Apa Kata Imam Syafii Tentang Membaca Alquran Dan Menghadiahkannya Untuk Orang Yang Sudah Mati

HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN UNTUK MAYIT BERSAMA IMAM ASY-SYAFI’IY

Oleh: Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Firman Allah Jalla wa ‘Alaa.
“Artinya : Bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya manusia tidak akan memperoleh (kebaikan) kecuali apa yang telah ia usahakan” [An-Najm : 38-39]

Berkata Al-Hafidz Ibnu Katsir di dalam menafsirkan ayat di atas.
“Yaitu, sebagaimana seseorang tidak akan memikul dosa orang lain demikian juga seorang tidak akan memperoleh ganjaran (pahala) kecuali apa-apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri.

Dan dari ayat yang mulia ini Al-Imam Asy-Syafi’iy bersama para ulama yang mengikutinya telah mengeluarkan hukum :

Bahwa bacaan Qur’an tidak akan sampai hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati. Karena bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha mereka.

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensyariatkan umatnya (untuk menghadiahkan bacaan Qur’an kepada orang yang telah mati) dan tidak juga pernah menggemarkannya atau memberikan petunjuk kepada mereka baik dengan nash (dalil yang tegas dan terang) dan tidak juga dengan isyarat (sampai-sampai dalil isyarat pun tidak ada).

Dan tidak pernah dinukil dari seorangpun shahabat (bahwa mereka pernah mengirim bacaan Qur’an kepada orang yang telah mati). Kalau sekiranya perbuatan itu baik tentu para shahabat telah mendahului kita mengamalkannya [1]. Dan dalam masalah peribadatan hanya terbatas pada dalil tidak boleh dipalingkan dengan bermacam qiyas dan ra’yu (pikiran)” [2]

Telah berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Tidak menjadi kebiasaan salaf, apabila mereka shalat sunnat atau puasa sunnat atau haji sunnat atau mereka membaca Qur’an lalu mereka menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang telah mati dari kaum muslimin. Maka tidaklah boleh berpaling (menyalahi) perjalanan salaf. Karena sesungguhnya kaum salaf itu lebih utama dan lebih sempurna” [Dari Kitab Al-Ikhtiyaaraat Ilmiyyah]

Keterangan di atas menunjukkan kepada kita bahwa bacaan Al-Qur’an bukan untuk orang yang telah mati akan tetapi untuk orang yang hidup.

Membaca Qur’an untuk orang yang telah mati hatta untuk orang tua dan menghadiahkan pahala bacaan tersebut kepada mereka, adalah perbuatan yang sama sekali tidak berdalil bahkan menyalahi Al-Qur’an sendiri dan Sunnah dan perbuatan para shahabat.

Sebagaimana telah dijelaskan oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang mengambil dari Al-Imam Asy-Syafi’iy yang dengan tegas mengatakan bahwa bacaan Qur’an tidak akan sampai kepada orang yang telah mati. Demikian juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan bahwa perbuatan tersebut tidak pernah diamalkan oleh kaum salaf.

Dari sini kita mengetahui, bahwa membaca Qur’an untuk orang yang telah mati tidak pernah terjadi di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau ada, tentulah para shahabat yang pertama mengamalkannya sebelum orang lain.

Kemudian amalan itu akan dinukil oleh tabi’in dan tabi’ut tabi’in termasuk Syafi’iy di dalamnya yang beritanya akan mencapai derajat mutawatir atau sekurang-kurangnya masyhur. Kenyataan yang ada sebaliknya, mereka sama sekali tidak pernah mengamalkannya sedikitpun.

Adapaun yang menyalahi Al-Kitab ialah.
[1]. Bahwa Al-Qur’an bacaan untuk orang yang hidup bukan untuk orang yang mati.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Agar supaya Al-Qur’an itu menjadi peringatan bagi orang-orang yang hidup” [Yasin : 70]

[2]. Al-Qur’an itu hidayah/petunjuk bagi manusia

[3]. Al-Qur’an juga memberikan penjelasan dari petunjuk tersebut yang merupakan dalil dan hujjah.

[4]. Al-Qur’an juga sebagai Al-Furqan pembela antara yang hak dengan yang batil
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Bulan ramadlan yang diturunkan di dalamnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan baiyinaat (penjelasan-penjelasan yang merupakan dalil-dalil dan hujjah yang terang) dari petunjuk tersebut dan sebagai Al-Furqan” [Al-Baqarah : 185]

[5]. Di dalam Al-Qur’an penuh dengan larangan dan perintah. Dan lain-lain masih banyak lagi yang semuanya itu menjelaskan kepada kita bahwa Al-Qur’an adalah untuk orang yang hidup bukan untuk orang yang mati. Mungkinkah orang-orang yang telah mati itu dapat mengambil hidayah Al-Qur’an, mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya dan lain-lain?.

Adapun sunnah terlalu banyak haditsnya yang tidak memungkinkan bagi saya menurunkan satu persatu kecuali satu hadits di bawah ini.

“Artinya : Dari Abu Hurairah : “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu itu sebagai kuburan. Sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah” [Hadits Shahih riwayat Muslim 2/188]

Hadits ini memberikan pelajaran yang tinggi kepada kita di antaranya.
[1]. Rumah yang tidak dikerjakan ibadah di dalamnya seperti shalat sunat dan tilawah (membaca) Al-Qur’an, Nabi samakan dengan kuburan.

[2]. Mafhumnya (yang dapat dipahami) bahwa kuburan bukan tempat membaca Al-Qur’an apalagi menamatkannya…?

[3]. Sekali lagi kita memahami dari sunnah nabawiah bahwa Qur’an bukanlah bacaan untuk orang-orang yang telah mati. Kalau Qur’an itu boleh dibacakan untuk orang-orang yang telah mati tentulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyamakan rumah yang di dalamnya tidak dibacakan Qur’an dengan kuburan! Dan tentulah Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan bersabda : “Jadikanlah rumah-rumah kamu seperti kuburan!!!”.

Sungguh benar apa yang telah dikatakan Ibnu Katsir :

“Tidak dinukil dari seorangpun shahabat bahwa mereka pernah mengirim bacaan Qur’an kepada orang-orang yang telah mati. Kalau sekiranya perbuatan itu baik tentulah para shahabat telah mendahului kita mengamalkannya (Laukana khairan lasabakuna ilaihi)”.

Saya berkata : “Inilah rahasia yang besar dan hikmah yang dalam bahwa tidak ada seorangpun shahabat yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masalah membacakan Qur’an kepada orang-orang yang telah mati dan menghadiahkan pahala bacaannya hatta untuk orang tua mereka sendiri.

Di mana mereka bertanya tentang sedekah, puasa nadzar dan haji untuk orang tua mereka yang telah wafat. Kenapa mereka tidak bertanya tentang Qur’an atau shalat atau dzikir atau mengirim Al-Fatihah untuk orang tua mereka yang telah wafat?

Jawabnya, kita perlu mengetahui kaidah besar tentang para shahabat. Bahwa para shahabat adalah aslam (yang paling taslim atau menyerah kepada keputusan Allah dan Rasul-Nya) dan a’lam (yang paling mengetahui tentang agama Islam) dan ahkam (yang paling mengetahui tentang hukum dan paling tepat hukumnya). Oleh karena itu mereka sangat mengetahui bahwa bacaan Qur’an bukan untuk orang-orang yang telah mati akan tetapi bacaan untuk orang yang hidup.

KESIMPULAN
[1]. Bahwa Al-Qur’an untuk orang yang hidup bukan untuk orang yang telah mati.

[2]. Membaca Al-Qur’an untuk orang yang telah mati dan menghadiahkan pahalanya kepada mayit bertentangan dengan Al-Qur’an sendiri dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama ijma’ para shahabat. Dengan demikian perbuatan tersebut tidak ragu lagi adalah BID’AH MUNKAR. Karena amalan tersebut tidak pernah terjadi pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun pada zaman shahabat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkannya hatta dengan isyarat. Dan para shahabat tidak pernah mengamalkannya sedikit pun juga..

[3]. Menurut Imam Syafi’iy bacaan Qur’an tidak akan sampai kepada orang-orang yang telah mati.

[4]. Membaca Al-Qur’an untuk orang yang telah mati menghilangkan sebagian dari maksud diturunkannya Al-Qur’an.

[5]. Kuburan bukan tempat membaca Al-Qur’an apalagi menamatkannya.

[Disalin dari buku Hukum Tahlilan (Selamatan Kematian) Menurut Empat Madzhab dan Hukum Membaca Al-Qur’an Untuk Mayit Bersama Imam Syafi’iy, Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat (Abu Unaisah), Penerbit Tasjilat Al-Ikhlas, Cetakan Pertama 1422/2001M]
__________
Foote Note
[1]. Peganglah kuat-kuat kaidah yang besar ini! Bahwa setiap amal kalau itu baik dan masuk ke dalam ajaran Islam tentulah diamalakan lebih dahulu oleh para shahabat. Mafhumnya, kalau ada sesuatu amal yang diamalkan oleh sebagian kaum muslimin akan tetapi para shahabat tidak pernah mengamalkannya, maka amal tersebut jelas tidak baik dan bukan dari Islam.
[2]. Di dalam kaidah ushul yang telah disepakati “apabila nash (dalil) telah datang batallah segala ra’yu/pikiran

sumber : http://almanhaj.or.id/content/2273/slash/0/hukum-membaca-al-quran-untuk-mayit-bersama-imam-asy-syafiiy/

Tonton videonya :

Print Friendly, PDF & Email

Maksud Imam Syafii Pahala Bacaan Al Quran Tidak Sampai Perkataan Imam Syafii Tentang Quran Cara Mndoakn Ortu Yg Sudah Mniggal Hukum Mengirim Alquran Menurut Imam Syafii Tingkatan Baca Alquran Imam Syafii

29 Comments

  1. MAs Mochammad Muslich Amuskan & Mas Bambang Soedjatmiko coba perhatikan @ Tahlilan sampai tujuh hari ternyata tradisi para sahabat Nabi Saw dan para tabi’in
    Sayyidina Ali bin Abi Thalib saat ditanya tentang maksud kalimat “ Bergaullah kepada masyarakat dengan perilaku yang bauik “, maka beliau menjawab “ Yang dimaksud perkara yang baik dalam hadits tersebut adalah :

    هو موافقة الناس في كل شيئ ما عدا المعاصي

    “ Beradaptasi dengan masyarakat dalam segala hal selain maksyiat “. Tradisi atau budaya yang diharamkan adalah yang menyalahi aqidah dan amaliah syare’at atau hukum Islam.
    Imam Suyuthi Rahimahullah dalkam kitab Al-Hawi li al-Fatawi-nya mengtakan :

    قال طاووس : ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام

    “ Thowus berkata “ Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabt Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut “.
    Sementara dalam riwayat lain :

    عن عبيد بن عمير قال : يفتن رجلان مؤمن ومنافق, فاما المؤمن فيفتن سبعا واماالمنافق فيفتن اربعين صباحا

    “ Dari Ubaid bin Umair ia berkata “ Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari “.

    Sementara bila ditinjau dalam sisi diroyahnya, sebgaimana kaidah yang diakui ulama ushul dan ulama hadits bahwa “ Setiap riwayat seorang sahabat Nabi Saw yang ma ruwiya mimma la al-majalla ar-ra’yi fiih (yang tidak bisa diijtihadi), semisal alam barzakh dan akherat, maka itu hukumnya adalah Marfu’ (riwayat yang sampai pada Nabi Saw), bukan Mauquf (riwayat yang terhenti pada sahabat dan tidak ampai kepada Nabi Saw).

    Menurut ulama ushul dan hadits, makna ucapan Thowus ;

    ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام

    berkata “ Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabt Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut “, adalah para sahabat Nabi Saw telah melakukannya dan dilihat serta diakui keabsahannya oleh Nabi Saw sendiri.

    (al-Hawi) li al-Fatawi, juz III hlm. 266-273, Imam As-Suyuthi).

    Maka tradisi bersedekah selama mitung dino / tujuh hari atau empat puluh hari pasca kematian, merupakan warisan budaya dari para tabi’in dan sahabat Nabi Saw, bahkan telah dilihat dan diakui keabsahannya pula oleh beliau Nabi Muhammad Saw.
    BGMN KOMENTNYA ?

    Wah mantep nih komentarnya mas bambang, saya acungi jempol,.
    Tapi kenapa tidak kita dapati Rasulullah melakukan tahlilan kematian baik dihari ke 7 dan seterusnya,.
    Kenapa tidak kita dapati Abu Bakar melakukan tahlilan kematian baik dihari ke 7 dan seterusnya,.
    Kenapa tidak kita d apati Umar bin Khattab, Utsman, Ali bin Abi Thalib tahlilan melakukan kematian baik dihari ke 7 dan seterusnya,.
    Kenapa tidak kita dapati THAWUS melakukan tahlilan kematian baik dihari ke 7 dan seterusnya,.
    Kenapa tidak kita dapati Para Ulama melakukan tahlilan kematian baik dihari ke 7 dan seterusnya,.
    Kenapa tidak kita dapati Imam Suyuti melakukan tahlilan kematian baik dihari ke 7 dan seterusnya,.

    Kenapa tidak kita dapati IMAM SYAFII melakukan tahlilan kematian baik dihari ke 7 dan seterusnya,.

    Dan lucunya, ritual tahlilan kematian di hari ke 7 dan seterusnya itu ada di Indonesia dan sekitarnya saja,.

    Hebat ya mas, orang indonesia itu bukan ahli modifikasi mobil dan motor saja, Agama pun tak lepas dari modifikasi,. top markotop deh,.

    • Sampai atau Tidak Sampai, Bukan Boleh atau Tidak Boleh
      Memang ada juga yang nyinyir, ketika membahas sampai tidaknya pahala bacaan al-Qur’an perspektif Imam Syafi’i. Dengan menyebutkan; “katanya ikut madzhab Syafi’i, tapi kenapa tak ikut Imam as-Syafi’i (w. 204 H)?”
      Agak susah sebenarnya melacak langsung pernyataan Imam as-Syafi’i (w. 204 H) ini. Biasanya kebanyakan mengambil dari pernyataan Imam an-Nawawi (w. 676 H), bahwa yang masyhur dari madzhab as-Syafi’i adalah tidak sampai.
      ﻓﺎﻟﻤﺸﻬﻮﺭ ﻣﻦ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﺟﻤﺎﻋﺔ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺼﻞ
      Pendapat yang masyhur dari Madzhab Syafi’i dan beberapa jamaah adalah tidak sampai (Pahala bacaan al-Qur’an) (Yahya bin Syaraf an-Nawawi w. 676 H, al-Adzkar , h. 278)
      Ada beberapa catatan terkait pernyataan Imam as-Syafi’i (w. 204 H), yang sering dinukil oleh mereka yang menyatakan tidak sampai ini.
      Pertama, pernyataan dari Imam as-Syafi’i ini susah dilacak, kalaupun ada ini adalah pendapat yang masyhur dari madzhab as-Syafi’i.
      Terlebih ini adalah pernyataan yang sepotong. Apakah dalam semua keadaan, bacaan al-Qur’an kepada mayyit itu tidak sampai, atau ada syarat khusus dan kriteria tertentu agar bisa bermanfaat kepada mayyit.
      Karena Imam as-Syafi’i (w. 204 H) pernah juga menyatakan:
      ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﻘﺮﺃ ﻋﻨﺪﻩ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ، ﻭﺇﻥ ﺧﺘﻤﻮﺍ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻋﻨﺪﻩ ﻛﺎﻥ ﺣﺴﻨﺎ
      Imam as-Syafi’i (w. 204 H) mengatakan: Disunnahkan membaca al-Qur’an kepada mayit yang telah di kubur. Jika sampai khatam al-Qur’an, maka itu lebih baik. (Yahya bin Syaraf an-Nawawi w. 676 H, Riyadh as-Shalihin , h. 295)
      Ada hal menarik disini. Jika dikatakan menurut Imam as-Syafi’i (w. 204 H) muthlak tidak sampai dalam keadaan apapun, kenapa Imam as-Syafi’i (w. 204 H) malah menganjurkan mengkhatamkan al-Qur’an kepada mayit setelah di kuburkan? Atau bahasa lainnya, Imam as-Syafi’i (w. 204 H) malah menganjurkan khataman al-Qur’an di kuburan.
      Kedua, tentu yang lebih paham tentang fiqih Syafi’i adalah para ulama asli madzhab as-Syafi’I, bukan ulama dari non Syafi’iyyah pastinya. Karena sangat rentan mutilasi pernyataan atau kesalahan dalam memahami perkataan.
      Syaikh al-Islam Zakaria Al-Anshari as-Syafi’i (w. 926 H) dan Ibnu Hajar Al-Haitami as-Syafi’i (w. 974 H), sebagai ulama dalam madzhab as-Syafi’i menyimpulkan bahwa, maksud bacaan al-Quran itu tidak sampai jika tidak diniatkan atau tidak dibacakan di hadapan si mayit. (lihat: Syaikh al-Islam Zakaria al-Anshori w. 926 H, Fath al-Wahhab , h. 2/ 23, dan Ibnu Hajar Al-Haitami w. 974 H, Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubro , 2/ 27).
      Ketiga, ini yang terpenting. Memang masalah ini menjadi perbedaan diantara para ulama sejak dahulu. Hanya saja perbedaan mereka terkait, “Sampai atau tidak”, bukan pada “Boleh atau tidak boleh” atau “Ada tuntunannya atau tidak” atau “Rasulullah melakukannya atau tidak”.
      Mengaji Fiqih Hanbali dari Ulama Hanbali
      Jika memahami fiqih Syafi’i harusnya dari ulama Syafi’iyyah, tentu hal yang sama juga dalam memahami fiqih Hanbali.
      Termasuk jika ada yang nyinyir mengatakan, “Katanya ikut madzhab Syafi’i, tapi kenapa tak ikut Imam as-Syafi’i (w. 204 H)?”, silahkan balas saja; “Katanya ikut madzhab Hanbali, tapi kenapa tak ikut Imam Ahmad bin Hanbal (w. 204 H)?”
      Hampir-hampir ulama Hanbali yang muktamad, semuanya menyatakan sampainya kiriman pahala bacaan al-Qur’an kepada mayyit, termasuk Surat al-Fatihah.
      Mana dalilnya? Kalau mau tau, silahkan tanya ulama dibawah ini:
      Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H): Bacalah Surat al-Fatihah Saat ke Kuburan
      Abu Bakar Al-Marrudzi al-Hanbali (w. 275 H); salah seorang murid terdekat Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) pernah mendengar sendiri Imam Ahmad berkata:
      ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻤﺮﻭﺫﻱ : ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺣﻤﺪ ﻳﻘﻮﻝ : ﺇﺫﺍ ﺩﺧﻠﺘﻢ ﺍﻟﻤﻘﺎﺑﺮ ﻓﺎﻗﺮﺀﻭﺍ ﺑﻔﺎﺗﺤﺔ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﻤﻌﻮﺫﺗﻴﻦ، ﻭﻗﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ، ﻭﺍﺟﻌﻠﻮﺍ ﺛﻮﺍﺏ ﺫﻟﻚ ﺇﻟﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﻘﺎﺑﺮ؛ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻴﻬﻢ، ﻭﻛﺎﻧﺖ ﻫﻜﺬﺍ ﻋﺎﺩﺓ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺮﺩﺩ ﺇﻟﻰ ﻣﻮﺗﺎﻫﻢ؛ ﻳﻘﺮﺀﻭﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ .
      Saya (al-Marrudzi) pernah mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Jika kalian masuk ke kuburan, maka bacalah Surat al-Fatihah, al-Muawwidzatain dan al-Ikhlas. Lantas jadikanlah pahala bacaan itu untuk ahli kubur, maka hal itu akan sampai ke mereka. Dan inilah kebiasaan kaum Anshar ketika datang ke orang-orang yang telah wafat, mereka membaca al-Qur’an.
      (Mushtafa bin Saad al-Hanbali w. 1243 H, Mathalib Ulin Nuha , h. / 935).
      Disini ada 2 hal penting: Pertama, Membaca Surat al-Fatihah kepada mayyit itu dianjurkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H).
      Kedua, Membaca al-Qur’an di kuburan itu bukan hal yang dilarang, bahkan ini perbuatan para kaum Anshar. Paling tidak, ini menurut Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H).
      Hal itu bisa kita temukan di kitab Mathalib Ulin Nuha , karangan Mushtafa bin Saad al-Hanbali (w. 1243 H). Beliau seorang ulama madzhab Hanbali kontemporer, seorang mufti madzhab Hanbali di Damaskus sejak tahun 1212 H sampai wafat. Kitab
      Mathalib Ulin Nuha itu sendiri adalah syarah atau penjelas dari kitab Ghayat al-Muntaha karya Syeikh Mar’i bin Yusuf al-Karmi (w. 1033 H). (Khairuddin az-Zirikly w. 1396 H, al-A’lam , h. 7/ 234)
      Kitab Ghayat al-Muntaha karya Syeikh Mar’i bin Yusuf (w. 1033 H) ini juga banyak mengambil dari 2 kitab ulama Hanbali sebelumnya; al-Iqna’ li Thalib al-Intiqa’ karya Musa bin Ahmad Abu an-Naja al-Hajawi (w. 968 H) dan Muntaha al-Iradat karya Taqiyuddin Ibn an-Najjar al-Futuhi (w. 972 H). Artinya Kitab Mathalib Ulin Nuha diatas, secara sanad keilmuan fiqih Hanbali, bisa dipertanggungjawabkan silsilah sanadnya.
      Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah (w. 728 H): Yang Benar Adalah Semua Pahalanya Sampai, Bahkan Termasuk Shalat
      Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H) memang disatu sisi menjadi panutan utama beberapa kalangan yang membid’ahkan pengiriman pahala bacaan al-Qur’an.
      Hanya dalam kaitan pengiriman pahala bacaan al-Qur’an ini, Fatwa Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) tak begitu dihiraukan.
      Syaikh Ibnu Taimiyah berkata di dalam kitab Majmu’ Al-Fatawa juz 24 halaman 367 :
      ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻣﻦ ﺃﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﺒﺮ ﻓﻼ ﻧﺰﺍﻉ ﺑﻴﻦ ﻋﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻓﻲ ﻭﺻﻮﻝ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﻤﺎﻟﻴﺔ ﻛﺎﻟﺼﺪﻗﺔ ﻭﺍﻟﻌﺘﻖ ﻛﻤﺎ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﺃﻳﻀﺎ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻻﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻴﻪ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﻭﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻋﻨﺪ ﻗﺒﺮﻩ . ﻭﺗﻨﺎﺯﻋﻮﺍ ﻓﻲ ﻭﺻﻮﻝ ﺍﻷﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﺒﺪﻧﻴﺔ : ﻛﺎﻟﺼﻮﻡ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ . ﻭﺍﻟﺼﻮﺍﺏ ﺃﻥ ﺍﻟﺠﻤﻴﻊ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻴﻪ
      Adapun bacaan Al-Quran, shodaqoh dan ibadah lainnya termasuk perbuatan yang baik dan tidak ada pertentangan dikalangan ulama ahli sunnah wal jamaah bahwa sampainya pahala ibadah maliyah seperti shodaqoh dan membebaskan budak. Begitu juga dengan doa, istighfar, sholat dan doa di kuburan. Akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang sampai atau tidaknya pahala ibadah badaniyah seperti puasa, sholat dan bacaan. Pendapat yang benar adalah semua amal ibadah itu sampai kepada mayit.
      Serunya dalam fatwa Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) ini, beliau menyebut bahwa baik puasa, bacaan al-Qur’an bahkan shalat sekalipun itu akan sampai transferan pahalanya kepada mayyit.
      Lah, kira-kira bagaimana teknisnya mengirim pahala shalat kepada mayyit, menurut fatwa Ibnu Taimiyyah ini ya? Kirim pahala shalat untuk mayyit, bid’ah apa lagi ini?
      Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah (w. 751 H): Perkataan Bahwa Tak Ada Tuntunannya Dari Ulama Salaf, Itu Adalah Perkataan Dari Orang Yang Tak Ada Ilmunya
      Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah (w. 751 H) sebagai murid Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) bahkan menjelaskan panjang lebar masalah ini. So, jika ingin tahu dalilnya, baca saja kitab ar-Ruh. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) menyebut:
      ﻭﺃﻱ ﻓﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﻭﺻﻮﻝ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻮ ﻣﺠﺮﺩ ﻧﻴﺔ ﻭﺇﻣﺴﺎﻙ ﺑﻴﻦ ﻭﺻﻮﻝ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﺍﻟﺬﻛﺮ، ﻭﺍﻟﻘﺎﺋﻞ ﺃﻥ ﺃﺣﺪﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻟﻢ ﻳﻔﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﻗﺎﺋﻞ ﻣﺎﻻ ﻋﻠﻢ ﻟﻪ ﺑﻪ
      Apa bedanya sampainya pahala puasa dengan bacaan al-Qur’an dan dzikir. Orang yang mengatakan bahwa ulama salaf (bukan salafi) tak pernah melakukan hal itu, berarti orang itu tak ada ilmunya (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah w. 751 H, ar-Ruh , h. 143)
      Agak pedas memang pernyataan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) ini. Kata beliau, justru para salaf-lah yang melakukan hal itu. Mereka yang mengatakan para salaf tak pernah melakukannya, berarti perkataan itu muncul dari orang yang tak ada ilmunya.
      Ibnu Quddamah al-Hanbali (w. 620 H): Kaum Muslimin di Tiap Waktu dan Tempat, Mereka Berkumpul Untuk Menghadiahkan Bacaan al-Qur’an Untuk Mayit
      Ulama Hanbali yang lebih senior dari Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H) adalah Ibnu Quddamah al-Hanbali (w. 620 H).
      Dengan jelas beliau menyebut bahwa, di tiap waktu dan di seluruh penjuru negeri, kaum muslimin berkumpul untuk membaca al-Qur’an. Lantas pahala bacaan al-Qur’an itu mereka hadiahkan kepada orang yang telah wafat, tanpa ada yang mengingkarinya. Dan itu adalah ijma’ kaum muslimin.
      ﻭﻟﻨﺎ، ﻣﺎ ﺫﻛﺮﻧﺎﻩ، ﻭﺃﻧﻪ ﺇﺟﻤﺎﻉ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ؛ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻋﺼﺮ ﻭﻣﺼﺮ ﻳﺠﺘﻤﻌﻮﻥ ﻭﻳﻘﺮﺀﻭﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ، ﻭﻳﻬﺪﻭﻥ ﺛﻮﺍﺑﻪ ﺇﻟﻰ ﻣﻮﺗﺎﻫﻢ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻧﻜﻴﺮ
      Ijma’ kaum muslimin menyatakan bahwa di tiap waktu dan di seluruh penjuru negeri, kaum muslimin berkumpul untuk membaca al-Qur’an. Lantas pahala bacaan al-Qur’an itu mereka hadiahkan kepada orang yang telah wafat, tanpa ada yang mengingkarinya. (Ibnu Quddamah al-Hanbali w. 620 H, al-Mughni , h. 2/ 423)
      Tentu pernyataan yang serius jika hal ini telah menjadi ijma’ kaum muslimin, dimana hampir semua zaman dan setiap tempat, para kaum muslimin melaksanakannya.
      Bahkan lebih dari itu, mereka melakukannya dengan berkumpul berjamaah, bareng-bareng membaca al-Qur’an untuk dikirimkan kepada mayyit, persis seperti yang ada di negeri kita Indonesia ini.
      Paling tidak, itulah yang dialami oleh Ibnu Quddamah al-Maqdisi (w. 620 H) dan kaum muslimin di Damaskus, sekitar 8 abad yang lalu di hampir seantero negeri saat itu.
      Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H)
      Dalam hal ini, Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) lebih memilih bahwa bacaan al-Quran itu sampai dan boleh.
      ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺃﻧﻪ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﻘﺮﺃ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺑﻨﻴﺔ ﺃﻧﻪ ﻟﻔﻼﻥ ﺃﻭ ﻓﻼﻧﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ، ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﻗﺮﻳﺒﺎ ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﻗﺮﻳﺐ . ﻭﺍﻟﺮﺍﺟﺢ : ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻷﻧﻪ ﻭﺭﺩ ﻓﻲ ﺟﻨﺲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﺟﻮﺍﺯ ﺻﺮﻓﻬﺎ ﻟﻠﻤﻴﺖ
      Pendapat kedua, adalah mayyit bisa mendapat manfaat dari apa yang dikerjakan orang yang masih hidup. Hukumnya boleh, orang membaca al-Quran lantas berkata; “Saya niatkan pahala ini untuk fulan atau fulanah. Baik orang itu kerabat atau bukan. Ini adalah pendapat yang rajih. (Muhammad bin Shalih al-Utsaimin w. 1421 H, Majmu’ Fatawa wa Rasail , h. 7/ 159)
      Mari Ittiba’ Rasul!
      Pernyataan ini benar, tapi tak jarang disalahgunakan. Suatu amalan yang pernah dikerjakan Nabi atau belum pernah itu, bukan standar satu-satunya sebuah amalan dikatakan boleh atau tidak boleh.
      Justru kesalahan logika yang fatal, jika membuat sebuah kaidah ushul fiqih baru bahwa, amalan yang tak pernah dijalankan Nabi pasti semuanya bid’ah yang haram.
      Tentu jika orang awam yang ditanya, “Memang Nabi pernah melakukannya?” pasti akan melongo, tak bisa jawab. Seolah dalil satu-satunya adalah ‘pernah dijalankan Nabi’. Padahal ada hal yang penting untuk dibahas terlebih dahulu, yaitu mendefiniskan apa itu dalil, berikut kriteria dan macam-macam dalil itu.
      Kembali kepada judul tulisan, jika ingin tahu dalil sampai dan bolehnya bacaan al-Quran kepada orang yang telah wafat, silahkan digali dari ulama diatas.
      Jika menganggap bahwa perbuatan menghadiahkan pahala bacaan al-Qur’an itu bid’ah, itu sama artinya menganggap Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) beserta ulama hanbali lainnya menganjurkan kebid’ahan.
      Jika menganggap ulama salaf tak pernah menghadiahkan pahala bacaan al-Quran, sepertinya harus sekali-kali piknik ke kitabnya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H).
      Jika menanggap bahwa berkumpul untuk bersama-sama membaca al-Qur’an, lalu pahalanya dikirimkan kepada mayyit hanya budaya Nusantara yang diwarisi dari Agama Hindu, sepertinya harus piknik ke kitabnya Ibnu Quddamah (w. 620 H).
      Yuk kita piknik ke luasnya samudra ilmu para ulama! Dari situ kita ittiba’ Rasulullah shallaAllahu alaihi wa sallam.
      Wallahua’lam bisshawab .

      silahkan dikomentari

      wah, panjang bingit,..
      simpel saja jawaban saya mas,.
      Kalau mau ITTIBA’KEPADA RASULULLAH,
      Maka tidak usah ngirim-ngirim alfatihah, karena rasulullah juga tidak pernah melakukan dan mengajarkannya kepada para sahabat,
      Sudah saya posting disini mas

    • Hanya Allah yg Maha Tau Mas. Sesuatu sprti ini hnya akan mnjadikan kita umat islam pecah.
      Ada hal yg lbh pnting untuk kita bahas. Klo bagi sya, yg mau mlakukan slhkan lakukan.
      Bgi yg tidak, y slahkan hargai yg melakukan.
      Y tak lupa kami tntu sja brtrima ksh kpda Mas yg udh ngsih info.
      Smga brguna.

      Terimkasih mas nur faizin,.
      Memang amalan bidah itu yang membuat kaum muslimin berpecah belah,.
      Amalan bidah itu yang membuat persaudaraan menjadi renggang, bahkan terputus,.
      Amalan bidah juga mendatangkan murka Allah,.
      Amalan bidah menjadikan pelakunya diusir dari telaga Rasulullah,.
      Amalan bidah, menjadikan pelakunya sulit untuk bertaubat dari kebidahannya tersebut, silahkan baca ulasannya disini

  2. pak admin, bagaimana kalo anak yang membaca kan al-quran, dengan niatan pahala kepada orang tua sendiri ?

    Terimakasih mas adi,.
    Jika seorang anak, maka pahalanya akan mengalir kepada orang tuanya, tanpa dihadiahkan, pahala shalat si anak, pahala sedekah,pahala-pahala ibadah lainnya, akan mengalir kepada orang tuanya,. ngga perlu pakai acara kirim-kiriman pahala, atau menghadiahkan pahala, karena anak merupakan hasil usaha orangtua,.

    Itulah nikmatnya memiliki anak shalih, pahalanya akan mengalir terus kepada orangtuanya, bukankah manusia itu setelah mati maka putuslah segala amalnya, kecuali 3 perkara,, 1. ilmu yang bermanfaat, 2. sedekah jariyah 3. anak sholeh yang mendoakannya,.

    Anak yang shalih, orangtua akan mendapatkan pahalanya, baik ketika orangtua masih hidup, atau setelah orangtua meninggal,.

    • Terus anak’e enthuk opo Mas??
      Kok kabeh ngalir nang wong tuo?
      Bukan gak ikhlas, tapi nanti si anak pulang bawa apa menghadap Alloh.

      Nah..disinilah keadilan Allah,.
      Pahala anak akan mengalir ke orang tuanya tanpa mengurangi sedikitpun pahala si anak,. jadi tidak usah khawatir,.
      makanya salah satu pahala yang tidak terputus kan dengan adanya anak yang shalih,. pahalanya akan mengalir terus,..

  3. sebetulnxa masalah tahlilan dan doa2 yang lain harusnya tidak perlu di permasalahkan mass apalagi berkata bid’ah semua yang kita kerjakan itu urusan masing2 saja dengan allah toh yang berkata bid’ah belum tentu apakah masuk surga atau neraka

    Terimakasih alfasa,

    Kita menyayangi kaum muslimin, kita menyayangi kaum muslimin yang terjerumus kedalam kebidahan, makanya kita ingatkan, sebab kita tidak ingin mereka disiksa di neraka karena perbuatan bidahnya,

    so, orang yang cuek, diam saja ketika ada yang melakukan kebidahan, orang seperti itu adalah orang yang tidak kasihan, tega membiarkan saudaranya sesama muslim terjerumus dalam perbuatan yang dengannya dia akan diadzab di neraka,.

    Hendaknya anda pahami dulu sejarah timbulnya kebidahan, sehingga anda bisa paham tentang hakekat bidah, asal usulnya, dan dampaknya yang mengerikan, silahkan baca postingannya disini

  4. Assalamualaikum mas
    Saya masih sdkit bngung mas
    Berarti apakah doa orang lain untuk orang mati tidak akan sampai mas,?
    Misalnya kita kirim alfatihah untuk sii fulan* yg sdh mnggal

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Doa orang yang masih hidup untuk orang yang sudah mati atau masih hidup, itu bermanfaat,
    Tentu jika cara doanya itu sesuai dengan petunjuk Rasulullah,
    Adapun mengirim alfatihah atau surat lainnya untuk orang yang sudah meninggal, ini adalah amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah,.

    Kok ya PEDE banget bahwa bacaan alfatihahnya itu dinilai sebagai pahala, lalu dikirimkan ke orang yang sudah meninggal???
    Kita jika mengerjakan amalan yang sesuai contoh rasul saja belum tentu itu diterima disisi Allah sebagai pahala, kok ini PEDE banget ngirim pahala surat alfatihah?

    Dan jika orang tua kita mninggal, lantas apakah kita tak perlu mnghususkan doa kita untuk beliau, dgn kata lain sdah otomatis setiap amalan baik yg kita lakukan akan smpai kpda orang tua kita yg sdh mninggal?

    Bagi orang tua, jika anaknya dididik dengan pendidikan yang benar, lalu si anak tersebut melakukan amal shalih, maka orangtua kebagian pahalanya, tanpa si anak meniatkan untuk orangtua, karena itu adalah otomatis, demikian pula jika si anak mengajarkan kepada anaknya,. lagi, maka ortu tsb dapat pahala anak dan cucunya,. baik ortunya masih hidup atau sudah meninggal

    Lalu apakah dosa yg kita lakukan sbgi anaknya juga apakah orang tua jg ikut mnanggungnya mas?
    Mohon penjelsannya , syukron

    Jika ortunya tidak mendidiknya, maka bisa kebagian dosanya,. bahkan Allah akan mintai pertaggungjawaban kelak di akherat,.kenapa tidak mendidik anaknya dengan benar,

  5. trus knapa harus di sholati mas klo pahala dr bacaan tsb tdk sampai…..?
    allahumma firlahu warhamhu wa afihi wa fu’anhu….
    itu doa untuk siapa mas…..?

    Mas aan,. mendoakan orang yang sudah mati, jika si mayat itu orang islam, maka bermanfaat bagi si mayat, dan itu dianjurkan,..
    Jadi siapa yang melarang berdoa mas,.. ngga ada, bahkan mayat itu sangat butuh kepada orang yang mendoakan,. Jadi rajin2lah mendoakan orang yg sudah mati,.agar diampuni dosanya, diluaskan kuburnya,.

    namun….

    Mengkhususkan cara-cara berdoa yang itu tidak pernah dicontohkan oleh rasulullah, baik waktunya atau caranya,.

    Ini yang dilarang,. ini adalah perbuatan tercela, bukan kebaikan,..

    Jadi bukan melarang berdoa mas,.

    Shalat mayat kan ada ajarannya dari rasulullah, demikian pula berdoa dalam shalat mayat,..

    nah, kalau kirim-kirim fatehah, yasin,. mana contohnya dari rasulullah,.

    Apalagi kirim pahala,.. emangnya kita tahu bahwa amalan kita itu DIANGGAP SEBAGAI PAHALA DI SISI ALLAH? kok mau dikirimkan pahalanya,..

    Mas aan, seandainya kita beramal dengan amalan yg diajarkan oleh Rasulullah saja,.. KITA TIDAK TAHU apakah amalan kita tersebut dicatat sebagai pahala atau tidak,.

    Tapi amalan yg tidak ada contohnya dari rasul, itu akan dicatat sebagai dosa, bukan pahala,. nah… mana yg akan dikirimkan? itu hanya akan semakin menambah dosa si pelakunya saja,

  6. Kesimpulannya bid’ah itu yg tdk dikerjakan Rasul dan para sahabatnya ya mas….

    Bagaimana dengan Handphone, televisi,internet..dan lain lain yg mngikuti dan diproduksi serta diciptakan oleh yahudi ataupun orang kafir…
    termasuk yg sesang kita gunakan saat ini?

    Terimakasih,.
    ini kesimpulan yang salah, ibarat orang buta disuruh menjelaskan apa itu gajah, lalu menyimpulkan apa itu gajah berdasarkan pengamatannya yang keliru, maklum, buta,
    Bidah itu hanya pada urusan amal ibadah saja, bukan pada urusan dunia seperti Handphone, televisi,internet..dan lain lain,
    saya sudah postingkan , silahkan baca disini

  7. Kesimpulannya bid’ah itu hal yg tidak dilakukan dan dikerjakan Rasul dan para sahabat ya mas….
    Bagaimana dengan Handphone, televisi, internet dan lainya yg dibuat oleh yahudi dan orang kafir yg kita gunakan termasuk yg kita gunakan saat ini?

    Terimakasih mas yusuf,.
    Bidah itu hanya menyangkut masalah ibadah, bukan urusan dunia atau muamalah,.
    Boleh kita memakai produk orang kafir selama tidak bertentangan dengan ajaran islam,
    Silahkan baca ulasannya disini

  8. Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh :

    Maaf ya mas , saya kok jadi bingung ,…

    ada saja orang yang menyampaikan kebenaran melalui media sosial dan internet .
    Padahal jelas2 hal seperti itu tidak pernah dicontohkan oleh rasululloh .
    Kop pede-pede’a seorang ahli agama melakukan sesuatu yang tidak ada anjuran’a .
    Menurut mas orang seperti termasuk ahlul Bid’ah atau bukan sich ?
    Terima kasih , wasalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    Terimakasih mba noer aini, komentar yang sangat bagus,. banyak juga yang koment senada dengan komentarnya mba,.
    Saya sudah ulas disini mba, silahkan baca ya

    Baca juga dialog dengan pembaca blog, mengulas tentang apa itu bidah, silahkan baca disini

    Mudah-mudahan setelah membaca kedua postingan diatas, anda tidak bingung lagi mba,

  9. Sebetulnya klo bicara soal bid’ah kita skrg menggunakan internet aja sudah bid’ah..kita sholat menurut waktu pada jam juga sudah bid’ah..karena Rasulullah saw ga mengajarkan ttg ini semua..

    jika sesuatu yang kita kerjakan itu adalah kebaikan kenapa mesti dipermasalahkan? “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” Qs. Al-Baqarah : 216
    Semoga kita dalam lindungan Allah subhanahu wata’ala..

    Terimakasih kang Dede,.
    Internet itu bidah?
    Betul sekali, karena rasul juga ga pernah main internet,.
    Masih banyak lagi kang,. HAPE juga bidah, Rasul ga pernah Sms san, Pesawat juga bidah, lah rasul ga pernah naik pesawat,.
    Kereta,mobil,speaker, itu juga bidah,.
    Eh ada lagi, Bakso juga bidah, lah rasul ga pernah ngebakso,.
    Banyak lagi kang Dede, silahkan baca disini saja

  10. lebih baih baik datang langsung ke ulama, karena ulama itu gudang ilmu……

    terimakasih ummi fayyadh,
    Lebih paham siapa ulama sekarang dengan imam syafii?
    Lebih paham siapa ulama dengan Rasulullah?
    Imam syafii melarang mengirimkan bacaan Alquran,
    Rasulullah juga TIDAK PERNAH mengirim-ngirim bacaan alquran utk orang mati,.
    Siapa yang lebih layak kita ikuti?

  11. makasih mas tulisannya.. bagus

    Alhamdulillah,. silahkan lihat rujukannya, disitu ada siapa yang menulis, saya hanya mengcopas saja disini

  12. Hukum membacakan alqur an kpd mayyit.

    bukankah pada shalat mayyit takbir pertama dibacakan alfatihah,bukankah alfatihah adalah surat dalam al qur an,dan juga inti daripada al qur an

    nah, ini baru betul, yang diajarkan Rasul itu membaca alfatihah ketika shalat mayat,.

    tapi ingat,.. bacaan alfatihah itu bukan dikirim-kirimkan ke mayat,. salah besar jika niat membaca alfatihah dalam shalat jenazah itu untuk dikirimkan ke si mayit,.

    • Jgn trlalu byk baca dalil bos…di alQura’an pun ada bacaan yg mndoakn org tua kita yg sdh mninggal
      Dasar lu aja yg amalin..gk usa bawa2 di fb n di baca org..

      gue tau lu itu islam aliran apa..byk yg sperti lu boss..msk aja ke surga sndiri bila lu mrasa bnr klo itu jlnnya..

      Trlalu byk bc sejarah..!!
      Lu tau gk buku itu yg tulis siapa..!!
      Yakin gk itu benar..!!
      nabi kita itu mninggl ribuan thn sdh..
      lu baca buku br skg bro..

      terimakasih brother,..
      woles ajah bro,..
      Yang melarang mendoakan orang yang sudah mati itu siapa bro,.. justru itu dianjurkan oleh Rasulullah,.
      Yang tidak ada perintahnya itu membaca alquran, lalu pahalanya dikirimin ke si mayit,.
      kalau yang seperti ini, ga ada tuntunannya bro dari rasul, jadi ini termasuk bidah,. gitu bro,.

      Dibaca tidak sih bos postingannya,. baca lah, jadi tidak gagal paham

      • Untuk anonymous:
        Rasul kita mengajarkan bagaimana bertutur kata dan menyampaikan pendapat dengan santun. Bagaimana kita mau mendakwahkan yang lain jika penyampaiannya seperti di atas. Dalam sepak bola saja yang buatan manusia ada RESPECT. Apalagi dalam berdakwah dan menyampaikan pendapat. Keep calm bro

  13. Jangan ngeributin masalah Khilafiyah..

    kita masing masing Punya Alasan Nt jalanin gak percaya ya tinggalin..gak zaman lagi ngeributin ginian….

    Move on Dong…basi….

    Terimakasih kang Asep,.
    Yang ngeributin masalah khilafiyah itu siapa mas?
    Yang kegerahan karena disebutin bahwa mengirim alfatehah itu tidak sampai, atau yang mengatakan mengirim alfatehah itu tidak sampai,.?
    Tentu jika betul pernyataan anda, ngapain dipermasalahkan tentang hal tersebut,. malah dibesar-besarkan, dan membully tengku wisnu,..

    Siapa yang ngeributin kalau gitu mas,..

  14. Lalu kenapa ada doa :
    اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والاموات….

    Bukankah itu jg ada doa utk orang mati ?

    Terimakasih mas hendi,.kita disuruh mendoakan orangtua, baik yang masih hidup atau sudah mati, dan doa itu bermanfaat,
    Justru kalau mau mengikuti yang diajarkan oleh Rasulullah, baca doa itu, kapan saja ketika anda mau mendoakan orangtua,. bukan kirim-kirim alfatehah,.
    sudah saya ulas tentang doa diatas, silahkan baca disini

  15. Bismillah,
    Ketika belajar agama ISLAM, hendaknya kita semua mendudukkan Rosulullah Sollallohu’alaihiwasallam di tempat yang teratas sebagai rujukannya.

    Al-Qur’an turun kepada Beliau Sollallohu’alaihiwasallam, otomatis Beliau Paling Faham makna dan cara Penerapannya.
    Ikuti Sunnah Beliau Sollallohu’alaihiwasallam yang Shahih, InsyaAllah Selamat.

    Untuk itu kita perlu Ulama untuk membantu kita memahami semuanya.
    Akan Tetapi, tetap sandarkan semua informasi yang kita terima tentang agama ini kepada

    “Apakah Beliau mengerjakannya ?”,
    “Kapan Beliau Mengerjakannya ?”,
    “Bagaimana Beliau mengerjakannya ?”,
    “Mengapa Beliau mengerjakannya ?”

    Jika Ya, maka kerjakanlah semampu kita

    Jika Tidak, maka tinggalkanlah. Suri Tauladan kita TIDAK melakukannya

    Cari informasi selengkap-lengkapnya, Datang ke Majelis Ilmu, Dengarkan Kajian, Baca Siroh Nabawiyah, Baca bagaimana Generasi Sahabat, Tabi’in, Tabiut Tabi’in menjalani Agamanya, Baca Riwayat yang Shahih bagaimana Imam-Imam Mazhab mengamalkan Agamanya. Shalafussholeh dan lainnya

    Gunakan “Metode Penelitian” untuk mencari KEBENARAN, Bukan PEMBENARAN.
    Gunakan Akal Sehat. Bukan Hawa Nafsu

    TENTU, Tujuan Kita semua mengharapkan Keridhoan Allah Azzawajalla dan JannahNYA, maka hendaklah kita semua lebih teliti dan berhati-hati dalam hal ini.

    Wallahu’alam.
    Baarokallahufiikum

    Jazakumullahu khairan,.

    wa fiikum baarakallah

  16. assalamualaikum, sahabat muslim

    wa’alaikumussalam warahmatullah

    kita sebagai murid hanya perlu mengerjakan soal-soal ujian,
    ALLAH disini layaknya guru. hak penilaian sepenuhnya ditangan ALLAH kita murid gak ad hak dalam menilai soal2 ujian. bidah tidak nya suatu amalan hanya ALLah yang tau.

    Saya luruskan bro andri,.
    Jika Allah dianggap sebagai guru, Allah sudah menyuruh asistennya (malaikat jibril) untuk menyampaikan materi pelajaran, dan asistennya ini menyampaikan kepada asisten lagi (Rasulnya), dan menjelaskannya kepada si murid (umat rasulullah)
    Allah sudah menjelaskan semua pelajaran, demikian pula Rasulullah sudah menjelaskan,.
    Rasulullah sudah menjelaskan semua, tidak ada yang terlewat,.
    Dan rasul sudah mewanti-wanti, jangan berani-berani menambah nambah atau mengurangi,. ikuti saja apa adanya,.
    Jika menambah-nambahi akan diberi sangsi, jika mengurangi akan diberi sangsi pula,.
    Lalu pas ulangan,.. nah disini ujiannya,. apakah mengerjakan sesuai petunjuk rasulullah atau tidak,. tentu dengan resikonya,.
    Tapi celakanya,. tidak ada istilah HER, jika nilainya jeblok,.

    kedekatan ulama jaman dulu dengan sang pencipta, jauh jika dibandingkan dengan ulama jaman sekarang. (kebebasan informasi benar tidaknya, dari siapa, tujuanya seperti apa sangat berbahaya jika si pembaca tidak memiliki guru atau org yang benar2 paham)

    Siapa manusia yang paling dekat dengan sang pencipta? tentu Rasululullah,
    Siapa yang paling dekat dengan rasulullah? tentu para sahabat,.
    Nah , dalam berislam, jika ingin selamat, tentu dengan cara mengikuti pemahaman manusia yang paling dekat dengan rasulullah,. merekalah para sahabat,. ikuti cara beragamanya mereka,. itulah SATU-SATUNYA JALAN KESELAMATAN, sudah saya ulas disini

    keberadaan islam di indonesia jaman dulu, juga gak main bim salabim, wali-wali Allah mnyampaikan islam pun tidak asal, lempar. kajian demi kajian dan kehati-hatian, yang akhirnya diterima baik dengan rakyat kita. dan mengakar kuat membentuk sebuah budaya. dan mendapat predikat INDONESIA MENJADI NEGARA ISLAM TERBESAR DI DUNIA

    Tahukah anda,.. siapa orang yang pertama menyebarkan islam setelah Rasulullah?
    Merekalah para sahabat nabi,. merekalah para wali yang sebenarnya,.
    Tahukah anda, siapa sih yang disebut sebagai wali Allah?.. jangan salah mas, wali Allah itu adalah orang-orang yang mendakwahkan islam sesuai dengan petunjuk Rasulullah, tidak mencampurinya dengan ajaran lain, apalagi budaya lokal. saya sudah posting apa itu wali Allah, silahkan baca disini

    benang merahnya,

    islam masuk ke indonesia bukan dengan org org yang biasa saja, istilahnya org tersebut benar benar paham apa itu islam, beserta ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya
    kenapa saya bilang begitu, karena orang biasa gak akan mampu membuat islam sebesar ini di nusantara. dan tentunya semua ini kuasa Allah SWT

    Tahukah anda, siapa wali-wali yang menyebarkan islam di indonesia,. sudah tahukah apa dakwah walisanga? saya sudah posting, silahkan lihat disini

  17. Hmmm….kata siapa orang gak dapat pahala atau dosa dari orang lain??

    Kalau ada orang sebagai pencetus kejahatan lalu kejahatan itu diikuti oleh orang lain maka dosanya dia itu dua(sumber).

    Yaitu dari kejahatannya sendiri dan dari kejahatan yg dilakukan para pengikutnya.

    Begitu juga bagi pencetus kebaikan. Bila kebaikannya benar maka pahalanya 2 sumber. Yaitu pahala dari kebaikan yg dia lakukan dan pahala dari para pengikutnya.
    Itulah kenapa perhitungan amal dilakukan nanti setelah kiamat,karena orang yg mati masih menerima aliran pahala atau dosa dari orang yg hidup sebagai balasan dari amalannya semasa hidup.

    Dari uraian bang Goes,.kan mudah sekali disimpulkan,.
    Orang lain tersebut berbuat karena siapa???
    Tentu karena usaha orang yang sudah mati tersebut saat dia hidup,. bukankah demikian??
    Jadi dia mendapat dosa dari orang yang mengikuti perbuatan dia saat masih hidup,.
    Atau dia mendapat pahala dari orang yang mengikuti perbuatan baik dia saat masih hidup,..

    Paham goes?

  18. Di baca lagi mase dengan baik dan seksama…….
    Ulasan di atas sudah sangat jelas, sesuai dalil.
    Kalo sudah faham dan jelas keterangan di atas dan masih juga menyangkal, coba intospeksi dulu jangan terburu” berkomentar.
    Cari dalil yang membolehkan……

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*