TERIMAKASIH ASWAJA…

terimakasih aswajaTERIMA KASIH ASWAJA ….

Dahulu, Al-Arify pernah berkata di depan umat manusia, “Terima kasih, Bush!” Kau akan bertanya-tanya, “Aduhai…gerangan mengapakah kau berterima kasih pada penjahat semacamnya? Sudah habiskah insan berbudi di bumi hingga kau berterima kasih pada penjahat ini?”

Tahulah kemudian alasannya, bahwa Bush telah berandil tinggi akan tersohornya Islam di hati-hati hari-hari kemudian. Bush betapa inginnya Islam terjatuh, selagi meredup cahaya dipunya. Namun, rupanya Islam membangkit dan semakin bersinar cahayanya.

Jika Al-Arify begitu tega berterima kasih, Al-Jaizy pun ingin berterima kasih pada saudara-saudaranya dari kalangan Aswaja. Aswaja, selalunya, sedianya, sememangnya, sebenarnya atau mungkin selamanya mempromosikan Salafy.

Aswaja rela merendahkan diri sendiri dengan mencaci-caci, demi tersohornya Salafy. Aswaja rela mensohorkan nama ‘Wahabi’, demi tersiarnya Salafy. Bahkan sebagian grassroot hingga tetuanya rela berdusta, demi terkenalnya Salafy.

Aswaja telah sukses mempromosikan dakwah Salafiyyah. Aswaja tahu, saudara-saudaranya dari kalangan Salafy punya kesalahan.

Demi memperkenalkan Salafy pada umat, Aswaja pun rela meneliti, mengintai dan membocorkan kesalahan dan aib saudara-saudaranya dari kalangan Salafy di tengah umat. Terima kasih, Aswaja.

Aswaja, yang merupakan senior di negeri ini, begitu perhatian pada Salafy, yang belum lama tumbuh namun sudah menjamur kemana-mana.

Saking perhatiannya pada Salafy, Aswaja kesampingkan bayangan gurita Syi’ah, yang mulai merasuk ke mereka.

Sungguh, betapa cintanya Aswaja pada Salafy.

Wahai, saudara-saudara Salafy, sayangilah mereka pula!  Merekalah yang membuatmu dan golonganmu terkenal.

Jika para petinggi Aswaja rela ceramah panas-panas demi mempromosikan Salafy, pun berlaku pada orang-orang kecilnya.

Merasa sudah ngaji lama, anak-anak Aswaja menasihati anak-anak Salafy agar selalu mengaji pada guru.

‘Jika seseorang tidak ngaji pada guru, maka gurunya adalah setan,’ begitu kiranya bait pamungkas mereka, yang asalnya adalah milik Al-Bustamy, seorang penguasa fakultas sufi jurusan tarekat.

Ketika para Salafy sibuk belajar sambil copas, mereka menasihati agar jangan hanya bisa copas.

Ketika para Salafy mengambil faedah dari kitab-kitab ulama, mereka menasehati agar berhati-hati karena sekarang banyak kitab dipalsukan.

Ketika para Salafy undur diri dari dzikir bersama, tahlilan dan sebagainya, mereka menasihati agar rajin-rajinlah beribadah.

Apa lagi bukti cinta Aswaja terhadap Salafy? Apa lagi?

Ketika kaum Salafy memprakarsai Maktabah Syamilah, berisikan puluhan ribu kitab-kitab ulama, Aswaja mewanti-wanti. ‘Hati-hati kalian, ebook Syamilah bisa diedit dan dipalsukan,’ kata mereka dengan bijaknya.

Saking bijaknya, ulama dan pelajar mereka pun meraup manfaat dari kehadiran Maktabah Syamilah.

Saking ingin mencari kebenaran, sebagian dari Aswaja meneliti kitab-kitab Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, dan Muhammad bin Abdul Wahhab, agar jika ditemukan penyimpangan di dalamnya, akan mereka luruskan dengan pemahaman agama mereka, sebagai kaum senior.

Ya, benar! Saking inginnya mencari kebenaran dan demi ilmu, mereka mengamati kitab-kitab yang biasa dikaji kaum Salafy.

Jika ada yang salah, diluruskan. Jika sesuai dengan keyakinan mereka, disebarkan dengan cara copas, dari Maktabah Syamilah.

Mereka begitu baik.

Mereka membaca banyak dan copas faedah dari Syamilah sembari melarang orang melakukan seperti apa yang mereka lakukan. Minimal, mereka akan mengatakan, ‘Waspadai Syamilah!’ tanpa pelarangan mutlak.

Karena itulah, mereka bisa menghibur manusia dengan humor-humor yang mereka ciptakan sendiri. Inilah humor yang bagus nan menghibur: [http://mazzulfa.wordpress.com/2012/08/18/awas-ternyata-maktabah-syamilah-buatan-wahabi/]

Aswaja begitu inginnya memurnikan dakwah Islam dari ‘Wahabisme’. Mereka pun memperingatkan kaum muslimin, terutama mereka sendiri dari kitab-kitab Wahabisme di Syamilah.

Ini ditujukan agar kaum muslimin tidak terperosok ke ‘jurang’ Wahabisme dan tetap teguh di jalur Ahlus Sunnah wal Jama’ah (singkatan: Aswaja): [http://suaraaswaja.com/maktabah-syamilah.html]

Padahal, Syamilah ini sudah terlalu indah untuk dikritik dan terlalu bermanfaat untuk didiskreditkan eksistensinya. Mulai dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah hingga Ahlul Bid’ah wal Hizbiyyah, mereka semua sama-sama berenang dalam berkah Syamilah.

Akhir-akhir ini, program ‘Islami’ bernama Khazanah di salah satu kanal televisi nasional menjadi topik hangat.

Aswaja menginginkan agar kaum muslimin tidak menonton acara tersebut.

Aswaja berkata, ‘Acara tersebut menipu umat!’.

Padahal program Khazanah justru mempromosikan ritual-ritual yang jamak dilakukan sebagian besar dari Aswaja.

Sayang sekali, acara Khazanah justru bukti faktual dan aktual yang menunjukkan bahwa Salafy ingin membalas cinta Aswaja.

Salafy ingin mengungkapkan perasaan cintanya pada Aswaja dengan cara modern.

Tetapi, Aswaja kurang berkenan. Sayang sekali.

Aswaja sudah berjasa besar terhadap umat Islam di negeri ini. Salah satunya adalah dengan rutin mempromosikan Salafy, baik ke orang alim atau ke orang awam.

Saking berjasanya, seolah-olah Islam di negeri ini hanyalah Aswaja semata.

Jika tidak sewarna, tidak sebentuk, dan tidak sepemikiran, maka ia sesat.

Dan sepertinya di dunia ini, di mata saudara-saudara Aswaja, yang sesat hanya satu, yaitu Wahabi.

Semangat kaum Aswaja layak dicontoh. Dicontoh semangatnya. Mereka bersemangat dalam menggalang persatuan kelompok, begitu memurnikan pencitraan dan sangat waspada terhadap serangan Wahabi.

Padahal Wahabi tidak pernah berharap bisa membakar rumah-rumah Aswaja.

Padahal Wahabi ketika ceramah tidak ingin membakar jenggot Aswaja. Bagaimana mau membakar jenggot, jika punya saja tidak?

Wahabi tidak suka main bakar-bakaran; meskipun sebagian Aswaja merasa diancam pembakaran.

Padahal yang terbakar adalah rokok mereka. Dan yang membakar adalah mereka sendiri. Bagaimana ini?

Harapan kita bahwa kelak Salafy dan Aswaja akur. Karena jika mau ditinjau-tinjau, keduanyalah kaum muslimin pengikut Nabi Muhammad dan generasi salaf. Salafy = pengikut Salaf. Aswaja = Ahlus Sunnah wal Jama’ah = pengikut salaf.

Bedanya, yang satu seringkali memang benar-benar mencerminkan Salafiyyah, sedangkan satunya lagi cuma setawar nama saja. Disingkat pula. Ehm.

Bagaimana caranya akur?

Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.

Bukan sedikit-sedikit kembali ke emosi…sedikit-sedikit menjadi suporter fanatik.

Sampai Imam Al-Bantany dan Al-Banjary bangkit dari kubur pun takkan jadi. Mustahil. Bukan klaim yang dibutuhkan.

Sebagian saudara Salafy, mengklaim paling ittiba’ dan menuding siapapun selainnya adalah awam dan muqallid.

Tidak sadar bahwa mereka juga kadang bertaqlid. Sebagian saudara Aswaja, menasehati selainnya agar tidak merasa paling benar sembari merasa dirinya dan kelompoknya adalah yang terbenar.

Sebagian ada yang main tantang menantang. Petantang petenteng menantang adu ilmu Nahwu, Shorof, Balaghoh, Bayan, Hikmah. Manthiq, Ushul Fiqh daaaan seterusnya; sembari bawa ijasah pesantren tradisional yang biasa baca kitab kuning.

Andai yang seperti ini mau menengok kemegahan pondok-pondok Salafy modern, yang juga bisa baca kitab dan jauh berkembang, tentu hanya kepada kopi dan rokok mereka terhibur.

Aswaja, kaum yang tak letihnya memotivasi Salafy untuk selalu mencari ilmu di kitab dan berguru pada guru.

Ketika Salafy semakin besar dan berkembang…
Ketika Salafy semakin banyak kajian dan hadirinnya…
Ketika Salafy semakin berilmu dan mapan…

maukah teman-teman Aswaja menerima cinta dan persaudaraan dari teman-teman Salafy?

Terima kasih, Aswaja.

Kami saudara kalian dan kalian saudara kami.

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/529647450409978

Print Friendly, PDF & Email

10 Comments

  1. assalamualaikum warohmatullah wb..

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    subhanallah…walhamdulillah ..ALLAHUAKBAR..artikel yg bagus..

    untuk kritik sesama muslim..apakah karena aswaja sdh lama di indonesia dan tercampur dg adat dan kebudayaan setempat plus ajaran syiah yg menyusup dg halus ke tubuh aswaja”?,,

    maka ketika ada ajakan untuk memurnikan islam sesuai pemahaman salafusholeh , mereka enggan,dan menolak keras….kenapa mereka menolak ajakan untuk memurnikan islam ?????….

    ana juga bingung jawabnya hrs mulai darimana?,

    ana dan saudara ana juga temen ana pernah ribut masalah ini [ BIDAH,,SYIRIK, TAHAYYUL tathoyyur}.

    Kalo udah masalah bidah biasanya mereka PASTI marah ,ya sudahlah diskusinya,mengalah saja, bagaimanapun mereka adalah saudara seiman kita,sesama muslim harus lembut dan berkasihsayang, walaupun dlm hati ini ingin sekali mengajak mereka memurnikan islam sesuai pamahaman salaf,

    wassalamualaikum warohmatullah wb

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  2. Assalamu’alaikum wrwb.

    Wa’alalikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    sdr. admin, ada yang membingungkan bagi saya tentang pendapat Ibnu Taimiyah katanya mendukung pembagian bid’ah hasanah dan bid’ah dholallah, mudah2-an sdr admin bisa menjelaskan dan coba bisa kunjungi alamat di bawah ini yang saya temukan dan di sana ada scan kitabnya: (di sana disebutkan tamparan bagi kaum Wahabi) sya berharap saudara admin dapat mengunjungi alamat tersebut dan bisa menjelaskan hal tersebut,

    https://www.facebook.com/photo.php?fbid=150296295145618&set=a.122857684556146.24725.117807148394533&type=1&theater
    dan di sini:
    http://www.facebook.com/pages/Dukung-NU-Mendirikan-TV-NU-Nusantara/120416661356120?hc_location=stream

    Mengunjungi alamat tersebut tidak ada manfaatnya bagi saya, apalagi disitu sebagian besar adalah fanatik-fanatik mereka,.
    Saya nukilkan saja jawaban utk link tsb,.
    apa yg ada di link tersebut adalah perkataan Imam Syafii yg dinukil oleh Ibnu Taimiyah, jadi itu bukan perkataan Ibnu Taimiyah,.
    Berikut ini penjelasannya:
    perkataan Imam As-Syafi’i maka sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dengan sanad beliau hingga Harmalah bin Yahya-,

    ثَنَا حَرْمَلَة بْنُ يَحْيَى قَالَ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِي يَقُوْلُ : البِدْعَةُ بِدْعَتَانِ بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ، فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَذْمُومٌ، وَاحْتَجَّ بِقَوْلِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ : نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هِيَ

    Dari Harmalah bin Yahya berkata, “Saya mendengar Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i berkata, “Bid’ah itu ada dua, bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela, maka bid’ah yang sesuai dengan sunnah adalah terpuji dan bid’ah yang menyelisihi sunnah adalah bid’ah yang tercela”, dan Imam Asy-Syafi’i berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottob tentang sholat tarawih di bulan Ramadhan “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” (Hilyatul Auliya’ 9/113)

    Ada beberapa hal penting yang berkaitan dengan perkataan Imam As-Syafi’i ini :

    Pertama : Sangatlah jelas bahwasanya maksud Imam As-Syafii adalah pengklasifikasian bid’ah ditinjau dari sisi bahasa. Oleh karenanya beliau berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottoob :”Sebaik-baik bid’ah adalah ini (yaitu sholat tarawih berjamaah)”. Padahal telah diketahui bersama –sebagaimana telah lalu penjelasannya- bahwasanya sholat tarwih berjamaah pernah dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Kedua : Kita menafsirkan perkataan Imam As-Syafi’i ini dengan perkataannya yang lain sebagaimana disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam Tahdziib Al-Asmaa’ wa Al-Lughoot (3/23)

    “Dan perkara-perkara yang baru ada dua bentuk, yang pertama adalah yang menyelisihi Al-Kitab atau As-Sunnah atau atsar atau ijma’, maka ini adalah bid’ah yang sesat. Dan yang kedua adalah yang merupakan kebaikan, tidak seorang ulamapun yang menyelisihi hal ini (bahwasanya ia termasuk kebaikan-pen) maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela”(lihat juga manaqib As-Syafi’i 1/469)

    Lihatlah Imam As-Syafi’i menyebutkan bahwa bid’ah yang hasanah sama sekali tidak seorang ulama pun yang menyelisihi. Jadi seakan-akan Imam Asy-Syafi’i menghendaki dengan bid’ah hasanah adalah perkara-perkara yang termasuk dalam bab al-maslahah al-mursalah, yaitu perkara-perkara adat yang mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan tidak terdapat dalil (nas) khusus, karena hal ini tidaklah tercela sesuai dengan kesepakatan para sahabat meskipun hal ini dinamakan dengan muhdatsah (perkara yang baru) atau dinamakan bid’ah jika ditinjau dari sisi bahasa.

    Berkata Ibnu Rojab, “Adapun maksud dari Imam Asy-Syafi’i adalah sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwasanya pokok dari bid’ah yang tercela adalah perkara yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam syari’ah yang bisa dijadikan landasan, dan inilah bid’ah yang dimaksudkan dalam definisi syar’i (terminology). Adapun bid’ah yang terpuji adalah perkara-perkara yang sesuai dengan sunnah yaitu yang ada dasarnya dari sunnah yang bisa dijadikan landasan dan ini adalah definisi bid’ah menurut bahasa bukan secara terminology karena ia sesuai dengan sunnah” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 267)

    Ketiga : Oleh karena itu tidak kita dapati Imam Asy-Syafii berpendapat dengan suatu bid’ahpun dari bid’ah-bid’ah yang tersebar sekarang ini dengan dalih hal itu adalah bid’ah hasanah. Karena memang maksud beliau dengan bid’ah hasanah bukanlah sebagaimana yang dipahami oleh para pelaku bid’ah zaman sekarang ini.

    Diantara amalan-amalan yang dianggap bid’ah hasanah yang tersebar di masyarakat namun diingkari Imam As-Syafii adalah :

    – Acara mengirim pahala buat mayat yang disajikan dalam bentuk acara tahlilan.

    Bahkan masyhuur dari madzhab Imam Asy-Syafii bahwasanya beliau memandang tidak sampainya pengiriman pahala baca qur’an bagi mayat. Imam An-Nawawi berkata:

    “Dan adapun sholat dan puasa maka madzhab As-Syafi’i dan mayoritas ulama adalah tidak sampainya pahalanya kepada si mayat…adapun qiroah (membaca) Al-Qur’aan maka yang masyhuur dari madzhab As-Syafi’I adalah tidak sampai pahalanya kepada si mayat…” (Al-Minhaaj syarh shahih Muslim 1/90)

    – Meninggikan kuburan dan dijadikan sebagai mesjid atau tempat ibadah

    Imam As-Syafi’I berkata :

    وأكره أن يعظم مخلوق حتى يُجعل قبره مسجداً مخافة الفتنة عليه وعلى من بعده من الناس

    “Dan aku benci diagungkannya seorang makhluq hingga kuburannya dijadikan mesjid, kawatir fitnah atasnya dan atas orang-orang setelahnya” (Al-Muhadzdzab 1/140, Al-Majmuu’ syarhul Muhadzdzab 5/280)

    Bahkan Imam As-Syafii dikenal tidak suka jika kuburan dibangun lebih tinggi dari satu jengkal. Beliau berkata :

    وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُزَادَ في الْقَبْرِ تُرَابٌ من غَيْرِهِ وَلَيْسَ بِأَنْ يَكُونَ فيه تُرَابٌ من غَيْرِهِ بَأْسٌ إذَا زِيدَ فيه تُرَابٌ من غَيْرِهِ ارْتَفَعَ جِدًّا وَإِنَّمَا أُحِبُّ أَنْ يُشَخِّصَ على وَجْهِ الْأَرْضِ شِبْرًا أو نَحْوَهُ وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُبْنَى وَلَا يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلَاءَ… وقد رَأَيْت من الْوُلَاةِ من يَهْدِمَ بِمَكَّةَ ما يُبْنَى فيها فلم أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ ذلك

    “Aku suka jika kuburan tidak ditambah dengan pasir dari selain (galian) kuburan itu sendiri. Dan tidak mengapa jika ditambah pasir dari selain (galian) kuburan jika ditambah tanah dari yang lain akan sangat tinggi. Akan tetapi aku suka jika kuburan dinaikan diatas tanah seukuran sejengkal atau yang semisalnya. Dan aku suka jika kuburan tidak dibangun dan tidak dikapur karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan…

    Aku telah melihat di Mekah ada diantara penguasa yang menghancurkan apa yang dibangun diatas kuburan, dan aku tidak melihat para fuqohaa mencela penghancuran tersebut”(Al-Umm 1/277)

    – Pengkhususan Ibadah pada waktu-waktu tertentu atau cara-cara tertentu

    Berkata Abu Syaamah :

    “Imam As-Syafi’i berkata : Aku benci seseroang berpuasa sebulan penuh sebagaimana berpuasa penuh di bulan Ramadhan, demikian juga (Aku benci) ia (mengkhususkan-pent) puasa suatu hari dari hari-hari yang lainnya. Hanyalah aku membencinya agar jangan sampai seseorang yang jahil mengikutinya dan menyangka bahwasanya perbuatan tersebut wajib atau merupakan amalan yang baik” (Al-Baa’its ‘alaa inkaar Al-Bida’ wa Al-Hawaadits hal 48)

    Perhatikanlah, Imam As-Syafii membenci amalan tersebut karena ada nilai pengkhususan suatu hari tertentu untuk dikhususkan puasa. Hal ini senada dengan sabda Nabi

    « لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِى وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ فِى صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ »

    “Janganlah kalian mengkhususkan malam jum’at dari malam-malam yang lain dengan sholat malam, dan janganlah kalian mengkhususkan hari jum’at dari hari-hari yang lain dengan puasa, kecuali pada puasa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian” (yaitu maksudnya kecuali jika bertepatan dengan puasa nadzar, atau ia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, atau puasa qodho –lihat penjelasan Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaaj 8/19)

    Perhatikanlah, para pembaca yang budiman, puasa adalah ibadah yang disyari’atkan, hanya saja tatkala dikhususkan pada hari-hari tertentu tanpa dalil maka hal ini dibenci oleh Imam As-Syafi’i.

    Maka bagaimana jika Imam As-Syafii melihat ibadah-ibadah yang asalnya tidak disyari’atkan??!

    Apalagi ibadah-ibadah yang tidak disyari’atkan tersebut dikhususkan pada waktu-waktu tertentu??

    Beliau juga berkata dalam kitabnya Al-Umm

    “Dan aku suka jika imam menyelesaikan khutbahnya dengan memuji Allah, bersholawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyampaikan mau’izhoh, dan membaca qiroa’ah, dan tidak menambah lebih dari itu”.

    Imam As-Syafii berkata : “Telah mengabarkan kepada kami Abdul Majiid dari Ibnu Juraij berkata : Aku berkata kepada ‘Athoo : Apa sih doa yang diucapkan orang-orang tatkala khutbah hari itu?, apakah telah sampai kepadamu hal ini dari Nabi?, atau dari orang yang setelah Nabi (para sahabat-pent)?. ‘Athoo berkata : Tidak, itu hanyalah muhdats (perkara baru), dahulu khutbah itu hanyalah untuk memberi peringatan.

    Imam As-Syafii berkata, “Jika sang imam berdoa untuk seseorang tertentu atau kepada seseorang (siapa saja) maka aku membenci hal itu, namun tidak wajib baginya untuk mengulang khutbahnya” (Al-Umm 2/416-417)

    Para pembaca yang budiman, cobalah perhatikan ucapan Imam As-Syafi’i diatas, bagaimanakah hukum Imam As-Syafii terhadap orang yang menkhususkan doa kepada orang tertentu tatkala khutbah jum’at?, beliau membencinya, bahkan beliau menyebutkan riwayat dari salaf (yaitu ‘Athoo’) yang mensifati doa tertentu dalam khutbah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya dengan “Muhdats” (bid’ah). Bahkan yang dzohir dari perkataan Imam As-Syafii diatas dengan “aku benci” yaitu hukumnya haram, buktinya Imam Syafii menegaskan setelah itu bahwasanya perbuatan muhdats tersebut tidak sampai membatalkan khutbahnya sehingga tidak perlu diulang. Wallahu A’lam.

    Keempat : Para imam madzhab syafiiyah telah menukil perkataan yang masyhuur dari Imam As-Syafii, yaitu perkataan beliau;

    مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَّعَ

    “Barangsiapa yang menganggap baik (suatu perkara) maka dia telah membuat syari’at”

    (Perkataan Imam As-Syafi’i ini dinukil oleh para Imam madzhab As-Syafi’i, diantaranya Al-Gozaali dalam kitabnya Al-Mustashfa, demikian juga As-Subki dalam Al-Asybaah wa An-Nadzooir, Al-Aaamidi dalam Al-Ihkaam, dan juga dinukil oleh Ibnu Hazm dalam Al-Ihkaam fi Ushuul Al-Qur’aan, dan Ibnu Qudaamah dalam Roudhotun Naadzir)

    Oleh karenanya barangsiapa yang menganggap baik suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi maka pada hakekatnya ia telah menjadikan ibadah tersebut syari’at yang baru.

    Selengkapnya silahkan lihat sendiri disini, disitu dijelaskan lebih detail, bahkan kitab yg ada di link yg anda berikan juga ada, baca disini

    Syukron atas perhatiannya

    Afwan,.. sama-sama mas,.

  3. Saya masuk islam dimusuhi kristen mantan agama saya
    Sekarang setelah menjadi muslim, malah dicaci maki disebut wahabi, karena tidak merayakan Happy Brithday Nabi Muhammad, dan selametan kematian 1-7, 40, 100, setahun.
    Perlu diketahui di agama kristen juga sama ada Maulid, cuma maulid nabi isa al masih, dan memperingati kematian 1-7, 40, 100 setahun, cuma namanya saja bukan Tahlilan, karena kristen tidak baca Tahlil, cuma kebaktian bidston saja, tapi pesta makan-makan juga. Saya dulu sering ikut acara selametan kematian di kristen.
    Tapi saya bangga disebut wahabi, mudah-mudahan saya mati dalam keadaan wahabi,
    Aamiin

    alhamdulillah,.
    Yah begitulah,.. jika kita mendakwahkan islam yang benar, pasti akan mendapatkan tantangan, juga julukan-julukan yg jelek,. sebagaimana rasulullah juga mengalami seperti demikian.. bersabarlah,.. sesungguhnya mereka menjuluki demikian karena mereka tidak tahu apa hakekat yg mereka tuduhkan, seandainya mereka tahu, maka mereka akan malu sendiri,.

  4. subhanallah..artikel yg Sgt bijak,smoga admin diberikan kesehatan Dan dimudahkan dalam berilmu agar ana yg awam ilmu dien bisa senantiasa trs mendapatkan manfaatnya dri Hal tsb,jazzakallahu khairan katsiran

  5. akhi yang bikin ana sadar ttg bid’ah:

    – orang kristen pukul lonceng kita pukul bedug
    – org kristen natalan kita maulidan
    – org kristen nyanyi di gereja kita nyanyi di mesjid
    – orang hindu mengirim do’a kematian 1,3 7,40,100,1000 kitapun juga
    – orang hindu acara 7 bulanan kehamilan kitapun juga
    – orang hindu pakai tamimah benang 3 warana untuk anak2 kitapun juga
    – orang hindu kubur ari2 trus di ksih lampu kitapun juga
    dan masih banyak lgi…… APA BEDANYA ISLAM DGN MEREKA?

    lalu an dpt hdits man tasyabaha bi qoumin fahua min hum

    sejak itu ana tobat dari bid’ah

    Alhamdulillah pak Benni, sungguh nikmat yang tidak ada nilainya, terbebas dari perbuatan bidah, dan mengamalkan sunnah,.

  6. akhi mau nanya bagaimana dengan yang ini apakah bid’ah,kenapa ?
    – dulu nabi tidurnya dengan beralaskan pelepah kurma sekarang tidur kita dengan springbed/kasur/sofa.
    – dulu nabi waktu pergi haji dengan berkendara onta sekarng kita naik pesawat.
    – dulu makan nabi dengan tiga jarinya sekarang kita pakai sendok.
    – dulu solat nabi pakai gamis sekarang kita pakai sarung dan celana.
    – dulu dijaman nabi suara adzannya dengan suara lantang sekarang kita pakai speaker.

    Ya, itu bidah, tapi bidah secara bahasa,. masih banyak lagi,
    Kita makan bala-bala, itu bidah, karena rasul juga tidak pernah makan bala-bala,
    Mobil, pesawat,kereta api,becak,sepeda, mur, baud, itu juga bidah mas,. silahkan lihat postingannya disini

    Bidah itu hanya dalam urusan ibadah mas,. jika urusan dunia dimasukan kedalam bidah, niscaya sangat memberatkan umatnya,. kita harus plek dengan nabi dalam urusan dunia,. apa yang anda sebutkan diatas, itu urusan dunia, bukan urusan ibadah, nyatanya umar sendiri merasa sedih ketika melihat Rasulullah tidur dan umar melihat bekas2nya di punggung rasulullah,

    Banyak pula sahabat yang tidak tidur dgn beralaskan pelepah kurma, ini berarti bukan itu makna bidah,. sebab para sahabat yang paling tahu apakah itu bidah atau tidak, sebab sahabat adalah binaan rasulullah,

  7. Islam itu awal datangnya dianggap aneh, maka pada zaman akhirpun jika ada yg ingin berjalan sesuai dengan syariat Islam jg dianggap aneh.

    Saya dibesarkan dlm lingkungan aswaja, saya merasa yg saya lakukan telah benar.
    Ketika mendengar ceramah ttg bid’ah, jujur saja telinga saya lgsg merah.

    Tapi, Allah SWT Maha Berkehendak, dikit2 saya membaca (sesuai QS. Al Alaq), Alhamdulillah, mata hati saya terbuka, mana yg sesuai dengan Qur’an & Sunnah, mana yg tidak ada dalilnya.

    Kdg orang berpikir itu khilafiyah, tp klo menurut saya, khilafiyah itu adalah pekerjaan yang dilakukan berbeda, dengan dalil yang sama kuat/shohihnya.
    Wallahu a’lam.

  8. Assalamualaikum izin copas ya Akhy artikelnya smua bila dibutuhkan

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Silahkan, jazakumullahu khairan

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*