Jika Kuburan Dikeramatkan

HUKUM MEMBANGUN, MEMBERI PENERANGAN DAN BERIBADAH DI KUBURAN

Beberapa waktu lalu kita semua dikejutkan dengan peristiwa bentrok berdarah yang mengakibatkan beberapa oparat penegak hukum meninggal dunia dan ratusan korban luka berat dan luka ringan, dari kedua belah pihak, mulai dari anak kecil, remaja serta orang tua, pria maupun wanita.

Kita semua tentu prihatin dengan kejadian tersebut, sangat di sayangkan hal itu sampai terjadi, padahal semestinya bentrok berdarah seperti itu bisa di hindari. Di satu pihak ingin menertibkan tata kota Jakarta yang kumuh dan semrawut, dan di sisi lain masyarakat berusaha untuk mempertahankan keberadaan bangunan situs bersejarah berupa makam keramat salah seorang tokoh agama setempat yang dihormati dan di sanjung-sanjung sebagian warga kota Jakarta dan juga masyarakat islam dari berbagai kota lainnya bahkan mungkin seantero nusantara.

Seperti halnya kuburan para tokoh agama lainnya yang di keramatkan, kuburan tersebut biasa di kunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah, dari peziarah dari Jakarta bahkan ada pula peziarah yang datang dari jauh seperti dari Sumatra, Sulawesi, Kalimantan dan lainnya, tujuannya untuk mecari barokah dari kuburan tokoh tersebut yang sudah mati, diharapkan dengan berziarah ke kuburnya maka segala hajat mereka segera akan terkabul.

Pertanyaanya adalah, apa hukum ini semua ?, seorang muslim tidak pantas ikut-ikutan kebanyakan orang dalam beragama, bertindak dan berucap, karena akibatnya bisa fatal, terjerembab kedalam kesesatan yang berakhir dengan lembah neraka.

Berikut ini saya bawakan hadits-hadist shohih berkenaan dengan masalah kuburan.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Janganlah kalian melakukan perjalanan ibadah kecuali ketiga masjid, masjidku ini (masjid Nabawi di Madinah), masjidil haram, dan masjidil Aqsho. ( HR. Bukhori dan Muslim).

Dari sini kita tahu bahwa wisata spiritual/rohani ke makam para wali songo dan para sunan, ke Pamijahan, makam syaikh anu dan itu di larang dan tidak di syariatkan bahkan merupakan perkara baru (bid’ah) dalam agama islan, amalannya tertolak tidak berpahala bahkan berdosa.

Di riwayatkan dari Jundub bin Abdillah, semoga Alloh melimpahkan keridhoan-Nya kepada beliau, dia berkata ; aku mendengar Nabi Sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda lima (malam ) sebelum wafatnya :Ketahuilah !, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan Nabi-Nabi dan orang-orang sholih mereka sebagai masjid, sesungguhnya aka melarang kalian dari hal seperti itu. (HR. Muslim).

Di riwayatkan dari Ibnu Mas’ud semoga Alloh melimpahkan keridhoan-Nya dari Nabi Sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya orang-orang yang paling jelek (keagamaanya) adalah orang-orang yang mengalami langsung peristiwa kiamat dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid.

Di riwayatkan dari Ummul mu’minin Aisyah dan ibnu Abbas semoga Alloh melimpahkan keridhoan-Nya kepeda mereka berdua, Beliau berdua berkata, Ketika Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam mau meninggal dunia, beliau membuka dan menutup wajahnya dengan kain, ketika panas beliau membukanya, beliau bersabda dalam keadaan seperti itu, “laknat Alloh tertimpa kepada orang-orang Yahudi dan Nashoro, karena mereka menjadikan kuburan-nabi-nabi mereka sebagai masjid”.Beliau melarang perbuatan seperti yang mereka lakukan.

Berkata Aisyah semoga Alloh melimpahkan keridhoan-Nya kepada beliau, kalau tidak karena larangan itu maka beliau akan di kubur di luar rumahnya, namun beliau kewatir kuburannya akan di jadikan sebagai masjid.

Maksud menjadikan kuburannya sebagi masjid adalah membangun masjid di atasnya, menjadikannya sebagai tempat sholat meski tidak dibangun bangunan di atasnya, atau sujud di atasnya, sholat menghadapnya/ sebagai qiblat, atau di jadikan sebagai tempat yang senantiasaa di kunjungi untuk berbagai ibadah separti sholat, berdoa, berdzikir dan lain-lain.

Di riwayatkan dari Abu Hiyaj Al –Assady semoga Alloh melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau, Ali bin abi Tholib semoga Alloh melimpahkan keridhoan-Nya kepada beliau, berkata kepadaku : agar aku tidak membiarkan Timtsal ( apa saja yang di sembah selain Alloh berupa berhala atau benda mati lainnya) kecuali harus aku hancurkan, tidak pula membiarkan kuburan yang di tinggikan / di agungkan kecuali aku ratakan”. (HR> Muslim).

Dari Jabir bin Abdillah semoga Alloh melimpahkan keridhoan-Nya kepada beliau, beliau berkata : Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa Sallam melarang mengapur kuburan, membangun dan duduk di atas kuburan. ( HR. Muslim).

Dari Abu Martsad Al Ghonawy semoga Alloh melimpahkan keridhoann-Nya kepada beliau, bahwasannya Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : janganlah kalian sholat menghadap kuburan dan jangan duduk di atasnya (HR. Muslim).

Maksudnya menghadap kepadanya karena termasuk bentuk-bentuk pengagungan/pengkramatan sampai tinggkat layaknya objek peribadatan. Kalau pelakunya benar-benar mengagungkan kuburan/penghuni kuburan tersebut dengan perbuatannya tersebut maka pelakunya terjatuh kedalam kekafiran karena menyekutukan Alloh dalam beribadah, dan menyerupai perbuatan tersebut sekalipun tetap di haramkan juga.

Dari Ibnu Abbas semoga Alloh melimpahkan keridhoan-Nya kepada beliau, secara marfu’ berkata : Janganlah kalian sholat menghadap kuburan dan jangan sholat di atasnya.

Di sana banyak juga hadist-hadist yang melarang kuburan sebagai ‘Ied, maknanya yaitu tempat yang senatiasa di kunjungi, sebagai tempat berkumpul dan di selenggarakan seremonial ibadah.

Seperti dalam hadits Abu Hurairoh semoga Alloh melimpahkan keridhoan-Nya kepada beliau, bahwasanya Nabi shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda : janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, dan jangan jadikan kuburanku sebagai ‘Ied, dan bersholawatlah untukku , sesungguhnya sholawat kalian sampai kepadaku di mana saja kalian berada.

Kalau kuburan Nabi saja harus seperti itu di perlakukannya, padahal kuburan beliau adalah kuburan yang paling mulia di muka bumi maka bagaimana dengan kuburan-kuburan manusia yang yainnya,….tentunya itu adalah perbuatan berlebih-lebihan dan melampai batasan syara’.

Hadist-hadist ini semuannya shoheh dan mutawatir dari Nabi shollalllohu ‘alaihi wa Sallam, larangan dalam berbagai bentuk larangan juga dengan kesepakatan seluruh sahabat Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam dan ulama-ulama setelah mereka yang merupakan pendahulu umat ini yang sholih dan memua kaum muslimin yang mengikuti konsep beragama mereka, mengharamkan membangun masjid atau ruangan, rumah-rumahan, gedung, kubah di atas kuburan dan membangunnya.

Termasuk yang di sepakati keharamannya oleh para ulama adalah memberi penerangan dengan lampu-lampu, meninggikan kuburan lebih dari sejengkal dengan tanah, batu atau yang lainnya.

Juga mencium, memeluk kuburan, mengusap-usap, mengambil debu atau tanahnya untuk mendapat barohkah darinya. Menempelkan perut atau punggung, dan yang benar (kalau pun di perbolehkan untuk berziarah), maka dengan menjaga jarak, tidak terlalu dekat sebagai mana berkunjung kepada tokoh-tokoh agama ketika semasa hidupnya.Inilah yang benar!!!.

Inilah yang dikatakan oleh para ulama, dan inilah yang mereka praktekkan, hendaknya kita dan seluruh kaum muslimin tidak tertipu dangan perbuatan kebanyakan orang-orang awam tentang agama meski di gelari oleh pengikutnya dengan habib, gus, kyai dan para pengikutnya berupa penyimpangan-penyimpangn berbahaya, sampai-sampai tidak ada kuburan yang di keramatkan pun yang sepi dari pengunjung, untuk mencari berkah, pesugihan bahkan ada juga ritual seks terbuka ,bukan dengan pasangan yang sah, bahkan itulah persyaratan yang harus di penuhi demi terpenuhinya hajat.Wallohu’alam.

Rancaekek,7 jumadil ula 1431 H. Yahya AbdulAziz.

(Di terjemahkan dan di beri tambahan seperlunya dadi kitabTahdiib Tashiil Al-Aqidah Al Islamiyah. Dr. Abdullah bin AbdulAziz Al Jibrin).

You May Also Like

8 Comments

  1. Terimakasih atas artikelnya yang sangat lengkap dan betul-betul harus pelan-pelan bacanya agar jangan salah arti…
    Terus terang Kang ,waktu saya di Garut sering tuh ke Pamijahan… 😛
    Salam dari Medan

    Mudah-mudahan bermanfaat, terimakasih atas kunjungannya….

  2. Terimakasih Kang atas hadis-hadisnya
    Moga jadi bermanfaaat
    Dan berpahala untuk yang menerbitkannya

    Amiin, terimakasih telah berkunjung, mudah-mudahan Allah berikan hidayah kepada kaum muslimin yang masih belum mengetahui akan masalah ini…

  3. oh gitu, guru ngajiku sering tuh ke ziarah kemakam2 nya para kiyai/ulama, itu gk boleh juga yah, klo ziarah ke makam ibu/bapak, boleh gk?

    boleh copas mas?
    boleh yah, 🙂

    Patokan kebenaran adalah apa yang diperintahkan oleh Rasulullah kita kerjakan, dan yang Rasulullah larang kita tinggalkan. Apabila ada guru ngaji atau orang yang disebut kiyai/ulama yang melakukan hal-hal yang dilarang oleh Rasulullah, maka kita tidak boleh mengikuti perbuatan tersebut,… kita doakan mudah-mudahan guru atau kiyai/ulama tersebut diberi hidayah oleh Allah, sehingga tidak melakukan apa-apa yang dilarang oleh Rasulullah…

    Perlu diingat ya, yang menjadikan tidak boleh itu adalah meniatkan utk melakukan perjalanan untuk ziarah kubur, dan jika tujuan melakukan ziarah kubur itu untuk meminta barokah, atau berdoa kepada penghuni kubur, minta didoakan oleh yang sudah mati, karena menganggap orang yang mati itu adalah orang shalih yang bisa mendekatkan kita kepada Allah, ini adalah tidak boleh, dan merupakan perbuatan dosa,

    Jangankan menyengaja bepergian ke kuburan kyiai/ulama, ke kuburan orang yang paling mulia di muka bumi ini, yaitu Rasulullah saja tidak boleh, apalagi selainnya…. tentu ini lebih tidak boleh lagi,

    Jika ke kuburan ibu/bapak juga sama, jika kita menyengaja melakukan perjalanan jauh untuk berziarah ke kuburan ayah/ibu, ini juga terlarang, mendoakan orangtua kita yg sudah mati, tidak harus pergi ke kuburannya, doa bisa dimana saja,

    Beda masalahnya ketika kita pulang kampung, nah pas di kampung tersebut kita sekalian ziarah ke makam orang tua, ini lain masalah, jadi jangan menyengaja melakukan perjalanan jauh, khusus untuk berziarah.

    Berziarah bisa kapan saja, tidak terikat waktu, misalkan mendekati bulan puasa, atau waktu-waktu lainnya…

    Dan salah satu tujuan berziarah adalah untuk melembutkan hati kita, untuk mengingat kematian, yang bisa datang kapan saja, tanpa kenal usia…. tanpa kenal sehat atau sakit…. Allah maha kuasa mencabut nyawa hamba ciptaanya kapan saja…

    Silahkan copas, boleh kok mba, dan saya bukan mba ya, saya bukan wanita, dari namanya saja ketahuan kan, moso ngga tahu?

  4. wah ternyata gitu yah asstagfirullah, ternyata ziarah ke makam dgn sengaja dalam perjalanan jauh dilarang yah mas, makasih atas penjelasanya tapi gw baca penjelasannya koq tdk di ikut sertakan ayat Alquran tuk menguatkannya bro, tp gw sih kgk pernah ziarah kubur walau ke kubur ayahku soalnya beliau jg beramanat kpd saya sblm beliau meninggal dia berpesan beliau kgk mau kuburannya diziarahi cukup di doakan, smg ALLAH Subhanahu Wata’ala menerima segala amalan beliau amin Ya Rabbal Alamin..

    Perlu pembaca ketahui, banyak sekali perintah untuk melaksanakan tata cara ibadah, tetapi itu tidak disebutkan di dalam alqur’an, contohnya adalah shalat, tidak ada satupun bacaan didalam tatacara shalat seperti doa iftitah,bacaan ruku,sujud,tahiyat, dan lain-lain yang ada didalam alqur’an, nah semuanya ada dimana? Semuanya dijelaskan oleh Rasulullah di dalam hadits-hadits yang beliau sampaikan,.

    Perlu pembaca ketahui pula, bahwa semua perkataan Rasulullah adalah wahyu dari Allah, bukan keluar dari pribadi Rasulullah, tapi itu adalah wahyu dari Allah,

    Lihatlah ayat Alqur’an berikut ini:
    وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
    Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (surat an najm ayat 3-4)
    وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
    Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (surat al hasyr ayat 7)
    مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
    Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (surat annisa ayat 80)
    وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
    Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan, (surat annahl ayat 44)

    Masih sangat banyak ayat alquran yang menjelaskan wajibnya mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah, dan meninggalkan apa-apa yang dilarangnya, walaupun di alquran tidak disebutkan…
    Coba baca juga akibat tidak mentaati Rasulullah, ada dalam alquran,
    إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ
    Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. (surat almujadalah ayat 20)
    وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
    Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (surat al anfal ayat 46)

    Masih sangat banyak ayat-ayatnya, mudah-mudahan yang saya nukilkan bisa mencukupi, atau kalau ingin lebih jelasnya buka di website http://www.almanhaj.or.id , disana banyak sekali artikel-artikel tentang permasalahan ini….

  5. nice post bro,.
    terkadang ketika kita berdoa di kuburan lebih khusyuk, daripada kta berdoa di rumah .aneh ya .koq sama kuburan malah khusyuk

    Pengertian khusyuk itu perlu diperjelas dulu, khusyu menurut syari’at , atau khusyu menurut kita yang melakukan ibadah itu sendiri, kenapa? soalnya bisa timbul persepsi yang berbeda dengan pengertian khusyu ini. Jika kita mengetahui pengertian khusyu secara benar, maka kita bisa menilai benarkah perasaan khusyu yang kita alami itu?

    Kita bisa melakukan ibadah dengan khusyu, jika kita mengetahui syarat-syarat dan tatacara dari ibadah tersebut. Jadi kita harus mengilmui lebih dahulu tentang ibadah yang kita lakukan, sudah benarkah? apakah ibadah seperti ini diajarkan oleh rasulullah atau tidak?
    Dan perlu diketahui oleh kaum muslimin semua, segala tatacara ibadah sudah dijelaskan oleh rasulullah, islam sudah sempurna, tidak boleh ada orang yang menambah-nambahkan, atau mengurangi ajaran islam yang telah diajarkan oleh Rasulullah,

    Dan tidak mungkin ada orang yang melakukan ibadah dengan khusyu, jika dia sendiri belum mengetahui apakah ibadah seperti itu dicontohkan oleh Rasulullah atau tidak,

    Perasaan khusyu bisa kita raih, jika kita mengetahui tatacara pelaksanaan ibadah tersebut, sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah,

    Dan syaithan pun bisa mendatangkan perasaan “yang sepertinya itu adalah perasaan khusyu menurut kita”, jika kita beribadah tidak sesuai dengan contoh Rasulullah,… makanya tidak heran, jika kita melakukan ibadah yang menyelisihi ajaran rasulullah, kita mendapatkan perasaan tenang, bahagia, atau seolah-olah kita menjadi lebih dekat kepada Allah, bisa menangis, dan perasaan lainnya yang mungkin menurut kita itulah tanda ibadah kita khusyu.. Janganlah kita tertipu dengan khusyu yang seperti ini…

  6. kenapa wahabi selalu marah dengan orang yang ziarah kubur?

    Kata siapa mas hasni, siapa yang melarang ziarah kubur?? Beda lagi dengan melakukan perjalanan untuk ziarah kubur, bukan wahabi yang melarang, tapi Rasulullah yang melarangnya mas,

    Rolulullah juga ziarah kubur (ke makam ibu beliau dan pernah mendoakan orang yang di siksa dalam kubur dengan membawa pelepah daun kurma dengan doa semoga dia terlepas siksa kubur selama pelepah itu masih segar),

    Betul mas, tapi perlu diingat, Rasulullah berziarah ke makam ibunya itu bukan menyengaja untuk ziarah, tapi pas kebetulan lewat, nah sambil lewat itu Rasulullah sempatkan ziarah ke makam ibu beliau, dan Rasulullah tidak mendoakan ibu beliau, karena orang tua rasulullah itu masih musyrik, sehingga Allah melarang Rasulu tuk berdoa untuknya,..

    Trus masalah Rasulullah meletakkan pelepah kurma, itu kekhususan bagi Rasulullah, karena keutamaan Rasulullah, sehingga beliau pun tahu apa yang dialami oleh penghuni kubur, tentu melalui wahyu Allah,… nah beda dengan kita, kita ngga bisa ikut2an meletakkan pelepah kurma sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah,. atau menanam pohon semboja,. dll itu semua tidak ada contohnya dari Rasulullah mas,.. sahabat saja yang hidup sejaman dengan Rasulullah tidak melakukannya,.. kok kita mau melakukannnya,.. aneh…

    kalian selalu meributkan ziarah wali, kalau memang ziarah itu membawa orang untuk selalu ingat mati dan ingat akhirat apakah itu salah?

    Mas, yang pertama kali meributkan bukan kita mas,.. Rasulullah ketika mau meninggal sudah memperingatkan para sahabatnya untuk tidak memperlakukan kuburannya sebagai tempat perayaan,… tidak sebagai tempat yang untuk dikunjungi, menyengaja dari jauh tuk ziarah kubur beliau,.. sehingga beliau mengutuk orang-orang yahudi yang menjadikan kubur nabinya sebagai tempat perayaan,.. dan kaum muslimin yang ikut-ikutan seperti itu masuk ke dalam kutukan Rasulullah,.. tidak takut mas?? dan tentunya jika mas melakukan spt itu, itu sebuah kesalahan, bahkan kemungkaran,…

    kalau yg diziarahi itu makam dukun atau orang yg sahabat iblis oke lah.

    Mas, kuburan nabi saja tidak boleh dikunjungi, jika kita meniatkan dari rumah kita tuk ziarah kubur beliau,.. apalagi kuburan selain beliau?? paham mas?

    Ingat wahai Wahabi, pimpinan kalian di Arab saudi juga dedengkot israel, jadi jangan macam-macam!
    Alhamdulillah, kita disebut wahabi,.. alwahab itu salah satu nama Allah, kalau wahabi itu berarti pengikut

    Allah,.. ya,.. saya wahabi,… alhamdulillah saya terlahir sebagai seorang wahabi…
    Arab saudi dedengkot israil?? lucu sekali anda ini mas,…

    disini muslim bersatu walau berbeda faham, tapi kedatangan kalian yang sok benar sendiri membuat perpecahan lagi!

    Bersatu?? yang bener saja mas,.. kelihatannya saja bersatu, tapi diatas akidah yang rusak,.. itu bukanlah hakekat persatuan..
    Lebih lucu lagi,ada orang yang menjelaskan ajaran-ajaran yang betul-betul datang dari Rasulullah, disebut memecah belah, disebut wahabi,..

    Jadi ingat Rasulullah yang dijuluki oleh kaumnya dengan sebutan al amin, tetapi ketika Rasulullah mendakwahkan dakwah tauhid,.. langsung di cap penyair, gila, tukang sihir,.. dan Rasulullah mendapatkan perlakuan yang jelek dari kaumnya, akan tetapi Rasulullah tetap bersabar… karena Rasulullah tahu, kaumnya itu kaum yang bodoh,..
    Demikian juga di jaman ini, orang-orang yang mendakwahkan dakwah tauhid,.. dicap wahabi, dll
    Sungguh mirip sekali apa yang dialami oleh Rasulullah, dengan apa yang dialami oleh orang-orang yang dijuluki oleh mereka dengan julukan wahabi…
    Alhamdulillah, saya seorang wahabi…

  7. assalamu’alaikum, aku mau nanya akhi tentang boleh apa tidak memberi lampu penerangan di keburan. sebenarnya saya sudah tanya kepada para kiayi yang ada di daerah saya, kebanyakan beliau mengatakan boleh, walaupun ada juga yang melarangnya.

    hal ini menjadi penting bagi saya, mohon maaf, karena saya adalah seorang Kepala Desa / lurah di desa saya.

    saya takut karena ini adalah perkara agama. tetapi saya lebih cenderung dengan pendapat yang tidak boleh memberi lampu di kuburan, seperti yang saya pernah dengar ceramahnya ustadz Badrusalam di RodjaTV.

    maksud saya begini akhi, kemarin masyarakat kami mengadakan rembug desa tentang rencana akan memasang lampu di kuburan, yang tujuannya apabila ada penguburan jenazah di malam hari, maka tidak perlu repot pakai disel atau genset, begitu.

    tetapi saya katakan pada waktu rapat itu, kalau lampunya dipasang di areal kuburan atau untuk menerangi kuburan saya tidak setuju, tetapi kalau dipasang di sepanjang jalan sebelah kuburan saya setuju, karena saya pernah mendengar bahwa nabi sholallahu alaihi wa sallam melarang kuburan diberi penerangan.

    mohon dituliskan teks haditsnya (teks arab), tentang larangan memberi penerangan di kuburan, beserta pendapat sahabat, atau para imam, dan pendapat ulama. jazakallahu khoiron.

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    Terimkasih abu izza,
    tentang haditsnya :
    Diharamkan memasang lampu di kuburan.
    Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

    لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَائِرَاتِ الْقُبُورِ وَالْمُتَّخِذِينَ عَلَيْهَا الْمَسَاجِدَ وَالسُّرُجَ (رواه أبو داود و الترمذي)

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita-wanita yang ziarah kubur dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid, dan orang yang memasang lampu padanya. [HR Abu Dawud dan At Tirmidzi].

    saya mencoba tanyakan hal diatas ini jawabannya,.
    kata para ulama, larangan memasang lampu tsb dalam rangka saddudz dzari’ah, yaitu menutup peluang ternjadinya pengagungan thd kuburan dan juga membuang2 harta

    dan ada kaidah, perkara yang terlarang karna saddudz dzri’ah menjadi boleh ketika ada kebutuhan. jadi tidak masalah, insya Allah.

Silahkan tinggalkan komentar di sini