Kenapa SESAJEN DAN TUMBAL Itu Dikatakan Sebagai Kesyirikan? Itukan Sedekah,.. kata sebagian orang.

Sesajen Sesajen Di Tempat Kerja Gambar Sesajen Kesyirikan Ritual Sesaji Kenapa Tumbal Selalu Memakai Kepala Kerbau

Tumbal Dan Sesajen Bukan Ajaran Islam

 sedekah-bumiDi dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia,tumbal adalah sesuatu yang digunakan untuk menolak penyakit dan sebagainya, atau tolak bala. Sedangkan sajen merupakan makanan atau bunga-bungaan dan sebagainya yang disajikan kepada orang (makhluk) halus dan semisalnya.

Tumbal, dalam prakteknya lebih khusus atau identik dengan sembelihan dan kurban, sedangkan sesajen biasanya berbentuk makanan yang siap dihidangkan seperti: Jenis-jenis bubur; Buah; Daging atau Ayam yang telah dimasak, dan dilengkapi dengan berbagai macam bunga serta terkadang uang logam.

Sesajen merupakan warisan budaya Hindu dan Budha yang biasa dilakukan untuk memuja para dewa, roh tertentu atau penunggu tempat (pohon, batu, persimpangan) dan lain-lain yang mereka yakini dapat mendatangkan keberuntungan dan menolak kesialan.

Seperti: Upacara menjelang panen yang mereka persembahkan kepada Dewi Sri (dewi padi dan kesuburan) yang mungkin masih dipraktekkan di sebagian daerah Jawa, upacara Nglarung (membuang kesialan) ke laut yang masih banyak dilakukan oleh mereka yang tinggal di pesisir pantai selatan pulau Jawa tepatnya di tepian Samudra Indonesia yang terkenal dengan mitos Nyi Roro Kidul dan Labuhan gunung untuk memberi sajian kepada para roh halus dan dedemit penghuni gunung.

Ada pula jenis lain dari sesajen, yaitu menyediakan berbagai jenis tanaman dan biji-bijian seperti padi, tebu, jagung dan lain-lain yang masih utuh dengan tangkainya, kemu-dian di letakkan pada tiang atau kuda-kuda rumah yang baru dibangun supaya rumah tersebut aman, tentram dan tidak membawa sial.tumbal-kepala-kerbau

Adapun tumbal dilakukan dalam bentuk sembelihan, seperti: Menyembelih ayam dengan ciri-ciri khusus untuk kesembuhan penyakit atau untuk menolak kecelakaan; Menyembelih kerbau atau sapi, lalu kepalanya di tanam ke dalam tanah yang di atasnya akan dibangun sebuah gedung atau proyek, supaya proyek pembangunan berjalan lancar dan bangunannya membawa berkah, atau kepala kerbau bersama sajen sekaligus dilarung di laut atau ditanam di tanah sebuah gunung.

Jadi pada intinya tumbal dan sesajen adalah mempersembahkan sesuatu kepada makhluk halus (roh, jin, lelembut, penunggu, dll) dengan harapan agar yang diberi persembahan tersebut tidak mengganggu atau mencelakakan, lalu berharap dengannya keberuntungan dan kesuksesan.

Di banyak tempat di nusantara ini, budaya sesaji masih lazim dilakukan atas dasar melestarikan nilai-nilai sejarah. Nilai-nilai yang telah diajarkan oleh para leluhur ini mencoba tetap kukuh di dalam hati sanubari generasi penerusnya, di tengah deraan kemajuan teknologi informasi.

Ada yang mengatakan, itu hanya adat dan tidak perlu lah dipertentangkan. Hal itu sudah mengakar jauh sebagai sebuah tata nilai yang “patut” dihargai. Tradisi yang turun temurun hampir setiap ada momen membangun bangunan penting, pasca bencana dll, hal itu dilakukan. Alasannya pun agak menakutkan. Konon jika hal itu tidak disuguh, ada saja celaka-celaka yang mengikuti proses pembangunan apapun. Entah pekerjanya, mandornya dan orang yang terlibat langsung atau tidak kena tulahnya.

Bahkan katanya, pake acara minta berapa nyawa sebagai kompensasi atas keengganan memberi kepala kerbau. Namun ketika saya bertanya, adakah jaminan jika permintaan kepala kerbau itu dipenuhi tidak terjadi kecelakaan apapun baik sebelum atau sesudahnya. Absurd.

Apalagi ketika saya gunakan logikanya, bahwa sampai saat inipun kecelakaan di jalan tol masih tetap terjadi setiap saat. Beberapa waktu lalu, ada mobil yang terjun dari lantai empat sebuah pusat perbelanjaan. Atau berapa banyak nyawa yang tercerabut saat kereta api mengalami tabrakan dan sebagainya. Padahal bisa jadi; seperti tuturnya, hampir semua proyek penting meminta kepala kerbau.

Di sinilah pentingnya memahami tradisi secara arif. Kalau memang tidak sejalan dengan syariat, maka kita tidak perlu ragu mengatakan bahwa itu keliru. Perkara itu tetap dijalankan, adalah soal kedua yang berpulang pada keyakinan masing-masing. Jadi masalahnya bukan perlu atau tidak perlu dipertentangkan. Tapi lurus atau tidak bagi seorang muslim. Sorang muslim harus dididik, bahwa apapun yang dialaminya berupa kepahitan, merupakan musibah yang perlu disikapi dengan sabar seraya berikhtiar untuk menghilangkannya dengan cara-cara yang manusiawi religius. Tauhid menegaskan, bahwa hanya kepada Allah kita mohon keselamatan.

Rasulullah bersabda :

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ زُهَيْرٍ عَنْ عَمْرٍو يَعْنِي ابْنَ أَبِي عَمْرٍو عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الْأَرْضِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ كَمَهَ الْأَعْمَى عَنْ السَّبِيلِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ سَبَّ وَالِدَهُ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Zuhair dari ‘Amru yakni Ibnu Abu ‘Amru, dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah melaknat orang yang menyembelih bukan karena Allah, Allah melaknat orang yang mengubah batas-batas tanah, Allah melaknat orang yang menyesatkan orang buta dari jalanan, Allah melaknat orang yang mencela orang tuanya, Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, Dan Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth. [HR. Ahmad]

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى وَهُوَ ابْنُ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ عَنْ ابْنِ حَيَّانَ يَعْنِي مَنْصُورًا عَنْ عَامِرِ بْنِ وَاثِلَةَ قَالَ سَأَلَ رَجُلٌ عَلِيًّا هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسِرُّ إِلَيْكَ بِشَيْءٍ دُونَ النَّاسِ فَغَضِبَ عَلِيٌّ حَتَّى احْمَرَّ وَجْهُهُ وَقَالَ مَا كَانَ يُسِرُّ إِلَيَّ شَيْئًا دُونَ النَّاسِ غَيْرَ أَنَّهُ حَدَّثَنِي بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ وَأَنَا وَهُوَ فِي الْبَيْتِ فَقَالَ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَهُ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ الْأَرْضِ

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya yaitu Zakariya bin Abu Zaidah dari Ibnu Hayyan yaitu Manshur dari ‘Amir bin Watsilah, ia berkata; seseorang telah bertanya kepada Ali; apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah merahasiakan sesuatu kepadamu tanpa orang lain?

Kemudian Ali marah hingga wajahnya memerah, dan berkata; beliau tidak pernah merahasiakan sesuatu kepadaku tanpa orang lain, selain bahwa beliau telah menceritakan kepadaku empat perkataan, saya dan beliau berada dalam rumah. Beliau bersabda:

“Allah melaknat orang yang melaknat orang tuanya, Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah dan Allah melaknat orang yang melindungi orang yang berbuat jahat, serta Allah melaknat orang yang mengubah patok tanah.”[HR. An Nasa’i]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ أَبَاهُ مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ أُمَّهُ مَلْعُونٌ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ مَلْعُونٌ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الْأَرْضِ مَلْعُونٌ مَنْ كَمَهَ أَعْمَى عَنْ طَرِيقٍ مَلْعُونٌ مَنْ وَقَعَ عَلَى بَهِيمَةٍ مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ بِعَمَلِ قَوْمِ لُوطٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah dari Muhammad bin Ishaq dari ‘Amru bin Abu ‘Amru dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Terlaknatlah orang yang mencela ayahnya, terlaknatlah orang yang mencela ibunya.

Terlaknatlah orang yang menyembelih bukan karena Allah, terlaknatlah orang yang merubah batas tanah, terlaknatlah orang yang membisu (tidak mau memberi petunjuk) terhadap orang yang buta yang mencari jalan. Terlaknatlah orang yang menyetubuhi binatang dan terlaknatlah orang yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth.” [HR. Ahmad]

Bahaya Tumbal Dan Sesajen

Tumbal dan sesajen adalah syirik dan berbahaya, sama bahayanya dengan kemusyrikan yang lain, di antara bahaya itu adalah:

1. Merupakan Pelecehan Terhadap Martabat Manusia

Apabila seseorang menyembah kepada sesama makhluk, yang tidak dapat memberikan manfa’at dan menimpakan bahaya, maka berarti telah menjatuhkan martabat kemanusiaannya ke tempat yang terendah. Allah telah memuliakan manusia dan menga-runiai akal kepada mereka, maka apakah layak dan pantas seorang yang berakal dan terhormat menyembah dan merendahkan diri di hadapan patung, pohon, jin, khadam, keris, batu dan yang semisalnya. Maka tidak ada pelecehan terhadap martabat manusia yang lebih parah daripada kemusyrik-an.

2. Membenarkan Khurafat

Dari keyakinan syirik inilah muncul berbagai khurafat yang tersebar di masyarakat, mitos dan legenda yang penuh dengan takhayul, kisah-kisah yang sama sekali tidak bisa diterima oleh akal sehat dan tidak dapat dibenarkan oleh hati nurani manusia.

3. Syirik adalah Kezhaliman Terbesar.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim.” (al-Baqarah: 254)

Juga firman-Nya yang lain,

“Sesungguhnya kemusyrikan itu adalah kezhaliman yang besar.”(Lukman: 13)

Adakah kazhaliman yang lebih besar daripada sikap seseorang yang diciptakan oleh Allah tetapi justru menyembah kepada selain Allah? Atau orang yang diberi rizki oleh Allah namun justru bersyukur dan memuja kepada selain Allah?

4. Syirik Menimbulkan Rasa Takut

Orang musyrik tidak memiliki keteguhan dan rasa percaya kepada Allah, sehingga hidupnya penuh dengan kegelisahan, jiwanya labil dipermainkan oleh klenik, khurafat dan takhayul. Dia selalu diliputi ketakutan, takut akan segala-galanya dan terhadap segala-galanya, dan inilah kehidupan yang sangat buruk.

5. Menjerumuskan ke Neraka

Kemusyrikan merupakan penyebab utama untuk masuk neraka, Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” (QS. 5:72)

Firman-Nya yang lain, artinya,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (an-Nisa: 48)

Semoga kita terhindar dari perbuatan dan dosa syirik.

resent by : Anwar Baru Belajar

oleh Anwar Baru Belajar pada 09 November 2010 jam 16:50

http://www.facebook.com/#!/notes/anwar-baru-belajar/tumbal-dan-sesajen-bukan-ajaran-islam/155356607840856

reposting : https://abangdani.wordpress.com/2010/11/09/tumbal-dan-sesajen-bukan-ajaran-islam/

Print Friendly, PDF & Email

Tempat Sesajen Mereka Yang Menolak Sesajen Itu Syirik Sedekah Bumi Negatif Bawa Sesajen Kenapa Sesajen Dan Tumbal Itu Dikatakan Sebagai Kesyirikan

3 Comments

  1. mengutip:
    “di sinilah pentingnya memahami tradisi secara arif. Kalau memang tidak sejalan dengan syariat, maka kita tidak perlu ragu mengatakan bahwa itu keliru. Perkara itu tetap dijalankan, adalah soal kedua yang berpulang pada keyakinan masing-masing.

    Jadi masalahnya bukan perlu atau tidak perlu dipertentangkan.

    Tapi lurus atau tidak bagi seorang muslim.
    Sorang muslim harus dididik, bahwa apapun yang dialaminya berupa kepahitan, merupakan musibah yang perlu disikapi dengan sabar seraya berikhtiar untuk menghilangkannya dengan cara-cara yang manusiawi religius.

    Tauhid menegaskan, bahwa hanya kepada Allah kita mohon keselamatan.”

    sebagai orang yg briman juga harus iman sma yang ghoib seperti tdpt dlm Qs 2:3
    terus sbg muslim yang baik bagai mana menyikapi dunia jin atau sihir seperti asbabunuzul turunya surat alfalaq dan annas , penyakit yg diderita nabi ayub?
    terus orang kesurupan apakah merupakan gangguan jin?
    bgmna dg ilmu ruqyah syar iyah?

    mohon pencerahan.

    Terimakasih mas parno, sudah berkomentar disini
    Rasulullah diutus untuk mendakwahkan dakwah tauhid, dan memberantas kesyirikan, memberantas peribadatan kepada selain Allah, apalagi beribadah kepada JIN,

    Dulu, kaum musyrikin jahiliyah, jika mereka sedang tertimpa musibah, mereka ingat kepada Allah, mereka beribadah kepada Allah saja, meninggalkan peribadahan mereka kepada berhala-berhala mereka, tapi kita miris melihat kondisi kaum muslimin di indonesia, disaat tertimpa musibah, malah semakin membuat musibah yang lebih besar dari musibah yang sedang dialaminya, yaitu membuat sesajen untuk JIN,

    Padahal, Allah yang mampu mengangkat musibah tersebut, JIN tidak akan mampu, bahkan JIN juga menghindar dari musibah tersebut, tidak akan mempu membendung musibah tersebut. Misalkan ada JIN di gunung kelud misalnya,ketika gunung tersebut meletus, JIN juga pada kabur menyelamatkan dirinya, tidak ngendon disitu, lalu mengapa malah ada masyarakat yang mengirim sesajen kepada JIN agar musibah tersebut segera berakhir? ini adalah bentuk musibah yang lebih besar dari gunung kelud yang meletus,

    Keyakinan kita tentang JIN , kita wajib mengimani akan keberadaan makhluk ini, tapi kita dilarang berlindung kepada JIN dengan membuat persembahan kepada JIN, ini adalah bentuk kesyirikan,

    Kita disuruh berlindung kepada Allah dari gangguan setan baik dari golong JIN atau manusia, sebagaimana dalam surat annaas, namun dengan cara-cara yang dibenarkan oleh Allah, bukan dengan cara yang mendatangkan murka Allah, bahkan cara-cara mengirim sesembahan kepada JIN tersebut bisa menyeret pelakunya keluar dari islam,

    Adapun tentang budaya, selama budaya itu tidak bertentangan dengan ajaran islam, maka boleh dilakukan, tapi jika budaya tersebut bertentangan dengan ajaran islam, maka kita wajib mengingatkan akan dampak budaya tersebut terhadap keimanan dan keyakinan kaum muslimin,.

    Saya sudah memposting tentang hal ini, silahkan baca BAGAIMANA PANDANGAN ISLAM TERHADAP BUDAYA, silahkan baca disini

    Setan dan JIN itu pada asalnya takut dengan manusia, kenapa kita malah mempersembahkan sesajen kepada JIN? Ini adalah bentuk kekonyolan, selain itu adalah kesyirikan, silahkan baca postingannya disini

  2. mungkin maqsud anda semua orang di luar jamaah anda adalah batal….. ?
    apskah itu jg bukan taasub namanya….?
    anda mengaku tdk fanatik.. tp anda membela golongan anda habis2an.. dan menganggap apapun yg di lakukan org lain adalah salah.. yg benar hanya anda bgtu..?

    wah, itu salah besar, jika yang diluar jamaah berarti batal, itu sih pemahaman orang takfiri, orang yang mudah mengkafirkan sesama muslim alias pemahaman khawarij, dan kita tidak seperti itu,bahaya pemikiran khawarij atau takfiri, baca link ini

    Dan saya tidak membela golongan, saya hanya membela dalil, ajaran yang benar2 diajarkan oleh Rasulullah itu yang kita bela, dan orang-orang yang berada diatas jalan tersebut,.

    Jadi salah besar jika anda menuduh saya membela golongan saya, sebab salafi bukanlah jamaah tertentu, golongan tertentu yang dibuat oleh manusia,silahkan baca postingannya disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*