Akidah Harun Yahya Yang Cukup Fatal, Tertuang Dalam Buku-Bukunya…

Biografi Harun Yahya Sesatnya Harun Yahya Ustas Harun Yahya Ajaran Menyimpang Adnan Oktar Biografi Adnan Oktar Senang Menari

Beberapa Kesalahan Di Dalam Buku Harun Yahya

Oleh : Abu Hudzaifah al-Atsari

Manusia tidak dapat lepas dari kesalahan, sedangkan kewajiban setiap Muslim adalah saling mengingatkan di dalam menetapi kebenaran dan kesabaran. Harun Yahya –saddadahullahu- adalah diantara cendekiawan dan saintis muslim yang juga terperosok ke dalam kesalahan yang cukup fatal di dalam masalah aqidah.

Kesalahan-kesalahan beliau ini tersebar di mayoritas buku-bukunya yang membicarakan tentang Islam. Kami tidak menutup mata dari mashlahat yang beliau berikan bagi ummat di dalam membela Islam dan membantah faham-faham materialistis saintifis. Namun, biar bagaimanapun beliau adalah manusia yang kadang salah kadang benar, sehingga kita wajib menolak kesalahan-kesalahannya dan wajib menerangkannya kepada ummat agar ummat tidak terperosok ke dalam kesalahan yang sama. Semoga Allah menunjuki diri kami, diri beliau dan seluruh ummat Islam.

Beliau memiliki kesalahan-kesalahan yang fatal di dalam buku-bukunya, diantaranya yang berjudul EVOLUTION DECEIT (Keruntuhan Teori Evolusi)yang menunjukkan pemahamannya terhadap Aqidah dan Tauhid yang keliru. Bab yang menunjukkan kesalahan ini diantaranya terdapat di dalam bab ”The Real Essence of Matter”. Perlu saya tambahkan di sini, walaupun Harun Yahya melakukan kesalahan serius di dalam perkara aqidah, namun saya tidak pernah menvonisnya sebagai Ahlul Bid’ah, terlebih-lebih menvonisnya sebagai kafir, nas’alullaha salamah wa ‘afiyah. Sebab, bukanlah hak saya untuk melakukan vonis semacam ini, namun hal ini adalah hak para ulama dan ahlul ilmi yang mutamakkin (mumpuni). Saya di sini hanya ingin menunjukkan beberapa kesalahan yang beliau lakukan sebagai bentuk amar ma’ruf nahi munkar.

Harun Yahya –saddadahullahu- berkata di dalam pembukaannya di dalam “Where is God?” (Dimana Tuhan) pada halaman 175, sebagai berikut :

“The basic mistake of those who deny God is shared by many people who in fact do not really deny the existence of God but have a wrong perception of Him. They do not deny creation, but have superstitious beliefs about “where” God is. Most of them think that God is up in the “sky”. They tacitly imagine that God is behind a very distant planet and interferes with “worldly affairs” once in a while. Or perhaps that He does not intervene at all: He created the universe and then left it to itself and people are left to determine their fates for themselves. Still others have heard that in the Qur’an it is written that God is everywhere” but they cannot perceive what this exactly means. They tacitly think that God surrounds everything like radio waves or like an invisible, intangible gas. However, this notion and other beliefs that are unable to make clear “where” God is (and maybe deny Him because of that) are all based on a common mistake. They hold a prejudice without any grounds and then are moved to wrong opinions of God. What is this prejudice?”

Yang artinya adalah :

“Kesalahan mendasar bagi mereka yang mengingkari Tuhan yang tersebar pada kebanyakan orang adalah pada kenyataannya mereka tidaklah mengingkari keberadaan Tuhan itu sendiri, namun mereka memiliki persepsi yang berbeda terhadap Tuhan.

Mereka tidaklah mengingkari penciptaan, namun mereka memiliki keyakinan takhayul mengenai “dimanakah” Tuhan itu berada. Mayoritas mereka beranggapan bahwa Tuhan berada berada di atas ”Langit”.

Mereka secara diam-diam membayangkan bahwa Tuhan berada di balik planet-planet yang sangat jauh dan turut mengatur ”urusan dunia” sesekali waktu.

Atau mungkin Tuhan tidak turut campur tangan sama sekali.

Dia menciptakan alam semesta dan membiarkan apa adanya dan manusia dibiarkan begitu saja mengatur nasib mereka masing-masing. Sedangkan lainnya, ada yang pernah mendengar bahwa Tuhan ”ada di mana-mana”, namun mereka tidak dapat memahami maksud hal ini secara benar.

Mereka secara diam-diam berfikir bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu seperti gelombang radio atau seperti udara yang tak dapat dilihat ataupun diraba.

Bagaimanapun juga, dugaan ini dan keyakinan lainnya yang tidak mampu menjelaskan ”dimanakah” Tuhan berada (atau bahkan mungkin mengingkari Tuhan dikarenakan hal ini), seluruhnya adalah kesalahan yang lazim terjadi.

Mereka berpegang pada praduga yang tak berdasar dan akhirnya menjadi keliru di dalam memahami Tuhan. Apakah prasangka ini??”

Kemudian beliau sampai kepada perkataan filsafat sebagai berikut (hal. 189) :

“Consequently it is impossible to conceive Allah as a separate being outside this whole mass of matter (i.e the world) Allah is surely “everywhere” and encompasses all.

Yang artinya :

“Maka dari itu, merupakan suatu hal yang mustahil untuk memahami Allah sebagai suatu Dzat yang terpisah dari keseluruhan massa partikel/materi (yaitu dunia), Allah secara pasti “berada di mana-mana” dan meliputi segala sesuatu.”

Perkataan ini jelas-jelas perkataan kaum shufiyah, bahkan menyimpan pemahaman konsep Wihdatul Wujud.

Pemahaman ini jelas-jelas suatu kekeliruan yang nyata dan fatal yang setiap muslim dan mukmin harus baro’ (berlepas diri) darinya. Karena Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala beristiwa di atas Arsy-Nya di atas Langit, Dzat-Nya terpisah dari makhluk-Nya dan Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Harun Yahya –saddadahullahu- menulis di halaman 190 tentang ”kedekatan Allah secara tidak terbatas” terhadap makhluk-Nya dengan membawakan dalil :

”Jika hamba-hamba-Ku bertanya tentang-Ku, sesungguhnya Aku dekat.” (Al-Baqoroh : 186)

”Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.” (Al-Israa’ : 60)

Harun Yahya juga membawakan ayat yang berhubungan dengan kedekatan Allah terhadap manusia tatkala sakaratul maut, yaitu :

”Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.” (Al-Waaqi’ah : 83-85)

Padahal ayat-ayat yang dibawakan oleh Harun Yahya ini, tidak sedikitpun menunjukkan pemahaman bahwa Allah Dzat Allah ada dimana-mana, namun menurut pemahaman Ahlus Sunnah yang dimaksud oleh Firman Allah di atas adalah, “Ilmu” Allah-lah yang meliputi segala sesuatu. Sebagaimana dikatakan oleh al-Imam Sufyan ats-Tsauri, tatkala ditanya tentang ayat wa huwa ma’akum ayna ma kuntum (Dia berada dimanapun kamu berada), beliau berkata : “Yang dimaksud adalah Ilmu-Nya.” (Khalqu Af’alil Ibad, Imam Bukhari)

Harun Yahya berkata pada permulaan halaman 190 sebagai berikut :

“That is, we cannot perceive Allah’s existence with our eyes, but Allah has thoroughly encompassed our inside, outside, looks and thoughts….”

Yang artinya :

“Oleh karena itulah, kita tidak dapat membayangkan keberadaan Allah dengan mata kita, namun Allah benar-benar sepenuhnya meliputi bagian luar, bagian dalam, pengelihatan, pemikiran…”

Ucapan ini adalah ucapan yang keliru dan bathil. Ini adalah pemahaman filsafat shufiyah jahmiyah mu’tazilah. Sungguh, keseluruhan bab yang berjudul “The real essence of Matter” benar-benar diselaraskan dengan filosofi Harun Yahya terhadap aqidahnya. Yang apabila diringkaskan keseluruhan bab ini menjadi satu kalimat, yaitu :

“That there is no US, the WORLD is not REAL, Allah is REAL, so ALLAH is EVERYWHERE and WE ARE an ILLUSION”

Yang artinya :

“Bahwa kita ini tidak ada, dunia itu tidak nyata, Allah sajalah yang nyata, oleh karena itu Allah berada di mana-mana sedangkan kita hanyalah ilusi belaka.”

Hal ini tersirat di dalam perkatannya di halaman 193 :

“As it may be seen clearly, it is a scientific and logical fact that the “external world has no materialistic reality and that it is a collection of images perpetually presented to our soul by God. Nevertheless, people usually do not include, or rather do not want to include, everything in the concept of the “external world”.

Yang artinya :

“Sebagaimana telah tampak secara nyata, merupakan suatu hal yang saintifis dan fakta bahwa dunia eksternal tidak memiliki materi yang realistis dan dunia eksternal hanyalah merupakan kumpulan gambaran yang secara terus menerus berada di dalam jiwa kita oleh Tuhan. Walau demikian, manusia seringkali tidak memasukkan, atau lebih jauh tidak mau memasukkan, segala sesuatu ke dalam konsep “dunia luar”.”

Ucapan ini berlanjut hampir pada keseluruhan bab, dan hal ini tentu saja suatu penyimpangan yang fatal dan dapat menimbulkan syubuhat terhadap para pembaca buku ini, karena biar bagaimanapun buku ini mengandung data-data saintifis, bukti-bukti rasional dan bantahan-bantahan ilmiah rasionalis terhadap kaum materialistis. Oleh karena itu menjelaskan kesalahan-kesalahan aqidah dan selainnya adalah suatu keniscayaan dan kewajiban, karena membela al-Haq lebih dicintai dari seluruh perkara lainnya.

Sebagai kesimpulan, di sini saya akan meringkaskan poin-poin kesalahan pemahaman Harun Yahya di dalam bukunya EVOLUTION DECEIT (dan selainnya), sebagai berikut :

1. Harun Yahya memiliki perkataan yang bernuansa shufiyah kental, yakni meyakini pemahaman ”Allah ada dimana-mana”, bahkan beliau memiliki perkataan yang mengarah kepada konsep Wihdatul Wujud yang kufur, semoga Allah memberinya hidayah dan mengampuninya.

2. Harun Yahya memiliki aqidah yang serupa dengan Qodariyah-Mu’tazilah di dalam masalah Qodar (Taqdir), sebagaimana secara jelas terlihat pada tulisannya di halaman 190 akhir.

3. Harun Yahya memiliki aqidah yang dekat kepada Jahmiyah di dalam menolak sifat-sifat Allah, terutama sifat istiwa Allah di atas Arsy-Nya dan Arsy-Nya berada di atas langit.

Demikianlah sebagian kecil yang dapat saya tuliskan tentang beberapa kesalahan fatal di dalam buku-buku Harun Yahya –saddadahullahu-, dan apa yang saya tuliskan di sini bukanlah menunjukkan hanya ini sajalah kesalahan beliau, namun yang saya tuliskan di sini hanyalah sebagian kecil saja dari kesalahan-kesalahan yang bersifat aqidah yang terdapat pada beliau. Tulisan ini lebih banyak diadopsi dari tulisan al-Akh Abu Jibrin al-Birithani yang meluangkan waktunya menyusun beberapa kekeliruan aqidah Harun Yahya.

Bagi para ikhwah yang tertarik dengan modern sains dan bantahan-bantahan terhadap saintis sekuler atau yang berideologi materialistis, saya lebih menyarankan untuk merujuk kepada tulisan-tulisan dan ceramah al-Ustadz DR. Zakir Naik al-Hindi, seorang ilmuwan muda India yang telah hafal al-Qur’an pada usia 10 tahun, dan sekarang menjadi presiden IRC (International Research Center) India. Beliau juga dekat dengan masyaikh jum’iyah Ahlul Hadits India, sehingga insya Allah dalam masalah aqidah, beliau jauh lebih salimah daripada ilmuwan muslim lainnya seperti Harun Yahya.

Walaupun di dalam beberapa hal beliau juga melakukan kesalahan-kesalahan yang perlu mendapatkan perhatian tersendiri. Oleh karena itu, kami tidak mengambil perkara manhaj dari beliau (DR. Zakir Naik), namun di dalam perkara yang beliau berkompeten di dalamnya, maka tidak ada alasan bagi kami menolaknya.

Wallahu a’lam bish showab.

Sumber : http://abusalma.wordpress.com

Siapa Adnan Oktar Yg Sebenarnya Kesesatan Adnan Oktar Harun Yahya Itu Siapa Harun Yahya Sesat? Isi Buku Karangan Harun Yahya

17 Comments

  1. Harusnya bagaimana? mohon penjelasnya.

    Tidak usah menjadikan karya2 harun yahya sebagai rujukan, silahkan lihat diakhir postingan tersebut, sudah ada anjurannya,.
    terimakasih,

    • Salam kenal..mas admin..
      jgnlah jd orang yahudi..
      byk belajar..myk yg tau..tp menyakini itu adlh benar..ente tak juga setuju..

      lebih bagus tau bismillah tapi d amal kan…taukah anda tatifatul nafsi…
      Itulah yg ada pd kebykn orang.sok pintar..seakn dialh yg benar..
      Wassalam.

      wa’alaikumussalam warahmatullah,.

      Sudah paham karakter orang yahudi belum mas?
      Orang yahudi itu justru paham kebenaran, tapi tidak diamalkan, berbeda dengan orang nasrani, ga paham kebenaran, beramal dengan kebodohan,.

  2. Menurut saya artikel ini ambigu,
    Pertama mengakui harun yahya sudah banyak membawa mashalat, kemudian tidak boleh menjadikannya rujukan.
    Kedua menyatakan merujuk kepada DR. Zakir Naik, tetapi juga mengatakan tidak mengambil perkara manhaj (dimana manhaj memiliki artian yang luas).
    Karena dua alasan diatas saya mengatakan tulisan anda ambigu.

    Terimakasih, padahal di akhir tulisan tersebut dituliskan, tidak mengambil perkara manhaj, tapi dalam hal perkara sains, itu boleh,. ini sebagai penjelasan, dan bukan mengambil masalah sains dari harun yahya,.
    jadi sama sekali tidak ambigu,. silahkan dicermati lagi,

  3. Mohon bantuanya untuk menjelaskan kepada saya, karena sampai detik ini saya masih bingung dan pusing tujuh keliling, bagaimana memahami Al-Qur’an Surat Al-‘A’raf ayat 25 :

    قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ

    Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.

    Kalau ayat ini mengisahkan kebangkitan manusia setelah kiamat hancurnya alam semesta termasuk bumi, lantas bumi mana lagi yang nantinya kita akan dibangkitkan?

    Allah maha mampu untuk mengembalikan bumi yg sdh hancur, sebagaimana allah maha mampu membangkitkan manusia yg sdh hancur ,.
    Allah membangkitkan dari bumi yg sama, kenapa bingung, Allah maha mampu membuat bumi, padahal sebelumnya tdk ada bumi, lalu apa susahnya Allah menjadikan bumi yg sdh hancur menjadi utuh kembali?
    mudah2an tidak bingung lagi,.. silahkan baca download tafsir ibnu katsir sebagai pejelasan dari ayat2 alquran, silahkan download disini
    Untuk ayat diatas bisa dibaca di juz ke 7 dalam tafsir tsb, halaman 269, silahkan download yah,

    • Berarti setelah bumi ini hancur, Allah akan membuat bumi baru lagi. Berarti alam akherat adalah bumi baru ciptaan Allah itu. Apakah bumi baru itu juga sama seperti bumi kita sekarang ini yang lengkap dg tata surya dan hukum alamnya?

      Allah akan menjadikan bumi itu sebagai bumi baru yang dihamparkan, tempat berkumpulnya manusia (padang mahsyar) , dan Allah mendekatkan matahari sejarak satu mil, manusia pada hari itu dikumpulkan telanjang bulat dan belum berkhitan,
      Mereka berkeringat sesuai dengan kadar amalnya waktu di dunia,karena saking panasnya akibat matahari didekatkan,

      Mereka akan dikumpulkan di bumi yang berbeda dengan bumi mereka di dunia. Allah berfirman:
      يَوْمَ تُبَدَّلُ الأَرْضُ غَيْرَ الأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ وَبَرَزُواْ للّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

      “(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang mahsyar) berkumpul menghadap hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (Ibrahim: 48)

      Nabi Shalallahu ‘alaihi wasssalam bersabda: “pada hari kiamat kelak, manusia akan dikumpuljan di bumi yang sangat putih berbentuk bulat pipi dan datar seperti roti bulat yang putih tidak ada tanda (bangunan milik siapapun di atasnya).” (HR. Bukhary: 6521)

      Maksudnya mereka dikumpulkan di atas bumi yang datar, tidak ada dataran yang tinggi maupun rendah, tidak ada pegunungan dan bebatuan dan tidak ada tanda tempat tinggal maupun bangunan.

      Untuk anda saya postingkan artikel ini sebagai penjelasa buat menjawab kebingungan anda, juga kaum muslimin yang merasa kebingungan terhadap hal ini, silahkan baca artikel ini

      • Terima kasih atas penjelasanya, menurut penjelasan admin, Allah juga menciptakan matahari juga. Apakah ada informasi mataharinya juga sama dg matahari kita sekarang ini.

        Kemudian manusia dikumpulkan dg telanjang bulat dan belum berkhitan, apakan nantinya semua manusia dalam keadaan telanjang termasuk para nabi, rasul dan orang2 yg sholeh? Dan kalau belum berkhitan, berapa umur rata2 mereka?

        Terimakasih mas agus,
        Apakah mataharinya matahari yg sekarang, yg jelas tidak, semua alam semesta ini akan hancur ketika hari kiamat,demikian pula bumi, matahari,
        Lalu Allah mengumpulkan manusia di bumi yang baru, penjelasannya bisa dilihat dipostingan ini
        Semua telanjang bulat, dan anda jangan berpikir disana mereka saling lihat, karena urusan saat itu sangatlah besar,.
        Di dunia saja, manusia bisa lupa jika terjadi musibah, misalkan ada bencana kebakaran hebat, sehingga kita berusaha menyelamatkan diri, kita tdk perduli,apakah kita memakai baju atau tidak, setelah ditempat aman, mungkin kita baru tersadar, atau ada orang lain yg mengingatkan bahwa kita tdk berpakaian, atau berpakaian ala kadarnya,.
        nah, dipadang mahsyar peristiwanya lebih hebat, sehingga kita tidak sempat lirik sana lirik sini, walaupun semuanya telanjang bulat,. kita memikirkan diri sendiri, apakah selamat dari adzab allah atau tidak,

        Maaf, sekarang ini jarak bumi dg matahari 144.000.000 km. Sedangkan Satu mil setara dengan 1.852 meter/ 1,6 km. Kalau matahari waktu itu berjarak 1 mil, kita bukan hanya berkeringat, tapi sudah habis terpanggang karena teramat panasnya matahari.

        Mohon penjelasanya?

        Itu teori manusia mas, kapan dia bisa mengukur sejauh itu,.
        Untuk penjelasan matahari didekatkan sejauh satu mil,berikut penjelasannya,.

        Ketika Matahari Didekatkan Dengan Jarak Satu Mil

        Kaum muslimin yang kami muliakan, ketika manusia dikumpulkan di padang Mahsyar, matahari didekatkan sejauh satu mil dari mereka, sehingga manusia berkeringat, hingga keringat tersebut menenggelamkan mereka sesuai dengan amalan masing-masing ketika di dunia.

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

        تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُوْنَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيْلٍ، قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ : فَوَاللهِ، مَا أَدْرِي مَا يَعْنِي بِالْمِيْلِ أَمَسَافَةَ اْلأَرْضِ أَمْ الْمِيْلَ الَّذِي تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ، قَالَ : فَيَكُوْنُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى حَقْوَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا، وَأَشَارَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ إِلَى فِيْهِ

        “Pada hari kiamat, matahari didekatkan jaraknya terhadap makhluk hingga tinggal sejauh satu mil.” –Sulaim bin Amir (perawi hadits ini) berkata: “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan mil. Apakah ukuran jarak perjalanan, atau alat yang dipakai untuk bercelak mata?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

        “Sehingga manusia tersiksa dalam keringatnya sesuai dengan kadar amal-amalnya (yakni dosa-dosanya). Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang tenggelam dalam keringatnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan meletakkan tangan ke mulut beliau.” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2864)

        Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Jarak satu mil ini, baik satu mil yang biasa atau mil alat celak, semuanya dekat. Apabila sedemikian rupa panasnya matahari di dunia, padahal jarak antara kita dengannya sangat jauh, maka bagaimana jika matahari tersebut berada satu mil di atas kepala kita?!” (Syarah al-’Aqidah al-Wasithiyyah, 2/134).

        Jika matahari di dunia ini didekatkan ke bumi dengan jarak 1 mil, niscaya bumi akan terbakar. Bagaimana mungkin di akherat kelak matahari didekatkan dengan jarak 1 mil namun makhluk tidak terbakar?

        Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa pada hari Kiamat kelak tatkala manusia dikumpulkan di padang mahsyar, kekuatan mereka tidaklah sama dengan kekuatan mereka ketika hidup di dunia. Akan tetapi mereka lebih kuat dan lebih tahan. Seandainya manusia sekarang ini berdiri selama 50 hari di bawah terik matahari tanpa naungan, tanpa makan, dan tanpa minum, niscaya mereka tidak mungkin mampu melakukannya, bahkan mereka akan binasa. Namun pada hari Kiamat kelak, mereka mampu berdiri selama 50 tahun tanpa makan, tanpa minum, dan tanpa naungan, kecuali beberapa golongan yang dinaungi Allah Ta’ala.

        Mereka juga mampu menyaksikan kengerian-kengerian yang terjadi. Perhatikanlah keadaan penghuni Neraka yang disiksa (dengan begitu kerasnya), namun mereka tidak binasa karenanya. Allah Ta’ala berfirman:

        كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُوْدُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُوْدًا غَيْرَهَا لِيَذُوْقُوا الْعَذَابَ (56)

        “Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan adzab.” (An-Nisa’: 56). (Syarah Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah, 2/135)

        sumber : http://muslim.or.id/aqidah/peristiwa-di-padang-mahsyar.html

      • Terima kasih atas penjelasanya, walaupun walaupun masih membingungkan bagi saya, tapi inilah agama, percaya atau tidak, rasional atau tidak, masuk akal atau tidak, kita harus menerimanya.

        Betul sekali, akal yang sehat, pasti akan menerima dalil yg shahih, dan jika seoalah2 ada dalil yg shahih bertentangan dengan akal kita, maka yang dituduh adalah akal, bukan dalil shahih tsb, karena dalil shahih selamanya tidak akan bertentangan dengan akal yang sehat,

        Pertanyaan terakhir, apakah kita nanti dihari kiamat akan dibangkitkan dg badan kita atau hanya ruh kita saja?

        Silahkan dibaca lagi postingan tentang padang mahsyar, disitu ada penjelasan, jasad kita dibangkitkan lagi, dengan kemampuan yg lebih dari jasad kita ketika di dunia,. bahkan nanti penduduk neraka berbadan sangat besar, gigi gerahamnya saja sebesar gunung uhud, insya Allah kapan-kapan saya postingkan,.

  4. Terlepas kontroversi tentang tulisan HY tentang Rahasia di Balik Materi, fakta menunjukkan bahwa banyak orang non muslim menjadi mualaf karena karya karya beliau dan dia telah melakukan perjuangan nyata baik secara materi maupun tulisan melawan konsep pemikiran kufar darwinisme internasional, dan tulisannya menjadi pukulan telak dan menciptakan kebimbangan bagi pengikut konsep darwinisme dan kaum atheist terutama di Perancis, Inggris dll.

    Terimakasih mas taufan,.
    Ajaran islam dari jaman sebelum harun yahya lahir, tidak akan pernah menerima tentag teori darwin, teori evolusi,
    Dan Allah sudah menjelaskan bagaimana proses terciptanya manusia, baik diciptakan bukan dari seorang laki-laki dan perempuan, contoh nabi adam, yg tercipta dari seorang laki-laki saja, contoh istri nabi adam, hawa , ada yg diciptakan dari seorang wanita saja, contoh nabi isa, dan yg diciptakan dari laki-laki dan wanita, seperti kita semua,

    Adapun dalam buku2 karya harun yahya justru ada hal2 yg sangat patal, bahkan diantaranya adalah pembatal2 keislaman itu sendiri,.
    Jadi tidak ada hubungannya dia banyak membuat org kafir masuk islam, sementara dia sendiri malah menentang dalil yg menyebabkan bisa mengeluarkan dirinya dari islam,.. kan sungguh ironis,.
    Dan tentunya akan lebih parah lagi jika orang yang masuk islam tersebut mengikuti pemikirannya yg menyimpang tersebut,. apalagi jika ada orang islam itu sendiri yg mengikuti pemikiran tsb,. ini adalah musibah yg bertumpuk-tumpuk,

    Banyak kok ilmuwan yg masuk islam, setelah dijelaskan dalil dengan pemahaman yg benar, dan yg menjelaskan adalaha ulama,.

  5. assalamualaikum
    kenapa ya kok koment saya disini yg berisi pertanyaan tentang kitab Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah” hilang, apakah sengaja dihapus admin atau bagaimana, mohon tanggapannya, sukron…

    Wa’alaikumussalam warahmatullah
    Afwan, karena saya belum bisa menjawabnya, alhamdulillah saya akhirnya menemukan jawabannya, silahkan baca penjelasannya di link ini
    afwan,..

  6. Tampaknya banyak pemikir terjebak panteisme, wihdatul wujud, yang dipelopori filsuf-filsuf Yunani.

    Masalahnya sederhana, para ulama belum tuntas dalam menjelaskan bahwa Allah itu berada di atas Arsy.

    Penjelasan dogmatis ini mudah diterima orang awam tetapi tidak masuk akal bagi para pemikir.

    Dalam hal ini ulama-ulama yang memiliki otoritas, sudah waktunya memberikan penjelasan tuntas tentang Arsy, bagaimana posisinya di antara Allah Sang Maha Pencipta dengan makhluk ciptaan Nya.

    Struktur Arsy harus jelas, dapat merepresentasikan keterbatasan alam semesta namun dapat pula menggambarkan Dzat Allah yang tiada terbatas dan tiada terhingga, yang tiada berawal dan tiada berakhir.

    Percayalah kalau kita punya peta posisi Allah terhadap alam semesta, orang tidak pusing-pusing memahami narasi panjang tentang keberadaan Allah. Terimakasih.

    Terimakasih mas mudjiono, sudah komentar disini,.
    Permasalahan sebagian orang tidak paham tentang Allah, tentang Arsy Allah, adalah karena rusaknya pemahaman,.
    Memahami tentang Allah dengan standar Makhluk,. ini letak pokok kesalahannya,.

  7. “saya tidak pernah menvonisnya sebagai Ahlul Bid’ah,terlebih-lebih menvonisnya sebagai kafir, nas’alullaha salamah wa ‘afiyah.

    Sebab, bukanlah hak saya untuk melakukan vonis semacam ini, namun hal ini adalah hak para ulama dan ahlul ilmi yang mutamakkin
    (mumpuni)”

    TErimakasih mas Eri, anda mungkin membaca artikel diatas karena anda kagum padanya, dengan tafsir gotak-gatik gatuk, mencocokan sains dgn ayat alquran, atau sebaliknya, padahal alquran bukanlah tafsir berdasarkan sains, sebab rasulullah diutus bukan untuk sains, rasul diutus bukan untuk menjelaskan cara bikin mobil, bikin pesawat, atau hal sains dan dunia lainnya, Rasulullah diutus untuk menjelaskan bagaimana cara masuk surga,.

    Anda tahu ulama yang mutamakkin, kenapa menjelaskan ayat dengan membawakan penjelasan orang yang akidahnya tidak lurus,.?

    # min sy ngomentari penulis diatas, yg dia maksudkan (mumpuni) pun juga tidak punya hak memvonis. Yang punya hak vonis itu cuma Allah dan Rasul.Nya, kalaupun mereka (mumpuni) mau memvonis harus melandaskannya pada Allah dan Rasulullah saw, dgn kaidah ini siapapun boleh memvonis dan ndak harus berlabel ‘mumpuni’, siapapun boleh yg penting berlandaskan dalil yg syah.

    Dan andapun boleh kok memvonis tapi ya itu tadi, harus berlandaskan dalil yg betul (shoheh). Dalam hal ini penulisnya belum lengkap keterangannya.

    Anda membaca postingan diatas itu terburu-buru, sehingga hasil akhirnyapun tetap salah, kesimpulan anda salah, malanh menganggap saya yang memvonis??
    ini saya nukilkan kesimpulan postingan diatas dan penulisnya, bukan tulisan saya lho, lha wong cuma copas kok,.

    Sebagai kesimpulan, di sini saya akan meringkaskan poin-poin kesalahan pemahaman Harun Yahya di dalam bukunya EVOLUTION DECEIT (dan selainnya), sebagai berikut :

    1. Harun Yahya memiliki perkataan yang bernuansa shufiyah kental, yakni meyakini pemahaman ”Allah ada dimana-mana”, bahkan beliau memiliki perkataan yang mengarah kepada konsep Wihdatul Wujud yang kufur, semoga Allah memberinya hidayah dan mengampuninya.

    2. Harun Yahya memiliki aqidah yang serupa dengan Qodariyah-Mu’tazilah di dalam masalah Qodar (Taqdir), sebagaimana secara jelas terlihat pada tulisannya di halaman 190 akhir.

    3. Harun Yahya memiliki aqidah yang dekat kepada Jahmiyah di dalam menolak sifat-sifat Allah, terutama sifat istiwa Allah di atas Arsy-Nya dan Arsy-Nya berada di atas langit.

    Demikianlah sebagian kecil yang dapat saya tuliskan tentang beberapa kesalahan fatal di dalam buku-buku Harun Yahya –saddadahullahu-, dan apa yang saya tuliskan di sini bukanlah menunjukkan hanya ini sajalah kesalahan beliau, namun yang saya tuliskan di sini hanyalah sebagian kecil saja dari kesalahan-kesalahan yang bersifat aqidah yang terdapat pada beliau. Tulisan ini lebih banyak diadopsi dari tulisan al-Akh Abu Jibrin al-Birithani yang meluangkan waktunya menyusun beberapa kekeliruan aqidah Harun Yahya.

    Mana kata-kata yang menyatakan saya memvonis?
    Melihat kesimpulan diatas, tidak syak lagi tokoh seperti HARUN YAHYA adalah tokoh yang perlu dijelaskan dan dibeberkan penyimpangannya agar kaum muslimin tidak tertipu dengan pemikiran dan karyanya,.
    Karena penjelasan harun yahya tentang alquran dengan sains, itu banyak yang tidak sesuai dengan penjelasan Rasulullah tentang alquran,.
    Jadi mengungkapkan kebobrokan pemikiran harun yahya itu dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar, penjagaan kaum muslimin terhadap pemikiran-pemikiran yang keliru,. anda saja tertipu dengan penafsirannya, apalagi masyarakat awam?
    Dan menjelaskan penyimpangan tokoh tertentu itu bukanlah ghibah, dan jika termasuk ghibah, itu adalah ghibah yang dibolehkan, sudah saya posting disini

    Ada tokoh lagi yang di masyarakat dianggap sebagai cendikiawan muslim, tapi ternyata akidahnya adalah syiah, siapa tokoh tersebut? mungkin anda akan merasa kaget juga,. dia adalah IBNU SINA, bagaimana akidahnya, silahkan baca disini

    Ini pegangannya mas eri, cara memahami alquran atau hadits,. sudah saya posting disini

  8. sepertinya yang menafsirkan tulisan Harun Yahya lah yang kurang memahami maksud beliau. Yang dimaksud beliau tentang ”Allah ada dimana-mana” dan tentang ”kedekatan Allah secara tidak terbatas” terhadap makhluk-Nya adalah bahwa Allah Maha Mengetahui segala tindak-tanduk makhluk-Nya, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.

    Jadi dalam menafsirkan tulisan jangan terlalu TEKSTUAL…..
    Harus dengan ilmu dan dipahami secara mendalam. Oke…!!! hehehehe

    Itulah penyebab rusaknya islam,.
    ayat dan dalil pun dipahami sesuai dengan kapasitas ilmu si penelaahnya,. bukan berdasarkan pemahaman para sahabat,.
    Harun yahya menafsirkan dalil , ayat alquran dengan ilmu sains,.. ya ngga nyambung, wong alquran turun bukan untuk menjelaskan sains, justru sainslah yang harus ikut alquran,

    Kalau pola pikirnya seperti anda,. maka akan semakin rusak islam ini,.

  9. lho..,mana pembenarannya??
    masa cuma disalah-salahin doank????????

    terimakasih mas agus,
    Tujuan utamanya juga utk mengoreksi kesalahan, kesalahan fatal kaum muslimin yang menganggap tokoh ini adalah tokoh islam, padahal dia adalah pengikut syiah,.

    Disini mejelaskan kesesatan akidahnya,. meluruskan pemahaman kaum muslimin bahwa ibnu sina bukanlah tokoh islam, tapi tokoh syiah,.
    islam bukan syiah, dan syiah bukanlah islam, jadi,. darimana mau dibenarkan dalam sisi akidah ini???

  10. SY KIRA BKN KESALAHAN ,,,,
    HNYA BEDA SUDUT PEMAHAMAN SJ…..

    Ya, betul,. dan terjadinya kesalahan dalam mengamalkan islam yang benar adalah bedanya pemahaman,.
    Akibat mengikuti pemahaman yang salah, yaitu selain pemahaman sahabat, maka PASTI AKAN TERSESAT, Allah sendiri yang mengatakan,.

    Makanya WAJIB bagi kaum muslimin untuk mengikuti satu pemahaman saja, yaitu PEMAHAMAN PARA SAHABAT,.
    Jika kaum muslimin tidak mau mengikuti PEMAHAMAN SAHABAT, maka PASTI AKAN TERSESAT, Allah ancam dengan neraka,. silahkan baca disini ulasannya

  11. Assalamualaikum akhi
    Saya baru belajar..
    Jadi manhaj yang benar itu seperti apa?

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah
    Manhaj yang benar HANYA SATU, yaitu manhaj salaf, apa itu manhaj salaf? Silahkan baca di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*