Pembagian Tauhid Menjadi Tiga Merupakan Metoda Agar Kaum Muslimin Mudah Memahami Makna Tauhid, Apalagi Kita Hidup Jauh Dari Jaman Rasulullah,

Tauhid Trinitas Tauhid Trinitas Wama Arsalnaka Illa Rahmatan Lil Alamin Menurut Ilmu Hikmah Tauhid Di Bagi Menjadi

Jawaban Seputar Bid’ahnya Pembagian Tauhid Menjadi Tiga

kesesatan-tauhid-trinitasPara Pembenci dakwah tauhid menebarkan tuduhan bahwa pembagian tauhid menjadi Tauhid Rubbubiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma’ wa sifat adalah bid’ah.  Mereka hanya ingin menjauhkan umat dari dakwah tauhid. Mereka tidak sadar atau pura-pura tidak tahu bahwa sesungguhnya merekapun mengakui adanya 3 tauhid ini.

Kita katakan :

1. Apakah anda mengakui bahwa Allahlah satu-satunya yang Menciptakan, yang memberi rizqi, yang mengatur alam ini ? Jika ya, maka anda telah mentauhidkan Rubbubiyah Allah.

2. Apakah anda meyakini bahwa hanya Allah lah yang berhak untuk diibadahi? jika ya, maka anda telah mengakui Tauhid ulluhiyah, yaitu mentauhidkan Allah dlm ibadah.

3. Apakah anda meyakini bahwa Allah mempunyai Nama dan sifat Yang Maha Sempurna dan Maha Agung ? jika ya, maka anda telah mengakui Tauhid ‘Asma wa  sifat.

Namun jika anda tidak mengimani satu saja dari ketiga tauhid tsb diatas, maka anda telah rusak tauhidnya, naudzubillah.

Maka dari jalan manakah kita menolak ketiga tauhid ini ??

Kita katakan : banyak pembagian istilah dalam Islam oleh para ulama yang tujuannya untuk memperjelas agar umat islam lebih mudah memahami.

Sebagai contoh :

  • pembagian hukum : Wajib, sunnah, mubah, makruh, haram

  • Istilah nama-nama shalat : shalat tarawaih, tahiyatul masjid, sukrul wudhu’ dsb..

  • syarat wajib, syarat sah, dan rukun.

  • Jenis-jenis najis : mukhafafah, mutawasithah, mugholadhoh.

  • dsb..

Yang lebih aneh bin ajaib, mereka yang menolak pembagian tauhid ini -padahal itu diambil dari ayat Al-Qur’an- , mereka malah membela pembagian / istilah yang sama sekali tidak dikenal,

Seperti sifat 20. dari mana mereka membatasi sifat Allah hanya 20 saja ?!!

Contoh lain, Pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan sayyiah – yang sejatinya, mereka membela pembagian ini hanya untuk melegalkan perbuatan bid’ah mereka, tidak seperti apa yang dimaui oleh ulama yang mengatakan bid’ah hasanah. dengan memanfaatkan istilah bid’ah hasanah, Semua ritual yg mereka ada-adakan mereka masukkan ke dalam bid’ah hasanah.

Contoh yang lain, membagi ilmu agama ini menjadi : syariat, hakikat dan ma’rifat. atau dibagi menjadi 2 : kulit dan isi. Ini semua pembagian batil yang tidak saja tanpa dalil yang shohih tapi juga menyelisihi pemahaman salafussholih.

Berikut penjelasan lengkap tentang pembagian tauhid :

Tauhid terbagi menjadi 3 ( Tauhid rububiyyah, uluhiyyah, dan Asma’ wa sifat ) berdasarkan istiqra’ ( penelitian menyeluruh ) terhadap dalil-dalil yang ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, sebagaimana ulama nahwu membagi kalimat di dalam bahasa arab menjadi 3 : Isim, fi’il, dan huruf, berdasarkan penelitian menyeluruh terhadap kalimat-kalimat yang ada di dalam bahasa arab.

Betapa tepatnya perkataan Syaikh Bakr Abu Zaid dalam risalahnya “At-Tahdzir” halaman 30 berkisar pembagian tauhid. Kata beliau : “Pembagian ini adalah hasil istiqra (telaah) para ulama Salaf terdahulu seperti yang diisyaratakan oleh Ibnu Mandah dan Ibnu Jarir Ath-Thabari serta yang lainnya. Hal ini pun diakui oleh Ibnul Qayim.

Begitu pula Syaikh Zabidi dalam “Taaj Al-Aruus” dan Syaikh Syanqithi dalam “Adhwa Al-Bayaan” dan yang lainnya. Semoga Allah merahmati semuanya( Lihat Kitab At-Tahdzir min Mukhtasharat Muhammad Ash-Shabuny fii At-Tafsir karangan Syeikh Bakr Abu Zaid hal: 30, cet. Darur Rayah- Riyadh ) .

BENARKAH PEMBAGIAN TAUHID INI TIDAK DIKENAL ULAMA SALAF ?

Kami sebutkan disini diantara ulama-ulama yang menyebutkan pembagian ini baik secara jelas maupun dengan isyarat.

Berkata Syaikh Al-Baijuri dalam “Syarh Jauharah At-Tauhid” halaman 97. Firman Allah ; ‘Alhamdulillahir rabbil ‘alamiin’, mengisyaratkan pada pengakuan ‘Tauhid Rububiyah, yang konsekwensinya adalah pengakuan terhadap Tauhid Uluhiyah.

Adapun konsekwensi Tauhid Uluhiyah adalah terlaksananya Ubudiyah. Hal ini menjadi kewajiban pertama bagi seorang hamba untuk mengenal Allah Yang Maha Suci. Kata beliau selanjutnya : “Kebanyakan surat-surat Al-Qur’an dan ayat-ayatnya mengandung macam-macam tauhid ini, bahkan Al-Qur’an dari awal hingga akhir menerangkan dan mengejawantahkan (menjelaskan).

Kemudian berkata Imam Ibnu Athiyah (wafat ; 546H) dalam kitabnya Al-Muharrar Al-Wajiiz, juz I, hal.75. Firman-Nya : ‘Iyaaka Na’budu’ adalah ucapan seorang yang beriman kepada-Nya yang menunjukkan pengakuan terhadap ke-rububiyah-an Allah, mengingat kebanyakan manusia beribadah kepada selain-Nya yang berupa berhala-berhala dan lain sebagainya”.

1. Imam Abu Ja’far Ath-Thahawy ( wafat th. 321 ) , di dalam muqaddimah kitab beliau Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah .

Beliau berkata :

نقول في توحيد الله معتقدين بتوفيق الله إن الله واحد لا شريك له ، و لا شيء مثله ، و لا شيء يعجزه ، و لا إله غيره

Artinya: Kami mengatakan di dalam pengesaan kepada Allah dengan meyakini : bahwa Allah satu tidak ada sekutu bagiNya, tidak ada yang serupa denganNya, tidak ada yang melemahkanNya, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selainNya.

Perkataan beliau ” tidak ada yang serupa denganNya ” : ini termasuk tauhid Asma’ dan Sifat .
Perkataan beliau ” tidak ada yang melemahkanNya ” : ini termasuk tauhid Rububiyyah.
Perkataan beliau ” dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selainNya.” : ini termasuk tauhid Uluhiyyah.

2. Ibnu Abi Zaid Al-Qairawany Al-Maliky ( wafat th. 386 H ) , di dalam muqaddimah kitab beliau Ar-Risalah Al-Fiqhiyyah hal. 75 ( cet. Darul Gharb Al-Islamy ) . Beliau mengatakan :

من ذلك : الإيمان بالقلب و النطق باللسان بأن الله إله واحد لا إله غيره ، و لا شبيه له و لا نظير، … ، خالقا لكل شيء ، ألا هو رب العباد و رب أعمالهم والمقدر لحركاتهم و آجالهم .

Artinya : Termasuk diantaranya adalah beriman dengan hati dan mengucapkan dengan lisan bahwasanya Allah adalah sesembahan yang satu, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, tidak ada yang serupa denganNya dan tidak ada tandinganNya…Pencipta segala sesuatu, ketahuilah bahwa Dia adalah pencipta hamba-hambaNya dan pencipta amalan-amalan mereka, dan yang menakdirkan gerakan-gerakan mereka dan ajal-ajal mereka .

Perkataan beliau ” sesembahan yang satu, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia ” : ini termasuk tauhid Uluhiyyah .
Perkataan beliau ” tidak ada yang serupa denganNya dan tidak ada tandinganNya ” : ini termasuk tauhid Asma’ wa Sifat.

Perkataan beliau ” Pencipta segala sesuatu, ketahuilah bahwa Dia adalah pencipta hamba-hambaNya dan pencipta amalan-amalan mereka, dan yang menakdirkan gerakan-gerakan mereka dan ajal-ajal mereka ” : ini termasuk tauhid Rubiyyah.

3. Ibnu Baththah Al-’Akbary ( wafat th. 387 H ), di dalam kitab beliau Al-Ibanah ‘an Syariatil Firqatin Najiyyah wa Mujanabatil Firaq Al-Madzmumah ( 5 / 475 )

وذلك أن أصل الإيمان بالله الذي يجب على الخلق اعتقاده في إثبات الإيمان به ثلاثة أشياء : أحدها : أن يعتقد العبد ربانيته ليكون بذلك مباينا لمذهب أهل التعطيل الذين لا يثبتون صانعا . الثاني : أن يعتقد وحدانيته ، ليكون مباينا بذلك مذاهب أهل الشرك الذين أقروا بالصانع وأشركوا معه في العبادة غيره . والثالث : أن يعتقده موصوفا بالصفات التي لا يجوز إلا أن يكون موصوفا بها من العلم والقدرة والحكمة وسائر ما وصف به نفسه في كتابه

Artinya : Dan yang demikian itu karena pokok keimanan kepada Allah yang wajib atas para makhluk untuk meyakininya di dalam menetapkan keimanan kepadaNya ada 3 perkara :

Pertama : Hendaklah seorang hamba meyakini rabbaniyyah Allah ( kekuasaan Allah ) supaya dia membedakan diri dari jalan orang-orang atheisme yang mereka tidak menetapkan adanya pencipta.

Kedua : Hendaklah meyakini wahdaniyyah Allah ( keesaan Allah dalam peribadatan ) supaya dia membedakan diri dari jalan orang-orang musyrik yang mereka mengakui adanya pencipta alam kemudian mereka menyekutukanNya dengan selainNya.

Ketiga : Hendaklah meyakini bahwasanya Dia bersifat dengan sifat-sifat yang memang harus Dia miliki, seperti ilmu, qudrah ( kekuasaan ), hikmah ( kebijaksanaan ) , dan sifat-sifat yang lain yang Dia tetapkan di dalam kitabNya.

4. Abu Bakr Muhammad bin Al-Walid Ath-Thurthusyi ( wafat th. 520 H ), di dalam muqaddimah kitab beliau Sirajul Muluk ( 1 / 1 ) , beliau berkata :

وأشهد له بالربوبية والوحدانية. وبما شهد به لنفسه من الأسماء الحسنى. والصفات العلى. والنعت الأوفى

Artinya : Dan aku bersaksi atas rububiyyahNya dan uluhiyyahNya, dan atas apa-apa yang Dia bersaksi atasnya untuk dirinya berupa nama-nama yang paling baik dan sifat-sifat yang tinggi dan sempurna.

5. Al-Qurthuby ( wafat th. 671 H ) , di dalam tafsir beliau (1/ 102) , beliau berkata ketika menafsirkan lafdzul jalalah ( الله) di dalam Al-Fatihah:

فالله اسم للموجود الحق الجامع لصفات الإلهية، المنعوت بنعوت الربوبية، المنفرد بالوجود الحقيقي، لا إله إلا هو سبحانه.

Artinya : Maka ( الله ) adalah nama untuk sesuatu yang benar-benar ada, yang mengumpulkan sifat-sifat ilahiyyah ( sifat-sifat sesuatu yang berhak disembah ) , yang bersifat dengan sifat-sifat rububiyyah ( sifat-sifat sesuatu yang berkuasa ) , yang sendiri dengan keberadaan yang sebenarnya, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selainNya.

6. Syeikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithy ( wafat th. 1393 H ) di dalam Adhwaul Bayan (3 / 111-112), ketika menafsirkan ayat:

)إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْراً كَبِيراً) (الاسراء:9)

7. Syeikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, diantaranya dalam kitab beliau Kaifa Nuhaqqiqu At-Tauhid ( hal. 18-28 ) .

8. Syeikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, diantaranya dalam Fatawa Arkanil Islam ( hal. 9-17 )

9. Syeikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-’Abbad Al-Badr ( pengajar di Masjid Nabawy ), diantaranya dalam muqaddimah ta’liq beliau terhadap kitab Tathhir ul I’tiqad ‘an Adranil Ilhad karangan Ash-Shan’any dan kitab Syarhush Shudur fi Tahrim Raf’il Qubur karangan Asy-Syaukany (hal . 12-20.)

10 Syeikh Abdul Aziz Ar-Rasyid, di dalam kitab beliau At-Tanbihat As-Saniyyah ‘ala Al-Aqidah Al-Wasithiyyah (hal. 14) .

11. Syeikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, di dalam kitab beliau Al-Mukhtashar Al-Mufid fi Bayani Dalaili Aqsamit Tauhid. Kitab ini adalah bantahan atas orang yang mengingkari pembagian tauhid.

12. Dan lain-lain.

Jadi pembagian tauhid menjadi tiga tersebut adalah pembagian secara ilmu dan merupakan hasil tela’ah seperti yang dikenal dalam kaidah keilmuan. Barangsiapa yang mengingkarinya berarti tidak ber-tafaquh terhadap Kitab Allah, tidak mengetahui kedudukan Allah, mengetahui sebagian dan tidak mengetahui sebagian yang lainnya. Allah pemberi petunjuk ke jalan nan lurus kepada siapa yang Dia kehendaki.

DALIL-DALIL TENTANG MACAM-MACAM TAUHID :

Sesungguhnya pembagian tauhid menjadi tiga ini, dikandung dalam banyak surat di dalam Al-Qur’an Al-Karim. Yang paling tampak serta paling jelas adalah dalam dua surat, yaitu Al-Fatihah dan An-Naas, dimana keduanya adalah pembuka dan penutup Al-qur’an.

‘Alhamdulillahir rabbil ‘alamiin’, : mengandung pengukuhan akan ke-rububiyah-an Allah Jalla wa Alaa terhadap seluruh makhluk-Nya,

‘Ar-Rahmanir Rahiim Maliki Yaumid Diin di disini mengandung pengukuhan terhadap sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi dan nama-nama-Nya Yang Maha Mulia,

‘Iyaaka Na’budu Wa Iyaaka Nasta’iin’ : di sana mengandung pengukuhan ke-ubudiyah-an seluruh makhluk kepada-Nya dan ke-uluhiyah-an Allah atas mereka.

Demikian didalam surat An-Naas :

Artinya :
“Katakanlah : “Aku berlindung kepada Rabb manusia”
“Raja Manusia”
“Sembahan manusia”

Kesemuanya memberikan penjelasan tentang Tauhid Rubbubiyah, ulluhiyah dan tauhid Asma’ wa sifat.

Berikut dalil-dalil lain tentang 3 tauhid tsb :

Tauhid Rububiyyah

Tauhid Rububiyyah adalah : Suatu keyakinan yang pasti bahwa Allah subhaanahu wa ta’ala satu-satunya pencipta, pemberi rizki, menghidupkan dan mematikan, serta mengatur semua urusan makhluk-makhluk-Nya tanpa ada sekutu bagi-Nya.

Dalil-dalil yang menunjukkan Tauhid Rububiyyah ini diantaranya firman Allah subhaanahu wa ta’ala :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

”Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” [QS. Al-Fatihah : 2].

Juga firman-Nya :

أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

”Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam” [QS. Al-A’raf : 54].

Dalam ayat di atas Allah menjelaskan kepada hamba-Nya bahwa Dia-lah satu-satunya pencipta dan pemilik seluruh alam semesta ini serta Dia pulalah yang mengaturnya secara mutlak, tidak ada pengecualian (yang luput) dari-Nya sesuatupun.

Di samping dua ayat di atas, Allah juga menjelaskan tentang Rububiyyah-Nya dengan firman-Nya :

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ قُلِ اللَّهُ

Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah.” [QS. Ar-Ra’d : 16].

Dan juga firman-Nya :

قُلْ لِمَنِ الأرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ * سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَذَكَّرُونَ * قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ * سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ * قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ * سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”. Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?”. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?”. Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” [QS. Al-Mukminun : 84-89].

Dari pengertian ayat di atas, tiada keraguan bagi orang yang berakal tentang rububiyyah Allah bahwa Dia-lah satu-satunya Dzat yang mampu menciptakan langit dan bumi, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan. Demikian pula pengakuan mereka (orang-orang Quraisy) ketika ditanya tentang siapa pencipta langit dan bumi ? Dan siapa Rabb langit dan bumi ? Mereka akan mengatakan : ”Allah”.

Sebagaimana firman Allah :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

”Dan jika kamu bertanya kepada mereka : Siapakah yang menciptakan tujuh langit dan bumi. Pasti mereka akan mengatakan : Allah” [QS. Luqman : 25].

Juga firman-Nya :

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ * سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ

Katakanlah : ”Siapakah Rabb langit yang tujuh dan ’Arsy yang besar ?”. Pasti mereka akan mengatakan : ”Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” [QS. Al-Mukminun : 86-87].

Allah banyak menyebutkan dalam Al-Qur’an pengakuan orang-orang kafir Quraisy terhadap rububiyyah Allah, akan tetapi dengan pengakuan tersebut mereka tetap menyekutukan Allah dengan yang lainnya. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Tauhid Uluhiyyah

Tauhid Uluhiyyah adalah : Pengesaan Allah subhaanahu wa ta’ala dalam hal ibadah dengan penuh ketaatan dan rendah diri serta cinta pada setiap peribadatan tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Dalil tentang Tauhid Uluhiyyah di antaranya adalah firman Allah subhaanahu wa ta’ala :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

”Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” [QS. Al-Fatihah : 2].

Lafadh Allah maknanya adalah Al-Ma’luh (yang disembah) dan Al-Ma’bud (Yang diibadahi). Dan juga

firman Allah :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” [QS. Al-Fatihah : 5].

Kemudian juga firman-Nya :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

”Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” [QS. Al-Baqarah : 21].

Juga firman-Nya :

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

”Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya” [QS. Az-Zumar : 2-3].

Dan firman Allah subhaanahu wa ta’ala :

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” [QS. Al-Bayyinah : 5].

Ayat-ayat di atas menjelaskan kepada kita agar kita mengesakan Allah dalam beribadah. Oleh sebab itu dilarang menyembah selain Allah baik dia seorang Nabi, wali, raja, atau malaikat sekalipun.

Yang dimaksud dengan ibadah adalah segala aktifitas kehidupan yang Allah ridlai dan Allah cintai baik berupa perkataan atau perbuatan yang lahir maupun yang batin. Ibadah dibangun di atas tiga hal yang sangat besar dan sangat penting pengaruhnya dalam perjalanan ibadah seseorang, yaitu : cinta (mahabbah), takut (khauf), dan harapan (raja’).

Cinta kepada Allah dalam beribadah akan membuahkan keikhlasan, takut kepada Allah akan membawa seseorang untuk menjauhi segala larangan Allah subhaanahu wa ta’ala dan membimbingnya untuk selalu taat kepadanya. Sedangkan pengharapan akan membangkitkan semangat dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya untuk mendapatkan janji-janji Allah subhaanahu wa ta’ala.

Kalau ketiga penggerak hati tersebut sudah tumbuh dengan kuat di hari seorang hamba, maka akan mudah baginya untuk mendapatkan ridla dan cinta Allah subhaanahu wa ta’ala.

Dengan kata lain kalau seseorang masih berbuat maksiat atau suatu hal yang tidak dicintai dan diridlai Allah berarti kecintaannya dan ketakutannya terhadap Allah sangat rendah, bahkan dapat dikatakan orang tersebut tidak mengharapkan atau tidak percaya terhadap janji-janji Allah dan meremehkan ancaman-ancaman Allah subhaanahu wa ta’ala. Na’uudzu billahi min-dzaalik.

Dari dalil-dalil dan keterangan di atas dapat diketahui bahwa tauhid ibadah (uluhiyyah) adalah hakekat makna Laa ilaaha illallaah yang mengandung nafi (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Makna nafi adalah meniadakan segala macam peribadatan kepada selain Allah bagaimanapun bentuk dan macamnya, atau peniadaan segala macam bentuk ketuhanan. Sedangkan makna itsbat adalah menetapkan ke-Esa-an Allah dalam beribadah dengan berbagai bentuk ibadah yang sesuai dengan tuntunan syari’at Islamiyyah yang telah disampaikan oleh Muhammad shallallaahu ’alaihi wa sallam dan penetapan bahwa tidak ada ilah yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah saja.

Dua kandungan di atas – yaitu nafi dan itsbat – tidak boleh dipisahkan dan harus dipahami dan diambil keduanya. Karena kalau diambil salah satu saja, tidaklah seseorang dikatakan muslim. Misalnya, seseorang yang mengambil nafi saja tanpa itsbat, berarti dia seorang komunis karena dia meniadakan segala macam bentuk ketuhanan tanpa menetapkan ketuhanan bagi Allah.

Begitu pula sebaliknya, apabila seseorang hanya mengambil itsbat saja tanpa nafi, dia juga bukan seorang muslim. Bahkan dia seorang kafir karena disamping menetapkan Allah sebagai ilah, ia juga menetapkan selain Allah sebagai ilah. Penyebabnya adalah karena dia tidak mengingkari tuhan-tuhan selain Allah sebagaimana orang-orang kafir Quraisy yang disamping mengakui Allah sebagai Rabb alam semesta, juga mengakui adanya sesembahan selain Allah seperti Latta, ’Uzza, dan lain-lain. Dengan perbuatan mereka ini, Allah dan Rasul-Nya menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang kafir.

Oleh sebab itu tidaklah cukup seseorang mengambil nafi saja tanpa itsbat, begitu pula itsbat saja tanpa nafi. Kalau seseorang mengakui dirinya seorang muslim, maka wajib baginya untuk mengambil, meyakini, dan mengamalkan keduanya secara bersamaan tanpa memisah-misahkannya dalam rangka membenarkan persaksian (syahadat) Laa ilaaha illallaah (tiada Rabb yang berhak untuk diibadahi dengan benar kecuali Allah).

Adapun dalil-dalil yang menunjukkan keesaan Allah dalam uluhiyyah-Nya adalah firman Allah subhaanahu wa ta’ala :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” [QS. Al-Anbiyaa’ : 25].

Juga firman-Nya :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (= segala sesuatu yang diibadahi selain Allah dan dia ridla dengan peribadatannya tersebut)” [QS. An-Nahl : 36].

Juga firman-Nya :

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [QS. Ali-’Imran : 18].

Ayat-ayat di atas adalah dalil yang sangat jelas akan keesaan Allah dalam hal uluhiyyah-Nya.

Kerancuan (syubhat) yang biasa dilontarkan oleh sebagian manusia adalah pernyataan mereka : ”Bagaimana kamu menyatakan tidak ada Rabb (Tuhan) selain Allah sedangkan Allah sendiri menyatakan keberadaan tuhan-tuhan selain-Nya ? sebagaimana firman-Nya :

وَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ

”Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain” [QS. Al-Qashash : 88].

Juga firman-Nya :

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ

”Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu” [QS. Al-Mukminun : 117].

Juga firman-Nya :

فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ

”Karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah” [QS. Huud : 101].

Jawaban atas kerancuan tersebut :

Pertama, yang perlu diketahui bahwa ketuhanan selain Allah adalah ketuhanan yang bathil atau tidak hak (benar), walaupun tuhan-tuhan tersebut diibadahi atau disembah oleh orang-orang yang bodoh dan sesat. Sesungguhnya tuhan-tuhan tersebut adalah sesuatu yang tidak pantas untuk diibadahi sebagaimana firman-Nya :

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ

”Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil” [QS. Luqman : 30].

Kedua, sebutan tuhan bagi tuhan-tuhan selain Allah adalah sekedar penamaan saja sebagaimana firman-Nya subhaanahu wa ta’ala :

إِنْ هِيَ إِلا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ

”Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya” [QS. An-Najm : 23].

Dua macam tauhid di atas (Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah) tidak ada yang menentangnya dan tidak ada pula yang mengingkarinya dari kalangan ahli kiblat yang menyandarkan diri kepada Islam, kecuali orang yang berlebih-lebihan dari kalangan Syi’ah Rafidlah.

Mereka menyatakan bahwa ’Ali bin Abi Thalib adalah tuhan sebagaimana yang dilakukan oleh ’Abdullah bin Saba’ (pemimpin Syi’ah yang pertama) yang datang kepada ’Ali bin Abi Thalib dan berkata kepadanya : ”Kamu (wahai ’Ali) adalah Allah yang sebenarnya”. Akan tetapi ’Abdullah bin Saba’ adalah Yahudi yang berpura-pura masuk Islam. Dengan pengakuan ingin melindungi keluarga Rasulullah, dia berusaha menghancurkan Islam dari dalam. Perbuatan ’Abdullah bin Saba’ ini diingkari oleh ’Ali bin Abi Thalib dan beliau tidak ridla kepada siapa saja yang menempatkan dirinya lebih dari semestinya.

Karena beliau juga seorang hamba Allah, bahkan di atas mimbar Kuffah beliau berkata : ”Sebaik-baik umat setelah Nabi-Nya (shallallaahu ’alahi wa sallam) adalah Abu Bakar, kemudian ’Umar”. ’Ali juga memerintahkan untuk membakar ’Abdullah bin Saba’ dan pengikut-pengikutnya. Yang jelas, kedua macam tauhid di atas tidak ada yang mengingkari secara terang-terangan dari ahli kiblat (kaum muslimin) walaupun ada dari kalangan ahli bid’ah yang mengingkarinya dengan berbagai penakwilan (penyelewengan makna).

Tauhid Asmaa’ wa Shifat

Tauhid Asmaa’ wa Shifat Allah adalah : Berkeyakinan dengan keyakinan yang pasti tentang nama-nama Allah, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya yang termuat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, tanpa merubah-rubah atau menolak atau menanyakan bagaimana hakekatnya atau menyerupakan dengan makhluk-Nya. Dalil tentang Tauhid Asmaa’ wa Shifaat ini adalah firman Allah subhaanahu wa ta’ala :

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik)” [QS. Al-Israa’ : 110].

Juga firman-Nya :

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

”Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia)?” [QS. Maryam : 65].

Juga firman-Nya :

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى

”Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaul-husna (nama-nama yang baik)” [QS. Thaha : 8].

Juga firman-Nya :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [QS. Asy-Syuuraa : 11].

Ayat-ayat di atas merupakan hujjah yang menyatakan tentang tauhid asma’ wa shifat Allah.

Dalam mengimani nama-nama Allah subhaanahu wa ta’ala ada beberapa kaedah, antara lain :

  1. Semua nama Allah adalah terbaik dan berada dalam puncak kebaikan. Karena nama Allah mengandung atau menunjukkan sifat-Nya yang sempurna, tidak ada cacat atau kekurangan dari segi apapun. Seperti Al-Hayyu (الْحَيُّ) ”Yang Maha Hidup”, salah satu dari nama Allah yang mengandung arti bahwa Allah hidup secara mutlak, tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak pula berakhir dengan kebinasaan. Dia hidup dengan kesempurnaan-Nya.

  2. Nama Allah adalah nama sekaligus sifat bagi-Nya subhaanahu wa ta’ala. (Al-Hayyu, Al-’Aliim, As-Samii’) ”Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Mendengar” ; semua adalah nama untuk Dzat yang satu, yaitu Allah subhaanahu wa ta’ala. Nama-nama tersebut mengandung makna dan sifat yang berbeda-beda, karena makna Al-Hayyu lain dengan makna Al-’Aliim dan lain pula dengan makna As-Samii’. Dan begitu pula nama-nama Allah yang lain. Nama Al-Hayyu mengandung sifat al-hayat (hidup), Al-’Aliim mengandung sifat al-’ilmu (ilmu/mengetahui), As-Samii’ mengandung sifat as-sam’u (mendengar). Dan begitu pula nama-nama Allah yang lain.

  3. Nama Allah yang mengandung sifat Muta’addi (sifat yang pengaruhnya mengenai makhluk-Nya), ia mengandung tiga perkara :
    a. Penetapan nama tersebut untuk Allah.
    b. Penetapan sifat yang terkandung dalam nama tersebut bagi-Nya.
    c. Penetapan hukum dan pengaruh-Nya.
    Contohnya : As-Samii’ – salah satu nama Allah yang artinya Yang Maha Mendengar. Lafadh tersebut ditetapkan sebagai nama Allah dan ditetapkan pula sebagai sifat Allah. Adapun hukum dan pengaruhnya adalah Dia mendengar apa saja, baik yang tersembunyi ataupun yang tampak pada makhluk-Nya.
    Sedangkan jika nama Allah menunjukkan sifat yang Lazim (yang tidak berpengaruh kepada yang lainnya), maka ia menunjukkan dua perkara :
    – Penetapa nama bagi-Nya.
    – Penetapan sifat yang terkandung dalam nama tersebut untuk-Nya.
    Seperti nama Al-Hayyu yang berarti Yang Maha Hidup. Maka lafadh Al-Hayyu ditetapkan sebagai nama Allah dan sekaligus sifat bagi Allah semata.

  4. Nama-nama Allah menunjukkan atas Dzat dan sifat-Nya sesuai dengan kandungannya, nama dan sifat itu akan terus ada dan tidak pernah sirna, seperti : Al-Khaaliq, salah satu nama Allah yang artinya Yang Maha Menciptakan – menunjukkan atas Dzat dan sifat Allah yang mengandung makna bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia tetap serta terus-menerus sebagai Sang Pencipta.

  5. Nama-nama Allah semuanya harus diambil dari Al-Qur’an atau As-Sunnah. Tidak ada tempat bagi akal untuk menentukannya. Oleh karena itu janganlah menambah atau menguranginya, karena nama-nama Allah adalah merupakan permasalahan ilmu yang ghaib, dan hanya Allah sajalah yang mengetahuinya.

  6. Nama-nama Allah tidak terbatas dengan jumlah tertentu sebagaimana diterangkan dalam hadits yang masyhur tentang doa ketika dalam kesedihan :

    أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ

    ”(Ya Allah), aku minta dengan (menyebut) segala nama yang Engkau miliki, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan pada kitab-Mu, atau Engkau ajarkan pada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau tentukan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu…” [HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim].
    Dalil ini menunjukkan ketidakterbatasan nama Allah. Adapun nama Allah yang disebutkan dalam hadits 99 (sembilan puluh sembilan) nama tidak menunjukkan batas akhir. Hadits yang menunjukkan perincian atau penyebutan nama-nama-Nya yang berjumlah 99 adalah hadits yang lemah (dla’if).

  7. Haram bagi seseorang untuk mengingkari, menolak sifat-sfat Allah, atau menyerupakan dengan makhluk-Nya.

Tentang masalah sifat-sfat Allah, Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah mengimaninya tanpa merubah (tahrif), mengingkari (ta’thil), menanyakan bagaimana (takyif), dan tidak pula menyerupakan (tasybih) dengan sifat makhluk-Nya.

1. Tanpa tahrif (merubah) artinya tdak merubah makna yang terkandung dalam sifat tersebut. Seperti perkataan Jahmiyyah tentang sifat istiwaa’ (bersemayam), mereka rubah menjadi istaulaa’ (menguasai). Juga perkataan sebagian ahlul-bid’ah tentang makna al-ghadlab (marah) diartikan dengan iradatul-intiqaam (kehendak untuk menyiksa); dan makna ar-rahmah dirubah menjadi iradatul-in’am (kehendak untuk memberi nikmat). Semuanya ini tidak benar. Yang benar adalah bahwa makna istiwaa’ bagi Allah adalah bahwa Allah mempunyai sifat ketinggian dan berada dalam ketinggian yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya. Begitu pula dengan al-ghadlab dan ar-rahmah, adalah sifat bagi Allah secara hakekat sesuai dengan kemuliaan Allah dan keagungan-Nya.

2. Tanpa ta’thil (menolak) adalah tidak mengingkari sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pengingkaran atas hal ini adalah seperti yang dilakukan oleh Jahmiyyah dan semisalnya. Perbuatan mereka merupakan puncak kebatilan. Padahal dalam Al-Qur’an dan As-Sunah banyak sekali diterangkan sifat-sifat Allah yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya.

3. Tanpa tasybih (menyerupakan) adalah tidak menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Untuk itu kita tidak boleh mengatakan bahwa sifat Allah itu adalah seperti sifat kita. Hal itu dikarenakan Allah sudah menyatakan tidak ada yang serupa dengan-Nya sesuatupun.

4. tanpa takyif (menanyakan bagaimananya) adalah tidak menanyakan bagaimana hakekatnya. Seperti menanyakan bagaimana istiwaa’-nya Allah ? Atau menanyakan bagaimana wajah dan tangan Allah ? Yang seharusnya kita lakukan adalah kita beriman akan keberadaan sifat Allah yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an maupun As-Sunnah sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menanyakan bagaimana hakekat sifat itu, karena Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mengkhabarkan bagaimana hakekat sifat tersebut.

Pedoman yang harus dipegang oleh setiap muslim adalah :

  1. Semua sifat Allah adalah sifat yang paling sempurna, tidak memiliki kekurangan sama sekali dari segi apapun.

  2. Sifat Allah dibagi menjadi dua :
    Sifat tsubutiyyah, yaitu sifat yang ditetapkan oleh Allah untuk diri-Nya dalam Al-Qur’an atau melalui lisan Rasul-Nya. Semuanya adalah sifat yang sempurna, tidak ada unsur kekurangan sama sekali.
    Sifat salbiyyah, yaitu sifat yang di-nafi-kan (ditiadakan) oleh Allah untuk diri-Nya, baik peniadaan tersebut termuat dalam Al-Qur’an mapun As-Sunnah. Semuanya yang di-nafi-kan tersebut berupa sifat-sifat kekurangan seperti sifat mati, bodoh, lemah, dan lain-lain. Untuk itu wajib bagi kaum muslimin untuk meniadakan sifat-sifat tersebut dari Allah subhaanahu wa ta’ala dan menetapkan sifat kesempurnaan lawan sifat tersebut.

  3. Semua sifat Allah harus berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada tempat bagi akal untuk menentukannya.

Dari dalil-dalil pada pembagian di atas dapat diketahui oleh siapa saja tentang kebenaran pembagian tauhid menjadi tiga, yaitu :

– Tauhid Rububiyyah.
– Tauhid Uluhiyyah.
– Tauhid Asmaa’ wa Shifat.

Orang yang mengingkari pembagian tauhid ini adalah orang yang mengingkari sesuatu tanpa ilmu dan berbicara atas nama Allah tanpa didasari ilmu. Karena orang yang mempunyai ilmu sedikit saja dari kalangan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dimana saja ia berada dan kapan saja, mesti akan mengetahui kebenaran pembagian tersebut. Seseorang tidak dikatakan beriman kalai ia tidak mengimani tiga macam tauhid di atas. Barangsiapa mengimani tauhid rububiyyah saja, maka ia belum dikatakan mukmin. Demikian juga kalau dia hanya mengimani tauhid uluhiyyah atau tauhid asmaa’ wa shifaat saja. Jadi, seseorang dikatakan mukmin kalau dia mengimani ketiga macam tauhid di atas.

Silahkan bagi yang ingin mendalami pembagian tauhid ini baca buku diatas tulisan Asy Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad Penerbit : Darulilmi

Wallaahu a’lam bish-shawwab.


referensi 

http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com/2009/06/asal-usul-pembagian-tauhid.html

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/10/pembagian-tauhid-menurut-ahlus-sunnah.html

Sumber: http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/08/11/apakah-pembagian-tauhid-adalah-bidah/#more-245
reposting : http://elhijrah.blogspot.com/2011/08/jawaban-seputar-bidahnya-pembagian.html

 

Tauhid Aslibumiayu Tahuhid Terbagi Menjadi Berapa Sejarah Akidah 3 Uluhiyah,rububiyah Nu Online Rukun Tauhid Menurut Salafi Pemikiran Tri Tauhid

13 Comments

  1. Kok kayak konsep trinitasnya umat Kristiani ya?

    Sudah coba tanya umat Kristiani kenapa ada Allah, Yesus dan Roh Kudus belum?

    Menurut mereka Tuhan itu ESA, tapi untuk berkomunikasi dan menyebarkan ajaran tauhid versi mereka, Tuhan bermanifestasi menjadi 3, yaitu Allah (Tuhan), Yesus (Tuhan dalam wujud manusia supaya bisa bertatap langsung kepada manusia demi menyampaikan tauhid dan wahyu Tuhan) serta Roh Kudus (atau bagi umat Katholik, Bunda Maria – pihak perantara antara Allah dan Yesus). Kan Nabi Isa alaihissalam tidak pernah mengajarkan hal ini, tapi kaum-kaumnya-lah yang menyelewengkan tauhid yang ESA yang dibawakan Nabi Allah Isa alaihissalam.

    Di dalam Al-Qur’an dan Hadits pun tidak ada penjelasan mengenai tauhid trinitas. Beriman kepada Allah ta’ala hanya perlu dengan kalimat:

    “AKU BERSAKSI BAHWA TIADA ILAH (TUHAN) SELAIN ALLAH DAN MUHAMMAD ADALAH UTUSAN ALLAH.”

    Kalau memang ada pendapat ulama yang berpendapat bahwa tauhid trinitas itu benar adanya, lalu apakah Al-Qur’an dan Hadits salah dan pendapat ulama-ulama lebih benar?

    Kan pendapatnya pengikutnya Yesus berpendapat bahwa Yesus (Nabi Isa alaihissalam) adalah Tuhan, padahal Nabi Isa mati-matian menetapkan tauhid TIADA TUHAN SELAIN ALLAH kepada umat Yahudi saat itu, tapi pengikutnya lebih benar?

    Bukankah itu bid’ah (hal-hal baru yang berbentuk akidah yang tidak disampaikan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya)?

    terimakasih, komentar yang sangat bagus, namun tidak nyambung, walaupun dipaksa-paksain agar nyambung, kok ngga nyambung-nyambung ya,
    Darimana persamaanya mas,mba, sebutin dong,
    ini pembagian menjadi tiga :
    1. Tauhid rububiyah
    2. Tauhid Uluhiyah
    3. Tauhid asma wa sifat,

    coba dihubungkan dengan trinitas, nyambungnya dimana? apakah karena sama-sama dibagi tiga?
    sungguh lucu kalau dilihat karena sama-sama dibagi tiga,.

    kalau gitu pemikirannya, misalkan saya punya makanan nih mas, lalu saya bagi tiga pula, satu untuk anak saya yang pertama, satunya untuk anak yang kedua, dan yang satu untuk anak yang ketiga,… wah,. bisa dianggap sama juga tuh, jadi trinitas juga,.. piye toh mas,.mas,.. gotak gatik gatuk,.

  2. penulis blog ini adalah wahabi yudaisme alias yahudi…

    perlu berhati hati saat membaca tulisannya yang nampaknya valid dan cerdas…

    ini blog YAHUDI alias WAHABI judaisme.

    ciri wahabi adalah dikit2 bid’ah taklid churafat,alias TBC padahal mereka itu memang TBC alias tuberculosis…FUCK JEWS FUCK WAHABI

    wah, terimakasih Bang Joni, apa kabar bang,. kemane aje bang, baru nongol,. he..he..he..
    Mudah-mudahan Allah melindungi bang joni, dan memberikan hidayah kepadanya, dan membuat bang joni jadi cerdas tentang agama islam,. aamiiin,..

    Bang joni, tahu ngga bang, apa yang paling ditakutkan oleh yahudi? yang paling ditakuti yahudi adalah generasi yang mengikuti generasi yang pernah mengalahkan yahudi, siapa mereka? silahkan klik disini bang

    Mau tahu agen yahudi? simak di postingan ini bang, klik aja disini bang

    Jangan sampai kita tertipu oleh yahudi bang, tertipu bagaimna? klik dimari aje bang,. silahkan,.

  3. syahadatnya harus diganti dong, karena syahadat ente cuma memakai ILAH.

    Terimakasih, sudah komentar disini,

    kalau ente kan ILAH tidak sama dengan RABB tidak sama dengan Asma wa syifanya. kalau kita di ahli sunnah wal jamaah ILAH sama dengan RABB sama dengan Asma wa syifanya.

    Apa sih arti ahli sunnah wal jamaah, jelasin dulu dong mas,.

    Sehingga tidak mungkin ABU JAHAL dan ABU LAHAB yang seorang kafir, menjadi lebih beriman dibandingkan mereka yang mengucapkan syahadat.

    Abu jahal dan abu lahab mengetahui konsekwensi dari syahadat, makanya mereka tidak mau masuk islam, berbeda dengan kondisi kaum muslimin secara umum di indonesia, yg mengaku sebagai aswaja, mereka tidak paham konsekwensi dari syahadat, sehingga banyak amalan mereka yang melanggar makna syahadat itu sendiri,

  4. Assalamualaikum,
    hehe lucu2 membaca komen2 diatas.

    pokok bahasan tema nya tingkat tinggi tntang pondasi dasar agama islam yaitu tauhid,sdangkan pelaku komennya msih jauh dari ilmu alias awam tntang agama islam sndiri.

    Saran sya kpada saudara2 seiman yg udah mninggalkan komen,mari kita blajar untuk memahami dl sbelum menilai.

    kritis itu boleh asalkan pnya referensi yg cukup untuk pembanding yg dikritisi.

    bahkan yg sngat menggelikan lagi buat saudaraku yg pakai analogi trinitas kristen.

    analogi anda sudah jauh dari konteks nya dan isi analoginya sngat salah 1000%.

    dari mana anda mndapat pengetahuan bahwa bunda maria di dalam katolik sama dngan roh kudus?

    Waduh sngat kacau deh,bs2 orang katolik akan demo ke presiden jika membaca komen anda,hehe

    Skian saran yg bs saya bagi kpada saudara2ku seiman,buat admin trimkasih untuk diijinkan komen.
    wassalamualaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,..
    Terimakasih mas,… tetap semangat dalam memahami islam ini,. tentu dengan pemahaman yang benar,.

    • Iya mas admin,smenjak blajar memahami salaf akhirnya malah semakin kuat kebenarannya dalam akal.dulu sya sngat membanggakan tokoh2 mu’tazilah bserta karyanya.

      tp stelah paham posisi akal terhadap dalil,maka terbukalah pikiran dan mengubah cara berpikir sya yg baru.

      meskipun trkadang sya masih bngung tp slalu smangt mncari referensi apa yg sya bingungi.

      maklum sya blajar otodidak,karna hanya blog dan nomer database ini yg jadi guru.
      Wassalamualaikum

      wa’alaikumussalam warahmatullah,.
      obat dari kebingungan adalah bertanya,..bukan nyari sendiri,.
      bertanya juga kepada sumber yang benar, jika asal nanya, maka jawabannya bisa saja asal jawab,. akhirnya keblinger juga,.
      Alhamdulillah, jaman sudah semakin canggih,. sarana utk belajar islam dengan pemahaman yang benar semakin dipermudah,.

      • Hehehe
        Membaca komen saudara2 seiman dipostingan ini jd teringat diri sndiri swaktu msih ngotot mempertahankan keidealisan akal.

        alhamdulilah allah msih menyayangi sya dan memberikan hidayah spya hambanya ini memahami agamanya dngan jalan yg benar..

        Alhamdulillah,.

  5. Apakah Nabi Muhamad SAW juga mencontohkan jika tauhid ada 3? saya sependapat dengan saya kalo tauhid dibagi 3 mirip dengan trinitas orang nasrani.
    Bapa disyurga (Allah SWT), Yesus (nabi Isa AS) serta Roh Kudus (Malaikat Jibril).

    Padahal Nabi Muhamad SAW bersabda:
    “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

    Mohon pencerahannya.

    Kalau kita hidup di jaman Rasulullah, kita ga perlu hal tersebut,.
    Kita ga butuh ilmu nahwu, shorof,
    Kita ga butuh ilmu hadits
    Kita ga butuh ilmu fikih,.
    Karena semuanya tidak ada di jaman Rasulullah,.
    Itu semua cuma sarana, kalau di jaman Rasulullah beliau sendiri yang menjelaskan,.
    Dan para sahabat sangat paham karena mendapat penjelasan langsung dari rasulullah,.

    Kita hidup jauh dari masa mereka,.
    Ilmu bahasa arab, pertama kali dibuat di jaman Ali, dikala sudah mulai ada orang yang salah dalam mengucapkan bahasa arab,.
    Alquran jaman Rasulullahpun belum ada tanda titik nya, jadi huruf ba,ta,tsa,nun itu sama saja,.

    Kebayang kalau para ulama tidak memberikan harakat,.
    Sudah diberi harakat saja masih banyak yang kesulitan membaca alquran,.

    Demikian pula tentang tauhid,.
    Jika para ulama tidak membuat mudah cara belajar tauhid, maka akan sangat sulit memahami arti tauhid,.

    Sudah dibagi saja masih banyak yang salah dalam memahami tauhid,.
    Berbeda di jaman Rasulullah,.

    Orang kafir quraisy, mereka tidak mau masuk islam , karena pahama konsekwensi dari tauhid ini,.
    Sekarang, banyak umat islam yang dari kecil sudah memeluk islam, tapi ga paham apa itu tauhid,.

    Itu bedanya kaum muslimin dengan kaum kafir quraisy,.

    Jadi, pembagian itu sama sekali tidak menyerupai orang nasrani dengan trinitasnya,. dari sisi mana?
    Kalau cuma dari pembagiannya,.

    maka kalau kita punya roti, lalu dibagi tiga,. sama dong seperti orang nasrani dengan trinitasnya?
    Ini kan jadi konyol,.

    • Kalau kita hidup di zaman Rosululloh kita ga perlu Maulid..berarti zaman skg kita perlu Maulid ya min ???

      Jaman Nabi saja tidak perlu, jaman sekarang juga tidak perlu

  6. HAMBA ALLOH yg tidak merasa Paling benar Sungguh Demi Alloh kebenaran Itu Mutlak Hanya milikmu ya Alloh. Laaillaha illa anta subhanaka Inni Kuntu Minadzoliminn..
    April 4, 2016 at 7:44 pm

    Assallamualaikum Warohmatullohi wabarakatuh.
    Bissmillahirrahmanirrahim.
    FAALAM ANAHU #LAAAILLAHAILLALLAH ~~~
    Sifat NAFSIYAH >>> [[ALLOH WAJIB(Tetap), WUJUD(ada)]]

    Sifat WAJIB (Tetap) ALLOH ada 20 BUKAN BERATI SIFAT ALLOH Di bagi mjd 20 !!!!!!!!!!!!
    Yaitu ;
    #5 Sifat SALBIYAH diantaranya
    QIDAM yg artinya Dahulu, Purba, Tanpa Awal, Tidak Timbul.
    BAQA ; kekal, tanpa ahir, tidak silam.
    MUKHOLAFTUN LILHAWADITSI ; Berbeda dengan yg di ciptanya, Tanpa Persamaan.
    QIYAMUHU BINAFSIHI ; Berdirinya dengan Sendiri, tanpa butuh masa, TANPA BANTUAN YANG MENCIPTA !!!!!!
    WAHDANIYAH ; SATU / ESA, TANPA BILANGAN TUNGGAL (Dzatulloh, Sifatulloh, Af’Alulloh) !!!!!

    #SIFAT MA’NAWIYAH dibagi mjd 7
    IRODAT ; BERKEHENDAK >> Menciptakan, Berbuat
    QODRAT ; BERKUASA >> Mengadakan, Meniadakan, Dimana Tempat. Bagaimana Sifat, Kemana Arah, Kapan Waktu, Berapa Ukuran
    ILMUN ; BERILMU (Sesungguhnya Manusia itu Hanya di beri Sedikit Ilmu Untuk Menyelamatkan Rohnya Sendiri) Sungguh Tiada Banding Ilmu ALLOH dengan Ilmu mu.

    KALAM ; BERBICARA >> MALAIKAT (Muqorobin,Karubiyin,Arsy,Langit,Bumi) >>> KITAB (Wahyu,Ilham,Hidayah) >>> ROSULUN, Utusan2, yang orang itu mengetahuinnya 25 Nabi, Sdangkan NABIYULLOH KHIDIR sendiri tdk trmasuk kategori yg 25 itu. dan sebenarnya masih beribu ribu utusan yg kita belum ketahui. diantaranya Wali Wali Alloh.
    PARA WALI SONGO yg telah mengislamkan Indonesia Ini, Semua Itu Pasti ATAS IZIN dan RIDHA ALLOH, Mustahil jika Alloh Tidak Meridhai dan Mengizinkannya mungkin Kita semua smpe sekarang masih dalam Keadaan Hindu Budha.
    Alangkah Baiknya Kita Bersyukur atas jasa jasa Beliau Beliau Lah Kita Bisa Mengenal kepada Alloh. MIKIRRRR !!!!!!! Qur’an Itu Nyuruh kita Berfikir.
    Bukan Malah Menghujat Satu Sama Lain, Masing masing nyari Pembenaran Atas dirinya Sendiri sendiri dengan Ayat Ayat Al-quran yg kalian Sendiri Belum Tentu Benar Mengartikan dan Maksud KALAMULLOH ITU yang sangat Luas maknanya. WAHUWA LATIFUL KHOBIRR !!!!! DIA lah ALLOH yang MAHA LEMBUT lagi MAHA MENGETAHUI, TIADA HAK ATAS KAMU SEKALIAN SALING MENYALAHKAN bahkan MEMBENARKAN DIRI.

    YAAA AYYUHAN NAFSUL MUTMAINA TURJI’I ILLA RABBIKI RHODIYATAN MARDIYATAN FADKHULI FII IBADII FADKHULI JANNATI ALA BIDZIKRILLAHI TATMA’INUL QULUUBB.

    ALLOH ITU pengin di kenal sama kalian Semua (pengin slalu di ingat) bukan malah di perdebatkan. cara mengingat alloh ya sudah di ajarkan oleh para Rosul dan Walinya Semua sudah ada Zamanya masing masing.
    Zaman Berzaman Fatimah Kawin JIBRIL TURUN BAWA MAS KAWIN DARI ALLOH ROBBUL ALAMIN.
    (WAMA ARSALNAKA ILLA RAHMATAN LIL ALAMIN)

    Apakah Kalian Semua tdk Pernah Mendengar Rosul memerintahkan Jika kamu dalam Sebuah Urusan Maka Slesaikanlah Urusan Yg satu terlebih dahulu. URUSAN kalian sama ALLOH gimana ?? sudahkah kalian yakin bahwa kalian itu sudah dalam kebenaran yg paling benar yg paling Mutlak kebenarannya dengan ALLOH ?? MasyaaALLOHH sekali kali mari KITA SADAAARR !!!!

    MUHAMMADUN BASYARUN LAKAL BASYAR BALHUWAKAL YAQUTI BAENAL HAJAR.
    Rosululloh Itu manusia Biasa TAPI TIDAK seperti MANUSIA BIASANYA kaya KITA. ibarat Batu beliau Itu BATU INTAN PERMATA BERLIAN dimata ALLOH beda halnya dengan Kita. paling Mentog Mentog Kaya Batu AKIK. bahkan ky WATU KALI KERUH.

    LALU APA YANG KALIAN CARI DI MATA MANUSIA ??

    MERASA SUDAH SEPERTI ROSULULLOH ??

    apakah Rosululloh Mengajarkan Saling Berdebat ?? TIDAK !!!
    Bahkan Rosul Memerintahkah Jika Ada perselisihan yg susah di Selesaikan itu kita kembalikan kepada Alloh Rosulnya.

    ISTIQOMAH.

    Mohon Maaf kepada semuanya Lahir batin Hanya Sekedar Mengingatkan Tidak Ada Paksaan karena Yg Berkehendak Hanyalah (ALLOH)

    Ciptakanlah ISLAM YANG BERSATU ISLAM YANG (BHINEKA TUNGGAL IKA)
    Ingat Pesan BUNG KARNO ;
    Perjuanganmu akan Lebih Menyulitkan Karena Melawan Bangsamu sendiri. Bahkan Sekarang AGAMAMU SENDIRI.

    Wassallumalaikum warohmatullohiwabarokatuh.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    Saya jawab simpel saja,..

    RAsulullah saja tidak berani menetapkan SIFAT ALLAH yang Allah sendiri tidak menetapkannya…
    Kok ya ada orang yang menetapkan sifat Allah menurut hasil pemikirannya?

    MERASA SUDAH SEPERTI ROSULULLOH ??

    Ini malah bukan merasa seperti Rasulullah, bahkan ini MENDAHULUI ALLAH DAN RASULNYA,.. lebih parah

    tentang sifat 20 sudah saya posting, silahkan dibaca disini

  7. ASSALAMUALAIKUM warohmatullohi wabarokatuh

    Maaf Pa admin Yang saya Hormati karena Alloh.
    yang Menetapkan Itu ya SIFAT TETAP nya ALLOH sendiri Bukan Manusianya Bahkan Rosul ya jelas tidak Bisa Menetapkan sifat Alloh.
    14. Kaunuhu Qadirun – ﻛﻮﻧﻪﻗﺎﺩﺭﺍYaitu Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkuasa Mengadakan Dan Mentiadakan.“Sesungguhnya Alllah berkuasa atas segala sesuatu.“(QS. Al Baqarah:20).
    15. Kaunuhu Muridun – ﻛﻮﻧﻪﻣﺮﻳﺪﺍYaitu Keadaan Allah Ta’ala Yang Menghendaki dan menentukan tiap-tiap sesuatu, Ia berkehendak atas nasib dan takdir manusia.“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki.” (QS. Hud:107)
    16. Kaunuhu ‘Alimun – ﻛﻮﻧﻪﻋﺎﻟﻤﺎYaitu Keadaan Allah Ta’ala Yang Mengetahui akan Tiap-tiap sesuatu, mengetahui segala hal yang telah terjadi maupun yang belum terjadi, Allah pun dapat mengetahui isi hati dan pikiran manusia.“Dan Alllah Maha Mengetahui sesuatu.“(QS. An Nisa’:176)
    17. Kaunuhu Hayyun – ﻛﻮﻧﻪﺣﻴﺎYaitu Keadaan Allah Ta’ala Yang Hidup, Allah adalah Dzat Yang Hidup, Allah tidak akan pernah mati, tidak akan pernah tidur ataupun lengah.”Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup kekal dan yang tidak mati.”(QS.Al Furqon:58)
    18. Kaunuhu Sami’un – ﻛﻮﻧﻪﺳﻤﻴﻌﺎYaitu Keadaan Allah Ta’ala Yang Mendengar, Allah selalu mendengar pembicaraan manusia, permintaan atau doa hambaNya.“Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.“(QS. Al Baqoroh:256)
    19. Kaunuhu Basirun – ﻛﻮﻧﻪﺑﺼﻴﺭﺍYaitu Keadaan Allah Ta’ala Yang Melihat akan tiap-tiap yang Maujudat ( Benda yang ada ).Allah selalu melihat gerak-gerik kita. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berbuat baik.“Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.“(QS. Al Hujurat :18)
    20. Kaunuhu Mutakallimun – ﻛﻮﻧﻪﻣﺘﻜﻠﻤﺎYaitu Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkata-kata, Allah tidak bisu, Ia berbicara atau berfirman melalui ayat-ayat Al Quran. Bila Al-Quran telah kita jaikan pedoman hidup, makakita telah patuh dan tunduk terhadap Allah SWT.

    JIKA ANDA BERBICARA LAUKHUL MAKHFUDZ sama saja anda tidak mempercayai SIFAT IRADAH ALLOH. sama saja anda menganggap bahwa andal ah yang Menulis LAUKHUL MAFUDZ

    sekali kali tolong jangan mengandalkan buku Sejarah yg mengatasnamakan Salafushalih, ataupun Buku buku (kitab) Lainnya yang Anda Sendiri Sudah Jelas Jelas tidak Mengalami Perkara Kejadian dlm pembuatannya lalu anda bantah dengan Ayat quran dan hadis sohih yg benar benar mutlak kebenarannya. Belum Tentu Yg menulis Kitab itu adalah Orang yg anda maksud atas kesalahan nya sdangkan kitab itu sudah beribu ribu tahun lamanya. seharusnya buku atau bacaan di GOOGLE itu cukup di balikan lg ke hadis dan ayat QURAN yg Penuh Ijma Dan Kias dalam Mengartikannya. lalu tidak buat Menyerang orang mukmin Lainnya dengan Mengatakan Kafir atau bid’ah krn tidak Sepaham dengan Pemahaman anda yg belum Tentu Benar dan BENAR di MATA ALLOH.
    adapun Alquran dan Hadis Mengatakan MENGKAFIR KAFIRKAN dan BID’AH itu semua adalah KALAMULLOH yang di sampekan Melewati Rosulnya. hanya Alloh yang Berhak melalui Lisan Rosul dan Walinya yg sudah mendapat ijin dari ALLOH. lah sdangkan kita ini siapa ??
    kita ini hanya orang yg di suruh mengimani Alloh dengan mengikuti Laku lampah Baginda Rosul Nabi Muhammad sholollohualaihiwasallam. mengikuti apanya ?? ya perbuatanya yaitu menjaga hati orang lain terutama yg sdang belajar mengimani alloh dan mengajak orang yg belum mengimani Alloh tanpa paksaan dan intimidasi NERAKA. karena Neraka dan Surga itu alloh yg menentukan seperti di sebutkan dalam HADIS KUDSI bahwa Surga dan NERAKA ITU ALLOH YANG MENCIPTAKAN dan adapun Penghuninya itu ALLOH YANG MENENTUKAN.
    berhati hatilah dalam Berpijak di muka Bumi Ini Agar hati kita Benar Benar BERSIH Tidak mjd ORANG YANG DHALIM yang hanya Menambah KERUGIAN BELAKA.
    Sesungguhnya DUNIA INI SANGAT MENGECOHKAN, karena itu ISLAM itu Benar benar RAHMATAN LILALAMIN bukan untuk Ego Dan Golongan Sendiri.

    هُوْ اَللهُ , هُوْ اَللهُ , هُوَ اللهُ أَحَدٌ ◉ اَللهُ الصَّمَدُ ◉ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ ◉ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ◉ إِنَّ اللهَ عَلى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ ◉ وَاللهُ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيْدُ ◉ وَمَا الْحَيوةُ الدُّنْـيَا إِلاَّ مَتاعُ الْغُرُوْرِ ◉ يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَّلاَ بَنُوْنَ ◉ إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ◉ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ ◉كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ◉ وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ · إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا◉ وَنُـنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَّرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ خَسَارًا ◉Dia Allah, Dia Allah, Dia Allah Yang Maha Esa, Allah tempat bertumpu segala permohonan, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak ada sesuatu yang menyamainya. Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu, Allah berbuat atas kehendaknya, dan tidak adalah kehidupan dunia ini kecuali hanyalah permainan yang mengecohkan, pada hari dimana tiada manfaat harta benda dan anak, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Saya bersaksi bahwasanya tiada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Kamu adalah ummat yang terbaik karena memerintahkan berlaku baik dan mencegah perkara mungkar. Katakanlah manakal kebenaran datang, kejahatan pasti hancur, sebab kejahatan itu berarti kehancuran.Dan kami turunkan dari Alquran sesuatu yang dapat menjadi obat dan rohmat bagi orang mu’min, serta bagi orang dholim hanya menambah kerugian belaka.اَ

    SEKALI KALI KITA BERPIKIR
    INNA SYAETONU ADUWUM MUBIN
    Syetan Itu benar benar musuh yang NYATA.
    dimana Syetan itu Asalnya dari Surga Dan Berhasil menggelincirkan Bapanya Manusia (NABI ADAM) Ke Bumi.
    Dimana Syetan Itu sudah hidup beribu ribu taun dan beri kesempatan oleh Alloh untk menggoda manusia smpe kiamat.

    Kita ini Sungguh Anak kemaren sore bagi syetan yg dimana umurnya paling mentog 70 taun.
    dimana Syetan itu Halus dan kita itu kasar.
    Sekali Syetan Tebas kita melalui Nafsu kita melalui Hati kita.
    kemakanlah kita oleh nya.

    SYUNGGUH YANG DEMIKIAN ITU QURAN BENAR BENAR MEMERINTAHKAN UNTUK BERFIKIR !!!!!!!!

    JAZAKUMULLOH SAUDARA SEIMANKU

    Ini TERAKHIR KALINYA AKU MENULIS DI SINI. karena kalau sudah sampai ketiga kali nya saya takut akan Adzab alloh karena kemudhorotan.
    Wassallamualaikum warohmaullohi wabarokatuh.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh,.

    Saya jawab,. janganlah lancang kepad Allah,.
    Yang paling paham Sifat-Sifat dan Nama Allah adalah Allah sendiri,.
    Allah yang menetapkan dan mengabarkannya,..
    Jangan mendahului Allah dalam menetapkan sifat-sifat Allah,.
    Rasulullah saja tidak berani menetapkan sifat Allah, lah kok ya ada orang yang berani menetapkannya…

    Janganlah setan menggelincirkan anda dengan menetapkan sifat-sifat yang Allah sendiri tidak menetapkannya,.

    • Assallamualaikum, dari mana sifat yg dibagi 20 itu, adakah landasannya? Kl hanya pemikiran manusia semata, jelas ini khebatilan mengada2 Allah itu maha segala maha, sementara manusia itu kerdil, jika tdk diberikan ilmu maka ia tidak akan tau..

      Sementara masalah tauhid ini tidaklah mendahului setelah saya membaca, ini hanya menjelaskan yg sudah ada,

      Ibarat kata merangkum agar mudah dipahami. Bisa juga disebut konsep belajar, yg pada intinya tauhid itu hanya satu,

      Beda dg trinitas, sangat sangat melenceng, 1mtuhannya Allah katanya 2, isa tuhan juga, kadang dibilang anak tuhan, kadang tuhan menjelma, 3 roh kudus .. Konsep sangat sulit ditelaah dg akal, mau jungkir balik tetap gak ketemu, setiap pendeta pastor beda2 mengartikannya apalagi, beda skte katholok, protestan, koptik dll memusingkan untuk mempelajarinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*