Jangan Beribadah Dengan Mengharap Surga,. Kata Sebagian Orang, Betulkah Demikian?

Beribadah Karena Mengharap Surga Merusak Keikhlasan??!!

sifat penghuni surgaAda beberapa perkara yang disangka oleh sebagian orang merusak keikhlasan, akan tetapi ternyata tidak merusak keikhlasan. Perkara-perkara tersebut adalah :

Pertama : Beramal dalam rangka mencari surga.

Sebagian orang terlalu berlebihan dan salah faham tentang keikhlasan. Orang yang beramal sholeh karena mencari surga dinamakan oleh Robi’ah al-‘Adawiyah dengan “Pekerja yang buruk”. Ia berkata:

مَا عَبَدْتُهُ خَوْفًا مِنْ نَارِهِ وَلاَ حُبًّا فِي جَنَّتِهِ فَأَكُوْنَ كَأَجِيْرِ السُّوْءِ، بَلْ عَبَدْتُهُ حُبًّا لَهُ وَشَوْقًا إِلَيهِ

“Aku tidaklah menyembahNya karena takut neraka, dan tidak pula karena berharap surgaNya sehingga aku seperti pekerja yang buruk. Akan tetapi aku menyembahNya karena kecintaan dan kerinduan kepadaNya” (Ihyaa’ Uluum ad-Diin 4/310)

Demikian juga Al-Gozali mensifati orang yang seperti ini dengan orang yang ablah (dungu). Ia barkata,

فَالْعَامِلُ ِلأَجْلِ الْجَنَّةِ عَامِلٌ لِبَطْنِهِ وَفَرْجِهِ كَالْأَجِيْرِ السُّوْءِ وَدَرَجَتُهُ دَرَجَةُ الْبَلَهِ وَإِنَّهُ لَيَنَالُهَا بِعَمَلِهِ إِذْ أَكْثَرُ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْبَلَهُ وَأَمَّا عِبَادَةُ ذَوِي الْأَلْبَابِ فَإِنَّهَا لاَ تُجَاوِزُ ذِكْرَ اللهِ تَعَالَى وَالْفِكْرِ فِيْهِ لِجَمَالِهِ … وَهَؤُلاَءِ أَرْفَعُ دَرَجَةً مِنَ الْاِلْتِفَاتِ إِلَى الْمَنْكُوْحِ وَالْمَطْعُوْمِ فِي الْجَنَّةِ

“Seseorang yang beramal karena surga maka ia adalah seorang yang beramal karena perut dan kemaluannya, seperti pekerja yang buruk. Dan derajatnya adalah derajat al-balah (orang dungu), dan sesungguhnya ia meraih surga dengan amalannya, karena kebanyakan penduduk surga adalah orang dungu. Adapun ibadah orang-orang ulil albab (yang cerdas) maka tidaklah melewati dzikir kepada Allah dan memikirkan tentang keindahanNya….maka mereka lebih tinggi derajatnya dari pada derajatnya orang-orang yang mengharapkan bidadari dan makanan di surga” (Ihyaa Uluumid Diin 3/375)

Tentunya ini adalah pendapat yang keliru. Bisa ditinjau dari beberapa sisi:

Pertama : Allah telah mensifati para nabi dan juga pemimpin kaum mukminin bahwasanya mereka beribadah kepada Allah dalam kondisi takut dan berharap. Allah berfirman

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا (٥٧)

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS Al-Isroo : 57)

Allah berfirman tentang ‘Ibaadurrohman bahwasanya mereka takut dengan adzab neraka

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (٦٥)

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, jauhkan azab Jahannam dari Kami, Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”.(QS Al-Furqoon : 65)

Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam berkata dalam doanya

وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ (٨٥)وَاغْفِرْ لأبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ (٨٦)وَلا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ (٨٧)

Dan Jadikanlah aku Termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, Dan ampunilah bapakku, karena Sesungguhnya ia adalah Termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (QS Asy-Syu’aroo 85-87)

Allah memuji Nabi Zakariya dan juga Nabi Yahya ‘alaihima as-salam dalam firmanNya

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ (٩٠)

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami. (QS Al-Anbiyaa : 90)

Demikian juga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terlalu banyak doa-doa beliau meminta surga dan terjauhkan dari neraka.

Kedua : Bahkan Allah mensifati para ulil albab (orang-orang yang berakal dan cerdas) bahwasanya mereka takut dengan adzab neraka dan mengharapkan janji Allah. Yang ini jelas bantahan terhadap Al-Ghozali yang menganggap orang yang mengharapkan surga dan takut neraka sebagai orang yang dungu.

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١)رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (١٩٢)رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ (١٩٣)رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ (١٩٤)

(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, Maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, Maka Kamipun beriman. Ya Tuhan Kami, ampunilah bagi Kami dosa-dosa Kami dan hapuskanlah dari Kami kesalahan-kesalahan Kami, dan wafatkanlah Kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan Kami, berilah Kami apa yang telah Engkau janjikan kepada Kami dengan perantaraan Rasul-rasul Engkau. dan janganlah Engkau hinakan Kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS Ali ‘Imroon : 191-194)

Ketiga : Setelah Allah menyebutkan tentang kenikmatan-kenikmatan di surga lalu Allah memerintahkan para hambaNya untuk saling berlomba-lomba dalam memperolehnya.

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ (٢٦)

dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (QS Al-Muthoffifin : 26)

Keempat : Terlalu banyak ayat dalam al-Qur’an yang menjelaskan tentang nikmat-nikmat surga. Maka jika seseorang tercela mengharapkan kenikmatan surga maka seakan-akan Allah telah menyesatkan hamba-hambaNya dengan mengiming-iming mereka dengan nikmat surga. Demikian juga halnya Allah sering menyebutkan tentang perihnya adzab neraka.

Kelima : Diantara kenikmatan surga –bahkan yang merupakan puncak kenikmatan- adalah melihat wajah Allah. Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada Allah nikmat ini, sebagaimana dalam doanya :

وَأَسْأَلَُك لَذَّةَ النَّظْرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكِ

“Dan aku memohon keledzatan memandang wajahMu, dan kerinduan untuk bertemu denganMu” (HR An-Nasaai no 1305 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Orang yang mengaku tidak berharap kenikmatan surga, maka apakah ia tidak ingin melihat wajah Allah?!!

Keenam : Banyak hadits yang mempersyaratkan “pengharapan ganjaran dari Allah” pada sebuah amalan.

Contohnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang berpuasa di bulan ramadhan karena keimanan dan berharap maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Al-Bukhari no 38 dan Muslim no 760)

مَنِ اتَّبَعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا) حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيْرَاطٌ، وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيْرَاطَانِ (مِنَ الأَجْرِ)، قِيْلَ: (يَا رَسُوْلَ اللهِ) وَمَا الْقِيْرَاطَانِ؟ قَالَ: مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيْمَيْنِ

“Barangsiapa yang mengikuti janazah muslim karena keimanan dan mengharapkan (ganjaran dari Allah) hingga disholatkan jenazah tersebut maka bagi dia qirot pahala, dan barangsiapa yang menghadiri janazah hingga dikubur maka baginya dua qirot pahala”. Maka dikatakan, “Wahai Rasulullah, apa itu dua qirot?”, Nabi berkata, “Seperti dua gunung besar” (HR Al-Bukhari no 47)

Al-Khotthoobi berkata

احْتِسَابًا أَيْ عَزِيْمَةً وَهُوَ أَنْ يَصُوْمَهُ عَلَى مَعْنَى الرَّغْبَةِ فِي ثَوَابِهِ

“Ihtisaaban” yaitu azimah (tekad) maksudnya ia berpuasa karena berharap pahala dari Allah” (Fathul Baari 4/115)

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 24-10-1433 H / 11 September 2012 M

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

www.firanda.com

sumber : http://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/289-beribadah-karena-mengharap-surga-merusak-keikhlasan

Print Friendly, PDF & Email

Yang Benar Takut Allah Apa Takut Neraka Ya Jika Ibadah Ku Mengharap Surga Tutup Surga Itu Dalil Manusia Takut Neraka Tapi Aku Juga Tak Pantas Di Surga Menyembah Karena Takv Atau Karena Kewajiban Sufi Tidak Meminta Surga

7 Comments

  1. Assalamualaikum Wr. Wb.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    karena kadar keimanan orang berbeda2, amalan2 wajib seperti halnya sholat 5 waktu dan puasa romadhon terasa berat bagi sebagian orang, ada yg meninggalkan ada pula yg mengerjakan tp dengan berat hati karena takut akan dahsyatnya api neraka. jadi sebagian orang mengerjakan hal tersebut bukan untuk mengharap surga, melainkan takut akan api neraka. bagaimanakan hukum yg demikian ?

    Kita beramal shalih, karena takut akan diadzab api neraka, ya, ini adalah bagus,. lha wong di akherat itu cuma ada dua, surga dan neraka, jika dijauhkan dari api neraka, ya masuk surga,

    dan yg ada dalam doa pun yg sering kita ucapkan “rabbanaa aatinaa fiddunya hasanah, dst,. terakhirnya kan waqinaa adzaabannaar” , itu kan doa minta dijauhkan dari api neraka,. jadi tidak mengapa bu,.

  2. assalamu’alaikum warahmatullah,,

    kan ada ustad yg srg ceramah ttg sedekah dan ganjarannya, misal mau kaya sedekah, mau naik haji sedekah, minta jodoh sedekah, de el el.. itu gmn menurut admin pandangannya?
    wassalamu’alaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh,
    Terimakasih mas yusuf, sudah sudi mampir dan komentar disini
    Jika yang mau jadi tujuan sedekah adalah kekayaan, atau urusan dunia lainnya, maka ini sungguh sangat disayangkan, dia memang akan mendapatkan janji Allah, yaitu ditambahnya harta, namun dia tidak mendapatkan bagian di akherat,
    Jadi penting sekali motivasi/niat orang dalam melakukan ibadah, bukan sedekah saja,

    Tentang sedekah untuk tujuan dunia, sudah saya posting disini, silahkan baca disini mas yusuf, klik saja link ini

  3. terima kasih artikelnya….

    assalammualaikum warahmatullahi wa barakatuh

    menilik dari ayat al qur’an :
    bismillahirrohmannirrohiim

    Allah Ta’ala berfirman,
    إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا (107) خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا (108)

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya.” (QS. Al Kahfi: 107-108)

    Hal seperti itu terdapat didalam Al Qur’an dan Sunnah, seperti firman Allah swt tatkala bercerita tentang bapak para Nabi, Ibrahim as di beberapa doa-doanya yang banyak :

    وَاجْعَلْنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ

    Artinya : “dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan,” (QS. Asy Syuara : 85)
    ————————————————————
    Sebetulnya pemikiran seperti ini (ibadah yang terlepas dari rasa takut dan harap) berasal dari pemikiran sufi. Sesungguhnya para ulama salaf menetapkan bahwa agama Allah swt atas tiga tingkatan : islam, iman dan ihsan. Kemudian para ahli fiqih mengkhususkan diri mereka didalam memahami islam dan berbagai hukum-hukumnya yang tampak. Para ulama aqidah, tauhid dan kalam mengkhususkan diri mereka didalam keimanan dan berbagai permasalahan yang ada disekitarnya..

    Kemudian orang-orang sufi mengatakan,”Kami adalah orang-orang yang mengkhususkan dengan tingkatan ihsan.” Akan tetapi mereka telah memasukkan berbagai hal yang baru dan dibuat-buat… diantaranya ada yang mereka namakan dengan cinta Ilahi yang muncul pada akhir abad II H melalui lisan Rabi’ah al Adawiyah … dan juga orang setelahnya serta Dzin Nuun al Mishriy dan Sulaiman ad Daroniy dan lainnya.

    Secara terang-terangan mereka mengatakan bahwa mereka tidaklah menaati Allah swt dan mengerjakan berbagai kewajiban karena takut akan adzab Allah dan tidak pula karena mengharapkan surga-Nya… namun karena kecintaan kepada Allah dan mengharapakan kedekatan dengan-Nya.

    Jadi manhaj yang benar adalah beribadah kepada Allah dengan disertai perasaan takut akan siksa-Nya dan mengharapkan pahala-Nya… dan hal itu tidaklah bertentangan dengan keikhlasan yang menjadi dasar dari ibadah.

    Menurut pemikiran saya, mengharap surga sama artinya keikhlasan, karena orang beribadah adalah orang yang menurut oleh perintah Allah dan dijanjikan syurga. Artinya orang beribadah mengharap syurga karena cintanya kepada Allah. Cuma beda tafsir atau bahasa saja. Wallahu a’lam

    maaf..mungkin bisa di koreksi sama mas admin,.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    Terimakasih sudah komentar disini, dan menambahkan penjelasan yang bagus,.

    Apakah anda sudah membaca artikel tersebut dari awal hingga akhir, bukan membaca judul postingan saja,
    Jika anda membaca dengan teliti, maka anda akan paham maksud postingan tersebut, bahkan di awal di bawah judulpun sudah dijelaskan,.

    Jadi penjelasan anda di komentar itu hanya sebagai pelengkap postingan tsb,
    Judul postingan itu sebagai sindiran bagi orang semisal rabiah aladawiyah dan pengikut sufi yang menganggap beramal dengan berharap surga itu tercela,.

    silahkan dibaca ulang,. terimakasih,.

  4. Pertanyaan:
    1. Niat yang sesungguhnya ketika kita melakukan suatu ibadah itu KARENA APA?

    Yang diajarkan Rasul, niatnya adalah mengharap wajah Allah, keridhaan Allah, dan mengharap balasan surga, dijauhkan dari neraka,.

    2. Apakah melakukan SESUATU dengan mengharapkan SESUATU itu bisa dikatakan ikhlas?

    Apakah anda sudah paham apakah arti ikhlas?
    Banyak orang memahami arti ikhlas, tapi arti ikhlas versi orang indonesia, bukan ikhlas menurut pengertian yang ada dalam islam,
    silahkan anda baca postingan tentang apa arti ikhlas, baca disini

    • Apa Arti Ikhlas, Banyak Yang Sering Mengucapkan, Tapi Tidak Paham Maknanya (MUNGKIN termasuk penulis artikel ini)
      al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ sedangkan beramal untuk dipersembahkan kepada manusia merupakan kemusyrikan. Adapun ikhlas itu adalah tatkala Allah menyelamatkan dirimu dari keduanya.” (lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)
      1. Apakah meninggalkan amal karena JIN (bukan manusia), BUKAN RIYA TETAPI IKHLAS?
      2. Apakah meninggalkan amal karena IBLIS (bukan manusia), BUKAN RIYA TETAPI IKHLAS?
      3. Apakah meninggalkan amal karena NERAKA (bukan manusia), BUKAN RIYA TETAPI IKHLAS?

      Tentang apa itu Ikhlas, sudah saya posting disini

      • Komentar saya itu saya kutip dari postingan Bapak loh:
        Apa Arti Ikhlas, Banyak Yang Sering Mengucapkan, Tapi Tidak Paham Maknanya (MUNGKIN termasuk penulis artikel ini)
        al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ sedangkan beramal untuk dipersembahkan kepada manusia merupakan kemusyrikan. Adapun ikhlas itu adalah tatkala Allah menyelamatkan dirimu dari keduanya.” (lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)
        1. Apakah meninggalkan amal karena JIN (bukan manusia), BUKAN RIYA TETAPI IKHLAS?
        2. Apakah meninggalkan amal karena IBLIS (bukan manusia), BUKAN RIYA TETAPI IKHLAS?
        3. Apakah meninggalkan amal karena NERAKA (bukan manusia), BUKAN RIYA TETAPI IKHLAS?
        4. Apakah Bapak lupa akan isi postingan Bapak sendiri?

        saya jawab, meninggalkan amal karena manusia adalah riya lalu bagaimana meninggalkan amal karena jin dan iblis?..
        saya tanya, anda tahu tentang jin dan iblis, apakah anda tahu kalau amalan anda sedang diperhatikan oleh jin dan iblis, apakah anda bisa merasakan kehadirannya,.?
        Taruhlah anda tahu, jin dan iblis itu adalah makhluk ciptaan Allah, sama seperti manusia, kalau jin itu ada yang kafir dan islam, tapi kalau setan itu semuanya kafir dan calon penghuni neraka, berbed dengan jin,.
        Nah, jika anda meninggalkan amal karena jin dan setan, maka ini bukan ikhlas namanya, tetap riya, bahkan mungkin lebih besar lagi dosanya,. karena darimana anda tahu kehadiran jin dan setan yang sedang memperhatikan amal anda, lalu anda meninggalkannya?

        Sedangkan meniggalkan amal karena neraka,. amal disini amal baik atau buruk?
        Jika amal buruk kita tinggalkan karena takut neraka , maka ini diperintahkan,.
        Jika amal baik kita tinggalkan karena takut neraka, ini ADALAH KEBODOHAN,.. kalau takut neraka, ya beramal baiklah,. mudah-mudahan Allah akan merahmati, dan menjauhkan dari siksa nerakanya,.

      • Apakah lebih utama TAKUT KEPADA NERAKA dibandingkan TAKUT KEPADA ALLAH?

        Takut kepada NERAKA, itu ALLAH YANG MEMERINTAHKAN,… jadi itu tidak menyalahi,..
        Allah menyuruh kita berlindung dari siksa neraka,. Allah menakut-nakuti kita dengan neraka,. kok kita ga takut,..ya jelas takut lah,.. kecuali orang-orang yang ga ada rasa iman di hatinya, mereka ga takut sama Allah,.

        Nabi muhammad saja takut dengan NERAKA,. kok kita ngga takut????
        Jadi pernyataan aneh, lebih utama taktu kepada neraka atau takut kepada Allah?
        Kita takut kepada Neraka, itu menunjukkan kita takut kepada siksa Allah,.
        Takut kepada neraka, kita akan menjauhi hal2 yang menjerumuskan ke neraka,.
        Takut kepada Allah, kita justru akan semakin mendekat kepada Allah dengan amalan yang Allah cintai,.

        Bukan seperti perkataan orang yang tidak takut kepada neraka, seperti ulasannya sudah saya posting disini

Leave a Reply to tasbih kusam Cancel reply

Your email address will not be published.


*