Shalat Berjamaah Bagi Laki-Laki Itu Bukan Di Rumah

SHOLAT BERJAMAAH TIDAK DI RUMAH

Apakah ada seseorang yang berpuasa Ramadhan, tetapi ia tidak menegakkan shalat lima waktu yang sudah menjadi kewajibannya?

Pertanyaan di atas, nampaknya tidak sulit untuk menjawabnya. Fenomena seperti itu ada di tengah masyarakat. Misalnya, tidak mengerjakan shalat lima waktu, atau jarang-jarang melakukannya, namun tidak pernah absen dalam menjalankan puasa “sebisanya” pada bulan Ramadhan.

Persoalannya, lantaran pada sebagian orang ada anggapan keliru. Menurutnya, shalat wajib yang berulang sampai lima waktu dirasakan memberatkan. Padahal, bagi orang-orang yang memperoleh taufik, shalat lima waktu itu terasa nikmat. Wallahul-Hâdi.

Perhatian syariat terhadap ibadah shalat ini sangat besar. Tersirat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbâs dalam Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, tatkala mengutus Mu’âdz bin Jabal Radhiyallahu anhu ke negeri Yaman dalam misi dakwah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membatasi misi dakwah hanya pada tiga persoalan utama. Yaitu bersyahadat Lâ Ilâha Illallah, mendirikan shalat, dan membayar zakat. Tidak menyinggung puasa maupun haji yang termasuk dari lima rukun Islam.

Penjelasannya, masuk Islam yang diawali dengan pembacaan syahadat itu terasa berat bagi orang-orang kafir. Demikian pula shalat, mengandung unsur yang seolah memberatkan karena merupakan kewajiban yang berulang-ulang. Demikian pula dengan membayar zakat, lantaran cinta harta termasuk sifat bawaan manusia. Wallahu a’lam [1]

TUGAS SUAMI MENGAJARKAN SHALAT DI TENGAH KELUARGANYA

Di dalam rumah, predikat suami ialah sebagai rabbul-bait (pemilik rumah) atau al-qawwâm (pengendali dan pengatur). Maknanya, ialah orang yang menangani sesuatu dalam bentuk perawatan, pemeliharaan dan perbaikan.[2] Bila dihubungkan dengan konteks keluarga, maka seorang lelaki (suami) berkewajiban menangani urusan-urusan rumah tangganya. Dia memikul tanggung jawab dalam merawat, memelihara dan memperbaiki seluruh isi rumahnya.

Adapun menyediakan nafkah penghidupan bagi rumah tangganya, istri dan anaknya, bukan satu-satunya kewajiban yang dipikul oleh seorang lelaki. Jumlah tanggung jawabnya sangatlah banyak sebagai konsekuensi kedudukannya sebagai al-qawwâm yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan atas dirinya.[3]

Misalnya, masalah ketekunan keluarga untuk mendirikan shalat –yang merupakan kewajiban setiap muslim– juga mengikat dirinya sebagai ayah dan suami. Penekanan masalah ini pada seluruh anggota keluarga sangat berpengaruh bagi seisi rumah. Karena seorang hamba, jika ia benar dalam menegakkan shalatnya, maka dengan urusan lainnya dalam urusan agama, ia akan lebih menjaga dan tekun mengerjakannya.

Jika ia menyia-nyiakan shalat, maka ia akan lebih menyia-nyiakan perintah lainnya dalam perkara agama.[4] Seperti disitir oleh Khalifah ‘Umar bin al-Khaththâb Radhiyallahu anhu:

وَمَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِماَ سِوَاهَا أَضْيَعُ

Barang siapa menyia-nyiakannya, ia akan lebih meremehkan kewajiban-kewajiban selainnya.

Tentang perkara penting ini, secara khusus Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat agar Rasul-Nya yang mulia memerintahkan keluarga beliau n mendirikan shalat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. [Thâha/20:132].

Maksudnya, “dan himbaulah keluargamu untuk mendirikan shalat, doronglah mereka untuk shalat, baik yang wajib maupun sunnah. Ini juga mengandung pengertian, sebagai perintah untuk melakukan segala sesuatu, sehingga shalat yang dikerjakannya menjadi sempurna.[5]

Termasuk dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas, ialah perintah agar mengajarkan kepada anggota keluarga perihal tata cara shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , perkara-perkara yang membaguskan dan menyempurnakan shalat, juga perkara-perkara yang dapat merusak dan membatalkannya.

Dengan demikian, shalat itu benar-benar ditegakkan oleh seluruh anggota keluarga sesuai tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Dengan mentaati perintah di atas, suami atau ayah telah melaksanakan salah satu perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai pemimpin rumah tangga. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum muslimin supaya menjaga dan memelihara diri dan keluarga mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. [at-Tahrîm/66-6].

Sungguh, hal itu sangat berat dirasakan oleh jiwa manusia. Akan tetapi, seseorang harus memaksa dan melawan hawa nafsunya untuk mengerjakan kewajiban shalat dan selalu bersabar dengan ibadah ini. Karena, seseorang akan diganjar dengan kebaikan jika ia mendidik dan mengajar budak wanitanya, maka sudah tentu jika ia mendidik anak-anak dan anggota keluarganya, ia juga akan memperoleh ganjaran kebaikan dari Allah al-‘Alîm asy-Syakûr.[7]

SHALAT BERJAMAAH TIDAK DI RUMAH
Dengan dalih supaya anggota keluarga, utamanya anak-anak terkontrol shalatnya, atau melatih si kecil agar mengenal ibadah shalat sejak dini, maka muncullah gejala menyediakan ruang di dalam rumah yang dikhususkan untuk ibadah, dalam hal ini shalat berjamaah dengan imam sang ayah. Padahal, masjid atau musholla tidak seberapa jauh dari rumah tinggal.

Keputusan sang ayah sebagai pemimpin keluarga, dalam hal ini kurang tepat. Lantaran syariat telah menetapkan, bahwa pelaksanaan shalat fardhu secara berjamaah dilakukan di tempat yang khusus, yaitu masjid-masjid.

Kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu, seperti ketika turun hujan. Dan konsekuensinya, dengan tidak mendatangi masjid, berarti pahala yang dijanjikan, berupa keterpautan 27 atau 25 kebaikan dibandingkan shalat sendirian pun tak dapat diraihnya. Artinya, mestinya ia tetap pergi ke masjid untuk menjalankan shalat fardhu secara berjamaah.

Menurut pemahaman para sahabat Rasulullah, bahwasanya hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan shalat berjamaah berlaku di masjid-masjid jami’ atau masjid-masjid umum, bukan di dalam rumah.[8] Para sahabat berduyun-duyun ke masjid bila ingin memperoleh pahala shalat jamaah, bukan menunaikannya di tempat tinggal mereka.

Bila shalat jamaah terlewatkan, baru mereka menjalankan shalat wajib di rumah. Jadi, shalat jamaah mereka hanya di masjid saja. Sedangkan rumah untuk melaksanakan shalat-shalat munfarid (sendiri). [9]

Ibnu Nujaim rahimahullah berkata: “Barang siapa melaksanakan shalat jamaah di rumah, ia tidak mendapatkan pahala shalat jamaah, kecuali karena ada udzur (yang dibenarkan syariat, Pen.)”.

Landasar penjelasan ini ialah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلْ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ

Shalat seseorang di jama’ah lebih besar dibandingkan shalatnya di rumah dan pasarnya sebanyak dua puluh lima lipat. Demikian ini, tatkala ia berwudhu dan mengerjakannya dengan baik, kemudian ia keluar menuju masjid, tidak keluar melainkan untuk mengerjakan shalat (jamaah), tidaklah ia melangkahkan kakinya kecuali akan mengangkat derajatnya dan menghapus kesalahannya.

Apabila ia sedang menjalankan shalat, maka malaikat akan senantiasa mendoakannya selama ia masih berada di tempat shalatnya (dengan doa): ‘Ya Allah, berikanlah kebaikan baginya. Ya Allah, rahmatilah dia’. Dan salah seorang dari kalian tetap berada dalam kondisi shalat selama menantikan shalat”. [HR al-Bukhâri].

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas “kemudian ia keluar menuju ke masjid” merupakan ‘illah (alasan) yang manshûshah (eksplisit, sangat jelas) tertuang dalam hadits, sehingga tidak boleh dikesampingkan.[10] Adapun dalam masalah mendidik dan melatih anak-anak agar mau menjalankan ibadah shalat, ada cara lain yang telah dicontohkan.

MENDIDIK ANAK DENGAN SHALAT SUNNAT DI RUMAH
Shalat yang semestinya dilakukan oleh seorang muslim (laki-laki) di rumah tinggalnya, sebenarnya sudah ditentukan. Yaitu pada shalat-shalat nawâfil (shalat-shalat sunnat), semisal shalat rawaatib, dhuha, dan lainnya. Demikianlah, petunjuk dan anjuran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya menunaikan shalat-shalat sunnat ialah di rumah.

Disebutkan dalam riwayat dari Zaid bin Tsâbit Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ

Sungguh, sebaik-baik shalat, (ialah) shalat seseorang di rumahnya kecuali shalat maktûbah (shalat wajib). [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Dengan melaksanakan shalat sunnat di rumah, berarti seseorang telah mengaplikasikan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghidupkannya (ihyâ`us-sunnah). Dan lagi, dengan melaksanakan shalat sunnat di rumah, berarti menambah tingkat keikhlasan dan pahala, karena jauh dari pandangan orang lain. Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara tentang keutamaan shalat sunnah di rumah :

صَلَاةُ الرَّجُلِ تَطَوُّعًا حَيْثُ لَا يَرَاهُ النَّاسُ تَعْدِلُ صَلاَتَهُ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ

Shalat sunnah seseorang dengan tanpa dilihat oleh manusia, (pahalanya) menyamai shalatnya di tengah-tengah manusia sebanyak dua puluh lima derajat. [Shahîh al-Jâmi’, no. 3821].

Syaikh ‘Abdul ‘Azîz as-Sad-hân menyebutkan fungsi lain dalam hal pelaksanaan shalat sunnat oleh orang tua di rumah. Yaitu manfaat yang bersifat tarbawi (edukatif). Bahwa anak-anak akan terpengaruh dengan apa yang dilakukan sang ayah. Anak-anak menyaksikan sang ayah yang sedang menjalankan shalat (sunnah) dengan mata kepala mereka sendiri.

Ini terkait dengan sifat bawaan anak-anak, yaitu suka meniru apa yang dilakukan oleh orang tua mereka. Melalui sifat inilah, anak-anak diharapkan mendapatkan pengaruh positif dari shalat sunnah. Kemudian tertanam pada jiwa mereka mengenai cara menjalankan ibadah shalat secara baik dan benar. Sehingga terkadang bisa dilihat, si anak berdiri berjajar dengan ayah, atau menirukan beberapa gerakan dalam shalat.[11] Maka dalam hal ini, berarti sang ayah telah mendidik anak-anak (dan anggota keluarganya) melalui keteladanan (at-tarbiyah bil-qudwah)

KESIMPULAN
1. Shalat merupakan salah satu kewajiban terpenting.
2. Ayah (suami) wajib memerintahkan keluarganya untuk mendirikan shalat.
3. Shalat fardhu berjamaah berlaku di masjid, bukan di rumah.
4. Shalat Sunnat lebih utama dikerjakan di rumah.
5. Shalat sunnat yang dikerjakan di rumah memiliki fungsi edukatif (pendidikan) bagi anak-anak. Wallahu a’lam (Abu Minhal)

(Inti pembahasan diadaptasi dari kitab: Al-Qaulul-Mubîn fî Akhthâ`il Mushallin, halaman 266 – 268)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XII/1429/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Aisarut-Tafâsîr (1/222)
[2]. an-Nisâ`/4 ayat 23.
[3]. Taisîrul Karîmir-Rahmân, hlm. 517.
[4]. Ibid.
[5]. Ibid.
[6]. Al-Ma’âlim, hlm. 132.
[7]. Fat-hul-Bâri, 2/135.
[8]. Faidhul-Bâri, 2/72, 193.
[9]. Al-Qaulul-Mubîn fî Akhthâ`il Mushallin, hlm. 268
[11]. Al-Ma’âlim, 138.

Read more https://almanhaj.or.id/3486-shalat-berjamaah-tidak-di-rumah.html

Print Friendly, PDF & Email

Ciri Ciri Orang Muhammadiyah Ciri2 Muhammadiyah Cara Sholat Dhuha Ciri Ciri Penganut Aliran Muhammadiyah Bagai Mna Bila Orang Nu Saalat Jumat Di Masjid Muhamad Diah

15 Comments

  1. Setau aku masjid adalah rumah Alloh, jadi siapapun boleh sholat didalamnya. tapi saya pernah dengar dari teman saya dari NU maupun Muhammadiyah pernah sholat di masjid LDII yang katanya belum keluar dari masjid bekasnya langsung di lap pakai air…

    Kalau shalat di masjid LDII di lap, saya ngalamin sendiri mas, di daerah cilincing, jakarta utara,

  2. Monggo sampeyan Sholat di Masjid LDII dimana saja, tidak akan di LAP jika memang anda dalam Kondisi tidak Najis, karna memang sudah Faktanya, bahkan saya sering Sholat dengan Muslim yang lain sudah 18 tahun, tanpa di Lap setelah sholat.
    kalau anda dalam Keadaan najis ( kencing berdiri dari Kancing ) sudah barang tentu kami Lap, karna itu Najis + sangat berbahaya karna Ancamannya Neraka. Syukron

    Darimana anda atau kelompok anda tahu kalau org tsb membawa najis? lucu sekali,.

  3. sepertinya ada yang salah dengan artikel di atas, saya simpatisan Muhammadiyah, tapi saya tetap mempunyai teman dekat dari kalangan NU, kami saling bantu-membatu dan saling mencintai, bukannya itu yang diajarkan oleh Nabi, bahwasanya tidak sempurna iman seorang muslim kalo tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, bahkan banyak cendikiawan2 muhammadiyah ditempat saya yang membatu yayasan2 NU untuk mendirikan sekolah2 yang berkualitas karena pengalaman Muhammadiyah dalam pendirian sekolah sudah teruji, mohon lebih mendalam lagi dalam melakukan analisis, mohon untuk turun kelapangan untuk mengakuratkan data dalam menganalisis.

    Terimakasih mas, tolong dong tunjukkan artikel yang salahnya, copas aja disini, silahkan anda baca dari awal hingga akhir, dan yg keliru bisa anda copas disini, ditunggu ,. jazakallahu khairan

  4. assalamualaikum,

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    Kami masih bingung, bung admin selalu mengatakan bahwa suatu ibadah harus dikerjakan sesuai dengan Qur’an Hadist yang sokhih, yang sesuai dengan pemahaman para sahabat kalau tidak sesuai maka tidak diterima/ditolak/tidak sah. Tapi bagaimana dengan imam sholat yang hanya memenuhi syarat, rukun dan wajib sholat sementara didalam sholatnya banyak tambahan2 yang tidak sesuai dengan pemahaman para sahabat sholatnya dianggap sah sehingga kita boleh makmum kepadanya?
    mohon penjelasanya bung admin terimakasih

    Jika kita shalat berjamaah, jika imam banyak melakukan kebidahan, maka dosa bagi imam, dan bukan dosa bagi makmum, jadi shalat makmum tetap sah,
    Hendaknya kita menasehati imam tersebut, tentu dengan cara yang hikmah, dengan cara lemah lembut, mudah2an imam tersebut menyadari, dan mau mengikuti kebenaran,

    wassalamualaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    • Maaf bung admin masih kurang jelas mohon untuk tidak bosan menjawab,

      apakah imam sholat yang banyak melakukan kebid’ahan tersebut hanya berdosa saja tapi sholatnya tetap sah dan diterima atau selain berdosa sholatnya tidak sah dan ditolak.

      Terimakasih mas susilo,

      Kebidahan yang dilakukan oleh imam tidak membatalkan shalatnya, jadi shalatnya tetap sah, adapun kebidahan yang dilakukan dalam shalatnya itu membuat dia berdosa, jadi boro-boro mendapatkan pahala, shalatnya hanya menggugurkan kewajiban shalat bagi imam tersebut,
      Bukankah Rasulullah juga menyebutkan, ada orang shalat ,lalu dia mendapatkan pahala separuhnya, seperempatnya, bahkan ada yang tidak mendapatkan apa-apa dalam shalatnya,
      Makanya kita juga wajib mempelajari tatacara shalat kita, apakah sudah sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah atau belum, bukan tatacara shalat kita mengikuti tradisi nenek moyang, ikut dgn kebiasaan masyarakat, tapi ikutilah bagaimana tatacara shalat rasulullah, berdasarkan dalil=dalil yg shahih, tatacara shalat rasulullah sudah pernah saya posting disini

      Dan apapun keadaan imam baik benar(sesuai pemahaman para sahabat) maupun tidak, sholat makmum yang benar tetap akan diterima dan mendapat pahala? mohon kalau ada dalilnya desertakan biar tambah mantab.

      Shalat makmum, selama shalatnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah, Insya Allah akan diterima, namun ibadah apapun kita tidak mengetahui ibadah yang manakah yang akan dicatat disisi Allah sebagai amalan ibadah yang diterima dan dicatat sebagai pahala, sebab itu adalah rahasia Allah, kita hanya berusaha beribadah sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh rasulullah,

      Jika amalan kebidahan, maka sudah sangat tegas Rasulullah mengatakan semua amalan bidah itu sesat, dan pasti tertolak, jadi ini hendaknya menjadikan kita khawatir terjerumus kedalam kebidahan,.. amalan yang sdh jelas mengikuti contoh rasulullah saja kita tidak tahu, mana amalan kita yang dicatat sebagai pahala,.. kok sempet2nya melakukan perbuatan bidah,

  5. Kebidahan yang dilakukan oleh imam tidak membatalkan shalatnya, jadi shalatnya tetap sah, adapun kebidahan yang dilakukan dalam shalatnya itu membuat dia berdosa, jadi boro-boro mendapatkan pahala, shalatnya hanya menggugurkan kewajiban shalat bagi imam tersebut,

    Jika amalan kebidahan, maka sudah sangat tegas Rasulullah mengatakan semua amalan bidah itu sesat, dan pasti tertolak,

    1.Kebid’ahan dalam sholat sah tapi berdosa, sesat dan tertolak kok kayaknya bertolak belakang ya, mohon diperjelas Bung admin, mungkin pemahaman kami masih kurang.

    2.Jika diibaratkan imam sholat itu adalah sopir bus dan makmum itu penumpangnya, jika sang sopir tersebut tersesat otomatis penumpangya juga ikut tersesat dan gak akan sampai tujuan. maaf jika logika kami gak pas karena kami belum tahu dalilnya

    Terima kasih mas susilo,
    Mungkin dengan membaca hadits rasulullah berikut anda bisa paham,
    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

    يُصَلُّوْنَ لَكُمْ، فَإِنْ أَصَابُوْا فَلَكُمْ وَلَهُمْ، وَإِنْ أَخْطَأُوْا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ.

    “Mereka shalat mengimami kalian. Apabila mereka benar, kalian dan mereka mendapatkan pahala. Apabila mereka keliru, kalian mendapat pahala sedangkan mereka mendapat dosa.” HR. Al-Bukhari (no. 694) dan Ahmad (II/355, 537), dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.

    Untuk anda dan pembaca yang ingin mencari kebenaran, saya postingkan artikel ini

  6. bagaimana jika saya sholat di masjid LDII yang (katanya) sesat ?

    Terimakasih mas Fajar, silahkan shalat di masjid LDII, tidak ada larangan, selama di masjid tersebut tidak ada kuburannya,.

  7. Masa shalat di masjid LDII habis itu lantai di lap ? yg bener mas ?

    Saya dr majelis lain (bukan LDII) tapi saya sering iseng iseng sholat disana , kira” sudah 3kali. tapi tidak terjadi apa apa,

    hmmm.. mencurigakan,

    Justru kalau ngga di lap, itu yang mencurigakan,. sudah diterapkan jurus taqiyah ala syiah,.

  8. Assalamualaikum ,
    saya diah, saya mau tanya ustad agama saya islam NU tpie saya mau ngelanjutin sekolah di sma muhamadiyah, itu gmana hkumnya? Dan apakah pelajaran agamanya itu sma dengan aswaja• Tlong di jwab
    wasalamualaikm

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    Terimakasih mba diah,
    Perlu mba ketahui, islam itu tidak ada islam NU atau islam muhammadiyah, atau islam ormas lainnya,.
    Islam cuma satu,.
    Dan pemahaman tentang islam bermacam-macam, dan pemahaman islam yang benar HANYA SATU, yaitu pemahaman islam menurut apa yang dipahami oleh para sahabat, generasi yang dibina langsung oleh Rasulullah, yaitu generasi Sahabat, kemudian generasi setelahnya (tabiin) kemudian generasi setelahnya (tabiut tabiin) , merekalah yang disebut sebagai salafus shalih, Dan Allah memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk mengikuti cara beragamanya mereka, ada balasan surga bagi orang yang mau mengikutinya (attaubah ayat 100) dan ada ancaman neraka bagi orang yang tidak mau mengikutinya (annisa ayat 115)
    Jadi jalan keselamatan hanya satu, silahkan baca ulasannya disini

  9. Saya ikut berpendapat, mohon diberi komentar jika tersalah. Masalah menjadi makmum di mesjid muhammadiyah.

    Saya termasuk org yg menghindari hal itu.

    Beda mazhab beda aturan. Jika mazhab muhammadiyah mengikut imam hambal yang menyatakan bersentuhan suami istri tidak membatalkan wudhu, bagaimana jika sang imam ketika mau menjadi imam dia bersentuhan dengan istrinya.

    Dan jika hal itu pun tidak terjadi maka bagaimana dengan doktrin yang ada pada diri imam yg menyatakan bahwa bersentuhan tidak membatalkan wudhu.

    Kasus ini yg sya alami yang berada di sekitaran mesjid muhammadiyah.

    Bukankah kita tidak dianjurkan untuk mencampur antara hak dan bathil. Perbedaan pendapat dalam masalah ibadah yangvterjadi diantara golongan sudah harusnya dibedakan. Kalo masalah sosial kita ga berbeda.

    Jika seperti itu akibatnya, justru ini termasuk yang dilarang oleh Allah,. memecah belah kaum muslimin, mengkotak-kotakkan kaum muslimin,.

    Sungguh indah perkataan para imam madzhab,.
    Tidak ada satupun imam madzhab yang mengajak kepada madzhabnya,..
    Bahkan mereka mengharamkan ikut madzhabnya, kalau tidak tahu darimana para imam itu mengambil sumber dalilnya,.

    Silahkan anda baca, dan buka wawasan anda tentang madzhab, silahkan baca disini

  10. Assalamu’alaikum
    Saya mau bertanya apakah ada syarat atau langkah-langkah untuk berpindah aliran dari NU pindah ke Muhammadiyah??

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah
    Dalam islam, dilarang membentuk kelompok2 atau aliran-aliran, atau ormas-ormas,karena itu akan memecah belah barisan kaum muslimin,
    Islam itu SATU, alquran memerintahkan kita untuk bersatu, bersatu di atas AKIDAH yang satu, yaitu akidah yang duajarkan oleh Nabi kepada para sahabat.
    Allah mengancam orang yang tidak mau mengikuti pemahaman para sahabat,
    Wajib bagi seluruh kaum muslimin untuk mengikuti pemahaman para sahabat, silahkan baca postingannya di sini

  11. Assalamu alaikum wr. Wb
    Saya mau nanya mas kalo saya menikahi cwe muhamadiyah.. Nnti klo lebaran hari raya idul fitri nya beda satu hari.. Saya ikut yang mana ya

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah,
    Ikut ketetapan pemerintah, bukannikut ormas,

  12. Kita akan bisa membedakan “rasanya” shalat jamaah di masjid NU dg MD.

    Di MD gerakan shalat makmum nyaris seragam; barisan rapat, lurus.

    Di NU kebalikannya; Barisan tdk rapat, gerakan shalat dari takbir, ruku’, sujud sampai berdiri lagi nyaris tdk kompak bahkan tdk sedikit yg mendahului gerakan imam.

    Hal yg mendasar; MD & NU kecepatan ritme shalat sangat mencolok. NU terlalu cepat dlm bacaan dan perubahan gerakan.

    Dan anda bisa merasakan shalat di masjid yang disitu makmur kajian manhaj salafnya, terasa sekali amalan sunnahnya, dan akan mengetahui kesungguhannya dalam menerapkan sunnah nabi,

    Contoh saja dalam shalat tarawih, NABI melakukan shalat tarawih dua rakaat salam, dua rakaat salam, jumlah rakaatnya 11 rakaat,

    Di kedua ormas tersebut cara shalatnya tidak mengikuti cara nabi,

    Saya juga besar di MD, jadi tahu, nabi mengerjakan shalat malam bukan 4 rakaat salam, tapi 4 rakaat tersebut dilakukan dengan dua kali salam,

  13. Kalo gue mah udah biasa gonta ganti tempat sholat. Dalam 1 hari bisa sholat di 3 tempat dgn aliran berbeda. Muhammadiyah, NU dan Salafy. Rasanya ada keasyikan tersendiri

    Laki-laki itu shalatnya di masjid, silahkan di masjid kaum muslimin , yang penting tidak ada kuburannya,

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*