Apa Yang Akan Kita Dapatkan Jika Kita Memelihara Anjing Di Rumah?

hukum memelihara anjingHukum Memelihara Anjing

Dahulu kita mungkin hanya mengenal bahwa anjing hanya jadi hewan piaraan non-muslim di rumah-rumah mereka. Namun saat ini, sebagian muslim pun ikut-ikutan.
Di rumah muslim pun terdapat anjing demi menjaga keamanan rumah.

Lantas bagaimana akibat dan hukum jika seorang muslim memelihara anjing di rumahnya?

Akibat Memelihara Anjing

Hadits Pertama

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من أمسك كلبا فإنه ينقص كل يوم من عمله قيراط إلا كلب حرث أو ماشية

Barangsiapa memelihara anjing, maka amalan sholehnya akan berkurang setiap harinya sebesar satu qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud), selain anjing untuk menjaga tanaman atau hewan ternak.”
Ibnu Sirin dan Abu Sholeh mengatakan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

إلا كلب غنم أو حرث أو صيد

Selain anjing untuk menjaga hewan ternak, menjaga tanaman atau untuk berburu.”
Abu Hazim mengatakan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كلب صيد أو ماشية

Selain anjing untuk berburu atau anjing untuk menjaga hewan ternak.” (HR. Bukhari)

[Bukhari: 46-Kitab Al Muzaro’ah, 3-Bab Memelihara Anjing untuk Menjaga Tanaman]

Hadits Kedua

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ ضَارِى نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ

Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud).” (HR. Muslim: 23 Kitab Al Masaqoh).
An Nawawi membawakan hadits di atas dalam Bab “Perintah membunuh anjing dan penjelasan naskhnya, juga penjelasan haramnya memelihara anjing selain untuk berburu, untuk menjaga tanaman, hewan ternak dan semacamnya.”

Hadits Ketiga

Dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya –‘Abdullah-, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ كَلْبَ صَيْدٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ

Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak dan anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak satu qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud).” (HR. Muslim: 23 Kitab Al Masaqoh). ‘Abdullah mengatakan bahwa Abu Hurairah juga mengatakan, “Atau anjing untuk menjaga tanaman.
An Nawawi membawakan hadits ini dalam bab yang sama dengan hadits sebelumnya.

Hadits Keempat

Dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya –‘Abdullah-, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا أَهْلِ دَارٍ اتَّخَذُوا كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ كَلْبَ صَائِدٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِمْ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ

Rumah mana saja yang memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak atau anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud).” (HR. Muslim: 23 Kitab Al Masaqoh).

An Nawawi membawakan hadits ini dalam bab yang sama dengan hadits pertama.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin mengatakan, “Adapun memelihara anjing dihukumi haram bahkan perbuatan semacam ini termasuk dosa besar –Wal ‘iyadzu billah-.

Karena seseorang yang memelihara anjing selain anjing yang dikecualikan (sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits di atas, pen), maka akan berkurang pahalanya dalam setiap harinya sebanyak 2 qiroth (satu qiroth = sebesar gunung Uhud).”

(Syarh Riyadhus Shalihin, pada Bab “Haramnya Memelihara Anjing Selain Untuk Berburu, Menjaga Hewan Ternak atau Menjaga Tanaman”)

Hukum Memanfaatkan Anjing

Para ulama sepakat bahwa tidak boleh memanfaatkan anjing kecuali untuk maksud tertentu yang ada hajat di dalamnya seperti sebagai anjing buruan dan anjing penjaga serta maksud lainnya yang tidak dilarang oleh Islam.

Ulama Malikiyah berpendapat bahwa terlarang (makruh) memanfaatkan anjing selain untuk menjaga tananaman, hewan ternak atau sebagai anjing buruan. Sebagian ulama Malikiyah ada yang menilai bolehnya memelihara anjing untuk selain maksud tadi. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 25/124)

Mengenai larangan memelihara anjing terdapat dalam hadits dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda,

مَنِ اتَّخَذَ كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ صَيْدٍ أَوْ زَرْعٍ انْتَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ

Barangsiapa memanfaatkan anjing selain anjing untuk menjaga hewan ternak, anjing (pintar) untuk berburu, atau anjing yang disuruh menjaga tanaman, maka setiap hari pahalanya akan berkurang sebesar satu qiroth (HR. Muslim no. 1575). Kata Ath Thibiy, ukuran qiroth adalah semisal gunung Uhud (Fathul Bari, 3/149).

Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا لَيْسَ بِكَلْبِ مَاشِيَةٍ أَوْ ضَارِيَةٍ ، نَقَصَ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيرَاطَانِ

Barangsiapa memanfaatkan anjing, bukan untuk maksud menjaga hewan ternak atau bukan maksud dilatih sebagai anjing untuk berburu, maka setiap hari pahala amalannya berkurang sebesar dua qiroth. (HR. Bukhari no. 5480 dan Muslim no. 1574)

Anjing yang dibolehkan untuk dimanfaatkan adalah untuk tiga maksud yaitu sebagai anjing yang digunakan untuk berburu, anjing yang digunakan untuk menjaga hewan ternak dan anjing yang digunakan untuk menjaga tanaman.

Bagaimana Memanfaatkan Anjing untuk Menjaga Rumah?

Ibnu Qudamah rahimahullah pernah berkata,

وَإِنْ اقْتَنَاهُ لِحِفْظِ الْبُيُوتِ ، لَمْ يَجُزْ ؛ لِلْخَبَرِ .وَيَحْتَمِلُ الْإِبَاحَةَ .وَهُوَ قَوْلُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ ؛ لِأَنَّهُ فِي مَعْنَى الثَّلَاثَةِ ، فَيُقَاسُ عَلَيْهَا .وَالْأَوَّلُ أَصَحُّ ؛ لِأَنَّ قِيَاسَ غَيْرِ الثَّلَاثَةِ عَلَيْهَا ، يُبِيحُ مَا يَتَنَاوَلُ الْخَبَرُ تَحْرِيمَهُ . قَالَ الْقَاضِي : وَلَيْسَ هُوَ فِي مَعْنَاهَا ، فَقَدْ يَحْتَالُ اللِّصُّ لِإِخْرَاجِهِ بِشَيْءِ يُطْعِمُهُ إيَّاهُ ، ثُمَّ يَسْرِقُ الْمَتَاعَ .

“Tidak boleh untuk maksud itu (anjing digunakan untuk menjaga rumah dari pencurian) menurut pendapat yang kuat berdasarkan maksud hadits (tentang larangan memelihara anjing). Dan memang ada pula ulama yang memahami bolehnya, yaitu pendapat ulama Syafi’iyah (bukan pendapat Imam Asy Syafi’i, pen). Karena ulama Syafi’iyah menyatakan anjing dengan maksud menjaga rumah termasuk dalam tiga maksud yang dibolehkan, mereka simpulkan dengan cara qiyas (menganalogikan).

Namun pendapat pertama yang mengatakan tidak boleh, itu yang lebih tepat. Karena selain tiga tujuan tadi, tetap dilarang.

Al Qodhi mengatakan, “Hadits tersebut tidak mengandung makna bolehnya memelihara anjing untuk tujuan menjaga rumah. Si pencuri bisa saja membuat trik licik dengan memberi umpan berupa makanan pada anjing tersebut, lalu setelah itu pencuri tadi mengambil barang-barang yang ada di dalam rumah”. (Al Mughni, 4/324)

Walaupun sebagian ulama membolehkan memanfaatkan anjing untuk menjaga rumah, namun itu adalah pendapat yang lemah yang menyelisihi hadits yang telah dikemukakan di atas.

Biar Rumah Aman, Tawakkal itu Kuncinya

Sebagian orang menyangka bahwa menjaga rumah mesti dengan menyewa satpam atau dengan penjaga yang haram yaitu anjing. Bahkan yang senang dipilih adalah anjing karena tanpa biaya bulanan.

Padahal sebaik-baik tempat bergantung adalah pada Allah Yang Maha Mencukupi dan sebaik-baik tempat bergantung. Meskipun ada satpam atau anjing penjaga sekalipun, kalau Allah takdirkan rumah kecolongan, yah pasti kecolongan.

Karena satpam dan anjing tadi bisa saja dikelabui oleh si pencuri. Maka tawakkal itu adalah kunci utama. Tawakkal adalah bersandarnya hati pada Allah dengan disertai usaha semaksimal mungkin.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3). Ath Thobari rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa bertakwa pada Allah dan menyandarkan urusannya pada Allah, maka Allah yang mencukupinya.”(Tafsir Ath Thobari, 23/46)

Menghidupkan rumah dengan dzikir dan ibadah pun bisa menjaga rumah dari gangguan makhluk jahat termasuk pencuri. Dzikir yang bisa dirutinkan setiap pagi dan sore agar melindungi dari berbagai gangguan adalah sebagai berikut,

بِسْمِ اللهِ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Bismillahilladzi laa yadhurru ma’as mihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’, wa huwas samii’ul ‘aliim” [Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui] (Dibaca 3 x). Dalam hadits ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa barangsiapa yang mengucapkan dzikir ini sebanyak tiga kali di shubuh hari dan tiga kali di sore hari, maka tidak akan ada yang memudhorotkannya. (HR. Abu Daud no. 5088, 5089, At Tirmidzi no. 3388, Ibnu Majah no. 3869, Ahmad (1/72). Syaikh Ibnu Baz menyatakan bahwa sanad hadits tersebut hasan dalam Tuhfatul Akhyar hal. 39)

Rajin shalat sunnah di rumah juga bisa melindungi dari berbagai kejelekan atau gangguan.[1] Sebagaimana terdapat hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا خَرَجْتَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَخْرَجِ السُّوْءِ وَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَدْخَلِ السُّوْءِ

Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.” (HR. Al Bazzar, hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 1323).

Daripada menjaga rumah dengan anjing yang najis dan haram, maka melindungi rumah dengan dzikir dan ibadah yang kami contohkan tentu lebih utama.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Panggang-Gunung Kidul, 30 Jumadal Ula 1432 H (03/05/2011)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

[1] Lihat pembahasan di Jaami Shohih Al Adzkar, Abul Hasan Muhammad bin Hasan Asy Syaikh, Darul ‘Awashim, cetakan kedua, Januari 2006, hal. 153.

==========

Silakan like FB fanspage Muslim.Or.Id dan follow twitter @muslimindo

Sumber : http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-memelihara-anjing.html

You May Also Like

0 Comments

  1. Ada beberapa kesimpulan yang dapat saya katakan ketika membaca artikel ini.

    1. Penulis (Muhamad Abduh Tuasikal) tidak mengerti istilah2 dalam Islam.
    2. Penulis lebih mengutamakan pendapat ulama ketimbang hukum Islam Alquran dan Hadist
    3. Penulis tidak paham bahwa Islam universal dan dari zaman ke zaman tetap relevan!

    Kenapa saya berbicara seperti itu? padahal saya bukan ulama, saya bukan pemuka agama. Tapi saya orang yang mau mempelajari agama saya sendiri yaitu Islam. Jangan sampai orang menilai umat Islam itu bodoh dan terbelakang. Jadilah umat Islam yang cerdas. Kita jangan melulu mempelajari agama tapi lupa pada ilmu pengetahuan lain begitupula sebaliknya. Dalam artikel ini, penulis cenderung lebih mengutamakan kiyas ulama ketimbang Nash2 baik dari al-qur’an maupun hadist. Pendapat ulama TIDAK DAPAT dijadikan pedoman sebagai hukum Islam yang sebenarnya.

    ISLAM itu Indah, ISLAM itu penuh rahmat, ISLAM itu agama tauhid dan universal dan akan selalu relevan sepanjang zaman karena ISLAM lahir sebagai agama terakhir dan menjadi penuntun umat manusia menuju akhir zaman. Namun kenapa masih banyak pemikiran2 manusia yang mempersulit? Apakah selain tanaman dan hewan ternak maka anjing tidak boleh menjaga rumah kita? padahal seperti kita ketahui bahwa sifat dari tanaman dan hewan ternak merupakan harta/property yang bermakna kepemilikan. Pola kehidupan masyarakat berangsur-angsur berubah dari zaman ke zaman.

    Dulu dimasa primitif, manusia purba hidup dengan cara nomaden, dimana mereka hidup berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Mungkin kita masih ingat dalam pelajaran sejarah dunia dulu di SMU, kita pernah mempelajari tentang food gathering (mengumpulkan makanan), lalu berkembang menjadi masyarakat yang tinggal menetap dan hidup dari bercocok tanam. Hubungan manusia dengan anjing telah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun, dengan para pemburu yang tinggal di gua dimana menggunakan anjing untuk membawa persediaan sehingga mereka bisa menghemat energi untuk berburu. Nah, dari masyarakat bercocok tanam peradaban manusia terus meningkat seiring dengan perkembangan pola pikir manusia, perkembangan kecerdasan manusia sehingga merubah wajah dunia dengan berbagai macam penemuan-penemuan yang akhirnya memunculkan sebuah revolusi industri. Dari berbagai perkembangan-perkembangan tersebut lambat laun masyarakat mulai mengenal mata uang sebagai alat tukar, dan masyarakat pun secara pelan-pelan mulai mengenal teknologi dan sampai pada perkembangan masyarakat modern sehingga property tidak hanya sebatas tanaman dan hewan ternak saja namun property lainnya yang meliputi tempat usaha, modal serta investasi dalam bentuk apapun, serta hasil usaha dan bahkan keluarga.

    Pernah mendengar mengenai Ashkabul Kahfi? (QS Al-Kahfi). Dalam riwayat tersebut diceritakan : Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok orang beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Ketika sang raja mengetahui ada sekelompok orang yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu memanggil mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja. Tapi Ashabul Kahfi menolak dan lari, dikejarlah mereka untuk dibunuh. Ketika mereka lari dari kejaran pasukan raja, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai tempat persembunyian. Dengan izin Allah mereka kemudian ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja yang beriman kepada Allah SWT.

    وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًۭا وَهُمْ رُقُودٌۭ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ ٱلْيَمِينِ وَذَاتَ ٱلشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُم بَٰسِطٌۭ ذِرَاعَيْهِ بِٱلْوَصِيدِ ۚ لَوِ ٱطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًۭا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًۭا

    Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka. (QS Al-Kahfi 18)

    Siapa yang dijaga oleh anjing tersebut dalam kisah Al-Qur’an Ashkabul Kahfi tersebut? Yang dijaga oleh anjing adalah para pemuda beriman. Dan disitulah anjing pun berguna sebagai companion dog. Jadi alangkah sempitnya sebuah pemikiran yang dikemukakan tanpa melihat kondisi obyektif dan perkembangan masyarakat pada saat ini. Tidak semua orang sanggup menggaji satpam/security namun Islam memperbolehkan kita memelihara anjing untuk suatu keperluan yang bermanfaat bagi kita semua. Bisa sebagai Guard dog, Protection dog, Companion dog, bahkan family dog yang terlatih agar dapat membantu tugas-tugas manusia. Anjing yang kita pelihara haruslah berguna bagi kepentingan kita karena memelihara anjing dengan suatu kepentingan maka itu diperbolehkan dalam islam. Lalu apakah kita bisa melatih anjing? Anjing terlatih bukan hanya untuk berburu, tetapi dapat dilatih untuk melakukan hal-hal lain sesuai tugasnya.

    Menurut ulama muta’akhir Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Al Halal wal Haram fi Islam terbitan Darul Ma’rifah. Dijelaskan bahwa diantara yang dilarang Nabi saw. adalah memelihara anjing di rumah tanpa ada suatu alasan untuk keperluan. Larangan ini tidak lain untuk anjing yang dimiliki (dipelihara) bukan untuk keperluan atau manfaat tertentu. Sebagian ahli fiqih berpendapat bahwa larangan memelihara anjing tersebut adalah makruh bukan haram, kecuali pemeliharaan anjing untuk pemburu, penjaga ternak, kebun dan sejenisnya adalah boleh. Makruh adalah suatu hal yang dibenci atau larangan Allah SWT. yang tidak dikenai sangsi haram. Hanya saja orang yang mempermudah dan mengabaikan hal yang makruh, cenderung terjerumus kedalam hukum haram.

    Kebanyakan orang mengharamkan interaksi manusia dengan anjing karena alasan najis/haram. Namun dalam Islam kita diperbolehkan memelihara anjing untuk suatu tujuan bermanfaat, dalam hal ini mengenai anjing yang terlatih. (lihat hubungan antara HR. Muslim 3562 dengan surat al-maidah ayat 4 diatas). Bagaimana cara kita melatih anjing? Dalam melatih anjing tentunya anjing tsb dirawat, anjing tersebut diberi makan yg layak, diberi vaksin sehingga kesehatannya terjamin. Apakah salah jika kita membelai-belai anjing? Banyak argumen mengenai hal ini, banyak yang bilang bahwa umat muslim dilarang untuk bersentuhan dengan anjing. Nah, apakah dasar hukumnya pernyataan-pernyataan tersebut? Saya kira tidak ada dalil yang melarangnya. Kita lihat riwayat hadist dibawah ini bahwa anjing ladang dan anjing jinak boleh disentuh.

    Shahih Bukhari 2154: Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang menyentuh anjing berarti sepanjang hari itu dia telah menghapus amalnya sebanyak satu qirath kecuali menyentuh anjing ladang atau anjing jinak“. Berkata, Ibnu Sirin dan Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Kecuali anjing untuk mengembalakan kambing atau ladang atau anjing pemburu”. Dan berkata, Abu Hazim dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Anjing pemburu atau anjing yang jinak”.

    Jadi hendaklah kita benar-benar menganalisa suatu dalil yang ada, anjing ladang atau anjing yang jinak merupakan anjing yang terlatih. Dalam surat al-maidaah ayat 4 ada perkataan “binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya…” Berangkat dari hal tersebut mari sedikit kita bahas mengenai psikologi anjing. Anjing merupakan hewan sosial sama seperti halnya manusia. Kedekatan pola perilaku anjing dengan manusia menjadikan anjing bisa dilatih, diajak bermain, tinggal bersama manusia, dan diajak bersosialiasi dengan manusia dan anjing yang lain. Anjing memiliki posisi unik dalam hubungan antarspesies. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidaah ayat 4 terdapat perkataan mengenai anjing yang kita latih. Ketika kita akan melatih seekor anjing, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menciptakan bounding yang kuat, artinya sebuah kedekatan yang kuat antara manusia dengan anjing yang akan dilatih.

    Bagaimana menciptakan bounding yang kuat? Anjing harus diperlakukan dengan baik. Anjing merupakan hewan yang senang dibelai, diperlukan dengan baik dan memberinya kasih sayang. Jadi memperlakukan anjing dengan membelai, memberi hal-hal yang baik itu diperbolehkan agar terciptanya bounding yang kuat antara anjing dan manusia… apa ada anjing liar yang bisa tiba-tiba mengerti tanpa dilatih? Anjing yang terlatih adalah yang dipelihara dengan baik terjamin kesehatannya, diberi vaksin, dll. Ketika anjing sudah merasakan kebaikan dari kita maka anjing akan dapat dilatih dan diarahkan untuk melakukan hal-hal yang berguna bagi manusia. Hendaknya hal ini benar-benar dipahami secara dewasa bahwa konteks haram dan najis telah diberitahukan oleh Allah dan oleh Rasulullah SAW secara tegas. Saran saya, anda boleh saja “jago” dalam Ilmu agama, tapi jangan lupakan ilmu lainnya baik ilmu sosial dsb karena Agama tercipta untuk menjadi pedoman hidup bagi manusia dan tentunya dengan kondisi yang dialami oleh manusia… itu aja. Saran saya buat penulis… Be a smart moslem 🙂

    TErimakasih mas reza, sudah komentar disini, komentar yang cukup panjang,. tapi saya jawab sedikit saja, dan menyimpulkan dari paparan anda,.
    Sepertinya anda tidak teliti dalam membaca artikel diatas,
    Artikel diatas membahas memelihara anjing di rumah, bukan anjing pemburu atau penjaga kebun/ternak,.
    Padahal di awal artikel ada pengecualian tsb, ini saya nukilkan:
    Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    من أمسك كلبا فإنه ينقص كل يوم من عمله قيراط إلا كلب حرث أو ماشية

    “Barangsiapa memelihara anjing, maka amalan sholehnya akan berkurang setiap harinya sebesar satu qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud), selain anjing untuk menjaga tanaman atau hewan ternak.”
    Ibnu Sirin dan Abu Sholeh mengatakan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
    إلا كلب غنم أو حرث أو صيد

    “Selain anjing untuk menjaga hewan ternak, menjaga tanaman atau untuk berburu.”
    Abu Hazim mengatakan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    كلب صيد أو ماشية

    ”Selain anjing untuk berburu atau anjing untuk menjaga hewan ternak.” (HR. Bukhari)

    [Bukhari: 46-Kitab Al Muzaro’ah, 3-Bab Memelihara Anjing untuk Menjaga Tanaman]
    Tidak kah anda membaca itu?

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ كَلْبَ صَيْدٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ

    “Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak dan anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak satu qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud).” (HR. Muslim: 23 Kitab Al Masaqoh). ‘Abdullah mengatakan bahwa Abu Hurairah juga mengatakan, “Atau anjing untuk menjaga tanaman.”

    Itu perkataan Rasulullah mas Reza, sudah begitu jelas, ngga perlu dijelaskan juga sudah jelas,.
    SEdangkan peristiwa pemuda alkahfi, apakah itu anjing rumahan?
    Dan jika itu anjing rumahan/peliharaan bukan anjing pemburu atau penjaga ternak, itu adalah kisah sebelum nabi muhammad, sedangkan kisah2 sebelum nabi muhammad, bisa saja terlarang kita ikuti jika ada larangan dari nabi, contoh hal ini adalah memelihara anjing di rumah ,

    Tolong teliti lagi kalau membaca artikel mas,. sehingga tidak salah menyimpulkan

    itu aja. Saran saya buat Mas Reza… Be a smart moslem 🙂

    1. hmm…komentar dan jawaban yg sangat menarik sekali…
      dari pendapat saya…jawaban mas adminlah yg pas dan mudh dipahami, mungkin sekilas para pembaca negatif thinking ataupun nggak setuju dr artikel tsb..

      ketelitian pembacalah yg diperlukan seblm koment …

      memang klu orang itu paham ilmu agama islam yg sesuai syariat ( pemahaman para sahabat )…apapun komentarnya pasti terbantahkan, dan jawabannya selalu memuaskan serta mudh dipahami…

      tinggal kitanya aja yh hrs membuka pikiran dan hati kita untuk bisa selalu menerima kebenaran…ooh ternyata islam itu mudah dan indah, tidak memberatkan umatnya…

      justru dengan komentar2 yg negatif ataupun yg gak enak dibaca dr setiap artikel yg diposting…hikmahnya luar biasa..

      banyak para pembaca senang dan menerima jawaban dr admin…hihihi…subhanalloh…semangat mas admin..semoga saudara2ku banyak yg Engkau pahamkan ilmu dien…amiin.

      terimakasih mas denny atas suport dan doanya,

Silahkan tinggalkan komentar di sini