TRINITAS DI DALAM BIBEL

Ada cara tercepat dan termudah untuk menjelaskan konsep trinitas di dalam Bibel. Sebenarnya, hal ini tergantung pada Bibel mana yang anda baca, apabila anda membaca versi Raja James yang lama (Old King James Version), anda tentu saja akan membaca di dalam Yohannes 5:7 yang menyatakan :
”For there are three that bear record in heaven, the Father, the Word and The Holy Ghost: and these three are one.”
“Ada tiga oknum yang dipersaksikan di Surga, yaitu Bapa, Kalimat-Nya dan Rūhul Quddus: dan ketiga oknum ini adalah satu.”

Saya ingin menunjukkan bahwa sebenarnya, semua ilmuan dan sejarawan Bibel secara sepakat berkesimpulan bahwa ayat ini adalah suatu sisipan (tambahan). Jika anda berfikir bahwa pernyataan yang baru saja saya kemukakan ini adalah suatu hal yang bias (prasangka), maka saya sarankan anda untuk mengutip satu saja dari Bibel cetakan terbaru, seperti Revised Standart Version, New Revised Standart Version, The New International Version, The New American Standart Bible, The New English Bible, dan lain lain.

Semua versi-versi terbaru ini, mengecualikan (mengeluarkan) penggalan ayat di atas secara utuh.
Benjamin Wilson berkata di dalam bukunya Emphatic Diaglott :
“his text concerning the heavenly witness is not contained in any greek manuscript which was written earlier than the fifteenth century. It is not cited by any of ecclesiastical writers…”
“teksnya yang berkenaan dengan saksi samawi, tidak dikandung oleh satupun manuskrip Yunani yang ditulis lebih awal dari abad kelima belas. Hal ini juga tidak pernah dikutip oleh para penulis Gereja…”

Peake’s Commentary of Bible menyatakan :
“The famous interpolation after ‘three witnesses’ is not printed even in RSV, and rightly. It cites the heavenly testimony of the Father, the Logos and the Holy Spirit, but is never used in the early Trinitarian controversies. No respectable Greek MS contains it. Appearing first in a late 4th –cent. Latin text, it entered the Vulgate and finally the NT of Erasmus.”

“Penyisipan terkenal setelah kata ‘tiga saksi’ ini tidak dicetak, bahkan tidak pula dicetak di dalam Versi Standar Revisi, secara teliti. Versi Standar Revisi ini mengutip tentang testimoni (kesaksian) samawi dari Bapa, Logos dan Ruh Suci, namun tidak pernah digunakan pada kontroversi penganut faham trinitas di masa awal. Tidak ada satupun manuskrip terpercaya yang berisi kata ini.

Kata ini pertama kali muncul pada teks latin akhir abad ke-4 dan masuk ke dalam Vulgate (versi Bibel berbahasa Latin) dan kemudian pada akhirnya masuk ke dalam Perjanjian Baru Erasmus.”
Ayat yang sama dengan ayat yang dicuplik di atas dari Bibel asli Versi King James, dibaca dalam bentuk sebagai berikut pada Versi Standar Revisi Baru (NRSV) :
“There are three that testify:” (John 5:7)
“Ada tiga oknum yang bersaksi:” (Yohannes 5:7)
Hanya itu saja! Semua ini ada di dalam Yohannes juz 5 ayat 7 dari Versi Standar Revisi Baru (NRSV). Ayat ini berlanjut
pada ayat 8 berbunyi :
“…the Spirit and the water and the blood, and these three agree.”
“…ruh, air dan darah, dan ketiganya bersepakat.”

Tidak ada satu pun mengenai Bapa dan Anak.
Walaupun sekiranya para ilmuan Bibel menginterpretasikan ruh, air dan darah sebagai analog dari ”Trinitas Agung”,
perbedaan antara naskah yang menyatakan ”…and these three are one.” dengan naskah yang menyatakan ”…and these three agree.” merupakan suatu kontradiksi yang sangat nyata untuk diabaikan.

Ada perbedaan antara ’being agreement’ (menjadi bersepakat) dengan ‘being one’ (menjadi satu), kecuali apabila kata ‘one’ digunakan secara kiasan untuk memaknai ‘agreement’. Apabila risalah Yesus adalah sejajar dengan perintah Tuhan, maka dengan menggunakan pengertian kiasan, Yesus adalah ’satu’ dengan Tuhan.

Jadi, Bibel yang manakah yang diinginkan oleh kaum Kristiani untuk diikuti? Apakah satu kitab yang disebut ’Bibel Suci’ (Holy Bible) ataukah kitab lain yang disebut ’Bibel tersuci’ (Holier Bible)? Apabila naskah-naskah dalam Bibel ini dapat dihapus dan diinterpolasi (disisipi) oleh manusia, bagaimana bisa buku ini dianggap sebagai ’Word of God’ (Firman Tuhan)? Apakah umat Kristiani pembaca diharapkan membaca buku Bibel dengan penuh keimanan sampai adanya tambahan versi lain yang dipublikasikan, lantas mereka meninggalkan keyakinan lama mereka layaknya sebuah program software yang ‘out-od-date’?

Bagaimana pula dengan keimanan orang yang masih memiliki Bibel Versi King James Lama (Old KJV) yang mereka belum diinformasikan bahwa naskahnya telah diperbaharui dan bahkan beberapa ayat di dalamnya telah ditinggalkan dikarenakan ayat tersebut telah diputuskan secara fakta sebagi suatu sisipan?

Lalu, bagaimana juga dengan para pendeta yang masih mengajarkan Bibel yang telah ketinggalan zaman dan mengandung ayat-ayat yang telah diidentifikasi sebagai suatu kesalahan menurut mayoritas ilmuan Bibel?

Fakta yang tersisa adalah, sungguh sulit mendiskusikan konsep trinitas dan referensi Bibel tentangnya, karena tidak ada satupun Bibel yang berbicara tentangnya.

Konsep trinitas dikembangkan lebih dari rentang waktu tiga setengah abad semenjak zaman Yesus.

Di dalam New Catholic Encyclopedia dikatakan :

”…when one does speak of an unqualified Trinitiarianism, one has moved the period of Christian origins to say, the last quadrant of 4th century. It was only then that what might be called the definitive Trinitarian dogma ‘One God in three persons’ became thoroughly assimilated into Christian life and thought… it was a product of 3 centuries of doctrinal development.”

“…Ketika seseorang berbicara tentang doktrin trinitarianisme yang tidak memenuhi syarat, ia telah memindahkan periode permulaan Kristiani dengan pendapat pada perempat akhir abad ke-4. Hal inilah yang kemudian bisa jadi disebut dengan dogma Trintiarian secara pasti, ‘Satu Tuhan dalam tiga oknum’ yang menjadi terasimilasi seutuhnya ke dalam kehidupan dan pemikiran umat Kristiani… dogma ini merupakan produk abad ketiga perkembangan doktrin.”

Trinitas telah disembah di beberapa tempat selama zaman Yesus dan juga pada zaman kuno sebelumnya. Orang-orang Mesir menyembah trinitas, demikian pula dengan orang Babilonia dan Zoroaster (Majūsi). Kaum Hindu juga menyembah oknum yang berkitar pada trinitas.

Banyak masyarakat yang mendasarkan peribadatan mereka menurut konsep trinitas. Ketika ‘satu tuhan’ Yesus dikenalkan kepada bangsa paganis Romawi dan selainnya di wilayah yang membentuk konsep trinitas terhadap Kristiani, akanlah lebih mudah bagi para penyembah berhala untuk berpindah secara lateral kepada suatu bentuk peribadatan yang memiliki elemen yang sama (yaitu trinitas) namun dengan nama yang berbeda.

Daerah ini adalah lingkungan yang Paulus (Paul) terbenam di dalamnya. Paulus pada kenyataannya terpengaruh secara kuat dengan ideologi dan filosofi Greco- Roman (Yunani-Romawi) tentang inkarnasi Tuhan terhadap manusia, reliji pengorbanan darah, kebangkitan dan teori ’triune’ (tiga dalam satu) yang dicetuskan Plato mengenai ’first cause’ (sebab pertama), ’reason’ (akal) atau ’logos’ dan ’spirit’ (ruh) alam semesta.

Banyak (orang yang dianggap) ’tuhan-manusia’ adalah para pemimpin Yunani, Romawi, Mesir dan selainnya. Telah diketahui dengan baik, bahwa masyarakat Mesir kuno menyembah Fir’aun dan menganggapnya sebagai tuhan, dan pada beberapa mitos kuno lainnya, Fir’aun sang ’manusia-tuhan’ haruslah dipersembahkan kurban demi kebaikan yang lebih besar bagi masyarakat.

Sejarah juga mencatat bahwa Julius Caesar didewakan oleh bangsa Romawi dan Yunani dengan persetujuan senat dan hal ini diperingati dengan cara membangun kuil dan patung yang didedikasikan sebagai peribadatan kepadanya.

Konstantin juga dianggap sebagai manusia yang merupakan manifestasi dari dewa matahari bangsa Romawi, Sol-invictus.
Banyak kompromi (persetujuan) yang dibuat oleh gereja generasi awal untuk mengakomodir keyakinankeyakinan paganis/berhalais ini. Hari Sabbath (dalam bahasa arab, sab’ah yang artinya tujuh) diubah dari hari ketujuh menjadi sun-day (hari matahari atau minggu), yang merupakan hari suci bagi dewa matahari Romawi.

Christmas (natal) pun ditentukan untuk dirayakan pada tanggal 25 Desember, hari yang bukan saja merupakan hari lahir dewa matahari Romawi Sol-Invictus, namun juga hari lahir dewa matahari Persia yang terkenal, Mithra. Menurut A.D. Ajijola dalam bukunya The Hijacking of Christianity (Pembajakan ajaran Kristen), dewa matahari Mithra disembah hampir 600 tahun sebelum dewa ini dikenalkan kepada Romawi. Mithra dipercaya lahir dari seorang perawan pada 25 Desember dan mati di dalam melayani kemanusiaan.

Dia dikuburkan dan bangkit dari makamnya dan diwartakan sebagai ’savior’ (penebus) bagi semua manusia. Dia digambarkan sebagai gambaran kuno ’anak domba’ (lamb, salah satu sebutan untuk Yesus, pent.).

Konsep kebangkitan tuhan juga berakar pada keyakinan orang-orang Mediterania.

Di dalam karya monumentalnya, The Golden Bough (Dahan Emas), James George Frazier menyatakan :
”Under the name of Osiris, Tammuz, Adonis and Attis, the people of Egypt and Western Asia represented the yearly decay and revival of life, espescially of vegetable life, which they personified as a god who annually died and rose again from the dead.”

“Di bawah nama Osiris, Tammuz, Adonis dan Attis, orangorang Mesir dan Asia Barat menggambarkan kebusukan tiap tahun dan kebangkitan kembali kehidupan, terutama kehidupan sayuran, yang mereka personifikasi (jelmakan) sebagai tuhan yang setiap tahun mati dan bangkit kembali dari kematian.”

Dinukil dari ebook www.abusalma.wordpress.com

You May Also Like

Silahkan tinggalkan komentar di sini