Tidak menggerakkan lidah [melafadzkan] bacaan shalat merupakan salah satu kesalahan dalam shalat

Bacaan Shalat Apakah Alasannya Sholat Sendiri Tdk Boleh Membaca Dlm Hati Apa Perbedaan Niat Dan Membatin Makmum Baca Al Fatihah Tapi Telinga Kurang Jelas Mendengar Melafalkan Bacaan Shalat Makmum

Termasuk diantara kesalahan di dalam shalat yaitu tidak menggerakkan lidah (melafadzkan) bacaan-bacaan dalam shalat, sehingga shalat seakan hanyalah gerakan tanpa ada doa-doa.

Mereka beralasan:
1. Firman Allah ta`ala: Dan dirikanlah oleh kalian shalat (Al-Baqarah:43)
2. Hadits Nabi shallallahu `alaihi wa sallam: Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud)
Berdasarkan 2 nash diatas mereka memahami bahwasanya yang menjadi cermin adalah gerakan nabi bukan perkataannya, oleh karena itu yang dimaksud shalat adalah gerakannya, orang yang tidak melakukan gerakan-gerakan shalat dianggap shalatnya gugur, sekalipun dia bisa mengucapkan doa-doa dalam shalatnya.

Bantahan terhadap syubhat diatas
Pendapat diatas tidaklah benar dan bertentangan dengan nash-nash syar`i:

Allah berfirman: Karena itu bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur`an (Muzammil:20). Ayat ini membantah yang mengatakan shalat hanyalah gerakan tanpa perkataan, dan juga adanya hadits yang menyatakan: Tidak sah shalat kecuali dengan membaca surat pembuka Al-Kitab (Al-Fatihah) (HR. Bukhari, Muslim).

Adapun sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam: Shalatlah kalian sebagaimana aku mengerjakan shalat, maka fokusnya adalah diri Rasulullah yang mengerjakan tata-cara shalat, bukan berarti shalat itu hanya gerakan tanpa ucapan. Dengan demikian, tidak ada pertentangan dengan dalil yang mengatakan bahwa di dalam shalat juga membaca doa-doa tertentu yang sudah ditentukan. Membaca Al-Fatihah adalah hal yang fardhu di dalam shalat seperti pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama dan mayoritas shahabat nabi radhiyallahu`anhum. (Badaa`I Al-Sanaa`i I/110)

Seandainya membaca ayat berulang kali namun hanya di dalam hati sudah dianggap cukup di dalam shalat -dan itu tidak akan pernah terjadi- Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidak akan menjawab pertanyaan orang yang minta diajari shalat dengan Kemudian bacalah olehmu ayat Al-Qur`an yang kamu anggap mudah (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud), karena yang dimaksud dengan membaca itu bukan hanya terlintas di dalam hati, akan tetapi yang dimaksud dengan membaca -baik dalam pengertian bahasa maupun syariat- adalah menggerakkan lidah seperti yang telah maklum adanya. Diantara dalil yang memperkuat pernyataan ini adalah firman Allah ta`ala Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Qur`an karena hendak cepat-cepat (menguasainya) (Al-Qiyamah:16)

Oleh karena itulah para ulama yang melarang orang junub membaca ayat Al-Qur`an memperbolehkan melintaskan bacaan ayat hanya di dalam hati, sebab dengan sekedar melintaskan bacaan ayat dalam hati, tidak digolongkan membaca. An-Nawawi rahimahullah berkata: Orang yang sedang junub, haidh, dan nifas boleh melintaskan bacaan ayat Al-Qur`an di dalam hati tanpa melafadzkannya, begitu juga dia diperbolehkan melihat mushaf sambil membacanya di dalam hati (Al-Adzkar halaman 10)

Muhammad Ibnu Rusyd berkata: Adapun seseorang yang membaca di dalam hati, tanpa menggerakkan lidahnya, maka hal itu tidak disebut dengan membaca, karena yang disebut membaca adalah dengan melafadzkannya di mulut. Dengan suara hati inilah perbuatan manusia tidak dianggap hukumnya. Allah azza wa jalla berfirman: Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang ia kerjakan (Al-Baqarah: 286)

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Allah mengampuni dari umatku terhadap apa yang masih terlintas di dalam hati mereka (Hadits Shahih, Irwaa`al Ghalil VII/139 nomor 2026)

Sebagaimana telah diketahui bahwa keburukan yang masih berada di dalam hati manusia tidak diberi hukuman dan tidak membahayakan bagi dirinya di sisi Allah, maka sama halnya dengan bacaan atau kebaikan yang masih berada di dalam hati juga tidak akan dibalas ataupun dianggap ada. Yang dianggap adalah bacaan yang disertai dengan menggerakkan mulut dan kebaikan yang telah direalisasikan dalam perbuatan (Al-Bayan wa Al-Tahshiil I/491)

Seberapa keras bacaan di dalam shalat diucapkan?
Al-Nawawi berkata: Adapun selain imam, maka disunahkan baginya untuk tidak mengeraskan suara ketika membaca lafadz takbir, baik dia menjadi makmum atau ketika shalat sendiri (munfarid). Tidak mengeraskan suara ini jika dia tidak menjumpai rintangan, seperti suara yang sangat gaduh. Batas minimal suara yang pelan adalah bisa didengar oleh dirinya sendiri jika pendengarannya normal. Ini berlaku secara umum baik ketika membaca ayat-ayat Al-Qur`an, takbir, membaca tasbih ketika ruku`, tasyahud, salam dan doa-doa dalam shalat baik yang hukumnya wajib maupun sunnah. Apa yang dia baca tidak dianggap cukup selama masih belum terdengar oleh dirinya sendiri, dengan syarat pendengarannya normal dan tidak diganggu dengan hal-hal lainnya seperti dijelaskan di atas. Jika tidak demikian, maka dia harus mengeraskan suara sampai dia bisa mendengar suaranya sendiri, setelah itu barulah bacaan yang dia kerjakan dianggap mencukupi. Demikianlah nash yang dikemukakan oleh Syafi`i dan disepakati oleh pengikutnya. Sedangkan rekan-rekan kami berkata: Disunnahkan agar tidak menambah volume suara yang sudah dapat dia dengarkan sendiri. As-Syafi`i berkata di dalam Al-Umm: Hendaklah suaranya bisa didengar sendiri dan orang yang berada di sampingnya. Tidak patut dia menambah volume suara lebih dari ukuran itu (Al-Majmuu` III/295)

Para ulama madzhab Syafi`i berpendapat bahwa orang yang bisu bukan sejak lahir -mengalami kecelakaan di masa perkembangannya- wajib menggerakkan mulutnya ketika membaca lafadz takbir, ayat-ayat Al-Qur`an doa tasyahud dan lain sebagainya, karena dengan melaksanakan demikian, dia dianggap melafadzkan dan menggerakkan mulut, sebab perbuatan yang tidak mampu dikerjakan akan dimaafkan, akan tetapi selagi masih mampu dikerjakan maka harus dilakukan (Fatawa al Ramli I/140 dan Hasyiyah Qulyubiy I/143)

Kebayakan ulama lebih memilih untuk mensyaratkan bacaan minimal bisa didengar oleh pembacanya sendiri. Sedangkan menurut ulama madzhab Maliki cukup menggerakkan mulut saja ketika membaca ayat-ayat Al-Qur`an, namun lebih baik jika sampai bisa didengar oleh dirinya sendiri sebagai upaya untuk menghindar dari perselisihan pendapat (Ad Diin al Khalish II/143)

Catatan:
Bacaan-bacaan yang dilafadzkan di dalam pembahasan ini adalah bacaan di dalam shalat yaitu dari takbir sampai dengan salam. Adapun niat adalah tempatnya di hati, melafadzkannya [misalnya dengan usholli…dst] merupakan bid`ah. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiallahu`anhuma, dia berkata: Aku telah menyaksikan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam membuka (memulai) shalatnya dengan takbir, kemudian mengangkat tangannya (HR.Bukhari)

Referensi : Qoulul Mubin fii Akhthail Mushalin, Syaikh Mashur Hasan Salman

sumber : http://www.perpustakaan-islam.com/

Print Friendly, PDF & Email

Membaca  Lafadz Allah Dalam Hati Sedang Sholat Saat Solat Mulut Bergerak Atau Diam Shalat Hati Ikut Bicara Walaupun Baca Alcfatiha Shalat Menggerakkan Mulut Shalat Sirr Bolehkan Sambil Bernafas Sewaktu Membacanya

10 Comments

  1. bagaimana sholat org yg sholat sunnah cepat sekali,seakan-akan tdk membaca Al fatiha?

    Jika cepat sekalinya hingga menyebabkan tidak ada tumaninah, maka shalatnya tdk sah,

  2. Assalamu`alaikum warohmatullahi wabarokatuh
    Pak, mau tanya : apabila solat berjamaah kemudian dalam membaca al-fatihah belum selesai baru sampai iyyakana` budu waiyya, tapi imam sudah ruku`. apakah selesaikan bacaan al-fatihah dulu baru ruku` apakah mengikuti ruku` bersama imam,walau bacaan al-fatihah belum selesai ( khatam )
    mohon penjelasan dan pencerahannya.
    jazaakullahi khairan.
    wassalamu`alaikum warohmatullahi wabarokatuh

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    Ikuti gerakan imam walaupun bacaan belum selesai,

  3. Assalamu`alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Tanya Pak : bolehkah pak ustadz belajar seperti ini dikatagorikan sebagai tolabul`imu
    Jazaakullahu khairan.
    wassalamu`alaikum warohmatullahi wabarokatuh

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    Alhamdulillah atas nikmat media dakwah yang begitu mudah di jaman teknologi ini,.
    Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak mau mempelajari agama islam ini, yang tujuan akhirnya adalah kebahagiaan di dunia dan akherat,
    Walaupun yang lebih utama adalah datang langsung ke tempat taklim, namun jika ditempat anda belum ada, maka bisa melalui media-media, di antaranya internet, atau anda bisa pasang parabola untuk menyetel siaran dakwah seperti Rodja TV,Insan TV, Radio Rodja,

  4. Assalamualaikum,
    saya ingin bertanya gimana klu lag sakit..
    ini kejadian dengan kk saya dia lagi hamil, setiap sholat dan ketika membaca bacaan dalm sholat mulut slalu berbuih, sehingga menyebabkan air liur nya jatuh..Jika dia mengulang sholaTnya ..
    maka kejadiannya sama srperti yang tadi.. mohon penjelasanny bagaimana seharusnya

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Tidak mengapa menelan ludah saat shalat,.
    Jika tidak, boleh bawa tisue, lalu meludah di tisue tersebut, lalu tisue tersebut dimasukkan ke saku, sehingga ketika mau meludah tinggal mengambil tisue tersebut

  5. Bagaimanakah jika sakit sehingga susah menggerakan lidah tau bibir, misalnya saat sakit sariawan?

    Usahakan semampunya saja,.. Allah tidak akan membebani kewajiban yang diluar kemampuan pelakunya,.

  6. Assalamu’alaikum. Pak mw tanya setelah ruku kita memabaca samialllah huliman hamidah. apa kita perlu menjawab Rabbanana lakal hamdu. apa menjawabnya harus terdengar .?

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Bacaan makmum ketika shalat itu dengan suara pelan, cukup kita saja yang mendengar,. makmum disebelah kita tidak mendengarnya,.

    Ketika bangkit dari ruku membaca sami’allaahu liman hamidah, lalu setelah tegak membacar Rabbanaa walakal hamdu,. baik imam atau makmum baca kedua bacaan diatas,.

    • Saya pernah membaca sabuah artikel, jika imam membaca samiallahu limanhamidah kita menjawabnya dgn rabbana walkalhamdu tanpa mengucap samiallahu liman hamidah ketika bangkit dari rukuk. sedang pada artikel tersebut juga menyertakan dalilnya (saya lupa bagaimana bunyi dalilnya), jadi pendapat manakah yg lebih benar adanya?

      Yang benar adalah Makmum ketika bangun i’tidal juga membaca sami’allahu liman hamidah, setelah i’tidal baru baca doa i’tidal,
      Jadi TIDAK BENAR bahwa makmum tidak membaca sami’allahu liman hamidah,
      Ini sama saja ketika Imam mengucapkan waladhaalliin, lalu makmum membaca aamiin, apakah imam baca aamiin atau tidak? jawabnya, tetap membaca,.

  7. Assalamu’alaikum …
    saya mau tanya kalau jadi makmum apa saya tetap membaca iftitah,alfatihah dan ayat pendek?

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    makmum tetap baca istiftah, ketika imam baca keras, maka makmum tidak membaca, tapi menyimak bacaan imam, ketika imam baca siir, baru makmum baca sendiri

  8. Assalamu’alaikum

    Ini untuk sholat apa ? apa termasuk sholat Shubuh, Magribh, Isya, Jum’at dan sholat2 yang di Jahr ? atau hanya sholat2 yang sirr saja seperti Dzuhur, Ashar, sholat2 sunnah rawatib, sholat dhuha, qiyamul lail ?

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Untuk seluruh shalat, kan bacaan doa dalam shalat dibacanya siir semua,. dan dibaca di mulut secara siir

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*