Ketika Ada FATWA Yang Bertentangan Dengan Quran Dan Sunnah

fatwa bertentangan dengan dalil

BERPEGANG TEGUH KEPADA DALIL (Al-Qur-an & As-Sunnah)

fatwa bertentangan dengan dalilUstadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-

1. Nasehat Untuk Penuntut Ilmu Ketika Ada Fatwa Yang Bertentangan Dengan Dalil Dari Al-Qur-an Dan As-Sunnah

2. Perbedaan Ahlus Sunnah Dengan Ahlul Bid’ah Dalam Menyikapi Dalil Dari Al-Qur-an Dan As-Sunnah

NASEHAT UNTUK PENUNTUT ILMU KETIKA ADA FATWA YANG BERTENTANGAN DENGAN DALIL DARI AL-QUR-AN & AS-SUNNAH

PERTANYAAN: Ustadz, mohon penjelasannya dan nasehatnya jika dihadapkan kepada satu hal dimana: ada dalil dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dan fatwa para ulama, bagaimanakah jika kita mengambil dalil tersebut dengan tanpa ada kesan merendahkan ilmu dan keilmuan para ulama. Karena ada sebagian dari rekan-rekan kami yang menyebutkan bahwa: “Para ulama pun memiliki dalil dalam hal tersebut; sehingga kita pun juga bisa mengikuti fatwa para ulama.” Demikian pertanyaan, mohon nasehat dan penjelasan dari Ustadz, jazaakumullaahu khairaa.

JAWABAN: Alhamdulillaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa Rasuulillaah. Berkaitan dengan masalah dalil dan fatwa; maka kita diajarkan oleh para ulama kita: untuk berpegang teguh kepada dalil, dan itu kita baca dari Al-Qur-an, dari Sunnah Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, dari atsar para Shahabat -radhiyallaahu ‘anhum ajma’iin-, dan juga para ulama, bahkan para imam yang empat -Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali rahimahumullaah-: semuanya mengajarkan: apabila sudah ada dalil; maka kita diperintahkan untuk berpegang kepada dalil dan membuang pendapat mereka. Bahkan Imam Asy-Syafi’i -rahimahullaah- mengatakan: Kalau ada pendapatku menyalahi Sunnah Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-; maka buang pendapatku, ikuti dalil.

Itulah nasehat para imam, yang mereka ini diketahui oleh seluruh manusia tentang keimaman mereka, bahwa mereka adalah orang-orang ‘alim, menguasai Al-Qur-an dan As-Sunnah, dan empat imam ini: mereka hafal Al-Qur-an, mereka usia baligh: sudah hafal Al-Qur-an, dan mereka menguasai semuanya, tapi mereka mengatakan: “Kalau ada pendapatku menyalahi Sunnah Rasulullah; buang pendapatku.” Itu yang diajarkan, dan seterusnya para ulama seperti itu mengingatkan kepada kita.

Jadi, kalau kita sudah tahu ada dalil; maka kita ikut dalil, yang kita ikuti adalah dalil: Al-Qur-an dan As-Sunnah, itu yang diperintahkan.

Adapun, adanya fatwa; maka fatwa itu tidak harus diikuti, tidak wajib untuk diikuti. Dilihat dalilnya, kalau ada dalil; maka yang kita ikuti adalah dalil. Dan ini bukan merendahkan para ulama, sama sekali tidak. Justru yang harus kita ikuti -kalau mau berfikir yang wajar dan waras-: Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Antum ingat itu. Yang akan ditanyakan di kubur: “Mann Nabiyyuka” (siapa Nabimu)? Kamu ittiba’ (mengikuti) atau tidak kepada Rasulullah? Seperti yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُـحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِـيْ يُـحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ}

“Katakanlah (wahai Rasul): Jika kalian mencintai Allah, ittiba’-lah (ikutilah) aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Ikuti Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, bukan ikuti masya-yikh (para syaikh), bukan ikuti ulama.

Maka, kita berusaha menumbuhkan ketaatan kita kepada Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Ketika ada dalil; maka kita ikuti. Dan ini wajib. Kalau ada perselisihan; maka yang kita ikuti adalah dalil. Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut:

1. Firman Allah:

{…فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِـيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَـى اللهِ وَالرَّسُوْلِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيْلًا}

“…jika kamu berlainan pendapat (berselisih) tentang sesuatu; maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur-an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)

2. Firman Allah:

{فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُـحَكِّمُوْكَ فِـيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُـمَّ لَا يَـجِدُوْا فِـيْ أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِـمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِــيْمًا}

“Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa’: 65)

Jadi, ketika berselisih; maka kembalikan kepada dalil, bukan kepada akal, bukan kepada ulama. Kita harus yakin dengan dalil ini, dan kita jalankan; insya Allah kita akan selamat. Karena kalau kita ingin mendapatkan petunjuk; maka kita ikuti Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Allah berfirman:

{…وَإِنْ تُطِيْعُوْهُ تَهْتَدُوْا…}

“…Jika kamu taat kepadanya; niscaya kamu mendapat petunjuk…” (QS. An-Nuur: 54)

Penyesalan orang pada Hari Kiamat adalah: karena mereka tidak mengikuti Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, mereka mengikuti para pembesarnya dan tokoh-tokohnya. Allah berfirman:

{يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوْهُهُمْ فِـي النَّارِ يَقُوْلُوْنَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُوْلَا * وَقَالُوْا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّوْنَا السَّبِيْلَا}

“Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, “Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” Dan mereka berkata, “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (QS. Al-Ahzaab: 66-67)

Allah juga berfirman:

{وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِـمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يَا لَيْتَنِـيْ اتَّـخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا * يَا وَيْلَتَـى لَيْتَنِـيْ لَـمْ أَتَّـخِذْ فُلانًا خَلِيْلًا * لَقَدْ أَضَلَّنِـيْ عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِـيْ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُوْلًا}

“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zhalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku), sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur-an) ketika (Al-Qur-an) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia.” (QS. Al-Furqaan: 27-29)

Jadi, ketika kita mengikuti dalil: bukan berarti melecehkan para ulama, tidak sama sekali.

Dan antum perhatikan berkaitan dengan masalah wabah ini: masing-masing negara memiliki kebijakan tersendiri, punya aturan dan punya undang-undang. Itu juga harus kita perhatikan. Contohnya di Sa’udi, di sana orang harus ikut kepada ulil amri, kalau masjid tidak boleh dibuka; maka tidak boleh dibuka, kalau dibuka; maka akan terkena hukuman. Di sana orang keluar di saat pandemi harus memakai masker, kalau tidak memakai masker; maka terkena denda seribu riyal. Jadi, di sana ada aturan. Begitu juga ketika ulil amri mengatakan: shaff harus renggang; maka harus ikut, kalau tidak ikut; maka terkena hukuman, karena di sana ada undang-undangnya yang wajib dilaksanakan. Berbeda dengan di sini, di Indonesia; di sini cuma himbauan, tidak ada undang-undangnya.

Dan yang sudah melaksanakan shalat dengan shaff rapat: bukan satu orang, tapi sudah juataan di Indonesia ini. Yang tidak melaksanakan hanya beberapa orang, bisa dihitung. Yang ikut kajian justru yang tidak melaksanakan shaff rapat, beberapa ustadz, beberapa doktor. Ketakutannya luar biasa. Kenapa takut kepada wabah? Kenapa tidak takut kepada Allah? Yang memerintahkan shaff ini rapat siapa? Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-; maka kita “Sami’naa wa Atha’naa” (kita mendengar dan kita taat). Kita yakin: masjid itu bersih, sehingga tidak akan terkena wabah. Yang dilaksanakan dalam masjid adalah: protokol syari’at. Jangan antum di masjid memakai masker. Insya Allah bersih. Orang dari luar mau masuk ke masjid dia berwudhu’, bersih.

Antum lihat dari mulai awal pandemi di Indonesia ini awal Maret sampai sekarang alhmadulillaah masjid aman, tidak ada apa-apa. Dan kita memohon kepada Allah agar kita dijauhkan dari malapetaka, dari wabah, dari penyakit yang berbahaya. Itu yang kita minta kepada Allah untuk kita dan untuk kaum muslimin semuanya.

Akhirnya orang-orang yang takut ini tambah sakit, tambah sakit, tambah sakit jiwa; mendo’akan: mudah-mudahan yang di masjid sakit, kena corona. “Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah”. Jadi sakit, ustadnya juga jadi sakit sekarang ini. Mestinya dia ilmunya bermanfaat; sekarang justru sibuk dengan ODP, OTG. Ya Allah. Ya rabbi. Hilang ilmunya. Harusnya dia bicara tentang Al-Qur-an, Hadits, mengingatkan orang kepada Allah, mengajak orang ke masjid. Apa syi’ar Islam yang paling besar? Shalat, adzan panggilan Shalat lima waktu, “Hayya ‘Alash Shalaah, Hayya ‘Alal Falaah”, kita harus ke masjid. Kenapa antum takut? Orang awam sudah Shalat. Jutaan orang sudah Shalat. Kenapa antum masih di rumah, masih ketakutan?! Nanti akhirnya mati sebelum mati, karena takut.

Orang beriman tidak boleh takut. Tidak akan mengenai kita kecuali apa yang Allah takdirkan. Orang beriman ketika ditakut-takuti; justru dia tambah berani. Demikianlah para Shahabat. Allah berfirman:

{الَّذِيْنَ قَالَ لَـهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَـمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيْـمَانًا وَقَالُوْا حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ}

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” (QS. Ali ‘Imraan: 173)

Tambah berani, tambah takut mereka kepada Allah, tambah tawakkal kepada Allah. Cukuplah Allah penolong kami, dan dia Dia sebaik-baik pelindung.

Ini yang harus dihidupkan. Justru di saat wabah itu: Allah menguji kita, menguji iman kita, menguji tentang ilmu kita: diamalkan atau tidak? Kita diuji: apakah kita ittiba’ kepada Rasulullah atau tidak? Ini ujian semuanya. Tapi orang beriman menghadapi ujian; maka menganggapnya biasa. Jangan berlebihan takutnya.

Kalau di negara lain ditakut-takuti kemudian takut; maka kita jangan takut. Kenyataan yang ada bisa kita lihat. Antum sudah sibuk dengan data, tiap hari sibuk dengan data; tambah takut. Kalau mau jujur dan waras: Berapa jumlah yang sembuh? Seribu? Seratus? Justru yang sembuh itu puluhan ribu. Kalau ada yang meninggal; maka itu sudah takdir Allah, sudah ajalnya. Tapi jangan ditakuti.

Sebelum wabah corona: adakah orang yang meninggal? Banyak yang meninggal. Sebelum ada wabah juga banyak yang meninggal.

Banyak penyakit-penyakit yang di Indonesia ini orang meninggal setiap hari; seperti penyakit TBC, dan yang lainnya. Penyakit jantung saja setiap hari orang mati, tapi orang tidak ribut. Tapi giliran wabah ini: dibesarkan oleh media, dan antum juga ikut. Jadi, yang menyebarkan bukan dari pemerintah, tapi ustadz-ustadz. Tiap hari di HP-nya ada berita tentang wabah, berita tentang corona; seperti ini tidak baik.

Antum berikan semangat kepada kaum mukminin untuk kembali kepada Allah, untuk bertaubat kepada Allah, minta ampun atas semua dosa; itu yang bagus bagi para da’i dan ustadz. Ajak umat ini untuk kembali kepada Allah, ajak umat untuk taubat kepada Allah, meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat. Ajarkan mereka untuk takut hanya kepada Allah. Ajarkan demikian kepada mereka, bukan ditakut-takuti. Ajarkan mereka untuk mengimani bahwa cobaan, ujian, dan musibah: itu dari Allah, yang Allah berikan untuk membedakan: siapa yang beriman dengan benar dan siapa yang munafik, yang dusta.

Dengan cobaan dan ujian ini: Allah ingin angkat derajat kita. Dengan cobaan dan ujian ini: Allah akan menghapuskan dosa kita. Dengan cobaan dan ujian ini: Allah akan memasukkan kita ke dalam Surga; selama kita sabar dan ridha’ serta menjalankan syari’at-Nya. Bukan tambah takut. Bukan menakut-nakuti, ustadz-ustadz menakut-nakuti, punya kelompok atau grup WA: menakut-nakuti yang lain. Tambah takut. Kalau antum penakut; antum tidak usah menjadi ustadz, kasihan murid-muridnya. Kalau antum sakit; maka muridnya ikut sakit. Harusnya antum berani.

Di antara akhlak yang mulia yang diajarkan oleh Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- adalah: sifat syajaa’ah (berani). Para Shahabat berani, tidak ada yang penakut. Antum lihat mereka diutus oleh Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ke negeri-negeri yang jauh, Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman sendirian. Dulu tidak ada lampu seperti sekarang, tidak ada hotel, tidak ada restoran. Berjalan di tengah padang pasir yang penuh dengan segala macam rintangan, ada perampok, ada penjahat, ada binatang buas; tetap jalan. Diajarkan berani. Bukan tambah takut.

Oleh karena itu kalau berkaitan dengan dakwah; selalu disebutkan dalam Al-Qur-an: berjuang, berjihad dengan diri dan hartamu. Orang kalau sudah penakut; pasti bakhil, pelit, kikir, kedekut. Tapi kalau berani; pasti dia dermawan. Itu disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim -rahimahullaah- dalam kitabnya “Zaadul Ma’aad fii Hadyi Khairil ‘Ibaad” di juz yang keempat, ketika membahas tentang do’a:

اللّٰهُمَّ إِنِّـيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْـهَمِّ وَالْـحَزَنِ، وَالعَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالبُخْلِ وَالْـجُبْـنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, sifat kikir, pengecut, lilitan hutang, dan dikuasai orang lain.”

Jadi, pada hakikatnya masalah ini ingin saya jelaskan secara panjang. Karena adanya ketakutan luar biasa dan menakut-nakuti. Jadi kita dianggap syadz (ganjil); dan saya sudah jawab. Kita dianggap melecehkan ulama; padahal sama sekali tidak melecehkan. Selama kita bersama dalil; maka kita ini mulia, kita bersama Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Dan telah saya sampaikan kajian: “Perbedaan Ahlus Sunnah Dengan Ahlul Bid’ah Dalam Menyikapi Dalil Dari Al-Qur-an Dan As-Sunnah”, bagaimana sikap mereka terhadap dalil. Saya bawakan dua belas poin. Antum dengar ulang lagi, dan antum baca lagi penjelasan Imam Ibnul Qayyim -rahimahullaah- dalam kitabnya “Ash-Shawaa-iq”, disebutkan oleh Imam Al-Mushili -rahimahullaah- dalam kitabnya “Mukhtashar ash-Shawa-iq al-Mursalah” di juz yang keempat, supaya orang faham dalam bergama. Agar orang berpegang teguh kepada “Al-Qur-aan Was Sunnah ‘Alaa Fahmis Salaf” (Al-Qur-an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salaf) dan berjalan di atasnya.

Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Insya Allah kita akan selamat. Di masjid kita berdo’a untuk diri kita, keluarga kita, dan kaum muslimin: agar mereka dijauhkan dari malapetaka, dari wabah. Kita do’akan mereka, insya Allah akan dikabulkan do’a kita.

Saya pikir cukup sampai di sini. Dari apa yang saya sampaikan mudah-mudahan bermanfaat, kurang lebihnya saya mohon maaf.

Wa Sallallaahu ‘Alaa Nabiiyyinaa Muhammadin Wa ‘Alaa Aalihi Wa Shahbihi Wa Sallam.

سُـبْـحَـانَـكَ الـلّٰـهُـمَّ وَبـِحَـمْـدِكَ، أَشْـهَـدُ أَنْ لَا إِلٰـهَ إِلَّا أَنْـتَ، أَسْـتَـغْـفِـرُكَ وَأَتُـوْبُ إِلَـيْـكَ

Download EBOOKnya di sini :
https://drive.google.com/file/d/1OugxDX37zIMqswXBBRuhS9DoUmNRMfgQ/view?usp=drivesdk

You May Also Like

Silahkan tinggalkan komentar di sini