• Mon. Sep 21st, 2020

aslibumiayu.net

Bisa Karena Terbiasa

Hukum Mengeraskan Dzikir SETELAH SHALAT Berjamaah

HUKUM MENGANGKAT SUARA KETIKA BERDZIKIR SETELAH SHALAT

Oleh
Syaikh Muhammad nashiruddin Al-Albani

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : “Bagaimana hukum mengeraskan suara dalam dzikir setelah shalat?”

Jawaban.
Ada suatu hadits dalam Shahihain dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata:

ُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ الصَّلاَةِ فِي عَهْدِ النَّبِي عَلَيْهِ السَّلاَمُ بِرَفْعِ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ

“Artinya : Dahulu kami mengetahui selesainya shalat pada masa Nabi karena suara dzikir yang keras”.

Akan tetapi sebagian ulama mencermati dengan teliti perkataan Ibnu ‘Abbas tersebut, mereka menyimpulkan bahwa lafal “كُنَّا = Kunnaa” (Kami dahulu), mengandung isyarat halus bahwa perkara ini tidaklah berlangsung terus menerus.

Berkata Imam Asy-Syafi’i dalam kitab Al-Umm bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan suaranya ketika berdzikir adalah untuk mengajari orang-orang yang belum bisa melakukannya. Dan jika amalan tersebut untuk hanya pengajaran maka biasanya tidak dilakukan secara terus menerus.

Ini mengingatkanku akan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang bolehnya imam mengeraskan suara pada bacaan shalat padahal mestinya dibaca perlahan dengan tujuan untuk mengajari orang-orang yang belum bisa.

Ada sebuah hadits di dalam Shahihain dari Abu Qatadah Al-Anshari bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu terkadang memperdengarkan kepada para shabahat bacaan ayat Al-Qur’an di dalam shalat Dzuhur dan Ashar, dan Umar juga melakukan sunnah ini.

Imam Asy-Syafi’i menyimpulkan berdasarkan sanad yang shahih bahwa Umar pernah men-jahar-kan do’a iftitah untuk mengajari makmum ; yang menyebabkan Imam ASy-Syafi’i, Ibnu Taimiyah dan lain-lain berkesimpulan bahwa hadits di atas mengandung maksud pengajaran. Dan syari’at telah menentukan bahwa sebaik-baik dzikir adalah yang tersembunyi.

Walaupun hadits : “Sebaik-baik dzikir adalah yang tersembunyi (perlahan)”. Sanad-nya Dhaif akan tetapi maknanya ‘shahih’.

Banyak sekali hadits-hadits shahih yang melarang berdzikir dengan suara yang keras, sebagaimana hadits Abu Musa Al-Asy’ari yang terdapat dalam Shahihain yang menceritakan perjalanan para shahabat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Musa berkata : Jika kami menuruni lembah maka kami bertasbih dan jika kami mendaki tempat yang tinggi maka kami bertakbir. Dan kamipun mengeraskan suara-suara dzikir kami. Maka berkata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

يَاأَيُّهَاالنَّاسُ اِرْبَعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّ مَنْ تَدْعُوْنَهُ لَيْسَ بأَصَمَّ وَلاَغَائِبٍ إِنَّمَا تَدْعُوْنَ سَمِيْعًا بَصِيْرًا إِنَّمَا تَدْعُوْنَ مَنْ هُوَ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِ كُمْ مِنْ غُنُقِ رَا حِلَتِهِ إِلَيْهِ

“Artinya : Wahai sekalian manusia, berlaku baiklah kepada diri kalian sendiri. Sesungguhnya yang kalian seru itu tidaklah tuli dan tidak pula ghaib. Sesunguhnya kalian berdo’a kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, yang lebih dekat dengan kalian daripada leher tunggangan kalian sendiri”.

Kejadian ini berlangsung di padang pasir yang tidak mungkin mengganggu siapapun. Lalu bagaimana pendapatmu, jika mengeraskan suara dzikir itu berlangsung dalam masjid yang tentu mengganggu orang yang sedang membaca Al-Qur’an, orang yang ‘masbuq’ dan lain-lain. Jadi dengan alasan mengganggu orang lain inilah kita dilarang mengeraskan suara dzikir.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

يَاايُّهَا النَّاسُ كُلُكُمْ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلاَ يَجْهَرُ بَعْضُكُم عَلَى بَعْضٍ بِالْقِرَاءَةِ

“Artinya : Wahai sekalian manusia, masing-masing kalian bermunajat (berbisik-bisik) kepada Rabb kalian, maka janganlah sebagian kalian men-jahar-kan bacaannya dengan mengganggu sebagian yang lain.

Al-Baghawi menambahkan dengan sanad yang kuat.

فَتُؤْذُوْاالْمُؤْمِنِيْنَ

“Artinya : Sehingga mengganggu kaum mu’minin (yang sedang bermunajat)”.

[Disalin dari kitab Majmu’ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarrah, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Albani, Penulis Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Penerjemah Adni Kurniawan, Penerbit Pustaka At-Tauhid]

Sumber:
https://almanhaj.or.id/1501-hukum-mengangkat-suara-ketika-berdzikir-setelah-shalat.html

5 thoughts on “Hukum Mengeraskan Dzikir SETELAH SHALAT Berjamaah”
  1. Kiai Kampung VS oknum lulusan timur tengah (topik mengeraskan Dzikir)

    Inilah kisah kiai kampung. Kebetulan kiai kampung ini menjadi imam musholla dan sekaligus pengurus ranting NU di desanya. Suatu ketika didatangi seorang tamu, mengaku santri liberal, karena lulusan pesantren modern dan pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Tamu itu begitu PD (Percaya Diri), karena merasa mendapat legitimasi akademik, plus telah belajar Islam di tempat asalnya. Sedang yang dihadapi hanya kiai kampung, yang lulusan pesantren salaf.

    Tentu saja, tujuan utama tamu itu mendatangi kiai untuk mengajak debat dan berdiskusi seputar persoalan keagamaan kiai. Santri liberal ini langsung menyerang sang kiai: “Sudahlah Kiai tinggalkan kitab-kitab kuning (turats) itu, karena itu hanya karangan ulama kok. Kembali saja kepada al-Qur’an dan hadits,” ujar santri itu dengan nada menantang. Belum sempat menjawab, kiai kampung itu dicecar dengan pertanyaan berikutnya. “Mengapa kiai kalau dzikir kok dengan suara keras dan pakai menggoyangkan kepala ke kiri dan ke kanan segala. Kan itu semua tidak pernah terjadi pada jaman nabi dan berarti itu perbuatan bid’ah,” kilahnya dengan nada yakin dan semangat.

    Mendapat ceceran pertanyaan, kiai kampung tak langsung reaksioner. Malah sang kiai mendengarkan dengan penuh perhatian dan tak langsung menanggapi. Malah kiai itu menyuruh anaknya mengambil termos dan gelas.

    Kiai tersebut kemudian mempersilahkan minum, tamu tersebut kemudian menuangkan air ke dalam gelas. Lalu kiai bertanya: “Kok tidak langsung diminum dari termos saja. Mengapa dituang ke gelas dulu?,” tanya kiai santai. Kemudian tamu itu menjawab: Ya ini agar lebih mudah minumnya kiai,” jawab santri liberal ini. Kiai pun memberi penjelasan: “Itulah jawabannya mengapa kami tidak langsung mengambil dari al-Qur’an dan hadits. Kami menggunakan kitab-kitab kuning yang mu’tabar, karena kami mengetahui bahwa kitab-kitab mu’tabarah adalah diambil dari al-Qur’an dan hadits, sehingga kami yang awam ini lebih gampang mengamalkan wahyu, sebagaimana apa yang engkau lakukan menggunakan gelas agar lebih mudah minumnya, bukankah begitu?”. Tamu tersebut terdiam tak berkutik.

    Kemudian kiai balik bertanya: “Apakah adik hafal al-Qur’an dan sejauhmana pemahaman adik tentang al-Qur’an? Berapa ribu adik hafal hadits? Kalau dibandingkan dengan ‘Imam Syafi’iy siapa yang lebih alim?” Santri liberal ini menjawab: Ya tentu ‘Imam Syafi’iy kiai sebab beliau sejak kecil telah hafal al-Qur’an, beliau juga banyak mengerti dan hafal ribuan hadits, bahkan umur 17 beliau telah menjadi guru besar dan mufti,” jawab santri liberal. Kiai menimpali: “Itulah sebabnya mengapa saya harus bermadzhab pada ‘Imam Syafi’iy, karena saya percaya pemahaman Imam Syafi’iy tentang al-Qur’an dan hadits jauh lebih mendalam dibanding kita, bukankah begitu?,” tanya kiai. “Ya kiai,” jawab santri liberal.

    Kiai kemudian bertanya kepada tamunya tersebut: “Terus selama ini orang-orang awam tatacara ibadahnya mengikuti siapa jika menolak madzhab, sedangkan mereka banyak yang tidak bisa membaca al-Qur’an apalagi memahami?,” tanya kiai. Sang santri liberal menjawab: “Kan ada lembaga majelis yang memberi fatwa yang mengeluarkan hukum-hukum dan masyarakat awam mengikuti keputusan tersebut,” jelas santri liberal.

    Kemudian kiai bertanya balik: “Kira-kira menurut adik lebih alim mana anggota majelis fatwa tersebut dengan Imam Syafi’iy ya?.”. Jawab santri: “Ya tentu alim Imam Syafi’iy kiai,” jawabnya singkat. Kiai kembali menjawab: “Itulah sebabnya kami bermadzhab ‘Imam Syafi’iy dan tidak langsung mengambil dari al-Qur’an dan hadits,”.” Oh begitu masuk akal juga ya kiai!!,” jawab santri liberal ini.

    Tamu yang lulusan Timur Tengah itu setelah tidak berkutik dengan kiai kampung, akhirnya minta ijin untuk pulang dan kiai itu mengantarkan sampai pintu pagar.

    Santri liberal itu belajar di timur tengah, di mana? kok jadi liberal??

    Kenapa kyiai NU dan warga NU yang mengaku bermadzhab syafii, dalam perkara akidah menyelisihi pendapat imam syafii??
    Perhatikan kitab-kitab yang dikarang oleh imam syafii,.. perhatikan juga amalan-amalan orang-orang yang mengaku mengikuti madzhab imam syafii,…

    sungguh jauh api dari panggang,… wallahu a’lam…

  2. Akh, jadi setelah selesai sholat berjamaah, imam mengomando makmum dzikir berjamaah dengan dikeraskan atau masing-masing?

    Setelah selesai mengimami shalat, maka imam disunnahkan membaca istighfar 3 x , lalu menghadap ke arah makmum, dan berdzikir sendiri2, dengan dzikir yg diajarkan rasulullah,

    Dan pada saat doa maka kembali dilirihkan?

    Setelah selesai shalat berjamaah, Rasulullah hanya berdzikir saja, tidak terus menerus berdoa,..
    Berdoa bisa dilakukan didalam shalat, seperti saat ruku setelah baca doa ruku,.. saat sujud, saat duduk tahiyat sebelum salam,..

    jadi berdoa bukan setelah selesai shalat wajib,. atau setelah berdzikir usai shalat berjamaah,.. dan rasulullah tidak mencontohkannya,…

    wallahu a’lam bis shawab..

  3. kesalahan kronis yg bagi saya fatal adalah saat seseorang fanatik thd organisasi, kyai, ustad, syekh dan juga imam mahzab…..

    seakan akan mereka semua itu bebas dr kekeliruan..

    semua pendapat ulama dan iman mahzab adl ijtihad ..

    dan ijtihad bisa benar bisa keliru..bagi yg berijtihad klo benar dpt 2 pahala klo keliru dpt 1 …

    tdk akan pernah ada manusia yg bebas dr kekeliruan..

    yg dijamin bebas dari kekeliruan tentu hanya Allah dan RasulNya..knp kita tdk mencontoh manusia yg bebas dr kekeliruan dan dijamin surga…

    krn kita beragama kan tujuan akhirnya ingin masuk surga…

    maka ikutilah amalan2 yg pasti2 (tdk diperselisihkan) dari manusia yg dijamin surga…

    Dan Rasulullah sudah mengajarkan cara-cara berdzikir, maka ikutilah cara-cara yang diajarkan oleh Rasulullah

    Merutinkan Dzikir dengan cara dikeraskan dan dilakukan secara berjamaah setelah shalat, itu tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah

  4. Saya sudah sering mendengar cerita dongengan seperti yg ditulis oleh “Bebas Bersahaja”.

    Cerita seperti itulah yang membuat orang jadi bodoh. Itu hanya cerita dongeng dan kalaupun asli maka tolong beritahukan nama kyai itu secara lengkap dan dimana pondoknya. Supaya masyarakat tidak terus menerus dibohongi berita yang dibuat-buat.

    Mendengar cerita seperti itu jadi ingat masa-masa dulu yang senang dikibuli oleh orang-orang yang mengaku ditokohkan di kampung-kampung. Karena sudah ditokohkan dan banyak pengikut, maka akan sulit mengakui kebenaran yang menyelisihi amalan dia sehari-hari meskipun kebenaran itu sesuai dengan Quran & Hadits.

    Juga yang mengaku bermazhab Syafi’i itu kebanyakannya tidak mengerti apa yang ditulis di kitab2 Syafi’i. Imam Syafi’i bilang “kalau ada kata2ku yang menyelisihi atau tidak sesuai dengan Quran & Hadits, maka tinggalkan dan ikutlah Quran & Hadits”. Sedangkan Imam Syafi’i bilang “mazhabku Quran & Hadits”.

    Imam Syafi’i juga bilang “jangan taklid kepadaku, taklidlah pd Quran & Hadits”.

    Masa saya yg orang awam ini saja bisa mengerti, alhamdulillah. Bagaimana dengan si Bebas Bersahaja…???

    Makanya kalau mendengar saja terus-menerus tanpa membaca dan tanpa mau mencari rujukan yang benar maka akan terus-menerus seperti itu…!?

  5. mohon penjelasannya tentang lafadz dzikir yg sering diamalkan di daerah kami, yaitu “Ya Allahu biha ya Allahu biha bihusnil khotimah”

    Tidak ada tuntunannya dari nabi, tidak usah dilakukan

Silahkan tinggalkan komentar di sini