Kitab Ihya Ulumudin, Ada Apa Dengan Kitab Tersebut?

Ihya Ulumuddin Ihya Ulumuddin Sesat Buku Putih Ihya Ulumuddin Ihya Ulumudin Ihya Ulumuddin Jilid 5 Pdf

Mengenal Lebih Jauh Kitab IHYA ULUMUDDIN karya AL-GHAZALI

ihyaTak banyak yang tahu, Ihya` ‘Ulumuddin, kitab yang banyak dipuja orang ini, merupakan salah satu gudangnya kemungkaran. Kajian berikut memang tidak memaparkannya secara keseluruhan. Namun cukuplah menjadi peringatan bagi kita semua agar tidak lagi menggeluti buku ini terlebih mengagungkannya.

Ahlus Sunnah Wal Jamaah merupakan suatu umat yang senantiasa berupaya untuk komitmen di atas kemurnian agama, serta bersikap tegas terhadap segala bentuk penyimpangan atau upaya segolongan orang yang akan mengaburkan As-Sunnah.

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya): “Yang paling aku takutkan menimpa umatku ialah imam-imam yang menyesatkan.” (HR. Abu Dawud, 4/4252 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, jilid 4 no. 1586)

Abdurrahman bin Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Aku mendengar bapakku dan Abu Zur’ah, keduanya memerintahkan untuk memboikot ahlul bid’ah. Keduanya sangat keras terhadap mereka, dan mengingkari pemahaman kitab (Al-Qur`an, red.) dengan akal semata tanpa bersandar dengan atsar (hadits, red.), melarang duduk bersama ahlul kalam (kaum filsafat), dan melihat kitab-kitab ahlul kalam.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 322)

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Kalian akan mendapati segolongan kaum yang menyangka bahwa mereka menyeru kepada Kitabullah, namun hakekatnya mereka telah melemparkannya ke belakang punggung-punggung mereka.” (Al-Ibanah, 1/322)

Mengingat hal ini, akan kami paparkan secara ringkas tentang kitab Ihya` ‘Ulumuddin yang selalu dibanggakan segolongan orang. Bahkan dianggap sebagai literatur yang sarat akan bimbingan aqidah dan akhlak!

Berikut beberapa kesalahan yang terdapat dalam kitab Ihya` ‘Ulumuddin dan bantahannya secara global.

1 Dalam pembahasan sifat-sifat Allah Subhanahu Wata’ala, Al-Ghazali terkadang melakukan penakwilan ayat-ayat yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah Subhanahu Wata’ala.

Ahlus Sunnah Wal Jamaah selalu meyakini bahwa sifat-sifat Allah Subhanahu Wata’ala tidak boleh disamakan dengan sifat makhluk, tidak boleh ditanyakan tentang bagaimana keadaannya, tidak boleh menakwilkan dengan sesuatu yang keluar dari makna zhahir sebagaimana yang telah diyakini salafus shalih, dan tidak boleh pula mengingkarinya. (lihat Fathur Rabbil Bariyyah bi Talkhisil Hamawiyyah, hal. 27-28)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab Al-Wushabi hafizhahullah berkata: “Tauhid asma wash shifat adalah mengesakan Allah Subhanahu Wata’ala pada apa yang telah Dia namakan diri-Nya sendiri dengannya atau dengan apa yang telah dinamakan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, dan mengesakan Allah kpada apa yang Dia sifatkan terhadap diri-Nya atau yang telah Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sifatkan untuk-Nya, tanpa mempertanyakan bagaimananya (kaifiyah), atau menyerupakannya dengan makhluk, memalingkan maknanya, dan mengingkarinya. (Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid, hal. 81)

Sebagai contoh, Al-Ghazali telah menakwilkan makna istiwa` (artinya naik di atas ‘Arsy) dengan istaula (menguasai). (lihat Ihya` ‘Ulumuddin, jilid 1 sub pemba-hasan Aqidah)

Hal ini telah menyelisihi Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’ para salafush shalih. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya):

“Sucikan Rabbmu yang Maha Tinggi.” (Al-A’la: 1)
“Sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi dan Maha Besar.” (An-Nisa`: 34)
“Ar-Rahman ber-istiwa` di atas ‘Arsy-Nya.” (Thaha: 5)
Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya):
“Ketika Allah menentukan ketentuan makhluk, maka Dia tulis dalam Kitab-Nya yang ada di sisi-Nya, di atas ‘Arsy…” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Tidak ada satupun salafush shalih yang mengingkari bahwa Allah k benar-benar ber-istiwa` di atas Arsy-Nya. Yang tidak mereka ketahui adalah bagaimana cara ber-istiwa`. Dan sungguh hal itu tidaklah diketahui hakekatnya.” (Muhammad bin ‘Utsman bin Abi Syaibah wa Kitabuhu Al-’Arsy, hal. 187)

2 Al-Ghazali berkata tentang ilmu kalam: “Dia merupakan penjaga aqidah masyarakat awam dan yang melindungi dari berbagai kerancuan para ahli bid’ah. Dan perumpamaan ahli ilmu kalam adalah seperti penjaga jalan bagi para jamaah haji.” (Ihya` ‘Ulumuddin, 1/22)

Aqidah yang bersih akan selalu terbangun di atas pondasi yang benar berlandaskan Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Adapun ilmu kalam adalah belenggu yang menjadikan orang terlena dengan akal, sehingga akan menjauh dari hakekat kemurnian aqidah.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi mereka yang mengharap Allah dan hari kiamat, dan dia banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah: “Contoh yang baik adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang mengambil suri teladan darinya berarti telah menempuh suatu jalan yang akan menyampaikan kepada kemuliaan Allah Subhanahu Wata’ala. Inilah jalan yang lurus.”

Al-Imam Al-Barbahari rahimahullah: “Ketahuilah –semoga Allah Subhanahu Wata’ala merahmatimu–, sungguh tidaklah muncul kezindiqan, kekufuran, keraguan, bid’ah, kesesatan, dan kebingungan dalam agama kecuali akibat ilmu kalam, ahli ilmu kalam, debat, berbantahan, dan perselisihan.” (Syarhus Sunnah, hal. 93)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Mengikuti ocehan ahli ilmu kalam dan filsafat merupakan kerusakan yang nyata. Tak sedikit orang yang mencoba menyelami perkara itu akhirnya berlumuran dengan berbagai kotorannya, sebagaimana ucapan Al-Imam Ahmad: ‘Tidaklah orang yang melihat ilmu kalam kecuali akan terpengaruh dengan Jahmiyyah’. Beliau dan para ulama salaf lainnya selalu memperingatkan dari ahli ilmu kalam walaupun (ahli ilmu kalam itu) berniat membela As-Sunnah.” (Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf, hal. 43)

Abdurrahman Muhammad Sa’id Dimasyqiyah berkata: “Ilmu kalam –yang telah disepakati Al-Imam Malik, Abu Hani-fah, Ahmad, dan Asy-Syafi’i sebagai suatu yang bid’ah– tidak akan mungkin menjadi penjaga aqidah dari berbagai bid’ah. Karena ilmu kalam itu sendiri adalah bid’ah.” (Abu Hamid Al-Ghazali ‘Aqida-uhu wa Tashawwufuhu hal. 9)

Sungguh malang nasib pengagum ilmu kalam. Na’udzubillahi min dzalika (Kita berlindung kepada Allah Subhanahu Wata’ala dari hal itu).

3 Al-Ghazali membagi ilmu menjadi dua bagian:

a. Ilmu zhahir: ilmu muamalah.
b. Ilmu batin: ilmu kasyaf. (Ihya` ‘Ulumuddin, 1/19-21)

Keyakinan bahwa ilmu kasyaf merupakan puncak ilmu merupakan hal yang umum di kalangan para Shufi! Kasyaf menurut keyakinan Shufi adalah tersingkapnya hijab di hadapan para wali Shufi, sehingga dia bisa melihat dan mengetahui sesuatu yang ghaib tanpa melalui indera perasa. Namun ilmu kasyaf adalah ilmu yang terilhamkan dalam hati. (Ash-Shufiyah wa Ta‘atstsu-ruha bin Nashraniyyah wal Yahudiyyah, hal. 114)

Sungguh menakutkan keadaan mereka. Bukankah Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman (yang artinya):
“Katakanlah: ‘Tidak ada siapapun yang ada di langit dan di bumi yang mengetahui suatu yang ghaib selain Allah.’” (An-Naml: 65)
“(Dialah) Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan tidak menampakkannya kepada siapapun, kecuali kepada utusan-Nya yang telah Dia ridhai. Sesungguhnya Dia memberikan penjagaan (dengan para malaikat) dari depan dan belakangnya.” (Al-Jin: 26-27)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Dia mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dan sungguh tidak ada makhluk-Nya yang bisa mengetahui ilmu-Nya kecuali yang Allah k beritahukan kepadanya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/462)

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya): “Ada lima perkara yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.” Kemudian beliau membaca ayat (yang artinya): “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34) [HR. Ahmad, 5/353. Dihasankan Asy-Syaikh Muqbil v dalam Shahihul Jami’, 6/361]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Ilmu ghaib merupakan sifat khusus bagi Allah Subhanahu Wata’ala. Dan segala perkara ghaib yang Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam kabarkan merupakan sesuatu yang dikabarkan Allah Subhanahu Wata’ala kepadanya. Dan tidaklah beliau mengetahui dari dirinya sendiri.” (Fathul Bari, 9/203). Adanya keyakinan kasyaf merupakan upaya penghinaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

4 Penafsiran ayat secara ilmu batin dan keluar dari kaedah-kaedah salaf.

Sebagai contoh Al-Ghazali menafsirkan firman Allah Subhanahu Wata’ala (yang artinya): “Dan jauhkan aku serta keturunanku dari penyembahan terhadap berhala.” (Ibrahim: 35)
Al-Ghazali menyatakan bahwa yang dimaksud berhala adalah dua batu, yaitu emas dan perak! (Ihya` ‘Ulumuddin, 3/235)

Cara seperti ini merupakan tipudaya setan, karena hanya akan menjadikan seseorang keluar dan menyeleweng dari pemahaman salafush shalih.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya):
“Katakanlah, jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31)

“Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami jadikan ia di Jahannam. Dan Jahannam adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (An-Nisa`: 115)

Ilmu batin menurut Shufiyyah adalah rahasia-rahasia ilmu yang ganjil, dan hanya diketahui oleh orang-orang Shufi yang berbicara dengan lisan yang abadi. (Majmu’ Fatawa, 13/231)
Keadaan ini menyerupai orang-orang bathiniyyah Qaramithah yang menafsirkan Al-Qur`an secara ilmu batin, seperti shalat berarti doa, puasa berarti menahan rahasia, haji bermakna safar dan berkunjung kepada guru serta para syaikh. (Majmu’ Fatawa, 13/236)

5 Al-Ghazali terpengaruh dengan suluk orang-orang Cina dan kependetaan dalam Nasrani. (Ihya` ‘Ulumuddin, 3/334)

Ia berkata: “Upaya para wali dalam penyucian, pencerahan, kebersihan, dan keindahan jiwa sehingga suatu kebenaran menjadi gemerlap, nampak dan bersinar sebagaimana dilakukan orang-orang Cina. Dan demikianlah upaya kaum cendekiawan dan ulama untuk meraih dan menghiasi ilmu, sehingga terpatri indah dalam hati sebagaimana yang dilakukan orang-orang Romawi.” (Ihya` ‘Ulumuddin, 3/24)

Bahkan hubungan manis antara Shufiyyah dengan Nasrani dinyatakan Ibrahim bin Adham. Ia berkata: “Aku mempelajari ma’rifat dari seorang pendeta bernama Sam’an dan aku pernah masuk ke dalam tempat ibadahnya.” (Talbis Iblis, hal. 137)

Abdurrahman Al-Badawi berkata: “Sungguh, kalangan Shufiyyah dari kaum Muslimin menganggap tidak mengapa untuk mendengarkan pelajaran-pelajaran para pendeta dan perihal olah batin mereka karena terdapatnya faedah, walaupun hal itu datang dari Nasrani. (Ash-Shufiyyah wa Ta`atstsuruha bin Nashraniyyah wal Yahudiyyah, hal. 64)

Anggapan seperti ini sangatlah naif, dan hanya akan melumpuhkan serta menelanjangi seseorang dari al-wala` wal-bara`. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya):

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19)

“Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Al-Jatsiyah: 18)

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya):

“Benar-benar kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang sebelum kalian…” (HR. Al-Bukhari no. 3456 dan Muslim no. 2669)

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk mereka.” (HR. Abu Dawud, 2/74. Dan dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Adabuz Zifaf hal. 116)

Bahkan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dengan jelas menyatakan (yang artinya): “Tidak ada kependetaan dalam Islam.” (Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, 4/7)

Sungguh perilaku Shufiyyah merupakan virus pluralisme yang akan selalu bergulir seperti bola liar dengan kemerdekaan berfikir tanpa batas (freedom of thinking is every-thing).

6 Menurut Al-Ghazali, martabat kenabian bisa diraih seorang Shufi dari sisi turunnya ilham Ilahi di dalam hatinya. (Ihya`, 3/18-19)

Menurut para Shufi, ilham adalah pancaran ilmu kepada para syaikh dan wali dari Allah Subhanahu Wata’ala, yang tercurahkan dalam hati, yang bisa didapatkan baik saat terjaga ataupun tidur, sehingga terbukalah rahasia ilmu yang ada di Lauhul Mahfuzh. Hal ini terkadang mereka namakan ilmu laduni, yang tidak akan berakhir seperti berhentinya wahyu kepada para nabi. (Ash-Shufiyah wa Ta`atstsuruha bin Nashraniyyah wal Yahudiyyah, hal. 114-115)

Bahkan Al-Ghazali berkata: “Sesungguhnya hati, di hadapannya siap tergelar hakekat sesuatu yang haq dalam semua urusan. Bahkan tercurahkan segala bentuk yang rahasia dan tersingkap dengan mata hati, menjadikan apa yang tertulis di Lauhul Mahfuzh terpampang, sehingga bisa mengetahui apa yang akan terjadi.”

Kemudian beliau menambahkan: “Berbagai urusan tersingkap bagi para nabi dan wali. Dan suatu cahaya tertuang dalam hati mereka yang didapatkan tanpa belajar, mengkaji, menulis, dan buku-buku, yang diraih dengan zuhud di dunia. (Ihya` ‘Ulumuddin, 3/18-19)

Beliau juga berkata: “Sesungguhnya ilmu-ilmu yang didapatkan para nabi dan wali itu melalui pintu batin atau melalui hati, dan melalui pintu yang terbuka dari alam malakut/ Lauhul Mahfuzh.” (Ihya` ‘Ulu-muddin, 3/20)

Abdurrahman Muhammad Sa’id Dimasyqiyah berkata: “Perkataan Al-Gha-zali tentang kenabian merupakan kepanjangan tangan Ibnu Sina yang menganggap bahwa para nabi memiliki tiga kekuatan: kekuatan kesucian, kekuatan khayalan, kekuatan perasaan dan batin.” (Abu Hamid Al-Ghazali ‘Aqidatuhu wa Tashaw-wufuhu hal. 35)

Abdurrahman Muhammad Sa’id Dimasyqiyah menukilkan ucapan Al-Ghazali dalam kitab Al-Jawahirul Ghali: “Tidak ada perbedaan sedikitpun antara wahyu dan ilham, bahkan dalam kehadiran malaikat yang memberikan faedah ilmu. Sesungguhnya ilmu didapatkan dalam hati kita dengan perantara para malaikat.” (Abu Hamid Al-Ghazali ‘Aqidatuhu wa Tashawwufuhu hal. 38)

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya yang terkandung dalam ucapan mereka adalah bahwa berita-berita dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam tidaklah berfaedah sedikitpun dalam sisi ilmiah. Bahkan hal yang seperti itu bisa diraih oleh setiap orang dengan musyahadah [1], nur, dan kasyaf.” (Dar`u Ta’arudhil ‘Aql wan Naql, 5/347)

Al-Ghazali bahkan menghina para fuqaha dengan ucapannya: “Para fuqaha hanyalah sekedar ulama dunia dan tugas mereka tidak lebih dari itu.” (Ihya` ‘Ulumuddin, 1/18)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Kebenciannya kepada para fuqaha merupakan kezindiqan terbesar. Karena para fuqaha selalu menghadirkan fatwa-fatwa tentang kesesatan dan kefasikan mereka. Dan sungguh al-haq itu berat sebagaimana beratnya zakat.” (Talbis Iblis hal. 374)

Abdurrahman Muhammad Sa’id Dimasyqiyyah berkata: “Fiqih merupakan suatu upaya untuk membenahi sesuatu yang zhahir dan yang batin. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya): “Akan tetapi orang-orang munafiq tidaklah memahami.” (Al-Munafiqun: 7)

Jikalau hati-hati mereka bersih dan tercermin dalam zhahir-zhahirnya, sungguh mereka adalah orang yang memahami. Ingatlah pemimpin para fuqaha, Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu yang didoakan oleh Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam: ‘Ya Allah, fahamkanlah dia dalam urusan agama’.” (Abu Hamid Al-Ghazali ‘Aqida-tuhu wa Tashawwufuhu hal. 45)

Perilaku Shufiyyah merupakan pintu kesombongan, kecongkakan dan sikap ekstrim dalam memposisikan diri mereka. Mereka telah melupakan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai seorang nabi yang membawa kesempurnaan syariat dan akhlak yang mulia. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya):

“Hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian dan telah Aku sempurnakan kepada kalian nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian.” (Al-Ma`idah: 3)

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah.” (Ali ‘Imran: 164)

7 Tentang ajaran wihdatul wujud, Al-Ghazali berkata menyebutkan tingkatan orang-orang shiddiqin: “Mereka adalah segolongan kaum yang melihat Allah Subhanahu Wata’ala dalam keesaan-Nya. Dengan-Nya, mereka melihat segala sesuatu. Dan tidaklah mereka melihat dalam dua tempat selain dari-Nya, dan tidaklah mereka memperhatikan alam wujud selain Dia. Inilah memperhatikan de-ngan pandangan tauhid. Hal ini mengajarkan kepadamu bahwa yang bersyukur adalah yang disyukuri. Dan dia adalah yang mencintai dan yang dicintai [2]. Inilah pandangan seseorang yang mengetahui bahwa tidaklah ada di alam yang wujud ini melainkan Dia.” (Ihya` ‘Ulumuddin, 4/86)

Bahkan terdapat keterikatan yang kuat antara Al-Ghazali dan Al-Hallaj yang meyakini aqidah wihdatul wujud, bahkan sebagai puncak dari tauhid. (Ihya` ‘Ulumuddin, 4/247)

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata membantah keyakinan yang bejat ini: “Para salaf mengkafirkan Jahmiyah karena perkataan mereka bahwa Allah Subhanahu Wata’ala berada di semua tempat. Di antara bentuk pengingkaran para salaf adalah: Bagaimana mungkin Allah Subhanahu Wata’ala berada di perut, di tempat-tempat kotor, di tempat-tempat sunyi? Maha Tinggi Allah dari perkara tersebut! Lalu bagaimanakah dengan mereka yang menjadikan perut, tempat-tempat kotor, tempat-tempat sunyi, barang-barang najis, dan kotoran-kotoran sebagai bagian dari Dzat-Nya?” (Majmu’ Fatawa, 2/126)

Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah Subhanahu Wata’ala ber-istiwa` di atas ‘Arsy dan Allah Subhanahu Wata’ala tidak membutuhkan ‘Arsy. Dan Allah Subhanahu Wata’ala tidaklah serupa dengan makhluk dalam segala sifat-Nya.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya):

“Ar-Rahman ber-istiwa` di atas ‘Arsy.” (Thaha: 5)

“Sesungguhnya Rabb kalian telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari kemudian ber-istiwa` di atas Arsy.” (Yunus: 3)

“Tidaklah Allah serupa dengan apapun dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

8 Ajaran khalwat atau menyendiri dan menyepi, dan kesalahan dalam memahami ‘uzlah. Al-Ghazali berkata: “Dalam ‘uzlah (menyingkir dan menjauhi umat), ada jalan keluar (kedamaian). Adapun dalam beramar ma’ruf dan nahi mungkar akan meninggalkan perselisihan dan membangkitkan kedengkian hati. Dan siapapun yang mencoba beramar ma’ruf niscaya kebanyakannya akan menyesal.” (Ihya` ‘Ulumuddin, 2/228)

Bahkan dengan khalwat akan tersingkap kehadiran Rabb dan nampak baginya Al-Haq. (Ihya` ‘Ulumuddin, 3/78)

Syarat-syarat khalwat menurut kaum Shufi:

* Meminta bantuan dengan ruh para syaikh, dengan perantara gurunya.
* Menyibukkan diri dengan dzikir sehingga nampak Allah Subahanahu Wata’ala baginya.
* Bertempat di ruangan yang gelap dan jauh dari suara serta gerakan manusia.
* Tidak berbicara.
* Tidak memikirkan kandungan makna Al-Qur`an dan hadits, karena akan menyibukkan dari dzikir yang sebenarnya.
* Tidak boleh masuk dan keluar dari tempat khalwat kecuali dengan izin dari syaikhnya.
* Selalu mengikat hati dengan mengingat syaikh. (Ash-Shufiyah wa Ta‘atstsuruha bin Nashraniyyah wal Yahudiyyah, hal. 186)

Ini merupakan amalan-amalan yang akan menguburkan nilai-nilai agama yang suci, akibat salah memahami ‘uzlah dan upaya meniru gaya kependetaan.

Makna ‘uzlah bukanlah khalwat ala Shufiyyah yang rancu. Maknanya adalah menjauhi suatu fitnah agar tidak menimpanya, baik itu di dalam rumah ataupun di suatu tempat, yang apabila telah hilang fitnah tersebut maka dia kembali melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, berdakwah, dan berjihad di jalan-Nya. (lihat Ash-Shufiyyah wa Ta`atstsuruha bin Nashraniyyah wal Yahudiyyah, hal. 188)

Suatu fitnah harus dihadapi dengan ilmu dan bimbingan yang benar, bukan dengan sikap emosional atau mengekor pola-pola orang kafir. (baca kitab Al-Qaulul Hasan fi Ma’rifatil Fitan)

9 Al-Ghazali lebih mengutamakan as-sama’ (mendengarkan nasyid dan dendang kerohanian) daripada membaca Al-Qur`an. Setelah menceritakan keutamaan as-sama’, beliau berkata: “Dan apabila hati telah terbakar (mabuk) dalam kecintaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, maka untaian bait syair yang aneh akan lebih membangkitkan sesuatu yang tidak bisa dibangkitkan dengan membaca Al-Qur`an.” (Ihya` ‘Ulumuddin, 2/301)

Keganjilan kaum Shufi ini merupakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan para shahabat. Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata: “Berkumpul untuk mendengarkan dendangan-dendangan rohani baik yang diiringi tepuk tangan, dawai, ataupun rebana, merupakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan para shahabat, baik Ahlush Shuffah atau yang lainnya. Demikian pula para tabi’in (tidak pernah melakukannya).” (Majmu’ Fatawa, 11/57)

Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata: “Tidaklah aku tinggalkan Baghdad kecuali telah muncul at-taghbir (dendang kerohanian) yang dibuat orang-orang zindiq, yang hanya menghalangi manusia dari Al-Qur`an. Dan Yazid bin Harun berkata: “Tidaklah melakukan at-taghbir kecuali orang fasiq.” (Majmu’ Fatawa, 11/569)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Orang yang membiasakan mencari semangat dengan as-sama’ niscaya tidak akan lembut dan senang hatinya dengan Al-Qur`an. Dan dia tidak akan mendapatkan apapun saat mendengarkan Al-Qur`an sebagaimana ketika mendengarkan bait-bait syair. Bahkan apabila mendengarkan Al-Qur`an, dia akan mendengarkan dengan hati dan lisan yang lalai.” (Majmu’ Fatawa, 11/568)

Orang-orang Shufi telah melupakan firman Allah Subhanahu Wata’ala (yang artinya):

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah apabila diingatkan tentang Allah maka hati-hati mereka bergetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka.” (Al-Anfal: 2)

“Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah hati akan tenang.” (Ar-Ra’d: 28)

 10   Kesalahan yang fatal dalam memahami makna tawakkal, sehingga menghilangkan sebab yang harus ditempuh. Al-Ghazali berkata: “Telah diceritakan dari Banan Al-Hammal: ‘Suatu hari saya dalam perjalanan pulang dari Mesir, dan saya membawa bekal keperluanku. Datanglah kepadaku seorang wanita dan menasehatiku: ‘Wahai Banan, engkau adalah tukang pembawa yang selalu membawa bekal di punggungmu dan engkau menyangka bahwa Dia tidak memberimu rizki?’ Banan berkata: ‘Maka aku buang bekalku’.” (Ihya` ‘Ulumuddin, 4/271)

Hal ini sangatlah berseberangan dengan bimbingan Al-Qur`an dan As-Sunnah. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya):

“Hendaknya kalian mengambil bekal, dan sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Al-Baqarah: 197)

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: “Allah Azza Wa Jalla memerintahkan untuk membawa bekal bagi safar yang mubarak (diberkahi) ini (yakni haji). Sesungguhnya persiapan bekal akan mencukupinya dan bisa mencegah dari harta orang lain, tidak mengemis dan meminta bantuan. Bahkan dengan memperbanyak bekal akan bisa menolong para musafir.” Kemudian beliau berkata: “Adapun bekal yang hakiki yang akan terus bermanfaat di dunia dan di akhirat adalah bekal takwa, inilah bekal untuk menuju rumah abadi.” (Taisirul Karimirrahman hal. 74)

Al-Ghazali berkata: “Barangsiapa menyimpan persediaan makanan untuk 40 hari atau kurang dari itu, maka akan terharamkan dari al-maqam al-mahmud (kedudukan terpuji) yang dijanjikan kepada orang yang bertawakkal di akhirat kelak.” (Ihya` ‘Ulumuddin, 4/276)

Al-’Iraqi berkata setelah menyebutkan hadits bahwa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam mempersiapkan makanan untuk keluarganya selama satu tahun yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari: “Apakah Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam telah keluar dari tingkatan orang-orang yang bertawakkal, sebagaimana yang diterangkan Al-Ghazali dalam manhajnya yang rusak dalam masalah tawakkal?” (Abu Hamid Al-Ghazali ‘Aqidatuhu wa Tashawwufuhu hal. 79)

Bahkan ketika orang-orang Nasrani menyerbu negeri Baghdad, ia lebih memilih untuk ber-khalwat daripada berjihad. (Abu Hamid Al-Ghazali ‘Aqidatuhu wa Tashawwufuhu hal. 89)

 11   Menjauhi suatu yang fitrah, bahkan yang diperintahkan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, seperti nikah.

Al-Ghazali berkata: “Barangsiapa menikah maka sungguh dia telah cenderung kepada dunia.” (Ihya` ‘Ulumuddin, 3/101)

Hal ini sangat menyelisihi sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam (yang artinya): “Menikahlah kalian, sesungguhnya aku berbangga dengan banyaknya umat dari kalian, dan janganlah kalian meniru kependetaan Nasrani.” (Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, 4/385, hadits no. 1782. Beliau mengatakan hadits ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, 7/78)

PERINGATAN ULAMA SALAF TERHADAP KITAB IHYA` ‘ULUMUDDIN [3]

Asy-Syaikh Abdul Lathif bin Abdur-rahman Alusy Syaikh berkata: “Di dalam kitab Ihya`, beliau (yakni Al-Ghazali) menulis dengan metode filsafat dan ilmu kalam dalam banyak pembahasan yang berkaitan dengan permasalahan ketuhanan dan teologi, serta membingkai filsafat dengan syariat. Ibnu Taimiyyah berkata: ‘Namun Abu Hamid telah memasuki ruang lingkup ilmu filsafat dalam banyak hal, yang Ibnu ‘Aqil menyatakan ilmu filsafat sebagai bagian dari zindiq’.”

Ibnul ‘Arabi, murid Al-Ghazali mengatakan: “Guru kami Abu Hamid telah masuk dalam cengkeraman ilmu filsafat, dan beliau ingin melepaskannya namun tidak berhasil.” [4]

Abu ‘Ali Ash-Shadafi berkata: “Syaikh Abu Hamid terkenal dengan berbagai berita buruk dan memiliki karya yang besar. Beliau sangat ekstrim dalam tarekat Shufiyyah dan mencurahkan waktunya untuk membela madzhabnya, bahkan menjadi penyeru dalam Shufiyyah. Beliau mengarang berbagai tulisan yang terkenal dalam hal ini dan membahasnya dalam berbagai tempat, sehingga mengakibatkan umat berburuk sangka kepadanya. Sungguh Allah Yang Maha Tahu rahasianya. Dan penguasa di tempat kami di negeri Maghrib –berdasarkan fatwa para ulama– telah memerintahkan untuk membakar dan menjauhi karyanya.”

Adz-Dzahabi berkata: “Karyanya ini penuh dengan musibah yang sungguh sangat tidak menyenangkan.”

Ahmad bin Shalih Al-Jaili: “(Al-Ghazali adalah) seorang yang fatwa-fatwanya terbangun dari sesuatu yang tidak jelas. Di dalamnya banyak riwayat-riwayat yang dicampuradukkan antara sesuatu yang tsabit/jelas dengan yang tidak tsabit. Demikian pula apa yang dia nisbatkan kepada para ulama salaf, tidak mungkin untuk dibenarkan semuanya. Ia juga menyebutkan berbagai kejadian-kejadian para wali dan renungan-renungan para wali sehingga mengagungkan posisi mereka. Ia mencampurkan sesuatu yang manfaat dan yang berbahaya.”

Abu Bakr Ath-Thurthusi berkata: “Abu Hamid telah memenuhi kitab Ihya` dengan berbagai kedustaan atas nama Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan tidaklah ada di atas bumi yang lebih banyak kedustaan darinya, sangat kuat keterikatannya dengan filsafat dan risalah Ikhwanush Shafa, yaitu segolongan orang yang menganggap bahwa kenabian adalah sesuatu yang bisa diraih manusia biasa dan mu’jizat hanyalah halusinasi dan khayalan.”

Kata al-Hafizd al-Imam Ibn Katsir (ulama ahlul hadits sekaligus ahli tafsir yang terkenal dengan “Tafsir Ibnu Katsir”nya, wafat 774H /1372 M) berkata dalam kitab Al-Bidayah wa Al-Nihayah: “Ketika berada di Damsyik dan Baitulmaqdis, al-Ghazali mengarang kitabnya Ihya Ulumuddin. Ia sebuah kitab yang ganjil. Ia mengandung ilmu yang banyak berkaitan syara’, bercampur dengan kehalusan tasawuf dan amalan hati. Namun dalamnya “banyak hadis yang gharib (asing), mungkar dan palsu”.(Rujukan: Ibn Kathir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 12/186, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. )

Tajudin As Subki (ulama ahlul hadits, wafat 771H/1355 M), beliau berkata dalam kitab “Thobaqot Asy Sayafi’iyyah” jilid 4 halaman 145 dalam bab mengenai biografi Al Ghozali : “Di bab ini aku kumpulkan semua hadits2 yang ada di kitab Ihya Ulumuddin yang aku belum dapatkan sanadnya, ternyata jumlah hadits2 itu sekitar 943 hadits yang tidak ada asalnya. Sedangkan hadits yang punya sanad tetapi dho’if (lemah) atau Maudlu’ (palsu) barangkali berlipat ganda dari jumlah ini.

Kata al-Hafizd al-Imam Ibnu Al Jauzi (wafat 597H/1200M): “Kemudian datang Abu Hamid al-Ghazali menulis untuk golongan sufi kitab al-Ihya Ulumuddin berdasarkan pegangan mereka. Dia memenuhi bukunya dengan hadis-hadis batil yang dia tidak tahu kebatilannya.” (Rujukan: Ibn Jauzi, Talbis Iblis, hlm 190, Beirut: Dar al-Kutub al-ilmiyyah) .

Imam Nawawi (Ulama ahlus sunnah yang sangat masyhur dikalangan penuntut ilmu, wafat 676 H/1277 M). Beliau pernah ditanya tentang sholat Ragha’ib yang sering dilakukan orang di malam jum’at pertama bulan Rajab, apakah amalan ini termasuk sunnah ataukah bid’ah?, maka beliau menjawab :”Ia adalah bid’ah yang buruk lagi di ingkari dengan pengingkaran yang sangat keras”. Kemudian ia berkata, “Janganlah kalian tertipu dengan banyaknya orang yang melakukan amalan tersebut di banyak negri, meskipun amalan tersebut di anjurkan di kitab Quth al Qulub atau Ihya Ulumudin dan semisalnya, maka sesungguhnya sholat Ragha’ib itu adalah bid’ah yang bathil” (Al Mi’rayul Maghrib (I/300) karya Al Wansyarisi)

Ibnu Taimiyah (ulama besar ahlus sunnah, wafat 728H/1327M). Beliau berkata dalam kitab “Dar’ut Ta’aarudh jilid 7 hal 149 setelah beliau menukil tulisan panjang dari kitab Ihya Ulumudin, kemudian ia mengkritik dan mengomentarinya : “Al Ghozali tidaklah memiliki pengetahuan tentang atsar-atsar (riwayat2) Nabawi yang didasarkan pada pemahaman sahabat yang dimiliki oleh ahli ilmu, yaitu orang2 yang membedakan/memilah mana yang shahih dan yang dho’if (lemah). Oleh karena itu ia pun memasukkan hadits2 dan atsar2 yang maudhu’ (palsu) dan dusta di dalam kitab “Ihya” nya yang apabila beliau tau bahwa itu adalah palsu, niscaya beliau tidak akan memasukkannya”

Dan masih banyak lagi komentar2 dan kritikan2 para ulama ahlus sunnah lainnya tentang kesalahan2 yang ada dalam kitab Ihya Ulumudin ini.

Semoga Allah Subhanahu Wata’ala selalu menjaga kita dari tipu daya, kesesatan dan makar setan.

Wallahu a’lam.

———————————————————————————————————————

Foot Note :

[1] Musyahadah menurut kalangan Shufi adalah melihat kehadiran Allah Subhanahu Wata’ala yang kemudian memberikan/membuka rahasia-rahasia-Nya kepada hamba-Nya.

[2] Maksudnya dia telah bersatu dengan Allah, sehingga tidak lagi terpisah antara dia dengan Allah.

[3] Diambil dari kitab At-Tahdzirul Mubin min Kitab Ihya` ‘Ulumuddin karya Asy-Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman Alusy Syaikh

[4] Tentang akhir kehidupan Al-Ghazali, Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan: “…Oleh karena itu, menjadi jelas baginya (Al-Ghazali, ed) di akhir hayatnya bahwa jalan tasawuf tidaklah menyampaikan kepada tujuannya. Kemudian ia mencari petunjuk melalui hadits-hadits Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Mulailah ia menyibukkan diri dengan Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Dan ia meninggal di tengah kesibukannya itu, dalam keadaannya yang paling baik. Beliau juga membenci apa yang terdapat dalam bukunya berupa perkara-perkara semacam itu, yaitu perkara yang diingkari oleh orang-orang.” (‘Aqidah Asfahaniyyah, hal. 108, ed)

Judul Asli: “Mengurai Kesesatan Ihya’ ‘Ulumuddin”
sumber : http://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/murajaa/494-mengenal-lebih-jauh-kitab-ihya-ulumuddin-karya-al-ghazali.html
Print Friendly, PDF & Email

Kitab Ihya Ulumuddin Bab Sesaji Tafsir Ihya Ulumudhin Kitab Rahasia Shalat Sunah Ihya Ulumuddin Kitab Jawi Yg Bagus Untuk Umum Kitab Islam Ulia Mudin

21 Comments

  1. assalamu’alaikum admin numpang tanya…..ada temen yang ngomong alquran itu penuh filosofi……mohon penjelasan…???

    wassalam

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    Tanya ke si penanya, apa yg dimaksud filosofi tsb, apa maksudnya, jika sdh dijelaskan baru koment lagi disini

  2. assalamu’alaikum,

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    mau tanya, benarkah di dalam kitab ihya’ ada hadits yang artinya,”barang siapa yang belajar tanpa guru, maka gurunya syaitan.”

    kalau memang ada, bagaimana derajat haditsnya?

    Tidak ada hadits yg spt itu,tentang kitab ihya,mudah-mudahan anda sudah paham dengan membaca postingan ttg kitab tsb

    lalu bagaimana orang seperti saya, yang selama ini beribadah hanya mengikuti para kiayi, tokoh masyarakat, dan kebanyakan orang di lingkungan saya, kemudian setelah melihat dakwah di televisi terutama Rodja, dan juga dakwah di Blog ini, saya tinggalkan semua amalan syirik seperti sesaji, tawasul kepada orang mati, jimat, dan perdukunan. apakah ilmu yang saya dapat tanpa bersimpuh di hadapan guru, bisa dibenarkan oleh syariat?

    Apa yang anda lakukan sudah benar, alhamdulillah nikmat teknologi ini bisa menambah wawasan keagamaan yg benar, walaupun yang terbaik tentu hadir langsung, namun jika ditempat anda belum ada, tidak masalah belajar dari media spt rodja tv, insan tv, atau blog dan web yang memposting postingan yang benar,

    walaupun saya telah meninggalkan ibadah saya yang dahulu menuju tauhid dan sunnah tetapi kadang masih was-was, karena saya tidak ada kesempatan menuntut ilmu hadir di hadapan ustadz, yang disebabkan di daerah saya tidak ustadz yang mengajarkan tauhid dan sunnah. mohon pencerahan . jazakallaahu khoiron.

    Perasaan was-was yang ada karena kita telah meninggalkan ajaran yang tidak ada dalilnya, kebidahan, atau mungkin kesyirikan,itu adalah was-was yang dihembuskan oleh setan, yang menginginkan anda agar kembali kepada ajaran yg tidak benar tersebut, maka tidak usah dipikirkan perasaan was-was tersebut,

    Ada orang yang merasakan ketika beribadah dengan kebidahan shalat terasa khusyu, lebih tenang, namun setelah mengenal manhaj salaf, metode mengamalkan ajaran islam yang benar, kok malah sering merasa was-was, tidak tenang,. apakah sebenarnya yang terjadi?

    Ini adalah tanda benarnya pemahaman dan pengamalan kita, dulu ketika beribadah dg kebidahan, maka setan tidak mengganggu, mengusik dgn perasaan was-was atau ketidak tenangan, karena itu sdh sejalan dgn kemauan setan, ingat .. bidah lebih dicintai setan/iblis daripada maksiat, namun ketika mengikuti pemahaman yg benar, maka setan berusaha menggoda dgn mndatangkan perasaan was-was,

  3. Hanya orang goblok yang menjelek-jelekkan kitab ini……!!!”

    Terimakasih, sudah komentar yang bagus sekali,. saking bagusnya,.
    saya nukilkan perkataan MURID IMAM GHAZALI SENDIRI:
    Ibnul ‘Arabi, murid Al-Ghazali mengatakan: “Guru kami Abu Hamid telah masuk dalam cengkeraman ilmu filsafat, dan beliau ingin melepaskannya namun tidak berhasil.”

    Saya nukilkan juga perkataan IBNU KATSIR :
    Kata al-Hafizd al-Imam Ibn Katsir (ulama ahlul hadits sekaligus ahli tafsir yang terkenal dengan “Tafsir Ibnu Katsir”nya, wafat 774H /1372 M) berkata dalam kitab Al-Bidayah wa Al-Nihayah:

    “Ketika berada di Damsyik dan Baitulmaqdis, al-Ghazali mengarang kitabnya Ihya Ulumuddin. Ia sebuah kitab yang ganjil. Ia mengandung ilmu yang banyak berkaitan syara’, bercampur dengan kehalusan tasawuf dan amalan hati. Namun dalamnya “banyak hadis yang gharib (asing), mungkar dan palsu”.
    (Rujukan: Ibn Kathir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 12/186, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. )

    Berarti ulama diatas itu goblok?… atau anda sendiri yang kurang teliti membaca artikel diatas, mungkin hanya membaca judul postingannya saja, padahal di akhir artikel ada penjelasan para ulama tentang kitab tersebut,.

    Mudah-mudahan Allah membukakan mata hati anda, sebagaimana Allah bukakan mata hati imam ghazali di akhir hidupnya,.. rujuk kepada pemahaman para sahabat, meninggalkan pemahaman filsafatnya,

  4. hey monyet kamu jangan bisa menyalahkan ulama,kamu becus tidak membuat/mengarang kitab kamu bisanya ngomong doang,kalau mau komentar hadapi ulama-ulama nu,

    terimakasih mas sastro,. sudah komentar disini,.
    lha moso monyet bisa bikin blog, yang bener aja toh mas,..mas,.

    • Semoga Allah SWT memberi kesembuhan atas tidak warasnya sastro miarji, kasihan dia..

      sabar mas,.. kita doakan, mudah2an Allah berikan hidayah taufik

  5. mas sastro..mas sastro…
    anda itu lucu..
    masa orang dibilang monyet…hihihi…
    klu coment atau membantah itu mbok yao pake’ dalil juga…
    biar pembaca itu tahu…
    klu seperti ini anda itu nggak pinter..
    mau jk anda dikatakan monyet juga..klu nggak bisa coment dg santun lbh baik diam…
    justru bertanyalah jk anda tdk atau kurang tahu..

    biarin lah mas denny,. mudah2an saja mas sastro bisa mengambil manfaat dari blog ini, wajar saja mas sastro berkata begitu, karna mungkin belum siap menerima,

  6. wah wah, belajarnya cuman setengah” si,,,…

    Beraninya menyalahkan kitab ihya.
    Haduuuuhhhhh,,,,

    qm itu pantesnya blajar nahwu sorof dulu deh, di pahami.
    #wakwaw

    terimakasih alqusyairi, sudah komentar disini,.
    Mungkin karena anda belajar nahwu sharaf, tapi ga belajar akidah yang benar, jadinya kayak gitu,.
    belajar akidah yang bener gih,,.

  7. Mas Admin, trima kasih atas infonya, terutama bagi saya yg masih belajar Islam. Tapi saya juga belajarnya melalui Internet, Rodja TV, ulama sunnah di youtube (saya ganti http://www.yufit.tv) dan buku-buku Sunnah. Nah itulah yg saya mau tanyakan, yaitu buku-buku apa yg aman di baca utk org seperti saya, tolong di kasih tau judul buku / kitabnya (terjemahan) dan sekaligus nama penerbit yg sesuai sunnah.

    Misalnya, saya sdh punya buku Hadits Arbain yg ada syarah dari Syekh Bin Baz terbitan Ummul Qura, terus rencana saya mau beli buku tentang Akidah, Akhlak dan Tafsir Qur’an Ibnu Katsir. Tolong ya mas, saya di kasih tau, saya tunggu. Krn di tempat saya gak ada kajian spt di Rodja TV. Terima kasih.

    Terimakasih mas pandu, di kota manakah anda tinggal?

      • awwaluddin ma’rifatullah,,,pertama dalam beragama mengenal Allah
        man arrofa nafsahu faqad arrofa rabbahu,,,,,,,siapa yg mengenal akan dirinya maka dia akan mengenal tuhannya
        al insanu sirri wa ana sirruhu,,,,,manusia itu rahasiaKU dan AKU rahasianya

        “untukmu agamamu untukku agamaku”
        dilarang saling menghujat apalagi mengkafirkan karna itu bisa berbalik ke diri sendiri
        la hawla wala quwwata illa billah,,,,,tiada daya dan upaya diri ini (kekuatan/kuasa) kecuali karna (kekuatan/kuasa) Allah yg maha agung

        saya tanya,.. terutama kalimat terakhir yang anda nukil dari surat alkaafiruun,. apakah anda tahu maknanya???
        Kepada siapa kalimat tersebut ditujukan???
        Itu adalah kalimat agung,. ayat Allah,.

        Kalimat untukmu agamamu, untukku agamaku, atau dalam surat alkaafiruun itu adalah LAKUM DIINUKUM WALIYADIIN,. ini adalah ayat untuk orang KAFIR, bukan ditujukan kepada sesama muslim,.
        anda mengatakan dilarang saling menghujat apalagi mengakfirkan, kok anda malah membawakan ayat yang ditujukan untuk orang kafir lalu anda tujukan kepada saya??? sadarkah anda??? anda sedang mengkafirkan saya,.

        makanya mba,.. baca dong alquran dan tafsirnya, jangan cuma baca terjemahannya saja,. sehingga anda sadar apa yang anda ucapkan,.

        saya sering minta bukti dimana saya mengakafirkan sesama muslim, tidak ada yang bisa membawakan buktinya, tapi kalau anda membawakan dalil utk orang kafir, lalu ditujukan ke sesama muslim,. komentar anda sebagai buktinya,

  8. kitab ihya ulumuddin “Subhanallah” kitab yg paling di takuti oleh kaum WAHABISME karna bertentangan dengan pemahaman nya……..

    Kata siapa mba? lha wong pengarang kitab tersebut juga di akhir hidupnya rujuk kepada pemahaman para sahabat, beliau sedang mempelajari shahih bukhari,.

  9. semoga engkau mendapat hidayah saudaraku,,, ulama sekalibur imam ghozali tidak akan pernah ada mulai hadza zaman ila yaumil qiyamah.. sadarlah,, wallahu a’lam.

    Mudah-mudahan saya ditetapkan di atas hidayah taufik, di atas alquran dan sunnah, mudah-mudahan anda dan pembaca juga,.
    Sebagaimana Allah berikan hidayah kepada Imam ghazali,sehingga beliau rujuk kepada pemahaman salafus shalih,.
    Imam ghazali di akhir hidupnya sedang belajar shahih bukhari,. dan betapa banyak ulama ahlusunnah yang ilmunya jauuh diatas imam ghazali,.
    Imam ghazali sendiri mengakui kalau dirinya kurang memahami hadits, sehingga di kitab ihya ulumudin banyak hadits lemah dan palsu,

    Silahkan baca buku takhrij ihya ulumudin yang disusun oleh ulama, syaikh al iraqi,.

  10. Assalaamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh.

    Jazakallahu khair atas artikel yang sangat ilmiah ini.
    Sudi kiranya jika ada waktu admin menulis biografi singkat Al-Ghazali sehingga terang bagi orang-orang yang salah mengambil faedah dari beliau.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh.

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    terimakasih ryan, sudah saya posting tentang biografi Imam ghazali, silahkan baca disini

  11. kenapa kita harus rbut menjelekan orang lain,kalau memang ada sisi jeleknya,ya jangan diikuti…

    tapi,kalau ada sesuatu yang baik dari beliu Imam al Gazali,kenapa harus kita tolak….

    mestinya kita ikuti.jangankan dari beliu Hujatul Islam,seandainya ada sesuatu kebaikan yang keluar dari mulut anak kecil,maka kita ambil…apalagi beliau Hujatul Islam.

    sudahlah kita umat islam banyak musuhnya,jangan bertengkar sesama islam.(sungguh binasalah bagi pengumpat dan pencela)

    Adz Dzahabi berkata,

    “Orang ini (Al Ghazali) menulis kitab dalam mencela filsafat, yaitu kitab At Tahafut.

    Dia membongkar kejelekan mereka, akan tetapi dalam beberapa hal menyetujuinya, dengan prasangka hal itu benar dan sesuai dengan agama.

    Beliau tidaklah memiliki ilmu tentang atsar dan beliau bukanlah pakar dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat mengarahkan akal.

    Beliau senang membedah dan meneliti kitab Ikhwanush Shafa.
    Kitab ini merupakan penyakit berbahaya dan racun yang mematikan.
    Kalaulah Abu Hamid bukan seorang yang jenius dan orang yang mukhlis, niscaya dia telah binasa.” (Siyar A’lam Nubala 19/328).

    Ini akhir kehidupan Imam Ghazali,
    Masa Akhir Kehidupannya
    Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Berkata Imam Adz Dzahabi,

    “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat.

    Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”

    Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya);

    Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata,
    “Bawa kemari kain kafan saya.”

    Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata,
    “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.”

    Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari). (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/201).

    Baca biografi Imam Ghazali di sini

  12. Mau meluruskan min. Kebanyakan yang membela karena cuma nderek kyai.

    AGAMA ini milik ALLAH saudara baca surat al-baqoroh ayat 2.

    Mau sampean kyai sampean belajar nahwu.

    Sahabat saja yang bahasa arabnya fasih butuh penjelasan rossul untuk mentadaburi ayat.

    Apakah bisa bahasa arab saja cukup. Kamu harus hafal hadits azbabul nuzul. Rijalul hadits biar tau derajat hadits.

    Jadi kalo belum tau derajat hadits gak usah dibelain saudara kamu tau efeknya apabila itu hadits yang mungkar kamu bela perhatikan hadits ini :

    Dari Abi
    Hadits shahih dikelua
    Artinya :

    Dari Abi Hurairah, ia berkata. Telah bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam,

    ”Barangsiapa yang membuat-buat perkataan atas (nama) ku yang (sama sekali) tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”.
    Dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/36) dan Muslim (1/8) dll.

    Dari Abu Hurairah, ia berkata. Telah bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam

    ”Barang siapa yang berdusta atasku (yakni atas namaku) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya (yakni tempat tinggalnya) di neraka”.Artinya :

    ”Man kadzaba a’laiya muta’ammidan palyatabawwa maq’adahu minannaar”.

    Mohon untuk yang membela ghozali jangan taklid disini admin dan saya cuma mengingatkan dan memurnikan pemahaman beragama.

    Sebaik2 pemahaman addalah para sahabat, tabiin tabiut tabiin.

    Jazakumullahu khairan

  13. Ngapunten, Saya mau tanya siapa ini yah? Dimana tempat tinggalnya? Bagaimana perilakunya? Dan satu lagi, Sudah seberapa ‘tinggikah’ anda? hingga sampai berani mengkritik seorang Imam Al Ghozali.
    Ingatkah hadits ini? Sebaik2 manusia adalah sahabatku kemudian tabiin kemudian tabiat tabiin…
    Anda hidup dizaman kapan?
    Maaf dengan sangat sekali lg, Sungguh saya sngt marah. Dimana kita diperintahkan menutup aib saudara kita, bukan mengorek2 & mencela. Apalagi ini seorang ulama dan pendahulu kita, adakah anda punya adab/akhlak? Padahal tugas utama nabi adl meluruskan akhlakny. Sungguh anda tidak mencerminkan mubaligh. Allahumaghfirlana…

    Ngapunten, sepertinya anda cuma baca judulnya saja, sehingga kesimpulannya menjadi seperti orang gagal paham,

    Ini lho saya nukilkan dari muridnya Imam Ghazali sendiri, ada di postingan tersebut, ada juga ulama2 lain yang sezaman dengan Imam ghazali yang mengkritik akidah imam ghazali,

    Ibnul ‘Arabi, murid Al-Ghazali mengatakan: “Guru kami Abu Hamid telah masuk dalam cengkeraman ilmu filsafat, dan beliau ingin melepaskannya namun tidak berhasil.” [4]

    Read more https://aslibumiayu.net/7388-kitab-ihya-ulumudin-ada-apa-dengan-kitab-tersebut.html

    Imam ghazali sendiri di akhir hidupnya BERTAUBAT dari pemikirannya yang menyimpang, silahkan baca postingannya di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*