Ada Apa dengan TKW di Arab…

RAHASIA TKW

 Diantara TKW yang bekerja keluar negeri ada dari mereka yang janda-janda sedangkan mereka memiliki tanggungan untuk menghidupi anak-anaknya, ada juga yang gadis-gadis belia sedangkan mereka juga punya tanggungan memenuhi kebutuhan orangtua dan adik-adiknya yang miskin, belum lagi istri-istri yang mana suaminya tidak bertanggung jawab terhadapnya dan menelantarkannya, atau suaminya tidak memiliki kemampuan menafkahi keluarganya….

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka karena keterpaksaan mereka menjadi TKW dan hidup jauh tanpa didampingi oleh mahramnya. Dan semoga pula Allah memberikan kemudahan atas urusan mereka, serta hidayah kepadanya agar mereka mampu untuk istiqamah diatas agama ini secara kaaffah.

Tidak ketinggalan pula, ada diantara TKW tersebut yang mereka adalah wanita-wanita yang nakal yang mencari kenikmatan hidup di dunia semata dengan mengabaikan agama mereka, ada juga istri-istri yang durhaka kepada suaminya karena merasa tidak cukup atau sakit hati terhadap suaminya.

Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka, dan mengampuni dosa-dosa mereka.

Banyak manusia mencela TKW karena perbuatannya, yaitu pergi tanpa mahram, pekerjaannya hina, lemahnya aqidah dan iman mereka, serta tidak mampu tawakkal di negeri sendiri. Dan ada juga yang mencela negara-negara Arab karena perbuatan mereka kepada TKW itu, yaitu menzhalimi, menghukum mati, merendahkan, kasar, dan lainnya. Lantas apakah sebelumnya kita sudah mencela diri kita sendiri sebelum kita mencela mereka???

Sudahkah selama ini kita menanamkan aqidah atau iman yang kuat kepada TKW tersebut?

Ketika TKW itu masih memiliki aqidah yang sangat lemah, iman yang tipis, lantas kita cela mereka karena pergi tanpa mahram? atau kita paksa mereka untuk tidak boleh pergi tanpa mahram? Apakah ini yang dinamakan dakwah dengan hikmah? Padahal ada yang lebih utama untuk kita dakwahi kepada mereka, yang belum sampai kepada mereka, yaitu Aqidah atau Tauhid yang benar.

Disini bukan berarti ana membolehkan wanita pergi safar tanpa mahram, sekali-kali tidak! Ana tidak pernah mengatakan seperti itu, bahkan ana mengakui tentang larangan wanita safar tanpa mahram.

Apalagi pemerintah kita dan pemerintah Saudi tidak memberikan persyaratan untuk wanita safar harus bersama mahram. Namun apakah kita mau menyamakan mereka dengan orang-orang seperti kita yang sudah lama mengaji, sudah memiliki aqidah dan iman yang kuat, yang lulusan SMA atau kuliah??

Bukan merupakan rahasia bagi kita, bahwa dari sekian banyak TKW yang keluar negeri, sangat banyak dari mereka yang tidak bisa baca dan tulis, ada juga yang hanya tamatan SD, bahkan sekolah SD pun banyak yang tidak lulus atau selesai.

A’isyah radhiyallahu ‘anha pernah mengomentari masalah ini dengan sangat mengagumkan, bahwa sesungguhnya yang pertama kali Allah turunkan adalah ayat-ayat mengenai Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baru setelah para sahabat kuat imannya, diturunkan ayat-ayat tentang halal dan haram. Lalu Aisyah berkata : Seandainya yang pertama kali Allah turunkan adalah larangan: jangan engkau meminum khamer, niscaya mereka akan menjawab: kami tidak akan meninggalkan  khamer selamanya. Dan seandainya yang pertama kali Allah turunkan adalah larangan: jangan engkau berzina, niscaya mereka akan menjawabnya: kami tidak akan meninggalkan zina selamanya. (HR Bukhari no. 4609).

Dan sudahkah selama ini kita mensuplai dan memenuhi kebutuhan hidup mereka semuanya?

Ketika TKW itu dengan keterpaksaannya pergi keluar negeri demi memenuhi kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungannya seperti anaknya, adik-adiknya atau orangtuanya, lantas kita larang mereka untuk menjadi TKW? sedangkan kita tidak mampu untuk membantu mereka dan memenuhi kebutuhan hidup mereka, begitu juga dengan pemerintahan kita yang belum sanggup meringankan beban hidup mereka semuanya. Maka, darimana mereka akan memenuhi kebutuhan hidup mereka dan orang-orang yang menjadi tanggungannya?

Disisi lain, mereka belumlah menjadi manusia yang memiliki aqidah yang kuat serta iman yang kokoh sehingga kesabaran dan ketawakkalan mereka belum seperti kita dalam menghadapi hidup ini. Jika kita belum mampu untuk mensuplai dan memenuhi kebutuhan hidup mereka, padahal mereka sangat membutuhkan bantuan kita agar mereka tidak menjadi TKW, maka cela diri kita terlebih dahulu sebelum kita mencela mereka…

Dari Humaid ath Thawil, dari Abu Qilabah diriwayatkan bahwa ia berkata, “Apabila ada kabar yg tidak mengenakkan dari saudaramu sesama muslim, carilah hal yg dapat memaafkannya sebisa kamu, kalau kau tidak dapati alasan yang tepat, katakan kepada dirimu sendiri, ‘Mungkin saudaraku ini memiliki alasan (udzur) yg tidak aku ketahui.” (Shifatush Shafwah, 1/754. Di nukil dari kitab Aina nahnu min akhlaqis salaf).

Setelah kita mencela diri kita sendiri, masihkah kita mau mencela negara-negara Arab yang telah banyak mengambil dan membantu saudara-saudara kita sebangsa untuk dijadikan pekerja mereka?

Jika kita masih berani mencela negara-negara Arab atau orang-orang Arab, maka sebelum kita mencela mereka, kita lihat perbandingan ini…

– Celaan : Negara Arab (khususnya Saudi) adalah pusatnya Islam, dan Islam berasal dari sana. Jika kenyataan seperti itu, kenapa banyak sekali orang-orang Arab yang menzhalimi, menyakiti, memperkosa, menghukum mati, dan merendahkan pembantunya? Padahal Islam tidak mengajarkan seperti itu?

Jawab : Jika memahami seperti itu, maka dia sama saja menuduh bahwa Islam itu tidak baik. Karena dia mengkaitkan bahwa Islam itu seperti negara Arab, jadi segala yang berasal dari negara Arab maka itulah Islam. Dan dia juga menuduh bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam juga tidak baik. Karena dia menganggap bahwa segala sesuatu yang berasal dari orang Arab adalah Islam dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam adalah orang Arab.

Pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang batil dan salah!

Lihatlah sejarah dan bukalah kitab-kitab hadits. Pada zaman Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam masih hidup saja ada dari umatnya yang melakukan perbuatan yang zhalim dan maksiat, ada juga yang minum khamer, berzina, dan lainnya. Lantas dengan kejadian seperti itu lalu kita mencela dan menuduh bahwa Nabi Muhammad tidak baik dan tidak becus dalam mendidik umatnya? La hawla wala quwwata illa billah….

Jika ada sesuatu keburukan yang dilakukan oleh seorang muslim, maka bukan berarti Islam adalah buruk. Yang buruk adalah pelakunya atau individunya masing-masing, bukan keburukan itu lalu dinisbatkan kepada Islam. Begitu juga dengan negara Arab. Jika ada keburukan yang dilakukan oleh sebagian orang-orang Arab, maka negaranya tidak menjadi buruk karenanya.

Dan tidak pantas kita mencela negara Arab dan orang-orang Arab secara keseluruhan hanya karena ada sebagian dari mereka melakukan keburukan. Seperti halnya kita mencela orang-orang suku Jawa semuanya adalah orang-orang musyrik, hanya karena ada dari sebagian orang yang bersuku Jawa melakukan kesyirikan di tempat tertentu. Wallahul musta’an.

– Celaan : Bukti nyata bahwa setiap berita yang sampai kepada kita tidak lain tentang kezhaliman dan penganiayaan yang dilakukan oleh orang-orang Arab kepada pembantunya atau TKW. Hal ini membuktikan bahwa orang-orang Arab itu buruk, kejam dan zhalim!

Jawab : Tahu dari mana anda bahwa setiap berita selalu berisikan tentang kekejaman dan kezhaliman orang Arab kepada pembantunya? Apakah setiap ada berita di Arab harus melapor dulu ke anda supaya anda bisa tahu semuanya? Atau anda sudah keliling negara Arab untuk mencari berita-berita tentang hal ini? Atau anda seorang dukun yang mengaku mengetahui berita yang ghaib?

Dari sekitar 2 juta TKI yang ada di saudi, ada berapa kasus penganiayaan yang terjadi, dari mulai siksaan, perkosaan s/d pembunuhan? Kemudian bandingkan dengan TKI yang tidak mendapat kasus, lebih banyak mana? Bahkan kasus-kasus yang pernah ada sejak dahulu sampai sekarang jumlahnya tidak mencapai setengah dari jumlah total seluruh TKI di Saudi, malah masih bisa dihitung jumlahnya.

Atau dengan hitungan waktu. Dalam sehari ada berapa kasus yang dialami oleh TKI di Saudi? Dan juga dalam sebulan ada berapa kasus? dalam setahun ada berapa kasus?

Kemudian bandingkan dengan jumlah TKI sebanyak 2 juta tersebut, atau yang sukses di Saudi. Lebih banyak mana? Dalam sebulan atau setahun saja kasus yang terjadi masih dapat kita hitung dengan jari, dan jumlah perbandingannya masih belum seberapa jika dibandingkan dengan total TKI di Saudi.

Inilah ketidak adilan pada diri kita yang kita belum mampu untuk melihat dari segala sisi, dan kita hanya mampu melihat dari sebelah sisi saja yang kemudian menyudutkan sisi tersebut. Belum lagi ketidak adilan dari sumber berita yaitu media-media informasi.

Yang mana mereka hanya mengekspos berita-berita yang bermasalah saja, sedangkan berita yang berisikan kisah-kisah yang positif maka tidak mereka ekspos, bahkan seandainya diekspos maka sangat sedikit sekali dibandingkan dengan berita yang bermasalah. Akibatnya masyarakat hanya mengetahui kejadian-kejadian yang bersifat negatif dan bermasalah saja.

Semoga dengan wacana ini kita mampu menjadi orang yang lebih adil, bijak dan selalu didasari sikap husnuzhan kepada saudara-saudara kita, terlebih-lebih untuk selalu bertabayyun dalam menerima segala berita yang sampai kepada kita. Semoga Allah memberikan ampunan kepada kita atas segala kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan, baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Begitu juga semoga Allah mengampuni dan membantu saudara-saudara kita yang terzhalimi serta membutuhkan pertolongan dan bantuan. Allahumma amiin.

Oleh Abu Fahd Negara Tauhid.

You May Also Like

Silahkan tinggalkan komentar di sini