Keutamaan Membaca Shalawat

Keutamaan Sholawat Syajarotun Nuqud Faedah Syajarotun Nuqud Shalawat Kultum Tentang Sholawat Keutamaan Membaca Sholawat Pendapat Ulama Salaf

anjuran bershalawatDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ

Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anjuran memperbanyak shalawat tersebut[2], karena ini merupakan sebab turunnya rahmat, pengampunan dan pahala yang berlipatganda dari Allah Ta’ala[3].

Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

– Banyak bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan tanda cinta seorang muslim kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam[4], karena para ulama mengatakan: “Barangsiapa yang mencintai sesuatu maka dia akan sering menyebutnya[5].

– Yang dimaksud dengan shalawat di sini adalah shalawat yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih (yang biasa dibaca oleh kaum muslimin dalam shalat mereka ketika tasyahhud), bukan shalawat-shalawat bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang yang datang belakangan, seperti shalawat nariyah, badriyah, barzanji dan shalawat-shalawat bid’ah lainnya. Karena shalawat adalah ibadah, maka syarat diterimanya harus ikhlas karena Allah Ta’ala semata dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam [6].

Juga karena ketika para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “(Wahai Rasulullah), sungguh kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, maka bagaimana cara kami mengucapkan shalawat kepadamu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ucapkanlah: Ya Allah, bershalawatlah kepada (Nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga beliau…dst seperti shalawat dalam tasyahhud[7].

– Makna shalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah meminta kepada Allah Ta’ala agar Dia memuji dan mengagungkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan akhirat, di dunia dengan memuliakan penyebutan (nama) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, memenangkan agama dan mengokohkan syariat Islam yang beliau bawa. Dan di akhirat dengan melipatgandakan pahala kebaikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, memudahkan syafa’at beliau kepada umatnya dan menampakkan keutamaan beliau pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk[8].

– Makna shalawat dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah limpahan rahmat, pengampunan, pujian, kemualian dan keberkahan dari-Nya[9]. Ada juga yang mengartikannya dengan taufik dari Allah Ta’ala untuk mengeluarkan hamba-Nya dari kegelapan (kesesatan) menuju cahaya (petunjuk-Nya), sebagaimana dalam firman-Nya,

{هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا}

Dialah yang bershalawat kepadamu (wahai manusia) dan malaikat-Nya (dengan memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” (QS al-Ahzaab:43).

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 5 Rajab 1431 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Artikel www.muslim.or.id


[1]HR an-Nasa’i (no. 1297), Ahmad (3/102 dan 261), Ibnu Hibban (no. 904) dan al-Hakim (no. 2018), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, juga oleh Ibnu hajar dalam “Fathul Baari” (11/167) dan al-Albani dalam “Shahihul adabil mufrad” (no. 643).

[2] Lihat “Sunan an-Nasa’i” (3/50) dan “Shahiihut targiib wat tarhiib” (2/134).

[3] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (6/169).

[4] Lihat kitab “Mahabbatur Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, bainal ittibaa’ walibtidaa’” (hal. 77).

[5] Lihat kitab “Minhaajus sunnatin nabawiyyah” (5/393) dan “Raudhatul muhibbiin” (hal. 264).

[6] Lihat kitab “Fadha-ilush shalaati wassalaam” (hal. 3-4), tulisan syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

[7] HSR al-Bukhari (no. 5996) dan Muslim (no. 406).

[8] Lihat kitab “Fathul Baari” (11/156).

[9] Lihat kitab “Zaadul masiir” (6/398).

Print Friendly, PDF & Email

Kultum Singkat Tentang Sholawat Ceramah Singkat Tentang Sholawat Teks Ceramah Tentang Sholawat Keutamaan Membaca Shalawat Paidah Syajarotun Nuqud

8 Comments

  1. pokok hukum islam ada 5.
    wajib, sunnah, haram, makruh, mubah.

    wajib-sunnah = perbuatan yang ada perintah dari Allah SWT/ Nabi SAW bisa dikategorikan wajib/sunnah.
    haram-makruh = perbuatan yang ada larangan dari Allah SWT/ Nabi SAW bisa dikategorikan haram/makruh.
    mubah = perbuatan yang tidak ada perintah atau larangan dari Allah SWT/ Nabi SAW bisa dikategorikan mubah.

    nah, jika kita membuat hukum baru dengan melarang maulid itulah yang BID’AH, ente yang BID’AH kang ….

    terimakasih kang Hadi,
    anda mengatakaan pokok islam ada 5, wajib,sunnah,haram,makruh,mubah,.. itu dari mana mas?
    Justru Rasulullah atau para sahabat tidak membaginya seperti itu,tolong tunjukan dimana rasulullah menjelaskan pokok islam dibagi menjadi 5, tolong dimana haditsnya mas, atau ayatnya,.

    bukan kata kyiai anda, habib anda, yg anda postingkan videonya, namun saya hapus,. karena tidak ada korelasinya, tdk membawakan dalil ttg pembagian seperti diatas, hanya kepandaian orasi saja,.

    Tentang Maulid, dari Rasulullah, sahabat,thabiin,tabiut thabiin, juga imam yang 4, ngga ada satupun yang mengadakan maulid nabi, jadi jika kaum muslimin yang hidup jauh dari jaman mereka, bahkan lucunya mengaku pengikut imam syafii, kok getol melakukan maulid, padahal imam syafii tdk pernah melakukan maulid,

    Bahkan yang pertama kali melakukan Maulid nabi, itu adalah orang-orang syiah yang mencela para sahabat, bahkan menuduh Aisyah berzina, mengutuk Abu bakar,umar, itukah ritual yg kalian elu-elukan?
    Silahkan baca sejarah Maulid, siapa yang pertama kali melakukan, silahkan klik disini

    Siapa yang mencintai Nabi? apakah yang melakukan Maulid? silahkan baca postingannya disini

    Apa yang dilakukan ketika maulid? Kitab Barjanji jadi kitab yg dibaca dalam ritual tersebut, silahkan baca ulasannya disini, mengerikan gan,. klik disini ya,

    • Studi sejarah dan legalitas Hukum
      “MenjawabTuduhan Sesat Perayaan Maulid”
      Oleh:KH.Tb.A.Khudori Yusuf.Lc
      Penerbit:Pondok Pesantren Jami’atul IkhwJln.KH.M.Yunus Pasir Buntu-
      Malanggah
      Tunjung Teja-Serang-Banten
      42174
      KATA PENGANTAR
      ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
      ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟَّﺬﻱ ﺃﺭﺳَﻞَ ﻟَﻨﺎ ﻣَﻦ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﺳَﻦَّ، ﻭﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟﻠﻪِ ﺍﻟَّﺬﻱ ﺟَﻌَﻞَ ﻟَﻨﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺒِﺪَﻉِ ﻣﺎ ﻫُﻮَ ﺣَﺴَﻦٌ، ﻭﺍﻟﺼَّﻼﺓُ ﻭﺍﻟﺴَّﻼﻡُ ﻋﻠﻰ
      ﺻﺎﺣِﺐِ ﺍﻟﺼَّﻮْﺕِ ﻭﺍﻟﻮَﺟْﻪِ ﺍﻟْﺤَﺴَﻦِ، ﺃَﺑﻲ ﺍﻟﻘﺎﺳِﻢِ ﺟَﺪِّ ﺍﻟْﺤُﺴﻴﻦِ ﻭﺍﻟْﺤَﺴَﻦِ. ﺃﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ ﻓَﻬَﺬَﺍ ﺑﻴﺎﻥُ ﺟَﻮﺍﺯِ ﺍﻻﺣْﺘِﻔَﺎﻝِ ﺑِﺎﻟْﻤَﻮْﻟِﺪِ ﻭَﺃَﻥَّ ﻓﻴﻪِ
      ﺃَﺟْﺮًﺍ ﻭَﺛَﻮﺍﺑًﺎ. ﻧَﻘﻮﻝُ ﻣُﺘَﻮَﻛِّﻠﻴﻦَ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪِ:
      Kelahiran Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaiihi wa Sallam ke
      muka bumi ini merupakan karunia teragung yang dianugrahkan Allah
      SWT untuk umat manusia. Kelahirannya bak matahari terbit menyinari
      alam semesta dari kegelapan malam. Ia bagaikan bulan purnama
      diantara bintang-bintang dan air ditengah gurun sahara, cahayanya
      menjajnjikan kebahagian dan ketentraman abadi, kesejukannya
      menghantarkan kemenangan dan kesejahteraan yang hahiki. Wahai
      Nabi… Wahai Rasulullah ….Wahai Kekasih Allah…. kami sambut
      kedatanganmu dengan rangkaian bunga Sholawat dan Salam.
      Rabiul Awwal adalah bulan yang dinanti-nantikan oleh umat Islam di
      seluruh penjuru dunia, karena pada bulan inilah Nabi Muhammad SAW
      sang penghulu sekaligus penutup para Nabi dan Rasul Sayyidul Anbiya
      Wal Mursaliin Wa Khatamuhum, kekasih Allah. Kelahirannya ditandai
      dengan kejadian-kejadian yang menakjubkan pertanda keagungan dan
      kemuliannya. Siapapun akan bangga dan bersyukur atas kehadirannya
      di muka bumi ini. Betapa tidak, karena atas jasa besarnya-lah manusia
      dari jurang kenistaan yang tiada penghabisan, tentunya bagi mereka
      yang mengikuti ajarannya.
      Merayakan peringatan maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaiihi wa
      Sallam, adalah merupakan salah satu amal yang paling utama dan
      sebuah cara pendekatan diri kepada Allah Rabbil Izzati. Kerena
      keseluruhan rangkaian peringatan Maulid Nabi tersebut merupakan
      ungkapan kebahagiaan dan kecintaan umat Islam kepada beliau. Dan
      cinta kepada Nabi merupakan salah satu prinsip dasar dari prinsip-
      prinsip iman. Cinta ini seiring dengan cinta kepada Allah SWT, yang
      menyandingkan keduanya dan mengancam siapa saja yang lebih
      mengutamakan kecintaan kepada perkara-perkara lain yang sudah
      menjadi tabiat manusia seperti kerabat, harta benda, dan tanah air
      atas kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya.
      Buku yang hadir dihadapan pembaca adalah sebuah buku kecil atas
      studi sejarah dan legalitas hukum perayaan Maulid Nabi Muhammad
      SAW dari pendapat-pendapat ulama terdahulu. Tentu saja tidak
      memuat seluruh pendapat ulama Islam, tetapi cukup dijadikan rujukan
      untuk membuat sebuah peta pemikiran tentang hakikat perayaan
      Maulid secara komprehensif dan menyikapinya dengan bijaksana.
      Kemudian kepada Allah Azza wa Jalla, penulis
      memohon Taufiq danHidayah Nya, semoga buku ini berguna bagi diriku
      dan bagi saudara-saudaraku yang meminatinya. Allahumma barik lana
      fie ‘amalina.Amien ….!!!
      Selamat membaca.
      Serang, 7 April 2011
      H.A.Khudori Yusuf
      MUQODDIMAH
      Sesungguhnya Maulid (kelahiran) Nabi Muhammad SAW yang mulia
      merupakan limpahan rahmat Ilahi yang dihamparkan bagi sejarah
      manusia seluruhnya. Allah SWT dalam Al Qur’an Al-Karim telah
      mengungkapkan keberadaan Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi
      seluruh alam semesta. Rahmat ini tidak terbatas, ia meresap masuk ke
      dalam pendidikan, pengajaran, dan pensucian jiwa manusia. Rahmat
      tersebut jugalah yang menunjukan manusia ke jalan kemajuan yang
      lurus dalam lingkup kehidupan mereka, baik secara materi maupun
      maknawi. Rahmat tersebut juga tidak terbatas untuk orang-orang di
      jaman itu saja, tetapi membentang luas sepanjang sejarah manusia
      seluruhnya.
      Kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW, adalah nikmat terbesar dan
      anugerah teragung yang Allah berikan kepada alam semesta. Ketika
      manusia saat itu berada dalam kegelapan syirik, kufur, dan tidak
      mengenal Rabb pencipta mereka. Manusia mengalami krisis spiritual
      dan moral yang luar biasa. Nilai-nilai kemanusiaan sudah terbalik.
      Penyembahan terhadap berhala-berhala menjadi suatu kehormatan,
      perzinaan menjadi suatu kebanggaan, mabuk dan berjudi menjadikan
      lambang dari kejantanan, dan merampok serta membunuh adalah
      suatu keberanian dan keperkasaan. Manusia pada waktu itu tidak lagi
      berjalan dengan akalnya, melainkan disetir oleh hawa nafsu
      kebinatangannya. Yang kuat memeras yang lemah. Wanita tidak lagi
      dianggap sebagai manusia, melainkan semata-mata simbol seks dan
      pemuas hawa nafsu belaka. Akidah yang dibawa para Nabi sebelumnya,
      lenyap ditelan kebodohan. Mereka tidak lagi menyembah Allah Rabbul
      alamin, Pencipta alam semesta, melainkan menyembah patung-patung
      yang mereka ciptakan sendiri.
      Dari apa yang baru saja kita paparkan, terlihat dengan jelas bahwa
      kemanusiaan di Jazirah Arab pada waktu itu sungguh sangat hancur.
      Sampai-sampai seorang yang bernama Abrahah tiba-tiba berniat untuk
      menghancurkan Ka’bah, tempat yang sangat Allah sucikan. Suatu
      tindakan kebodohan yang demikian jelas. Dan Abrahah memang serius
      untuk menghancurkan Ka’bah. Pada waktu itu ia dan pasukan gajahnya
      sudah berangkat dari Yaman menuju Makkah. Namun Allah Maha tahu
      akan niat jahat Abrahah. Sebelum mereka mencapai tujuannya. Allah
      segera mengirimkan burung-burung Ababil, menyebarkan kepada
      mereka batu-batu api neraka yang menghanguskan
      Di saat seperti ini rahmat ilahi memancar dari jazirah Arab, seorang
      bayi bernama Muhammad, Allah melahirkan dari rahim seorang Ibu
      bernama Aminah, tepatnya 12 Rabi’ul Awal, tahun Gajah. Muhammad,
      dialah yang kemudian Allah pilih sebagai seorang Rasul, pembawa
      risalahNya, kepadanya Allah turunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk jalan
      kehidupan. Sejak itu muncul sebuah zaman baru yang sangat
      mengagumkan bagi bangkitnya kemanusiaan. Manusia yang benar-benar
      manusia, tunduk kepada Allah Penciptanya dan pencipta segala
      mahluk. Keadilan benar-benar ditegakkan, dan kedzaliman
      dihancurkan. Wanita dihargai kemanusiannya, minuman keras
      dilarang, kerena merusak akal dan kejahiliahan diperangi dan
      dimusnahkan. Rasul yang ditunggu-tunggu oleh alam semesta telah
      datang untuk menghancurkan semua kebathilan , menghentikan semua
      kerusakan ini dan membawanya kepada cahaya ilahi.
      ﻟﻘﺪ ﺟﺎﺀﻛﻢ ﺭﺳﻮﻝٌ ﻣﻦ ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ ﻋﺰﻳﺰ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎ ﻋﻨﺘﻢ ﺣﺮﻳﺺ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺭﺅﻭﻑ ﺭﺣﻴﻢ
      “Telah datang kepada kamu seorang utusan Allah dari jenis kamu
      sendiri, ia merasakan apa penderitaanmu,lagi sangat mengharapkan
      akan keselamatanmu, kepada orang yang beriman senantiasa merasa
      kasih sayang”. (QS.At-Taubah:128)
      Kelahiran makhluk mulia yang ditunggu jagad raya membuat alam
      tersenyum, gembira dan memancarkan cahaya. Al-Habib Ali bin
      Muhammad bin Husain Al-Habsyi pengarang kitab Maulid Habsyi (Biasa
      disebut Simthud-Durar fi akhbar Mawlid Khairil Basyar min akhlaqi
      wa awshaafi wa siyar) menggambarkan kelahiran Nabi Mulia itu dalam
      syairnya yang indah:
      ﺍﺷﺮﻕ ﺍﻟﻜﻮﻥ ﺍﺑﺘﻬﺎﺟﺎ ﺑﻮﺟﻮﺩ ﺍﻟﻤﺼﻄﻔﻰ ﺍﺣﻤﺪ ﻭ ﻷﻫﻞ ﺍﻟﻜﻮﻥ ﺍﻧﺲ ﻭﺳﺮﻭﺭ ﻗﺪ ﺗﺠﺪﺩ
      “Alam bersinar cemerlang bersukaria demi menyambut kelahiran
      Ahmad Al-Musthofa Penghuni alam bersukacita Dengan kegembiraan
      yang berterusan selamanya”.
      Dengan tuntunan Allah SWT Baginda Nabi Muhammad SAW berhasil
      melaksanakan misi risalah yang diamanahkan kepadanya. Setelah
      melalui perjalanan dakwah dan jihad selama kurang lebih 23 tahun
      dengan berbagai macam rintangan dan hambatan yang menimpa.
      Rasululla berhasil mengeluarkan umat dan mengantarkan bangsa Arab
      dari penyembahan makhluk menuju kepada penyembahan Rabbnya
      makhluk, dari kezaliman jahiliyah menuju keadilan Islam.
      Firman Allah SWT:
      ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺑَﻌَﺜْﻨَﺎ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺭَﺳُﻮﻻ ﺃَﻥِ ﺍﻋْﺒُﺪُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﺍ ﺍﻟﻄَّﺎﻏُﻮﺕَ
      “Sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul (yang
      mengajak) sembahlah Allah dan tinggalkanlah thoghut.” (QS. An-Nahl:
      36)
      ﻟَﻘَﺪْ ﻣَﻦَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺇِﺫْ ﺑَﻌَﺚَ ﻓِﻴﻬِﻢْ ﺭَﺳُﻮﻟًﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻳَﺘْﻠُﻮ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻳُﺰَﻛِّﻴﻬِﻢْ ﻭَﻳُﻌَﻠِّﻤُﻬُﻢُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ ﻭَﺇِﻥْ
      ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞُ ﻟَﻔِﻲ ﺿَﻠَﺎﻝٍ ﻣُﺒِﻴﻦٍ
      “Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang
      beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari
      golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat
      Allah,membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka
      Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi)
      itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.
      (Qs.Ali’Imran:164)
      Sebagai pembuka buku ini, ada baiknya kita simak perkataan ulama
      Kharismatik dari Universitas Al-Azhar Mesir Asy-Syaikh Husnain
      Makhluf Rahimahullah dalam kitab Fatawa Syar’iyyah, juz 1
      halaman.131 menulis:
      ﺇﻥ ﻣﻦ ﺇﺣﻴﺎﺀ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﺸﺮﻳﻒ، ﻭﻟﻴﺎﻟﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺷﺮﻕ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻟﻤﺤﻤﺪﻱ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺬﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ
      ﻭﺷﻜﺮﻩ ﻟﻤﺎ ﺃﻧﻌﻢ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﺔ ﻣﻦ ﻇﻬﻮﺭ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﺇﻟﻰ ﻋﺎﻟﻢ ﺍﻟﻮﺟﻮﺩ، ﻭﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺃﺩﺏ ﻭﺧﺸﻮﻉ ﻭﺑﻌﺪ
      ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺎﺕ ﻭﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺍﺕ، ﻭﻣﻦ ﻣﻈﺎﻫﺮ ﺍﻟﺸﻜﺮ ﻋﻠﻰ ﺣﺒﻪ ﻣﻮﺍﺳﺎﺓ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺟﻴﻦ ﺑﻤﺎ ﻳﺨﻔﻒ ﺿﺎﺋﻘﺘﻬﻢ ﻭﺻﻠﺔ ﺍﻷﺭﺣﺎﻡ،
      ﻭﺍﻹﺣﻴﺎﺀ ﺑﻬﺬﻩ ﺍﻟﻄﺮﻳﻘﺔ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﺄﺛﻮﺭ ﻓﻲ ﻋﻬﺪﻩ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻻ ﻓﻲ ﻋﻬﺪ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﺇﻻ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺑﺄﺱ
      ﺑﻪ ﻭﺳﻨﺔ ﺣﺴﻨﺔ
      Makananya: “Sunggung barangsiapa menghidupkan malam Maulid Nabi
      Asy-Syarif dan malam-malam-malam bulan yang mulya ini yang
      menerangi didalamnya dengan cahaya Muhammadiy yaitu dengan
      berdzikir kepada Allah, bersyukur atas nikmat-nikmat yang diberikan
      kepada umat ini termasuk dilahirkannya makhluk terbaik (Nabi
      Muhammad Shallallahu Alaiihi wa Sallam) ke alam ini, dan tidak ada
      yang demikian itu kecuali dengan sebuah akhlak dan kekhusuan serta
      menjauhi hal-hal yang diharamkan, amalan bid’ah serta kemungkaran
      kemungkaran. Dan termasuk menampakkan kesyukuran sebagai bentuk
      kecintaan yaitu menyantuni orang-orang tidak mampu, menjalin
      shilaturahim dan menghidupkan dengan cara ini walaupun tidak ada
      pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan tidak pula
      ada dimasa salafush shaleh adalah tidak apa-apa serta termasuk
      sunnah hasanah”.
      Imam Mutawalli Sha`Rawi Rahimahullah dalam bukunya al Ma’idat al-
      fikr al-Islamiyya halaman. 295, menulis:
      ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺑﻨﻮ ﺍﻟﺒﺸﺮ ﻓﺮﺣﻮﻥ ﺑﻤﺠﻴﺌﻪ ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﻤﺨﻠﻮﻗﺎﺕ ﺍﻟﺠﺎﻣﺪﺓ ﻓﺮﺣﺔ ﻟﻤﻮﻟﺪﻩ ﻭﻛﻞ ﺍﻟﻨﺒﺎﺗﺎﺕ ﻓﺮﺣﺔ ﻟﻤﻮﻟﺪﻩ ﻭﻛﻞ
      ﺍﻟﺤﻴﻮﺍﻧﺎﺕ ﻓﺮﺣﺔ ﻟﻤﻮﻟﺪﻩ ﻭﻛﻞ ﺍﻟﺠﻦ ﻓﺮﺣﺔ ﻟﻤﻮﻟﺪﻩ، ﻓﻠﻤﺎﺫﺍ ﺗﻤﻨﻌﻮﻧﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﺮﺡ ﺑﻤﻮﻟﺪﻩ
      ” Jika makhluk hidup bahagia atas kelahiran Nabi nya itu dan semua
      tanaman senang atas kelahirannya, semua binatang senang atas
      kelahirannya semua malaikat senang atas kelahirannya, dan semua
      jin senang atas kelahirannya, mengapa engkau mencegah kami dari
      yang bahagia atas kelahirannya? ” (untuk menjawab pendapat orang
      orang yang tidak memperbolehkan perayaan Maulid Nabi).
      Allah SWT, menganjurkan kepada kita untuk bergembira atas rahmat
      dan karunia-Nya, termasuk kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu
      Alaiihi wa Sallam, yang membawa rahmat kepada alam semesta, Allah
      SWT berfirman:
      ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﭐﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ
      “ Katakanlah:‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah
      dengan itu mereka bergembira.Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu
      adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS.Yunus:58).
      Al-Imam Imam As-Suyuti meriwayatkan:
      ﻭﺃﺧﺮﺝ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻵﻳﺔ ﻗﺎﻝ : ﻓﻀﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻭﺭﺣﻤﺘﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
      Abu As-Syeikh telah meriwayatkan daripada Sayyidina Ibn Abbas r.a.
      tentang tafsiran ayat ini: “Karunia Allah adalah Ilmu dan Rahmat-Nya
      adalah Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam.( Lihat Ad-Durr
      Al-Manthsur oleh Imam As-Suyuti, dan lihat juga dalam Al-Bahr Al-
      Muhith oleh Imam Abu Hayyan)
      Hal ini berdasarkan firman Allah s.w.t.:
      ﻭَﻣَﺎ ﺃﺭْﺳَﻠﻨَﺎﻙَ ﺇﻻ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﻟِﻠﻌَﺎﻟﻤِﻴﻦ
      Maksudnya: “Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali
      sebagai rahmat bagi seluruh alam.”(QS.Al-Anbiya,107)
      Dari latar belakang ini lah umat islam merasakan kebahagian luar
      biasa atas kelahiran nabi dan memperingatinya setiap tahunnya,
      bahkan pada saat ini di setiap negara muslim, kita pasti menemukan
      orang-orang yang merayakan ulang tahun Nabi yang disebut dengan
      hari Maulid Nabi. Hal ini berlaku pada mayoritas umat islam di banyak
      Negara misalnya sebagai berikut: Mesir, Suriah, Libanon, Yordania,
      Palestina, Irak, Kuwait, Uni Emirat, Saudi Arabia (pada sebagian
      tempat saja) Sudan, Yaman, Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko,
      Mauritania, Djibouti, Somalia, Turki, Pakistan, India, Sri Lanka, Iran,
      Afghanistan, Azerbaidjan, Uzbekistan, Turkestan, Bosnia, Indonesia,
      Malaysia, Brunei, Singapura, dan sebagian besar negara- negara Islam
      lainnya. Di negara-negara tersebut bahkan kebanyakan diperingati
      sebagai hari libur nasional. Semua negara-negara ini, yaitu duwal
      islamiyah, merayakan hari peringatan peristiwa ini. Bagaimana bisa
      pada saat ini ada sebagian minoritas yang berpendapat dan mempunyai
      keputusan bahwa memperingati acara maulid Nabi adalah sebuah
      keharaman dan bid’ah yang sebaiknya di tinggalkan oleh umat islam.
      Hukum perayaan maulid telah menjadi topik perdebatan yang hangat
      dikalangan para ulama sejak lama dalam sejarah Islam, yaitu antara
      kalangan yang memperbolehkan perayaan maulid dan yang
      melarangnya karena dianggap bid’ah. Hingga saat ini pun masalah
      hukum maulid, masih menjadi topik hangat yang diperdebatkan
      kalangan muslim. Yang ironis, di beberapa lapisan masyarakat muslim
      saat ini permasalahan peringatan maulid sering dijadikan tema untuk
      berbeda pendapat yang kurang sehat, dijadikan topik untuk saling
      menghujat, saling menuduh sesat dan lain sebagainya. Bahkan yang
      tragis, masalah peringatan maulid nabi ini juga menimbulkan
      kekerasan sektarianisme antar pemeluk Islam di beberapa tempat.
      Untuk lebih jelas mengenai duduk persoalan hukum maulid ini, ada
      baiknya kita telaah kembali sejarah pemikiran Islam tentang perayaan
      Maulid ini dari pendapat para ulama terdahulu dan menelisik lebih
      jauh awal mula tradisi perayaan Maulid ini. Tentu saja tulisan ini tidak
      memuat semua pendapat ulama Islam, tetapi cukup dapat dijadikan
      rujukan untuk membuat sebuah peta pemikiran dalam memahi hakikat
      Maulid secara komprehensif dan menyikapinya dengan bijaksana.
      BAB I
      SEJARAH MAULID
      1. A. PENDAHULUAN
      Dalam bab ini nanti kami berusaha untuk merekonstruksi sejarah
      tradisi perayaan Maulid Nabi ini dengan membuktikan siapa yang
      pertama kali mencetuskan dan mengadakan perayaan Maulid dengan
      menggunakan banyak sumber literatur sejarah untuk membuktikan
      kevalidan sejarah tersebut. Sebab banyak sekali perdebatan mengenai
      tradisi Maulid telah mengemuka sejak dulu sampai saat ini. Perdebatan
      ini bisa dibaca dari banyaknya karya para ulama baik sejarawan barat
      ataupun sejarawan muslim yang meneliti tentang awal mula tradisi
      Maulid Nabi ini.
      1. B. SEJARAH TRADISI PERAYAAN MAULID
      Dilihat dari asal usul kata, sejarah bersal dari bahasa arab,
      yaitu syajaratun yang berarti pohon, keturunan, asal usul atau silsilah.
      Dalam bahasa Inggris (history), Bahasa Yunani (istoria), Bahasa Jerman
      (geschicht). Sejarah, dalam bahasa Indonesia dapat berarti riwayat
      kejadian masa lampau yang benar-benar terjadi.atau riwayat asal usul
      keturunan (terutama untuk raja-raja yang memerintah).
      Umumnya sejarah dikenal sebagai informasi mengenai kejadian yang
      sudah lampau. Sebagai cabang ilmu pengetahuan, mempelajari sejarah
      berarti mempelajari dan menerjemahkan informasi dari catatan-catatan
      yang dibuat oleh orang perorang, keluarga, dan komunitas.
      Pengetahuan akan sejarah melingkupi: pengetahuan akan kejadian-
      kejadian yang sudah lampau serta pengetahuan akan cara berpikir
      secara historis.
      Dahulu, pembelajaran mengenai sejarah dikategorikan sebagai bagian
      dari Ilmu Budaya (Humaniora). Akan tetapi, di saat sekarang ini,
      Sejarah lebih sering dikategorikan sebagai Ilmu Sosial, terutama bila
      menyangkut perunutan sejarah secara kronologis.Ilmu Sejarah
      mempelajari berbagai kejadian yang berhubungan dengan kemanusiaan
      di masa lalu. Sejarah dibagi ke dalam beberapa sub dan bagian khusus
      lainnya seperti kronologi, historiograf, genealogi, paleografi, dan
      kliometrik. Orang yang mengkhususkan diri mempelajari sejarah
      disebut sejarawan.Ilmu Sejarah juga disebut sebagai Ilmu Tarikh atau
      Ilmu Babad.
      Ibnu Khaldun (1332-1406) mendefinisikan sejarah sebagai catatan
      tentang masyarakat umum manusia atau peradaban manusia yang
      terjadi pada watak atau sifat masyarakat itu.
      Perayaan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaiihi wa Sallam,
      merupakan bagian dari tradisi umat Islam karena perayaan maulid
      Nabi hanyalah sebagai salah satu tradisi umat Islam sejak masa lalu
      dan bukan bagian dari syariat. Perayaan maulid adalah sebuah
      kegiatan yang bertujuan untuk menyemarakan syiar dakwah Islam,
      bukan perayaan yang bersifat ritual. Dalam peringatan Maulid disebut
      tentang kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, sirahnya, dan
      pengenalan tentang pribadi beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk
      mengenalnya serta dituntut untuk meneladaninya, mengikuti
      perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya ? Oleh karena itu perayaan
      Maulid Nabi Shallallahu Alaiihi wa Sallam dikatagorikan sebagai
      kebudayaan Islam yang merupakan hasil kreasi umat Islam yang
      bersumber dari ajaran Islam itu sendiri dan bertujuan untuk
      mengekspresikan rasa syukur mereka kepada Allah SWT karena Dia
      telah menurunkan hamba-Nya Muhammad sebagai pembawa rahmat
      untuk seluruh alam.
      Banyak orang keliru dalam memahami subtansi Maulid Nabi yang saya
      propagandakan dan saya anjurkan untuk menyelenggarakannya.
      Mereka mendefinisikannya secara keliru yang kemudian banyak
      melahirkan persoalan baru dan perdebatan-perdebatan yang panjang
      yang membuat mereka menyia-nyiakan waktunya dan para
      pembacanya. Persoalan dan perdebatan ini tidak bernilai sama sekali
      laksana debu yang beterbangan karena dibangun di atas asumsi-asumsi
      keliru.saya telah banyak mengupas tentang persolan perayaan maulid
      di forum-forum terbuka dengan uraian yang jelas tentang konsep
      perayaan Maulid. Telah saya jelaskan sebelumnya bahwa berkumpul
      dalam rangka memperingati maulid Nabi hanyalah sebuah tradisi dan
      sama sekali bukanlah sebuah bentuk ibadah. Silakan saja, siapa pun
      bisa memberikan interpretasi karena seseorang akan membenarkan
      atas apa yang dikatakan tentang dirinya dan substansi keyakinannya,
      bukan orang lain.
      Dalam setiap acara, pertemuan dan perayaan, saya katakan bahwa
      pertemuan dengan format demikian adalah sekadar tradisi bukan
      perayaan yang bersifat ritual. Setelah penjelasan ini,ternyata masih
      banyak orang yang ingkar dan bantahan dari orang yang
      menentangpun semakin hebat dan dengan lantangnya mereka
      mengatakan bahwa perayaan Maulid Nabi adalah kesesatan dan
      kemaksiatan . Saya katakan ini merupakan tuduhan yang keji terhadap
      kaum muslimin yang merayakan Maulid Nabi dan adanya kesalahan
      dalam memahami subtansi Maulid.Karena itu, Imam Syafi`i berkata:
      ﻣَﺎ ﺟَﺎﺩَﻟْﺖُ ﻋَﺎﻟِﻤًﺎ ﺇِﻻَّ ﻏَﻠَﺒْﺘُﻪُ ﻭَﻻَ ﺟَﺎﺩَﻟْﺖُ ﺟَﺎﻫِﻼً ﺇِﻻَّ ﻏَﻠَﺒَﻨِﻲ
      “Saya tidak pernah berdebat dengan orang alim, kecuali saya mampu
      mengalahkannya dan saya tidak pernah berdebat dengan orang bodoh,
      kecuali ia mampu mengalahkanku.”
      Pelajar dengan kapasitas keilmuan terendah sekalipun akan mengetahui
      perbedaan antara tradisi dan ritual ibadah serta substansi keduanya.
      Jika seseorang berkata, “Ini adalah ritual ibadah yang disyari`atkan
      beserta tata caranya,” Saya bertanya kepadanya, “Manakah dalilnya?”
      Dan jika ia berkata, “Ini adalah tradisi,” saya katakan kepadanya,
      “Berbuatlah sesukamu.” Karena yang berbahaya dan menjadi bencana
      yang kami khawatirkan adalah membungkus ibadah dengan perbuatan
      bid`ah yang tidak disyari`atkan, namun hanya ijtihad manusia. Ini
      adalah pandangan yang tidak saya setujui dan justru saya memerangi
      dan memperingatkannya. Walhasil, berkumpul dalam rangka
      memperingati maulid Nabi hanyalah sebuah tradisi. Namun, ia
      termasuk tradisi positif yang mengandung banyak manfaat untuk
      masyarakat dengan keutamaan yang sempurna karena kemanfaatan itu
      dianjurkan oleh syari`at satu per satunya.
      Termasuk persepsi-persepsi keliru yang ada dalam benak sebagian
      orang adalah mereka menyangka bahwa kami menyelenggarakan
      peringatan maulid Nabi pada malam tertentu saja, tidak dilakukan
      sepanjang tahun. Si pelupa ini tidak mengetahui bahwa beberapa
      perkumpulan diselenggarakan dalam rangka memperingati maulid Nabi
      di kota Makkah dan Madinah dalam format luar biasa pada setiap
      tahunnya. Dan pada setiap momen yang terjadi yang penyelenggara
      acara merasa bersuka cita. Bahkan, hampir setiap siang maupun
      malam di kota Makkah dan Madinah diselenggarakan perkumpulan
      dalam rangka memperingati maulid Nabi. Fakta ini diketahui oleh
      sebagian orang dan sebagian lagi tidak mengetahuinya. Siapapun yang
      berprasangka bahwa kami mengingat Nabi hanya pada satu malam
      saja dan melupakan beliau selama 359 malam, berarti ia telah
      melakukan dosa besar dan kebohongan nyata.
      ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻳَﺼِﺢُّ ﻓِﻲ ﺍﻷَﺫْﻫَﺎﻥِ ﺷَﻲْﺀٌ * ﺇِﺫَﺍ ﺍﺣْﺘَﺎﺝَ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭُ ﺇِﻟَﻰ ﺩَﻟِﻴْﻞ
      “Sungguh sama sekali tidak masuk akal jika terang benderangnya
      siang perlu bukti”.
      Harus diakui memang tidak tercatat dalam kitab-kitab sejarah Islam
      informasi adanya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada masa
      beliau hidup seperti yang kita rayakan pada saat ini. Nabi hanya
      mengisyaratkan dalam sebuah hadistnya yang diriwayatkan dalam
      kitab shohih muslim, pada bab As-Shiyam, bahwa baginda Nabi ditanya
      tentang puasa hari senin, dan beliau menjawab:” Itu adalah hari aku
      dilahirkan dan itu adalah hari aku menerima wahyu kenabian”.
      Hadist ini menunjukan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaiihi wa
      Sallammelakukan puasa pada hari senin karena bersyukur kepada
      Allah SWT, bahwa pada hari itu beliau dilahirkan. Hal ini merupakan
      isyarat dari Rasulullah SAW, artinya jika beliau puasa pada hari senin
      karena bersyukur kepada Allah atas kelahiran beliau sendiri pada hari
      itu, maka demikian pula bagi kita sudah selayaknya pada tanggal
      kelahiran Rasulullah SAW tersebut kita bersyukur kepada Allah SWT.
      Bersyukur atas kelahiran Rasulullah Shallallahu Alaiihi wa Sallam bisa
      hasil misalnya dengan membaca Al-Qur’an, membaca sirahnya,
      membaca Shalawat kepada beliau, bersedekah atau perbuatan baik
      lainnya. Kemudian karena puasa pada hari senin di ulang-ulang oleh
      Rasulullah SAW pada setiap minggunya, maka berarti peringatan
      maulid juga di ulang setiap tahunnya. Dan karena hari kelahiran
      Rasulullah SAW masih diperselisihkan mengenai tanggalnya bukan
      pada harinya dan tahunnya maka sah-sah saja apabila perayaan maulid
      pada tanggal 12, 2, 8, 9, 10, Rabiul awwal atau pada tanggal lainnya.
      Bahkan tidak masalah perayaan Maulid dilaksanakan dalam sebulan
      penuh sekalipun.
      Pelajaran penting yang dapat dipetik dari hadist ini adalah: Sangat
      dianjurkan untuk bersyukur kepada Allah pada hari-hari tertentu atas
      nikmat yang Allah berikan pada hari tersebut. Bersyukur kepada Allah
      dapat dilakukan dengan melaksanakan berbagai bentuk ibadah, seperti
      sujud syukur, berpuasa, sedekah, membaca Al-Qur’an, membaca
      Sholawat kepada Nabi SAW. Bukankah kelahiran Rasulullah SAW
      adalah nikmat yang paling besar ? Adakah nikmat yang lebih agung
      dari dilahirnya Rasulullah SAW pada bulan Rabiul Awwal ini ? Adakah
      nikmat dan karunia yang lebih agung daripada kelahiran
      Rasulullah SAW yang telah menyelamatkan kita dari jalan kesesatan ?
      Demikian yang telah dijelaskan oleh Hujjatul Islam al-Hafizd Ibnu Hajar
      al-Asqolani dalam syarah hadist ini.
      Adapun hadits-hadits yang menceritakan secara khusus adanya
      perayaan maulid Nabi disaat beliau hidup yang sering disampaikan
      para muballigh dalam pengajian-pengajian seperti:
      ﻣَﻦْ ﻋَﻈَّﻢَ ﻣَﻮْﻟِﺪِﻯْ ﻛُﻨْﺖُ ﺷَﻔِﻴْﻌًﺎ ﻟَﻪُ ﻳَـﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎ ﻣَﺔِ. ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻧْﻔَﻖَ ﺩِﺭْﻫَﻤًﺎ ﻓِﻰ ﻣَﻮْﻟِﺪِﻯ ﻓَﻜَﺄَ ﻧَّﻤَﺎ ﺍَﻧْﻔَﻖَ ﺟَﺒَﻼً ﻣِﻦْ ﺫَ ﻫَﺐٍ ﻓِﻰ ﺳَﺒِﻴْﻞِ
      ﺍﻟﻠﻪِ
      Maknanya: “Barang siapa yang mengagungkan kelahiranku maka aku
      akan memberinya syafaat pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang
      memberi infaq satu dirham dalam rangka memperingati kelahiranku,
      maka akan diberi pahala seperti memberikan infaq emas sebesar
      gunung fi sabilillah”.
      Hadits seperti diatas dalam kitab kompilasi Hadits Shahih (kitab-kitab
      mu’tabar yang secara ilmiyah dapat dijadikan standar rujukan Hadist)
      tidak pernah ditemukan.
      Dengan demikian dapatlah kita simpulkan bahwa pada zaman Nabi dan
      periode khulafa’u rasyidin peringatan besar agama seperti perayaan
      Maulid Nabi dan perayaan Hari Besar Islam lainnya tidak pernah
      dilakukan. Perayaan Hari Raya resmi pada zaman Nabi hanya ada
      dua,yaitu Iedul Fitri dan Iedul Adha.
      1. C. KONTROVERSI PENCETUS PERAYAAN MAULID
      Sebenarnya banyak terjadi perbedaan pendapat sejarawan dalam
      menentukan siapa yang pertama kali mengadakan acara perayaan
      Maulid Nabi. Bisa disimpulkan ada tiga pendapat yang menengarai awal
      munculnya tradisi Maulid ini.
      Pendapat Pertama:
      Menurut Al-Sakhowi, al-Maqrizi Al-Syafi’i (854 H) (seorang ahli sejarah
      islam) dalam bukunya “Al-Khutath” menjelaskan bahwa maulid Nabi
      mulai diperingati pada abad IV Hijriyah oleh Dinasti Fathimiyyah di
      Mesir. Dinasti Fathimiyyah mulai menguasai Mesir pada tahun 358 H
      dengan rajanya Al-Muiz Lidinillah, Namun sebenarnya menurut
      DR.N.J.G. Kaptein peneliti sejarah kebudayaan Islam dari Leiden
      University sumber asli yang menyebutkan tentang Maulid Nabi pada
      zaman tersebut sudah hilang. Konsekuensinya, perayaan Maulid pada
      zaman Fathimiyyah hanya diketahui secara tidak langsung dari
      beberapa sumber sejarawan yang hidup belakangan seperti Al-Maqrizi
      yang hanya melacak dari kitab yang telah hilang dari ulama zaman
      Fathimiyyah yaitu Ibnu Ma’mun dan Ibnu Tuwayr.
      Ibnu Al-Ma’mun: Kitab Sejarah yang paling awal menyebutkan tentang
      maulid di zaman Fathimiyyah adalah kitab karangan Ibn Al-Ma’mun.
      Sebenarnya kitab ini sudah hilang tetapi ada beberapa penulis yang
      menggunakan sumber dari hasil karya beliau di antaranya adalah Ibn
      Zafir (Wafat 613/1216) Kedua Ibn Muyassar(677/1277), ketiga Ibn Abd Al
      Zahir(w 692/1292). Tetapi yang paling banyak menggunakan sumber
      dokumentasi sejarah Ibn Ma’mun adalah sejarawan Al-Maqrizi Al-
      Syafi’i
      Dalam beberapa bagian dalam kitab Khutat, Ibn Al-Ma’mun adalah
      salah satu sumber yang paling penting tentang deskripsi acara acara
      yang dilakukan oleh Dinasti Fathimiyyah seperti perayaan hari besar,
      festival, upacara dan sebagainya. Karena Ibn Al-Ma’mun adalah saksi
      hidup sebagai anak dari seorang wazir yang biasa menyelenggarakan
      banyak kegiatan perayaan dan seremonial kerajaan.Maulid di kenal
      kala itu dengan kata “Qala”. Ibn Al-Ma’mun berkata : sejak Afdhal
      Syahinsyah ibn Amirul Juyusy Badr al-Jamali menjadi wazir dia
      menghapus empat perayaan maulid yaitu maulid Nabi, Ali, Fatimah,
      dan imam yang saat itu memerintah. Sampai dia wafat tahun 515H
      barulah perayaan Maulid Nabi diselenggarakan lagi seperti dahulu oleh
      khalifah Al-Amir dan itu diteruskan sampai sekarang.
      Ibn Al-Tuwayr: Sumber kedua dari informasi perayaan Maulid pada
      zaman Fatimiyah adalah Ibn Al-Tuwayr . Penulis yang banyak
      menggunakan tulisan dia sebagai sumber sejarah adalah di antaranya
      adalah Ibn Al-Furat (807H), Ibn Khaldun (808H), Ibn Duqmaq (809H), Al-
      Qashashandi (821H), Al-Maqrazi (845H), Ibn Hajar Al-Asqalani (874H),
      Penulis-penulis tersebut menggunakan sumber informasi Ibn Tuwayr
      untuk mengkaji peristiwa-peristiwa yang terjadi pada era Dinasti
      Fathimiyyah. Beberapa peristiwa sejarah penting tentang sebuah
      perayaan terdapat di dalam dokumennya yang disebut mukhlaqat yang
      kemudian dicatat oleh para sejarawan selanjutnya seperti Al-Maqrizi
      yang kitab nya bisa kita baca pada zaman sekarang.
      Ibn Al-Tuwayr berkata, perayaan Maulid saat dinasti Fathimiyyah itu
      ada enam perayaan dan di antaranya adalah perayaan Maulid Nabi, Ali
      Bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan, Husein, dan Khalifah yang saat itu
      memerintah. Ketika 12 Rabiul Awal datang, di beberapa tempat
      diadakan acara besar seperti membaca Al-Qur’an, pengajian di
      beberapa masjid dan mushola, dan beberapa majelis juga ikut untuk
      merayakannya.
      Pendapat kedua
      Sedangkan Ibnu Katsir dalam kitab tarikhnya bidayah wa nihayah ,
      diikuti oleh Alhafiz Imam Suyuthi dalam Husn Al-Maqsid Fi ‘Amal al-
      Maulid juga pendapat yang dikuatkan oleh Prof Dr Sayyid Muhammad
      Alwi Al maliki dalam kitabnya Haula al Ihtifal bil Maulidi Nabawy As
      Syarif, menurut mereka yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi
      adalah seorang Raja Irbil (Saat itu gubernur terkadang di sebut malik
      atau amir. Irbil saat itu adalah propinsi masuk dalam Dinasti
      Ayyubiyyah.Irbil saat ini masuk dalam wilayah Kurdistan Iraq) yang
      dikenal keshalehannya dan kebaikannya dalam sejarah Islam yaitu
      Malik Muzhaffaruddin Abu Said Kukburi ibn Zainuddin Ali Ibn
      Tubaktakin pada tahun 630 H. Beliau adalah seorang pembesar dinasti
      Ayyubiyah yang kemudian dia mendapatkan mandat untuk memerintah
      Irbil pada tahun 586 H.
      Sekalipun dalam dua pendapat ini menyatakan bahwa perayaan Maulid
      Nabi mulai dilakukan pada permulaan abad ke 4 H dan tidak pernah
      dilakukan oleh Rasulullah, para sahabat dan generasi Salaf. Namun
      demikian tidak berarti hukum perayaan Maulid Nabi dilarang atau
      sesuatu yang haram. Karena segala sesuatu yang tidak pernah
      dilakukan oleh Rasulullah atau tidak pernah dilakukan oleh para
      sahabatnya belum tentu bertentangan dengan ajaran Rasulullah sendiri
      sebagaimana yang akan kami terangkan secara detail nanti pada bab
      hukum merayakan Maulid Nabi.
      1. D. PERAYAAN MAULID OLEH MALIK MUZHAFFARUDDIN
      Sepeninggal pemerintahan Fathimiyyah, Dinasti Ayyubiyah memelihara
      tradisi Maulid Nabi, walaupun mereka menghapuskan sebagian
      perayaan-perayaan lain yang dipraktekkan oleh dinasti Fathimiyah.
      Bahkan menurut Hasan Sandubi justru Sholahuddin menghapus seluruh
      perayaan Dinasti Fathimiyyah termasuk Maulid Nabi karena alasan
      politis jadi asumsi sebagian orang yang mengatakan bahwa Sholahuddin
      adalah yang pertamakali mengadakan perayaan Maulid Nabi adalah
      sama sekali tidak berlandaskan bukti yang valid. Sejarah hanya
      mencatat salah satu pembesar Dinasti Ayyubiyah yang memerintah Irbil
      yaitu Malik Muzhaffaruddin Al-Kaukabri, pada tahun 630 Hijriyah
      mengadakan Maulid Nabi secara besar-besaran. Dia juga salah seorang
      kerabat Sholahudin Al-Ayubi, dimana ia menikahi Rabi’ah Khatun, adik
      Shalahudin Al-Ayubi karena kontribusinya yang besar dalam
      menegakkan pondasi dinasti Ayyubiyah, ia juga merupakan teman
      seperjuangan Shalahudin dalam melawan tentara Salib, terutama
      kecerdikannya dalam memenangkan peperangan Khittin melawan
      tentara Salib.
      Ibn Katsir bercerita mengatakan: “ Malik Muzhaffaruddin mengadakan
      peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awwal . Beliau
      merayakannya secara besar-besaran. Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn
      al- Jauzi bahwa dalam peringatan tersebut Malik Muzhaffaruddin
      mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh para ulama dari berbagai
      disiplin ilmu, baik ulama fiqh, ulama hadits, ulama kalam, ulama
      ushul, para ahli tasawwuf dan lainnya. Sejak tiga hari sebelum hari
      pelaksanaan beliau telah melakukan berbagai persiapan. Ia
      menyembelih 15.000 ekor Kambing, 10.000 ekor Ayam, 100 Kuda, 100
      ribu keju, 30 ribu manisan untuk hidangan para tamu yang akan hadir
      dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Setiap tahunnya perayaan ini
      menghabiskan 300.000 Dinar. Perayaan ini diisi oleh ulama-ulama serta
      tokoh-tokoh sufi dari mulai Dzuhur sampe Subuh dengan ceramah-
      ceramah dan tarian-tarian sufi. Segenap para ulama saat itu
      membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh raja Al-
      Muzhaffar tersebut. Mereka semua mengapresiasi dan menganggap baik
      perayaan Maulid Nabi yang digelar besar-besaran itu.
      Menurut ibn khalIikan, perayaan tersebut dihadiri oleh ulama dan sufi-
      sufi dari tetangga irbil, dari Baghdad, Mosul, Jaziroh, Sinjar, Nashibin,
      yang sudah berdatangan sejak Muharram sampai Rabiul Awwal . Pada
      awalnya Malik Muzhaffaruddin mendirikan kubah dari kayu sekitar 20
      kubah, di mana setiap kubahnya memuat 4-5 kelompok, dan setiap
      bulan Safar kubah-kubah tersebut dihiasi dengan berbagai macam
      hiasan indah, di setiap kubah terdapat sekelompok paduan suara dan
      seperangkat alat musik, pada masa ini semua kegiatan masyarakat
      terfokus pada pelaksanaan acara pra-maulid dan mendekorasi kubah-
      kubah tersebut.
      Ibn Khallikan juga menceritakan bahwa Al-Imam Al-Hafizh Ibn Dihyah
      datang dari Maroko menuju Syam untuk selanjutnya menuju Irak,
      ketika melintasi daerah Irbil, beliau mendapati Malik Muzhaffaruddin ,
      raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid
      Nabi. Oleh karenanya al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah
      buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “ At-Tanwir Fi Maulid Al-
      Basyir An- Nadzir ”. Karya ini kemudian beliau hadiahkan kepada Raja
      Al-Muzhaffar. Perayaan itu dilaksanakan 2 kali dalam setahun, yaitu
      pada tanggal 8 Rabiul Awal dan 12 Rabiul Awal , karena perbedaan
      pendapat ulama dalam Maulid Nabi.
      1. E. TRADISI MAULID SEPANJANG ZAMAN
      Abu’l Husayn Muhammad, yang lebih dikenal sebagai Ibn Jubayr
      (540-614H) menceritakan dalam kitab Rihal “Maulid Nabi (tempat lahir
      dan rumahnya Nabi) pada setiap hari senin selama bulan Rabiul
      Awal dibuka untuk umum dan orang-orang Mekkah serta para jamaah
      umrah yang berduyun-duyun mendatanginya untuk mengambil berkah
      (tabarruk )”.
      Abu Al-Abbas Ahmad Al-Azafi dalam kitabnya Ad-durr Al-Munazzam fi
      Al Mawlid Al-mu’azzam Menceritakan bahwa pada hari Maulid Nabi di
      kota Mekkah saat itu dalam memperingati Maulid pintu Ka’bah dibuka
      dan semua bentuk transaksi jual-beli diliburkan, semua toko dan
      halaqah pengajian ditutup. Penduduk Mekkah dan para peziarah sibuk
      bergegas mengunjungi Rumah kelahiran Nabi. Pada malam Maulid Nabi
      penduduk Mekkah memperingatinya dengan memasak makanan-
      makanan yang istimewa sebagaimana menyambut hari besar Islam Idul
      Fitri. Pemimpin Mekkah (syarif) segera memerintahkan para askar
      tentara untuk mendatangi tempat kelahiran Nabi dan melafalkan
      Qasidah maulid di sana. Deretan lilin dan lampu bersinar gemerlapan
      ditempatkan dari Masjidil Haram sampai rumah tempat lahir Nabi.
      Toko dan rumah di jalan-jalan Mekkah juga dihiasi oleh berbagai
      macam pernak-pernik lampu. Perayaan acara Maulid Nabi dimulai
      setelah sholat Maghrib dengan membaca Qasidah Maulid di rumah
      tempat kelahiran Nabi.
      Sejarawan terkenal Ibnu Bathuta menjelaskan dalam
      bukunya Rihla bahwa sejak masuk bulan Rabiul Awwal setiap jum’at
      setelah shalat pintu Ka’bah dibuka oleh pemimpim Bani Shayba petugas
      penjaga pintu Ka’bah dan pada tanggal 12 pemimpin Qodhi Najmuddin
      Muhammad ibn Imam Muhyiddin Al-Tabari membagi-bagikan makanan
      dan hadiah kepada para syurafa(keturunan Nabi) dan penduduk
      Mekkah secara umum .
      Setiap tahun pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam rangka memperingati
      Maulid Nabi setelah sholat Magrib keempat qodi Mekkah yang mewakili
      dari 4 madzhab termasuk diantaranya para ulama tokoh tokoh
      masyarakat Syeikh Zawiya dan para santrinya, ruasa (para fungsionaris
      pemerintahan) berduyun-duyun meninggalkan Masjid Haram dan
      mendatangi tempat kelahiran nabi untuk mengikuti acara perayaan
      Maulid mereka membaca dzikir dan membaca qosidah Maulid. Rumah-
      rumah dan jalan umum dihiasi oleh berbagai lentera, lampu dan lilin-
      lilin besar para penduduk Mekkah menggunakan pakaian istimewa dan
      mengajak anak-anak dan keluarganya untuk menghadiri acara tersebut.
      Selepasnya acara di tempat kelahiran Nabi mereka berdesak-desakan
      kembali ke Masjid Haram untuk melakukan sholat Isya berjamaah dan
      duduk bersimpuh di depan Maqom Ibrahim kemudian mulai acara
      Maulid dimulai dengan sambutan kepada khalifah, amir Mekkah dan
      para qodhi kemudian ceramah tentang sirah Nabi diakhiri dengan doa.
      1. F. TRADISI MAULID DI INDONESIA
      Di Indonesia, perayaan maulid Nabi diselenggarakan di surau-surau,
      masjid-masjid, majelis-majelis ta’lim, di pondok-pondok pesantren dan
      di berbagai lembaga sosial keagamaan bahkan instansi-instansi
      pemerintahan. Tradisi peringatan Maulid, biasanya disebut Muludan,
      paling megah dan dihadiri ratusan ribu orang diadakan di Kraton-
      Kraton di Jawa, terutama Yogya dan Cirebon. Ia diadakan pada setiap
      malam 12 Rabi’l Awal. Masyarakat muslim merayakannya dengan
      beragam cara dan dengan sejumlah acara seremoni dan kemeriahan
      yang menggairahkan. Malam hari tanggal 12 Maulid merupakan puncak
      acara seremonial yang ditunggu-tunggu dengan penuh minat. Biasanya
      mereka mengundang penceramah untuk bicara sejarah Nabi. Mereka,
      secara bergantian, juga membaca Sirah Nabawiyah (sejarah hidup Nabi
      sejak kelahiran sampai wafatnya), dalam bentuk narasi prosais
      kadang-kadang dengan irama yang khas. Sebagian lagi sejarah Nabi
      tersebut dikemas dalam bentuk puisi-puisi yang berisi sejarah dan
      madah-madah (pujian-pujian) atas nabi. Salah satu puisi maulid Nabi
      saw ditulis oleh Syeikh Barzanji.
      Di Banten, tradisi maulid diselenggarakan diberbagai kampung, desa,
      kecamatan, kabupaten terutama di kabupaten serang yang sekarang
      dijabat oleh Drs. H.A.Taufiq Nuriman dan Hj.Ratu Tatu Chasanah,SE
      keduanya menaruh perhatian besar terhadap syiar-syiar Islam termasuk
      kepada peringatan Maulid Nabi SAW, hal ini dibuktikan dengan
      kegiatan peringatan Maulid Nabi secara rutin pada setiap tahunnya
      yang diselenggarakan di pusat pemerintahan daerah secara rutin dan
      meriah, disamping itu keduanya aktif menghadiri undangan peringatan
      Maulid ke tiap-tiap kecamatan bahkan kepeloksok pedesaaan sekalipun.
      Begitu juga perayaan Maulid Nabi diadakan ditingkat propinsi oleh
      gubernur propinsi banten yang saat ini dijabat oleh Hj.Ratu Atut
      Chosiyah,SE, beliau adalah seorang gubernur yang agamis, ramah,
      dekat dengan berbagai lapisan masyarakat, juga menaruh perhatian
      besar terhadap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan
      Peringatan Hari Besar Islam lainnya. Perayaan maulid dibanten
      diselenggarakan dengan berbagai corak sesuai dengan tradisi
      daerahnya masing-masing, tentunya semua itu tidak terlepas dari inti
      perayaan Maulid. Dan sudah menjadi tradisi pada saat datang bulan
      Rabiul Awwal, ribuan masyarakat baik dari daerah banten sendiri
      maupun masyarkat luar banten mendatangi kompleks Masjid Agung
      Banten yang terletak 10 km arah utara Kabupaten Serang. Mereka
      berziarah kemakam para sultan, antara lain Sultan Maulana Hasanudin
      secara bergiliran.
      Di Yogyakarta dan Surakarta, perayaan maulid dikenal dengan istilah
      Sekaten. Istilah ini berasal dari kata syahadatain, yaitu dua kalimat
      syahadat. Pada tanggal 5 bulan Maulud, kedua perangkat gamelan, Kyai
      Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu, dikeluarkan dari tempat
      penyimpanannya di bangsal Sri Manganti, ke Bangsal Ponconiti yang
      terletak di Kemandungan Utara (Keben) dan pada sore harinya mulai
      dibunyikan di tempat ini. Antara pukul 23.00 hingga pukul 24.00 kedua
      perangkat gamelan tersebut dipindahkan ke halaman Masjid Agung
      Yogyakarta, iring-iringan abdi dalem jajar, disertai pengawal prajurit
      Kraton berseragam lengkap.
      Pada umumnya, masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya berkeyakinan
      bahwa dengan turut berpartisipasi merayakan hari kelahiran Nabi
      Muhammad S.A.W. ini yang bersangkutan akan mendapat imbalan
      pahala dari Yang Maha Kuasa, dan dianugrahi awet muda. Sebagai
      “Srono” (Syarat) nya, mereka harus menguyah sirih di halaman Masjid
      Agung, terutama pada hari pertama dimulainya perayaan Sekaten.
      Di Aceh, ada sebuah tradisi yang dilaksanakan bertepatan tanggal
      12 Rabiul Awwal hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.Tradisi tersebut
      dinamakan dengan “ Kanduri Mulod” yang dilakukan di dalam 3 (tiga)
      bulan yaitu Rabiul Awwal sebagai mulod awai , Rabiul
      Akhir atau mulod teungoh , dan Jumadil Awwal yang diistilahkan
      dengan mulod akhe .
      Kanduri Mulod” merupakan salah satu adat (tradisi) yang telah
      tersusun aturan perayaannya di Aceh. Adat tersebut termasuk dalam
      salah satu adat memperingati hari besar Islam di Aceh yang meliputi
      juga tentang peringatan Nuzulul Qur’an dan peringatan Isra Mi’raj.
      Di kalimantan pada saat datangnya bulan Rabiul Awwal ada sebuah
      tradisi yang disebut dengan tradisi Baayun sebuah tradisi Maulid yang
      turun temurun. Tradisi ini berisi pembacaan do’a dan sholawat sambil
      mengayun anak dalam ayunan. Biasay tradisi ini digelar di areal
      makam Pangeran Suriansyah, Kuin utara Raja Banjar penyebar agama
      Islam di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Tujuan dari tradisi Baayun
      dengan mengayunkan anak pada bulan Maulid ini bertujuan agar
      seorang anak jika sudah besar nanti menjadi anak yang sehat, sholih
      dan sholihat serta mengikuti ketauladan Nabi Muhammad SAW.
      Peringatan Maulid Nabi di Indonesia ditetapkan sebagai hari Libur
      Nasional ketika K.H. Abdul Wahid Hasyim, ayah Gus Dur, menjabat
      sebagai Menteri Agama. Upacara peringatan Maulid yang
      diselenggarakan oleh pemerintah RI pada awalnya diadakan di Istana
      Negara. Tetapi entah sejak kapan peringatan Maulid ini dipindahkan ke
      Mesjid Istiqlal. Pada momen tradisi keagamaan ini, Presiden, Wakil
      Presiden, para pejabat tinggi negara dan para duta besar Negara-negara
      Sahabat hadir bersama ribuan umat Islam.
      1. G. KITAB-KITAB MAULID
      Sebagian besar masyarakat Indonesia merayakan maulid dengan
      membacaBarzanji, Diba’i, Simtu Duror dan lain-lainnya atau dalam
      istilah orang Betawi dikenal dengan baca Rawi . Sesi
      pembacaan Barzanji, Diba’i atau Simtu Duror adalah sesi yang tidak
      pernah tertinggal bahkan seolah menjadi syarat penting, baik dalam
      perayaan maulid yang besar atau yang kecil. Di tengah pembacaan
      Barzanji, Diba’i atau simtu duror ini, ada suatu paragraf bacaan yang
      dikenal dengan mahallul qiyam . Dimana ketika ini dibaca, hadirin
      semua berdiri sambil bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu
      Alaiihi wa Sallam. untuk menghormatinya karena saat itu dipercaya
      bahwa ruh Rasulullah Shallallahu Alaiihi wa Sallam. ikut hadir.
      Alangkah baiknya kalau kita mengenal isi kitab-kitab tersebut dan
      biografi para pengarangnya.
      1. Maulid Ad-Diba`i
      Kitab Maulid yang dikenal dan popular dengan nama “Mawlid Ad-
      Diba`i” ini adalah di antara kitab Maulid yang paling tua, hampir
      mencapai usia 500 tahun. Sepanjang masa tersebut, kitab Maulid Diba’i
      telah tersebar ke seluruh pelusuk dunia Islam. Dibaca, dihayati, diwirid
      oleh jutaan umat, yang awam maupun yang alim antara mereka. Kitab
      Maulid ini adalah karya seorang ulama besar dan seorang ahli hadits,
      Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali
      bin Yusuf bin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba`ie Asy-Syaibani Al-Yamani Az-
      Zabidi Asy-Syafi`i RahimahumUllah.
      Imam ad-Diba`i dilahirkan di kota Zabid pada hari Kamis sore 4
      Muharram 866 H dan wafat hari Jumat pagi 12 Rajab tahun 944H . Beliau
      adalah seorang ulama hadits yang terkenal dan tidak ada
      bandingannya pada masa hidupnya. Beliau mengajar kitab Shohih Al-
      Bukhari lebih dari 100 kali khatam. Beliau mencapai derajat Hafidz
      dalam ilmu hadits yaitu seorang yang menghafal 100.000 hadits dengan
      sanadnya. Setiap hari beliau mengajar hadits dari masjid ke masjid. Di
      antara guru-gurunya ialah Imam al-Hafiz As-Sakhawi, Imam Ibnu Ziyad,
      Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, mufti Zabid, Imam al-Hafiz
      Tahir bin Husain al-Ahdal dan banyak lagi. Selain itu, beliau juga
      seorang muarrikh, yakni seorang ahli sejarah.Beliau diasuh oleh kakek
      dari ibunya yang bernama Syekh Syarafuddin bin Muhammad Mubariz
      yang juga seorang ulama besar yang tersohor di kota Zabid saat itu, hal
      itu dikarenakan sewaktu beliau lahir, ayahnya sedang bepergian,
      setelah beberapa tahun kemudian baru terdengar kabar bahwa ayahnya
      meninggal di daratan India. Dengan bimbingan sang kakek dan para
      ulama kota Zabid ad-Diba’i tumbuh dewasa serta dibekali berbagai
      disiplin ilmu pengetahuan. Diantara ilmu yang dipelajari beliau adalah:
      ilmu Qiroat dengan mengaji Nadzom (bait) Syatibiyah dan juga
      mempelajari Ilmu Bahasa (gramatika), Matematika, Faroidl, Fikih.
      Pada tahun 885 H. beliau berangkat ke Makkah untuk
      menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya. Sepulang dari Makkah Ibn
      Diba` kembali lagi ke Zabid. Beliau mengkaji ilmu Hadis dengan
      membaca Shohih Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Al-Muwattho` di bawah
      bimbingan syekh Zainuddin Ahmad bin Ahmad As-Syarjiy. Di tengah-
      tengah sibuknya belajar hadits, Ibn Diba’ menyempatkan diri untuk
      mengarang kitab Ghoyatul Mathlub yang membahas tentang kiat-kiat
      bagi umat muslim agar mendapat ampunan dari Allah SWT.
      Ungkapan pengarang dalam Kitab maulid sangatlah indah dalam
      mengekspresikan kecintaannya terhadap Nabi dan menerangkan
      kelahirannya. Dengan menggunakan ungkapan metafora yang menawan
      diperkaya dengan imajinasi puitis sehingga kita yang membaca merasa
      tersentuh dengan gubahan syairnya. Misalnya dalam mahal qiyam :
      ﻳﺎ ﻧﺒﻲ ﺳﻼﻡ ﻋﻠــــﻴﻚ ﻳﺎﺭﺳﻮﻝ ﺳﻼﻡ ﻋﻠﻴــﻚ
      ﻳﺎ ﺣﺒﻴﺐ ﺳﻼﻡ ﻋﻠﻴـﻚ ﺻﻠﻮﺍﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴـــــﻚ
      ﺃﺷﺮﻕ ﺍﻟﺒﺪﺭ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻭﺍﺧﺘﻔﺖ ﻣﻨﻪ ﺍﻟﺒــﺪﻭﺭ
      ﻣﺜﻞ ﺣﺴﻨﻚ ﻣﺎ ﺭﺃﻳﻨﺎ .. ﺃﻧﺖ ﻳﺎ ﻭﺟﻪ ﺍﻟﺴﺮﻭﺭ
      ﺃﺷﺮﻕ ﺍﻟﺒﺪﺭ ﻋﻠﻴﻨﺎ .. ﻭﺍﺧﺘﻔﺖ ﻣﻨﻪ ﺍﻟﺒـــﺪﻭﺭ
      ﺃﻧﺖ ﺷﻤﺲٌ .. ﺃﻧﺖ ﺑﺪﺭٌ .. ﺃﻧﺖ ﻧﻮﺭٌ ﻓﻮﻕ ﻧﻮﺭ
      Maknanya:
      Wahai Nabi, semoga keselamatan tetap untukmu,Wahai Rasul, semoga
      keselamatan tetap untukmu.
      Wahai kekasih, semoga keselamatan tetap untukmu. Juga rahmat Allah
      semoga tetap tercurah untukmu
      Telah terbit bulan purnama menyinari kami. Maka suramlah
      karenanya purnama-purnama lain.
      Tiadalah pernah kami melihat perumpamaan kebagusanmu. Hanyalah
      engkau saja, wahai wajah yang berseri-seri.
      Engkaulah matahari, engkaulah purnama. Engkaulah cahaya di atas
      segala cahaya.
      Maulid Ad-Daiba’ie juga Menyebut tentang Keagungan Kelahiran
      RasulullahShallallahu Alaiihi wa Sallam
      ﻓﺎﻫﺘﺰ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﻃﺮﺑﺎ ﻭﺍﺳﺘﺒﺸﺎﺭ ﻭﺍﺯﺩﺍﺩ ﺍﻟﻜﺮﺳﻲ ﻫﻴﺒﺔ ﻭﻭﻗﺎﺭ
      ﻭﺍﻣﺘﻸﺕ ﺍﻟﺴﻤﻮﺍﺕ ﺍﻧﻮﺍﺭﺍﻭﺿﺠﺖ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﺗﻬﻠﻴﻼ ﻭﺗﻤﺠﻴﺪﺍ ﻭﺍﺳﺘﻐﻔﺎﺭﺍ
      ‏(ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﺤﻤﺪﻟﻠﻪ ﻭﻵﺇﻟﻪ ﺇﻻﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺍﻛﺒﺮ‏)
      ﻭﻟﻢ ﺗﺰﻝ ﺃﻣﺔ ﺗﺮﻯ ﺍﻧﻮﺍﻋﺎ ﻣﻦ ﻓﺨﺮﻩ ﻭﻓﻀﻠﻪ ﺇﻟﻰ ﻧﻬﺎﻳﺔ ﺗﻤﺎﻡ ﺣﻤﻠﻪ
      ﻓﻠﻤﺎ ﺍﺷﺘﺪ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﻄﻠﻖ ﺑﺈﺫﻥ ﺭﺏ ﺍﻟﺨﻠﻖ
      ﻭ ﺿﻌﺖ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺎﺟﺪﺍ ﺷﺎﻛﺮﺍ ﺣﺎﻣﺪﺍ ﻛﺄﻧﻪ ﺍﻟﺒﺪﺭ ﻓﻰ ﺗﻤﺎﻡ
      Artinya:
      Maka ‘Arasy bergegar kerana merasa gembiraKursi yang amat hebat
      itu pula menjadi semakin hebat dan ceria,
      Dan tujuh petala langit dipenuhi cahaya,Sedangkan suara para
      malaikat bergemuruh mengucapkan Tahlil, Tahmid, dan Istirgfar
      (Maha Suci Allah, dan segala Puji bagi Allah, dan tiada Tuhan
      melainkan Allah, dan Allah Maha Besar)
      Ibundanya sentiasa melihat pelbagai mimpi dan tanda kemegahan
      serta keutamaan bayi dalam rahimnya itu
      Sehinggalah usia kandungannya cukup sempurna Lalu ketika
      merasakan dirinya akan melahirkan. Dengan izin Tuhan segala
      makhluk.
      Maka beliau pun melahirkan Al-Habib (s.aw .) dalam keadaan bersujud
      syukur, dan memuji Allah, begitu indah laksana bulan purnama yang
      sempurna.
      Karya ad-diba’i
      Ibn Diba` termasuk ulama yang produktif dalam menulis.Hal ini
      terbukti beliau mempunyai banyak karangan baik dibidang hadits
      ataupun sejarah. Karyanya yang paling dikenal adalah syair-syair
      sanjungan (madah) atas Nabi Muhammad SAW. yang terkenal dengan
      sebutan Maulid Diba`i.
      Di antara kitab karangannya ialah:
      “Taisirul Wusul ila Jaami`il Usul min Haditsir Rasul” yang
      mengandung himpunan hadits yang dinukil dari kutub sittah.
      2 “Tamyeezu at-Thoyyib min al-Khabith mimma yaduru ‘ala alsinatin
      naasi minal hadits” sebuah kitab yang membedakan hadits sahih dari
      selainnya seperti dhaif dan maudhu. 3. “Qurratul ‘Uyun fi akhbaril
      Yaman al-Maimun” . yang membahas tentang seputar Yaman.
      4.“Bughyatul Mustafid fi akhbar madinat Zabid” .5. “Fadhail Ahl al-
      Yaman”.
      2. Maulid Barzanji
      Nama Barzanji diambil dari nama pengarangnya, seorang sufi bernama
      Sayyid Ja’far Al Barzanji. Kitab ini sebenarnya berjudul ‘Iqd Al-Jawahir
      (kalung permata) atau ‘Iqd Al-Jawhar fi Mawlid An-Nabiyyil Azhar.
      Barzanji adalah nama sebuah daerah di Kurdistan, Barzanj. Syaikh
      Ja’far Al-Barzanji dilahirkan pada hari Kamis awal bulan Zulhijjah
      tahun 1126 (1711 M di Madinah Al-Munawwaroh dan wafat pada hari
      Selasa, ba’da Asar, 4 Sya’ban tahun 1177 H di Kota Madinah dan
      dimakamkan di Baqi.
      Garis keturunannya adalah Sayid Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn
      Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Sayid ibn Abdul Rasul ibn
      Qalandar ibn Abdul Sayid ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul
      Karim ibn Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn
      Abdullah ibn Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far As-
      Sodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam Zainal Abidin ibn
      Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali R.A.
      Syaikh Ja’far Al-Barzanji, selain dipandang sebagai mufti, beliau juga
      menjadi khatib di Masjid Nabawi dan mengajar di dalam masjid yang
      mulia tersebut. Beliau terkenal bukan saja karena ilmu, akhlak dan
      taqwanya, tapi juga dengan kekeramatan dan kemakbulan doanya.
      Penduduk Madinah sering meminta beliau berdo’a untuk hujan pada
      musim-musim kemarau.
      Kitab Al-Barzanji yang terkenal di berbagai pelosok dunia ini adalah
      sebuah ringkasan dari siroh Nabi yang dilukiskan dengan dua gaya
      bahasa yang indah dan menawan dalam bentuk nazom (puisi)
      dan natsar (prosa) Dalam untaian prosa lirik atau sajak prosaik itu,
      terasa betul adanya keterpukauan sang penyair oleh sosok dan akhlak
      Sang Nabi. Sarjana Jerman peneliti Islam, Annemarie Schimmel dalam
      bukunya, menerangkan bahwa teks asli karangan Ja’far Al-Barzanji,
      dalam bahasa Arab, sebetulnya berbentuk prosa. Namun, para penyair
      kemudian mengolah kembali teks itu menjadi untaian syair.
      Dalam Barzanji sering mengulang kalimat untuk memisah antar Bab :
      ﻋﻄﺮ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻗﺒﺮﻩ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ، ﺑﻌﺮﻑ ﺷﺬﻱ ﻣﻦ ﺻﻼﺓ ﻭﺗﺴﻠﻴﻢ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻠﻲ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺑﺎﺭﻙ ﻋﻠﻴﻪ
      Maknanya: “Ya Allah, Harumkanlah kuburnya yang mulia dengan
      wangi wangian yang semerbak dari rahmat dan kesalamatan”.
      Salah satu syair yang sangat menawan dari gubahan dalam kitab
      Barzanji :
      ﻭﻣﺤﻴﺎ ﻛﺎﻟﺸﻤﺲ ﻣﻨﻚ ﻣﻀﻲﺀ ﺃﺳﻔﺮ ﻋﻨﻪ ﻟﻴﻠﺔ ﻏــﺮﺍﺀ
      ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻤـﻮﻟﺪ ﺍﻟﺬﻱ ﻛــﺎﻥ ﻟﻠﺪﻳـﻦ ﺳﺮﻭﺭ ﺑﻴﻮﻣﻪ ﻭﺍﺯﺩﻫﺎﺀ
      ﻳﻮﻡ ﻧﺎﻟﺖ ﺑﻮﺿﻌﻪ ﺍﺑﻨﻪ ﻭﻫﺐ ﻣﻦ ﻓﺨﺎﺭ ﻣﺎ ﻟﻢ ﺗﻨﻠﻪ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ
      ﻭﺃﺗﺖ ﻗﻮﻣﻬــﺎ ﺑﺄﻓﻀــﻞ ﻣﻤﺎ ﺣﻤﻠﺖ ﻗﺒﻞ ﻣﺮﻳﻢ ﺍﻟﻌـﺬﺭﺍﺀ
      ﻣﻮﻟﺪ ﻛﺎﻥ ﻣﻨﻪ ﻓﻲ ﻃﺎﻟﻊ ﺍﻟﻜـ ﻓــﺮ ﻭﺑـﺎﻝ ﻋﻠﻴـﻬﻢ ﻭﻭﺑــﺎﺀ
      ﻭﺗﻮﺍﻟﺖ ﺑﺸﺮﻱ ﺍﻟﻬﻮﺍﺗﻔﺚ ﺃﻥ ﻗﺪ ﻭﻟﺪ ﺍﻟﻤﺼﻄﻔﻲ ﻭﺣﻖ ﺍﻟﻬﻨﺎﺀ
      Yang artinya :
      “Cahaya yang seperti matahari bersihnya Menerangi malam dengan
      amat terangnya
      Malam yang dilahirkan Nabi kita didalamnya Yang membawa agama
      yang nyata benarnya.
      Maka karena itu dapatlah Siti Aminah ibunya kemegahan yang wanita
      lain tidak mendapatinya;
      la membawa seorang putera untuk manusia sekalian Putera yang lebih
      mulia dari anak Mariam yang dara.
      Kelahiran Nabi kita pada pandangan kafir umumnya ialah suatu
      kedukaan yang terasa sangat berat.
      Maka bertalu-talulah suara bersorak dengan riuhnya “Telah zahir
      Nabi pilihan; inilah kegembiraan yang sebenarnya.”
      Diceritakan juga dalam Barzanji menceritakan kelahiran nabi
      bahwa kelahiran kekasih Allah ini dilahirkan tangannya menyentuh
      lantai dan kepalanya mendongak ke arah langit dalam riwayat yang
      lain dikisahkan dilahirkan langsung bersujud, dilahirkan dengan sangat
      bersih keadaannya, serta ia telah berkhitan dan telah terpotong
      pusatnya dari dalam perut ibunya. Dan harum bau tubuhnya, serta
      berminyak rambutnya, serta tercelak kedua matanya, adalah dengan
      kudrat dan kehendak Allah sebagai menandakan kemuliaannya dan
      ketinggiannya, serta kelebihan-kelebihannya yang melebihi makhluk
      lain semuanya. Dan juga yang demikian itu adalah menunjukkan bahwa
      ia kekasih Allah yang dijadikan sangat indah perangainya dan bentuk
      rupanya. Pada saat yang bersamaan itu pula istana Raja Kisra
      terguncang, dengan lahirnya Nabi Muhammad ke muka bumi mampu
      memadamkan api sesembahan Kerajaan Persi yang diyakini tak bisa
      dipadamkan oleh siapapun selama ribuan tahun.
      Keagungan akhlaknya tergambarkan dalam setiap prilaku beliau
      sehari-hari. Sekitar umur tiga puluh lima tahun, beliau mampu
      mendamaikan beberapa kabilah dalam hal peletakan batu Hajar Aswad
      di Ka’bah. Di tengah masing-masing kabilah yang bersitegang mengaku
      dirinya yang berhak meletakkan Hajar Aswad, Rasulullah tampil justru
      tidak mengutamakan dirinya sendiri, melainkan bersikap akomodatif
      dengan meminta kepada setiap kabilah untuk memegang setiap ujung
      sorban yang ia letakan di atasnya Hajar Aswad. Keempat perwakilan
      kabilah itu pun lalu mengangkat sorban berisi Hajar Aswad, dan
      Rasulullah kemudian mengambilnya lalu meletakkannya di Ka’bah.
      Kitab Maulid Al-Barzanji ini telah disyarahkan oleh Al-’Allaamah Al-
      Faqih Asy-Syaikh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad yang terkenal
      dengan nama Ba`ilisy yang wafat tahun 1299 H kemudian oleh Syaikh
      Muhammad bin Ahmad ‘Ilyisy Al-Maaliki Al-’Asy’ari Asy-Syadzili Al-
      Azhari wafat pada tahun 1299 H / 1882M.
      Sayyidul Ulamail Hijaz, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi
      juga menulis syarah dinamakannya ‘Madaarijush Shu`uud ila Iktisaail
      Buruud’. Kemudian, Sayyid Ja’far bin Sayyid Isma`il bin Sayyid Zainal
      ‘Abidin bin Sayyid Muhammad Al-Hadi bin Sayyid Zain yang merupakan
      suami anak Sayyid Ja’far al-Barzanji, juga telah menulis syarah bagi
      Maulid Al-Barzanji tersebut yang dinamakannya ‘ Al-Kawkabul Anwar
      ‘ala ‘Iqdil Jawhar fi Maulidin Nabiyil Azhar’.
      3. Simtu duror
      “Simthud-Durar fi Akhbar Mawlid Khairil Basyar min Akhlaqi wa
      Awshaafi wa Siyar” atau singkatannya “Simthud-Durar” adalah
      karangan maulid yang disusun oleh Habib Ali bin Muhammad bin
      Husain al-Habsyi (1259 – 1333H / 1839 – 1913M). Maulid yang juga
      terkenal dengan nama “Maulid Habsyi” ini telah didiktekan oleh Habib
      Ali tatkala beliau berusia 68 tahun dalam beberapa majlis yang dimulai
      pada hari Kamis 26 Shafar 1327 dan disempurnakan 10 Rabi`ul
      Awwal pada tahun tersebut dan dibacakan secara resminya di rumah
      murid beliau Habib ‘Umar bin Hamid as-Saqqaf pada malam Sabtu
      tanggal 12 Rabi`ul Awwal.
      Habib Thoha bin Hasan bin Abdur Rahman as-Saqqaf
      dalam “Fuyudhotul Bahril Maliy” menukil kata-kata Habib ‘Ali
      berhubung karangannya tersebut seperti berikut:
      ”Jika seseorang menjadikan kitab mawlidku ini sebagai salah satu
      wiridnya atau menghafalnya, maka sir Junjungan al-Habib SAW. akan
      nampak pada dirinya. Aku mengarangnya dan mengimla`kannya,
      namun setiap kali kitab itu dibacakan kepadaku, dibukakan bagiku
      pintu untuk berhubungan dengan Junjungan Nabi SAW…..”
      Biografi pengarang
      Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi
      dilahirkan pada hari Juma’at 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota
      di negeri Hadhramaut.Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan
      pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah
      Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-
      Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada
      masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat
      bijaksana.Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah
      mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai
      ilmu-ilmu zahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya
      diperlukan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu beliau diizinkan oleh
      para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan
      pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat
      sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh
      tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk
      kepimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-
      pertemuan besar yang diadakan pada masa itu. Selanjutnya, beliau
      melaksanakan amanah yang dipercayakan padanya dengan sebaik-
      baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya
      banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para
      siswa agar menuntut ilmu. Di bawah pendidikan beliau kita bisa
      menyaksikan banyak sekali di antara muridnya yang berhasil kemudian
      meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan
      saja di daerah Hadhramaut, tetapi tersebar luas di beberapa negeri
      lainnya – di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia. Beliau meninggal
      dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabi’ul
      Akhir 1333 H.
      Contoh gubahan al Habib dalam Simtu Duror:
      ﺍﺷﺮﻕ ﺍﻟﻜﻮﻥ ﺍﺑﺘﻬﺎﺟﺎ ﺑﻮﺟﻮﺩ ﺍﻟﻤﺼﻄﻔﻰ ﺍﺣﻤﺪ ﻭ ﻷﻫﻞ ﺍﻟﻜﻮﻥ ﺍﻧﺲ ﻭﺳﺮﻭﺭ ﻗﺪ ﺗﺠﺪﺩ
      ﻓﺎﻃﺮﺑﻮﺍ ﻳﺎ ﺍﻫﻞ ﺍﻟﻤﺜﺎﻧﻲ ﻓﻬﺰﺍﺭ ﺍﻟﻴﻤﻦ ﻏﺮﺩ ﻭﺍﺳﺘﻀﻴﺌﻮﺍ ﺑﺠﻤﺎﻝ ﻓﺎﻕ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺗﻔﺮﺩ
      ﻭ ﻟﻨﺎ ﺍﻟﺒﺸﺮﻯ ﺑﺴﻌﺪ ﻣﺴﺘﻤﺮ ﻟﻴﺲ ﻳﻨﻔﺪ ﺣﻴﺚ ﺍﻭﺗﻴﻨﺎ ﻋﻄﺎﺀ ﺟﻤﻊ ﺍﻟﻔﺨﺮ ﺍﻟﻤﺆﺑﺪ
      ﻓﻠﺮﺑﻲ ﻛﻞ ﺣﻤﺪ ﺟﻞ ﺍﻥ ﻳﺤﺼﺮﻩ ﺍﻟﻌﺪ ﺍﺫ ﺣﺒﺎﻧﺎ ﺑﻮﺟﻮﺩ ﺍﻟﻤﺼﻄﻔﻰ ﺍﻟﻬﺎﺩﻱ ﻣﺤﻤﺪ
      ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻫﻼ ﺑﻚ ﺍﻧﺎ ﺑﻚ ﻧﺴﻌﺪ ﻭ ﺑﺠﺎﻫﻪ ﻳﺎ ﺍﻟﻬﻲ ﺟﺪ ﻭ ﺑﻠﻎ ﻛﻞ ﻣﻘﺼﺪ
      ﻭ ﺍﻫﺪﻧﺎ ﻧﻬﺞ ﺳﺒﻴﻠﻪ ﻛﻲ ﺑﻪ ﻧﺴﻌﺪ ﻭ ﻧﺮﺷﺪ ﺭﺏ ﺑﻠﻐﻨﺎ ﺑﺠﺎﻫﻪ ﻓﻲ ﺟﻮﺍﺭﻩ ﺧﻴﺮ ﻣﻘﻌﺪ
      ﻭ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻐﺸﻰ ﺍﺷﺮﻑ ﺍﻟﺮﺳﻞ ﻣﺤﻤﺪ ﻭ ﺳﻼﻡ ﻣﺴﺘﻤﺮ ﻛﻞ ﺣﻴﻦ ﻳﺘﺠﺪﺩ
      “Alam bersinar cemerlang bersukaria Demi menyambut kelahiran
      Ahmad al-Musthofa Penghuni alam bersukacita dengan kegembiraan
      yang berterusan selamanya.
      Wahai pengikut Al-Quran, hendaklah kamu bergembira. Burung-burung
      turut berkicauan tanda suka. Keindahan Baginda menerangi segalanya
      Mengatasi segala keindahan tanpa ada bandingannya.
      Dan wajib kita untuk bergembira atas bahagia yang berkesinambungan
      selama-lama. Tatkala kita menerima anugerah-Nya. Anugerah yang
      menghimpun kebanggaan sepanjang masa.
      Maka bagi Tuhanku segala puji dan puja. Pujian yang tiada
      terkiraAtas anugerah-Nya dengan wujudnya Baginda. Kelahiran
      Junjungan Muhammad al-Hadi al-Musthofa.
      Ya Rasulullah, selamat datang ahlan wa sahlan Sungguh denganmu
      kami beroleh kebahagiaan Wahai Tuhanku, demi jah Nabi Junjungan
      Kurniakanlah dan sampaikan segala maksud dan tujuan.
      Dan hidayahkanlah kami atas jalan Nabi Junjungan Agar dengannya
      kami beroleh kebahagiaan dan pimpinan Wahai Tuhan, sampaikanlah
      kami demi jah Nabi Junjungan. Di sisi baginda duduk berdampingan.
      Sholawat Allah dilimpahkan Atas semulia-mulia Rasul Nabi Junjungan
      Beserta salam yang berkekalan Sepanjang masa berubah zaman”.
      Dan juga
      ﻓﺤﻴﻦ ﻗﺮﺏ ﺍﻭﺍﻥ ﻭﺿﻊ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ * ﺍﻋﻠﻨﺖ ﺍﻟﺴﻤﻮﺍﺕ ﻭﺍﻷﺭﺿﻮﻥ ﻭﻣﻦ ﻓﻴﻬﻦ ﺑﺎﻟﺘﺮﺣﻴﺐ * ﻭ ﺍﻣﻄﺎﺭ ﺍﻟﺠﻮﺩ ﺍﻻﻟﻬﻲ ﻋﻠﻰ
      ﺍﻫﻞ ﺍﻟﻮﺟﻮﺩ ﺗﺜﺞ *ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﺑﺎﻟﺘﺒﺸﻴﺮ ﻟﻠﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﺗﻌﺞ * ﻭﺍﻟﻘﺪﺭﺓ ﻛﺸﻔﺖ ﻗﻨﺎﻉ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺴﺘﻮﺭ * ﻟﻴﺒﺮﺯ ﻧﻮﺭﻩُ ﻛﺎﻣﻼً ﻓﻲ
      ﻋﺎﻟﻢ ﺍﻟﻈﻬﻮﺭ * ﻧﻮﺭﺍً ﻓﺎﻕ ﻛﻞ ﻧﻮﺭ *ﻭ ﺍﻧﻔﺬ ﺍﻟﺤﻖ ﺣﻜﻤﻪ * ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺍﺗﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻨﻌﻤﺔ * ﻣﻦ ﺧﻮﺍﺹ ﺍﻷﻣﺔ * ﺍﻥ
      ﻳﺤﻀﺮ ﻋﻨﺪ ﻭﺿﻌﻪ ﺍﻣﺔ * ﺗﺎﻧﻴﺴﺎً ﻟﺠﻨﺎﺑﻬﺎ ﺍﻟﻤﺴﻌﻮﺩ * ﻭ ﻣﺸﺎﺭﻛﺔً ﻟﻬﺎ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺴﻤﺎﻁ ﺍﻟﻤﻤﺪﻭﺩ * ﻓﺤﻀﺮﺕ ﺑﺘﻮﻓﻴﻖ ﺍﻟﻠﻪ
      ﺍﻟﺴﻴﺪﺓ ﻣﺮﻳﻢ ﻭﺍﻟﺴﻴﺪﺓ ﺍﺳﻴﺔ * ﻭ ﻣﻌﻬﻤﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻮﺭ ﺍﻟﻌﻴﻦ ﻣﻦ ﻗﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮﻑ ﺑﺎﻟﻘﺴﻤﺔ ﺍﻟﻮﺍﻓﻴﺔ * ﻓﺎﺗﻰ ﺍﻟﻮﻗﺖ
      ﺍﻟﺬﻱ ﺭﺗﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺣﻀﻮﺭﻩ ﻭﺟﻮﺩ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻮﻟﻮﺩ * ﻓﺎﻧﻔﻠﻖ ﺻﺒﺢ ﺍﻟﻜﻤﺎﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻮﺭ ﻋﻦ ﻋﻤﻮﺩ ﻭ ﺑﺮﺯ ﺍﻟﺤﺎﻣﺪ ﺍﻟﻤﺤﻤﻮﺩ *
      ﻣﺬﻋﻨﺎً ﻟﻠﻪ ﺑﺎﻟﺘﻌﻈﻴﻢ ﻭﺍﻟﺴﺠﻮﺩ *ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺑﺎﺭﻙ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ
      Artinya:
      “Dan ketika hampir tiba saat kelahiran insan tercinta ini, gema
      ucapan selamat datang yang hangat berkumandang di langit dan di
      bumi.
      Hujan kemurahan Ilahi tercurah atas penghuni alam dengan
      lebatnya…Lidah malaikat bergemuruh mengumumkan kabar gembira,
      kuasa Allah menyingkap tabir rahasia tersembunyi, membuat cahaya
      Nur-Nya terbit sempurna di alam nyata…
      “CAHAYA MENGUNGGULI SEGENAP CAHAYA” Ketetapan-Nya pun
      terlaksana atas manusia pilihan yang ni’mat-Nya disempurnakan bagi
      mereka; yang menunggu detik-detik kelahirannya;sebagai penghibur
      pribadinya yang beruntung dan ikut bergembira mereguk ni’mat
      berlimpah ini.
      Maka hadirlah dengan taufiq Allah; As-Sayyidah Maryam dan As-
      Sayyidah Asiah, bersama sejumlah bidadari surga yang beroleh
      kemuliaan agung yang di bagi-bagikan oleh Allah atas mereka
      yang dikehendaki…
      Dan tibalah saat yang telah diatur Allah bagi kelahiran (maulud) ini.
      Maka menyingsinglah fajar keutamaan nan c

      Terlalu panjang mas zaka,. tanggapan saya singkat saja deh,.
      Apakah Rasulullah pernah sekali saja melakukan maulid nabi?? TIDAK PERNAH
      Apakah Abu bakar,umar,utsman, ali pernah sekali saja melakukan maulid nabi?? TIDAK PERNAH
      Apakah ada seorang sahabat saja yang pernah melakukan maulid nabi?? TIDAK ADA
      Adakah tabiin, tabiut tabiin satu saja yang melakukan maulid nabi?? TIDAK ADA,
      Apakah imam yang 4 ada yang melakukan maulid nabi?? TIDAK ADA
      Apakah abul hasan al asy’ari pernah melakukan maulid nabi?? TIDAK,
      Apakah Abdul qadir jailani pernah melakukan maulid nabi?? TIDAK PERNAH,..

      Apakah Rasulullah mampu melakukan maulid nabi?? SANGAT MAMPU,. kenapa tidak dilakukan??
      Jabannya sudah saya ulas disini

      • buat zaka sofyan…

        ndak usah panjang2 kasih komentar.komentarnya panjang namun salah .percuma.Saya tanya kpd anda..”Kok anda tahu dan yakin Rasulullah lahir tanggal 12 rabiul awal?

        Sedang para sahabat dan ulama terdahulu saja tidak berani memastikan hari kelahiran beliau. Silakan baca sirah nabawi kalo belum tahu

        Dan kalau benar, apa yang dirayakan, kelahiran rasulullah atau kematiannya, karena tanggalnya sama, silahkan lihat ulasannya disini

  2. dulu rosululloh gg internetan, knp sampean internetan mas?
    dulu rosululloh tidak naik motor, knp sampean sekarang naik motor?

    Terimakasih,. betul sekali Rasulullah tidak internetan, Rasulullah juga tidak makan bakso, tidak makan bala-bala, tidak minum es jeruk,es kelapa,mizon,atau estra joss,
    Bidah itu bukan dalam hal urusan dunia, tapi dalam hal urusan ibadah,
    Memangnya internetan itu ibadah? naik motor itu ibadah?
    Silahkan anda baca artikel ini, baca disini, agar terbuka wawasan anda tentang apa yang disebut bidah,

    hukum wajib, sunah, haram makruh itu kalau sekolah diajarkan mas. sampean kok ndak tau? dan minta bukti.

    wah, ngga nyambung maksudnya, bukan itu maksud saya, jika itu diajarkan disekolah, tahukah anda, siapa yang pertama kali mengklasifikasikan ini wajib, ini sunnah, ini haram, ini makruh? Apakah Rasulullah yang membaginya, mengajarkannya, misalnya ini makruh, ini sunnah, apakah begitu? ini yang saya tanyakan, dan ini juga buat jawaban kepada orang yang gemar mengamalkan amalan bidah.sebab rasulullah sendiri tidak membagi seperti itu, dan para sahabat juga tidak memilih-milih, sebab mereka begitu semangat mengamalkan apa2 yang diajarkan oleh rasulullah, dan rasulullah dengan tegas mengatakan semua bidah itu sesat,

    bukan yang tidak mirip itu berarti bid’ah.
    ditulisan sampean, dalam berwudhu baginda Rosululloh hanya membasuh sebagian kepala dengan satu kali. bukan 2 atau 3 kali.
    membasuh dilakukan dengan 3 kali ini untuk berhati-hati supaya sempurna wudhu kita. kita manusia biasa mas.

    Apa yang anda katakan adalah bentuk berlebih2an, Rasulullah sudah jelas mengajarkan mengusap kepala, bukan membasuh kepala, tapi mengusap kepala dari depan ke belakang, lalu dikedepankan lagi, sekaligus mengusap telinga, dan ini dilakukan 1 kali,.
    Demikian praktek wudhu yang dilakukan oleh para sahabat,tabiin,tabiut tabiin, juga para imam ahlusunnah,

    Bukan seperti yang kita lihat kebanyakan kaum muslimin, dengan dalih kehati-hatian? kehati-hatian dalam hal apa?
    Justru kalau mau hati-hati, ya cukup mengikuti apa yang rasulullah ajarkan, bukan malah menambah-nambah sendiri, jika menambah sendiri, maka itu telah terjatuh dalam perbuatan bidah, sehingga hanya menambah dosa, seharusnya wudhu itu bisa menghapus dosa, eh,.. ini malah nambah dosa, karena melakukan wudhu tidak sesuai contoh rasulullah,.

    Silahkan baca tatacara wudhu yang diajarkan oleh rasulullah, mudah sekali kok, silahkan baca disini yah,.

    Ini videonya juga ada , tatacara wudhu, silahkan anda tonton dengan seksama, biar anda tahu bagaimana tatacara wudhu Rasulullah

    http://www.youtube.com/watch?v=lcYGfHhtoKQ

    saya doakan mudah-mudahan mas yang menulis ini bisa segera pergi haji. amiiin.

    Amiin,.. jazakallahu khairan atas doanya,.

  3. Shalawat Bid’ah..?
    Yo ben.
    Maulid Bid’ah..?
    Yo ben.
    Internetan Bid’ah..?
    Yo ben.

    saya tambahin ya,.
    nanti diusir dari telaga rasulullah karena melakukan perbuatan bidah..?
    Yo ben,.

    Nanti amalan-amalan anda yg bidah yang begitu dilemparkan ke muka anda nanti di akherat,.?
    Yo ben,..

    Nanti anda disiksa di akherat karena amalan bidah anda yang begitu banyak,..?
    Yo ben,..

    Nanti anda akan berdebat dengan tokoh kebidahan yang anda ikuti kelak di akherat,..?
    Yo ben,..

    Internet bidah? oh masih ada lagi, bala-bala bidah, hape bidah, pesawat bidah, nasi goreng bidah,nasi udug bidah,mie ayam bidah, bakso bidah,gado-gado bidah,pisang goreng bidah,radio bidah,televisi bidah, dan sebaiknya anda baca artikel PESAWAT BIDAH, silahkan klik link ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*