Apakah Sah Shalat Kita Jika Bermakmum Kepada Imam Yang Melakukan Kebidahan?

Hukum Bermakmum Kepada Imam Yang Tidak Fasih Hukum Imam Yang Belum Menikah Hukum Dukun Menjadi Imam . Apakh Bleh Orang Pernah Zina Jdi Imam Sholat. Apa Hukum Menjadikan Jamaah Tabligh Menjadi Imam Sholat

HUKUM SHALAT DI BELAKANG AHALUL BID’AH

Oleh: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Ahlus Sunnah menganggap shalat berjama’ah di belakang imam baik yang shalih maupun yang fasik dari kaum Muslimin adalah sah. Dan menshalatkan siapa saja yang meninggal di antara mereka.[1]

Dalam Shahiihul Bukhari [2] disebutkan bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma pernah shalat dengan bermakmum kepada al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Padahal al-Hajjaj adalah orang yang fasik dan bengis [3]. ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma adalah seorang Sahabat yang sangat hati-hati dalam menjaga dan mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan al-Hajjaj bin Yusuf adalah orang yang terkenal paling fasik. Demikian juga yang pernah dilakukan Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu yang bermakmum kepada al-Hajjaj bin Yusuf. Begitu juga yang pernah dilakukan oleh beberapa Sahabat Radhiyallahu anhum, yaitu shalat di belakang al-Walid bin Abi Mu’aith. [4]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

يُصَلُّوْنَ لَكُمْ، فَإِنْ أَصَابُوْا فَلَكُمْ وَلَهُمْ، وَإِنْ أَخْطَأُوْا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ.

“Mereka shalat mengimami kalian. Apabila mereka benar, kalian dan mereka mendapatkan pahala. Apabila mereka keliru, kalian mendapat pahala sedangkan mereka mendapat dosa.” [5]

Imam Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H) rahimahullah pernah ditanya tentang boleh atau tidaknya shalat di belakang ahlul bid’ah, beliau menjawab: “Shalatlah di belakangnya dan ia yang menanggung dosa bid’ahnya.” Imam al-Bukhari memberikan bab tentang perkataan Hasan al-Bashri dalam Shahiihnya (bab Imamatul Maftuun wal Mubtadi’ dalam Kitaabul Aadzaan).

Ketahuilah bahwasanya seseorang boleh shalat bermakmum kepada orang yang tidak dia ketahui bahwa ia memiliki kebid’ahan atau kefasikan berdasarkan kesepakatan para ulama.

Ahli bid’ah maupun pelaku maksiyat, pada asalnya shalatnya adalah sah. Apabila seseorang shalat bermakmum kepadanya, shalatnya tidak menjadi batal. Namun ada ulama yang menganggapnya makruh. Karena amar ma’ruf nahi munkar itu wajib hukumnya. Di antaranya bahwa orang yang menampakkan kebid’ahan dan kefasikannya, jangan sampai ia menjadi imam rutin (rawatib) bagi kaum Muslimin.

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Bahwa shalat di belakang orang yang fasik dan pemimpin yang zhalim, sah shalatnya. Sahabat-sahabat kami telah berkata: ‘Shalat di belakang orang fasik itu sah tidak haram akan tetapi makruh, demikian juga dimakruhkan shalat di belakang ahli bid’ah yang bid’ahnya tidak sampai kepada tingkat kufur (bid’ahnya tidak menjadikan ia keluar dari Islam). Tetapi bila bid’ahnya adalah bid’ah yang menyebabkan ia keluar dari Islam, maka shalat di belakangnya tidak sah, sebagaimana shalat di belakang orang kafir.’ Dan Imam asy-Syafi’i rahimahullah menyebutkan dalam al-Mukhtashar bahwa makruh hukumnya shalat di belakang orang fasiq dan ahlu bid’ah, kalau dikerjakan juga, maka shalatnya tetap sah, dan inilah pendapat jumhur ulama.” [6]

Menshalatkan seorang Muslim yang meninggal dunia hukumnya fardhu kifayah, tetapi apabila seorang Muslim tersebut adalah ahlul bid’ah dan pelaku maksiyat, maka para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Menurut pendapat jumhur ulama, dia boleh dishalatkan. Dalam hal ini dikecualikan para pemberontak, perampok, munafiq, dan orang yang mati bunuh diri. Sebagai pelajaran bagi yang lainnya, adapun orang munafiq, tidak boleh dishalatkan dengan dasar firman Allah al-Hakiim:

وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِّنْهُم مَّاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

“Dan janganlah sekali-kali kamu menshalati (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo’akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” [At-Taubah: 84] [7]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Lihat Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 529) takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin at-Turki.
[2]. Shahiihul Bukhari (no. 1660, 1662, 1663).
[3]. Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi seorang amir yang zhalim, dia menjadi amir di Irak selama 20 tahun, dan dialah yang membunuh ‘Abdullah bin Zubair bin ‘Awam di Makkah. Hajjaj mati tahun 95 H. Lihat Taqriibut Tahdziib (I/190, no. 1144) dan Tahdziibut Tahdziib (II/184-186), oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani.
[4]. Lihat Shahiih Muslim (no. 1707).
[5]. HR. Al-Bukhari (no. 694) dan Ahmad (II/355, 537), dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[6]. Diringkas dari al-Majmuu’ Syarhul Muhadzdzab (IV/253) oleh Imam Nawawi, cet. Daarul Fikr.
[7]. Lihat pembahasan ini dalam Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 529-537) takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdil Muhsin at-Turki, Mauqif Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah min Ahlil Ahwaa’ wal Bida’ (hal. 343-371), al-Imaamah fish Shalaah fii Dhau-il Kitaab was Sunnah (hal. 42-48) oleh Dr. Sa’id bin Wahf al-Qahthani

sumber : http://almanhaj.or.id/content/2026/slash/0/hukum-shalat-di-belakang-ahlul-bidah/

Hukum Orang Cadel Jadi Imam Imam Sholat Saya Tukang Penjudi Imam Sholat Yang Maksiat Imam Solat Di Masjid  Terlalu Cepat Apakah Sah Solat Nya Imam Solat Suka Berjudi

9 Comments

  1. Bismillah,mas admin,bagaimanakah hukumnya jika shaf yg terdepan sudah penuh,shg menyisakan hanya satu orang saja di belakang shaf yg pertama td yg telah penuh…apakah hukumnya sah atau si orang tsb hrs menarik kebelakang satu orang yg didepannya guna utk menemani dia ? jazakollah khairan katsiran

    Terimakasih mas, berikut ini saya copaskan jawaban dari pertanyaan serupa yang dijawab oleh ust Abduh Tuasikal
    Kalau shaf di depan sudah penuh maka buatlah shaf baru di belakang walaupun sendirian.

    Dan tidak perlu menarik orang di depan untuk menemani di belakang karena di sini ada beberapa kerugian. Di antaranya, ini berarti telah membawa orang yang sudah shaf pertama (di depan) ditarik ke shaf yang kurang utama (di belakang). Maka ini akan membuat orang yang sudah dapat keutamaan menjadi merugi. Demikian faedah penjelasan dari Syaikh Ibnu Utsaimin

    • kang admin,pertanyaanku jawab donk dah 3 x g dijawab

      tulis lagi mas pertanyaannya, terlalu banyak yg belum dijawab,ada 1.323 koment yg blm dijawab, dan jika ada yg belum dijawab, berarti saya tidak bisa menjawab, atau pertanyaannya tidak perlu untuk dijawab,

      • assalamualaikum,

        Wa’alaikumussalam warahmatullah

        masjid dekat rumaku tiap habis azan selalu puji2an,kalo lg khotbah dan tiap sholat anak2 pada rame tp tokoh masyarakatnya diam saja,masalah bidah sudah tdk itungan lg tp dimasjid yg agak jauh kondisinya jauh lebih baik,tdk ada puji2an,tdk dzikir dg suara berlebihan,shaf teratur dan anak2 jg tertib intinya sudah sesuai dg tuntunan dan pas dihati sy. pertanyaannya adalahhh….masjid mana yg sebaiknya saya pake untuk sholat jamaah.

        Jika ada masjid lain yang lebih dekat kepada pengamalan sunnah-sunnah rasulullah, bisa anda pergi ke masjid tersebut,
        Tapi pikirkan pula efek negatifnya, cobalah anda terus mempelajari ajaran islam ini,dengan mengikuti pemahaman para sahabat, agar anda sendiri semakin memahami tentang pemahaman islam yang benar, sehingga anda bisa bersikap secara baik dalam menyikapi apa yg ada di sekitar lingkungan anda,
        Berakhlaklah yg baik kepada masyarakat sekitar, semakin anda bertambah ilmu tentang sunnah ini, maka diiringi sikap semakin baik kepada masyarakat, sehingga nanti masyarakatpun bisa menilai
        Jadi boleh juga anda tetap shalat di masjid tersebut sambil terus memperbaiki sikap, tetap akrab dgn masyarakat, dan mengedepankan akhlak yg mulia.
        Jangan mengatakan kepada masyarakat ttg kebidahan2 yg mereka lakukan,sebab masyarakat juga ikut-ikutan, bukan berdasarkan ilmu, anda ingkari dalam hati saja, dan anda semakin belajar ttg ajaran islam ini,
        Kalau bisa anda juga datang ke kajian atau majlis taklim yang mengajarkan islam dengan pemahaman para sahabat, mungkin didekat tempat tinggal anda ada majlis taklim tersebut, jika mas faizal memberi tahu kota tempat tinggalnya, mungkin nanti akan saya beritahukan tempat2nya,

  2. gimana hukum nya kalau membunuh cucu rasulullah saw ?
    meskipun orang tanpa akal tidak akan menyusu pada orang lain supaya jadi muhrim .
    yaa muhamad abdul wahab al waladul kalab(anjing)

    terimakasih, siapa yang membunuh cucu rasulullah?
    Orang-orang syiah yang membunuhnya,makanya orang-orang syiah terkena doa kutukan cucu rasulullah tersebut, silahkan baca postingannya disini

  3. Assalamualaikum,
    saya mau bertanya bagaimna hukumnya jika ketika shalat yang menjadi imam anak muda yg belum menikah.
    Syukron

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Tidak mengapaa, asal dia paham tentang masalah shalat, juga bacaan alqurannya,
    Tidak ada ketentuan yang jadi imam itu harus sudah menikah,.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*