Mengapa Banyak Yang Memusuhi WAHABI? Ini Rahasianya..

Mengapa Aswaja Membenci Wahabi Nu Benci Wahabi Mengapa Mereka Membenci Wahhabi Mengapa Nu Menyerang Salafy Kenapa Benci Wahabi

Buya Hamka: Mereka Memusuhi Wahabi demi Penguasa Pro Penjajah

jaga dari wahabiOleh: Zulkarnain Khidir
Mahasiswa Universitas Prof. DR. HAMKA, Jakarta

Belakangan ketika isu terorisme kian dihujamkan di jantung pergerakan Ummat Islam agar iklim pergerakan dakwah terkapar lemah tak berdaya.

Nama Wahabi menjadi salah satu faham yang disorot dan kian menjadi bulan-bulanan aksi “tunjuk hidung,” bahkan hal itu dilakukan oleh kalangan ustadz dan kiyai yang berasal dari tubuh Ummat Islam itu sendiri.

Beberapa buku propaganda pun diterbitkan untuk menghantam pergerakan yang dituding Wahabi, di antaranya buku hitam berjudul “Sejarah Berdarah Sekte Salafi-Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.”

Benarkah tudingan tersebut?

Menarik memang menyaksikan fenomena tersebut. Gelagat pembunuhan karakter terhadap dakwah atau personal pengikut Wahabi ini bukan hal baru, melainkan telah lama terjadi.

Hal ini bahkan telah diurai dengan lengkap oleh ulama pejuang dan mantan ketua MUI yang paling karismatik, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang biasa disapa Buya HAMKA.

Siapa tak mengenal Buya HAMKA? Kegigihan, keteguhan dan independensinya sebagai seorang ulama tidak perlu diragukan lagi tentunya.

Dalam buku “Dari Perbendaharaan Lama,” Buya HAMKA dengan gamblang beliau merinci berbagai fitnah terhadap Wahabi di Indonesia sejatinya telah berlangsung berkali-kali.

Sejak Masa Penjajahan hingga beberapa kali Pemilihan Umum yang diselenggarakan pada era Orde Lama, Wahabi seringkali menjadi objek perjuangan yang ditikam fitnah dan diupayakan penghapusan atas eksistensinya.

Mari kita cermati apa yang pernah diungkap Buya Hamka dalam buku tersebut:

“Seketika terjadi Pemilihan Umum , orang telah menyebut-nyebut kembali yang baru lalu, untuk alat kampanye, nama “Wahabi.”

Ada yang mengatakan bahwa Masyumi itu adalah Wahabi, sebab itu jangan pilih orang Masyumi.

Pihak komunis pernah turut-turut pula menyebut-nyebut Wahabi dan mengatakan bahwa Wahabi itu dahulu telah datang ke Sumatera.

Dan orang-orang Sumatera yang memperjuangkan Islam di tanah Jawa ini adalah dari keturunan kaum Wahabi.

Memang sejak abad kedelapan belas, sejak gerakan Wahabi timbul di pusat  tanah Arab, nama Wahabi itu telah menggegerkan dunia. Kerajaan Turki yang sedang berkuasa, takut kepada Wahabi.

Karena Wahabi adalah, permulaan kebangkitan bangsa Arab, sesudah jatuh pamornya, karena serangan bangsa Mongol dan Tartar ke Baghdad. 

Dan Wahabi pun ditakuti oleh bangsa-bangsa penjajah, karena apabila dia masuk ke suatu negeri, dia akan mengembangkan mata penduduknya menentang penjajahan.

Sebab faham Wahabi ialah meneguhkan kembali ajaran Tauhid yang murni, menghapuskan segala sesuatu yang akan membawa kepada syirik.

Sebab itu timbullah perasaan tidak ada tempat takut melainkan Allah. Wahabi adalah menentang keras kepada Jumud, yaitu memahamkan agama dengan membeku. Orang harus kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Ajaran ini telah timbul bersamaan dengan timbulnya kebangkitan revolusi Prancis di Eropa. Dan pada masa itu juga “infiltrasi” dari gerakan ini telah masuk ke tanah Jawa.

Pada tahun 1788 di zaman pemerintahan Paku Buwono IV, yang lebih terkenal dengan gelaran “Sunan Bagus,” beberapa orang penganut faham Wahabi telah datang ke tanah Jawa dan menyiarkan ajarannya di negeri ini.

Bukan saja mereka itu masuk ke Solo dan Yogya, tetapi mereka pun meneruskan juga penyiaran fahamnya di Cirebon, Bantam dan Madura. Mereka mendapat sambutan baik, sebab terang anti penjajahan.

Sunan Bagus sendiri pun tertarik dengan ajaran kaum Wahabi. Pemerintah Belanda mendesak agar orang-orang Wahabi itu diserahkan kepadanya.

Pemerintah Belanda cukup tahu, apakah akibatnya bagi penjajahannya, jika faham Wahabi ini dikenal oleh rakyat.

Padahal ketika itu perjuangan memperkokoh penjajahan belum lagi selesai. Mulanya Sunan tidak mau menyerahkan mereka.

Tetapi mengingat akibat-akibatnya bagi Kerajaan-kerajaan Jawa, maka ahli-ahli kerajaan memberi advis kepada Sunan, supaya orang-orang Wahabi itu diserahkan saja kepada Belanda.

Lantaran desakan itu, maka mereka pun ditangkapi dan diserahkan kepada Belanda. Oleh Belanda orang-orang itu pun diusir kembali ke tanah Arab.

Tetapi di tahun 1801, artinya 12 tahun di belakang, kaum Wahabi datang lagi. Sekarang bukan lagi orang Arab, melainkan anak Indonesia sendiri, yaitu anak Minangkabau. Haji Miskin Pandai Sikat (Agam) Haji Abdurrahman Piabang (Lubuk Limapuluh Koto), dan Haji Mohammad Haris Tuanku Lintau (Luhak Tanah Datar).

Mereka menyiarkan ajaran itu di Luhak Agam (Bukittinggi) dan banyak beroleh murid dan pengikut. Diantara murid mereka ialah Tuanku Nan Renceh Kamang. Tuanku Samik Empat Angkat. Akhirnya gerakan mereka itu meluas dan melebar, sehingga terbentuklah “Kaum Paderi” yang terkenal.

Di antara mereka ialah Tuanku Imam Bonjol. Maka terjadilah “Perang Paderi” yang terkenal itu. Tiga puluh tujuh tahun lamanya mereka melawan penjajahan Belanda.

Bilamana di dalam abad ke delapan belas dan Sembilan belas gerakan Wahabi dapat dipatahkan, pertama orang-orang Wahabi dapat diusir dari Jawa, kedua dapat dikalahkan dengan kekuatan senjata, namun di awal abad kedua puluh mereka muncul lagi!

Di Minangkabau timbullah gerakan yang dinamai “Kaum Muda.” Di Jawa datanglah K.H. A. Dahlan dan Syekh Ahmad Soorkati. K.H.A. Dahlan mendirikan “Muhammadiyah.”

Syekh Ahmad Soorkati dapat membangun semangat baru dalam kalangan orang-orang Arab. Ketika dia mulai datang, orang Arab belum pecah menjadi dua, yaitu Arrabithah Alawiyah dan Al-Irsyad. Bahkan yang mendatangkan Syekh itu ke mari adalah dari kalangan yang kemudiannya membentuk Ar-Rabithah Adawiyah.

Musuhnya dalam kalangan Islam sendiri, pertama ialah Kerajaan Turki. Kedua Kerajaan Syarif di Mekkah, ketiga Kerajaan Mesir. Ulama-ulama pengambil muka mengarang buku-buku buat “mengafirkan” Wahabi.

Bahkan ada di kalangan Ulama itu yang sampai hati mengarang buku mengatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahab pendiri faham ini adalah keturunan Musailamah Al Kazhab!

Pembangunan Wahabi pada umumnya adalah bermazhab Hambali, tetapi faham itu juga dianut oleh pengikut Mazhab Syafi’i, sebagai kaum Wahabi Minangkabau. Dan juga penganut Mazhab Hanafi, sebagai kaum Wahabi di India.

Sekarang “Wahabi” dijadikan alat kembali oleh beberapa golongan tertentu untuk menekan semangat kesadaran Islam yang bukan surut ke belakang di Indonesia ini, melainkan kian maju dan tersiar. Kebanyakan orang Islam yang tidak tahu di waktu ini, yang dibenci bukan lagi pelajaran wahabi, melainkan nama Wahabi.

Ir. Dr. Sukarno dalam “Surat-Surat dari Endeh”nya kelihatan bahwa fahamnya dalam agama Islam adalah banyak mengandung anasir Wahabi.

Kaum komunis Indonesia telah mencoba menimbulkan sentiment Ummat Islam dengan membangkit-bangkit nama Wahabi. Padahal seketika terdengar kemenangan gilang-gemilang yang dicapai oleh Raja Wahabi Ibnu Saud, yang mengusir kekuasaan keluarga Syarif dari Mekkah.

Ummat Islam mengadakan Kongres Besar di Surabaya dan mengetok kawat mengucapkan selamat atas kemenangan itu (1925). Sampai mengutus dua orang pemimpin Islam dari Jawa ke Mekkah, yaitu H.O.S. Cokroaminoto dan K.H. Mas Mansur. Dan Haji Agus Salim datang lagi ke Mekkah tahun 1927.

Karena tahun 1925 dan tahun 1926 itu belum lama, baru lima puluh tahun lebih saja, maka masih banyak orang yang dapat mengenangkan bagaimana pula hebatnya reaksi pada waktu itu, baik dari pemerintah penjajahan, walau dari Ummat Islam sendiri yang ikut benci kepada Wahabi, karena hebatnya propaganda Kerajaan Turki dan Ulama-ulama pengikut Syarif.

Sekarang pemilihan umum yang pertama sudah selesai. Mungkin menyebut-nyebut “Wahabi” dan membusuk-busukkannya ini akan disimpan dahulu untuk pemilihan umum yang akan datang.

Dan mungkin juga propaganda ini masuk ke dalam hati orang, sehingga gambar-gambar “Figur Nasional,” sebagai Tuanku Imam Bonjol dan K.H.A. Dahlan diturunkan dari dinding.

Dan mungkin perkumpulan-perkumpulan yang memang nyata kemasukan faham Wahabi seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis dan lain-lain diminta supaya dibubarkan saja.

Kepada orang-orang yang membangkit-bangkit bahwa pemuka-pemuka Islam dari SUmmatera yang datang memperjuangkan Islam di Tanah Jawa ini adalah penganut atau keturunan kaum Wahabi, kepada mereka orang-orang dari SUmmatera itu mengucapkan banyak-banyak terima kasih! Sebab kepada mereka diberikan kehormatan yang begitu besar!

Sungguh pun demikian, faham Wahabi bukanlah faham yang dipaksakan oleh Muslimin, baik mereka Wahabi atau tidak. Dan masih banyak yang tidak menganut faham ini dalam kalangan Masyumi. Tetapi pokok perjuangan Islam, yaitu hanya takut semata-mata kepada Allah dan anti kepada segala macam penjajahan, termasuk Komunis, adalah anutan dari mereka bersama!”

Dari paparan tersebut, jelaslah bahwa Buya HAMKA berhasil menelisik akar terjadinya fitnah yang dialamatkan kepada Wahabi.

Ini menandakan vonis “Faham Hitam” yang dituduhkan kepada Wahabi pada dasarnya adalah modus lama namun didesain dengan gaya baru yang disesuaikan dengan kepentingan dan arahan yang disetting oleh para Think Tank “Gurita Kolonialisme Abad 21.”

Maka perhatikanlah apa yang pernah diutarakan oleh Buya HAMKA dalam pembahasan Islam dan Majapahit berikut ini:

“Memang, di zaman Jahiliyah kita bermusuhan, kita berdendam, kita tidak bersatu! Islam kemudiannya adalah sebagai penanam pertama dari jiwa persatuan. Dan Kompeni Belanda kembali memakai alat perpecahannya, untuk menguatkan kekuasaannya.”

“Tahukah tuan, bahwasanya tatkala Pangeran Dipenogero, Amirul Mukminin Tanah Jawa telah dapat ditipu dan perangnya dikalahkan, maka Belanda membawa Pangeran Sentot Ali Basyah ke Minangkabau buat mengalahkan Paderi?

Tahukah tuan bahwa setelah Sentot merasa dirinya tertipu, sebab yang diperanginya itu adalah kawan sefahamnya dalam Islam, dan setelah kaum Paderi dan raja-raja Minangkabau memperhatikan ikatan serbannya sama dengan ikatan serban Ulama Minangkabau, sudi menerima Sentot sebagai “Amir” Islam di Minangkabau?

Teringatkah tuan, bahwa lantaran rahasia bocor dan Belanda tahu, Sentot pun diasingkan ke Bengkulu dan di sana beliau berkubur buat selama-lamanya?”

“Maka dengan memakai faham Islam, dengan sendirinya kebangsaan dan kesatuan Indonesia terjamin. Tetapi dengan mengemukakan kebangsaan saja, tanpa Islam, orang harus kembali mengeruk, mengorek tambo lama, dan itulah pangkal bala dan bencana!”

Kiranya, sepeninggal HAMKA, alangkah laiknya jika Ummat Islam masih kenal dan bisa mengimplementasikan apa yang diutarakan Buya HAMKA dalam bukunya tersebut.

Dengan demikian, niscaya Ummat Islam tidak perlu sampai menjadi keledai yang terjerembab dalam lubang yang dibuat oleh musuh-musuh Islam dengan modus yang sama tetapi dalam nuansa yang berbeda. Wallahu A’lam.

(nahimunkar.com)

sumber : http://www.nahimunkar.com/buya-hamka-mereka-memusuhi-wahabi-demi-penguasa-pro-penjajah/

Print Friendly, PDF & Email

Mengapa Salafi Dibenci Apa Salahnya Wahabi Wahabi Mengapa Nu Takut Wahabi Kenapa Salafi Selalu Menghujat

12 Comments

  1. Pembahasan yang sangat bagus, berkwalitas & patut diacungi jempol. Semoga orang2 awam tidak asal ngomong & tidak asal benci lagi serta tidak asal vonis serampangan sebelum mempelajarinya sungguh2.

    • Ini wahabi/salafy/rodja berdakwah seperti model kampanye politik pakai teori konspirasi segala. apa memang benar dakwah seperti itu yang dicontohkan rasul… coba tunjukkan dalilnya.
      menurut saya wahabi/asalafy/rodja dibiayai timur tengah /saudi untuk mendakwahkan pemahaman/manhaj/firqoh yang tidak sesuai dengan pemahamannnya salafy/wahabi/rodja.

      Terimakasih mas iwan sudah berkomentar disini,
      Saya mau tanya nih mas,
      Anda, atau para penuduh dakwah ini dengan sebutan wahabi, kalau pergi haji ke saudi atau bukan ya?
      Anda, atau para penuduh dakwah ini, kalau shalat menghadap kiblatnya yang ada di saudi atau bukan ya?
      Barangkali saja karena benci, maka bukan ke saudi lagi ya,. punya ka’bah sendiri, sebagaimana orang syiah mereka punya ka’bah sendiri,

      Saya tanya lagi nih mas iwan, Apakah Rasulullah berdakwah dengan bahasa indonesia?
      Bukankah Rasulullah berdakwah dengan bahasa arab?? Lalu anda berdakwah dengan bahasa apa dong, bahasa indonesia? itu bidah dong,.. ini konsekwensi jika anda membidahkan dakwah via internet..

      Dakwah via Internet, radio, televisi, atau media lainnya yg tidak diharamkan, itu hanya sarana dakwah,
      Seandainya jaman rasulullah sudah ditemukan internet,hape,listrik,pesawat, Insya Allah itu akan menjadi sarana dakwah yang bagus, islam akan cepat tersebar,.

      Apakah hal-hal diatas itu bidah? seandainya itu bidah, maka masih sangat banyak yang dianggap bidah, contoh bala-bala,nasi goreng,cireng,rujak uleg, itu semua bidah karena rasulullah ngga pernah makan itu semua, apalagi makan mie ayam,nasi padang,.. he..,he..he.. baca postingan ini mas iwan, biar paham,. klik disini

      saya ada dalil larangan untuk berfirqoh/bergolong-golongan dalam quran, bahkan Allah mengecam salinng membanggakan/merasa benar dengan golongannnya sendiri.

      Menurut saya salafy/wahabi/rodja hanya salah satu firqoh dari 73 yang semuanya mengaku yang paling benar, padahal mengaku-ngaku bersombong dengan golongannya sendiri termasuk yang dilarang Allah dalam Quran.

      Itu dalil dipahami menurut anda sendiri yah,
      Manhaj salaf adalah satu-satunya yang paling benar, YA, BETUL SEKALI, Alquran yang berbicara,bukan satu ayat saja, dan hadits-hadits pun banyak yang menyatakan demikian, selain itu ada ancaman yang pedih bagi orang yang tidak mau mengikuti manhaj salaf

      Mungkin anda belum paham apa yang dimaksud manhaj salaf itu, silahkan baca disini postingannya,..

      Kemuliaan HANYA DENGAN MENGIKUTI MANHAJ SALAF, silahkan baca disini postingannya

      • Ini faktanya Arab Saudi saja tidak berani melarang Syiah berhaji ke Mekkah, apalagi melarang islam abangan, islam liberal (liberal=penafsiran baru yg lebh update dan logis drpd penafsiran ulama klasik saaf jaman primitif).

        TErimakasih bang iwan,
        Kenapa saudi tidak melaranga syiah berhaji ke mekah? banyak faktor mas, mudah-mudahan saja dengan berhajinya mereka ke mekah mereka sadar dari paham sesatnya, atau jika pergi kemadinah, maka mereka akan taubat dari tindakannya, sebagaimana kisah taubatnya orang syiah yang mencela abu bakar dan umar, namun ketika di madinah melihat ternyata abu bakar dan umar dikubur berdampingan dengan kuburan rasulullah, akhirnya orang tersebut berdoa, silahkan baca kisahnya disini

        Dan postingan ini menjawab pertanyaan anda, silahkan dibaca, kenapa saudi membiarkan syiah berhaji ke mekah, monggo dibaca disini

  2. Mengapa di sinii tdk diulas pembunuhan sadis yg dilakukan golongan Wahabi terhadap keluarga Kerajaan Mekkah Syarif. Jangan buat posting yang tdk adil. Wahabi itu intinya hanya mau benar sendiri dan munafik.

    Terimakasih mas Noor sudah berkomentar disini,
    Memenuhi permintaan anda, sudah saya postingkan disini,
    Mudah-mudahan bermanfaat bagi anda,atau pembaca yang sudah termakan akibat membaca buku yang ditulis oleh pengekor syiah, sebuah buku karya idahram alias marhadi, silahkan dibaca ya,

    • Hey boss…!!
      si Syarif Mansur yg menjabat Gubernur Mekkah pada waktu itu orang yang berakidah Syiah. Karena ia merasa mulai terjepit posisinya dan hampir mau tergusur, maka dia memfitnah kerajaan Saud dan golongan salaf (yg dikenal orang dg nama Wahabi) dengan mengundang kerajaan turki utsmaniah utk menyerang Mekkah.

      Masa kamu pikir ada orang yang mau menyerang negerinya sendiri seperti si Syarif Mansur ini ?!?!?!

      Coba pikirkan dengan otak dan akal sehat.

      Sabar mas, jangan galak-galak,.. he..he..he..

  3. kadang kadang saya heran, kenapa orang tidak pernah mau menerima pendapat orang lain, padahal orang tersebut hanya memberikan pandangannya, tapi karena tidak sepaham langsung saja orang itu menghujat,

    coba saja kita lihat masalah fenomena dimasyarakat yang mengadakan tahlilan 1,7,40,100,1000 hari, padahal itu tidak ada dalam hadits nabi, yang ada malah di kitab weda nya orang hindu,

    padahal islam melarang tasyabbu dalam hal ibadah, karena ibadah itu merupakan hak Allah, Allah telah memberi petunjuk yang di syariatkan melalui rasulnya,

    artinya ibadah itu haruslah berdasarkan tuntunan bukan berdasarkan kemauan kita sendiri yang dengan seenaknya mencampur adukkan ajaran hindu dan islam,

    ada yang berpendapat “yang dibaca itukan alquran dan gak ada larangannya”

    he he he mereka menganggap segala yang baik itu pasti amalannya diterima oleh Allah padahal tidak semua yang baik itu diterima oleh Allah kalau amalannya itu tidak lakukan , pada tempatnya serta tidak disyariatkan olehnya, ya kan? hehe………………………………………

    Iya, betul sekali mas hery,.. bahkan beramal itu tidak cukup niat baik semata, silahkan baca ulasannya disini

  4. maaf saya mau bertanya nih, apakah orang yang telah lama meninggalkan shalatnnya ataupun puasanya, karena sengaja sewaktu masih muda.

    kemudian setelah berumur 40 an baru sadar bahwa perbuatannya itu salah lalu berataubat,

    apakah dia harus mengqadha shalatnya atau mengganti puasanya?
    tolong kasih dalilnya dong?
    dan bagmn cara melakukannya? wassallam.

    wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    terimakasih pak hery,.
    bagi orang yang seperti itu wajib bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya, atau taubat nasuha,. sudah saya posting ulasannya disini

  5. Alhamdulillah akhirnya ketemu artikel ttg Buya Hamka…
    karena ada penganut tasawuf yang mengklaim bahwa Buya Hamka adalah golongan mereka…

    Penganut tasawuf sangat membenci wahabi,.kalau buya hamka malah bangga terhadap wahabi, demikian juga bung karno,

  6. Artikel ini bagus.
    Tp yang bikin saya sedih tuh mayoritas penduduk kita muslim tp kenapa mesjid2 kita sering sepi pas waktunya shalat 5 waktu?
    Saran saya mulailah dr hal kecil dulu sebelum ke hal yg besar.
    Untuk admin, sudahkah ada shalat?
    Sudah kah anda mengajak warga sekitar anda untuk shalat berjamaah di mesjid?
    Biarlah hati anda yg menjawab nya
    Karena di dalam hati selalu ada kejujuran.

    Alhamdulillah, saya kebetulan bekerja di sebuah pesantren, dan shalat lima waktu di masjid kami selalu berjamaah, bukan saat jumatan saja,.

    Sedih memang lihat indonesia, masyarakat mayoritas adalah islam, tapi mayoritas yang tidak mau memakmurkan masjid ya orang islam indonesia juga,. beda dengan di arab saudi, mereka ada polisi khusus yang berpatroli jika tiba waktu shalat,.

  7. Ikut request donk :
    1. Kirimin artikel yang valid tentang sejarah wahabi donk. (Siapa pendirinya beserta biografi pendirinya, kapan berdirinya, latar belakang berdirinya)+

    Silahkan baca di sini

  8. Waktu kecil ngaji dikampung jatim kami diingatkan tentang bahaya wahabi, sekarang saya sdh 50 an dan tinggal di jateng terjadi hal yg sama, lama2 saya penasaran dan sekarang ikut kajian salafi, ternyata mereka sahabat2 yg baik dan tulus.

    Alangkah indahnya jika yg tdk setuju wahabi coba cari info langsung ke pengajian2 mereka lalu nilai dg pikiran jernih dan hati bersih.

    Alhamdulillah,
    Begitu nikmat mengenal dakwah sunnah, walaupun musuh2 dakwah ini terus menggelontorkan dgn isu wahabi,…

    Tapi dakwah sunnah ini tidak akan bisa dibendung,..

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*