Tuntunan Shalat Tarawih, adakah bacaan tertentu diantara shalat tarawih dan witir?

Tata Cara Shalat Tarawih 11 Rakaat Dan Bacaannya Doa Diantara Shalat Tarawih Bacaan Shalat Tarawih 11 Rakaat Bacaan Shalat Tarawih 23 Rakaat Bacaan Sholat Tarawih 11 Rakaat

shalat-terawihShalat tarawih adalah shalat yang hukumnya sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama. Shalat tarawih merupakan shalat malam atau di luar Ramadhan disebut dengan shalat tahajud. Shalat malam merupakan ibadah yang utama di bulan Ramadhan untuk mendekatkan diri pada Allah Ta’ala. Ibnu Rajab rahimahullah dalam Lathoif Al Ma’arif berkata, “Ketahuilah bahwa seorang mukmin di bulan Ramadhan memiliki dua jihadun nafs (jihad pada jiwa) yaitu jihad di siang hari dengan puasa dan jihad di malam hari dengan shalat malam. Barangsiapa yang menggabungkan dua ibadah ini, maka ia akan mendapati pahala yang tak hingga.”

Keutamaan Shalat Tarawih

Pertama: Shalat tarawih mengampuni dosa yang telah lewat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh Imam Nawawi (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39).

Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat dilakukan karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya (Lihat Fathul Bari, 4:251). Imam Nawawi menjelaskan, “Yang sudah ma’ruf di kalangan fuqoha bahwa pengampunan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa kecil, bukan dosa besar. Dan mungkin saja dosa besar ikut terampuni jika seseorang benar-benar menjauhi dosa kecil.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:40).

Lebih Semangat di Akhir Ramadhan

Selayaknya bagi setiap mukmin untuk terus semangat dalam beribahadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih dari lainnya. Di sepuluh hari terakhir tersebut terdapat lailatul qadar. Allah Ta’ala berfirman,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al Qadar: 3). Telah terdapat keutamaan yang besar bagi orang yang menghidupkan malam tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh dengan memperbanyak ibadahnya saat sepuluh hari terakhir Ramadhan. Untuk maksud tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menjauhi istri-istri beliau dari berhubungan intim. Beliau pun tidak lupa mendorong keluarganya dengan membangunkan mereka untuk melakukan ketaatan pada malam sepuluh hari terakhir Ramadhan. ‘Aisyah mengatakan,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula untuk menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:71)

Semangat Tarawih Berjama’ah

Sudah sepantasnya setiap muslim mendirikan shalat tarawih tersebut secara berjama’ah dan terus melaksanakannya hingga imam salam. Karena siapa saja yang shalat tarawih hingga imam selesai, ia akan mendapat pahala shalat semalam penuh. Padahal ia hanya sebentar saja mendirikan shalat di waktu malam. Sungguh inilah karunia besar dari Allah Ta’ala. Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

Barangsiapa yang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dicatat seperti melakukan shalat semalam penuh.” (HR. Tirmidzi no. 806, shahih menurut Syaikh Al Albani)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa shalat tarawih itu sunnah. Namun mereka berselisih pendapat apakah shalat tarawih itu afdhol dilaksanakan sendirian atau berjama’ah di masjid. Imam Syafi’i dan mayoritas ulama Syafi’iyah, juga Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa yang afdhol adalah shalat tarawih dilakukan secara berjama’ah sebagaimana dilakukan oleh ‘Umar bin Al Khottob dan sahabat radhiyallahu ‘anhum. Kaum muslimin pun terus ikut melaksanakannya seperti itu.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39).

11 ataukah 23 Raka’at?

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan dengan jumlah raka’at yang banyak.” (At Tamhid, 21/70). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai shalat malam, beliau menjawab,

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam itu dua raka’at-dua raka’at. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu shubuh, maka kerjakanlah satu raka’at. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749). Padahal ini dalam konteks pertanyaan. Seandainya shalat malam itu ada batasannya, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskannya.

Al Baaji rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi ‘Umar memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam sebanyak 11 raka’at.

Namun beliau memerintahkan seperti ini di mana bacaan tiap raka’at begitu panjang, yaitu imam sampai membaca 200 ayat dalam satu raka’at. Karena bacaan yang panjang dalam shalat adalah shalat yang lebih afdhol.

Ketika manusia semakin lemah, ‘Umar kemudian memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat sebanyak 23 raka’at, yaitu dengan raka’at yang ringan-ringan. Dari sini mereka bisa mendapat sebagian keutamaan dengan menambah jumlah raka’at.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27/142)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Semua jumlah raka’at di atas (dengan 11, 23 raka’at atau lebih dari itu, -pen) boleh dilakukan.

Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik.

Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh.

Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikit pun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Tuntunan Lain Shalat Tarawih

Shalat tarawih lebih afdhol dilakukan dua raka’at salam, dua raka’at salam. Dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749). Ulama besar Syafi’iyah, An Nawawi ketika menjelaskan hadits “shalat sunnah malam dan siang itu dua raka’at, dua raka’at”, beliau rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud hadits ini adalah bahwa yang lebih afdhol adalah mengerjakan shalat dengan setiap dua raka’at salam baik dalam shalat sunnah di malam atau siang hari.

Di sini disunnahkan untuk salam setiap dua raka’at. Namun jika menggabungkan seluruh raka’at yang ada dengan sekali salam atau mengerjakan shalat sunnah dengan satu raka’at saja, maka itu dibolehkan menurut kami.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:30)

Para ulama sepakat tentang disyariatkannya istirahat setiap melaksanakan shalat tarawih empat raka’at. Inilah yang sudah turun temurun dilakukan oleh para salaf. Namun tidak mengapa kalau tidak istirahat ketika itu. Dan juga tidak disyariatkan untuk membaca do’a tertentu ketika istirahat. (Lihat Al Inshof, 3/117)

Tidak ada riwayat mengenai bacaan surat tertentu dalam shalat tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, surat yang dibaca boleh berbeda-beda sesuai dengan keadaan. Imam dianjurkan membaca bacaan surat yang tidak sampai membuat jama’ah bubar meninggalkan shalat. Seandainya jama’ah senang dengan bacaan surat yang panjang-panjang, maka itu lebih baik. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1:420)

Menutup Shalat Malam dengan Witir

Shalat witir adalah shalat yang dilakukan dengan jumlah raka’at ganjil (1, 3, 5, 7 atau 9 raka’at). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً

Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751). Jika shalat witir dilakukan dengan tiga raka’at, maka dapat dilakukan dengan dua cara: (1) tiga raka’at, sekali salam [HR. Al Baihaqi], (2) mengerjakan dua raka’at terlebih dahulu kemudian salam, lalu ditambah satu raka’at kemudian salam [HR. Ahmad 6:83].

Dituntunkan pula ketika witir untuk membaca do’a qunut. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ditanya, ” Apa hukum membaca do’a qunut setiap malam ketika (shalat sunnah) witir?” Jawaban beliau rahimahullah, “Tidak masalah mengenai hal ini. Do’a qunut (witir) adalah sesuatu yang disunnahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun biasa membaca qunut tersebut. Beliau pun pernah mengajari (cucu beliau) Al Hasan beberapa kalimat qunut untuk shalat witir (Allahummahdiini fiiman hadait, wa’aafini fiiman ‘afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a’thait, waqinii syarrama qadlait, fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarakta rabbana wata’aalait, -pen) [HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464, shahih kata Syaikh Al Albani]. Ini termasuk hal yang disunnahkan.

Jika engkau merutinkan membacanya setiap malamnya, maka itu tidak mengapa. Begitu pula jika engkau meninggalkannya suatu waktu sehingga orang-orang tidak menyangkanya wajib, maka itu juga tidak mengapa. Jika imam meninggalkan membaca do’a qunut suatu waktu dengan tujuan untuk mengajarkan manusia bahwa hal ini tidak wajib, maka itu juga tidak mengapa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan do’a qunut pada cucunya Al Hasan, beliau tidak mengatakan padanya: “Bacalah do’a qunut tersebut pada sebagian waktu saja”. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa membaca qunut witir terus menerus adalah sesuatu yang dibolehkan. (Fatawa Nur ‘alad Darb, 2:1062)

Setelah witir dituntunkan membaca, “Subhaanal malikil qudduus”, sebanyak tiga kali dan mengeraskan suara pada bacaan ketiga (HR. An Nasai no. 1732 dan Ahmad 3/406, shahih menurut Syaikh Al Albani). Juga bisa membaca bacaan “Allahumma inni a’udzu bika bi ridhooka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” [Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri] (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An Nasai no. 1100 dan Ibnu Majah no. 1179, shahih kata Syaikh Al Albani)

Kekeliruan Seputar Shalat Tarawih

Berikut beberapa kekeliruan saat pelaksanaan shalat tarawih berjama’ah dan tidak ada dasarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

1. Dzikir berjama’ah di antara sela-sela shalat tarawih. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz berkata, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dzikir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11:190)

2. Melafazhkan niat selepas shalat tarawih. Imam Nawawi berkata, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Rowdhotuth Tholibin, 1:268).

3. Memanggil jama’ah dengan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Tidak ada tuntunan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Ini termasuk perkara yang diada-adakan (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:140).

4. Mengkhususkan dzikir atau do’a tertentu antara sela-sela duduk shalat tarawih, apalagi dibaca secara berjama’ah. Karena ini jelas tidak ada tuntunannya (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:144).

Semoga Allah memberikan kita kekuatan dan keistiqomahan untuk menghidupkan malam-malam kita dengan shalat tarawih. Wallahu waliyyut taufiq.

Panggang-Gunung Kidul, 28 Sya’ban 1432 H (30/07/2011)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

Bacaan Bilal Terawih 11 Rakaat Bacaan Sholat Tarawih Bacaan Shalat Tarawih Surat Surat Untuk Sholat Tarawih Bacaan Takbir Tarawih

22 Comments on Tuntunan Shalat Tarawih, adakah bacaan tertentu diantara shalat tarawih dan witir?

  1. Assalamu’alaikum warohmatullohi wabaro katuh

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Ustadzt, apakah dalam rokaat terakhir sholat witir di sunahkan membaca 3 surat (An-Nas, Al-Falaq, Ahad)? karena setiap mengikuti sholat witir ini selalu baca 3 Surat pendek tersebut

    Untuk lebih jelasnya, silahkan baca postingan ini

    Wassalamu’alaikum waroh matullohi wabaro katuh

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  2. assalamu alaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    mf kebanyakan nongol sana sini d situs ini. oh ya di atas nabi menyebutkan qiyamu ramadhan tp populere teraweh? npa bs begitu ya…….

    Shalat ini dinamakan tarawih yang artinya istirahat karena orang yang melakukan shalat tarawih beristirahat setelah melaksanakan shalat empat raka’at. Shalat tarawih termasuk qiyamul lail atau shalat malam. Akan tetapi shalat tarawih ini dikhususkan di bulan Ramadhan. Jadi, shalat tarawih ini adalah shalat malam yang dilakukan di bulan Ramadhan.[1]

    selengkapnya bisa baca disini

  3. oh ya hukum salat teraweh kan sunnah tp napa dilakukan berjamaah pa da hadis Nabi yg menunut itu.

    ya, ada, bahkan keutamaannya sangat besar,
    Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    من قام مع الإمام حتى ينصرف كتب الله له قيام ليلة

    “Orang yang shalat tarawih mengikuti imam sampai selesai, ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk” (HR. At Tirmidzi, no. 734, Ibnu Majah, no. 1317, Ahmad, no. 20450)
    itu anjuran shalat tarawih berjamaah bersama imam,

  4. ternyata dari Nabi tp npa khalifah umar bilang shalat berjamaah teraweh bidah?

    Sebab dijaman Umar para sahabat shalat tarawih berkelompok-kelompok, tidak satu imam, sehingga umar mengumpulkan mereka, dan bermakmum dengan satu imam, sebagaimana jaman Rasulullah, beliau melakukan tarawih dengan satu imam,..

    Adapun maksud ucapan bidah yang diucapkan umar adalah bidah secara bahasa, bukan bidah secara istilah, sebab umar tidak melakukan perbuatan baru yang tidak ada contohnya dari Rasulullah, bahkan umar mengembalikan tatacara shalat tarawih sebagaimana ketika jaman rasulullah,… mudah-mudahan bisa dipahami,

  5. assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    setelah melakukan sholat tarawih (setelah sholat isya’) apa masih bisa mengerjakan sholat tahajjud ( setelah bangun tidur) di malam hari..

    Setelah anda ikut shalat tarawih bersama imam hingga selesai, hingga imam salam, maka dicatat pahalanya seperti shalat semalam suntuk, itu jika anda mengikuti shalat tarawih hingga selesai imam salam.
    Boleh melakukan shalat malam setelah kita bangun tidur, dan anda jangan shalat witir lagi, karena tidak ada dua witir dalam satu malam

    karena saya baca sholat tarawih = shalat malam terima kasih

    Betul, shalat tarawih adalah shalat malam juga, hanya karena di bulan ramadhan, maka disebut shalat tarawih, dikerjakan berjamaah, jika shalat malam diluar ramadhan, maka tdk disunnahkan tuk berjamaah, tapi dikerjakan sendiri-sendiri

    wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  6. apakah hakikat dari pada hukum melaksanakan sholat tarawih?
    apakah makna dari kata tarawih itu sendiri?
    tahukah kita, bagaimana rasul saw dahulu melaksanakan sholat tarawih?
    apakah makna yang terkandung di dalam bacaan niat berpuasa?
    lantas dari kajian di atas semua, apakah pelaksanaan ibadah tarawih umumnya di indonesia, apakah tergolong kepada bid’ah?

    Lihat saja tatacaranya, bacaan-bacaan yang dibaca, tumaninah atau tidaknya,..
    Jika sesuai dengan contoh yang diajarkan oleh Rasulullah, maka tidak termasuk bidah,..

    Yg termasuk bidah diantaranya, adanya bacaan-bacaan diantara shalat tarawih, setiap di rakaat kedua membaca surat alikhlas, shalat kilat express yang tidak ada tumaninahnya,shalat menggunakan bilal padahal masjid kecil,malahan surau yg kecil,habis tarawih melafadzkan niat puasa ,.. dll

  7. “maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at,”…(dr artikel di atas), kalau di jumlah jd nya 13 rakaat, yg betul 13 apa 11 ya akhi?

    terimakasih mas rizal, jumlah rakaatnya 11 , 8 rakaat tarawih, dan 3 rakaat witir,
    adapun caranya shalat witir 2 rakaat salam dilakukan 4 kali, dan witir bisa langsung 3 rakaat langsung salam, atau 2 rakaat salam dan 1 rakaat salam,

  8. kalau aq malah shalat nya tengah malam menjelang sahur, atau sesudah sahur sendirian biar lbh kyusu.

    aq jarang shalat di masjid kecuali shalat wajib dan rawatib.shalat tahajud dan tarawih sama saja. cuma beda istilah doank. yg bkin dinamakan tarawih krn nabi muhammad saat shalat tahajud di masjid, sering istirahat. tiap selesai beberapa raka’at. tarawih arti nya istirahat atau santai. aq setuju shalat tarawih dilakukan berjamaah di masjin supaya bln ramadhan ramai dg org beribadah.

    Terimakasih mas luthfi, sudah komentar disini,.
    Ada ganjaran yang sangat besar bagi orang yang shalat tarawih bersama imam hingga selesai,.
    Yaitu akan dicatat seperti kita shalat semalam suntuk,.
    Mungkin anda bisa shalat khusyu, menurut anda, karena khusyu itu bukan menurut orang yang melakukannya,. tapi khusyu bisa didapatkan jika kita memiliki ilmu tentang shalat,. baik bacaannya, caranya, gerakannya,.

    Jadi jangan kita terkecoh, ingin shalat khusyu sendirian, tapi melepaskan pahala shalat malam semalam suntuk,. sebaiknya anda baca postingan ini, dan anda bisa memilih yang terbaik klik disini

  9. Adakah dalil yang shahih yang menyatakan bahwa pada saat witir harus membaca surat/ ayat tertentu ? dan pada witir rakaat ke 3 harus membaca 3 surat ( Al Ikhlas,surat al falaq dan surat annas ) ?
    trima kasih

    Terimakasih Effi, sudah komentar disini, ada hadits yang menjelaskan tentang bacaan surat dalam shalat witir, sudah pernah saya posting, silahkan lihat di postingan ini
    Mudah-mudahan bermanfaat,

    Doa setelah shalat witir juga sudah diposting disini

  10. Assalamu alaykum warohmatullah, ana mau nanya:
    1. mana yg lebih rojih witir 3 roka’at 1 salam atau 3 roka’at 2 salam?
    2. kalo kedua2nya rojih apakah dasar untuk memilih salah satunya? manakah yg paling sering dilakukan Rasulullah Sholallahu alaihi wassalam?
    3. bila melakukan witir 1 roka’at bagaimana posisi duduknya (apakah Iftirosy atau tawarruk?)
    tolong sertakan riwayat haditsnya ya.

    Jazakallah

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
    Terimakasih sudah komentar disini,.
    1. Kedua-duanya bisa diamalkan, karena ada contohnya dari rasulullah, sesekali mengerjakan yang 3 rakaat langsung salam, dan sesekali mengerjakan 3 rakaat dengan dua salam
    2. agar bisa mengamalkan kedua sunnah tersebut, maka bisa dikerjakan bergantian, misalkan hari ini mengerjakan 3 rakaat langsung salam, maka di kesempatan lain mengerjakan yang 3 rakaat dengan dua salam, lebih detailnya utk pertanyaan no. 1 dan 2 sudah saya posting disini
    3. duduk di akhir salam adalah duduk tawaruk , silahkan lihat postingan ini

    Jazakumullahu khairan

  11. Assalamualaikum
    saya pengin tanya jika kita duduk tasyahud akhir pd semua shalat sunah 2 raakat,apakah duduknya iftirasy atau tawaruk? apakah ini juga berlaku untuk shalat subuh juga? mohon penjelasannya

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    terimakasih kang Dhadhik, sudah komentar disini,.
    untuk shalat 2 rakaat, cara duduknya adalah duduk iftirasy, bisa juga duduk tawaruk, masalah ini ada perselisihan di kalangan para ulama, ada dalil-dalil yang menunjukkan akan posisi duduk tersebut, jadi boleh sekali-kali kita mengamalkan salah satu dari posisi duduk tersebut,

    • ohhh gituu,terimakasih atas penjelasannya
      Assalamualaikum warahmatullah

      Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  12. Assalamulaikum wr wb.
    maaf mau tanya kenapa jumlah rakaat tarawih antara wahabi indonesia dan arab saudi berbeda ya . indonesia 11 rakaat + witir , arab kalau g salah 35 rakaat + witir .

    syukron.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    Mau 11 rakaat atau 23 rakaat, itu tidak masalah, yang penting pelaksanaanya sesuai cara shalat rasulullah, yaitu dijaga tuma’ninahnya, bukan shalat 23 rakaat yang super cepat, alias kilat ekspress, sebagaimana dilakukan oleh sebagian yang ngaku sebagai ASWAJA, contohlah shalat tarawih di saudi, 23 rakaat juga tidak super ngebut, sebagaimana bisa kita saksikan di indonesia, di jakarta pun ada, silahkan lihat postingan shalat kilat ekspress disini

    Tatacara shalat tarawih dan berapa jumlah rakaatnya, silahkan lihat postingan ini, biar tidak bingung,. klik link ini

    • terima kasih atas jawabannya.
      kayak nya wahabi indonesia mulai mau memisahkan diri dari induk nya wahabi saudi, why ???.
      karena sudah berani berbeda dengan induknya ( wahabi kan paling ga suka liat perbedaan ).
      sholat tarawih berbeda bilangan rakaatnya.
      syech albani melarang pengikut nya punya TV, wahabin indonesia rajin mendirikan TV ( rodja dan ahsan).
      syech nya sholat pakai gamis, pengikut nya sholat pakai celana.
      aduh … saya takut jangan2 kayak di iraq nanti nya, buat khilafah sendiri.

      Saudi bukanlah patokan kebenaran, jadi SALAH BESAR bahwa salafi itu adalah saudi sebagai acuannya,.
      Salafi jauh sebelum negara saudi ada dakwah salaf sudah ada, bahkan Imam bukhari menyebut bab khusus tentang salaf, padahal negara saudi belum lahir, Syaikh muhammad bin abdul wahhab pun belum lahir,.
      Salafi bukan ormas,kelompok, silahkan baca di postingan ini

      Tentang pakaian gamis, celana, sudah saya postingkan spesial untuk anda dan pembaca semua, silahkan lihat disini

  13. kenapa ngak ada bacaan niat shalatnya sih ?

    Terimakasih mba hasanatul khairiah, sdh komentar disini,.
    Niat itu adalah perbuatan hati, bukan perbuatan lisan,
    Dalam shalat kita wajib menjaga dan menghadirkan niat dari awal takbiratul ihram hingga salam, jadi niat tersebut bukan HANYA DI AWAL SHALAT,. tapi menyertai dari awal shalat hingga salam,

    Adapun bacaan ushali, atau nawaitu dst,. itu tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah, jadi tidak boleh diamalkan, silahkan baca ulasannya disini

  14. mas admin…

    sy mnympaikan terimakasih yg mndalam atas ilmunya dari web site yg baik ini.
    smga Alloh slalu mnjaga mas admin,klrga dan smua yg mmbntu dlm kbaikan.
    jazakumullohu khairan katsir.

    ijin mnybarkn ilmunya ya

    Aamiin,.
    Jazakumullahu khairan,.
    Silahkan,.

  15. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan,

    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ ، فَصَلَّى فِى الْمَسْجِدِ ، فَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلاَتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا ، فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَصَلَّوْا مَعَهُ ، فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ ، فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَصَلَّوْا بِصَلاَتِهِ ، فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ ، فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ ، فَتَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ « أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَىَّ مَكَانُكُمْ ، لَكِنِّى خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا »

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam keluar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid, orang-orang kemudian mengikuti beliau dan shalat di belakangnya. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut shalat dengan beliau.

    Dan pada waktu paginya orang-orang kembali membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam yang ketiga orang-orang yang hadir di masjid semakin bertambah banyak lagi, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk shalat dan mereka shalat bersama beliau.

    Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jama’ah hingga akhirnya beliau keluar hanya untuk shalat Shubuh. Setelah beliau selesai shalat Fajar, beliau menghadap kepada orang banyak membaca syahadat lalu bersabda:

    “Amma ba’du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam).

    Akan tetapi aku takut shalat tersebut akan diwajibkan atas kalian, sementara kalian tidak mampu.”

    Apakah ini mengandung arti bahwa, sholat tarwih nabi setelah 3 hari dilakukan dirumah karena takut dianggap wajib? Dan mengapa admin lebih menganjurkan kepada yang dilakukan umar yaitu berjama’ah dimasjid, tidak mengikuti nabi saja sholat tarwih dirumah?

    Mohon penjelasan?

    Penjelasannya, simpel saja mas,.
    Rasulullah sudah meninggal, wahyu sudah terputus,.
    Dan Umar menghidupkan apa yang dulu Rasulullah kerjakan,
    Dan tidak ada ketakutan lagi jika tarawih dengan satu imam itu menjadi wajib,.

    Ingat,. sebelum umar mengumpulkan menjadi satu imam, bukan tidak ada tarawih, tapi ada, jadi dalam satu masjid itu para sahabat shalat beberapa kelompok dengan masing-masing imamnya,. lalu umar menjadikannya satu imam, sebagaimana Rasulullah juga melakukan tarawih dengan satu imam,.

    Kalau rasullah melakukan terus menerus, takutnya itu akan menjadi diwajibkan, sebab wahyu masih turun, dan Rasulullah itu amat sayang kepada umatnya, tidak mau memberatkan umatnya,.

  16. Maaf akhi… agaknya yang ini hanya sebagian yang di kutip… dan tidak yang lainnya.. padahal ada beberapa hal disitu yang berbeda…
    dan hal ini tidak disepakati oleh semua ulama…

    3. Memanggil jama’ah dengan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Tidak ada tuntunan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Ini termasuk perkara yang diada-adakan (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:140).

    redksinya juga kayaknya kurang tepat…. maaf…

    4. Mengkhususkan dzikir atau do’a tertentu antara sela-sela duduk shalat tarawih, apalagi dibaca secara berjama’ah. Karena ini jelas tidak ada tuntunannya (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:144).

    hanya komen…. dan tidak saling menyalahkan…

    Siapa yang dimaksud sebagai ULAMA yang anda maksudkan?
    Para sahabat yang sebagai murid-murid langsung Rasulullah saja tidak melakukan, maka jika ada orang yang dianggap ULAMA yang melakukan, maka hal tersebut TIDAK DIANGGAP,. karena menyelisihi perbuatan Rasulullah dan para sahabat,.
    Jadi jika ada yang melakukan, itu bukanlah sebagai ikhtilaf atau perbedaan diantara ulama, tapi iftiraq, atau perpecahan,.
    Sahabat saja sepakat tidak melakukan hal tersebut, jadi apa yang dilakukan orang yang dianggap sebagai ulama, itu merupakan penyelisihan dari amalan yang benar, jadi yang dilakukan “ulama” tersebut keliru,

    • oh ya….
      jadi Nabi dan Sahabat saja yang boleh ikuti pendapatnya… kendati Imam madzhab berpendapat juga….,

      Siapa yang mengatakan seperti itu?
      Marilah kita membaca, apa yg dikatakan oleh para imam madzhab tersebut,. tidak ada satupun imam madzhab yang mengajak agar mengikuti pendapatnya,. mereka mengajak agar umat ini mengikuti dalil, mengikuti petunjuk rasulullah,.

      Jika sudah ada petunjuk rasulullah, para imam madzhab juga TIDAK BERANI berpendapat, tapi mereka tunduk dan patuh pada petunjuk rasulullah,.
      Perkataan imam madzhab,
      Imam Abu Hanifah berkata: ”Haram bagi seseorang mengemukakan pendapat kami, sampai dia mengetahui dari mana kami mengambilnya”.

      Dan Imam Malik, sambil memberikan isyarat ke arah makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata : ”Semua orang, perkataannya bisa diambil dan bisa ditolak, kecuali perkataan orang yang ada di dalam kuburan ini,” yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

      Imam Syafi’i berkata : ”Jika ada hadits shahih, maka itulah madzhabku”. silahkan lihat perkataan para imam madzhab, ulasannya ada disini

      Haruskah kita bermadzhab? baca ulasannya disini

      • banyak dalil yang dipakai oleh para imam… masalah waris juga ada diantara para imam mazhab berpendapat…..

        Imam Syafi’i berkata : ”Jika ada hadits shahih, maka itulah madzhabku”. maaf saya ingin tahu ini diambil dari kitab beiau yang mana…, kayaknya redaksi yang benar tidak seperti itu….

        fanatik mazhab tentunya tidak boleh dan itu disefakati… tapi tidak boleh bermadzhab? saya belum tahu….

        Silahkan lihat disini

  17. 2. Melafazhkan niat selepas shalat tarawih. Imam Nawawi berkata, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Rowdhotuth Tholibin, 1:268).

    3. Memanggil jama’ah dengan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Tidak ada tuntunan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Ini termasuk perkara yang diada-adakan (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:140).

    4. Mengkhususkan dzikir atau do’a tertentu antara sela-sela duduk shalat tarawih, apalagi dibaca secara berjama’ah. Karena ini jelas tidak ada tuntunannya (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:144).

    perlu kutip seluruhnya kayaknya…. agar tidak terjadi pemahaman sebelah… terima kasih

    Maksudnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*