Air Liur Kucing Tidaklah Najis, Tidak Seperti Air Liur Anjing

Kenapa Anjing Najis Dan Kucing Tidak Air Liur Kucing Najis Kenapa Anjing Haram Sedangkan Kucing Tidak Apakah Ludah Kucing Najis Apakah Air Liur Kucing Najis

Mengenal Kucing Di Sekitar Kita

Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal

Alhamdulillah wa sholaatu wa salaamu ‘ala rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
rumah2Maksud judul pada posting kali ini bukanlah untuk sekedar mengenal kucing, namun kita akan lebih jauh meninjau hewan yang satu ini dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga bermanfaat.
Dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ
“Kucing ini tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita. ” (HR. At Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ad Darimi, Ahmad, Malik. Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 173 mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Sebab Abu Qotadah menyebutkan hadits di atas telah dipaparkan sebelum penyebutan hadits ini. Dalam riwayat Abu Daud diceritakan dari Kabsyah binti Ka’ab bin Malik (dia adalah istri dari anak Abu Qotadah). Wanita ini mengatakan bahwa Abu Qotadah pernah masuk ke rumah, lalu dituangkanlah air wudhu padanya. Kemudian tiba-tiba datanglah kucing. Bejana air wudhu lantas dimiringkan, lalu kucing itu minum dari bejana tersebut. Abu Qotadah pun melihat wanita tadi merasa heran padanya. Abu Qotadah mengatakan, “Apakah engkau heran (dengan tingkahku), wahai anak saudaraku?” Wanita tersebut lantas menjawab, “Iya.” Setelah itu, Abu Qotadah menyebutkan hadits di atas.

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari hadits di atas
hand8

Pelajaran Pertama

Kucing adalah binatang yang suci, namun haram untuk dimakan. Ada suatu kaedah:

“Segala hewan yang haram dimakan termasuk hewan yang najis.”

Namun, dalam penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, ada pula hewan yang tidak dikatakan najis yang menyelisihi kaedah tadi. Kucing memang pada asalnya najis karena kucing haram untuk dimakan. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan alasan yang tidak kita temui pada hewan lainnya yaitu karena kucing adalah hewan yang biasa kita temui di sekitar kita.
Jadi, faedah dari hadits ini:

semua hewan yang haram dimakan dihukumi najis kecuali hewan yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumi suci dengan alasan yang tidak ditemui pada hewan lainnya.

Pelajaran kedua

Kucing memang tidak najis. Namun apakah ini berlaku secara umum? Jawabannya: Tidak. Kucing memang tidak najis pada: air liurnya, segala sesuatu yang keluar dari hidungnya, keringat, bekas minum dan bekas makannya. Namun, pada kotoran dan kencing dari hewan tersebut tetap dihukumi najis. Begitu pula darahnya dihukumi najis. Alasannya, karena kotoran, kencing dan darah pada hewan yang haram dimakan juga dihukumi najis. Jadi, segala sesuatu yang berasal dari bagian dalam tubuh dari hewan yang haram dimakan dihukumi najis, seperti kencing, kotoran, darah, muntahan dan semacamnya.

Pelajaran ketiga

Jika kucing minum dari suatu wadah yang berisi air –sebagaimana diceritakan sebab Abu Qotadah menyebutkan hadits ini-, maka air tadi tidak dihukumi najis, baik kucing tersebut meminumnya dalam jumlah sedikit ataupun banyak. Alasannya, karena air yang ada di bejana Abu Qotadah tadi hanya sedikit yang digunakan untuk berwudhu.

Pelajaran keempat

Tidak ada beda apakah kucing tersebut memakan sesuatu yang najis (semacam bangkai) dalam jumlah yang banyak atau sedikit. Kenapa? Karena kemutlaqan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi. Nabi ucapkan dalam bentuk umum: “Kucing tidaklah najis”. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup baik kucing tadi makan sesuatu yang najis beberapa saat tadi atau sudah dalam waktu yang lama. Jadi tidak boleh dikatakan, “Tadi saya lihat kucing tersebut makan tikus, lalu sekarang minum air dari bejana tersebut. Maka air ini kita hukumi najis.” Hal ini tidak demikian.

Pelajaran kelima

Dari hadits ini, maka benarlah kaedah yang biasa disebutkan oleh para ulama:

Al masyaqqoh tajlibut taisir (Karena adanya kesulitan, datanglah kemudahan)”.

Allah telah meniadakan najis dari kucing karena kesulitan yang diperoleh yang sulit kita hindari yaitu kucing adalah hewan yang selalu kita temui dan berada di sekitar kita. Seandainya kucing dihukumi najis padahal dia sering meminum air, susu atau memakan makanan yang ada di sekitar kita, maka ini akan sangat menyulitkan. Oleh karena itu, karena adanya kesulitan semacam ini, datanglah kemudahan yaitu kucing tidaklah najis.

Pelajaran keenam

Najis yang sulit dihindari dimaafkan jika kita terkena najis tersebut. Sebagaimana pendapat sebagian ulama yang menilai darah itu najis (padahal menurut pendapat yang lebih kuat, darah tidaklah najis), mereka mengatakan: darah yang jumlahnya sedikit selain yang keluar dari kemaluan dan dubur dimaafkan.

Pelajaran ketujuh

Tikus juga termasuk hewan yang suci, namun haram dimakan. Alasannya sama dengan kucing, karena tikus adalah hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekitar kita.

Pelajaran kedelapan

Penjelasan dalam hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah sangat menyayangi makhluk-Nya. Di saat kita mendapatkan kesulitan dan sulit dihindari, Allah akhirnya memberi keringanan kepada kita. Bisa dikatakan demikian karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini: “Kucing ini tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita”.
Jadi, syariat Islam dibangun di atas rahmat, kemudahan dan penuh toleran. Kaedah ini dapat pula kita telusuri pada firman Allah:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah: 185)
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al Hajj: 78)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ
“Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seorangpun yang membebani dirinya di luar kemampuannya kecuali dia akan dikalahkan.” (HR. Bukhari no. 39)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menasehati para sahabat yang ingin menghardik Arab Badui,

فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ
“Sesungguhnya kalian diutus untuk mendatangkan kemudahan. Kalian bukanlah diutus untuk mendatangkan kesulitan.” (HR. Bukhari no. 6128)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا ، وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا
“Berilah kemudahan, janganlah membuat sulit. Berilah kabar gembira, janganlah membuat orang lari.” (HR. Bukhari no. 69)

Pelajaran kesembilan

Jika orang melihat sesuatu pada kita yang dirasa asing pada diri kita, maka hendaklah kita menghilangkan keanehan yang dia anggap sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Qotadah tadi ketika Kabsyah merasa aneh dengan apa yang dia lakukan.

Demikian apa yang kita kaji dan kita gali dari hadits ini. Semoga yang sedikit ini, bisa menambah ilmu kita dan semoga bisa membuahkan amal sholeh.
Alhamdulillallahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Faedah dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah di kitab Fathu Dzil Jalali Wal Ikrom bisyarh Bulughil Marom, hal. 107-114, terbitan: Madarul Wathon Lin Nasyr.

Pangukan, Sleman, 16 Shofar 1430 H
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya
Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : http://rumaysho.wordpress.com/2009/02/12/mengenal-kucing-di-sekitar-kita/

Print Friendly, PDF & Email

Kenapa Kucing Tidak Haram Apa Beda Kucing Dan Anjing Kog Anjing D Haramkan Hukum Air Liur Kucing Hukum Terkena Air Liur Kucing Apakah Liur Kucing Berbahaya

4 Comments

  1. Kalo alasan kucing tdk najis karna biasa ditemui diskitar kita,maka hadist itu mengandung diskriminasi.sebab anjing juga bnyak diskitar kita.

    jd rasanya ini kurang adil juga.

    karna dalam hal apapun kdua hewan itu mmpunyai nilai yg sama.sama2 pembawa pnyakit,sama2 omnivora,sama2 bs jadi tmn mnusia,dan sama2 diharamkan untuk dimakan.

    bgaimana ini bs terjadi?apa ini hukum yg adil bagi khidupan?

    Terimakasih sudah komentar disini,
    Hendaklah dalam menilai sesuatu itu dengan ilmu, bukan dengan perasaan, apalagi yang dikomentari ini adalah hadits yang diucapkan oleh rasulullah, dan rasulullah tidak mengatakan dari pribadinya, tapi itu wahyu dari allah.
    Wahyu dari Allah PASTI benar, dan Allah yang maha tahu atas segala ciptaannya. Termasuk dalam hal ini masalah anjing dan kucing.
    Sebagaimana anda katakan, mereka sama-sama carnivora, ini juga hasil ilmu pengetahuan manusia, dalam islam tidak dikenal adanya carnivora,herbivora, dll,
    Ilmu pengetahuan manusia, tidak akan pernah bisa mengalahkan dalil,hadits, tetap dalil atau hadits itu sebagai landasan hukum.
    Contoh dalam hal ini masalah anjing dan kucing, bagaimana hukum memelihara anjing dan kucing? memelihara anjing, berefek yang sangat buruk, silahkan baca ulasannya disini

    Sedangkan hukum memelihara kucing tidak ada larangan, bahkan salah satu sahabat ada yang diberi gelar Abu Hurairah , Hurairah adalah nama kucing peliharaannya,

    Hendaknya sikap kita dalam menerima dalil, baik dari ayat alquran dan hadits, maka tempatkanlah dalil diatas wahyu, dalil yang dikedepankan dari akal, sudah saya posting sikap yang benar dalam menempatkan akal kita, baca disini

  2. Orang yang mengatakan hadits tentang kucing tidak najis adalah diskriminasi, mungkin orang itu BUKAN MUSLIM.
    Sudah jelas2 segala yang berkaitan dengan anjing adalah najis..

    Kalau kucing kan, hanya kotoran dan air seninya yang najis…

    Terus, kalau sehabis memegang kucing kan tidak disebutkan bahwa kita harus membasuh kulit kita 7 kali dan salah satunya pakai tanah…

    Ketahuan orang ini sering memelihara anjing….

    Mudah-mudahan jadi bahan renungan bagi para pemelihara anjing,. baik anjing murahan atau anjing yang mahal,…
    Ingat,.. amal kebaikan anda taruhannya,.
    Mengumpulkan amalan baik saja susah, ini malah amalan baiknya berkurang setiap hari,.

  3. apakah ada dasar sains kalau kucing tidak najis air liurnya?

    Semua penjelasan dalam Al Quran tentang yg ada di bumi ini dapat ditelusuri dengan sains. Bahkan banyak penemu2 atau peraih penghargaan sains karena risetnya berhasil dengan berdasarkan pengetahuan dr Quran.

    Hal yang saya lihat disini hanyalah hadist, bukan penjelasan alamiah atau logika. Saya muslim, saya tidak pernah meragukan hadist. Maaf, alangkah baiknya saudara2 sekalian lebih baik menjelaskan alasan utamanya mengapa hal ini begini hal itu begitu. Seperti haramnya babi, terdapat penelitian kalau babi adalah hewan yang sifatnya bertentangan dengan isi Quran. Dia makan segala termasuk kotoran, biseksual, tidak memiliki organ tubuh yg lengkap, dan sebagainya.

    Hal ini sangatlah masuk akal jika kita telaah lebih jauh mengapa Islam mengharamkan babi untuk dipelihara dan dikonsumsi. Anjing pun begitu, terdapat penelitian bahwa air liur Anjing mengandung bakteri yang dapat membuat manusia jatuh sakit, atau rabies yang bisa menyerang manusia. Hal ini sangat masuk akal juga untuk larangan memelihara anjing karena alasan kesehatan dan keselamatan.

    Begitu juga Lalat, saya pernah melihat artikel membahas bahwa lalat adalah satu hewan/serangga yang dihormati Rasulullah SAW. Tidaklah najis jika makanan atau minuman dihinggapi mereka.

    Lalu saya telaah jurnal penelitian sains bahwa di sayap lalat terdapat pembunuh bakteri jahat yang biasa ditemukan di makanan.

    Tolong sertakan sumber sains sehingga terdapat korelasi antara hadistnya. Semua butuh alasan dan penjelasan. Karena kita menganut keyakinan harus beralasan dan berdasar.

    Saya selalu melihat bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan banyak kemajuan karena Al Quran, bukan hadist.

    Yang saya ketahui hadist memanglah penting. Tetapi peran hadist adalah saran, anjuran, dan pelurus dalam kehidupan sehari2.

    ISLAM itu bukan agama SAINS..
    Rasulullah diutus bukan untuk menjelaskan SAINS

    Tapi Rasulullah diutus untuk menjelaskan bagaimana agar bisa masuk SURGA dan terhindar dari neraka…

    Sungguh miris ketika ada umat ISLAM yang ingin menghubungkan DALIL itu dengan ilmu SAINS,

    Padahal di luar negeri malah banyak AHLI SAINS yang masuk islam justru karena mengetahui kebenaran DALIL,

    Jangan pernah menilai DALIL dengan logika, tapi logika itu untuk membenarkan DALIL, karena logika itu terbatas, anda sendiri tidak mengetahui dimana letak akal anda, dan seperti apa bentuknya,

    Bahkan teknologi sudah canggih, tetap belum ada yg berhasil menemukan dimana lokasi akal dan bentuknya,

    • Saya tidak pernah meragukan DALIL. Saya hanya memberikan saran kepada saudara untuk memberikan sumber lebih, untuk memperkuat inti artikel-artikel yang saudara buat. Saya tidak bilang bahwa yang saudara tuangkan adalah salah.

      Saya sangat sadar dan mengetahui kalau Islam bukanlah tentang sains, tapi seluruh kehidupan. Tapi salah juga jikalau anda memberikan statement Islam bukanlah agama tentang sains. Pada buktinya banyak pengetahuan-pengetahuan baru yang berkembang melalui penulusuran Al Quran oleh ilmuwan-ilmuwan muslim di timur tengah.

      Ilmu Islam turun pada tahun masehi awal ketika pemikiran-pemikiran manusia masih relatif primitif, hanya berdasarkan keyakinan. Pada akhirnya turunlah sebuah petunjuk, pelurus semua pertanyaan atas dunia dan kehidupan, melalui Rasulullah SAW. Al Quran pun turun dalam bahasa sesuai pada zamannya, maka dari itu diperlukan ilmu tafsir yang mendalan di waktu berjalan sampai sekarang ini untuk sepenuhnya mengerti isi dan inti dari Al Quran.

      Sedangkan pada zaman modern ini, pemikiran manusia relatif lebih maju. Ingat, jika saudara menyuruh anak kecil untuk tidak melakukan sesuatu, apakah mereka langsung menaatinya? Tidak, mereka pasti bertanya dalam dirinya “mengapa saya harus melakukan apa yang barusan disuruh?”. Dan pemikiran seperti itu bukanlah hanya anak kecil yang memilikinya. Pada hakikatnya, semua yang kita pelajari, pahami, lakukan berawal pada sifat penasaraan yang kita alami pada masa kecil dan seterusnya. Begitulah bagaimana individu manusia terbentuk. Bahkan Nabi Adam AS pun memiliki rasa penasaran atas buah khuldi dan akhirnya yang berakhir pada diturunnya dia ke bumi.

      Saya tidak pernah sekalipun meragukan, dan/atau menyalahkan semua pelajaran yang saya dapatkan. Tapi tidak salah kan jika kita mencari sumber lebih jauh untuk mengetahui alasan atas penasaran kita? Untuk itu saya menyarakan saudara untuk menelaah dan menuangkannya lebih jauh, agar teman2 yang membaca artikel-artikel di sini tidak selesai dengan menambah pertanyaan dalam kepala mereka.

      Hanya itu saran saya, terima kasih karena telah membalas komentar dari saya. Assalamu’alaikum

      wa’alaikumussalam warahmatullah
      Jika menghadapi DALIL , maka TARUH AKAL anda, secanggih apapun akal anda,.. ATAU sepandai apapun ilmu SAINS anda,.
      Karena ilmu sains itu buatan manusia, sedangkan DALIL itu Allah yang mewahyukan kepada Nabi Muhammad,.

      Tentang kisah Nabi Adam, selain itu adalah TAKDIR dari Allah, Allah sudah mengingatkan Nabi Adam agar tidak mendekati pohon tersebut, tapi Adam melanggar larangan Allah,. bukan karena penasaran, tapi karena terkena bujukan setan yang lebih dahulu membujuk hawa, lalu hawa membujuk Adam,

      Jadi bukan karena penasaran, bukan karena sains,. bukan karena logika,.

      Justru IBLIS lah yang menggunakan logika untuk menyesatkan manusia, bahkan untuk melanggar perintah Allah ketika disuruh bersujud kepada nabi Adam, Iblis tidak mau sujud

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*