Menyoal Metode Hisab,.. ternyata metode hisab buat menentukan dimulainya puasa, itu tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad

Menyoal Metode Hisab

Oleh: Syaikh Abdul Aziz Ar Rays

بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh, Amma Ba’du,
Ketahuilah bahwa sesungguhnya Agama Islam itu telah ditetapkan oleh Allah yang memiliki sifat Al Hakim dan Al Alim.

Sebagaimana firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْآنَ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al Qur’an dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui” (QS. An Naml: 6)

Dan juga firman-Nya:
وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ
“Dan Dialah Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui” (QS. Az Zukhruf: 84)

Allah Ta’ala juga berfirman:
أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
“Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At Tiin: 8)

yang sulit menurut kita untuk dikerjakan, tetap harus dikerjakan. Yang mudah pun demikian.

Karena kita ini hanyalah hamba, dan seorang hamba sepatutnya mengikuti keinginan sayyid-nya, dalam hal ini adalah Allah Subhanahu Wata’ala.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dari Abdullah bin Syukhair Radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
السيد الله تبارك تعالى
“As Sayyid adalah Allah Tabaaraka Wa Ta’ala”

Dua Metode Yang Ditetapkan Syari’at

Sehubungan dengan hal tersebut, syariat telah menetapkan bahwa untuk menentukan masuknya bulan Ramadhan itu dengan 2 cara:

1.RU’YATUL HILAL (MELIHAT HILAL DENGAN MATA)

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Barangsiapa di antara kamu melihat bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”

Juga hadits yang terdapat dalam Shahihain, dari Ibnu Umar Radhiallahu’anhu , Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته
“Berpuasalah karena jika melihat hilal, dan berlebaran lah jika melihatnya”

2.JIKA HILAL TIDAK NAMPAK, MAKA BULAN SYA’BAN DIGENAPKAN MENJADI 30 HARI

Sebagaimana hadits dalam Shahih Bukhari, dari Abu Hurairah ia berkata, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
فأكملوا عدة شعبان ثلاثين يوماً
“(Jika hilal tidak tampak), genapkanlah bulan sya’ban menjadi 30 hari”

Para Ulama Telah Ber-Ijma
Para ulama telah ber-ijma‘ bahwa dua metode ini lah yang dipakai, dan mereka tidak pernah memperselisihkan lagi.

Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitab beliau, Fathul Baari (4/123), mengatakan:
وقال ابن الصباغ أما بالحساب فلا يلزمه بلا خلاف بين أصحابنا قلت ونقل بن المنذر قبله الإجماع على ذلك فقال في الأشراف صوم يوم الثلاثين من شعبان إذا لم ير الهلال مع الصحو لا يجب بإجماع الأمة
“Ibnu As Sabbagh berkata:
‘Adapun metode hisab, tidak ada ulama mazhab kami (Maliki) yang membolehkannya tanpa adanya perselisihan‘.

Sebelum beliau, juga telah dinukil dari Ibnul Mundzir dalam Al Asyraf:
‘Puasa di hari ketiga puluh bulan Sya’ban tidaklah wajib jika hilal belum terlihat ketika cuaca cerah, menurut ijma para ulama‘”

Lalu orang-orang membuat metode baru dalam masalah ini, yang tidak diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu menjadikan hisab falaki (perhitungan astronomis) sebagai acuan untuk menentukan awal bulan Ramadhan.

Penggunaan metode ini dalam hal menentukan 1 Ramadhan adalah metode yang baru yang bid’ah dan HARAM HUKUMNYA, disebabkan beberapa hal di bawah ini:

Pertama,
metode ini bertentangan dengan banyak nash yang membahas tentang cara menentukan masuknya Ramadhan, yaitu dengan salah satu dari dua cara di atas

Kedua,
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, para sahabat beliau dan para tabi’in, tidak pernah menggunakan metode ini padahal ilmu hisab falaki sudah ada di masa mereka.

Kaidah mengatakan, setiap sarana yang mampu dimanfaatkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam namun mereka tidak memanfaatkannya, maka hukum memanfaatkan sarana tersebut di zaman ini adalah bid’ah. Sebagaimana sudah dijelaskan oleh Syaikhul Islam di kitabnya, Iqtidha Shiratil Mustaqim.

Ketiga,
para ulama telah ber-ijma‘ untuk tidak menggunakan metode hisab falaki dalam menentukan awal bulan Ramadhan. Sebagaimana yang dikatakan Ibnul Mundzir dan Ibnu As Sabbagh yang disebut oleh Ibnu Hajar di atas, juga Ibnu ‘Abdil Barr, Abul Walid Al Baaji dan Ibnu Taimiyah.

Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhid (14/325) menuturkan:
ولم يتعلق أحد من فقهاء المسلمين – فيما علمت – باعتبار المنازل في ذلك ، وإنما هو شيء روي عن مطرف بن الشخير وليس بصحيح عنه – والله أعلم – ولو صح ما وجب اتباعه لشذوذه ولمخالفة الحجة له ، وقد تأول بعض فقهاء البصرة في معنى قوله في الحديث فاقدروا له – نحو ذلك . والقول فيه واحد ، وقال ابن قتيبة في قوله: فاقدروا له . أي فقدروا السير والمنازل وهو قول قد ذكرنا شذوذه ومخالفة أهل العلم له ، وليس هذا من شأن ابن قتيبة ، ولا هو ممن يعرج عليه في هذا الباب
“Tidak ada satupun ahli fiqih, sepengetahuan saya, yang mengaitkan masuknya Ramadhan dengan posisi bulan. Memang hal ini (metode hisab) berasal dari hadits yang diriwayatkan dari Mathraf bin Asy Syukhair, namun tidak shahih, wallahu’alam. Andaikan hadits tersebut shahih, ia harus memiliki mutaba’ah karena syadz dan bertentangan dengan dalil yang lain. Sebagian ahli fiqih dari Bashrah ada yang memaknai lafadz hadits فاقدروا له (‘Perkirakanlah’), maksudnya adalah ‘perkirakanlah sekitar itu‘. Artinya, pendapat para ulama dalam hal ini hanya satu saja (tidak ada perselisihan). Adapun yang dikatakan oleh Ibnu Qutaibah bahwa makna فاقدروا له adalah ‘perkirakanlah orbit dan posisi bulan‘, ini adalah pendapat yang nyeleneh dan bertentangan dengan para ulama. Permasalahan ini bukanlah bidangnya Ibnu Qutaibah. Beliau bukanlah orang yang kompeten dalam masalah ini (fiqih)”.

Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (25/132) berkata:
فإنا نعلم بالاضطرار من دين الإسلام أن العمل في رؤية هلال الصوم أو الحج أو العدة أو الإبلاء أو غير ذلك من الأحكام المعلقة بالهلال بخبر الحاسب أنه يرى أو لا يرى لا يجوز . والنصوص المستفيضة عن النبي صلى الله عليه وسلم بذلك كثيرة . وقد أجمع المسلمون عليه . ولا يعرف فيه خلاف قديم أصلاً ولا خلاف حديث ؛ إلا أن بعض المتأخرين من المتفقهة الحادثين بعد المائة الثالثة زعم أنه إذا غم الهلال جاز للحاسب أن يعمل في حق نفسه بالحساب فإن كان الحساب دل على الرؤية صام وإلا فلا . وهذا القول وإن كان مقيداً بالإغمام ومختصاً بالحاسب فهو شاذ مسبوق بالإجماع على خلافه . فأما اتباع ذلك في الصحو أو تعليق عموم الحكم العام به فما قاله مسلم ا.هـ
“Kita semua, secara gamblang sudah mengetahui bersama bahwa dalam Islam, penentuan awal puasa, haji, iddah, batas bulan, atau hal lain yang berkaitan dengan hilal, jika digunakan metode hisab dalam kondisi hilal terlihat maupun tidak, hukumnya adalah haram.
Banyak nash dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang mendasari hal ini. Para ulama pun telah bersepakat akan hal ini. Tidak ada perselisihan diantara para ulama terdahulu maupun di masa sesudahnya, kecuali sebagian ulama fiqih mutaakhirin setelah tahun 300H yang menganggap bolehnya menggunakan hisab jika hilal tidak nampak, untuk keperluan diri sendiri. Menurut mereka, jika sekiranya perhitungan hisab sesuai dengan ru’yah maka mereka puasa, jika tidak maka tidak. Pendapat ini, jika memang hanya digunakan ketika hilal tidak nampak dan hanya untuk diri sendiri, ini tetaplah merupakan pendapat nyeleneh yang tidak teranggap karena sudah adanya ijma’. Adapun menggunakan perhitungan hisab secara mutlak, padahal cuaca cerah, dan digunakan untuk masyarakat secara umum, tidak ada seorang ulama pun yang berpendapat demikian”.

Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (4/127) berkata:
وقد ذهب قوم إلى الرجوع إلى أهل التسيير في ذلك وهم الروافض، ونقل عن بعض الفقهاء موافقتهم. قال الباجي: وإجماع السلف الصالح حجة عليهم ا.هـ
“Sebagian orang ada yang merujuk pada para ahlut tas-yir (penjelajah) dalam masalah ini, yaitu kaum syi’ah rafidhah. Sebagian ahli fiqih pun ada yang membeo kepada mereka. Al Baaji berkata: ‘Ijma salafus shalih sudah cukup sebagai bantahan bagi mereka’”.

Beberapa Syubhat

Ada beberapa syubhat yang cukup berpengaruh dalam hal ini, dan sepatutnya kita tidak tertipu olehnya karena syubhat semestinya dikembalikan kepada yang muhkam (jelas). Demikianlah metode para ahli ilmu yang dipuji oleh Allah, berbeda dengan orang yang memiliki penyakit hati di dalamnya, sebagaimana firman Allah:
فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal” (QS. Al Imran: 7)

Berkaitan dengan ayati ini,
Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya, I’laamul Muwaqqi’in, memberikan 99 permisalan. Silakan membacanya karena sangat bermanfaat dalam hubungannya dengan pembahasan ini.

Adapun syuhbat-syubhat tersebut ialah:

Syubhat pertama,
metode hisab falaki itu lebih akurat daripada ru’yah. Sebab, terkadang hilal sudah muncul namun tidak terlihat atau kebetulan bertepatan dengan munculnya sinar bintang yang dikira sebagai hilal.

Jawaban terhadap syubhat ini,
yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala sebagai patokan adalah penglihatan kita terhadap hilal, bukan posisi aktual (waqi’ al haal) dari hilal.
Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته
“Berpuasalah karena jika melihat hilal, dan berlebaran lah jika melihatnya”

Mafhum mukhalafah dari hadits ini, jika kita tidak melihat hilal maka tidak puasa, itulah yang diperintahkan.
Adapun orang yang menggunakan hisab falaki, mereka mempersulit diri dengan sesuatu yang tidak diinginkan oleh Allah dan tidak diisyaratkan oleh Allah sedikit pun.
Padahal Allah Maha Tahu apa yang akan terjadi di masa depan, andaikan Allah Ta’ala menginginkan hisab falaki digunakan dalam hal ini, tentu Allah akan mengisyaratkan dalam dalil. Namun nyatanya dalil-dalil yang ada tidak ada yang mengisyaratkan demikian.
Taruhlah, andaikan sinar bintang muncul bertepatan di tempat seharusnya hilal muncul, lalu orang-orang melihatnya dan mengira itu hilal.
Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak membebani manusia kecuali sebatas apa yang dilihat dan menjadi dugaan kuat bahwa itu hilal. Para sahabat pun dahulu ketika melihat hilal dari tempat mereka, sangat mungkin yang mereka lihat terkadang meteor atau sinar bintang, namun Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tetap menjadikan penglihatan itu sebagai patokan.
Inilah syariat Islam yang mudah dan gamblang, yang syariat ini pun telah menjelaskan bahwa jika hilal tidak terlihat maka bulan sya’ban digenapkan menjadi 30 hari, selesai. Lalu mengapa menolak hukum Allah ini dengan aturan lain yaitu metode hisab falaki?

Syubhat kedua,
hisab falaki dalam penentuan awal Ramadhan itu sama saja seperti hisab dalam penjadwalan waktu-waktu shalat. Kalau untuk tujuan itu dibolehkan, maka untuk penentuan awal Ramadhan pun seharusnya boleh.

Jawabannya,
yang dibebankan oleh syariat kepada kita dalam penentuan waktu-waktu shalat adalah menyesuaikan dengan posisi aktual (waqi’ al haal), misalnya maghrib adalah ketika matahari sudah tenggelam, dst. Perhitungan hisab dalam hal ini memberi informasi posisi aktual (waqi’ al haal) bahwa pada jam sekian matahari dalam posisi sudah tenggelam, atau semacamnya. Berbeda dengan masalah menentukan awal bulan, yang dibebankan syari’at kepada kita adalah melihat hilalnya bukan mengetahui posisi aktual (waqi’ al haal) -nya. Ini sama sekali berbeda.

Syubhat ketiga,
hisab falaki dapat membantu kita memperkirakan apakah hilal nantinya bisa dilihat ataukah tidak

Jawabannya,
syari’at hanya memerintahkan kita untuk melihat hilal. Jika kita melihat hilal, maka kita puasa. Jika tidak maka tidak. Kita tidak diperintahkan lebih dari itu, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.

Waspada Terhadap Pendapat Nyeleneh

Telah kami jelaskan tentang tidak bolehnya menggunakan hisab falaki dalam menentukan awal Ramadhan, serta kami jelaskan pula bahwa pendapat yang menyatakan demikian adalah pendapat yang nyeleneh, bertentangan dengan ijma’ ulama.
Dan salah satu ciri pendapat nyeleneh adalah bertentangan dengan ijma’ ulama.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui ciri-ciri pendapat nyeleneh serta memilih pendapat yang sesuai dengan kaidah syar’iyyah, agar terhindar dari budaya ikut-ikutan, salah kaprah, atau ganatik golongan.

Jika permasalahan agama tidak mengikuti kaidah syar’iyyah, manusia menjadi goncang. Terkadang membuat mereka berbuat bid’ah dan terkadang membuat mereka berlebih-lebihan dari syar’iat.

Misalnya masalah yang kita bahas ini, menggunakan hisab falaki adalah nyeleneh dan bertentangan dengan ijma‘.
Namun, sebagian orang mencoba membuat pendapat nyeleneh ini menjadi nampak biasa, yaitu membandingkannya dengan masalah pembolehan melempar jumrah sebelum matahari terbit pada tanggal 12 Dzulhijjah di Mina.
Padahal pembolehan ini tidak bertentangan dengan ijma‘, sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf seperti Al Fakihi dari Abdullah bin Zubair Radhiallahu’anhuma.
Demikian juga pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat.
Khilafiyah Seputar Ru’yah Hilal

Adapun kaitannya dengan hukum seputar ru’yah hilal, para ulama berselisih pendapat mengenai apakah ru’yah hilal penduduk suatu negeri juga berlaku bagi seluruh negeri yang lain ataukah hanya bagi negeri itu sendiri.

Yang lebih kuat, wallahu’alam, ru’yah hilal setiap negeri berlaku bagi negeri itu sendiri saja, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Kuraib,
ia berkata:
دمت الشام ، واستهل علي هلال رمضان ، وأنا بالشام ، فرأينا الهلال ليلة الجمعة ، ثم قدمت المدينة في آخر الشهر ، فسألني ابن عباس ثم ذكر الهلال فقال: متى رأيتم الهلال؟ قلت: رأيناه ليلة الجمعة. فقال: أنت رأيته ليلة الجمعة؟ قلت: نعم ، ورآه الناس وصاموا وصام معاوية . فقال: لكن رأيناه ليلة السبت ، فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه . فقلت: ألا تكتفي برؤية معاوية وصيامه؟ فقال: لا هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Saya datang ke Syam, lalu melihat hilal bulan Ramadhan ketika saya di sana. Kami melihat hilal itu pada malam Jum’at. Kemudian saya pergi ke Madinah pada akhir bulan. Ibnu ‘Abbas bertanya kepada saya tentang hilal: ‘Kapan engkau melihat hilal?’. Saya katakan: ‘Kami di Syam melihatnya pada malam Jum’at’. Ibnu Abbas berkata: ‘Engkau melihatnya malam Jum’at?’. Kujawab: ‘Ya, orang-orang melihatnya kemudian berpuasa, dan Mu’awiyah pun berpuasa’. Ia berkata lagi:
Tapi orang-orang di sini melihatnya pada malam Sabtu. Kami tidak puasa hingga sya’ban genap 30 hari atau karena kami melihatnya’. Aku berkata kepadanya: ‘Mengapa engkau tidak mengikuti ru’yah Mu’awiyah dan berpuasa bersama mereka (penduduk Syam)?’. Ia menjawab: ‘Tidak, demikianlah yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam’”.

Dari atsar ini bisa kita lihat bahwa penduduk Syam berpuasa mengikuti pemerintah mereka sendiri, yaitu Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu’anhuma.

Sedangkan penduduk Madinah berpuasa mengikuti pemerintah mereka, yaitu Ali bin Abi Thalin Radhiallahu’anhu. Ini juga merupakan pendapat Al Qasim bin Muhammad, Ikrimah, Ishaq bin Rahawaih dan yang lainnya.

Dengan demikian, setiap penduduk suatu negeri berpuasa mengikuti ru’yah masing-masing negerinya.

Jika mereka tidak bisa melihat hilal, bulan sya’ban digenapkan menjadi 30 hari.

Adapun jika negara mereka menggunakan acuan metode hisab falaki, maka penetapan awal Ramadhan yang demikian tidak dianggap. Kaum muslimin di negara itu dianggap tidak melihat hilal sehingga hendaknya mereka menggenapkan sya’ban menjadi 30 hari.

Sedangkan jika tinggal di negeri kafir, hendaknya mereka membentuk sebuah lembaga atau tim yang menjadi rujukan untuk melakukan ru’yah. Kemudian kaum muslimin di sana beracuan pada ketetapan dan hasil ru’yah dari tim atau lembaga ini, dengan syarat tim ini haruslah menggunakan ru’yah syar’iyyah. Jika tidak ada tim atau lembaga semacam ini, hendaknya mereka menggenapkan bulan sya’ban menjadi 30 hari.

Beberapa Fatwa Ulama

Berikut ini beberapa fatwa dari para ulama di masa ini seputar hal yang kita bicarakan:

Fatwa Lajnah Ad Da’imah Saudi Arabia (10/104) :
ولم يكلفنا معرفة بدء الشهر القمري بما لا يعرفه إلا النزر اليسير من الناس، وهو علم النجوم، أو علم الحساب الفلكي، وبهذا جاءت نصوص الكتاب والسنة بجعل رؤية الهلال ومشاهدته أمارة على بدء صوم المسلمين شهر رمضان، والإفطار منه برؤية هلال شوال، وكذلك الحال في ثبوت عيد الأضحى ويوم عرفات قال الله تعالى: {فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ }وقال تعالى :{ يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ }وقال النبي صلى الله عليه وسلم : « إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين » فجعل عليه الصلاة والسلام الصوم لثبوت رؤية هلال شهر رمضان، والإفطار منه لثبوت رؤية هلال شوال، ولم يربط ذلك بحساب النجوم وسير الكواكب، وعلى هذا جرى العمل زمن النبي صلى الله عليه وسلم وزمن الخلفاء الراشدين والأئمة الأربعة والقرون الثلاثة التي شهد لها النبي صلى الله عليه وسلم بالفضل والخير، فالرجوع في إثبات لشهور القمرية إلى علم النجوم في بدء العبادات والخروج منها دون الرؤية من البدع التي لا خير فيها، ولا مستند لها من الشريعة
“Dalam mengetahui awal bulan hijriah, kita tidak dibebani dengan sesuatu yang hanya dimiliki oleh sebagian kecil manusia saja, yaitu ilmu astronomi atau hisab falaki. Oleh karena itu, dalil-dalil Al Qur’an dan sunnah menetapkan ru’yah hilal sebagai pertanda datangnya awal bulan puasa, juga dalam penentuan hari lebaran, dengan melihat hilal Syawal. Hal ini juga berlaku dalam penentuan Idul Adha dan hari Arafah. Allah Ta’ala berfirman:
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
‘Barangsiapa di antara kamu melihat bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu‘ (QS. Al Baqarah: 185)

Allah Ta’ala juga berfirman:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
‘Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji‘ (QS. Al Baqarah: 189)

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:
إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين
‘Berpuasalah karena jika melihat hilal, dan berlebaran lah jika melihatnya. Jika hilal tidak tampak, genapkanlah bulan sya’ban menjadi 30 hari‘

Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam telah menetapkan ru’yah hilal sebagai pertanda datangnya awal bulan Ramadhan, dan menetepkan Idul Fitri dengan ru’yah hilal syawal. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam sama sekali tidak mengkaitkannya dengan perhitungan astronomis atau perjalanan bintang-bintang.

Oleh karena itulah, yang diamalkan pada masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, masa khulafa ar rasyidin, pada masa imam empat mazhab juga pada masa salafus shalih adalah sebagaimana yang ditetapkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang tentu lebih utama dan lebih baik.

Adapun, menjadikan ilmu astronomi sebagai acuan untuk menentukan awal dimulainya suatu ibadah dan berakhirnya, ini adalah bid’ah yang sama sekali tidak memiliki kebaikan, dan tidak memiliki sandaran hukum dalam syari’at”

Juga fatwa Lajnah Ad Daimah yang lain (3127):
لا يعتبر الحساب الفلكي أصلا يثبت به بدء صيام شهر رمضان ونهايته، بل المعتبر في ذلك رؤية الهلال، فإن لم يروا هلال رمضان ليلة ثلاثين من شعبان أكملوا شعبان ثلاثين يوما من تاريخ رؤيته أول الشهر، وكذا إذا لم يروا هلال شوال ليلة ثلاثين من رمضان أكملوا عدة رمضان ثلاثين يوما
“Hisab falaki jika digunakan sebagai acuan dalam penentuan awal dan akhir bulan Ramadhan, yang demikian tidak teranggap. Yang dianggap adalah menggunakan ru’yah hilal, dan jika hilal tidak nampak pada malam ke 30, maka bulan sya’ban digenapkan menjadi 30 hari dihitung dari tanggal 1 Sya’ban. Demikian juga jika hilal syawal tidak terlihat, maka bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari”.

Syaikh Al Allamah ‘Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah, sebagaimana yang tercantum dalam Majmu’ Fatawa beliau (15/110), berkata:
ومن هذا يتبين أن المعول عليه في إثبات الصوم والفطر وسائر الشهور هو الرؤية، أو إكمال العدة، ولا عبرة شرعا بمجرد ولادة القمر في إثبات الشهر القمري بدءا وانتهاء بإجماع أهل العلم المعتد بهم ، ما لم تثبت رؤيته شرعا. وهذا بالنسبة لتوقيت العبادات، ومن خالف في ذلك من المعاصرين فمسبوق بإجماع من قبله وقوله مردود ؛ لأنه لا كلام لأحد مع سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولا مع إجماع السلف. أما حساب سير الشمس والقمر فلا يعتبر في هذا المقام ؛ لما ذكرنا آنفا ، ولما يأتي:
أ- أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بالصوم لرؤية الهلال والإفطار لها في قوله: « صوموا لرؤيته وأفطروارؤيته » وحصر ذلك فيها بقوله: « لا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه »
وأمر المسلمين إذا كان غيم ليلة الثلاثين أن يكملوا العدة، ولم يأمر بالرجوع إلى علماء النجوم. ولو كان قولهم هو الأصل وحده، أو أصلا آخر مع الرؤية في إثبات الشهر لبين ذلك. فلما لم ينقل ذلك ، بل نقل ما يخالفه ، دل ذلك على أنه لا اعتبار شرعا لما سوى الرؤية، أو إكمال العدة ثلاثين في إثبات الشهر، وأن هذا شرع مستمر إلى يوم القيامة. قال الله تعالى : { وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا }
ودعوى أن الرؤية في الحديث يراد بها العلم، أو غلبة الظن بوجود الهلال، أو إمكان رؤيته لا التعبد بنفس الرؤية مردودة ؛ لأن الرؤية في الحديث متعدية إلى مفعول واحد ، فكانت بصرية لا علمية، ولأن الصحابة فهموا أنها رؤية بالعين، وهم أعلم باللغة ومقاصد الشريعة من غيرهم. وإن تعليق إثبات الشهر القمري بالرؤية يتفق مع مقاصد الشريعة السمحة ؛ لأن رؤية الهلال أمرها عام يتيسر لأكثر الناس من العامة والخاصة في الصحاري والبنيان ، بخلاف ما لو علق الحكم بالحساب فإنه يحصل به الحرج ويتنافى مع مقاصد الشريعة؛ لأن أغلب الأمة لا يعرف الحساب، ودعوى زوال وصف الأمية بعلم النجوم عن الأمة غير مسلمة
“Dari sini, jelaslah sudah bahwa yang menjadi acuan dalam penentuan awal bulan puasa dan lebaran, juga bulan-bulan lainnya adalah ru’yah. Sedangkan kemunculan bulan baru secara aktual tanpa menggunakan ru’yah syar’iyyah tidaklah teranggap, ini berdasarkan ijma‘ para ulama yang dijadikan pegangan ummat. Ini dalam hal penetapan waktu-waktu yang berkaitan dengan ibadah. Adapun sebagian orang dimasa ini yang engga memakai ru’yah, ijma‘ ulama menjadi jawaban bagi mereka. Karena tidak boleh ada yang mendebat sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan tidak boleh ada yang mendebat ijma‘ salaf.
Perjalanan matahari atau bulan dalam hal ini tidak teranggap karena sebab yang kami sebutkan barusan, dan juga beberapa sebab lain yaitu:

Pertama,
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan kita berpuasa jika melihat hilal dan berlebaran jika melihat hilal, dalam sabda beliau
صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته
‘Berpuasalah karena jika melihat hilal, dan berlebaran lah jika melihatnya‘
Lalu beliau menafsirkan sendiri perkataan beliau:
لا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه
‘Jangan berpuasa hingga kalian melihat hilal dan jangan berlebaran hingga kalian melihat hilal‘

Kedua,
beliau Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan kita, jika langit tertutup awan pada malam ke 30 sya’ban, maka bulan sya’ban digenapkan menjadi 30 hari. Beliau tidak memerintahkan manusia untuk bertanya kepada para ahli astronomi.

Andaikata, hasil perhitungan dari ahli astronomi itu sudah cukup untuk menetapkan bulan puasa dan lebaran, atau andaikan perhitungan ini dijadikan bahan pertimbangan lain selain ru’yah, tentu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tentu akan menjelaskannya.

Selama tidak ada riwayat yang menyatakan demikian, maka selain metode ru’yah dan penggenapan bulan tidaklah teranggap secara syar’i. Karena aturan agama yang sudah ada itu terus berlaku hingga hari kiamat.

Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا
‘Dan Rabb-mu itu tidak pernah lupa‘ (QS. Maryam: 64)
Ketiga, anggapan bahwa yang dimaksud ru’yah hilal dalam hadits di atas maknanya adalah ‘mengetahui hilal’ atau sangkaan kuat mengenai kemunculan hilal, dan ru’yah (melihat) di sini bukanlah esensi yang diperintahkan, anggapan ini tertolak. Karena ru’yah dalam hadits ini adalah fi’il muta’addi yang mengacu pada satu maf’ul saja, yang menunjukkan makna ‘penglihatan’ bukan ‘pengilmuan’.

Para sahabat Nabi sangat paham sekali bahwa yang disebut ru’yah itu menggunakan mata. Dan merekalah yang paling paham terhadap bahasa arab dan maqashid syar’iyyah dibanding orang yang lain. Justru perintah ru’yah hilal lebih pas dengan maqashid syar’iyyah bahwa Islam itu agama yang mudah.

Karena ru’yah hilal itu diperintahkan kepada umat muslim secara umum, yang dapat dengan mudah dilakukan oleh orang-orang, baik yang di gurun maupun di gedung-gedung.

Berbeda keadaanya jika hisab falaki yang menjadi acuan, akan menimbulkan kesulitan dan bertentangan dengan maqashid syar’iyyah.

Karena umumnya manusia tidak paham ilmu astronomi.
Lebih lagi klaim bahwa orang zaman sekarang sudah tidak awam lagi terhadap ilmu astronomi, klaim tersebut berasal dari orang-orang non-muslim”

Aku memohon kepada Allah agar melimpahkan nikmat-Nya dengan diizinkannya kami bertemu Ramadhan dan aku memohon agar kita semua dijadikan hamba yang dapat menegakkan shalat malam dan berpuasa karena iman dan mengaharap pahala.

Abdul Aziz Ar Rays
Pengasuh situs http://islamancient.com/
28 / 8 / 1431هـ
Sumber: http://www.al-sunna.net/articles/file.php?id=5904

Penerjemah: Yulian Purnama
Artikel www.muslim.or.id

Print Friendly, PDF & Email

10 Comments

  1. Dalil perintah hisab dalam Alquran.
    “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS 55:5).

    itu bukan dalil diperintahkannya hisab

  2. 1. “Puasa (Ramadhan) adalah di saat kalian semuanya berpuasa, dan (hari ‘Ied) fitri (berbuka dan tidak berpusa) adalah di saat kalian semua ber’iedul fitri, dan hari berkurban (‘Ied al-Adha) adalah di saat kalian semua berkurban.” (HR. Abu Dawud No. 2324, al-Tirmidzy No. 697 & Ibn Majah No. 1660. Dan hadits ini disahihkan oleh syekh al-Albaniy dalam kitab Shahih Sunan Abi Dawud 2/50 & Shahih Sunan al-Tirmidzy 1/375).

    2. Jika kalian melihat hilal maka berpuasalah dan jika melihatnya kembali maka berbukalah (ber hari raya ‘ied), lalu jika kalian terhalangi (tidak dapat melihatnya) maka perkirakanlah bulan tersebut. HR Al Bukhari, dalam Shahihnya, kitab Al Shiyaam, no. 1906 (lihat Fathul Bari op.cit hal.4/119) dan Muslim dalam Shahihnya kitab Al Shaum no 2500. Lihat Al Nawawi, Al Minhaaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, tahqiq Al Syaikh Khalil Ma’mun Syaikha, cetakan ketiga tahun 1417, Dar Al Ma’rifah, Bairut hal. 7/190

    3. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada para pemimpin/penguasa setelahku yang mengikuti petunjuk bukan dengan petunjukku dan menjalankan sunnah namun bukan sunnahku. Dan akan ada di antara mereka orang-orang yang memiliki hati laksana hati syaitan yang bersemayam di dalam raga manusia.” Maka Hudzaifah pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kulakukan jika aku menjumpainya?” Beliau menjawab, “Kamu harus tetap mendengar dan taat kepada pemimpin itu, walaupun punggungmu harus dipukul dan hartamu diambil. Tetaplah mendengar dan taat.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Imarah)

    4. Para sahabat bertanya : “Apakah kita harus memerangi mereka dengan pedang, wahai Rasulullah?”
    Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidak, selama ia menegakkan shalat dengan kalian. Ketahuilah, orang yang dikuasai oleh seorang penguasa, dan melihatnya mengerjakan maksiat kepada Allah, hendaknya ia membenci maksiat kepada Allah yang ia kerjakan dan tetap tidak melepaskan ketaatan kepadanya”.[HR Muslim : 3/1481]

    5. Barangsiapa ingin menasihati sulthan (penguasa) dengan suatu masalah, janganlah menampilkan kepadanya secara terang-terangan. Tetapi, hendaknya menggandeng tangannya dan untuk berduaan dengannnya. Apabila ia menerima darinya, maka itulah (yang diharapkan). Kalau tidak, berarti telah melaksanakan kewajibannya”. Hadits Hasan, HRTirmidxi 4/502, Musthafa Al-Babi, Cet II, Ash-Shahihah 5/376

    – HASIL SIDANG ISTBAT kemarin memutuskan awal puasa dimulai pada sabtu 21 juli 2012, berdasar pantauan petugas tim rukyat (MENGGUNAKAN “standar pengamatan” yang dikenal dengan Metode Imkanur Rukyat 2 derajat, dimana penampakan HILAL AKAN DIAKUI JIKA secara hisab berada diatas 2 derajat).
    Lihat :
    -> http://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/06/22/kriteria-imkanur-rukyat-khas-indonesia- titik-temu-penyatuan-hari-raya-dan-awal-ramadhan/
    -> http://www.kemenag.go.id/file/file/surat/fody1342711821.pdf

    – SEMENTARA di cakung dan cilincing dikabarkan beberapa saksi telah melihat hilal dan disumpah oleh kementrian agama setempat (saya bersama keluarga melihat ‘live’ di tvone prosesi pengambilan sumpahnya) namun persaksiannya ditolak pada sidang istbat dgn alasan tertentu.

    6. Diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra, katanya: “Orang-orang ramai ingin melihat hilal, lalu aku mengatakan kepada Rasulullah bahwa aku telah melihatnya, Rasulullah pun berpuasa dan menyuruh orang-orang berpuasa.” (HR. Abu Daud dan Ad-Daruquthni)

    7. “Datanglah seorang Baduwi menghadap Rasulullah, kemudian ia berkata: “Sungguh saya telah melihat bulan!” Kemudian beliau bersabda “Adakah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, jawabnya “Ya”, Beliau bersabda: “Adakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah pesuruh Allah?, jawabnya “Ya”. Beliau bersabda: “Hai Bilal, undanglah kepada orang banyak, supaya esok hari mereka berpuasa”. (HR.Ibnu Hibban, Daruquthni, Baihaqi, Hakim dari Ibnu Abbas r.a.)

    Seyogyanya pemerintah hrus bijak, meski sudah menerjunkan tim perukyat sendiri namun apabila ada persaksian dari rakyat hendaknya TIDAK langsung ditolak bgitu saja, melainkan dihadirkan ke ruang sidang untuk di mintai kterangan lbih lanjut.

    Namun berdasar hadis2 diatas dpt disimpulkan bhwa pnentuan 1 ramadhan/1 syawal/qurban hrus dgn rukyat (YANG SESUAI TUNTUNAN RASULULLAH SAW) dan dilakukan oleh pemimpin di suatu negeri (agar terjadi keseragaman/ kebersamaan)

    WALAUPUN PEMERINTAH KITA KORUPSINYA PARAH, NAMUN selagi mereka membolehkan rakyatnya shalat,puasa,zakat,memberangkatkan haji dan tidak terang2an menghalalkan kemunkaran yg nyata, MAKA sesuai sabda Rasulullah saw, adalah wajib bagi kita mentaatinya, meskipun ada sedikit kekhilafan yg mereka lakukan, sebatas tidak menyimpang jauh dari tuntunan Rasulullah saw. Dan wajib bgi kita mengingatkan pemimpin dgn cara2 yg diajarkan rasulullah saw.

    Ada sbuah hadis insya Allah shahih (saya lupa sumbernya) :

    (Dan Sesungguhnya kebenaran mereka (pemimpin) adalah bagi mereka dan bagi kita (rakyat), namun kesalahan mereka adalah bagi mereka saja).

    Wallahua’lam.

  3. Di Jakarta, hilal terlihat di Cakung dan Cilincing, pemerintah mengabaikan! lebih hebat dari Nabi?

    Saif Al Battar

    Kamis, 19 Juli 2012 22:45:20

    JAKARTA (Arrahmah.com) – Kamis petang (19/7/2012) Tim rukyatul-hilal di Cakung dan di Cilincing yang biasa dari tahun ke tahun memantau hilal dikabarkan sudah melihat hilal. Di Cakung hilal terlihat sekitar 3,5 derajat dan di Cilincing dengan posisi 4 derajat.

    perlu diketahui, arrahmah.com adalah website yang dikelola oleh orang-orang yang terpengaruh pemikiran khawarij, sehingga web tersebut salah satu postingannya adalah membeberkan aib-aib penguasa, yang menurut khawarij tidak berhukum dengan hukum islam

    kaum muslimin wajib mewaspadai hal ini, dan mereka memandang negara indonesia bukan negara islam, mereka kafirkan, bahkan negara saudi sendiri dikafirkan juga oleh mereka, sehingga pernah diposting di arrahmah.com ketika putra mahkota saudi meninggal, arrahmah.com memposting kegembiraan terhadap kematiannya, innalillahi wa inna ilaihi raji’uun.. bergembira terhadap kematian seorang muslim,

    Sehingga postingan tentang penentuan awal puasa ini juga diangkat oleh arrahmah.com dalam rangka melecehkan penguasa yang ada,

    inilah salah satu ciri-ciri khawarij, membeberkan aib penguasa di khalayak , seperti di internet,

    Jika kita membuka website arrahmah.com, voa islam, maka sangat banyak sekali celaan terhadap penguasa indonesia,

    dan masih sangat banyak website serupa,

    Dan janganlah kita juga ikut-ikutan seperti mereka, secara sadar atau tidak sadar, kita akan terpengaruhi pemikiran mereka,

    Padahal ancaman rasulullah terhadap orang-orang khawarij sangatlah tegas,.. mereka akan menjadi anjing-anjing penghuni neraka,

    Sesungguhnya di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, manakala sudah ada seseorang yang berhasil melihat hilal, Nabi tak bertanya berapa derajatnya. Sementara pemerintah RI melalui Kementerian Agama menentukan harus di atas 2 derajat.

    Jika diyakini hilal dalam posisi di bawah 2 derajat yang berarti itu tak diakui pemerintah (karena kurang dari 2 derajat tak terlihat), kenapa harus repot-repot melihat hilal dan bersidang itsbat?

    Dan, ternyata, alhamdulillah, di Cakung, Jakarta Timur, dan Cilincing, Jakarta Utara, tim rukyat di sana sudah berhasil melihat hilal masing-masing dengan posisi 3,5 dan 4 derajat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tatkala sudah ada yang menyatakan melihat hilal, langsung memerintahkan besoknya untuk melaksanakan shaum Ramadhan atau mengakhiri Ramadhan dan besoknya ber-idul fitri (1 Syawal).

    Di Cakung dan Cilincing, mereka yang melihat hilal sudah disumpah oleh Kementerian Agama setempat, dan hasilnya dikirim ke Kementerian Agama yang sedang melakukan sidang itsbat. Jika pemerintah (Kementerian Agama) melalui sidang itsbat ini tak mengakui kesaksian Tim Cakung dan Cilincing, maka itu berarti kembali mengulangi kefatalan yang sama saat penentuan 1 Syawal (idul fitri) tahun lalu, dimana pemerintah (Kementerian Agama dan MUI) dalam sidang itsbat menolak kesaksian Tim Cakung yang sudah melihat hilal.

    Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat seseorang datang kepada beliau, melapor sudah melihat hilal, tak pernah beliau menolak. Bahkan Rasulullah, setelah mengambil sumpah atas dasar kesaksian orang yang bersangkutan, langsung memerintahkan kaum Muslimin kala itu untuk melaksanakan shaum esoknya atau berbuka dan menetapkan 1 Syawal (idul fitri) keesokan harinya.

    Perlu diketahui, hak penguasa untuk menerima dan menolak persaksian seseorang tentang hilal,.. tidak ada kewajiban penguasa utk harus menerima setiap persaksian orang yang melihat hilal,

    Demikian juga dengan apa yang dilakukan pemerintah indonesia,.. pemerintah berhak untuk menerima dan menolak persaksian orang atau kelompok yang mengaku telah melihat hilal

    Dengan demikian, karena sudah ada pihak yang melihat hilal, maka esok, Jumat (20 Juli 2012) adalah awal Ramadhan, ibadah shaum dimulai.

    Dalam sidang itsbat yang digelar Kemenag Pusat, wakil dari Front Pembela Islam (FPI) dan ormas Islam An-Najah melaporkan Tim Cakung Jakarta Timur yang telah berhasil melihat hilal dengan posisi 3,5 – 4 derajat dan terlihat selama 4 menit.

    Dalam tuntunan Rasulullah, siapapun yang melihat hilal, maka setelah disumpah kesaksiannya, yang lain tinggal mengikuti. Jadi, bukan banyak mana yang melihat dan yang tidak, misalnya, lalu diputuskan mengukuti yang banyak yang tak melihat, bukan begitu caranya, bukan seperti sistem demokrasi yang memilih pemimpin berdasarkan suara terbanyak. Bukan.

    Jangan pula lantaran demi persatuan, demi persatuan, kemudian mereka yang berbeda dengan keputusan Menag di sidang itsbat, seakan tidak menjunjung persatuan. Jangan sampai, karena demi persatuan, lantas mengenyampingkan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Seorang tokoh MUI daerah prihatin dengan pola sidang itsbat yang digelar Kemenag Kamis malam (19/7/2012). Menurutnya, tak sama awal Ramadhan atau 1 Syawal bukan berarti simbol perbedaan. Dalam kasus ini penduduk Madinah pernah tak sama dengan Mu’awiyah di Syam saat menjadi khalifah. Para sahabat yang ada di Madinah ditanya, “Alam taktafii biru’yati Mu’awiyah? (Apakah rukyah Mu’awiyah tak cukup?” Mereka bilang, “Tidak.” (Jadi, itu artinya, tak ada kewajiban ikut pemerintah dalam hal ini).

    “Bayangkan, itu seorang khalifah, dan Mu’awiyah sangat faqih, bukannya pemerintah yang tak jelas, penuh korup,” ujarnya. “Apalagi, ini (hilal) sudah ada yang lihat. Berdosa saja pemerintah mengabaikan hal itu,” imbuhnya.

    Itu menandakan tiap daerah itu berbeda-beda, dan masing-masing negara berpuasa sesuai dengan hilal sdh tampak atau belum,
    Bukan menggunakan logika, letak kontur bumi,.. tapi awal puasa adalah terlihatnya hilal,
    Sangat mungkin jika di negeri bagian barat sudah terlihat hilal, akan tetapi di negeri timur belum,.. bisa jadi, mungkin tertutup awan, debu, dsb,.. dan jika demikian, sebagaimana kata rasulullah, genapkanlah menjadi 30 hari,

    Dan perlu diingat, penetapan awal puasa adalah hak pemerintah, hak penguasa negara setempat

    Tidak berdosa pemerintah menolak atau menerima persaksian tersebut,

    Justru yang berdosa adalah rakyat atau kelompok yang menyelisihi keputusan pemerintah, apalagi sampai membeberkan aib pemerintah, meremehkannya, mencelanya, menganggap pemerintah bodoh,..

    Bahkan orang yang seperti itu, atau ormas yang seperti itu pada hakekatnya merekalah sebagai pemecah belah umat, membuat umat bingung,

    Dalam sidang itsbat ini, jelas, memang tampak janggal. Janggalnya, 2 ormas Islam yang melaporkan Tim Cakung dan Cilincing telah melihat hilal, dengan posisi 3,5 dan 4 derajat selama kurang lebih 4 menit, sama sekali tak disinggung atau direspon oleh Menteri Agama.

    Hak mutlak ada di tangan penguasa, bukan di tangan ormas-ormas

    Menteri Agama menutup sidang dan menetapkan awal Ramadhan jatuh pada hari Sabtu tanggal 21 Juli 2012. Sama sekali mengabaikan Tim yang sudah melihat hilal.

    Malah wakil dari NU menyepelekan mereka yang sudah melihat hilal dan mempertanyakan kenapa ada dari hakim pengadilan agama setempat yang berani mengambil sumpah.

    Bagaimana ini bisa terjadi di dalam sidang itsbat yang terhormat itu? Nabi saja, meskipun yang mengaku melihat hilal adalah seorang badui, tapi dengan bijak dan seksama mendengar dan merespon, lalu menerima dan memutuskan untuk shaum atau beridul fitri esoknya.

    perlu kita ketahui, suku badui adalah suku pedalaman, dan sudah terkenal lugu dan aslinya,. tidak berdusta, apa adanya, polos, jadi sangat wajar rasulullah mengambil persaksian suku badui tersebut,

    Dan rasulullah kala itu sebagai ulil amri, sebagai penguasa,.
    Tidak bertentangan dalil yang anda cantumkan,..

    Pemerintah indonesia sebagai ulil amri, sebagai penguasa,. maka pemerintah berhak menerima dan menolak persaksian orang yang sudah melihat hilal,..

    mudah bukan,. jadi yang jadi patokan, pemerintah yang memutuskan, terserah infonya datang dari siapa saja,

    Karenanya, jika pemerintah (Kementerian Agama) menolak kesaksian Tim yang sudah jelas-jelas melihat hilal–dan disumpah pula oleh Hakim Pengadilan Agama Kementerian Agama setempat–apakah artinya Kementerian Agama dan sidang itsbat yang dipimpin oleh Menteri Agama itu lebih hebat dari Nabi?

    Justru yang ditanyakan, postingan arrahmah.com ini bermaksud untuk mencela pemerintah ya,.. tidakkah mereka takut dengan ancaman rasulullah bagi para pencela penguasa?
    Janganlah para pembaca terkecoh dengan website yang seoalah-olah menebarkan berita-berita tentang islam, padahal yang disebarkan adalah cara-cara orang-orang khawarij,.. na’udzubillahi min dzalik

    Tentang arrahmah.com silahkan baca disini

  4. satu lagi saya ndak setuju dengan kata ikut pemerintah,..pemerintah paling korup,..mana kita percaya menentukan puasa,..
    liat kemenag alqur’an aja di korupsi,..kok yow menentukan puasa,..hadaaaah sudahlah,.

    Ngga ada dalilnya dari rasulullah yang menetapkan itu pemerintah yang baik atau yang buruk,
    Bahkan ada hadits yang menyuruh kita mentaati pemerintah, walaupun pemerintah itu berkepala manusia dan berhati setan,.. ini tentu lebih parah dari sekedar korup,
    Urusan pemerintah korup , dll, itu urusan pemerintah dengan Allah, mereka akan dimintai pertanggunganjawab kelak di akherat,
    Dan kita sebagai rakyat juga akan dimintai pertanggunganjawab oleh Allah kelak, kenapa kita tidak mentaati penguasa atau pemerintah,
    Kita tidak akan ditanya bagaimana pemerintahan kita, tapi kita akan ditanya oleh Allah, bagaimana ketaatan kita kepada pemerintah,

    saya hanya akan berkomentar begini kalau pemerintah ikut hisab maka siap2lah pemerintah ga ada suaranya di depan mereka penganut rukyat,…

    terserah mau ga ada suaranya atau ada suaranya, ga ada hubunganya denga syariat rukyatun hilal ini

    dan anehnya mereka yang bilang rukyah,..jelas2 jadwal puasa,jadwal sholat dan gerhana semuanya hisab,…jelas tidak konsisten,…

    Utk awal puasa, ini ada dalil khusus tentang rukyatun hilal, jadi ngga dikenal menggunakan hisab,.. ini adalah perintah rasulullah,.. jika anda ingin konsisten, ya ikuti yang menggunakan rukyatun hilal, bukan yg mnggunakan hisab

    kalau konsisten rukyah maka kalau mau sholat duhur liat dulupas blm,..kalau mau subuhan ya liat dulu baru subuhan,..ini liat jadwal yang pake metode hisab,…hari ini puasa ketiga njenengan njenengan dan keempat buat saya,..coba di liat nanti malam bulannya udah kayak apa? pasti udah segede kebodohan yang bilang metode hisab itu sesat,…

    Utk shalat ada dalilnya , bisa diperkirakan,.. bukankah nanti ketika dajjal muncul, ada satu hari seperti setahun, sehingga harus menggunakan perkiraan /hisab,. jadi berbeda antara penentuan awal puasa dan waktu shalat,

    sekian wassalam,..fastabiqul khairat kawan

    wa’alaikumussalam warahmatullah,
    betul, fastabiqul khairat,.. sebarkan anjuran rasulullah, bukan anjuran selain rasulullah,
    begitu seharusnya kawan,

  5. apakah dimasa Rasulullah sudah ada ilmu hisab/astronomi?

    Sudah dikenal, karena bangsa arab adalah bangsa yg suka berpetualang utk dagang, melintasi padang pasir yang sangat luas, buat petunjuk arah, maka berbekal ilmu astronomi/perbintangan,

    Utk mengetahui musim dingin, musim panas, mereka menggunakan hisab,

  6. apakah dimasa Rasulullah SAW sudah ada ilmu hisab/ astronomi?

    Sudah ada, bahkan mereka sangat paham ilmu perbintangan, karena mereka sering berdagang dengan menempuh padang pasir yang sangat luas, juga mengarungi lautan,.. dan ilmu astronomi mereka diperlukan untuk menentukan arah mata angin, juga arah menuju tempat kembali mereka,

  7. Islam tdk diturunkan utk org Arab dan Indonesia aja, tp utk seluruh umat manusia. Bagaimana puasa org Islam yg ada di kutub utara yg cuma bisa lihat bulan 6 hari aja?
    Apa hrs terbang dulu ke Indonesia ngintip bulan baru mereka puasa.

    Terimakasih sudah berkomentar disini, alhamdulillah, saya postingkan artikel ini untuk pertanyaan anda,
    Islam diturunkan untuk semua manusia, baik tinggalnya di kutub utara atau selatan, atau di benua lainnya,
    Mudah-mudahan artikel ini bisa menjawab pertanyaan anda,
    Jazakumullahu khairan

    Silahkan dibaca disini

  8. Mas, misalkan hilal itu nempel di hidung anda, kalau persaksiannya ditolak oleh penguasa, ya wajib mengikuti keputusan penguasa mas,
    Kalau anda yang melihat hilal tsb, anda silahkan puasa sendirian,tanpa memberitahu orang-orang selain anda,

    kalau penguasa negeri itu adalah thoghut yang wajib diingkari apa juga wajib mengikuti keputusan penguasa negeri itu?

    Apa sih definisi thaghut itu?
    Apakah penguasa di negeri kita ini lebih kejam dari hajjaj bin yusuf yang membunuh para ulama?
    Apakah penguasa di negeri kita lebih buruk dari pemerintahan almakmun di jaman imam ahmad bin hambal, yang mengatakan alquran adalah makhluk, dan membunuh ulama yang tidak mau mengakui alquran adalah makhluk?

    Kedua penguasa model diatas saja masih wajib ditaati jika memerintah, selama bukan disuruh tuk berbuat maksiat,

    Apakah perintah yang dikeluarkan pemerintah yaitu untuk mengikuti penetapan awal puasa berdasarkan hilal itu adalah perbuatan maksiat??
    Bukan mas, itu bukan perbuatan maksiat,. justru jika kita tidak mentaati penguasa dalam hal ini, kita yang telah berbuat maksiat kepada pemerintah, dan kelak Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada orang-orang yang seperti itu,

  9. yang membuka aib dan menjelek-jelekkan pemerintah termasuk khawarij dan mereka adalah ANJING-ANJING penghuni neraka?

    Yang menjelek2 kan pemerintah itu adalah ciri2 pemikiran khawarij, tapi pelakunya blm tentu paham apa itu khawarij dan ancamannya,.
    Khawarij adalah anjing2 penghuni neraka, itu kata rasulullah, tapi jangan disalah pahami berarti orang yg mencela pemerintah langsung di cap seperti itu,.. banyak dari mereka yg mencela pemerintah karena kebodohan, hanya ikut-ikutan, atau termakan profokasi orang lain, termasuk mungkin tulisan para jurnalis,..

    Untuk vonis perorangan dia adalah khawarij, anjing2 neraka, itu masalah yg tdk enteng mas, masalah berat, makanya saya juga tidak memvonis, misalkan anda menjelek2kan pemerintah, lalu saya katakan anda khawarij, .. itu tdk berani saya katakan,.. saya hanya menyampaikan apa ciri2 khawarij, dan balasan bagi orang-orang khawarij,.. begitu mas, mudah2an tdk salah tafsir,

    Wah gimana sama pemberitaan-pemberitaan di media massa yang banyak mempublish kebobrokan pemerintah berdasarkan fakta? kaya skandal korupsi, abuse of power, anggota dewan kepergok nonton bokep pas paripurna, aparat bisa disuap dll dll

    Dengan memberitakannya kepada umum, sama saja anda sedang menginjak2 kehormatan penguasa,..
    Urusan mereka seperti itu, nanti allah yang akan mintai pertanggungan jawab, mereka akan mempertanggungjawabkan apa yg telah mereka lakukan,.
    Dan rakyat tidak berdosa dengan perbuatan mereka,.
    Nah media yang memberitakan hal tsb, dalam hal ini para jurnalis dan penanggungjawab media tersebut akan dimintai pertanggungan jawab dihadapan Allah kelak,.

    Kalau dilihat manfaatnya utk rakyat jika berita tsb dimuat, maka tidak ada manfaatnya sama sekali, bahkan kerusakan yang ada,
    Mau contoh, anda tahu kan presiden sukarno, kenapa beliau begitu berwibawa dimata rakyatnya?
    Kalau dulu media sudah sebebas sekarang, mungkin presiden sukarno sudah jadi bahan bual2an media yg ada,.. alhamdulillah dulu blm ada media2 yg serba bebas seperti sekarang ini,..

    Apa mereka juga termasuk calon anjing-anjing penghuni neraka padahal melakukan fungsinya sebagai anjing penjaga (watch dog) pemerintah maupun rakyat? wah wah, serem amat ya kalau nanti saya jadi calon penghuni neraka soalnya saya jurnalis. Apa yang saya kabarkan semata untuk mengunkap keberanaran atas kejahatan yang tidak diketahui rakyat

    jika yg dilakukan pemerintah itu betul seperti yg anda beritakan, dan faktanya memang seperti itu,ya itu disebut ghibah (makan bangkai saudara anda yg sudah mati,. kalau yg dighibah penguasa, ya berarti makan bangkai lebih banyak lagi, karena penguasa kan tidak satu orang)

    Betul, profesi sebagai wartawan adlah profesi yang beresiko berat dihadapan Allah kelak,.. mereka akan dimintai pertanggungan jawab dihadapan allah tentang apa yg ditulisnya,..

    Banyak dari jurnalis ini yg menulis berita bohong, kadang ghibah, dan ngga tanggung-tanggung yang dighibahi pemerintah,.. padahal mengghibahi satu orang saja sudah dosa besar, kebaikan kita akan diberikan kepada orang yg dighibahi, jika kebaikan kita tidak ada,maka dosa orang yg dighibahi akan dipindahkan kepada orang yg mengghibahi,..

    yang namanya ghibah adalah memaparkan aib seseorang kepada orang lain,.. walaupun aibnya betul terjadi , jika aib tersebut tdk terjadi,maka ini lebih berat dari ghibah, tapi buhtan,.. dosanya lebih besar lagi,

    Apalagi ghibahnya ini dikonsumsi orang banyak melalui media,baik media cetak atau media visual,.. jadi yg berprofesi sebagai jurnalis,.. berpikir ulanglah berjuta kali,..emang sebanyak apa sih amal kebaikan anda?

    Apalagi yg diungkap adalah aib atau kebobrokan penguasa, tentu ini lebih berbahaya lagi,.. berbahaya bukan untuk yg menyebarkan aib tersebut, tapi berbahaya utk seluruh rakyat,

    Tetangga anda saja jika aibnya dimuat di koran oleh anda, pasti marah besar, apalagi seorang penguasa,..

    Dan orang yang pertama kali mengorek2 aib penguasa, menyebarkannya ketengah-tengah manusia, itu dilakukan oleh orang-orang khawarij di jaman utsman bin affan, sehingga utsman bin affan dianggap telah KKN, sehingga di demo, dan utsman dibunuh oleh mereka,..

    Dan betul, media-media berita yang ada di indonesia, sebagian besar memberitakan aib pemerintah, sehingga negara kita tidak pernah kondusif, dilanda konflik terus menerus, rakyat menderita, harga barang kebutuhan pokok naik, bbm mahal,.. ini salah satu dampak dari hal tsb,..

    Berbeda ketika jaman suharto yang tegas, ada media mulai berani mengutik-utik penguasa, maka langsung dibredel, ada tokoh yg vokal, langsung dibungkam,.. makanya jika kita jujur dan mau berkaca, kondisi setelah reformasi hingga sekarang, itu masih mending ketika jaman suharto, harga terkendali, rakyat bisa makan kenyang, korupsi tdk sebanyak sekarang, media lebih sopan, acara-acara porno tidak berani tayang, … dan banyak lagi,

    Dan media-media yg ada sekarang, bukanlah media yang mendidik rakyat indonesia menjadi manusia yang cerdas,.. acara tv 99 persen gak bermanfaat, koran juga sama, majalah apalagi,. radio isinya hiburan,.. berita isinya mengumbar aib penguasa,..

    Lebih selamat anda ganti profesi, jangan jadi jurnalis, kecuali anda sudah punya cadangan kebaikan sepenuh bumi, dan itu saya rasa tidak cukup jika pekerjaan anda menulis berita ghibah thd manusia atau penguasa,

  10. Saya pembaca awam yang asal klik yang penting bisa menambah ilmu. Saya khawatir secara tidak sengaja saya membaca dan mengikuti uraian dari web yang dibuata oleh orang orang khawarij. Mas admin klo boleh saya usul di web/blog ini diberi peringatan sekaligus daftar nama nama web yang dibuat oleh khawarij/syiah. Terima kasih . . . .

    terimakasih mas,
    sebenarnya kalau kita mengetahui apa itu pemikiran khawarij, syiah, kita dengan sendirinya bisa menilai suatu web, apakah pemahaman pengelola web tsb, contoh saja web arrahmah.com, banyak kaum muslimin yg melihat dan membaca web tsb, padahal web tsb mengusung pemikiran khawarij, cirinya mudah, yaitu mudah mencela penguasa, silahkan lihat postingannya disini

    Untuk syiah, web2 yg mengusung pemikiran syiah dulu pernah saya posting, namun karena suatu hal saya hiden postingan tsb, yg jelas mereka mencela abu bakar, umar, aisyah, mengusung slogan cinta ahlul bait, persatuan, mengedepankan Ali, husain, mengelu2kan iran,
    silahkan akang cari sendiri saja di blog ini, insya Allah ada disitu penjelasan tentang syiah,.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*