Apa Hukum Doa dan Dzikir secara Berjamaah?

dzikir berjamaahBerikut ini saya nukilkan pertanyaan yang berkaitan dengan masalah doa dan dzikir secara berjamaah, berikut ini nukilannya:

Assalamu’alaikum ustadz semoga Allah memberkahimu.

Sekarang banyak sekali kaum muslimin berdo’a dan dzikir bersama baik itu untuk keluarganya, kaum muslimin bahkan untuk pemimpin, Adakah secara sunnah yang benar amalan-amalan tersebut, mohon dalil-dalilnya? Jazakallah.

(Abu Hanun)

Jawab:

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wa barakatuhu.

Berdoa bersama kalau yang dimaksud adalah satu orang berdoa sedangkan yang lain mengamini, maka ini ada 2 keadaan:
Pertama: Hal tersebut dilakukan pada amalan yang memang disyariatkan doa bersama, maka berdoa bersama dalam keadaan seperti ini disyariatkan seperti di dalam shalat Al-Istisqa’ (minta hujan), dan Qunut.

Kedua: Hal tersebut dilakukan pada amalan yang tidak ada dalilnya dilakukan doa bersama di dalamnya, seperti berdoa bersama setelah shalat fardhu, setelah majelis ilmu, setelah membaca Al-Quran dll, maka ini boleh jika dilakukan kadang-kadang dan tanpa kesengajaan, namun kalau dilakukan terus-menerus maka menjadi bid’ah.

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya:

يكره أن يجتمع القوم يدعون الله سبحانه وتعالى ويرفعون أيديهم؟

“Apakah diperbolehkan sekelompok orang berkumpul, berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dengan mengangkat tangan?”

Maka beliau mengatakan:

ما أكرهه للإخوان إذا لم يجتمعوا على عمد، إلا أن يكثروا

“Aku tidak melarangnya jika mereka tidak berkumpul dengan sengaja, kecuali kalau terlalu sering.” (Diriwayatkan oleh Al-Marwazy di dalam Masail Imam Ahmad bin Hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879)

Berkata Al-Marwazy:

وإنما معنى أن لا يكثروا: يقول: أن لا يتخذونها عادة حتى يعرفوا به

“Dan makna “jangan terlalu sering” adalah jangan menjadikannya sebagai kebiasaan, sehingga dikenal oleh manusia dengan amalan tersebut.” (Masail Imam Ahmad bin hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879).

Adapun dzikir bersama, dipimpin oleh seseorang kemudian yang lain mengikuti secara bersama-sama maka ini termasuk bid’ah, tidak ada dalilnya dan tidak diamalkan para salaf.

Bahkan mereka mengingkari dzikir dengan cara seperti ini, sebagaimana dalam kisah Abdullah bin Mas’ud ketika beliau mendatangi sekelompok orang di masjid yang sedang berdzikir secara berjamaah, maka beliau mengatakan:

مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ ؟ … وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتِكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صلى الله عليه وسلم مُتَوَافِرُونَ ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِي نَفْسِي فِي يَدِهِ ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ؟! أَوْ مُفْتَتِحُوا بَابَ ضَلاَلَةٍ ؟

“Apa yang kalian lakukan?!

Celaka kalian wahai ummat Muhammad, betapa cepatnya kebinasaan kalian, para sahabat nabi kalian masih banyak, dan ini pakaian beliau juga belum rusak, perkakas beliau juga belum pecah, demi Dzat yang jiwaku ada di tangannya, kalian ini berada dia atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad, atau kalian sedang membuka pintu kesesatan?

(Diriwayatkan oleh Ad-Darimy di dalam Sunannya no. 2o4, dan dishahihkan sanadnya oleh Syeikh Al-Al-Albany di dalam Ash-Shahihah 5/12)

Berkata Asy-Syathiby rahimahullahu:

فإذا ندب الشرع مثلا إلى ذكر الله فالتزم قوم الاجتماع عليه على لسان واحد وبصوت أو في وقت معلوم مخصوص عن سائر الأوقات ـ لم يكن في ندب الشرع ما يدل على هذا التخصيص الملتزم بل فيه ما يدل على خلافه لأن التزام الأمور غير اللازمة شرعا شأنها أن تفهم التشريع وخصوصا مع من يقتدى به في مجامع الناس كالمساجد

“Jika syariat telah menganjurkan untuk dzikrullah misalnya, kemudian sekelompok orang membiasakan diri mereka berkumpul untuknya (dzikrullah) dengan satu lisan dan satu suara,atau pada waktu tertentu yang khusus maka tidak ada di dalam anjuran syariat yang menunjukkan pengkhususan ini,justru di dalamnya ada hal yang menyelisihinya, karena membiasakan perkara yang tidak lazim secara syariat akan dipahami bahwa itu adalah syariat, khususnya kalau dihadiri oleh orang yang dijadikan teladan di tempat-tempat berkumpulnya manusia seperti masjid-masjid.” (Al-I’tisham 2/190)

Wallahu a’lam.

Ustadz Abdullah Roy, Lc.

Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com

dinukil ulang dari http://konsultasisyariah.com

Print Friendly, PDF & Email

21 Comments

  1. Berkumpul di suatu tempat untuk berdzikir bersama hukumnya adalah sunnah dan merupakan jalan untuk mendapatkan pahala dari Allah, jika memang tidak dibarengi dengan perkara-perkara yang diharamkan. Hadits-hadits yang menunjukkan kesunnahan tentang ini sangat banyak, di antaranya: (Lihat an-Nawawi, Riyadl ash-Shalihin, hal. 470-473)وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ (رواه مسلم)

    لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَ
    “Tidaklah sekelompok orang berkumpul dan bardzikir menyebut Nama-nama Allah kecuali mereka dikelilingi oleh para Malaikat, diliputi rahmat, diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah sebut mereka di kalangan para Malaikat yang mulia”. (HR. Muslim)

    Mas, maksud hadits diatas bukan kumpul-kumpul dzikir berjama’ah mas,
    Tolong sebutkan ulama yang menjelaskan hadits diatas adalah dzikir berjama’ah,…tidak akan pernah didapati di kitab-kitab para ulama ahlussunnah,
    Maksud hadits diatas adalah berkumpul untuk thalabul ilm, mendengarkan hadits dan alquran serta penjelasannya, mengkaji ilmu-ilmu islam,… bukan dzikir berjama’ah..
    Ingat, Alquran itu disebut juga sebagai adzikr, lihat firman allah, ” sesungguhnya kami yang menurunkan “adzikra” dan kamilah yang akan menjaganya,… adzikra disini adalah alquran,
    ada lagi, ayat ” tanyakanlah kepada “ahlu dzikri” jika kamu tidak mengetahui,… ahlu dzikri disini adalah orang yang faham terhadap alquran, bukan ahlu dzikri itu adalah orang yang kerjaannya dzikir berjama’ah…

    2. al-Imam Muslim dan al-Imam at-Tirmidzi meriwayatkan:
    أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَليهِ وَسَلّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: مَا يُجْلِسُكُمْ ؟ قَالُوْا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ، فَقَالَ: إِنَّهُ أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَأَخْبَرَنِيْ أَنَّ اللهَ يُبَاهِيْ بِكُمْ الْمَلاَئِكَةَ (أخرجه مسلم والترمذيّ)

    “Suatu ketika Rasulullah keluar melihat sekelompok sahabat yang sedang duduk bersama, lalu Rasulullah bertanya: Apa yang membuat kalian duduk bersama di sini? Mereka menjawab: Kami duduk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya, kemudian Rasulullah bersabda: “Sungguh Aku didatangi oleh Jibril dan ia memberitahukan kepadaku bahwa Allah membanggakan kalian di kalangan para Malaikat”. (HR. Muslim dan at-Tirmidzi)

    Mas, para sahabat tidak melakukan dzikir berjama’ah mas, tolong dong baca penjelasan ulama ahlus sunnah tentang hadits diatas, bukan mencomot hadits, tanpa dijelaskan penjelasan para ulama,..
    Para sahabat berdzikir masing-masing, dan membicarakan masalah agama, mereka mengkaji agama ini, sehingga datang waktu isya, kemudian Rasulullah mendatangi mereka dan bertanya kepada para sahabat,
    Hadits diatas bukanlah dalil tentang amalan dzikir bersama,… lucu sekali mas as sunni ini,

    3. Dalam hadits lain Rasulullah bersabda:
    مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوْا يَذْكُرُوْنَ اللهَ لاَ يُرِيْدُوْنَ بِذَلِكَ إِلاَّ وَجْهَهُ تَعَالَى إِلاَّ نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ (أخرجه الطّبَرانِيّ)

    “Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir, dan mereka tidak berharap dengan itu kecuali untuk mendapat ridla Allah maka Malaikat menyeru dari langit: Berdirilah kalian dalam keadaan sudah terampuni dosa-dosa kalian”. (HR. ath-Thabarani)

    Penjelasannya sama dengan yang diatas, bukanlah dalil tuk dzikir berjama’ah, tapi itu adalah dalil tentang dzikir secara umum, atau duduk untuk mempelajari ilmu agama, sehingga ketika mereka selesai dan berdiri, maka mereka diampuni dosa-dosanya,

    Sedangkan dalil yang menunjukkan kesunnahan mengeraskan suara dalam berdzikir secara umum, di antaranya adalah hadits Qudsi: Rasulullah bersabda:
    يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ، وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ (متّفق عليه)

    “Allah berfirman: “Aku Maha kuasa untuk berbuat seperti harapan hambaku terhadap-Ku”, dan Aku senantiasa menjaganya dan memberikan taufiq serta pertolongan terhadapnya jika ia menyebut nama-Ku. Jika ia menyebutku dengan lirih maka Aku akan memberinya pahala dan rahmat secara sembunyi-sembunyi, dan jika ia menyebut-Ku secara berjama’ah atau dengan suara keras maka Aku akan menyebutnya di kalangan para Malaikat yang mulia”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

    Makna “Aku Maha kuasa untuk berbuat seperti harapan hambaku terhadap-Ku” artinya; Jika hamba tersebut berharap untuk diampuni maka akan Aku (Allah) ampuni dosanya. Jika ia mengira taubatnya akan Aku terima maka Aku akan menerima taubatnya. Jika ia berharap akan Aku kabulkan doanya maka akan Aku kabulkan. Dan jika ia mengira Aku mencukupi kebutuhannya maka akan Aku cukupi kebutuhan yang dimintanya. Penjelasan ini seperti tuturkan oleh al-Qadli ‘Iyadl al-Maliki.

    Hadits diatas tidak ada anjuran berdzikir secara keras, perhatikan penjelasan imam syafii:
    Berkata Imam Asy-Syafi’i dalam kitab Al-Umm bahwasanya Nabi Shallallahu
    ‘alaihi wa sallam mengeraskan suaranya ketika berdzikir adalah untuk mengajari orang-orang yang belum bisa melakukannya. Dan jika amalan tersebut untuk hanya pengajaran maka biasanya tidak dilakukan secara terus menerus.

    Banyak sekali hadits-hadits shahih yang melarang berdzikir dengan suara yang keras, sebagaimana hadits Abu Musa Al-Asy’ari yang terdapat dalam Shahihain yang menceritakan perjalanan para shahabat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Musa berkata : Jika kami menuruni lembah maka kami bertasbih dan jika kami mendaki tempat yang tinggi maka kami bertakbir. Dan kamipun mengeraskan suara-suara dzikir kami. Maka berkata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Wahai sekalian manusia, berlaku baiklah kepada diri kalian sendiri. Sesungguhnya yang kalian seru itu tidaklah tuli dan tidak pula ghaib. Sesunguhnya kalian berdo’a kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, yang lebih dekat dengan kalian daripada leher tunggangan kalian sendiri”.

    Kejadian ini berlangsung di padang pasir yang tidak mungkin mengganggu siapapun. Lalu bagaimana pendapatmu, jika mengeraskan suara dzikir itu berlangsung dalam masjid yang tentu mengganggu orang yang sedang membaca Al-Qur’an, orang yang ‘masbuq’ dan lain-lain. Jadi dengan alasan mengganggu orang lain inilah kita dilarang mengeraskan suara dzikir.

    Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Wahai sekalian manusia, masing-masing kalian bermunajat (berbisik-bisik) kepada Rabb kalian, maka janganlah sebagian kalian men-jahar-kan bacaannya dengan mengganggu sebagian yang lain.

  2. kayaknya antum ini membenturkan hadist shohih ttg keutamaan berzikir hanya dengan atsar dari shahabat? hanya sebuah atsar yg riwayatnya dhoif pula???
    hm…sungguh….??

    mas gondrong, mudah-mudahan Allah memberikan petunjuknya kapada saya dan anda,
    Berikut saya nukilkan kesimpulan dari mengeraskan dzikir,

    Dzikir secara umum sunnahnya dilirihkan, sebagaimana firman-Nya: “Ingatlah Tuhanmu dalam dirimu dengan rendah hati, dan rasa takut, serta tanpa mengeraskan suara…” (al-A’rof: 205), kecuali bila ada dalil yang meng-khususkan dzikir tertentu untuk dikeraskan, seperti hadits di atas.

    Imam Syafi’i berpendapat, bahwa mengeraskan dzikir setelah jamaah sholat wajib lima waktu, tidak sesuai sunnah. Beliau mentakwil hadits di atas dengan mengatakan bahwa hal itu hanya dilakukan oleh Rosululloh -sholallallohu alaihi wasallam- untuk sementara waktu saja, karena tujuan mengajari para sahabatnya. Oleh karenanya beliau hanya membolehkan mengeraskan dzikir yang dibaca setelah jama’ah sholat wajib ketika ada tujuan itu, jika tidak ada tujuan itu, maka sunnahnya dilirihkan. Pendapat ini juga dipilih oleh Imam Nawawi dan Syeikh Albani -rohimahumulloh-.

    Bahkan Ibnu Baththol, sebagaimana dinukil oleh Imam nawawi mengatakan, bahwa para ulama madzhab yang diikuti dan yang lainnya sepakat dengan pendapat tidak disunnahkannya mengangkat suara ketika dzikir dan takbir setelah sholat wajib.

    selengkapnya baca disini: https://aslibumiayu.net//2010/12/19/mengeraskan-dzikir-setelah-shalat-jamaah/

  3. masalah2 ini sdh dibahas sejak lama, janganlah membingungkan umat muslim, kalau mau mencari kebenaran, datangilah kepada ulama terkemuka yang berbeda pendapat dengan gol. anda.

    nanti disitu ada titk temunya, semoga ustad akan dapat jawabannya.

    Alangkah indahnya jika kaum muslimin beramal dengan amalan yang itu benar2 diajarkan oleh Nabi, maka kaum muslimin tidak akan kebingungan,

    Dan amalan bid’ah itu memang akan membuat kebingungan, sebab amalan tersebut tidak pernah diajarkan nabi, tidak pernah diamalkan oleh para sahabat,tabiin,juga tabiut tabiin,

    Bahkan keempat imam madzhab pun TIDAK melakukannya..

    Apakah dzikir berjamaah itu adalah khilaf di kalangan ulama?
    Tidak, itu amalan bidah, dan bukan masalah khilaf,

    Dan jika itu disebut khilaf, iya, itu khilaf, tapi khilafnya dengan amalan Nabi,
    Mana yang lebih kita ikuti?
    Tentu amalan nabi yang kita ikuti

  4. kok repot amat ya..

    kalau rasul tidak pernah melakukan zikir bersama kenapa kita harus mengikuti pendapat ulama yang mungkin lg khilaf..

    ssuatu yg tidak dilakukan rasul dalam masalah ibadah itu temasuk bid’ah..dan bid’ah itu sesat..skrg ana mau nnya , antum mau mengikuti rasul atau yang lain????wallaahu a’lam..

    Amalan bidah memang membikin repot, repot di dunia juga kelak di akherat amapannya akan dijadikan seperti debu-debu yang beterbangan..

    Sungguh kasihan, cape ,lelah dan letihnya dalam melakukan amalan yang dianggap sebagai amalan baik, ternyata Allah tolak,

  5. Nabi muhammad menegur salah stu umatnya supaya tidak mengeraskan dzikirnya sesudah sahalat fardu pada saat itu di karnakan dalam keadaan menuju pertempuran,,,

    sebab jika di baca dengan keras maka semua rombongan beserta rasul bisa celaka saat itu karna,, bisa ketahuan musuh saat itu,,…

    tapi disaat di tempat aman di masjid sendiri berdikir dengan keras secara berjamaah nda papa,,,

    rasul ga melarang karna berdzikir itu memuji allah ….

    caba pahami setiap hadis itu di setiap keadaan dalm hadis tersebut,,,,.

    Terimakasih Nur kholis,
    Darimanakah penjelasan yang anda paparkan? dari hadits rasul atau dari logika anda sendiri??
    Jika dengan logika anda sendiri, maka sangat ngawur, sebab justru orang kafir itu sangat takut jika umat di jaman nabi muhammad bertakbir, justru jika itu logikanya, dalam pertempuran atau peperangan bukan takbir atau dzikirnya tidak boleh dikeraskan, justru akan dikeraskan untuk membuat orang-orang kafir itu takut, bukan malah sebaliknya,.

    Jadi logika anda sangat ngawur,. dan salah dalam memahami hadits juga ayat alquran yang menyuruh dzikir dengan suara pelan,.

    Ada juga penjelasan, dulu rasulullah berdzikir dengan suara keras, itu dalam rangka mengajarkan para sahabat lafadz dzikir-dzikirnya, namun setelah mereka hafal, maka mereka dzikir pelan, sendiri-sendiri,.

  6. sebenarnya saya lagi bingung apakah yg membaca doa dg zikir salah menurut pandangan islam

    Jika membaca dzikir dan doa yang bukan ajaran dari rasulullah, lalu itu diritualkan, maka perbuatan orang tersebut adalah perbuatan tercela,. dan doa dan dzikirnya menjadi amalan bidah,.dan semua bidah itu sesat,.

  7. bismillahirrahmanirrahiim,,,,
    Dzikir bisa bermakna mengingat atau menyebut nama Allah,

    klo jenengan memaknai semua kalimat dzikir dalam beberapa hadits dengan AlQur’an itu adalah pendapat dan pemahaman jenengan

    tapi tentu ada ulama yang mempunyai pandangan kalau yang di sebut kalimat dzikir di beberapa hadits itu adalah menyebut atau mengingat jadi tentu itu juga pandangan dan pemahaman kami,

    Terimakasih zen ahmad, sudah komentar disini,.
    Dzikir itu adalah Ibadah, dan karena itu ibadah, maka wajib nunggu dalil yang memerintahkannya, jangan buat-buat dzikir sendiri, baik lafadznya, atau cara berdzikirnya,. silahkan anda baca disini, ibadah itu wajib nunggu dalil, klik disini

    Jadi ibadah itu bukan menurut ulama kami, atau menurut pandangan dan pemahaman kami, tapi wajib menurut perintah Allah dan Rasulnya

    maka tentu tidak di ragukan lagi dalam menyikapi dzikir bersama ini masuk dalam ikhtilaf.

    jadi kita harus arif dalam menyikapinya,,

    bukan masalah ikhtilaf, tapi iftiraq,. menyelisihi petunjuk rasulullah, dan sahabat pun pernah mengingkari dengan keras, ada orang yang pertama kali mengadakan dzikir berjamaah,. jadi anggapan yang keliru jika menganggap itu adalah ikhtilaf diantara ulama,

    saya sangat menghargai penjenengan karena cintanya kepada allah dan RasulNya panjenengan berusaha berhati-hati dalam menjaga kemurnian amalan panjenengan,,

    tapi tentu jangan gampang memvonis kalau dzikir bersama itu perbuatan sesat.

    Yang memvonis dzikir bersama itu sesat bukan saya, tapi ada sahabat yang mengingkari cara-cara dzikir berjamaah tersebut,.yaitu Abdullah bin Mas’ud, tidakkah anda membaca postingan diatas dengan seksama?

  8. pak…?

    saya malah tambah bingung dgn penjelasn anda,”boleh berzikir asal untuk mengajarkan”.

    bagaimana mengajarkan, blum2 kok udh dharamkan sm anda.
    apakah anda menjamin umat islam ini sdh tahu dan hapal zikir semuanya?
    ,sdh bisa berdoa semuanya?.
    bahkan terkhir yg ikut2 an paham anda malah pemabuk yg ingin insyaf mau ngapal tp anda haram2 kan.
    hati2 nanti anda disikat juga.
    makanya belajar metode pengajaran jg stelah tahu yg lain.

    Tambah bingung?
    ya mbok nanya, jadi hilang bingungnya,.
    Gini lho kang mas rivan,.
    Boleh jika dalam rangka mengajarkan, itu maksudnya boleh dikeraskan jika dalam rangka mengajarkan,..
    Kalau sudah pada hafal, ya jangan dikeraskan lagi,.

    Begitu lho maksudnya,.
    Sama saja ketika anda mengajari anak anda bacaan shalat,. kan dikeraskan, boleh,. tapi kalau anak anda sudah hafal, ya jangan dikeraskan lagi,.

    Mudah-mudahan tidak bingung lagi,.

  9. apakah penulis berpikir jemaah sholat fardhu sudah hapal semua dzikir???
    BELUM TENTU.. disana banyak anak2 muda tanggung dan anak2 kecil yang masih belajar dan menghfal.
    tolong tunjukkan di masjid mana yang jemaahnya semua sudah hapal dzikir sholat?? mungkin ada, tapi apakah itu mewakili semua di dunia ini??? 😀

    Makanya belajar, menuntut ilmu hukumnya WAJIB,sehingga bisa paham mana amalan2 yg nabi ajarkan,
    Sehingga dalam beramal itu sesuai dengan tuntunan nabi, bukan amalan2 yang sumbernya tidak jelas,
    Ajarkan amalan2 yang ada tuntunannya dari nabi, ajarkan kepada semua, baik anak kecil hingga dewasa,hingga lanjut usia,

    Tidak ada kata terlambat dalam menuntut ilmu agama

  10. Doa berjamaah kok gak boleh.
    Ya kalau jum’atan ya gak usah do’a allhummaghfir ….. cukup diam saja. Doa gak boleh keras?
    Yo gak mungkin to mas… mas. Kita setiap saat berdoa/berdikir keras.

    Terimakasih kang nuhin,.
    betul sekali, ketika khatib sedang membaca doa ketika khutbah jumat, maka jamaah tidak mengucapkan aamiin secara keras, tapi cukup hanya dirinya saja yang dengar, jamaah disebelahnya tidak mendengar, dan tidak usah mengangkat tangan, ini yang diajarkan oleh Rasulullah,.
    Dan si khatib berdoanya bukan dengan mengangkat tangan, tapi berisyarat dengan jari telunjuknya ke atas,.

  11. coba anda baca hadits riwayat abu daud bab sholat cari disitu adatuh haditsnya yang menjelaskan zikir bersama

    Tuliskan dong haditsnya,.

  12. bagai mana para sahabat tau tentang doa-doa para nabi kalu indak di ucap kan waktu sholat, kalau seandainya zikir tidak tidak boleh secara berzamaah bagaimana dengan ummat muhammat di akhir jaman, masih mungkinkah org mengenal zikir dlm sholat.

    karena doa doa nabi itu oleh nabi diajarkan kepada para sahabatnya, dan para sahabat mengajarkannya, demikian seterusnya kepada generasi setelahnya,

    darimana kita tahu itu doa yang diajarkan nabi?
    mudah, kita tahu dari hadits nabi yang shahih, hadits shahih itu adalah hadits yang bersambung sanadnya hingga kepada nabi

    demikian pula cara berdoa, itu sdh rasulullah ajarkan, dan rasul tidak pernah memimpin doa atau dzikir berjamaah, padahal setiap hari rasulullah mengimami shalat para sahabat,

    Yang diajarkan nabi setelah shalat adalah berdzikir, bagaimana cara berdzikirnya? dilakukan sendiri sendiri dengan suara yang pelan, bagaimana cara dzikirnya? silahkan baca disini

  13. diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiallahu’anhu:

    فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّمَا صَلَّى الْغَدَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ فَدَعَا عَلَيْهِمْ

    “Aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam setiap shalat shubuh beliau mengangkat kedua tangannya dan mendoakan keburukan bagi mereka” (HR. Ahmad 12402, dishahihkan oleh An Nawawi dalam Al Majmu 3/500)

    Di riwat kan oleh Abu Raafi’, Umar bin Khattab:

    صليت خلف عمر بن الخطاب رضي الله عنه فقنت بعد الركوع ورفع يديه وجهر بالدعاء

    “Aku shalat di belakang Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu, beliau membaca doa qunut setelah ruku’ sambil mengangkat kedua tangannya dan mengeraskan bacaannya” (HR. Al Baihaqi 2/212, dengan sanad yang shahih)

    Ini adalah dalil disyariatkannya QUNUT NAZILAH, ini adalah SUNNAH, jadi ini bukan dalil dzikir berjamaah, tapi qunut nazilah, bukan qunut shubuh terus menerus, kalau itu sih BID’AH, baca ulasannya di sini

    Diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid Radhiallahu’anhu:

    كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ «فَرَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو

    “Aku pernah dibonceng oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam di Arafah. Di sana beliau mengangkat kedua tangannya lalu berdoa” (HR. An Nasa’i 3993, Ibnu Khuzaimah 2824, di shahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan An Nasa’i)

    Ini disyariatkannya berdoa saat wukuf di arafah, bukan dalil dzikir berjamaah

    Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhuma :

    المسألة أن ترفع يديك حذو منكبيك أو نحوهما والاستغفار أن تشير بأصبع واحدة والابتهال أن تمد يديك جميعا

    “Al Mas’alah adalah dengan mengangkat kedua tanganmu sebatas pundak atau sekitar itu. Al Istighfar adalah dengan satu jari yang menunjuk. Al Ibtihal adalah dengan menengadahkan kedua tanganmu bersamaan” (HR. Abu Daud 1489, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ 6694)

    Ini disyariatkannya berdoa dgn mengangkat tangan, bukan dalil dzikir berjamaah

  14. jebolan Al saud wahabi ini.. Dongkol.

    Apa beda nya sekumpulan sama jama’ah, hadis lemah mau di tandingi hadis sahih.

    Belajar agama bukan sama saudi tp tu diyaman selatan kota seribu ulama. Malu2in aja.

    Yang dari yaman saja belajarnya di saudi mbah,..

    Bahkan habib asli indonesia pun betah ngumpet di saudi, ngga mau pulang-pulang

  15. Sepertinya ada syubhat, mereka membawakan hadits ini
    “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak lah berkumpul suatu kaum Muslimin, lalu sebagian mereka berdoa, dan sebagian lainnya mengucapkan amin, kecuali Allah pasti mengabulkan doa mereka.” (HR. al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [3536], dan al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/347. Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai persyaratan Muslim).
    Kira kira apa bantahannya?

    Apakah dalil di atas ada perintah atau petunjuk adanya satu doa yang dipimpin oleh satu orang lalu diaminkan oleh seluruh jamaah yang ada?

    Mana dari dalil di atas perintah untuk sengaja membuat perkumpulan untuk acara doa bersama?

    Pernahkah para sahabat melakukan itu semua, padahal para sahabatlah yang paling tahu apa-apa yang disampaikan oleh Rasulullah

    Dalam memahami dalil, pahamilah sesuai dengan pemahaman para sahabat, bukan dengan pemahaman sendiri, sehingga tidak keliru dalam mengamalkan dalil tersebut

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*