Bid’ah merusak keindahan islam

Telah kita bahas di dalam bab yang pertama bahwa islam adalah agama yang mudah, dan Allah menginginkan kemudahan untuk kita dan tidak menginginkan kesulitan, maka karena ibadah adalah beban, Allah haramkan sampai ada dalil yang memerintahkannya. Dan yang harus kita fahami adalah bahwa meninggalkan lebih mudah dari melakukan, oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggantungkan perintah dengan kemampuan hamba, dan tidak menggantungkan larangan dengan kemampuan, karena semua hamba mampu meninggalkan larangan. Sabdanya :

فَإِذاَ نَهَْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوْهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا ِمنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ.

“Apabila aku melarang sesuatu, tinggalkanlah. Dan apabila aku memerintahkan kepada sesuatu, lakukanlah semampu kamu”. (HR Bukhari dan Muslim).

Banyak kerusakan yang ditimbulkan oleh bid’ah, diantaranya adalah :

1. Bid’ah memberikan kesulitan kepada hamba, karena telah membebani manusia dengan sesuatu yang tidak pernah diperintahkan oleh Allah dan Rosul-Nya.

2. Bid’ah menyebabkan manusia keluar dari ketaatan kepada Rasul. Karena Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ.

“Katakanlah, Jika kamu mencintai Allah ikutilah aku (Muhammad) niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS Ali Imran : 31).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,” Ayat yang mulia ini adalah sebagai hakim bagi orang mengaku mencintai Allah, sementara ia tidak di atas tata cara (ibadah) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana ia dusta dalam klaimnya tersebut sampai mengikuti syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada seluruh perkataan, perbuatan dan keadaan beliau, sebagaimana telah ada dalam kitab Ash Shahih Nabi bersabda :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

“Barang siapayang beramal dengan suatu amal yang tidak diperintahkan oleh kami maka amal tersebut tertolak.” (HR Muslim).

3. Bid’ah meniadakan kesempurnaan syahadat Muhammad Rosulullah.

Karena tujuan di utusnya Rosul adalah dalam rangka menjelaskan kepada manusia tentang ibadah yang diridlai oleh Allah, karena ibadah adalah hak Allah dan tentunya Allah ingin diibadahi sesuai dengan apa yang Dia cintai dan ridlai, bukan sesuai selera manusia. Dan yang Allah cintai dan ridlai adalah yang Allah wahyukan kepaa Rosul-nya.

4. Bid’ah adalah tikaman terhadap kesempurnaan islam.

Karena orang yang berbuat bid’ah konskwensinya adalah menyatakan dengan perbuatannya atau lisannya bahwa syari’at islam belum sempurna sehingga butuh penambahan, kalaulah ia meyakini islam telah sempurna di seluruh lininya tentu ia tidak akan berbuat bid’ah.

5. bid’ah adalah tikaman terhadap sifat amanah Rosulullah Sallallahu’alaihi wasallam.

Ibnul Majisyun berkata,” Aku mendengar imam Malik berkata,”Barang siapa yang berbuat bid’ah di dalam islam yang ia anggap baik, ia telah menganggap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhianati risalah, karena Allah berfirman,”Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu.” Maka yang pada hari itu tidak termasuk agama, pada hari inipun tidak termasuk agama.”

6. bid’ah melenyapkan sunah, karena berapa banyak sunnah yang hilang dan digantikan oleh bid’ah, seperti adzan awal subuh, salawat, dll.

Berkata Hassan bin ‘Athiyyah,” Tidaklah suatu kaum berbuat bid’ah dalam agama mereka kecuali Allah akan mencabut sunnah yang semisal.” (HR Ad Darimi).

7. bid’ah penyebab utama terjadinya perpecahan umat. Karena pada zaman Rosulullah dan sahabatnya belum terjadi bid’ah tapi ketika muncul orang-orang yang mengikuti selain petunjuk mereka mulailah terjadi perpecahan.

8. amalan pelaku bid’ah tertolak. (HR Muslim).

9. Allah menghalangi ahli bid’ah untuk bertaubat selama dia tidak meninggalkan bid’ahnya. Sebagaimana sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

إِنَّ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ.

“Sesungguhnya Allah menghalangi taubat dari pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya.” (HR Thabrany dan disahihkan oleh syeikh Al Bani).

10. pelaku bid’ah akan menanggung dosa orang yang mengikutinya. Sebagaimana sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR Muslim).

11. orang yang melindungi ahli bid’ah dilaknat oleh Allah. sebagaimana sabda Nabi :

لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا

“Semoga Allah melaknat orang yang melindungi orang yang mengada-ada (kebid’ahan)”.(HR Muslim).

12. pelaku bid’ah akan semakin jauh dari Allah.

Al Hasan Al Bashry rahimahullah berkata :” pelaku bid’ah tidaklah ia menambah ibadah (yang bid’ah) kecuali semakin jauh dari Allah “. (Ibnu Baththah, Al Ibanah).

13. pelaku bid’ah memposisikan dirinya pada kedudukan yang menyerupai pembuat syari’at, karena yang berhak membuat syari’at hanyalah Allah saja. Firman-Nya :

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوْا لَهُمْ مِّن الدِّيْنِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ.

“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diidzinkan oleh Allah.”

14. Bid’ah lebih buruk dari maksiat.

Syaikhul islam ibnu Taimiyah berkata,”Sesungguhnya ahli bid’ah lebih buruk dari ahli maksiat yang mengikuti syahwatnya berdasarkan sunnah dan ijma’ ulama… kemudian beliau menyebutkannya.

15. Bid’ah lebih disukai iblis dari maksiat.

Ibnul Ja’ad meriwayatkan dalam musnadnya (no 1885) dari Sufyan Ats Tsauri berkata,”Bid’ah lebih disukai oleh iblis dari pada maksiat.” Karena jika engkau bertanya kepada pencuri misalnya,”Apakah engkau meyakini mencuri itu maksiat ? ia akan menjawab “ya”. Sedangkan ahli bid’ah menganggap baik perbuatannya sehingga sulit diharapkan taubatnya.

16. Dan lain-lain.

Ibnu Katsir, Tafsir ibnu katsir 2/24 tahqiq Hani Al haaj.

Ilmu ushul bida’ hal 20.

Al I’tisham 1/49.

Sunan Ad Darimi 1/58 no 98 tahqiq Fawwaz Ahmad dan sanadnya shahih.

Dalam shahih targhib wa tarhib no 54.

Muslim 2/705 no 1017.

Majmu’ fatawa ibnu Taimiyah 10/9.

sumber:

5 pemikiran pada “Bid’ah merusak keindahan islam”

  1. Perlu dipikirkan lg org2 yg menyebut adanya bid’ah hasanah didalam syari’at Islam ini. Dari sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam : “Barangsiapa yg mengada2kan perkara baru didalam urusan kami ini…”. Sudah jelas2 Rasul menyebut “didalam urusan kami” yg brarti adalah dalam agama Islam (syari’at). Nah brarti benarlah sabda beliau bahwa semua bid’ah itu sesat yaitu bid’ah didalam syari’at. Adapun bid’ah hasanah, maka ini tidak termasuk dalam syari’at atau dengan kata lain bid’ah hasanah itulah urusan duniawi kita spt misalnya mobil, pesawat, handphone, komputer, internet yg tidak ada urusannya dengan syari’at tetapi bisa dipakai untuk kegiatan yang menunjang terpenuhinya syari’at spt misalnya naik haji menggunakan pesawat, dakwah via internet, belajar hadits lewat software komputer.

    Masalahnya bukan seperti itu,
    Masalahnya orang yang menganggap bahwa bid’ah itu ada 2, mereka menganggap bidah hasanah itu adalah perkara ibadah, bukan perkara dunia.

    Memang benar bidah itu dibagi menjadi 2, yaitu bidah secara bahasa, dan bidah secara syari.
    Contohnya yaitu kata-kata umar bin khattab ketika beliau mengumpulkan para sahabat yang melakukan shalat berjamaah secara berkelompok-kelompok, kemudian umar mengumpulkannya menjadi 1 kelompok jamaah shalat saja. itu bidah secara bahasa, bukan perkara baru, karena dijaman Rasul pun pernah dilakukan shalat tarawih secara berjamaah.

    Kemudian jika dikatakan mobil adalah bidah, pesawat bidah, handphone bidah, dll, komputer, internet,.. betul, itu bidah ditinjau dari sisi bahasa,… artinya sesuatu yang baru, karena dijaman rasulullah tidak ada.

    Adapun bidah yang termasuk ke dalam istilah syari, adalah bidah atau perkara-perkara baru yang diaku-aku sebagai salah satu amalan ibadah….

    Oleh karena itu saya ga habis pikir ada yg ngeyel ketika diberitahu mengenai bid’ah itu sesat kemudian ia menimpali, “kalo gitu pergi haji naik onta saja sana kan di jaman rasul ga ada pesawat…” atau “dakwah lwt internet jg bid’ah kan Rasul ga pake internet…”.

    Betul, memang itu bidah, tapi bidah dari sisi bahasa, hukumnya bisa berpahala, bisa tidak, tergantung manfaatnya,
    Akan tetapi bidah secara syari, selamanya tidak akan berpahala,..bahkan mendapatkan dosa,

    Inilah karena terlalu gampangnya meng-hasanah-kan sesuatu jadi semuanya hasanah, jgn2 ntar ada org yg sholat dzuhur 5 raka’at dibilangnya jg bid’ah hasanah krn kan “yg penting niatnya baik…”

    Tidak semua yang baik menurut manusia itu baik dihadapan Allah, baca postingan tentang hal itu disini

    Afwan ini hanya pemikiran saya saja, bila salah mohon dikoreksi.

    Balas
  2. نْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

    Barangsiapa yang mempelopori dalam Islam suatu kebiasaan baik, maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatan itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang memulai dalam Islam suatu kebiasaan buruk, maka dia akan mendapatkan dosanya, dan dosa orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun. [HR. Muslim dari Muhammad bin Al Mutsanna Al Anazi dari Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah dari Aun bin Abu Juhaifah dari Al Mundzir bin Jarir dari Jarir]

    Makna dari “sanna” adalah membiasakan, membuat kebiasaan, ibtida’, memulai, mempelopori.

    Dalam perkataan, “Barangsiapa yang mempelopori dalam Islam suatu kebiasaan baik, maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatan itu,” Nabi telah mendorong untuk memulai, mempelopori kebaikan dan juga membuat suatu kebiasaan baru yang baik.

    Harusnya mas adit baca juga syarah/penjelasan hadits di atas, bukan mengutip hadits tersebut, lalu anda bawakan untuk masalah ini, ini tidaklah sebagaimana yang anda maksud,
    Jika pembaca mau tahu, atau anda mau tahu, itu adalah kisah sahabat yang memulai menginfakkan harta untuk orang miskin yang datang kepada nabi, lalu nabi menyuruh sahabatnya yang punya harta untuk menyedekahkan hartanya. Datanglah seorang sahabat membawa hartanya, kemudian diikuti oleh sahabat-sahabat lainnya, lalu Rasulullah bersabda sebagaimana hadits diatas…
    Jadi bersedekah itu merupakan sunnah yang baik, kemudian para sahabat lain mengikutinya, maka orang yang pertama kali menyontohkannya mendapatkan pahala orang yang mengikutinya…

    Dan dalam perkataan, “Barangsiapa yang memulai dalam Islam suatu kebiasaan buruk, maka dia akan mendapatkan dosanya, dan dosa orang yang mengikutinya,” Nabi memperingatkan akan bahaya membuat hal baru yang bathil dan buruk.

    Apa hubungannya hadits diatas dengan bid’ah?
    Ada , bidah adalah sunnah yang jelek, perkara baru, jadi barang siapa yang melakukan kebidahan, maka ia telah melakukan perbuatan yang jelek, dia berdosa. Kemudian dosanya akan bertambah-tambah seiring dengan banyaknya orang-orang yang mengikuti kebidahannya,..
    Harusnya hadits diatas ini membuat orang-orang yang melakukan kebidahan itu takut akan bertambahnya dosa mereka, belum lagi ancaman allah lainnya yaitu, Allah akan memberikan penghalang bagi taubatnya ahlu bidah, sehingga terasa susah untuk bertaubat…

    Balas
  3. Afwan mas Maulana Mufti, untuk membantu mas adit ada baiknya saya nukilkan matan hadits selengkapnya dari hadits yg dikutip mas adit biar semua tau :

    حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى الْعَنَزِيُّ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ عَنْ الْمُنْذِرِ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
    كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَدْرِ النَّهَارِ قَالَ فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوْ الْعَبَاءِ مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ عَامَّتُهُمْ مِنْ مُضَرَ بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا رَأَى بِهِمْ مِنْ الْفَاقَةِ فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ فَأَمَرَ بِلَالًا فَأَذَّنَ وَأَقَامَ فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ
    { يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا }
    وَالْآيَةَ الَّتِي فِي الْحَشْرِ
    { اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ }
    تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ مِنْ دِرْهَمِهِ مِنْ ثَوْبِهِ مِنْ صَاعِ بُرِّهِ مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ حَتَّى قَالَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ قَالَ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا بَلْ قَدْ عَجَزَتْ قَالَ ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ حَتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
    و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ ح و حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَا جَمِيعًا حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنِي عَوْنُ بْنُ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ سَمِعْتُ الْمُنْذِرَ بْنَ جَرِيرٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدْرَ النَّهَارِ بِمِثْلِ حَدِيثِ ابْنِ جَعْفَرٍ وَفِي حَدِيثِ ابْنِ مُعَاذٍ مِنْ الزِّيَادَةِ قَالَ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ خَطَبَ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ الْقَوَارِيرِيُّ وَأَبُو كَامِلٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ الْأُمَوِيُّ قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ الْمُنْذِرِ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَاهُ قَوْمٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ وَسَاقُوا الْحَدِيثَ بِقِصَّتِهِ وَفِيهِ فَصَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ صَعِدَ مِنْبَرًا صَغِيرًا فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ فِي كِتَابِهِ
    { يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ }
    الْآيَةَ و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُوسَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ وَأَبِي الضُّحَى عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ هِلَالٍ الْعَبْسِيِّ عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ جَاءَ نَاسٌ مِنْ الْأَعْرَابِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ الصُّوفُ فَرَأَى سُوءَ حَالِهِمْ قَدْ أَصَابَتْهُمْ حَاجَةٌ فَذَكَرَ بِمَعْنَى حَدِيثِهِمْ

    Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Mutsanna Al Anazi telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Aun bin Abu Juhaifah dari Al Mundzir bin Jarir dari Jarir ia berkata; Pada suatu pagi, ketika kami berada dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba datang segerombongan orang tanpa sepatu, dan berpaiakan selembar kain yang diselimutkan ke badan mereka sambil menyandang pedang. Kebanyakan mereka, mungkin seluruhnya berasal dari suku Mudlar. Ketika melihat mereka, wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terharu lantaran kemiskinan mereka. Beliau masuk ke rumahnya dan keluar lagi. Maka disuruhnya Bilal adzan dan iqamah, sesudah itu beliau shalat. Sesudah shalat, beliau berpidato. Beliau membacakan firman Allah: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri…, ” hingga akhir ayat, “Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kalian.” kemudian ayat yang terdapat dalam surat Al Hasyr: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah…, ” Mendengar khutbah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu, serta merta seorang laki-laki menyedekahkan dinar dan dirhamnya, pakaiannya, satu sha’ gandum, satu sha’ kurma sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Meskipun hanya dengan setengah biji kurma.” Maka datang pula seorang laki-laki Anshar membawa sekantong yang hampir tak tergenggam oleh tangannya, bahkan tidak terangkat. Demikianlah, akhirnya orang-orang lain pun mengikuti pula memberikan sedekah mereka, sehingga kelihatan olehku sudah terkumpul dua tumpuk makanan dan pakaian, sehingga kelihatan olehku wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berubah menjadi bersinar bagaikan emas. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Barangsiapa yang memulai mengerjakan perbuatan baik dalam Islam, maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatan itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang memulai kebiasaan buruk, maka dia akan mendapatkan dosanya, dan dosa orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” Dan Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah -dalam jalur lain- Dan Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu’adz Al Anbari Telah menceritakan kepada kami bapakku ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepadaku Aun bin Abu Juhaifah ia berkata, saya mendengar Al Mundziri bin Jarir dari bapaknya ia berkata; Suatu hari, kami berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yakni sebagaimana hadits Ibnu Ja’far. Dan di dalam hadits Ibnu Mu’adz terdapat tambahan, yakni; Kemudian beliau shalat Zhuhur dan kemudian berkhutbah.” Telah menceritakan kepadaku Ubaidullah bin Umar Al Qawariri dan Abu Kami dan Muhammad bin Abdul Malik Al Umawi mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Abdul Malik bin Umair dari Al Mundziri bin Jarir dari bapaknya ia berkata; Kami duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datanglah suatu rombongan yang tak beralas kaki. Ia pun menyebutkan hadits, dan didalamnya; Kemudian beliau shalat Zhuhur lalu naik mimbar kecil, memuji Allah dan menyanjung-Nya dan kemudian bersabda: “Amma Ba’du, sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah menurunkan di dalam kitab-Nya; ‘Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian kepada Rabb kalian..” Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari Musa bin Abdullah bin Yazid dan Abu Dluha dari Abdurrahman bin Hilal Al Absi dari Jarir bin Abdullah ia berkata; Sekelompok orang Arab pegunungan mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengenakan sehelai kain Shuf (wool), dan beliau melihat keadaan mereka yang memprihatinkan, bahwa mereka benar-benar membutuhkan bantuan. Ia pun menyebutkan hadits yang semakna dengan hadits mereka.
    (HR Muslim no. 1691, lidwa)

    Monggo, bisa dilihat redaksi hadits lengkapnya.

    Jazakallahu khairan, memang hadits yang cukup panjang,…

    Balas
  4. asbabul wurud Hadist diatas memang terkait dengan Shodaqoh dan Ulama Ahlu Sunnah bersepakat bahwa ” al-i`broh bi umumilafdzi La bikhususisabab ”

    Adakah ulama ahlussunnah yang menafsirkan sebagaimana anda menukilkan?
    Siapa yang menjadi rujukan anda? Anda menulis sendiri?

    jadi kalo anda berdua mengikat dan membatasi hadist tersebut hanya pada shodaqoh saja maka kalian berdua telah mereduksi dan membatasi keumuman lafadz dan membatasi masa berlakunya Hadist tersebut pada masa Nabi saja, dan tidak ada yang menyatakan seperti ini kecuali ” maaf ” orang Jahil.

    Tolong dong bawakan pendapat sahabat, atau para ulama ahlussunnah yang membawakan dalil diatas sebagaimana engkau tuliskan disini, jika mas adit ini termasuk “orang pintar”

    pertanyaan anda ” Apa hubungannya hadits diatas dengan bid’ah ? ” secara ringkas bisa dijawab Bahwa kata sunnah dan bid`ah menurut Bahasa Arab adalah sama dalam arti membuat atau mengadakan, karena dua kata tersebut memiliki arti yang sama disitulah letak keterkaitannya.

    Ulama siapakah yang membawakan bahwa kata sunnah dan bidah adalah sama artinya? Tolong dong bawakan, atau mas adit ini sudah menjadi “orang pintar” sehingga bisa membawakan arti seperti itu, subhanallah…
    Rasulullah menyuruh kita untuk berpegang kepada sunnah, dan meninggalkan bidah, kok ini ada yang mengatakan sama antara arti bidah dan sunnah,… sungguh sangat pintar orang ini dalam menafsirkan kata bidah dan sunnah

    sanna = ibtida’; sunnah = bid’ah
    hanya saja kemudian, bid’ah itu kesannya negatif gitu ya
    seperti halnya kolusi, itu kan artinya kerja sama. Tapi sekarang kolusi itu lebih bermakna bekerja sama dalam keburukan.

    Begitu juga sunnah, konotasinya positif. padahal ada juga sunnah yg sayyi’ah
    Hah? Ada sunnah yg sayyi’ah?
    Ya iya lah…..

    Jika mas ini “orang pintar” mas adit bisa membaca, yang mengatakan ada sunnah hasanah adalah Rasulullah, dan yang mengatakan ada sunnah sayyiah adalah Rasulullah juga, ada haditsnya,..
    Nah sekarang, apa yang dikatakan Rasulullah tentang bidah?? KULLU BID’ATIN DZALAALAH , setiap bidah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka,… lalu ada “orang pintar” yang mengatakan ada bidah hasanah???

    من سن سنة حسنة فيعمل بها كان له أجرها، ومثل أجر من عمل بها لا ينقص من أجورهم شيئا. ومن سن سنة سيئة فعمل بها كان عليه وزرها ووزر من عمل بها لا ينقص من أوزارهم شيئا

    mudah2an mereka paham ya

    Mudah-mudahan “orang pintar” ini paham, apa makna bidah,.. ingat setiap kata itu ada lawannya, contohnya:
    Hukumnya haram, lawannya halal,
    kemudian untuk bidah lawannya adalah sunnah, lalu darimana dikatakan makna bidah itu sama dengan sunnah??
    Sungguh kejahilan diatas kejahilan….

    Balas

Silahkan tinggalkan komentar di sini