Satu Lagi Yang Media Indonesia Tidak Mengeksposenya, TKW Membunuh Anak Majikan Dan Terancam Hukuman Mati,.

Hukuman Mati untuk TKW Indonesia (ST); Latar belakang peristiwa yang tidak dimuat media.

hukuman pancung di saudi tak mengenal kastaST, seorang TKW berusia 27 tahun pernah bekerja di Saudi selama 6 tahun lebih. Dia senang dengan majikannya dan begitupun juga seluruh keluarga majikannya senang dengan kerjaannya sehingga diberi kepercayaan besar untuk segala urusan rumah termasuk mengurus anak-anak. ST sayang terhadap anak-anak majikan dan selalu bekerja dengan semangat.

Dua tahun sebelum pulang kampung, dia bertunangan dengan seorang pria yang sudah lama mendekatinya. ST merasa mempunyai seorang kekasih walau dalam kejauhan. Dia tak tahan untuk cepat-cepat mengumpulkan uang dan pulang menikah. Hari demi hari dia lalui dengan kesabaran sampai akhirnya tibalah waktu untuk pulang. Dia begitu gembira setelah menanti lama, sekarang datanglah saatnya untuk mejumpai sang kekasih tunangannya. Sesampainya di tanah air ternyata berita pertama yang dia dengar adalah bahwa tunangannya sudah menikah dengan wanita lain. ST terluka. ST menderita. ST tidak bisa percaya lagi pada pria dan segera ingin kembali bekerja.

Belum sampai dua bulan di tanah air, ST berangkat lagi ke negeri teluk, tapi kali ini ke Abu Dhabi. Bekerja dalam rumah yang dihuni oleh sepasang suami istri yang masing-masingnya bekerja dan mempunyai dua orang anak. Yang pertama adalah Zaid seorang putra berusia 3 tahun dan kedua Malak yang masih bayi berusia 4 bulan. Pasangan suami istri sudah lama berobat untuk mendapatkan momongan, dan akhirnya terkabul dengan kehadiran Malak yang berarti ‘bidadari’ dalam bahasa Arab.

Keluarga sudah mempunyai seorang pembantu, Nanny asal Philipina yang khusus mengurus anak-anaknya. Tugas ST menjadi jauh lebih ringan dari pada di Saudi dulu. Tetapi kini ada satu masalah; keluarga lebih percaya pada Nanny, dan jika ada kesalahan, pasti ST yang kena getahnya. Bulan lalu terlihat ada benjol kecil di jidat Malak. Ketika Nanny ditanya dia bilang mungkin terjadi saat si bayi dipegang ST waktu itu. Keluarga marah pada ST sementara dia tidak tahu apa-apa.

Nanny juga sering merintah karena diminta majikan untuk memberi training kepada ST. Kebencian ST semakin meningkat. Dia tak tahan ingin membalas Nanny. setelah sepekan berlalu, tepatnya pada hari rabu 10 April 2013 majikan sedang tidak berada di rumah dan Malak tidur lelap, sementara Nanny masuk kamar mandi, ST merasa mendapat suatu kesempatan emas; dia angkat bayi dan dibawa ke kamar ibunya lalu dia jatuhkan malak ke lantai supaya kepalanya terbentur dan timbul benjol sedikit. Ternyata tiada bekas. Dia jatuhkan sekali lagi namun Malak hanya bangun dan menangis tanpa ada bekas. Akhirnya dia bawa ke bagian meja TV di kamar utama lalu dia benturkan bagian kepala Malak ke sisi meja dan mulai terlihat memar. Tangisan Malak terhenti dan nafasnya ngos-ngosan keras. ST menenangkan sambil segera buru-buru dia taruh Malak kembali ke kasur kamar Nanny.

Nanny keluar kamar mandi dan segera ingin melihat keadaan Malak karena mendengar suara tangisan saat di kamar mandi. Dia lihat posisi Malak sudah berubah tanpa selimut dan nafasnya sudah tidak normal. Segera dia telpon majikan dan mereka pun langsung mengontak rumah sakit untuk segera mengirim ambulan ke alamat rumahnya. Malak dibawa ke UGD dan ternyata dia mengalami Haemorrhage pendarahan di otak. Setelah seminggu lebih dirawat, akhirnya Malak pun wafat pada hari minggu 28-04-2013.

Saat di-investigasi awalnya ST tidak mengaku. Katanya dia menggendong lalu kesandung karpet dan jatuhlah Malak. Tetapi ternyata di rumah itu ada CCTV dan terlihat ST membangunkan Malak dan membawanya ke kamar utama lalu empat menit kemudian mengembalikannya dalam keadaan menangis. ST akhirnya mengaku dan menjelaskan semua ke polisi. Negara gempar dan kasus ini menjadi ramai di media bahkan di internet dan koran-koran berbahasa inggris. Kasus ini pun di-investigasi ulang di kejaksaan.

Ketika Jaksa bertanya:

 “Mengapa kamu lakukan itu?,

ST hanya menjawab, “saya kesal sekali dengan si Philipina”

“lalu apa salahnya si bayi ?

“tidak tahu pokoknya saya benci sama si Nanny”

“apakah kamu niat membunuh Malak?

“tidak, saya hanya mau Nanny dimarahin majikan.’

“Apakah kamu ada masalah dengan majikan ?

“Tidak. mereka baik, tapi kadang Nanny suka fitnah dan mereka jadi marah pada saya”

“kamu tertuduh membunuh dengan sengaja, benar tidak ?

“Tidak! Saya hanya niat membuat Malak luka.”

Asisten Jaksa menjadi penasaran melihat ST seakan tidak ada penyesalan dan tidak memahami besarnya kejahatan yang telah dia lakukan, maka dia sambung bertanya mengenai masa lalu ST dan berusaha memahami apa yang membuat ST setega itu, lalu dia tegur;

“Kamu tidak sedih atau menyesal sama sekali kah?

“iya pak saya menyesal dan kaget Malak wafat dan saya sudah dua puluh hari ini menangis terus dipenjara.”

“kok kamu kelihatan biasa saja”

“Iya pak saya Benci sama si Nanny itu.”

“kamu shalat tidak?

“Iya shalat.”

“Sudah tobat minta ampunan dari Allah?”

“Belum pak, saya kesal pada Nanny. kapan saya dibebaskan?”

Terlihat bahwa ST juga tidak memahami konsekuensi dari perbuatannya dan apa yang akan dia alami.

“Kamu masih belum dihukum, karena nanti akan dibawa ke hakim dan ditanyakan lagi, nanti hakim yang akan memberi keputusan. Yang pasti setidaknya bakal tahunan di penjara.”

Asisten Jaksa itu tidak memberi tahu bahwa keluarga majikan sudah meminta ST dihukum Qisas dengan I’dam (hukuman mati).

“Hah… tahunan pak?

“Iya. Ambil kesempatan buat kamu tobat dan terus kirim doa dan fatehah buat Malak semoga kamu terampuni. Banyak kejahatan terjadi sehari-hari di dunia ini, tapi membunuh seorang bayi tak berdosa adalah hal yang luar biasa mengejutkan.”

ST teriak,

“Saya tidak niat membunuh pak !

“cukup niat melukakan kepala bayi sudah hal yang luar biasa menusuk hati siapapun khususnya orang tua Malak. Makanya tobat!

“iya pak saya mau tobat.”

“Minggu depan setelah file lengkap dan penyelidikan Jaksa selesai, kasus akan dilihat diadili di sidang.”

Demi menjaga keselamatan terdakwa, wartawan tidak di-izinkan menaruh Nama tkw dan foto tidak dibolehkan. Walau tidak menyebut nama tetapi yang membuat saya sedih adalah hampir di setiap koran disebut “Indonesian Maid” , tetapi apa boleh dikata kalau memang sudah menyebar dan media juga selalu menyebut negara asal.

Pada tanggal 23 September 2013 pengadilan Abu Dhabi menjatuhkan hukuman mati atas ST. Melihat korbannya adalah Bayi berusuia 4 bulan disertai pengakuan ST atas kejahatan yang dilakukannya. Pada awal persidangan Hakim telah meminta pengadilan untuk menunjuk pengacara yang membelanya. 5 kali persidangan telah dilalui. Pengacara ST yang bernama Ali Al-Abadi mendasarkan pembelaan dengan upaya menyatakan bahwa ST tidak waras. Dia meminta pengadilan untuk mendatangkan psikiatris yang mengetes kesehatan jiwa ST. Permohonannya itu dipertimbangkan namun para Hakim menanyakan ST secara langsung dan dia enggan karena tidak rela dianggap tidak waras serta merasa sadar penuh dan mengingat jelas apa yang telah dilakukannya.

Kedutaan RI di Abu Dhabi telah berusaha penuh mengikuti perkembangan kasus ST bahkan sampai menjenguknya beberapa kali ke penjara. Selain itu juga menunjuk dan memilihkan pengacara yang lebih handal untuk menangani kasus naik banding ST. Beberapa kali rapat mengundang pengacara. Bahkan Dubes sendiri turun tangan secara langsung menganalisa kasus bersama para Counsel dalam memilih dan mendiskusikan pembelaan bersama calon pengacara.

Setelah rapat dengan lebih dari 3 pengacara akhirnya pilihan jatuh pada metode pembelaan Ibrahim Alkhouri dan dialah yang menjadi pengacara ST untuk sidang naik banding.

Dalam 3 kali sidang itu Ibrahim Alkhouri mengajukan pembelaan dengan menggugat bukti-bukti yang dijadikan sandaran Jaksa dalam kasus tersebut termasuk laporan pernyataan Dokter yang menangani wafatnya si bayi Malak dan juga menekankan pada satu hal bahwa pengakuan ST sebenarnya adalah karena terpaksa.

Selasa kemarin 21 January 2014 adalah hari keputusan pengadilan Naik Banding.

Bapak Wisnu Sindhu didampingi dua staff KBRI lainnya hadir ke pengadilan menantikan hasil keputusan Hakim naik banding dengan harapan hukuman akan turun dan menjadi lebih ringan ketimbang I’dam (hukuman mati).

Setelah Hakim ketua Mustafa Abulnaja membacakan hukum atas kasus-kasus lain, disebutlah nama ST dan dinyatakan “Ta’yiid”. Gerangan apakah yang dimaksudkan kata itu ? selesai sidang kami mengampiri kantor sekertaris hakim dan mempertanyakan apa yang dimaksud dengan kata itu. Sekertaris menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah hasil keputusan tidak berubah dan sama sebagaimana sidang awal derajat. Jadi tetap Hukuman Mati.

Kalau melihat pembelaan pengacara ST, sepertinya sulit dipercaya bahwa hukuman tidak berubah menjadi lebih ringan, namun dari hasil diskusi mencari penafsiran mengapa hukuman itu tidak berubah mungkin sebagaimana dilihat bahwa hampir semua hukuman I’dam sulit untuk berubah kecuali dengan ampunan dari ahli darahnya. Dalam kasus ST ini keluarga korban memang masih tetap meminta hukuman Qisas.

Ada waktu 30 hari untuk mengangkat kasus ini ke tahap terakhir yaitu mahkamah Agung, dan menurut Konsul KBRI, kedutaan akan segera lanjut mengangkat kasus ST ke Mahkamah Agung, dan pada saat yang sama akan berusaha lagi mencoba mendekati orang tua korban supaya memberi ampunan.

liputan di berita lokal UAE;

http://gulfnews.com/news/gulf/uae/crime/indonesian-woman-found-guilty-of-murdering-child-faces-death-sentence-1.1280318

http://www.thenational.ae/uae/courts/death-sentence-upheld-for-uae-maid-who-killed-her-employers-baby

sumber : http://alaysyah.wordpress.com/2014/01/22/hukuman-mati-untuk-tkw-indonesia-st-latar-belakang-peristiwa-yang-tidak-dimuat-media/

You May Also Like

5 Comments

  1. Saya setuju hukuman mati buat ST. Membelanya dengan berlebihan justru memperburuk citra Indonesia…dimanapundan siapapun, yg salah harus dihukum. Apalagi perbuatanST yg terlampau kejam.

    1. ST atw siapapun wanita bodoh itu, makin menambah kebodohannya sendiri…

      karena kalah cerdas dgn nanny dr philipina, eh bayi suci dr keluarga baik hati jd korban, gk perlu lah sampe Dubes Abu Dhobi (Pak. Iman sy kenal dia )ikut bantu, harusnya malu kita punya warga neg.

      spt ST, dan memang jatah hukuman pancung layak tuk wanita bodoh, bodoh, itu.( peluang tuk bebas sebenarnya ada sewaktu dia di tanya apakah dia waras, kalo ST. tidak bodoh dia akan pura2 tdk waras, sbb akan di masukan ke RS.jiwa dan selamat) tapi karena bodoh dan sombong /malah tersinggung swaktu di tanya ttg. kejiwaannya oleh phsykiater (dia pikir dia itu selebritis sinetron apa).

      jadi ini pelajaran, bahwa tekanan pekerjaan di luar negeri mbutuhkan tingkat intelegensi yg lumayan cerdas terutama dlm proses penyaringan TKW.himbauan ini boleh di pakai atw tdk terserah yg berwenang.wassalm.

  2. ya emang bodoh sy tau cma di indo ajj bahwa orang timur tengah jahat2 padahal qta sndrilh yg jhat apa tujuan kalian jd tkw apa hnya untuk membunuh?

    bkn untk memperbaiki nasib keluarga sy malu

    sbaik’a pemerintah menolong para tki2 yg terlantar bkn menolong para pendosa!

    mrk dpt hukuman mati pantas krn perbuatan mrk sndri

    apa gx sayang mengeluarin bermilyar2 uang hanya tuk diyat jaminan para pendosa?

    yg shrs’a di tolong mrk yg ingin pulang tp terlantar di sana apa gx kasian??

    biarlh para pendosa menerima hukuman krn kelakuan’a jk di tlong apa akn jd lbih baik ntr di indo? blom pasti

  3. udah lama dong kejadiannya ya gan? kenapa tidak masuk berita?
    terimakasih 😀

    TAhu sendiri lah media indonesia,. ngedepanin rating,.

Silahkan tinggalkan komentar di sini