Menghadiri Tahlilan Kematian

Sambutan Haul Kematian Sambutan 7 Hari Tahlilan Contoh Apa Saja Yg Dilakukan Di Acara Tahlilan Mukadimah Tahlilan Kata Sambutan Tuan Rumah Takziah

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum.

Ada hadits yang menerangkan bahwa Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam pernah akan mendoakan ayahnya yang sudah meninggal, tapi dilarang oleh Allâh Ta’ala. Kenapa banyak orang-orang mengadakan yasinan, tahlilan dengan alasan mendo’akan orang tua yang sudah meninggal. Mereka juga mengatakan bahwa ini merupakan sebentuk perwujudan anak shaleh mendo’akan orang tua. Dan kyai-nya menyebutkan bahwa ini acara tradisi. Bolehkah menghadiri acara tersebut ? Kalau tidak, dimana kemungkarannya ?

Bagaimana cara mendoakan yang sesuai sunnah. Terima kasih, wasalam.

0812344xxxx

JAWABAN :

Wa’alaikumussalam.

Yang kami ketahui, Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam akan memohonkan ampun untuk ibunya tetapi beliau tidak diidzinkan, sebagaimana hadits di bawah ini:

hadits

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu’anhu, dia berkata,
“Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menziarahi kubur ibunya,
lalu beliau menangis dan membuat orang-orang di sekitarnya menangis juga.
Lalu beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
‘Aku meminta idzin kepada Rabb-ku untuk memohonkan ampun bagi ibuku,
tetapi aku tidak diberi idzin.
Dan aku meminta idzin kepada-Nya untuk menziarahi kuburnya,
maka aku diberi idzin.
Maka hendaklah kamu berziarah kubur,
karena ziarah kubur itu bisa mengingatkan kepada kematian.'”
(HR. Muslim)

Adapun tentang ayah Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam terdapat hadits sebagai berikut :

hadits

Dari Anas radhiyallâhu’anhu bahwa seorang laki-laki berkata,
“Wahai Rasulullah, dimanakah ayahku?”,
beliau menjawab, “Di dalam neraka”.
Ketika dia berpaling, beliau memanggilnya lalu bersabda,
“Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di dalam neraka”.
(HR. Muslim)

Untuk menjawab pertanyaan saudara, kami akan membaginya dalam tiga hal yaitu :

a.

Bolehkah menghadiri acara ini yasinan atau tahlilan untuk mendoakan orang yang telah mati ?

Jawaban kami untuk pertanyaan ini adalah tidak boleh menghadirinya. Karena hal ini tidak dituntunkan oleh Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Kecuali jika dia hadir dalam rangka menjelaskan kemungkarannya, lalu meninggalkannya. Anggapan bahwa itu sebagai aktualisasi dari kebaikan anak yang shalih untuk orang tua, tidak lantas bisa dijadikan legitimasi bagi amalan ini. Karena cara mewujudkan bakti kepada orang tua yang sudah meninggal telah dijelaskan caranya-caranya dalam Islam seperti memohon ampun atau menyambung tali silaturrahim dengan teman dekatnya.

Begitu juga klaim, bahwa acara ini sebagai tradisi semata, tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk memperbolehkan amalan ini. Karena faktanya mereka yang melakukan itu berharap pahala dari Allâh Ta’ala ketika melaksanakannya bahkan disebagian tempat orang yang tidak melaksanakannya dianggap tidak mau melaksanakan sunnah. Bukankah ini berarti ibadah ?

Padahal yang namanya ibadah harus berlandaskan dalil. Kalaupun dianggap sebagai tradisi, maka dalam Islam, tradisi itu boleh dipertahankan selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Sementara yasinan yang mereka klaim sebagai tradisi ini ternyata menyelisihi agama Islam yang telah sempurna yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam.

Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

hadits

“Barangsiapa yang membuat suatu yang baru dalam ajaran kami
yang tidak berasal darinya, maka perkara itu tertolak.”[1]

b.

Dimanakah letak kemungkarannya ?

Kemungkaran-kemungkaran amalan ini banyak, diantaranya :

  1. Yasinan atau tahlilan merupakan bentuk ibadah yang tidak dituntunkan oleh Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.
  2. Berkumpul di rumah orang yang kena musibah kematian dan apalagi disertai dengan penghidangan makanan dari tuan rumah setelah penguburan merupakan bentuk niyâhah (meratap) yang dilarang oleh agama.
  3. Jamuan yang diberikan tuan rumah kepada tetamu bertentangan dengan Sunnah Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam yang memerintahkan para tetangga untuk memberi makan kepada keluarga mayit, bukan keluarga mayit yang menghidangkan makanan kepada tetangga.
  4. Bertentangan dengan akal. Karena orang yang sedang didera kesusahan dengan sebab kematian anggota keluarganya sepantasnya dihibur. Bukan ditambahi beban dengan menghidangkan jamuan buat para tamu, baik tetangga maupun kerabat atau dengan membayar orang yang membacakan al- Qur’ân, tahlil atau doa.
  5. Mengadakan perayaan untuk kematian, seperti perayaan pada hari ketiga, kesembilan dan seterusnya adalah kebiasaan yang berasal dari ajaran agama Hindu. Oleh karena itu, selayaknya umat Islam meninggalkannya.

Dan berbagai kemungkaran lainnya yang tidak mungkin disebutkan di sini, karena terkadang jenis kemungkaran ini berbeda-beda sesuai dengan daerahnya.

c.

Bagaimana cara yang benar dalam mendo’akan mayit ?

Sebatas yang kami tahu, cara mendo’akan mayit menurut Sunnah adalah sebagai berikut :

  1. Mendo’akan dan memohonkan ampunan ketika mendengar berita atau mengetahui kematian seorang muslim.
  2. Mendo’akan dan memohonkan ampunan saat shalat jenazah.
  3. Mendo’akan dan memohonkan ampunan ketika ziarah kubur.
  4. Mendoakan dan memohonkan ampunan di setiap ada waktu dan kesempatan, dengan tanpa menentukan waktu, tempat dan tata-cara khusus yang tidak diajarkan oleh Allâh dan Rasul-Nya.

Inilah jawaban kami secara ringkas. Bagi para pembaca yang ingin mendapatkan penjelasan secara rinci bisa meruju’ ke kitab-kitab Ulama yang membahas masalah hukum-hukum jenazah, seperti kitab Ahkâmul Janâ’iz karya syaikh al-Albâni rahimahullâh, dan kitab-kitab yang lain.

(Soal-Jawab: Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIV)

sumber: http://majalah-assunnah.com/

Print Friendly, PDF & Email

Sambutan Tahlilan Sambutan Tuan Rumah Tahlilan Sambutan 40 Hari Sambutan Tuan Rumah Pada Acara Sambutan Tahlilan Bahasa Sunda Malam Ke1

15 Comments

  1. Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:

    وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى

    “Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)

    Juga hadits Nabi MUhammad SAW:

    اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

    “Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.”

    Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :

    وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن

    “Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

    Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.

    وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ

    “Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)

    سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ

    “Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).

    Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.

    Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.

    Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.

    Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:

    عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ

    “Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.”

    Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.

    Terimakasih telah menukilkan dalil-dalil baik dari ayat alquran ataupun hadits-hadits Rasulullah, juga fatwa ulama,..

    Hendaknya baca pula penjelasan para ulama dalam hal ini, bukan penafsiran sendiri,..

    Jika anda jeli dan teliti, dari paparan diatas tidak ada sama sekali satu dalilpun yang menunjukan adanya ritual tahlilan kematian,..

    • Sy suka dg postingan antum dsn,sbb tdk mencaci komin dr tmn2 dsini.

      cmn kl berbicara masalah tahlil sy fikir ini adalah tradisi yg sy fikir bagus dan tdk perlu ditiadakan sbb ada banyak manfaat dr tahlil itu sndiri.

      diantaranya ikut berbela sungkawa,dan silaturrahmi antar ssm muslim.cmn dlm hal ini(tahlil) emang perlu qt luruskan biar tidk terjadi kesalah(bidah).

      sperti masalah makanan n penyebutan/ketetapan tentang hour pelaksanaannya,400hr,100hr dst.

      ya intinya kl tahlil niat qt diperbaiki.munkin dalam hal ini antum bs menjelaskan.yg pasti tdk ad larangan qt berdikir,baca alquran,silaturrahmi dll.mksih

      Terimakasih mas sunar, sudah komentar disini, komentar yang bagus,.
      Saya kasih argumen begini mas, Jika ada orang melakukan shalat maghrib dengan ikhlas,. hanya mengharap ganjaran dari Allah, tulus,. bacaan alqurannya bagus, bacaan shalatnya, gerakan shalatnya mengikuti contoh rasulullah, tapi dia melakukan shalat maghrib bukan 3 rakaat, tapi 5 rakaat,

      Apakah anda akan melarangnya? Kalau saya, akan melarangnya,.
      Lantas jika orang tersebut ketika dilarang mengatakan: Anda melarang saya shalat? Anda melarang saya shalat maghrib??

      Apa jawaban anda?.. Kalau jawaban saya, saya bukan melarang anda shalat, saya bukan melarang anda shalat maghrib, tapi saya melarang anda menyelisihi sunnah Rasulullah dalam pelaksanaan shalat maghrib, bukan saya melarang anda shalat, bukan melarang anda shalat maghrib,.

      nah….

      Demikian pula tentang ritual tahlilan,. saya tidak melarang orang mengucapkan lafadz laa ilaaha illallah , saya tidak melarang orang mendoakan orang yang sudah mati,.

      Yang saya larang adalah,… melakukan amalan tahlilan, mendoakan orang mati dengan cara-cara yang tidak diajarkan sama sekali oleh rasulullah,.

      demikian mas sunar, sebab amalan dengan niat baik semata, karena tujuannya baik semata, itu tidaklah cukup,..

      ya, niat baik saja tidak cukup, sudah saya posting disini

      Rasulullah, para sahabat, imam yang empat, semuanya tidak ada satupun yang melakukan ritual tahlilan,. apakah berarti mereka dikubur seperti kucing? Apakah amalan tahlilan yang dilakukan oleh orang-orang sekarang itu lebih baik dari amalan mereka?.. saya sudah postingkan disini

      • Dan 1hal,ayo qt jg berbicara golongan,sbb siapapun akan mengatakan benar atas golongn mereka masing2.
        padahal perbedaan itu kl qt bs ambil hikmah maka akan jd rahmat bg qt.dan jg skli2 qt menjelekkan golongan apalagi masih dlm 1 tujuan yaitu iman n islam.

        bukankah rosulullah sdh bersabda bahwa qt akn pecah jd 73gol dan yg bener hanya 1.trus mana yg bener?wallahuaklam.

        dari itu alangkah lebih baiknya kl qt bs bersatu dlm islam.gol 1 punya keyakinan begini slma tidk menyimpang mari qt hormati,tp kl menyimpang mari qt luruskan tanpa cacian.

        benar n salah hanya allah yg tau.alangkah indahnya islam kl bersatu.

        gol hanya sbagai alat untuk memudahkan qt dlm beriman menuju yg satu,bukan untuk memecah belah umat.

        Insya Allah tanggapan komentar ini akan menjadi postingan tersendiri, terimakasih mas sunar, insya Allah banyak pembaca yang akan mendapatkan pencerahan dari komentar anda ini, sebagaimana postingan sebelumnya, dialog dengan pembaca blog, sudah saya posting disini

  2. Assalamualaykum…
    @saya : Permasalahan sampai atau tidaknya pahala bacaan Al-Qur’an adalah permasalahan ijtihadiyah..silahkan mau ikut yg mana..

    kl antum baca tulisan diatas imam syafiie sendiri mengatakan bacaan Al-Qur’an tak kan sampai kpd si mayit dan inilah pendapat yg rojih..

    nah yg ajibnya ketika orang2 islam di INdonesia bangga dgn mazhab Syafiie malah melakukan pelanggaran thp ucapan Imamnya sendiri malah lucunya menukil pendapat dari musuh mereka yaitu ulama-ulama WAHABI.

    kalau mau main fair org2 yg mengaku bermazhab syafiie tidak melakukan TAHLILAN dong,betul tidak mas?

    Mas.. fahami baik2 titik permasalahannya adalah CARA nya ,krn ibadah itu terikat waktu dan cara spt:sholat,puasa,zakat,zikir2,sodakoh,infaq dsb semua sdh diatur waktu dan caranya dlm kitab2 fiqh.apakah tahlilan ada cara dan waktunya??

    apakah ada contoh dari Rosululloh dan para sahabatnya mengumpulkan orang2 pada acara kematian seseorang..??

    coba antum renungkan bila ada coba antum cari dalil atau atsar sahabat apakah Rosululloh melakukan hal tsb?

    dan rupanya kebanyakan pencinta tahlilan menggunakan qiyas2 bathil contoh: sodaqoh disamakan dgn tahlilan,mbaca al-quran disamakan dgn tahlilan,do’a disamakan tahlilan .dan hanya prasangka2an memurut hawa nafsu sendiri bahwa ini amalan yg baik.nah qiyas2 seperti inilah yg membuka pintu2 ke-bid’ahan..
    Diperbolehkan belum tentu dibenarkan mas.

    Mudah2an bisa di fahami
    Barokallohum fiik

    Jazakallahu khairan atas tanggapannya,..

  3. Sok atuh dibawakeun qoul Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qoyyim, ulama2 mazhab Hambali sadayana. Kabeh sepakat teu aya ritual tahlilan iraha kang saya taliti maosnya.

    Abdi teh colohok, ceunah benci Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qoyyim, Syaikh Ibnu Abdil Wahab tapi nyandakkeun qoul mereka oge, he he he.

    nuhun kang tommi ,.. meni lucu nya…

  4. Dari Abu Hurairah radhiyallâhu’anhu, dia berkata,
    “Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menziarahi kubur ibunya,
    lalu beliau menangis dan membuat orang-orang di sekitarnya menangis juga.
    Lalu beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
    ‘Aku meminta idzin kepada Rabb-ku untuk memohonkan ampun bagi ibuku,
    tetapi aku tidak diberi idzin.
    Dan aku meminta idzin kepada-Nya untuk menziarahi kuburnya,
    maka aku diberi idzin.
    Maka hendaklah kamu berziarah kubur,
    karena ziarah kubur itu bisa mengingatkan kepada kematian.’”

    Bagaimana cara yang benar dalam mendo’akan mayit ?

    Sebatas yang kami tahu, cara mendo’akan mayit menurut Sunnah adalah sebagai berikut :

    Mendo’akan dan memohonkan ampunan ketika mendengar berita atau mengetahui kematian seorang muslim.
    Mendo’akan dan memohonkan ampunan saat shalat jenazah.
    Mendo’akan dan memohonkan ampunan ketika ziarah kubur.
    Mendoakan dan memohonkan ampunan di setiap ada waktu dan kesempatan, dengan tanpa menentukan waktu, tempat dan tata-cara khusus yang tidak diajarkan oleh Allâh dan Rasul-Nya.

    Pernyataan di atas Rosul meminta izin memohonkan ampun bagi ibunya, tapi tdk di izinkan.
    Pernyataan di bawah berdoa dan memohonkan ampunan…. jadi yg benar yg mana…?

    Terimakasih telah berkomentar disini,
    Rasulullah tidak diizinkan memohonkan ampun untuk ibunya , karena ibu Rasulullah meninggal diatas agama nenek moyangnya, yaitu meninggal diatas kesyirikan,
    Ada larangan untuk mendoakan orang non muslim/kafir/kemusyrikan yang menyebabkan keluar dari islam, walaupun itu orang dekat kita, atau orang tua kita,.. Kedua orang tua Rasulullah meninggal bukan sebagai orang islam, bukan diatas agama nabi ibrahim, sehingga Rasulullah dilarang memohonkan ampunan untuk kedua orang tuanya,..

    Sedangkan memohonkan ampunan untuk kaum muslimin yang sudah meninggal, ini dianjurkan,.. dan tidak ada ritual khusus seperti kirim pahala dengan cara tahlilan, dll..

    kedua-duanya betul mas,.. Rasulullah dilarang memohonkan ampunan dosa untuk orang yang mati diatas kekafiran, demikian juga kita,.. Dan Rasulullah juga menganjurkan mendoakan kaum muslimin yang sudah meninggal, seperti doa ketika menuju ke pemakaman tuk ziarah kubur,.. kan itu doa juga buat kaum muslimin yang sudah meninggal,..

    wallahu a’lam,..

  5. jazakumullah akhi ……… semoga kita selalu mendapat Pahala dari Allah dengan meninggalkan hal2 bid’ah ………….. kullu bid’atin dholaalah wa kullu dholatatin fin naar

  6. jangan keburu2 ambil kesimpulan bahwa tahlilan itu bidah, keterangan sj phamnya cm sparuh2 sdh mngatakan bid’ah,coba anda pahami yang dalam lagi,dan satu lagi harus ada sanad gurunya.tks

    Apalah artinya sanad,.. jika sanad bersambung, tidak mungkin ajaranya ngga nyambung,.. ada habib yang ngaku sanadnya bersambung, eh ajarannya malah menyelisih ajaran rasulullah, bahkan ajaran yang mengandung kesyirikanpun diajarkanya, na’udzubillahi min dzalik,

  7. Kami bukan pencinta tahlil, kami jg bukan pembenci tahlil, tp kami jg gak so’ tau, kalau anda jeli dan teliti lebih dalam lagi, psti anda gk akan kburu-buru menafsirkan bahwa tahlilan itu dilarang/bidah, coba anda belajar yang lbh dalam lg, dan yang satu lagi anda harus punya guru yang benar2 ahli tafsir hadist, klo cm dengar, dan cm dpt keterangan2 dr sna-sni sj, jgn suka komen.ok..!!!!, trimk’s

    Mudah sekali kok, tolong tunjukkan dalilnya, baik alquran maupun hadits yang menyuruh kita untuk melakukan ritual tahlilan setelah kematian,.. GITU AJA KOK REPOT,..
    Kalau ada dalilnya, saya juga mau memposting di blog ini, dan mendakwahkan tahlilan tersebut,.. silahkan tunjukkan,..

    • tolong tunjukan dalilnya,baik alquran maupun hadits yang melarang kita untuk melakukan ritual tahlilan setelah kematian?

      قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

      (صحيح البخاري)

      Sabda Rasulullah saw :
      “Sebesar – besar kejahatan muslimin (pada muslim lainnya) adalah yang mempermasalahkan suatu hal yang tidak diharamkan, namun menjadi haram sebab ia mempermasalahkannya (Shahih Bukhari)

      Terimakasih mas eko, saya akan jawab tapi ada syaratnya, tolong sebutkan juga dalil tentang larangan shalat maghrib 5rakaat,jika anda menemukan dalil dari hadits atau alquran tentang larangan shalat maghrib 5 rakaat,nanti saya akan jawab apa yang mas eko tanyakan

      Tentang hadits diatas, baca juga dong syarahnya, jangan hanya membaca matannya saja, sehingga mas eko mengetahui maksud hadits tersebut,

  8. anda itu memperjuangkan sunah nabi Muhammad saw atau memperjuangkan sunah Muhammad ibn ʿAbd al-Wahhab seeeehhh,,,,,,,,kalau memang anda memperjuangkan sunah nabi Muhammad saw, kalian (wahabi) pada kemana waktu nabi Muhammad saw dilecehkan,dihina,,,,,,,gak ada suaranya,,,,,gak keliatan batang idungnya,,,,,,,ckckckckckck

    Terimakasih bang doel atas komentarnya,
    Gak ada suaranya? ngga ada batang hidungnya?
    tanya kenapa ,..
    Demontsrasi bukan dari islam, dalam islam hukum demontsrasi adalah haram,banyak kerusakan disana, dan itu bukanlah sunnah rasulullah , dan biasanya dilakukan oleh orang yang semangat berkoar-koar saja, tapi minim ilmu agama, silahkan baca disini ulasannya,

    Bahkan jika ada kaum muslimin mengadakan demontsrasi itu disukai oleh yahudi, sehingga mereka mudah untuk memperkeruh suasana, dan dengannya mereka bisa menguasai negeri kaum muslimin, tentu dengan mengirimkan pasukan mereka,dengan dalih mengamankan suatu negara dari konflik akibat demonstrasi,

    Rasulullah dihina oleh orang kafir, itu sudah biasa, dari jaman rasulullah hidup hingga rasulullah mati, orang kafir menghina rasulullah,
    Bagaimana kita menyikapi penghinaan terhadap rasulullah? bukan demontsrasi, tapi sikapilah dengan ilmu, bukan dengan semangat membakar ban,atau membakar bendera negara lain,atau melempar kotoran kantor diplomat asing, itu sih tindakan konyol yang jauh dari ilmu ,
    silahkan baca ulasannya disini, bagaimana sikap yg benar dalam menyikapi penghinaan terhadap rasulullah,

    Sikap Saudi arabia terhadap pelecehan nabi, baca ulasannya disini

    Lihat tindakan cerdas yang dilakukan kaum muslimin di jerman, di eropa, mereka bertindak cukup bagus,.. pemikiran dibalas dengan pemikiran,bukan demo, mereka menyebarkan alquran terjemah bahasa negara mereka,dan sejarah rasulullah,
    lihat juga komentar para mualaf di eropa, bisa dibaca disini

  9. assalamu’alaikum…

    betul mas…kita kan berpegang teguh pada ALQUR’AN dan HADIST..

    yaa klo gx ada di AL QUR’AN dan HADIST..kenapa kita kita repot”…

    Dan kita sebagai orang yang MUSLIM pintar..harus bisa menerima masukan atau nasehat,,

    KITA kan sesama umat muslim harus saling mengingatkan…

    kita di kasih akal wt berpikir yang cerdas…bukan meniru kata orang.. Nenek moyanglah..atau apalah…

    suri tauladan kita adalah NABI MUHAMMAD SAW..pedoman kita adalah ALQUR’AN…

    MAKASIH..DR HAMBA ALLOH yang miskin ilmu.. Wassalammu’alaikum warohmatullohiwabarokatuh

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    terimakasih atas tambahan komentarnya,.

  10. berarti acara tahlilan klw dilandasi ihklas gimana pak…………bukan cuma ikut2tan kata hadis ada yg 3 hari anjuran entah rosuul entah sahabat…itu gimana dan ada pula ada yg punya keyakinan 7 hari…..

    mohon penjelasan nya…????????

    terimakasih, sudah komentar disini,.
    Syarat diterimanya amal ibadah itu ada dua yaitu : 1. Ikhlas 2. Mengikuti contoh Rasulullah,
    Kedua syarat tersebut WAJIB ADA, hilang salah satunya, maka tertolaklah amal tersebut, bukan mendapatkan pahala, tapi mendapatkan dosa,

    Kita lihat,.. Jika ritual tahlilan itu ikhlas, hanya mengharap pahala dari Allah semata, sekarang kita lihat, adakan ritual tahlilan itu mengikuti contoh rasulullah? ternyata tidak, maka amalan tahlilan tersebut menjadi amalan yang tertolak,.

    Rasulullah tidak pernah melakukan ritual tahlilan kematian, silahkan baca disini

  11. LUARBIASA………..KAUM SALAFI WAHABI SELALU MENSYIARKAN HADITS TENTANG TIDAK BOLEHNYA NABI SAW UNTUK MENDOAKAN AYAH IBUNYA…KARENA HADITS ITU MENUNJUKKAN BAHWA AYAH IBU NABI SAW ADALAH KAFIR……….

    Terimakasih mas Anas, sudah komentar disini,.
    Salafi wahabi hanya mengikuti ucapan rasulullah yang menyatakan kedua orangtuanya kafir,. lalu anda tidak mempercayai ucapan rasulullah tersebut??Salafi wahabi membenarkan ucapan rasulullah, lalu anda? Luar biasa sekali jika anda menolak ucapan rasulullah

    MASYAALLAH………..BEGITU DAHSYATNYA SEKTE WAHABI MEYAKINI KETIDAKIMANAN KEDUA ORANGTUA RASULULLAH SAW……….

    Sebab Rasulullah yang mengatakan, kenapa anda tidak membenarkan ucapan rasulullah tersebut? dimana keimanan anda kepada rasulullah,sehingga anda tidak mau membenarkan ucapan rasulullah?

    PADAHAL SECARA NYATA KAKEK BELIAU ABDULMUTHALIB TELAH MENAMAKAN ANAKNYA ABDULLAH (HAMBA ALLAH) YANG KELAK AKAN MENERUSKAN KETRUNAN YANG MENYERUKAN AGAMA ALLAH SWT………………..

    Anda ingat paman nabi muhammad, Abu thalib?
    Ketika Abu thalib mau meninggal, Rasulullah membujuk pamannya agar mengucapkan syahadat, tapi pamannya tidak mau, akibat dibujuk oleh abu jahal, abu jahal mengatakan kepada abu thalib, apakah kamu akan meninggalkan agama abdul muthalib?..
    Akhirnya, abu thalib tidak mau bersyahadat, dan tetap mengikuti agama abdul muthalib, sehingga abu thalib pun kekal di neraka,.
    Bukankah dari kisah diatas Abdul muthalibpun mati diatas agama kesyirikan?

    Kaum kafir quraisy mereka mengenal Allah, mereka percaya kepada allah, namun mereke menyekutukan allah dalam beribadah,. mereka menyembah berhala,
    Jika mereka sedang ditimpa kesulitan, mereka beribadah hanya kepada allah, namun jika mereka sedang lapang, maka mereka beribadah kepada berhala mereka,.

    Jadi bukan hal aneh jika kaum kafir quraisy itu mengenal Allah,. jadi tidak aneh jika ayah nabi diberi nama Abdullah,.

    Bahkan kaum kafir quraisy lebih mengenal Allah, mengetahui konsekwensinya, sehingga mereka tidak mau memeluk islam, berbeda dengan kaum muslimin kebanyakan, walaupun mereka berislam dari kecil, tapi tidak paham konsekwensi dari keimanan kepada Allah, berbeda halnya dengan kaum quraisy,

  12. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    بسم الله الرحمن الرحيم
    akhi fillah coba sedikit kita berhati-hati dalam memposisikan kekafiran apalagi terhadap ibunda dan bapanda Nabi yang sangat Mulia ini, memahami hadits diatas antum harus berhati-hati sekali, ingat lho yang antum kafirkan itu adalah orang tua dari orang yang dimuliakan dari sejagat raya ini oleh Allah.

    MARI KITA TELAH BERSAMA KEDUA HADITS DIATAS

    YANG PERTAMA

    Dari Abu Hurairah radhiyallâhu’anhu, dia berkata,
    “Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menziarahi kubur ibunya,
    lalu beliau menangis dan membuat orang-orang di sekitarnya menangis juga.
    Lalu beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
    ‘Aku meminta idzin kepada Rabb-ku untuk memohonkan ampun bagi ibuku,
    tetapi aku tidak diberi idzin.
    Dan aku meminta idzin kepada-Nya untuk menziarahi kuburnya,
    maka aku diberi idzin.
    Maka hendaklah kamu berziarah kubur,
    karena ziarah kubur itu bisa mengingatkan kepada kematian.’”
    (HR. Muslim)

    Kalau kita pahami sekilas memang ada kesan bahwa Ibunda Nabi SAW itu tidak masuk surga. Sebab Rasulllah SAW sampai memerlukan memintakan ampunan atasnya. Dan ternyata permintaan itu tidak dikabulkan Allah SWT.
    Wajar kalau ada yang berkesimpulan bahwa kalau begitu Ibunda Nabi SAW itu bukan muslim, tidak pernah bersyahadat dan mati dalam keadaan kafir. Sebab saat wafat, Nabi Muhammad SAW belum lagi menjadi nabi.

    Namun kalau Allah SWT tidak memperkenankan Rasulullah SAW memintakan ampunan untuk kedua orang tua, tidak berarti orang tuanya bukan muslim. Sebagaimana ketika Rasulullah SAW tidak menyalatkan jenazah yang masih punya hutang, sama sekali tidak menunjukkan bahwa jenazah itu mati dalam keadaan kafir.

    ngga nyambung,.. Rasulullah ngga mau menyolati pamanya sendiri yg telah membantu rasulullah, membelanya, bahkan rasulpun begitu sayang kepada pamannya,. kenapa rasul tidak mau mengurusi jenazah abu thalib? karena paman nabi tsb mati dalam kekafiran, mengikuti agama abdul muthalib,. bukankah dari kejadian inipun kita bisa menebak, apa agama kedua ortu nabi muhammad?

    Jadi alasan anda dengan dalil nabi yang tidak mau menyolati orang yang berhutang, tidak pas ditafsirkan bahwa kedua ortu nabi itu tidak di neraka,.. toh nabi akhirnya menyolatkan orang tersebut,. setelah ada sahabat yg menanggung utangnya,.

    jadi,.. salah sekali penjelasan anda diatas,.

    YANG KEDUA

    Dari Anas radhiyallâhu’anhu bahwa seorang laki-laki berkata,
    “Wahai Rasulullah, dimanakah ayahku?”,
    beliau menjawab, “Di dalam neraka”.
    Ketika dia berpaling, beliau memanggilnya lalu bersabda,
    “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di dalam neraka”.
    (HR. Muslim)

    Hadits ini pun belum menjadi bukti yang kuat bahwa ayah Rasulullah SAW akan masuk neraka, sebab kata al-ab (Abi, Abuka, Abaka, dan semacamnya) dalam bahasa Arab sering pula digunakan untuk makna ‘paman’ di samping ‘ayah’. Dari situ, sangat boleh jadi yang dimaksud oleh Rasulullah SAW dengan kata Abi dalam hadits ini adalah ‘pamanku’, yaitu Abu Thalib yang pernah mengasuh beliau layaknya seorang ayah. Dan, memang, Abu Thalib adalah paman Rasulullah yang meninggal dunia dalam keadaan belum memeluk Islam setelah beliau diutus sebagai rasul. Orang yang mati dalam keadaan tidak beriman setelah diutusnya seorang rasul tentu akan masuk neraka.
    Penggunaan kata Abi yang berarti ‘paman’ ini kita temukan pula di dalam al-Qur’an. Dalam surah al-An‘am ayat 74, Allah berfirman yang artinya: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya (Abihi), Azar, “Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan yang disembah? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” Ada banyak mufasir, antara lain Ibnu Katsir, yang memahami kata Abihi pada ayat itu sebagai ‘paman’ Nabi Ibrahim. Sebab, ayah Nabi Ibrahim bernama Tarah, bukan Azar.

    Adapun larangan Allah SWT untuk memintakan ampunan orang non muslim adalah semata-mata karena orang itu sudah diajak masuk Islam, namun tetap membangkang dan akhirnya tidak sempat masuk Islam dan mati dalam keadaan kafir. Sedangkan kedua orang tua Nabi SAW sama sekali belum pernah membangkang atau mengingkari dakwah. Sebab mereka ditakdirkan Allah SWT untuk hidup sebelum masa turunnya wahyu sehingga belum tentu kedua orang tua Nabi SAW itu kafir.

    Di sisi lain, berpandangan bahwa orang tua Nabi Muhammad SAW akan masuk neraka dapat dikatakan sebagai sesuatu yang menyinggung perasaan kebanyakan umat Islam yang begitu mencintai rasulnya dan keluarganya, di samping menyakiti Nabi sendiri. Orang yang mencintai rasulnya tentu tidak ingin menyakiti perasaan beliau, sedangkan berbicara tentang orang tua beliau akan masuk neraka dapat dianggap sebagai sesuatu yang menyakiti Rasul SAW.

    Terkait tindakan yang menyakiti Rasul ini, Allah SWT berfirman:
    والذين يؤذون رسول الله لهم عذاب أليم
    Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah, bagi mereka azab yang sangat pedih (QS.At-Taubah : 61)
    إن الذين يؤذون الله ورسوله لعنهم الله في الدنيا والآخرة وأعد لهم عذابا مهينا
    Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti (bersikap atau berucap atau melakukan hal-hal yang mengandung pelecehan terhadap) Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka (yakni menjauhkan mereka dari rahmat dan kasih sayang-Nya) di dunia dan di akhirat, dan menyediakan bagi mereka azab yang menghinakan (QS al-Ahzab : 57)

    Lebih dari itu, ada satu hal yang kiranya perlu kita pahami secara hati-hati, yaitu jika tampak oleh kita bahwa ayah atau kakek Nabi Muhammad SAW melakukan sesuatu yang dapat dianggap sebagai kesyirikan, mereka tidak bisa kita katakan sebagai orang muysrik yang pasti disiksa. Mengapa? Sebab, menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, orang yang melakukan kesyirikan atau menjalankan keyakinan bukan tauhid pada masa antara seorang rasul dengan rasul yang lain (masa itu disebut fatrah) tidak akan disiksa. Ini berdasarkan firman Allah SWT:
    وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا
    Dan Kami tidak menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul (QS al-Isra’ : 15)

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memilih Ibrahim dan Ismail dari kalangan anak-cucu Adam, memilih Bani Kinanah dari keturunan Ismail, memilih suku Quraisy dari kalangan anak-cucu keturunan Bani Kinanah, memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy, dan memilihku dari keturunan Bani Hasyim.” Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim ini menjelaskan Rasululullah SAW berasal dari orang-orang pilihan Allah. Orang-orang yang menjadi pilihan Allah itu sudah barang tentu tidak mungkin memiliki sifat-sifat kafir atau musyrik yang akan masuk neraka.

    beradablah sedikit wahai saudaraku fillah dalam merendahkan orang tua nabi dengan mengkafirkan mereka karena rosulullah sendiri tidak pernah mengkafirkan bapaknya bahkan ibundanya tercinta,

    Orang yang mendustakan perkataan nabi muhammad adalah orang yang TIDAK BERADAB TERHADAP NABI,.
    Orang yang tidak membenarkan perkataan nabi muhammad bahwa KEDUA ORTU NABI BERADA DI NERAKA,. dia pada hakekatnya sedang merendahkan perkataan nabi muhammad, lah nabi sendiri yang mengatakan, kenapa anda tidak mempercayainya??

    Kenapa anda merasa sungkan, tidakkah anda mengetahui, ada nabi yang bapaknya adalah pembuat berhala, terjerumus dalam kemusyrikan, lihat nabi ibrahim, bapaknya tidak mengikuti agama nabi ibrahim, alias kafir,. lihat nabi Nuh, anaknya juga tidak mau mengikuti agama bapaknya,.. kenapa anda merasa berat jika Rasulullah mengatakan bahwa kedua orangtuanya berada di neraka karena mati dalam agama kesyirikan??

    Janganlah kecintaan anda, pengagungan anda thd rasulullah membutakan hati anda, sehingga anda mendustakan perkataan orang yang anda agungkan,.

    Silahkan baca disini ulasannya

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*