Dakwah Harus Ikhlas Dan Tanpa Memasang Tarif

TUGAS DAKWAH

Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Mengajak manusia menuju agama Allah merupakan salah satu ibadah yang agung, manfaatnya menyangkut orang lain. Bahkan dakwah menuju agama Allah merupakan perkataan yang paling baik. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَآ إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru menuju Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. [Fushshilat:33].

Dakwah mengajak kepada agama Allah merupakan tugas para nabi, maka cukuplah sebagai kemuliaan bahwa para da’i mengemban tugas para nabi. Allah Azza wa Jalla memerintahkan RasulNya untuk mengatakan, dakwah merupakan jalan Beliau, dengan firmanNya:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَ مَآ أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (ilmu dan keyakinan). Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [Yusuf:108].

Karena dakwah merupakan ibadah, maka harus dilakukan dengan keikhlasan dan mengikuti Sunnah Nabi. Sebagaimana telah maklum, dua perkara ini merupakan syarat diterimanya ibadah.

IKHLAS DALAM DAKWAH

Seorang da’i harus memurnikan niatnya untuk mengajak kepada agama Allah, semata-mata mencari ridhaNya, bukan mengajak kepada dirinya sendiri, kelompoknya, atau pendapat dan fikirannya. Juga tidak dengan niat untuk mengumpulkan harta, meraih jabatan, mencari suara, atau tujuan dunia lainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلَ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni (ikhlas) untukNya dan untuk mencari wajahNya. [HR Nasa-i, no. 3140. Lihat Silsilah Ash Shahihah, no. 52; Ahkamul Janaiz, hlm. 63].

Oleh karena itulah, Allah subhanahu wata’ala memerintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatakan, bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meminta upah dalam menyampaikan Al Qur`an kepada mereka.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

قُل لآ أَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ

“Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al Qur`an)”. Al Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat.” [Al An’am : 90].

Karena, jika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta upah, maka hal itu akan menyebabkan umat menjadi keberatan dan menjauh.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di t berkata di dalam tafsirnya: “Yaitu:

Aku tidak meminta pajak atau harta dari kamu sebagai upah tablighku dan dakwahku kepada kamu; karena itu akan menjadi sebab-sebab penolakan kamu. Tidaklah upahku, kecuali atas tanggungan Allah”. [Taisir Karimir Rahman, surat Al An’am : 90].

Dalam ayat lain Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَمْ تَسْئَلُهُمْ أَجْرًا فَهُم مِّن مَّغْرَمٍ مُّثْقَلُونَ

“Ataukah engkau meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang”. [Ath Thur : 40].

Dakwah dengan tanpa meminta upah, itu merupakan bukti kebenaran dakwah tersebut.

Allah Azza wa Jalla mengisahkan tiga rasulNya yang diutus bersama-sama, kemudian semuanya diingkari oleh kaum mereka. Selanjutnya:

وَجَآءَ مِنْ أَقْصَا الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ اتَّبِعُوا مَن لاَّ يَسْئَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota dengan bersegera, ia berkata: “Hai kaumku ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tidak meminta upah (balasan) kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [Yasin : 20-21].

Nabi-nabi zaman dahulu juga tidak meminta upah kepada kaum mereka. Allah Azza wa Jalla memberitakan bahwa Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Luth, Nabi Syu’aib -‘alaihimus salam- berkata kepada kaumnya masing-masing:

وَمَآ أَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam”. [Asy Syu’ara’ ayat 109, 127, 145, 164, 180].

Maka fenomena pada zaman ini, yang sebagian “mubaligh” membuat tarif untuk tablighnya, merupakan perkara yang menyelisihi syari’at. Sebagian ada yang memasang tarif untuk berceramah di kota yang dekat dengan Rp. 500.000,00 setiap jamnya. Jika bersama group musiknya (rebana!) tarifnya meningkat menjadi 1.500.000,00. Semakin jauh tempat yang dituju untuk berceramah, semakin tinggi pula tarifnya!

Seandainya yang disampaikan oleh para mubaligh itu merupakan kebenaran, maka memasang tarif dalam dakwah itu merupakan kesalahan, apalagi jika yang disampaikan di dalam ceramah-ceramah itu ternyata dongeng-dongeng, lelucon-lelucon dan nyanyian-nyanyian yang dibumbui dengan nasihat-nasihat agama, maka itu merupakan kemungkaran, walaupun dinamakan dengan nama yang indah. Karena hal itu bertentangan dengan jalan para nabi dalam berdakwah.

Namun, jika seseorang berdakwah dengan benar dan ikhlas, kemudian dia diberi harta, sedangkan dia tidak mengharapkannya dan tidak memintanya, tujuannya hanyalah berdakwah, baik dia mendapatkan harta itu atau tidak, maka –insya Allah- menerimanya tidak mengapa. Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطِينِي الْعَطَاءَ فَأَقُولُ أَعْطِهِ مَنْ هُوَ أَفْقَرُ إِلَيْهِ مِنِّي فَقَالَ خُذْهُ إِذَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ شَيْءٌ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ وَمَا لَا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ

“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pemberian kepadaku, kemudian aku mengatakan: “Berikan kepada orang yang lebih miskin daripadaku,” maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Ambillah itu! Jika datang kepadamu sesuatu dari harta ini, sedangkan engkau tidak memperhatikan (yakni mengharapkan, Pen) dan tidak meminta, maka ambillah itu! Dan yang tidak, maka janganlah engkau mengikuti hawa-nafsumu terhadapnya!” [HR Bukhari, no. 14734].

Dengan demikian maka sepantasnya seorang dai juga memiliki pekerjaan dan usaha untuk mencukupi kebutuhannya, sehingga dia tidak menggantungkan kepada umat. Karena sesungguhnya makanan terbaik yang dimakan oleh seseorang ialah hasil keringatnya sendiri.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seorangpun memakan makanan sama sekali yang lebih baik daripada dia makan dari pekerjaan tangannya. Dan sesungguhnya Nabi Allah, Dawud Alaihissallam, dia makan dari pekerjaan tangannya” [HR Bukhari, no. 2072].

Selain ikhlas, di dalam berdakwah wajib mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sehingga seseorang berdakwah berdasarkan ilmu, hikmah dan kesabaran. Tidak berdakwah dengan bid’ah dan kemaksiatan. Karena memang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan panutan terbaik bagi umat Islam dalam segala perkara, termasuk di dalam berdakwah menuju agama Allah.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kamu (umat Islam, yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (pahala) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. [Al Ahzab:21].

DAKWAH, TANGGUNG JAWAB SIAPA?

Setelah kita mengetahui keutamaan dakwah menuju agama Allah, kemudian apakah hukum dakwah ini dan siapakah yang bertanggung jawab terhadapnya? Sesungguhnya para ulama sepakat bahwa dakwah menuju agama Allah hukumnya wajib. Hal ini berdasarkan perintah Allah untuk berdakwah sebagaimana terdapat di beberapa tempat di dalam Al Qur`an.

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada dari kamu satu umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung”. [Ali Imran:104].

اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”. [An Nahl:125].

وَلاَ يَصُدَّنَّكَ عَنْ ءَايَاتِ اللهِ بَعْدَ إِذْ أُنزِلَتْ إِلَيْكَ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ وَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka ke (jalan) Rabb-mu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb”. [Al Qashshash:87].

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. [Ali Imran:110].

Ayat-ayat di atas secara tegas memerintahkan berdakwah, oleh karenanya para ulama sepakat tentang kewajiban dakwah ini. Akan tetapi, kemudian mereka berselisih menjadi dua pendapat:

1). Hukum dakwah adalah fardhu kifayah.

2). Hukum dakwah adalah fardhu ‘ain, sesuai dengan kemampuan setiap orang. Perbedaan pendapat ini, antara lain disebabkan oleh pemahaman terhadap firman Allah Azza wa Jalla surat Ali Imran ayat 104, artinya : Dan hendaklah ada dari kamu satu umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.

Ada dua pendapat ulama tentang tafsir ayat ini:

1). Bahwa مِنْ di dalam firman Allah مِنْكُمْ (dari kamu) untuk menjelaskan jenis. Yaitu, “jadilah kamu semua demikian”, bukan satu orang tanpa yang lain. Dan yang sama semisal ayat ini ialah firman Allah Ta’ala:

وَإِن مِّنكُمْ إِلاَّ وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّا

“Dan tidak ada seorangpun dari kamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabb-mu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan”. [Maryam:71]. Ayat di atas tidak membedakan antara manusia satu dengan lainnya, tetapi ditujukan kepada umat semuanya, masing-masing orang sesuai dengan kemampuan dan kesanggupannya.

2). Bahwa مِنْ di sini untuk menunjukkan sebagian. Maknanya ialah, bahwa orang-orang yang menyuruh (kepada yang ma’ruf) wajib menjadi ulama, dan tidak setiap orang itu ulama.[1]

 Syaikh Bakr Abu Zaid berkata: “Umat di sini (pada ayat 104 surat Ali Imran) adalah umat ulama, orang-orang yang Allah menjadikan baik kebanyakan umat dengan mereka (ulama itu)”.[2]

 Di antara ulama yang berpendapat hukum berdakwah fardhu kifayah ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau rahimahullah menyatakan: “Dan dengan ini telah menjadi jelas, dakwah menuju (agama) Allah wajib atas setiap muslim. Akan tetapi kewajiban itu adalah fardhu kifayah. Dan sesungguhnya, hal itu menjadi wajib ‘ain atas seseorang yang dia mampu, jika tidak ada orang lain yang melakukannya. Inilah urusan amar ma’ruf (memerintahkan kebaikan), nahi mungkar (melarang kemungkaran), tabligh (menyampaikan) yang dibawa oleh Rasul, jihad fi sabililah, mengajarkan iman dan Al Qur`an”.[3]

 Demikian juga Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, beliau rahimahullah berkata: “Para ulama telah menerangkan, bahwa dakwah menuju (agama) Allah Azza wa Jalla (hukumnya) fardhu kifayah berkaitan dengan daerah-daerah yang para da’i tinggal padanya. Karena sesungguhnya setiap daerah dan penjuru membutuhkan dakwah dan kegiatan padanya. Maka hukumnya adalah fardgu kifayah. Jika orang yang telah mencukupi telah melakukan dakwah, kewajiban itu gugur dari orang-orang yang lain. Dan jadilah hukum dakwah atas orang-orang yang lain itu menjadi sunnah muakaddah (sunnah yang ditekankan) dan sebuah amalan shalih yang agung”.[4]

 Adapun di antara ulama yang berpendapat hukum dakwah fardhu ‘ain, sesuai dengan kemampuan setiap orang, yaitu Imam Ibnu Katsir. Dalam tafsirnya, beliau rahimahullah berkata: Allah Ta’ala berfirman, hendaklah ada dari kamu satu umat yang bangkit untuk melaksanakan perintah Allah di dalam dakwah (mengajak) menuju kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. Adh Dhahhak mengatakan, mereka adalah para sahabat Nabi yang khusus, dan para perawi (hadits) yang khusus, yakni para mujahidin dan ulama… Dan maksud dari ayat ini (ialah), hendaklah ada sekelompok dari umat ini yang mengurusi perkara ini, walaupun itu merupakan kewajiban atas setiap pribadi dari umat ini sesuai dengan (keadaan atau kemampuan) nya. Sebagaimana telah disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu [5], dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya, jika dia tidak mampu, maka dengan lidahnya, jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemah iman. Dalam satu riwayat disebutkan :

وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ

“Dan tidak ada di belakang itu keimanan seberat sebiji sawi”.[6]

 Imam Ahmad meriwayatkan dari Hudzaifah bin Al Yaman, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْ عِنْدِهُ ثُمَّ لَتَدْعُنَّهُ فَلَا يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ

“Demi (Allah) Yang jiwaku di tanganNya, sungguh benar-benar kamu memerintahkan yang ma’ruf dan sungguh benar-benar kamu melarang yang mungkar, atau sungguh benar-benar Allah hampir akan mengirimkan siksaan kepada kamu dari sisiNya, kemudian kamu sungguh-sungguh akan berdoa kepadaNya, namun Dia tidak mengabulkan bagi kamu”. Juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits Amr bin Abi Amr dengan hadits ini. Tirmidzi mengatakan: “Hasan”.[7]

Dan hadits-hadits dalam masalah ini banyak, serta ayat-ayat yang mulia sebagaimana akan datang tafsirnya pada tempat-tempatnya. Lihat Tafsir Al Qur’anil Azhim, surat Ali Imran ayat 104.

KAPAN DAKWAH MENJADI FARDHU ‘AIN?[8]

Kemudian hukum dakwah yang asalnya fardhu kifayah, (atau fardhu ‘ain sesuai dengan kemampuan setiap orang, sebagaimana telah dijelaskan di atas) menjadi fardhu ‘ain dalam keadaan-keadaan tertentu. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata: “Dan terkadang kewajiban (dakwah) itu menjadi fardhu ‘ain, jika engkau berada di suatu tempat yang di sana tidak ada orang yang menunaikannya selainmu”.[9]

Beliau rahimahullah juga menjelaskan: “Di saat sedikitnya da’i, di saat banyaknya kemungkaran-kemungkaran, di saat dominannya kebodohan, seperti keadaan kita hari ini, dakwah menjadi fardhu ‘ain atas setiap orang sesuai dengan kemampuannya”. Jika keadaan kita pada zaman ini demikian, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Bin Baz rahimahullah, maka siapakah yang akan ikut berlomba di dalam kebaikan, berdakwah menuju agama Allah, dengan ilmu, ikhlas dan mengikuti Sunnah? Hanya Allah tempat mohon pertolongan. [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Footnote

[1]. Lihat Ad Dakwah Ila Allah, hlm. 115-116, Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi Al Atsari.

[2]. Hukmul Intima’, hlm. 132.

[3]. Majmu’ Fatawa (15/166).

[4]. Wujubu Dakwah Ila Allah wa Akhlaqud Du’at, hlm. 16, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Penerbit Darul Wathan.

[5]. Beginilah yang tertulis di dalam Tafsir Ibnu Katsir, namun yang benar ialah dari Abu Sa’id Al Khudri sebagaimana tersebut di dalam Shahih Muslim, no. 49, Pen.

[6]. Hadits ini bukan lafazh lain dari hadits di atas, tetapi hadits lain riwayat Muslim, no. 50, dari Abdullah bin Mas’ud, Pen.

[7]. Syaikh Salim Al Hilali menyatakan, hadits ini berderajat hasan dengan seluruh penguatnya. Lihat Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhush Shalihin (1/283), no. Hadits 193.

[8]. Yakni dakwah, amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan fardhu ‘ain sesuai dengan kemampuan setiap orang, Pen.

[9]. Wujubu Dakwah Ila Allah wa Akhlaqud Du’at, hlm. 17, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Penerbit: Darul Wathan.

Referensi: https://almanhaj.or.id/2713-tugas-dakwah.html

Terms:

biaya ustadzah mumpuni (1), Tarif ceramah Ustadzah Mumpuni (1)...

22 pemikiran pada “Dakwah Harus Ikhlas Dan Tanpa Memasang Tarif”

  1. Akan datang suatu zaman dimana ayat2 Allah akan diperjual belikan (Hadis Muslim) kini zaman tersebut telah datang..wahai kaum muslimin ber-hati2lah…lebih baik kita baca Al Qur’an dan tafsirnya daripada mendengar tausiyah dari ustad2 yang beceramah bukan karena Allah tapi karena tarif.

    Balas
  2. Katakanlah: Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 34:47)

    Balas
  3. Televisi hanya menghadirkan ceramah yang bisa diterima masyarakat luas “supaya laku dan TV untung”. Kalau ceramah yang ilmiah (yang biasanya kontra dengan kebiasaan masyarakat kita), agak kurang bisa diterima dan pihak TV cenderung rugi. mohon koreksi kalau ada salah.

    Ya berdakwah mengikuti setingan televisi untuk maraih pemirsa sebanyak-banyaknya, ngejar rating,..

    Balas
  4. Sekarang nampaknya mudah sekali mendapat status ” USTADZ ” dan ” ULAMA ” tidak ada seleksi dari MUI, dgn modal sediki hafal/tahu hadist, mengerti tafsir ayat2 tertentu, dan bisa melawak, teriak2 yg tdk ada kaitannya dgn dakwah……tampil di TV…sudah bisa bergelar ” Ustadz “……terus teraNg, kalau saya menilai isi ceramahnya hanya tidak bermakna dan tidak ber bobot, lebih baik dakwah ulama2 di kampung / pemuka agama yg tidak menetapkan tarip, mengerti dan dapat menterjemahkan isi kitab kuning……

    Terimakasih pak haji,
    Memang inilah tanda-tanda hari kiamat, sebagaimana kata rasulullah, akan banyak tukang ceramah, tapi tidak berilmu,.

    Balas
  5. Kalo ada ustadz Ahlussunnah yg diundang salah satu TV gimana? Mau gak yach? Kira2 dibayar gak ?

    ngga perlu mbayar mas, gratis,.. bahkan dulu pernah ada ustadz kita yg ngisi di tv, malah kita yg mbayar ke tv tsb,. jadi boro2 dibayar, malah ngeluarin duit agar bisa tampil di tv,. alhamdulillah sudah ada tv dakwah, silahkan simak rodja tv via parabola

    Balas
  6. Innalillah wainna ilaihi rajiun..

    semoga kita terjau dari fitnah dunia…

    berharap amal yang tetapi terpleset karena kemilau harta…

    para ulama salaf dahulu berdakwah juga bekerja bahkan tidak jarang mereka sendiri membiayai muridnya atau bersedekah….

    rumah-rumah mereka tidak seperti istana…

    bahkan sangat sederhana dan sederhana lagi…

    serta selalu mengingatkan akan bahaya riya..

    semoga kita terlindung dari penyakit riya dan gila harta

    Balas
  7. Dahulu ulama kita bagaikan Matahari menyinari ummat tanpa bayaran
    sekarang ada sebahagian ulama bagaikan listrik dibayar baru mau menyinari ummat.

    Tidak ada ulama yang minta bayaran,.. kalau yang ngaku-ngaku sebagai ulama, mungkin saja,
    Ulama adalah orang yang takut kepada Allah,. mereka menyebarkan ajaran rasulullah dengan ikhlas hanya mengharapkan keridhaan Allah, bukan mengharapkan materi dari murid2nya, atau dari kaum muslimin,.. mereka tidak mau dibayar, karena tidaklah sebanding bayaran manusia semahal apapun dengan ganjaran yang Allah berikan,.
    Berbeda dengan orang yang mengaku sebagai ulama, atau sebagai ustadz dengan bayaran yg heboh,..

    Balas
  8. Hampir semua acara di TV mempertuhankan “rating”. Menurut seorang teman yang banyak tahu dunia TV mengatakan bahwa setiap stasiun TV bisa memonitor berapa banyak pemirsa yang menonton acara yang sedang ditayangkan.

    Oleh karena itu mari kita lakukan : matikan TV bila acaranya tidak sesuai dengan hati nurani dan fikiran sehat kita. Bila semakin banyak ummat yang sadar akan hal itu tentu penonton akan semakin berkurang dan acaranya tidak laku alias ratingnya makin menurun.

    Semoga stasiun TV kita di tanah air akan lebih berorientasi kepada kwalitas, termasuk juga materi dan penyajian ceramah agama. Amin ya Rabbal ‘alamin

    Amiin,.. alhamdulillah di indonesia sdh ada siaran televisi yang bermanfaat, silahkan simak rodja tv

    Balas
  9. Ada seorang Ustadz yang biasa berceramah di sebuah radio dakwah menceritakan pengalaman beliau sewaktu diminta untuk berceramah di stasiun TV.

    Stasiun TV hanya mau menampilkan beliau bila mengikuti pola / format bahkan materi yang sudah di setting oleh pihak TV.

    Sementara beliau mempunyai metoda tersendiri dalam penyampaian dakwah yang beliau anggap baik dan tepat. Pada akhirnya tidak tercapai kesepakatan sehingga beliau urung tampil di TV.

    Pak Ustadz tersebut dalam penyampaian dakwahnya memang jauh dari sekedar mengundang canda dan tawa pemirsa, lebih banyak mengajak ummat untuk berpikir dan merenung sebagaimana yang banyak diperintahkan dalam kitab suci Al Quran dan Sunnah Nabi SAW.

    yah, begitulah televisi umum,.. bukan mengharap keridhaan Allah, tapi bagaimana menarik pemirsa, tentu dengan tayangan2 yg merusak moral bangsa ini, tidak jauh dari ghibah,pornografi,hiburan syetan(musik),dan berita2 yg membuat masyarakat resah,.. 99 persen acara televisi umum itu tdk bermanfaat,.

    Balas
  10. Ass Wr wb

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    saya cuma mau numpahin uneg2 :
    kenapa islam yang saya rasakan indah sekali ini harus dipermalukan oleh ahli bid’ah, didangkalkan dan “dimanusiakan” oleh jil dan sekarang dijual dg harga murah (ditukar dg dunia) oleh mereka yg seharusnya jadi benteng pertama dalam menjaga “martabat” islam.
    Ya Allah, masalah apa lagi yang akan dihadapi agamaMu?.

    Terimakasih mas chandra
    Itulah tanda-tanda akhir jaman mas chandra, tidak usah heran, Rasulullah jauh-jauh hari sudah mengabarkannya, bahwa nanti di akhir jaman akan muncul manusia2 seperti itu,.
    Orang berbicara tentang agama islam tanpa ilmu,.
    Berikut hadits rasulullah:

    “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu, orang yang dusta dianggap jujur, orang yang jujur dianggap dusta, orang yang suka berkhianat diberikan amanah, dan orang yang amanah dianggap pengkhianat, dan akan berbicara Ruwaibidlah”. Dikatakan: “Apa itu Ruwaibidlah ?” Ia berkata: “Orang bodoh berbicara dalam perkara yang berhubungan dengan keumuman manusia”. (HR Ibnu Majah dan lainnya)

    Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang ulamanya banyak dan penceramahnya sedikit, sedikit yang minta-minta dan banyak yang memberi, beramal pada waktu itu lebih baik dari berilmu. Dan akan datang suatu zaman yang ulamanya sedikit dan penceramahnya banyak, peminta-minta banyak dan yang memberi sedikit, berilmu pada waktu itu lebih baik dari beramal”. (HR Ath Thabrani dalam mu’jam kabirnya)

    Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu, orang yang dusta dianggap jujur, orang yang jujur dianggap dusta, orang yang suka berkhianat diberikan amanah, dan orang yang amanah dianggap pengkhianat, dan akan berbicara Ruwaibidlah”. Dikatakan: “Apa itu Ruwaibidlah ?” Ia berkata: “Orang bodoh berbicara dalam perkara yang berhubungan dengan keumuman manusia”. (HR Ibnu Majah dan lainnya)

    Diantara tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, arak diminum, dan zina menjadi tampak”. (HR Bukhari dan Muslim)

    Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan diwafatkannya para ulama, sehingga apabila ulama tidak tersisa lagi, orang-orang akan mengambil pemimpin-pemimpin (agama) yang bodoh, mereka ditanyai lalu berfatwa dengan tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan”. (HR Bukhari dan Muslim)

    Jadi, jangan bingung lagi mas,.. kewajiban kita sekarang, mempelajari islam dengan pemahaman para sahabat, sehingga kita tidak tertipu dengan dakwah2 yg disampaikan oleh orang-orang yang seperti anda sebutkan,..

    Balas
  11. Artikelnya sangat bermanfaat,semoga sukses selalu ya,jika ada waktu,mohon kunjungan baliknya ya!!!!

    terimakasih,.. sudah berkunjung sebentar,..

    Balas
  12. saya jonmaswal
    …. pernah tahun 1997 kakak ipar meninggal dan waktu itu saya menarek becak…

    mengundand ustad tahalilan kerumah tetapi ustad langsug menolak dengan banyak alasan ada acara lain….

    dan saya tahu bahwa ustad itu tidak ada acara cuma karena saya miskin…..

    dan tahun 2009 orang tua saya meninggal yaitu ibu dan saya undang ustad yang lain juga tidak mau datang dengan berbagai alasan…

    jelang semiggu ada orang kaya meniggal ustad itu datang mengaku ahli waris dari oran itu…

    tetapi selama saya tahu ustad itu lain kota dan lain suku…….

    apakah ustad wajib kita beri gelar apa munkin saudara saudari yan memberi nama dan gelar

    Terimakasih pak jon,.
    islam itu ajaran yang mudah dan tidak membuat pemeluknya repot,.
    Jika ada keluarga kita atau saudara kita meninggal, maka islam sudah mengatur tatacara penyelenggaraan jenazah, dan rasulullah tidak mengajarkan adanya tahlilan,.
    Rasulullah tidak pernah melakukan tahlilan, padahal beliau sering mengalami kematian para sahabatnya, juga keluarganya,
    beliau sendiri ketika meninggal tidak diadakan tahlilan, sudah saya posting disini

    Tahlilan, selain itu adalah perbuatan bidah, itu juga merepotkan orang yang sedang terkena musibah kematian, bahkan menurut penjelasan kyai idrus ramli itu adalah mengadopsi ajaran hindu, simak ulalsannya di sini

    Balas
  13. Bismillah
    Afwan sebelumnya, Saya Dari Persatuan Islam yg serupa namun tak sama adapun dari sisi kesamaan yaitu digelari Wahabi, Kita sudah sangat Mafhum dalam menyampaikan sebuah pernyataan kita yg menyatakan tidak bolehnya Taklid dan berMadzhab selalu menunjukan Hujjah beserta dalil2 terkuat yg Kita jadikan penguat Argumen Kita.

    Alhamdulillah banyak sekali saudara-saudara kita yang dari persis setelah menyimak dialog ustadz salafi dan persis mereka tersadar dan makin paham bagaimana metode dalam memahami islam,
    Saya juga ikut hadir langsung dalam acara dialog tersebut, silahkan simak di sini

    Nah dalam Permasalah Da’i seleb yg dikatakan pasang tarif besar tersebut adakah Bukti yg bisa ditunjukan sebagaimana ketika Kita Berhujjah.

    Bukan menjadi rahasia umum akan hal tersebut, isi postingan sudah saya revisi, di postingan sebelumnya ada semua referensinya,

    Sebelumnya tidak ada maksud apapun hanya ingin kepastian saja akan hal ini, karena di Persatuan Islam sendiri “Tidak laku” untuk diterima di semua kalangan apalagi ketika Tema yg di usung terkait Masalah baru dalam agama (Bid’ah).
    Jazaakumulloh Khoirn

    Hidayah taufik itu hanya Allah yang mampu memberikannya, kita hanya sekedar menyampaikan saja,
    Sebelum kita mendakwahkan tentang apa itu bidah, maka dakwahkan dahulu apa itu sunnah, sama seperti ketika hendak memberantas kesyirikan, maka dakwahkan dahulu tentan tauhid,.
    Dengan pahamnya masyarakat tentang apa itu sunnah dan keutamaanya, maka dengan sendirinya mereka akan meninggalkan perbuatan bidah, dengan pahamnya masyarakat tentang apa itu tauhid, maka mereka akan meninggalkan perbuatan yang bisa merusak ketauhidan..

    Dan konsekwensinya tentu akan ada kelompok yang mungkin merasa perbuatan bidah atau kesyirikannya menjadi terusik, mereka akan menentang..

    Balas

Silahkan tinggalkan komentar di sini