Mau Ikut KUIS TAHLILAN?? Hadiahnya IPHONE, silahkan bagi yang bisa mendatangkan dalil satu saja tentang tahlilan..

Kuis Kuis Tahlilan Sholat Hajat Dapat Hadiah Malaikat Izrail Mencabut Nyawa Sendiri Kisah Seorang Pendosa Yg Bertapa Mendapatkan Karomah

kuiz tahlilan berhadiah motorSelamatan kematian adalah tradisi yang tersebar di tengah-tengah masyarakat kita. Selamatan ini diadakan pada hari ke-7, 40, 100 dan 1000. Acara ini dilakukan dalam rangka mengirim do’a kepada mayit, dilakukan dengan keluarga mayit mengumpulkan jama’ah, di dalamnya juga tuan rumah menyajikan makanan untuk para tamu. Bahkan bukan dengan itu saja, kadang disisipi amplop. Mengenai hal ini sebenarnya telah disinggung oleh ulama masa silam, terutama dari madzhab Syafi’i. Mereka membahasnya pada masalah niyahah (meratapi mayit), sebagiannya menyinggung dalam Kitabul Janaiz.

Larangan Niyahah

Niyahah adalah jika seseorang bersedih dan menangisi mayit serta menghitung-hitung berbagai kebaikannya. Ada yang mengartikan pula bahwa niyahah adalah menangis dengan suara keras dalam rangka meratapi kepergian mayit atau meratap karena di antara kemewahan dunia yang ia miliki lenyap. Niyahah adalah perbuatan terlarang. Demikian penjelasan penulis ‘Aunul Ma’bud ketika menjelaskan maksud niyahah. Lihat ‘Aunul Ma’bud, 8: 277.

Niyahah termasuk larangan bahkan dosa besar karena diancam dengan hukuman (siksaan) di akhirat kelak. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Malik Al Asy’ari radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

« أَرْبَعٌ فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِى الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ ». وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan: (1) membangga-banggakan kebesaran leluhur, (2) mencela keturunan, (3) mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan (4) meratapi mayit (niyahah)”. Lalu beliau bersabda, “Orang yang melakukan niyahah bila mati sebelum ia bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal” (HR. Muslim no. 934).

Ulama besar Syafi’i, Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Mengenai orang yang melakukan niyahah lantas tidak bertaubat sampai mati dan disebutkan sampai akhir hadits, menunjukkan bahwa haramnya perbuatan niyahah dan hal ini telah disepakati. Hadits ini menunjukkan diterimanya taubat jika taubat tersebut dilakukan sebelum mati (nyawa di kerongkongan).” (Syarh Muslim, 6: 235)

Yang Mesti Dilakukan pada Keluarga Mayit

Disunnahkan bagi tetangga orang yang meninggal dunia untuk memberikan makanan kepada keluarga mayit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan untuk berbuat baik pada keluarga Ja’far,

اصْنَعُوا لآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ شَغَلَهُمْ

Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far karena mereka telah dihinggapi perkara yang menyibukkan mereka.” (HR. Abu Daud no. 3132 dan Tirmidzi no. 998. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Coba lihat bagaimana yang dilakukan dalam selamatan kematian dengan ritual yasinan dan tahlilannya. Keluarga mayit malah dibuat susah ketika keluarganya meninggal dunia. Bukan mereka yang diberikan makan, malah yang jadi tradisi, keluarga mayitlah yang jadi kerepotan menyediakan makan untuk para tamu. Seperti ini bertentangan dengan ajaran Islam yang ajarannya mengandung pelajaran untuk berbuat baik terhadap sesama.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Yang disunnahkan ketika ada yang meninggal dunia adalah keluarga mayit yang dibuatkan makanan.” (Majmu’ Al Fatawa, 24: 316).

Di dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah (12: 290) disebutkan bahwa terlarang keluarga mayit membuatkan makanan untuk warga karena hal seperti ini malah menambah kesedihan mereka, malah membebani kesusahan di atas kesusahan. Hal ini pun serupa dengan perbuatan orang Jahiliyah. Ada riwayat dari Jarir bin ‘Abdillah Al Bajaliy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كُنَّا نَعُدُّ الاِجْتِمَاعَ إِلَى أهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ

Kami menganggap berkumpul di kediaman si mayit dan makanan yang dibuat (oleh keluarga mayit) setelah penguburannya merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit).” (HR. Ahmad 2: 204. Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Imam Syafi’i dan Pengikutnya Melarang Selamatan Kematian

Imam Syafi’i rahimahullah dalam kitabnya Al Umm berkata,

وأكره النياحة على الميت بعد موته وأن تندبه النائحة على الانفراد لكن يعزى بما أمر الله عزوجل من الصبر والاسترجاع وأكره المأتم وهى الجماعة وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن

“Aku tidak suka niyahah (peratapan) pada mayit setelah kematiannya, begitu juga aku tidak suka jika bersedih tersebut dilakukan seorang diri. Seharusnya yang dilakukan adalah seperti yang Allah Ta’ala perintahkan yaitu dengan bersabar dan mengucapkan istirja’ (innalillahi wa inna ilaihi rooji’un). Aku pun tidak suka dengan acara ma’tam yaitu berkumpul di kediaman si mayit walau di sana tidak ada tangisan. Karena berkumpul seperti ini pun hanya membuat keluarga mayit mengungkitu kesedihan yang menimpa mereka. ” (Al Umm, 1: 318).

Imam Nawawi rahimahullah dalam Al Majmu’ menukil perkataan penulis Asy Syaamil dan ulama lainnya,

وأما اصلاح اهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شئ وهو بدعة غير مستحبة

“Adapun yang dilakukan keluarga mayit dengan membuatkan makanan dan mengumpulkan orang-orang di kediaman mayit, maka tidak ada tuntunan dalam hal ini. Hal ini termasuk bid’ah yang tidak dianjurkan.” Demikian perkataan penyusun Asy Syaamil lantas Imam Nawawi pun menukilkan hadits Jarir bin ‘Abdillah di atas. (Lihat Al Majmu’, 5: 320).

Sama persis yang dinukilkan oleh Imam Nawawi, dikatakan pula oleh Ibnu Taimiyah,

وَأَمَّا صَنْعَةُ أَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا يَدْعُونَ النَّاسَ إلَيْهِ فَهَذَا غَيْرُ مَشْرُوعٍ وَإِنَّمَا هُوَ بِدْعَةٌ

Adapun jika keluarga mayit yang membuatkan makanan dan mengundang jama’ah untuk datang, seperti ini tidak ada tuntunan dan termasuk bid’ah.” (Majmu’ Al Fatawa, 24: 316).

Madzhab Syafi’i Membatasi Ta’ziyah Hanya Tiga Hari

Sebagaimana disebutkan dalam Matan Abi Syuja’ atau Matan Al Ghoyah wat Taqrib,

ويعزى أهله إلى ثلاثة أيام من دفنه

Keluarga mayit dita’ziyah selama tiga hari setelah pemakaman si mayit.” Ini adalah fikih dalam madzhab Syafi’i. Namun sayangnya fikih ini disalahi oleh penganut madzhab Syafi’i di negeri kita. Karena acara selamatan kematian dilakukan setelah 7, 40, 100 bahkan 1000 hari? Bukankah hal ini menyalahi aturan madzhab sebagaimana disebutkan oleh Abu Syuja’ di atas?

Yang dimaksud ta’ziyah adalah memotivasi agar keluarga mayit tetap sabar dan didoakan pada mereka agar mendapatkan pahala atas kesabaran mereka pada musibah. Kata Syaikh Musthofa Al Bugho, pakar fikih Syafi’i di zaman ini, berkata, “Dimakruhkan ta’ziyah setelah lebih dari tiga hari kecuali bagi seorang musafir. Karena kesedihan setelah tiga hari biasa sudah hilang, ini umumnya. Jadi, tidak perlu kesedihan itu diungkit dan diingat-ingat lagi.” Lihat At Tadzhib fii Adillati Matan Al Ghoyah wat Taqrib, hal. 96.

Sedangkan dalil lama ta’ziyah adalah tiga hari karena berdasarkan masa ihdad (berkabung) adalah tiga hari kecuali berkabungnya istri ketika ditinggal mati suami. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,

لاَ يَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ ، إِلاَّ عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

Tidak dihalalkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berkabung atas kematian seseorang lebih dari tiga hari, kecuali atas kematian suaminya, yaitu (selama) empat bulan sepuluh hari.” (HR. Bukhari no. 5334 dan Muslim no. 1491). Hadits ini menjadi dalil jumhur ulama (mayoritas) mengenai lama ta’ziyah adalah tiga hari. Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 12: 288.

Yang mengaku sebagai pengikut Imam Syafi’i seakan-akan terdiam jika tahu bahwa Imam Syafi’i, Imam Nawawi dan ulama Syafi’iyah lainnya menentang selamatan kematian 7, 40, 100 bahkan 1000 hari. Karena berkumpul di kediaman si mayit seperti ini termasuk niyahah (meratapi mayit) yang terlarang, bahkan dinilai sebagai bid’ah oleh ulama Syafi’iyah sendiri. Namun ulama di negeri kita seakan-akan memejamkan mata dari kebenaran ini. Padahal nyata bahwa pernyataan ini disebutkan dalam Al Umm, karya Imam Syafi’i dan kitab-kitab ulama Syafi’i lainnya.

Hanya Allah yang beri taufik dan hidayah.

Untuk melengkapi bahasan di atas, baca pula artikel Rumaysho.com:

1-Membaca Surat Yasin Mengapa Dilarang?

2-Antara Kirim Pahala dan Selamatan Kematian

3- Amalan yang Bermanfaat bagi Mayit

@ Maktab Jaliyat Bathaa’, Riyadh-KSA, 22 Shafar 1434 H

www.rumaysho.com

 Cara mengikuti kuisnya,.
Silakan datangkan dalil satu saja lah, dari Rasul atau minimal dari Imam Madzhab seperti Imam Syafi’i dan Imam Nawawi yang menunjukkan mereka pernah mengadakan selamatan kematian 7, 40, 100 hari. Kalau ada, dapat hadiah … Mau IPHONE pun saya kasih. Menantang!

Jawabannya silakan dikirim via komentar di web Rumaysho.com:
http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/4199-niyahah-dan-selamatan-kematian-.html

Kisah Nabi Yanf Paling Sakti Kisah Nabi Bertemu Jin Kisah Malaikat Mikail Kisah Malaikat Mencabut Nyawanya Sendiri 13 Pesan Malaikat Izrail

55 Comments

  1. kl dalil dr agama hindu bs ndak mas admin ? krn setau saya utk budaya tahlilan ini kan kita mengadopsinya dari ajaran hindu,itu sebabnya hanya Islam di kawasan asia aja yg tau ttg tahlilan,sedangkan negara2 timur tengah ndak pernah tau ttg budaya tahlilan.

    Terimakasih mas ari budianto ,
    Sebagaimana persyaratan yg diajukan oleh penulisnya,Silakan datangkan dalil satu saja lah, dari Rasul atau minimal dari Imam Madzhab seperti Imam Syafi’i dan Imam Nawawi yang menunjukkan mereka pernah mengadakan selamatan kematian 7, 40, 100 hari. Kalau ada, dapat hadiah … Mau IPHONE pun saya kasih.
    Jawabannya silakan dikirim via komentar di web Rumaysho.com:
    http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/4199-niyahah-dan-selamatan-kematian-.html

    • Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatu,

      Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

      ana mo nanya gimana jika bermakmun kepada orang yg suka dengan bid’ah,
      karena masjid di tempat tinggal saya para pengurusnya dan imam masjidnya suka melakukan kebid’ahan…sedangkan masjid yg pengurusnya dan imamnya mengikuti Al Quran Dan As sunah jauh dari rumah ana…sedangkan kita sangat di anjurkan untuk sholat berjamaah di masjid,,,,

      Ahlus Sunnah menganggap shalat berjama’ah di belakang imam baik yang shalih maupun yang fasik dari kaum Muslimin adalah sah. Dan menshalatkan siapa saja yang meninggal di antara mereka.[1]

      Dalam Shahiihul Bukhari [2] disebutkan bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma pernah shalat dengan bermakmum kepada al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Padahal al-Hajjaj adalah orang yang fasik dan bengis [3]. ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma adalah seorang Sahabat yang sangat hati-hati dalam menjaga dan mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan al-Hajjaj bin Yusuf adalah orang yang terkenal paling fasik. Demikian juga yang pernah dilakukan Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu yang bermakmum kepada al-Hajjaj bin Yusuf. Begitu juga yang pernah dilakukan oleh beberapa Sahabat Radhiyallahu anhum, yaitu shalat di belakang al-Walid bin Abi Mu’aith. [4]

      Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

      يُصَلُّوْنَ لَكُمْ، فَإِنْ أَصَابُوْا فَلَكُمْ وَلَهُمْ، وَإِنْ أَخْطَأُوْا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ.

      “Mereka shalat mengimami kalian. Apabila mereka benar, kalian dan mereka mendapatkan pahala. Apabila mereka keliru, kalian mendapat pahala sedangkan mereka mendapat dosa.” [5]

      Imam Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H) rahimahullah pernah ditanya tentang boleh atau tidaknya shalat di belakang ahlul bid’ah, beliau menjawab: “Shalatlah di belakangnya dan ia yang menanggung dosa bid’ahnya.” Imam al-Bukhari memberikan bab tentang perkataan Hasan al-Bashri dalam Shahiihnya (bab Imamatul Maftuun wal Mubtadi’ dalam Kitaabul Aadzaan).

      Ketahuilah bahwasanya seseorang boleh shalat bermakmum kepada orang yang tidak dia ketahui bahwa ia memiliki kebid’ahan atau kefasikan berdasarkan kesepakatan para ulama.

      Ahli bid’ah maupun pelaku maksiyat, pada asalnya shalatnya adalah sah. Apabila seseorang shalat bermakmum kepadanya, shalatnya tidak menjadi batal. Namun ada ulama yang menganggapnya makruh. Karena amar ma’ruf nahi munkar itu wajib hukumnya. Di antaranya bahwa orang yang menampakkan kebid’ahan dan kefasikannya, jangan sampai ia menjadi imam rutin (rawatib) bagi kaum Muslimin.
      selengkapnya baca disini

      wasalammualaikum warahmatullahi wabarakatu

      Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  2. ha ha ha.. mau cari sampai rontok rambut juga gak bakalan ketemu hadits shahih tentang adanya tahlilan nihayah. pun sampai kulit jadi hijau pun gak bakalan ada atsar shahih dari Shahabat radhliyallaahu ‘anhum jami’an tentang tahlilan nihayah..

    jadi dari mana dong tahlilan nihayah? waaah ndak tau yaaa.. tanyakan sama yg hobbynya nge-bid’ah dong?! jangan minta dalil pembenaran tahlilan nihayah sama ulama rabbani.. pasti gak akan ketemu! kalo mau tanya, tanya sama ulama su’ atau ulama Agama Syi’ah Rafidhah.. pasti akan didatangkan dalil.. mau berapa dalil? jangankan 1 atau 2 dalil, 100 dalil palsu pun akan mereka bikinkan segera.

    ya emang, syiah itu seiring sejalan, terbukti pengikut ormas yg gemar tahlilan, ketuanya itu mendukung syiah, membelanya,.. ini musibah,

  3. KALO DALIL YANG MENYURUH/MEN-SYARIATKAN TAHLILAN ITU TIDAK ADA, TAPI KALO DALIL YANG BISA MENDUKUNG BAHWA TAHLILAN ITU SESUAI, ALIAS TIDAK BERTENTANGAN DENGAN TUNTUNAN AL-QURAN DAN SUNNAH ITU BANYAK. JADI MAKSUD ANDA DALIL YANG MANA NIH?

    Ibadah itu hukum asalnya adalah HARAM dikerjakan, sebelum ada dalil yang memerintahkannya,
    Ritual tahlilan sangat jelas, itu bertentangan dengan ajaran rasulullah,
    Jika ada yang mengklaim bahwa ritual tahlilan itu tidak bertentangan dengan ajaran rasulullah, itu adalah klaim orang yang mengaku lebih mengetahui ajaran islam ini melebihi rasulullah, para sahabat, dan ulama2 ahlussunnah, karena mereka tidak melakukan ritual tersebut, tapi ada orang yang hidup jauh dari mereka tapi mengerjakan perbuatan ritual tahlilan tersebut,

    Rasulullah ketika istri yang dicintainya meninggal, beliau tidak melakukan ritual tahlilan kematian, demikian juga ketika anak laki-lakinya meninggal, beliau menangis, tapi beliau tidak melakukan ritual tahlilan kematian
    Para sahabat yang meninggal di perang badar,perang uhud, Rasulullah pun tidak melakukan ritual tahlilan karena kematian mereka,
    Ketika rasulullah meninggal, abu bakar,umar,utsman,ali , mereka tidak melakukan ritual tahlilan karena kematian rasulullah,
    Demikian pula Imam abu hanifah,imam malik,imam syafii,imam ahmad, mereka tidak pernah melakukan ritual tahlilan kematian
    Demikian pula imam bukhari,muslim, dan ulama ahli hadits lainnya, mereka tidak pernah melakukan ritual tahlilan kematian ini,

    Jadi, sebenarnya mengikuti siapakah ajaran ritual tahlilan ini?? kok orang yang menjadi panutan kita saja tdk pernah melakukan ritual tahlilan ini?
    Jadi yang terbaik bagi pengikut ajaran rasulullah adalah melakukan ritual tahlilan atau meninggalkannya? tentu meninggalkannya adalah perupakan perbuatan yang mulia, karena rasulullah pun tidak pernah melakukannya, kita pun wajib meninggalkan ritual tahlilan kematian karena rasulullahpun tidak pernah melakukannya,..

  4. Hadoohhh… susah dah klo ngomong sama wahabi. Hadist palsu mulu yang dipake. jangan bersandar hanya pada satu hadist bung. Yang namanya tahlilan itu justru membuat keluarga yang ditinggalkkan merasa terhibur dengan kedatangan para tetangga yang mau mendoakan keluarganya yang sudah meninggal. klo soal makanan yang disediakan untuk para tamu tahlilan, itu kan seadanya saja, itu pun klo memang ada. dan para tamu pun tidak pernah minta makanan. Dan satu hal yang paling penting, justru tahlilan bisa menjaga tali silaturahmi keluarga dengan para tetangga dan teman2 Almarhum & Almarhumah.

    Tolong dong datangkan dalilnya mas Abdul Rahman,
    Ketika Istri Rasulullah meninggal, khadijah ,.. apakah rasulullah melakukan tahlilan?
    Ketika anak rasulullah meninggal, ibrahim , apakah rasulullah melakukan tahlilan?
    Ketika para sahabat banyak yang meninggal di peperangan, apakah rasulullah melakukan tahlilan?
    Ketika Rasulullah meninggal, apakah abu bakar melakukan tahlilan?
    Ketika Abu bakar meninggal, apakah Umar juga melakukan tahlilan?
    Ketika Imam malik meninggal, apakah imam syafii melakukan tahlilan untuk gurunya?
    Ketika Imam syafii meningga, apakah imam ahmad melakukan tahlilan untuk gurunya?
    Jawabannya TIDAK ,

    Jadi tahlilan itu ajaran dari mana??
    tolong datangkan dalilnya,
    Jika ada dalil yg shahih dari rasulullah, maka saya akan melakukannya,..

    Jika itu diajarkan oleh rasulullah, maka para sahabat sudah berlomba-lomba melakukannya, dan pasti ada riwayatnya, hadits2nya,.

    nyatanya,.. semua adalah ajaran yg diada-adakan,.. dan lucunya, mungkin ajaran ini cuma terkenal di indonesia saja,atau negara melayu,

    Banyak keluarga yang terhibur?? jujur saja dong mas, banyak keluarga yang terbebani dengan biaya yg sangat banyak untuk acara tahlilan ini, bahkan sampai dibela-belain berhutang,.. ini adalah musibah,.. sudah terkena musibah kematian, eh malah ditambah2 lagi musibahnya,..

    • waduh.. makai hadits palsu?? kalo mau menuduh, datangkan bukti jangan main asal tuduh! jangan dimakan mentah-mentah perkataan para guru-guru anda mentang-mentang mereka mengaku bersanad!

      atau akan menjadi kenyataan yang benar kata al-imam asy-Syafi’i rahimahullaahu ta’ala: “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dzhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu”, dan perkataan beliau: “Aku tidak pernah melihat seorang shufi yang berakal. Seorang yang telah bersama kaum shufiyah selama 40 hari, tidak mungkin kembali akalnya” [lihat Mukhalafatush Shufiyah lil Imam asy-Syafi’i].

  5. Mas admin aku pengen iphone nya tapi aq gak nemu dalil ttg tahlilan..
    Tp mas aq ada kaset CD ttg asal usul tahlian ternyata itu dari agama hindu.. Sayangnya ritual tahlilan tdk di patenkan sama hindu. Coba aja di patenkan, pasti org islam yg hobi tahlilan gak mau lagi tahlilan 😀

    Itu bisa jd dalil gak? Hehehe.. Aq dapat iphone gak mas?

    He..he..he…. ya ngga dapet lah, kan syarat dan ketentuan berlaku, datangkan dalilnya,.. kalau dari agama hindu, itu bukan dalil,..ayoo,.. cari dalilnya,..

  6. Assalamu Alaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    Mas Admin, saya mahu tambahin hadiahnya boleh tak? Bagi sesiapa saja yang bisa datangkan dalil mengenai tahlilan, saya beri dia EMAS 1000 gr cash. Ayo ayo pelaku Bidah Tahlilan, silakan berlumba lumba cari dalil tahlilan.

    wah, bagus tuh, mudah2an semakin banyak yang berlomba-lomba,.. ayo… siapa yg mau dapet rejeki nomplok ini,..

    Wassalam
    Abu Jafar Rizieq
    Petrobras Brazil

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

  7. Bismillahirrahmaanirrahiim

    Selama saya masih hidup, saya juga mau nambahin hadiah kuis ini yaitu sebuah motor sport, silahkan pilih merek dan ccnya, bahkan saya berani ngasih sebuah rumah yang berlokasi di pondok cikunir indah sebelum rumah itu terjual

    silahkan pak admin, kalau ada khabar saya tolong dihubungi

    Ayo… ayoo… siapa yang mau nih, hadiahnya nambah,.. jazakumullahu khairan,..

  8. mas admin.. saya naksir deh sama iPhone-nya..
    kalo dalilnya dari ulama su’ tukang ngebid’ah yang ngakunya bersanad, boleh nggak?
    atau dari ulama agama Syi’ah Rafidhah yang terkenal tukang taqiyah kelas dunia, boleh gak?
    saya jamin, pasti dalil-dalilnya punya tingkat kemaudhu’annya 100%!

    Syarat dan ketentuan berlaku mas,.. he..he..he.. hadiahnya nambah lagi tuh, dapet rumah, bukan iphone lagi

  9. Jazzakumullah telah menulis tentang masalah ini. semoga Banyak yang tersentuh hatinya tentang kegiatan2 selamatan kematian yang tidak memiliki dasar ilmu. dan kembali kepada Agama Rasulullah sesuai dengan pemahaman para sahabat

    Amiin,..

  10. saya mantan kristen,
    di kristen juga ada, yang mememperingati kematian 1-7, 40, 100 setahun
    namun kebanyakan sih emang 40 hari dan setahun saja, dengan dalil mereka yesus naik ke langit hari ke 40

    Alhamdulillah atas nikmat islam..

  11. asalamualaikum wr wb

    terimakasih atas pencerahannya, ibadah hanya sebatas contoh yang diberikan oleh Rosulullah, jadi yang baik itu belum tentu benar, yang benar yaitu yang dicontohkan oleh Rosulullah, kebanyakan dari kita hanya mengira-ira saja asal baik itu benar, tidak mau melihat contoh dari nabi karena mereka mendewakan akal dan kepandaian mereka

    Wa’alalikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    betul apa kata anda mas,.

    Jazakallahu khairan,

  12. Orang berakal pasti ga bakalan mau ikutan kuis ini…Hehehehe

    Orang berakal ya pasti ngerti dalil, dan kuis ini terbuka bagi siapa saja, baik orang berakal dan tidak berakal,. he..he..he..

  13. Assalamualaikum…
    Maaf, ane mau datangkan dalil sohih tentang tahlilan yang diadakan hari ke 3, 7, 40, 100, setahun dst.
    Dalil sohih ini bisa anda dapatkan pada KITAB SAMAWEDHA SAMHITA BUKU SATU,BAGIAN SATU,HALAMAN 20.

    Bunyinya :
    “PURWACIKA PRATAKA PRATAKA PRAMOREDYA RSI BARAWAJAH MEDANTITISUDI PURMURTI TAYURWANTARA MAWAEDA DEWATA AGNI CANDRA GAYATRI AYATNYA AGNA AYAHI WITHAIGRANO HAMYADITAHI LILTASTASI BARNESI AGNE”.

    “Lakukanlah pengorbanan pada orang tuamu dan lakukanlah kirim do’a pada orang tuamu dihari pertama, ke tiga, ke tujuh, empat puluh, seratus, mendak pisan, mendhak pindho, nyewu(1000 harinya)”.

    Dalil ini bener-bener SOHIH 100% (cuman memang bukan dari Penuntun kita Rasulullah SAW), tapi tetep aja sohih to menurut Samawedha Samhita??? Jadi Ane dapet Iphone gak yah? Yess Yess Yesssssssssssssssssssss……………….Astaghfirullah nyebut masss nyebuuuttt…..

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    Wah, anda belum beruntung mas,. karena yang anda datangkan itu DALIL SHAHIH DARI KITAB HINDU, jadi Iphone, Motorsport,rumah,sebidang tanah,. masih belum bisa anda miliki,

    Bagi yang lain yang mau mencoba, silahkan, masih dibuka kuis ini, monggo,..

    • Anda bilang “Orang berakal ya pasti ngerti dalil, dan kuis ini terbuka bagi siapa saja, baik orang berakal dan tidak berakal,. he..he..he..”

      Sekarang saya mau tanya, anda berakal nggak?? kok menanyakan sesuatu yang tidak ada jawabannya??? kok menanyakan sesuatu yang seandainya orang menjawab pun pasti akan salah?

      Saudaraku yang dimuliakan Allah, ingatlah untuk tidak melampaui batas. dengan tetap membuka kuis ini, tanpa sadar anda juga telah membuka pintu perpecahan umat. Semoga Allah selalu menjaga hati kita selalu lurus di jalan Al Qur’an dan Sunnah. Amin

      terimakasih,
      nah, bagus komentar anda, yg ini
      kok menanyakan sesuatu yang tidak ada jawabannya??? kok menanyakan sesuatu yang seandainya orang menjawab pun pasti akan salah?

      Jika ini keyakinan anda dan kaum muslimin, maka mereka akan meninggalkan ajaran yang memang tidak ada perintahnya dari Rasulullah,. bukankah demikian?
      Dan itulah sumber perpecahan, amalan-amalan yang tidak ada contohnya dari rasulullah, bukan malah menuduh orang yang mengingatkan bahaya amalan bidah menjadi orang yang memecahbelah,. kok jadi terbalik-balik gini ya?

      • Assalamualaikum…

        “Akan ada segolongan umatku yang tetap atas Kebenaran sampai Hari Kiamat dan mereka tetap atas Kebenaran itu.” HR. Bukhari dan Muslim.

        Rasulullah Saw lewat riwayat Jabir Ibnu Abdullah bersabda :“Akan ada generasi penerus dari umatku yang akan memperjuangkan yang haq, kamu akan mengetahui mereka nanti pada hari kiamat, dan kemudian Isa bin Maryam akan datang, dan orang-orang akan berkata, “Wahai Isa, pimpinlah jamaa’ah (sholat), ia akan berkata, “Tidak, kamu memimpin satu sama lain, Allah memberikan kehormatan pada umat ini (Islam) bahwa tidak seorang pun akan memimpin mereka kecuali Rasulullah SAW dan orang-orang mereka sendiri.”

        Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

        “Orang-orang Yahudi terpecah kedalam 71 atau 72 golongan, demikian juga orang-orang Nasrani, dan umatku akan terbagi kedalam 73 golongan.” HR. Sunan Abu Daud.

        Dalam sebuah kesempatan, Muawiyah bin Abu Sofyan berdiri dan memberikan khutbah dan dalam khutbahnya diriwayatkan bahwa dia berkata, “Rasulullah SAW bangkit dan memberikan khutbah, dalam khutbahnya beliau berkata, ‘Millah ini akan terbagi ke dalam 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, (hanya) satu yang masuk surga, mereka itu Al-Jamaa’ah, Al-Jamaa’ah. Dan dari kalangan umatku akan ada golongan yang mengikuti hawa nafsunya, seperti anjing mengikuti tuannya, sampai hawa nafsunya itu tidak menyisakan anggota tubuh, daging, urat nadi (pembuluh darah) maupun tulang kecuali semua mengikuti hawa nafsunya.” HR. Sunan Abu Daud.

        Dari Auf bin Malik, dia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:”Yahudi telah berpecah menjadi 71 golongan, satu golongan di surga dan 70 golongan di neraka. Dan Nashara telah berpecah belah menjadi 72 golongan, 71 golongan di neraka dan satu di surga. Dan demi Allah yang jiwa Muhammad ada dalam tangan-Nya umatku ini pasti akan berpecah belah menjadi 73 golongan, satu golongan di surga dan 72 golongan di neraka.” Lalu beliau ditanya: “Wahai Rasulullah siapakah mereka ?” Beliau menjawab: “Al Jamaah.” HR Sunan Ibnu Majah.

        Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Orang-orang Bani Israil akan terpecah menjadi 71 golongan dan umatku akan terpecah kedalam 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, kecuali satu, yaitu Al-Jamaa’ah.” HR. Sunan Ibnu Majah.

        “Bahwasannya bani Israel telah berfirqah sebanyak 72 firqah dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya akan masuk Neraka kecuali satu.” Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya: “Siapakah yang satu itu Ya Rasulullah?” Nabi menjawab: ” Yang satu itu ialah orang yang berpegang sebagai peganganku dan pegangan sahabat-sahabatku.” HR Imam Tirmizi.

        Abdullah Ibnu Amru meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Umatku akan menyerupai Bani Israil selangkah demi selangkah. Bahkan jika seseorang dari mereka menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, seseorang dari umatku juga akan mengikutinya. Kaum Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, hanya satu yang masuk surga.” Kami (para shahabat) bertanya, “Yang mana yang selamat ?” Rasulullah Saw menjawab, “ Yang mengikutiku dan para sahabatku.” HR Imam Tirmizi.

        Diriwayatkan oleh Imam Thabrani, ”Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad di tangan-Nya, akan berpecah umatku sebanyak 73 firqah, yang satu masuk Syurga dan yang lain masuk Neraka.” Bertanya para Sahabat: “Siapakah (yang tidak masuk Neraka) itu Ya Rasulullah?” Nabi menjawab: “Ahlussunnah wal Jamaah.”

        Mu’awiyah Ibnu Abu Sofyan meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) dalam masalah agamanya terbagi menjadi 72 golongan dan dari umat ini (Islam) akan terbagi menjadi 73 golongan, seluruhnya masuk neraka, satu golongan yang akan masuk surga, mereka itu Al-Jamaa’ah, Al-Jamaa’ah. Dan akan ada dari umatku yang mengikuti hawa nasfsunya seperti anjing mengikuti tuannya, sampai hawa nafsunya itu tidak menyisakan anggota tubuh, daging, pembuluh darah, maupun tulang kecuali semua mengikuti hawa nafsunya. Wahai orang Arab! Jika kamu tidak bangkit dan mengikuti apa yang dibawa Nabimu…” HR.Musnad Imam Ahmad

        Saudaraku yang dimuliakan oleh Allah. Mengingatkan bahaya Bid’ah adalah amalan yang sangat sangat terpuji. Semoga Allah memberikanmu pahala yang melimpah.
        Perpecahan umat yang saya maksud pada posting sebelumnya adalah perpecahan seperti kampung A membenci kampung B hanya karena berbeda pandangan hingga terjadi kekerasan secara fisik.

        Mungkin yang anda maksud perpecahan adalah berbeda dengan yang saya maksud. Mungkin perpecahan yang anda maksud itu yang sudah ada dijelaskan pada hadits2 diatas. Rasulullah saja waktu berdoa kepada Allah agar kaum muslimin tidak terpecah belah, Allah tidak mengabulkannya.

        Saya pun hanya mengingatkan, Janganlah melampaui batas. hidayah hanya Allah yang bisa berikan.

        “Akan ada segolongan umatku yang tetap atas Kebenaran sampai Hari Kiamat dan mereka tetap atas Kebenaran itu.” HR. Bukhari dan Muslim.

        Saya akui saya masih sangat sangat jauh dari tahu soal islam. Saya ingin belajar dan menerima dengan ikhlas, meskipun banyak keluarga yang bilang tahlilan itu banyak pahala, harus ikut harus ikut….dst. Saya sampai menitikkan air mata karena kebodohan saya tidak bisa memberikan penjelasan yang mampu mereka pahami. Mungkin karena itulah hidayah memang hanya Allah yang berikan.

        Wa’alaikumussalam warahmatullah,
        Mudah-mudahan Allah memberikan semangat kepada anda untuk meniti kebenaran, dan memegang dan mengamalkan kebenaran tersebut, demikian pula mudah-mudahan Allah berikan hidayah kepada semua orang yang berusaha mencarinya,
        Rasulullah sudah mengabarkan kepada kita bahwa umatnya akan terpecah, dan itu pasti akan terjadi, itu sudah sunnatullah dan tanda benarnya apa yang dikabarkan oleh rasulullah. Namun banyak yang belum tahu, apa penyebab timbulnya perpecahan tersebut, alhamdulillah salah satunya sudah saya postingkan disini,silahkan dibaca

        Adapun permusuhan antara kampung A dan kampung B , ini mungkin timbul dari tidak hikmah dalam berdakwah,
        Ilmu yang kita dapatkan, tidaklah langsung kita dakwahkan,apalagi apa yg kita dapat itu berseberangan dengan tradisi masyarakat sehingga jika kita dakwahkan akan timbul gejolak, maka dalam hal ini kita bersabar, paling tidak ilmu tersebut kita amalkan sendiri, dan kita ajarkan kepada orang terdekat kita,atau yang dibawah kekuasaan kita, bukan langsung terjun ke masyarakat menyampaikan apa yg kita dapat,.ini beda lagi urusannya. Untuk dakwah kita butuh fikih dakwah, mana yang lebih penting utk disampaikan, tentu dengan cara-cara yang hikmah pula, cara yang elegan,

        Saya ingin bertanya beberapa pertanyaan untuk anda :
        1. Apakah tahlilan, selamatan 3 hari 7,40,100 dst itu termasuk dalam kategori syirik? mengapa bisa begitu?

        Tahlil bukanlah kesyirikan, sebab tahlil itu dianjurkan,bahkan dzikir yang paling utama,kalimat yang paling tinggi, namun kalau TAHLILAN SELAMATAN KEMATIAN 3 HARI DST , ini adalah pelecehan terhadap kalimat tahlil itu sendiri.
        TAHLIL adalah ibadah, dan yang menentukan syariat tahlil adalah ALLAH, jadi kita bertahlil harus sesuai ketentuan dari Allah, baik lafadznya atau tatacaranya.
        Jika kita menyelisihi atau membuat tatacara sendiri dalam bertahlil, maka ini seperti kita mensejajarkan diri dengan pembuat syariat ini, yaitu Allah. ini adalah kesyirikan dalam pensyariatan.
        Jadi tahlilan selamatan kematian 3 hari,7,40,100 itu adalah amalan yg tidak ada perintahnya dari Allah, tidak diajarkan oleh rasulullah, juga tidak ada sahabat yang mengerjakannya. Ini termasuk perbuatan bidah, amalan yang tertolak.

        Jadi tolong dibedakan antara TAHLIL dan TAHLILAN SELAMATAN KEMATIAN

        2. Apakah mendengarkan dan menyayikan lagu dengan alat musik (band) juga berdosa?

        kedua hal tersebut adalah perkara yang diharamkan dalam islam, silahkan baca postingan tentang hal tersebut disini

        Walaupun yang mendengarkan atau yang menyanyikan itu seorang ustadz,kyiai,habib, atau bang haji, itu tidak akan merubah hukum haramnya musik dan lagu, silahkan baca postingannya disini

        3. Dosa mana yang lebih besar, meninggalkan sholat wajib atau mengikuti tahlilan atau mendengarkan musik?

        Tergantung keyakinan pelakunya mas, apa keyakinan orang tsb meninggalkan shalat wajib, apakah karena malas, atau karena berkeyakinan tidak wajib, hukumnya berbeda-beda,.
        Demikian pula jika ada yang mengikuti tahlilan kematian, hukumnya berbeda-beda pula, jika dia ikut-ikutan, atau berkeyakinan bahwa amalan tahlilan kematian itu merupakan amalan yang disyariatkan dalam islam , ini berbeda pula hukumnya,
        Mendengarkan musik sudah jelas keharamannya,. ini maksiat kepada Allah,
        Apa maksud anda bertanya seperti diatas? ketiga hal tersebut merupakan perbuatan dosa, lalu anda bertanya mana yang lebih besar dosanya?
        Saya berikan contoh siksa neraka yang paling ringan, yaitu diberikan sendal dari api neraka, dipakai oleh kakinya, dan mendidihlah otaknya, itu siksa paling ringan di neraka,
        Jadi silahkan pilih sendiri saja,

        4. Apakah mengikuti tahlilan, mendengarkan musik, meninggalkan sholat adalah dosa yang tidak diampuni Allah?

        Dosa besar bisa diampuni dengan cara taubat nasuha,
        Bagaimana syarat diterimanya taubat? silahkan baca disini postingannya
        Taubat dari mendengarkan musik, silahkan baca disini

        Terimakasih
        Wassalam….

        sama-sama, mudah2an Allah menunjuki orang yang berusaha mencari kebenaran untuk diamalkan,.
        Wa’alaikumussalam warahmatullah

  14. Assalamualaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    Sebelumnya terimakasih atas ilmu yang anda berikan, sangat bermanfaat bagi saya. Tapi semoga komen komen saya tidak dianggap sebagai perdebatan karena Rasulullah SAW pernah bersabda :

    “Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.”
    (HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah)

    Muslim mana sih yang tidak mau rumah di surga?

    Alhamdulillah, mudah-mudahan kita diberi petunjuk kepada hidayah, dan menjaga hidayah tersebut,.
    Alhamdulillah anda paham tentang hadits diatas, demikian pula saya, saya tidak mau berdebat,
    Saya merasa senang anda mencantumkan hadits diatas,.

    Anda bertanya kenapa saya bertanya seperti diatas?
    Pada dasarnya setiap muslim adalah takut akan dosa dan mengharapkan pahala dari Allah SWT.

    10 Dosa besar menurut Al Qur’an
    1. Syirik (menyekutukan Allah SWT). An Nisaa:48 , Al Maidah:72
    2. Berputus asa dari mendapatkan rahmat Allah SWT. Yusuf:87
    3. Merasa aman dari ancaman Allah SWT. Al A’raaf:99
    4. Durhaka kepada kedua orang tua. Maryam:32
    5. Membunuh sesama mukmin. An Nisaa:93
    6. Menuduh wanita baik-baik berbuat zina. An Nuur:23
    7. memakan riba. Al Baqarah:275
    8. Lari dari medan pertempuran. An Anfaal:16
    9. Memakan harta anak yatim. An Nisaa:10
    10. Zina. Al Furqaan:68-69

    Seperti yang saya tanyakan sebelumnya, apakah tahlilan yang anda kuiskan termasuk kategori syirik? Karena dalam Al Qur’an disebutkan bahwa Allah mengampuni semua dosa kecuali syirik dengan taubat nasuha.

    Sebagaimana yang sdh saya jawab pada pertanyaan anda, Tahlilan yang dimaksud disini adalah tahlilan kematian, bukan dzikir dengan tahlil, dan tahlilan kematian itu sudah umum disebut dengan sebutan TAHLILAN,

    Apakah TAHLILAN termasuk katagori syirik? sudah saya jawab, itu perlu dirinci, sudah ada jawabannya dikomentar sebelum ini,
    Dan yang jelas TAHLILAN itu adalah AMALAN BIDAH,rasulullah tidak pernah mengajarkannya, demikian pula sahabat,tabiin, tabiut tabiin, juga imam yang empat, mereka semua tidak melakukannya,.

    Sedangkan AMALAN BIDAH itu lebih DISUKAI OLEH IBLIS, daripada perbuatan maksiat, KENAPA? silahkan baca disini ulasannya, KENAPA BIDAH LEBIH DICINTAI OLEH IBLIS , baca disini ya?

    Tolong baca hadits dibawah ini :
    “Tidak seseorang memasuki waktu shalat wajib, kemudian ia berwudhu’ dan shalat dengan khusyu’ dan memelihara ruku’nya, melainkan akan terhapus dosa-dosanya yang telah lalu selama tidak melakukan dosa besar, hal itu berlaku sepanjang masa.” (HR. Muslim).

    “Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim).

    Mendengarkan musik atau menyanyikannya dengan alat musik adalah haram dan berdosa. Apakah ibadah shalat wajib kita bisa menghapus dosa dosa yang disebutkan dalam hadits diatas?

    TAHLILAN, AMALAN BIDAH, MENDENGAR MUSIK, itu adalah DOSA BESAR, bukan DOSA KECIL,
    DOsa BESAR bisa diampuni dengan cara BERTAUBAT,
    Jika ada orang shalat, namun terus menerus melakukan PERBUATAN BIDAH, dan BIDAH Ini tidak hanya sebatas TAHLILAN saja yah, dalam shalat pun banyak kita jumpai kaum muslimin melakukan amalan-amalan bidah, demikian pula ketika wudhu, jadi Allah tidak akan menerima amalan ibadah yang dilakukan dengan cara yang bidah,

    Bahkan AMALAN BIDAH itu salah satu penyebab DATANGNYA MURKA ALLAH, silahkan anda baca APA SIH DAMPAK DARI AMALAN BIDAH, silahkan baca disini

    Jika ada orang yang ingin TAUBAT DARI BIDAH, baik itu TAHLILAN, atau amalan-amalan bidah lainnya, juga TAUBAT dari MENDENGARKAN MUSIK,. maka orang tersebut WAJIB MENINGGALKAN AMALAN BIDAHNYA, DAN WAJIB MENINGGALKAN MUSIK dan tidak mendengarkannya

    lihat juga hadits dibawah ini :
    ”Apabila salah seorang di antara kalian selesai makan, hendaklah dia tidak membersihkan tangannya sehingga menjilatinya”. (HR. Bukhori, Muslim, Ahmad, Tabrani)

    ”Barangsiapa makan di piring, lalu ia menjilatinya, maka piring itu akan memohonkan ampun untuknya”. (HR. Turmudzi, Ibnu Majah, Ahmad)

    Apakah anda sudah mengamalkan hadits diatas?

    Alhamdulillah, saya sering melakukannya,

    apakah bila kita selesai makan kemudian langsung cuci tangan pakai sabun dan tidak menjilati jari atau piring kita mendapatkan dosa? jika kita lakukan ini masuk kategori bid’ah atau bukan? bid’ah dalam lingkup ibadah atau bukan?

    Kita bisa gabungkan, setelah kita jilati tangan dan piring kita, maka kita mencuci tangan kita hingga bersih, baik pakai sabun atau tidak,

    Apakah jika kita tidak menjilati tangan kita, tapi langsung mencuci dengan sabun itu termasuk bidah? tentu tidak, hanya kita meninggalkan hal yang utama, padahal kita tidak tahu, mana makanan yang mengandung barakah, padahal jika kita menjilati tangan dan piring kita, kita dapat barakah tersebut, dan menjilat tangan itu sunnah, jika dikerjakan dapat pahala, ditinggalkan tdk mendapat dosa,

    Kita tidak berdosa jika tidak melakukan menjilat tangan kita, namun kita tidak mendapatkan pahala mengamalkan sunnah rasul tersebut,

    Kita baru berdosa jika kita mengingkari sunnah rasul tersebut, atau melecehkan/mengolok-olok sunnah tersebut,

    Ingat, bidah itu hanya sebatas masalah agama, masalah ibadah, bukan untuk urusan dunia,

    wasalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  15. Bismillah…
    Assalamualaikum, …
    Skali-skali mau ikutan ah hehehe….
    Hadistnya:
    ” innaa’malubinniat”
    Jd, jgn niat karena untuk meratapi si mayit, melainkan dengan acara tahlilan kita dapat menyambung ukhwah sesama tetangga dan kerabat dan untuk mengingat akan datangnya kematian.hehe…. Bukan kah Allah Maha Melihat dan Pengampun…
    Seperti di surah Annur ayat 22: Dan janganlah orang-orang yang berharta serta lapang hidupnya dari kalangan kamu, bersumpah tidak mahu lagi memberi bantuan kepada kaum kerabat dan orang-orang miskin serta orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah dan (sebaliknya) hendaklah mereka memaafkan serta melupakan kesalahan orang-orang itu; tidakkah kamu suka supaya Allah mengampunkan dosa kamu? Dan (ingatlah) Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.
    Wasalam…
    Semoga nyambung yah jawabannya… Walau byk maksa heheh….

    Wa’alaikumussalam warahmatullah
    Terimakasih telah ikut kuis ini,
    Siapa yg lbh paham tentang hadits dan ayat diatas setelah rasulullah?
    Tentu jawabannya adalah PARA SAHABAT,

    namunnn..

    Tidak kita dapati satupun sahabat yg melakukan ritual tahlilan kematian, bakan rasulullah ketika meninggal tidak ada yg mentahlilkan beliau di hari2 kematiannya

    Apakah orang-orang yang hidup jauh berabad-abad dari jaman rasulullah lebih paham tntang hadits dan ayat diatas?
    Ini tentu bikin kita geli dan merasa sangat lucu,

    Imam syafii saja tidak melakukannya, padahal di indonesia khsusnya mengaku madzhabnya syafii,

    so,.. anda belum beruntung, tidak bisa mendapatkan hadiah kuis ini,. silahkan coba lagi nyari jawaban lain,.

  16. Assalamualaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    Sudah dibilang berkali kali dan dikatakan itu pertanyaan memang tidak ada jawabannya. Masiiih saja pada keras kepala yah. Dan buat yang pasang kuis juga sama keras kepalanya. Ini kuis tidak ada jawabannya. Kalaupun ada jawabannya ya sudah saya jawab dibawah, dalilnya hanya dari kitab samawedha. Titik! Kalau bid’ah ya bid’ah, dalil sudah jelas jangan ditafsir yang macam2, jangan pula dikuiskan seolah olah memang ada jawabannya.

    Terimakasih mas,
    Betul sekali itu tidak ada dalilnya, makanya saya buat kuis ini, barangkali saja ada yang bisa mendatangkannya,..
    Dan hendaknya muslim yang cerdas juga bisa mengambil sikap, jika tidak ada dalilnya, bahkan ada malah dari kitab hindu,
    Kok Ritual tersebut tetap diamalkan? ini sebenarnya motifasi saya membuat kuis ini,. JADILAH MUSLIM YANG CERDAS,..

    Buat admin, melarang para ahli bid’ah sama aja melarang orang nasrani ke gereja, melarang budha ke kuil,melarang muslim ke masjid. Artinya mereka tidak akan mau! Ingat ahlusunnah adalah kaum minoritas, hanya 1 dari 73, ini sudah ditetapkan.

    Dan betul sekali, orang yang melakukan amalan bidah itu adalah amalan orang-orang bodoh yang tidak berdasarkan kepada dalil dari pembuat syariat islam ini, namun amalan tersebut dibuat oleh manusia sendiri, sebagaimana orang-orang nasrani membuat-buat syariat sendiri, beribadah diatas kebodohan,

    Dan orang yang berbuat bidah, beramal dengan amalan yg baru, ini pasti akan muncul, sebab ini adalah sabda rasul, akan ada umatnya yang beramal dengan amalan-amalan yg tidak ada contohnya,

    Dan tugas kita adalah mengingatkan kaum muslimin dari beramal seperti itu,

    Hanya minoritas! Dan Allah berjanji akan membangkitkan seseorang untuk menegakkan kebenaran dan menjaga kaum ini setiap 100th.
    Beruntunglah mereka yang berada pada kaum minoritas.

    Sudah, kuis ditutup saja, ganti kuis yang baru.
    Wassalam

    Kuis akan tetap dipertahankan, barangkali saja ada yang mendapatkan dalilnya,.
    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    • kalau admin bilang “barangkali saja ada yang mendapatkan dalilnya” justru meragukan bahwa hal ini bid’ah dong dan hal ini ada kemungkinan benarnya hehehe…to admin afwan ya…

      Bukan gitu mas, ini hanya apa yah istilahnya,.. perumpamaanya ibarat ada orang yang mencari hal yang mustahil, dan orang tsb sudah kita beritahu bahwa itu mustahil ada, kita sudah berusaha meyakinkannya, namun orang tsb tetap ngeyel mencari sesuatu yg mustahil tsb, dan kita tdk bisa mengingatkannya lagi, maka kita berkat : ” ya sudah, silahkan saja cari , mudah2an saja ketemu apa yg kamu cari”… dengan keyakinan di hati kita, mustahil ada hal yg dicarinya,.

      begitu mas,.

  17. Saya Mu’allaf Mantan Kristen
    Memperingati Kematian 1-7, 40,100 setahun, di agama kristen juga ada loch :p

    CAM KAN : Islam itu harus menyelisihi orang kafir dalam beribadah
    “Man tasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum (Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari mereka)

    Jika kalian ngeyel tidak percaya, ini situs orang kafir nasrani
    http://albertrumampuk.blogspot.com/2012/03/haruskah-peringatan-empat-puluh-hari.html

    Alhamdulillah, Allah memberikan hidayah kepada anda masuk ke dalam islam, mudah2an semakin banyak yang mengikuti jejak anda,. ini sungguh keuntungan dan rahmat yang sangat besar sekali,.

    Bagi penggemar ritual tahlillan kematian, ini nambah referensinya, ternyata bukan dari ajaran hindu saja, dalam agama kristenpun diperingati juga ritual 40 hari kematian,.

    silahkan anda berpikir,..

  18. dalilnya satu aja, jadi nggak perlu repot………..

    ” Barang Siapa yang mengadakan sunnah/Jalan yang baik, maka baginya pahala atas jalan yang ditempuhnya di tambah pahala orang-orang yang mengerjakannya hingga hari kiamat. dan barang siapa yang mengadakan sunnah/jalan yang buruk, maka atasnya dosa karena jalan buruk yang di tempuhnya ditambah dosa orang yang mengerjakannya sampai hari kiamat ( HR. Bukhari )

    jadi orang mengerjakan kegiatan ini adalah orang yang menganggap adalah baik, maka kebaikan baginya dan orang yang mengikutinya. dan bagi yang menganggap kegiatan ini buruk maka janganlah dibahas dan dibicarakan, karena membicarakannya saja bisa jadi keburukan bagi anda dan orang-orang yang menganggap ini keburukan hingga hari kiamat. jadi tanggung jawab masing-masing, nggak perlu di perdebatkan . . . Wallahu A’lam

    Terimakasih mas wawan, sudah memberikan dalilnya,.

    Jika itu sebagai dalil, kenapa para sahabat yang mengetahui ucapan rasulullah itu tidak melakukan atau melaksanakan dalil tersebut sebagaimana orang-orang yang melakukan tahlilan kematian??… kan sangat lucu, imam yang empat juga tidak melakukannya, padahal mereka juga tahu tentang dalil diatas,.tapi kenapa kok mereka tidak melakukannya?

    Yang lebih lucu, kok malah orang-orang indonesia yang hidup jauh dari jaman mereka pada getol melakukannya?

    Apakah para sahabat dan imam yang empat salah dalam menafsirkan dalil tersebut? apakah kyai atau orang indonesia yang lebih paham tentang dalil tersebut? sungguh lucu ya,.

    Tidakkah anda baca penjelasan dari dalil yang anda bawakan? silahkan baca penjelasan hadits diatas, sudah saya posting disini

  19. kuis untuk anda:”Apakah kitab suci Al-Qur’an yang ada seperti sekarang (lengkap 30 juzz) itu ada dalil di Al-Qur’an atau Al-Hadits ?

    terimakasih mas ARdiansyah, tentang pembukuan alquran, ada perintahnya,.
    anda tahu kan, apa sih nama lain alquran? bukankah Allah menyebutnya kitab? silahkan anda baca surat albaqarah ayat 2, pasti anda hafal, nah,.. sekarang, apa sih arti kitab itu?

    Kalau ada dalilnya apakah Rosululloh Muhammad s.a.w juga membukukan Al-Qur’an 30 juzz,Kalau Rosululloh saja tidak melakukan dan tidak pula memerintahkan apakah termasuk bid’ah?

    Rasulullah memerintahkan untuk menuliskan alquran, silahkan baca ulasannya disini

    atau berarti Rosululloh s.a.w tidak memahami perintah Allooh SWT ?

    kalau bid’ah masuk neraka berarti semua orang yang memiliki Al-Qur’an 30 juzz siap-siap masuk neraka.

    Sepertinya anda belum memahami apa yang disebut dengan bidah, sebaiknya silahkan baca postingan tentang bidah, silahkan baca disini

  20. assalamualaikum, mau tanya mas, apakah wali songo juga melakukan bid’ah ?
    seperti wayang apakah juga bid’ah ?
    apa gak bikin pembahasan tentang wali songo juga di blog ini ?

    wassalam

    Arief

    Wa’alaikumussalam warahmatullaha,
    terimakasih mas arief,.
    tentang walisanga sudah pernah diposting mas, silahkan baca disini

  21. bang admin> d lingkungan saya, juga keluarga masih ada yg melakukan tahlilan?apa tindakan kita???

    ijin share bang!!??
    jazakallah khairan…..!!

    Anda tetap berbuat baik dengan mereka, berakhlak baik, sebab mereka semua melakukan hal tersebut karena kebodohan, ikut tradisi saja,
    Tidak usah mengkritik tahlilan jika belum punya ilmunya, tapi kenalkan atau dakwahkan tentang pentingnya akidah, nanti dengan sendirinya setelah akidah yang benar terpatri di hati mereka, dengan sendirinya pula mereka akan sadar, bahwa agama itu bukan berdasarkan tradisi, tapi berdasarkan dalil yang shahih, dan pemahaman yang benar, silahkan anda baca ebook bermanfaat 14 contoh sikap hikmah dalam berdakwah, silahkan save as link ini

  22. apakah rosulullah tahlilan saat putra ny wafat,serta wafat ny khadijah?

    Istri beliau yang sangat beliau cintai Khodijah radhiallahu ‘anhaa juga meninggal di masa hidup beliau, akan tetapi sama sekali tidak beliau tahlilkan. Jangankan hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, ke-1000 bahkan sehari saja tidak beliau tahlilkan.

    Demikian juga kerabat-kerabat beliau yang beliau cintai meninggal di masa hidup beliau, seperti paman beliau Hamzah bin Abdil Muthholib, sepupu beliau Ja’far bin Abi Thoolib, dan juga sekian banyak sahabat-sahabat beliau yang meninggal di medan pertempuran, tidak seorangpun dari mereka yang ditahlilkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far karena mereka telah dihinggapi perkara yang menyibukkan mereka.” (HR. Abu Daud no. 3132 dan Tirmidzi no. 998. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

    Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Yang disunnahkan ketika ada yang meninggal dunia adalah keluarga mayit yang dibuatkan makanan.” (Majmu’ Al Fatawa, 24: 316).

    bang admin sy mengomentari ceramah di youtube Penjelasan tentang Majlis Tahlil dan Kenduri Arwah .apakah komentar ini baik>??

    ya, bisa saja, tapi masalahnya para aswaja pendukung tahlilan tidak menganggap jika ada penyebutan Syaikh Albani atau Ibnu taimiyah, kedua ulama tersebut merupakan momok bagi mereka,.

  23. Assalamu’alaikum…

    Salam knal buat yg mmposting kuis ini.

    Begini, klo masalah bid’ah memang banyak yg di lakukan jaman sekarang, Nabi kita tidak pernah naik mobil, waktu hijrah tentu kita harus naik unta jga ikut Rasul dan sahabat rasul, Nabi dan para sahabat dan ulama dulu tidak pernah menyebar dan menbahas hadis dan dalil lewat internet, eh bnyak sekarang di lakukan dakwah…

    So, jangan di perdebat masalah tentang perselisih paham, karena masalah tersebut tidak mmbuahi hasil yg baik tapi perpecahan yg di dapati, semakin terpecah umat islam maka semakin mudah orang kafir meruntuhkan islam..

    Wallahu’alam

    wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    terimakasih hamba allah, sudh komentar disini, mudah2an bisa menambah wawasan,.
    Urusan bidah, itu ngga menyangkut urusan dunia seperti mobil,pesawat,internet,hape,becak,sepeda,dan masalah dunia lainnya,.

    Urusan bidah itu hanya menyangkut perkara ibadah saja,
    urusan dunia itu hukum asalnya boleh, sebelum ada dalil yang melarang, sedangkan urusan ibadah hukum asalnya terlarang, sebelum ada dalil yang menyuruh,.

    Jadi untuk urusan ibadah itu NUNGGU DALIL, ada dalil dikerjakan, tidak ada dalil jangan pernah kerjakan,.

    Mungkin anda belum paham arti bidah yo kang,. silahkan baca ulasan ini

  24. ya walo saya awam, masalah bid’ah ya tau, wlo blum kyak anda, tapi masalah tahlilan melanggar syari’at atau tidak ya tetap berjlan di klangan umat islam di indonesia, karna smua itu sdah di qiyas oleh Ulama trdahulu, tapi skarang bnyak yg mengatakan bid’ah, apa Ulama dulu gx tau hukum.? Shingga bnyak menanbah2 yg blum ada pada masa nabi….?

    terimakasih hamba Allah,.
    patokan kita , tauladan kita adalah Rasulullah, bukan ulama, ajengan,kyai haji,habib, atau wali,.
    Jika sesuai dengan contoh rasulullah, maka kita ikuti, jika tidak, maka jangan kita kerjakan,.

    Rasulullah tidak pernah sekalipun mengadakan tahlilan kematian, demikian pula para sahabat,. bahkan imam syafii pun ngga pernah mempraktekannya,. jadi ini ikuti tradisi siapa? silahkan baca disini dalil-dalil tentang tahlilan, ada dalilnya lho, baca disini

    Mungkin seperti nguburin kucing saja yah ngga pakai tahlilan, bisa dibaca disini

  25. kalau patokannya hanya rasulullah apa gunanya shabat dan para ulama dari jaman rasul sampai sekarang mas ?
    emang ente hidup pada jaman rasul ha….kemletak omonganmu kang kang…

    TErimakasih mas gendeng,. mudah-mudahan Allah menghilangkan kegendengan anda,
    Para sahabat adalah orang yang paling manut dengan rasulullah, mereka tidak berani melawan perintah Rasulullah, dan para sahabat menjadikan Rasulullah sebagai tauladan, sebagai contoh,

    Rasulullah memerintahkan kita untuk mengikuti pemahaman para sahabat,.
    Jadi jika kita menjadikan Rasulullah sebagai tauladan, maka kita melihat kepada siapa Rasulullah mengajarkan islam pertama kali? tentu kepada para sahabat,. makanya wajib kaum muslimin mengikuti ajaran yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabatnya,.. dengan kata lain, memahami islam dengan pemahaman para sahabat,. sebab itu SATU-SATUNYA jalan keselamatan,. silahkan baca ulasannya disini

  26. ko tahlilan di anggap bidah yah.di dalam tahlilan kan kita baca alqur’an tahmid zkir pa tu di sebut bidah.
    klo tahlil di sebut bidah sma sja klian membidahkan alquran tahmid dan dzir.coba kalian fkir dengan fikran yg jernih.

    terimakasih abo,. sudah komentar disini,.
    saya kasih perumpamaan begini mas abo,.
    Jika ada orang melakukan shalat maghrib, tapi dia melakukan bukan tiga rakaat mas, tapi lima rakaat,
    Apakah itu dianggap shalat maghrib? kan yang dibaca sama, alquran, juga dzikir-dzikir shalat, bahkan jumlah rakaatnya lebih banyak,. bacaan alqurannya lebih banyak.
    Jika kita menasehati dia, jangan shalat seperti itu,. nah, orang tersebut menjawab. kok anda melarang saya shalat maghrib?? apa jawaban anda?

    sebenarnya bukan pada masalah shalatnya, tapi orang tersebut melakukan shalat maghrib yang tidak sesuai dengan ajaran rasulullah,.
    Rasulullah mengajarkan cara shalat maghrib 3 rakaat, bukan 5 rakaat, padahal bacaan-bacaan shalatnya itu sama bukan?

    Demikian pula tentang tahlil, bukan pada masalah tahlilnya, tapi apakah tatacaranya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh rasulullah atau tidak,. ini masalahnya,..

    Rasulullah tidak pernah SEKALIPUN MELAKUKAN TAHLILAN KEMATIAN,. sudah saya posting disini

  27. Assalamualaikum warohmatullah..
    Kyaknya udh mendarah daging ya tahlilan…
    Kebanyakan bilangnya bagus,tapi cuma menurut persangkaan aj,gk ad dalilnya…..

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    yah,.. begitulah,. karena berislam berdasarkan tradisi, bukan berdasarkan dalil,

  28. saya mau bertanya adakah dalil yang melarang tahlilan……????
    klo dari kelompok anda membidahkannya, harus jelas bahwa tahlil itu bidah yang sesat ….????

    Terimakasih mas fajar, komentar yang bagus,
    Saya mau tanya kepada anda, adakah dalil yang melarang shalat maghrib dengan bahasa indonesia???
    Jika tidak ada dalilnya, apakah boleh kita melakukan shalat maghrib dengan bahasa indonesia ???

    silahkan kalau anda mau mempraktekannya,.

    satu lagi mas,.
    agar mikir, bahwa yang dijadikan patokan itu bukan dalil yang melarang, tapi ada tidak dalil yang menyuruh,.

    saya kasih contoh, adzan, itu panggilan untuk shalat 5 waktu, itu amalan yang baik,
    sekarang jika ada orang mau ke WC adzan dulu,. apakah anda berani melarang?
    Jika orang yang melakukan hal tersebut dilarang, dia ngomong seperti pertanyaan anda diatas,. ada tidak dalil yang melarang adzan ketika mau masuk WC ??? apa jawab anda??

    Ibadah itu dasarnya adalah dalil yang memerintahkan,. bukan dalil yang melarang,.
    Jika ada dalil yang memerintahkannya, maka kerjakan,. jika tidak ada dalil yang memerintahnya maka jangan kerjakan, jika dikerjakan,. maka itu bidah,. dan ngga perlu cari-cari dalil mana yang melarangnya,.

    jadi bukan sperti pemikiran anda atau habib yang sudah pernah saya posting disini

    • yang mas lontarkan itu namanya pelecehan dan melakukan sesuatu ibadah tidak pada tempatnya…..klo tahlilan banyak dalil yang mendukung…….

      Tolong dong sebutkan satu saja dalilnya,. dan dapatkan hadiahnya, anda tinggal pilih hadiahnya, mau hadiah iphone,atau hadiah motorsport,. silahkan mas fajar, lumayan kan, menyebutkan satu dalil, dan dapet hadiah, TANPA DIUNDI

      contoh mereka berkumpul untuk membaca surat yasin ( banyak dalilnya )……

      tOLONG sebutkan dalilnya,. saya tunggu ya?

      mereka berkumpul untuk berdzikir ( banyak dalilnya ) ……

      tolong sebutkan dalilnya,.

      mereka menghadiahi si mayit dengan doa ( banyak dalilnya yang memperbolehkan ) ….

      sebutkan dalilnya,

      menyediakan makan buat tamu undangan ….( banyak dalilnya )

      tolong sebutkan dalilnya,. jangan cuma bilang banyak, ingat lho, yang disebut banyak itu lebih dari dua, jadi anda wajib menyebutkan minimal 3 dalil,

      ……jadi saya tanya apa yang terlarang…..

      Jika anda tanya dalil apa ada dalil yang melarang, sampai kiamatpun tidak akan anda dapatkan, sebagaimana tidak ada dalil yang melarang shalat maghrib 5 rakaat, tidak ada satupun dalil yang melarang adzan ketika mau masuk WC,. apakah karena tidak ada dalil yang melarang lalu berarti boleh melakukan amalan tersebut????

      klo memang adat istiadat itu turun menurun dan tidak bisa ditiggalkan….menurut pandangan ulama boleh aja asal sesuai dengan syariat Islam….

      Panutan kita adalah Rasulullah,
      Dakwah rasulullah memberantas tradisi yang bertentangan dengan aturan islam,
      Perkataan ulama yang tidak sejalan dengan ajaran rasulullah, maka tidak boleh kita ikuti,
      Bukankah ulama tersebut mensyaratkan ASAL SESUAI DENGA SYARIAT ISLAM??? nah, tinggal cocokkan, apakah tahlilan kematian itu sesuai dengan syariat islam?? jawabnya,.. TIDAK SESUAI,..
      Bagaimana islam menyikapi budaya? bisa dilihat dipostingan ini

      kecuali tradisi masyarakatnya menyembeh matahari…..baru boleh kita sebut bid ah karena banyak dalil yang tidak memperbolehkan……

      Mas fajar,. ibadah itu sifatnya nunggu dalil, jika ada dalil maka kerjakan, jika tidak ada dalil jangan latah mengerjakan,.. bisa rusak agama ini jika cara ibadah itu patokannya tidak ada dalil yang melarang,. apa bedanya dgn orang nasrani yang beribadah tidak berdasarkan ilmu, sehingga menjadi kaum yang tersesat??

      jadi menurut saya teliti dulu apa yang mereka lakukan jangan di vonis bid’ah karena bidah itu kesesatan…….

      ayo klo mas bilang sesat yang baca yasin, berkumpul untuk berdzikir apa akibatnya nanti…..tadi mas bilang adzan di WC klo menurut mas bagus silahkan aja dilakukan….!!!!

      baca yasin, itu bagus, dan bukan yasin saja, tapi hendaknya baca dari awal surat hingga akhir, sehingga bisa khatam, bukan yasin mulu ,.

      Tapi mengkhususka baca yasin di waktu-waktu tertentu, maka ini adalah bidah, kesesatan, dan bukan dapat pahala, tapi dosa,. telah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya,. saya beri contoh adzan,. jika dilakukan saat memanggil orang shalat 5 waktu, maka itu amalan mulia, tapi ketika dilakukan ketika mau masuk wc, maka bukan jadi mulia, tapi pelakunya diancam dengan dosa,.

      Demikian pula tahlil, itu dzikir yang agung,. tapi ketika salah penempatan, yaitu mengkhususkan tahlil di moment-moment tertentu tanpa dalil dari rasululah, maka amalan mulia itu menjadi amalan buruk bagi pelakunya,. jadi tahlilan kematian, ngumpul2 di rumah orang yang terkena musibah kematian, itu bukan kebaikan, tapi bidah, dan bidah sudah pasti sesat,.

      Rasululullah saja tidak pernah sekalipun melakukan tahlilan kematian,.. kok anda,.. apa anda lebih baik dari Rasulullah, ini nih,. rasulullah tidak ditahlili, apa seperti ngubur kucing? baca postingan ini

      • وأما القراءة للميت بمعنى أن الإنسان يقرأ و ينوي أن يكون ثوابها للميت، فقد اختلف العلماء رحمهم الله هل ينتفع بذلك أو لا ينتفع؟ على قولين مشهورين الصحيح أنه ينتفع، ولكن الدعاء له أفضل

        “Pembacaan al-Qur’an untuk orang mati dengan pengertian bahwa manusia membaca al-Qur’an serta meniatkan untuk menjadikan pahalanya bagi orang mati, maka sungguh ulama telah berselisih pendapat mengenai apakah yang demikian itu bermanfaat ataukah tidak ? atas hal ini terdapat dua qaul yang sama-sama masyhur dimana yang shahih adalah bahwa membaca al-Qur’an untuk orang mati memberikan manfaat, akan tetapi do’a adalah yang lebih utama (afdlal).”

        Sumber : Majmu Fatawa wa Rasaail [17/220-221] karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin [w. 1421 H]

        Berkata Ibnu taymiyah :

        Di atas pula adalah kitab ibnu tamiah berjudul majmuk fatawa juzuk 24 pada mukasurat 324.ibnu taimiah di tanya mengenai seorang yang bertahlil 70000 kali dan menghadiahkan kepada si mayat muslim lantas ibnu taimiah mengatakan amalan itu adalah amat memberi manafaat dan amat baik serta mulia.

        Berkata Ibnu qayyim al-jauziyah:

        “sesuatu yang paling utama dihadiahkan kepada mayyit adalah sedekah, istighfar, berdoa untuknya dan berhaji atas nama dia. Adapun membaca al-qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada mayyit secara sukarela dan tanpa imbalan, maka akan sampai kepadanya sebagaimana pahala puasa dan haji juga sampai kepadanya (yasaaluunaka fiddin wal hayat jilid I/442)

        tersebut Imam ahmad berkata : “Kembalilah dan katakan kepada lelaki itu agar bacaannya diteruskan (Kitab ar-ruh,
        ibnul qayyim al jauziyah).

        ini dari ulama mas admin khan……jadi mas adminsiapa yang dicontoh…..bikin agama sendiri kli ya

        Mas,.. anda tahu apa yang disebut sebagai DALIL???
        Yang disebut DALIL itu adalah Alquran, Hadits Shahih, dan Perkataan Sahabat,.
        Selain itu, bukanlah DALIL,.
        Perkataan Ulama, atau hasil ijtihad ulama bukanlah dalil, silahkan datangkan dalilnya,. bukan perkataan ulama,

  29. Ya Allah,berikan petunjuk kepada orang yang telah berbuat lancang dengan agamaMu ya Allah……..
    berikan hidayah taufik kepda mereka agar kembali ke jalan yang lurus……
    Jalan yang di tempuh oleh orang orang yang pertama-tama masuk islam dari kaum muhajirin dan anshar,dan yang mengikuti mereka samapai hari kiamat………
    AMIN

    Aamiin,

  30. Hukum selamatan hari ke-3, 7, 40, 100, setahun, dan 1000 hari diperbolehkan dalam syari’at Islam. Keterangan diambila dari kitab “Al-Hawi lil Fatawi” karya Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi jilid 2 halaman 178

    قال الامام أحمد بن حنبل رضي الله عنه فى كتاب الزهد له : حدثنا هاشم بن القاسم قال: حدثنا الأشجعى عن سفيان قال

    قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام , قال الحافظ ألو نعيم فى الجنة: حدثنا أبو بكر بن مالك حدثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل حدثنا أبى حدثنا هاشم بن القاسم حدثنا الأشجعى عن سفيان قال: قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام

    “Telah berkata Imam Ahmad bin Hanbal ra di dalam kitabnya yang menerangkan tentang kitab zuhud: Telah menceritakan kepadaku Hasyim bin Qasim sambil berkata: Telah menceritakan kepadaku al-Asyja’i dari Sufyan sambil berkata: TelaH berkata Imam Thawus (ulama besar zaman Tabi’in, wafat kira-kira tahun 110 H / 729 M): Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut.

    Telah berkata al-Hafiz Abu Nu’aim di dalam kitab Al-Jannah: Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Malik, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku Ubay, telah menceritakan kepadaku Hasyim bin al-Qasim, telah menceritakan kepadaku al-Asyja’i dari Sufyan sambil berkata: Telah berkata Imam Thawus: Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut.”

    Selain itu, di dalam kitab yang sama jilid 2 halaman 194 diterangkan sebagai berikut:

    ان سنة الاطعام سبعة أيام بلغنى أنهامستمر الى الأن بمكة و المدينة فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة الى الأن و انهم أخذوها خلفا عن سلف الى الصدر الأول

    “Sesungguhnya, kesunnahan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan perbuatan yang tetap berlaku sampai sekarang (yaitu masa Imam Suyuthi abad ke-9 H) di Mekkah dan Madinah. Yang jelas kebiasaan tersebut tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat sampai sekarang, dan tradisi tersebut diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama, yaitu sahabat.”

    HUKUM TAHLIL

    TAHLILAN KOQ HARAM …..!!!!!!!

    KATA SIAPA …..???

    TAHLILAN berasal dari kata hallala, yuhallilu,
     tahlilan, artinya membacakan kalimat La Ilaha Illalloh.

     Seperti yang tertera dalam Lisanul ’Arab bagi Ibnu Mandzur Al-Ifriqy juz XIII sebagai berikut

    ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻴﺚ ﺍﻟﺘﻬﻠﻴﻞ ﻗﻮﻝ ﻻﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ

    ”Telah berkata Allaits :arti Tahlil adalah mengucapkan ﻻﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ ” 
    Dan yang perlu kita ketahui adalah semua rangkaian kalimat yang ada dalam Tahlil diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang pahalanya dihadiahkan untuk si mayyit.Tahil ini dijalankan berdasar pada dalil-dalil.

    DALIL YANG PERTAMA ;

    (Al-Tahqiqat, juz III. Sunan an-Nasa’i, juz II)

    ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﺃﻋﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﻴﺖﺑﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﺫﻛﺮﺍﺳﺘﻮﺟﺐﺍﻟﻠﻪ ﻟﻪ ﺍﻟﺠﻨﺔ
    ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺪﺍﺭﻣﻰ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺉ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ))

    Barang siapa menolong mayyit dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan dzikir, maka Alloh memastikan surga baginya.”
    (HR. ad-Darimy dan Nasa’I dari Ibnu Abbas)

    DALIL YANG KEDUA

     (Tanqih al-Qoul)

    ﻭﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ ﺗﺼﺪﻗﻮﺍﻋﻠﻰ ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺍﺗﻜﻢ ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺍﺗﻜﻢ ﻭﻟﻮﺑﺸﺮﺑﺔ ماﺀﻓﺎﻥ ﻟﻢ ﺗﻘﺪﺭﻭﺍ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻓﺒﺄﻳﺔ ﻣﻦ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﺎﻥ ﻟﻢ ﺗﻌﻠﻤﻮﺍﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺀﺍﻥ ﻓﺎﺩﻋﻮ ﻟﻬﻢ ﺑﺎﻟﻤﻐﻔﺮﺓ ﻭﺍﻟﺮﺣﻤﺔ ﺍﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﺪﻛﻢ ﺍﻹﺟﺎﺑﺔ

    Bersedekahlah kalian untuk diri kalian dan orang-orang yang telah mati dari keluarga kalian walau hanya air seteguk. Jika kalian tak mampu dengan itu, bersedekahlah dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Jika kalian tidak mengerti Al-Qur’an, berdo’alah untuk mereka dengan memintakan ampunan dan rahmat. Sungguh,  ﺗﻌﺎﻟﻰ الله  telah berjanji akan mengabulkan do’a kalian.”

    DALIL YANG KETIGA ;

     (Kasya-Syubhat li as-Syaikh Mahmud Hasan Rabi)

    ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻬﺬﺑﻰ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻳﻌﻨﻰﻟﺰﺍﺋﺮ ﺍﻷﻣﻮﺍﺕ ﺃﻥ ﻳﻘﺮﺃﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺀﺍﻥ ﻣﺎﺗﻴﺴﺮﻭﻳﺪﻋﻮﻟﻬﻢ ﻋﻘﺒﻬﺎﻧﺺ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰﻭﺍﺗﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ

    “Dalam Syarah al-Muhamdzdzab Imam
     an-Nawawi berkata:
     Adalah disukai seorang berziarah kepada orang mati lalu membaca ayat-ayat al-Qur’an sekedarnya dan
     berdo’a untuknya.
     Keterangan ini diambil dari teks Imam Syafi’I dan disepakati oleh para ulama yang lainnya.”

    DALIL KEEMPAT ;

    ﺇﻗﺮﺀﻭﺍ ﻋﻠﻰ ﻣﻮﺗﺎﻛﻢ ﻳﺴﻰ
    ( (ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺣﻤﺪ ﻭﺍﺑﻮﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺍﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢ

    “Bacalah atas orang-orangmu yang telah mati, akan Surat Yasin” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah,
     Ibnu Hibban, dan Alhakim)

    DALIL KELIMA ;
     (Fathul mu’in pada Hamisy I’anatuttholibin, juz III)

    ﻭﻗﺪ ﻧﺺ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰﻭﺍﻷﺻﺤﺎﺏ ﻋﻠﻰ ﻧﺪﺏﻗﺮﺍﺀﺓ ﻣﺎ ﺗﻴﺴﺮﻋﻨﺪﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻋﻘﺒﻬﺎﺍﻯ ﻻﻧﻪ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﺍﺭﺟﻰﻟﻼﺟﺎﺑﺔ ﻭﻻﻥ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﺗﻨﺎﻟﻪﺑﺮﻛﺔ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻛﺎﻟﺤﻲﺍﻟﺤﺎﺿﺮ

    “Dan telah menyatakan oleh Assyafi’I dan Ashab-nya atas sunnah membaca apa yang mudah di sisi mayit,
     dan berdo’a sesudahnya, artinya karena bahwasanya ketika itu lebih diharapkan diterimanya, dan karena bahwa mayyit itu mendapatkan barokah qiro’ah seperti orang hidup yang hadir.”
    Dan masih banyak dalil-dalil lain….

    Terimakasih mas,..
    Kok nabi tidak pernah ngadain tahlilan kematian walaupun sekali saja, bukankah nabi mengalami kematian keluarganya, juga para sahabatnya,. tapi kenapa tidak pernah sekalipun nabi melakukan tahlilan kematian?? apa sebabnya mas?
    Ketika Rasulullah wafat, kenapa abu bakar, umar, utsman,ali tidak melakukan tahlilan kematian untuk rasulullah?? kenapa coba mas?? apakah mereka kurang paham??

    Imam syafii pun tidak pernah melakukan tahlilan kematian, demikian pula imam ahmad, .

    Lalu ikut siapa sih tradisi tahlilan kematian ini?? Rasulullah saja mati ngga ditahlilkan, kaya nguburin kucing saja dong,. baca ulasannya disini

    Oh iya, yang disebut dalil itu adalah QAALALLAH, QAALA RASUL, DAN QAALA SHAHABAT,.selain dari tiga diatas bukanlah dalil,.
    Dan yang anda sebutkan bukanlah dalil, itu perkataan ulama,. dan perkataa ulama bukanlah dalil,

  31. nyantee aja pak browww, toh tradisi yasin tahlil akan hilang dengan sendirinya, karna para tetuanya uda pada mati, dan yang akan berkembang adalah Islam yang dari Arab Saudi

    memang islam anda islam dari jawa ya mas sogol? lha wong kiblat orang islam ada di arab saudi, nabi muhammad juga orang arab, memang ada islam kejawen ya?

    • wahabi – wahabi lalu kenapa anda masih tinggal di indonesia ??????…..

      yang masih pakai hukum buatan manusia.
      dakwah pakai media ( kayak TV rodja ) , sholat pakai celana hayo ada g dalil nya , saya kasih kunci surga kalau bisa kasih dalil tentang ke-2 nya.
      maliiiiiiiiiiing kok teriak maliiiiiing.

      terimakasih ikbal, komentar anda bagus dan lucuu,.
      Emang kenapa ngga boleh tinggal di indonesia?
      Emang ada dalilnya shalat harus pakai jubah?
      Emang ada dalilnya kita harus pakai gamis?

      Trus emangnya ada keyakinan bahwa dakwah itu harus dengan media?
      Siapa yang maling, siapa yang teriak maling,..

      • Oh yg punya surga sampean tho..?

        sopo sing ngomong mas,. mas,.. nang endi aku ngomong surga nduweku? monggo tidok ke, tak upahi duit sepuluh juta mengko mas, yen bisa nidok ke,.

        yg bisa ngasi kunci surga sampean ho??

        sopo sing ngomong mas,. tidok ke,. mengko tak nein duit duapuluh juta,. dadi sepuluh juta plus duapuluh juta, olih telungpuluh juta mas,. lumayan toh?

        Ya Allah, Ati2 mas kalo ngomong…

        Nggih mas,.. ati2 yen ngomong,..

        Surga Milik Allah!
        Dan hanya Allah yg menentukan siapa yg masuk surga…

        Leres mas, surga meniku milik Allah nanging katah tiyang mboten gelem mlebu surga, piye sebabe? diwoco teng mriki mas,

        Kalo anda mengaku Bisa, Trus apa bedanya Anda sama Firaun..??

        sopo sing ngaku bisa mas,..kang,..

        istighfar Maaassss

        ayoo istighfar mas, kang, mba,.. nabi mawon istighfar saben dino niku minimal ping 100 kali, lah kita istighfar ping piro mas?

      • untuk Fay Darojat !!!

        Orang Kafir pandai pakai bahasa mulut, tetapi ingkar akan kebenaran… dalam hatinya nyeseekkk . . .

        Sabar mas,.. doakan saja agar bang Fay Darojat mendapat hidayah taufik,. sehingga bisa merasakan manisnya sunnah ini,

  32. Assalamu’alaikum warohnatullahi wabarokatuh..
    Saya pernah berdiskusi masalah tahlilan ini kepada seorang guru yang memperbolehkan tahlilan, ketika saya tanya mengenai hal tersebut, maka dia memberikan dalil yang kebetulan saya catat dan saya cari dari sumbernya langsung dan inilah beberapa dalil nya :
    —————-

    HUKUM SELAMATAN / TAHLILAN

    Hukum selamatan hari ke-3, 7, 40, 100, setahun, dan 1000 hari diperbolehkan dalam syari’at Islam. Keterangan diambila dari kitab “Al-Hawi lil Fatawi” karya Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi jilid 2 halaman 178

    قال الامام أحمد بن حنبل رضي الله عنه فى كتاب الزهد له : حدثنا هاشم بن القاسم قال: حدثنا الأشجعى عن سفيان قال

    قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام , قال الحافظ ألو نعيم فى الجنة: حدثنا أبو بكر بن مالك حدثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل حدثنا أبى حدثنا هاشم بن القاسم حدثنا الأشجعى عن سفيان قال: قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام

    “Telah berkata Imam Ahmad bin Hanbal ra di dalam kitabnya yang menerangkan tentang kitab zuhud: Telah menceritakan kepadaku Hasyim bin Qasim sambil berkata: Telah menceritakan kepadaku al-Asyja’i dari Sufyan sambil berkata: TelaH berkata Imam Thawus (ulama besar zaman Tabi’in, wafat kira-kira tahun 110 H / 729 M): Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut.

    Telah berkata al-Hafiz Abu Nu’aim di dalam kitab Al-Jannah: Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Malik, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku Ubay, telah menceritakan kepadaku Hasyim bin al-Qasim, telah menceritakan kepadaku al-Asyja’i dari Sufyan sambil berkata: Telah berkata Imam Thawus: Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut.”

    Selain itu, di dalam kitab yang sama jilid 2 halaman 194 diterangkan sebagai berikut:

    ان سنة الاطعام سبعة أيام بلغنى أنهامستمر الى الأن بمكة و المدينة فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة الى الأن و انهم أخذوها خلفا عن سلف الى الصدر الأول

    “Sesungguhnya, kesunnahan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan perbuatan yang tetap berlaku sampai sekarang (yaitu masa Imam Suyuthi abad ke-9 H) di Mekkah dan Madinah. Yang jelas kebiasaan tersebut tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat sampai sekarang, dan tradisi tersebut diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama, yaitu sahabat.”

    HUKUM BACAAN-BACAAN UNTUK MAYIT

    TAHLILAN berasal dari kata hallala, yuhallilu,
    tahlilan, artinya membacakan kalimat La Ilaha Illalloh.

    Seperti yang tertera dalam Lisanul ’Arab bagi Ibnu Mandzur Al-Ifriqy juz XIII sebagai berikut

    ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻴﺚ ﺍﻟﺘﻬﻠﻴﻞ ﻗﻮﻝ ﻻﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ

    ”Telah berkata Allaits :arti Tahlil adalah mengucapkan ﻻﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ ”
    Dan yang perlu kita ketahui adalah semua rangkaian kalimat yang ada dalam Tahlil diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang pahalanya dihadiahkan untuk si mayyit.Tahil ini dijalankan berdasar pada dalil-dalil.

    DALIL YANG PERTAMA ;

    (Al-Tahqiqat, juz III. Sunan an-Nasa’i, juz II)

    ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﺃﻋﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﻴﺖﺑﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﺫﻛﺮﺍﺳﺘﻮﺟﺐﺍﻟﻠﻪ ﻟﻪ ﺍﻟﺠﻨﺔ
    ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺪﺍﺭﻣﻰ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺉ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ))

    Barang siapa menolong mayyit dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan dzikir, maka Alloh memastikan surga baginya.”
    (HR. ad-Darimy dan Nasa’I dari Ibnu Abbas)

    DALIL YANG KEDUA

    (Tanqih al-Qoul)

    ﻭﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ ﺗﺼﺪﻗﻮﺍﻋﻠﻰ ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺍﺗﻜﻢ ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺍﺗﻜﻢ ﻭﻟﻮﺑﺸﺮﺑﺔ ماﺀﻓﺎﻥ ﻟﻢ ﺗﻘﺪﺭﻭﺍ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻓﺒﺄﻳﺔ ﻣﻦ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﺎﻥ ﻟﻢ ﺗﻌﻠﻤﻮﺍﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺀﺍﻥ ﻓﺎﺩﻋﻮ ﻟﻬﻢ ﺑﺎﻟﻤﻐﻔﺮﺓ ﻭﺍﻟﺮﺣﻤﺔ ﺍﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﺪﻛﻢ ﺍﻹﺟﺎﺑﺔ

    Bersedekahlah kalian untuk diri kalian dan orang-orang yang telah mati dari keluarga kalian walau hanya air seteguk. Jika kalian tak mampu dengan itu, bersedekahlah dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Jika kalian tidak mengerti Al-Qur’an, berdo’alah untuk mereka dengan memintakan ampunan dan rahmat. Sungguh, ﺗﻌﺎﻟﻰ الله telah berjanji akan mengabulkan do’a kalian.”

    DALIL YANG KETIGA ;

    (Kasya-Syubhat li as-Syaikh Mahmud Hasan Rabi)

    ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻬﺬﺑﻰ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻳﻌﻨﻰﻟﺰﺍﺋﺮ ﺍﻷﻣﻮﺍﺕ ﺃﻥ ﻳﻘﺮﺃﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺀﺍﻥ ﻣﺎﺗﻴﺴﺮﻭﻳﺪﻋﻮﻟﻬﻢ ﻋﻘﺒﻬﺎﻧﺺ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰﻭﺍﺗﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ

    “Dalam Syarah al-Muhamdzdzab Imam
    an-Nawawi berkata:
    Adalah disukai seorang berziarah kepada orang mati lalu membaca ayat-ayat al-Qur’an sekedarnya dan
    berdo’a untuknya.
    Keterangan ini diambil dari teks Imam Syafi’I dan disepakati oleh para ulama yang lainnya.”

    DALIL KEEMPAT ;

    ﺇﻗﺮﺀﻭﺍ ﻋﻠﻰ ﻣﻮﺗﺎﻛﻢ ﻳﺴﻰ
    ( (ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺣﻤﺪ ﻭﺍﺑﻮﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺍﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢ

    “Bacalah atas orang-orangmu yang telah mati, akan Surat Yasin” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah,
    Ibnu Hibban, dan Alhakim)

    DALIL KELIMA ;
    (Fathul mu’in pada Hamisy I’anatuttholibin, juz III)

    ﻭﻗﺪ ﻧﺺ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰﻭﺍﻷﺻﺤﺎﺏ ﻋﻠﻰ ﻧﺪﺏﻗﺮﺍﺀﺓ ﻣﺎ ﺗﻴﺴﺮﻋﻨﺪﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻋﻘﺒﻬﺎﺍﻯ ﻻﻧﻪ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﺍﺭﺟﻰﻟﻼﺟﺎﺑﺔ ﻭﻻﻥ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﺗﻨﺎﻟﻪﺑﺮﻛﺔ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻛﺎﻟﺤﻲﺍﻟﺤﺎﺿﺮ

    “Dan telah menyatakan oleh Assyafi’I dan Ashab-nya atas sunnah membaca apa yang mudah di sisi mayit,
    dan berdo’a sesudahnya, artinya karena bahwasanya ketika itu lebih diharapkan diterimanya, dan karena bahwa mayyit itu mendapatkan barokah qiro’ah seperti orang hidup yang hadir.”
    Dan masih banyak dalil-dalil lain….

    ————————
    Nah bagaimana dengan dalil-dalil tersebut ustadz ? Mohon diberi pencerahan. Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh..

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
    Terimaksih mas Candra
    Dari dalil-dalil diatas,. kok tidak ada satupun nukilan bahwa :
    1. Rasulullah melakukan tahlilan kematian di hari-hari tersebut, walaupun cuma sekali, padahal rasulullah sering ditinggal mati baik oleh istrinya, anaknya, juga para sahabatnya,.
    2. Abu Bakar pun tidak pernah melakukan tahlilan kematian
    3. Umar bin Khattab pun tidak pernah melakukan tahlilan kematian
    4. Utsman bin Affan pun tidak pernah melakukan tahlilan kematian
    5. Ali bin Abi thalib pun tidak pernah melakukan tahlilan kematian,
    5. Imam yang 4, imam abu hanifah, malik, syafii dan ahmad, tidak pernah sekalipun melakukan tahlilan kematian
    6. Imam Syafii, malah mengingkari adanya kumpul-kumpul di tempat si mayat, sebab itu bagian dari meratap, silahkan lihat ulasannya disini

    Para sahabat yang paling paham tentang islam, karena dididik langsung oleh Rasulullah, mereka semua tidak melakukan tahlilan kematian,. dan lucunya,. kaum muslimin di indonesia yang melakukan,..

    Secara akal saja,. tidak bisa diterima,. apalagi secara dalil,

    Taruhlah dalil diatas ada yang betul, yaitu yg hari ke 7 ,tapi kenapa tidak kita dapati Rasulullah melakukannya? ini berarti amalan tersebut tidak dicontohkan oleh Rasulullah, lalu utk hari ke 10,40,100 dst,. itu dari mana? Oh, ternyata ada disini

  33. Hmmm. Yg namanya Ahlussunnah itu za yg mengikuti apa yg dipegang Rosulullah beserta sahabatnya.
    Lha tahlilan itu ajaran dari siapa?

    Buat *U, pikir donk…. jangan cuma kumis doank yg dipikir.

    wah, pak raden saja ikutan koment,. matursuwun pak,.

  34. Silahkan baca kitab ibnu taymiyah ulamanya wahabi majmuk fatawa jilid 24 halaman 324 “amalan mendoakan mayit adalah amalan yg memberi manfaat dan sangat mulia”

    “kalau sudah begini, yg songong siapa, pengikutnya apa ulamanya, apa ke-dua-duanya”

    Mendoakan mayit itu amalan berguna bagi si mayit,.
    Betul sekali mas Afrul,.
    Kita tidak melarangnya, bahkan menganjurkannya,.

    Yang kita larang, mendoakan mayit dengan ritual-ritual tertentu, pembatasan hari tertentu,..
    Bukan mendoakan mayitnya yang kita larang, tapi CARANYA..

    Saya kasih permisalan,..
    Ada orang shalat maghrib, tapi bukan tiga rakaat, tapi lima rakaat,.
    Lalu kita larang shalat seperti itu,.
    Si orang ngomong,.. anda melarang saya shalat??
    Tentu saya jawab, TIDAK, saya tidak melarang anda shalat , apalagi shalat maghrib itu ada perintahnya,.

    Yang saya larang, cara shalat maghribnya, tidak ada contoh dari rasulullah shalat maghrib lima rakaat,.

    Begitu mas,.. paham?

    Tentang mendoakan mayit, sudah saya posting, monggo dibaca disini

  35. Kita ngejar yang wajib saja masih susah (sholat berjamaah di masjid) malah ngerjain yang tidak ada contohnya

    Betul sekali mas,.

  36. Assalamu`alaikum warohmatullah wabarokatuh
    maaf pak Ustadz saya baru saja membaca artikel dari “seputar islam ” yang isinya sbb:
    Renungan—– Sekali lagi Tahlilan, …….Oh Tahlilan !

    1. Katanya Tahlilan itu bid’ah yang sesat karena kiriman pahala bacaan Al-Qur’an itu tidak sampai ! —————-Maaf ya mas anda rupanya nggak tahu kalau menurut Nabi Saw bacaan Al-Qur’an utk mayit itu sampai pahalanya.
    Ini contoh dalil2nya :

    i]. Diriwayatkan dari Ahmad bin Hambal ia berkata : “JIKA KAMU SEKALIAN MEMASUKI PEKUBURAN, MAKA BACALAH SURAT AL-FATIHAH, AL-MU’AWWADZATAIN (QUL- A’UUDZUBIRABBIL FALAQ DAN QUL- A’UUZDUBIRABBINNAAS) DAN QUL-HUWALLAAHUAHAD, DAN JADIKANLAH (PAHALANYA) ITU UNTUK PARA PENGHUNI KUBURAN ITU, Maka sesungguhnya hal itu AKAN SAMPAI KEPADA MEREKA. ”

    ii]. Dari Ibnu Abbas, “BAHWA NABI SAW MEMBACA AL-FATIHAH UNTUK JENAZAH.” (Shahih Sunan Ibnu Majah, jilid 2, hal 18)
    .
    iii].Nabi Saw juga bersabda : “BARANGSIAPA MENZIARAHI KUBUR KEDUA ORANGTUANYA, ATAU SALAH SEORANG DARI KEDUANYA, KEMUDIAN IA MEMBACA YASIN DIKUBURANNYA ATAU DI KUBUR KEDUANYA, MAKA IA DIAMPUNI. ”
    (Hadits Riwayat Thabarani)

    2. Katanya Tahlilan itu bid’ah yang sesat karena Nabi Saw melarang berkumpul dirumah keluarga mayit apalagi dihidangkan makanan !—————-Maaf ya mas anda keliru, karena Nabi Saw pernah berkumpul dirumah keluarga mayit yg menyediakan makanan ! Ketika Nabi Saw wafat, Abu Bakar wafat, Umar bin Khaththab wafat disediakan makanan dan para sahabat memakannya ! Dan menyediakan makanan dirumah keluarga mayit itu merupakan kebiasaan generasi Salaf. Berikut adalah dalilnya :

    i]. Diriwayatkan oleh Abu Daud dari ‘Ashim bin Khulaib, “Muhammad bin al- ‘Ala’ menceritakan dari Abdullah bin Idris dari Ashim bin Khulaib dari ayahnya (Khulaib) dari seorang laki-laki anshar (sahabat) berkata :
    “AKU KELUAR BERSAMA RASUL BERTA’ZIAH KE SALAH SATU JENAZAH. LALU, AKU MELIHATNYA (RASULULLAH) DIATAS KUBUR, BERPESAN KEPADA PENGGALI KUBUR (DENGAN BERKATA): “LEBARKANLAH BAGIAN ARAH KEDUA KAKI DAN LEBARKAN PULA BAGIAN ARAH KEPALA !”KETIKA RASUL HENDAK KEMBALI PULANG, TIBA-TIBA SESEORANG YG MENJADI PESURUH WANITA (ISTRI MAYIT) DATANG MENEMUINYA, LALU MENGUNDANGNYA (UNTUK DATANG KERUMAH WANITA TSB).RASUL PUN DATANGLAH, DAN DISUGUHI MAKANAN. RASUL MENGAMBIL MAKANAN TERSEBUT, YANG JUGA DIIKUTI OLEH PARA SAHABAT, DAN MEMAKANNYA……dst.”

    ii]. Dari Aisyah istri Rasulullah Saw, ketika salah satu keluarganya ada yg meninggal, para wanita berkumpul dan kemudian pergi kecuali anggota keluarganya(Aisyah) dan orang-orang tertentu. Ia lantas memerintahkan utk diambilkan periuk berisi sup yg terbuat dari tepung dan dicampuri dengan madu utk kemudian dimasak. Lalu dibuatlah bubur sarid. Sup tadi di masukkanlah kedalam bubur tersebut. Lalu Aisyah berkata, “makanlah makanan ini, karena aku mendengar Rasul bersabda, bahwa sup dapat melegakan hati orang yg sedang sakit, menghilangkan sebagian kesusahan.” (HR. Bukhari)

    iii]. Al Ahnaf bin Qais berkata, ” Ketika Khalifah Umar bin Khaththab dibunuh, dia memerintahkan Shuhaib untuk menjadi imam shalat, DAN MEMBERI MAKAN ORANG SELAMA TIGA HARI UNTUK BERKUMPUL. Ketika makanan diletakkan di tempatnya, orang-orang sibuk dengan makanan tersebut. Ibnu Abbas berkata, ” WAHAI MANUSIA, SESUNGGUHNYA RASULULLAH SAW TELAH WAFAT, KEMUDIAN KITA MAKAN DAN MINUM. KEMUDIAN ABU BAKAR WAFAT KITA JUGA MAKAN DAN MINUM. SUNGGUH ORANG-ORANG HARUS DIBERI MAKAN DAN MINUM.” Kemudian Ibnu Abbas mengulurkan tangannya menyentuh makanan dan orang-orang pun mengikutinya makan bersama.” (Mahdhu Ash-Shawab, jilid III, hal 855, sebagaimana dikutip oleh Prof. Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam kitabnya ‘Biografi Umar bin Khaththab).

    iv]. Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi dalam kitabnya ” Al-Hawi lil Fatawi “, jilid 2 halaman 178 menulis :
    قال الامام أحمد بن حنبل رضي الله عنه فى كتاب الزهد له : حدثنا هاشم بن القاسم قال: حدثنا الأشجعى عن سفيان قال
    قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام , قال الحافظ أبو نعيم فى الجنة: حدثنا أبو بكر بن مالك حدثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل حدثنا أبى حدثنا هاشم بن القاسم حدثنا الأشجعى عن سفيان قال: قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام
    Artinya:
    “Telah berkata Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallaah ‘anhu di dalam kitabnya yang menerangkan tentang kitab zuhud: Telah menceritakan kepadaku Hasyim bin Qasim sambil berkata: Telah menceritakan kepadaku al-Asyja’i dari Sufyan sambil berkata: Telah berkata Imam Thawus (ulama besar zaman Tabi’in, wafat kira-kira tahun 110 H / 729 M): Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut.
    Telah berkata al-Hafiz Abu Nu’aim di dalam kitab Al-Jannah: Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Malik, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku Ubay, telah menceritakan kepadaku Hasyim bin al-Qasim, telah menceritakan kepadaku al-Asyja’i dari Sufyan sambil berkata: Telah berkata Imam Thawus: Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut.”
    Selain itu, di dalam kitab yang sama jilid 2 halaman 194 diterangkan sebagai berikut:
    ان سنة الاطعام سبعة أيام بلغنى أنهامستمر الى الأن بمكة و المدينة فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة الى الأن و انهم أخذوها خلفا عن سلف الى الصدر الأول
    Artinya:
    “Sesungguhnya, kesunnahan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan perbuatan yang tetap berlaku sampai sekarang (yaitu masa Imam Suyuthi abad ke-9 H) di Mekkah dan Madinah. Yang jelas kebiasaan tersebut tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat sampai sekarang, dan tradisi tersebut diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama, yaitu sahabat.”
    (catatan KH. Thobari Syadzili).

    3. Katanya Tahlilan itu bid’ah yang sesat karena dilakukan pada hari2 tertentu (1, 3, 7, 40 dst) mengikuti ajaran Agama Hindu !——————–Lagi-lagi maaf ya mas anda sepertinya berdusta, karena Agama Hindu itu tidak akan membaca ayat2 Al-Qur’an, bershalawat bagi Nabi Saw, apalagi berdzikir dan berdo’a kepada Allah Swt pada hari2 tersebut sebagaimana diajarkan Nabi Saw !
    Silahkan tunjukkan kitab suci Agama Hindu atau Agama lainnya yg menyebutkan mereka membaca ayat2 al-Qur’an, bershalawat, berdzikir dan berdo’a kepada Allah Swt pada hari2 tertentu (1, 3, 7, 40 dst) ! Pastilah tidak ada, dan merupakan fitnah semata !

    4). Katanya Tahlilan itu bid’ah yang sesat karena Nabi Saw tidak pernah mengerjakannya !—————–Sekali lagi maaf ya mas anda tampaknya bingung memahami apa yg dimaksud dengan Tahlilan, karena Nabi Saw suka melakukan ta’ziah dan berkumpul dirumah keluarga yg tertimpa musibah kematian !
    Hadits yg diriwayatkan oleh Abu Daud dari ‘Ashim bin Khulaib diatas telah menjelaskannya dengan panjang lebar. Dan Nabi Saw suka berdzikir mengingat Allah Swt disetiap saat ! Nabi Saw menganjurkan agar mendo’akan saudara2 sesama muslim yg meninggal dunia, bahkan berdo’a dikuburan kaum muslimin !

    5). Katanya Tahlilan itu bid’ah yang sesat karena tidak ada haditsnya !———————–Maaf ya mas, kalau yg ditanyakan adalah hadits yg lafazh dzahirnya Tahlilan, Maulidan, Yasinan jelas tidak ada seperti halnya tidak ada hadits yg secara dzahir menyebutkan pembagian Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah, Daurohan di hari minggu dsb.

    Karena itu kalau saudaraku berpendapat Tahlilan, Maulidan, Yasinan bid’ah tentulah pembagian Tauhid menjadi Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah serta daurohan di hari minggu juga perbuatan bid’ah. Kalau Tahlilan, Maulidan dan Yasinan dianggap sesat tentulah pembagian Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah serta daurohan dihari minggu yg saudara2ku amalkan juga sesat.
    Karena tidak semua perkara Agama itu ada hadits yg lafazhnya secara dzahir menyebutkannya dan berasal dari ucapan Nabi Saw !
    Sebagai buktinya :

    i]. Mengumpulkan Qur’an itu tidak ada hadits yg menganjurkan apalagi berupa perintah dari Nabi Saw, tetapi dilakukan oleh sahabat Abu Bakar !

    ii]. Shalat Taraweh berjamaah sebulan penuh juga tidak ada hadits yg secara dzahir menyebutkannya apalagi menyebutkan adanya perintah dari Nabi Saw. Tetapi dirintis dan diperintahkan oleh Umar bin Khaththab agar dilaksanakan kaum muslimin !

    iii]. 2 adzan shalat Jumaat juga tidak hadits dari nabi Saw yg menyebutkan adanya anjuran atau perintah dari Nabi Saw, tetapi dilaksanakan Utsman bin Affan !

    iv]. Mengumpulkan dan membukukan hadits2 juga tidak ada hadits yg menyatakan adanya anjuran apalagi perintah dari Nabi Saw, tetapi dilakukan para tabi’in dan tabi’ittabi’in !

    Mereka, para sahabt, tabi’in dan tabi’ittabi’in melakukannya karena petunjuk Nabi Saw agar merintis perbuatan baik dalam Islam !

    6). Dan yang dilarang syariat ketika mengalami musibah kematian adalah tidak melakukan NIYAHAH dan bukan melarang Tahlilan baik dilakukan keluarga mayit maupun kerabat yg berkumpul dalam rangka ta’ziah !
    Berikut dalilnya :

    i]. Dari Ibnu Abbas, dia berkata, Rasulullah Saw bersabda:
    “MERATAPI MAYIT ADALAH PERILAKU JAHILIYAH, SESUNGGUHNYA ORANG YG MERATAPI MAYIT JIKA TIDAK BERTAUBAT SEBELUM IA MENINGGAL DUNIA , MAKA IA AKAN DIBANGKITKAN PADA HARI KIAMAT DENGAN MENGENAKAN PAKAIAN DARI TIR, KEMUDIAN DIKENAKAN BAJU DARI API YG MENYALA.”

    ii]. Dari Jabir, mantan budak Muawiyah, dia berkata, “Muawiyah pernah berkhutbah di Himsh, ia menyebutkan dalam khutbahnya bahwa RASULULLAH SAW MELARANG DARI PERBUATAN MERATAPI MAYIT.”
    (Shahih Sunan Ibnu Majah, jilid 2 hal 49)

    iii]. Nabi Saw telah bersabda : “TIDAKLAH SEORANG MUKMIN YANG MENGHIBUR SAUDARANYA YANG TERTIMPA MUSIBAH, MELAINKAN ALLAH SWT AKAN MEMAKAIKANNYA PERHIASAN KEMULIAAN PADA HARI KIAMAT.”
    (Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Amru bin Hazm).

    iii]. Aisyah ra mengatakan :
    ” RASULULLAH SAW SELALU BERDZIKIR KEPADA ALLAH SETIAP SAAT”.
    (HR.Muslim).

    iv]. Sahabat Jabir ra juga berkata, Rasulullah Saw bersabda:
    ” Dzikir yg paling utama adalah, ” LAA ILAAHA ILLALLAAH”
    (HR. Tirmidzi)

    v].Nabi Saw bersabda : “SEKELOMPOK ORANG YANG DUDUK BERDZIKIR KEPADA ALLAH, PASTI DIKELILINGI PARA MALAIKAT, DILIPUTI RAHMAT, DITURUNI KETENANGAN DAN DISEBUT-SEBUT ALLAH DIKALANGAN MAKHLUK YG BERADA DISISI-NYA.”
    (Hadits dirwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id)

    Jadi berkumpul dirumah keluarga mayit melakukan dzikir, membaca ayat2 al-Qur’an, mendoakan mayit dsb yang disebut sebagai Tahlilan itu adalah perbuatan yg sesuai dengan petunjuk Nabi Saw. Tahlilan bukan perbuatan yg bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi Saw apalagi dituduh sebagai perbuatan bid’ah dhalaalah atau bid’ah yg sesat.

    Semoga Allah Swt memberi hidayah dan petunjuk-Nya kepada kita semua, aamiin.

    yang saya tanyakan apakah dalil-dalil diatas shohih
    terusterang saya jadi bingung mana yg benar.
    mohon penjelasan dan pencerahannya.
    Jazzakumullah khairan.
    Wassalamu`alaikum warohmatullah wabarokatuh

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    Simpel saja mas,.
    Walaupun mereka menyampaikan seribu dalil,.
    Tapi tidak ada praktek dari dalil tersebut oleh Rasulullah, para sahabat,tabiin,tabiut tabiin,. maka TIDAK USAH DIANGGAP DALIL TERSEBUT,.
    Apalagi Imam yang 4 juga tidak melakukannya,. demikian pula para ulama ahli hadits,.
    Dan lucunya, amalan tahlilan kematian itu cuma terkenal di indonesia dan sekitarnya saja,. tidak dikenal di negara islam berasal,. jadi ini secara logika saja sangat lucu,.

    Jadi jika realitanya demikian, maka dalil-dalil tentang hal tersebut bukan dari Rasulullah, tapi hasi modifikasi manusia,.
    Mobil jika dimodifikasi sendiri, maka bisa hilang garansi dari pabriknya,.

    Lah, ajaran agama kok berani-beraninya dimodifikasi? bagaimana mempertanggungjawabkan hal ini di hadapan Allah kelak??

  37. Benarkah prasangka mereka ini? Lebih akurat mana penilaian mereka dengan ulama kita terdahulu seperti al-Hafidz as-Suyuthi, Ibnu Hajar al-Haitami, dan ulama ahli hadis lainnya?
    Riwayat Pertama
    فَائِدَة رَوَى أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ فِي الزُّهْدِ وَأَبُوْ نُعَيْمٍ فِي الْحِلْيَةِ عَنْ طَاوُسٍ أَنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامِ إِسْنَادُهُ صَحِيْح وَلَهُ حُكْمُ الرَّفْعِ (الديباج على مسلم بن الحجاج للحافظ جلال الدين السيوطي 2 / 490)
    “Ahmad meriwayatkan dalam kitab Zuhud dan Abu Nuaim dalam al-Hilyah dari Thawus bahwa ‘sesungguhnya orang-orang yang mati mendapatkan ujian di kubur mereka selama 7 hari. Maka para sahabat senang untuk memberi sedekah pada 7 hari tersebut’. Sanad riwayat ini sahih dan berstatus hadis marfu’.” (al-Dibaj Syarah sahih Muslim II/490)
    Menjadi penting untuk diperhatikan bahwa atsar tersebut diriwayatkan oleh banyak ulama Ahli Hadis:
    (المطالب العلية للحافظ ابن حجر 5 / 330 وحلية الأولياء لابي نعيم الاصبهاني ج 4 / 11 وصفة الصفوة لأبي الفرج عبد الرحمن بن علي بن محمد بن الجوزي 1 / 20 والبداية والنهاية لابن كثير 9 / 270 وشرح صحيح البخارى لابن بطال 3 / 271 وعمدة القاري شرح صحيح البخارى للعيني 12 / 277)
    (Ibnu Hajar dalam al-Mathalib al-Aliyah V/330, Abu Nuaim dalam Hilyat al-Auliya’ IV/11, Ibnu al-Jauzi dalam Shifat al-Shafwah I/20, Ibnu Katsir (murid Ibnu Taimiyah, ahli Tafsir) dalam al-Bidayah wa al-Nihayah IX/270, Ibnu Baththal dalam Syarah al-Bukhari III/271 dan al-Aini dalam Umdat al-Qari Syarah Sahih al-Bukhari XII/277)
    Sejauh yang saya ketahui belum ditemukan penilaian dlaif dari para ulama tersebut, kecuali dari pengikut Wahabi, Ust Firanda dan Ust Abul Jauza’.
    Riwayat Kedua
    وَذَكَرَ ابْنُ جُرَيْجٍ فِي مُصَنَّفِهِ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عَمِيْرٍ أَنَّ الْمُؤْمِنَ يُفْتَنُ سَبْعًا وَالْمُنَافِقَ أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا وَسَنَدُهُ صَحِيْح أَيْضًا (الديباج على مسلم بن الحجاج للحافظ جلال الدين السيوطي 2 / 490)
    “Ibnu Juraij menyebutkan dalam kitab al-Mushannaf dari Ubaid bin Amir bahwa ‘orang mukmin mendapatkan ujian (di kubur) selama 7 hari, dan orang munafik selama 40 hari’. Sanadnya juga sahih.” (al-Dibaj Syarah sahih Muslim II/490)
    Siapakah Ubaid diatas? Al-Hafidz as-Suyuthi menjelaskan:
    قَالَ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ صَاحِبُ الصَّحِيْحِ إِنَّهُ وُلِدَ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ غَيْرُهُ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَى هَذَا يَكُوْنُ صَحَابِيًّا (الحاوي للفتاوي للسيوطي – ج 3 / ص 267)
    “Muslim bin Hajjaj pengarang kitab Sahih berkata bahwa Ubaid bin Umair dilahirkan di masa Nabi Saw. Yang lain berkata bahwa Ubaid melihat Rasulullah Saw. Dengan demikian Ubaid adalah seorang sahabat” (al-Hawi li al-Fatawi 3/267)
    Riwayat Ketiga
    وَقَدْ رُوِىَ عَنْ مُجَاهِدٍ أَنَّ الْمَوْتَى كَانُوْا يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ اْلاَيَّامَ (أهوال القبور – ج 1 / ص 19)
    “Sungguh telah diriwayatkan dari Mujahid bahwa sesungguhnya orang-orang yang mati mendapatkan ujian di kubur mereka selama 7 hari. Maka para sahabat senang untuk memberi sedekah pada 7 hari tersebut” (al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali, Ahwal al-Qubur 1/19)
    Fatwa Madzhab Syafii
    Riwayat Atsar diatas telah dikaji oleh ulama Madzhab Syafii yang bernama Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami, beliau menilai sahih dan menfatwakannya. Berikut fatwa beliau:
    ( وَسُئِلَ ) فَسَّحَ اللَّهُ فِي مُدَّتِهِ بِمَا لَفْظُهُ مَا قِيلَ إنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ أَيْ يُسْأَلُونَ كَمَا أَطْبَقَ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ سَبْعَةَ أَيَّامٍ هَلْ لَهُ أَصْلٌ ؟ ( فَأَجَابَ ) بِقَوْلِهِ نَعَمْ لَهُ أَصْلٌ أَصِيلٌ فَقَدْ أَخْرَجَهُ جَمَاعَةٌ عَنْ طَاوُسِ بِالسَّنَدِ الصَّحِيحِ وَعُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ بِسَنَدٍ احْتَجَّ بِهِ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ وَهُوَ أَكْبَرُ مِنْ طَاوُسِ فِي التَّابِعِينَ بَلْ قِيلَ إنَّهُ صَحَابِيٌّ لِأَنَّهُ وُلِدَ فِي زَمَنِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَعْضُ زَمَنِ عُمَرَ بِمَكَّةَ وَمُجَاهِدٍ وَحُكْمُ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ الثَّلَاثِ حُكْمُ الْمَرَاسِيلِ الْمَرْفُوعَةِ لِأَنَّ مَا لَا يُقَالُ مِنْ جِهَةِ الرَّأْيِ إذَا جَاءَ عَنْ تَابِعِيٍّ يَكُونُ فِي حُكْمِ الْمُرْسَلِ الْمَرْفُوعِ إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا بَيَّنَهُ أَئِمَّةُ الْحَدِيثِ وَالْمُرْسَلُ حُجَّةٌ عِنْدَ الْأَئِمَّةِ الثَّلَاثَةِ وَكَذَا عِنْدَنَا إذَا اعْتَضَدَ وَقَدْ اعْتَضَدَ مُرْسَلُ طَاوُسِ بِالْمُرْسَلَيْنِ الْآخَرَيْنِ بَلْ إذَا قُلْنَا بِثُبُوتِ صُحْبَةِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ كَانَ مُتَّصِلًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِقَوْلِهِ الْآتِي عَنْ الصَّحَابَةِ كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ إلَخْ لِمَا يَأْتِي أَنَّ حُكْمَهُ حُكْمُ الْمَرْفُوعِ عَلَى الْخِلَافِ فِيهِ وَفِي بَعْضِ تِلْكَ الرِّوَايَاتِ زِيَادَةُ إنَّ الْمُنَافِقَ يُفْتَنُ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا وَمِنْ ثَمَّ صَحَّ عَنْ طَاوُسِ أَيْضًا أَنَّهُمْ كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْ الْمَيِّتِ تِلْكَ الْأَيَّامَ وَهَذَا مِنْ بَابِ قَوْلِ التَّابِعِيِّ كَانُوا يَفْعَلُونَ وَفِيهِ قَوْلَانِ لِأَهْلِ الْحَدِيثِ وَالْأُصُولِ : أَحَدُهُمَا أَنَّهُ أَيْضًا مِنْ بَابِ الْمَرْفُوعِ وَأَنَّ مَعْنَاهُ كَانَ النَّاسُ يَفْعَلُونَ ذَلِكَ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَعْلَمُ بِهِ وَيُقِرُّ عَلَيْهِ وَالثَّانِي أَنَّهُ مِنْ بَابِ الْعَزْوِ إلَى الصَّحَابَةِ دُونَ انْتِهَائِهِ إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى هَذَا قِيلَ إنَّهُ إخْبَارٌ عَنْ جَمِيعِ الصَّحَابَةِ فَيَكُونُ نَقْلًا لِلْإِجْمَاعِ وَقِيلَ عَنْ بَعْضِهِمْ وَرَجَّحَهُ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ وَقَالَ الرَّافِعِيُّ مِثْلُ هَذَا اللَّفْظِ يُرَادُ بِهِ أَنَّهُ كَانَ مَشْهُورًا فِي ذَلِكَ الْعَهْدِ مِنْ غَيْرِ نَكِيرٍ ثُمَّ مَا ذُكِرَ فِي السُّؤَالِ عَنْ الْعُلَمَاءِ مِنْ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْفِتْنَةِ سُؤَالُ الْمَلَكَيْنِ صَحِيحٌ .
    فَإِنْ قُلْت لِمَ كَرَّرَ الْإِطْعَامَ سَبْعَةَ أَيَّامٍ دُونَ التَّلْقِينِ قُلْت لِأَنَّ مَصْلَحَةَ الْإِطْعَامِ مُتَعَدِّيَةٌ وَفَائِدَتُهُ لِلْمَيِّتِ أَعْلَى إذْ الْإِطْعَامُ عَنْ الْمَيِّتِ صَدَقَةٌ وَهِيَ تُسَنُّ عَنْهُ إجْمَاعًا وَالتَّلْقِينُ أَكْثَرُ الْعُلَمَاءِ عَلَى أَنَّهُ بِدْعَةٌ وَإِنْ كَانَ الْأَصَحُّ عِنْدَنَا خِلَافَهُ لِمَجِيءِ الْحَدِيثِ بِهِ وَالضَّعِيفُ يُعْمَلُ بِهِ فِي الْفَضَائِلِ . (الفتاوى الفقهية الكبرى – ج 3 / ص 193)
    “Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami ditanya, semoga Allah melapangkannya semasa hidupnya, dengan sebuah pertanyaan bahwa: Orang-orang yang mati mendapat ujian di alam kuburnya, yaitu mereka ditanya sebagaimana dikatakan oleh para ulama, selama 7 hari. Apakah hal tersebut memiliki dasar?
    Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami menjawab: “Ya, hal itu memiliki dasar yang kuat. Sebab segolongan ulama telah meriwayatkan dari Thawus dengan sanad yang sahih dan Ubaid bin Umair dengan sanda yang dijadikan hujjah oleh Ibnu Abdil Barr, Ubaid lebih senior daripada Thawus dalam Tabiin, bahkan dikatakan bahwa Ubaid adalah sahabat, karena Ubaid dilahirkan di masa Nabi Saw dan di sebagian masa Umar di Makkah, dan riwayat dari Mujahid. Hukum ketiga riwayat (Thawus, Ubaid bin Umair dan Mujahid) tersebut adalah Mursal yang disandarkan pada Rasulullah Saw. Sebab jika ada sesuatu yang bukan berdasarkan pendapat jika disampaikan oleh seorang Tabiin maka berstatus hukum Mursal yang disandarkan pada Rasulullah Saw, seperti yang disampaikan oleh para imam di bidang hadis. Sedangkan riwayat Mursal adalah hujjah menurut 3 imam (Hanafi, Maliki dan Hanbali), juga menurut kita (Syafiiyah) jika dikuatkan riwayat lain. Dan sungguh riwayat Thawus ini dikuatkan oleh 2 riwayat mursal lainnya (Ubaid bin Umair dan Mujahid). Bahkan jika kita berpendapat dengan keabsahan status sahabat Ubaid bin Umair maka riwayat tersebut bersambung kepada Rasulullah Saw, dan dengan perkataannya berikut dari sahabat: “Mereka senang….” Disebabkan bahwa hukum riwayat tersebut adalah Marfu’, dengan terdapat perbedaan di dalamnya. Dalam sebagian riwayat ada tambahan “Orang munafiq diuji selama 40 pagi hari”. Oleh karena itu telah sah dari Thawus pula bahwa mereka menganjurkan memberi sedekah makanan dari mayit selama 7 hari tersebut. Ini adalah ucapan seorang Tabiin “Mereka melakukan”, di dalamnya ada 2 pendapat menurut ahli hadis dan Ushul Fikh: Pertama sebagai riwayat Marfu’ yang disandarkan pada Rasulullah Saw. Maksudnya para sahabat melakukan hal itu di masa Rasulullah Saw, Nabi mengetahuinya dan menyetujuinya. Kedua, dinisbatkan pada sahabat, tidak sampai hingga Rasulullah Saw. Menurut pendapat kedua ini maka yang disampaikan Thawus adalah informasi dari semua sahabat. Maka Thawus mengutip Ijma’ para sahabat. Ada yang mengatakan dari sebagian sahabat, seperti dikuatkan oleh an-Nawawi dalam Syarah Muslim. Ar-Rafii berkata: Riwayat seperti ini sudah popular di masa itu tanpa pengingkaran. Kemudian apa yang disebut dalam ujian dari para ulama, yang dimaksud dengan soal adalah pertanyaan malaikat, adalah sahih…. Jika ada yang mengatakan mengapa yang diulang-ulang adalah sedekah makanan 7 hari bukan Talqin? Saya menjawab: Sebab kemaslahatan memberi sedekah makanan berdampak lebih luas, dan manfaatnya bagi mayit lebih tinggi. Sebab memberi makan untuk mayit adalah sedekah, dan sedekah atas nama mayit adalah sunah, sesuai ijma’ ulama. Sedangkan Talqin menurut kebanyakan ulama adalah bid’ah, meski pendapat yang lebih kuat menurut kita (Syafiiyah) bukan bid’ah, karena berdasarkan hadis, dan hadis dlaif boleh diamalkan dalam keutamaan amal” (Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah 3/193)
    Sunah Yang Telah Lama
    Kalaupun ustadz-ustadz Wahabi masih bertahan dengan prasangka mereka, maka suatu hal yang tak dapat dibantah adalah amaliyah tersebut masih terus berlangsung diamalkan oleh umat Islam di Makkah dan Madinah hingga masa al-Hafidz as-Suyuthi di abad 10 H:
    إِنَّ سُنَّةَ اْلإطْعَامِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ بَلَغَنِي أَنَّهَا مُسْتَمِرَّة إلَى اْلآنَ بِمَكَّةَ وَالْمَدِيْنَةِ فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا لَمْ تُتْرَكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى اْلآنَ وَإِنَّهُمْ أَخَذُوْهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إلَى الصَّدْرِ اْلأَوَّلِ (الحاوي للفتاوي للسيوطي – ج 3 / ص 288)
    Al-Hafidz As-Suyuthi berkata: “Anjuran memberi makanan 7 hari, telah sampai kepada saya bahwa hal itu berlangsung hingga sekarang di Makah dan Madinah. Secara Dzahir hal itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat hingga sekarang, dan mereka meneruskannya secara turun temurun dari masa Awal” (al-Haawii 3/288)
    Atsar dari Jarir
    Para ustadz Wahabi banyak yang menggunakan Atsar Jarir sebagai bantahan untuk melarang kumpul-kumpul di rumah duka:
    عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِي قاَلَ كُنَّا نَعُدُّ اْلاِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيْعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ (رواه أحمد رقم 6866 وابن ماجه رقم 1612)
    “Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah al-Bajali, ia berkata: Kami menganggap berkumpul di rumah orang yang meninggal dan membuatkan makanan setelah pemakaman sebagai perbuatan meratapi mayat” (Diriwayatkan oleh Ahmad No 6766 dan Ibnu Majah No 1612)
    Ternyata seorang Mufti bermadzhab Hanbali, Syaikh Khalid bin Abdillah al-Mushlih, mengutip penilaian dlaif dari Imam Ahmad sendiri:
    وَقَدْ نَقَلَ أَبُوْ دَاوُدَ عَنْ أَحْمَدَ قَوْلَهُ لاَ أَرَى لِهَذَا الْحَدِيْثِ أَصْلاً فَهُوَ حَدِيْثٌ ضَعِيْفٌ لاَ يَصْلُحُ لِلْاِحْتِجَاجِ. وَعَلَى الْقَوْلِ بِصِحَّتِهِ فَهُوَ مَحْمُوْلٌ عَلَى مَجْمُوْعِ الصُّوْرَةِ لاَ عَلَى مُجَرَّدِ اْلاِجْتِمَاعِ وَبِهَذَا قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالَّذِي يَظْهَرُ لِي أَنَّهُ إِنْ خَلاَ الْجُلُوْسُ مِنَ اْلإِضَافَاتِ الْبِدْعِيَّةِ فَإِنَّهُ لاَ بَأْسَ بِهِ لاَسِيَّمَا إِذَا كَانَ لاَ يَتَأَتَّى لِلنَّاسِ التَّعْزِيَّةُ إِلاَ بِذَلِكَ وَاللهُ أَعْلَمُ (أكثر من 100 فتوى للشيخ خالد بن عبد الله المصلح 1 / 35)
    “Abu Dawud sungguh telah mengutip dari Ahmad: Saya tidak menemukan dasar dalam riwayat ini. Maka ini adalah riwayat yang dlaif yang tidak layak dijadikan hujjah. Dan berdasarkan pada pendapat yang menilainya sahih, maka diarahkan pada seluruh bentuk, tidak pada bentuk berkumpulnya saja, inilah yang dikemukakan oleh sebagian ulama. Menurut saya, bila berkumpul tersebut tidak ada unsur-unsur yang mengandung bid’ah, maka tidak apa-apa. Apalagi jika orang lain tidak mau takziyah kecuali dengan cara seperti itu” (Fatwa Syaikh Khalid bin Abdullah al-Mushlih I/35)
    Penilaian yang sama juga disampaikan oleh Syaikh al-Tharifi:
    وَلِهَذَا تَجِدُ اَنَّ اْلاِمَامَ اَحْمَدَ اَخْرَجَ اَحَادِيْثَ فِي مُسْنَدِهِ وَمَعَ هَذَا يَعُلُّهَا بَلْ مِنْهَا مَا يُنْكِرُهُ وَاْلاَمْثِلَةُ عَلَى هَذَا كَثِيْرَةٌ جِدًّا … وَمِنْهَا مَا أَخْرَجَهُ فِي مُسْنَدِهِ مِنْ حَدِيْثِ إِسْمَاعِيْلِ عَنْ قَيْسٍ عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِي قَالَ كُنَّا نَعُدُّ اْلاِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيْعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ. وَقَدْ نَقَلَ اَبُوْ دَاوُدَ عَنِ اْلاِمَامِ اَحْمَدَ قَوْلَهُ فِيْهِ : لاَ اَصْلَ لَهُ (شرح كتاب الطهارة من بلوغ المرام للطريفي 1 / 42)
    “Oleh karena itu anda akan menemukan Imam Ahmad meriwayatkan beberapa hadis dalam Musnadnya yang beliau sendiri menilainya cacat, bahkan sebagiannya menilainya munkar. Contohnya sangat banyak…. Diantaranya adalah ‘riwayat dari Jarir bin Abdullah al-Bajali, ia berkata: Kami menganggap berkumpul di rumah orang yang meninggal dan membuatkan makanan setelah pemakaman sebagai perbuatan meratapi mayat’. Abu Dawud sungguh telah mengutip penilaian dari Imam Ahmad mengenai riwayat tersebut: Riwayat ini tidak ada dasarnya!” (al-Tharifi dalam Syarah Bulugh al-Maram I/42)
    Hal ini juga diakui oleh ulama Wahhabi, Sulaiman bin Nashir al-’Alwan:
    وَلَكِنْ أَعَلَّ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ هَذَا اْلأَثَرَ (شرح كتاب الجنائز من البلوغ للشيخ سليمان بن ناصر العلوان 1 / 105)
    “Akan tetapi Imam Ahmad menilai cacat pada atsar ini” (Syarah Bulugh al-Maram I/105)
    Meratapi Mayit Menurut Sayidina Umar
    Ustadz Wahabi ada yang menjadikan Atsar Sayidina Umar di bawah ini sebagai larangan berkumpul-kumpul di rumah duka dengan memberikan makanan:
    حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ، عَنْ طَلْحَةَ، قَالَ: قَدِمَ جَرِيرٌ عَلَى عُمَرَ، فَقَالَ: ” هَلْ يُنَاحُ قِبَلُكُمْ عَلَى الْمَيِّتِ ؟ قَالَ: لَا ” قَالَ: ” فَهَلْ تَجْتَمِعُ النِّسَاءُ عندَكُمْ عَلَى الْمَيِّتِ وَيُطْعَمُ الطَّعَامُ؟ قَالَ: نَعَمْ “، فَقَالَ: ” تِلْكَ النِّيَاحَةُ “
    Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Maalik bin Mighwal, dari Thalhah, ia berkata : Jarir mendatangi ‘Umar, lalu ia (‘Umar) berkata : “Apakah kamu sekalian suka meratapi mayit ?”. Jarir menjawab : “Tidak”. ‘Umar berkata : “Apakah diantara wanita-wanita kalian semua suka berkumpul di rumah keluarga mayit dan makan hidangannya ?”. Jarir menjawab : “Ya”. ‘Umar berkata : “Hal itu sama dengan niyahah (meratapi mayit)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/487].
    Dalam riwayat yang sahih, Niyahah (meratapi mayit) yang dilarang menurut Sayidina Umar adalah sebagai berikut:
    33 – باب مَا يُكْرَهُ مِنَ النِّيَاحَةِ عَلَى الْمَيِّتِ . ( 33 ) وَقَالَ عُمَرُ – رضى الله عنه – دَعْهُنَّ يَبْكِينَ عَلَى أَبِى سُلَيْمَانَ مَا لَمْ يَكُنْ نَقْعٌ أَوْ لَقْلَقَةٌ . وَالنَّقْعُ التُّرَابُ عَلَى الرَّأْسِ ، وَاللَّقْلَقَةُ الصَّوْتُ . (صحيح البخارى – ج 5 / ص 163)
    “Bab yang dimakruhkan, yakni meratapi mayit; Umar berkata: Biarkan wanita-wanita itu menangisi Abu Sulaiman selama tidak ada melumuri kepala dengan tanah atau suara” (Riwayat al-Bukhari 5/163)
    Riwayat ini disampaikan oleh Imam al-Bukhari secara Mu’allaq, namun al-Hafidz Ibnu Hajar mencantumkan sanadnya seperti yang dicantumkan oleh al-Bukhari dalam Tarikh al-Ausathnya:
    قَوْله : ( وَقَالَ عُمَر : دَعْهُنَّ يَبْكِينَ عَلَى أَبِي سُلَيْمَان إِلَخْ ) هَذَا الْأَثَر وَصَلَهُ الْمُصَنِّف فِي التَّارِيخ الْأَوْسَط مِنْ طَرِيق الْأَعْمَش عَنْ شَقِيق قَالَ : لَمَّا مَاتَ خَالِد بْن الْوَلِيد اِجْتَمَعَ نِسْوَة بَنِي الْمُغِيرَة – أَيْ اِبْن عَبْد اللَّه بْن عَمْرو بْن مَخْزُوم – وَهُنَّ بَنَات عَمّ خَالِد بْن الْوَلِيد بْن الْمُغِيرَة يَبْكِينَ عَلَيْهِ ، فَقِيلَ لِعُمَر : أَرْسِلْ إِلَيْهِنَّ فَانْهَهُنَّ ، فَذَكَرَهُ . وَأَخْرَجَهُ اِبْن سَعْد عَنْ وَكِيع وَغَيْر وَاحِد عَنْ الْأَعْمَش . (فتح الباري لابن حجر – ج 4 / ص 333)
    Imam Syafii Mengharamkan Kumpul-Kumpul di Rumah Duka?
    Terkait dengan perkataan Imam Syafii: “Saya tidak senang dengan Ma’tam (berkumpul di rumah duka)”, maka sebagian ustadz Wahabi mengatakan bahwa hal itu adalah Makruh Tahrim!
    Entah dari mana jalan bagi mereka yang tidak bermadzhab (Madzhab Wahabi) kemudian sesuka hati berkomentar tentang madzhab Syafii. Tuduhan ini bertentangan dengan pendapat mayoritas ulama Syafiiyah, imam an-Nawawi berkata:
    وَأَمَّا قَوْلُ الشَّافِعِي رَحِمَهُ اللهُ فِي اْلاُمِّ وَاَكْرَهُ الْمَآْتَمَ وَهِىَ الْجَمَاعَةُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ فَمُرَادُهُ الْجُلُوْسُ للِتَّعْزِيَةِ وَقَدْ سَبَقَ بَيَانُهُ. (المجموع – ج 5 / ص 308)
    “Adapun perkataan Syafii rahimahullah di dalam al-Umm “Saya tidak senang dengan Ma’tam (berkumpul di rumah duka) meski tidak ada tangisan”, maksudnya adalah duduk-duduk untuk Takziyah, sebagaimana telah dijelaskan” (al-Majmu’ 5/308)
    Penjelasan imam an-Nawawi dan ulama Syafiiyah lainnya menghukumi makruh, bukan makruh tahrim apalagi sampai haram:
    وَاَمَّا الْجُلُوْسُ لِلتَّعْزِيَةِ فَنَصَّ الشَّافِعِي وَالْمُصَنِّفُ وَسَائِرُ اْلاَصْحَابِ عَلَي كَرَاهَتِهِ (المجموع – ج 5 / ص 306)
    “Adapun duduk-duduk untuk takziyah, maka Syafii, asy-Syairazi dan ulama Syafiiyah lainnya menjelaskan kemakruhannya” (al-Majmu’ 5/306)
    Jika mereka masih bersikeras mengapa masih mengamalkan yang makruh? Cukup dijawab: ”Makkah dan Madinah yang saat ini banyak ulama Wahabinya saja membiarkan masjid al-Haram dan Masjid an-Nabawi dibangun dengan begitu megahnya dan indahnya, namun ulama Wahabi tidak ada yang ingkar!”
    Syaikh Ibnu Abdissalam berkata:
    وَلِلْبِدَعِ الْمَكْرُوهَةِ أَمْثِلَةٌ مِنْهَا : زَخْرَفَةُ الْمَسَاجِدِ (قواعد الأحكام في مصالح الأنام – ج 2 / ص 383)
    “Diantara bid’ah yang makruh adalah kemegahan masjid” (Qawaid al-Ahkam 2/383)
    Fatwa Syaikh asy-Syaukani
    Hasil Bahtsul Masail Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) se Jawa – Madura Di Pon. Pes. Syaikhona Kholil Bangkalan Madura, 06 – 07 Agustus 2003 M, yang memutuskan:
    الْعَادَةُ الْجَارِيَةُ فِي بَعْضِ الْبُلْدَانِ مِنَ اْلاِجْتِمَاعِ فِي الْمَسْجِدِ لِتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ عَلَى اْلأَمْوَاتِ وَكَذَلِكَ فِي الْبُيُوْتِ وَسَائِرِ اْلاِجْتِمَاعَاتِ الَّتِي لَمْ تَرِدْ فِي الشَّرِيْعَةِ لاَ شَكَّ إِنْ كَانَتْ خَالِيَةُ عَنْ مَعْصِيَةٍ سَالِمَةً مِنَ الْمُنْكَرَاتِ فَهِيَ جَائِزَةٌ ِلأَنَّ اْلاِجْتِمَاعَ لَيْسَ بِمُحَرَّمٍ بِنَفْسِهِ لاَ سِيَّمَا إِذَا كَانَ لِتَحْصِيْلِ طَاعَةٍ كَالتِّلاَوَةِ وَنَحْوِهَا وَلاَ يُقْدَحُ فِي َذَلِكَ كَوْنُ تِلْكَ التِّلاَوَةِ مَجْعُوْلَةً لِلْمَيِّتِ فَقَدْ وَرَدَ جِنْسُ التِّلاَوَةِ مِنَ الْجَمَاعَةِ الْمُجْتَمِعِيْنَ كَمَا فِي حَدِيْثِ اقْرَأُوْا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ وَهُوَ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ وَلاَ فَرْقَ بَيْنَ تِلاَوَةِ يس مِنَ الْجَمَاعَةِ الْحَاضِرِيْنَ عِنْدَ الْمَيِّتِ أَوْ عَلَى قَبْرِهِ وَبَيْنَ تِلاَوَةِ جَمِيْعِ الْقُرْآنِ أَوْ بَعْضِهِ لِمَيِّتٍ فِي مَسْجِدِهِ أَوْ بَيْتِهِ اهـ (الرسائل السلفية للشيخ علي بن محمد الشوكاني ص : 46)
    “Tradisi yang berlaku di sebagian negara dengan berkumpul di masjid untuk membaca al-Quran dan dihadiahkan kepada orang-orang yang telah meninggal, begitu pula perkumpulan di rumah-rumah, maupun perkumpulan lainnya yang tidak ada dalam syariah, tidak diragukan lagi apabila perkumpulan tersebut tidak mengandung maksiat dan kemungkaran, hukumnya adalah boleh. Sebab pada dasarnya perkumpulannya sendiri tidak diharamkan, apalagi dilakukan untuk ibadah seperti membaca al-Quran dan sebagainya. Dan tidaklah dilarang menjadikan bacaan al-Quran itu untuk orang yang meninggal. Sebab membaca al-Quran secara berjamaah ada dasarnya seperti dalam hadis: Bacalah Yasin pada orang-orang yang meninggal. Ini adalah hadis sahih. Dan tidak ada bedanya antara membaca Yasin berjamaah di depan mayit atau di kuburannya, membaca seluruh al-Quran atau sebagiannya, untuk mayit di masjid atau di rumahnya” (Rasail al-Salafiyah, Syaikh Ali bin Muhammad as Syaukani, 46)
    Fatwa Ibnu Hajar al-Haitami
    Tradisi tahlilan dan memberi sedekah di hari-hari tertentu setelah ditelusuri sebenarnya tidak hanya menjadi kebiasaan umat Islam di Jawa. Jauh sebelum itu, yakni di masa Ibnu Hajar al-Haitami al-Syafi’i (1504-1567 M dan beliau memiliki banyak pengikut di wilayah Yaman) pernah ditanya mengenai hal diatas dan beliau memfatwakan bahwa perbuatan itu tidak diharamkam meskipun terbilang sesuatu yang baru. Bahkan dengan niat-niat tertentu pelakunya akan mendapatkan pahala. Berikut fatwa beliau:
    (وَسُئِلَ) أَعَادَ اللهُ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِهِ … عَمَّا يُعْمَلُ يَوْمَ ثَالِثِ مَوْتِهِ مِنْ تَهْيِئَةِ أَكْلٍ وَإِطْعَامِهِ لِلْفُقَرَاءِ وَغَيْرِهِمْ وَعَمَّا يُعْمَلُ يَوْمَ السَّابِعِ كَذَلِكَ وَعَمَّا يُعْمَلُ يَوْمَ تَمَامِ الشَّهْرِ مِنَ الْكَعْكِ وَيُدَارُ بِهِ عَلَى بُيُوْتِ النِّسَاءِ اللاَّتِي حَضَرْنَ الْجِنَازَةَ وَلَمْ يَقْصِدُوْا بِذَلِكَ إلاَّ مُقْتَضَى عَادَةِ أَهْلِ الْبَلَدِ حَتَّى إنَّ مَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ صَارَ مَمْقُوْتًا عِنْدَهُمْ خَسِيْسًا لاَ يَعْبَئُوْنَ بِهِ وَهَلْ إذَا قَصَدُوْا بِذَلِكَ الْعَادَةَ وَالتَّصَدُّقَ فِي غَيْرِ اْلأَخِيرَةِ أَوْ مُجَرَّدَ الْعَادَةِ مَاذَا يَكُوْنُ الْحُكْمُ جَوَازٌ وَغَيْرُهُ … وَعَنْ الْمَبِيْتِ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ إلَى مُضِيِّ شَهْرٍ مِنْ مَوْتِهِ ِلأَنَّ ذَلِكَ عِنْدَهُمْ كَالْفَرْضِ مَا حُكْمُهُ ؟
    (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ جَمِيْعُ ما يُفْعَلُ مِمَّا ذُكِرَ فِي السُّؤَالِ مِنَ الْبِدَعِ الْمَذْمُومَةِ لَكِنْ لاَ حُرْمَةَ فِيْهِ إلاَّ إنْ فُعِلَ شَيْءٌ مِنْهُ لِنَحْوِ نَائِحَةٍ أَوْ رِثَاءٍ وَمَنْ قَصَدَ بِفِعْلِ شَيْءٍ مِنْهُ دَفْعَ أَلْسِنَةِ الْجُهَّالِ وَخَوْضِهِمْ فِي عِرْضِهِ بِسَبَبِ التَّرْكِ يُرْجَى أَنْ يُكْتَبَ لَهُ ثَوَابُ ذَلِكَ أَخْذًا مِنْ أَمْرِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي الصَّلاَةِ بِوَضْعِ يَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَعَلَّلُوْهُ بِصَوْنِ عِرْضِهِ عَنْ خَوْضِ النَّاسِ فِيْهِ لَوِ انْصَرَفَ عَلَى غَيْرِ هَذِهِ الْكَيْفِيَّةِ … وَإِذَا كَانَ فِي الْمَبِيْتِ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ تَسْلِيَةٌ لَهُمْ أَوْ جَبْرٌ لِخَوَاطِرِهِمْ لَمْ يَكُنْ بِهِ بَأْسٌ ِلأَنَّهُ مِنَ الصِّلاَتِ الْمَحْمُودَةِ الَّتِي رَغَّبَ الشَّارِعُ فِيْهَا وَالْكَلاَمُ في مَبِيْتٍ لاَ يَتَسَبَّبُ عَنْهُ مَكْرُوْهٌ وَلاَ مُحَرَّمٌ وَإِلاَّ أُعْطِيَ حُكْمَ مَا تَرَتَّبَ عَلَيْهِ إذْ لِلْوَسَائِلِ حُكْمُ الْمَقَاصِدِ وَاَللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ (الفتاوى الفقهية الكبرى لابن حجر الهيتمي الشافعي 2 / 7)
    “(Ibnu Hajar al-Haitami) ditanya mengenai hal yang dilakukan pada hari ketiga setelah kematian dengan menghidangkan makanan orang-orang fakir dan lainnya, begitu pula pada hari ketujuh dan setelah sebulan. Mereka tidak melakukan hal ini kecuali untuk mengikuti tradisi penduduk setempat. Hingga jika ada diantara mereka ada yang tidak melakukannya, maka mereka kurang disenangi. Apakah jika mereka yang bertujuan melakukan tradisi dan sedekah, atau sekedar mengikuti tradisi, bagaimana tinjauan hukumnya, boleh atau tidak? Ibnu Hajar al-Haitami juga ditanya mengenai menginap di rumah duka hingga melewati masa satu bulan, sebab hal itu seperti kewajiban. Apa hukumnya? (Ibnu Hajar) menjawab: Semua yang terdapat dalam pertanyaan adalah bid’ah yang tercela tapi tidak haram. Kecuali bila dilakukan untuk meratapi mayit. Dan seseorang yang melakukannya bertujuan untuk menghindari ucapan orang-orang bodoh dan dapat merusak reputasinya jika meninggalkannya, maka ada harapan dia memperoleh pahala. Hal ini berdasarkan perintah Rasulullah Saw tentang seseorang yang hadats dalam salat untuk memegang hidung dengan tangannya.[1] Para ulama mengemukakan alasan untuk menjaga nama baiknya jika tidak melakukan cara seperti ini. Dan jika menginap di rumah duka bisa menghibur keluarganya dan bisa menentramkannya, maka tidak apa-apa bahkan ini bagian dari cara merajut hubungan yang terpuji, sebagaimana dianjurkan oleh syariat. Tema ini terkait menginap yang tidak menimulkan hal-hal makruh atau haram. Jika ini terjadi maka berlaku hukum sebaliknya, karena sebuah sarana memiliki hukum yang sama dengan tujuannya. Wallahu A’lam bi Shawab.” (al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, Ibnu Hajar al-Haitami, II/7)
    Fatwa Syaikh Muhammad Ali bin Husain al-Maliki
    Syaikh Muhammad Ali bin Husain al-Maliki, pengarang kitab Inarat al-Duja, memberi jawaban atas pertanyaan tentang kebiasaan di Jawa saat takziyah dan tahlil pada hari-hari tertentu, bahwa tradisi semacam itu bisa menjadi bid’ah yang diharamkan jika bertujuan untuk meratapi mayit, dan jika tidak bertujuan seperti itu dan tidak mengandung unsur haram lainnya, maka masuk kategori bid’ah yang diperbolehkan. Di akhir fatwa beliau berkata:
    اِعْلَمْ اَنَّ الْجَاوِيِّيْنَ غَالِبًا اِذَا مَاتَ اَحَدُهُمْ جَاؤُوْا اِلَى اَهْلِهِ بِنَحْوِ اْلاَرُزِّ نَيِّئًا ثُمَّ طَبَّخُوْهُ بَعْدَ التَّمْلِيْكِ وَقَدَّمُوْهُ لاَهْلِهِ وَلِلْحَاضِرِيْنَ عَمَلاً بِخَبَرِ “اصْنَعُوْا لاَلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا” وَطَمَعًا فِي ثَوَابِ مَا فِي السُّؤَالِ بَلْ وَرَجَاءَ ثَوَابِ اْلاِطْعَامِ لِلْمَيِّتِ عَلَى اَنَّ اْلعَلاَّمَةَ الشَّرْقَاوِيَ قَالَ فِي شَرْحِ تَجْرِيْدِ الْبُخَارِي مَا نَصُّهُ وَالصَّحِيْحُ اَنَّ سُؤَالَ الْقَبْرِ مَرَّةٌ وَاحِدَةٌ وَقِيْلَ يُفْتَنُ الْمُؤْمِنُ سَبْعًا وَالْكَافِرُ اَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا وَمِنْ ثَمَّ كَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ اَنْ يُطْعَمَ عَنِ الْمُؤْمِنِ سَبْعَةَ اَيَّامٍ مِنْ دَفْنِهِ اهــ بِحُرُوْفِهِ (بلوغ الامنية بفتاوى النوازل العصرية مع انارة الدجى شرح نظم تنوير الحجا 215-219)
    “Ketahuilah, pada umumnya orang-orang Jawa jika diantara mereka ada yang meninggal, maka mereka datang pada keluarganya dengan membawa beras mentah, kemudian memasaknya setelah proses serah terima, dan dihidangkan untuk keluarga dan para pelayat, untuk mengamalkan hadis: ‘Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far’ dan untuk mengharap pahala sebagaimana dalam pertanyaan (pahala tahlil untuk mayit), bahkan pahala sedekah untuk mayit. Hal ini berdasarkan pendapat Syaikh al-Syarqawi dalam syarah kitab Tajrid al-Bukhari yang berbunyi: Pendapat yang sahih bahwa pertanyaan dalam kubur hanya satu kali. Ada pendapat lain bahwa orang mukmin mendapat ujian di kuburnya selama 7 hari dan orang kafir selama 40 hari tiap pagi. Oleh karenanya para ulama terdahulu menganjurkan memberi makan untuk orang mukmin selama 7 hari setelah pemakaman” (Bulugh al-Amniyah dalam kitab Inarat al-Duja 215-219)
    Fatwa Syaikh al-Thahthawi al-Hanafi
    Seorang ulama dari kalangan Hanafiyah, Syaikh al-Thahthawi (1231 H), mengutip pendapat dari Syaikh Burhan al-Halabi yang membantah hukum makruh dalam selametan 7 hari:
    قَالَ فِي الْبَزَّازِيَّةِ يُكْرَهُ اِتِّخَاذُ الطَّعَامِ فِي اْليَوْمِ اْلأَوَّلِ وَالثَّالِثِ وَبَعْدَ اْلأُسْبُوْعِ وَنَقْلُ الطَّعَامِ إِلَى الْمَقْبَرَةِ فِي الْمَوَاسِمِ وَاتِّخَاذُ الدَّعْوَةِ بِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَجَمْعِ الصُّلَحَاءِ وَالْقُرَّاءِ لِلْخَتْمِ أَوْ لِقِرَاءَةِ سُوْرَةِ اْلأَنْعَامِ أَوِ اْلإِخْلاَصِ اهـ قَالَ الْبُرْهَانُ الْحَلَبِي وَلاَ يَخْلُوْ عَنْ نَظَرٍ ِلأَنَّهُ لاَ دَلِيْلَ عَلَى اْلكَرَاهَةِ (حاشية الطحطاوي على مراقي الفلاح شرح نور الإيضاح 1 / 409)
    “Disebutkan dalam kitab al-Bazzaziyah bahwa makruh hukumnya membuat makanan di hari pertama, ketiga dan setelah satu minggu, juga memindah makanan ke kuburan dalam musim-musim tertentu, dan membuat undangan untuk membaca al-Quran, mengumpulkan orang-orang sholeh, pembaca al-Quran untuk khataman atau membaca surat al-An’am dan al-Ikhlas. Burhan al-Halabi berkata: Masalah ini tidak lepas dari komentar, sebab tidak ada dalil untuk menghukuminya makruh[2]” (Hasyiyah al-Thahthawi I/409)
    [1] HR Abdurrazzaq No 3606 dan al-Baihaqi No 3202 Al-Hafidz al-Bushiri berkata: “Sanad hadis ini perawinya adalah orang-orang terpercaya” (Ithaf al-Khiyarah II/72)
    [2] Burhan al-Halabi memperbolehkan hal tersebut. Ini menunjukkan bahwa di masa itu sudah ada tradisi mengundang ulama dan orang lain untuk membaca al-Quran yang dihadiahkan bagi para al-Marhum.

    Saya jawab singkat saja mas,.
    Seluruh ulama diatas, apakah mereka semua lebih hebat ,lebih alim, lebih paham dari Rasulullah? Lebih hebat dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali??
    Jika anda jawab, iya, mereka lebih utama, lebih hebat, lebih paham dari Rasulullah dan khulafaur rasyidin, maka saya menganggap otak anda sudah tidak waras,..

    Rasulullah, juga khulafaur rasyidin tidak pernah melakukan TAHLILAN kematian,. atau kirim-kirim bacaan alquran,.
    Rasulullah dan khulafaur rasyidin tidak mengajarkan yang demikian,..

    Jadi, silahkan anda pilih yang mana, mau ikut rasulullah atau ikut ulama yang anda sebutkan diatas???
    Rasul saja tidak tahlilan mas,.. silahkan baca disini

  38. saya cm mau menyampaikan saja yg terjadi di masyarakat dimana saya tinggal, ada pergeseran nama kegiatan yg semula SLAMETAN menjadi SODAQOHAN, yg saya yakin 2 hal tersebut berbeda makna (yg diforum ini lebih paham makna masing2) dan yg saya heran setelah melaukan SHODAQOHAN malah yg punya hajat mengeluh (saya medengar sendiri dg telinga saya) beberapa orang dr kalangan ekonomi bawah mengatakan yg pada intinya “wayahe shodaqohan g duwe duit, duit ae leh utang, saiki wis entek, ngko piye leh mbalekne”. saya orang awam,dan saya cuma menyampaikan yg saya alami saja

    Begitulah amalan bidah,.
    Mereka akan kebingungan meninggalkan hal tersebut,.
    Biar tidak ditinggalkan, maka diganti namanya,. karena nama yang pertama sudah banyak yang paham bahwa amalan itu tidak ada perintah atau contohnya dari rasulullah,.

    biar dianggap itu ajaran islam, diganti nama menjadi shadaqahan,. ini sih masih itu-itu juga,.
    shadaqah itu SUNNAH, tapi jika ditambah “an” maka menjadi bidah,.

    Ibadah itu BUTUH DALIL, bukan beribadah dulu baru mencari-cari dalil, atau mendalili amal,

  39. Assalamualaikum, ya akhi wa ukhti, sepengetahuan saya kalau tahlilan itu mencontoh agama hindu, karena di dalam kitab weda agama hindu itu ada pembahasan tentang selamatan untuk si mayit dari hari ke 7, 40 dstnya,

    Disebutkan bahwa kepercayaan yang ada pada sebagian ummat Islam, orang yang meninggal jika tidak diadakan selamatan (kenduri: 1 hari, 3 hari, 7 hari, 40 hari dst, /red ) maka rohnya akan gentayangan adalah jelas-jelas berasal dari ajaran agama Hindu. Dalam agama Hindu ada syahadat yang dikenal dengan Panca Sradha (Lima Keyakinan). Lima keyakinan itu meliputi percaya kepadaSang Hyang Widhi, Roh leluhur, Karma Pala, Samskara, dan Moksa. Dalam keyakinan Hindu roh leluhur (orang mati) harus dihormati karena bisa menjadi dewa terdekat dari manusia [Kitab Weda Smerti Hal. 99 No. 192]. Selain itu dikenal juga dalam Hindu adanya Samskara (menitis/reinkarnasi).

    Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 yang berbunyi : “Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu.

    Dalam buku media Hindu yang berjudul : “Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa, serpihan yang tertinggal” karya : Ida Bedande Adi Suripto, ia mengatakan : “Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian orang Jawa hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas adalah ajaran Hindu.”

    Telah jelas bagi kita pada awalnya ajaran ini berasal dari agama Hindu, selanjutnya umat islam mulai memasukkan ajaran-ajaran islam dicampur kedalam ritual ini. Disusunlah rangkaian wirid-wirid dan doa-doa serta pembacaan Surat Yasin kepada si mayit dan dipadukan dengan ritual-ritual selamatan pada hari ke 7, 40, 100, dan 1000 yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Apakah mencampur-campur ajaran seperti ini diperbolehkan??

    Iya, campur mencampur ajaran ini tanpa sadar sudah diajarkan dan menjadi keyakinan nenek moyang kita dulu yang ternyata sebagian dari kaum muslimin pun telah mewarisinya dan gigih mempertahankannya. Lalu apakah kita lebih memegang perkataan nenek moyang kita daripada apa-apa yang di turunkan Allah kepada RasulNya?

    Allah berfirman :

    وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ

    ”Dan apabila dikatakan kepada mereka :”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab :”(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”

    (QS. Al Baqarah : 170)

    Allah berfirman :

    وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

    “Dan janganlah kamu mencampuradukkan Kebenaran dengan Kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah : 42)

    Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh kita untuk tidak boleh mencampuradukkan ajaran agama islam (kebenaran) dengan ajaran agama Hindu (kebatilan) tetapi kita malah ikut perkataan manusia bahwa mencampuradukkan agama itu boleh, Apa manusia itu lebih pintar dari Allah???

    Selanjutnya Allah berfirman :

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

    “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”.(QS. Al Baqarah : 208).

    Allah menyuruh kita dalam berislam MENYELURUH, tidak setengah-setengah…

  40. Tradisi Tahlilan udah jelas ga ada tuntunanya dari Rasulullah shallalahu alaihi wasalam. Orang NU juga udah ngakuin. Ini dia nih, ada di Lirik syair NU:

    Nganggo usholli sholate NU
    Adzan pindo jum’atane NU
    Nganggo qunut subuhane NU
    Dzikir bareng amalane NU

    Tahlilan hadiahe NU
    Manaqiban washilahe NU
    Wiridan rutinane NU
    Maulidan sholawatane NU

    Nah.. kesemuanya amalan diatas bukan punya Rasullullah, tapi punya NU. Pertanyaanya, Mau ngikut NU apa Rasulullah shallalahu alaihi wassalam?

  41. saya ikut 1 jalan aja, ya jalan Rasulullah dan para shahabat dong, kalau jalan yg sesat mah banyak, mari berfikir sehat jgn mau dibodohi, smg Allah subhana wa taala memberikan kita semua akan petunjuk sunnah dan menguatkannya aamiin

  42. Bismillah.. لنا اعمالنا و لكم اعمالكم
    Tahlilan bukanlah sebuah kewajiban, jika ditinggalkan berdosa atau bukanlah perkara yang diwajibkanNya atau ditetapkanNya atau bukanlah perkara syariat, syarat sebagai hamba Allah.

    Jika berkeyakinan bahwa tahlilan adalah sebuah kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa maka keyakinan seperti itu termasuk bid’ah dholalah karena yang mengetahui atau menetapkan sesuatu perkara atau perbuatan ditinggalkan berdosa (kewajiban) atau dikerjakan / dilanggar berdosa (larangan/pengharaman) hanyalah Allah ta’ala

    Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)
    Tahlilan adalah amal kebaikan, perkara diluar apa yang diwajibkanNya dan tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.

    Tahlilan adalah sedekah atas nama ahli kubur yang diselenggarakan oleh keluarga ahli kubur sedangkan peserta tahlilan bersedekah diniatkan untuk ahli kubur dengan tasbih, takbir, tahmid, tahlil, pembacaan surah Yasiin, Al Fatihah, dzikir dan doa

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan bahwa kita boleh bersedekah atas nama orang yang telah meninggal dunia

    حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأُرَاهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ تَصَدَّقْ عَنْهَا

    Telah bercerita kepada kami Isma’il berkata telah bercerita kepadaku Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa ada seorang laki-laki yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia secara mendadak dan aku menduga seandainya dia sempat berbicara dia akan bershadaqah. Apakah aku boleh bershadaqah atas namanya? Beliau menjawab: Ya bershodaqolah atasnya. (HR Muslim 2554)
    Contoh sedekah oleh bukan keluarga

    Pernah dicontohkan bebasnya utang mayyit yang ditanggung oleh orang lain sekalipun bukan keluarga. Ini berdasarkan hadits Abu Qotadah dimana ia telah menjamin untuk membayar hutang seorang mayyit sebanyak dua dinar. Ketika ia telah membayarnya Nabi bersabda: “Sekarang engkau telah mendinginkan kulitnya” (HR Ahmad)

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan bahwa sedekah tidak selalu dalam bentuk harta

    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ مَوْلَى أَبِي عُيَيْنَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدِّيلِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ

    Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Asma` Adl Dluba’i Telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Maimun Telah menceritakan kepada kami Washil maula Abu Uyainah, dari Yahya bin Uqail dari Yahya bin Ya’mar dari Abul Aswad Ad Dili dari Abu Dzar bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada beliau, Wahai Rosulullah, orang-orang kaya dapat memperoleh pahala yang lebih banyak. Mereka shalat seperti kami shalat, puasa seperti kami puasa dan bersedekah dengan sisa harta mereka. Maka beliau pun bersabda: Bukankah Allah telah menjadikan berbagai macam cara kepada kalian untuk bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat takbir adalah sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap kalimat tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah (HR Muslim 1674)

    Imam Syafi’i ra , ulama yang telah diakui oleh jumhur ulama dari dahulu sampai sekarang berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak. Ulama yang paling baik dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah dan Beliau masih bertemu dengan para perawi hadits atau Salafush Sholeh, sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Nawawi

    قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمهُ اللَّه: ويُسْتَحَبُّ أنْ يُقرَأَ عِنْدَهُ شيءٌ مِنَ القُرآنِ، وَإن خَتَمُوا القُرآن عِنْدهُ كانَ حَسناً

    “Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata : disunnahkan agar membaca sesuatu dari al-Qur’an disisi quburnya, dan apabila mereka mengkhatamkan al-Qur’an disisi quburnya maka itu bagus” (Riyadlush Shalihin [1/295] lil-Imam an-Nawawi ; Dalilul Falihin [6/426] li-Imam Ibnu ‘Allan ; al-Hawi al-Kabir fiy Fiqh Madzhab asy-Syafi’i (Syarah Mukhtashar Muzanni) [3/26] lil-Imam al-Mawardi dan lainnya.

    قال الشافعى : وأحب لو قرئ عند القبر ودعى للميت

    Imam Syafi’i mengatakan “aku menyukai sendainya dibacakan al-Qur’an disamping qubur dan dibacakan do’a untuk mayyit” ( Ma’rifatus Sunani wal Atsar [7743] lil-Imam al-Muhaddits al-Baihaqi.)

    Begitupula Imam Ahmad semula mengingkarinya karena atsar tentang hal itu tidak sampai kepadanya namun kemudian Imam Ahmad ruju’

    قال الحافظ بعد تحريجه بسنده إلى البيهقى قال حدثنا أبو عبدالله الحافظ قال حدثنا ابو العباس بن يعقوب قال حدثنا العباس بن محمد قال سألت يحي بن معين عن القرأءة عند القبر فقال حدثنى مبشر بن أسماعيل الحلبي عن عبد الرحمن بن اللجلاج عن أبيه قال لبنيه إذا أنا مت فضعونى فى قبرى وقولوا بسم الله وعلى سنه رسول الله وسنوا على التراب سنا ثم إقرأوا عند رأسى أول سوره البقرة وخاتمتها فإنى رأيت إبن عمر يستحب ذلك ,قال الحافظ بعد تخريجه هذا موقوف حسن أخريجه أبو بكر الخلال وأخريجه من رواية أبى موسى الحداد وكان صدوقا قال صلينا مع أحمد على جنازة فلما فرغ من ذفنه حبس رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة فلما خرجنا قال له محمد بن قدامة يا أبا عبد الله ما تقول فى مبشر بن إسماعيل قال ثقة قال كتبت عنه شيئا قال نعم قال إنه حدثنى عن عبد الرحمن بن اللجلاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرؤا عند قبره فاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصى بذلك قال فقال أحمد للرجل فليقرأ. اه

    al-Hafidh (Ibnu Hajar) berkata setelah mentakhrijnya dengan sanadnya kepada al-Baihaqi, ia berkata ; telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah al-Hafidz, ia berkata telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbas bin Ya’qub, ia berkata, telah menceritakan kepada kami al-‘Abbas bin Muhammad, ia berkata, aku bertanya kepada Yahya bin Mu’in tentang pembacaan al-Qur’an disamping qubur, maka ia berkata ; telah menceritakan kepadaku Mubasysyir bin Isma’il al-Halabi dari ‘Abdur Rahman bin al-Lajlaj dari ayahnya, ia berkata kepada putranya, apabila aku telah wafat, letakkanlah aku didalam kuburku, dan katakanlah oleh kalian “Bismillah wa ‘alaa Sunnati Rasulillah”, kemudian gusurkan tanah diatasku dengan perlahan, selanjutnya bacalah oleh kalian disini kepalaku awal surah al-Baqarah dan mengkhatamkannya, karena sesungguhnya aku melihat Ibnu ‘Umar menganjurkan hal itu. Kemudian al-Hafidh (Ibnu Hajar) berkata setelah mentakhrijnya, hadits ini mauquf yang hasan, Abu Bakar al-Khallal telah mentakhrijnya dan ia juga mentakhrijnya dari Abu Musa al-Haddad sedangkan ia orang yang sangat jujur.

    Ia berkata : kami shalat jenazah bersama bersama Ahmad, maka tatkala telah selesai pemakamannya duduklah seorang laki-laki buta yang membaca al-Qur’an disamping qubur, maka Ahmad berkata kepadanya ; “hei apa ini, sungguh membaca al-Qur’an disamping qubur adalah bid’ah”. Maka tatkala kami telah keluar, berkata Ibnu Qudamah kepada Ahmad : “wahai Abu Abdillah, apa komentarmu tentang Mubasysyir bin Isma’il ? “, Ahmad berkata : tsiqah, Ibnu Qudamah berkata : engkau menulis sesuatu darinya ?”, Ahmad berkata : Iya. Ibnu Qudamah berkata : sesungguhnya ia telah menceritakan kepadaku dari Abdur Rahman bin al-Lajlaj dari ayahnya, ia berpesan apabila dimakamkan agar dibacakan pembukaan al-Baqarah dan mengkhatamkannya disamping kuburnya, dan ia berkata : aku mendengar Ibnu ‘Umar berwasiat dengan hal itu, Maka Ahmad berkata kepada laki-laki itu “lanjutkanlah bacaaanmu”.

    Abdul Haq berkata : telah diriwayatkan bahwa Abdullah bin ‘Umar –radliyallahu ‘anhumaa- memerintahkan agar dibacakan surah al-Baqarah disisi quburnya dan diantara yang meriwayatkan demikian adalah al-Mu’alla bin Abdurrahman

    Ngeri saya membaca awal komentar anda, membawakan ayat yang ditujukan untuk orang kafir,

    Apakah anda menuduh saya sebagai orang kafir? Jangan sembarangan membawakan ayat tersebut,
    Mudah2an anda lakukan karena kebodohan anda, bkn karena keyakinan, kalau karena keyakinan, maka fatal akibatnya, silahkan baca ulasannya di sini

    Saya tegaskan, meninggalkan perbuatan yang rasulullah juga tinggalkan, itu ada pahala,.

    Meninggalkan amalan TAHLILAN kematian, itu akan mendapatkan pahala, melakukannya akan mendapatkan dosa,
    Cape gawe, nyeri hate, nte kapakai, eta istilah sundana

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*