Ketika Ilmuwan Menjadi Ruwaibidhah Apa Dampaknya ?

ilmuwan

Ketika Ilmuwan Menjadi Ruwaibidhah

ilmuwanKetika perkara besar Pemilu, mereka angkat bicara.

Ketika perkara besar pandemi, mereka juga angkat bicara.

Kemudian mereka pun berkata: Ulama dahulu banyak yang menguasai berbagai bidang ilmu!

Iya, ulama dahulu banyak yang menguasai berbagai cabang ilmu, tetapi masih dalam koridor cabang ilmu syar’i.

Iya, memang dahulu ada orang yang menguasai ilmu syar’i sekaligus tahu ilmu umum kedokteran, tetapi tetap saja yang dikenal adalah ilmu takhoshshush-nya (konsentrasi keahliannya), dan umat Islam dahulu akan menempatkannya sesuai kedudukan takhashshush-nya itu.
imma sebagai Ulama atau sebagai dokter. Salah satunya saja. Tidak “abu-abu”.

Imam Ibnul Qayyim, Tahu tentang kedokteran, tapi apakah para ulama dan kaum muslimin mengenalnya sebagai dokter ataukah ulama?
Tentu ulama.

Imam Bukhari, dikenal sebagai apa? Imam Syafi’i dikenal sebagai apa?

Kemudian para ilmuwan ahli sains muslim dahulu, dikenal sebagai apa? walaupun mereka tahu ilmu Syar’i.

Kepada siapakah umat Islam meminta fatwa agama pada saat itu hingga fatwanya tertulis sampai kini?

Tentu pada para ulamanya, bukan pada ilmuwan sains atau ilmu umum lainnya.

Lantas apakah yang dipermasalahkan?

Masalahnya adalah orang yang bukan ahli agama, namun tahu sebagian wawasan keagamaan, ditempatkan pada kedudukan ulama sehingga fatwanya seolah berbobot seperti kedudukan fatwa ulama.

Padahal para ulama yang sebenarnya itu, habis umurnya dalam meneliti dan mengasah ilmu syar’i. Walau terkadang ada yang mengetahui ilmu umum sebagai wawasan untuk menunjang fatwanya.

Beda halnya dengan para ilmuwan umum yang sibuk dengan pekerjaannya atau penelitian sainsnya. Walau tahu sebagai ilmu agama, namun pasti ilmunya itu tidak akan menyamai ulama, dan fatwanya pun tidak akan berbobot layaknya ulama yang telah menginfakkan hampir seluruh waktu dan umurnya untuk ilmu syar’i.

Maka, jangan heran jika suatu saat, para ruwaibidhoh itu dengan pernyataannya akan merusak umat dengan tanpa sengaja.
Allahul musta’an

Lantas kenapa fenomena abu-abu itu terjadi?

Wallahu a’lam.

Kalau di negeri kita, di antara sebabnya adalah media massa atau medsos yang bisa mengubah orang yang tidak berilmu menjadi seolah berilmu, kemudian di-iya-kan oleh orang-orang yang memang belum terbiasa meminta fatwa pada ahli ilmu tapi senang pada seleb-medsos berpenampilan agamis berkedok ahli ilmu syar’i.

Ahli IT plus punya sedikit teori ilmu agama saat lemah iman lalu ingin berlagak jadi ulama atau ustadz kibar, maka akan mudah dikenal ketimbang ulama asli yang tidak diviralkan di medsos.

Sayangnya, kebanyakan orang lebih senang pakai medsos ketimbang berlelah menempuh jalan menuntut ilmu.

Solusinya donk!

Ahli IT atau aktifis medsos, bantulah mem-viralkan ulama/ustadz yang sebenarnya, insya Allah, jika memang jujur ingin mendapatkan pahala menyebarkan agama maka pahala dakwah ulama atau ustadz asli, akan juga didapatkan oleh ahli IT dan ahli medsos tersebut.

Para ulama dan ustadz hendaklah terus mendidik umat dengan ilmu agama yang terstruktur, sehingga kala umat semakin berilmu maka akan semakin peka.

Sebagaimana kita saat sudah terbiasa duduk bermajlis pada ustad Sunnah, terbiasa dengan kajian ilmiah maka saat kita mendengar kajian lawakan, akan merasa risih dengarnya dan gak betah.

Berusahalah untuk mengkader atau melahirkan para ulama asli, bukan yang “abu-abu.”

Jika demikian,
insya_Allah, akan datang saatnya tatkala para ilmuwan sains akan fokus berkarya dengan ilmunya itu, dan tidak tergoda untuk berfatwa, karena perkara agama akan di-handle oleh para ulama.

===

NB:
-Saya sudah divaksin
-Saya percaya Covid-19 itu ada
-Saya shalat di masjid dengan merapatkan shaf

he.he.he…

Sumber : https://www.facebook.com/100033813006487/posts/552514319218997/

Imam Nawawi -rahimahullah- berkisah:
“Pernah terbesit di benakku untuk menyibukkan diri mempelajari ilmu kedokteran. Maka Aku membeli buku Al Qanuun (undang²) tentang kedokteran, lalu Aku pun bertekad menyibukkan diri dengannya. Tiba-tiba hatiku menjadi gelap! Sehingga Aku tidak bisa menyibukkan diri dengan apapun juga!?
Lalu, Aku memikirkan tentang masalah diriku ini, darimanakah sesuatu yang tiba-tiba ini memasukiku??
Kemudian Allah Ta’ala memberiku ilham bahwa yang menyebabkan gelapnya hatiku ini adalah karena Aku sibuk dengan ilmu kedokteran itu!
Maka, saat itu juga Aku menjual buku kedokteran tersebut, bahkan Aku keluarkan segala hal yang berkaitan dengan ilmu kedokteran dari rumahku!
Lalu, hatiku pun kembali bersinar dan keadaanku kembali pulih sehingga Aku kembali seperti dulu.”
(Tuhfatuth Thaalibiin, 28)

You May Also Like

1 Comment

Silahkan tinggalkan komentar di sini