Tata Cara Nikah Yang Sesuai Ajaran Rasulullah

Lafadz Akad Nikah Yang Betul Proses Akad Nikah Syahadat Nikah Tata Cara Nikah Tata Cara Ijab Kabul

ADAB-ADAB PERNIKAHAN

Oleh : Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq

Setelah kita menyebutkan tentang pesta-pesta dan kebiasaan-kebiasaan munkar yang wajib dijauhi, maka kita akan menyebutkan dalam bab ini tentang adab-adab pernikahan dan segala hal yang terkait dengannya, mengenai hal-hal yang dianjurkan, yang diwajibkan, dan yang dilarang.

1. DIANJURKAN KHUTBAH NIKAH
a. At-Tirmidzi meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia menuturkan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kami Tasyahhud dalam shalat dan Tasyahhud dalam suatu keperluan. Beliau bersabda: ‘Tasyahhud dalam shalat…’ dan ayat seterusnya hingga sampai pada kalimat, “sedangkan tasyahhud dalam suatu keperluan ialah:

إِنَّ الْحَمْدَللهِ، نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَـا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِيْ -أَيْ اللهُ- فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

‘Segala puji bagi Allah, kami memohon pertolongan dan me-mohon ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk (oleh Allah), maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.’”

Ibnu Mas’ud berkata: “Lalu beliau membaca tiga ayat.” ‘Abtsar berkata, Sufyan ats-Tsauri menafsirkannya sebagai:

اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” [Ali ‘Imran/3: 102].

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (pelihara-lah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” [An-Nisaa’/4: 1].

اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” [Al-Ahzaab/33: 70].[1]

b. At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia menuturkan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ خُطْبَةٍ لَيْسَ فِيْهَا تَشَهُّدٌ فَهِيَ كَالْيَدِ الْجَذْمضاءِ.

‘Setiap khutbah yang di dalamnya tidak berisi Tasyahhud, maka itu seperti tangan yang buntung.”[2]

c. Menurut sebagian ulama, nikah itu boleh (dilaksanakan) tanpa khutbah. Dan yang menunjukkan kebolehannya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Isma’il bin Ibrahim, dari seseorang yang berasal dari Bani Sulaim, ia mengatakan: “Aku meminang Umamah binti ‘Abdil Muththalib kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menikahkanku tanpa adanya khutbah.”[3]

d. Al-Hafizh rahimahullah berkata dalam al-Fat-h, mengomentari hadits Sahl bin Sa’d as-Sa’idi Radhiyallahu anhu : “Tidak disyaratkan mengenai sahnya akad pernikahan didahului dengan khutbah nikah.”

2. DIANJURKAN MENIKAH PADA BULAN SYAWWAL.
Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia menuturkan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku pada bulan Syawwal dan tinggal bersamaku pada bulan Syawwal. Lalu adakah di antara isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih beruntung di sisi beliau daripada aku?”[4]

An-Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini berisi anjuran menikah di bulan Syawwal. ‘Aisyah bermaksud -dengan ucapannya ini- menolak tradisi Jahiliyyah dan anggapan mereka bahwa menikah pada bulan Syawwal tidak baik. Ini adalah bathil yang tidak memiliki dasar. Mereka meramalkan demikian karena kata Syawwal mengandung arti menanjak dan tinggi…”[5]

3. PENGANTIN WANITA BOLEH MEMINJAM PAKAIAN DAN PERHIASAN.
Al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Abdul Wahid bin Aiman, ia mengatakan, ayahku bercerita kepadaku, ia mengatakan: “Aku menemui ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma dan dia memakai pakaian terbuat dari katun tebal yang harganya lima dirham, lalu dia mengatakan: ‘Angkatlah pandanganmu kepada sahaya wanitaku, lihatlah ia, sebab ia merasa senang bila memakainya di rumah. Dahulu aku mempunyai pakaian pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah seorang wanita dirias untuk pernikahan di Madinah, melainkan ia datang kepadaku untuk me-minjamnya.’”[6]

Al-Hafizh rahimahullah berkata dalam al-Fat-h, “Dalam hadits ini (menjelaskan) bahwa meminjam pakaian untuk pengantin wanita adalah perkara yang diperintahkan serta dianjurkan, dan itu bukan dianggap sebagai aib. Hadits ini berisi ketawadhuan ‘Aisyah, dan mengenai perangainya ini cukup masyhur, serta kesantunan ‘Aisyah terhadap pembantunya.[7]

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberi petunjuk kepada wanita-wanita kita agar meminjam pakaian pengantin daripada berfoya-foya dan membebani pengantin pria terhadap apa yang tidak sanggupi dipikulnya.

4. MENGUMUMKAN PERNIKAHAN DENGAN MEMUKUL REBANA.
Pengantin boleh memberi izin kepada para wanita dalam pernikahan untuk memeriahkan pernikahan dengan memukul rebana saja dan nyanyian mubah yang tidak menggambarkan kecantikan dan menyebut-nyebut kemesuman.[8]

a. Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari ar-Rabi’ binti Mu’awwadz bin ‘Afra’, ia mengatakan: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk masuk ketika aku menikah, lalu beliau duduk di atas tempat tidurku seperti kamu duduk di dekatku.[9] Lalu gadis-gadis kami memukul rebana dan mengenang kebaikan bapak-bapak kami yang gugur dalam perang Badar. Ketika seorang dari mereka mengatakan, ‘Dan di tengah kita ada seorang Nabi yang mengetahui apa yang terjadi esok’, maka beliau bersabda: ‘Tinggalkan (perkataan) ini, dan ucapkanlah dengan apa yang telah engkau ucapkan sebelumnya.’”[10]

b. Dari ‘Aisyah, bahwa dia membawa seorang wanita kepada seorang pria dari Anshar, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا عَائِشَةُ، مَا كَانَ مَعَكُمْ لَهْوٌ؟ فَإِنَّ اْلأَنْصَارَ يُعْجِبُهُمُ اللَّهْوُ؟

“Wahai ‘Aisyah, apakah ada nyanyian yang menyertai kalian? Sesungguhnya kaum Anshar menyukai nyanyian?”[11]

Dalam suatu riwayat lain (disebutkan) dengan lafazh: Maka beliau bersabda: “Apakah kalian mengirimkan bersamanya seorang gadis (kecil) untuk memukul rebana dan menyanyi?” Aku bertanya: “Ia akan mengucapkan apa?” Beliau menjawab: “Ia mengucapkan:

أَتَيْنَـاكُمْ أَتَيْنَـاكُمْ فَحَيُّوْنَـا نُحَيِّيْكُمْ
لَوْلاَ الذَّهَبُ اْلأَحْمَرُ مَا حَلَّتْ بِوَادِيْكُمْ
لَوْلاَ الْحِنْطَةُ السَّمْرَاءُ مَا سَمِنَتْ عَذَارِيْكُمْ

Kami datang kepada kalian, kami datang kepada kalian
Hormatilah kami, maka kami akan menghormati kalian
Seandainya bukan karena emas merah
Niscaya kampung kalian tidak mempesona
Seandainya bukan karena gandum yang berwarna coklat
Niscaya gadis-gadis kalian tidak menjadi gemuk [12]

c. Dari Abu Balj Yahya bin Sulaim, ia mengatakan, Aku mengatakan kepada Muhammad bin Hathib: “Aku menikahi dua wanita tanpa ada suara pada saat menikahi seorang dari keduanya -yaitu suara rebana-.” Mendengar hal itu, Muhammad (bin Hathib) Radhiyallahu anhu mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Yang membedakan antara halal dan haram ialah, (memeriahkan pernikahan ) dengan (memukul) rebana.’”[13]

Para ulama berbeda pendapat mengenai pengertian suara, tapi hal ini dijelaskan oleh hadits pertama yang disebutkan oleh Rabi’ binti Mu’awwadz, yang di dalamnya disebutkan: “Lalu para gadis kecil kami menabuh rebana.”

Al-Muhlib Radhiyallahu anhu berkata, “Hadits ini mengizinkan untuk memeriahkan pernikahan dengan rebana dan nyanyian yang mubah.”

d. At-Tirmidzi meriwayatkan dari Qarzhah bin Ka’ab dan Abu Mas’ud al-Anshari, keduanya mengatakan, “Sesungguhnya beliau memberi keringanan kepada kami untuk bersenang-senang pada saat pesta pernikahan.”[14]

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Ini -wallaahu a’lam- adalah penafsiran terbaik tentang makna ‘suara’, yaitu memukul rebana dan nyanyian yang mubah.”

e. Ibnu Hibban meriwayatkan dari ‘Amir bin ‘Abdillah bin az-Zubair, dari ayahnya, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda:

أَعْلِنُوا النِّكَاحَ.

“Meriahkanlah pernikahan.”[15]

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ditanya tentang hukum menari di antara sesama wanita dalam berbagai kegembiraan.

Jawaban: “Aku menganggap ringan mengenai menari di antara sesama wanita, mengingat hal ini masuk dalam perkara yang diberi keringanan, yaitu bergembira dalam cara tersebut. Tetapi telah sampai kepadaku bahwa di dalamnya terjadi berbagai ke-munkaran, maka karena itu, aku memakruhkan tari-tarian.” [16]

5. ORANG YANG MENIKAH DISUNNAHKAN BERDO’A MEMINTA KEBAIKAN DAN KEBERKAHAN.
a. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Tsabit, dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bekas warna kuning [17] pada ‘Abdurrahman bin ‘Auf, lalu beliau bertanya: “Apa ini?” Ia menjawab: “Sesungguhnya aku menikahi seorang wanita dengan mahar emas seberat biji.” Beliau berucap:

بَارَكَ اللهُ لَكَ، أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ.

“Semoga Allah memberkahimu. Adakanlah walimah, walaupun hanya dengan seekor kambing.”[18]

b. At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diundang oleh seseorang ketika menikah, maka beliau berucap:

بَارَكَ اللهُ لَكَ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي الْخَيْرِ.

“Semoga Allah memberkahimu, dan semoga memberkahi atasmu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.”[19]

c. Ath-Thabrani meriwayatkan dari Buraidah Radhiyallahu anhu, ia menuturkan: “Segolongan orang Anshar berkata kepada ‘Ali, ‘Di sisimu ada Fathimah.’ Dia pun datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengucapkan salam kepada beliau, maka beliau bertanya: ‘Apa keperluan putera Abu Thalib?’ Dia menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku teringat Fathimah binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Mendengar hal itu, beliau berucap: ‘Marhaban wa Ahlan (selamat datang)!’ Beliau tidak menambah dari kata-kata itu. Kemudian ‘Ali bin Abi Thalib keluar untuk menemui segolongan Anshar yang menantinya. Mereka bertanya: ‘Apa hasil yang engkau bawa?’ Dia menjawab: ‘Aku tidak tahu, selain ucapan beliau kepadaku: ‘Marhaban wa Ahlan!’ Mereka mengatakan: ‘Sudah cukup bagimu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam salah satu dari keduanya. Beliau memberimu ucapan selamat dan keluasan.’ Kemudian setelah beliau menikahkannya (dengan puterinya, Fathimah), beliau bersabda: ‘Wahai ‘Ali, untuk pernikahan itu harus ada walimah.’ Sa’ad mengatakan: ‘Aku mempunyai seekor domba.’ Sedangkan segolongan dari Anshar mengumpulkan beberapa gantang (sha’) gandum. Ketika malam pengantin, beliau bersabda: ‘Jangan terjadi sesuatu, hingga engkau menemuiku.’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta air untuk berwudhu’ dengannya, kemudian menuangkannya pada ‘Ali seraya berucap:

اَللَّهُمَّ بَـارِكْ فِيْهِمَا، وَبَارِكْ لَهُمَا فِيْ بِنَـائِهِمَا.

‘Ya Allah, berkahilah keduanya dan berkahilah keduanya dalam percampuran keduanya.’”[20]

6. DISUNNAHKAN BERDO’A SEBELUM BERDUAAN DENGANNYA.
Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا (فَلْيَأْخُذْ بِنَاصِيَتِهَا)، وَلْيُسَمِّ اللهَ : (وَلْيَدْعُ بِالْبَرَكَةِ)، وَلْيَقُلْ: اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِمَـا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّمَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ.

“Jika salah seorang dari kalian menikahi wanita atau membeli pelayan (hamba sahaya), (maka peganglah ubun-ubunnya), (dan sebutlah Nama Allah Azza wa Jalla), (dan berdo’alah untuk meminta keberkahan), serta ucapkanlah: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari kebaikannya dan kebaikan watak yang telah Engkau jadikan padanya, serta aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan watak yang telah Engkau jadikan padanya.’” [21]

7. KEDUA PENGANTIN BARU, DIANJURKAN MELAKSANAKAN SHALAT DUA RAKAAT BERSAMA.
a. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dari Abu Sa’ad, maula Abu Usaid, ia mengatakan: “Aku menikah sedangkan aku seorang hamba sahaya, lalu aku memanggil sejumlah Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya ialah Ibnu Mas’ud, Abu Dzarr dan Abu Hudzaifah. Lalu shalat didirikan. Ketika Abu Dzarr maju, mereka mengatakan: ‘Engkau saja!’ Ia bertanya: ‘Apa memang demikian?’ Mereka menjawab: ‘Ya.'[22] Kemudian aku maju menjadi imam mereka, padahal aku hanyalah seorang hamba sahaya, dan mereka mengajarkan kepadaku dengan per-nyataannya, ‘Jika isterimu menemuimu, maka shalatlah dua rakaat. Kemudian mohonlah kepada Allah kebaikan apa yang terdapat pada diri wanita tersebut dan berlindung-lah kepada Allah dari keburukannya. Kemudian, setelah itu, urusanmu dengan isterimu.”[23]

b. Ibnu Abi Syaibah dan ‘Abdurrazzaq meriwayatkan dari Syaqiq, ia mengatakan: “Seseorang yang biasa dipanggil Abu Huraiz, datang lalu mengatakan: ‘Aku menikah dengan seorang gadis dan aku khawatir dia membenciku.’ Mendengar hal itu, ‘Abdullah (Ibnu Mas’ud) mengatakan: ‘Cinta itu berasal dari Allah, sedangkan kebencian itu berasal dari syaitan yang bermaksud memasukkan rasa benci ke dalam hatimu terhadap apa yang dihalalkan Allah. Jika dia (isterimu) datang kepadamu, maka perintahkanlah untuk menunaikan shalat di belakangmu dua rakaat.”[24]

Dalam bab ini terdapat sejumlah hadits yang tidak luput dari komentar dan pendapat, maka saya lebih memilih untuk tidak menyebutkannya.

8. SUAMI WAJIB MENYAYANGI DAN BERSIKAP LEMAH LEMBUT, SEBAGAIMANA DILAKUKAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM.
Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Asma’ binti Yazid bin as-Sakn, ia menuturkan: “Aku merias ‘Aisyah untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian aku datang kepada beliau lalu memanggil beliau supaya melihat dandanannya. Beliau pun datang lalu duduk di sisinya. Beliau datang membawa segelas susu lalu meminumnya, kemudian memberikan kepadanya, tapi ia menundukkan kepalanya dan malu.” Asma’ melanjutkan: “Aku menegurnya dan mengatakan kepadanya, ‘Ambillah dari tangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu ia mengambilnya dan meminumnya sedikit. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya: ‘Berikan kepada temanmu.’ Aku mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, bahkan ambillah lalu minumlah darinya kemudian berikan kepadaku dari tanganmu.’ Beliau mengambil lalu meminumnya kemudian memberikannya kepadaku. Kemudian aku duduk, lalu meletakkannya di atas kedua lututku. Kemudian aku segera (meminumnya, sambil) memutarnya dengan menempelkan kedua bibirku, agar aku mengenai bekas minum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bersabda kepada para wanita yang berada di sisiku: ‘Berikan kepada mereka.’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak menginginkannya.’ Beliau mengatakan: ‘Janganlah kalian menghimpun rasa lapar dan dusta.’”[25]

[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq. Edisi Indonesia Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penerjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir – Bogor]
_______
Footnote
[1]. HR. At-Tirmidzi (no. 1105) kitab an-Nikaah, an-Nasa-i (no. 1404) kitab al-Jumu’ah, Abu Dawud (no. 1097) kitab ash-Shalaah, Ahmad, no. 2744, dan di-shahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih at-Tirmidzi (no. 882).
[2]. HR. At-Tirmidzi (no. 1106) kitab an-Nikaah, dan ia mengatakan: “Hadits hasan gharib,” Abu Dawud (no. 4841) kitab al-Adab, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih at-Tirmidzi (no. 883).
[3]. HR. Abu Dawud (no. 2120) kitab an-Nikaah, yang di dalamnya terdapat Isma’il bin Ibrahim, ia majhul (tidak dikenal).
[4]. HR. Muslim (no. 1423) kitab an-Nikaah, at-Tirmidzi (no. 1093) kitab an-Nikaah, an-Nasa-i (no. 3236) kitab an-Nikaah, Ibnu Majah (no. 1990) kitab an-Nikaah, Ahmad (no. 23751), ad-Darimi (no. 2211), kitab an-Nikaah.
[5]. Dinukil dari an-Nawawi oleh penulis Tuhfatul Ahwadzi dalam komentarnya atas hadits no. 1099.
[6]. HR. Al-Bukhari (no. 2628), kitab al-Hibah. Al-Bukhari meriwayatkannya sendirian.
[7]. Fat-hul Baari, (V/242).
[8]. Aadaabuz Zifaaf, al-Albani (hal. 179-180).
[9]. Al-Hafizh rahimahullah berkata dalam al-Fat-h (IX/203): “Menurut al-Kirmani, ‘Ini mengandung kemungkinan bahwa hal itu dilakukan di balik hijab (tirai) atau sebelum turunnya ayat hijab. Atau boleh melihat untuk suatu keperluan atau ketika aman dari fitnah, dan yang terakhir itulah yang dipegang. Yang jelas bagi kami, berdasarkan dalil-dalil yang kuat, bahwa di antara kekhususan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah boleh berduaan dengan wanita asing dan melihatnya.’ Ini merupakan jawaban yang shahih dari kisah Ummu Haram binti Mulhan mengenai masuknya beliau (ke dalam rumahnya) untuk menemuinya dan beliau tidur di rumahnya serta Ummu Haram memijit kepala beliau, padahal di antara keduanya bukan mahram dan bukan pula suami isteri.”
[10]. HR. Al-Bukhari (no. 5147), kitab an-Nikaah, at-Tirmidzi (no. 1090) kitab an-Nikaah, Abu Dawud (no. 4922) kitab al-Adab, Ibnu Majah (no. 1897) kitab an-Nikaah, Ahmad (no. 26481).
[11]. HR. Al-Bukhari (no. 5162) kitab an-Nikaah, dan al-Bukhari meriwayatkan sendirian.
[12]. HR. Ibnu Majah (no. 1900), kitab an-Nikaah, Ahmad (no. 14787, 16271), ath-Thabrani dalam az-Zawaa-id (I/167), dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Irwaa’ (no. 1995).
[13]. HR. At-Tirmidzi (no. 1088), kitab an-Nikaah, dan ia menilainya sebagai hadits hasan, an-Nasa-i (no. 3369), kitab an-Nikaah, Ibnu Majah (no. 1896), kitab an-Nikaah, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih at-Tirmidzi (no. 869) dan dalam al-Irwaa’ (no. 1994).
[14]. HR. At-Tirmidzi (no. 1094), kitab an-Nikaah.
[15]. HR. Ibnu Hibban (no. 1285). Menurut Syaikh al-Albani, para perawinya tsiqat dan sanadnya hasan; Ibnu Majah (no. 1895), kitab an-Nikaah, yang di dalamnya disebutkan:

وَاضْرِبُوا عَلَيْهِ بِالْفِرْبَالِ.

“Dan tabuhlah rebana untuk pernikahan.”

Tapi hadits ini lemah dari pihak Khalid bin Ilyas. Ahmad bin Hanbal berkata mengenainya: “Haditsnya ditinggalkan.” Yahya bin Ma’in berkata: “Tidak di-perhitungkan.” Al-Bukhari berkata, “Haditsnya munkar.” Abu Zur’ah berkata, “Lemah dan tidak kuat.” At-Tirmidzi (no. 1095), kitab an-Nikaah dengan lafazh:

أَعْلِنُوْا هَذَا النِّكَاحَ، وَاجْعَلُوْهُ فِي الْمَسَاجِدِ، وَاضْرِبُوْا عَلَيْهِ بِالدُّفُوْفِ.

“Meriahkanlah pernikahan ini dan adakanlah di masjid-masjid serta tabuhlah rebana karenanya.”

At-Tirmidzi berkata: “Isa bin Maimun dilemahkan haditsnya.” Al-Bukhari berkata: “Haditsnya munkar.” Ibnu Hibban berkata: “Ia meriwayatkan hadits-hadits yang semuanya palsu.” Dan Syaikh al-Albani melemahkannya dalam as-Silsilah adh-Dha’iifah (no. 978). Beralasan dengan hadits inilah orang-orang yang berpendapat bahwa menabuh rebana tidak dikhususkan untuk wanita saja, dan telah diketahui bahwa pendapat ini tertolak dengan kelemahan haditsnya. Maka, camkanlah!
[16]. Fataawaa lil Fatayaat Faqath (hal. 19).
[17]. HR. Al-Bukhari (no. 5846), kitab an-Nikaah, dari Anas Radhiyallahu anhu, ia menuturkan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang laki-laki memakai za’faran.” Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam al-Fat-h (IX/236): “Untuk mengkompromikan antara hadits ‘Abdurrahman bin ‘Auf dan hadits Anas adalah apa yang dikatakan sebagian ulama bahwa yang dilarang ialah mengoleskan za’faran untuk tubuh, tetapi jika (dioleskan pada) pakaian maka tidak berdosa, sebagaimana pendapat Imam Ahmad. Pihak lainnya berpendapat bahwa larangan tersebut bersifat mutlak, dan mereka menjawab (maksud) hadits ini dengan jawaban-jawaban yang dikemukakan an-Nawawi, bahwa warna kuning yang menempel padanya berasal dari isterinya. Ia tidak bermaksud atau sengaja memakai za’faran.”
[18]. HR. Al-Bukhari (no. 5155) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1427), kitab an-Nikaah.
[19]. HR. At-Tirmidzi (no. 1091) kitab an-Nikaah, dan at-Tirmidzi menilainya sebagai hadits hasan shahih, Abu Dawud (no. 2130) kitab an-Nikaah, Ibnu Majah (no. 1095) kitab an-Nikaah, Ahmad (no. 7833).
[20]. HR. Malik dalam al-Muwaththa’, (I/112) dengan sanad hasan; Ibnu Majah (no. 1918) kitab an-Nikaah, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahiih Ibni Maajah (no. 1557).
[21]. HR. Abu Dawud (no. 2160) kitab an-Nikaah, Ibnu Majah (no. 1918), kitab an-Nikaah, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Ibni Maajah (no. 1557).
[22]. Syaikh al-Albani berkata dalam Aadabuz Zifaaf (hal. 94): “Menurutku, dengan hal itu mereka mengisyaratkan bahwa orang yang berkunjung tidak mengimami orang yang dikunjungi di rumahnya, kecuali dengan seizinnya; berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَلاَ يَؤُمُّ الرَّجُلُ فِي بَيْتِهِ وَلاَ فِيْ سُلْطَانِهِ.

‘Seseorang tidak boleh menjadi imam di rumah orang lain atau dalam kekuasaannya.’ [HR. Muslim, Abu Awanah dan Abu Dawud (594)].”

[23]. HR. ‘Abdurrazzaq (I/191). Syaikh al-Albani berkata dalam Aadabuz Zifaaf (hal. 94): Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (V/50/1), dan sanadnya adalah shahih sampai ke Abu Sa’id, dan beliau ini adalah mastur, aku belum mendapat-kan seorang pun yang meyebutkanya. Tetapi al-Hafizh mencantumkan dalam al-Ishaabah, dalam (kelompok) orang yang meriwayatkan dari maulanya adalah Abu Sa’id, Malik bin Rabi’ah al-Anshari. Lalu aku menemukannya dalam Tsiqaat, oleh Ibnu Hibban (V/588), ia berkata: ‘Diriwayatkan dari banyak orang dari kalangan Sahabat, dan Abu Nadhran meriwayatkan darinya.’”
[24]. HR. ‘Abdurrazzaq (VI/191). Syaikh al-Albani mengatakan: “Sanad hadits ini shahih, ath-Thabrani (III/21/2) meriwayatkannya dengan dua sanad yang shahih.” Lihat Aadaabuz Zifaaf (hal. 95).
[25]. HR. Ahmad (no. 27044, 27020), Ibnu Majah (no. 3298) kitab al-Ath’imah. Syaikh al-Albani mengatakan dalam Aadabuz Zifaaf (hal. 92): “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan dua sanad yang saling menguatkan satu sama lainnya.”

Sumber: https://almanhaj.or.id/2412-adab-adab-pernikahan.html

Print Friendly

Prosesi Akad Nikah Menurut Islam Bacaan Sebelum Akad Nikah Bacaan Sebelum Ijab Kabul Akad Nikah Cara Mengucapkan Ijab Kabul

29 Comments

  1. “Moment paling istimewa anda dengan pasangan sangat disayangkan jika terlewatkan begitu saja. Anda dapat menggunakan website pernikahan ini untuk mengabadikan moment spesial tersebut.”

    Agan-agan sekalian, ane mau informasikan pembuatan website wedding nih..
    sekarang lagi trendnya menggunakan website wedding untuk informasi pernikahan anda.
    MURAH dan ada promo disini http://www.mel-deleted-sebab-itu-termasuk-kemungkaran-di-pernikahan.com

    Terimakasih sudah komentar disini,
    Mudah-mudahan anda segera membuka usaha lain yang halal, karena usaha anda termasuk salah satu bentuk kemungkaran menjelang acara yang mulia yaitu pernikahan,. janganlah dirusak dengan membuat momen seperti itu, apalagi saat pernikahan,.
    Untuk anda, saya postingkan artikel ini, silahkan dibaca disini

  2. saya seorang wanita suda nikah 8th yg lalu,tapi waktu nikah wali dr ortu saya gak ada jauh mw ubungin no hp ga ada.
    jadi daripada kumpul kebo saya nikah aja walinya ortu angkat sah ga ya

    terimakasih aliya,..
    nikahnya tidak sah, dan sama saja dengan kumpul kebo, ortu angkat tidak berhak menjadi wali, dan dalam islam tidak ada istilah anak angkat, bapak angkat,. itu sama dengan orang lain,. sebab ayah angkat bisa menikahi anak angkatnya, tentu dengan wali dari ayah asli dari anak angkat tersebut,. jadi anda wajib bertaubat, dan segera meninggalkan pasangan anda tersebut,.

    • Tapi kalau misalnya mempelai wanita sebatang kara, siapa yang menjadi walinya andai kata dia diasuh oleh orang tua angkat?

      Jika sebatang kara, kan masih ada saudara laki-lakinya, masih ada mahramnya,. masa tidak ada semua?
      Kalau tidak diketahui semua, orangtua kandungnya tidak diketahui, saudara kandungnya tidak diketahui, demikian pula mahramnya yg lain tidak diketahui, maka wali hakim yg sebagai walinya

  3. kebanyakan orang berkata ” ijab kabul harus dengan satu nafas, jika tidak 1 nafas akan tidak sah nikahnya.”

    sedangkan jika calon pengantinya mempunyai nama yg panjang apakah itu tidak menyakitkan pasangan yg mengucapkan ijab kabulnya?

    dan bagaimana menjelaskan kepada orang atau saksi jika hal itu harus di lakukan?, terima kasih

    Terimakasih mas egi, itu semua karena jauhnya kaum muslimin dari pemahaman islam yang benar,.

    bahkan,..

    Petugas KUA nya juga banyak yang tidak paham, sehingga ritual yang suci ini tercoreng dengan ritual bidah,.

    Akad nikah itu sangat mudah,. bahkan bercandanyapun jadi, apalagi seriusnya,. jadi akad nikah ga perlu latihan, atau satu nafas,.

    Contoh simpel, misalkan ada seorang bapak berkata kepada laki-laki seperti ini:
    Mas, kamu saya nikahkan dengan anak saya yang bernama fulanah,.. lalu si laki-laki menjawab,. YA, saya terima, atau dia menjawab dengan bahasa isyarat dengan menganggukan kepalanya,. maka jatuh, sah nikahnya,. silahkan baca ulasan tentang ijab qabul disini

    Mudah,..

  4. Apakah pas ikan kabul arsy Allah bergetar

    ah, ngga bener itu,.dari mana keterangan tersebut, apakah dari anda, atau dari rasulullah? jika dari rasulullah sebutkan dimana perkataan rasul tersebut, di hadits riwayat siapa,

  5. Assalamu’alaikum…
    Saya bingung dan mau bertanya, saya mau menikah dengan orang lain negara (Singapore) dan In Shaa Allah pernikahan akan dilaksanakan di negara tsb. Jika pernikahan tidak didampingi oleh wali (ayah/ibu) dari pihak keluarga saya (phk wanita) dan di wakilkan oleh orang lain (teman) apakah itu sah atau tidak dalam ajaran Islam. Mohon jawabannya, terima kasih.

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Wanita yang menikah tanpa wali, maka nikahnya TIDAK SAH,. jika nekad, sama saja seperti berzina,.

    • Salam..bukankah nikah itu boleh diwakilkan?? Harap di koreksi lagi di kitab2 besar

      wa’alaikumussalam warahmatullah
      Kalau yang mewakilkan itu adalah walinya,.

  6. alhamdulilah masih ada yg perduli dgn hukum dan melayani orang yg kurang paham,
    saya ingin bertanya apakan ada surat khusus yg hehdak di baca ketika akatnikah aKAN d LAKSANAKAN? jika ada surat apa…?

    Tidak ada mas Ariga,.

  7. Assalamu’alaikum..

    mas admin..

    saya pernah dengar katanya sebelum akad nikah dilakukan, calon pengantinnya harus wudhu terlebih dahulu. Apakah memang benar sunnahnya seperti itu ? Bagaimana jika tidak dilakukan ?

    Wa’alaikumussalam wrahmatullah,.
    Ga bener,. ga diharuskan berwudhu dahulu,.

    Jadi ngga apa2 jika tdk berwudhu

  8. Assalamualaikum..warahmatullah
    ijin bertanya ..
    Kalau keluarga dr mempelai wanita dr nonmuslim..
    Siapa yg tepat untuk jadi wali ?.. Syukron sebelumnya..

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    Yang jadi wali adalah wali hakim atau petugas KUA yang berwenang

  9. Hukum akad dengn membaca teks itu hukumnya apaa yaa. Dan sah gak ya?

    pura-pura akadnya saja, jika yang mengatakan wali dari si wanita kepada laki-laki, maka sah nikahnya, apalagi yg serius walaupun sambil baca,

  10. Assalamu’alaikum warahmatullah
    Berarti waktu ijab qabul, wanita harus ada di tempat terpisah dengan laki2 yg sedang mengucap ijab?

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    iya, betul wajib dipisah antara wanita dan laki2

  11. Assalamu alaikum
    Mau nanya
    Kalo akad nikah 2 kali dalam hukum islam.y gimana?
    Pernikahan.y sah atw gimana?
    Maksud.y akad nikah 2 kali tuh pertama akad nikah niat.y karena Allah ..
    Kedua.y niat karena biar tercatat oleh KUA dan secara resmi negara sah suami istri

    Wa’alaikumussalam warahmatullah
    Tercatat di KUA itu bukanlah SYARAT SAH NIKAH, itu hanya sebagai tertib administrasi saja,.
    Jadi nikahnya ya tetap sah walaupun tidak ada petugas KUA yang menyaksikan atau mencatatnya,
    Jadi selama syarat sah nikahnya terpenuhi, maka sah nikahnya…

    Adapun ketika melakukan akad nikah lagi hanya untuk mendapatkan buku nikah, jika itu bisa dihindari, dan memberitahukan ke petugas KUA atau catatan sipil bahwa pasangan tersebut sudah melakukan akad nikah, maka ini lebih baik,
    Akad nikah itu bukanlah permainan, ini adalah ibadah , pura-puranya saja jadi, sah.. apalagi seriusnya

  12. Asalammuallaikum… Wr… Wb
    Sy mau Tanya…
    Bila kita memberikan cincin dan seperangkat alat sholat kepada seseorang dengan bersumpah dan mengucapkan ijab Kabul dengan disaksikan teman apakah ini sudah termasuk nikah? Terimakasih

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    Disebut nikah itu, jika yang mengucapkan adalah WALI SI WANITA, bukan ucapan laki-laki yang mau menikahi,.
    Kalau yang mengucapkan WALI SI WANITA, misalkan saya nikahkan anak saya si fulanah dengan kamu,.
    Lalu si laki-laki yang diajak bicara sama si wali itu mengatakan, ya, saya terima, .. maka itu SAH, walaupun ngomongnya PURA-PURA,.

  13. Saya mau nanya . Saat kta mengadakan resepsi pernikahan . Posisi berdiri mempelai yg benar itu posisinya bagaimana ya?

    Posisinya dipisah antara laki-laki dan wanita,.
    Penganten wanita tempatnya di tempat wanita, dan penganten laki-laki tempatnya di tempat laki-laki,. bukan dijejerkan,

  14. Kalau ada pria poligami tpi nggak bilang istri yg sebelumnya gimana tuh…tiba2 istrinya sudah 4 orang misalnya

    Memang tidak ada kewajiban suami yang mau menikah lagi itu harus bilang-bilang dulu ke istrinya, atau minta ijin ke istrinya,.

    tapi sebaiknya sih ya kasih tahu istrinya,.
    kan tujuan menikah kan agar tercipta keluarga yang harmonis, ketenangan,.

    Dengan tidak memberitahu, kan bisa saja istri tidak siap, kaget, dan keharmonisan akan terganggu

  15. assalamualaikum….
    ngmng2 masalah nikah, mbakyu ku udh ada rencana nikah, calonnya maunya sih bln depan biar gk kelamaan,
    tpi saran dari mbahku desember aja, ktny sih itu bln baik menurut kalender jawa.
    memangnya dlm Islam ada bln baik & tidak baik utk nikah? mohon pencerahannya

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Tidak ada hal yang seperti itu dalam islam, semua hari itu baik, tidak ada tanggal sial, angka sial,hari sial, weton,..
    Itu semua adalah tradisi yang bertentangan dengan ajaran islam, silahkan baca di sini

  16. Mas,mohon penjelasanya
    Apakah tetap sah nikahnya apabila pengucapan qabul dari mempelai laki-laki dengan membaca contekan, karena beberapa kali si mempelai laki2 salah/berbeda pengucapanya dengan bapak penghulu..
    Terimakasih

    Selama ada wali si wanita, dan wali yang menikahkan, dan si wali memaksudkan menikahkan dengan anda, lalu anda menerima atau mengiyakan,..

    Maka SAH..

    Walaupun akad nikahnya itu PURA-PURA saja SAH nikahnya, apalagi serius sampai memanggil penghulu segala,

    Jadi salah besar jika ada petugas KUA yang mensyaratkan macam-macam,.

    sebenarnya lafadz akad nikah tidak ada lafadz yang baku, harus seperti itu,.
    wong bercandanya saja jadi alias sah,. misalkan ada seorang bapak berkata seperti ini kepada seorang laki-laki,. Mas, maukah kamu saya nikahkan dengan anak saya yang bernama fulanah,. jika si laki-laki menjawab MAU, saya terima,.,.. maka itu bisa SAH,. walaupun itu cuma BERCANDA,..
    Atau mungkin kata-kata lai, misalkan seorang bapak berkata, SAYA nikahkan kamu dengan anak saya yang bernama fulanah,. jika si laki-laki berkata, IYA PAK, SAYA TERIMA,. maka SAH.. secara hukum islam,.
    makanya tidak boleh bercanda dalam hal ini,… apalagi lafadz serius dalam AKAD NIKAH,. ini ya SAH,. ngga ada lafadz khusus,. yang penting yang dimaksud adalah lafadz yang maksudnya adalah menikahkan,.
    Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
    ثلاث جدهن جد وهزلهن جد: النكاح والطلاق والرجعة
    “Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius: nikah, cerai dan ruju.’” (Diriwayatkan oleh Al Arba’ah kecuali An Nasa’i. Dihasankan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah)

    Sumber: https://aslibumiayu.net/9158-bagaimanakah-lafal-ijab-kabul-dalam-pernikahan-apakah-harus-dengan-bahasa-arab.html

  17. Assalamualaikum akhi

    Andai………ada seorang bapak berkata seperti ini kepada seorang laki-laki,. Mas, maukah kamu saya nikahkan dengan anak saya yang bernama fulanah,. jika si laki-laki menjawab MAU, saya terima,.,.. maka itu bisa SAH,. walaupun itu cuma BERCANDA,..

    Berarti antara laki-laki ini dengan si anak perempuan tadi sudah menjadi suami istri, yang berarti si anak perempuan tidak boleh menikah karena sudah menjadi suami si laki-laki ini? Meski kata2 tersebut hanya BERCANDA?

    Syukron

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah,..

    YA.. Betul

    Afwan…

  18. Mau tanya..
    Pada saat ijab qobul..

    Seorang lelaki menjawab saya terima nikahnya dan seterusnya..

    Atau dengan bahasa arab qobiltu dan seterusnya..

    Apakah itu harus di ucapkan dalam satu nafas atau ada ketentuan lain?? Mohon pencerahannya

    Tidak harus, bahkan sekedar mengucaokan, YA saya terima, ..
    Itu saja sudah SAH

    Akad nikah itu tidak perlu latihan mengucapkan,
    Intinya si wali mengucapkan perkataan mau menikahkan wanita yangvdibawah kewaliannya, lalu si laki-lakinya menjawab dengan jawaban penerimaan,

    Tidak harus satu nafas, atau dengan bahasa arab,

    Jadi salah besar jika mau akad nikah harus latihan dulu, satu nafas, dll

  19. Saya minggu depan akan menikah dengan seorang lelaki yg ditinggalkan ibu kandungnya di klinik dari bayi.

    Dan sampai sekarang dia diangkat oleh keluarga yg berada.nah yg mau saya tanyakan, di ijab qabul kan bapak saya mengucapkan nama calon saya dan nama ortu angkatnya, apakah pernikahan tersebut sah? Karna dari klinik tidak ada info mengenai bapak kandungnya dan ibu kandungnya juga tidak tau sekarang dimana

    Perlu diketahui, laki-laki itu tidak butuh WALI, yang butuh wali itu adalah si wanita,
    Jadi tidak perlu disebutkan nama orangtua angkatnya, cukup sebut nama si laki-laki tersebut,
    Akad nikah itu intinya ucapan si wali kepada laki-laki yang mau dinikahkan dengan wanita yang dibawah tanggungan si wali tersebut,.

    Bahkan sekedar ucapan seperti ini : saya nikahkan anak saya cillia pada kamu,. misalkan si laki-laki tersebut menjawab, IYA, saya terima,. maka SAH nikahnya,. simpel,.

  20. Stlh baca artikel ini ternyata banyak ksalahan dlm pratek ijab kabul…beuh orang indonesia memang paling pinter klo mengarang,apa2 sgala ditambah2in…hatur nuhun artikel2nya bermanfaat nambah ilmu…

    Alhamdulillah,..

  21. Assalamualaikum,

    bagaimana status pernikahan tanpa wali atau ada wali tapi palsu(gadungan) walau ada surat nikah?

    Apakah harus diulang nikahnya?

    Dan bagaimana jika dari pernikahan tanpa wali tsb ada anak perempuannya dan ketika mau nikah, bolehkah bapaknya jadi wali nikah ?

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah,
    Nikah tanpa wali, nikahnya NGGA SAH, wajib di ulang,
    Status anak yang nikah tanpa wali, statusnya seperti anak zina, nasab anaknya ke ibunya, bkn ke bapaknya

    Sah atau tidak itu bukan dari adanya surat nikah, , tapi apakah sah menurut aturan islam atau tidak

    • Alhamdulillah terimakasih atas jawabannya,
      jika sudah nikah ulang, trus jika sebelum nikah ulang sdh terlahir seorg anak perempuan dan skrg anak tsb sdh dewasa dan mau nikah, kan anak ini di bintikan kpd ibunya, jadi maksudnya ayahnya itu tdk bisa menjadi walinya, harus wali hakim?
      begitu khan ?
      jazakumullahu khairan Admin

      Jika dulu saat nikah itu memang tahu bahwa itu tidak sah karena walinya adalah wali bohongan, pura-pura jadi wali, maka nikahnya TIDAK sah,. walaupn dapa surat nikah,
      Berbeda jika mereka tidak tahu hukum , sehingga menikah tanpa ada wali yang sah, dan masyarakat juga menganggapnya itu sah, maka itu jatuhnya pernikahan syubhat, ulasan tentang nikah syubhat bisa dibaca di sini

      wali nikahnya jika anak zina, walinya adalah wali hakim / petugas KUA yang berwenang

      • Alhamdulillah, cukup jelas dan bermanfaat, mengenai nikah syubhat saya baru dengar dan baru mengetahuinya, tapi contoh nikah syubhat diberikan oleh ustadz hampir terjadi pada diri saya, saat itu saya akan menikah disaat akan mengucapkan ijab kabul dgn ayahnya ( yg diketahui adalah ayah tiri) tiba2 ayah kandung calon istri saya datang dan berteriak stop !!! ” saya yg berhak nikahkan anak saya !” Alhamdulillah tidak terjadi nikah syubhat tsb

        Alhamdulillah

  22. Assalamualaikum
    Mohon petunjuk. Saat itu pihak dari kua mengatakan latihan, tetapi saat mertua laki2 dan mempelai laki2 mengucapkan ijab kabul diakhirnya pihak kua mengatakan sah. Pertanyaannya apakah pernikahan itu sah ?

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    Jika yg mengucapkan adalah wali si wanita lalu diterima atau diiyakan oleh si laki2, walaupun itu pura-pura atau bercanda, maka itu SAH, jadi nikahnya SAH

  23. Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh,
    Mau tanya pak. Berarti kalau status mempelai wanitanya anak zina apakah sang ibu harus hadir atau tidak. Ini misalkan antara bpk dan ibunya sudah bercerai dan anak perempuan trsebut hidup dg bpknya.
    Terima kasih sebelumnya,
    Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh..

    Wa’alaikumussalamwarahmatullahi wabarakatuh,

    Tidak harus,.bahkan walinya itu adalah wali hakim atau petugas KUA,

    Dan wanita ga bisa menjadi wali nikah

    Tapi menghadiri akad nikahnya sih boleh,

  24. Assalamuallaikum wr.wb
    Saya mau tanya, apakah seorang adik kaka menikah dalem 1 tahun itu dilarang agama islam?? Misalnya saya akan menikah bulan januari 2018 dan adik saya oktober 2018..tolong beri penjelasan.. terimakasih banyak.. wassalam..

    Wa’alaikumussalamwarahmatullahi wabarakatuh,
    Tidak ada larangan, bahkan jika tanggal dan harinya sama juga tidak ada larangan,..

    Misal adik kakak tersebut menikah dgn pasangannya di bulan ini, tanggal dan harinya sama, maka boleh-boleh saja

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*