Semua Bidah itu Sesat, Tidak Ada Bidah Hasanah

Mengkritisi Bidah Hasanah dan Bidah Sayyiah

ahlul bidah hasanahSetiap bid’ah adalah tercela’. Inilah yang masih diragukan oleh sebagian orang. Ada yang mengatakan bahwa tidak semua bid’ah itu sesat, ada pula bid’ah yang baik (bid’ah hasanah). Untuk menjawab sedikit kerancuan ini, marilah kita menyimak berbagai dalil yang menjelaskan hal ini.

[Dalil dari As Sunnah]

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah matanya memerah, suaranya begitu keras, dan kelihatan begitu marah, seolah-olah beliau adalah seorang panglima yang meneriaki pasukan ‘Hati-hati dengan serangan musuh di waktu pagi dan waktu sore’. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat adalah bagaikan dua jari ini. [Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuknya]. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat. (HR. Muslim no. 867)

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i no. 1578. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani di Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i)

Diriwayatkan dari Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari. Kemudian beliau mendatangi kami lalu memberi nasehat yang begitu menyentuh, yang membuat air mata ini bercucuran, dan membuat hati ini bergemetar (takut).” Lalu ada yang mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا

Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasehat perpisahan. Lalu apa yang engkau akan wasiatkan pada kami?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud dan Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

[Dalil dari Perkataan Sahabat]

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَنُ

Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 10610. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya tsiqoh/terpercaya)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

Itulah berbagai dalil yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat.

KERANCUAN: ADA BID’AH HASANAH YANG TERPUJI ?

Inilah kerancuan yang sering didengung-dengungkan oleh sebagian orang bahwa tidak semua bid’ah itu sesat namun ada sebagian yang terpuji yaitu bid’ah hasanah.

Memang kami akui bahwa sebagian ulama ada yang mendefinisikan bid’ah (secara istilah) dengan mengatakan bahwa bid’ah itu ada yang tercela dan ada yang terpuji karena bid’ah menurut beliau-beliau adalah segala sesuatu yang tidak ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Imam Asy Syafi’i dari Harmalah bin Yahya. Beliau rahimahullah berkata,

الْبِدْعَة بِدْعَتَانِ : مَحْمُودَة وَمَذْمُومَة

“Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela.” (Lihat Hilyatul Awliya’, 9/113, Darul Kitab Al ‘Arobiy Beirut-Asy Syamilah dan lihat Fathul Bari, 20/330, Asy Syamilah)

Beliau rahimahullah berdalil dengan perkataan Umar bin Al Khothob tatkala mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan shalat Tarawih. Umar berkata,

نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” (HR. Bukhari no. 2010)

Pembagian bid’ah semacam ini membuat sebagian orang rancu dan salah paham. Akhirnya sebagian orang mengatakan bahwa bid’ah itu ada yang baik (bid’ah hasanah) dan ada yang tercela (bid’ah sayyi’ah). Sehingga untuk sebagian perkara bid’ah seperti merayakan maulid Nabi atau shalat nisfu Sya’ban yang tidak ada dalilnya atau pendalilannya kurang tepat, mereka membela bid’ah mereka ini dengan mengatakan ‘Ini kan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah)’. Padahal kalau kita melihat kembali dalil-dalil yang telah disebutkan di atas baik dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun perkataan sahabat,  semua riwayat yang ada menunjukkan bahwa bid’ah itu tercela dan sesat. Oleh karena itu, perlu sekali pembaca sekalian mengetahui sedikit kerancuan ini dan jawabannya agar dapat mengetahui hakikat bid’ah yang sebenarnya.

SANGGAHAN TERHADAP KERANCUAN:

KETAHUILAH SEMUA BID’AH ITU SESAT

Perlu  diketahui bersama bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamsesungguhnya sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama,pen)’, ‘setiap bid’ah adalah sesat’, dan ‘setiap kesesatan adalah di neraka’ serta peringatan beliau terhadap perkara yang diada-adakan dalam agama, semua ini adalah dalil tegas dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka tidak boleh seorang pun menolak kandungan makna berbagai hadits yang mencela setiap bid’ah. Barangsiapa menentang kandungan makna hadits tersebut maka dia adalah orang yang hina. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/88, Ta’liq Dr. Nashir Abdul Karim Al ‘Aql)

Tidak boleh bagi seorang pun menolak sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat, lalu mengatakan ‘tidak semua bid’ah itu sesat’. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/93)

Perlu pembaca sekalian pahami bahwa lafazh ‘kullu’ (artinya : semua) pada hadits,

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

setiap bid’ah adalah sesat”, dan hadits semacamnya dalam bahasa Arab dikenal dengan lafazh umum.

Asy Syatibhi mengatakan, “Para ulama memaknai hadits di atas sesuai dengan keumumannya, tidak boleh dibuat pengecualian sama sekali. Oleh karena itu, tidak ada dalam hadits tersebut yang menunjukkan ada bid’ah yang baik.” (Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 91, Darul Ar Royah)

Inilah pula yang dipahami oleh para sahabat generasi terbaik umat ini. Mereka menganggap bahwa setiap bid’ah itu sesat walaupun sebagian orang menganggapnya baik. Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)

Juga terdapat kisah yang telah masyhur dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,

فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ.

Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah)?

قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Mereka menjawab, ”Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.

Ibnu Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid)

Lihatlah kedua sahabat ini -yaitu Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud- memaknai bid’ah dengan keumumannya tanpa membedakan adanya bid’ah yang baik (hasanah) dan bid’ah yang jelek (sayyi’ah).

BERALASAN DENGAN SHALAT TARAWIH YANG DILAKUKAN OLEH UMAR

[Sanggahan pertama]

Adapun shalat tarawih (yang dihidupkan kembali oleh Umar) maka dia bukanlah bid’ah secara syar’i. Bahkan shalat tarawih adalah sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dilihat dari perkataan dan perbuatan beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat tarawih secara berjama’ah pada awal Ramadhan selama dua atau tiga malam. Beliau juga pernah shalat secara berjama’ah pada sepuluh hari terakhir selama beberapa kali. Jadi shalat tarawih bukanlah bid’ah secara syar’i. Sehingga yang dimaksudkan bid’ah dari perkataan Umar bahwa ‘sebaik-baik bid’ah adalah ini’ yaitu bid’ah secara bahasa dan bukan bid’ah secara syar’i. Bid’ah secara bahasa itu lebih umum (termasuk kebaikan dan kejelekan) karena mencakup segala yang ada contoh sebelumnya.

Perlu diperhatikan, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan dianjurkan atau diwajibkannya suatu perbuatan setelah beliau wafat, atau menunjukkannya secara mutlak, namun hal ini tidak dilakukan kecuali setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat (maksudnya dilakukan oleh orang sesudah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), maka boleh kita menyebut hal-hal semacam ini sebagai bid’ah secara bahasa. Begitu pula agama Islam ini disebut dengan muhdats/bid’ah (sesuatu yang baru yang diada-adakan) –sebagaimana perkataan utusan Quraisy kepada raja An Najasiy mengenai orang-orang Muhajirin-. Namun yang dimaksudkan dengan muhdats/bid’ah di sini adalah muhdats secara bahasa karena setiap agama yang dibawa oleh para Rasul adalah agama baru.  (Disarikan dari Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/93-96)

[Sanggahan Kedua]

Baiklah kalau kita mau menerima perkataan Umar bahwa ada bid’ah yang baik. Maka kami sanggah bahwa perkataan sahabat jika menyelisihi hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa menjadi hujah (pembela). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat sedangkan Umar menyatakan bahwa ada bid’ah yang baik. Sikap yang tepat adalah kita tidak boleh mempertentangkan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataan sahabat. Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mencela bid’ah secara umum tetap harus didahulukan dari perkataan yang lainnya. (Faedah dari Iqtidho’ Shirotil Mustaqim)

[Sanggahan Ketiga]

Anggap saja kita katakan bahwa perbuatan Umar adalah pengkhususan dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat. Jadi perbuatan Umar dengan mengerjakan shalat tarawih terus menerus adalah bid’ah yang baik (hasanah). Namun, ingat bahwa untuk menyatakan bahwa suatu amalan adalah bid’ah hasanah harus ada dalil lagi baik dari Al Qur’an, As Sunnah atau ijma’ kaum muslimin. Karena ingatlah –berdasarkan kaedah ushul fiqih- bahwa sesuatu yang tidak termasuk dalam pengkhususan dalil tetap kembali pada dalil yang bersifat umum.

Misalnya mengenai acara selamatan kematian. Jika kita ingin memasukkan amalan ini dalam bid’ah hasanah maka harus ada dalil dari Al Qur’an, As Sunnah atau ijma’. Kalau tidak ada dalil yang menunjukkan benarnya amalan ini, maka dikembalikan ke keumuman dalil bahwa setiap perkara yang diada-adakan dalam masalah agama (baca : setiap bid’ah) adalah sesat dan tertolak.

Namun yang lebih tepat, lafazh umum yang dimaksudkan dalam hadits ‘setiap bid’ah adalah sesat’ adalah termasuk lafazh umum yang tetap dalam keumumannya (‘aam baqiya ‘ala umumiyatihi) dan tidak memerlukan takhsis (pengkhususan). Inilah yang tepat berdasarkan berbagai hadits dan pemahaman sahabat mengenai bid’ah.

Lalu pantaskah kita orang-orang saat ini memakai istilah sebagaimana yang dipakai oleh sahabat Umar?

Ingatlah bahwa umat Islam saat ini tidaklah seperti umat Islam di zaman Umar radhiyallahu ‘anhu. Umat Islam saat ini tidak seperti umat Islam di generasi awal dahulu yang memahami maksud perkataan Umar. Maka tidak sepantasnya kita saat ini menggunakan istilah bid’ah (tanpa memahamkan apa bid’ah yang dimaksudkan) sehingga menimbulkan kerancuan di tengah-tengah umat. Jika memang kita mau menggunakan istilah bid’ah namun yang dimaksudkan adalah definisi secara bahasa, maka selayaknya kita menyebutkan maksud dari perkataan tersebut.

Misalnya HP ini termasuk bid’ah secara bahasa. Tidaklah boleh kita hanya menyebut bahwa HP ini termasuk bid’ah karena hal ini bisa menimbulkan kerancuan di tengah-tengah umat.

Kesimpulan : Berdasarkan berbagai dalil dari As Sunnah maupun perkataan sahabat, setiap bid’ah itu sesat. Tidak ada bid’ah yang baik (hasanah). Tidak tepat pula membagi bid’ah menjadi lima : wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram karena pembagian semacam ini dapat menimbulkan kerancuan di tengah-tengah umat.

Nantikan pembahasan selanjutnya, tentang hukum bid’ah dan beberapa pembelaan mengenai bid’ah. Semoga Allah mudahkan.

Silakan baca definisi bid’ah dalam tulisan sebelumnya di sini.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id, dipublish ulang oleh http://rumaysho.com

Selesai disusun di Desa Pangukan, Sleman

Saat Allah memberi nikmat hujan di siang hari, Kamis, 9 Syawal 1429 (bertepatan dengan 9 Oktober 2008)

Lihat juga nih, video durasi 7 menit yang mungkin bisa membuka cakrawala kita,.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=rk5-VKk7A5Y&rel=0]

You May Also Like

99 Comments

  1. 1. Apakah penyusunan mushaf Al-Quran juga termasuk bidah karena di zaman rasul masih hidup hal itu belum ada?

    Bukan, alquran disebut juga alkitab, apa arti alkitab??
    Tentang penulisan alquran sudah ada dari jaman rasulullah, silahkan baca disini

    2. Apakah menentukan awal puasa dengan ilmu hisab (ilmu falak) juga termasuk bidah

    Ya, jika hisab dijadikan dalil mutlak untuk penentuan ini, adapun jika hisab hanya dijadikan patokan utk melihat hilal,maka itu tdk apa-apa, jadi penentuan akhir tetap dgn melihat hilal,
    Seandainya hisab itu baik, tentu rasulullah sudah menggunakannya, tentu para sahabat duluan yg mengamalkannya lebih dulu dari kita,
    Imam yang 4 saja tdk menggunakan hisab, hisab baru dipakai jauh sekali dari jaman rasulullah, bahkan mungkin di indonesia saja, tolong kalau anda bisa memberitahu, siapa ulama yang menerapkan hisab dalam penentuan puasa ini, tdk dgn rukyatul hilal,..

  2. Assalamualaikum,

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    Saya punya temen anak pengajian tapi dia agak emosi kalo di terangkan bahwa Maulid Nabi, Tahlilan, dzikir berjamaah itu salah satu bid’ah dan dia menerangkan kepada saya jangan terpengaruh sama hal hal yang merusak umat terus dia bilang Bid’ah itu tidak berbahaya bagaimana tanggapan antum tentang pernyataan ini..

    Mas muwahadi, dakwah itu butuh kepada ilmu, tidak sembarangan, apa yg kita dapatkan tidak boleh langsung kita amalkan untuk orang lain, tapi untuk diri sendiri saja dahulu,
    Apalagi jika ternyata amalan yang mau kita dakwahkan ternyata di masyarakat sudah seperti amalan yang sunnah,padahal itu amalan bidah,. ini tentu lebih berhati-hati lagi, tidak boleh sembarangan, sebab ini bisa berakibat buruk bagi dakwah itu sendiri.

    Contoh tentang maulid,yasinan,tahlilan, itu jangan kita langsung dakwah kepada orang2 yg hobi hal2 tsb,.. paling tidak untuk diri kita dahulu, kecuali jika anda melihat org yang akan anda beritahu tsb sepertinya lebih menerima dalil dari Rasulullah, semangat dalam mengamalkan hadits2 rasulullah yg shahih, boleh saja anda sampaikan, tapi tentunya dengan ilmu,.. itu jika anda sudah memilikinya,..

    Jangan sampai niat kita ingin mendakwahkan sunnah, tapi malah membuat orang lari dari sunnah, bahkan mencelanya, malahan menuduh kitalah yg sesat, yg ngga bener,..

    Jadi nasehat saya, belajar dahulu, dan amalkan untuk diri sendiri, tidak usah menyampaikan kepada orang lain jika dirasa akan timbul mudharat, karena kebiasaan masyarakat yg sdh menahun mengamalkan amalan bidah, berakhlak baiklah sama mereka,..tunjukkan setelah mengenal dakwah yang hak ini, anda bertambah bagus akhlaknya, bukan malah jadi mudah mensesatkan amalan2 mereka,..

    wassalamualaikum wr wb..jazakuloh khoir

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, jazakumullahu khair

  3. pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Syaikh Al Utasaimin rahimahullah, Syaikh Bin Baz rahimahullah perihal PENGGUNAAN HISAB sebagai alat bantu?
    Bukankah mereka TIDAK MEMPERBOLEHKAN MENGGUNAKAN HISAB sebagai alat bantu Rukyat?

    Terimakasih mas Agung, komentar yg bagus,
    Oh iya, mana tulisan pernyataan tersebut?
    Tidakkah anda membaca perihal PENGGUNAAN HISAB sebagai alat bantu?
    Tolong perhatikan, tidak ada pertentangan dan pernyataan bolehnya hisab, tapi sekedar alat bantu rukyat, bukan penentuan secara mutlak, hilal bisa ditentukan jauh-jauh hari, bahkan sekarangpun bisa, dgn metode hisab, Ini menyelisih sunnah rasulullah, dimana beliau tdk menggunakan hisab secara mutlak, tapi tetap rukyatul hilal secara langsung, itu yg mutlak sebagai penentu

    sudah jelas bahwa DEPAG sudah membuat ancar ancar ketetapan itu jauh jauh hari sebelum RUKYAT!
    Jadi sekali lagi pada dasarnya Metode Ingkarul Rukyat di bawah 2 derajat itu adalah ILMU HISAB!
    Kesimpulannya:
    Kalau mau mengikuti penafsiran awal dan akhir puasa adalah “MELIHAT” (dalam arti melihat dengan mata) hilal maka siapa pun yg berpuasa mengikuti Depag atau persyarikatan Muhammadiyyah maka kedua duanya sama saja mengikuti kebid’ahan

    Ya, jelas sekali mas, hisab buat alat bantu untuk menghitung kapan kira2 dilakukan rukyatul hilal secara langsung, itulah fungsi hisab, bukan sebagai penentu mutlak, penentu mutlak adalah rukyatul hilal dengan mata telanjang,
    Bukankan DEPAG melakukan rukyatul hilal,lalu mengadakan sidang itsbat?
    Apalagi DEPAG adalah wakil dari pemerintah, dan pemerintahlah yang paling berhak menentukan hasil rukyatul hilal ini, bukan ORMAS, walaupun itu ORMAS YANG PALING BESAR DI INDONESIA,.. sebab penentuan hasil rukyatul hilal bukanlah hak ormas, tapi itu hak penguasa,
    Jadi yang terjerumus kedalam kebidahan adalah ormas yang menerapkan hisab secara mutlak, dan merebut hak penguasa dalam penentuan rukyatul hilal,
    Sebesar apapun ormas tersebut, walaupun menggunakan nama nabi ormas tersebut,.. tapi dalam prakteknya tdk sperti namanya, pengikut nabi muhammad,.. malah menggunakan petunjuk yg berasal bukan dari nabi muhammad,.. inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun..

    Pertanyaan terakhir sebagai bahan renungan saja:

    MUNGKINKAH ALLAH MENSYARIATKAN SESUATU YG BERTENTANGAN DENGAN SUNATULLAH SENDIRI?
    Sudah jelas bahwa tanda tanda alam (sunatullah), dalam hal ini kemunculan bulan purnama, menunjukkan bahwa yang benar adalah perhitungan wujudul hilal, dan sudah jelas pula bahwa penetapan depag nggak sesuai dengan fkata alamiah yg merupakan sunnatullah.

    Tidak ada syariat Allah yang bertentangan dengan sunnatullah,
    Dan jika apa yang dilakukan oleh Depag itu keliru, itu adalah tanggungjawab penguasa kepada Allah , bukan tanggungjawab ormas atau rakyatnya,
    Tapi jik ormas yang melakukan dan memutuskan dan tidak menghiraukan fatwa penguasa, maka ormas tersebut telah salah, merebut hak penguasa, dan menyelisihi anjuran rasulullah,

    Silahkan direnungkan sendiri!

    Silahkan renungkan tanggapan saya

    Metode Rukyat digunakan karena Rasul tidak menghendaki KESULITAN bagi umatnya ketika itu, pada masa sekarang metode Rukyat justru menimbulkan banyak masalah!

    sungguh terbalik pernyataan anda,Rukyatul hilal metode yang paling mudah, sehingga orang badui pedalaman pun bisa melakukannya, bahkan rasulullah yang memerintahkannya,
    Hati-hati dengan pernyataan anda, apakah anda menganggap apa yang dilakukan ormas itu lebih baik dari apa yang diperintahkan oleh rasulullah?
    Siapa yang mempermasalahkan rukyatul hilal? imam yang 4 saja tdk mempermasalahkan,.. justru ormas inilah yg bikin masalah,.. jadi, mana yang menyelisihi ajaran rasulullah dalam hal ini?
    RENUNGKANLAH TANGGAPAN SAYA,.. jika anda masih bisa menggunakan pikiran anda yg jernih,

    Keyakinan yang aku pegang adalah NGGAK MUNGKIN ALLAH DAN RASUL-NYA MENGAJARKAN SESUATU YANG BERTENTANGAN DENGAN SUNATULLAH!

    NGGAK MUNGKIN PULA RASUL MENGAJARKAN BAHWA UMATNYA BUKAN MENJADI UMAT YG CERDAS DAN BERILMU!

    Gerhana yg ratusan tahun ke depan bisa dihitung dengan akurasi dan presisi yg sangat mendekati fakta, masak menghitung posisi bulan nggak bisa diprediksi?

    Ini juga merupakan ujian bagi seorang muslim, lebih mengedepankan dalil dari rasulullah, atau mengedepankan akal?
    Betul gerhana matahari bisa dihitung, dan dijaman rasulullahpun bisa, orang arab adalah orang yang ahli perbintangan, tapi rasulullah tdk memerintahkan menggunakan hisab,
    Bahkan rasulullah sangat mampu meminta agar malaikat melihat hilal, apakah sdh terlihat atau belum,. tapi itu tdk rasulullah lakukan,.

    Syariat islam itu memudahkan, bukan menyulitkan!

    Betul, dan rukyatul hilal sangat mudah, siapa saja bisa melakukan, beda dengan hisab, harus mengerti cara menghitung, beda dengan rukyatul hilal,..

    Susahlah kalau beragama nggak pakai ilmu pengetahuan

    Ilmu pengetahuan secanggih apapun tidak boleh mendahului dalil, tidak boleh mengutamakan ilmu pengetahuan diatas ilmu agama/dalil yg shahih,
    Justru dalil yang shahih itu yg lebih diutamakan daripada ilmu pengetahuan,..

    Kalau metode seperti itu anda terapkan di belahan bumi tertentu, bisa bisa orang2 di daerah dekat kutub, di wilayah wilayah sub tropis akan sholat dhuhur terus berminggu minggu karena matahari nggak tenggelam tenggelam atau isya terus berminggu minggu karena matahari nggak muncul!

    Ini adalah bukti kebodohan terhadap agama dan dalil-dalil yang shahih, sehingga tidak mengetahui bagaimana jika kita tinggal di daerah yang mungkin malam terus, atau siang terus, atau waktunya tidak normal sperti di indonesia, silahkan baca postingannya disini mas, agar anda tahu, dan lebih mengedepankan dalil diatas ilmu pengetahuan,.

    setelah mengkaji seluruh dalilnya yang ada di Al-quran dan Al-hadits, coba ngaji fakta alamnya, coba ngaji sunatullah yang terjadi di alam ciptaanNya, lalu cari titik temu antara keduanya dan jangan pertentangkan antara keduany karena keduanya adalah ciptananNya !!!!!!!,

    Siapa yang mempertentangkan,.. mas agung yang baik, apakah anda pernah membaca atau mendengar kalau abu bakar,umar,utsman, ali, mereka menggunakan hisab secara mutlak untuk penentuan hilal?? jika pernah ada dimana ,di kitab apa,
    Pernahkan anda membaca jika imam abu hanifah,imam malik,imam syafii,imam ahmad, mereka mengguanak hisab secara dalam menentukan hilal?
    Atau mungkin imam bukhari,muslim, dan banyak lagi ulama ahlussunnah, apakah mereka menggunakan hisab mutlak untuk menentukan hilal?

    Lalu, jika mereka saja yang sangat paham ilmu agama ini tidak menggunakan hisab mutlak untuk penentuan hilal ini, lalu kita yang jauh dari jaman kejayaan islam malah menggunakan hisab mutlak untuk penentuan hilal?? dengan dalih majunya ilmu pengetahuan,.. inikah gambaran kemajuan islam, ataukah kemunduran islam, mendahulukan ilmu pengetahuan di atas dalil,.. disini musibahnya mas,..

    Dari dulu tidak ada yang mempermasalahkan rukyatul hilal, tapi setelah muncul ormas ini,.. masalah baru muncul, dipakailah hisab,.. jadi siapa disini yang keliru? para sahabat dan para ulama, atau ormas ini?

    1. saya minta contohnya mas,,,,,,,, yang yang namanya bid’ah banyak terjadi di masyarakat itu?

      Banyak sekali mas, kalau mau tahu silahkan beli buku yang berjudul “Risalah Bidah” yang ditulis oleh ustadz Abdul Hakim Abdat , disitu disebutkan banyak sekali contohnya, silahkan beli saja di toko buku, anda tinggal dimana? biar nanti saya kasih tahu toko buku yang dekat dengan tempat anda, barangkali saya tahu

    2. Di bagian mana sesatnya tahlilan?
      Kalimah “laaila haillallah” kah
      atau do’a “ya Allah ampunilah dosa2 hamba, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat yg telah mendahului kami, ampunilah dosa si fulan bin fulan, dan tegarkanlah hati yg di tinggalkannya”
      apaka contoh di atas merupakan Bid’ah sesat?
      Anda tau arti kalimah tahlil di atas? Apa org berdo’a cuma hrs di masjid? Apa org mengagungkan asma Allah harus hanya pada wkt shalat saja?
      Sungguh anda memang org yg bnr2 hebat
      kalau di tempat sy yg tidak ikut tahlilan mereka anggap sbg ijtihat/kehati-hatian, krn mereka kurang yakin dngn hal trsbt, klw yg ikut tahlilan mereka anggap sbg ihtiar dalam memohon pengampunan diri dan org lain kpd Allah.

      Dibagian mana salahnya?
      Saya tanya gini mas,. jika kita shalat maghrib 5 rakaat, itu salah atau tidak?
      Lalu apa salahnya? kan jumlah rakaatnya juga tambah banyak, yang dibaca adalah alquran, bacaannya jadi tambah banyak, ruku dan sujudnya juga tambah banyak,. apa jawaban anda , beranikah anda mengatakan shalat maghrib 5 rakaat itu benar?
      Jawaban anda, itu untuk menjawab kebingungan anda tentang dimana salahnya ritual tahlilan 7,10 hari dst,
      Apakah shalat maghrib 5 rakaat itu bidah sesat? kan tidak ada dalil yang melarang shalat maghrib 5 rakaat,. silahkan anda jawab, saya tunggu jawaban anda,.

      1. Waduh!!!
        Jawaban anda juga sudah ngaco, kalau shalat emang sudah baku, cuma org gendeng aja yg melakukan shalat maghrib 5 roka’at.

        Kenapa gendeng mas? anda melarang orang shalat??? kan orang tersebut melakukan shalat, kok dilarang?

        Mungkin orang yg shalat maghrib 5 rakaat tersebut berkata kepada anda,.. ANDA MELARANG SAYA SHALAT? .. bukankah yg dibacakan adalah alquran? yg dibaca doa ruku, doa sujud, bahkan bacaannya itu tambah banyak.. bukankah itu bagus??

        Apa jawabannya mas?

        Skrg sy juga mau tanya sama anda tentang larangan orang berdo’a dan mengagungkan asma Allah. Jangan jangan org mau shalat jum’at anda anggap sesat lantaran ketika di tanya anda mau kemana? Jawabnya “sy mau jum’atan” bukan “sy mau shalat jum’at”
        Yg di pikiran anda cuma hari ke 7, ke 10 dst, padahal tu sama sekali tak ada kaitanya dengan yg namanya tahlilan.

        pertanyaan anda saya pending dulu jawabannya, nunggu anda jawab pertanyaan saya dulu, biar diskusi kita berjalan,. karena jawaban anda yg akan buat menjawab pertanyaan anda,. mudah sekali, sengaja tidak saya jawab sekarang,.

      2. Pak ustadz yg terhormat, jawabanya juga sy pending, skrg sy mau tanya dulu juga sama pak ustadz, kira2 ada ndak ya org islam yg shalat maghribnya 5 roka’at?
        Kemudian hubungan org shlat wajib 5 waktu sama tahlilan apa?
        Ok, ane kasih tau dikit ya pak ustadz, shalat itu emang sdh jelas rukun2nya, bahkan ketika shalat keluar satu kata/gerakan yg tidak ada hubunganya sm shalat trsbt maka gugurlah shalat trsbt, mungkin klw istilah anda shalatnya sesat.

        jawaban anda utk menjawab pertanyaan anda,.
        Hubungannya ada, antara shalat maghrib 5 rakaat,. dgn tahlilan dihari ke 7, 10, dst,.
        ini jawaban anda :
        shalat itu emang sdh jelas rukun2nya, bahkan ketika shalat keluar satu kata/gerakan yg tidak ada hubunganya sm shalat trsbt maka gugurlah shalat trsbt, mungkin klw istilah anda shalatnya sesat.

        Maka saya pun berkata, kalau tahlilan di hari ke 7,10,dst ,. itu ajaran siapa?
        Taruhlah sekarang shalat maghrib tetap 3 rakaat, tapi dilakukan tidak di waktu maghrib, tapi dikerjakan di waktu dzuhur, bukankah ini menyimpang juga?

        sama juga saya katakan,. kenapa tahlilan kok dilakukan dihari ke 7,10,dst setelah meninggalnya seseorang, ini ajaran siapa?
        Rasulullah ketika khadijah meninggal, beliau tidak tahlilan di hari ke 7,10,dst,..
        Demikian pula ketika anaknya rasulullah meninggal, beliau juga tdk melakukan hal tsb,
        Ketika Rasulullah meninggal, para sahabat tidak melakukan hal tsb,.
        Ketika Imam malik meninggal, imam syafii juga tidak melakukan hal tsb,.

        lalu,… ajaran siapa ritual tahlilan di hari ke 7,10,dst??

        Apakah AMALAN YANG TIDAK DIKERJAKAN OLEH RASULULLAH, lalu dikerjakan oleh orang yang hidup jauh sekali dari jaman rasulullah, itu lebih baik?
        Seandainya itu baik, para sahabat sudah lebih dahulu melakukannya,.

        Skrg, stlh salam, kita mau dzikir, mau do’a apa aja trsrh kita, sah2 aja, demikian juga org tahlilan, klw wkt shalat stlh baca Alfatihah trs tiba2 tahlilan lha anda bisa ngomong sesat, malahan sy dukung.
        Demikian pak ustadz, sy rasa anda bukan org bodoh yg tdk tau/ tdk nyambung sama pembicaraan org.
        Pak ustadz yg terhormat, anda mau bicara ngetan ngulon ngalor ngidul juga ujung2nya sama aja, mencari kelemahan org lain agar anda bisa mengesahkan utk di CAP SESAT oleh Anda.

        Sebenarnya yg bicara ngalor ngidul itu siapa ya, he..he..
        Ibadah itu nunggu dalil, bukan ibadah dulu baru cari-cari dalil,.
        Kalau ritual tahlilan di hari ke 7,10 dst ada dalilnya, saya akan melakukannya mas,. akan saya posting di blog ini,.

        Ane kasih lg
        perbuatan, tingkah laku apapun manusia selama itu baik tidak akan sedikitpun bertentangan Alqur’an dan hadist, karena Alqur’an adalah tuntunan seluruh kebaikan, tak secuilpun kebaikan yg tertinggal oleh Alqur’an meskipun org trsbt sama skali tdk bisa membaca ataupun mengartikanya, sebaliknya, org yg fasih membaca Alqur’an dan hafal semua hadist, bisa jadi perbuatan org trsbut mlh bertentangan dngn Alqur’an dan Hadist itu sendiri.
        Semoga bukan anda orangnya.

        Justru saya tanya kepada anda, mana dalil ritual tahlilan di hari ke 7,10 , dst, dalil dari alquran dan hadits,. jika anda berhasil membawakan dalil tersebut, jika saya nanti punya mobil, saya akan hadiahkan kepada anda, silahkan anda tinggalkan alamat anda, atau nomer hape anda, nanti saya sms,.

        Baik itu bukan menurut kita, atau menurut manusia,.
        Agama ini milik Allah,.
        Allah yang membuat syariat ini,
        Dan Allah wajib diibadahi berdasarkan ketetapan2 ygn allah buat,dan tatacara yg allah tetapkan, dan semuanya sdh disampaikan oleh rasulullah,. ISLAM SUDAH SEMPURNA,
        Dan Allah hanya menerima amalan2 yg allah tetapkan, bukan amalan hasil rekayasa manusia.

        BAIK MENURUT KITA, BUKAN BERARTI BAIK MENURUT ALLAH,.
        Tapi baik menurut Allah pasti baik bagi manusia, walaupun terlihat seolah2 buruk dihadapan manusia,.

      3. anda ini memprotes ritual tahlilan di hari ke 7, ke 10 atau ke berapalah, atau memaksa org supaya menjalankan ritual tahlilan hari ke 7 dst, anda lihat koment sy di atas.
        Pak ustadz yg terhormat, klw anda posting di sini utk ngomong ngalor ngidul nuding org tahlilan SESAT sama sekali tak ada gunanya, jika anda bener2 mau menegakkan islam, silakan anda masuk kepada org yg melaksanakan tahlilan, anda cermati, jika memang bnr2 anda anggap sesat silakan anda jelaskan kpd mereka, itu jika anda punya cukup nyali.
        Yg anda lakukan skrg ini sama aja dengan anda makan bangkai saudara anda sendiri, tau kan maksud sy?
        Ane kasih tau pak Ustadz, yg tahlilan di hari ke 7, ke 40 dst mungkin memang ada, tapi tdk di jdikan sbg acuan atau patokan apalagi keharusan, itu cm skdr istilah, tahlilan bisa di lakukan kpn sj. Trs ada istilah ngirim do’a, itu istilah org2 yg sudah sepuh yg memang pemahamanya dari dulu cm sebatas itu, namun demikian org trsbt tdk bisa di bilang sesat, ane kasih contoh lg, anda makan pada jam 8, jam 12 siang dan jam 8 sore, menurut anda itu kewajiban atau karna terbiasa? Trs apa hal tersebut bisa di bilang suatu kesalahan?
        Kembali lg ke soal tahlilan, kalau shalat memang sudah menjadi perintah langsung dari Allah, dan sudah di tentukan waktu dan dsbnya, tapi Rosulullah tidak pernah membatasi umatnya utk berdo’a dan mengagungkan asma Allah, sambil jalan, sambil tidur, sambil bekerja.
        Sy tunggu lg jawaban anda.

        Tidak keharusan??????? pernah ada gitu tahlilan di hari ke 3, hari ke 21, dll,

        MASALAHNYA, rasulullah TIDAK PERNAH melakukan tahlilan setelah kematian,.. baik di hari apapun,..

        SILAHKAN ANDA DATANGKAN DALIL SATU SAJA, TENTANG RITUAL TAHLILAN SETELAH KEMATIAN ,

        jika anda tidak sanggup, silahkan minta tolong pimpinan pesantren yg paling terkenal, suruh datangkan dalil tersebut,.
        Jika anda tidak bisa, tidak usah komentar lagi,.

        Dan kalau anda bisa mendatangkan dalil tersebut, ingat janji saya, jika saya punya mobil, akan saya hadiahkan buat anda,..

  4. contohnya bid’ah sesat terus masuk neraka itu pa saja ya mas aku g tau ,,,,,,? tolong di balas ya aku biar tau

    Bidah itu adalah amalan2 ibadah yang tidak dicontohkan oleh rasulullah, contohnya ya sangat banyak,
    tidak terlalu penting mempelajari contoh perbuatan bidah, pelajarilah sunnah-sunnah yg diajarkan oleh rasulullah, maka dengan sendirinya akan mengetahui bidah-bidah yang ada di masyarakat, dan kita wajib menjauhi perbuatan bidah, karena bidah membuat kita sengsara di dunia dan akherat

  5. salut sama roy, ketika manusia disuruh menggunakan akal (selagi dalam koridor aqidah) maka roy betul-betul bertafakur dan berdiskusi…. baguslah kalo umat muslimin seperti roy … tapi akhirnya memang hidayah Alloh yang berperan … bravo untuk kawan-kawan ikhwah yang suka berdiskusi

    Dan kita hanya menyampaikan, hidayah Allah yang memberi,kita tidak bisa memaksa orang lain tuk mengikuti kebenaran yg kita sampaikan,

  6. Assalmualaikm

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    trima kasih atas ilmu yg sudah di berikan kami mudah-mudahan bisa menambah dan menjadi manfaat buat kami. jazakumullahu khairan…..

    Jazakumullahu khairan

  7. assalamualaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    saya ini ABG, mau tanya. kalo maulid nabi itu haram, kenapa pemerintah tidak mengeluarkan hukum maulid nabi itu haram ?

    terimakasih,
    Tidak usah mencontohkan maulid nabi, contoh yg sudah jelas keharamannya, pelacuran haram, minuman keras haram, tapi tidak ada keputusan resminya, demikian juga contoh lain, wanita muslimah wajib memakai jilbab ketika keluar rumah, tapi tidak ada peraturan resminya dari negara, shalat 5 waktu adalah wajib bagi kaum muslimin, tapi tdk ada aturan resminya dari negara,

    Ini terjadi karena jauhnya kaum muslimin dari pemahaman islam yg benar, demikian pula para pelaksana negara
    Mudah2an jika para pelaksana pemerintahan ini paham tentang aturan2 islam yg benar, maka kedepannya bisa lebih baik,

    1. berarti maksud anda para pelaksana pemerintah tidak paham ajaran islami yang benar ?

      Ya, betul sekali, sebab islam yg sampai ke indonesia ini dibawakan juga oleh org sufi yang merupakan pelarian dari timur tengah, juga sufi dari gujarat,

      lalu anda merasa ajaran anda itu benar ?

      Apakah jika saya menukilkan ajaran2 yg benar2 diajarkan oleh rasulullah , lantas ajaran tersebut ternyata berseberangan dengan amalan masyarakat atau amalan anda, lalu anda mengatakan hal diatas, menganggap saya yg paling benar?
      Sebenarnya jawabannya mudah, dan jika anda menggunakan akal sehat anda, maka anda sendiri bisa menilai, mana yg benar, dan mana yg salah,

    2. tambahan lagi ini karena belum tegaknya syariat islam di indonesia jadi ya begini hehehe..

      Betulkah syariat islam belum tegak di indonesia?
      Apa sih syariat islam itu, apakah syariat islam itu cuma hukum hudud, potong tangan, rejam?

      Apakah adzan setiap masuk waktu shalat bukan syariat islam? itu syariat islam, bahkan merupakan syiar islam, dan salah satu tanda bahwa negara tersebut adalah negara islam,
      Apakah Puasa ramadhan bukan syariat islam? itu syariat islam, dan negarapun membantu pelaksanaannya,. ini syariat islam yang besar,
      Apakah shalat jumat bukan syariat islam? itu syariat islam, dan banyak sekali kita jumpai masjid2 di seantero penjuru indonesia malaksanakan shalat jumat,.
      Apakah ibadah haji bukan syariat islam? itu syariat islam, dan negara ini pun membantu pelaksanaannya,.
      Apakah tatacara nikah dalam islam itu bukan syariat islam? itu syariat islam, dan di indoenesia mempraktekannya,.

      Ternyata banyak sekali syariat islam telah tegak di indonesia, bahkan syariat islam yang besar2, bukan sekedar hukum potong tangan, dll..

      Jadi, perluaslah cakrawala anda tentang apa itu syariat islam,. bukan melihat syariat islam dalam pandangan yg sempit, pandangan yg picik,..

      intinya, syariat islam sudah tegak di indonesia, walaupun tidak semua,.. tapi syariat yg besar2 sudah tegak di indonesia,.

  8. sebenarnya, satu hal yang paling saya harapkan adalah BERSATUnya seluruh umat islam di Indonesia.
    tapi setelah melihat berbagai hal (termasuk ini), saya rasa itu tidak akan mungkin terjadi.
    terima kasih atas tanggapan anda, sebelumnya saya minta maaf jika saya berlaku tidak sopan.
    wassalamu’alaikum wr wb

    TErimakasih mas febri,
    Mustahil akan terjadi persatuan, jika umat islam tidak mengikuti anjuran rasulullah, yaitu berpegang dengan pemahaman para sahabat, sebagaimana Allah sebutkan dalam surat attaubah ayat 100
    Jika terjadi persatuan pun, itu persatuan yg semu, sebab hati mereka terpecah belah, akidah mereka rusak, bukan akidah yg satu,
    hanya satu jalan menuju kejayaan islam, jalan itu tdk bercabang2,. Rasulullah sudah menggambarkannya dengan cara membuat satu garis lurus, dan beliau juga mmbuat garis2 yg banyak disampingnya,. kita disuruh mengikuti jalan yg lurus tersebut,. apa jalan lurus tersebut, baca disini mas,

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  9. Sesama beragama Islam, yang sama-sama berikrar “Tidak ada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad Utusan Allah”, gampang sekali Anda-anda menjust-sesat dan secara tidak langsung Anda mengkafirkan sesama muslim. Na’udhubillahimindzalik.

    Padahal menganggap sesama muslim kafir, bila itu tidak benar, akan kembali pada yang mengucapkan kekafiran itu. Berhati-hatilah dalam berucap.

    Sebagai orang beriman, segala hal yang kita lakukan harusnya dikerjakan karena Allah SWT.

    Lihatlah Surah At-Taubah ayat 122, disitu dianjurkan untuk mendalami agama, LIYATAFAQQOHU FIDDIIN, disini fi’il mudhori’, bukan fi’il madhi. Dan fiddin di sini adalah Agama, Islam tidak hanya membahas tentang ibadah tetapi semuuuaanya.

    Kalau kata Anda di atas Al-Quran dijelaskan oleh Al-Quran sendiri. Bagaimana mungkin cara membaca Al-Qur’an diajarkan di dalam Al-Qur’an. Membaca Qur’an ini ibadah bukan? Penemuan titik dan harokat bukan pada zaman khulafaurosyidin, meliankan pada zaman dinasti ummayyah, itupun sesudah berjalan 40 tahunan. apa lagi ilmu tajwid, lebih jauh lagi dari masa Nabi, salah baca quran bisa beda arti lhooo. Ini adalah ibadahnya para ulama’ dengan mencurahkan ilmu yang dimiliki untuk kemaslahatan Ummat. Anda jangan membatasi ibadah.

    Anda mengatakan sesuatu yang baru baik qouli maupun fi’li yang berkaitan dengan ibadah itu bid’ah. Tapi in-konsisten dengan kasus di atas.

    Terlalu mempermasalahkan Furu’iah sehingga melahirkan perpecahan dalam tubuh Islam. Orang kafir sudah sangat maju dengan teknologinya. Anda malah sibuk mengkafirkan sesama muslim.

    Kelihatannya intelek tapi malah menghambat persatuan dan kemajuan Islam. Contoh dong para ahli fiqih, yang saling menghormati dalam perbedaan praktek ibadah. Dasar ya, pengennya Islam pecah atau gimana??? Aku melihatnya kelompok kalian emang parasit ditengah Indahnya Islam. Sebaiknya anda berfikir bagaimana Mengislamkan Indonesia, bukannya mengkafirkan sesamanya.

    kalu Anda bilang semua Bid’ah itu sesat. ya sudah, Anda juga termasuk didalamnya, cuma Anda enggak mau mengakui karna sudah kepepet dan banyaklah alasan yang itu alat lah, urusan duniawi lah. mana ada berkaitan Al-Qur’an urusan duniawi tok, Al-Qur’an ini Firman Allah, Kalau urusan dengan Allah, Vertikal, ya urusan ibadah.

    Mana bilang mustahil Islam bisa bersatu lagi,,,, Memang gawat di atas gawat kalian ini.

    Terimakasih mas,.
    yang mengatakan seperti ini : semua Bid’ah itu sesat itu adalah RASULULLAH, bukan saya, lalu apakah berarti Rasulullah itu sesat?

    lalu siapa yg mengkafirkan sesama kaum muslimin? Kaum muslimin ada yg tersesat juga mas, makanya ada kaum muslimin yang diadzab di neraka,.. contoh, mencuri, apakah mencuri itu perbuatan sesat atau bukan? adakah kaum muslimin yang jadi pencuri? banyak.. Apakah berzina itu perbuatan sesat? IYA, dan apakah ada kaum muslimin yg berzina? banyak,..

    Apakah jika kita menjelaskan tentang bahaya mencuri, bahaya berzina, berarti kita telah menganggap kaum muslimin kafir? .. demikian pula, apa masalahnya jika kita menjelaskan tentang bidah itu semuanya sesat,.

  10. Assalamu’alaikum wr.wb

    Wa’alaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh

    Pak admin rada curang nich!
    Komentar yg bisa anda batah anda pajang trs, sementara komentar yg tdk bisa anda bantah di hapus semua.
    pak admin ini maunya bener menurut anda sendiri aja, yg lain di tutup-tutupi.
    Tak apalah…

    terimakasih, apakah anda tidak membaca komentar saya yg terakhir, silahkan datangkan satu dalil saja ttg ritual tahlilan di hari ke 7,10,40.dst,.. silahkan minta tolong kepada siapa saja, atau pimpinan pesantren mana saja,.. jika anda bisa mendatangkan dalil tersebut, silahkan komentar lagi, tapi jika tdk bisa, tdk usah komentar lagi,. .. jadi bukan saya yg curang, dan itu hak saya utk meloloskan atau tidak komentar yang masuk,

    Biar jelas semua bidah itu sesat atau tdk silakan kunjungi
    http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-5-makna-setiap-bid’ah-adalah-sesat.html

    Nah, dalam hal ini anda betul,. saya tunggu dalilnya ttg ritual tahlilan 7,10,40hari dst,.

    Wassalamu’alaikum wr.wb

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  11. Seru membaca perdebatan admin dan Roma Hermawan.
    tapi dari situ saya kok cenderung lebih masuk akal penjelasan admin.

    1. Nabi Muhammad SAW tidak melaksanakan ritual tahlilan.
    2. Para sahabat pun tidak.
    3. Tidak ada dalil yg memerintahkan ritual di 7, 10, 100 dll, karena setau saya itu ritual kematian di agama hindu. (kita islam apa hindu?) dalil : “Barangsiapa mengamalkan sesuatu dalam agama kami, yang bukan berasal darinya; maka amalan tersebut tertolak”
      sangat jelas!!
    4. Tentang dalil yg melarang ritual tahlilan, ya saya pikir ga bakal ada deh, karena acara ini kan setau saya cara dakwah sunan kali jaga, sedangkan wali ini kan hidupnya jauh setelah Nabi Muhammad SAW.

    itu kalo menurut saya pribadi, kalo ada yg mau menyangkal pemikiran saya diatas mohon di benarkan ya. maaf jika ada yang tersinggung…

    Terimakasih kang dimas atas kesimpulannya,..

  12. curhat AKH….

    keluarag sy adalah penggemar tahlilan kelas ka2p

    waktu kkek sy wafat kamipun melaksanaakan tahlilan apa yang kami dapati setelah hari ke 7????

    – pertengkaran antar anggota keluarga soal dana tahlilan
    – capek begadang nungguin tenda dan alat2
    -capek ngelayani tamu
    – anggota yang nyumbang akhirnya saling ungkit pemberian
    – capek mengembalikan alat2 yang dipakai untuk tahlilan
    – dan masih banyak lg yg lainnya

    bukankah seharusnya kami sbg keluarga duka semestinya mendapat istirahat yang lebih?

    agar kesedihan kami sedikit hilang?

    bukankah seharusnya kami dihibur oleh orang2 yang bertakziah? tapi kenapa justru kami yang menghibur mereka

    bukankah seharusnya mereka menolong kami?

    tapi kenapa justru kami yang menolong untuk makanan mereka?

    setelah saya berilmu sungguh apa yang telah kami lakukan TERTOLAK

    yang pasti orang berdo’a itu harus ikhlas apakah semua yang datang itu ikhlas? atau sungkan? atau bahkan mereka berfikir jikalau bukan tetangga niscaya saya tidak akan hadir di acara ini, bukaankah ini menunjukkan ketidak ikhlasan mereka?

    wassalam dari saudaramu yang jauh di sumatera

    Mudah-mudahan masih ada kaum muslimin yang mau mengambil pelajaran,.
    Wa’alaikumussalam warahmatullah

  13. Kalau bid’ah hasanah itu penjelasan dari rasulullah atau bukan mas?? he..he..he..janganlah menafsirkan hadist dengan sendiri 🙂

    mana berani saya menafsirkan hadits sendiri, saya belum punya ilmu nya…

    ulama-lah yang menafsirkan hadits tersebut, saya harap admin membaca kitab2 ulama2 terdahulu seperti karangan Imam Syafi’i, Maliki, Hambali, Hanafi, Ghozali, Nawawi…

    sepertinya Anda pengikut faham Wahabbi ?!

    Kalau bidah hasanah itu ada penjelasannya dari rasulullah, tolong sebutkan dong, jika betul, saya juga mau tuh ngikutin bidah hasanah, tolong bantu sebutkan yah, barangkali saya memang belum tahu, silahkan kasih tahu yaa, saya tunggu,

  14. PUISI UNTUK “mu”

    Aku pergi tahlil, kau bilang itu amalan jahil
    Aku baca shalawat burdah, kau bilang itu bid’ah
    Lalu aku harus bagaimana ?

    Aku tawasul dengan baik, kau bilang aku musyrik
    Aku ikut majlis zikir, kau bilang aku kafir
    Lalu aku harus bagaimana ?

    Aku shalat pakai niat, kau bilang aku sesat,
    Aku adakan maulid, kau bilang tak ada dalil yang valid
    Lalu aku harus bagaimana ?

    Aku ziarah, kau bilang aku ngalap berkah
    Aku slametan, kau bilang aku pemuja setan
    Lalu aku harus bagaimana ?

    Aku datangi yasinan, kau bilang itu tak membawa kebaikan
    Aku ikut tarekat sufi, malah kau suruh aku menjauhi

    Baiklah…baiklah….
    Aku ikut kalian saja :
    Kan kupakai celana cingkrang, agar kau senang
    Kan kupanjangkan jenggot, agar dikira berbobot
    Kan kuhitamkan jidad, agar dikira ahli ijtihad
    Aku akan sering menghujat siapapun, biar dikira hebat
    Aku akan sering mencela, biar dikira mulia….

    Ya sudahlah…..

    Terimakasih untuk puisinya GUS MUS,.
    Ini jawaban buat dirimu,..

    Jawaban :

    Nabi mengajari ber-tahlil, tahmid, tasbih yang syar’i, tapi engkau buat tahlilan

    Nabi telah mengajarkan sholawat dan keutamaannya, tapi engkau membuat sholawat burdah dan Bid’ah

    Para sahabat bertawassul saat Nabi hidup saja, tapi engkau bertawassul kepada orang mati

    Para sahabat melarang dzikir secara berjamaah tapi engkau membiasakannya Nabi dan para sahabat tidak pernah melafadzkan niat tapi engkau melakukannya.

    Nabi dan para sahabat tidak merayakan maulid nabi, tapi engkau merayakannya

    Ziarah untuk mengingat kematian, tapi engkau buat untuk bertawassul

    Allah turunkan 114 Surat Alquran agar dipelajari, tapi kamu mengkhususkan yasin sebagai acara rutin

    Nabi berwasiat agar berpegang terhadap sunnahnya, para sahabatnya tapi kamu buat ajaran yang menyelisihinya

    Tidak isbal, memelihara jenggot bukan kemauan kita, bukan pula tradisi arab, tapi sunnah Nabi hitamnya jidat bukan kemauan, bukan pula sunnah, tapi murni alamiah

    Kini yang menghampirimu adalah orang yang memberi nasehat, bukan pencela maupun penghujat

    Jika engkau rela dirimu tetap begini, ya sudah lah aku pasrah atas kejahilanmu, maka lakukanlah semaumu

    Dinukil dari Group AL-FIRQAH AN-NAJIYAH (Jalan Golongan yang Selamat)

    Sumber Artikel: http://nhawadaa-chan.blogspot.com/2013/04/menjawab-puisi-mustofa-bisri-gus-mus.html#ixzz2Z49GiCcO

    1. Balasannya mantap.
      SKAK MAT

      bukan skak mat yang saya sukai dan inginkan, tapi mudah2an hidayah taufik Allah berikan kepada kang rifki,. sehingga beliau mengenal hakekat kebenaran tersebut,.

      Sungguh nikmat yg tiada taranya mengenal hakekat kebenaran ini,. tidak sebanding dengan harta sepenuh bumi,.

    2. maaf ya mas/kang rifqi,dulu saya sependapat denganmu tapi sekarang saya benci pendapatmu itu…saya juga bs dikatakan mantan aktifis bid’ah mas…tp alhamdulillah Allah telah membukakan pintu hati saya dan msh memberi saya kesempatan bertaubat..

      gini lho mas,orang hindu aja banyak yang masuk islam karena mereka keberatan dengan acara2 yang mereka (orang hindu) wajibkan seperti slametan,3hari,7hari,mendak setelah meninggal,dll..

      para muallaf ini sadar dan menilai Islam adlh agama yg plg benar,agama yg sempurna,tidak memberatkan siapapun dan agama yang masuk akal…

      tapi anehnya kenapa yang orang islam malah ikut2an ajaran mereka (orang hindu)???

      yang diajarkan di Al-Quran dan sunnah aja banyak yg belum diamalkan kok malah mengamalkan ajaran agama lain…

      Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un…

  15. untuk masalah tahlilan,maulid dan lain sebagainya saya setuju itu merupakan bid`ah tapi mengenai hisab itu perlu di telaah dengan cermat, di dalam alqur`an pun Allah telah menjelaskan tentang perhitungan bulan, yang di permasalahkan sekarang adalah baginda nabi tidak pernah menentukan awal atau akhir puasa dengan hisab, makanya hisab di katakan bid`ah.

    Terimakasih pak Dadang atas komentarnya,
    Sama sebagaimana tahlilan, maulid, dan bidah-bidah yang lainnya,
    Menggunakan metode hisab utk penentuan awal ramadhan dan syawal, ini adalah bidah juga, karena rasulullah tidak pernah menggunakan hisab untuk menentukan awal puasa dan awal berbuka, silahkan lihat dan baca disini ulasannya, klik link ini

    sekarang saya mau tanya di jaman nabi bagaimana mereka mengetahui bahwa telah masuk bulan baru sehingga mereka telah siap2 untuk melihat hilal seperti yang kita lakukan sekarang.

    Kenapa kita tidak melakukan diawal bulan utk melihat hilal? karena rasulullah memerintahkan kita tidak seperti itu, tapi hanya utk menentukan awal ramadhan atau syawal, seandainya rasulullah memerintahkan kita setiap awal bulan utk melihat hilal, maka kita sebagai umat muhammad tentu akan melakukannya,

    menurut pendapat saya.. di jaman nabi fenomena alam tidaklah seperti di jaman sekarang sehingga tidak menyulitkan pandangan untuk meliihat hilal, maka dari itu ilmu hisab tidaklah di pakai, kalaupun hisab dikatkan bid`ah berarti saat melakukan shalat pun kita sudah melakukan bid`ah karena melakukan shalat berdasarkan waktu dari perhitungan hisab, jam sekian waktu shalat subuh, jam sekian waktunya shalat dzuhur dan sterusnya. mohon pencerahannya

    Ya, itu kan menurut pendapat anda kan,
    Agama islam ini milik Allah, demikian pula syariat yang ada didalamnya, itu Allah yang menetapkan dan mensyariatkannya, dan semua sudah dijelaskan kepada manusia melalui Rasulnya, dan perlu anda ingat, semua syariat islam itu mudah, tidak ada yang memberatkan manusia, tidak ada satupun syariat Allah yang memberatkan manusia,

    Contoh dalam hal ini masalah melihat hilal, itu tidak memerlukan teropong yang super canggih, atau biaya yang super mahal, namun cukup dengan mata telanjang, dan disini sudah diberi kemudahan, jika hilal tidak terlihat atau tertutup awan, maka genapkan bulan tsb menjadi 30 hari, jadi sangat simpel dan mudah bukan? kita tidak perlu berapa derajat, atau hitungan hisab ,.

    Adapun tentang waktu shalat,maka rasulullah sudah menjelaskan pula, dan dalam hal ini malah ada isyarat tidak mengapa menggunakan hisab, yaitu tatkala rasulullah ditanya tentang cara menentukan waktu shalat ketika di masa datangnya dajjal, yang mana satu hari lamanya tidak seperti satu hari, namun ada satu hari kadarnya sama dengan setahun,sebulan,seminggu, demikian nukilan terjemahan hadits yg ada di shahih muslim :

    Kami berkata: “Ya Rasulullah, berapa lama masa tinggalnya di atas dunia?” Beliau bersabda: “40 hari. Satu hari bagaikan satu tahun, satu hari bagaikan satu bulan, dan satu hari bagaikan satu minggu dan selain itu harinya sama dengan hari biasa.” Kami mengatakan: “Ya Rasulullah, bagaimana kalau satu hari bagaikan satu tahun, apakah cukup bagi kita untuk melaksanakan shalat satu hari?” Rasulullah bersabda: “Tidak, tetapi ukurlah kadarnya.”

    Maka melihat dalil diatas, itu salah satu isyarat bahwa boleh melakukan shalat dengan waktu menggunakan perhitungan / hisab.

    Mudah-mudahan bisa dipahami,

  16. yang pasti kita ikuti saja apa yg di perintahkan Allah dan rasul nya
    kalau ada dalil bid’ah itu sesat ya berarti sesat,jangan dilakukan
    wallahu a’lam

  17. Tambahan :

    Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah (hal baru) di antara rasul-rasul’.” (QS. Al Ahqaf [46])

    seperti juga telah disinggung dalam ayat di atas, bahwa Rosul (Muhammad) disitu tidak membawa hal baru (bertentangan) dgn apa yang telah dibawah (hal yg sudah ada) oleh Rosul-rosul Allah sebelumnya. Artinya Hal yang baru (bi’dah) disitu hanya berkaitan dgn “HAL YG SUDAH ADA” bukan Hal “BELUM ADA”

    Wasalam

    wa’alaikumussalam warahmatullah

    Jangan memahami bidah dari segi bahasa saja mas aries,.
    Jika menafsirkan alquran hanya dari arti bahasa saja, maka akan tersesat,. silahkan rujuk kepada tafsirnya, apa tafsir dari ayat diatas,. ayat diatas tidak berbicara masalah bidah,. jangan disambung-sambungkan dong,.

    Mau tahu apa arti bidah? silahkan baca postingan ini

    Dialog tentang bidah hasanah, LUCU HABIS BRO… silahkan baca disini

    Baca ulasan ini dulu sebelum anda berbuat bidah, silahkan meluncur kesini

  18. yusuf :
    emangnya semua kejadian sebelum dan sesudah Rasulullah tiada, Rasul tahu ya….sampai2 semua kejadian yg akan datang sudah Rasul siapkan,bagaimana dengan Ulama warosatul anbia.

    berarti logika saya dari rosul ,sahabat,ulama secara singkatnya seperti itu, mohon dikoreksi kalau salah ,setahu saya bid’ah lawan sunnah,nah betul nggak,kalau sunnah itu ucapan,prilaku rosul yang berhubungan Ibadah kepada Allah SWT.

    nah ketika kita kesawah nyangkul tak pakai jubah tapi pakai baju ala jawa pakai blangkon , apa itu juga bidah, kalau bukan berarti yang pakai jubah juga bukan sunnah dong,

    terimakasih mas yusuf,
    betul sekali, jubah itu bukan sunnah yang diperintahkan oleh rasulullah, itu adalah sunnah jibliyah, karena rasulullah mengikuti pakaian setempat, namun ada aturannya, yaitu wajib tidak isbal, atau melewati mata kaki, sebab ini ada ancamannya,
    Jadi jika kita ingin mengikuti sunnah rasul dalam hal berpakaian, bisa saja kita memakai sarung,baju koko dan peci hitam, dan sarungnya tidak boleh melewati mata kaki, demikian pula jika memakai celana, tidak boleh melewati mata kaki, itu sunnahnya

    seperti sholawat saya pernah dengar” sesungguhNya Allah dan Malaikat Bersholawat kapada Nabi SAW”

    nah, kalau shalawat, itu wajib mengikuti contoh rasulullah, rasul sudah mengajarkan bagaimana tatacara bershalawat, jadi wajib mengikuti contoh rasulullah,

    menurut saya lagi,memanjangkan atau berjenggot itu sunnah jadi yang tak punya tak kebagian jenggot dong,

    saya luruskan, bukan memanjangkan jenggot mas, tapi membiarkan jenggot itu tumbuh, haram untuk memotongnya, itu yg sunnah, dan bagi yang ditakdirkan tidak tumbuh jenggot, ya tidak terkena kewajiban tersebut, tidak usah memaksakan diri dengan membeli obat penumbuh jenggot,.

    pakai jubah apakah sunnah yang tak pakai bid’ah,untungnya islam tidak turun di jawa ,kalau turun di jawa paling blangkon jadi sunnah. wassalam

    sudah dijelaskan diatas,. yang sunnah adalah mengikuti pakaian kaum setempat, selama tidak menyelisihi aturan islam, yaitu harus menutup aurat, dan tidak isbal bagi laki-laki, jadi contoh pakaian sunnah di jawa misalnya, ya pakai sarung tidak isbal (melewati mata kaki) pakai baju koko / batik (yg tidak ada gambar bernyawanya) , bisa pakai peci hitam , atau blangkon, itu jika blangkon bukan simbol agama non islam tentunya,.

    Rasulullah memakai jubah, karena di kaumnya juga masyarakat memakai jubah,
    Dan jika kita memakai jubah di lingkungan masyarakat yang tidak mengenal jubah, maka kita sudah terjatuh dalam perbuatan dosa, yaitu memakai pakaian syuhrah (ketenaran)

    buat wawasan, APAKAH DEFINISI SUNNAH? silahkan baca disini

  19. inilah jeleknya diskusi tulisan, capek bacanya jg nulisnya. pa lg kadag yg udh dijelasin harus diulang krn ada yng blm baca langsung komen.. bgt pula aku… maaf jk ud dibahas.

    1. perkataan umar amat jelas… dan tidak boleh diartikan makna lughawi, beliau saat mengatakan itu dlm kapasitasnya sebgai khulaaurrasidin, bukan sedang bersair, atau mengajar sastra…

    2. baca sejerah pembukuan Al-Quran, apa saat diusulkan lagsung diiyakan oleh yg lain?
    tdk……! krn para sahabat itu wara’, dan takut dgn bidah.. tp akhirnya disetujui setelah sampai kedalam hatiereka kebenaran… apa kalimat yg merela ucapkan…

    sekali lg ucapan mereka bukan sebagi penyair atau guru sasta bahasa yg boleh diaryikan skdar lughawi…

    beliau-beliau itu tidak layak dikatakan bernmain dgn syriat agama. tdk sprti org awam sekarang kalau udh ttlanjur ngatain bidah, berapa dalilpun gk akan ngaruh, krn dr awal bukan karena wara, tetapi krn kedengkian

    3. saya suka dgn alasan antum mengenai tarwih berjamaah, yg maknanya itu adalah sunnah karena telah dikatakan oleh khulafaurrasidin yg telah diakui oleh Nabi saw.

    bukankah dua adzan jumat itu juga oleh lhulafaurrasidin yg diakui nabi..

    apa bedanya dgn trwih berjamaah dan kunut subuh….

    ketiganya adalah sama sunnah khulafaurrasidin yg telah diakui nabi sblm beliau wafat…

    dgn demikan mengikuti khalifah yg 4 tdk ada yg bid’ah, tdk pula menyelisihi agama ini telah sempurna…

    justru pengkuan nabi adalah wujud kesempurnaan islam….

    Terimakasih mas umar, sudah berkomentar disini,.
    saya luruskan yang point terakhir yang no 3,. saya luruskan, ini perkataan anda :

    ===== 3. saya suka dgn alasan antum mengenai tarwih berjamaah, yg maknanya itu adalah sunnah karena telah dikatakan oleh khulafaurrasidin yg telah diakui oleh Nabi saw.=====

    Tarawih bukan bidah, karena di jaman rasulullah pun dikerjakan berjamaah, dan dengan satu imam, lalu rasulullah meninggalkan, karena wahyu masih turun, takut shalat tarawih akan diwajibkan kepada umatnya, makanya beliau tinggalkan,.

    setelah rasulullah wafat, maka wahyu sudah terputus,.. dan Umar menghidupkan lagi apa yang dulu rasulullah kerjakan,.. jadi umar tidak membuat hal-hal yang baru,

    ==== bukankah dua adzan jumat itu juga oleh lhulafaurrasidin yg diakui nabi.. ====

    Jika kita mau melakukan dua adzan jumat, maka lakukanlah seperti yg dikerjakan oleh Utsman bin affan, yaitu adzan pertama dilakukan ditempat keramaian, itu jauh sebelum masuk waktu dzuhur, gunanya untuk mengingatkan kaum muslimin bahwa hari itu hari jumat , dan adzan kedua dilakukan setelah khatib naik mimbar,..

    Jika kita melakukan seperti itu, maka itu bukanlah bidah, tapi itu merupakan sunnah, karena mengikuti perbuatan khulafaur rasyidin,

    Bandingkan dengan adzan dua kali di masjid2 yang ada di indonesia,.. adzan pertama dan kedua dilakukan di dalam masjid, setelah masuk waktu dzuhur, maka ini tidak ada contohnya, baik dari nabi atau khulafaur rasyidin, dan ini masuk kepada perbuatan bidah,.

    ====apa bedanya dgn trwih berjamaah dan kunut subuh….=====

    bedanya jauh mas,. tarawih berjamaah ada contohnya dari rasulullah, sementara qunut shubuh haditsnya lemah, dan lucunya yang terjadi di indonesia, ketika imam melakukan qunut shubuh, tapi kenapa yang dibaca adalah qunut witir??? ini kelucuan diatas kelucuan, karena memang tidak ada dalil yang shahih tentang qunut shubuh ini, hadits tentang qunut shubuh haditsnya lemah atau dhaif

    ketiganya adalah sama sunnah khulafaurrasidin yg telah diakui nabi sblm beliau wafat…

    dgn demikan mengikuti khalifah yg 4 tdk ada yg bid’ah, tdk pula menyelisihi agama ini telah sempurna…

    justru pengkuan nabi adalah wujud kesempurnaan islam….

    Mengikuti sunnah khulafaur rasyidin itu diperintahkan oleh rasulullah, dan itu bukan berarti islam belum sempurna,

  20. Waduh, panjang sekali jumlah komentarnya, saya hanya ingin berkata : Semoga Gusti Allah senantiasa memberikan rahmat-Nya kepada kita semua, Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan, selalu bisa mensyukuri nikmat Allah, selalu saling menyayangi sesama muslim, saling menghormati, semoga dijauhkan dari kebencian di hati kita. amin.

    Terimakasih, sudah komentar disini,.
    Salah satu bentuk kasih sayang seorang muslim adalah, tidak membiarkan saudaranya sesama muslim terjerumus ke dalam neraka akibat perbuatan BIDAH yang dilakukakannya,. mengingatkan kaum muslimin dari bahaya BIDAH adalah salah satu bentuk kasih sayang kepada sesama muslim,.

    tapi,…

    membiarkan kaum muslimin terus menerus melakukan kebidahan, maka ini adalah salah satu bentuk ketidakpedulian terhadap kaum muslimin,.. membiarkan saudaranya sesama muslim terjerumus kedalam kesesatan,.. tidak berkasih sayang kepada sesama muslim,.

    bukan malah sebaliknya, menuduh golongan yang mengingatkan akan bahaya bidah dianggap sebagai kelompok yang tidak berkasih sayang kepada sesama muslim,..

    Kita sayang sama saudara kita sesama muslim, sehingga kita mengingatkan kaum muslimin dari bahaya bidah,..

    bahkan…

    Rasulullah setiap mau memberikan nasehat, beliau memulai dengan perhatian beliau terhadap bahaya bidah ini, dengan membawakan khutbatul haajah, HATI-HATILAH TERHADAP PERKARA BARU, KARENA PERKARA BARU ITU ADALAH BIDAH,DAN SETIAP BIDAH ITU SESAT, DAN KESESATAN ITU TEMPATNYA DI NERAKA,..

    Tidakkah wanti-wanti rasulullah ini menjadi pelajaran??

    1. yang marah marah biasanya suka bid’ah
      mereka marah karena mereka bingung ngga tau harus membela diri dengan dalil apa?
      karena semua perkara bid’ah memang tidak pernah dilakukan di jaman Rasul

      ayolah bersatu
      jangan kalian berkomentar cuma marah marah
      nuduh nuduh
      ngakunya di tuduh
      eh ujung2nyanuduh

      tuh
      jadi keluar munafiknya kan
      mendingan tanya baik2
      tapi kalo udah ada dalilnya ya tinggal diklarifikasi sama ahlinya sana

      jangan kalian berkomentar cuma marah marah
      kalo ternyata saudara benar dan baik si penanggungjawab di sini juga saya yakin bakalan mengerti
      yang jadi masalah kan

      ada yg berkomentar dan cuma marah marah
      lalu diam setelah dipaparkan dalilnya

      sebaliknya kalo ternyata yang tulisan-tulisan disini benar ya tinggal di copy paste…
      klarifikasi
      amalkan

      SELESAI
      GITU AJA repot sampe manggil2 sunan sama neriakin orang orang di luar negeri sana

      blog ini adalah 1 cara berdakwah

      berdakwah sama yg kafir, juga yg muslim yang tersesat

      harusnya kalo memang kita salah, kita seneng ada saudara yang mengingatkan
      eeeh malah marah marah…

      nabi kita ummat islaam adalah RasulULAAH Muhammad SAW, beliaulah yang seharusnya jadi panutan kita dengan tuntunan AL Quran titik.

      ISLAAM ya ISLAAM, kalo ada ISLAAM koma bla bla bla… berarti bukan ISLAAM

      gitu aja kok repot,
      LAA HAU LAA wa LAA KUWWATAA ILAA bILLAAH

      Saya tambahkan,. Panutan kita adalah Rasulullah, dan rasulullah sudah mengajarkan semua ajaran islam kepada para sahabat,.
      Jadi jika ingin mengikuti rasulullah, maka WAJIB MEMAHAMI ISLAM DENGAN PEMAHAMAN PARA SAHABAT,.
      Pedoman ALQURAN DAN SUNNAH saja tidak lah cukup, jika cara memahaminya itu salah,
      Tapi..
      Jika memahaminya dengan pemahaman para sahabat, maka itulah JALAN KESELAMATAN,. silahkan lihat postingannya disini

  21. saya hidup di lingkungan masyarakat penuh bid’ah.

    saya sendiri ketika melihat kondisi keluarga yang malah ribut mencari uang untuk acara tahlilan ke 7 40 100dst hari bahkan sampai hutang di bank, saya langsung berfikir ” islam itu mudah ini malah mempersulit diri”.

    cukup mendoakan si mayid itu disetiap hari setiap selesai sholat. mungkin pelaku bid’ah khusunya tahlilan yang belum merasakan sendiri gimana susahnya mencari uang sampai berhutang2 kesana kemari untuk membeli makanan yang harus dipersiapkan untuk orang2 yang diundang tahlil,

    bayangkan sampai harus hutang cuma agar bisa melakukan tahlilan di hari ke 7 40 100 dst kalau tidak maka masyarakat akan mencela “kok tidak diadakan acara tahlilan ke 7 40 dan 100?

    wah berarti anda teroris ya? kan ajaran teroris yang berjenggot2 itu lho yang anti tahlilan -astaghfirulloh-”

    cukuplah hanya mengikuti apa yang rasulullah contohkan, bahkan masih buanyak ibadah2 sunnah yang rasul contohkan saja belum bisa kita lakukan semua, eh ini malah membuat aturan ibadah baru yang bagi anda pencetus tahlilan mungkin baik tapi bagi saya masyarakat sangat MERUGIKAN.

    tidak cuma tahlilan tapi juga ziarah kubur dikhususkan sbelum puasa, nanti pasti juga ada biaya untuk masak2, dll. tiap hari masjid penuh dengan acara bid’ah, hati ini sedikitpun sama sekali tidak tenang, dan dengan meninggalkan bid’ah itu lalu hanya mengfokuskan diri pada amalan2 wajib dan sunnah rasul baru hati ini tenang merasa hidup,

    mau di kata teroris hati ini tetap tenang,saya malah senang karena yang mencela memberi saya pahala gratis.

    terimakasih mba sari, sudah komentar disini,..
    sabar mba, masyarakat melakukan ritual tersebut karena mereka itu tidak tahu, bahwa amalan tersebut bukanlah amalan yang dicontohkan oleh rasulullah,.
    masyarakat melakukan itu semua karena tradisi turun temurun, karena mengikuti nenek moyang, padahal ajaran islam itu bukanlah mengikuti nenek moyang, tapi mengikuti dalil, mengikuti contoh rasulullah sebagai pembawa islam,

    bagaimana menyikapi masyarakat yang terjerumus dalam amalan2 yang tidak ada contohnya dari rasulullah? silahkan download ebook bagus, silahkan save as link ini

  22. Saya sangat kagum dengan admin blog ini, saya belajar banyak dari dialog kalian dan semakin saya membaca komentar2 kalian, semakin saya bisa lebih memahami tentang bid’ah dan sunnah

    terimakasih sudah berkomentar disini,. mudah2an bisa mengambil manfaat,.

  23. Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Fath al-Bari menuliskan sebagai berikut:
    ﻭَﺍﻟﺘَّﺤْﻘِﻴْﻖُ ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻣِﻤَّﺎ ﺗَﻨْﺪَﺭِﺝُ ﺗَﺤْﺖَ ﻣُﺴْﺘَﺤْﺴَﻦٍ ﻓِﻲْ
    ﺍﻟﺸَّﺮْﻉِ ﻓَﻬِﻲَ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ، ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻣِﻤَّﺎ ﺗَﻨْﺪَﺭِﺝُ ﺗَﺤْﺖَ ﻣُﺴْﺘَﻘْﺒَﺢٍ
    ﻓِﻲْ ﺍﻟﺸَّﺮْﻉِ ﻓَﻬِﻲَ ﻣُﺴْﺘَﻘْﺒَﺤَﺔٌ .
    “Cara mengetahui bid’ah yang hasanah dan sayyi-ah menurut tahqiq para ulama adalah bahwa jika perkara baru tersebut masuk dan tergolong kepada hal yang baik dalam syara’ berarti termasuk bid’ah hasanah, dan jika tergolong hal yang buruk dalam syara’ berarti termasuk bid’ah yang buruk” (Fath al-Bari, j. 4, hlm. 253).

    terimakasih benk hattori atas tambahannya, betul sekali,.
    harus tergolong baik dalam syara’ berarti bidah hasanah,. ini hakekatnya sama dengan sunnah itu sendiri, dan lawan dari sunnah adalah bidah, jadi bidah hasanah adalah sunnah, dan contohnya adalah shalat tarawih yang dilakukan oleh umar, mengumpulkan kaum muslimin utk shalat tarawih dgn satu imam, dan shalat tarawih sudah pernah dilakukan oleh rasulullah, kemudian karena takut diwajibkan kepada umatnya, maka rasulullah meninggalkan hal tsb,.. dan dimasa umar, umar menghidupkan sunnah tsb,. dan berkata,. inilah senikmat-nikmat bidah,.

    jadi bagi yang berpegang pada dalil bidah hasanah, sebutkan dong contoh yang seperti umar lakukan,.

  24. kenapa kalian tak berdakwah saja di amerika latin,, yang 99% penduduknya kafir,,,

    Terimakasih, komentar yang sangat lucu,..
    Kita mendakwahkan salaf bukan di indonesia saja mas,. salah besar, di amerika juga banyak,. bahkan mereka mendakwahkan di jalan-jalan, demikian pula di eropa seperti jerman,. jadi salah anggapan anda,.

    rukun islam itu 5 rukun iman itu 6,, kalau mereka masih berpegang teguh pada kedua hal tersebut berarti mereka tetaplah muslim yang beriman,,

    Kepada orang kafir, kita mendakwahkan kepada islam, supaya masuk islam,
    Kepada orang islam kita mendakwahkan agar umat islam beribadah dengan tatacara yang betul-betul rasulullah ajarkan, bukan beramal dengan amalan yang dibuat-buat, jadi salah besar jika sudah memeluk islam lalu tidak mempelajari bagaimana sih ajaran islam tersebut? pelajari islam yang benar, dengan pemahaman yang benar,. itulah satu-satunya jalan keselamatan,

    Sehingga benar pula pemahamannya terhadap rukun iman dan rukun islam, bukan islam ikut-ikutan,.

    jadi yang berhak menilai agama seseorang hanyalah ALLAH SWT,, kalau memang kalian gigih menyebarkan islam mestinya kalian dakwah di benua amerika,,,,

    Betul mas,. dan perlu diingat, Allah sudah mengutus Rasulnya,. untuk apa? untuk mendakwahkan ketentuan Allah , syariat Allah,. agar kaum muslimin beribadah dengan syariat Allah tersebut, berdasarkan ketentuan Allah, sehingga Allah menerima amalan-amalan tersebut,.
    Bukan beribadah semau gue,. sekarepe dewe, .. ini adalah kesalahan besar,.

    Jadi tidak usah jauh-jauh berdakwah di amerika, wong musibahnya ada disini, umat islam disini tidak paham apa itu islam, sehingga beribadah sekarepe dewe, semau gue,.

    tau kenapa jazirah arab kacau balau,, karena otak mereka seperti kalian,,

    Kata siapa mas,.. emang jazirah arab yang mana, negara arab itu macem-macem, bahkan ada yang lebih parah dari indonesia,. contoh seperti di dubai, mesir, turki,. itu sama saja spt di indonesia, banyak yang melanggar aturan islam..

    tapi tidak begitu dengan saudi,. setiap waktu shalat tiba, pasar berhenti, kegiatan berhenti, semua laki2 pergi ke masjid untuk shalat,.. makanya ini menjadikan saudi satu2nya negara yang paling aman untuk saat ini, negara yang diberkahi Allah,.

  25. “Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Alquran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya.

    Mereka membaca Alquran dan mengiranya sebagai pembela mereka, padahal ia adalah hujjah yang menghancurkan alasan mereka.

    Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya.” (HR. Abu Dawud)

    “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca (menghafal) al-Qur’ân, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’ân dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’ân, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”.

    Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”.
    Beliau menjawab, “Penuduhnya”. (HR. Bukhâri dalam at-Târîkh, Abu Ya’la, Ibnu Hibbân dan al-Bazzâr. Disahihkan oleh Albani dalam ash-Shahîhah, no. 3201).

    Terimakasih sudah menukilkan hadits yang mulia,..
    tapi…

    Kenapa anda tidak menukilkan juga penjelasan dari kedua hadits tersebut??
    Apakah takut ketahuan tidak sejalan dengan keinginan anda tentang maksud hadits tersebut?

    Atau anda memang betul-betul tidak paham maksud dan penjelasan dari kedua hadits tersebut?
    Saya berprasangka baik mungkin anda tidak paham akan hadits tersebut,.
    Hadits diatas menjelaskan tentang sifat-sifat khawarij,

    Karena komentar anda, saya postingkan artikelnya,. silahkan baca disini

  26. Assalamualaikum..

    Bermanfaat sekali yg di bahas.
    Jadi menambah wawasan.
    Karna saya adalah awam dr segi bid’ah..
    saya ingin tanya pada admin.

    Rosulallah adalah (umi) yakni buta hurus baik membaca ataau menulis..

    pertanyaan saya jika jika semua yg di lakukan umat islam sesduah wafatnya rosulullah itu bid’ah. Dan semua bid’ah itu sesat.
    BAGAIMANA DENGAN HUKUM MEMBACA AL QUR’AN SEDANGKAN ROSULALLAH TDK PERNAH MEMBACA. ROSULALLAH HANYA MENGHAFAL.
    SALAM

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    Terimakasih kang abdul, komentar yang sangat bagus, senang bisa menambah wawasan anda,.
    Rasulullah tidak bisa membaca dan menulis, ini hanya untuk bantahan kepada orang-orang yang menganggap alquran itu karangan rasulullah,.
    Bagaimana itu karangan rasulullah, wong rasul tidak bisa membaca dan menulis,.

    Adapun Membaca Alquran, itu diperintahkan oleh Allah, bahkan Rasulullah saja pertama kali menerima wahyu adalah surat al ‘alaq, ayat pertama bunyinya IQRA,.. apa arti iqra? artinya BACALAH, Rasulullah disuruh membaca, jadi ini bukan menyelisihi Rasul,

    Rasul sendiri memerintahkan agar di rumah kita dibacakan alquran, jangan jadikan rumah kita seperti kuburan, tidak pernah untuk membaca alquran, dan banyak lagi keutamaan membaca alquran ini,.

    Jadi baca alquran bukan bidah,. selain dibaca, alquran itu suruh dihafal juga, ada keutamaan menghafal alquran, juga banyak keutamaan orang yang belajar membaca alquran,.

    Kata rasulullah, orang yang membaca alquran terbata-bata karena sedang sedang belajar, itu mendapat dua pahala,.

  27. Assalamu’alaikum wrb
    jujur tahlilan merupakan “moment” yang saya tunggu-tunggu ketika masih kecil bukan apa-apa tapi ngarepin berkat sama “sajiannya” hehehe itu juga terus saya lakukan sampai saya sekolah karena kapan lagi dapat makan gratis 😀 *jadi malu*

    hingga suatu ketika saya menanyakan hal tersebut kepada Bapak saya (Alm) dan beliau menegaskan bahwa hal itu tak ada landasan syar’i nya,saya pun menjadi penasaran, lalu saya mencoba mulai mencari dalil tentang tahlilan dan referensi mengenai hal tersebut,

    kebetulan juga Alm bapak saya memiliki referensi buku kumpulan hadist-hadist shahih bukhari & muslim dan buku fiqih 4 mahzab, saya juga mulai mengikuti beberapa pengajian teman dan mencari referensi dari ustadz pengajian,

    setelah saya pelajari ternyata saya temukan bahwa tahlilan itu memang tidak pernah ada contohnya, adapun dalil atau hadist tentang tahlilan kesemuanya dho’if (lemah) dan tidak berdasar justru rasul malah mengajarkan agar membantu sesorang yang sedang tertimpa musibah, Malah yang semestinya, disunnahkan bagi tetangga keluarga mayit yang menghidangkan makanan untuk keluarga mayit, supaya meringankan beban yang mereka alami.

    Sebagaimana bimbingan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadistnya:

    اصْنَعُوا لآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ يُشْغِلُهُمْ

    “Hidangkanlah makanan buat keluarga Ja’far, Karena telah datang perkara (kematian-pent) yang menyibukkan mereka. ” (H. R Abu Dawud, At Tirmidzi dan lainnya)

    jujur ini sangat sekali masuk akal, karena etikanya pada orang sakit saja saat kita membesuk atau menengoknya kita pasti membawa bingkisan seperti buah-buahan atau kalau tidak kita sekedar datang menjenguknya sembari menghibur serta mendoakannya agar cepat sembuh, itu adab menjenguk orang yang sedang sakit, lalu bagaimana dengan yang sudah meninggal dunia?

    bahkan rasulullah sendiripun menganjurkan para sahabatnya untuk menyediakan makanan untuk keluarga almarhum bukan sebaliknya,

    subhanallah..inilah ajaran islam yang agung dan mulia, jika yang yang sedang mengalami musibah meninggal dunia ini orang berada dan berkecukupan,lalu bagaimana dengan yang hidupnya yang kurang berkecukupan atau menengah kebawah?

    jujur saya saksikan sendiri bagaimana diantara mereka ada yang mengeluarkan biaya lebih bahkan sampai meminjam bahkan mengutang kepada saudara maupun orang lain untuk bisa mengadakan acara tahlillan ini,

    kalau saya lihat bukankah ini memberatkan namanya?

    harusnya rezeqi yang ada atau yang telah diwariskan harusnya dimanfaatkan bagi keluarga yang ditinggal atau ahli waris tersebut yang lebih bermanfaat, terkadang pengeluarannya bisa sampai jutaan rupiah,

    jujur sewaktu alm bapak saya meninggal beliau sudah berpesan agar jangan mengadakan tahlilan tapi karena pihak saudara khususnya yang tertua mendesak dan memaksa akhirnya diadakan juga dengan syarat agar cuma 3 harian saja

    akhirnya saya pun mengalah walau dengan sangat terpaksa karena mereka rata-rata semuanya mendukung tahlilan tersebut,

    tahukan berapa biaya yang saya keluarkan untuk acara tersebut?

    sebesar 2,5 juta lebih untuk 3 hari!

    uang segitu untuk tahun 2010 masih terhitung lumayan dan itu pun menggunakan uang peninggalan pensiun dari alm bapak saya yang seharusnya bisa saya manfaatkan untuk keluarga dan itupun hanya mengundang tetangga sekitar terdekat saja tanpa mengundang pengajian mushola dan semua masyarakat di tempat tinggal saya itu,

    kalau tidak tentu membutuhkan dana yang lebih dari itu, untuk 3 hari pun membutuhkan dana sebesar itu apalagi bagaimana jika sampai 40 bahkan sampai 100 harian??

    lalu apakah rasulullah akan mencontohkan sesuatu yang membebani umatnya?

    lihatlah saudaraku ahlak yang mulia dari kekasih allah yang mulia ini, bahkan tak jarang acara tahlilan ini menjadi hal yang ‘wajib’

    bahkan saya lihat di tempat tinggal saya jika tidak ada yang melakukan tahlilan sudah pasti bakal jadi bahan “pergunjingan” bahkan tak jarang mulai di jauhi

    tapi jika diantara mereka ada yang tidak shalat berjamaah di mushola atau pun tidak pernah terlihat shalat berjamaah malah tidak dipermasalahkan sama sekali bahkan dianggap biasa saja,

    justru ketika sedang waktunya shalat maghrib-isya ketika saya berjalan menuju mushola untuk berjamaah sering saya lihat mereka suka nongkrong-nongkrong ngumpul ga jelas, ironi ya ironi saya bilang!

    dimana orang yang tidak shalat wajib bahkan tidak pernah datang berjamaah di mushola maupun di masjid tidak dianggap masalah besar bagi mereka bahkan terkesan sepele tapi ketika tidak melakukan tahlilan saja langsung di “musuhi” ini aneh namanya menganggap tahlilan sebagai ibadah yang utama bahkan mengalahkan kedudukan sholat wajib!

    padahal yang ditanya dan dihisab pertama kalai nanti di akhirat adalah SHOLATNYA! bukan TAHLILANNYA!

    bahkan tak jarang tahlilan itu biasanya mulai ketika sehabis shalat maghrib, ketika tetangga saya meninggal saya datang tapi hanya sekedar menunjukan rasa belasungkawa dan menghormati saja adapun saya tidak ikut membaca yasinan,tahlilan dsb ketika acara tahlilan

    sedang berjalan tiba-tiba terdengar lantunan adzan pertanda shalat isya, namun apa yang terjadi?

    mereka cuek saja terus membaca tahlilan berjamaah dengan keras bahkan tidak menganggap wajibnya menyambut seruan ilahi tersebut,,

    masya allah…

    saya pun langsung izin kepada pemilik rumah untuk ke musholla

    jujur dihati saya pun bercampur aduk, bertanya-tanya kenapa seolah-olah tahlilan itu benar-benar wajibun sekali buat mereka padahal seruan Allah datang memanggil kita untuk segera menghadapnya??

    kenapa mereka lebih mementingkan sesuatu yang jelas tidak ada tuntunan syar’i nya daripada memenuhi seruan allah??

    bukankah kita diharuskan bergegas memenuhi panggilan-Nya??

    bukankah kita harus meninggalkan segala kegiatan dan kesibukan kita untuk segera memenuhi panggilan-Nya?

    bahkan ketika adzan berkumandang kita dianjurkan harus berdiam sebentar untuk menghormati seruan adzan??

    bukankah shalat itu wajib hukumnya?

    bukankah shalat itu termasuk rukun islam yang kedua setelah syahadat??

    lalu kenapa mereka menyingkirkan kedudukan shalat yang mulia ini??

    begitulah seribu pertanyaan yang berkecamuk dalam hati saya ini,

    singkat cerita ketika saya sudah selesai sholat isya berjamaah di musholla saya kembali lagi kerumah tetangga saya dan ternyata tahlilan masih tetap berlanjut, kira-kira jam 8.30 tahlil selesai dan dilanjutkan dengan acara makan-makan,

    ini adalah pengalaman pribadi saya sendiri dan kejadian ini bukan hanya terjadi ditempat saya tinggal namun rata-rata ditempat lain juga seperti ini ketika saudara atau teman saya yang meninggalpun sama kejadiannya,,

    saudaraku berfikirlah secara jernih jangan menggunakan hawa nafsu kita dalam beragama, semua sudah jelas, sudah ada tata cara aturan yang benar,

    bukankah rasul pernah menegur ketika ada orang yang tidak ingin menikah dan tidak mau berbuka puasa hingga waktu berbuka dan ingin berpuasa penuh secara terus-menerus??

    dengan alasan hanya karena ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah dan ingin menjadi orang yang lebih shalih sehingga perbuatan ini ingin melebihkan nabi, bahkan rasulullah pun berkata kepada orang itu bahwa beliau adalah orang yang paling dekat dengan allah tapi beliau juga menikah dan berbuka puasa ketika tiba dan beliau pun berkata jika tidak menyukai sunahku ini maka dia bukan tergolong dari umatku!

    karena apa? karena perbuatan ini termasuk “ghulluw” atau sikap yang berlebih-lebihan dalam agama yang justru hanya membebani dan mempersulit diri sendiri

    bahkan rasul pun mengancam untuk orang yang melakukan itu bukan termasuk kedalam umatnya!

    begitu juga dengan perbuatan yang tak ada landasan syar’i dan tuntunannya, sama saja kita berbuat sesuatu yang sia-sia dan tidak mendapatkan apa-apa justru malah dosa yang didapat!

    marilah kita kita benar-benar menjalankan ibadah dan perintah Allah SWT serta menjauhi larangan-Nya sesuai dengan yang sudah di syariatkan tanpa ditambah-tambahi dan di kurang-kurangi, karena agama ini sudah sempurna!

    seperti yang diwasiatkan oleh rasulullah SAW “berpegang teguhlah dengan kitabullah dan sunahku dan sunah para khulafaur rasyidin” bahkan rasul pun sampai menyuruh kita harus menggigit erat dan kuat sunah beliau dan para khulafaur rasyidin dengan gigi geraham kita!

    ini cerminan bagaimana rasulullah sangat khawatir dengan keadaan umatnya nanti, karena beliau tau bakal ada pertentangan dan perpecahan diantara umatnya kelak dan memang ini terbukti sekarang! “suburnya bid’ah dan matinya sunah!”

    mari kita konsisten menjalankkan dan menegakkan sunah-sunah beliau dan bersiap-siaplah kita bakal menjadi orang yang “terasing” sebagaimana rasul meriwayatkan dalam sebuah hadist ” agama islam itu berawal dari keterasingan dan akan kembali menjadi terasing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu”
    Wassalam…

    wa’alaikumussalam warahmatullah,..
    terimakasih atas sharing pengalaman tahlilan ini,. sepertinya bisa diolah jadi postingan tersendiri,.

  28. saya mualaf dan mohon petunjuk.. di sekitar rumah saya sering diadakan acara tahlil (membaca yasin) bersama2, rutin setiap minggu sekali..

    Apakah ini diajarkan juga oleh Rassulah ?

    Karena saya fakir ilmu tentang hal ini, akhirnya saya memutuskan untuk belajar mengaji saja daripada ikut rutin tahlil.
    mohon petunjuk mana yg benar yg dianjurkan Rassullah. maturnuwun

    Alhamdulillah, selamat atas mendapatkan hidayah islam,.
    Islam itu adalah ajaran yang berdasarkan dalil dari Allah, dan Rasulullah sudah menjelaskan semua ajaran Allah,.
    Tahlilan, itu adalah tradisi,. tidak ada perintahnya dari rasulullah,
    Kalau boleh tahu, dimanakan anda tinggal, biar saya tunjukkan tempat taklim yang menjelaskan islam dengan pemahaman yang benar, agar kita selamat dunia dan akherat, tidak beribadah tanpa dalil,.bukan cuma ikut-ikutan saja,.
    Seluruh kaum muslimin wajib mengikuti pemahaman para sahabat, sebab itu satu-satunya jalan keselamatan, lihat ulasannya disini

  29. .mengenai tradisi berarti ikut melaksanakan apa yang di lakukan oleh nenek moyang kita terdahulu atau orang tuakita terdahulu,banyak yang beranggapan dengan mengikuti ajaran nenek moyang kita berarti (dalam hal beribadah khususnya ) mendapat nilai plus dr sisi Ibadah……

    mengenai hal itu saya mau menuliskan sebuah ayat dari Alqur’an Surah Al Baqarah ayat 169 dan 170 yang artinya

    “Sesungguhnya (setan ) itu hanya menyuruh kamu agar berbuat jahat dan keji. dan mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah. Dan apabila di katakan kepada mereka.”Ikutlah apa yang telah di turunkan Allah,”mereka menjawab,”(tidak) kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).
    “Padahal,nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apapun, dan tidak mendapat petunjuk”.

    mungkin ini dalil dari Al Quran Al Karim mengenai mengikuti tradisi nenek moyang,yang sering mengadakan tahlilan itukan tradisi dr nenek moyang atau orangtua trdahulu.

    dan di zaman Rasulullah dan khulafaurrasidin serta di zaman tabiin,tabi’ tabiin dan generasi sesudahnya tdk prnh sm sekali melakukan acara kematian seperti yasinan dan tahlilan itu sendiri…apalagi mengkususkan harinya.

    Itu merupakan Bi’ah dan kesesatan yang nyata di zaman modern seperti in yang sm sekali tdk prnah di ajarkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam…

    dan banyak dr pelaku bid’ah mengambil argumen atw dalil untuk di jadikan hujjah dan membela para pelaku bid’ah yang ternyata setelah saya teliti dalilnya,alhamdulillah dengan kebesaran dn kekuasaan serta izin Allah Jallahu ‘Ala sy di beri pemahaman…..ternyata semua dalilnya mengenai acara tahlilan dn yasinan semuanya dho’if (lemah) bahkan ada yang smpai derajat maudhu’ (palsu) dan itu tdk boleh di pakai sbgai hujjah dan pembela para pelaku bid’ah…..

    jadi pertanyaan,kita sebagai umat muslim orang yang beragama islam yang mengaku sebagai pengikut Nabi dr penutup para Nabi….

    kita berislam mengikuti nenek moyang atw Manusia yang paling mulia yang membawa dan mengajarkan islam itu sendiri Rasulullah Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam. ?

    Kalau saya sih Sami’na wa ato’na…….
    maaf kalau msh ada kesalahan dan kekurangan,karena sy msh miskin ilmu dan msh harus banyak belajar…Syukron yaa akhi.

    Jazakumullahu khairan atas tambahan penjelasan anda,. mudah2an para pembaca bisa mengambil faidah,.

  30. salam..
    dalam Tahlilan …
    itu sering di baca Ayat-ayat Alquran antara lain : suratul Fatehah,surah Yassin, surah Al ikhlas, Al falaq,An nas dll serta doa doa mohon pengampunan dan Rahmat kepada Allah SWT..
    apakah pelaksanaan membaca Surah2 Al-Quran ini dan doa2 secara bersama-sama disebut bid’ah…
    mhn penjelasan.

    wa’alaikumussalam,.
    Terimakasih mas adjie,..
    Rasulullah adalah manusia yang paling mencintai Alquran,. bahkan yang mengajarkannya,..
    Rasulullah juga manusia yang paling banyak berdzikirnya, juga manusia yang paling banyak memohon ampun kepada Allah,.

    Dan Rasulullah tidak melakukan hal-hal seperti yg anda sebutkan,. dengan cara seperti itu,.
    Karena itu semua tidak rasulullah ajarkan,tidak rasulullah kerjakan, maka semua diatas tadi jika dilakukan seperti cara-cara diatas, maka hal tersebut disebut bidah,.

    Ibadah itu nunggu dalil yang memerintahkan, jika ada dalil kita kerjakan,jika tidak ada dalil maka jangan pernah dikerjakan, silahkan baca ulasannya disini

  31. Asssalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
    saya mau tanya pak. apakah naik mobil. motor, kereta, pesawat, pake Hp, internet, makan nasi, bakso, sosis, pecel, itu juga bid’ah…?

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    Terimakasih mas sugi,.
    Bidah itu hanya ada pada urusan ibadah saja, bukan urusan dunia,.
    Hal yang anda sebutkan diatas, itu adalah urusan dunia, bukan urusan ibadah,.
    Hukum asal urusan dunia itu boleh, selama tidak ada dalil yang melarang,.

    Silahkan baca arti bidah untuk orang awam, biar lebih paham, silahkan baca disini

    1. trus klo masalah tutup ka’bah ..?

      pembangunan masjid, manaqib, maulud. ? pa tu juga Bid’ah?

      Tutup ka’bah itu bukan bidah, itu masalah dunia,. sebagaimana pembangunan masjid, masjid pakai keramik,mic,speaker, itu semua perkara dunia,.

      Kalau manaqib,maulid nabi, nah ini perkara ibadah, wajib ada dalil yang memerintahkannya, jika tidak ada dalil, maka ini bidah

      Ibadah itu nunggu dalil yang memerintahkan, baru kerjakan, silahkan baca ulasannya disini

      1. juga bagaimana dengan pembukuan Al Qur’an, pemberian fathah kasroh tasjid sukun pada Al Qur’an, trus bagaiman hukumnya belajar ilmu tajwid. trus bagaimna hukumnya menulis dengan huruf selain Arab pada lafat Al Qur’an, pa itu juga bit’ah yang sesat..?

        Pembukuan Alquran?.. itu adalah sunnah rasul,.
        Silahkan baca disini

        Alquran sudah ada harakatnya saja banyak yang ga bisa baca alquran, gimana kalau ga ada harakatnya ya?

      2. yang saya tanyakan masalah bit’ahnya mas. kan dijaman Rosul tidak ada pembukuan Al Qur’an bagaimana anda bisa bilang sunah? knapa tidak anda bilang bit’ah..? dan dijaman Rosul apakah juga berharakat kan belum trus tu bit’ah tidak?
        tolong jelaskan

        Mau tahu?
        Perbuatan yang dilakukan oleh khulafaur rasyidin itu adalah SUNNAH juga, dan Rasulullah memerintahkan kita untuk mengikutinya,.
        Dan pembukuan Alquran dilakukan atas perintah khulafaur rasyidin,
        Ulasannya sudah diposting disini

        Ini perintah rasulullah,.
        Berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang diberi petunjuk, gigitlah dengan gerahammu, dan hati – hatilah kamu terhadap perkara yang baru karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalahsesat. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, At-Tirmidzy, Al-Hakim, Al-Baghawi)

        Ini dari Alquran, kita disuruh mengikuti para sahabat,.
        Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [QS. An Nisaa’ (4):155]

      3. dalam Al Qur’an sudah kita ketahui banyak berisi kisah kisah para Rosul berarti itu sama dong dengan maulid dan juga manaqib?

        Bukankah Rasulullah sendiri selaku penyampai alquran juga tidak melakukan perayaan-perayaan seperti maulid dan manaqib?
        Kan panutan kita adalah Rasulullah, bukan yang lainnya,.
        Kalau rasulullah yang paling paham alquran saja tidak melakukannya, kenapa kok kita repot2 melakukannya?

  32. assalaamu’alaikuum…
    Saya ingin mendapatkan pencerahan berkenaan dengan bid’ah, sudah dipahami bahwa bid’ah secara singkat adalah –yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah–, yang mengganggu saya adalah pembukuan al quran, penyematan titik, baris atau tanda baca serta penafsiran/penterjemahan adalah bid’ah, sedangkan semua bid’ah adalah sesat/tercela, tolong pencerahannya.

    Terima kasih,
    Salaam

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    Mudah saja mas,.
    Perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah, juga oleh khulafaur rasyidin itu BUKAN BIDAH, tapi SUNNAH yang wajib diikuti,.
    Pembukuan Alquran, pemberian tanda baca, itu dilakukan di jaman khulafaur rasyidin,.
    Rasulullah telah merekomendasikan agar kita mengikuti khulafaur rasyidin,.
    Jadi apa yang mereka lakukan bukanlah bidah, saya sudah ulas disini

    Pembukuan Alquran dan penulisannya juga sudah dimulai sejak jaman Rasulullah, saya sudah ulas disini

  33. ibadah itu ada yang mahdhoh dan ada yg ghairuhu mahdhoh…

    tahlilan itu ghairuhu mahdhoh dan tidak ada kekuasaan seorang manusia pun yang bisa menentukan apakan amalan seseorang itu diterima atau tidak…semuanya tergantung dari ridho dan rahmat Allah SWT amiin!

    Anda tahu tidak mas apa arti ibadah mahdhoh dan ghairu mahdhoh?..
    Menjadikan tahlilan kematian sebagai ibadah ghaira mahdhoh adalah salah besar, tanda tidak paham apa arti ibadah mahdhoh dan ghaira mahdhoh, silahkan baca apa artinya, sudah saya ulas disini

  34. wah berarti naik haji pake pesawat juga bid’ah dunk.

    apakah kita harus berenang dan jalan kaki atau harus sewa unta di kebun binatang? bagaimana juga dengana penggunaan hp?

    rosulullah dan khulafaur rosidin tidak mengenal hp. termasuk anda mungkin juga menggunakan hape. bahkan anda pakai internet juga bid’ah dunk. dan spt penjelasan anda, bidah itu sesat.
    termasuk saat melihat web ini.

    Terimakasih mas,.. komentar yang bagus,.
    Anda pengunjung baru blog saya ya,
    Yang anda tanyakan sudah saya posting lamaaa sekali,

    RASULULLAH diutus bukan untuk MEMBUAT PESAWAT
    Rasulullah tidak diutus untuk membuat mic,speaker,mobil,pesawat,kereta api, bakso,bala-bala,becak,hape,komputer,.tahu gejrot,rujak cingur,kupat tahu,mie ayam,sepeda,siomay,cilok,getuk,dodol,es campur,dan lain-lain,.
    Itu semua urusan dunia,.. hukum asalnya boleh selama tidak ada dalil yang melarang,.
    Jadi masjid pakai keramik, dipasangin karpet,dipasang soundsistem, itu semua urusan dunia,.
    Jadi boleh-boleh saja,.
    Jadi adzan pakai mic atau pengeras suara itu bukan bidah,.
    Tapi BISA MENJADI BIDAH jika ada keyakinan,.
    ADZAN TIDAK SAH jika tidak pakai pengeras suara,.. nah ini baru bidah,.
    Baca disini ya,.

    1. iya pengunjung baru. dan sy butuh ilmu yg tidak hanya dari satu-dua referensi sj. wassalam.

      Alhamdulillah,.
      Yang disebut ILMU adalah Apa yang dikatakan oleh Allah,Apa yang dijelaskan oleh Rasulullah, diajarkan kepada para sahabatnya,.
      Orang-orang yang mengikuti hal tersebut, maka mereka diatas ilmu yang benar,
      Selain itu bukanlah ilmu, tapi was-was setan,

      Jika ada yang anda tidak paham, maka bertanyalah kepada ahlul ilmi, orang yang paham ilmu,

      Bukan berkata tanpa ilmu, .. mari belajar… belajar… jika ada yang anda merasa belum tahu, boleh nanya disini,.

      Mudah-mudahan bisa menjawab kebingungan anda,.
      wa’alaikumussalam warahmatullah

  35. saya tetp memegang sunnah dari nabiku yaitu muhammad saw…beliau adlah sebaik baik panutan..dan para pembuat bida’ah sengaja mengada ngadakn hadist yg mngtakn bahwa ada tuh bida’ah hasanah sbgai pembela bahwasanya mereka benar….
    ‘udh tau sesat masih jga dikerjakan'”

  36. Aslmu’alaikum,
    terima kasih mas,
    sy ikut menyimak diskusi tentang Ibadah yang sesuai Syar’I ini,
    Alhamdulillah semoga Allah selalu memberikan rahmat dan Hidayahnya kepada mas admin dan kita semua dan utk saudara muslim kita yg msh??

    Smoga mendapatkan hidayah dari Allah subhanahu’wa’ta’ ala, Amiiiin, dan Alhamdulillah utk sy pribadi insaAllah sangat bermanfaat,

    artinya semakin tercerahkan dg apa yg telah disampaika mas admin di Laman ini..
    Allahu’akbar, Ala’humma ‘sali’ala Muhammad wa ala’ali Muhammad..

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Alhamdulillah,.
    aamiin atas doanya, jazakumullahu khairan

    mudah2an anda dan pembaca semua mendapatkan hidayah taufik dan istiqamah di atasnya

  37. Assalamualaikum…
    Sunah itu kalau di kerjakan mendapat pahala kalau nggak dikerjakan kita akan RUGI…

    itu adalah sepenggal kalimat yang slalu saya ingat dari sebuah buku…

    dan itu yang membuat aku bersemangat…

    karna saya nggak mau RUGi..semangatlah buat belajar buat mencari tahu mana sunah yang bener2 dari rosul..mana yang di ada2kan..,

    ternyata banyak banget amalan sehari semalam yang di ajarkan rosul…eeehhh…malah orang2 banyak yang ngerjakan perkara2 yang di ada2kan…apa nggak sayang…??

    sunah dari rosul yang sehari semalam aja belum dikerjakan..

    eeehhh malah ngerjakan perkara yang di ada2kan.

    Buat ustadz2 salafi…kapan tausiyah di DEMAk????
    Tapi jangan kaget za pak sama orang2 demak…hehehe..

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Oh ke demak ya,.. lebih dekat kemana tuh, semarang, kudus, atau mana,.. karena di demak saya belum ada informasinya,.
    Tapi bisa simak via parabola saja, tonton rodja tv aja

  38. kalo kita mau menikah pertama ,usahakan lah dengan janda beranak dan kaya, karena nabi juga begitu.bagaimana tanggapannya. bukannya nikah salah satu ibadah?

    Justru yang lebih utama menikahi gadis,. itu kata nabi, dan pilihlah karena bagusnya agamanya,.

  39. Astagfirullah berarti menurut antum… Semua para wali Allah yg ada di dunia ini adalah termasuk para pelaku ahli bid’ah dolalah dan semua ada dineraka…

    Syeh abdul qodir aljailani mendirikan sbuah tarekat namanya tarekat qodiriyah, syeh abu hasan asyadili mendirikan tarekat syadiliyah, syeh rifa’i mendirikan tarekat rifaiyah, termasuk juga wali songo DLL.

    Mereka semua dipercaya adalah para qutubul auliya’illah (rajanya para wali Allah) sperti yg di jelaskan berarti Mereka semua adalah pelaku ahli bid’ah dgn mendirikan ajaran tarikat yg menurut antum semua itu adalah bid’ah…

    Pantaskah antum semua merasa lebih muliya di bandingkan mereka….

    Para Wali Allah tidak akan melakukan AMALAN BIDAH,
    Para Wali Allah itu adalah orang yang takut dengan Allah, sehingga akan beribadah dengan ibadah yang Allah tetapkan,.

    Apakah Abdul Qadir Jailani seperti yang anda katakan? mana buktinya? sudah saya posting tentang biografi Syaikh Abdul Qadir Jailani, beliau seorang ulama, bukan pembuat tarekat,.. sudah saya posting disini

  40. assalamualaikum,
    saya pengen kembali ke ajaran rasulullah,saya dari kecil sampe skrang sllu hidup di lingkungan yg penuh dengan ke bid’ahan

    kalau di daerah subang,jawa barat adakah pengajian salaf??
    di antos info na
    jajakallah khair,,

    wa’alaikumussalam warahmatullah,
    Amhamdulillah,
    ti subang tos aya pasantrenna malah,
    mangga atuh ameng ka pasantren, sok taroskeun dinten naon aya taklim diditu,
    Abdi bere alamatna,Ma’had Minhajul Muslim Pantura Subang
    Jl.Sewo-Kalensari Km.2,5 No.90 Rt.07/02
    Sarimulya-Rangdu, Pusakajaya-Subang
    Jawa Barat KP.41255
    * Informasi :
    C.P. : 081320710954 (Abu Syalhaa`), 085289660963 (Abu Nasyith)

    Aya oge pangaosan rutin ahad enjing pekan ka dua, tempatna ti masjid agung subang, pemateri ustadz abu haidar assundawy , ustadz saking bandung, sok hadir , terbuka untuk umum

  41. Uraian anda hebat sekali,

    alhamdulillah anda diberi umur panjang sehingga dapat menjelaskan kepada kita kita yang hidup di jaman ini Subhaanallah,

    anda dgn gamblang menyampaikan maksud sayyidina umar bin khattab perihal bid’ah yg disampaikannya adalah secara bahasa,

    kalau boleh tau waktu itu pas beliau ngajar tata bahasa dan anda jadi mahasiswa nya yaa, bersyukur sekali anda dapat penjelasan langsung dari beliau,

    termasuk sejarah pemushafan qur’an anda ada juga ya sewaktu beliau menyampaikan rencana pembayarannya dan oleh sayyidina abu bakar sempat ditolak dan dibilang bid’ah namun akhirnya beliau setuju dan kemudian sama sama mengutus zaid bin tsabit dan sempat ditolak karena takut bid’ah, namun akhirnya zaid juga setuju karena itu semua demi kemaslahatan ummat

    anda jadi saksi semuanya itu yaa sehingga tau kalau itu semua adalah bid’ah dari segi bahasa, salut buat anda.

    Saya tidak akan menanggapi pernyataan anda di atas,.
    Saya cuma mau bertanya,..
    Anda beragama islam kan,.
    Nah..
    Islam yang anda anut, itu Islam yang berasal dari Rasulullah atau bukan?..

    Saya ingin anda menjawab dengan berdasarkan bukti, apakah anda hidup sejaman dengan Rasulullah, kok ngaku itu islam yang rasulullah ajarkan,.
    Itu jika anda mengaku orang islam,. silahkan mas, ditunggu jawabannya,.

  42. RABU, 15 OKTOBER 2014

     Bid’ah dalam pengertian bahasa adalah:
    مَا أُحْدِثَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍ سَابِقٍ
    “Sesuatu yang diadakan tanpa ada contoh sebelumnya”.
    Seorang ahli bahasa terkemuka, Ar-Raghib al-Ashfahani dalam kitab Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an, menuliskan sebagai berikut:
    “Kata Ibda’ artinya merintis sebuah kreasi baru tanpa mengikuti dan mencontoh sesuatu sebelumnya. Kata Ibda’ jika digunakan pada hak Allah, maka maknanya adalah penciptaan terhadap sesuatu tanpa alat, tanpa bahan, tanpa masa dan tanpa tempat. Kata Ibda’ dalam makna ini hanya berlaku bagi Allah saja. Kata al-Badi’ digunakan untuk al-Mubdi’ (artinya yang merintis sesuatu yang baru). Seperti dalam firman (Badi’ as-Samawat Wa al-Ardl), artinya: “Allah Pencipta langit dan bumi…”. Kata al-Badi’ juga digunakan untuk al-Mubda’ (artinya sesuatu yang dirintis). Seperti kata Rakwah Badi’, artinya: “Bejana air yang unik (dengan model baru)”. Demikian juga kata al-Bid’u digunakan untuk pengertian al-Mubdi’ dan al-Mubda’, artinya berlaku untuk makna Fa’il (pelaku) dan berlaku untuk makna Maf’ul (obyek). Firman Allah dalam QS. al-Ahqaf: 9 (Qul Ma Kuntu Bid’an Min ar-Rusul), menurut satu pendapat maknanya adalah: “Katakan Wahai Muhammad, Aku bukan Rasul pertama yang belum pernah didahului oleh rasul sebelumku” (artinya penggunaan dalam makna Maf’ul)”, menurut pendapat lain makna ayat tersebut adalah: “Katakan wahai Muhammad, Aku bukanlah orang yang pertama kali menyampaikan apa yang aku katakan” (artinya penggunaan dalam makna Fa’il)” (Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an, h. 36).
    Dalam pengertian syari’at, bid’ah adalah
    “Sesuatu yang baru yang tidak terdapat penyebutannya secara tertulis, baik di dalam al-Qur’an maupun dalam hadits”. (Sharih al-Bayan, j. 1, h. 278)
    Seorang ulama bahasa terkemuka, Abu Bakar Ibn al-‘Arabi menuliskan sebagai berikut:
    لَيْسَتْ البِدْعَةُ وَالْمُحْدَثُ مَذْمُوْمَيْنِ لِلَفْظِ بِدْعَةٍ وَمُحْدَثٍ وَلاَ مَعْنَيَيْهِمَا، وَإِنَّمَا يُذَمُّ مِنَ البِدْعَةِ مَا يُخَالِفُ السُّـنَّةَ، وَيُذَمُّ مِنَ الْمُحْدَثَاتِ مَا دَعَا إِلَى الضَّلاَلَةِ
    “Perkara yang baru (Bid’ah atau Muhdats) tidak pasti tercela hanya karena secara bahasa disebut Bid’ah atau Muhdats, atau dalam pengertian keduanya. Melainkan Bid’ah yang tercela itu adalah perkara baru yang menyalahi sunnah, dan Muhdats yang tercela itu adalah perkara baru yang mengajak kepada kesesatan”.
    Macam-Macam Bid’ah
    Bid’ah terbagi menjadi dua bagian: Pertama: Bid’ah Dlalalah. Disebut pula dengan Bid’ah Sayyi-ah atau Sunnah Sayyi-ah. Yaitu perkara baru yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah. Kedua: Bid’ah Huda atau disebut juga dengan Bid’ah Hasanah atau Sunnah Hasanah. Yaitu perkara baru yang sesuai dan sejalan dengan al-Qur’an dan Sunnah.
    Al-Imam asy-Syafi’i berkata
    الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ : أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ ممَّا يُخَالـِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثرًا أَوْ إِجْمَاعًا ، فهَذِهِ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلـَةُ، وَالثَّانِيَةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هذا ، وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ (رواه الحافظ البيهقيّ في كتاب ” مناقب الشافعيّ
    “Perkara-perkara baru itu terbagi menjadi dua bagian. Pertama: Perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ atau menyalahi Atsar (sesuatu yang dilakukan atau dikatakan sahabat tanpa ada di antara mereka yang mengingkarinya), perkara baru semacam ini adalah bid’ah yang sesat. Kedua: Perkara baru yang baru yang baik dan tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah, maupun Ijma’, maka sesuatu yang baru seperti ini tidak tercela”. (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang Shahih dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i) (Manaqib asy-Syafi’i, j. 1, h. 469).
    Dalam riwayat lain al-Imam asy-Syafi’i berkata:
    اَلْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ: بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ، فَمَا وَافَقَ السُّـنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمٌ
    “Bid’ah ada dua macam: Bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Bid’ah yang sesuai dengan Sunnah adalah bid’ah terpuji, dan bid’ah yang menyalahi Sunnah adalah bid’ah tercela”. (Dituturkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath Al-Bari)
    Pembagian bid’ah menjadi dua oleh Imam Syafi’i ini disepakati oleh para ulama setelahnya dari seluruh kalangan ahli fikih empat madzhab, para ahli hadits, dan para ulama dari berbagai disiplin ilmu. Di antara mereka adalah para ulama terkemuka, seperti al-‘Izz ibn Abd as-Salam, an-Nawawi, Ibn ‘Arafah, al-Haththab al-Maliki, Ibn ‘Abidin dan lain-lain. Dari kalangan ahli hadits di antaranya Ibn al-’Arabi al-Maliki, Ibn al-Atsir, al-Hafizh Ibn Hajar, al-Hafzih as-Sakhawi, al-Hafzih as-Suyuthi dan lain-lain. Termasuk dari kalangan ahli bahasa sendiri, seperti al-Fayyumi, al-Fairuzabadi, az-Zabidi dan lainnya. Dengan demikian bid’ah dalam istilah syara’ terbagi menjadi dua: Bid’ah Mahmudah (bid’ah terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (bid’ah tercela). Pembagian bid’ah menjadi dua bagian ini dapat dipahami dari hadits ‘Aisyah, bahwa ia berkata: Rasulullah bersabda:
    مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاريّ ومسلم)ه
    “Barang siapa yang berbuat sesuatu yang baharu dalam syari’at ini yang tidak sesuai dengannya, maka ia tertolak”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
    Dapat dipahami dari sabda Rasulullah: “Ma Laisa Minhu”, artinya “Yang tidak sesuai dengannya”, bahwa perkara baru yang tertolak adalah yang bertentangan dan menyalahi syari’at. Adapun perkara baru yang tidak bertentangan dan tidak menyalahi syari’at maka ia tidak tertolak. Bid’ah dilihat dari segi wilayahnya terbagi menjadi dua bagian; Bid’ah dalam pokok-pokok agama (Ushuluddin) dan bid’ah dalam cabang-cabang agama, yaitu bid’ah dalam Furu’, atau dapat kita sebut Bid’ah ‘Amaliyyah. Bid’ah dalam pokok-pokok agama (Ushuluddin) adalah perkara-perkara baru dalam masalah akidah yang menyalahi akidah Rasulullah dan para sahabatnya.
    Dalil-Dalil Bid’ah Hasanah
    Al-Muhaddits al-‘Allamah as-Sayyid ‘Abdullah ibn ash-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani dalam kitab Itqan ash-Shun’ah Fi Tahqiq Ma’na al-Bid’ah, menuliskan bahwa di antara dalil-dalil yang menunjukkan adanya bid’ah hasanah adalah sebagai berikut (Lihat Itqan ash-Shun’ah, h. 17-28):
    1. Firman Allah dalam QS. al-Hadid: 27:
    وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ (الحديد: 27 )ه
    “Dan Kami (Allah) jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya (Nabi ‘Isa) rasa santun dan kasih sayang, dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah” (Q.S. al-Hadid: 27)
    Ayat ini adalah dalil tentang adanya bid’ah hasanah. Dalam ayat ini Allah memuji ummat Nabi Isa terdahulu, mereka adalah orang-orang muslim dan orang-orang mukmin berkeyakinan akan kerasulan Nabi Isa dan bahwa berkeyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Allah memuji mereka karena mereka kaum yang santun dan penuh kasih sayang, juga karena mereka merintis rahbaniyyah. Praktek Rahbaniyyah adalah perbuatan menjauhi syahwat duniawi, hingga mereka meninggalkan nikah, karena ingin berkonsentrasi dalam beribadah kepada Allah. Dalam ayat di atas Allah mengatakan “Ma Katabnaha ‘Alaihim”, artinya: “Kami (Allah) tidak mewajibkan Rahbaniyyah tersebut atas mereka, melainkan mereka sendiri yang membuat dan merintis Rahbaniyyah itu untuk tujuan mendekatkan diri kepada Allah”. dalam ayat ini Allah memuji mereka, karena mereka merintis perkara baru yang tidak ada nash-nya dalam Injil, juga tidak diwajibkan bahkan tidak sama sekali tidak pernah dinyatakan oleh Nabi ‘Isa al-Masih kepada mereka. Melainkan mereka yang ingin berupaya semaksimal mungkin untuk taat kepada Allah, dan berkonsentrasi penuh untuk beribadah kepada-Nya dengan tidak menyibukkan diri dengan menikah, menafkahi isteri dan keluarga. Mereka membangun rumah-rumah kecil dan sederhana dari tanah atau semacamnya di tempat-tempat sepi dan jauh dari orang untuk beribadah sepenuhnya kepada Allah.
    2. Hadits sahabat Jarir ibn Abdillah al-Bajali, bahwa ia berkata: Rasulullah bersabda:
    مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه مسلم)ه)
    “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim)
    Dalam hadits ini dengan sangat jelas Rasulullah mengatakan: “Barangsiapa merintis sunnah hasanah…”. Pernyataan Rasulullah ini harus dibedakan dengan pengertian anjuran beliau untuk berpegangteguh dengan sunnah (at-Tamassuk Bis-Sunnah) atau pengertian menghidupkan sunnah yang ditinggalkan orang (Ihya’ as-Sunnah). Karena tentang perintah untuk berpegangteguh dengan sunnah atau menghidupkan sunnah ada hadits-hadits tersendiri yang menjelaskan tentang itu. Sedangkan hadits riwayat Imam Muslim ini berbicara tentang merintis sesuatu yang baru yang baik yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Karena secara bahasa makna “sanna” tidak lain adalah merintis perkara baru, bukan menghidupkan perkara yang sudah ada atau berpegang teguh dengannya.
    3. Hadits ‘Aisyah, bahwa ia berkata: Rasulullah bersabda:
    مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاريّ ومسلم)ه
    “Barang siapa yang berbuat sesuatu yang baharu dalam syari’at ini yang tidak sesuai dengannya, maka ia tertolak”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
    Hadits ini dengan sangat jelas menunjukkan tentang adanya bid’ah hasanah. Karena seandainya semua bid’ah pasti sesat tanpa terkecuali, niscaya Rasulullah akan mengatakan “Barangsiapa merintis hal baru dalam agama kita ini apapun itu, maka pasti tertolak”. Namun Rasulullah mengatakan, sebagaimana hadits di atas: “Barangsiapa merintis hal baru dalam agama kita ini yang tidak sesuai dengannya, artinya yang bertentangan dengannya, maka perkara tersebut pasti tertolak”. Dengan demikian dapat dipahami bahwa perkara yang baru itu ada dua bagian: Pertama, yang tidak termasuk dalam ajaran agama, karena menyalahi kaedah-kaedah dan dalil-dalil syara’, perkara baru semacam ini digolongkan sebagai bid’ah yang sesat. Kedua, perkara baru yang sesuai dengan kaedah dan dalil-dalil syara’, perkara baru semacam ini digolongkan sebagai perkara baru yang dibenarkan dan diterima, ialah yang disebut dengan bid’ah hasanah.
    4. Dalam sebuah hadits shahih riwayat al-Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya disebutkan bahwa sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab secara tegas mengatakan tentang adanya bid’ah hasanah. Ialah bahwa beliau menamakan shalat berjama’ah dalam shalat tarawih di bulan Ramadlan sebagai bid’ah hasanah. Beliau memuji praktek shalat tarawih berjama’ah ini, dan mengatakan: “Ni’mal Bid’atu Hadzihi”. Artinya, sebaik-baiknya bid’ah adalah shalat tarawih dengan berjama’ah. Kemudian dalam hadits Shahih lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan bahwa sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab ini menambah kalimat-kalimat dalam bacaan talbiyah terhadap apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Bacaan talbiyah beliau adalah:
    لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ فِيْ يَدَيْكَ، وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ
    5. Dalam hadits riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa ‘Abdullah ibn ‘Umar ibn al-Khaththab menambahkan kalimat Tasyahhud terhadap kalimat-kalimat Tasyahhud yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Dalam Tasayahhud-nya ‘Abdullah ibn ‘Umar mengatakan:
    أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
    Tentang kaliamat tambahan dalam Tasyahhud-nya ini, ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata: “Wa Ana Zidtuha…”, artinya: “Saya sendiri yang menambahkan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah”.
    6. ‘Abdullah ibn ‘Umar menganggap bahwa shalat Dluha sebagai bid’ah, karena Rasulullah tidak pernah melakukannya. Tentang shalat Dluha ini beliau berkata:
    إِنَّهَا مُحْدَثَةٌ وَإِنَّهَا لَمِنْ أَحْسَنِ مَا أَحْدَثُوْا (رواه سعيد بن منصور بإسناد صحيح)ه
    “Sesungguhnya shalat Dluha itu perkara baru, dan hal itu merupakan salah satu perkara terbaik dari apa yang mereka rintis”. (HR. Sa’id ibn Manshur dengan sanad yang Shahih)
    Dalam riwayat lain, tentang shalat Dluha ini sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar mengatakan:
    “Shalat Dluha adalah bid’ah, dan ia adalah sebaik-baiknya bid’ah”. (HR. Ibn Abi Syaibah)
    Riwayat-riwayat ini dituturkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari dengan sanad yang shahih.
    7. Dalam sebuah hadits shahih, al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dari sahabat Rifa’ah ibn Rafi’, bahwa ia (Rifa’ah ibn Rafi’) berkata: “Suatu hari kami shalat berjama’ah di belakang Rasulullah. Ketika beliau mengangkat kepala setelah ruku’, beliau membaca: “Sami’allahu Lima Hamidah”. Tiba-tiba salah seorang makmum berkata
    رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ
    Setelah selesai shalat, Rasulullah bertanya: “Siapakah tadi yang mengatakan kalimat-kalimat itu?”. Orang yang yang dimaksud menjawab: “Saya Wahai Rasulullah…”. Lalu Rasulullah berkata:
    رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِيْنَ مَلَكًا يَبْتَدِرُوْنَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلَ
    “Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berlomba untuk menjadi yang pertama mencatatnya”.
    Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, mengatakan: “Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan akan kebolehan menyusun bacaan dzikir di dalam shalat yang tidak ma’tsur, selama dzikir tersebut tidak menyalahi yang ma’tsur” (Fath al-Bari, j. 2, h. 287).
    8. al-Imam an-Nawawi, dalam kitab Raudlah ath-Thalibin, tentang doa Qunut, beliau menuliskan sebagai berikut:
    هذَا هُوَ الْمَرْوِيُّ عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَليهِ وَسَلّمَ وَزَادَ الْعُلَمَاءُ فِيْهِ: “وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ” قَبْلَ “تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ” وَبَعْدَهُ: “فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ”. قُلْتُ: قَالَ أَصْحَابُنَا: لاَ بَأْسَ بِهذِهِ الزِّيَادَةِ. وَقَالَ أَبُوْ حَامِدٍ وَالْبَنْدَنِيْجِيُّ وَءَاخَرُوْنَ: مُسْتَحَبَّةٌ
    “Inilah lafazh Qunut yang diriwayatkan dari Rasulullah. Lalu para ulama menambahkan kalimat: “Wa La Ya’izzu Man ‘Adaita” sebelum “Tabarakta Wa Ta’alaita”. Mereka juga menambahkan setelahnya, kalimat “Fa Laka al-Hamdu ‘Ala Ma Qadlaita, Astaghfiruka Wa Atubu Ilaika”. Saya (an-Nawawi) katakan: Ashab asy-Syafi’i mengatakan: “Tidak masalah (boleh) dengan adanya tambahan ini”. Bahkan Abu Hamid, dan al-Bandanijiy serta beberapa Ashhab yang lain mengatakan bahwa bacaan tersebut adalah sunnah” (Raudlah ath-Thalibin, j. 1, h. 253-254).
    Beberapa Contoh Bid’ah Hasanah Dan Bid’ah Sayyi-ah
    Berikut ini beberapa contoh Bid’ah Hasanah. Di antaranya:
    1. Shalat Sunnah dua raka’at sebelum dibunuh. Orang yang pertama kali melakukannya adalah Khubaib ibn ‘Adiyy al-Anshari; salah seorang sahabat Rasulullah. Tentang ini Abu Hurairah berkata:
    فَكَانَ خُبَيْبٌ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الصَّلاَةَ عِنْدَ الْقَتْلِ (رواه البخاري)ه
    “Khubaib adalah orang yang pertama kali merintis shalat ketika akan dibunuh”. (HR. al-Bukhari dalam kitab al-Maghazi, Ibn Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf)
    Lihatlah, bagaimana sahabat Abu Hurairah menggunakan kata “Sanna” untuk menunjukkan makna “merintis”, membuat sesuatu yang baru yang belaum ada sebelumnya. Jelas, makna “sanna” di sini bukan dalam pengertian berpegang teguh dengan sunnah, juga bukan dalam pengertian menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan orang. Salah seorang dari kalangan tabi’in ternama, yaitu al-Imam Ibn Sirin, pernah ditanya tentang shalat dua raka’at ketika seorang akan dibunuh, beliau menjawab
    “Dua raka’at shalat sunnah tersebut tersebut pernah dilakukan oleh Khubaib dan Hujr bin Adiyy, dan kedua orang ini adalah orang-orang (sahabat Nabi) yang mulia”. (Diriwayatkan oleh Ibn Abd al-Barr dalam kitab al-Isti’ab) (al-Isti’ab Fi Ma’rifah al-Ash-hab, j. 1, h. 358)
    2. Penambahan Adzan Pertama sebelum shalat Jum’at oleh sahabat Utsman bin ‘Affan. (HR. al-Bukhari dalam Kitab Shahih al-Bukhari pada bagian Kitab al-Jum’ah).
    3. Pembuatan titik-titik dalam beberapa huruf al-Qur’an oleh Yahya ibn Ya’mur. Beliau adalah salah seorang tabi’in yang mulia dan agung. Beliau seorang yang alim dan bertaqwa. Perbuatan beliau ini disepakati oleh para ulama dari kalangan ahli hadits dan lainnya. Mereka semua menganggap baik pembuatan titik-titik dalam beberapa huruf al-Qur’an tersebut. Padahal ketika Rasulullah mendiktekan bacaan-bacaan al-Qur’an tersebut kepada para penulis wahyu, mereka semua menuliskannya dengan tanpa titik-titik sedikitpun pada huruf-hurufnya. Demikian pula di masa Khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan, beliau menyalin dan menggandakan mush-haf menjadi lima atau enam naskah, pada setiap salinan mush-haf-mush-haf tersebut tidak ada satu-pun yang dibuatkan titik-titik pada sebagian huruf-hurufnya. Namun demikian, sejak setelah pemberian titik-titik oleh Yahya bin Ya’mur tersebut kemudian semua umat Islam hingga kini selalu memakai titik dalam penulisan huruf-huruf al-Qur’an. Apakah mungkin hal ini dikatakan sebagai bid’ah sesat dengan alasan Rasulullah tidak pernah melakukannya?! Jika demikian halnya maka hendaklah mereka meninggalkan mush-haf-mush-haf tersebut dan menghilangkan titik-titiknya seperti pada masa ‘Utsman. Abu Bakar ibn Abu Dawud, putra dari Imam Abu Dawud penulis kitab Sunan, dalam kitabnya al-Mashahif berkata: “Orang yang pertama kali membuat titik-titik dalam Mush-haf adalah Yahya bin Ya’mur”. Yahya bin Ya’mur adalah salah seorang ulama tabi’in yang meriwayatkan (hadits) dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar dan lainnya. Demikian pula penulisan nama-nama surat di permulaan setiap surat al-Qur’an, pemberian lingkaran di akhir setiap ayat, penulisan juz di setiap permulaan juz, juga penulisan hizb, Nishf (pertengahan Juz), Rubu’ (setiap seperempat juz) dalam setiap juz dan semacamnya, semua itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Apakah dengan alasan semacam ini kemudian semua itu adalah bid’ah yang diharamkan?!
    4. Pembuatan Mihrab dalam majid sebagai tempat shalat Imam, orang yang pertama kali membuat Mihrab semacam ini adalah al-Khalifah ar-Rasyid ‘Umar ibn Abd al-’Aziz di Masjid Nabawi. Perbuatan al-Khalifah ar-Rasyid ini kemudian diikuti oleh kebanyakan ummat Islam di seluruh dunia ketika mereka membangun masjid. Siapa berani mengatakan bahwa itu adalah bid’ah sesat, sementara hampir seluruh masjid di zaman sekarang memiliki mihrab?! Siapa yang tidak mengenal Khalifah ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz sebagai al-Khalifah ar-Rasyid?!
    5. Peringatan Maulid Nabi adalah bid’ah hasanah sebagaimana ditegaskan oleh al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), al-Hafizh al-’Iraqi (W 806 H), al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani (W 852 H), al-Hafizh as-Suyuthi (W 911 H), al-Hafizh as-Sakhawi (W 902 H), Syekh Ibn Hajar al-Haitami (W 974 H), al-Imam Nawawi (W 676 H), al-Imam al-‘Izz ibn ‘Abd as-Salam (W 660 H), Mantan Mufti Mesir; Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (W 1354 H), mantan Mufti Bairut Lebanon Syekh Mushthafa Naja (W 1351 H) dan masih banyak lagi para ulama terkemuka lainnya.
    6. Membaca shalawat atas Rasulullah setelah adzan adalah bid’ah hasanah sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh as-Suyuthi dalam kitab Musamarah al-Awa-il, al-Hafizh as-Sakhawi dalam kitab al-Qaul al-Badi’, al-Haththab al-Maliki dalam kitab Mawahib al-Jalil, dan para ulama besar lainnya.
    7. Menulis kalimat “Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam” setelah menulis nama Rasulullah termasuk bid’ah hasanah. Karena Rasulullah dalam surat-surat yang beliau kirimkan kepada para raja dan para penguasa di masa beliau hidup tidak pernah menulis kalimat shalawat semacam itu. Dalam surat-suratnya, Rasulullah hanya menuliskan: “Min Muhammad Rasulillah Ila Fulan…”, artinya: “Dari Muhammad Rasulullah kepada Si Fulan…”.
    8. Beberapa Tarekat yang dirintis oleh para wali Allah dan orang-orang saleh. Seperti tarekat ar-Rifa’iyyah, al-Qadiriyyah, an-Naqsyabandiyyah dan lainnya yang kesemuanya berjumlah sekitar 40 tarekat. Pada asalnya, tarekat-tarekat ini adalah bid’ah hasanah, namun kemudian sebagian pengikut beberapa tarekat ada yang menyimpang dari ajaran dasarnya. Namun demikian hal ini tidak lantas menodai tarekat pada peletakan atau tujuan awalnya.
    Berikut ini beberapa contoh Bid’ah Sayyi-ah. di antaranya sebagai berikut:
    1. Bid’ah-bid’ah dalam masalah pokok-pokok agama (Ushuluddin), di antaranya seperti:
    A. Bid’ah Pengingkaran terhadap ketentuan (Qadar) Allah. Yaitu keyakinan sesat yang mengatakan bahwa Allah tidak mentaqdirkan dan tidak menciptakan suatu apapun dari segala perbuatan ikhtiar hamba. Seluruh perbuatan manusia, -menurut keyakinan ini-, terjadi dengan penciptaan manusia itu sendiri. Sebagian dari mereka meyakini bahwa Allah tidak menciptakan keburukan. Menurut mereka, Allah hanya menciptakan kebaikan saja, sedangkan keburukan yang menciptakannya adalah hamba sendiri. Mereka juga berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar bukan seorang mukmin, dan juga bukan seorang kafir, melainkan berada pada posisi di antara dua posisi tersebut, tidak mukmin dan tidak kafir. Mereka juga mengingkari syafa’at Nabi. Golongan yang berkeyakinan seperti ini dinamakan dengan kaum Qadariyyah. Orang yang pertama kali mengingkari Qadar Allah adalah Ma’bad al-Juhani di Bashrah, sebagaimana hal ini telah diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Yahya ibn Ya’mur.
    B. Bid’ah Jahmiyyah. Kaum Jahmiyyah juga dikenal dengan sebutan Jabriyyah, mereka adalah pengikut Jahm ibn Shafwan. Mereka berkeyakinan bahwa seorang hamba itu majbur (dipaksa); artinya setiap hamba tidak memiliki kehendak sama sekali ketika melakukan segala perbuatannya. Menurut mereka, manusia bagaikan sehelai bulu atau kapas yang terbang di udara sesuai arah angin, ke arah kanan dan ke arah kiri, ke arah manapun, ia sama sekali tidak memiliki ikhtiar dan kehendak.
    C. Bid’ah kaum Khawarij. Mereka mengkafirkan orang-orang mukmin yang melakukan dosa besar.
    D. Bid’ah sesat yang mengharamkan dan mengkafirkan orang yang bertawassul dengan para nabi atau dengan orang-orang saleh setelah para nabi atau orang-orang saleh tersebut meninggal. Atau pengkafiran terhadap orang yang tawassul dengan para nabi atau orang-orang saleh di masa hidup mereka namun orang yang bertawassul ini tidak berada di hadapan mereka. Orang yang pertama kali memunculkan bid’ah sesat ini adalah Ahmad ibn ‘Abd Al-Halim ibn Taimiyah al-Harrani (W 728 H), yang kemudian diambil oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab dan para pengikutnya yang dikenal dengan kelompok Wahhabiyyah.
    2. Bid’ah-bid’ah ‘Amaliyyah yang buruk. Contohnya menulis huruf (ص) atau (صلعم) sebagai singkatan dari “Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam” setelah menuliskan nama Rasulullah. Termasuk dalam bahasa Indonesia menjadi “SAW”. Para ahli hadits telah menegaskan dalam kitab-kitab Mushthalah al-Hadits bahwa menuliskan huruf “shad” saja setelah penulisan nama Rasulullah adalah makruh. Artinya meskipun ini bid’ah sayyi-ah, namun demikian mereka tidak sampai mengharamkannya. Kemudian termasuk juga bid’ah sayyi-ah adalah merubah-rubah nama Allah dengan membuang alif madd (bacaan panjang) dari kata Allah atau membuang Ha’ dari kata Allah.
    Kerancuan Pendapat Yang Mengingkari Bid’ah Hasanah
    1. Kalangan yang mengingkari adanya bid’ah hasanah biasa berkata: “Bukankah Rasulullah dalam hadits riwayat Abu Dawud dari sahabat al-‘Irbadl ibn Sariyah telah bersabda:
    وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ (رواه أبو داود)ه
    Ini artinya bahwa setiap perkara yang secara nyata tidak disebutkan dalam al-Qur’an dan hadits atau tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan atau al-Khulafa’ ar-Rasyidun maka perkara tersebut dianggap sebagai bid’ah sesat .
    Jawab: Hadits ini lafazhnya umum tetapi maknanya khusus. Artinya yang dimaksud oleh Rasulullah dengan bid’ah tersebut adalah bid’ah sayyi-ah, yaitu setiap perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, sunnah, ijma’ atau atsar. Al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menuliskan: “Sabda Rasulullah “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm Makhshush; artinya, lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)” (al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, j. 6, hlm. 154). Kemudian al-Imam an-Nawawi membagi bid’ah menjadi lima macam. Beliau berkata: “Jika telah dipahami apa yang telah aku tuturkan, maka dapat diketahui bahwa hadits ini termasuk hadits umum yang telah dikhususkan. Demikian juga pemahamannya dengan beberapa hadits serupa dengan ini. Apa yang saya katakan ini didukung oleh perkataan ‘Umar ibn al-Khaththab tentang shalat Tarawih, beliau berkata: “Ia (Shalat Tarawih dengan berjama’ah) adalah sebaik-baiknya bid’ah”. Dalam penegasan al-Imam an-Nawawi, meski hadits riwayat Abu Dawud tersebut di atas memakai kata “Kullu” sebagai ta’kid, namun bukan berarti sudah tidak mungkin lagi di-takhshish. Melainkan ia tetap dapat di-takhshish. Contoh semacam ini, dalam QS. al-Ahqaf: 25, Allah berfirman:
    تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ (الأحقاف: 25
    Makna ayat ini ialah bahwa angin yang merupakan adzab atas kaum ‘Ad telah menghancurkan kaum tersebut dan segala harta benda yang mereka miliki. Bukan artinya bahwa angin tersebut menghancurkan segala sesuatu secara keseluruhan, karena terbukti hingga sekarang langit dan bumi masih utuh. Padahal dalam ayat ini menggunakan kata “Kull”. Adapun dalil-dalil yang men-takhshish hadits “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah” riwayat Abu Dawud ini adalah hadits-hadits dan atsar-atsar yang telah disebutkan dalam dalil-dalil adanya bid’ah hasanah.
    2. Kalangan yang mengingkari bid’ah hasanah biasanya berkata: “Hadits “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan…” yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim adalah khusus berlaku ketika Rasulullah masih hidup. Adapun setelah Rasulullah meninggal maka hal tersebut menjadi tidak berlaku lagi”.
    Jawab: Di dalam kaedah Ushuliyyah disebutkan:
    لاَ تَثْبُتُ الْخُصُوْصِيَّةُ إِلاَّ بِدَلِيْلٍ
    “Pengkhususan -terhadap suatu nash- itu tidak boleh ditetapkan kecuali harus berdasarkan adanya dalil”.
    Kita katakan kepada mereka: “Mana dalil yang menunjukan kekhususan tersebut?! Justru sebaliknya, lafazh hadits riwayat Imam Muslim di atas menunjukkan keumuman, karena Rasulullah tidak mengatakan “Man Sanna Fi Hayati Sunnatan Hasanatan…” (Barangsiapa merintis perkara baru yang baik di masa hidupku…), atau juga tidak mengatakan: “Man ‘Amila ‘Amalan Ana ‘Amiltuh Fa Ahyahu…” (Barangsiapa mengamalkan amal yang telah aku lakukan, lalu ia menghidupkannya…). Sebaliknya Rasulullah mengatakan secara umum: “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan…”, dan tentunya kita tahu bahwa Islam itu tidak hanya yang ada pada masa Rasulullah saja”. Kita katakan pula kepada mereka: Berani sekali kalian mengatakan hadits ini tidak berlaku lagi setelah Rasulullah meninggal?! Berani sekali kalian menghapus salah satu hadits Rasulullah?! Apakah setiap ada hadits yang bertentangan dengan faham kalian maka berarti hadits tersebut harus di-takhshish, atau harus d-nasakh (dihapus) dan tidak berlaku lagi?! Ini adalah bukti bahwa kalian memahami ajaran agama hanya dengan didasarkan kepada “hawa nafsu” belaka.
    3. Kalangan yang mengingkari bid’ah hasanah terkadang berkata: “Hadits riwayat Imam Muslim: “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan…” sebab munculnya adalah bahwa beberapa orang yang sangat fakir memakai pakaian dari kulit hewan yang dilubangi tengahnya lalu dipakaikan dengan cara memasukkan kepala melalui lubang tersebut. Melihat keadaan tersebut wajah Rasulullah berubah dan bersedih. Lalu para sahabat bersedekah dengan harta masing-masing dan mengumpulkannya hingga menjadi cukup banyak, kemudian harta-harta itu diberikan kepada orang-orang fakir tersebut. Ketika Rasulullah melihat kejadian ini, beliau sangat senang dan lalu mengucapkan hadits di atas. Artinya, Rasulullah memuji sedekah para sahabatnya tersebut, dan urusan sedekah ini sudah maklum keutamaannya dalam agama”.
    Jawab: Dalam kaedah Ushuliyyah disebutkan:
    اَلْعِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لاَ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ
    “Yang dijdikan sandaran itu -dalam penetapan dalil itu- adalah keumuman lafazh suatu nash, bukan dari kekhususan sebabnya”.
    Dengan demikian meskipun hadits tersebut sebabnya khusus, namun lafazhnya berlaku umum. Artinya yang harus dilihat di sini adalah keumuman kandungan makna hadits tersebut, bukan kekhususan sebabnya. Karena seandainya Rasulullah bermaksud khusus dengan haditsnya tersebut, maka beliau tidak akan menyampaikannya dengan lafazh yang umum. Pendapat orang-orang anti bid’ah hasanah yang mengambil alasan semacam ini terlihat sangat dibuat-buat dan sungguh sangat aneh. Apakah mereka lebih mengetahui agama ini dari pada Rasulullah sendiri?!
    4. Sebagian kalangan yang mengingkari bid’ah hasanah mengatakan: “Bukan hadits “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah” yang di-takhshish oleh hadits “Man Sanna Fi al-Isalam Sunnatan Hasanah…”. Tetapi sebaliknya, hadits yang kedua ini yang di-takhshish oleh hadits hadits yang pertama”.
    Jawab: Ini adalah penafsiran “ngawur” dan “seenak perut” belaka. Pendapat semacam itu jelas tidak sesuai dengan cara para ulama dalam memahami hadits-hadits Rasulullah. Orang semacam ini sama sekali tidak faham kalimat “’Am” dan kalimat “Khas”. Al-Imam an-Nawawi ketika menjelaskan hadits “Man Sanna Fi al-Islam…”, menuliskan sebagai berikut:
    فِيْهِ الْحَثُّ عَلَى الابْتِدَاءِ بِالْخَيْرَاتِ وَسَنِّ السُّنَنِ الْحَسَنَاتِ وَالتَّحْذِيْرِ مِنَ الأَبَاطِيْلِ وَالْمُسْتَقْبَحَاتِ. وَفِيْ هذَا الْحَدِيْثِ تَخْصِيْصُ قَوْلِهِ صَلّى اللهُ عَليْه وَسَلّمَ “فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ” وَأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْمُحْدَثَاتُ الْبَاطِلَةُ وَالْبِدَعُ الْمَذْمُوْمَةُ.
    “Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk memulai kebaikan, dan merintis perkara-perkara baru yang baik, serta memperingatkan masyarakat dari perkara-perkara yang batil dan buruk. Dalam hadits ini juga terdapat pengkhususan terhadap hadits Nabi yang lain, yaitu terhadap hadits: “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah”. Dan bahwa sesungguhnya bid’ah yang sesat itu adalah perkara-perkara baru yang batil dan perkara-perkara baru yang dicela”.
    As-Sindi mengatakan dalam kitab Hasyiyah Ibn Majah:
    قَوْلُهُ “سُنَّةً حَسَنَةً” أَيْ طَرِيْقَةً مَرْضِيَّةً يُقْتَدَى بِهَا، وَالتَّمْيِيْزُ بَيْنَ الْحَسَنَةِ وَالسَّـيِّئَةِ بِمُوَافَقَةِ أُصُوْلِ الشَّرْعِ وَعَدَمِهَا.
    “Sabda Rasulullah: “Sunnatan Hasanatan…” maksudnya adalah jalan yang diridlai dan diikuti. Cara membedakan antara bid’ah hasanah dan sayyi-ah adalah dengan melihat apakah sesuai dengan dalil-dalil syara’ atau tidak”.
    Al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani dalam kitab Fath al-Bari menuliskan sebagai berikut:
    وَالتَّحْقِيْقُ أَنَّهَا إِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَحْسَنٍ فِيْ الشَّرْعِ فَهِيَ حَسَنَةٌ، وَإِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَقْبَحٍ فِيْ الشَّرْعِ فَهِيَ مُسْتَقْبَحَةٌ.
    “Cara mengetahui bid’ah yang hasanah dan sayyi-ah menurut tahqiq para ulama adalah bahwa jika perkara baru tersebut masuk dan tergolong kepada hal yang baik dalam syara’ berarti termasuk bid’ah hasanah, dan jika tergolong hal yang buruk dalam syara’ berarti termasuk bid’ah yang buruk” (Fath al-Bari, j. 4, hlm. 253).
    Dengan demikian para ulama sendiri yang telah mengatakan mana hadits yang umum dan mana hadits yang khusus. Jika sebuah hadits bermakna khusus, maka mereka memahami betul hadits-hadits mana yang mengkhususkannya. Benar, para ulama juga yang mengetahui mana hadits yang mengkhususkan dan mana yang dikhususkan. Bukan semacam mereka yang membuat pemahaman sendiri yang sama sekali tidak di dasarkan kepada ilmu. Dari penjelasan ini juga dapat diketahui bahwa penilaian terhadap sebuah perkara yang baru, apakah ia termasuk bid’ah hasanah atau termasuk sayyi-ah, adalah urusan para ulama. Mereka yang memiliki keahlian untuk menilai sebuah perkara, apakah masuk kategori bid’ah hasanah atau sayyi-ah. Bukan orang-orang awam atau orang yang menganggap dirinya alim padahal kenyataannya ia tidak paham sama sekali.
    5. Kalangan yang mengingkari bid’ah hasanah mengatakan: “Bid’ah yang diperbolehkan adalah bid’ah dalam urusan dunia. Dan definisi bid’ah dalam urusan dunia ini sebenarnya bid’ah dalam tinjauan bahasa saja. Sedangkan dalam urusan ibadah, bid’ah dalam bentuk apapun adalah sesuatu yang haram, sesat bahkan mendekati syirik”.
    Jawab: Subhanallah al-’Azhim. Apakah berjama’ah di belakang satu imam dalam shalat Tarawih, membaca kalimat talbiyah dengan menambahkan atas apa yang telah diajarkan Rasulullah seperti yang dilakukan oleh sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab, membaca tahmid ketika i’tidal dengan kalimat “Rabbana Wa Laka al-Hamd Handan Katsiran Thayyiban Mubarakan Fih”, membaca doa Qunut, melakukan shalat Dluha yang dianggap oleh sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar sebagai bid’ah hasanah, apakah ini semua bukan dalam masalah ibadah?! Apakah ketika seseorang menuliskan shalawat: “Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam” atas Rasulullah tidak sedang beribadah?! Apakah orang yang membaca al-Qur’an yang ada titik dan harakat i’rab-nya tidak sedang beribadah kepada Allah?! Apakah orang yang membaca al-Qur’an tersebut hanya “bercanda” dan “iseng” saja, bahwa ia tidak akan memperoleh pahala karena membaca al-Qur’an yang ada titik dan harakat i’rab-nya?! Sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar yang nyata-nyata dalam shalat, di dalam tasyahhud-nya menambahkan “Wahdahu La Syarika Lahu”, apakah ia tidak sedang melakukan ibadah?! Hasbunallah. Kemudian dari mana ada pemilahan bid’ah secara bahasa (Bid’ah Lughawiyyah) dan bid’ah secara syara’?! Bukankah ketika sebuah lafazh diucapkan oleh para ulama, yang notebene sebagai pembawa ajaran syari’at, maka harus dipahami dengan makna syar’i dan dianggap sebagai haqiqah syar’iyyah?! Bukankah ‘Umar ibn al-Khatththab dan ‘Abdullah ibn Umar mengetahui makna bid’ah dalam syara’, lalu kenapa kemudian mereka memuji sebagian bid’ah dan mengatakannya sebagai bid’ah hasanah, bukankah itu berarti bahwa kedua orang sahabat Rasulullah yang mulia dan alim ini memahami adanya bid’ah hasanah dalam agama?! Siapa berani mengatakan bahwa kedua sahabat agung ini tidak pernah mendengar hadits Nabi “Kullu Bid’ah Dlalalah”?! Ataukah siapa yang berani mengatakan bahwa dua sahabat agung tidak memahami makna “Kullu” dalam hadits “Kullu Bid’ah Dlalalh” ini?! Kita katakan kepada mereka yang anti terhadap bid’ah hasanah: “Sesungguhnya sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab dan sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar, juga para ulama, telah benar-benar mengetahui adanya kata “Kull” di dalam hadits tersebut. Hanya saja orang-orang yang mulia ini memahami hadits tersebut tidak seperti pemahaman orang-orang Wahhabiyyah yang sempit pemahamannya ini. Para ulama kita tahu bahwa ada beberapa hadits shahih yang jika tidak dikompromikan maka satu dengan lainnya akan saling bertentangan. Oleh karenanya, mereka mengkompromikan hadits “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah” dengan hadits “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan…”, bahwa hadits yang pertama ini di-takhshish dengan hadits yang kedua. Sehingga maknanya menjadi: “Setiap bid’ah Sayyi-ah adalah sesat”, bukan “Setiap bid’ah itu sesat”. Pemahaman ini sesuai dengan hadits lainnya, yaitu sabda Rasulullah:
    مَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةً ضَلاَلَةً لاَ تُرْضِي اللهَ وَرَسُوْلَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه الترمذيّ وابن ماجه)ه
    “Barangsiapa merintis suatu perkara baru yang sesat yang tidak diridlai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia terkena dosa orang-orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. at-Tirmidzi dan Ibn Majah)
    Inilah pemahaman yang telah dijelaskan oleh para ulama kita sebagai Waratsah al-Anbiya’.
    6. Kalangan yang mengingkari adanya bid’ah hasanah mengatakan: “Perkara-perkara baru tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, dan para sahabat tidak pernah melakukannya pula. Seandainya perkara-perkara baru tersebut sebagai sesuatu yang baik niscaya mereka telah mendahului kita dalam melakukannya”.
    Jawab: Baik, Rasulullah tidak melakukannya, apakah beliau melarangnya? Jika mereka berkata: Rasulullah melarang secara umum dengan sabdanya: “Kullu Bid’ah Dlalalah”. Kita jawab: Rasulullah juga telah bersabda: “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan Fa Lahu Ajruha Wa Ajru Man ‘Amila Biha…”. Bila mereka berkata: Adakah kaedah syara’ yang mengatakan bahwa apa yang tidak dilakukan oleh Rasulullah adalah bid’ah yang diharamkan? Kita jawab: Sama sekail tidak ada. Lalu kita katakan kepada mereka: Apakah suatu perkara itu hanya baru dianggap mubah (boleh) atau sunnah setelah Rasulullah sendiri yang langsung melakukannya?! Apakah kalian mengira bahwa Rasulullah telah melakukan semua perkara mubah?! Jika demikian halnya, kenapa kalian memakai Mushaf (al-Qur’an) yang ada titik dan harakat i’rab-nya?! Padahal jelas hal itu tidak pernah dibuat oleh Rasulullah, atau para sahabatnya! Apakah kalian tidak tahu kaedah Ushuliyyah mengatakan
    التَّرْكُ لاَ يَقْتَضِي التَّحْرِيْم
    “Meninggalkan suatu perkara tidak tidak menunjukkan bahwa perkara tersebut sesuatu yang haram”.
    Artinya, ketika Rasulullah atau para sahabatnya tidak melakukan suatu perkara tidak berarti kemudian perkara tersebut sebagai sesuatu yang haram. Sudah maklum, bahwa Rasulullah berasal dari bangsa manusia, tidak mungkin beliau harus melakukan semua hal yang Mubah. Jangankan melakukannya semua perkara mubah, menghitung semua hal-hal yang mubah saja tidak bisa dilakukan oleh seorangpun. Hal ini karena Rasulullah disibukan dalam menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berdakwah, mendebat orang-orang musyrik dan ahli kitab, memerangi orang-orang kafir, melakukan perjanjian damai dan kesepakatan gencatan senjata, menerapkan hudud, mempersiapkan dan mengirim pasukan-pasukan perang, mengirim para penarik zakat, menjelaskan hukum-hukum dan lainnya. Bahkan dengan sengaja Rasulullah kadang meninggalkan beberapa perkara sunnah karena takut dianggap wajib oleh ummatnya. Atau sengaja beliau kadang meninggalkan beberapa perkara sunnah hanya karena khawatir akan memberatkan ummatnya jika beliau terus melakukan perkara sunnah tersebut. Dengan demikian orang yang mengharamkan satu perkara hanya dengan alasan karena perkara tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah adalah pendapat orang yang tidak mengerti ahwal Rasulullah dan tidak memahami kaedah-kaedah agama.
    Kesimpulan
    Dari penjelasan yang cukup panjang ini kita dapat mengetahui dengan jelas bahwa para sahabat Rasulullah, para tabi’in, para ulama Salaf, mereka semuanya memahami pembagian bid’ah kepada dua bagian; bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi-ah. Yang kita sebutkan dalam tulisan ini bukan hanya pendapat dari satu atau dua orang ulama saja, melainkan sekian banyak ulama dari kalangan Salaf dan Khalaf di atas keyakinan ini. Lembaran buku ini tidak akan cukup bila harus semua nama mereka kita kutip di sini. Dengan demikian bila ada orang yang menyesatkan pembagian bid’ah kepada dua bagian ini, maka berarti ia telah menyesatkan seluruh ulama dari masa para sahabat Nabi hingga sekarang ini. Dari sini kita bertanya, apakah kemudian hanya dia sendiri yang benar, sementara semua ulama tersebut adalah orang-orang sesat?! Tentu terbalik, dia sendiri yang sesat, dan para ulama tersebut di atas kebenaran. Orang atau kelompok yang “keras kepala” seperti ini hendaklah menyadari bahwa mereka telah menyempal dari para ulama dan mayoritas ummat Islam. Adakah mereka merasa lebih memahami al-Qur’an dan Sunnah dari pada para Sahabat, para Tabi’in, para ulama Salaf, para ulama Hadits, Fikih dan lainnya

    Mohammad Taufiq Karangjati Ngawi di 17.13

    Berbagi

    Pembahasan yang puanjaaaang…
    Saya jawab simpel saja deh,.

    Tidak ada yang namanya bidah hasanah dan sayyiah,.
    Kalau sunnah ada, SUNNAH HASANAH DAN SUNNAH SAYYIAH,.
    Maka yang diikuti adalah SUNNAH HASANAH,. silahkan baca ulasannya disini

    1. Ohh min jdi maksud anda sunnah yang dilakukan rasulullah ada sunnah yg sayyiah ? Apakah anda sehat ?

      Bisa baca ngga mas, ini saya copas jawaban saya

      Pembahasan yang puanjaaaang…
      Saya jawab simpel saja deh,.
      Tidak ada yang namanya bidah hasanah dan sayyiah,.
      Kalau sunnah ada, SUNNAH HASANAH DAN SUNNAH SAYYIAH,.
      Maka yang diikuti adalah SUNNAH HASANAH,.

      Jelas sunnah hasanah itulah sunnah yang rasulullah ajarkan

      1. Iya saya ngerti. Andakan menyangkal bid’ah itu tidak ada yang hasanah dan sayyiah, dan anda juga menerangkan bahwa bid’ah itu semuanya sesat. Jika menurut anda bahwa yg anda terangkan itu benar, dan anda menjelaskan “kalau sunnah ada, sunnah hasanah dan sayyiah”. Berarti anda beranggapan bahwa Rasulullah juga melakukan sesuatu yg jelek(sayyiah) yg dicontohkan kepada ummatnya !!

        Saya bertanya apakah Rasulullah pernah mencontohkan kepada ummatnya sesuatu yang jelek(sayyiah) dalam ucapannya, perbuatannya, dan pengakuannya ?

        Semua yang diajarkan rasulullah itu adalah KEBAIKAN atau hasanah, tidak ada KEJELEKAN yang diajarkan oleh rasulullah, jadi pernyataan anda yang salah, apakah itu pernyataan atau pertanyaan? Jika itu pertanyaan maka saya jawab seperti barusan,..

        Tapi kalau itu pernyataan anda, atau kesimpulan anda, maka itu karena anda ga paham apa yang saya sampaikan,

  43. Tentang nabi palsu, tentang jibril palsu, tentang pelecehan islam tidak terdengar pembelaaan kalian. Tapi, masalah khilafiah tega2nya kalian menyatakan bid’ah. Kalian memerangi orang yang sudah beriman!!!!!!!

    tentang nabi palsu, tukang becak saja pasti tahu,
    tapi tentang khilafah, tukang becak tertipu, makanya kita jelaska tentang penipu itu,

    Mana kiprah HT dalam mendakwahkan tauhid?
    Kok teriak2 khilafah, ingin menegakkan syariat islam, tapi syariat islam yang ada kalian injak2?

    Khilafah model apa yg kalian usung? baca postingan ini

  44. assalammualaikum

    maaf sebelumnya,
    setelah membaca dari atas sampe Pos Comment, Ternyata seperti itu Yah yang DIbilang Bid’ah,,,.baru tau saya,,

    setelah dipikir2? dan Menyimak artikel diatas,Muncul Rasa Ingin Bertanya,,Untuk Menambah Wawasan Dalam Ilmu AGama Allah””

    tapi??????

    Masih Ragu dan Takut Untuk Bertanya Takut Nya Jadi Bid’ah???

    Sedangkan Hadist nya aja Seperti Itu”” Bikin Jantung Berdebaaaaarrrrrr debaaarrrr?

    wa’alaikumussalamwarahmatullah,
    Ga usah takut mas,
    Bertanya itu untuk menghilangkan kebodohan pada diri kita, agar jangan sampai kita beramal sia-sia, tidak dapat pahala, malah dapat dosa,

  45. Bilal berkata, “Aku tidak mengumandangkan adzan melainkan aku shalat dua rakaat, dan aku tidak berhadats melainkan aku bersuci dan aku mewajibkan atas diriku. .. Bilal melakukan inisiatif ibadah sendiri yang tidak diajarkan Nabi.. Mohon penjelasan…

    Nah ini juga yang banyak disalah fahami oleh kaum muslimin, tuh bilal melakukan kebidahan, shalat dua rakaat setelah wudhu,
    Rasulullah mengetahui ketika beliau mi’raj ke langit, mendengar suara terompah bilal di surga, lalu Rasulullah bertanya kepada bilal amalan apa yang menyebabkan demikian, lalu bilal bercerita ttg shalat dua rakaat setelah wudhu, lalu Rasulullah MEMBENARKAN amalan bilal tersebut,
    Nah PERSETUJUAN RASULULLAH, itu yang menjadikana amalan bilal itu bukan BIDAH, bahkan MENJADI AMALAN SUNNAH,.
    Jadi amalan SUNNAH itu tidak selalu yang diajarkan oleh Rasulullah, tapi juga apa yang mendapat PERSETUJUAN Rasulullah, silahkan baca di sini ulasannya

    Sahabat Nabi mengatakan “Shalat Tarawaih adalah sebaik-baik Bid’ah..” Bidah koq Baik?

    Nah, yang diucapkan Umar bin Khattab bukanlah arti BIDAH secara istilah, tapi secara bahasa,. lagian apa yang dilakukan oleh UMAR dengan shalat tarawih berjamaah dengan SATU imam, itu bukanlah BIDAH, justru itu yang diajarkan dan dipraktekkan oleh Rasulullah, silahkan baca ulasan tentang kata-kata tersebut di sini

  46. Assalamualaikum,,,,

    saya mw tanya,,,,sholat taraweh di jaman nabi saw cuma 8 rokaat dan ketika di jaman umar ra,,di tambah 12 jadi 20 rokaat,,,,

    apakah itu tidak trmasuk dlam kategori menambah2 dlam agama,,,,

    dan umar katakan SEBAIK2 BIDAH ADALAH INI….

    jdi tdk semua yg menambah2 dlam agama itu bidah sesat,,selagi itu baik,,,

    walaupun tdk ada di jaman nabi,,,

    selagi itu perbuatan positif…gimana??

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah

    Umar melakukan shalat tarawih sebagaimana yg dilakukan oleh Rasulullah, jumlahnya 11 rakaat, dwi ngan satu imam,
    Sebelum umar melakukan ini, sahabat shalat tarawih berpencar-pencar dengan imam masing-masing, lalu umar menjadikan tarawih itu seperti yang dilakukan oleh Rasulullah,..

    Jadi umar tidak melakukan BIDAH,..

    Dan tidak ada hadits yang SHAHIH bahwa umar melakukan tarawih 20 rakaat, justru yang SHAHIH itu umar melakukan 11 rakaat, silahkan baca ulasannya di sini

  47. bagaimana dengan maksud TRI TAUHID,,,,???

    dan apa ada dalil dari alquran dan assunnah atw atsar sahabat dlm masalah Tri Tauhid dan apakah nabi saw dan sahabat mencontohkan Tri Tauhid dalam akidah umat islam,,,

    mohon penjelasanya???

    Tidak ada TRI TAUHID,. apa yang dimaksud TRI TAUHID?
    Paham arti tauhid tidak?
    Tauhid itu ya mengesakan Allah, mentauhidkan Allah,.
    Jadi TRI TAUHID itu adalah istilah yang bertolak belakang, seperti orang kristen ada TRINITAS,.

    Adapun pembagian tauhid menjadi TIGA , itu hanya sebagai penjelasan saja agar kaum muslimin lebih mudah dalam memahami TAUHID,
    Sebagaimana ulama juga membuat ilmu bahasa arab, ilmu hadits,ilmu nahwu,shorof,dll..

    Seandainya kita hidup di jaman Rasulullah, maka kita ga perlu ilmu-ilmu tersebut, karena Rasulullah Menjelaskan dengan penjelasan yang mudah dipahami, dan sahabat langsung taslim, tidak banyak bertanya,.
    Prinsip mereka, sami’na wa atha’na,. kami dengar dan kami taat,. bukan seperti kaum muslimin sekarang yang banyak bertanya,.

    Kenapa Tauhid dibagi tiga, apa manfaatnya, silahkan baca di sini

  48. https://–delete–/09/14/dalil-nagli-sholat-tarawih-20-rakaat-sholat-tarawih-8-rakaat/?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C1258307808…..

    ini link hadits shohih yg meriwayatkan sholat taraweh 20 rokaat,,,

    bahkan msalah hadits dri kitab muwato imam malik,,

    bukan menjelaskan sholat taraweh melainkan hadit yg menjelaskan sholat witirnya nabi saw di bulan ramadhan dan di luar bulan ramadhan…

    mohon di baca dan di tanggapi..ok

    Sudah ada tanggapan untuk penjelasan bahwa UMAR MELAKUKAN SHALAT TARAWIH 11 RAKAAT, DEMIKIAN PULA NABI, BELIAU SHALAT TIDAK LEBIH DARI 11 RAKAAT, BAIK DI BULAN RAMADHAN ATAU DI LUAR RAMADHAN,.

    TIDAK ADA HADITS YANG SHAHIH YANG MENJELASKAN BAHWA RASULULLAH JUGA UMAR MELAKUKAN LEBIH DARI 11 RAKAAT

    Silahkan lihat di sini artikel penjelasannya , ada video penjelasannya juga

  49. IKUTI PENGAJIAN USTADZ ABDUL SOMAD Lc. MANTAB DIA ITU ADEM KALAU MEMBERI MATERI CERAMAH TDK SEMUDAH ANDA MEMBID’AKAN ORANG.

    Mantap errornya,..
    Adem, ibarat orang lagi suntuk, lagi galau, maka untuk menghilangkan galaunya dia minum khamr hingga mabuk,.. maka hilang galaunya, enjoy, adem… saat itu,.

    Nanti kalau kondisinya sudah normal lagi, maka akan galau lagi,..
    Demikian pula ketika kita bodoh tentang agama, lalu ditambah mendengarkan penjelasan ustadz yang penuh syubhat, memelintir dalil, maka bukan ketenangan hakiki, tapi ketenangan semu yang didapatkan,.

  50. Makasih akhi infony.
    Sy mendapat banyak pengetahuan dari tulisan akhi. Tapi yg membuat saya bingung. Ad yg bilang orang salafi itu taqlid buta thp ibnu taimiyah. Mohon penjelasanny. Terima kasih

    Makanya, pengin tahu apa itu salafi, jangan kata orang yang benci salafi, sehingga informasinya bisa beda jika mendengar dari salafi,.

    Sebelum ibnu taimiyah lahir, sudah ada dakwah salafi, jadi ga benar kalau salafi itu taklid pada ibnu taimiyah,

    Sebaiknya anda baca apa sih salafi itu ? Baca di sini

  51. Baarakallahu fikum… Semoga Allah selalu menjaga antum…
    Syukron wa jazakallahu khoiron..

    Wafiikum baarakallaah,
    Jazakallaahu khairan

Silahkan tinggalkan komentar di sini