Diskusi Dengan Pembaca, Mengupas Masalah Ibadah di Kuburan

Saudaraku yg kumuliakan,bacalah dg hati yang jernih
Rasul saw shalat ghaib di pekuburan umum, Rasul saw shalat jenazah (shalat ghaib) menghadap kuburan setelah dimakamkan di sebuah pemakaman, lalu bermakmum di belakang beliau shaf para sahabat, beliau saw bertakbir dg 4 takbir (Shahih Muslim hadits no.954)

Nabi saw shalat (shalat gaib) diatas kuburan (shahih Muslim hadits no.955).

Telah wafat seseorang yg biasa berkhidmat menyapu masjid, maka Rasul saw bertanya tentangnya dan para sahabat berkata bahwa ia telah wafat, maka Rasul saw bersabda : “apakah kalian tak memberitahuku??”, maka para sahabat seakan tak terlalu menganggap penting ,mengabarkannya, maka Rasul saw berkata : “tunjukkan padaku kuburnya!”, maka Rasul saw mendatangi kuburnya lalu menyalatkannya, seraya bersabda: “Sungguh penduduk pekuburan ini penuh dengan kegelapan, dan Allah menerangi mereka dengan shalatku atas mereka” (shahih Muslim hadits no.956), hadits semakna pada Shahih Bukhari hadits no.1258).

Perlu pembaca ketahui, Shalat yang disebutkan diatas adalah salahsatu shalat yang disyariatkan, yang disebut dengan shalat ghaib, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan tentang tatacara shalat ghaib, (penulisan shalawat jangan disingkat saw, karena akan ditulis pahalanya ketika menulis lengkap sebutan shalallahu ‘alaihi wasallam)

Adapun dalam shalat jenazah, juga dalam hal ini adalah shalat ghaib, tidak ada ruku dan sujud, hanya ada takbir dan salam, maka ini bukan seperti shalat yang dilakukan di masjid, masjid adalah tempat sujud, sedangkan shalat ghaib tidak ada ruku dan sujudnya, ruku dan sujud kepada orang yang masih hidup saja tidak boleh, apalagi kepada orang yang sudah mati, lebih-lebih lagi dikuburan… Sudah cukup jelas larangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Jadi kalau shalat ghaib disamakan dengan shalat lima waktu atau shalat sunnah lainnya, ya tidak bisa. Jauh sekali bedanya… Mudah-mudahan penulis komentar bisa memahami dengan jelas akan bedanya shalat ghaib yang dilakukan oleh Rasulullah. Apakah Rasulullah pernah melakukan shalat selain shalat ghaib ditempat yang ada kuburannya? Justru larangan Rasulullah sangat keras akan hal ini.. Mudah-mudahan para pembaca juga bisa dengan mudah memahami hal ini….

Mudah-mudahan pembaca yang menulis komentar ini menggunakan hati yang jernih dalam membaca penjelasan yang saya nukil ini… sekali lagi, dengan hati yang jernih, dan kepala dingin, sehingga kebenaran itu mudah masuk, bukan dengan mengedepankan kesombongan, sehingga kebenaran yang bertolak belakang dengan hawa nafsunya, atau berlawanan dengan keyakinan yang selama ini didapat dari guru-gurunya ataupun lainya akan ditolaknya… kita berlindung kepada Allah dari kesombongan yang seperti ini….

Kita akan lihat ucapan para Imam :
1. Berkata Guru dari Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu Imam Syafii rahimahullah : “Makruh memuliakan seseorang hingga menjadikan makamnya sebagai masjid, (*Imam syafii tidak mengharamkan memuliakan seseorang hingga membangun kuburnya menjadi masjid, namun beliau mengatakannya makruh), karena ditakutkan fitnah atas orang itu atau atas orang lain, dan hal yg tak diperbolehkan adalah membangun masjid diatas makam setelah jenazah dikuburkan, Namun bila membangun masjid lalu membuat didekatnya makam untuk pewakafnya maka tak ada larangannya”. Demikian ucapan Imam Syafii (Faidhul qadir Juz 5 hal.274).

Perlu pembaca ketahui, kitab Faidhul qadir bukanlah kitab karangan Imam Syafi’i, berikut penjelasan dari website seorang habib yang jadi rujukan oleh pembaca yang berkomentar “mengenai Faidhul Qadir, memang yg dimaksud bukanlah oleh Imam Syafii, namun Faidhul Qadir yg dimaksud adalah karangan Al Imam Al Hafidh Abdurra’uf Al Manawiy, sebagai Syarah Al Jami’usshaghiir Lil Imam Al Hafidh Assuyuthiy.”

Jadi pembaca yang menulis komentar tersebut telah berdusta atas nama Imam Syafi’i rahimahullah.

Lihat bagaimana Imam Syafi’i rahimahullah berkata di dalam kitabnya Al Umm berikut ini:

Makna mengambil kuburan sebagai masjid

 

Dalam kitab Al Umm (1/246) Imam Asy Syafi’I berkata :” Saya benci masjid dibangun diatas kuburan atau shalat diatas kuburan atau shalat menghadap kuburan…”.

Beliau menyebutkan tiga makna mengambil kuburan sebagai masjid, yaitu

Pertama : membangun masjid diatas kuburan.

Kedua : Shalat diatas kuburan.

Ketiga : Shalat menghadap kuburan.

Sekarang marilah kita lihat, bagaimana pendapat dari ke empat Imam madzhab:

Madzhab yang empat bersepakat bahwa mengambil kuburan sebagai masjid adalah dosa besar, berikut ini kami sebutkan pendapat ulama setiap madzhab

Dari Madzhab Syaf’i

Ibnu Hajar Al Haitamy berkata dalam kitabnya “Az Zawajir (1/120) :dosa besar yang ke 93,94,95, 96,97 dan 98 yaitu mengambil kuburan sebagai masjid, menyalakan lampu dikuburan, menjadikannya sebagai berhala, tawaf disekelilingnya, memegang kuburan (untuk mendapat berkahnya), dan shalat menghadapnya…..”.

Pendapat beliau di kuatkan oleh Al ‘Allamah Al Alusy dalam Ruhul ma’any (5/31), dan ini pula pendapat madzhab Syafi’iyyah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawy dalam kitabnya Al Majmu’.

Dari madzhab Hanafiy.

Imam Muhammad murid Abu Hanifah berkata dalam kitabnya Al Atsar (Hal 45) :” kami membenci kuburan itu dikapur atau di beri tanah liat (disemen), atau dibangun disisinya kuburan “.

Pendapat ini dikuatkan pula oleh Ibnul Malik dari madzhab hanafiyyah.

Dari Madzhab Malikiy.

Imam Al Qurthuby berkata dalam tafsirnya (10/38) :” berkata ulama kami (Malikiyyah) :” haram atas kaum muslimin untuk menjadikan kuburan nabi dan ulama sebagai masjid “.

Dari madzhab hambaly.

Mereka berpendapat haram sebagaimana dalam kitab syarah muntaha (1/353), bahkan mereka berpendapat batal shalatnya didalam masjid yang ada didalamnya kuburan.

2. Berkata Imam Al Muhaddits Ibn Hajar Al Atsqalaniy : “hadits hadits larangan ini adalah larangan shalat dg menginjak kuburan dan diatas kuburan, atau berkiblat ke kubur atau diantara dua kuburan, dan larangan itu tak mempengaruhi sah nya shalat, (*maksudnya bilapun shalat diatas makam, atau mengarah ke makam tanpa pembatas maka shalatnya tidak batal), sebagaimana lafadh dari riwayat kitab Asshalaat oleh Abu Nai’im guru Imam Bukhari, bahwa ketika Anas ra shalat dihadapan kuburan maka Umar ra berkata : kuburan..kuburan..!, maka Anas melangkahinya dan meneruskan shalat dan ini menunjukkan shalatnya sah, dan tidak batal. (Fathul Baari Almayshur juz 1 hal 524).

3. Berkata Imam Ibn Hajar : “Berkata Imam Al Baidhawiy : ketika orang yahudi dan nasrani bersujud pada kubur para nabi mereka dan berkiblat dan menghadap pada kubur mereka dan menyembahnya dan mereka membuat patung patungnya, maka Rasul saw melaknat mereka, dan melarang muslimin berbuat itu, tapi kalau menjadikan masjid di dekat kuburan orang shalih dengan niat bertabarruk dengan kedekatan pada mereka tanpa penyembahan dg merubah kiblat kepadanya maka tidak termasuk pada ucapan yg dimaksud hadits itu”(Fathul Bari Al Masyhur Juz 1 hal 525)

Berkata Imam Al Baidhawiy : bahwa Kuburan Nabi Ismail as adalah di Hathiim (disamping Miizab di ka’bah dan di dalam masjidilharam) dan tempat itu justru afdhal shalat padanya, dan larangan shalat di kuburan adalah kuburan yg sudah tergali (Faidhulqadiir Juz 5 hal 251)

Trus kita berpikir secara logika saja, Apakah Perkataan Rasulullah itu mengandung kedustaan? Apakah Perkataan Rasulullah itu wajib kita taati atau tidak? Mana yang lebih kita dahulukan, perkataan Rasulullah, atau perkataan orang yang hidup jauh dari masa Rasulullah?

Tentu jawaban yang benar, kita wajib mengikuti perkataan Rasulullah, ketimbang perkataan orang selainnya,…

Kita memahami bahwa Masjidirrasul saw itu didalamnya tdp makam beliau saw, Abubakar ra dan Umar ra, masjid diperluas dan diperluas, namun bila saja perluasannya itu akan menyebabkan hal yg dibenci dan dilaknat Nabi saw karena menjadikan kubur beliau saw ditengah tengah masjid, maka pastilah ratusan Imam dan Ulama dimasa itu telah memerintahkan agar perluasan tidak perlu mencakup rumah Aisyah ra (makam Rasul saw),

Perluasan adalah di zaman khalifah Walid bin Abdulmalik sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, sedangkan Walid bin Abdulmalik dibai’at menjadi khalifah pd 4 Syawal th 86 Hijriyah, dan ia wafat pada 15 Jumadil Akhir pd th 96 Hijriyah

lalu dimana Imam Bukhari? (194 H – 256 H), Imam Muslim? (206 H – 261H), Imam Syafii? (150 H – 204 H), Imam Ahmad bin Hanbal? (164 H – 241 H), Imam Malik? (93 H – 179 H), dan ratusan imam imam lainnya?, apakah mereka diam membiarkan hal yg dibenci dan dilaknat Rasul saw terjadi di Makam Rasul saw?, lalu Imam Imam yg hafal ratusan ribu hadits itu adalah para musyrikin yg bodoh dan hanya menjulurkan kaki melihat kemungkaran terjadi di Makam Rasul saw??, munculkan satu saja dari ucapan mereka yg mengatakan bahwa perluasan Masjid nabawiy adalah makruh. apalagi haram..

Justru inilah jawabannya, mereka diam karena hal ini diperbolehkan, bahwa orang yg kelak akan bersujud menghadap Makam Rasul saw itu tidak satupun yg berniat menyembah Nabi saw, atau menyembah Abubakar ra atau Umar bin Khattab ra, mereka terbatasi dengan tembok, maka hukum makruhnya sirna dengan adanya tembok pemisah, yg membuat kubur2 itu terpisah dari masjid, maka ratusan Imam dan Muhadditsin itu tidak melarang perluasan masjid Nabawiy.

Ada penjelasan yang sangat bagus untuk menjawab hal ini, mas mengatakan “lalu dimana Imam Bukhari? (194 H – 256 H), Imam Muslim? (206 H – 261H), Imam Syafii? (150 H – 204 H), Imam Ahmad bin Hanbal? (164 H – 241 H), Imam Malik? (93 H – 179 H), dan ratusan imam imam lainnya?, apakah mereka diam membiarkan hal yg dibenci dan dilaknat Rasul saw terjadi di Makam Rasul saw?, lalu Imam Imam yg hafal ratusan ribu hadits itu adalah para musyrikin yg bodoh dan hanya menjulurkan kaki melihat kemungkaran terjadi di Makam Rasul saw??, munculkan satu saja dari ucapan mereka yg mengatakan bahwa perluasan Masjid nabawiy adalah makruh. apalagi haram..”

Tidakkah mas sadar? Ditahun berapa Imam-imam tersebut hidup? Kan setelah jaman khalifah Walid bin Abdulmalik, lalu bagaimana Imam-imam tersebut menyikapinya? Apakah memang benar tidak ada yang berusaha mencegah perbuatan sang khalifah? Darimana anda tahu? Ketahuilah mas, keterangan berikut ini, dijelaskan oleh ulama ahlusunnah,

Kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin: “Jika ada yang mengatakan: kita sedang diliputi problem terkait dengan kuburan Rasulullah yang ada sekarang, karena berada di tengah masjid Nabawi, bagaimana jawabannya? Kami katakan, jawabannya ditinjau dari beberapa sisi sebagai berikut:

  • Masjid tersebut tidak dibangun di atas kuburan, bahkan dibangun pada masa hidup beliau, dan
  • Nabi tidak dikuburkan di dalam masjid sehingga dikatakan bahwa ini adalah penguburan orang-orang shalih di dalam masjid, karena beliau dikuburkan di dalam rumahnya.

  • Perbuatan memasukkan rumah-rumah Rasulullah termasuk rumah ‘Aisyah ke dalam masjid (ketika perluasan masjid) bukan dengan kesepakatan para shahabat; bahkan hal itu terjadi setelah meninggalnya kebanyakan shahabat dan tidak tersisa dari mereka kecuali sedikit, yaitu sekitar tahun 94 H. Dengan demikian berarti hal itu bukan termasuk di antara perkara-perkara yang dibolehkan oleh para shahabat atau yang disepakati oleh mereka. Bahkan sebagian mereka (yang mendapati kejadian itu) mengingkarinya, dan juga diingkari oleh Sa’id bin Al-Musayyib2 dari kalangan tabi’in.

  • Kuburan tersebut tidak dikategorikan berada dalam masjid meskipun setelah perluasan dan dimasukkan di dalamnya, karena kuburan tersebut berada di dalam kamar tersendiri terpisah dari masjid, jadi masjid Nabawi tidak dibangun di atasnya. Oleh karena itu dibuatkan 3 dinding yang mengelilingi kuburan tersebut dan dindingnya dijadikan menyimpang dari arah kiblat yaitu dengan bentuk segitiga, sudutnya ditempatkan pada sudut utara masjid, dimana seseorang yang shalat tidak akan menghadap ke kuburan tersebut karena posisi dindingnya yang menyimpang (dari arah kiblat). (Al Qaulul Mufid ‘ala Kitabittauhid, 1/398-399).


Dengan demikian jelas bagi kita bahwa masjid Nabawi tidak termasuk dalam kategori masjid yang dibangun di atas kuburan yang dilarang shalat di dalamnya. Begitu pula orang yang shalat di dalamnya tidak akan jatuh dalam kategori shalat menghadap ke kuburan yang dilarang, karena bentuk dinding yang mengelilinginya sebagaimana dijelaskan di atas.

Tambahan jawaban :

Bahwa kuburan Nabi Sallallahu’alaihi wasallam berada di dalam masjid Nabawy.

Jika kita menilik sejarah, kita dapati bahwa Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam dikuburkan dirumah ‘Aisyah bukan dimasjid, kemudian pada zaman Walid bin Abdul Malik tahun 88H, terjadi perluasan masjid sehingga masuklah kuburan Nabi kedalamnya, pada waktu Para sahabat semuanya telah meninggal, Imam Ibnu ‘Abdil Hadi dalam kitabnya Ash Sharimul mankiy (hal. 136-137) berkata :” sesungguhnya kamar aisyah dimasukkan kedalam masjid pada masa khalifah Al Walid bin Abdul Malik setelah meninggalnya seluruh sahabat yang berada di madinah…”.

Maka setelah kita mengetahui hakikat tersebut, tidak boleh beralasan dengan perbuatan yang dilakukan setelah zaman sahabat, karena hal tersebut sangat bertentangan dengan hadits-hadits sahih yang melarangnya, juga bertentangan dengan perbuatan para sahabat ketika Umar bin Khaththab dan Utsman bin ‘Affan memperluas masjid kesebelah timur sehingga tidak memasukkan kuburan kedalam masjid.

bahkan masjidil Haram pun berkata Imam Baidhawiy bahwa kuburan Nabi Ismail adalah di Masjidil Haram.

Mana dalil yang menunjukkan bahwa ada kuburan di masjidil haram?

Tambahan jawaban Bahwa kuburan Nabi Ismail berada di hijir dari masjidil haram.

Jawabannya tidak berbeda dengan sebelumnya yaitu pertama : bahwa hadits tersebut tidak dijumpai dalam buku-buku hadits, dan ini adalah salah satu tanda bahwa hadits tersebut lemah bahkan palsu menurut ibnul jauzy.

Yang ada adalah atsar-atsar yang terputus (mu’dlal) dengan sanad-sanad yang sangat lemah lagi mauquf yang dikeluarkan oleh Al Azraqy dalam akhbar makkah.

Kedua : kalaupun hadits itu dikatakan sah tapi kuburan tersebut tidak tampak dan tanda-tandanya sudah hilang, maka keadaan seperti ini tidak bisa dijadikan dalil.

kesimpulannya larangan membuat masjid diatas makam adalah menginjaknya dan menjadikannya terinjak injak, ini hukumnya makruh, ada pendapat mengatakannya haram.

Ini kesimpulan siapa mas? Kesimpulan anda sendiri, atau kesimpulan para ulama? Tolong baca lagi penjelasan dari 4 madzhab yang sudah saya nukilkan di atas….

Perlu mas ketahui pula, masjid nabawi, atau masjidil haram adalah masjid khusus, yang berbeda dengan masjid-masjid lainnya,… Berikut ini penjelasannya.

Kemudian ketahuilah bahwa hukum yang telah lewat mencakup seluruh masjid baik yang besar maupun yang kecil, yang lama maupun baru, berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada. Maka tidak diperkecualikan dari larangan shalat di masjid yang ada kuburannya kecuali masjid Nabawi yang agung, karena keutamaannya yang khusus yang tidak didapatkan pada masjid-masjid lain yang dibangun di atas kuburan. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah:

صَلاَةٌ فِيْ مَسْجِدِي هَذاَ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيْماَ سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ (فَإِنَّهُ أَفْضَلُ

Shalat di masjidku ini lebih utama dari seribu shalat di masjid-masjid yang lain kecuali Masjidil Haram, (karena shalat di Masjidil Haram lebih utama).

Begitu pula sabda beliau:

ماَ بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِياَضِ الْجَنَّةِ

Antara rumahku dan mimbarku merupakan taman dari taman-taman jannah (surga).

Lalu mana dalil tentang keutamaan masjid-masjid lain yang didalamnya ada kuburnya? Sudah jelas larangan Rasulullah shalat di masjid yang ada kuburannya, larangan membuat kuburan di dalam masjid, atau menjadikan kuburan menjadi masjid…

Kalau masjid nabawi dan masjidil haram sudah jelas keutamaanya, nah, kalau masjid selain kedua masjid tersebut, siapa yang menjaminnya mas?? Dicari dalilnya dikitab-kitab para ulama juga tidak akan pernah ditemukan dalil yang shahih, kalau nggak percaya, silahkan mas cari deh… lalu kirim kesini, ada dikitab apa, pengarangnya siapa, halaman berapa, ditunggu….

semoga bermanfaat
wallahu alam

link http://www.bukanmajelisrasulullah.org

Karena Majlis Rasulullah bukanlah majlis yang melestarikan apa yang dilarang oleh Rasulullah, walaupun bergelar habib, ataupun gelar-gelar lainnya…

Majlis Rasulullah bukanlah majlis yang beribadah disisi kuburan..

Rasulullah melaknat orang-orang yang beribadah disisi kuburan,

Rasulullah melaknat orang-orang yang meniru yahudi dan nasrani dengan membangun kubur menjadi masjid, atau menjadikan masjid sebagai kuburan…

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Allah mengutuk orang-orang Yahudi dan Nashrany, mereka mengambil kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai masjid “. Aisyah berkata :” kalaulah bukan karena hal itu, niscaya beliau saw dikuburkan di luar rumahnya “. (HR Bukhary & Muslim dari Aisyah).

Print Friendly, PDF & Email

3 Comments

  1. Assalamu alaikum,

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    saudaraku yg kusayangi,kita mempunyai dalil masing2 dan kita tlh punya panutan masing2 anda berpegang pada dalil2 yg anda percayai dan sayapun berpegang pada dalil2 yg sesuai dg yg saya yakini. Wallahu alam

    Saudaraku yg kusayangi juga, Rasulullah telah memberikan kepada umatnya dalil yang wajib dipegang, Dan perlu anda ketahui, dalil-dalil yang benar adalah dalil-dalil yang shahih (yang benar) datang dari Rasulullah, bukan yang datang dari guru-guru kita, atau habib-habib kita, kalau dalil-dalil yang disampaikan oleh guru dan habib tersebut adalah dalil yang disampaikan oleh Rasulullah secara shahih, ya kita terima… tapi kalau dalil tersebut bertentangan dengan apa yang datang dari Rasulullah, ya wajib kita tolak… Dan kepada guru dan habib yang melakukan hal itu, mudah-mudahan Allah memberinya petunjuk sehingga mereka mengetahui jalan yang benar, bukan malah menyesatkan umat ini dengan dalil-dalil yang tidak benar datang dari Rasulullah.
    Patokan kebenaran bukan apa-apa yang datang dari guru dan habib, tapi patokan kebenaran adalah apa-apa yang datang dari Allah, dan apa-apa yang disampaikan oleh Rasulullah dalam hadits-hadits shahihnya…
    Ingat wasiat Rasulullah yang sangat berharga ini:

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya : “Aku berwasiat kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat (kepada pemerintahan Islam) walaupun yang memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya dari negeri Habasyah. Sesungguhnya barangsiapa hidup sesudahku niscaya dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Berpeganglah kalian dengannya dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu serta jauhilah oleh kalian perkara agama yang diada-adakan karena semua yang baru dalam agama adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.”
    HR Ahmad,Abu Dawud,Tirmidzi,Dzahabi dan Hakim,
    disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al jami’ no. 2549

    Mutiara kalam ulama:
    “Saya berpesan hendaklah kamu selalu meniatkan yang baik-baik saja bagi seluruh kaum muslimin. Cintailah mereka apa yang kamu cintai untuk dirimu sendiri, dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, dan tidak menyukai sesuatu yang menimpa mereka sebagaimana kamu tidak menyukai hal itu menimpa dirimu sendiri. Berdialoglah dengan mereka dengan ucapan-ucapan yang baik yang tidak mengandung pelanggaran (atas hak mereka).”

    Oh iya, itu perkataan siapa? Nama ulamanya siapa? ada dikitab apa?
    Niat yang baik tidak cukup wahai saudaraku, tapi niat baik dan cara yang baik.
    Kalau dalam hal ibadah, tidak cukup niat baik, tapi harus mengikuti contoh Rasulullah, berikut ini syarat diterimanya ibadah:
    1. Ikhlas, niatkan hanya untuk mencari keridhaan Allah
    2. Mengikuti contoh Rasulullah,
    Tidak terpenuhi kedua hal tersebut di atas, niat sebaik apapun tidak ada manfaatnya,… amalan tersebut tertolak,
    Tentu kita menyampaikan sesuatu yang mungkin bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh kaum muslimin tanpa terkecuali, baik orang awamnya, atau habib, ajengan, ustadz, dengan cara yang penuh hikmah, bukan kata-kata yang bisa memicu konflik yang berkepanjangan…


    Wassalamu alaikum.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  2. wew wew wew, gk mudeng gk nyantol mas ke otak saya, ahahaha dasar oon nya diriku!
    tpi intinya kuburan itu gk boleh dijadikan tempat ibadah ???
    hhe 😀

    Intinya seperti itu… Semua tempat dibumi ini bisa dijadikan tempat ibadah, kecuali kuburan dan kamar mandi.

Leave a Reply to minniemine Cancel reply

Your email address will not be published.


*