Perbuatan Bidah Lebih Dicintai Iblis Daripada Maksiat..

Bahaya Maksiat Imam An Nawawi Pdf Bidah Dicintai Iblis Perintah Tentang Pelaku Bidah Hadist Tentang Biddah Yang Sangat Di Sukai Jin Apakah Setan Menyukai Org Malakuksn Bidah

stop-bidah1Mengapa Dosa Bid’ah Lebih Besar dari Maksiat?

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Ustadz mau tanya, apakah ada hadits yang menyatakan bahwa derajat orang yang suka tahlilan lebih rendah dari pada seorang pelacur?

(0274- 7829942)

Jawab:

Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh

Sampai saat ini kami belum menjumpai hadits Nabi yang isinya sebagaimana yang ditanyakan. Namun mungkin yang dimaksudkan adalah perkataan seorang tabiin bernama Sufyan ats Tsauri:

قال وسمعت يحيى بن يمان يقول سمعت سفيان يقول : البدعة أحب إلى إبليس من المعصية المعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها

Ali bin Ja’d mengatakan bahwa dia mendengar Yahya bin Yaman berkata bahwa dia mendengar Sufyan (ats Tsauri) berkata, Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat (Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnadnya no 1809 dan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis hal 22).

Faktor terpenting yang mendorong seseorang untuk bertaubat adalah merasa berbuat salah dan merasa berdosa. Perasaan ini banyak dimiliki oleh pelaku kemaksiatan tapi tidak ada dalam hati orang yang gemar dengan bid’ah. Oleh karena itu, bagaimana mungkin seorang pelaku bid’ah bertaubat ketika dia tidak merasa salah bahkan dia merasa mendapat pahala dan mendekatkan diri kepada Allah dengan bid’ah yang dia lakukan.

Mungkin berdasarkan perkataan Sufyan ats Tsauri ini ada orang yang berkesimpulan bahwa orang yang melakukan bid’ah semisal tahlilan itu lebih rendah derajatnya dibandingkan yang melakukan maksiat semisal melacurkan diri.

Muhammad bin Husain al Jizani ketika menjelaskan poin-poin perbedaan antara maksiat dan bid’ah mengatakan, “Oleh karena itu maksiat memiliki kekhasan berupa ada perasaan menginginkan bertaubat dalam diri pelaku maksiat. Ini berbeda dengan pelaku bid’ah. Pelaku bid’ah hanya semakin mantap dengan terus menerus melakukan kebid’ahan karena dia beranggapan bahwa amalnya itu mendekatkan dirinya kepada Allah, terlebih para pemimpin kebid’ahan besar. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah,

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآَهُ حَسَنًا

“Maka Apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu Dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)?” (Qs. Fathir:8)

Sufyan ats Tsauri mengatakan, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat”.

Dalam sebuah atsar (perkataan salaf) Iblis berkata, “Kubinasakan anak keturunan Adam dengan dosa namun mereka membalas membinasakanku dengan istighfar dan ucapan la ilaha illallah. Setelah kuketahui hal tersebut maka kusebarkan di tengah-tengah mereka hawa nafsu (baca:bid’ah). Akhirnya mereka berbuat dosa namun tidak mau bertaubat karena mereka merasa sedang berbuat baik” [lihat al Jawab al Kafi 58, 149-150 dan al I’tisham 2/62].

Oleh karena itu secara umum bid’ah itu lebih berbahaya dibandingkan maksiat. Hal ini dikarenakan pelaku bid’ah itu merusak agama. Sedangkan pelaku maksiat sumber kesalahannya adalah karena mengikuti keinginan yang terlarang. [al Jawab al Kafi hal 58 dan lihat Majmu Fatawa 20/103].

Ketentuan ini hanya bernilai benar dan berlaku jika tidak ada indikator dan kondisi yang menyebabkan berubahnya status sebuah maksiat atau bid’ah.

Di antara contoh untuk indikator dan kondisi yang dimaksudkan adalah sebagai berikut. Sebuah penyimpangan baik berbentuk maksiat atau bid’ah akan besar dosanya jika dilakukan secara terus menerus, diiringi sikap meremehkan, anggapan kalau hal itu dibolehkan, dilakukan secara terang terangan atau sambil mengajak orang lain untuk melakukannya. Demikian pula sebuah maksiat atau bid’ah itu nilai dosanya berkurang jika dilakukan sambil sembunyi-sembunyi, tidak terus menerus atau penyesalan dan taubat.

Contoh lain untuk indikator adalah sebuah penyimpangan itu semakin besar dosanya jika bahaya yang ditimbulkannya semakin besar. Penyimpangan yang merusak prinsip-prinsip pokok agama itu dosanya lebih besar dari pada yang merusak hal-hal parsial dalam agama. Demikian pula, sebuah penyimpangan yang merusak agama itu lebih besar dosanya dibandingkan penyimpangan yang sekedar merusak jiwa.

Ringkasnya, ketika kita akan membandingkan bid’ah dengan maksiat maka kita harus memperhatikan situasi dan keadaan, menimbang manfaat dan bahaya dari komparasi tersebut dan memikirkan efek yang mungkin terjadi di kemudian hari dari pembandingan tersebut.

Penjelasan mengenai bahaya bid’ah dan ungkapan hiperbola untuk menunjukkan betapa ngerinya bid’ah sepatutnya tidaklah menyebabkan-pada saat ini atau di kemudian hari-sikap meremehkan dan menyepelekan maksiat.
Sebaliknya, penjelasan mengenai bahaya maksiat dan ungkapan hiperbola untuk menunjukkan betapa ngerinya maksiat sepatutnya tidaklah menyebabkan-pada saat ini atau di kemudian hari-sikap meremehkan dan menyepelekan bid’ah.” (Qawaid Ma’rifah al Bida’ hal 31-33, cetakan Dar Ibnul Jauzi Saudi Arabia).

Penjelasan di atas sangat perlu dilakukan oleh setiap orang yang ingin mengingatkan orang lain akan bahaya bid’ah supaya kita menjadi sebab terbukanya pintu-pintu keburukan tanpa kita sadari.

sumber : http://www.konsultasisyariah.com/mengapa-dosa-bidah-lebih-besar-dari-maksiat/

Print Friendly, PDF & Email

Ahlul Bidah Lebih Disukai Iblis Apakah Benar Orang Yg Melakukan Bidah Di Sukai Kalangan Jin Bidah Lebih Disukai Iblis Kata Wahabi Bidah Iblis Lebih Cinta Pelaku Ibadah Dariada Maksiat

12 Comments

  1. Ass.Wr.Wb.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Perkataan Sayyidina Umar ” Sebaik-baik Bid’ah adalah ini ”
    Contoh Perbuatan beliau a.l : Sholat Tarawih, Doa talbiyah, Sholat Dhuha
    Perkataan Beliau diatas mengisyaratkan adanya pengeculian dan Beliaupun melakukannya. Barang siapa menganggap ” semua/ seluruh ” maka sama artinya mengatakan Beliau ahli Bid’ah.

    TErimakasih mas aris, sebenarnya sudah ada jawaban untuk perbuatan umar diatas,. ada dipostingan saya yang sudah diposting lama sekali,.

    Taruhlah perbuatan umar tersebut tidak ada contohnya dari rasulullah, tapi Rasulullah telah merekomendasi khulafaur rasyidin, kita disuruh berpegang teguh dengan sunnah rasulullah dan sunnah khulafaur rasyidin,. dan umar termasuk dari khulafaur rasyidin tersebut,. jadi itu bukan bidah mas,. contoh lain adalah adzan dua kali yang dilakukan oleh utsman bin affan,.

    Untuk anda, saya postingkan artikel tentang perkataan umar, silahkan baca disini

    Oh iya, perlu anda pahami apa yang disebut sunnah rasul, termasuk sunnah rasul adalah persetujuan rasulullah terhadap perbuatan para sahabat, lalu rasulullah tidak menegurnya, bahkan mendiamkan dan menyetujuinya,. contoh ini banyak, contoh yang kita kenal dengan adzan dan iqamat, itu juga berasal dari mimpin seorang sahabat, lalu disampaikan kepada rasulullah, dan rasulullah menyetujuinya, baca disini penjelasan apa itu sunnah, klik disini

  2. Mohon maaf, keterangan anda koq jadi ngaco, jelas2 Sayyidina Umar mengatakan bid’ah malah anda mengatakan bukan bid’ah, terus dari mana anda mendapatkan keterangan “apabila khulafaur rasyidin yang melakukan bid’ah maka perbuatan tsb bukan bid’ah”?

    terimakasih mas aris, mash betah komentar disini,. mudah-mudahan Allah menunjuki anda,
    saya jadi ingat, kemarin anda meminta dalil tentang tangan allah, dan saya kasih ayat alquran yang mengatakan tentang kedua tangan Allah,.

    Kali ini saya kasih hadits tentang perbuatan khulafaur rasyidin itu bukanlah bidah, ini haditsnya mas

    Berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang diberi petunjuk, gigitlah dengan gerahammu, dan hati – hatilah kamu terhadap perkara yang baru karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalahsesat. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, At-Tirmidzy, Al-Hakim, Al-Baghawi)

    Aku Wasiatkan kepada kalian (untuk mengikuti) para sahabatku, kemudian orang-orang sesudah mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka. (Shahih Sunan Ibnu Majah)

    Kalian akan melihat perselisihan yang hebat sepeninggalku, maka berpeganglah kalian pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin Al Mahdiyin sepeninggalku. Gigitlah ia dengan gigi geraham (peganglah kuat-kuat), dan jauhilah perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena setiap bid’ah adalah sesat. (Shahih Sunan Ibnu Majah)

    Aku telah meninggalkan kalian dalam keadaan putih bersih, malam harinya (terang) bagaikan siangnya. Tak seorangpun yang berpaling daripadanya sepeninggalku kecuali akan binasa. Dan siapa diantara kalian yang masih hidup, maka dia akan banyak melihat perselisihan. Maka berpeganglah kalian pada apa yang kalian ketahui, dalam sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin Al Mahdiyin. Gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. (Shahih Sunan Ibnu Majah)

    Ikutilah kedua orang sesudahku. “Beliau mengatakan demikian seraya menunjuk ke arah Abu Bakar dan ‘Umar”. (Shahih Sunan Ibnu Majah)

    Patuhlah kamu sekalian kepadaku (dengan mengikuti sunnahku), para sahabatku, kemudian orang-orang sesudah mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka, kemudian tersebar luas kebohongan. (As Silsilah Ash shahihah)

    Umar adalah salah satu khulafaur rasyidin, dan umar juga termasuk salah satu sahabat, bahkan salah satu sahabat yang dijamin masuk surga, termasuk orang yang dikabarkan oleh rasulullah akan masuk surga, maka mustahil Umar melakukan amalan bidah, sebab amalan bidah itu akan menyebabkan pelakunya masuk neraka,

  3. Ass.Wr.Wb. Maturnuwun untuk komennya.Menurut pemahaman saya, komen tsb memperjelas bahwa kata “Kullu ” tidak bermakna seluruh artinya adanya pengecualian, benar nggak ? lebih jelas lihat perkataan Syech Utsaimin insya Allah kl saya nggak salah.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    masih betah ya komen disini, mudah-mudahan bisa semakin memperjelas,

    betul sekali mas aris, kullu itu bukan berarti semuanya, dengan syarat,.. ada yang mengecualikannya,. jika tidak ada lafadz yang mengecualikannya, maka kullu itu berarti semuanya,. kata pengecualian dalam bahasa arab itu adalah “illaa”

    contohnya banyak, diantaranya hadits rasul , silahkan lihat dipostingan ini haditsnya
    كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى
    SEMUA UMATKU AKAN MASUK SURGA , kecuali yang enggan,. disini berarti KULLU tidak berarti semuanya, ada yang tidak termasuk,

    nah, untuk kata setiap bidah itu sesat, mana yang memalingkan bahwa ada bidah yang tidak sesat, apakah rasulullah mengatakan setiap bidah itu sesat, KECUALI… nah, mana rasulullah menyebutkannya,.

    Kalau tidak, berilah contoh bidah yang dilakukan seperti umar melakukannya, yaitu umar melakukan Shalat tarawih dengan satu imam, lalu umar mengatakan SENIKMAT-NIKMAT BIDAH ADALAH INI , silahkan berikan contoh bidah semisal yang umar lakukan,. yang umar lakukan kan itu yang pertama kali melakukan adalah rasulullah,. rasulullah meninggalkan shalat tarawih tersebut karena takut diwajibkan oleh Allah, karena wahyu masih turun,. sedangkan di jaman umar, tidak mungkin shalat tarawih tersebut menjadi wajib, karena wahyu sudah terputus,.

    Saya bertanya kepada anda,
    1. silahkan copaskan perkataan syaikh utsaimin disini,disertai sumber rujukannya
    2. berikan contoh amalan satu saja yang semisal dengan perkataan umar, yang menurut anda bidah hasanah, padahal yang umar lakukan adalah sunnah hasanah, bukan bidah hasanah,

    • Ass.WR.Wb. Terima kasih komennya. Saya membatasi diskusi kita sebatasi pemahaman kata “Kullu” mudah2an kita bisa satu pemahaman bahwa didalam kata “Kullu” masih ada pengecualian. contoh perbuatan Sayyidina Umar, ra sudah saya sebutkan sebelumnya, saya tambahkan dengan perbuatan sahabat a.l. : sholat syukru Wudhu, Baca Al Ikhlas setiap sholat, mudah2an berkenan.

      وَقَدْخَرَجَشَيْءٌكَثِيْرٌلَمْيَدْخُلْفِيْمُلْكِهَامِنْهُشَيْءٌمِثْلُمُلْكِسُلَيْمَانَ.

      “Redaksi seperti “kullu syay’in (segala sesuatu)”adalah kalimat general yang terkadang dimaksudkan pada makna yang terbatas,seperti firman Allah SAW tentang Ratu Saba’: “Ia dikarunia segala sesuatu”.(QS. al-Naml : 23). Padahal banyak sekali sesuatu yang tidak masuk dalamkekuasaannya, seperti kerajaan Nabi Sulaiman AS.” (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syarhal-‘Aqidah al-Wasithiyyah, juz 1 hal. 430).

      Bagaimana pendapat antum mengenai perkataan syech Utsaimin tsb ?

      saya tanya kepada anda, syaikh utsaimin berkata seperti itu dalam menjelaskan permasalahan apa? tolong berikan secara lengkap, bukan sepotong-sepotong gitu,.

      sehingga kita bisa mendapatkan maksud dari penjelasan tersebut,.

      jika kaidahnya dipukul rata, atau diterapkan menurut kita sendiri, maka akan amburadul, perkataan syaikh utsaimin dalam hal diatas merupakan penjelasan tentang apa, nanti dibawa ke kulluu bidatin dholalalh, setiap bidah adalah sesat, maka ,.. yang kita dapat adalah kekeliruan, bukan makna yang dimaksud oleh syaikh utsaimin,

      betul sekali, kadang lafadz KULLU Itu bukan bermaksud keseluruhan,. kadang ada pembatasan, dan itu sudah saya jelaskan di komentar sebelumnya, lafadz KULLU bisa berarti ada pembatasan jika ada dalil yang membatasinya,. tapi jika tidak ada dalil yang membatasinya, maka makna KULLU adalah keseluruhan,. tolong tunjukan dalil yang mengatakan makna KULLU itu ada pembatasan, dalam hal ini adalah tentang KULLU bidatin DHOLALAH,

      • Hadits sahabat Jarir ibn Abdillah al-Bajali, bahwa ia berkata: Rasulullah bersabda:

        مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه مسلم)

        “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim)

        Mengenai perkataan syech Utsaimin saya abaikan karena antum lebih faham karena beliau imam antum, mohon maaf kl salah.

        nah, terimakasih,..
        ini yang dijadikan sebagai dalil bidah hasanah??
        padahal jelas sekali di terjemahan diatas tertulis ” “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik”

        Nah, apa maksud dari hadits diatas, apa penyebab rasulullah mengatakan seperti itu?
        Silahkan baca hadits tersebut secara utuh, bukan potongan, sehingga anda semakin paham maksud hadits tersebut, dan memahami perkataan Syaikh utsaimin tersebut,.
        sudah saya posting,. sudahkan anda membaca penjelasan dari hadits diatas, sehingga menjadikan perkaranya semakin jelas, seperti yang dijelaskan oleh syaikh utsaimin, silahkan baca disini penjelasannya

  4. dari hadits ‘Aisyah

    مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاريّ ومسلم)

    “Barang siapa yang berbuat sesuatu yang baharu dalam syari’at ini yang tidak sesuai dengannya, maka ia tertolak”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

    sejujurnya saya nggak ngerti dengan pencerahan antum, apakah antum menerima atau menolak kutipan hadits Jarir tsb termasuk hadits Aisyah yg saya tambahkan ? Sekiranya antum menolak adanya bid’ah hasanah tolong saya di copaskan haditsnya.

    hadits jarir tersebut bukan menjelaskan tentang bidah hasanah, tapi SUNNAH HASANAH,. masa sedekah dibilang bidah? sebagaimana shalat tarawih dengan satu imam dibilang bidah?

    Jadi dalil-dalil yg dijadikan sebagai pendukung bidah hasanah, bukanlah dalil utk itu, tapi dalil SUNNAH HASANAH,

    ini hadits jarir , cukup panjang haditsnya, dan dari terjemahan hadits tsb saja sdh cukup jelas,

    Dari Jarir bin Abdillah, beliau berkata,

    كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَدْرِ النَّهَارِ فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوْ الْعَبَاءِ مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ عَامَّتُهُمْ مِنْ مُضَرَ بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا رَأَى بِهِمْ مِنْ الْفَاقَةِ فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ فَأَمَرَ بِلَالًا فَأَذَّنَ وَأَقَامَ فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا وَالْآيَةَ الَّتِي فِي الْحَشْرِ اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ

    تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ مِنْ دِرْهَمِهِ مِنْ ثَوْبِهِ مِنْ صَاعِ بُرِّهِ مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ حَتَّى قَالَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ قَالَ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا بَلْ قَدْ عَجَزَتْ قَالَ ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ حَتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

    Kami bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di pagi hari. Lalu datanglah satu kaum yang telanjang kaki dan telanjang dada berpakaian kulit domba yang sobek-sobek atau hanya mengenakan pakaian luar dengan menyandang pedang. Umumnya mereka dari kabilah Mudhar atau seluruhnya dari Mudhar, lalu wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah ketika melihat kefaqiran mereka. Beliau masuk kemudian keluar dan memerintahkan Bilal untuk adzan, lalu Bilal adzan dan iqamat, kemudian beliau shalat. Setelah shalat beliau berkhutbah seraya membaca ayat,

    يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

    “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An Nisa: 1)

    dan membaca ayat di surat Al Hasyr,

    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسُُ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ

    “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Hasyr:18) Telah bershodaqah seseorang dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, takaran sha’ kurmanya sampai beliau berkata walaupun separuh kurma.

    Jarir berkata, ‘Lalu seorang dari Anshar datang membawa sebanyak shurroh, hampir-hampir telapak tangannya tidak mampu memegangnya, bahkan tidak mampu’. Jarir berkata: ‘Kemudian berturut-turut orang memberi sampai aku melihat makanan dan pakaian seperti dua bukit, sampai aku melihat wajah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersinar seperti emas,

    lalu Rasulullah bersabda,

    “Barang siapa yang membuat contoh dalam Islam contoh yang baik, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barang siapa yang mencontohkan contoh jelek dalam islam maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka”.

    Takhrij Hadits

    Hadits ini dikeluarkan oleh : Imam Muslim dalam Shahih Muslim (7/103-104, dengan Syarah An Nawawi) dan (16/225-226), Ahmad dalam Al Musnad (4/357, 359, 361, 362), An Nasaa’i dalam Al Mujtaba’ (5/75-76-77), Al Tirmidzi dalam Al Jaami’ (5/42) no. 2675 dengan lafadz :

    مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً ……… وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً

    dan Ibnu Majah dalam As Sunan (1/74) no 203.

    • Telaah Makna Hadits

      Perkataan : (مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوْ الْعَبَاءِ) An Nimar dengan di-kasrah-kan huruf Nun adalah bentuk plural dari Namirah dengan di-fathah-kan. Ia bermakna baju dari kulit domba yang sobek. Sedangkan الْعَبَاء (Al Abaa’) dengan di-mad-kan dan di-fathah-kan huruf ‘ain-nya عَبَاءة – عَبَاية . Sedangkan makna مُجْتَابِي النِّمَارِ artinya sobek dan belas bagian tengahnya.

      Perkataan: فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bermakna berubah.

      Perkataan : فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ berisi anjuran mengumpulkan orang banyak untuk perkara penting dan menasehati serta memotivasi mereka untuk mencapai kemaslahatan mereka dan memperingati mereka dari perkara jelek.

      Perkataan beliau : يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ , sebab dibacanya ayat ini karena ia lebih pas dalam menganujurkan mereka bershodaqah dan karena berisi penegasan hak mereka sebagai saudara.

      Perkataan: رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ , Kaumain dapat dibaca dengan fathah atau dhammah huruf kaf-nya. Bermakna tempat yang tinggi seperti bukit kecil.

      Perkataan : حَتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ bermakna bersinar karena senang dan bahagia.

      Perkataan: مُذْهَبَةٌ para ulama membacanya dengan dua sisi,

      Pertama: yang sudah masyhur dan dirojihkan Al Qaadhi dan Jumhur adalah مُذْهَبَةٌ dengan huruf dzal, fathah huruf ha’ dan setelahnya ba’.

      Kedua: مدْ هَنَةٌ dengan dal dan dhamah ha’ dan setelahnya nun.

      Al Qadhi menjelaskan dalam Masyaaqi Al Anwar (1/172) dua sisi bacaan ini dalam tafsirnya:

      Pertama : maknanya perak keemasan, ini cocok untuk keindahan wajah dan sinarnya.

      Kedua: menyerupakannya dalam keindahan dan bersinarnya dengan Al Mudzhabah dari kulit dan bentuk pluralnya adalah madzaahib. Al Mudzahab ini adalah sesuatu yang digunakan bangsa Arab untuk mencelupkan kulit dan menjadikannya bergaris-garis keemasan, tampak sebagiannya bersambung dengan sebagian lainnya.

      Adapun sebab bahagianya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah senangnya beliau dengan bersegeranya kaum muslimin melaksanakan ketaatan kepada Allah, mengeluarkan hartanya karena Allah, melaksanakan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menutupi kebutuhan saudaranya yang membutuhkan, kasih sayang sesama kaum muslimin dan kerjasama mereka dalam kebaikan dan taqwa. Seorang sudah sepatutnya jika melihat hal seperti ini, untuk bahagia dan menampakan kebahagiannya dan senangnya karena apa yang telah dijelaskan tadi.

      Perkataan : مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا , yang dimaksud sunnah dalam hadits ini adalah contoh teladan atau perilaku, bukan bermakna sunnah secara terminologi syar’i, sebagaimana dalam sabda beliau,

      عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ

      dan sabdanya,

      منْ رَغِبَ عَنْ سُنَتِيْ فَلَيْسَ مِنِّي.

      Konsekuensi hadits menunjukkan makna ini. Maksud saya, dengan konsekuensi hadits adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

      وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً ,

      karena Rasulullah telah mensifati sunnah dalam hadits ini dengan kejelekan, dan tidak ada sunnah jelek dalam Islam. Maka yang dimaksud sunnah di sini adalah makna bahasa (etimologi) bukan makna istilah.

      Kemudian kita sampaikan kepada orang yang menyelisihi kita,

      Sungguh orang-orang itu telah memisah hal-hal yang sama

      dan menyamakan hal-hal yang berbeda,

      Mencampur-adukkan yang baik dengan yang buruk,

      yang berkualitas rendah dengan yang tinggi,

      dan meletakkan tanah dalam adonan roti.

      Kata Sunnah ada dalam banyak nash bermakna yang jalan contoh teladan atau perilaku, sebagaimana hal itu ada dalama sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

      مَا منْ نَفْسٍ تُقْتَلٌُ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا وَذَلِكَ لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ

      “Tidak ada satu jiwa pun terbunuh secara zhalim kecuali anak adam pertama mendapatkan bagian dari darahnya, itu karena ia adalah orang pertama yang mencontohkan pembunuhan”.

      Dan juga sabdanya,

      لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

      “Sungguh kalian kelak akan mengekor perilaku orang-orang setelah kalian (yaitu orang musyrik)”

      Dari hadits-hadits ini, seandainya kita mendebat orang-orang yang mencampuradukkan pemahaman sunnah yang telah diisyaratakan terdahulu, maka kami sampaikan kepada mereka konsekuensi pernyataan mereka tersebut. Yaitu sesungguhnya membunuh adalah sunnah dan meniru orang musyrik adalah sunnah! Tentu ini adalah pernyataan yang tidak akan disampaikan seorang yang berakal. Sehingga kalau begitu tidak mungkin kita pahami sabda beliau مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً sebagai amalan baru yang diada-adakan secara langsung, karena sunnah itu baik atau jeleknya tidak diketahui kecuali dengan syariat. Hal itu karena menilai baik atau buruk merupakan kekhususan syari’at semata tidak ada celah bagi akal dalam hal ini. Inilah madzhab ahlu sunnah wal jamaah

      Yang menilai baik dan buruk dengan akal hanya merupakan pendapat ahlul bid’ah, sehingga mengharuskan sunnah dalam hadits tersebut baik menurut syariat atau buruk menurut syariat. Hal ini tidak pas kecuali untuk seperti shadaqah yang disebutkan dan yang menyerupainya dari sunnah-sunnah yang disyariatkan. Sedangkan sunnah sayyi’ah (yang buruk) tetap difahami untuk kemaksiatan yang ditetapkan syari’at sebagai maksiat, seperti membunuh yang dijelaskan dalam hadits Ibnu Adam ketika Rasulullah bersabda: لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ , dan kepada kebidahan, karena sudah ada celaan dan larangannya dalam syari’at.

      Al Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Baari (13/302): “Al Muhallab berkata: Bab ini menjelaskan larangan dan peringatan dari kesesatan dan menjauhi kebidahan dan perkara-perkara baru dalam agama serta larangan menyelisihi jalan kaum mukminin.”.

      Sisi peringatannya (wajhu tahdzir) adalah orang yang berbuat kebidahan terkadang meremehkannya karena kecilnya di awal dan tidak merasakan timbulnya kerusakan akibat amalan tersebut, yaitu mendapatkan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, walaupuan seandainya ia tidak mengamalkannya namun karena ia adalah orang yang merintisnya.

      Imam An Nawawi berkata dalam Shahih Muslim (7/104), “Dalam hadits ini terdzpat anjuran memulai kebaikan (menjadi perintis kebaikan) dan mencontohkan contoh baik serta ada peringatan dari merintis kebatilan dan perkara jelek. Sebab ucapan beliau dalam hadits ini adalah pernyataan beliau sebelumnya:

      فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا بَلْ قَدْ عَجَزَتْ قَالَ ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ

      Ini merupakan keutamaan yang agung bagi perintis kebaikan dan orang yang membuka pintu kebaikan tersebut”.

      • Salah Paham Terhadap Hadits

        Hadits ini dipahami salah ketika banyak orang awam berdalil dengan hadits ini dalam pembagian bid’ah menjadi bidah hasanah(baik) dan bidaha sayyi’ah (tercela). Sebagian ulama pun ikut-ikutan dalam hal ini. Akan jelas bagimu kesalahan cara berdalil ini sebagai berikut:

        Banyak dari orang yang berdalil dengan hadits ini dalam pembagian bidah yang menyampaikan hadits sepotong-spotong dengan menampakkan kepadamu sebagian saja dan menyembunyikan yang lainnya, agar mendapatkan legalisasi dalam pembagian bidah tersebut, lalu mengklaim adanya bidah hasanah, ketika ia tidak menyebutkan obyek yang menyebabkan nabi menyatakan :

        مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً

        Kami telah menjelaskan di atas maksud dari sunnah disini adalah sunnah secara bahasa bukan secara syar’i

        Sungguh saya menuntut orang yang menentang kami dalam pendapat ini untuk menjawab pertanyaan:

        “Apakah ada dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sunnah yang jelek?”.

        Walaupun beliau sendiri menyatakan dalam hadits ini: مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّة سَيِّئَةً .

        Jika kalian menjawab:

        “Ya, ada”,

        maka tidak perlu berdebat, karena dengan pernyataan jelek seorang dapat keluar dari agama tanpa disadari, karena hal ini sudah menjadi kepastian yang absolut dalam agama ini, yaitu sunnah itu adalah agama.

        Jika menjawab

        “Tidak”

        maka kita sampaikan kepadanya hadits ini yang ada padanya sifat sunnah dengan jelek agar mengakui bahwa lafadz sunnah disini adalah secara bahasa dan bukan istilah syari’at.

        Sampai-sampai hadits ini walaupun seandainya tidak ada pensifatan sunnah dengan jelek sekalipun, sudah cukup dengan lafadz yang menunjukkan pensifatan baik, yaitu مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً

        Karena hal itu adalah pensifatan yang salah dan tidak layak sama sekali, maknanya disana tentu ada sunnah yang tidak baik dari sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini dalil yang kuat menunjukkan bahwa lafadz tersebut secara bahasa, karena sudah dimaklumi sunnah itu adalah agama. Jika anda katakan, “Ini sunnah yang baik, maka anda sama saja dengan orang yang membagi sunnah menjadi dua, dan itu sesat, pada apa yang kamu ingin bersihkan”.[1]

        Penulis (Usamah Al Qashash) berkata,

        “Sungguh salah paham terhadap hadits ini, membawa akibat buruk dan kerusakan. Kami telah mendengar banyak orang yang melakukan perkara bidah yang tidak ada dasarnya dalam syariat, ketika dingkari berdalil dengan hadits ini dan menyatakan:

        “Ini perkara baik dan tidak apa-apa”, padahal nabi menyatakan: مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً .

        Kita sampaikan kepada mereka ini:

        Sesungguhnya sahabat yang memulai yang melakukan amalan shadaqah tidak melakukan sesuatu yang baru dalam syari’at. Shadaqah disyaria’tkan dan dianjurkan oleh Rabb alam semesta dalam Al Qur’an dan juga ada dalam sunnah yang tidak perlu lagi berdalil untuknya.

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbahnya tersebut menganjurkan para sahabatnya untuk bershadaqah, namun ketika mereka semua lambat dan tampak kesedihan pada wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bangkit seorang Anshar dari mereka dan menyerahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam satu shurrah shadaqah, dan dari sini berturut-turut orang menyerahkan shadaqahnya, sehingga perbuatan Anshar ini terpuji. Ia tidak berbuat bidah dalam shadaqah, karena shadaqah disyari’atkan. Maka dari mana mereka dapat menyatakan: “Di sana ada bidah hasanah bermakna istilah syar’i?”.

        Kemudian seandainya makna hadits seperti yang telah mereka pahami ini, maka sunnah dalam hal ini kontradiktif, karena Rasulullah menganggap seluruh bid’ah adalah sesat. Oleh karenanya pemahaman mereka tersebut jelas tidak benar.

        Al Barkali berkata dalam Al Thariqah Al Muhammadiyah (1/128, dengan syarah Al Khaadimi), “Seandainya anda meneliti semua yang disampaikan padanya bid’ah hasanah dari jenis ibadah, maka tentu kamu mendapatinya diizinkan oleh syari’at baik secara isyarat atau dalil”.

        Syaikh Masyhur Hasan Salman dalam komentarnya terhadap kitab Al Baa’its ‘Ala Inkar Al Bida’ Wal Hawadits hlm 87,“Dengan demikian keluar dari keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: setiap bid’ah sesat, karena bidah dalam makna syar’i adalah tambahan atau pengurangan dalam agama tanpa izin syari’at baik perkataan dan perbuatan, jelas-jelas atau isyarat.

        Setiap amalan yang tidak ada dasarnya dalam syari’at adalah bidah yang sesat, walaupun dilakukan oleh orang yang dianggap sebagai pemilik keutamaan atau yang terkenal sebagai Syaikh!! Karena perbuatan ulama dan ahli ibadah bukanlah hujjah selama tidak sesuai dengan syari’at.

        Kita sampaikan kepada orang yang menganggap baik banyak kebidahan dan menjadikannya sebagai ajaran agama secara dusta dan bohong: sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً tidak bermakna orang yang mencontohkan dalam agama yaitu dalam hukum dan furu’-nya serta ushul-nya, bukan! Ini merupakan kebodohan, namun maksudnya adalah orang yang mencontohkan dalam zaman dan naungan Islam yaitu pada zaman dan keberadaannya. Hal itu karena agama datang dan memperingatkan dari kerusakan dan keburukan serta mengajak berbuat kebaikan dan keshalihan, sehingga dalam naungan agama yang lurus menjadi sesuatu yang agung perbuatan mencontohkan padanya satu kejelekan. Tidak ada perbedan anatara kejelekan yang baru atau kejelekan yang sudah ada dahulu sebelum islam.[2]. (Sampai di sini nukilan dari Al Israaq)

        Di samping itu, seandainya sahabat dari Anshar tersebut melakukan perbuatan lain selain shadaqah dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetujuinya maka perbuatan atau perkataan sahabat ini adalah sunnah setelah persetujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sunnah ini tidak ditetapkan kesunahannya dari sekedar perkataan atau perbuatan saja namun hanya karena persetujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana terjadi pada sahabat yang menyatakan setelah I’tidal dari ruku’ :

        رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

        Ketika selesai sholat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Siapakah yang mengucapkan hal itu?” Maka ia menjawab: “Saya wahai Rasulullah”, lalu beliau bersabda:

        رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلا

        “Aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat bersegera menjadi yang pertama menulisnya”.

        Ini persetujuan dan anjuran dari beliau, sehingga perbuatannya adalah sunnah dari sisi ini dan boleh dikatakan bahwa sahabat itu telah membuat sunnah (contoh) perkataaannya ini ketika i’tidal setelah ruku’ dan ia sunnah hasanah yang diambil dari persetujuan Nabi. Persetujuan ini terputus dengan kematian beliau, kecuali yang telah beliau arahkan, maka ia tidak keluar dari makna iqrar (persetujuan) beliau.

        Sebagian orang yang mencoba mencari nash lain untuk melegalkan pendapatnya tentang pembagian ini, sehingga sebagiannya menyandarkan kepada pernyataan Umar dalam shalat tarawih: ‘Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini’

        Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Iqtidha Shirati Al Mustaqim hlm 270, “Sebagian orang berpendapat kebidahan terbagi menjadi dua bagian; hasanah dan qabihaah (buruk) dengan dalil pernyataan Umar dalam shalat tarawih: “Sebaik-baik bidah adalah ini” dan dengan dalil dengan beberapa perkataan dan perbuatan yang terjadi setelah Rasulullah dan tidak dilarang; atau dia hasanah karena dalil-dalil yang menunjukkan hal itu dari ijma’ atau qiyas. Terkadang orang yang tidak faham ushul ilmu memasukkan dalam hal ini kebiasaan banyak orang dalam berbagai ibadah dan sejenisnya, lalu menjadikan hal ini sebagai dalil yang menguatkan orang yang menganggap baik sebagian kebidahan. Ada kalanya menjadikan kebiasaannya dan kebiasaan orang yang dikenalnya sebagai ijma’ walaupun tidak tahu pendapat seluruh kaum muslimin dalam hal tersebut. Atau terkadang enggan meninggalkan kebiasaannya seperti kondisi orang yang Allah nyatakan,

        “Apabila dikatakan kepada mereka:”Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab:”Cukuplah untuk kami apa yang kamu dapati bapak-bapak kami mengerjakannya“. (QS. Al Ma’idah: 104)

        Alangkah banyak orang yang dikatakan memiliki ilmu atau banyak ibadah berhujah dengan hujjah-hujjah yang keluar dari pokok ilmu yang diakui dalam agama ini.

        Semoga Allah memberi taufik.

  5. apakah termasuk bid’ah mendengar ceramah melalui media televisi, radio, apakah termasuk bid’ah belajar/mengajar agama islam melalui media online? apakah sesuai syareat menyalin ayat ayat alqur’an / memperbanyak serta menyebarkan melalui media online? apakah termasuk bid’ah mendengar lantunan ayat suci alqur’an melalui hp, ipad dll.. mohon penjelasan

    Terimakasih mas agus, sudah komentar disini,.
    Perlu anda ketahui, urusan bidah itu hanya dalam urusan ibadah, bukan urusan dunia, urusan teknologi,.seperti televisi,radio,listrik,internet,hape,ipad. itu tidak masuk dalam perkara ibadah,. justru urusan dunia, tidk mengapa terus berkembang, jika itu bisa membantu untuk penyebaran dakwah islam, maka itu bagus, bisa bernilai pahala,. seperti dakwah via media online,radio,televisi,.

    silahkan anda baca definisi bidah di artikel ini

    Anda tonton juga video singkat ini, menjelaskan akibat bidah secara mudah,

    [youtube=http://www.youtube.com/watch?v=rk5-VKk7A5Y&rel=0]

  6. Coba buka Joshua project, lht perkembangan kristenisasi.

    Jangan terlalu sibuk mengobrak-abrik umat sendiri..

    Mohon kpd org2 yg ilmu Islam paham sangat, agar secara aktif berdakwah di tengah2 komunitas yg Belum tersentuh Islam..

    Selain dakwah akidah, dakwah akhlak jg lbh digiatkan, agar nilai2 Mulia yg diajarkan oleh agama Islam benar2 tercermin dlm kehidupan sehari, sehingga para oranga tua, anak2 atau bahkan org yg Belum kenal Islam mau mengenal Islam lebih jauh Dan ketaatannya bertambah. Jangan sibuk menyalah2kan org2 yg jelas keyakinan terhadap Islam sudah tertanam kuat walaupun ada hal2 yg menurut yg penulis diatas berbeda, padahal perbedaan bulan pada rukun Islam, bukan pada ibadah wajib…

    Sekali lagi buka Joshua project, org2 diluar Islam, paham betul target utama ‘dakwah’ mereka.. Wallahualam bisawab..

    Salah mas mario,.
    Ibarat mau perang, yang dibenahi itu pasukan sendiri,.
    Bukan melihat kehebatan musuh, strategi musuh,.
    Dalam perang, mengikuti gerakan musuh, kita akan kalah,.

    Benahi umat sendiri dulu, dengan sendirinya islam akan bangkit,.
    Lah ajaran Allah yang sudah jelas diobok-obok umat islam itu sendiri, dimodifikasi, ditambah,dikurangi,.
    Bagaimana Allah akan menolong kondisi umat islam yang seperti ini??

    Orang kafir Tidak akan bisa menghancurkan umat islam, ini adalah doa rasulullah yang dikabulkan,..

    Tapi umat islam bisa dihancurkan oleh umat islam itu sendiri,.

    Jangan kalah sebelum bertanding,.
    Justru membenahi akidah umat islam itu sendiri,itu sebagai pondasi, hal yang pertama dilakukan,.

    Itulah bedanya di luar negeri, orang kristen berbondong-bondong masuk islam setelah paham akidah islam yang benar,.
    Kalau di indonesia, karena berislam bukan dengan akidah yang benar,. maka dengan mudah orang islam dikasih indomie,beras, mereka masuk kristen,. inilah rapuhnya akidah mereka,.

    Di luar negeri, pendeta masuk islam,. sudah bukan hal aneh,.

  7. Pak Admin, saya mengikuti penjelasan anda dan terimakasih sekali, saya mendapatkan banyak pencerahan.

    Tapi ada hal yg membuat saya masih bingung mengenai pendapat para madzhab yg berbeda terhadap ,

    kiriman pahala baca al fatihah ke si mayit nyampai atau tidak.
    Pendapat anda bagaimana?

    Kalau melihat dalil-dalil yang ada, juga praktek rasulullah yang tidak melakukan hal tersebut, demikian juga para sahabat tidak melakukannya,. maka saya juga tidak berpendapat, tapi mengikuti pendapat yang menyatakan TIDAK SAMPAI kiriman pahala tersebut,.

    Kenapa tidak sampai,. karena amalan kita itu dicatat sebagai pahala disisi Allah saja kita saja tidak tahu, lah kok pede banget ngirim-ngirim pahala amalan tersebut?

  8. Alhamdulillah jazakumullahu khairan admin, semakin memudahkan utk memahami, terlebih dgn jawaban yg lugas ilmiah dan mudah difahami

    Alhamdulillah

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*