TAHLILAN Menurut Sahabat Dan Ulama Islam Adalah BID’AH Yang Mungkar

TAHLILAN (Selamatan Kematian) ADALAH BID’AH MUNKAR DENGAN IJMA’ PARA SHAHABAT DAN SELURUH ULAMA ISLAM

Oleh
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

عَنْ جَرِيْربْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ : كُنَّا نَرَى (وفِى رِوَايَةٍ : كُنَا نَعُدُّ) اْلاِجْتِمَاع اِلَى أَهلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ (بَعْدَ دَفْنِهِ) مِنَ الْنِّيَاحَةِ

“Dari Jarir bin Abdullah Al Bajaliy, ia berkata : ” Kami (yakni para shahabat semuanya) memandang / menganggap (yakni menurut madzhab kami para shahabat) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap”

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini atau atsar di atas dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (No. 1612 dan ini adalah lafadzhnya) dan Imam Ahmad di musnadnya (2/204 dan riwayat yang kedua bersama tambahannya keduanya adalah dari riwayat beliau), dari jalan Ismail bin Abi Khalid dari Qais bin Abi Hazim dari Jarir sebagaimana tersebut di atas.

Saya berkata : Sanad Hadits ini shahih dan rawi-rawinya semuanya tsiqat (dapat dipercaya ) atas syarat Bukhari dan Muslim.

Dan hadits atau atsar ini telah dishahihkan oleh jama’ah para Ulama yakni para Ulama Islam telah ijma/sepakat tentang hadits atau atsar di atas dalam beberapa hal.

Pertama : Mereka ijma’ atas keshahihan hadits tersebut dan tidak ada seorang pun Ulama -sepanjang yang diketahui penulis- wallahu a’lam yang mendloifkan hadits ini. Dan ini disebabkan seluruh rawi yang ada di sanad hadits ini –sebagaimana saya katakan di muka- tsiqoh dan termasuk rawi-rawi yang dipakai oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Kedua : Mereka ijma’ dalam menerima hadits atau atsar dari ijma’ para shahabat yang diterangkan oleh Jarir bin Abdullah. Yakni tidak ada seorangpun Ulama yang menolak atsar ini.

Yang saya maksud dengan penerimaan (qobul) para Ulama ini ialah mereka menetapkan adanya ijma’ para shahabat dalam masalah ini dan tidak ada seorangpun di antara mereka yang menyalahinya.

Ketiga : Mereka ijma’ dalam mengamalkan hadits atau atsar diatas. Mereka dari zaman shahabat sampai zaman kita sekarang ini senantiasa melarang dan mengharamkan apa yang telah di ijma’kan oleh para shahabat yaitu berkumpul-kumpul ditempat atau rumah ahli mayit yang biasa kita kenal di negeri kita ini dengan nama ” Selamatan Kematian atau Tahlilan”.

LUGHOTUL HADITS
1. كُنَا نَعُدُّ / كُنَّا نَرَى = Kami memandang/menganggap.

Maknanya : Menurut madzhab kami para shahabat semuanya bahwa berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit dan membuatkan makanan termasuk dari bagian meratap.

Ini menunjukkan telah terjadi ijma’/kesepakatan para shahabat dalam masalah ini. Sedangkan ijma’ para shahabat menjadi dasar hukum Islam yang ketiga setelah Al-Qur’an dan Sunnah dengan kesepakatan para Ulama Islam seluruhnya.

2. اْلاِجْتِمَاع اِلَى أَهلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ = Berkumpul-kumpul di tempat atau di rumah ahli mayit dan membuatkan makanan yang kemudian mereka makan bersama-sama

3. بَعْدَ دَفْنِهِi = Sesudah mayit itu ditanam/dikubur. Lafadz ini adalah tambahan dari riwayat Imam Ahmad.

Keterangan di atas tidak menunjukkan bolehnya makan-makan di rumah ahli mayit “sebelum dikubur”!?.

Akan tetapi yang dimaksud ialah ingin menjelaskan kebiasaan yang terjadi mereka makan-makan di rumah ahli mayit sesudah mayit itu dikubur.

4. مِنَ الْنِّيَاحَةِ = Termasuk dari meratapi mayit

Ini menunjukkan bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit atau yang kita kenal di sini dengan nama “selamatan kematian/tahlilan” adalah hukumnya haram berdasarkan madzhab dan ijma’ para sahabat karena mereka telah memasukkan ke dalam bagian meratap sedangkan merapat adalah dosa besar.

SYARAH HADITS
Hadits ini atau atsar di atas memberikan hukum dan pelajaran yang tinggi kepada kita bahwa : Berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan makan-makan di situ (ini yang biasa terjadi) termasuk bid’ah munkar (haram hukumnya).

Dan akan bertambah lagi bid’ahnya apabila di situ diadakan upacara yang biasa kita kenal di sini dengan nama “selamatan kematian/tahlilan pada hari pertama dan seterusnya”.

Hukum diatas berdasarkan ijma’ para shahabat yang telah memasukkan perbuatan tersebut kedalam bagian meratap.

Sedangkan meratapi mayit hukumnya haram (dosa) bahkan dosa besar dan termasuk salah satu adat jahiliyyah.

FATWA PARA ULAMA ISLAM DAN IJMA’ MEREKA DALAM MASALAH INI

Apabila para shahabat telah ijma’ tentang sesuatu masalah seperti masalah yang sedang kita bahas ini, maka para tabi’in dan tabi’ut-tabi’in dan termasuk di dalamnya Imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’iy dan Ahmad) dan seluruh Ulama Islam dari zaman ke zamanpun mengikuti ijma’nya para sahabat yaitu berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan makan-makan di situ adalah haram dan termasuk dari adat/kebiasaan jahiliyyah.

Oleh karena itu, agar supaya para pembaca yang terhormat mengetahui atas dasar ilmu dan hujjah yang kuat, maka di bawah ini saya turunkan sejumlah fatwa para Ulama Islam dan Ijma’ mereka dalam masalah “selamatan kematian”.

1. Telah berkata Imamnya para Ulama, mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela Sunnah. Al-Imam Asy-Syafi’iy di kitabnya ‘Al-Umm” (I/318).

“Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan”[1]

Perkataan imam kita diatas jelas sekali yang tidak bisa dita’wil atau ditafsirkan kepada arti dan makna lain kecuali bahwa beliau dengan tegas mengharamkan berkumpul-kumpul dirumah keluarga/ahli mayit.

Ini baru berkumpul saja, bagaimana kalau disertai dengan apa yang kita namakan disini sebagai Tahlilan ?”

2. Telah berkata Imam Ibnu Qudamah, di kitabnya Al Mughni (Juz 3 halaman 496-497 cetakan baru ditahqiq oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki ) :

“Adapun ahli mayit membuatkan makanan untuk orang banyak maka itu satu hal yang dibenci ( haram ). Karena akan menambah kesusahan diatas musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka [2] dan menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyyah.

Dan telah diriwayatkan bahwasannya Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya,.Apakah mayit kamu diratapi ?”

Jawab Jarir, ” Tidak !”

Umar bertanya lagi, ” Apakah mereka berkumpul di rumah ahli mayit dan mereka membuat makanan ?

Jawab Jarir, ” Ya !”

Berkata Umar, ” Itulah ratapan !”

3. Telah berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna, di kitabnya : Fathurrabbani tartib musnad Imam Ahmad bin Hambal ( 8/95-96) :

“Telah sepakat imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad) atas tidak disukainya ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak yang mana mereka berkumpul disitu berdalil dengan hadits Jarir bin Abdullah.

Dan zhahirnya adalah HARAM karena meratapi mayit hukumnya haram, sedangkan para Shahabat telah memasukkannya (yakni berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit) bagian dari meratap dan dia itu (jelas) haram.

Dan diantara faedah hadits Jarir ialah tidak diperbolehkannya berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit dengan alasan ta’ziyah /melayat sebagaimana dikerjakan orang sekarang ini.

Telah berkata An Nawawi rahimahullah : Adapun duduk-duduk (dirumah ahli mayit ) dengan alasan untuk ta’ziyah telah dijelaskan oleh Imam Syafi’i dan pengarang kitab Al Muhadzdzab dan kawan-kawan semadzhab atas dibencinya (perbuatan tersebut)……..

Kemudian Nawawi menjelaskan lagi, ” Telah berkata pengarang kitab Al Muhadzdzab : “Dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit ) dengan alasan untuk ta’ziyah.

Karena sesungguhnya yang demikian itu adalah muhdats (hal yang baru yang tidak ada keterangan dari Agama), sedang muhdats adalah ” Bid’ah.”

Kemudian Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna di akhir syarahnya atas hadits Jarir menegaskan : “Maka, apa yang biasa dikerjakan oleh kebanyakan orang sekarang ini yaitu berkumpul-kupmul (di tempat ahli mayit) dengan alasan ta’ziyah dan mengadakan penyembelihan, menyediakan makanan, memasang tenda dan permadani dan lain-lain dari pemborosan harta yang banyak dalam seluruh urusan yang bid’ah ini mereka tidak maksudkan kecuali untuk bermegah-megah dan pamer supaya orang-orang memujinya bahwa si fulan telah mengerjakan ini dan itu dan menginfakkan hartanya untuk tahlilan bapak-nya.

Semuanya itu adalah HARAM menyalahi petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Salafush shalih dari para shahabat dan tabi’in dan tidak pernah diucapkan oleh seorangpun juga dari Imam-imam Agama (kita).

Kita memohon kepada Allah keselamatan !”

4. Al Imam An Nawawi, dikitabnya Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab (5/319-320) telah menjelaskan tentang bid’ahnya berkumpul-kumpul dan makan-makan dirumah ahli mayit dengan membawakan perkataan penulis kitab Asy -Syaamil dan lain-lain Ulama dan beliau menyetujuinya berdalil dengan hadits Jarir yang beliau tegaskan sanadnya shahih. Dan hal inipun beliau tegaskan di kitab beliau “Raudlotuth Tholibin (2/145).

5. Telah berkata Al Imam Asy Syairoziy, dikitabnya Muhadzdzab yang kemudian disyarahkan oleh Imam Nawawi dengan nama Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab : “Tidak disukai /dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit) dengan alasan untuk Ta’ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats sedangkan muhdats adalah ” Bid’ah “.

Dan Imam Nawawi menyetujuinya bahwa perbatan tersebut bid’ah. [Baca ; Al-Majmu’ syarah muhadzdzab juz. 5 halaman 305-306]

6. Al Imam Ibnul Humam Al Hanafi, di kitabnya Fathul Qadir (2/142) dengan tegas dan terang menyatakan bahwa perbuatan tersebut adalah ” Bid’ah Yang Jelek”. Beliau berdalil dengan hadits Jarir yang beliau katakan shahih.

7. Al Imam Ibnul Qayyim, di kitabnya Zaadul Ma’aad (I/527-528) menegaskan bahwa berkumpul-kumpul (dirumah ahli mayit) dengan alasan untuk ta’ziyah dan membacakan Qur’an untuk mayit adalah ” Bid’ah ” yang tidak ada petunjuknya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

8. Al Imam Asy Syaukani, dikitabnya Nailul Authar (4/148) menegaskan bahwa hal tersebut Menyalahi Sunnah.

9. Berkata penulis kitab ‘Al-Fiqhul Islamiy” (2/549) : “Adapaun ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak maka hal tersebut dibenci dan Bid’ah yang tidak ada asalnya.

Karena akan menambah musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka dan menyerupai (tasyabbuh) perbuatan orang-orang jahiliyyah”.

10. Al Imam Ahmad bin Hambal, ketika ditanya tentang masalah ini beliau menjawab : ” Dibuatkan makanan untuk mereka (ahli mayit ) dan tidaklah mereka (ahli mayit ) membuatkan makanan untuk para penta’ziyah.” [Masaa-il Imam Ahmad bin Hambal oleh Imam Abu Dawud hal. 139]

11. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, ” Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit dan mengirimnya kepada mereka. Akan tetapi tidak disukai mereka membuat makanan untuk para penta’ziyah.

Demikian menurut madzhab Ahmad dan lain-lain.” [Al Ikhtiyaaraat Fiqhiyyah hal.93]

12. Berkata Al Imam Al Ghazali, dikitabnya Al Wajiz Fighi Al Imam Asy Syafi’i (I/79), ” Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit.”

KESIMPULAN.
Pertama : Bahwa berkumpul-kumpul ditempat ahli mayit hukumnya adalah BID’AH dengan kesepakatan para Shahabat dan seluruh imam dan ulama’ termasuk didalamnya imam empat.

Kedua : Akan bertambah bid’ahnya apabila ahli mayit membuatkan makanan untuk para penta’ziyah.

Ketiga : Akan lebih bertambah lagi bid’ahnya apabila disitu diadakan tahlilan pada hari pertama dan seterusnya.

Keempat : Perbuatan yang mulia dan terpuji menurut SUNNAH NABI Shallallahu ‘alaihi wa sallam kaum kerabat /sanak famili dan para jiran/tetangga memberikan makanan untuk ahli mayit yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka untuk mereka makan sehari semalam. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Ja’far bin Abi Thalib wafat.

“Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far ! Karena sesungguhnya telah datang kepada mereka apa yang menyibukakan mereka (yakni musibah kematian).” [Hadits Shahih, riwayat Imam Asy Syafi’i ( I/317), Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad (I/205)]

Hal inilah yang disukai oleh para ulama kita seperti Syafi’iy dan lain-lain (bacalah keterangan mereka di kitab-kitab yang kami turunkan di atas).

Berkata Imam Syafi’iy : “Aku menyukai bagi para tetangga mayit dan sanak familinya membuat makanan untuk ahli mayit pada hari kematiannya dan malam harinya yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka, karena sesungguhnya yang demikian adalah (mengikuti) SUNNAH (Nabi)…. “ [Al-Um I/317]

Kemudian beliau membawakan hadits Ja’far di atas.

[Disalin dari buku Hukum Tahlilan (Selamatan Kematian) Menurut Empat Madzhab dan Hukum Membaca Al-Qur’an Untuk Mayit Bersama Imam Syafi’iy, Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat (Abu Unaisah), Penerbit Tasjilat Al-Ikhlas, Cetakan Pertama 1422/2001M]
_______
Footnote
[1]. Ini yang biasa terjadi dan Imam Syafi’i menerangkan menurut kebiasaan yaitu akan memperbaharui kesedihan. Ini tidak berarti kalau tidak sedih boleh dilakukan. Sama sekali tidak ! Perkataan Imam Syafi’i diatas tidak menerima pemahaman terbalik atau mafhum mukhalafah.
[2]. Perkataan ini seperti di atas yaitu menuruti kebiasaannya selamatan kematian itu menyusahkan dan menyibukkan. Tidak berarti boleh apabila tidak menyusahkan dan tidak menyibukkan ! Ambillah contoh firman Allah di dalam surat An-Nur ayat 33 :”Janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi”. Apakah boleh kita menyuruh budak perempuan kita untuk melacur apabila mereka menginginkannya?! Tentu tidak!

Read more https://almanhaj.or.id/2272-tahlilan-selamatan-kematian-adalah-bidah-munkar-dengan-ijma-para-shahabat-dan-seluruh-ulama-islam.html

Print Friendly, PDF & Email

Siapa Bilang Yasinan Gak Boleh .

31 Comments

  1. mungkin ada yg ga baca sejarah… sudah di jelaskan dalam sejarah penyebaran islam di indonesia… dengan pendekatan budaya…. jd acara adat yg dulunya bacaannya cara2nya pake cara n bacaan hindu budha / di ganti dengan bacaan alquran n cara2 islami…

    terimakasih cyie,.
    ajaran islam sudah sempurna, ajaran islam sangat tinggi,.
    Janganlah mencampuradukkan ajaran buatan manusia, apalagi dari ajaran hindu budha dimasukan ke dalam islam, ini merupakan pelecehan terhadap ajaran islam, ini adalah penodaan terhadap ajaran islam,

    Dan Allah tidak akan menerima amalan yang seperti itu, bahkan akan mengadzab pelakunya,.

    • benar cyie… andai saja dulu para pembawa agam Islam yang masuk ke Indonesia tdk melakukan pendekatan budaya, kemungkinan Islam tidak akan diterima…

      terimakasih sanwa,.
      Rasulullah saja sebagai sebaik-baik manusia, tidak mencampuradukkan ajaran islam yang mulia dengan budaya lokal,. bahkan penyebab kaum kafir qurasy tidak mau memeluk islam karena mereka lebih memilih budaya nenek moyang mereka,

      Jika mau mencontoh dakwah rasulullah, maka tidak akan mungkin mereka mencampuradukkan budaya lokal dengan ajaran islam, sebagaimana rasulullah juga tidak melakukannya, bahkan rasulullah tidak mau sama sekali ditawari oleh kaumnya agar rasulullah mengikuti budaya mereka, atau memasukan budaya mereka kedalam islam

      andainya mereka dulu masuk ke indonesia menyebarkan kan agama Islam dengan cara orang wahabi/salafi, insya ALLOH Islam gak akan diterima pada masa itu…

      Alhamdulillah, dakwah salafi masih terhitung mulai gencar lagi ditahun 90an, namun efek dakwahnya sudah sangat terasa, dan ini membuat gerah ASWAJA, karena banyak kaum muslimin yang haus akan ilmu ajaran islam yang bersumber dari rasulullah dengan pemahaman para sahabat, bukan dengan pemahaman tradisi/adat/ormas,. walhamdulillah,. kenapa aswaja gerah? silahkan baca disini

  2. Alhamdulillah…tradisi seperti ini di tempat saya sudah tidak adalagi…mau tahu resepnya..?…Jawabnya:..Ngajinya yang bener…

    Alhamdulillah, mudah-mudahan tempat lain menyusul..

  3. Bagaimana hukumnya jika kita melaksanakan acara selamatan tersebut hanya berniat untuk sodaqoh dan menghormati adat istiadat lingkungan saja ? karena mohon maaf, kadang lingkungan kurang bisa menerima pemahaman kita .

    Rasulullah sudah mencontohkan bagaimana tatacara bersodakoh, dan tatacara sprti acara selamatan dan itu disebut sebagai sodakoh, ini tidak dicontohkan oleh rasulullah, jika sekedar ngundang makan dalam rangka syukur nikmat, maka boleh saja, dan itu hanya ngundang makan-makan saja, tidak ada ritual2 khusus, sebagaimana acara selamatan/tahlilan yg ada di masyarakat,

    Adapun adat istiadat, itu dilihat, jika sejalan dgn ajaran islam, itu tdk mengapa, namun jika menyelisihi ajaran islam, maka adat tsb wajib ditinggalkan,. silahkan baca, pandangan islam terhadap budaya, silahkan baca disini

  4. Assalamuallaikum…
    begini, saya senang membuat cake terkadang saya mendapat pesanan kue ulang tahun. sesuai artikel diatas perayaan ulang tahun (Selamatan MANUSIA YAJNA) terdapat dalam agama hindu, selain itu juga terdapat dalam budaya barat (kristiani). dan perayaan semacam ini tidak ada dalam Islam.

    pertanyaan saya, apakah kue yang saya jual itu halal atau haram? dan perbuatan saya ini apakah termasuk dalam tolong menolong dalam perbuatan munkar?
    mohon penjelasannya…terimakasih..
    wassalamuallaikum…

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    terima kasih sudah komentar disini,.
    Ulang tahun adalah tradisi orang-orang kafir, umat islam tidak boleh meniru-niru tradisi orang kafir tersebut,
    Maka usaha untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut termasuk bentuk tolong-menolong dalam perbuatan mungkar, silahkan ibu ganti usahanya, bikin kue, tapi jangan bikin kue ulang tahun, kue yang lain kan masih banyak, dan jika ada pesanan kue ulang tahun tidak usah dilayani,
    Dan tidak usah dijelaskan secara hukum agama, jika orang tsb adalah orang awam, tapi cari jawaban lain saja,

  5. Mau tanya pak..
    Klo misalnya kita hanya mengundang orang atau tetangga dgn niat mendoakan orang yg sudah meninggal gimana pak?
    Masalah makanan itu kita niatkan sebagai ucapan terima kasih saja dan TIDAK ADA NIATAN atau kaitan pahalanya untuk orang yg mati, atau lebeih ekstrem lagi di anggap sesajen

    Tetap tidak boleh,
    Itu semua tidak ada contohnya dari rasulullah,
    selain itu untuk mencegah anggapan masyarakat bahwa itu adalah ritual ibadah, jadi sebaiknya tidak usah melakukan hal-hal diatas,.

    Anda bisa mendoakan ketika bangun di tengah malam , shalat malam,setelah itu berdoa, bisa juga berdoa disaat-saat dikabulkannya doa, jadi bukan menyuruh orang lain untuk berdoa,

  6. tahlil itu apa?..

    Terimakasih ramat, sudah komentar disini,.
    tahlil itu apa? tahlil adalah dzikir yang paling utama,. apakah tahlil itu sama dengan tahlilan kematian? oh.. ini jauh berbeda,.
    tahlil dianjurkan setiap hari, setiap saat, tapi tahlilan kematian itu di hari ke 7,10,40 dst,. ini tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah,.
    Kalau tahlil, ini ada contohnya dari rasulullah,

    apakah membaca alqur’án itu tidak d perbolehkan?..

    Siapa yang melarang membaca alquran?
    Silahkan baca alquran setiap hari, hidupkan rumah kita dengan bacaan alquran,.
    tapi…
    bukan baca alquran ketika di hari tertentu ketika dilanda kematian,.. ini tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah,

    apakah mendoakan mayat tidak d perbolehkan?..

    Siapa yang melarang mendoakan mayat? ini dianjurkan mas,.
    tapi…
    Mendoakan dengan cara tahlilan di hari ke 7,10,40 dst,. ini tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah,.
    gini aja mas,.
    coba anda lakukan tahlilan di hari ke 7,10,40,dst,. untuk orang tua anda yang masih hidup,. berani ngga mas,. kan itu doa, masa mendoakan orang tua itu nunggu jika orangtua kita sudah mati, waktu masih hidup pun orang tua butuh doa kita,.
    Ayo,.. tahlilan saat orangtua masih hidup,. berani ngga mas,.

    apakah shalawat atas nabi d larang?..

    Shalawat itu amalan yang bagus,. Rasulullah menganjurkan kita untuk banyak bershalawat,.

    tapi…
    amalkan shalawat2 yang benar-benar diajarkan oleh Rasulullah, bukan shalawat2 buatan manusia selain Rasulullah,
    Jika yg dikarjakan itu shalawat2 buatan manusia, maka ini dilarang,

    • Mas rahmat: Kalau seandainya Rosulullah masih hidup sekarang kira-kira yang disamperin ama Beliau siapa Yo, mereka yang lagi TAHLILAN atau Yang sedang nonton sambil mencela orang yang lagi TAHLILAN?
      Tentu mereka yang sedang melakukan TAHLILAN yang akan di samperin dan akan ikut memimpin TAHLILAN, dan jelas beliau akan membenci dan membelakangi mereka yang sedang menonton dan mengkafirkan orang yang lagi tahlilan. mas rahmat tau dari mana jawaban ini, ya jelaslah dari sabda Beliau yang mengatakan :
      إذا مررتم برياض الجنة فارتعوا, قالوا وما رياض الجنة يار رسول الله قال مجالس الذكر (الحديث)
      Artinya: ” Apabila kalian lewat di taman Surga maka petiklah buahnya, sahabat berkata apakah taman surga itu wahai Rosulullah ? Rosulullah Bersabda : (taman surga itu ialah ) MAJLIS ZIKIR. (al-hadits)

      Kalau melihat kisah sahabat yang pernah hidup sejaman dengan rasulullah, yang dicela itu adalah orang yang sedang melakukan amalan bidah , dulu seorang sahabat mengingkari dengan keras orang-orang yang sedang berdzikir secara berjamaah,.

      MAJLIS DZIKIR bukanlah majlis tempat melakukan DZIKIR berjamaah, sudah saya posting disini

      • nama sahabat itu siapa akhi, dan ibadah apa yang dicela itu karena ibadah masih umum sifatnya bisajadi yang dicela sahabat itu sedang beribadah menyembah pohon atu patung misalnya.

        kemudian seorang sahabat yang mengingkari dengan keras orang-orang yang sedang berzikir secara berjamaah itu siapa namanya, jangan melandaskan sahabat yang mulia dong.

        Silahkan anda baca kisah Abdullah bin Mas’ud ketika beliau mendatangi sekelompok orang di masjid yang sedang berdzikir secara berjamaah, maka beliau mengatakan:

        مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ ؟ … وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتِكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صلى الله عليه وسلم مُتَوَافِرُونَ ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِي نَفْسِي فِي يَدِهِ ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ؟! أَوْ مُفْتَتِحُوا بَابَ ضَلاَلَةٍ ؟

        “Apa yang kalian lakukan?!

        Celaka kalian wahai ummat Muhammad, betapa cepatnya kebinasaan kalian, para sahabat nabi kalian masih banyak, dan ini pakaian beliau juga belum rusak, perkakas beliau juga belum pecah, demi Dzat yang jiwaku ada di tangannya, kalian ini berada dia atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad, atau kalian sedang membuka pintu kesesatan?

        (Diriwayatkan oleh Ad-Darimy di dalam Sunannya no. 2o4, dan dishahihkan sanadnya oleh Syeikh Al-Al-Albany di dalam Ash-Shahihah 5/12)

        Baca disini

  7. maturnuwun ngajinya….tp sya tambah bingung.sbnarnya tahlilan 1,3,7….40 hri org meninggal bleh g sih..???

    terimakasih sulthan,.
    Kita adalah umat nabi muhammad,.
    Nabi Muhammad adalah manusia terbaik,.
    Dan nabi muhammad tidak pernah sekalipun melakukan amalan tersebut,.
    Jadi kita jika mengaku sebagai umatnya, ya jangan melakukan amalan yang tidak pernah rasulullah contohkan,.

  8. akhi
    ente beribadah pakai jubah spt yg diajarkan nabi ?
    kedua, jalur tanya jawab ini kan bagian dari dakwah, apa pernah berdakwah dengan jalur internet ?

    Jubah itu bukan pakaian sunnah nabi untuk orang indonesia,.
    Nabi memakai jubah,karena masyarakat setempat juga memakai jubah dan sorban,.
    Abu jahal, abu lahab juga pakai jubah,.
    cuma bedanya jubah nabi tidak isbal,

    Jadi utk indonesia, jika ingin mengikuti sunnah nabi, sebaiknya pakai baju koko, peci hitam, dan sarung yg tidak isbal,.

    Internet, itu hanya sarana, bukan urusan ibadah, sebagaimana nabi berdakwah kan pakai bahasa kaumnya, bahasa arab, itu juga sarana dakwah, kalau di indonesia kan bahasa indonesia,.

    Beda lagi yang urusan ibadah, contoh baca alquran,. harus bahasa arab,. sebab ini adalah urusan ibadah,..
    jadi paham toh, beda urusan dunia dan ibadah?

    • Internet, itu hanya sarana, bukan urusan ibadah, sebagaimana nabi berdakwah kan pakai bahasa kaumnya, bahasa arab, itu juga sarana dakwah, kalau di indonesia kan bahasa indonesia,.

      Beda lagi yang urusan ibadah, contoh baca alquran,. harus bahasa arab,. sebab ini adalah urusan ibadah,..
      jadi paham toh, beda urusan dunia dan ibadah?

      apakah tahlilan merupakan suatu ibadah???

      Apakah tahlilan itu urusan ibadah,.
      Tanya saja ke pelakunya,.
      Banyak dari mereka mengatakan, tahlilan kan doa,..
      Lalu dalam tahlilan yang dibaca itu TAHLIL,ayat alquran,.
      Lalu jika ditanya, apa motivasi mereka melakukan tahlilan? tentu ingin pahala, agar masuk surga,.

      Kalau begitu tahlilan itu urusan dunia atau ibadah?? maka jawabnya mudah,.. ITU URUSAN IBADAH,..
      nah,. urusan ibadah, wajib ada contohnya dari Rasulullah,.

  9. Kesimpulannya, muslim yang benar seharusnya “mentradisikan syariah” bukan malah tradisi nenek moyang “disyariahkan”.

  10. Jazakallahu katsiron ilmunya.
    Semoga Allah senantiasa menjaga ilmu antum. Aamiin.

    Aamiin,. jazakumullahu khairan,

  11. Dalil tahlilan tidak ada yang sohih, doif dan dicari-cari, kalau memang ada pasti ada hadits sohih yang menerangkan berapa hari Rasulullah mengadakan tahlilan saat anak-anaknya atau sahabat wafat!

    betul,..

  12. aku mendoakan si mayat /tahlilah hari ke 7 apa ga boleh?
    lu maunya hari ke berapa ? terserah lu deh banyak usil

    itu sih namanya orang pelit berdoa mas agus,.

    Jika orangtuanya meninggal, kok di doakan di hari ke 7, itu adalah anak yang durhaka,. ngga ingat kebaikan orangtua,.

  13. Seandainya budaya dicampurbaur dgn agama,menurut yg pro selametan 1,3,7… Gimana nih?

    Kalo misalkan ada yg ngadain haloween atau valentine tapi disusupi ajaran islam biar terkesan islami,ada doa bersama,sholawat,baca qur’an,shodaqoh.
    Apakah terlarang atau boleh?

    Seandainya yg pro selametan mengatakan terlarang “itu bid’ah itu tasyabuh org kafir(nashrani) ,kemudian yg pro valentin/haloween membela kan itu gak dilarang dalam islam,

    mana dalil pelarangannya?

    kan bagus niatnya baik ada pake doa,sholawat,baca qur’an,ada shodaqohnya, lah kamu sendiri selametan itu juga bid’ah,tasyabuh org kafir kok.
    Saya kira analogi itu cukup jelas untuk yg pro selametan. 😀

    Ya,. itulah jika beragama berdasarkan logika, maka ajaran islam akan semakin terkontaminasi, akan banyak bermunculan ajaran-ajaran baru dan dianggap sebagai amalan baik, amalan islam, contohnya ya spt tahlilan,yasinan,maulidan,shalawatan,..

    Padahal, budaya itu harus ditimbang dengan hukum islam, jika bertentangan dengan hukum islam, maka wajib ditinggalkan budaya tersebut,.
    Saya sudah posting tentang budaya, silahkan baca disini

    Dan niat baik semata tidaklah cukup sebagai pembenaran amalan-amalan baru, kan niatnya baik,.. niat baik harus dengan cara yang baik pula, yaitu cara yg diajarkan oleh Rasulullah, silahkan baca disini

  14. berbicra tentng Ulang Tahun
    jika anda mengatakan bahwa ulang tahun itu tradisi orang kafir , lau apa bedanya dengan Isra Mi’raj ?
    terima kasih.

    Sama saja mas, itu juga meniru-niru ajaran orang kristen , dimana mereka ada kenaikan isa almasih, lalu ada orang islam yang latah mengadakan isra mi’raj, padahal Rasulullah, para sahabat,tabiin,tabiut tabiin, imam yang empat, ga ada satupun yang melakukan isra mi’raj, lalu ini amalan siapa?.. itulah ga jelasnya,.

    orang kristen ada natalan,. eh umat islam latah ngadain maulid,.

    orang kafir ada tahun baru masehi, eh umat islam latah ngadain tahun baru islam,.

    Begitulah,.. ga ada dalilnya semua itu,. hanya ikut-ikutan yang jadi patokannya,. sudah diulas dialognya disini

  15. Assalamualaikum..
    makasih atas ilmu2nya pak ,slma ini sy kok salah kaprah dlm hal beginian,

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    Terimakasih mas Gatot,.
    Yah begitulah mas,. akibat Islam turunan, islam tradisi,. tidak mau belajar lagi tentang islam,.
    Islam yang didapat cukup islam saat SD, atau TK,. tidak mau mendalami ttg islam,. padahal ini menyangkut masalah akherat,.
    untuk masalah dunia saja rela mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi, tapi urusan islam kok cukup yang didapatkan waktu kecil,.

    Sehingga setelah sekolah tinggi, cara wudhu masih salah, apalagi cara shalat,. tidak paham bagaimana wudhu dan shalat yang diajarkan Rasulullah,

  16. Kalo ajaran kanjeng sunan kalijaga pripun pak…

    Banyak yang menyimpang pak, mencampur adukkan antara yang batil dengan yang hak,.
    Bahkan tindakan sunan kalijaga ini diingkari oleh sunan yang lainnya, sudah saya ulas disini contoh amalan karya sunan kalijaga, baca disini

  17. Jgn berkedok meluruskan, akan tetapi maksud yg sebenarnya utk membelokkan kebenaran.

    RITUAL TAHLILAN tersebut yang membelokkan kebenaran.. tertipu oleh setan

  18. Kok bisa2nya kita yang hidup dijaman skarang menyalahkan sunan kalijaga yang akibat jasanya kita bisa jadi orang muslim,..

    kalau saja sunan kalijaga itu salah dalam akidah pasti sunan yang lain sudah melarangnya mnyebarkn islam,bhkan bisa dihukum seperti syech siti jenar tp buktinya sunan kalijaga tetap menyebarkan islam tanpa ada larangan dari sunan yang lain…..

    meminjam istilah cak lontong,MIKIR !

    Ada tuh, sunan yang lain mengingatkan cara dakwah sunan kalijaga yang salah, ngga bener, mencampur adukkan ajaran hindu ke dalam islam,.
    Silahkan baca disini, TAHLILAN MENURUT WALISANGA, KLIK disini

    meminjam istilah cak lontong,MIKIR !

  19. Klo antum2 semua yg ada di sini merasa benar dan ingin mengikuti sunnah Rosulullah yuk kuruj fi sabilillah setiap bulan 3hari,setiap tahun 40hari, seumur hidup 4bulan baru daripada online terus mending kerja usaha atas iman yg sudaha pasti mengajak umat kepada Allah,dan inilah kerja para nabi,Rosul,dan para sahabat… Wasalam n no coment

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    eh ada karkun mampir kesini, lagi khuruj kemana nih??

    Eh mau tanya, tolong tunjukkan dong, dimana Rasulullah mengajarkan khuruj itu,..
    Kok ga ada haditsnya ya?
    Dulu Rasulullah mengutus sahabatnya untuk keluar berdakwah, itu ditunjuk sahabat yang berilmu,. tapi bukan 40 hari, atau paling lama empat bulan, tapi ada yang menetap, utk menyebarkan ilmu,. dan bukan melancong dari masjid ke masjid…

    Bukan pula mengajak orang bodoh utk berdakwah,. ga seperti jamaah tabligh, lah wong preman baru tobat, belum ngarti apa-apa, sudah diajak utk berdakwah,.. apa yang mau disampaikan??

    Kalau ada dokter belum paham ilmunya lalu membuka praktek, itu disebut mal praktek, kalau ketahuan bisa dipenjara,.. nah..ini mal praktek dalam dakwah,. resikonya berat ,.. Allah sendiri yang akan memintai pertanggungjawaban,.

    Tentang khuruj, apakah itu ajaran nabi atau bukan, silahkan baca disini

    Ini kawan anda yang dulu ikutan khuruj, alhamdulillah tobat, ga mau ikutan lagi, baca kisahnya disini

  20. Alhamdulillah pencerahannya sangat berbobot dan bermanfaat. Semoga islam semakin murni ajarannya berkat dakwah blog ini.

    Alhamdulillah,.
    Aamiin

  21. Penjelasannya sebenarnya mudah dimengerti,tapi kenapa mereka yg pro bid’ah susah banget paham????

    Karena hidayah taufik itu hanya Allah yang mampu memberikannya,..
    Dan setan pun tidak mau melihat pelaku bid’ah bertaubat dari bidah, dan pelalu bid’ah itu memang lebih sulit taubatnya , karena bagaimana mau taubat, ibadah koq disuruh taubat,..itu asumsi mereka,

  22. Temen saya gak ikut tahlilan yasinan dll…kok dimusuhi di jauhi? Aneh bener orang orang pro bid’ah ini.Main paksa

    Amalan sunnah akan membawa kepada kebaikan
    Amalan bidah akan membawa kepada keburukan

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*