Jika Kuburan Dikeramatkan

HUKUM MEMBANGUN, MEMBERI PENERANGAN DAN BERIBADAH DI KUBURAN

Beberapa waktu lalu kita semua dikejutkan dengan peristiwa bentrok berdarah yang mengakibatkan beberapa oparat penegak hukum meninggal dunia dan ratusan korban luka berat dan luka ringan, dari kedua belah pihak, mulai dari anak kecil, remaja serta orang tua, pria maupun wanita.

Kita semua tentu prihatin dengan kejadian tersebut, sangat di sayangkan hal itu sampai terjadi, padahal semestinya bentrok berdarah seperti itu bisa di hindari. Di satu pihak ingin menertibkan tata kota Jakarta yang kumuh dan semrawut, dan di sisi lain masyarakat berusaha untuk mempertahankan keberadaan bangunan situs bersejarah berupa makam keramat salah seorang tokoh agama setempat yang dihormati dan di sanjung-sanjung sebagian warga kota Jakarta dan juga masyarakat islam dari berbagai kota lainnya bahkan mungkin seantero nusantara.

Seperti halnya kuburan para tokoh agama lainnya yang di keramatkan, kuburan tersebut biasa di kunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah, dari peziarah dari Jakarta bahkan ada pula peziarah yang datang dari jauh seperti dari Sumatra, Sulawesi, Kalimantan dan lainnya, tujuannya untuk mecari barokah dari kuburan tokoh tersebut yang sudah mati, diharapkan dengan berziarah ke kuburnya maka segala hajat mereka segera akan terkabul.

Pertanyaanya adalah, apa hukum ini semua ?, seorang muslim tidak pantas ikut-ikutan kebanyakan orang dalam beragama, bertindak dan berucap, karena akibatnya bisa fatal, terjerembab kedalam kesesatan yang berakhir dengan lembah neraka.

Berikut ini saya bawakan hadits-hadist shohih berkenaan dengan masalah kuburan.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Janganlah kalian melakukan perjalanan ibadah kecuali ketiga masjid, masjidku ini (masjid Nabawi di Madinah), masjidil haram, dan masjidil Aqsho. ( HR. Bukhori dan Muslim).

Dari sini kita tahu bahwa wisata spiritual/rohani ke makam para wali songo dan para sunan, ke Pamijahan, makam syaikh anu dan itu di larang dan tidak di syariatkan bahkan merupakan perkara baru (bid’ah) dalam agama islan, amalannya tertolak tidak berpahala bahkan berdosa.

Di riwayatkan dari Jundub bin Abdillah, semoga Alloh melimpahkan keridhoan-Nya kepada beliau, dia berkata ; aku mendengar Nabi Sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda lima (malam ) sebelum wafatnya :Ketahuilah !, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan Nabi-Nabi dan orang-orang sholih mereka sebagai masjid, sesungguhnya aka melarang kalian dari hal seperti itu. (HR. Muslim).

Di riwayatkan dari Ibnu Mas’ud semoga Alloh melimpahkan keridhoan-Nya dari Nabi Sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya orang-orang yang paling jelek (keagamaanya) adalah orang-orang yang mengalami langsung peristiwa kiamat dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid.

Di riwayatkan dari Ummul mu’minin Aisyah dan ibnu Abbas semoga Alloh melimpahkan keridhoan-Nya kepeda mereka berdua, Beliau berdua berkata, Ketika Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam mau meninggal dunia, beliau membuka dan menutup wajahnya dengan kain, ketika panas beliau membukanya, beliau bersabda dalam keadaan seperti itu, “laknat Alloh tertimpa kepada orang-orang Yahudi dan Nashoro, karena mereka menjadikan kuburan-nabi-nabi mereka sebagai masjid”.Beliau melarang perbuatan seperti yang mereka lakukan.

Berkata Aisyah semoga Alloh melimpahkan keridhoan-Nya kepada beliau, kalau tidak karena larangan itu maka beliau akan di kubur di luar rumahnya, namun beliau kewatir kuburannya akan di jadikan sebagai masjid.

Maksud menjadikan kuburannya sebagi masjid adalah membangun masjid di atasnya, menjadikannya sebagai tempat sholat meski tidak dibangun bangunan di atasnya, atau sujud di atasnya, sholat menghadapnya/ sebagai qiblat, atau di jadikan sebagai tempat yang senantiasaa di kunjungi untuk berbagai ibadah separti sholat, berdoa, berdzikir dan lain-lain.

Di riwayatkan dari Abu Hiyaj Al –Assady semoga Alloh melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau, Ali bin abi Tholib semoga Alloh melimpahkan keridhoan-Nya kepada beliau, berkata kepadaku : agar aku tidak membiarkan Timtsal ( apa saja yang di sembah selain Alloh berupa berhala atau benda mati lainnya) kecuali harus aku hancurkan, tidak pula membiarkan kuburan yang di tinggikan / di agungkan kecuali aku ratakan”. (HR> Muslim).

Dari Jabir bin Abdillah semoga Alloh melimpahkan keridhoan-Nya kepada beliau, beliau berkata : Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa Sallam melarang mengapur kuburan, membangun dan duduk di atas kuburan. ( HR. Muslim).

Dari Abu Martsad Al Ghonawy semoga Alloh melimpahkan keridhoann-Nya kepada beliau, bahwasannya Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : janganlah kalian sholat menghadap kuburan dan jangan duduk di atasnya (HR. Muslim).

Maksudnya menghadap kepadanya karena termasuk bentuk-bentuk pengagungan/pengkramatan sampai tinggkat layaknya objek peribadatan. Kalau pelakunya benar-benar mengagungkan kuburan/penghuni kuburan tersebut dengan perbuatannya tersebut maka pelakunya terjatuh kedalam kekafiran karena menyekutukan Alloh dalam beribadah, dan menyerupai perbuatan tersebut sekalipun tetap di haramkan juga.

Dari Ibnu Abbas semoga Alloh melimpahkan keridhoan-Nya kepada beliau, secara marfu’ berkata : Janganlah kalian sholat menghadap kuburan dan jangan sholat di atasnya.

Di sana banyak juga hadist-hadist yang melarang kuburan sebagai ‘Ied, maknanya yaitu tempat yang senatiasa di kunjungi, sebagai tempat berkumpul dan di selenggarakan seremonial ibadah.

Seperti dalam hadits Abu Hurairoh semoga Alloh melimpahkan keridhoan-Nya kepada beliau, bahwasanya Nabi shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda : janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, dan jangan jadikan kuburanku sebagai ‘Ied, dan bersholawatlah untukku , sesungguhnya sholawat kalian sampai kepadaku di mana saja kalian berada.

Kalau kuburan Nabi saja harus seperti itu di perlakukannya, padahal kuburan beliau adalah kuburan yang paling mulia di muka bumi maka bagaimana dengan kuburan-kuburan manusia yang yainnya,….tentunya itu adalah perbuatan berlebih-lebihan dan melampai batasan syara’.

Hadist-hadist ini semuannya shoheh dan mutawatir dari Nabi shollalllohu ‘alaihi wa Sallam, larangan dalam berbagai bentuk larangan juga dengan kesepakatan seluruh sahabat Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam dan ulama-ulama setelah mereka yang merupakan pendahulu umat ini yang sholih dan memua kaum muslimin yang mengikuti konsep beragama mereka, mengharamkan membangun masjid atau ruangan, rumah-rumahan, gedung, kubah di atas kuburan dan membangunnya.

Termasuk yang di sepakati keharamannya oleh para ulama adalah memberi penerangan dengan lampu-lampu, meninggikan kuburan lebih dari sejengkal dengan tanah, batu atau yang lainnya.

Juga mencium, memeluk kuburan, mengusap-usap, mengambil debu atau tanahnya untuk mendapat barohkah darinya. Menempelkan perut atau punggung, dan yang benar (kalau pun di perbolehkan untuk berziarah), maka dengan menjaga jarak, tidak terlalu dekat sebagai mana berkunjung kepada tokoh-tokoh agama ketika semasa hidupnya.Inilah yang benar!!!.

Inilah yang dikatakan oleh para ulama, dan inilah yang mereka praktekkan, hendaknya kita dan seluruh kaum muslimin tidak tertipu dangan perbuatan kebanyakan orang-orang awam tentang agama meski di gelari oleh pengikutnya dengan habib, gus, kyai dan para pengikutnya berupa penyimpangan-penyimpangn berbahaya, sampai-sampai tidak ada kuburan yang di keramatkan pun yang sepi dari pengunjung, untuk mencari berkah, pesugihan bahkan ada juga ritual seks terbuka ,bukan dengan pasangan yang sah, bahkan itulah persyaratan yang harus di penuhi demi terpenuhinya hajat.Wallohu’alam.

Rancaekek,7 jumadil ula 1431 H. Yahya AbdulAziz.

(Di terjemahkan dan di beri tambahan seperlunya dadi kitabTahdiib Tashiil Al-Aqidah Al Islamiyah. Dr. Abdullah bin AbdulAziz Al Jibrin).

Print Friendly, PDF & Email

10 Comments

  1. Terimakasih atas artikelnya yang sangat lengkap dan betul-betul harus pelan-pelan bacanya agar jangan salah arti…
    Terus terang Kang ,waktu saya di Garut sering tuh ke Pamijahan… 😛
    Salam dari Medan

    Mudah-mudahan bermanfaat, terimakasih atas kunjungannya….

  2. Terimakasih Kang atas hadis-hadisnya
    Moga jadi bermanfaaat
    Dan berpahala untuk yang menerbitkannya

    Amiin, terimakasih telah berkunjung, mudah-mudahan Allah berikan hidayah kepada kaum muslimin yang masih belum mengetahui akan masalah ini…

  3. oh gitu, guru ngajiku sering tuh ke ziarah kemakam2 nya para kiyai/ulama, itu gk boleh juga yah, klo ziarah ke makam ibu/bapak, boleh gk?

    boleh copas mas?
    boleh yah, 🙂

    Patokan kebenaran adalah apa yang diperintahkan oleh Rasulullah kita kerjakan, dan yang Rasulullah larang kita tinggalkan. Apabila ada guru ngaji atau orang yang disebut kiyai/ulama yang melakukan hal-hal yang dilarang oleh Rasulullah, maka kita tidak boleh mengikuti perbuatan tersebut,… kita doakan mudah-mudahan guru atau kiyai/ulama tersebut diberi hidayah oleh Allah, sehingga tidak melakukan apa-apa yang dilarang oleh Rasulullah…

    Perlu diingat ya, yang menjadikan tidak boleh itu adalah meniatkan utk melakukan perjalanan untuk ziarah kubur, dan jika tujuan melakukan ziarah kubur itu untuk meminta barokah, atau berdoa kepada penghuni kubur, minta didoakan oleh yang sudah mati, karena menganggap orang yang mati itu adalah orang shalih yang bisa mendekatkan kita kepada Allah, ini adalah tidak boleh, dan merupakan perbuatan dosa,

    Jangankan menyengaja bepergian ke kuburan kyiai/ulama, ke kuburan orang yang paling mulia di muka bumi ini, yaitu Rasulullah saja tidak boleh, apalagi selainnya…. tentu ini lebih tidak boleh lagi,

    Jika ke kuburan ibu/bapak juga sama, jika kita menyengaja melakukan perjalanan jauh untuk berziarah ke kuburan ayah/ibu, ini juga terlarang, mendoakan orangtua kita yg sudah mati, tidak harus pergi ke kuburannya, doa bisa dimana saja,

    Beda masalahnya ketika kita pulang kampung, nah pas di kampung tersebut kita sekalian ziarah ke makam orang tua, ini lain masalah, jadi jangan menyengaja melakukan perjalanan jauh, khusus untuk berziarah.

    Berziarah bisa kapan saja, tidak terikat waktu, misalkan mendekati bulan puasa, atau waktu-waktu lainnya…

    Dan salah satu tujuan berziarah adalah untuk melembutkan hati kita, untuk mengingat kematian, yang bisa datang kapan saja, tanpa kenal usia…. tanpa kenal sehat atau sakit…. Allah maha kuasa mencabut nyawa hamba ciptaanya kapan saja…

    Silahkan copas, boleh kok mba, dan saya bukan mba ya, saya bukan wanita, dari namanya saja ketahuan kan, moso ngga tahu?

  4. wah ternyata gitu yah asstagfirullah, ternyata ziarah ke makam dgn sengaja dalam perjalanan jauh dilarang yah mas, makasih atas penjelasanya tapi gw baca penjelasannya koq tdk di ikut sertakan ayat Alquran tuk menguatkannya bro, tp gw sih kgk pernah ziarah kubur walau ke kubur ayahku soalnya beliau jg beramanat kpd saya sblm beliau meninggal dia berpesan beliau kgk mau kuburannya diziarahi cukup di doakan, smg ALLAH Subhanahu Wata’ala menerima segala amalan beliau amin Ya Rabbal Alamin..

    Perlu pembaca ketahui, banyak sekali perintah untuk melaksanakan tata cara ibadah, tetapi itu tidak disebutkan di dalam alqur’an, contohnya adalah shalat, tidak ada satupun bacaan didalam tatacara shalat seperti doa iftitah,bacaan ruku,sujud,tahiyat, dan lain-lain yang ada didalam alqur’an, nah semuanya ada dimana? Semuanya dijelaskan oleh Rasulullah di dalam hadits-hadits yang beliau sampaikan,.

    Perlu pembaca ketahui pula, bahwa semua perkataan Rasulullah adalah wahyu dari Allah, bukan keluar dari pribadi Rasulullah, tapi itu adalah wahyu dari Allah,

    Lihatlah ayat Alqur’an berikut ini:
    وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
    Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (surat an najm ayat 3-4)
    وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
    Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (surat al hasyr ayat 7)
    مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
    Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (surat annisa ayat 80)
    وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
    Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan, (surat annahl ayat 44)

    Masih sangat banyak ayat alquran yang menjelaskan wajibnya mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah, dan meninggalkan apa-apa yang dilarangnya, walaupun di alquran tidak disebutkan…
    Coba baca juga akibat tidak mentaati Rasulullah, ada dalam alquran,
    إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ
    Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. (surat almujadalah ayat 20)
    وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
    Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (surat al anfal ayat 46)

    Masih sangat banyak ayat-ayatnya, mudah-mudahan yang saya nukilkan bisa mencukupi, atau kalau ingin lebih jelasnya buka di website http://www.almanhaj.or.id , disana banyak sekali artikel-artikel tentang permasalahan ini….

  5. nice post bro,.
    terkadang ketika kita berdoa di kuburan lebih khusyuk, daripada kta berdoa di rumah .aneh ya .koq sama kuburan malah khusyuk

    Pengertian khusyuk itu perlu diperjelas dulu, khusyu menurut syari’at , atau khusyu menurut kita yang melakukan ibadah itu sendiri, kenapa? soalnya bisa timbul persepsi yang berbeda dengan pengertian khusyu ini. Jika kita mengetahui pengertian khusyu secara benar, maka kita bisa menilai benarkah perasaan khusyu yang kita alami itu?

    Kita bisa melakukan ibadah dengan khusyu, jika kita mengetahui syarat-syarat dan tatacara dari ibadah tersebut. Jadi kita harus mengilmui lebih dahulu tentang ibadah yang kita lakukan, sudah benarkah? apakah ibadah seperti ini diajarkan oleh rasulullah atau tidak?
    Dan perlu diketahui oleh kaum muslimin semua, segala tatacara ibadah sudah dijelaskan oleh rasulullah, islam sudah sempurna, tidak boleh ada orang yang menambah-nambahkan, atau mengurangi ajaran islam yang telah diajarkan oleh Rasulullah,

    Dan tidak mungkin ada orang yang melakukan ibadah dengan khusyu, jika dia sendiri belum mengetahui apakah ibadah seperti itu dicontohkan oleh Rasulullah atau tidak,

    Perasaan khusyu bisa kita raih, jika kita mengetahui tatacara pelaksanaan ibadah tersebut, sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah,

    Dan syaithan pun bisa mendatangkan perasaan “yang sepertinya itu adalah perasaan khusyu menurut kita”, jika kita beribadah tidak sesuai dengan contoh Rasulullah,… makanya tidak heran, jika kita melakukan ibadah yang menyelisihi ajaran rasulullah, kita mendapatkan perasaan tenang, bahagia, atau seolah-olah kita menjadi lebih dekat kepada Allah, bisa menangis, dan perasaan lainnya yang mungkin menurut kita itulah tanda ibadah kita khusyu.. Janganlah kita tertipu dengan khusyu yang seperti ini…

  6. mereka yg berziarah pun punya dalil masing2..
    dalil yg anda kemukakan hendaknya berimbang.. jangan hanya ambil dari punya anda sendiri…

    Apakah dalil-dalil yang mereka pegang adalah dalil-dalil yang shahih dari Rasulullah?
    Ataukah karangan dari guru-guru mereka?
    Atau hanya taklid buta sama guru-gurunya saja?
    Dan hal ini banyak terjadi dari para pengikut aliran sufi atau tasawuf
    Dan hal ini juga diserupakan dengan perbuatan kaum nashrani…
    Jika seperti itu kasusnya, maka ingatlah firman Allah dalam surat attaubah ayat 31
    اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِنْ دُوْنِ اللهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَـهاً وَاحِداً، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
    “Mereka menjadikan ulama, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka memper-tuhankan) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.
    (At Taubah: 31)

    Kemudian hadits Rasulullah :
    Di dalam Al-Musnad dan dishahihkan oleh Turmuzi dari ‘Adi bin Hatim tentang tafsir ayat di atas ketika Nabi menyatakan hal itu (orang-orang Kristen yang menyembah pendeta-pendeta mereka), maka dia (‘Adi bin Hatim) berkata: Sungguh mereka tidak menyembah pendeta-pendetanya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bukankah mereka (pendeta-pendeta itu) menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan serta mengharamkan untuk mereka apa yang dihalalkan kemudian mereka menta’atinya?, itulah bentuk ibadah mereka kepada pendeta-pendetanya”.

    Berikut ini sedikit penjelasan tentang aliran tasawuf
    Sikap orang-orang Nashrani ini banyak anda dapatkan pada kebanyakan dari mereka (orang-orang tasawuf): Misalnya adanya keyakinan bahwa seseorang yang menjadi wali Allah, dia dapat mengetahui berbagai perkara atau kejadian yang terjadi diluar adat kebiasaan, misalnya dengan menunjuk kepada seseorang, maka dia langsung mati, atau terbang di udara ke Mekkah, atau berjalan di atas air, atau memenuhi ketel dari udara, atau ada sebagian orang yang meminta pertolongan dengannya saat dia tidak ada atau setelah kematiannya kemudian disaksikan-nya bahwa orang itu mendatanginya dan memenuhi permintaannya, atau memberitahu manusia tentang barang yang kecurian, barang yang hilang, penyakit atau yang semacamnya. Semua hal tersebut bukan menunjukkan bahwa pelakunya adalah wali Allah.

    Bahkan para ulama sepakat bahwa seseorang yang mampu terbang di udara atau jalan di atas air maka hendaklah kita tidak cepat terpesona sebelum melihat bagaimana dia mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap apa yang diperintahkan dan yang dilarang.

    Karomah para wali Allah lebih agung dari semua perkara-perkara aneh tersebut. Kejadian-kejadian yang terjadi di luar adat kebiasaan manusia, pelakunya bisa jadi wali Allah dan bisa jadi musuh Allah, karena hal tersebut banyak terjadi pada orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, ahli kitab dan orang-orang munafik, dapat juga terjadi pada ahli bid’ah atau mungkin bersumber dari syetan. Karena itu seseorang tidak boleh menyangka bahwa siapa yang memiliki perkara aneh luar biasa maka dia adalah wali Allah. Akan tetapi wali Allah dapat dinilai dengan sifat-sifat, amal perbuatan dan tingkah laku mereka yang ditunjukkan oleh Al-Quran As-Sunnah. Mereka dapat juga diketahui berdasarkan cahaya Al Quran, hakekat keimanan yang tersembunyi dan syari’at Islam yang tampak.

    Semua kejadian di atas (kejadian di luar adat kebiasaan manusia) dan yang semacamnya bisa saja terjadi pada seseorang yang tidak pernah berwudhu, tidak shalat fardhu, berkubang dengan najis dan bergaul dengan anjing, yang bersemedi di wc-wc, tempat-tempat kotor, kuburan dan tempat-tempat sampah. Baunya busuk, tidak bersuci dengan cara yang syar’i serta tidak bersih-bersih.
    Jika seseorang dikenal berkubang dengan najis dan hal yang menjijikkan yang disukai setan, atau dia bertapa di kamar mandi dan tempat-tempat kotor yang didiami setan, atau dia memakan ular dan kala-jengking, kumbang, serta kuping anjing yang merupa-kan binatang-binatang yang menjijikkan atau minum air kencing, najis dan semacamnya yang disukai setan, atau dia berdoa kepada selain Allah, meminta tolong kepada makhluk, memohon kepadanya dan sujud di depan Syaikhnya serta tidak memurnikan agama untuk Tuhan semesta alam, atau bergaul dengan anjing atau api atau bertapa di kuburan apalagi ternyata kuburannya adalah kuburan orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nashrani serta orang-orang musyrik, atau benci untuk mendengarkan Al Quran atau menghindar darinya, bahkan dia lebih mengutamakan untuk mendengar nyanyian-nyanyian atau sya’ir-sya’ir atau mendengarkan seruling-seruling setan daripada mendengarkan kalamullah. Maka semua itu merupakan tanda-tanda dari wali-wali setan. [17]

    Islam itu punya khazanah yang luar biasa..
    Jangan saling mengklaim orang lain sesat…

    Untuk yang ini, saya sudah sampaikan di jawaban komentar sebelumnya, tapi baiklah, saya nukilkan juga , baca yah,
    Terimakasih atas masukannya,
    Memang kita tidak boleh menjelek-jelekan, menghujat ataupun menghukumi sesat golongan lain.

    Tapi disini perlu digaris bawahi, biar tidak menimbulkan kesalahfahaman,…
    Menjelaskan sebuah kebenaran yang sesungguhnya, dalam hal ini adalah apa-apa yang datang dari Rasulullah secara shahih (benar) , dan ternyata kebenaran itu berbenturan dengan hal-hal yang dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin, ini bukanlah termasuk ke dalam hal diatas…

    Kalau hal seperti ini dianggap menjelek-jelekan, atau menghujat, dan menghukumi sesat golongan lain, ini adalah perkataan yang sangat aneh…

    Bukankah kita disuruh oleh Rasulullah untuk beramar ma’ruf dan nahi mungkar?

    Lalu jika kita menyampaikan suatu amalan yang benar-benar diajarkan oleh Rasulullah, dan ternyata amalan tersebut bertentangan dengan amalan suatu golongan dari kaum muslimin, apakah ini dianggap menghujat golongan lain?

    Kemudian, jika kita melarang apa-apa yang Rasulullah larang dari mengerjakannya, dan ternyata justru ini dilakukan oleh suatu golongan dari kaum muslimin,apakah ini dianggap menghukumi sesat golongan lain?

    Kalau sudah seperti ini penilaiannya, sungguh kaum muslimin akan semakin jauh dari ajaran Rasulullah yang shahih,…

    Dan jika tidak ada segolongan kaum muslimin yang mengingatkan akan hal ini,…. maka Allah akan menurunkan adzab kepada kaum muslimin yang ada…. maka fahamilah wahai saudaraku….

    bagaimana kalau ada yang mengatakan bahwa keilmuan anda sangat dangkal….? afwan..

    memang ilmu saya masih sangat dangkal, makanya saya tidak berani menjawab sendiri, saya nukilkan dari perkataan para ulama ahlusunnah yang sangat banyak, bertebaran di dunia maya, tinggal copy paste saja… saya belum berani menjawab dengan ucapan saya sendiri mas,…. memang siapa saya ini, mungkin sama mas lebih pandai mas…. Kalau jawaban saya keluar dari diri saya sendiri yang masih bodoh ini, saya tidak tahu bagaimana nanti mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah kelak… makanya saya hanya nukil dari kalam para ulama,…. sebab para ulama juga pernah mendapatkan pertanyaan yang semakna dengan apa-apa yang ditanyakan oleh mas, atau oleh orang-orang yang beramal dengan amalan yang tidak sesuai dengan apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah…

    mari kita bersama jaga ukhuwah islamiyyah…

    Mari kita bersama bangun ukhuwah, diatas akidah yang benar, bukan bangun ukhuwah diatas akidah yang campur aduk, sebab itu bukan ukhuwah yang sesungguhnya…. Ukhuwah diatas akidah yang lurus, adalah ukhuwah yang sesungguhnya,.. tapi ukhuwah diatas akidah yang rusak, itu adalah ukhuwah yang semu,… Kelihatan bersatu luarnya, tapi hati-hatinya bercerai berai…

    Tidak akan mungkin dimenangkan oleh Allah orang-orang yang menjalin ukhuwah diatas akidah yang rusak…
    Dan tidak mungkin islam ini jaya, jika kaum muslimin sebagian besarnya tidak mempunyai akidah yang lurus…
    Maka fahamilah…

    Untuk hadits-hadits tentang larangan beribadah disisi kuburan, sudah sangat banyak, tinggal baca dipostingannya, jadi tidak saya tuliskan disini, silahkan baca di:
    https://aslibumiayu.net//2010/04/23/jika-kuburan-dikeramatkan/
    https://aslibumiayu.net//2010/04/27/kondisi-kaum-muslimin-yang-memilukan/
    https://aslibumiayu.net//2010/04/27/hukum-shalat-di-masjid-yang%c2%a0ada%c2%a0kuburannya/

  7. Assalamu’alaikum…

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Dulu nabi memang pernah melarang ziarah kubur takut jadi syirik, tapi setelah itu diperbolehkan.

    كنت نهتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها فإنها ترق القلب، وتدمع العين، وتذكر الاخرة، ولا تقولوا هجرا

    “Dahulu aku melarang kalian untuk berziarah kubur. Ziarahilah kubur, sesungguhnya hal itu dapat melembutkan hati, meneteskan air mata, dan mengingatkan pada kehidupan akhirat. (Ingatlah) jangan mengucapkan perkataan yang batil ketika berziarah kubur.” (HR. Hakim 1/376 dan selainnya dengan sanad hasan, lihat Ahkamul Janaiz hal.180).

    An Nawawi rahimahullah dalam al Majmu’ 5/310 mengatakan,

    كان النهي أولا لقرب عهدهم من الجاهلية فربما كانوا يتكلمون بكلام الجاهلية الباطل، فلما استقرت قواعد الاسلام، وتمهدت أحكامه، واشتهرت معالمه أبيح لهم الزيارة

    “Semula dikeluarkannya larangan tersebut disebabkan mereka baru saja terlepas dari masa jahiliyah. Terkadang mereka masih menuturkan berbagai perkataan jahiliyah yang batil. Tatkala pondasi keislaman telah kokoh, berbagai hukumnya telah mudah untuk dilaksanakan, berbagai rambunya telah dikenal, maka ziarah kubur diperbolehkan”

    Berdasarkan hal ini, ziarah kubur merupakan perbuatan yang dianjurkan oleh syari’at sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها

    “Dulu aku melarang kalian untuk berziarah kubur, namun sekarang berziarah kuburlah kalian.” (HR. Muslim nomor 977).

    Dari penjelasan diatas ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan :
    1. Apa dasarnya/hadistnya yg tidak memperbolehkan ziarah yang menempuh perjalanan jauh?

    Berikut ini haditsnya :
    Dari Abu Sa’id al Khudri radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    لا تشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد مسجد الحرام ومسجد الأقصى ومسجدي

    “Janganlah suatu perjalanan (rihal) diadakan, kecuali ke salah satu dari tiga masjid berikut: Masjidil Haram, masjid Al Aqsha, dan masjidku (Masjid Nabawi).” (HR. Bukhari nomor 1197).

    Dalam hadits yang lain, Abu Sa’id mengatakan, “Aku mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    لا تشدوا الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد مسجدي هذا والمسجد الحرام والمسجد الأقصى

    “Janganlah kalian mempersiapkan perjalanan (bersafar), kecuali ke salah satu dari tiga masjid berikut: masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha.” (HR. Muslim nomor 827).

    Hadits Nabi yang mulia di atas menyatakan keutamaan dan nilai lebih ketiga masjid tersebut daripada masjid yang lain. Hal tersebut dikarenakan ketiganya merupakan masjid para nabi ‘alaihimus salam. Masjidil Haram merupakan kiblat kaum muslimin dan tujuan berhaji, Masjidil Aqsha adalah kiblat kaum terdahulu dan masjid Nabawi merupakan masjid yang terbangun di atas pondasi ketakwaan (Al Fath 3/64). Oleh karena itu, kaum muslimin disyari’atkan untuk melakukan safar menuju ketiga tempat tersebut dan mereka dilarang untuk melakukan safar ke tempat lain dalam rangka melakukan peribadatan di tempat tersebut meskipun tempat itu adalah masjid.

    2. Hadist yang menjelaskan bahwa kita tidak boleh berdo’a dikuburan (mendo’akan si orang yang ada dikuburan tersebut).

    Diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa ia pernah berkata: Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak diambil nyawanya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun segera menutupkan kain di atas mukanya, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam buka lagi kain itu tatkala terasa menyesakkan napas. Ketika dalam keadaan demikian, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الَْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

    “Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah (masjid)”.

    Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan hal itu saat mendekati kematiannya, untuk memperingatkan umatnya dari perbuatan mereka (Yahudi dan Nasrani) itu. Seandainya bukan karena peringatan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, niscaya kubur beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan ditampakkan; hanya saja beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir, jika (kubur beliau) akan dijadikan sebagai tempat ibadah.”

    Syaikh Shalih Alu asy Syaikh menjelaskan, ada tiga bentuk menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.

    Pertama : Menjadikan kuburan itu sebagai tempat sujudnya. Bentuk yang paling bisa dipahami dari perkataan ‘mereka menjadikan kuburan tersebut sebagai masjid’ ialah, menjadikan kuburan sebagai masjid. Yaitu tempat melakukan shalat dan sujud di atasnya. Demikian ini jelas merupakan sarana yang sangat berbahaya, dan paling merusak yang mengantarkan kepada syirik dan berlaku ghuluw kepada kuburan.

    Kedua : Shalat ke arah kuburan. Makna menjadikan kuburan sebagai masjid dalam bentuk ini, yaitu seseorang shalat di hadapan kuburan dengan menjadikannya sebagai kiblatnya. Dengan kondisi ini, dia telah menjadikan kuburan sebagai tempat ia merendahkan dan menghinakan dirinya.

    Masjid di sini bukan lagi semata-mata berarti tempat sujud –meletakkan dahi di atas tanah–, tetapi berarti tempat merendahkan dan menghinakan diri. Mereka menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid, maksudnya, menjadikannya sebagai kiblat. Karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat ke arah kuburan, karena merupakan salah satu sarana kepada sikap pengagungan kuburan.

    Ketiga : Menjadikan kuburan berada di dalam suatu bangunan, dan bangunan itu adalah masjid. Jika yang dikubur itu seorang nabi, maka mereka membuat bangunan di atasnya. Mereka lantas menjadikan di sekeliling kuburan itu sebagai masjid dan menjadikan tempat itu sebagai tempat beribadah dan shalat.

    Adapun perkataan ‘Aisyah bahwa ‘beliau memperingatkan (umatnya) dari perbuatan mereka (Yahudi dan Nasrani)’, maka di dalamnya terdapat isyarat yang menjadi penyebabnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang sedang dalam keadaan sakaratul maut, melaknat Yahudi dan Nasrani dalam hadits ini. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memperingatkan para sahabatnya agar jangan sampai mengikuti langkah-langkah kedua Ahli Kitab tersebut. Dan ternyatalah mereka, para sahabat, menerima peringatan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dan mengamalkan wasiat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Kemudian perkataan ‘Aisyah ‘dan seandainya bukan karena hal itu, niscaya kuburan beliau ditampakkan’. Maksudnya, kalau bukan karena peringatan dan kekhawatiran beliau bahwa kuburan beliau dijadikan masjid oleh umatnya sebagaimana orang Yahudi dan Nasrani, niscaya kuburan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di luar rumahnya, berdampingan dengan kuburan-kuburan para sahabat di Baqi atau selainnya. Di samping alasan ini, ada juga alasan lain, yaitu sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu :

    إِنَّ الأَنْبِيَاءَ يُقْبَرُونَ حَيْثُ يُقْبَضُونَ

    “Sesungguhnya para nabi itu dikuburkan di mana mereka diwafatkan”.

    Adapun Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dimaklumi, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat di dalam rumah ‘Aisyah.

    Kemudian perkataan ‘Aisyah selanjutnya ‘hanya saja beliau khawatir (kuburannya) akan dijadikan sebagai tempat ibadah’, terdapat dua riwayat.

    Berdasarkan riwayat pertama, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendirilah yang mengkhawatirkan hal tersebut, sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan ummatnya untuk menguburkannya di tempat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Sedangkan berdasarkan riwayat kedua, maka kemungkinan yang mengkhawatirkan hal itu adalah para sahabat. Artinya, mereka khawatir hal itu terjadi pada sebagian umat sehingga mereka pun tidak menampakkan kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , karena dikhawatirkan umat Islam berlebih-lebihan dan terlalu mengagung-agungkan kuburan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ditampakkan.

    Imam al Qurthubi berkata,”Oleh karena itulah, kaum muslimin berusaha semampu mungkin menutup jalan yang mengarah kepada pemujaan kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara meninggikan dinding tanahnya dan menutup rapat pintu-pintu masuk ke arahnya dengan menjadikan dindingnya mengitari kuburan beliau. Mereka pun takut apabila letak kuburan beliau dijadikan kiblat bagi orang-orang yang melakukan shalat sehingga seakan shalat yang menghadap ke arahnya tersebut merupakan suatu wujud beribadah. Karenanya, mereka kemudian membangun dua dinding dari dua sudut kuburan bagian utara, dan mengalihkan keduanya hingga bertemu pada sudut yang membentuk segitiga dari arah utara sehingga tidak memungkinkan siapa pun untuk menghadap ke arah kuburan beliau.”

    Diriwayatkan oleh Muslim dari Jundub bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Aku mendengar bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda lima hari sebelum beliau wafat, ‘Sungguh aku menyatakan kesetiaanku kepada Allah dengan menolak, bahwa aku mempunyai seorang khalil (kekasih mulia) di antara kamu, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil. Seandainya aku menjadikan seorang khalil dari umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Ketahuilah bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah, maka janganlah kamu sekalian menjadikan kubur sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu melakukan perbuatan itu.’”

    Al Khalili berkata,”Pengingkaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perbuatan mereka tersebut dapat diartikan dengan dua makna. Pertama, mereka bersujud terhadap kuburan para nabi untuk mengagungkan utusan Allah tersebut. Kedua, mereka memang menganggap boleh melakukan shalat di kuburan para nabi dan menghadap ke arah ketika melakukan shalat, karena mereka memandang hal itu sebagai bentuk ibadah kepada Allah dan cerminan sikap pengagungan yang sangat kepada para nabi tersebut.

    Makna pertama merupakan syirik jaliy (bentuk syirik yang jelas). Sedangkan makna kedua merupakan syirik khafiy (bentuk syirik yang tersembunyi). Oleh karena itu, mereka layak untuk dilaknat.”

    3. Bagaimana pandangan anda terhadap ahli sufi?

    Silahkan mas bisa dibaca disini : http://muslim.or.id/manhaj/sufi-benarkah-ajaran-nabi.html

    4. Apakah semua orang yang ziarah itu termasuk golongan yang sesat?

    Orang yang melakukan ziarah yang tidak menyelisihi dari ziarah yang diajarkan oleh Rasulullah adalah termasuk orang yang menjalankan sunnah Rasulullah..
    Sedangkan orang yang melakukan ziarah dengan menyelisihi tatacara ziarah yang diajarkan oleh Rasulullah, maka terjerumus kedalam perbuatan bid’ah.
    Dan semua perbuatan bidah itu adalah kesesatan…
    Dan syaithan lebih menyukai orang yang melakukan kebidahan daripada orang yang melakukan perbuatan maksiat..

    5. Kenapa kalau kita ke mekah disunnahkan ke madinah ziarah ke makam nabi?

    Kalau kita niatnya dari indonesia untuk ziarah ke kuburan Rasulullah, ini hukumnya adalah haram, karena ada hadits :
    “Janganlah kalian mempersiapkan perjalanan (bersafar), kecuali ke salah satu dari tiga masjid berikut: masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha.” (HR. Muslim nomor 827).
    Jadi kalau sudah tiba di masjid nabawi, lalu berniat ziarah ke kuburan Rasulullah, itu tidak mengapa,..
    Jadi perlu diingat, ziarah kubur Rasulullah tidak boleh diniatkan dari awal keberangkatan kita,… tetapi ketika sudah sampai ke masjid nabawi, lalu kita niatkan ziarah kubur nabi..

    6. Apakah dengan ziarah kita tidak boleh mengenang kebaikan2/jasa orang telah dimakamkan disitu.

    Anda bisa membaca adab-adab ziarah kubur disini : http://ikhwanmuslim.com/bahasan-utama/ziarah-kubur-2-adab-adab-ziarah-kubur

    7. Apakah merasa diri lebih benar dan yang lain salah bukankah itu perbuatan syetan.

    Siapa yang merasa paling benar??
    Apakah jika menyampaikan hadits rasulullah, yang itu bertolak belakang dengan pemahaman anda selama ini, atau berlawanan dengan adat dan kebiasaan yang ada di masyarakat kita dianggap merasa paling benar??
    Bagaimana seharusnya sikap kita ketika mendengar hadits Rasulullah??

    Jika kita menyampaikan hadits yang berasal dari Rasulullah dianggap merasa paling benar sendiri, bukankah ini adalah salah satu cara-cara syaithan untuk menjauhkan manusia dari kebenaran…

    Itu adalah sikap sombong terhadap kebenaran yang datang dari Rasulullah…
    Janganlah anda terjebak kedalam jebakan syetan ini…
    Mudah-mudahan Allah menunjuki anda, dan kaum muslimin….

    Demikian, terima kasih

  8. kenapa wahabi selalu marah dengan orang yang ziarah kubur?

    Kata siapa mas hasni, siapa yang melarang ziarah kubur?? Beda lagi dengan melakukan perjalanan untuk ziarah kubur, bukan wahabi yang melarang, tapi Rasulullah yang melarangnya mas,

    Rolulullah juga ziarah kubur (ke makam ibu beliau dan pernah mendoakan orang yang di siksa dalam kubur dengan membawa pelepah daun kurma dengan doa semoga dia terlepas siksa kubur selama pelepah itu masih segar),

    Betul mas, tapi perlu diingat, Rasulullah berziarah ke makam ibunya itu bukan menyengaja untuk ziarah, tapi pas kebetulan lewat, nah sambil lewat itu Rasulullah sempatkan ziarah ke makam ibu beliau, dan Rasulullah tidak mendoakan ibu beliau, karena orang tua rasulullah itu masih musyrik, sehingga Allah melarang Rasulu tuk berdoa untuknya,..

    Trus masalah Rasulullah meletakkan pelepah kurma, itu kekhususan bagi Rasulullah, karena keutamaan Rasulullah, sehingga beliau pun tahu apa yang dialami oleh penghuni kubur, tentu melalui wahyu Allah,… nah beda dengan kita, kita ngga bisa ikut2an meletakkan pelepah kurma sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah,. atau menanam pohon semboja,. dll itu semua tidak ada contohnya dari Rasulullah mas,.. sahabat saja yang hidup sejaman dengan Rasulullah tidak melakukannya,.. kok kita mau melakukannnya,.. aneh…

    kalian selalu meributkan ziarah wali, kalau memang ziarah itu membawa orang untuk selalu ingat mati dan ingat akhirat apakah itu salah?

    Mas, yang pertama kali meributkan bukan kita mas,.. Rasulullah ketika mau meninggal sudah memperingatkan para sahabatnya untuk tidak memperlakukan kuburannya sebagai tempat perayaan,… tidak sebagai tempat yang untuk dikunjungi, menyengaja dari jauh tuk ziarah kubur beliau,.. sehingga beliau mengutuk orang-orang yahudi yang menjadikan kubur nabinya sebagai tempat perayaan,.. dan kaum muslimin yang ikut-ikutan seperti itu masuk ke dalam kutukan Rasulullah,.. tidak takut mas?? dan tentunya jika mas melakukan spt itu, itu sebuah kesalahan, bahkan kemungkaran,…

    kalau yg diziarahi itu makam dukun atau orang yg sahabat iblis oke lah.

    Mas, kuburan nabi saja tidak boleh dikunjungi, jika kita meniatkan dari rumah kita tuk ziarah kubur beliau,.. apalagi kuburan selain beliau?? paham mas?

    Ingat wahai Wahabi, pimpinan kalian di Arab saudi juga dedengkot israel, jadi jangan macam-macam!
    Alhamdulillah, kita disebut wahabi,.. alwahab itu salah satu nama Allah, kalau wahabi itu berarti pengikut

    Allah,.. ya,.. saya wahabi,… alhamdulillah saya terlahir sebagai seorang wahabi…
    Arab saudi dedengkot israil?? lucu sekali anda ini mas,…

    disini muslim bersatu walau berbeda faham, tapi kedatangan kalian yang sok benar sendiri membuat perpecahan lagi!

    Bersatu?? yang bener saja mas,.. kelihatannya saja bersatu, tapi diatas akidah yang rusak,.. itu bukanlah hakekat persatuan..
    Lebih lucu lagi,ada orang yang menjelaskan ajaran-ajaran yang betul-betul datang dari Rasulullah, disebut memecah belah, disebut wahabi,..

    Jadi ingat Rasulullah yang dijuluki oleh kaumnya dengan sebutan al amin, tetapi ketika Rasulullah mendakwahkan dakwah tauhid,.. langsung di cap penyair, gila, tukang sihir,.. dan Rasulullah mendapatkan perlakuan yang jelek dari kaumnya, akan tetapi Rasulullah tetap bersabar… karena Rasulullah tahu, kaumnya itu kaum yang bodoh,..
    Demikian juga di jaman ini, orang-orang yang mendakwahkan dakwah tauhid,.. dicap wahabi, dll
    Sungguh mirip sekali apa yang dialami oleh Rasulullah, dengan apa yang dialami oleh orang-orang yang dijuluki oleh mereka dengan julukan wahabi…
    Alhamdulillah, saya seorang wahabi…

  9. assalamu’alaikum, aku mau nanya akhi tentang boleh apa tidak memberi lampu penerangan di keburan. sebenarnya saya sudah tanya kepada para kiayi yang ada di daerah saya, kebanyakan beliau mengatakan boleh, walaupun ada juga yang melarangnya.

    hal ini menjadi penting bagi saya, mohon maaf, karena saya adalah seorang Kepala Desa / lurah di desa saya.

    saya takut karena ini adalah perkara agama. tetapi saya lebih cenderung dengan pendapat yang tidak boleh memberi lampu di kuburan, seperti yang saya pernah dengar ceramahnya ustadz Badrusalam di RodjaTV.

    maksud saya begini akhi, kemarin masyarakat kami mengadakan rembug desa tentang rencana akan memasang lampu di kuburan, yang tujuannya apabila ada penguburan jenazah di malam hari, maka tidak perlu repot pakai disel atau genset, begitu.

    tetapi saya katakan pada waktu rapat itu, kalau lampunya dipasang di areal kuburan atau untuk menerangi kuburan saya tidak setuju, tetapi kalau dipasang di sepanjang jalan sebelah kuburan saya setuju, karena saya pernah mendengar bahwa nabi sholallahu alaihi wa sallam melarang kuburan diberi penerangan.

    mohon dituliskan teks haditsnya (teks arab), tentang larangan memberi penerangan di kuburan, beserta pendapat sahabat, atau para imam, dan pendapat ulama. jazakallahu khoiron.

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    Terimkasih abu izza,
    tentang haditsnya :
    Diharamkan memasang lampu di kuburan.
    Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

    لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَائِرَاتِ الْقُبُورِ وَالْمُتَّخِذِينَ عَلَيْهَا الْمَسَاجِدَ وَالسُّرُجَ (رواه أبو داود و الترمذي)

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita-wanita yang ziarah kubur dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid, dan orang yang memasang lampu padanya. [HR Abu Dawud dan At Tirmidzi].

    saya mencoba tanyakan hal diatas ini jawabannya,.
    kata para ulama, larangan memasang lampu tsb dalam rangka saddudz dzari’ah, yaitu menutup peluang ternjadinya pengagungan thd kuburan dan juga membuang2 harta

    dan ada kaidah, perkara yang terlarang karna saddudz dzri’ah menjadi boleh ketika ada kebutuhan. jadi tidak masalah, insya Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*