Tidak Boleh Menolak Hadits Hanya Karena Mengikuti Pendapat Ulama

MENOLAK HADITS DENGAN PENDAPAT ULAMA

menolak haditsSyaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh (wafat th. 1285 H) -rahimahullaah- berkata dalam “Fat-hul Majiid” (hlm. 455-456):

Dan kemungkaran ini (menolak hadits dengan pendapat ulama pent) telah tersebar, khususnya di kalangan orang-orang yang menyandarkan diri kepada ilmu. MEREKA membuat penghalang untuk MENGHALANG-HALANGI (MANUSIA) DARI MENGAMBIL AL-KITAB DAN AS-SUNNAH, DAN MEREKA MENGHALANG-HALANGI DARI ITTIBAA’ (MENGIKUTI) NABI -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, dan dari mengagungkan perintah dan larangan beliau.

Di antara cara mereka (dalam menghalangi- pent) adalah dengan perkataan mereka: “Tidak boleh berdalil dengan Al-Kitab dan As-Sunnah kecuali mujtahid (ahli ijtihad), sedangkan ijtihad telah terputus (sudah tidak ada lagi).”

Atau perkataan mereka: “(Ulama) yang aku taqlid kepadanya adalah lebih berilmu dari engkau dalam ilmu hadits, nasikh dan mansukh-nya.”

Dan perkataan-perkataan lain yang semisal itu, yang PUNCAKNYA ADALAH: MENINGGALKAN ITTIBAA’ (MENGIKUTI) RASUL -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, padahal beliau tidak mengucapkan menurut hawa nafsu (keinginan)nya. Mereka bersandar kepada perkataan (ulama) yang bisa salah, padahal ada imam lainnya yang menyelisihinya dan menolak pendapatnya dengan berdasarkan dalil. Maka tidak ada seorang imam pun melainkan dia hanya memiliki sebagian ilmu, dan tidak semua ilmu dia miliki.

Maka kewajiban seorang mukallaf (orang yang dibebani syari’at): jika dalil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya telah sampai kepada orang tersebut dan dia memahami maknanya; maka kewajiban dia adalah untuk berhenti kepadanya dan mengamalkannya, walaupun ada ulama yang menyelisihinya, setinggi apa pun kedudukan ulama tersebut.

Hal ini sebagaimana firman Allah -Ta’aalaa-:

اتَّــبِـعُوْا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَــتَّـــبِعُوْا مِنْ دُوْنِــهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيْلًا مَا تَــذَكَّرُوْنَ

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’raaf: 3)

Dan Allah -Ta’aalaa- berfirman:

أَوَلَـمْ يَكْفِهِمْ أَنَّـا أَنْــزَلْــنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُــتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِـيْ ذٰلِكَ لَــرَحْـمَةً وَذِكْرَى لِــقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ

Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) yang dibacakan kepada mereka? Sungguh, dalam (Al-Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-‘Ankabuut: 51)…

Dan tidak ada yang menyelisihi hal ini kecuali orang-orang bodoh yang suka taqlid, karena mereka bodoh terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah, dan mereka berpaling dari keduanya. Dan orang-orang semacam ini walaupun mereka menyangka bahwa mereka mengikuti para imam; maka pada hakikatnya mereka telah menyelisihi para imam dan tidak menempuh jalan mereka (yaitu: mengambil Sunnah Rasul- pent)…

perkataan imam ahmadAkan tetapi dalam perkataan Imam Ahmad -rahimahullaah- (lihat gambar- pent) terdapat isyarat bahwa: (seseorang yang) taqlid (kepada ulama) sebelum sampainya dalil (kepadanya); maka ini tidak tercela, yang diingkari adalah: orang yang telah sampai dalil kepadanya kemudian dia menyelisihinya, dikarenakan mengikuti pendapat seorang imam. Hal ini (menyelisihi dalil) muncul dikarenakan: berpaling dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, dan menghadap kepada kitab-kitab (ulama) yang belakangan, serta merasa tidak butuh kepada dua wahyu (Al-Qur’an & As-Sunnah).

Dan hal ini mirip dengan apa yang terjadi pada Ahlul Kitab, yang Allah firmankan tentang mereka:

اِتَّـخَذُوْا أَحْــبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah,…” (QS. At-Taubah: 31)…

Maka wajib atas seseorang yang jujur terhadap dirinya: jika dia membaca kitab-kitab para ulama, dan menelitinya, serta memahami pendapat-pendapat mereka: maka hendaklah dia menimbangnya dengan apa yang terdapat dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Karena sungguh, setiap ulama mujtahid dan para pengikutnya serta orang-orang yang menisbatkan diri kepada madzhabnya; maka setiap dari mereka harus menyebutkan dalil yang dimilikinya.

Kebenaran dalam masalah (yang diperselisihkan) adalah satu, dan para imam diberi pahala atas ijtihad mereka. Maka orang yang jujur: dia menjadikan penelitian dan pembahasan terhadap perkataan-perkataan mereka (para ulama): sebagai jalan untuk mengetahui dan menghadirkan berbagai permasalahan (yang diperselisihkan), untuk (nantinya) membedakan yang benar dari yang salah, dengan dalil-dalil yang disebutkan mereka. Dan dari situ dia akan mengetahui: siapa ulama yang paling sesuai dengan dalil untuk kemudian dia ikuti.”

-diterjemahkan oleh: Ahmad Hendrix-

Sumber : Postingan Ustadz Ahmad Hendrik

2 pemikiran pada “Tidak Boleh Menolak Hadits Hanya Karena Mengikuti Pendapat Ulama”

  1. Dikatakan mujtahid itu karena setiap perkataannya berlandaskan dalil.. klo tidak ada dalil maka bukan mujtahid namanya… tugas seorang awam ketika ada perbedaan pendapat diantara para ulama adalah memilih yang paling luas ilmunya. Karena setiap ulama tersebut sudah berdasarkan dalil hadits yang sohih, hanya berbeda di dalam metode istinbath dan kaidah ushul fiqih yang digunakan. Justru sangat fatal sekali jika memerintahkan orang bukan ahli ijtihad untuk istinbath hukum sendiri dari dalil al quran dan sunnah

    Jika sudah datang DALIL, maka batal perkataan manusia, ikuti dalil tersebut, dan tinggalkan perkataan manusia

    Selevel mujtahid seperti Imam Malik,Syafii,Ahmad juga mengatakan jika ada pendapatku yang tidak sesuai dengan hadits shahih, maka suruh mengikuti dalil tersebut, dan tinggalkan ucapan mereka,..

    Balas
  2. Min, boleh minta nmr hpnya enggak ? Mau tanya² lebih dalam seputar manhaj salaf ini

    Silahkan tuliskan di sini saja jika ada pertanyaan , bisa baca juga artikel-artikel tentang manhaj salaf di link ini

    Balas

Silahkan tinggalkan komentar di sini