Mendambakan Kaum Muslimin Bersatu?..Dalam Barisan Shalat Saja Mereka Berpecah Belah, Tidak Mau Merapatkan Shafnya, Ini Musibah..

Rapatkan dan Luruskan Shaf (Barisan) Sholat

shaf tidak rapatPenulis memperhatikan bahwa pada sebagian besar masjid/musholla yang telah penulis kunjungi untuk melaksanakan sholat, senantiasa terdapat beberapa wanita yang melaksanakan sholat berjama’ah namun antara jama’ah wanita tersebut terdapat jarak/celah yang lebarnya bahkan sampai  1 (satu) meter.

Terkadang bila sholat berjama’ah dan penulis bermaksud merapatkan shaf, maka jama’ah disebelah kanan/kiri malah semakin menjauhkan kaki mereka dari kaki penulis.

Kedua kondisi diatas membuat sedih penulis,  karena dalam Islam pada saat melaksanakan sholat berjama’ah kita dianjurkan untuk senantiasa meluruskan shaf dan menutup celahnya (merapatkannya).

Hal tersebut berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha, dia bercerita : Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda :

Sesungguhnya Allah dan Para Malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang menyambung barisan. Barang siapa menutupi kerenggangan (yang ada dalam barisan), niscaya dengannya Allah akan meninggikannya satu derajat. (HR. Ibnu Majah,Ahmad, Ibnu Khuzaimah,Al-Hakim,  dinilai Shahih oleh Adz-Dzahabi dan al-Albani).

Kemudian,

Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah Shollallahu’alayhi wa Sallam bersabda :

“Hendaklah kamu benar-benar meluruskan shafmu, atau (kalau tidak;maka) Allah akan jadikan perselisihan di antaramu.” (Muttafaq ‘alayhi, Bukhari No. 717 dan Muslim No.436)

Hadits ini juga telah diriwayatkan oleh Abu Dawud No. 552 dan Ahmad (IV:276) dan dishahihkan oleh al Albani dalam ash Shahihah no.32 secara lengkap, setelah membawakan hadits di atas, maka Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu berkata :

“Maka saya (Nu’man bin Basyir) melihat seorang laki-laki (dari para Shahabat) menempelkan bahunya ke bahu yang ada disampingnya, dan lututnya dengan lutut yang ada disampingnya serta mata kakinya dengan mata kaki yang ada disampingnya).”

Pernyataan Nu’man bin Basyir ini juga telah disebutkan oleh Imam Bukhari didalam kitab Shahihnya (II:447-Fat-hul Bari).

Diriwayatkan pula Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah Shollallahu  ‘alayhi wa Sallam telah bersabda:

“Luruskanlah shaf-shafmu! Sejajarkan antara bahumu (dengan bahu saudaranya yang berada disamping kanan dan kiri), isilah bagian yang masih renggang, berlaku lembutlah terhadap tangan saudaramu (yang hendak mengisi kekosongan atau kelonggaran shaf), dan janganlah kamu biarkan kekosongan yang ada di shaf untuk diisi oleh setan. Dan barangsiapa yang menyambung shaf, pastilah Allah akan menyambungnya, sebaliknya barangsiapa yang memutuskan shaf; pastilah Allah akan memutuskannya.

(Shahih. Abu Dawud no:666, dan telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, al Hakim, Nawawi dan al Albani. Lihat : Fat-hul Bari (II:447) dan Shahihut Targhib Wat Tarbib no:492).

Sehingga bengkoknya shaf akan mengakibatkan permusuhan dan pertentangan hati, kekurangan iman dan hilangnya kekhusyu’an.

Sebagaimana lurusnya sebuah shaf termasuk (sebagian dari) kesempurnaan sholat, yang demikian itu diungkapkan  di dalam sabda Rasulullah shollallaahu ‘alayhi wa Sallam,

“Karena lurusnya shaf itu sebagian dari kesempurnaan shalat.” (HR. Muslim).

Di dalam riwayat lain :

“Karena lurusnya shaf itu sebagian dari baiknya sholat” (HR. Al-Bukhari & Muslim).

Ukhty, Para Shahabat Radhiallahu ‘anhum sangatlah memperhatikan masalah merapatkan dan meluruskan shaf ini.

Diriwayatkan dari Umar bahwasanya ia menugasi beberapa orang laki-laki untuk merapikan shaf makmum, dan ia (Umar) tidak bertakbir untuk memulai sholatnya melainkan setelah dilaporkan oleh para petugasnya itu bahwa shaf telah rapi semua, begitulah juga diriwayatkan dari Ali dan ‘Utsman, bahwa keduanya dahulu biasa melakukan hal itu setiap sebelum memulai sholat, dan mereka berdua biasa berkata (sebelum memulai shalat); “Istawu (luruskan shafmu)” bahkan Ali berkata: “Wahai Fulan! Majulah,” (Dan berkata kepada yang lainnya:) ” Wahai fulan, mundurlah. (Lihat pula riwayat-riwayatnya di dalam kitab al Muwaththa’, Imam Malik : no. 234, 375, 376).

Ya Ukhty Muslimah, mari rapatkan dan luruskan shaf kita  karena hal itu merupakan sunnah Nabi Shollallahu ‘alayhi wa sallam yang agung. Maka marilah kita menghidupkannya.

Merapatkan dan meluruskan shaf dilakukan dengan cara merapatkan bahu, lutut, dan mata kaki.

Semoga dengannya, Allah mengangkat derajat kita, menjauhkan perselisihan dan permusuhan di antara kita. Amiin…

Sumber :

1.Ensiklopedi Shalat menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Dr. Sa’id bin ’Ali bin Wahf al-Qahthani, Pustaka Imam Asy-Syafi’i , Hal 580-581
2.Ensiklopedi Mini Keutamaan Sholat Berjama’ah , Prof. Dr. Fadhl Ilahi ,  Salwa Press, Hal. 42
3.Pengaruh Shalat terhadap Iman dan Jiwa Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Husain bin ‘Audah al-’Awayisyah, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Hal. 18
4.Apa Kata Imam Syafi’i tentang Meluruskan dan Merapatkan Shaf Shalat, Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa, Pustaka Abdullah

sumber : http://jilbab.or.id/archives/890-rapatkan-dan-luruskan-shaf-barisan-sholat/#sthash.YV8W9qv6.dpuf

Print Friendly, PDF & Email

2 Comments

  1. Assalamu’alaikum wr wb…
    bagaimana disaat kita sbg lmam sblm memulai sholat sudah mengingatkan bahkan sampai menuggu, tetapi makmum tdk mau merapatkan dan meluruskan shaf?…

    apa kita tetap menunda sholat dimulai sampai makmum benar2 lurus dan merapatkan shaf…?…

    krn ditempat sy masih banyak jama’ah yg susah(kolot) untuk diajak meluruskan dan merapatkan shaf…?

    krn menurut mereka sudah lurus tdk perlu kaki menempel dgn makmum yg disampingnya sdh kita kasih tahu dalilnya tetap kekeh semaunya sendiri,mohon nasehatnya…?
    wassalamualikum wr wb…

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
    terimakasih kang maskur, mudah-mudahan diparingi sehat, lan semangat nimba ilmu agama islam,.
    Sebenarnya bukan masyarakat anda yang kolot, bahkan ditempat yang berisi orang-orang pinter pun, banyak yang tidak mau merapatkan shaf,.. inilah kondisi kaum muslimin di indonesia,. terbanyak, tapi tidak mengenal ajaran islam yang diajarkan oleh rasulullah, baik dalam hal lain atau tentang wajibnya merapatkan shaf yang notabennya ini perbuatan yang setiap hari 5 waktu dikerjakan,. miris bukan?

    Memang dalam bertindak itu butuh ilmu, bukan main nyuruh saja,.
    Masyarakat belum paham apa yang dimaksud meluruskan shaf, yang dipahami ya asal lurus, dan ngga perlu rapat,
    Masyarakat juga beragama karena tradisi, nah parahnya di tradisi yang ada, meluruskan dan merapatkan shaf ini merupakah hal yang langka, sehingga jika kita berusaha merapatkan kaki kita, mereka malah merasa gerah, merasa kurang nyaman,.. inilah musibah,.

    Mungkin yang bisa anda lakukan dengan cara memberikan pemahaman tentang pentingnya shaf lurus dan rapat, anda bisa memberikan buku, artikel, atau ceramah tentang pentingnya merapatkan shaf, bagaimana Rasulullah merapatkan shaf para sahabatnya, demikian pula bagaimana para sahabat merapatkan shaf,

    Di indonesia sebagian kaum muslimin mengaku sebagai pengikut imam syafii, nah,. ini bisa dijadikan sarana juga, sampaikan artikel pernyataan imam syafii tentang pentingnya merapatkan shaf, silahkan lihat disini artikel postingannya

    Bisa juga anda beli poster sususan shaf shalat dan penjelasan singkatnya , disitu ada kok pemaparan dalil-dalilnya juga,. bisa di download disini juga, silahkan lihat postingan tentang gambar shaf shalat, klik link ini

  2. “Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”
    Bagaimana jikalau di sebuah masjid yg diisi oleh dua shaf yg berbeda yakni shaf terdepan diisi oleh jamaah yg telah akil baliq tetapi shafnya belum terisi penuh dan terpisah dengan shaf yg kedua yg diisi oleh anak yg belum akil balik?
    bagaimana menurut pandagannya mengenai hal ini karena ada di beberapa Masjid melakukan demikian?

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
    Terimakasih mas adrianto, sudah komentar disini,
    Penuhi shaf yang masih kosong terlebih dahulu, sebelum membuat shaf berikutnya, jangan biarkan shaf tersebut kosong dan diisi oleh setan,. tidak mengapa yang mengisi orang yang belum balig,.

    Justru jika ada shaf yang masih kosong lalu dia membuat shaf sendiri, maka tidak ada shalat baginya, dia berdosa,

    Jadi masjid yang menerapkan demikian tidak mengikuti petunjuk rasulullah, yaitu penuhi shaf yang kosong, jangan membuat shaf baru sebelum shaf pertama penuh,.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*