebut nisbi.
Contoh lain: atas, ketika anda berada di lantai dasar, maka teman anda si A yang di lantai dua dia berada di atas anda, teman anda di B yang berada di lantai 3 berada lebih atas, sehingga si A menjadi arah bawah bila dilihat dari lantai 3 tempat si B berada. Sehingga tidak bisa kita mengatakan bahwa si A berada di atas muthlak (di atas segala sesuatu)
Demikian pula orang yang berada di kutub Utara maka bagian atasnya adalah bagian bawah bagi orang yang berada di kutub selatan, dan sebaliknya. Ini semua nisbi ketika berlaku antar makhluk.
[Uluw muthlaq]
Yang muthlak hanya satu yaitu ketinggian Allah -azza wa jalla-
Yaitu ketinggian di atas seluruh makhluknya, Allah berada di atas itu semua, bukan dilihat dari sisi barat bumi, timur bumi, Utara atau selatan, tapi dari seluruh makhluk.
Dengan kata lain bahwa maksud dari ketinggian Allah dan atas yang muthlak bagi Allah adalah di luar alam semesta, di luar makhluk ciptaan-Nya.
Syaikh Sholih bin AbdulAziz Aalu Syaikh berkata:
“Apabila engkau inginkan arah yang muthlak di sana ada satu macam yaitu ketinggian yang muthlak di atas seluruh makhluk-Nya, tidak di nisbatkan kepada sekelompok dari makhluk yaitu ketinggian Rabb -jalla jalaaaluh- [syarah Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah, II/290]
Kalau masih ngeyel juga tanyakan kepada mereka:
PERTANYAAN: “apakah Allah ada dan makhluk ada?”
Mereka pasti akan menjawab: “Allah ada, dan makhluk ada.”
Kita tanyakan: “Apakah Allah bercampur dengan makhluk-nya atau terpisah?”
Jika mereka jawab: Allah bercampur dengan
makhluk-nya maka ada dua kemungkinan:
Kemungkinan Pertama: “Allah berada di dalam makhluk, dan ini mustahil, Karena:
1. menentang sifat Allah yang maha besar, kalau Allah berada dalam makhluk Nya maka makhluk lebih besar dari Allah.
2. Mengharuskan Allah berada dalam tempat-tempat yang kotor di alam semesta ini dan ini juga mustahil. Maka batallah kemungkinan pertama.
Kemungkinan kedua: Alam semesta berada di dalam Allah, ini juga mustahil karena tidak mungkin alam semesta yang fana serta sebagian tempat yang kotor dan hina, berada dalam zat Allah, maha suci Allah dari hal tersebut, maka batal pula kemungkinan kedua.
Maka mereka terpaksa menjawab Allah terpisah dari makhluk-Nya. Dan ujung dari makhluk adalah arsy, dan arsy adalah makhluk yang tertinggi dan Allah berada di atas arsy di luar alam semesta.
Semoga mencerahkan.
Dika Wahyudi Lc.
Sumber : postingan di akun fb Ustadz Dika Wahyudi
Print Friendly, PDF & Email