Hukum Melafadzkan Niat , Seperti Ushally, nawaitul wudhu, dst, Itu Adalah BIDAH..

Niat Shalat Menurut Rasulullah Hukum Niat Wudhu Niat Shalat Niat Menurut 4 Madzhab Hukum Wudhu Tanpa Doa

hukum-melafadzkan-niatNiat merupakan bentuk ibadah qalbiyyah yang sangat penting. Sehingga niat mempunyai peringkat pertama sebelum melakukan aktivitas ibadah. Benar dan tidak sebuah ibadah atau perbuatan ditentukan oleh niat. Karena niat mempunyai dua kecenderungan: ikhlas atau syirik.

Pengertian Niat

Secara bahasa, orang Arab menggunakan kata-kata niat dalam artisengaja’. Terkadang niat juga digunakan dalam pengertiansesuatu yang dimaksudkan’.

Sedangkan secara istilah, tidak terdapat definisi khusus untuk niat. Maka dari itu, barangsiapa yang menetapkan suatu definisi khusus yang berbeda dengan makna niat secara bahasa, maka orang tersebut sebenarnya tidak memiliki alasan kuat yang bisa dipertanggungjawabkan. Hal ini dijelaskan oleh Dr. Umar al-Asyqar dalam buku Maqashidu al-Mukallifin, halaman 34.

Karena itu banyak ulama yang memberikan makna niat secara bahasa, semisal Nawawi. Beliau mengatakan niat adalah bermaksud untuk melakukan sesuatu dan bertekad bulat untuk mengerjakannya.” (Mawahidu al-Jalil, 2/230 dan Faidhu al-Qodir, 1/30)

Al-Qarafi mengatakan, Niat adalah maksud yang terdapat dalam hati seseorang untuk melakukan sesuatu yang ingin dilakukan. (Mawahid al-Jalil 2/230).

al-Khathabi mengatakan, Niat adalah bermaksud untuk mengerjakan sesuatu dengan hati dan menjatuhkan pilihan untuk melakukan hal tersebut. Namun ada juga yang berpendapat bahwa niat adalah tekad bulat hati. (Syarah al-Aini untuk shahih Bukhari)

Dr. Umar al-Asyqar mengatakan, Mendefinisikan dengan niat dan maksud yang tekad bulat adalah pendapat yang kuat. Definisi tersebut mengacu kepada makna kata niat dalam bahasa Arab.”

Ada juga ulama yang mendefinisikan niat dengan ikhlash. Hal ini bisa diterima karena terkadang makna niat adalah bermaksud untuk melakukan suatu ibadah. Dan terkadang pula maknanya adalah ikhlash dalam menjalankan suatu ibadah.

Melafadzkan Niat

Syaikh Salim al-Hilali mengatakan, “Letak niat adalah hati bukan lisan dan hal ini merupakan kesepakatan seluruh ulama serta berlaku untuk seluruh ibadah baik bersuci, shalat, zakat, puasa, haji memerdekakan budak, berjihad dan lain-lain.” (Bahjatun Nadzirin, 1/32).

Jika demikian, lalu bagaimanakah hukum melafadzkan niat semacam mengucapkan, semisal, Ushalli Fardhal Magribi Tsalatsa Raka’atin Fardhan Lillahi Ta’ala?

Dalam hal ini perlu ada rincian:

a). Mengucapkan niat dengan bersuara keras

Dalam Qaul Mubin fi Akhta’ al-Mushallin halaman 95 disebutkan, “Mengucapkan niat dengan suara keras hukumnya tidaklah wajib tidak pula dianjurkan berdasarkan kesepakatan seluruh ulama.

Bahkan orang yang melakukannya dinilai sebagai orang yang membuat kreasi dalam agama yang menyelisihi syariat. Jika ada orang yang melakukan hal demikian karena berkeyakinan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari syariat Islam maka orang tersebut adalah orang yang tidak paham tentang agama dan tersesat dari jalan yang benar.

Bahkan orang tersebut berhak untuk mendapatkan hukuman dari penguasa jika dia terus-menerus melakukan hal tersebut setelah diberikan penjelasan. Terlebih lagi jika orang tersebut mengganggu orang yang berada di sampingnya disebabkan bersuara keras atau mengulang-ulangi bacaan niat berkali-kali.”

Nadzim Muhammad Sulthan mengatakan,

Mengucapkan niat dengan suara keras adalah kreasi dalam agama dan satu perbuatan yang dinilai munkar karena hal tersebut tidak terdapat dalam al-Quran dan hadits Nabi satupun dalil yang menunjukkan disyariatkannya hal diatas. Padahal kita semua mengetahui bahwa hukum asal ibadah adalah haram dan ibadah tidak boleh ditetapkan kecuali berdasarkan dalil.

(Qawaid wa Fawaid min al-Arbain an-Nawawiyah, halaaman 31)

Jamaluddin Abu Rabi’ Sulaiman bin Umar yang bermadzhab Syafi’i mengatakan,

Mengucapkan niat dengan suara keras dan juga membaca al-fatihah atau surat dengan suara keras dibelakang Imam bukanlah termasuk sunnah Nabi bahkan hukumnya makruh. Jika dengan perbuatan tersebut jamaah shalat yang lain terganggu maka hukumnya berubah menjadi haram. Barang siapa yang menyatakan bahwa mengucapkan niat dengan bersuara keras adalah dianjurkan maka orang tersebut sudah keliru karena siapapun dilarang untuk berkata-kata tentang agama Allah ini tanpa ilmu.”

(al-A’lam, 3/194)

Syaikh Alauddin al-A’thar berkata,

Mengucapkan niat dengan suara keras yang mengganggu jamaah shalat yang lain hukumnya adalah haram dengan kesepakatan ulama. Jika tidak menggangu yang lain maka hukumnya adalah kreasi dalam agama (baca: bid’ah) yang jelek. Jika ada orang yang melakukan hal tersebut bermaksud riya dengan lafadz niat yang dia ucapkan maka hukumnya haram. Karena dua alas an: riya dan pengucapan niat itu sendiri.

Orang yang mengingkari pendapat bahwa mengucapkan niat itu dianjurkan adalah orang yang benar. Sedangkan orang yang membenarkannya adalah orang yang keliru. Meyakini hal tersebut bagian dari agama Allah merupakan sebuah kekufuran. Sedangkan apabila tidak diyakini sebagai bagian dari agama Allah maka bernilai kemaksiatan. Setiap orang yang memiliki kemampuan untuk mencegah perbuatan ini memiliki kewajiban untuk mencegah dan melarangnya. Mengucapkan niat tidaklah diajarkan oleh Rasulullah shahabat, dan tidak pula seorangpun ulama yang menjadi panutan umat.” (Majmu’ah ar-Rasail al-Kubra 1/254)

Abu Abdillah Muhammad bin al-Qasim al-Thunisi yang mermadzhab Maliki mengatakan, Niat merupakan perbuatan hati. Mengucapkan niat dengan suara keras adalah bid’ah di samping mengganggu orang lain.” (Lihat Majmu’ah ar-Rasail al-Kubra hal 1/254-157)

b). Mengucapkan Niat dengan Suara Pelan

Syaikh Masyhur al-Salman mengatakan, “Demikian pula mengucapkan niat dengan suara pelan tidaklah diwajibkan Menurut Imam Madzhab yang empat dan para ulama yang lainnya. Tidak ada seorang ulama pun yang mewajibkan hal tersebut, baik dalam berwudhu, shalat atau pun berpuasa.” (al-Qoul al-Mubin halaman 96)

Abu Dawud pernah bertanya kepada Imam Ahmad, Apakah diperbolehkan mengucapkan sesuatu sebelum membaca takbiratul ihram?”Tidak boleh,” jawab Imam Ahmad. (Majmu’ Fatawa XII/28)

Dalam al-Amru bil Ittiba’, halaman 28, Suyuthi yang bermadzhab Syafi’i mengatakan,Di antara perbuatan bid’ah adalah was-was berkenaan dengan niat shalat. Hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para shahabat. Mereka tidak pernah mengucapkan niat shalat. Mereka hanya memulai shalat dengan Takbiratul Ihram padahal Allah berfirman, yang artinya, “Sungguh, pada diri Nabi telah ada suri tauladan yang baik.” (QS al-Ahzab: 21)

Imam Syafi’i sendiri menyatakan, Bahwa was-was berkenaan dengan niat shalat dan berwudhu merupakan dampak dari ketidakpahaman dari aturan syariat. Dan akal pikiran yang sudah tidak waras lagi.”

Mengucapkan niat memiliki dampak negatif yang sangat banyak sekali. Kita lihat ada seorang yang mengucapkan niat shalat secara jelas dan terang kemudian dia berkeinginan untuk mengucapkan takbiratul ihram. Orang tersebut lantas mengulangi lagi ucapan niatnya karena menganggap dia belum berniat dengan benar.

Ibn Abi al-Iz yang bermadzhab Hanafi mengatakan,Tidak ada seorang pun di antara Imam Madzhab yang empat baik Imam syafi’i atau yang lainnya yang mewajibkan ucapan niat sebelum beribadah.”

Tempat niat adalah hati dengan kesepakatan para Ulama. Tetapi ada sebagian ulama mutaakhirin (belakangan) yang mewajibkan mengucapkan niat dan dinyatakan sebagai salah satu pendapat dari Imam syafi’i.

Ini adalah sebuah kesalahan! Di samping itu, pendapat tersebut melanggar kesepakatan para ulama yang sudah ada sebelumnya.” Demikian komentar Nawawi.” (al-Ittiba’ halaman 62)

Intinya: Keterangan berbagai ulama di atas menunjukkan bahwa mengucapkan niat dengan bersuara keras hukumnya adalah bid’ah. Sedangkan orang yang menganjurkan hal tersebut maka orang tersebut salah paham dengan perkataan Imam Syafi’i.

Artikel www.ustadzaris.com

Hukum Melafadzkan Niat Hukum Mengucapkan Niat Mana Yg Sah Dalam Sollat Pakai Usolg Apa Langsung Tak Bir Dalil Niat Sholat Hukum Niat

22 Comments

  1. tad guru saya mewajibkan berniat dalam hati pada saat takbir jadi pada saat takbir kita wajib berkata dalam hati, misalnya “saya niat shalat dzhur empat raka’at ,menghadap qiblat fadhu karena Allah ta’ala”.. beliau berdalil dengan pendapat imam nawawi :
    Imam An-Nawawi (salah satu imam madzhab Syafi’i) mengatakan di dalam ‘Raudhatuth-Thalibin’ I/224, Al-Maktab Al-Islami : “Niat adalah maksud. Orang yang shalat hendaklah menghadirkan di dalam ingatannya dzat shalat itu sendiri dan sifat-sifatnya yang wajib ia lakukan, seperti Zhuhriyah dan Fardhiyah dan lain-lain. Kemudian, ia memasukkan pengetahuan-pengetahuan ini secara sengaja dan menghubungkan dengan awal takbir.” bagaimana tanggapan ustad tentang hal ini?

    Masalahnya pengucapan kalimat yang seperti itu, baik dengan bahasa arab atau bahasa lainnya, tidak lah dicontohkan oleh Rasulullah,
    Imam nawawi sendiri tidak membuat-buat lafadz seperti ushally…. dst…
    Ingat tentang kaidah, Ibadah pada asalnya hukumnya haram, sebelum datang dalil yang memerintahkannya,..
    Sedangkan perkara diluar ibadah, urusan dunia, hukum asalnya adalah boleh, sebelum datang dalil yang melarangnya,..

    Dan perintah untuk mengucapkan niat, baik di lisan atau di hati dengan lafadz-lafadz tertentu, ini tidak ada ajarannya dari Rasulullah,
    Jadi, jika ada orang yang melakukan hal diatas, ia telah menyelisihi ajaran Rasulullah yang mulia, terlepas siapa orang yang melakukannya,
    Jika hal itu baik, tentu para sahabat telah melakukannya,
    Imam yang empat saja tidak melakukan hal-hal seperti diatas,
    Siapa panutan kita?
    Tentu Rasulullah, buka ustadz kita, atau atau guru kita, ajengan, atau para ulama sekalipun,
    Jika perbuatan mereka tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah, maka kita tinggalkan perbuatan mereka itu, dan kita laksanakan yang sesuai dengan ajaran Rasulullah,
    Wallahu’alam…

    • Dalam madhab syafei hukumnya sunat jelas , anda hanya copy paste dalam beragumen ,

      Tolong sebutkan dimana Imam syafii mengatakannya, di kitab apa, halaman berapa, jangan berdusta atas nama Imam Syafii yang sangat gigih membela sunnah nabi, dan membenci bidah

      Anda jangan asal dalam berargumen,

      Dn hukum asal setiap perkara bukan haram tpi mubah sampai ada dalil yang dalil yang mengharamkan dan mewajibkan a,mensunahakan atau memakruhkan,,

      itu kaidah usul fiqih ,dalil dalm fiqih itu bukan hnya alqur’an dan sunnah tpi ijma dan qiyas yang disepakati para ulama ,

      Justru kaidah ushul fikih hukum asal dalam urusan ibadah itu HARAM dikerjakan hingga datangnya DALIL yang memerintahkannya,

      Seandainya kaidahnya terbalik, maka islam akan menjadi agama yang rusak seiring berjalannya waktu,
      Akan sangat banyak ajaran-ajaran baru,
      Padahal ISLAM sudah sempurna,..

      Orang yang menambah2 ajaran baru, tanpa seijin syariat, maka dia telah mendustakan ayat quran, surat almaidah ayat 3 , dan dia telah merasa lebih paham tentang ajaran islam daripada nabi,

      Nabi tdk mengerjakan, koq dia berani,..

      Dan penjelasan niat itu setiap madhab berbeda

      Tolong tunjukkan penjelasan tersebut, jangan ngarang-ngarang sendiri,

  2. wajib niat saat takbir
    Imam An-Nawawi (salah satu imam madzhab Syafi’i) mengatakan di dalam ‘Raudhatuth-Thalibin’ I/224, Al-Maktab Al-Islami : “Niat adalah maksud. Orang yang shalat hendaklah menghadirkan di dalam ingatannya dzat shalat itu sendiri dan sifat-sifatnya yang wajib ia lakukan, seperti Zhuhriyah dan Fardhiyah dan lain-lain. Kemudian, ia memasukkan pengetahuan-pengetahuan ini secara sengaja dan menghubungkan dengan awal takbir.”

    Tetapi, adakah pengucapan lafadz-lafadz seperti ushally,..dst… yang di ajarkan oleh imam syafi’i? silahkan anda mencari didalam kitab-kitab imam syafi’i, pasti tidak akan pernah engkau dapatkan,..
    Demikian pula dalam kitab imam an nawawi seperti yang anda nukilkan, adakah pengucapan lafadz-lafadz seperti itu? Dengan dilafadzkan dilisan?
    Tidak ada sama sekali, karena niat adalah pekerjaan hati,. bukan amalan lisan,..

    Niat adalah maksud, betul, misalkan begini, anda mau shalat maghrib di masjid, anda berjalan ke masjid itu anda sudah punya niat, bahwa anda mau shalat maghrib, bukan mau main-main di masjid, kemudian anda berwudhu, ini semakin memperkuat niat shalat maghrib anda, kemudian pas pelaksanaan shalat, maka anda harus menghadirkan niat itu dari takbir sampai salam,

    Niat itu bukan diawal shalat saja mas, tapi niat harus selalu hadir dari takbir sampai salam,
    Jika niat itu sebagaimana yang dilakukan kebanyakan orang, hanya diawal saja ketika mau takbir, yaitu dengan melafadzkan saja, maka shalatnya bisa menjadi rusak, karena niat itu harus selalu menyertai amal yang dilakukan, niat itu harus selalu hadir, hingga berakhirnya kegiatan shalat kita tersebut..

    Dan menghadirkan niat adalah pekerjaan yang tidaklah enteng, sungguh berat kita menjaga niat kita didalam shalat, dari takbir sampai salam,

    • jadi kalo ga pake ushali tapi cuma didalam hati baca ushalinya pas takbir mas setuju ga???

      Rasulullah kalau shalat itu tidak pernah membaca ushalliy,,,, baik di mulut atau dalam hatinya,
      Dan bacaan shalat itu bukan didalam hati, tetapi di lisan, semua doa dan bacaan shalat itu diucapkan di mulut, bukan didalam hati, tetapi ada yang dipelankan, dan ada yang dikeraskan, dan semuanya harus mengikuti contoh pengamalan Rasulullah, sebagaimana hadits Rasulullah tentang shalat:
      “Shalatlah kamu sebagaimana kamu lihat aku shalat”
      jadi jika tetap mengucapkan ushalliy,.. walaupun didalam hati, itu menyelisihi ajaran Rasulullah, sebaiknya ditinggalkan,..
      Rasulullah sudah mencontohkan kok, sangat mudah, jika mau shalat, Rasulullah mengucapkan takbir, “Allahu Akbar”
      Kok mau ya mengamalkan amalan yang panjang, tapi tidak diajarkan oleh Rasulullah sama sekali,…

      Jadi, tinggalkanlah amalan tersebut,
      Memang awal-awal mungkin rada aneh, shalat ngga baca ushally, tapi dengan berlalunya waktu, akan hilang dengan sendirinya perasaan itu,
      Itulah jeleknya perbuatan bidah, jika dilakukan terus menerus, seolah-olah itu adalah ajaran Rasulullah, yang kalau ditinggalkan, maka seolah-olah kita meninggalkan ajaran Rasulullah, padahal pada hakekatnya adalah kebalikannya,

      Jika kita sudah mempelajari tata cara shalat yang diajarkan oleh Rasulullah, tentu kita akan merasa aneh terhadap orang-orang yang mengamalkan ajaran ushally, yang tidak tahu darimana sumbernya,…

      Hukum asal dari perkara ibadah itu adalah haram, jadi orang-orang yang mengamalkan ajaran “ushally” itu wajib mendatangkan dalil yang menyuruh melakukan hal tersebut, tentunya dalil yang shahih,..
      Jika mereka tidak menemukan dalilnya, maka amalan tersebut adalah tertolak, tidak diterima disisi Allah, bahkan mendapatkan dosa, dan penyebab kita tidak bisa minum air telaga Rasulullah, karena itu termasuk perbuatan bid’ah..

      Jadi bukan dalil, jika ada yang mengatakan, kan tidak ada dalil yang melarang ushally,… ini hanya diutarakan oleh orang-orang yang bodoh terhadap ajaran Rasulullah, terlepas siapapun orangnya, apakah kyiai, ustadz, atau habib,ajengan, dll…

      • wrga NU jngn dngrin dia, dengerin ulama ulama kita z..klo d turutin tkut solatnya gk bnr…..

        pak saya mau tnya??? ktka anda sudh slesai takbiratul ihram..anda mau mmbca fatihah,apkh anda sblom mbca fatihah mmbca basmallah dulu??? mohon d jawab

        Bukan baca basmalah saja, tapi sebelumnya baca ta’awudz juga, baru baca basmalah,

        Jika posisi sebagai IMAM, maka bacaan tersebut dibaca dengan suara siir atau pelan, cukup kita yg dengar, nah itu yg sering dilakukan oleh Rasulullah,

  3. Subhanallah..subhanallah..subhanallah..
    Inilah tulisan mendalam Ust. Muhammad Mu’afa yang kami tunggu2 ^_^ tentang HUKUM MELAFADZKAN NIAT…insyaAllah mencerahkan..

    http://abuhauramuafa.wordpress.com/tag/hukum-melafadzkan-niat/

    Di dalamnya dijelaskan 11 argumentasi terpenting yang menunjukkan MUBAHNYA pelafalan niat…12 tanggapan beliau thd. sebagian kaum muslimin yang berpendapat bahwa melafalkan niat dalam ibadah adalah haram, bahkan bid’ah…tanggapan thd. pendapat yang mensunnahkan…DAFTAR NAMA PARA ULAMA YANG TIDAK MELARANG PELAFALAN NIAT..dan terakhir adalah pesan beliau ttg. penyikapan dalam adab/tata krama terhadap ikhtilaf ulama…

    Terimakasih atas tanggapannya,
    apa yang ditulis di link tersebut, adalah jawaban2 yg sangat lemah,
    Tentang dikeraskannya dzikir ketika berhaji, rasulullah mengajarkannya, ini bukanlah tanggapan utk melafadzkan niat, karena niat tetap di hati, dan niat itu bukan perbuatan lisan ( melafadzkan itu perbuatan lisan)
    niat itu perbuatan hati, dan tidak ada satu orangpun yang bisa melakukan suatu pekerjaan apapun juga tanpa niat, karena niat itu sdh terbersit didalam hati,

    Dan niat itu wajib hadir dan dihadirkan terus dalam suatu amalan ibadah,
    contoh mudahnya ibadah shalat, apakah kita cukup niat ketika mau takbiratul ihram saja? TIDAK, tapi kita wajib menghadirkan niat dari awal shalat hingga salam, jika niat kita berubah ditengah shalat, dan tidk berusaha menjaga niat kita, maka shalat kita bisa batal, misalkan begini contohnya, Ketika kita mau melakukan shalat, kita berniat dalam hati, shalat kita kerjakan lillahi ta’ala, kemudian setelah dapat satu rakaat, ada orang yang melihat kita sedang shalat,lalu kita pun berniat utk membagus2kan shalat kita supaya dipuji oleh orang tersebut, demikian hingga salam, maka kita telah terjatuh kedalam kesalahan, shalat kita yang tadinya lillahi ta’ala, telah berubah bukan lillahi ta’ala, dan ini bisa membatalkan shalatnya,

    Alangkah beratnya jika kita mengerjakan shalat yang niat dilafadzkan, sedangkan niat dalam shalat harus selalu hadir dari takbir hingga salam, maka ini sangatlah susah, kapan kita membaca surat,dll, sebab membaca surat dan doa2 dalam shalat itu dilafadzkan, bukan didalam hati,

    Dan Rasulullah juga tidak pernah mengajarkan doa niat shalat, seperti ushalli,dst,.. atau niat wudhu spt nawaitul wudhu dst.. jadi mengikuti ajaran siapakah amalan niat tersebut??

  4. Apakah kang admin sudah mengenal Rasulullah? Sudah berjumpa dengan Rasulullah? Kok banyak menggunakan kata Rasulullah untuk memperkuat jawabannya.
    Rasulullah itu siapa?
    Sudahkah berjumpa dengan Rasulullah?

    Terimakasih mas moko,
    mudah saja sebenarnya,. jika Rasulullah mengatakannya, pasti sudah tertulis di kitab-kitab para ulama,.
    Jika ada haditsnya, dan hadits tsb shahih, maka berarti rasulullah mengatakannya,..
    Gitu aja kok repot..

    • Maaf, saya beranikan untuk bertanya kpd saudara admin. Andai kata misal..saudara hidup dimasa rasulullah, mampukah anda “mengkoreksi” rasulullah thd perkara dlm ibadah yang tidak dilakukan beliau , namun itu perkara baik.

      Perbuatan rasulullah dalam hal ibadah, itu pasti datang dari Allah, jadi ga perlu dikoreksi,..

      Lancang itu namanya

  5. bagai mana khusus setelah sholat Jum’at, zikirnya apakah sama dengan seperti setelah sholat fardhu. sukron.

    terimakasih mas untung,.
    iya, betul, karena shalat jumat pengganti shalat dzuhur, maka dzikirnya sama seperti dzikir setelah shalat dzuhur(shlat fardhu),.

  6. Lalu untuk membedakan niat shalat fardhu dn sunnah bagaimana?

    Apakah anda bisa membedakan niat anda ketika anda memakai baju warna hitam dan baju warna putih? apakah anda bisa mengambil dengan benar, ketika anda mau memakai baju warna putih, maka baju putih yang anda ambil, bukan salah ambil,.
    Mudah kan anda membedakannya,. demikian pula shalat,. gampang,.

  7. Lalu cara membedakan niat shalat yang fardhu dengan yang sunnah bagaimana?

    Ngga usah membedakan niat shalat yg fardhu dan sunnah,. wong kalau kita mau makan apel lalu makan pisang saja ga pakai ngomong saya mau makan apel, lalu saya mau makan pisang,..

    Begitu juga shalat sunnah dan fardhu, NIAT ITU HAL YG OTOMATIS HADIR SAAT KITA MELAKUKAN PERBUATAN DALAM KONDISI SADAR,..
    Sebaiknya anda pahami dulu, apa sih arti niat,.silahkan baca disini

  8. Assalamu’alaikum
    Berarti menyebutkan niat untuk berwudhu jga tidak ada dalam ajaran Rasullullah bang? Mohon penjelesannya maaf saya mualaf bang

    wa’alaikumussalam warahmatullah,
    alhamdulillah Allah berikan hidayah kepadah anda utk masuk islam,

    Islam itu agama yg berdasarkan dalil, semua amalan itu wajib ada sumbernya dari Rasulullah, bukan ikut2an kebiasaan atau tradisi.

    termasuk dalam hal ini adalah cara wudhu, itu sudah rasul ajarkan.

    cara ke wc saja rasul ajarkan, apalagi cara wudhu, dan banyak kaum muslimin yg mereka sudah islam sejak lahir, tapi dalam mengamalkan islam tidak mengikuti dalil dari rasulullahm contohnya dalam cara wudhu mereka.

    seperti apa sih cara wudhu yang diajarkan rasul? silahkan baca disini

  9. Assalamualaikum.
    Kalau niat sholat hukumnya tidak wajib maka apakah untuk niat seluruh aktifitas kita juga tidak perlu diucapkan atau dibacakan, contonnya niat mau makan “allahumma..” niat mau tidur “bismika…” dan niat niat yang lainnya
    Terimakasih jawabannya pak

    Wa’alaikumussalam warahmatullah
    NIAT SHALAT ITU WAJIB HUKUMNYA, jika tidak berniat maka SHALATNYA TIDAK SAH,.
    Yang jadi masalah adalah membaca NIAT SHALAT yang itu TIDAK PERNAH diajarkan oleh Rasulullah seperti bacaan Ushalli… dst..
    Niat itu hal yang otomatis ada ketika kita mau melakukan perbuatan apapun dalam kondisi sadar,.

    Jadi ketika mau shalat, PASTI sudah ada niat bahwa kita mau shalat,.. jadi ngga perlu lagi mengucapkan niat,.. melafadzkan niat dengan bacaan ushalli,.dst itu bukanlah ajaran dari Islam, tidak pernah Rasulullah lakukan, padahal Rasulullah yang lebih paham tentang cara shalat,. tidak sahabat lakukan, bahkan imam madzhab yang empat juga tidak melakukannya,..

    Adapun bacaan ketika mau makan, mau tidur, mau ganti pakaian,itu semua BUKANLAH NIAT..
    Tapi itu doa atau dzikir ketika mau melakukan hal tersebut, dan itu wajib diucapkan, bukan dibaca di dalam hati, tapi diucapkan di mulut,.

    Dan ingat, jangan asal baca, tapi bacalah doa atau dzikir yang rasulullah ajarkan, seperti contohnya doa atau dzikir ketika mau makan itu bukan membaca Allahumma fiima baariklana dst.. itu haditsnya dhaif, tapi bacalah BISMILLAH.. sudah saya posting disini

    • Iya pak maksud saya membacakan niat seperti ushalli dan lainnya. Sedang niat dalam hati itu memang pasti muncul ketika k8ta ingin mengerjakan shalat ataupun yg lainnya.

      Melafadzkan niat itu tidak ada tuntunannya dari Rasulullah, jadi tidak usah dilakukan, meninggalkan hal tersebut karena itu tidak diajarkan oleh Rasulullah, maka akan mendapatkan pahala, tapi kalau melakukannya maka akan mendapatkan dosa, karena terjatuh dalam perbuatan bidah

      Untuk pertanyaan saya melafaskan atau membacakan niat yg lainnya bagaimana pak?

      Adapun bacaan ketika mau makan, mau tidur, mau ganti pakaian,itu semua BUKANLAH NIAT..
      Tapi itu doa atau dzikir ketika mau melakukan hal tersebut, dan itu wajib diucapkan, bukan dibaca di dalam hati, tapi diucapkan di mulut,.

      Dan ingat, jangan asal baca, tapi bacalah doa atau dzikir yang rasulullah ajarkan, seperti contohnya doa atau dzikir ketika mau makan itu bukan membaca Allahumma fiima baariklana dst.. itu haditsnya dhaif, tapi bacalah BISMILLAH.. sudah saya posting disini

      • Maksud saya begini pak.
        Saya diajarkan sejak kecil untuk membaca niat untuk melakukan sesuatu.

        Misalnya puasa ramadhan baca niat nawaitu…

        Mau makan juga niat allahumabariklana…

        Mau tidur baca bismika…

        Dan lain lain, apa itu dibenarkan atau tidak pak

        Bacaan nawaitu, ushalii,. itu tidak benar, tidak ada contohnya dari rasulullah, jadi wajib ditinggalkan,.

        Adapun doa sebelum makan, sebelum tidur, itu memang diajarkan dan harus diucapkan, bukan di dalam hati,
        Khusus doa mau makan yang anda sebutkan itu, itu tidak benar bacaannya, harusnya cuma membaca BISMILLAH..

        • jadi adakah juga dalilnya yang melarang kita mengucapkan ushalli diwaktu sholat

          Saya tambahkan, adakah dalilnya yang melarang kita shalat dengan bahasa indonesia?

  10. bagaimana kalau lafadzkan niatx tapi dalam hati, apa itu boleh?
    dan klw tdk boleh, adakah dalil nya yang secara tertulis dari al quran dan hadist bhw “dilarang melafadzkan niat meskipun dalam hati” sebelum sholat.

    membaca kata-kata tertentu yang dianggap sebagai niat, baik dibaca di mulut atau cuma di hati, ini
    Tetap tidak boleh, dan itu termasuk bidah

    Seluruh bacaan shalat itu wajib diucapkan di lisan atau mulut, ga boleh cukup di hati, shalatnya bisa ngga sah jika dibacanya di hati

  11. Bismillah..
    Patokan kita beribadah adalah rasululloh yah sya kira umat muslim setuju semua nih..yang jadi pertanyaan adalah kenapa diantara imam 4 besar(hanafi,ahmad bin hambal,maliki,syafii) kok ada perbedaan dlm hal sholat…

    wudlunya juga beda..

    kenapa sholat dan wudlunya tidak sama dengan yg diajarkan ustadz2 salafi masa kini???

    bukankah mereka (imam 4) para tabiin dan tabiut tabiin?

    Bukankah dalilnya mreka alqur’an dan hadits?

    Atau apakah pemahaman mereka itu bukan pemahaman sahabat?

    Mohon dijelaskan admin, syukron..

    Jaman dahulu, berbeda dengan jaman sekarang,.
    Jaman Imam Abu hanifah, berbeda dengan jaman Imam Malik, padahal Abu Hanifah hidup lebih dahulu daripada Imam Malik,.

    Jaman dahulu mencari satu hadits itu susah, harus melakukan perjalanan jauh, berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, dan belum tentu mendapatkan hadits tersebut,.

    Jaman sekarang, mencari seribu hadits sangat mudah, bahkan bisa mengetahui derajat keshahihannya,.

    Kenapa Para imam madzhab berbeda-beda? itu karena tidak sampainya hadits yang menjelaskan tentang hal tersebut kepada mereka,.

    Sehingga ketika sampai hadits, maka imam madzhab pun membuang madzhabnya, dan ikut kepada Dalil atau hadits,.

    Jadi kenapa mereka membuat madzhab? madzhab itu kan artinya pendapat, hasil ijtihad, mereka berijtihad karena tidak mendapatkan dalil,.

    Saya sudah posting disini

    Jadi bukan ustadz salafi menjelaskan berbeda dengan imam madzhab, tapi para ustadz salafi menjelaskan berdasarkan hadits yang shahih, yang itu mungkin saja bertentangan dengan madzhab,.

    Dan kewajiban kita itu bukan ikut madzhab, tapi ikut dalil, dan ini pula yang diajarkan oleh Imam madzhab, tidak boleh ikut madzhab, tapi disuruh ikut dalil,
    Silahkan baca perkataan emas para imam madzhab, saya sudah posting di sini

  12. Alhamdulillah, awalnya agak sulit meninggalkan kebiasaan mengucapkan lafazh usholli atau nawaitu, smg byk yg tercerahkan, jazakumullahu khairan

    Ya, karena kebiasaan jelek yang dibiasakan, maka akan dianggap sbagai kebenaran,

    Dan ketika mau meninggalkan, maka butuh perjuangan,..

  13. Assalamualaikum Warahmatullahiwabarokatuh, saya mau tanya Bolehkah ketika hendak Sholat membaca Taawud dan basmalah , terkadang ditambah surat Annas Lalu Takbir tanpa mengucapkan bacaan niat” Usholly Fardlu… “, Tolong Nasihatnya .. Terima kasih.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    TIDAK BOLEH, itu adalah BIDAH,.
    Bacaan taawudz dan basmalah itu dibaca ketika mau baca Alfatihah, bukan dibaca sebelum shalat, apalagi ditambah surat annaas,.

  14. Sekarang saya sdh paham,terima kasih pak atas pelajarannya,sngt bermampaat.

    Tapi saya mau tanya,sah kah sholat kita tanpa baca taawudz,?mohon penjelasannya pak.

    Justru kalau baca taawudz sebelum shalat, anda akan mendapat DOSA, karena telah melakukan amalan BIDAH

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*