Apakah Arti ISTIWA? Banyak Yang Salah Faham Dalam Memahami Makna Istiwa | Istiwa

Apakah Arti ISTIWA? Banyak Yang Salah Faham Dalam Memahami Makna Istiwa

Istiwa Arti Istiwa Istiwa Apa Itu Istiwa Istiwak

syubhat tentang istiwanya AllahMenjawab Beberapa Syubhat Seputar Sifat Istiwa

Allah Ta’ala memiliki sifat Al ‘Uluw yaitu Maha Tinggi, dan dengan ke-Maha Tinggi-an-Nya Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy. Istiwa artinya ‘alaa was taqarra, tinggi dan menetap. Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy artinya Allah Maha Tinggi menetap di atas ‘Arsy. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Ar Rahman (Allah) ber-istiwa di atas ‘Arsy” (QS. Thaha: 5).

Pembahasan serta dalil-dalil lengkap mengenai masalah ini silakan simak artikel Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy.

Namun aqidah ini diingkari oleh sebagian orang. Mereka mengingkari bahwa Allah memiliki sifat Al ‘Uluw Maha Tinggi dan mereka juga mengingkari bahwa Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy. Mereka mendasari keyakinannya tersebut dengan beberapa alasan, diantaranya:

Syubhat 1

Mereka mengatakan bahwa makna istiwa itu adalah istaula (menguasai), sebagaimana dalam sya’ir:

قَدْ اسْتَوَى بِشْرٌ عَلَى الْعِرَقِ    مِنْ غَيْرِ سَيْفٍ أَوْ دَمٍ مِهْرَاقِ

Bisyr menguasai Irak

Tanpa menggunakan pedang atau menumpahkan darah

Kata بِشْرٌ di sini maksudnya Bisyr bin Marwan, orang yang pernah menjadi penguasa Irak. Sehingga makna اسْتَوَى di sini maksudnya menguasai Irak. Mereka mengatakan: “lihat, ini sya’ir arab. Dan mustahil makna istiwa di sini artinya Bisyr berada di atas Irak, atau berada di tempat tinggi tepat di atas Irak. Lebih lagi ketika itu belum ada pesawat terbang yang memungkinkan seseorang berada di atas Irak. Dengan demikian dalam bahasa arab sudah dikenal bahwa istiwa itu terkadang maknanya istaula (menguasai)”.

Syubhat 2

Mereka mengatakan bahwa jika kita tetapkan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy, konsekuensinya berarti Allah itu butuh terhadap ‘Arsy. Dan sangat mustahil Allah itu butuh terhadap makhluk, dengan demikian mustahil pula Allah berada di atas ‘Arsy.

Syubhat 3

Mereka mengatakan bahwa jika kita tetapkan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy, konsekuensinya berarti Allah itu berupa jism (badan). Karena istiwa itu artinya sesuatu berada di atas sesuatu. Selain itu, konsekuensi lainnya, berarti Allah juga mahduud, yaitu terbatas oleh ruang dan waktu. Karena sesuatu yang berada di atas sesuatu berarti ia dibatasi oleh batas-batas ruang. Misalnya anda duduk di atas kursi, maka berada dalam batas ruang kursi tersebut.

Jawaban Syubhat

Bantahan terhadap syubhat-syubhat ini dirinci dalam beberapa poin:

Pertama: Penafsiran lafadz istiwa dengan istaula adalah penafsiran yang bertentangan dengan penafsiran para salaf, yaitu sahabat Nabi, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Mereka bersepakat bahwa istiwa ditafsirkan sebagaimana makna zhahirnya. Tidak ada satu pun riwayat shahih yang dinukil dari mereka bahwa mereka menafsirkan istiwa dengan istaula atau pun makna lain yang bertentangan dengan makna zhahir (makna lugas).

Kedua: Penafsiran lafadz istiwa dengan istaula adalah penafsiran yang bertentangan makna zhahir (makna lugas) dari lafadz. Kata istiwaاسْتَوَى jika diikuti dengan على maka artinya adalah al ‘uluw wal istiqrar (tinggi dan menetap). Inilah makna lugas dari istiwa. Dan makna inilah yang dipakai dalam Al Qur’an ketika disebut kata istiwa juga dipakai dalam kebiasaan orang Arab.

Ketiga: Penafsiran yang demikian menimbulkan beberapa konsekuensi yang batil, diantaranya:

  1. Allah Ta’ala ketika menciptakan langit dan bumi, Ia tidak menguasai ‘Arsy. Karena Allah Ta’ala berfirman:

    خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

    Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy” (QS. Al A’raf: 54).
    Kata ثُمَّ dalam ayat ini memiliki makna urutan. Yaitu setelah Allah selesai menciptakan langit dan bumi, Ia ber-istiwa di atas ‘Arsy. Jika istiwa maknanya istaula (menguasai), maka berarti Allah baru menguasai ‘Arsy setelah selesai menciptakan langit dan bumi. Sebelum itu, Allah belum menguasainya.

  2. Secara umum, dalam konteks kalimat bahasa Arab, kata istaula (menguasai) tidak digunakan kecuali setelah sebelumnya dikalahkan. Jadi, sebelumnya dikalahkan, lalu mencoba menguasai, lalu akhirnya istaula (menguasai). Dengan demikian seakan-akan artinya Allah sebelumnya dikalahkan, lalu baru Ia istaula.
  3. Boleh kita mengatakan bahwa Allah itu

    اسْتَوَى عَلَى الْشَجَرِ

    “Allah ber-istiwa di atas pohon”

    اسْتَوَى عَلَى الْجَبَالِ

    “Allah ber-istiwa di atas gunung”

    اسْتَوَى عَلَى الْحِمَارِ

    “Allah ber-istiwa di atas keledai”, dan semacamnya.
    atau semacamnya. Karena tentu saja Allah menguasai semua makhluk tersebut

Demikian beberapa konsekuensi batil jika kita memaknai istiwa dengan istaula.

Keempat: adapun pendalilan mereka dengan bait syair yang disebutkan di atas, kita jawab dengan beberapa poin:

  1. Silakan jabarkan kepada kami sanad dari bait tersebut, apakah perawinya shahih atau tidak? Tentu mereka tidak bisa melakukannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “tidak ada keterangan yang valid bahwa syair tersebut adalah syair yang dikenal orang Arab. Selain itu, lebih dari satu orang imam dalam ilmu lughah, telah mengingkari syair ini. Mereka mengatakan: ‘ini syair yang dibuat-buat yang tidak dikenal dalam bahasa Arab‘. Dan telah kita ketahui bersama bahwa jika seseorang berdalil dengan hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam maka kita perlu mengecek keshahihannya. Maka bagaimana lagi dengan bait syair yang tidak diketahui sanadnya dan telah dicela oleh para imam ahli lughah?” (Majmu’ Fatawa, 5/146).
  2. Siapa yang mengucapkan syair ini? Bukankah ada kemungkinan syair ini baru dibuat orang setelah bahasa Arab terkontaminasi? Setiap perkataan yang dijadikan dalil dalam masalah lughah namun itu dikatakan setelah bahasa Arab terkontaminasi, maka itu bukan dalil. Karena bahasa Arab mulai terkontaminasi sejak dibukanya negeri-negeri Arab bagi para pendatang dari luar sehingga orang ajam (non Arab) masuk lalu lisan orang Arab pun tercampuri.

  3. Andaikan bait tersebut shahih sebagai bait yang diucapkan orang Arab. Maka menafsirkan kalimat اسْتَوَى بِشْرٌ عَلَى الْعِرَقِ dengan memaknai istiwa di sini sebagai istaula, adalah penafsiran yang bertentangan dengan qarinah. Karena masih bisa dibenarkan jika kita maknai istiwa ini sebagaimana makna aslinya, yaitu kita maknai bahwa Bisyr berada di tempat tinggi di Iraq kemudian ia berada di atas ranjang atau di atas kuda atau lainnya. Sehingga kita tidak perlu memaknainya dengan istaula.

Kelima: Mengenai syubhat bahwa jika kita tafsirkan istiwa sebagaimana makna sebenarnya, maka konsekuensinya berarti Allah memiliki jism (badan), dan ini mustahil. Maka kita perlu tanyakan kepada mereka apa yang kalian maksud bahwa Allah mustahil memiliki jism (badan) ? Karena jism ini bukanlah sifat Allah, sebab penyebutan sifat ini untuk Allah tidak terdapat dalam Al Qur’an atau hadits. Sehingga lafadz jism untuk Allah, tidak kita tetapkan dan juga tidak kita ingkari. Maka penilaian kita tergantung apa yang mereka maksud dari lafadz jism itu sendiri.

Jika yang mereka maksud “Allah mustahil memiliki jism (badan)” adalah: Allah bukanlah Dzat yang hakiki dan Allah tidak memiliki sifat-sifat, maka ini pernyataan batil, bertentangan dengan banyak ayat Al Qur’an dan haditshadits Nabi. Karena Allah itu ada, Ia adalah Dzat yang hakiki dan Ia memiliki sifat-sifat yang layak bagi-Nya. Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui, demikian juga Ia memiliki tangan, memiliki wajah, memiliki mata, dan sifat-sifat lainnya yang layak bagi-Nya dan berbeda dengan makluk-Nya yang ini semua dinyatakan oleh Allah sendiri atau dikabarkan melalui sabda Nabi-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam.

Adapun jika yang mereka maksud jism (badan) adalah badan yang tersusun atas daging, tulang, darah, jantung, paru-paru, dan lainnya sebagaimana badan manusia, maka ini tentu mustahil bagi Allah karena Allah tidak serupa dengan hamba-Nya.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Dan jika kita menetapkan bahwa Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy, sama sekali tidak berkonsekuensi bahwa Allah memiliki jism (badan) yang demikian.

Keenam: Mengenai syubhat bahwa jika kita menetapkan Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy, maka berarti Allah ada dalam suatu hadd (batas) ruang. Maka kita jawab sebagaimana pada poin kelima, apa yang kalian maksud dengan hadd (batas) dalam hal ini? Karena jika yang dimaksud adalah bahwa Allah itu memiliki batas perbedaan yang jelas dengan makhluk-Nya, dan segala sesuatu yang selain Allah adalah makhluk, maka ini benar.

Namun jika yang dimaksud hadd (batas) adalah bahwa ‘Arsy melingkupi Allah, ‘Arsy lebih besar dari-Nya, maka ini batil. Juga bukan merupakan konsekuensi dari penetapan istiwa Allah. Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy walaupun Allah lebih besar dari ‘Arsy, karena ia Maha Besar.

وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ

bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya” (QS. Az Zumar: 67)

Ketujuh: Mengenai syubhat bahwa jika kita menetapkan Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy, artinya Allah butuh kepada ‘Arsy. Tentu tidak demikian. Kita jawab syubhat ini dalam beberapa poin:

  1. Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy bukanlah maknanya Allah diangkat dan dibawa oleh ‘Arsy. Allah berada di atas ‘Arsy namun tidak berarti Allah diangkat dan dibawa oleh ‘Arsy sehingga Allah butuh kepada ‘Arsy.

  2. Allah itu Al Ghaniy dan tidak butuh kepada ‘Arsy, justru ‘Arsy yang butuh kepada Allah. Karena semua makhluk itu butuh kepada Allah agar ia tetap eksis, termasuk juga ‘Arsy.

    إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

    Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (QS. Fathir: 41)

  3. Menetapnya A di atas B, tidak melazimkan bahwa A pasti butuh pada B. Buktinya langit ada di atas bumi, namun langit tidak butuh pada bumi. Padahal langit dan bumi adalah makhluk Allah. Maka bagaimana lagi perkaranya pada Allah ‘Azza Wajalla yang qaadirun ‘ala kulli syai, Maha Kuasa atas segala sesuatu, Allah yaf’alu maa yuriid, Maha Kuasa untuk melakukan apa yang Ia kehendaki? Maka lebih mungkin lagi bahwa Allah istiwa di atas ‘Arsy tanpa butuh kepada ‘Arsy.
  4. Istiwa Allah tentu tidak serupa dengan istiwa makhluk. Jangan dibayangkan bahwa Allah Ta’ala menetap di atas ‘Arsy dalam keadaan duduk, atau berbaring, atau bersila, atau semacamnya sebagaimana jika makhluk ber-istiwa di atas sesuatu. Demikian juga, keumuman makhluk Allah, jika ber-istiwa di atas sesuatu benda maka ia butuh kepada benda tersebut. Sebagaimana jika manusia duduk di atas kursi, ia butuh kepada kursi. Dan jika kursi diambil maka seketika ia terjatuh. Adapun Allah, tentu tidak demikian. Allah tidak butuh kepada ‘Arsy, istiwa Allah tentu tidak serupa dengan istiwa makhluk

    لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

    Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Demikian jawaban beberapa kerancuan yang didengungkan sebagian orang untuk menolak sifat istiwa bagi Allah. Maka, jika ditanya dimanakah Allah? Jawabnya: Allah Ta’ala Maha Tinggi Ia ber-istiwa di atas ‘Arsy. Inilah aqidah yang diyakini oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, para sahabat, para ulama ahlus sunnah wal jama’ah sejak dahulu hingga sekarang. Wallahu’alam.

[Disadur dari kitab Syarah Al Aqidah Al Washithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin hal 242-246, cetakan Dar Ibnu Jauzi. Dengan beberapa tambahan dari Ta’liqat Mukhtasharah ‘ala Matni Al Aqidah Ath Thahawiyyah Syaikh Shalih Fauzan bin Fauzan]

Penulis: Yulian Purnama

Muraja’ah: Ustadz Aris Munandar, S.s., M.Pi.

Artikel Muslim.Or.Id

Dari artikel ‘Menjawab Beberapa Syubhat Seputar Sifat Istiwa — Muslim.Or.Id

Makna Istiwa Kapan Waktu Istiwa Kata Istiwa Pengertian Istawa Pengertian Istiwa

Arsip Artikel

6 Comments on Apakah Arti ISTIWA? Banyak Yang Salah Faham Dalam Memahami Makna Istiwa

  1. Bagaimana cara ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami masalah asma wa sifat atau yang sering di sebut dengan ayat-ayat dan hadit-haditst sifat? Ayat-ayat sifat disini adalah ayat Alquran atau Hadits Nabi yang menyebutkan tentang anggota tubuh seperti mata ,tangan,naik turun yang di sandarkan kepada Allah dll yang jika salah dalam memahamimya seseorang bisa masuk dalam kesesatan aqidah mujassimah (yang megatakan bahwa Allah SWT mempunyai aggota badan yang menyerupai dengan hambanya).Atau akan terjerumus dalam ta’thil (yang menolak sifat-sifat Allah SWT ).Begitu penting dan bahaya permasalahan ini maka ulama benar-benar telah membahasnya dengan detail dan rinci agar ummat ini tidak salah dalam memahami ayat –ayat dan hadits-hadits sifat .

    Ada dua cara yang di ambil oleh ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami ayat-ayat sifat ini :

    Pertama adalah Tafwidh, maksudnuya menyerahkan pemahaman makna tersebut kepada Allah SWT karena khawatir jika di fahami sesuai dhohir lafaznya akan merusak aqidah. Misanya disaat Allah menyebut tangan yang di nisbatkan kepada Allah, maka maknanya tidak di bahas akan tetapi dilalui dan diserahkan kepada Allah SWT. Ibnu Katsir rah adalah salah satu ulama yang menggunakan methode ini.

    Kedua adalah dengan cara mentakwili ayat tersebut dengan makna yang ada melalaui dalil lain. Seperti tangan Allah di artikan dengan kekuasaan Allah yang memang makna kekuasaan itu sendiri di tetapkan dengan dalil yang pasti dari Alquran dan hadits.

    Perhatian

    1-Dua cara ini yakni attafwidh dan attakwil adalah cara yang di ambil oleh ulama salaf dan kholaf,sungguh tidak benar jika tafwidh adalah metode yang di ambil oleh ulama salaf dan ta’wil adalah yang di ambil oleh ulama kholaf saja.

    2-Ada sekelompok orang di akhir zaman ini menfitnah para ulama terdahulu (salaf) dan menyebut mereka sebagai ahli bidah dan sesat karena telah mentakwili ayat-ayat sifat ini.maka kelompok yang membid’ahkan ulama terdahulu karena takwil ,sungguh mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti bagaimana mentakwil dan mereka juga tidak kenal dengan benar dengan ulama terdahulu karena banyak riwayat ta’wil yang datang dari para salaf..

    3-Ada sekelompok orang yang menyebut diri mereka sebagai ahli tafwid akan tetapi telah terjerumus dalam kesesatan takwil yang tidak mereka sadari.misalnya disaat mereka mengatakan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy ,mereka mengatakan tidak boleh ayat tentang keberadaan Allah di ‘Arsy ini di ta’wili.akan tetapi dengan tidak di sadari mereka menjelaskan keberadan Allah di Arsy dengan penjelasan bahwa Arsy adalah makhluq terbesar (seperti bola dan semua makhluk yang lain di dalamnya.kemudian mereka mengatakan dan Allah swt berada di atas Arsy yang besar itu di tempat yang namanya makan ‘adami (tempat yang tidak ada).Lihat dari mana mereka mengatakan ini semua. Itu adalah takwil fasid dan ba’id (takwil salah mereka yang jauh dari kebenaran)

    Adapun ulama ahli kebenaran, ayat tentang Allah dan Arsy,para ahli tafwidh menyerahkan pemahaman maknanya kepada Allah swt,adapun ahli ta’wil mengatakan Alah menguasai Arsy dan tidaklah salah karena memang Allah Dzat yang Maha Kuasa terhadap makhluk terbesar Arsy, sebab memang Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.
    Wallahu a’lam bishshowab
    A. Tafsir Ayat Mutasyabihat ISTIWA
    I. Tafsir Makna istiwa Menurut Kitab Tafsir Mu’tabar
    lihat dalam tafsir berikut :

    1. Tafsir Ibnu Katsir menolak makna dhahir (lihat surat al -A’raf ayat 54, jilid 2 halaman 295)

    Terjemahannya (lihat bagian yang di line merah) :
    {kemudian beristiwa’ kepada arsy} maka manusia pada bagian ini banyak sekali perbedaan pendapat , tidak ada yang memerincikan makna (membuka/menjelaskannya) (lafadz istiwa) dan sesungguhnya kami menempuh dalam bagian ini seperti apa yang dilakukan salafushalih, Imam Malik, Imam Auza’i dan Imam Atsuri, Allaits bin Sa’ad dan Syafi’i dan Ahmad dan Ishaq bin Rawahaih dan selainnya dan ulama-ulama Islam masa lalu dan masa sekarang. Dan lafadz (istawa) tidak ada yang memerincikan maknanya seperti yang datang tanpa takyif (memerincikan bagaimananya) dan tanpa tasybih (penyerupaan dgn makhluq) dan tanpa ta’thil(menafikan) dan (memaknai lafadz istiwa dengan) makna dhahir yang difahami (menjerumuskan) kepada pemahaman golongan musyabih yang menafikan dari (sifat Allah) yaitu Allah tidak serupa dengan makhluqNya…”
    Wahai mujasimmah wahhaby!!
    Lihatlah Ibnu Katsir melarang memaknai ayat mutasyabihat dengan makana dhohir karena itu adalah pemahaman mujasimmah musyabihah!
    Bertaubatlah dari memaknai semua ayat mutasyabihat dengan makna dhahir!!
    Kemudian Ibnu Katsir melanjutkan lagi :
    “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [al-Syura: 11]. Bahkan perkaranya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh para imam, diantaranya Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia berkata: “Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, ia telah kafir, dan siapa yang mengingkari apa yang Allah mensifati diri-Nya, maka ia kafir, dan bukanlah termasuk tasybih (penyerupaan) orang yang menetapkan bagi Allah Ta’ala apa yang Dia mensifati diri-Nya dan Rasul-Nya dari apa yang telah datang dengannya ayat-ayat yang sharih (jelas/ayat muhkamat) dan berita-berita (hadits) yang shahih dengan (pengertian) sesuai dengan keagungan Allah dan menafikan dari Allah sifat-sifat yang kurang; berarti ia telah menempuh hidayah.”
    Inilah selengkapnya dari penjelasan Ibnu Katsir.Berdasarkan penjelasan Ibnu Katsir :
    – Ayat mutasyabihat harus di tafsir dengan ayat syarif (ayat muhkamat) atau ayat yang jelas maknanya/Bukan ayat mutasyabihat!! Tidak seperti wahhaby yang menggunakan ayat mutasyabihat utk mentafsir ayat mutasyabihat yang lain!!!! ini adalah kesesatan yang nyata!
    – Ibnu Katsir mengakui ayat ‘Istiwa’ adalah ayat mutasyabihat yang tidak boleh memegang makna dhahir dari ayat mutasyabihat tapi mengartikannya dengan ayat dan hadis yang – jadi Ibnu Katsir tidak memperincikan maknanya tapi juga tidak mengambil makna dhahir ayat tersebut.
    – Disitu Imam Ibnu Katsir, Imam Bukhari dan Imam ahlu Sunnah lainnya tidak melarang ta’wil.
    “…dan selain mereka dari para Imam kaum muslimin yang terdahulu maupun kemudian, yakni membiarkan (lafadz)nya seperti apa yang telah datang (maksudnya tanpa memperincikan maknanya) tanpa takyif (bagaimana, gambaran), tanpa tasybih (penyerupaan), dan tanpa ta’thil (menafikan)….”
    sedangkan wahaby melarang melakukan takwil!
    2. Sekarang akan disebutkan sebahagian penafsiran lafaz istawa dalam surah ar Ra’d:
    1- Tafsir al Qurtubi
    (ثم استوى على العرش ) dengan makna penjagaan dan penguasaan
    2- Tafsir al-Jalalain
    (ثم استوى على العرش ) istiwa yang layak bagi Nya
    3- Tafsir an-Nasafi Maknanya:
    makna ( ثم استوى على العرش) adalah menguasai Ini adalah sebahagian dari tafsiran , tetapi banyak lagi tafsiran-tafsiran ulamak Ahlu Sunnah yang lain…
    4- Tafsir Ibnu Kathir , Darussalam -Riyadh, Jilid 2 , halaman 657, surat Ara’ad ayat 2):
    (ثم استوى على العرش ) telah dijelaskan maknanya sepertimana pada tafsirnya surah al A’raf, sesungguhnya ia ditafsirkan sebagaimana lafadznya yang datang (tanpa memerincikan maknanya) tanpa kaifiat (bentuk) dan penyamaan, tanpa permisalan, Maha Tinggi
    Disini Ibnu Katsir menggunakan ta’wil ijtimalliy iaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna dzahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya.

    II. Makna istiwa yang dikenal dalam bahasa Arab dan dalam kitab-kitab Ulama salaf
    Di dalam kamus-kamus Arab yang ditulis oleh ulama’ Ahlu Sunnah telah menjelaskan istiwa datang dengan banyak makna, diantaranya:
    1-masak (boleh di makan) contoh:
    قد استوى الطعام—–قد استوى التفاح maknanya: makanan telah masak—buah apel telah masak
    2- التمام: sempurna, lengkap
    3- الاعتدال : lurus
    4- جلس: duduk / bersemayam,
    contoh: – استوى الطالب على الكرسي : pelajar duduk atas kursi -استوى الملك على السرير : raja bersemayam di atas tempat tidur
    5- استولى : menguasai,
    contoh: قد استوى بشر على العراق من غير سيف ودم مهراق
    Maknanya: Bisyr telah menguasai Iraq, tanpa menggunakan pedang dan penumpahan darah.
    Al Hafiz Abu Bakar bin Arabi telah menjelaskan istiwa mempunyai hampir 15 makna, diantaranya: tetap,sempurna lurus menguasai, tinggi dan lain-lain lagi, dan banyak lagi maknannya. Silahkan merujuk Qamus Misbahul Munir, Mukhtar al-Sihah, Lisanul Arab, Mukjam al-Buldan, dan banyak lagi. Yang menjadi masalahnya, kenapa si penulis memilih makna bersemayam. Adakah makna bersemayam itu layak bagi Allah?, Apakah dia tidak tahu bersemayam itu adalah sifat makhluk? Adakah si penulis ini tidak mengatahui bahawa siapa yang menyamakan Allah dengan salah satu sifat daripada sifat makhluk maka dia telah kafir?
    Sepertimana kata salah seorang ulama’ Salaf Imam at Tohawi (wafat 321 hijrah):
    ومن وصف الله بمعنى من معانى البشر فقد كفر
    Maknanya: Barang siapa yang mensifatkan Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia maka dia telah kafir. Kemudian ulama’-ulama’ Ahlu Sunnah telah menafsirkan Istiwa yang terkandung di dalam Al quran dengan makna menguasai Arsy karena Arsy adalah makhluk yang paling besar, oleh itu ia disebutkan dalam al Quran untuk menunjukkan kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala sepertimana kata-kata Syaidina Ali yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Mansur al-Tamimi dalam kitabnya At-Tabsiroh:
    ان الله تعالى خلق العرش اظهارا لقدرته ولم يتخذه مكان لذاته
    Maknanya: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mencipta al-Arasy untuk menzohirkan kekuasaanya, bukannya untuk menjadikan ia tempat bagi Nya.
    ”Allah ada, tanpa tempat dan arah adalah Aqidah Salaf yang lurus”

    III. Hukum Orang yang meyakini Tajsim; bahwa Allah adalah Benda

    *Bersemayam yang berarti duduk adalah sifat yang tidak layak bagi Allah dan Allah tidak pernah menyatakan demikian, begitu juga NabiNya. Az-Zahabi adalah Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Uthman bin Qaymaz bin Abdullah ( 673-748H ). Pengarang kitab Siyar An-Nubala’ dan kitab-kitab lain termasuk Al-Kabair.Az-Zahabi mengkafirkan akidah Allah duduk sepertimana yang telah dinyatakan olehnya sendiri di dalam kitabnya berjudul Kitab Al-Kabair. Demikian teks Az-Zahabi kafirkan akidah “ Allah Bersemayam/Duduk” :Nama kitab: Al-Kabair.
    Pengarang: Al-Hafiz Az-Zahabi.
    Cetakan: Muassasah Al-Kitab Athaqofah,cetakan pertama 1410H.

    Terjemahan.
    Berkata Al-Hafiz Az-Zahabi:
    “Faidah, perkataan manusia yang dihukum kufur jelas terkeluar dari Islam oleh para ulama adalah: …sekiranya seseorang itu menyatakan: Allah duduk untuk menetap atau katanya Allah berdiri untuk menetap maka dia telah jatuh KAFIR”. Rujuk scan kitab tersebut di atas halaman 142. (Lihat kalimat yang diberi garis bawah merah).
    Syekh Ibn Hajar al Haytami (W. 974 H) dalam al Minhaj al Qawim halaman 64, mengatakan:
    “Ketahuilah bahwasanya al Qarafi dan lainnya meriwayatkan perkataan asy-Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah – semoga Allah meridhai mereka- mengenai pengkafiran mereka terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa Allah di suatu arah dan dia adalah benda, mereka pantas dengan predikat tersebut (kekufuran)”.
    Al Imam Ahmad ibn Hambal –semoga Allah meridhainya mengatakan:
    “Barang siapa yang mengatakan Allah adalah benda, tidak seperti benda-benda maka ia telah kafir” (dinukil oleh Badr ad-Din az-Zarkasyi (W. 794 H), seorang ahli hadits dan fiqh bermadzhab Syafi’i dalam kitab Tasynif al Masami’ dari pengarang kitab al Khishal dari kalangan pengikut madzhab Hanbali dari al Imam Ahmad ibn Hanbal).
    Al Imam Abu al Hasan al Asy’ari dalam karyanya an-Nawadir mengatakan : “Barang siapa yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda maka ia telah kafir, tidak mengetahui Tuhannya”.
    As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, anggota badan, tempat, arah dan semua sifat-sifat makhluk
    Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridhainya- (227-321 H) berkata:
    “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan,kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.
    Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).
    III. Ulamak 4 mazhab tentang Aqidah 1- Imam Abu Hanifah:
    لايشبه شيئا من الأشياء من خلقه ولا يشبهه شيء من خلقه
    Maknanya:: (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun daripada makhlukNya, dan tidak ada sesuatu makhluk pun yang menye rupaiNya.Kitab Fiqh al Akbar, karangan Imam Abu Hanifah, muka surat 1.

    IMAM ABU HANIFAH TOLAK AKIDAH SESAT “ ALLAH BERSEMAYAM/DUDUK/BERTEMPAT ATAS ARASY.
    Demikian dibawah ini teks terjemahan nash Imam Abu Hanifah dalam hal tersebut ( Rujuk kitab asal sepertimana yang telah di scan di atas) :
    Berkata Imam Abu Hanifah:
    “Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’ala ber istiwa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak bertetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arsy dan selain Arsy tanpa memerlukan Arsy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptaArasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”. Tamat terjemahan daripada kenyatan Imam Abu Hanifah dari kitab Wasiat.
    Amat jelas di atas bahawa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam(duduk) Allah di atas Arasy.
    Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadah kembali kepada Islam.
    2-Imam Syafi’i:
    انه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لايجوز عليه التغيير
    Maknanya: sesungguhnya Dia Ta’ala ada (dari Azali) dan tempat belum dicipta lagi, kemudian Allah mencipta tempat dan Dia tetap dengan sifatnnya yang azali itu seperti mana sebelum terciptanya tempat, tidak harus ke atas Allah perubahan. Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin jilid 2 muka surat 23
    3-Imam Ahmad bin Hanbal :
    -استوى كما اخبر لا كما يخطر للبشر
    Maknanya: Dia (Allah) istiwa sepertimana Dia khabarkan (di dalam al Quran), bukannya seperti yang terlintas di fikiran manusia. Dinuqilkan oleh Imam al-Rifae dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, dan juga al-Husoni dalam kitabnya Dafu’ syubh man syabbaha Wa Tamarrad.
    وما اشتهر بين جهلة المنسوبين الى هذا الامام المجتهد من أنه -قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه
    Maknanya: dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini (Ahmad bin Hanbal) bahawa dia ada mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan ke atasnya (Imam Ahmad) Kitab Fatawa Hadisiah karangan Ibn Hajar al- Haitami
    4- Imam Malik :
    الاستواء غير المجهول والكيف غير المعقول والايمان به واجب و السؤال عنه بدعة
    Maknannya: Kalimah istiwa’ tidak majhul (diketahui dalam al quran) dan kaif (bentuk) tidak diterima aqal, dan iman dengannya wajib, dan bertanya tentangnya bid’ah.
    Lihat disini : Imam Malik hanya menulis kata istiwa (لاستواء) bukan memberikan makna dhahir jalasa atau duduk atau bersemayam atau bertempat (istiqrar)…..
    Bersambung ….

    Ulasan yang bertele-tele dan bikin pusing,..itulah akibat mendewakan akal,.
    Memahami sifat Allah kok disamakan dengan memahami sifat makhluk,. itulah kesalahan fatal seperti apa yang anda paparkan,.
    Bahkan ada yang merupakan kedustaan atas nama ulama,..
    Ini saya berikan postingan yang sangat mudah, singkat,simpel,. agar anda paham tentang sifat Allah tersebut, silahkan klik disini

  2. Maka, jika ditanya dimanakah Allah? Jawabnya: Allah Ta’ala Maha Tinggi Ia ber-istiwa di atas ‘Arsy. Inilah aqidah yang diyakini oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, para sahabat, para ulama ahlus sunnah wal jama’ah sejak dahulu hingga sekarang. Wallahu’alam.

    Betul…
    bahkan lucunya, orang yang berkeyakinan Allah ada di mana-mana, kok ikutan ngerayain isra mi’raj,.. itu perjalanan Rasulullah ke atas langit ke tujuh,. ketika menerima perintah tentang wajibnya shalat 5 waktu,.

    Kalau Allah ada di mana-mana, ngapain Rasulullah isra ke atas langit ke tujuh,.

  3. coba wahabbi berani tidak diskusi bareng sama Aswaja…?

    jgn cuma bisa berkoar kaya orang mabok di internt…

    kalo diskusi bareng sama aswaja..

    pada mati kutu..

    mlongo gak pada bisa jawab.

    Mas, kemana saja, emang tinggal di hutan, ga pegang hape, ga punya akses internet?

    Sudah beberapa kali dialog antara ustadz SALAFI dan “ASWAJA”

    Bahkan satu ustadz salafi melawan puluhan ustadz aswaja di jakarta juga pernah terjadi,..

    Sudah saya posting dialog ustadz SALAFI dengan aswaja,
    Silahkan lihat di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*