Jawaban Untuk Para Pendukung Bid'ah Hasanah

Syubhat-Syubhat Para Pendukung Bid’ah Hasanah

adakah bid'ah hasanahSyubhat-syubhat para pendukung bid’ah hasanah
(Imam Syafii mendukung bid’ah hasanah??)

Syubhat pertama :

Mereka berdalil dengan perkataan beberapa ulama yang mengesankan dukungan terhadap adanya bid’ah hasanah.

Diantaranya adalah perkataan Imam As-Syafi’i dan perkatan Al-Izz bin Abdissalam rahimahumallah.

Adapun perkataan Imam As-Syafi’i maka sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dengan sanad beliau hingga Harmalah bin Yahya-,

ثَنَا حَرْمَلَة بْنُ يَحْيَى قَالَ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِي يَقُوْلُ : البِدْعَةُ بِدْعَتَانِ بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ، فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَذْمُومٌ، وَاحْتَجَّ بِقَوْلِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ : نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هِيَ

Dari Harmalah bin Yahya berkata, “Saya mendengar Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i berkata, “Bid’ah itu ada dua, bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela, maka bid’ah yang sesuai dengan sunnah adalah terpuji dan bid’ah yang menyelisihi sunnah adalah bid’ah yang tercela”, dan Imam Asy-Syafi’i berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottob tentang sholat tarawih di bulan Ramadhan “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” (Hilyatul Auliya’ 9/113)

Sebelum menjelaskan maksud dari perkataan Imam As-Syafii ini apalah baiknya jika kita menelaah definisi bid’ah menurut beberapa ulama, sebagaiamana berikut ini:

Definisi bid’ah menurut para ulama

Imam Al-‘Iz bin ‘Abdissalam berkata :

هِيَ فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَهْدِ الرَّسُوْلِ

((Bid’ah adalah mengerjakan perkara yang tidak ada di masa Rasulullah)) (Qowa’idul Ahkam 2/172)

Imam An-Nawawi berkata :

هِيَ إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ

((Bid’ah adalah mengada-ngadakan sesuatu yang tidak ada di masa Rasulullah)) (Tahdzibul Asma’ wal lugoot 3/22)

Imam Al-‘Aini berkata :

هِيَ مَا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَصْلٌ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَقِيْلَ: إِظْهَارُ شَيْءٍ لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ وَلاَ فِي زَمَنِ الصَّحَابَةِ

((Bid’ah adalah perkara yang tidak ada asalnya dari Al-Kitab dan As-Sunnah, dan dikatakan juga (bid’ah adalah) menampakkan sesuatu yang tidak ada pada masa Rasulullah dan tidak ada juga di masa para sahabat)) (Umdatul Qori’ 25/37)

Ibnu ‘Asaakir berkata :

مَا ابْتُدِعَ وَأُحْدِثَ مِنَ الأُمُوْرِ حَسَناً كَانَ أَوْ قَبِيْحًا

((Bid’ah adalah perkara-perkara yang baru dan diada-adakan baik yang baik maupun yang tercela)) (Tabyiinu kadzibil muftari hal 97)

Al-Fairuz Abadi berkata :

الحَدَثُ فِي الدَّيْنِ بَعْدَ الإِكْمَالِ، وَقِيْلَ : مَا استَحْدَثَ بَعْدَهُ مِنَ الأَهْوَاءِ وَالأَعْمَالِ

((Bid’ah adalah perkara yang baru dalam agama setelah sempurnanya, dan dikatakan juga : apa yang diada-adakan sepeninggal Nabi berupa hawa nafsu dan amalan)) (Basoir dzawi At-Tamyiiz 2/231)

Dari defenisi-defenisi di atas maka secara umum dapat kita simpulkan bahwa bid’ah adalah segala perkara yang terjadi setelah Nabi, sama saja apakah perkara tersebut terpuji ataupun tercela dan sama saja apakah perkara tersebut suatu ibadah maupun perkara adat.

Karena keumuman ini maka kita dapati sekelompok ulama yang membagi hukum bid’ah menjadi dua yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, bahkan ada yang membagi bid’ah sesuai dengan hukum taklifi yang lima (haram, makruh, wajib, sunnah, dan mubah), sebagaimana pembagian bid’ah menurut Al-‘Iz bin Abdissalam yang mengklasifikasikan bid’ah menjadi lima (wajib, mustahab, haram, makruh, dan mubah), beliau berkata,

“Bid’ah terbagi menjadi bid’ah yang wajib, bid’ah yang haram, bid’ah yang mandub (mustahab), bid’ah yang makruh, dan bid’ah yang mubah. Cara untuk mengetahui hal ini yaitu kita hadapkan bid’ah tersebut dengan kaidah-kaidah syari’at, jika bid’ah tersebut masuk dalam kaidah-kaidah pewajiban maka bid’ah tersebut wajib, jika termasuk dalam kaidah-kaidah pengharaman maka bid’ah tersebut haram, jika termasuk dalam kaidah-kaidah mustahab maka hukumnya mustahab, dan jika masuk dalam kaidah-kaidah mubah maka bid’ah tersebut mubah. Ada beberapa contoh bid’ah yang wajib, yang pertama berkecimpung dengan ilmu nahwu yang dengan ilmu tersebut dipahami perkataan Allah dan perkataan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, hal ini hukumnya wajib karena menjaga syari’at hukumnya wajib dan tidak mungkin menjaga syari’at kecuali dengan mengenal ilmu nahwu, dan jika suatu perkara yang wajib tidak sempurna kecuali dengan perkara yang lain maka perkara yang lain tersebut hukumnya wajib. Contoh yang kedua adalah menjaga kata-kata yang ghorib (asing maknanya karena sedikit penggunaannya dalam kalimat) dalam Al-Qur’an dan hadits, contoh yang ketiga yaitu penulisan ushul fiqh, contoh yang keempat pembicaraan tentang al-jarh wa at-ta’dil untuk membedakan antara hadits yang shahih dengan hadits yang lemah. Kaidah-kaidah syari’at menunjukan bahwa menjaga syari’at hukumnya fardlu kifayah pada perkara-perakra yang lebih dari ukuran yang ditentukan dan tidaklah mungkin penjagaan syari’at kecuali dengan apa yang telah kami sebutkan (di atas).”

Ada beberapa contoh bid’ah yang haram, diantaranya madzhab Qodariyah, madzhab Al-Jabariah, madzhab Al-Murji’ah, dan membantah mereka termasuk bid’ah yang wajib.

Ada beberapa contoh bid’ah yang mustahab diantaranya pembuatan Ar-Robt dan sekolah-sekolah, pembangunan jembatan-jembatan, dan setiap hal-hal yang baik yang tidak terdapat pada masa generasi awal, diantaranya juga sholat tarawih, pembicaraan pelik-pelik tasowwuf (sejenis mau’idzoh yang sudah ma’ruf), perdebatan di tengah keramaian orang banyak dalam rangka untuk beristidlal tentang beberapa permasalahan jika dimaksudkan dengan hal itu wajah Allah. Contoh-contoh bid’ah yang makruh diantaranya menghiasi masjid-masjid, menghiasi mushaf (Al-Qur’an), adapun melagukan Al-Qur’an hingga berubah lafal-lafalnya dari bahasa Arab maka yang benar ia termasuk bid’ah yang haram.

Contoh-contoh bid’ah yang mubah diantaranya berjabat tangan setelah sholat subuh dan sholat ashar, berluas-luas dalam makanan dan minuman yang lezat, demikian juga pakaian dan tempat tinggal, memakai at-thoyaalisah (sejenis pakaian yang indah/mahal) dan meluaskan pergelangan baju. Terkadang beberapa perkara diperselisihkan (oleh para ulama) sehingga sebagian ulama memasukannya dalam bid’ah yang makruh dan sebagian ulama yang lain memasukannya termasuk sunnah sunnah yang dilakukan pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sepeninggal beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam, hal ini seperti beristi’adzah dalam sholat dan mengucapkan basmalah.” (Qowa’idul ahkam 2/173-174)

Ada 3 hal penting berkaitan dengan pengklasifikasian ini:

Pertama : Jika kita perhatikan perkataan Al-‘Iz bin Abdissalam secara lengkap dengan memperhatikan contoh-contoh penerapan dari pengklasifikasiannya terhadap bid’ah maka sangatlah jelas maksud beliau adalah pengklasifikasian bid’ah menurut bahasa, karena contoh-contoh yang beliau sebutkan dalam bid’ah yang wajib maka contoh-contoh tersebut adalah perkara-perkara yang termasuk dalam al-maslahah al-mursalah (yaitu perkara-perkara yang beliau contohkan yang berkaitan dengan bid’ah wajib) bahkan beliau dengan jelas menyatakan bahwa syari’at tidak mungkin dijalankan kecuali dengan bid’ah yang wajib tersebut.

As-Syathibi berkata “Sesungguhnya Ibnu Abdissalam yang nampak darinya ia menamakan maslahah mursalah dengan bid’ah karena perkara-perkara maslahah mursalah secara dzatnya tidak terdapat dalam nas-nas yang khusus tentang dzat-dzat mashlahah mursalah tersebut meskipun sesuai dengan kaidah-kaidah syari’at…dan ia termasuk para ulama yang berpendapat dengan mashlahah mursalah, hanya saja ia menamakannya bid’ah sebagaimana Umar menamakan sholat tarawih bid’ah” (Al-I’tishom 1/192)

Demikian juga bid’ah yang mustahab, berkaitan dengan wasilah dalam menegakkan agama. Sholat tarawih adalah termasuk perbuatan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan sholat tarawih secara berjama’ah bersama para sahabatnya beberapa malam. Dan pada tahun yang lain Nabi meninggalkan tarawih karena dikawatirkan akan diwajibkan karena tatkala itu masih zaman diturunkannya wahyu (ta’syri’). Hal ini menunjukan pada asalnya Nabi sholat malam bersama para sahabatnya dan di waktu yang lain beliau meninggalkannya karena kekawatiran akan diwajibkan. Namun kekawatiran ini tidak terdapat lagi di zaman Abu Bakar dan Umar. Hanya saja Abu akar tidak melaksanakan sholat tarawih karena ada dua kemungkinan, yang pertama karena mungkin saja ia memandang bahwa sholat orang-orang di akhir malam dengan keadaan mereka masing-masing lebih baik dari pada sholat di awal malam dengan mengumpulkan mereka pada satu imam (hal ini sebagaimana disebutkan oleh At-Thurtusi), atau karena kesibukan beliau mengurus negara terutama dengan munculnya orang-orang yang murtad sehingga beliau harus memerangi mereka yang hal ini menyebabkan beliau tidak sempat mengurusi sholat tarawih. (lihat Al-I’tishom 2/194)

Demikian contoh-contoh lain dari bid’ah mustahab (hasanah) yang disampaikan oleh beliau diantaranya : pembangunan sekolah-sekolah merupakan sarana untuk menuntut ilmu, dan pembicaraan tentang pelik-pelik tasawwuf yang terpuji adalah termasuk bab mau’izhoh (nasehat) yang telah dikenal.

Kedua : Dalam contoh-contoh bid’ah yang disyari’atkan (baik bid’ah yang wajib maupun bid’ah yang mustahab) sama sekali beliau tidak menyebutkan bid’ah-bid’ah yang dikerjakan oleh para pelaku bid’ah (Seperti sholat rogoib, maulid Nabi, peringatan isroo mi’rooj, tahlilan, dan lain-lain) dengan dalih bahwa bid’ah tersebut adalah bid’ah hasanah, bahkan beliau dikenal dengan seorang yang memerangi bid’ah.

Ketiga : Beliau dikenal dengan orang yang keras membantah bid’ah-bid’ah yang disebut-sebut sebagai bid’ah hasanah.

Berkata Abu Syamah (salah seorang murid Al-‘Iz bin Abdissalam),

“Beliau (Al-‘Iz bin Abdissalam) adalah orang yang paling berhak untuk berkhutbah dan menjadi imam, beliau menghilangkan banyak bid’ah yang dilakukan oleh para khatib seperti menancapkan pedang di atas mimbar dan yang lainnya. Beliau juga membantah sholat rogoib dan sholat nishfu sya’ban dan melarang kedua sholat tersebut” (Tobaqoot Asy-Syafi’iah al-Kubro karya As-Subki 8/210, pada biografi Al-‘Iz bin Abdissalam)

Beliau ditanya : Berjabat tangan setelah sholat subuh dan ashar hukumnya mustahab atau tidak? Doa setelah salam dari seluruh sholat mustahab bagi imam atau tidak? Jika engkau berkata hukumnya mustahab maka (tatkala berdoa) sang imam balik mengahadap para makmum dan membelakangi kiblat atau tetap menghadap kiblat?…

Jawab : Berjabat tangan setelah sholat subuh dan ashar termasuk bid’ah kecuali bagi orang yang baru datang dan bertemu dengan orang yang dia berjabat tangan dengannya sebelum sholat, karena berjabat tangan disyari’atkan tatkala datang.

Setelah sholat Nabi berdzikir dengan dzikir-dzikir yang disyari’atkan dan beristighfar tiga kali kemudian beliau berpaling (pergi)… dan kebaikan seluruhnya pada mengikuti Nabi. Imam As-Syafi’i suka agar imam berpaling setelah salam. Dan tidak disunnahkan mengangkat tangan tatkala qunut sebagaimana tidak disyari’atkan mengangkat tangan tatkala berdoa di saat membaca surat al-Fatihah dan juga tatkala doa diantara dua sujud…

Dan tidaklah mengusap wajah setelah doa kecuai orang jahil. Dan tidaklah sah bersholawat kepada Nabi tatkala qunut, dan tidak semestinya ditambah sedikitpun atau dikurangi atas apa yang dikerjakan Rasulullah tatkala qunut” (Kittab Al-Fataawaa karya Imam Al-‘Izz bin Abdis Salaam hal 46-47, kitabnya bisa didownload di http://majles.alukah.net/showthread.php?t=39664)

Beliau juga menyatakan bahwa mengirim bacaan qur’an kepada mayat tidaklah sampai (lihat kitab fataawaa beliau hal 96). Beliau juga menyatakan bahwasanya mentalqin mayat setelah dikubur merupakan bid’ah (lihat kitab fataawaa beliau hal 96)

Pengklasifikasian bid’ah menjadi bid’ah dholalah dan bid’ah hasanah juga diikuti oleh Imam An-Nawawi, beliau berkata, “Dan bid’ah terbagi menjadi bid’ah yang jelek dan bid’ah hasanah”, kemudian beliau menukil perkataan Al-‘Iz bin Abdissalam dan perkataan Imam Asy-Syafi’i di atas (lihat Tahdzibul Asma’ wal lugoot 3/22-23).

Kembali pada perkataan Imam Asy-Syafi’i :

Dari Harmalah bin Yahya berkata, “Saya mendengar Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i berkata, “Bid’ah itu ada dua, bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela, maka bid’ah yang sesuai dengan sunnah adalah terpuji dan bid’ah yang menyelisihi sunnah adalah bid’ah yang tercela”, dan Imam Asy-Syafi’i berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottob tentang sholat tarawih di bulan Ramadhan “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” (Hilyatul Auliya’ 9/113)

Ada beberapa hal penting yang berkaitan dengan perkataan Imam As-Syafi’i ini :

Pertama : Sangatlah jelas bahwasanya maksud Imam As-Syafii adalah pengklasifikasian bid’ah ditinjau dari sisi bahasa. Oleh karenanya beliau berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottoob :”Sebaik-baik bid’ah adalah ini (yaitu sholat tarawih berjamaah)”. Padahal telah diketahui bersama –sebagaimana telah lalu penjelasannya- bahwasanya sholat tarwih berjamaah pernah dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kedua : Kita menafsirkan perkataan Imam As-Syafi’i ini dengan perkataannya yang lain sebagaimana disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam Tahdziib Al-Asmaa’ wa Al-Lughoot (3/23)

“Dan perkara-perkara yang baru ada dua bentuk, yang pertama adalah yang menyelisihi Al-Kitab atau As-Sunnah atau atsar atau ijma’, maka ini adalah bid’ah yang sesat. Dan yang kedua adalah yang merupakan kebaikan, tidak seorang ulamapun yang menyelisihi hal ini (bahwasanya ia termasuk kebaikan-pen) maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela”(lihat juga manaqib As-Syafi’i 1/469)

Lihatlah Imam As-Syafi’i menyebutkan bahwa bid’ah yang hasanah sama sekali tidak seorang ulama pun yang menyelisihi. Jadi seakan-akan Imam Asy-Syafi’i menghendaki dengan bid’ah hasanah adalah perkara-perkara yang termasuk dalam bab al-maslahah al-mursalah, yaitu perkara-perkara adat yang mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan tidak terdapat dalil (nas) khusus, karena hal ini tidaklah tercela sesuai dengan kesepakatan para sahabat meskipun hal ini dinamakan dengan muhdatsah (perkara yang baru) atau dinamakan bid’ah jika ditinjau dari sisi bahasa.

Berkata Ibnu Rojab, “Adapun maksud dari Imam Asy-Syafi’i adalah sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwasanya pokok dari bid’ah yang tercela adalah perkara yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam syari’ah yang bisa dijadikan landasan, dan inilah bid’ah yang dimaksudkan dalam definisi syar’i (terminology). Adapun bid’ah yang terpuji adalah perkara-perkara yang sesuai dengan sunnah yaitu yang ada dasarnya dari sunnah yang bisa dijadikan landasan dan ini adalah definisi bid’ah menurut bahasa bukan secara terminology karena ia sesuai dengan sunnah” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 267)

Ketiga : Oleh karena itu tidak kita dapati Imam Asy-Syafii berpendapat dengan suatu bid’ahpun dari bid’ah-bid’ah yang tersebar sekarang ini dengan dalih hal itu adalah bid’ah hasanah. Karena memang maksud beliau dengan bid’ah hasanah bukanlah sebagaimana yang dipahami oleh para pelaku bid’ah zaman sekarang ini.

Diantara amalan-amalan yang dianggap bid’ah hasanah yang tersebar di masyarakat namun diingkari Imam As-Syafii adalah :

Acara mengirim pahala buat mayat yang disajikan dalam bentuk acara tahlilan.

Bahkan masyhuur dari madzhab Imam Asy-Syafii bahwasanya beliau memandang tidak sampainya pengiriman pahala baca qur’an bagi mayat. Imam An-Nawawi berkata:

“Dan adapun sholat dan puasa maka madzhab As-Syafi’i dan mayoritas ulama adalah tidak sampainya pahalanya kepada si mayat…adapun qiroah (membaca) Al-Qur’aan maka yang masyhuur dari madzhab As-Syafi’I adalah tidak sampai pahalanya kepada si mayat…” (Al-Minhaaj syarh shahih Muslim 1/90)

– Meninggikan kuburan dan dijadikan sebagai mesjid atau tempat ibadah

Imam As-Syafi’I berkata :

وأكره أن يعظم مخلوق حتى يُجعل قبره مسجداً مخافة الفتنة عليه وعلى من بعده من الناس

“Dan aku benci diagungkannya seorang makhluq hingga kuburannya dijadikan mesjid, kawatir fitnah atasnya dan atas orang-orang setelahnya” (Al-Muhadzdzab 1/140, Al-Majmuu’ syarhul Muhadzdzab 5/280)

Bahkan Imam As-Syafii dikenal tidak suka jika kuburan dibangun lebih tinggi dari satu jengkal. Beliau berkata :

وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُزَادَ في الْقَبْرِ تُرَابٌ من غَيْرِهِ وَلَيْسَ بِأَنْ يَكُونَ فيه تُرَابٌ من غَيْرِهِ بَأْسٌ إذَا زِيدَ فيه تُرَابٌ من غَيْرِهِ ارْتَفَعَ جِدًّا وَإِنَّمَا أُحِبُّ أَنْ يُشَخِّصَ على وَجْهِ الْأَرْضِ شِبْرًا أو نَحْوَهُ وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُبْنَى وَلَا يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلَاءَ… وقد رَأَيْت من الْوُلَاةِ من يَهْدِمَ بِمَكَّةَ ما يُبْنَى فيها فلم أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ ذلك

“Aku suka jika kuburan tidak ditambah dengan pasir dari selain (galian) kuburan itu sendiri. Dan tidak mengapa jika ditambah pasir dari selain (galian) kuburan jika ditambah tanah dari yang lain akan sangat tinggi. Akan tetapi aku suka jika kuburan dinaikan diatas tanah seukuran sejengkal atau yang semisalnya. Dan aku suka jika kuburan tidak dibangun dan tidak dikapur karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan…

Aku telah melihat di Mekah ada diantara penguasa yang menghancurkan apa yang dibangun diatas kuburan, dan aku tidak melihat para fuqohaa mencela penghancuran tersebut”(Al-Umm 1/277)

– Pengkhususan Ibadah pada waktu-waktu tertentu atau cara-cara tertentu

Berkata Abu Syaamah :

“Imam As-Syafi’i berkata : Aku benci seseroang berpuasa sebulan penuh sebagaimana berpuasa penuh di bulan Ramadhan, demikian juga (Aku benci) ia (mengkhususkan-pent) puasa suatu hari dari hari-hari yang lainnya. Hanyalah aku membencinya agar jangan sampai seseorang yang jahil mengikutinya dan menyangka bahwasanya perbuatan tersebut wajib atau merupakan amalan yang baik” (Al-Baa’its ‘alaa inkaar Al-Bida’ wa Al-Hawaadits hal 48)

Perhatikanlah, Imam As-Syafii membenci amalan tersebut karena ada nilai pengkhususan suatu hari tertentu untuk dikhususkan puasa. Hal ini senada dengan sabda Nabi

« لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِى وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ فِى صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ »

“Janganlah kalian mengkhususkan malam jum’at dari malam-malam yang lain dengan sholat malam, dan janganlah kalian mengkhususkan hari jum’at dari hari-hari yang lain dengan puasa, kecuali pada puasa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian” (yaitu maksudnya kecuali jika bertepatan dengan puasa nadzar, atau ia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, atau puasa qodho –lihat penjelasan Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaaj 8/19)

Perhatikanlah, para pembaca yang budiman, puasa adalah ibadah yang disyari’atkan, hanya saja tatkala dikhususkan pada hari-hari tertentu tanpa dalil maka hal ini dibenci oleh Imam As-Syafi’i.

Maka bagaimana jika Imam As-Syafii melihat ibadah-ibadah yang asalnya tidak disyari’atkan??!

Apalagi ibadah-ibadah yang tidak disyari’atkan tersebut dikhususkan pada waktu-waktu tertentu??

Beliau juga berkata dalam kitabnya Al-Umm

“Dan aku suka jika imam menyelesaikan khutbahnya dengan memuji Allah, bersholawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyampaikan mau’izhoh, dan membaca qiroa’ah, dan tidak menambah lebih dari itu”.

Imam As-Syafii berkata : “Telah mengabarkan kepada kami Abdul Majiid dari Ibnu Juraij berkata : Aku berkata kepada ‘Athoo : Apa sih doa yang diucapkan orang-orang tatkala khutbah hari itu?, apakah telah sampai kepadamu hal ini dari Nabi?, atau dari orang yang setelah Nabi (para sahabat-pent)?. ‘Athoo berkata : Tidak, itu hanyalah muhdats (perkara baru), dahulu khutbah itu hanyalah untuk memberi peringatan.

Imam As-Syafii berkata, “Jika sang imam berdoa untuk seseorang tertentu atau kepada seseorang (siapa saja) maka aku membenci hal itu, namun tidak wajib baginya untuk mengulang khutbahnya” (Al-Umm 2/416-417)

Para pembaca yang budiman, cobalah perhatikan ucapan Imam As-Syafi’i diatas, bagaimanakah hukum Imam As-Syafii terhadap orang yang menkhususkan doa kepada orang tertentu tatkala khutbah jum’at?, beliau membencinya, bahkan beliau menyebutkan riwayat dari salaf (yaitu ‘Athoo’) yang mensifati doa tertentu dalam khutbah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya dengan “Muhdats” (bid’ah). Bahkan yang dzohir dari perkataan Imam As-Syafii diatas dengan “aku benci” yaitu hukumnya haram, buktinya Imam Syafii menegaskan setelah itu bahwasanya perbuatan muhdats tersebut tidak sampai membatalkan khutbahnya sehingga tidak perlu diulang. Wallahu A’lam.

Keempat : Para imam madzhab syafiiyah telah menukil perkataan yang masyhuur dari Imam As-Syafii, yaitu perkataan beliau;

مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَّعَ

“Barangsiapa yang menganggap baik (suatu perkara) maka dia telah membuat syari’at”

(Perkataan Imam As-Syafi’i ini dinukil oleh para Imam madzhab As-Syafi’i, diantaranya Al-Gozaali dalam kitabnya Al-Mustashfa, demikian juga As-Subki dalam Al-Asybaah wa An-Nadzooir, Al-Aaamidi dalam Al-Ihkaam, dan juga dinukil oleh Ibnu Hazm dalam Al-Ihkaam fi Ushuul Al-Qur’aan, dan Ibnu Qudaamah dalam Roudhotun Naadzir)

Oleh karenanya barangsiapa yang menganggap baik suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi maka pada hakekatnya ia telah menjadikan ibadah tersebut syari’at yang baru.

Kesimpulan :

Pertama : Ternyata banyak ulama yang menyebutkan mashlahah mursalah dengan istilah bid’ah hasanah. Karena memang dari sisi bahasa bahwasanya perkara-perkara yang merupakan mashlahah mursalah sama dengan perkara-perkara bid’ah dari sisi keduanya sama-sama tidak terdapat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karenanya semua sepakat bahwa ilmu jarah wa ta’dil hukumnya adalah wajib, demikian juga mempelajari ilmu nahwu, namun sebagian mereka menamakannya bid’ah hasanah atau bid’ah yang wajib (sebagaimana Al-Izz bin Abdissalam) dan sebagian yang lain menamakannya maslahah mursalah (sebagaimana Imam As-Syathibi dalam kitabnya Al-I’tishoom). Demikian juga semuanya sepakat bahwa membangun madrasah-madrasah agama hukumnya adalah mandub (dianjurkan) namun sebagian mereka menamakannya bid’ah hasanah (bid’ah mandubah) dan sebagian yang lain menamakannya maslahah mursalah.

Meskipun terjadi khilaf diantara mereka tentang hukum permasalahan tertentu maka hal itu adalah khilaf dalam penerapan saja yang khusus berkaitan dengan permasalahan itu saja yang khilaf itu kembali dalam memahami dalil-dalil yang berkaitan dengan permasalahan tersebut, khilaf mereka bukan pada asal (pokok kaidah) tentang pencelaan terhadap bid’ah dan pengingkarannya.

Namun bagaimanapun lebih baik kita meninggalkan istilah klasifikasi bid’ah menjadi bid’ah dholalah dan bid’ah hasanah karena dua sebab berikut

a. Beradab dengan sabda Nabi, karena bagaimana pantas bagi kita jika kita telah mendengarkan sabda Nabi ((semua bid’ah itu sesat)) lantas kita mengatakan ((tidak semua bid’ah itu sesat, tapi hanya sebagian bid’ah saja))

b. Pengklasifikasian seperti ini terkadang dijadikan tameng oleh sebagian orang untuk melegalisasikan sebagian bid’ah (padahal para imam yang berpendapat dengan pengkasifikasian bid’ah mereka berlepas diri dari hal ini), yang hal ini mengakibatkan terancunya antara sunnah dan bid’ah

Kedua : Para ulama yang dituduh mendukung bid’ah hasanah (seperti Imam As-Syafii dan Imam Al-Izz bin Abdis Salaam As-Syafi’i) ternyata justru membantah bid’ah-bid’ah yang tersebar di masyarakat yang dinamakan dengan bid’ah hasanah

Ketiga : Imam As-Syafii dan Imam Al-Izz bin Abdis Salaam yang juga bermadzhab syafiiyah yang dituduh mendukung bid’ah hasanah ternyata tidak mendukung bid’ah-bid’ah hasanah yang sering dilakukan oleh orang-orang yang mengaku bermadzhab syafi’i. Oleh karenanya saya meminta kepada orang-orang yang melakukan bid’ah -dan berdalil dengan perkataan Imam As-Syafii atau perkataan Al-Izz bin Abdisalaam- agar mereka memberikan satu contoh atau dua contoh saja bid’ah hasanah yang dipraktekan oleh kedua imam ini !!???

Sebagai tambahan penjelasan, berikut ini penulis menyampaikan perbedaan antara bid’ah hasanah dengan maslahah mursalah :

Maslahah mursalah harus memenuhi beberapa kriteria yaitu

1 Maslahah mursalah sesuai dengan maqosid syari’ah yaitu tidak bertentangan dengan salah satu usul dari usul-usul syari’ah maupun dalil dari dalil-dalil syar’i, berbeda dengan bid’ah

2 Maslahah mursalah hanyalah berkaitan dengan perkara-perkara yang bisa dipikirkan kemaslahatannya dengan akal (karena sesuatu yang bisa diketahui memiliki maslahah yang rajihah atau tidak adalah seauatu yang bisa dipikirkan dan dipandang dengan akal), artinya jika maslahah mursalah dipaparkan kepada akal-akal manusia maka akan diterima

Oleh karena itu maslahah mursalah tidaklah berkaitan dengan perkara-perkara peribadatan karena perkara-perkara peribadatan merupakan perkara yang tidak dicerna oleh akal dengan secara pasti (jelas) dan secara terperinci (hanyalah mungkin diketahui hikmah-hikmahnya), seperti wudhu, tayammum, sholat, haji, puasa, dan ibadaah-ibadah yang lainnya.

Contohnya thoharoh (tata cara bersuci) dengan berbagai macamnya yang dimana setiap macamnya berkaitan khusus dengan peribadatan yang mungkin tidak sesuai dengan pemikiran. contohnya keluarnya air kencing dan kotoran yang merupakan najis maka penyuciannya tidak hanya cukup dengan membersihkan tempat keluar kedua benda tersebut namun harus juga dengan berwudhu (meskipun anggota tubuh untuk berwudhu dalam keadaan bersih dan suci), kenapa demikian ??, sebaliknya jika anggota tubuh untuk berwudhu kotor namun tanpa disertai hadats maka tidak wajib untuk berwudhu, kenapa demikian?? kita tidak bisa mencernanya secara terperinci. Demikian juga halnya dengan tayammum, tanah yang sifatnya mengotori bisa menggantikan posisi air (yang sifatnya membersihkan) tatkala tidak ada air, kenapa demikan??, tidak bisa kita cerna dengan jelas, pasti dan terperinci. Demikan juga ibadah-ibadah yang lainnya seperti sholat dan haji terlalu banyak perkara-perkara yang tidak bisa kita cernai. Contohnya tentang tata cara sholat, jumlah rakaat, waktu-waktu sholat, hal-hal yang dilarang tatkala berihrom, dan lain sebagainya. Sungguh benar perkataan Ali لَوْ كَانَ الدِّيْنُ بِالرَّأْيِ لكان أَسفَلُ الخُفِّ أولى بالمسحِ من أعلاه ((Kalau memang agama dengan akal tentu yang lebih layak untuk di usap adalah bagian bawah khuf dari pada mengusap bagian atasnya)).

3 Maslahah mursalah kembali pada salah satu dari dua perkara dibawah ini

a. Bab wasilah (perantara) bukan tujuan, dan termasuk dalam kaidah مَا لاَ يَتِمُّ الوَلجبُ إلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجب ((sesuatu yang wajib jika tidak bisa sempurna pelaksanaannya kecuali dengan perkara yang lain maka perkara tersebut juga hukumnya wajib)), hal ini jika maslahah mursalah dalam rangka penyempurnaan pelaksaan salah satu dari dhoruriaat dalam agama. Contohnya seperti pengumpulan Al-Qur’aan, pemberian harokat pada Al-Qur’aan, mempelajari ilmu nahwu, mempelajari ilmu jarh wa ta’diil, yang semua ini merupakan perkara-perkara yang tidak ada di zman Nabi hanya saja merupakan maslahah mursalah

b. Bab takhfif (peringanan), hal ini jika maslahah mursalah dalam rangka menolak kesulitan yang selalu melazimi.

Jika demikian maka kita mengetahui bahwa bid’ah berbeda bahkan bertentangan dengan maslahah mursalah, karena obyek dari maslahah mursalah adalah perkara yang bisa dicerna dan ditangkap dengan akal secara terperinci seperti perkara-perkara adat, berbeda dengan perkara-perkara ibadat, oleh karena peribadatan sama sekali bukanlah obyek dari maslahah mursalah. Adapun bid’ah adalah sebalikinya yang menjadi obyeknya adalah peribadatan. Oleh karena itu tidak butuh untuk mengadakan peribadatan-peribadatan yang baru karena tidak bisa dicerna secara terperinci berbeda dengan perkara-perkara adat yang berkaitan tata cara kehidupan maka tidak mengapa diadakannya perkara-perkara yang baru. Para ulama telah menjelaskan bahwa asal hukum dalam peribadatan adalah haram hingga ada dalil yang menunjukan akan keabsahannya, berbeda dengan perkara-perkara adat asal hukumnya adalah boleh hingga ada dalil yang mengharamkannya. Demikian juga perkara-perkara bid’ah biasanya maksudnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah karena pelakunya tidak puas dengan syariat yang dibawa oleh Nabi, maka ia bukanlah termasuk maslahah mursalah karena di antara tujuan dari maslahah mursalah adalah untuk peringanan.

Dan perbedaan yang paling jelas bahwasanya masalahah mursalah adalah wasilah untuk bisa melaksanakan seeuatu perkara dan bukan tujuan utama, berbeda dengan bid’ah.

Madinah, 21 Dzul Hijjah 1431 / 27 November 2010

Abu ‘Abdilmuhsin Firanda Andirja

Artikel: www.firanda.com

Print Friendly, PDF & Email

Beri Salam Kepada Ahli Kubur Jawaban Kaos Ahli Bidah Hasanah Nadis B8dah Kumpulan Ahli Bidah

28 Comments

  1. tad,,, maksud imam berpaling seusai salam itu,,, berpaling pergi meninggalkan jama’ah ato hanya membalikan badan kearah kanan??? saya juga mau nannya berdzikir saat membawa jenazah ke kubur itu boleh ga???

    Maksudnya berpaling menghadap ke arah jamaah, bukan membelakangi jamaah, lalu berdzikir sendiri-sendiri, bukan imam yang mengomando jamaah untuk berdzikir bersama-sama,

    Tidak ada dzikir-dzikir tertentu ketika mengantar jenazah ke kuburan, karena tidak ada contohnya sama sekali dari ajaran Rasulullah,…

  2. tad, kalo dzikir berjama’ah itu ada dizaman nabi ga???

    Kalau yang dimaksud dzikir berjamaah itu adalah dzikir yang dilakukan secara berjamaah, itu tidak ada dijaman nabi, bahkan ketika jaman sahabat, ada orang yang melakukan dzikir berjamaah, diingkari dengan kerasnya oleh para sahabat, berikut ini ulasanya:
    Adapun dzikir bersama, dipimpin oleh seseorang kemudian yang lain mengikuti secara bersama-sama maka ini termasuk bid’ah, tidak ada dalilnya dan tidak diamalkan para salaf. Bahkan mereka mengingkari dzikir dengan cara seperti ini, sebagaimana dalam kisah Abdullah bin Mas’ud ketika beliau mendatangi sekelompok orang di masjid yang sedang berdzikir secara berjamaah, maka beliau mengatakan:

    مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ ؟ … وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتِكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صلى الله عليه وسلم مُتَوَافِرُونَ ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِي نَفْسِي فِي يَدِهِ ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ؟! أَوْ مُفْتَتِحُوا بَابَ ضَلاَلَةٍ ؟

    “Apa yang kalian lakukan?! Celaka kalian wahai ummat Muhammad, betapa cepatnya kebinasaan kalian, para sahabat nabi kalian masih banyak, dan ini pakaian beliau juga belum rusak, perkakas beliau juga belum pecah, demi Dzat yang jiwaku ada di tangannya, kalian ini berada dia atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad, atau kalian sedang membuka pintu kesesatan? (Diriwayatkan oleh Ad-Darimy di dalam Sunannya no. 2o4, dan dishahihkan sanadnya oleh Syeikh Al-Al-Albany di dalam Ash-Shahihah 5/12)

    orang-orang yang melakukan hal itu beralasan seperti dibawah ini:
    Dari Abu Hurairah ra. dari Abu Sa’id ra., keduanya berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tidakada suatu kaum yang duduk dalam suatu majlis untuk dzikir kepada Allah melainkan mereka dikelilingi oleh malaikat, diliputi rahmat, di turunkan ketenangan, dan mereka disebut-sebut Allah di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya”. (Riwayat Muslim)

    Imam An-Nawawi dalam syarah beliau mengatakan bahawa: “hadis ini menunjukkan tentang kelebihan majlis-majlis zikir dan kelebihan orang-orang yang berzikir, serta kelebihan berhimpun untuk berzikir beramai-ramai.

    Tidak ada seorangpun ulama yang mendefinisikan kata majlis dzikir itu sebagai majlis untuk melakukan dzikir secara berjamaah, akan tetapi yang dimaksud majlis dzikir disini adalah majlis ilmu, bukankah alquran juga disebut adzikra,
    bertanyalah kepada ahlu dzikr jika kamu tidak mengetahui, ahlu dzikr disini yang dimaksud bukan yang ahli dzikir berjamaah, tapi adalah orang yang ahli terhadap alquran,
    selengkapnya bisa dibaca disini, alhamdulillah karena komentar anda, saya posting artikel ini, jazakallahu khairan,

  3. ane heran ma kaum antum,,,

    heran, kenapa mas?

    apa-apa dibilang bid’ah,,,

    Ah, kata siapa saya bilang apa-apa bid’ah,.. memang yang bilang siapa mas? tidak kah mas membaca hadits, jauhilah perkara-perkara yang baru, karena perkara yang baru itu bidah, dan setiap bidah itu adalah kesesatan, dan kesesatan itu tempatnya di neraka,… itu Rasulullah mas yang mengatakan, bukan saya,… jangan nuduh sembarangan mas,…

    emang bid’ah dimananya sih,,, tahlilan,, tujuannya baik,, yang dibaca ayat-ayat qur’an pula,,,

    Ini juga di antara argumen dari pelaku bid’ah ketika diberitahu mengenai bid’ah yang dilakukan, “Saudaraku, perbuatan seperti ini kan bid’ah.” Lalu dia bergumam, “Masa baca Al Qur’an saja dilarang?!” Atau ada pula yang berkata, “Masa baca dzikir saja dilarang?!”

    Untuk menyanggah perkataan di atas, perlu sekali kita ketahui mengenai dua macam bid’ah yaitu bid’ah hakikiyah dan idhofiyah.

    Bid’ah hakikiyah adalah setiap bid’ah yang tidak ada dasarnya sama sekali baik dari Al Qur’an, As Sunnah, ijma’ kaum muslimin, dan bukan pula dari penggalian hukum yang benar menurut para ulama baik secara global maupun terperinci. (Al I’tishom, 1/219)

    Di antara contoh bid’ah hakikiyah adalah puasa mutih (dilakukan untuk mencari ilmu sakti), mendekatkan diri pada Allah dengan kerahiban (hidup membujang seperti para biarawati), dan mengharamkan yang Allah halalkan dalam rangka beribadah kepada Allah. Ini semua tidak ada contohnya dalam syari’at.

    Bid’ah idhofiyah adalah setiap bid’ah yang memiliki 2 sisi yaitu [1] dari satu sisi memiliki dalil, maka dari sisi ini bukanlah bid’ah dan [2] di sisi lain tidak memiliki dalil maka ini sama dengan bid’ah hakikiyah. (Al I’tishom, 1/219)

    Jadi bid’ah idhofiyah dilihat dari satu sisi adalah perkara yang disyari’atkan. Namun ditinjau dari sisi lain yaitu dilihat dari enam aspek adalah bid’ah. Enam aspek tersebut adalah waktu, tempat, tatacara (kaifiyah), sebab, jumlah, dan jenis.

    Contohnya bid’ah idhofiyah adalah dzikir setelah shalat atau di berbagai waktu secara berjama’ah dengan satu suara. Dzikir adalah suatu yang masyru’ (disyari’atkan), namun pelaksanaannya dengan tatacara semacam ini tidak disyari’atkan dan termasuk bid’ah yang menyelisihi sunnah.

    Contoh lainnya adalah puasa atau shalat malam hari nishfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban). Begitu pula shalat rogho’ib pada malam Jum’at pertama dari bulan Rajab. Kedua contoh ini termasuk bid’ah idhofiyah. Shalat dan puasa adalah ibadah yang disyari’atkan, namun terdapat bid’ah dari sisi pengkhususan zaman, tempat dan tatacara. Tidak ada dalil dari Al Kitab dan As Sunnah yang mengkhususkan ketiga hal tadi.

    Begitu juga hal ini dalam acara yasinan dan tahlilan. Bacaan tahlil adalah bacaan yang disyari’atkan.

    Bahkan barangsiapa mengucapkan bacaan tahlil dengan memenuhi konsekuensinya maka dia akan masuk surga.

    Namun, yang dipermasalahkan adalah pengkhususan waktu, tatacara dan jenisnya.

    Perlu kita tanyakan manakah dalil yang mengkhususkan pembacaan tahlil pada hari ke-3, 7, dan 40 setelah kematian. Juga manakah dalil yang menunjukkan harus dibaca secara berjama’ah dengan satu suara. Mana pula dalil yang menunjukkan bahwa yang harus dibaca adalah bacaan laa ilaha illallah, bukan bacaan tasbih, tahmid atau takbir.

    Dalam acara yasinan juga demikian. Kenapa yang dikhususkan hanya surat Yasin, bukan surat Al Kahfi, As Sajdah atau yang lainnya? Apa memang yang teristimewa dalam Al Qur’an hanyalah surat Yasin bukan surat lainnya? Lalu apa dalil yang mengharuskan baca surat Yasin setelah kematian?

    Perlu diketahui bahwa kebanyakan dalil yang menyebutkan keutamaan (fadhilah) surat Yasin adalah dalil-dalil yang lemah bahkan sebagian palsu.

    bukannya semua yang dibaca saat tahlilan itu diajarkan nabi.. jadi apanya yang bid’ah

    Jadi, yang kami permasalahkan adalah bukan puasa, shalat, bacaan Al Qur’an maupun bacaan dzikir yang ada. Akan tetapi, yang kami permasalahkan adalah pengkhususan waktu, tempat, tatacara, dan lain sebagainya.

    Manakah dalil yang menunjukkan hal ini?

    Semoga sanggahan-sanggahan di atas dapat memuaskan pembaca sekalian. Kami hanya bermaksud mendatangkan perbaikan selama kami masih berkesanggupan. Tidak ada yang dapat memberi taufik kepada kita sekalian kecuali Allah. Semoga kita selalu mendapatkan rahmat dan taufik-Nya ke jalan yang lurus.

    Silahkan baca artikel selengkapnya disini

  4. mas,, kami ga mensyaratkan atau mengkhususkan waktu-dan tata cara tertentu,, anda mau baca surah yasin,, atau al-kahfi,, mau susunannya dirubah juga ga apa-apa…
    kami baca yasin karena kami menyukainya,,, apa salah???

    Mas, yang bener aja mas,.. jangan berkilah lah, lihat praktek masyarakat yang mengamalkan amalan yasinan, bukankah mereka membacanya ketika malam juma’at dimasjid-masjid? Atau di rumah-rumah mereka?? Kenapa yang dibaca surat yasin?? mana dalilnya dari Rasulullah kalau malam jumat itu harus baca yasin??

    Kalau surat alkahfi, itu ada dalilnya mas dari Rasulullah,… Kalau mas mau ngikutin Rasulullah, ya baca surat alkahfi,..bukan surat yasin,…

    Ibadah itu bukan urusan suka atau tidak suka,… tapi yang jadi standarnya adalah, adakah Rasulullah memerintahkannya??
    Adakah dalilnya?
    Bukan mengikuti tradisi masyarakat,… ikut-ikutan dengan budaya nenek moyang yang tidak ada contohnya dari Rasulullah,… terlepas suka atau tidak suka

    • Assalamu’alaikum mas hamid,

      Mas, saya jg menyukai surat Ar Rahman loh karena surat itulah yg pertama kali bisa membuat saya menangis ketika membacanya, namun kesukaan saya padanya tidak membuat saya mengkhususkan surat tersebut dan membuat tatacara tersendiri dalam membacanya karena itu butuh dalil.

      Mohon dibedakan ya mas, yg dikritik adalah tradisi masyarakat yaitu Yasinan yg dikhususkan pada malam jum’at, dibaca secara berjama’ah ba’da maghrib atau ba’da isya’ lalu setelah itu disambung dengan ritual2 tertentu. Inilah yg dipermasalahkan sbnrnya, bukan surat Yasinnya.
      Adapun jika anda menyukai surat Yasin, maka silahkan membacanya dan tadabburi isinya, tidak ada yg melarang kok namun jgnlah dikhususkan dengan tatacara tertentu spt mis harus malam jum’at atau dengan syarat2 tertentu dsb.

      Begitu mas, dan yg lebih baik adalah mengikuti tuntunan Rasulullah dalam ibadah. Baca semua surat Al Qur’an, dijamin akan berfaidah bnyk sekali bagi hidup anda. Wallahu a’lam.

      Jazakallahu khairan atas tambahan penjelasannya,…

  5. Klu anta tetap bertahan memahami keumuman hadits kullu bidatin dholalah semua bidah itu sesat,. dilihat kontek hadits itu sebelumnya yaitu nabi menyebutkan ttg al-Quran dan sunnah. waSyarrol umur muhdashatuha juga dalam kontek Alquran dan Sunnah. Maka maksudnya semua bidah ttg Alquran dan Sunnah yaitu membuat menambah ayat2 palsu hadits2 palsu)maudhu adalah dan pelakunya sesat masuk neraka .Seperti pembuat bidah Alquran Musailamah alKazzab dan pembuat hadits2 maudhu akan menyesatkan orang dengan kepalsuannya.(ditinjau versi Ulama Hadits).
    Klu anta bertahan memahami ada bidah hasanah dan bidah dholalah karena melihat hadits secara konferehensip semua hadits seperti hadits man ahdatsa .., man amila amalan…, man sanna sunnatan hasanatan . Maka ujung2nya berkesimpulan ada bidah hasanah dan ada bidah dholalah (ditinjau versi ulama feqih)

    ngerti arti sunnah tidak mas?

    sunnah itu lawannya bidah..
    dan bidah itu adalah kesesatan,

    jadi, kalau bidah hasanah itu jika diumpamakan kesesatan, berarti kesesatan yang dianggap bagus,..
    kalau bidah dhalalah itu kesesatan yang jelek,..

    ya mana yang lebih mending? ya mending sunnah lah mas,… tinggalin semua bidah itu, walaupun disebutnya bidah hasanah juga,..

    iyo opo ora mas?
    kalau dianggap bagus, ya berarti bukan bagus mas, itu anggapan pelakunya saja,..

    • Kalau dalil yg menerangkan semua bidah itu sesat adalah “kuli bidatin dholalah” mendingan coba ngaji nahwu dulu anda

      Seolah2 sedang mengajari nabi, seolah2 sedang menyalahkan apa yg diajarkan nabi bahwa setiap bid’ah itu sesat itu tidak benar,..

  6. Ibadah itu ada yq muqoyyad terikat dengan syarat dan rukunnya seperti sholat wajib lima waktu dan ada ibadah ghoiru muqoyyad yg tdk banyak terikat dengan syarat dan rukunnya seperti doa dan zikir boleh pakai bahasa jawa boleh tdk menghadap kiblat tdk berwudhuk boleh pakai cantoh dalam alquran atau hadits , boleh ditambahh sholawat dan puji22an kepada Tuhan seperti doa yang sering kita dengar.

    Perlu ditambahkan, doa dan dzikir pun ada yang muqoyyad dan ada yang tidak,..
    Contoh yang muqayyad adalah sifat dzikiri dan jumlah bilangan dizikir setelah shalat, bacaan-bacaan shalat,.. bolehkah menggunakan bahasa indonesia? atau bahasa jawa? apa artinya,.. bukankah bacaan dalam shalat adalah dzikir dan doa juga?

    Jadi ada doa-doa yang tidak boleh menggunakan selain bahasa arab, atau selain yang diajarkan oleh Rasulullah,

    Cuma dalam doa zikir ini tdk ada unsur syirik, maksiat, dan berlebih2an harus dg adab2nya.Inilah sering dianggap orang bidah dholalah. Mari kita banyak belajar dan belajar lagi ya mas

    bidah dholalah bukan hanya itu,.. masih banyak, dan semua bidah adalah sesat,.. ITU RASULULLAH YG MENGATAKANNYA, hampir disetiap khutbah jumat rasulullah sebelum membuka khutbahnya beliau mengingatkan akan semua bidah itu sesat, dan kesesatan itu tempatnya di neraka,.. lalu jika ada orang yang mengatakan ada bidah hasanah,. manakah yang kita ambil, perkataan rasulullah atau perkataan orang yang mengatakan ada bidah hasanah?

    betul mas,.. harus belajar lagi…

  7. Assalamualaikum

    Minta penjelasan
    “Barang siapa membuat-buat hal baru yang baik dalam islam,maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya,dan barang siapa membuat hal baru yang buruk dalam islam,maka baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya dan tak di kurangkan sedikitpun dari dosanya”
    (Shahih muslim hadist no.1017)
    Begitu indahnya bimbingan nabi muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.
    Saya tunggu balasannya

    Jazakumullahu khairan,.. berikut jawaban dari hadits di atas:

    KRITERAI BID’AH

    Oleh
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Pertanyaan:
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa pengertian bid’ah dan apa kriterianya? Adakah bid ‘ah hasanah? Lalu apa makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya ; Barangsiapa yang menempuh kebiasaan yang baik di dalam Islam … “

    Semoga Allah mebalas Syaikh dengan kebaikan.

    Jawaban
    Pengertian bid’ah secara syar’i intinya adalah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyari’atkan Allah. Bisa juga anda mengatakan bahwa bid’ah adalah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula oleh para Khulafaur Rasyidin. Definisi pertama disimpulkan dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

    “Artinya : Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’ atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah.” [Asy-Syura: 21]

    Sedangkan definisi kedua disimpulkan dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    “Artinya : Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa ‘ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah-sunnah itu dengan geraham, dan hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara baru yang diada-adakan “ [1]

    Jadi, setiap yang beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyaritkan Allah atau dengan seuatu yang tidak ditunjukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khulafa’ur Rasyidin, berarti ia pelaku bid’ah, baik ibadah itu berkaitan dengan Asma’ Allah dan sifat-sifatNya ataupun yang berhubungan dengan hukum-hukum dan syarat-syaratnya. Adapun perkara-perkar bisa yang mengikuti kebiasan dan tradisi, maka tidak disebut bid’ah dalam segi agama walapun disebut bid’ah secah bahasa. Jadi yang demikian ini bukan bid’ah dalam agama dan tidak termasuk hal yang diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam agama tidak ada yang disebut bid’ah hasanah. Adapun sunnah hasanah adalah perbuatan yang sesuai dengan syari’at, dan hal ini mencangkup; seseorang yang mulai melakukan sunnah atau memulai melakukan suatu amal yang diperintahkan atau kembali melakukanya setelah meninggalkannya atau melakukan sesuatu yang memang disunahkan sebagai perantara pelaksanan ibadah yang diperintahkan. Yang demikian ini ada tiga kategori:

    Petama: Artinya adalah sunnah secara mutlak, yakni yang memulai suatu amal yang diperintahkan. Inilah sebab munculnya hadist tersebut, dimana nabi Saw menganjurkan untuk bersedekah kepada orang-orang yang datang kepada beliau, karena mereka saat itu sedang dalam kondisi sangat kesulitan, lalu beliau menganjurkan untuk bersedekah. Kemudian datang seorang laki-laki Anshar dengan membawa sekantong perak yang cukup berat ditangannya, lalu ia meletakannya dikediaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Barangsiapa yang melakukan sunnah yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala yang melakukannya”[2]

    Laki-laki tersebut adalah yang melakukan sunnah karena memulai melakukan amal tersebut, bukan berarti memulai membuat amalan baru.

    Kedua: Sunnah yang ditinggalkan kemudian seseorang melakukannya dan menghidupkannya. Yang demikian ini disebut melakukan sunnah yang artinya menghidupkannya, tapi bukan berarti membuat amalan baru yang berasal dari dirinya sendiri.

    Ketiga: Melakukan sesuatu sebagai perantara pelaksanaan perintah yang disyari’atkan, seperti membangun sekolah, mencetak buku agama dan sebagainya. Yang demikian ini bukan berarti beribadah dengan amalan tersebut, akan tetapi amalan tersebut sebagai perantara untuk melaksanakan perintah yang terkait.

    Semua itu termasuk dalam cakupan sabda Nabi,

    “Artinya : Barangsiapa yang melakukan sunnah yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang-orang yang melakukannya.”[3]

    Tentang masalah ini telah dibahas secara luas di kesempatan lain.

    [Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al Masa’il Al-Ashriyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]
    __________
    Foote Note
    [1]. HR. Abu Dawud dalam As-Sunnah (4607). Ibnu Majjah dalam Al-Muqaddimah (42).
    [2]. HR. Muslim dalam Az-Zakah (1017).
    [3]. HR. Muslim dalam Az-Zakah (1017), dan dalam Al-Ilm (1017).
    Hal ini juga berlaku bagi orang yang

  8. Terimakasih telah berkomentar disini

    Selama seseorang mengucapkan dua kalimah syahadat, mereka adalah muslim, saudara kita, walau ucapan mereka bertentangan dengan perilaku mereka.

    Yang menilai hati mereka hanya Allah.

    Betul kata anda, setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah muslim, tapi anda perlu ketahui juga, syahadatpun ada pembatal-pembatalnya, sebagaimana shalat,wudhu, puasa, itu ada pembatalnya, apakah anda yang mengaku sudah bersyahadat mengetahui apa itu pembatal-pembatalnya?

    Untuk makna syahadat secara ringkas, anda bisa baca dipostingan ini

    Tidakkah anda tahu, manusia yang dihukum dengan siksaan paling keras dan kekal di neraka,diletakkan di dasar neraka(neraka yang paling dalam) adalah orang yang mengucapkan kalimat syahadat,melakukan shalat,puasa,.. apakah anda tahu, siapa mereka? mereka adalah orang-orang munafik, mereka lebih keras siksanya dibandingkan orang-orang kafir,
    Kenapa mereka disiksa sedemikian keras dibanding orang-orang kafir/non muslim?
    Karena orang kafir sudah jelas mengingkari dan memusuhi islam
    Sedangkan orang munafik menampakkan seolah-olah menjadi islam, sedangkan dalam hatinya membenci islam,

    . Perang abadi yang wajib dilakukan adalah perang terhadap setan = kejahatan & kemaksiatan. Jangan mudah mencap orang munafik, dhalim, sesat atau fasik,bid’ah apalagi kafir atau musyrik selama mereka hidup, karena kita tidak tahu takdir Allah bagi mereka, bisa saja mereka ditakdirkan sebelum wafatnya sehingga mereka mendapatkan khusnul khotimah, sedangkan yang mencacinya ditakdirkan su’ul khotimah, nau’dzubillahi min dzalik. Jagalah nafsu, jagalah lisan, dua hal yang sering menjerumuskan manusia menjadi pengikut syaithan.

    Ahlussunnah, tidak dibenarkan mencap atau memponis seseorang dengan sebutan kafir,munafik, dan sebutan-sebutan jelek lainnya,..baik mereka masih hidup ataupun sudah mati, sebab itu perkara yang besar sekali resikonya,.. tidak gegabah atau sembarangan,
    Dan saya juga tidak pernah memponis seseorang dalam hal ini, kecuali menukil dari sumber yang jelas akan posisi seseorang tersebut dari mereka yang berkompeten dalam hal ini,

    Adapun apa yang disampaikan oleh Rasulullah, jika ada orang yang melakukan perbuatan kejelekan, lalu saya nukilkan juga disini, maka itu bukan saya sedang memponis seseorang atau kelompok itu dengan kesesatan, apalagi misalkan anda juga termasuk dalam hal itu, misalkan saja anda suka ritual tahlilan, atau beribadah disisi kubur, lalu anda menganggap saya telah mencap anda sebagai ahlu bidah atau musyrik, jangan salah faham,

    Harusnya berterima kasih telah diingatkan dengan postingan tersebut, bukan tersinggung atau menampakkan sikap seolah-olah saya gemar mencap sesat orang lain,..

    Mudah-mudahan kita tidak digelincirkan oleh syetan dengan cara-cara menuduh orang-orang yang menjelaskan hakekat kebenaran, yang kebenaran itu berseberangan dengan perbuatan orang-orang yang terbiasa melakukan amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah, lalu menyebut orang tersebut dengan sebutan mudah mensesatkan orang lain, mudah mengkafirkan orang lain,… innalillahi wa inna ilaihi raji’uun…

    Dan memang betul, bidah lebih dicintai setan daripada maksiat,.. janganlah kita tertipu oleh tipudaya setan ini,

  9. Terimakasih telah berkomentar lagi disini

    “Barang siapa membuat-buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya,dan barang siapa membuat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya dan tak di kurangkan sedikitpun dari dosanya”
    (Shahih muslim hadist no.1017)

    Ini bunyi potongan hadits beserta artinya.
    مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
    terjemahan yang benar:
    “Barang siapa yang membuat contoh dalam Islam contoh yang baik, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barang siapa yang mencontohkan contoh jelek dalam islam maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka”.

    Jadi beda mengartikan, bisa beda juga cara memahaminya,.. apalagi ditambah dengan pemahaman yang bukan pemahaman para sahabat rasulullah, yang mengetahui bagaimana kronologis adanya hadits tersebut,
    silahkan baca postingan ini

    Mentradisikan membaca surat yasin jauh lebih baik daripada membiarkan masyrakat gemar kumpul dan main domino.

    Justru terbalik mas/mba, setan lebih menyukai perbuatan bidah daripada perbuatan dosa maksiat,
    Setan lebih demen sama orang yang melakukan ritual yasinan,tahlilan, kenapa bisa begitu?
    ;;;; tanya kepada orang yang main domino, ini perbuatan ibadah atau bukan, buang-buang waktu atau bukan, tentu mereka menjawabnya, iya, ini bukan ibadah, dan hanya buang-buang waktu,.. dan mereka tidak ingin anak turunannya juga gemar main domino, ngga ingin istrinya juga gemar main domino,
    ;;;; tanya kepada yang yasinan, tahlilan, ini perbuatan dosa atau ibadah?
    pasti dijawab, ini ibadah, dapet pahala, bahkan merekapun ngajarin ke anak turunannya,..

    inilah, kenapa setan juga demen sama yang ginian,
    Padahal ibadah itu adalah pensyariatannya adalah hak Allah,
    Barangsiapa membuat2 syariat yang tidak pernah disyariatkan oleh Allah, maka seolah-olah dia menyejajarkan dirinya dengan pembuat syariat ini,.. na’udzubillahi min dzalik,

    Mengapa Yasin? Mungkin saja ini sebenarnya hanya salh satu cara awal ulama’ dulu, yang terlanjur mentradisi.

    Seandainya surat yasin ini diganti dengan surat albaqarah, atau surat ali imran,.. tentu akan mendapat protes dari pengikut yasinan,.. pertanyaannya, lho kenapa diprotes??.. karena mungkin menurut pengikut yasinan dianggap aneh, biasanya yasinan kok diganti albaqarahan,.. atau ali imranan,…

    Padahal bagi orang yang berilmu, ngga bakalan bingung, baik yasinan atau albaqarahan/ali imranan, sama-sama itu menyelisihi ajaran islam,

    Surat yasin adalah surat yang mulia, kalamullah,
    tapi dengan yasinan, pada hakekatnya sedang melecehkan surat yasin tersebut,…
    Surat yasin bukan untuk itu tujuan diturunkannya,..

    Apakah tradisi baik ini dilarang sedangkan hukum membaca suarat dalam alqur’an anda sendiri sudah tahu apa. Menentang tradisi baik berarti menentang hadits Rasulullah saw:

    Mas/mba, membaca alquran itu bagus,.. itu anjuran rasulullah,
    tapi perlu diketahui juga, membaca alquran itu ada adab-adabnya, itu dalam rangka memuliakan alquran,
    Sudahkah anda mengetahui adab-adab membaca alquran?

    Diantara kurang adab terhadap alquran, atau pelecehan terhadap alquran adalah menempatkan alquran tidak pada tempatnya, seperti membaca alquran di kamar mandi, di kuburan, atau membaca alquran dalam rangka ritual kematian, yg istilah kerennya tahlilan,

    “Barang siapa membuat-buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya,dan barang siapa membuat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya dan tak di kurangkan sedikitpun dari dosanya”
    (Shahih muslim hadist no.1017).

    Umar Bin Khotob mengadakan bid’ah Tarawih dan bahkan menurut anda Rasul sawpun pernah mengikuti, ini bermakna bahwa Rasul saw membolehkan bid’ah yang dilakukan dalam rangka membangun tradisi baik (daripada orang lupa, mending tarawih berjama’ah).

    mas/mba, saya mau nanya, apakah shalat tarawih itu pernah dilakukan di jaman Rasulullah?
    Jika jawabannya “tidak pernah” maka anda telah berdusta dalam hal ini, karena dulu Rasulullah pernah melakukannya,
    Jika jawabannya ” Rasulullah pernah melakukan” maka apa yang dilakukan oleh Umar bukanlah perkara yang baru, hanya menghidupkan apa yang dulu Rasulullah pernah lakukan,… kenapa Rasulullah tidak melakukannya lagi?.. Karena ditakutkan shalat tarawih itu menjadi wajib hukumnya, makanya Rasulullah tinggalkan,..
    Setelah kematian Rasulullah, maka tidak ada ketakutan jika amalan shalat tarawih itu menjadi wajib, karena wahyu sudah terputus, dan islam telah sempurna,jadi dengan dihidupkannya amalan shalat tarawih tersebut tidak akan merubah hukumnya menjadi wajib,

    Jadi umar menghidupkan sunnah hasanah, bukan menghidupkan bidah hasanah

    Alasan yang sama digunakan pada ulama’ “Daripada kumpul-kumpoul dan ngomong yang ga jelas, mending baca yasin”).

    Ulama mana yang mengghunakan kaidah seperti amalan umar bin khattab untuk melakukan amalan yasinan, tahlilan, atau kumpul2 ritual kematian?
    tolong dong sebutkan ulama tersebut,.. apakah imam syafii, atau siapa?

    • menurut saya tergantung niat,..

      krn tahlilan itu adalah bentuk transisi dari agama hindu yang dilakukan para wali saat berjuang mengibarkan bendera islam di tanah jawa.

      dan untuk merubah itu tidaklah dgn kekerasan dngn membunuh semua umat hindu saat itu, tapi dgn budaya2 itu.

      nah itulah yg menjadi asal dr bid’ah nya tahlilan,

      Terimakasih mas zainal,
      Nah, betul, itu tradisi tahlilan adalah seperti yang anda sebutkan, yaitu DARI TRADISI AGAMA HINDU, sebagaimana sudah saya postingkan disini

      Dan apa yang dilakukan oleh “WALI” dalam hal ini SUNAN KALIJAGA yang mencampuradukkan ajaran hindu kedalam islam dengan dalih supaya umat hindu tertarik masuk islam adalah KESALAHAN FATAL yang merupakan pencampuradukkan antara yang hak dengan yang batil, bahkan ini merupakan pelecehan terhadap ajaran islam yang mulia.
      Lihat Rasulullah, beliau saja tidak melakukan hal tersebut, padahal kaum quraisy menawarkan opsi seperti itu, sesekali mereka menyembah berhala mereka, dan sesekali mereka menyembah Allah, namun itu ditolak dengan turunnya sural Alkaafiruun,
      Siapa contoh kita? apakah sunan KALIJAGA, ataukah Rasulullah? tentu Rasulullah panutan kita,
      Tentang sepak terjang sunan kalijaga, bisa dibaca disini

      Walisanga juga ada yang melarang ritual tahlilan ini, diantaranya sunan bonang, sunan giri,sunan drajat,sunan gunung jati, mereka masih mendakwahkan islam yang benar, silahkan baca disini postingannya, Tahlilan menurut walisanga, baca disini

      tapi menurut saya selama itu bukan berniat utk ritual misal tahlilan untuk mendoakan orang mati dan berniat mengajari orang membaca quran,bertasbih kepada ALLAH tanpa harus pake embel2 hitungan hari menurut saya itu sah2 saja,bid’ah itu sesat jika tujuannya juga syirik atau bertentangan dengan tauhid.

      Ibadah itu adalah HAK ALLAH DALAM PENETAPANNYA, Allah yang membuat ketentuan, juga tatacara pelaksanaannya,
      Jadi amalan ibadah akan diterima jika memenuhi syarat dan ketentuan yang sudah Allah tetapkan, BUKAN MENURUT SAYA, ATAU MENURUT USTADZ,KYIAI,AJENGAN,HABIB,.

      tapi,..

      HARUS MENGIKUTI KETENTUAN YANG SUDAH ALLAH TETAPKAN,..
      Jika ibadah itu menurut persangkaan sendiri, MENURUT SAYA ITU BAIK, atau menurut persangkaan masyarakat,. ITU KAN BAIK, MASA IBADAH KOK JELEK, APALAGI DILARANG-LARANG,.

      Jika hal diatas yang menjadi tolok ukur, maka ajaran islam akan semakin rusak, dengan berjalannya waktu akan sangat banyak ritual-ritual buatan manusia karena persangkaan itu kan baik,.

      NIAT BAIK SEMATA tidaklah cukup, namun caranya pun harus baik, yaitu sesuai dengan ketetapan Allah dan rasulnya,.
      Apakah NIAT BAIK saja itu cukup? TIDAK, kenapa,.. silahkan baca postingannya disini

      Orang yang beribadah dengan cara-cara yang tidak dicontohkan oleh Allah dan Rasulnya, pada hakekatnya dia sedang melakukan kesyirikan, kesyirikan dalah hal pensyariatan,.
      Seolah-olah dia sedang melakukan ibadah yang Allah tidak mensyariatkannya,. contohnya ritual tahlilan kematian,.
      Silahkan bertahlil kapan saja, bahkan kita disuruh sering bertahlil, tdk pas ada kematian saja,. sebab tahlil merupakand dzikir yang paling utama, namun perlu dicatet,. caranya pun bukan membuat cara-cara sendiri yang tidak Allah tetapkan,,.

  10. Terimakasih telah berkomentar disini

    Saya garis bahawahi pernyataan anda
    “Karena orang kafir sudah jelas mengingkari dan memusuhi islam
    Sedangkan orang munafik menampakkan seolah-olah menjadi islam, sedangkan dalam hatinya membenci islam,”
    Bagaimana dengan yang anda lakukan sendiri? Kebencian terhadap tradisi baik, dan mengklaim dengan kepastian bahwa apa yang mereka lakukan salah sedangkan mereka memiliki dasar yang mereka yakini?

    Terimakasih telah berkomentar disini
    Perlu anda ketahui, Tradisi sebaik apapun tidak akan menjadikan tradisi tersebut sebagai bentuk ajaran yang itu dinisbatkan kepada islam,berasal dari ajaran Rasulullah, tradisi tetaplah tradisi, dan islam sudah sempurna, Rasulullah sudah mengajarkan semuanya,
    Jika ada tradisi yang itu sejalan dengan ajaran Rasulullah yang diamalkan oleh para sahabat, maka itu bisa bernilai ibadah, dan sebaliknya jika ada tradisi yang berseberangan dengan ajaran rasulullah, maka tradisi itu pada hakekatnya adalah kemaksiatan, walaupun yang melakukan itu mayoritas kaum muslimin,..
    Wajib kita mengingatkan kaum muslimin dari bahaya tradisi tersebut dengan cara yang baik,

    Bagaimana tindakan anda jika anda sendiri menggunakan perkataan yang membandingkan mereka dengan munafik sedangkan mereka berbuat taat pada Allah swt dengan apa yang mereka yakini:

    “Karena orang kafir sudah jelas mengingkari dan memusuhi islam

    Sedangkan orang munafik menampakkan seolah-olah menjadi islam, sedangkan dalam hatinya membenci islam,”?
    Jika anda memahami perkataan saya diatas, orang munafik lebih berbahaya daripada orang kafir, makanya siksa di neraka nanti disamping orang munafik kekal di neraka, orang munafik ditempatkan di neraka yang paling dalam,

    Orang munafik banyak mengecoh kaum muslimin, sedangkan kaum kafir memang dah jelas-jelas itu membenci islam,
    Kalau orang munafik kaum muslimin memandang dia seorang islam, bahkan kadang-kadang ditokohkan, tapi melontarkan statement2 yang membahayakan ajaran islam itu sendiri,

    Rasul saw bersabda:
    “Barang siapa menuduh seorang muslim dengan kafir sedangkan kenyataan itu (menurut Allah swt) tidaklah demikian, maka tuduhan itu berbalik padanya”
    Memang anda tidak mengatakan kafir, akan tetapi membandingkan muslim yang berseberangan dengan anda dengan istilah “munafik, dll. Apakah tidak identik?

    Perlu dibedakan antara menyebutkan kaidah umum, dan memponis secara person/perorangan/kelompok,

    Contoh kongkritnya begini, jika ada orang islam yang meyakini bahwa alquran itu telah berubah, tidak asli lagi,maka dia bisa kafir,
    contoh lain, jika ada orang islam yang meyakini kalau shalat 5 waktu itu tidak wajib, maka dia bisa kafir, walaupun dia sendiri masih mengerjakan shalat,..

    nah, jika anda meyakini quran telah berubah, atau shalat 5 waktu tidak wajib, maka saya tidak berani mengatakan kalau gitu anda kafir,… karena berat resikonya,.. perlu penegakkan hujjah, sehingga anda betul2 paham,..

    Jadi perlu dibedakan, antara mengatakan kaidah umum, dan memponis secara perorangan/individu,..

    Mudah-mudahan bisa dipahami, maaf jika ada kata-kata yg kurang berkenan,..

  11. Tidak perlu berdebat masalah bid’ah, semua berlajalan sesuai keyakinan sendiri2, yang penting kita tetap satu aqidah, maka hargailah perbedaan pendapat, dalam hal ini khususnya masalah BID’AH

    terimakasih telah berkomentar disini,
    Kalau akidahnya lurus, insya Allah tidak akan mengerjakan amalan bidah,.. jadi ngga akan mempermasalahkan masalah bidah, justru akan menjauhi perbuatan-perbuatan bidah tersebut,

  12. Astaghfirullah…
    dulu ana juga sering ditnya ttg maulid,yasinan,dll dan ana selalu jawab “gpp ko,itu baik,kan bid’ah hasanah” kalo inget sama jwaban itu jadi senyum sendiri..hehe, tapi Alhamdulillah ALLAH sudah memberikan hidayah kepada ana melalui dakwah salaf ini, tetap semangat akh dalam dakwah sunnah ini, +_+..
    Syukron jazakallahu khairan..
    ^_^

    Alhamdulillah, nikmat yang tiada terhingga mengenal dakwah salaf ini,dan mengamalkannya,

  13. Tidak ada satupun Dalil di dalam Al-Qur’an dan Hadits Rosulullah tentang adanya acara 3,7,40,100 dan 1000 hari kematian…

    tapi dalilnya terdapat dalam Kitab Weda punya orang Hindu…

    coba di teliti sendiri.Sungguh sangat menyedihkan ternyata kita selama ini sebagai orang Islam tapi mengamalkan ajaran dari agama Hindu. Informasi ini saya peroleh dari ceramah pengajian yang disampaikan Ustadz Abdul Aziz, yang mana Ustadz Abdul Aziz ini adalah mantan seorang pendeta Hindu dari kasta Brahmana yang sudah mendapat hidayahNya dengan memeluk agama Islam..

    bisa tanyakan langsung pada teman-teman yang beragama Hindu, benarkan segala macam bentuk selamatan itu adalah ajaran agama mereka.
    Kalau kita mengaku beragama Islam seharusnya kita tinggalkan segala amalan-amalan yang tidak kita ketahui dasar hukumnya, apalagi yang bukan berasal dari ajaran Islam itu sendiri. Kalau kita tahu itu bukan dari ajaran Islam maka harus kita tinggalkan, jangan campur adukkan antara yang hak dan yang bathil.

    “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al-Baqarah : 208)

    kita ditertawakan oleh orang Hindu walaupun pengikutnya minoritas tetapi, ajarannya menyebar luas. semoga bermanfa’at. wallahu ‘alam….

    • Pinter antum, lugas ,logis dan ilmiah. tapi aku ragu apa ahli bid’ah ngerti nga ya ?

      Soalnya hati mereka sudah kadung kecanduan bid’ah, dan cendrung kurang mood kpd sunah.

      Spt org2 di kpngku. Klw acara tahlilan bludak, zikir akbar rame, peringatan mauludan/isra’ miraj semangat.

      Tapi berjama’ah shalat fardu sepi, sujud tilawah dianggap aneh, ‘itikaf ramadhan ga ada peminat, kajian rutin misbar, hafalan qur’an 1/4 juz ama.

      Benar-benar bid’ah itu membunuh sunnah.

      Sabar mas Abdullah,.
      Hidayah taufik itu milik Allah, kita hanya menyampaikan kebenaran yang datang dari Rasulullah,.
      Masalah mereka mau berubah atau tidak, itu Allah yang mampu memberikan hidayah taufik pada mereka,.
      Tapi ingat, tidak semua kebenaran yang kita dapatkan, itu otomatis disampaikan ke masyarakat, dakwah itu perlu hikmah,.
      Jangan sampai kita menyampaikan penjelasan tentang bidahnya tahlilan, kita sampaikan di tengah masyarakat yang getol tahlilan,.. ini sih nekat namanya,.

      Dakwah itu perlu hikmah, silahkan baca dan download ebook, 14 contoh hikmah dalam berdakwah, klik disini

  14. Kepada saudaraku yg masih mencintai “Bid’ah (yang dianggap) Hasanah”, saya ingin “sharing” sedikit ilmu yg saya ada;

    1. sesuatu yg “Baik” belum tentu “Benar”, tapi sesuatu yg benar itu PASTI baik.

    2. Kebaikan dihasilkan dan dinilai dari “fikiran” dan “perasaan”, sementara kebenaran dihasilkan oleh “Dalil/Bukti” yg terang dlm bentuk perintah Allah, dan “contoh” yg jelas dari Rasulullah SAW.

    3. segala sesuatu yg hanya terdapat “nilai kebaikan” saja, maka sifatnya adalah “Relative” dan “Subjective”. artinya kebaikan itu bersifat baik bagi seseorg tapi belum tentu baik bagi org lain, demikian juga sebaliknya.
    Tapi kebenaran itu sifatnya MUTLAQ dan PASTI, karena dia bersumber dari Allah yg maha HAQ dan tidak dapat dibantah dengan apapun juga, baik oleh akal atau perasaan.
    silahkan anda lihat al.Qur’an surah Al.Baqoroh:147, Al.kahfi:29, dan an.Nisa:170.
    “segala sesuatu akan dikatakan benar kalau bersumber dari Allah, sedangkan yg datangnya selain dari Allah (walaupun dipandang BAIK), maka bersifat “kemungkinan/Keragu-raguan”.

    4. Untuk menjadi org yg BAIK saja, anda tidak harus menjadi Muslim, atau dgn kata lain..kalau hanya mau jadi org BAIK saja..maka anda tidak perlu harus beragama Islam, tapi anda boleh memilih APAPUN agama di dunia ini selain Islam. Kenapa? karena SEMUA AGAMA mengajarkan KEBAIKAN. gak ada agama di dunia ini yg ngajarin orang untuk jadi jahat. tapi adakah selain agama Islam itu BENAR?? silahkan baca surah Ali Imron: 19 dan 85.

    5. menentukan kebenaran sesuatu harus berdasarkan kepada “Pembuktian Dalil” dan tidak boleh hanya main “fikiran”, “Akal-akalan” atau “Perasaan” saja.
    Agama Islam itu adalah agama yg berdiri diatas Dalil, bukan agama yg berdiri di atas akal fikiran. itu sebabnya, banyak hal dalam Islam yg dikategorikan “gak masuk akal”, tapi karena itu sudah bentuk “PERINTAH ALLAH ” dan “DICONTOHKAN RASULULLAH”, maka walaupun akal mengatakan “Gak lojik”..kita tetap WAJIB MELAKUKANNYA sesuai dgn perintah Allah yg dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAW.

    Contoh: A. kentut batal wudhu, tapi gak disuruh mbasuh lobang tempat keluar kentut. lha kok malah mbasuh muka, tangan, kepala, kaki?! gak lojik blas!! tapi karena itu sudah perintah Allah, yo wes.. “sami’na wa Ato’na! (baca surah An.Nur:51)

    ..Bersambung.. 🙂

  15. “Selama Ummat Islam mengamalkan agama nya berdasarkan kepada “Akal dan Perasaan” semata-mata, maka sampai kiamat pun..agama Islam akan semakin jauh dari “KEASLIAN” ajaran nya, dan semakin BODOH umat Islam akan Sunnah Nabi-NYA.

    Yang Bid’ah dipandang Sunnah, yang Sunnah dipandang Bid’ah.
    Adat dibilang ibadat, sementara ibadat dibilang adat.

    Sehingga, Kualitas agama Islam menjadi agama YG SAMA kualitasnya dgn agama-agama lain di dunia yg senantiasa berubah mengikut “Fikiran” dan “kemauan” pengamalnya.
    akhirnya, ISLAM yang tunduk kepada kehendak manusia, Bukan manusia yg tunduk kepada kehendak Islam! “Na’uzubillah..!

    Saudaraku pengamal Bid’ah hasanah: Naik kan taraf kualitas ibadah anda bukan hanya mengejar “KEBAIKAN” semata-mata, tapi PASTIKAN semua amalan yg anda lakukan memenuhi ISO Agama Allah yg memenuhi Standarisasi KEBENARAN oleh Allah dan Rasul-NYA.

    tips menggapai kebenaran dlm beramal: “Cari dalil, baru buat. jangan buat dulu baru cari dalil!
    contoh: mau buat kue, cari resep kuenya dulu baru buat kuenya, jangan buat kue dulu baru kemudian nyari resep kue!
    seorang Dokter mau ngasih obat ke pasien, cari tau dulu apa penyakitnya baru kasih obat. jangan ngasih obat dulu, baru di check sakitnya! itu namanya Dokter “Semprul”! hehehe..

    nah, akibat buat dulu baru cari dalil itulah…kalau tiba-tiba gak ada dalilnya, maka (untuk menutup rasa malu dan bersalah), maka dibuat lah dalil secara “MEKSO” atau dipaksakan! walaupun dalilnya bukan untuk apa yg dia lakukan tadi, tapi dipaksakan biar sesuai. masya Allah.. Astahgfirullah..!

  16. Sebaik2 bid’ah adalah ini.Ini perkataan umar bin khattab,Beliau shahabat yg diridhoi ALLAH dan dijamin masuk surga.BID’AH disini adalah secara bahasa,bukan secara syari(amal).Jawaban ini ana malah bingung.
    Memamg shalat tarawih dilakukan Rasulullah dan perkataan ini terkesan menyelisihi perkataan Rasulullah.

    Ana beranggapan pasti ada amal yg dianggap oleh beliau sebagai BID”AH.krn beliau juga tidak sembarangan mengatakan seperti itu,pasti ada alasannya.

    Beliau mengatakan ini BID’AH secara syari,karena disitu ada perintah dan dilakukan oleh shahabat yg lain.
    Jadi dimanakah letak amalnya,sehingga beliau mengatakan:SEBAIK BAIK BID’AH ADALAH INI?

    Terimakasih pak sam, mudah-mudahan tidak bingung lagi,.
    gini saja, taruhlah apa yang diucapkan umar itu bidah, tolong tunjukkan contoh perbuatan bidah orang-orang sekarang yang seperti perbuatan umar, yaitu menghidupkan lagi amalan ibadah yg dulu pernah diajarkan rasulullah, contoh dalam hal ini adalah rasulullah dulu melakukan shalat tarawih dengan satu imam,

    di jaman umar para sahabat shalat tarawih dengan imam masing-masing dalam satu masjid, sehingga umar berinisiatif mengumpulkan mereka menjadi satu imam saja sebagaimana di jaman rasulullah, dan umar mengatakan, : sebaik-baik bidah adalah ini” ,..

    Bisakah anda contohkan perbuatan bidah yang seperti itu, yaitu perbuatan yang pernah dikerjakan oleh rasulullah, lalu rasul tinggalkan, bisa kasih contoh tidak? ditunggu,.

    • “Bisakah anda contohkan perbuatan bidah yang seperti itu, yaitu perbuatan yang pernah dikerjakan oleh rasulullah, lalu rasul tinggalkan”

      Terimakasih mas sam,
      Yang namanya perbuatan bidah, tentu bukan amalan yg dilakukan oleh rasulullah, amalan yang ada contohnya dari rasulullah adalah amalan sunnah, bukan amalan bidah,
      makanya para pendukung bidah hasanah kebingungan kalau disuruh mencontohkan amalan yang seperti umar katakan, “sebaik-baik bidah adalah ini” yaitu ketika umar menjadikan shalat tarawih dengan satu imam,

      Setahu ana Bid’ah adalah amal perbuatan yg TIDAK PERNAH dilakukan Rasullullah.Tidak plus juga tidak minus.
      Imam Nawawi mengatakan : Setelah sholat langsung bersalaman itu adalah Bid’ah Mubahah.

      Perkataan ulama bukanlah dalil,.
      Seandainya salaman setelah shalat itu baik, tentu rasulullah sudah lakukan, dan para sahabatpun mempraktekan,.
      Apakah yg dialakukan oleh orang belakangan itu lebih baik? orang belakangan itu lebih paham islam? ini hal yang sangat lucu tentunya,

      Adakah do’a yg ditambahkan oleh para shahabat sepeninggal Rasulullah?
      Bid’ah tidak selalu perbuatan sesat,kalo sesuai kaidah-kaidah syari.

      Jika sesuai dengan kaidah-kaidah syar’i, ya namanya bukan bidah mas sam, justru kita wajib beribadah dengan amalan yang sesuai dengan kaidah-kaidah syar’i

      4 imam mahzab yg kita kenal itu pasti ada perbedaan pendapat.Itu ratusan tahun yg lalu.Syekh bin baz dengan syek Al albani juga ada perbedaan pendapat dalam satu masalah.dan juga ulama besar yg lain.
      Kalo seperti ini apakah kita mau mengatakan yg berbeda pendapat berarti mereka bukan salafi.

      Perbedaan diantara mereka terjadi karena tdk adanya dalil, jika ada dalil shahih, maka perbedaan diantara mereka tidak dianggap, bahkan imam yang 4 pun mengakui dan mengatakan, “jika ada hadits shahih, maka tinggalkanlah pendapatku, ambil hadits shahih tsb,

      Dan perbedaan mereka hanya seputar masalah fikih, yang memang terbuka pintu ijtihad disana, utk amalan-amalan yg belum didapati dalilnya, itu tidak apa-apa, toh para ulama sudah berijtihad dengan ilmu mereka,. yang benar mendapat dua pahala, dan yang salah mendapat satu pahala,.

      Jadi Bid’ah itu ada yg Hasanah.

      tidak ada bidah hasanah, silahkan baca postingannya disini

      Syukron

      Afwan,..

    • Sebagian orang masih bingung memahami bid’ah secara bahasa seperti yang dikatakan Umar “sebaik-baik bid’ah adalah ini”, yang berdampak merekapun bingung untuk membedakan mana bid’ah secara bahasa dan mana bid’ah secara syari’at

      sekarang saya kasih pemahaman mudah-mudahan faham

      saya kasih contoh yang lain untuk memahami bid’ah secara bahasa ini :

      fahami !!!

      setiap pencuri adalah sesat secara syari’at, lalu ada seseorang melihat wanita yang membuatnya jatuh cinta lalu iapun menikahi wanita tersebut lalu iapun berkata kepada istri yang dinikahinya tersebut : kamu adalah pencuri dan sebaik-baik pencuri adalah kamu yang telah mencuri hatiku.

      bisa memahami ?

      pencuri disini maksudnya adalah pencuri secara bahasa saja sebagai ungkapan hatinya yang seakan-akan dicuri oleh istrinya bukan bermakna istrinya adalah seorang pencuri sebagaimana yang diharamkan syari’at.

      mudah-mudahan faham makna bid’ah secara bahasa yang dimaksud Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu.

      saya dapatkan ungkapan tersebut dari facebook, disini

  17. mohon maaf mas.Anda menyinggung masalah bid’ah,apakah anda tidak menyadari bahwa membuat tulisan di blog seperti ini juga termasuk bidah,anda berdakwah lewat internet apakah tidak termasuk bid’ah,anda berbicara memakai bahasa indonesia apakah itu juga tidak termasuk bid’ah,anda makan di restoran atau makan pakai sendok apa itu tidak termasuk bid’ah karena hal-hal seperti itu tidak pernah dilakukan oleh Rasullulah dan para sahabatnya.

    mohon maaf saya tidak menyalahkan,karena hal seperti ini tidak ada yang benar,karena kebenaran milik Allah SWT.dan kalau kita berdebat masalah dalil sampai kapan pun kita tidak akan pernah selesai,karena masing-masing punya dalil dan pegangan,kita kembalikan saja pada Allah karena dia yang maha tahu segala2nya.mohon maaf sebelumnya terima kasih

    Hatur nuhun kang miftah tea,
    leres atuh kang, abdi nulis blog oge bidah, seuer deui kang nu bidah,
    bala-bala oge bidah kang, gado-gado bidah, peuyeum bandung oge bidah, kapan rasulullah ngaleueut peuyeum nya,. seueur deui kang nu disebat bidah, bandrek,bajigur,misro, seueur pisan kang, mangga dibaca didieu kang, supados ngartos naon wae nu disebat bidah, monggo meluncur kemari..

  18. apakah pengertian bidah didefinisikan oleh nabi muhammad ?

    Karena para sahabat itu begitu taslim kepada rasulullah, sahabat tahu apa makna bidah, yaitu apa-apa yang tidak diajarkan oleh Rasulullah, jadi rasulullah tidak perlu mendefinisikan arti bidah,.

    sebagaimana ngga ada juga pembagian ini haram, ini sunnah, ini makruh,. itu adalah para ulama yang menjelaskan,.
    Kalau kita hidup di jaman rasulullah, maka ga perlu dijelaskan apa itu bidah, karena orang yang hidup di jaman Rasulullah , mereka hanya beramal dengan amalan yang diajarkan oleh Rasulullah saja,.

    mereka tidak berani melakukan amalan yang tidak ada contohnya dari rasulullah, karena takut dengan ancamannya, yaitu amalanya ditolak,.dan neraka sebagai balasannya,.

    Berbeda dengan kaum muslimin sekarang, sudah dijelaskan,. tapi masih berani nekat melanggar ketetapan rasul yg sudah begitu jelas

  19. Alhamdulillah jelas, semoga menjadi amal jariyah bagi admin dan para pembaca yg mengambil ilmu dan mengamalkannya aamiin

    Alhamdulillah,

    Jazakumullahu khairan

  20. Lebih baik antum jelaskan kronologi adanya hadits riwayat Muslim nmr 1017 yg dijadikan sebagai dalil bid’ah Hasanah oleh Muhammad Idrus Romli…

    agar Idrus mengerti dan mau memahami Alqur’an dan hadits sesuai pemahaman sahabat nabi dan yg penting juga dia tidak menjadikan hadits tersebut sbgai dalil bid’ah Hasanah lagi,

    agar dia tidak menyesatkan umat Islam yg awam!

    Itu sudah lama saya posting, baca di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*