Kisah Kedermawanan Tiga Serangkai

Keikhlasan untuk berbuat baik dan mendahulukan kepentingan orang lain disaat diri sendiri sedang terjepit memang sulit. Namun kisah kedermawanan tiga serangkai ini benar-benar ada dan patut untuk dijadikan pelajaran berharga.

Sebelum jadi qadhi (hakim agung dalam pemerintahan islam), imam Al Waqidi pernah terjepit masalah ekonomi yang begitu menjepit. Pada saat itu bulan ramadhan sudah sangat dekat, sedang ia tak memiliki uang sepeserpun.

Tiba-tiba ia ingat seorang temannya yang kebetulan masih keturunan sahabat Imam bin Abi Thalib (Alawy). Maka segera ia menulis surat untuk meminjam uang sebanyak seribu dirham kepada temannya tadi. Tak lama iapun mendapat balasan dari sahabatnya tadi, sekaligus uang yang dia pinjam, diletakkan dalam sebuah kantong tertutup.

Tetapi pada malam harinya, ia gantian menerima sepucuk surat dari temannya yang lain. Ia ingin meminjam uang sebesar seribu dirham untuk kebutuhan bulan ramadhan. Tanpa pikir panjang, ia mendahulukan kepentingan saudaranya itu. Segera ia mengirimkan uang sebesar seribu dirham yang tadi siang baru saja ia terima untuk diserahkan kepada temannya itu.

Keesokan harinya, dengan kehendak Allah teman Alwaqidi yang meminjami dan yang meminjam uang berkunjung ke rumahnya secara bersamaan. Dan kemudian si alawy keturunan ali- ini bertanya kepada al waqidi perihal uang yang seribu dirham itu. Dan alwaqidi menjawab bahwa uang itu telah ia gunakan untuk suatu keperluan.

Tiba-tiba teman alwaqidi itu tertawa. Sambil mengeluarkan sekantong uang ia berujar,

“Demi Allah, bulan ramadhan sudah dekat, sedangkan saya tidak memiliki apapun kecuali yang seribu dirham ini. Setelah kau mengirim surat kepadaku, maka lantas saya kirimkan uang milik saya kepadamu. Sementara saya menulis surat untuk teman kita yang satu ini, untuk pinjam uang sebesar seribu dirham. Lalu dia mengirimkan kantong uang ini kepada saya. Melihat kantong uang ini saya menjadi heran, lantas saya tanyakan kepadanya, bagaimana ceritanya hingga bisa begini! Diapun bercerita kepada saya. Dan sekarang kami datang untuk membagi uang ini buat kita bertiga,”  Semoga Allah akan memberikan kelapangan buat kita bertiga, ” katanya mengakhiri.

Mendengar penuturan temannya , Al waqidi berkata,”Aku tidak tahu siapa diantara kita yang lebih dermawan.”

Kemudian mereka bagi uang itu menjadi tiga bagian sama rata.

Bulan ramadhanpun akhirnya berlalu. Alwaqidi telah membelanjakan sebagian besar uangnya untuk keperluan sehari-hari. Kini uangnya tersebut makin menipis. Hal itu membuat hatinya menjadi gundah dan gelisah. “Aduh, bagaimana ini!”, pikirnya.

Pagi itu secara tiba-tiba datang ke rumahnya utusan Yahya Albarmaki ke rumahnya. Utusan itu menyampaikan pesan agar ia datang menemui beliau. Setelah Alwaqidi menghadap, beliau lantas berkata,”Wahai waqidi! tadi malam aku telah bermimpi melihatmu. Kondisimu saat ini sangat memprihatinkan, coba jelaskan apa yang terjadi padamu!”

Maka Alwaqidi pun menjelaskan semuanya. Mulai dari uang seribu dirham hingga temannya yang alawy dan teman yang satunya lagi sampai kondisinya saat ini.

Mendengar penuturan Alwaqidi, Yahya Albarmaki berkomentar, “Aku tidak tahu, siapa diantara kalian yang paling dermawan.”

Beliau lantas memerintahkan agar Alwaqidi diberi uang sebesar tigapuluhribu dirham, dan kemudian temannya masing-masing memperoleh uang sebanyak duapuluh dirham.

Tidak hanya sampai disitu hikmah ketulusannya mendahulukan kepentingan orang lain. Yahya Albarmaki pun meminta Alwaqidi untuk menjadi Qadhi. Ternyata buah kebaikan itu sangat nikmat khan?

Dinukil dari Majalah Elfata edisi 9/11/2002

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*