Di Manakah Allah? Apakah Allah Berada Dimana-mana???

DIMANAKAH ALLÂH SUBHANAHU WA TA’ALA ?

Oleh : Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Sesungguhnya tidak ada perbedaan pendapat di kalangan Ahlus Sunnah, bahwa Allâh Azza wa Jalla itu Maha Tinggi. Dia berada di tempat yang tinggi, di atas langit, di atas ‘arsy-Nya. Dalil tentang sifat tinggi bagi Allâh Azza wa Jalla sangat banyak, sampai sebagian Ulama mengatakan, “Di dalam al-Qur’an terdapat seribu dalil atau lebih yang menunjukkan bahwa Allâh Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya dan bahwa Dia berada di atas para hamba-Nya”. [Majmû‘ Fatâwâ Ibnu Taimiyah 5/121]

Namun di zaman ini, banyak orang yang tidak mengetahuinya, bahkan sebagian orang menganggap bahwa Allâh Azza wa Jalla berada di mana-mana! Maha suci Allâh dari persangkaan mereka!!

Maka di sini kami sampaikan dalil-dalil masalah ini, supaya kita bisa meyakininya. Inilah di antaranya:

BERITA AL-QUR’AN

Allâh Azza wa Jalla telah memberitakan tantang diri-Nya bahwa Dia istiwa’ (berada di atas) ‘arsy (singgasana) Nya di dalam tujuh tempat  dalam al-Qur’an.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Rabb yang Maha Pemurah  berada di atas ‘Arsy. [Thȃha/20: 5]

Adapun ayat-ayat yang lain adalah: surat Al-A’râf, ayat ke-54; surat Yûnus, ayat ke-3; surat ar-Ra’du, ayat ke-2; surat al-Furqân, ayat ke-59; surat as-Sajdah, ayat ke-4; Al-Hadîd, ayat ke-4.

‘Arsy secara bahasa artinya singgasana; kursi tempat duduk raja. Adapun ‘arsy Allâh Azza wa Jalla, sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil, adalah tempat duduk yang memiliki kaki-kaki, dipikul oleh para malaikat, dan ‘arsy itu seperti kubah di atas alam, dan merupakan atap seluruh makhluk.

ALLAH BERADA DI ATAS

Berita Allâh Azza wa Jalla di banyak ayat al-Qur’an bahwa Dia berada di atas. Antara lain, firman Allâh Azza wa Jalla :

بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Tetapi (yang sebenarnya), Allâh telah mengangkat Isa kepada-Nya dan adalah Allâh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [An-Nisa’/4:158]

Allâh Azza wa Jalla mengangkat Nabi ‘Isa Alaihissallam kepada-Nya. Mengangkat adalah memindahkan sesuatu dari bawah ke atas. Dalam ayat di atas, dijelaskan bahwa Allâh Azza wa Jalla mengangkat nabi ‘Isa kepada-Nya. Ini menunjukkan bahwa Allâh Azza wa Jalla berada di atas.

ALLAH BERADA DI ATAS LANGIT

Berita Allâh Azza wa Jalla di dalam ayat-ayat al-Qur’an bahwa Dia berada di atas langit. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ ﴿١٦﴾ أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

Apakah kamu merasa aman terhadap Allâh yang berada di atas langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? Atau Apakah kamu merasa aman terhadap Allâh yang berada di atas langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? [Al-Mulk/67:16-17]

DALIL DARI HADITS

Demikian juga dalam beberapa hadits Nabi terdapat banyak sekali dalil tentang keberadaan Allâh Azza wa Jalla di atas langit, di atas ‘arsy-Nya. Di antaranya adalah hadits Isra’ Mi’raj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; hadits naiknya para Malaikat penulis amal manusia menghadap Allâh Azza wa Jalla setiap waktu Ashar dan Shubuh; hadits naiknya para Malaikat untuk menghadap Allâh Azza wa Jalla dengan membawa ruh orang yang telah mati dan lainnya. Termasuk dalil yang paling terkenal dalam hal ini adalah hadits jariyah (seorang budak wanita) sebagaimana berikut ini: Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami Radhiyallahu anhu berkata:

Dahulu aku memiliki seorang budak wanita yang menggembalakan kambing-kambing milikku di daerah antara gunung Uhud dan Jawwaniyyah. Suatu hari aku menelitinya, ternyata ada seekor serigala yang membawa seekor kambing dari kambing-kambing budak wanita itu. Aku adalah manusia biasa, aku terkadang marah sebagaimana mereka marah. Maka aku menamparnya dengan sangat keras. Kemudian aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan hal itu perkara yang besar terhadapku.

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُعْتِقُهَا قَالَ ائْتِنِي بِهَا فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ لَهَا أَيْنَ اللَّهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

Aku bertanya,“Wahai Rasûlullâh! tidakkah aku merdekakan dia?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bawa dia kepadaku”. Maka aku membawanya menghadap Beliau. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Di manakah Allâh?” Wanita itu menjawab, “Di atas langit”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Siapakah saya?” Wanita itu menjawab, “Anda adalah utusan Allâh”. Beliau bersabda, “Merdekakan dia, sesungguhnya dia seorang wanita mukminah”. [HR. Muslim, no. 537; dan lain-lain)

MA’IYYATULLAH

Berkaitan dengan sifat ketinggian bagi Allâh Azza wa Jalla , bahwa Allâh Azza wa Jalla berada di atas seluruh makhluk-Nya, berada di atas langit dan arsy-Nya, sebagian orang memiliki kerancuan dengan sebab kesalahan memahami sifat lain yang dimiliki oleh Allâh Azza wa Jalla , yaitu sifat ma’iyyah (kebersamaan Allâh dengan makhluk). Sehingga sebagian orang beranggapan bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berada dimana-mana. Ini adalah aqidah yang batil. Oleh karena itu, kami akan menambahkan sedikit keterangan tentang sifat Allâh Subhanahu wa Ta’ala tersebut, sehingga menjadi jelas aqidah yang haq ini.

Di antara sifat Allâh adalah al-ma’iyyah.  Ma’iyatullah ini ada dua:

1. Ma’iyyatul ‘Aammah (Kebersamaan Yang Umum).

Yaitu Allâh Azza wa Jalla bersama seluruh makhluk-Nya dengan ilmu-Nya, perhatian-Nya, kekuasaan-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, dan lainnya dari makna-makna kekuasaan, seperti firman-Nya:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ 

Dia (Allâh) bersama kamu di mana saja kamu berada. [Al-Hadid/57: 4]

2. Ma’iyyatul  Khooshoh (Kebersamaan Yang Khusus).

Yaitu Allâh bersama sebagian hamba-Nya dengan pertolongan-Nya dan bantuan-Nya. Seperti firman Allâh:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

Sesungguhnya Allâh beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. [An-Nahl/16: 128]

Adapun ayat-ayat al-Qur’an yang disangka oleh sebagian orang menunjukkan keberadaan Allâh Azza wa Jalla  di mana-mana. Seperti ayat yang telah kami sebutkan di atas:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

Dia (Allâh) bersama kamu di mana saja kamu berada. [Al-Hadid/57: 4]

Karena maksud firman Allâh “Dia bersama kamu di mana saja kamu berada”, adalah Allâh Azza wa Jalla bersama kamu dengan ilmu-Nya dan pengawasan-Nya, di mana saja kamu berada. Yaitu kebersamaan Allâh Azza wa Jalla yang umum. Dan maksudnya bukanlah dzat Allâh berada di mana-mana bersama makhluk-Nya. Hal ini sangat jelas jika kita memperhatikan ayat tersebut secara keseluruhannya, dan mengikuti penjelasan para Ulama Salaf.  Ayat ini secara lengkap berbunyi:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya, dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allâh Maha melihat apa yang kamu kerjakan. [Al-Hadîd/57:4]

Ayat ini dimulai dengan berita bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu memberitakan tentang keberadaan Allâh di atas ‘arsy. Ini menunjukkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berada di atas seluruh makhluk-Nya. Lalu Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya.  Ini menunjukkan ilmu Allâh Subhanahu wa Ta’ala meliputi segala sesuatu, dan ini adalah kebersamaan Allâh yang umum dengan seluruh makhluk-Nya.

Kemudian Allâh berfirman “Dia bersama kamu di mana saja kamu berada“, ini juga memberitakan kebersamaan Allâh yang umum dengan seluruh makhluk-Nya dengan ilmu-Nya.

Lalu firman Allâh “Dan Allâh Maha melihat apa yang kamu kerjakan“,  ini juga memberitakan kebersamaan Allâh yang umum dengan seluruh makhluk-Nya dengan penglihatan-Nya.

PERKATAAN PARA ULAMA

Sesungguhnya sangat banyak sekali perkataan para ulama yang menyatakan keberadaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala di atas langit, karena memang tidak ada perbedaan pendapat di kalangan Salafush Shalih dalam masalah ini. Inilah di antara perkataan mereka:

1. Imam adh-Dhahhȃk rahimahullah berkata, “Allâh berada di atas ‘arsy-Nya dan ilmu-Nya bersama mereka (manusia; makhluk) di mana saja mereka berada”. [Riwayat Abu Ahmad al-‘Assȃl; Ibnu Baththah; Ibnu ‘Abdil Barr; Al-Lȃlikai; sanad-sanadnya bagus. Lihat Mukhtashar Al-‘Uluw, hlm. 133, no. 113]

2. Imam al-Auza’i rahimahullah , seorang ‘alim di zaman tabi’in, berkata, “Kami -waktu itu masih banyak Ulama generasi tabi’in- mengatakan: “Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berada di atas ‘arsyNya, dan kami mengimani sifat-sifat Allâh yang disebutkan di dalam Sunnah (Hadits)”. [Riwayat al-Baihaqi di dalam al-Asmâ‘ was Shifât. Lihat Mukhtashar Al-‘Uluw, hlm. 137, no. 121]

3. Imam Abu Hanifah rahimahullah

Abu Muthii’ al-Hakam bin ‘Abdullah al-Balkhi, penyusun kitab Fiqhul Akbar, berkata: “Aku bertanya kepada (imam) Abu Hanifah rahimahullah tentang orang yang mengatakan “Aku tidak tahu, Tuhanku berada di langit atau di bumi”. Beliau menjawab, “Dia telah kafir, karena Allâh Azza wa Jalla berfirman “Rabb yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy. (Thâha/20: 5), sedangkan ‘arsy-Nya berada di atas semua langit-Nya.

Aku bertanya lagi: “Tetapi orang itu berkata “Aku mengatakan, “Allâh bersemayam di atas ‘Arsy, namun aku tidak tahu, ‘arsy itu di langit atau di bumi”. Abu Hanifah rahimahullah berkata, “Jika dia mengingkari, ‘arsy itu berada di atas langit, dia telah kafir“. [Mukhtashar Al-‘Uluw, hlm. 136, no. 118]

4. Imam Malik rahimahullah berkata, “Allâh berada di atas langit dan ilmuNya di seluruh tempat, tidak ada sesuatu yang kosong dari ilmuNya”. [Riwayat Abdullah bin imam Ahmad rahimahullah di dalam kitab As-Sunnah; dan lain-lain; dengan sanad shahih. Lihat Mukhtashar Al-‘Uluw, hlm. 140, no. 130]

TAMBAHAN:

Adapun pendapat bahwa Allâh berada di mana-mana, maka pendapat ini bertentangan dengan al-Qur’an, al-Hadits, dan ijma’ Salaf. Dan pendapat tersebut sangat buruk, karena termasuk di mana-mana adalah tempat-tempat kotor dan najis! Maha suci Allâh dari perkataan mereka!!

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Read more https://almanhaj.or.id/7401-dimanakah-allah-subhanahu-wa-taala.html

Print Friendly, PDF & Email

22 Comments

  1. Jadi bingung nich.? sebenarnya duluan mana sich Adanya Allah dan Arsy?

    terus Lauhul Mahfudz adanya disebelah mana?

    Terimakasih mas aris,.
    Urusan yang ghaib, kewajiban kita hanya untuk mengimani saja, tanpa bertanya yang Allah sendiri tidak menjelaskannya, Rasulllah tidak menjelaskannya,.

    Urusan yang ghaib itu butuh kepada dalil yang menjelaskan, jika tidak ada dalil yang menjelaskannya, maka kewajiban kita beriman kepada hal ghaib tersebut.

    Kita tidak boleh memikirkan ttg dzat Allah, karena ada larangan,

    Jangankan berpikir tentang Allah, tentang makhluk ciptaannya saja banyak kita tidak paham, contoh yang ada pada diri kita,. dimanakah letak akal kita, bagaimanakah bentuknya? hingga hari ini dgn jaman teknologi yg canggih, belum ada yang bisa menjelaskan hal tersebut,.

    Apakah dengan tidak diketahui dimana letaknya, bagaimana bentuknya, lalu kita berkesimpulan akal itu tidak ada? tentu anda juga tidak mau jika dikatakan anda tidak punya akal, bukankah demikian?

    Jadi, mustahil kita bisa mengetahui hal yang ghaib , hal yang sangat mustahil, kecuali ada penjelasan dari yang menciptakan hal yang ghaib tersebut,.

    Hal yang ghaib ada yang bisa dirasakan, walaupun tidak bisa dilihat atau dibayangkan bagaimana bentuknya,.

    contoh sederhana saja, kita menghirup oksigen, udara, apakah anda bisa melihat bagaimana bentuk udara tersebut,. ?? alat secanggih apapun ngga bisa melihat bentuknya,. tapi kita bisa merasakannya,. jika udara kita tiupkan, atau kita diterjang angin yang sangat kencang, apakah kita bisa melihatnya? ngga bisa,. tapi bisa kita rasakan,. itu semua ciptaan Allah,

    Udara adalah hal ghaib bagi kita, demikian pula listrik,

    Kita tidak bisa melihat dzatnya, tapi bisa merasakannya

    ini hanya contoh saja,. untuk memudahkan,.

  2. Ngapunten saya tidak bermaksud berfikir dan bertanya tentang DzatNya. Saya hanya berfikir kalo Allah bertempat/menetap diatas Arsy ( Mahluk) artinya Allah butuh tempat dan Allah Jism adanya.
    padahal Allah tidak serupa dengan sesuatu apapun dan Allah
    yang awal, Allah yang akhir.

    terimakasih mas aris,.
    pemikiran anda kalau Allah menetap diatas arsy berarti Allah butuh tempat, ini adalah salah, dan Allah ada dzatnya, wujudnya, bukan berarti allah berjasad spt makhluknya, ini perlu diluruskan juga,.

    Allah bersemayam diatas Arsy, itu bukan berarti Allah nempel di Arsy, Tapi Allah bersemayam diatas Arsy, terpisah dari Makhluknya,. dan Allah tidak butuh Arsy,

    Sebagai contoh saja jika kita mengatakan , Bulan diatas kita,. bulan menemani perjalanan kita, apakah berarti bulan nempel dengan kita, atau bulan ikut pergi bersama kita? ingat, .. arti ‘ala dalam bhsa arab, bisa berarti nempel, dan bisa pula tidak, sungguh kesalahan besar jika memahami istilah secara bahasa saja,.

    Allah bersemayam diatas Arsy, bukan berarti Allah nempel di Arsy, dan Allah perlu Arsy,..
    Allah tidak membutuhkan Arsy utk bersemayam, dan Allah tidak bersemayam di Arsy, yaitu nempel dgn Arsynya, sebab jika demikian, maka Allah membutuhkan kepada makhluk, padahal Arsy itu ciptaan Allah,

    Allah juga mempunya dzat, tapi jangan pernah mencari tahu seperti apa dzat Allah itu,. jika ingin tahu, nanti di surga, kenikmatan terbesar di surga adalah memandang wajah Allah secara langsung,.

    Jika anda menapikan adanya dzat Allah, maka ini sama saja meniadakan keberadaan Allah, Allah itu cuma sekedar nama, bukan berupa dzat,
    Apa bedanya dengan mengatakan Allah tidak ada?

    Ingat, persamaan nama tidaklah mewajibkan persamaan hakekat,. contoh, Allah melihat, mendengar, namun cara melihat dan mendengarnya berbeda dengan cara mendengar dan melihatnya makhluk,.
    Allah punya tangan, kaki,wajah, tapi jangan kita bayangkan tangan,kaki, atau wajah makhluknya,.

    ingat, persamaan naman tidak mengharuskan persamaan hakekat,.

    contoh sesama makhluk yang memiliki persamaan nama, tapi hakekatnya berbeda,.
    Manusia punya kaki, monyet punya kaki, gunung juga punya kaki, apakah sama?? bukankah berbeda?
    manusia punya mata, monyoet punya mata, airpun punya mata, apakah sama?? bukankah berbeda,.

    sekarang, buat tambahan,.
    di dunia ada sungai,.. nanti di surga juga ada sungai,. apakah sama sungai di dunia dan surga?? jawabnya sangat tidak sama,. sungai di surga tidak pernah terbetik di hati, terlihat oleh mata,.

    di dunia ada madu, ada khamr,ada susu,. nanti di surga juga ada madu, khamr, susu, apakah sama?? tidak sama sekali,.

    Itu sesama makhluk, apalagi Allah dengan makhluknya,. maka sungguh sangat jauh berbeda,

    setelah arsy masih ada Lauhul Mahfudz mohon penjelasannya.

    Lauhil Mahfudz itu urusan yg ghaib mas,. malaikat jibril yang merupakan malaikat penyampai wahyu saja tidak mengetahui, apalagi nabi, apalagi kita-kita mas,.
    kewajiban kita ya cuma mengimani saja,.
    urusan ghaib hanya Allah yang tahu, namanya juga ghaib mas,. jadi yang mengetahuinya ya yang menciptakan alam ghaib tsb,. siapa? Allah subhanahu wata’ala

    Oh iya apakah kalo saya bertanya dimana Allah?
    Apakah itu sebuah kesalahan/bathil ?

    Jika bertanya untuk tujuan meragukan keberadaan Allah, bahwa Allah ada diatas,. maka ini pernyataan batil, Imam malik pernah mengusir orang yang bertanya tentang bagaimana Allah bersemayam diatas arsy, dan Imam malik menjawab dengan gemetar karena takut dan betapa besar pertanyaan ini, kemudia imam malik mengusir orang yang bertanya tersebut, krn dia bertanya bukan karena ingin tahu, sebab keyakinan tentang Allah bersemayam diatas arsy itu hal yang maklum, hal yang sudah tersebar diketahui dikalangan kaum muslimin kala itu,

    Tinggal anda cek sendiri, apa maksud anda bertanya seperti itu dibawah postingan yang menjelaskan tentang hal tsb, bukankah sudah sangat gamblang dan jelas?

    Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk dan kefakihan agama kepada anda,saya dan pembaca semua,. aamiin,.

  3. lagi2 ngapunten. koq malah jadi tambah bingung ya.?

    1.) Allah bersemayam diatas Arsy, itu bukan berarti Allah nemel di Arsy, Tapi Allah bersemayam diatas Arsy, terpisah dari Makhluknya,. dan Allah tidak butuh Arsy, Berarti Allah berada diluar langit dan arsy, terus apa namanya? Pemikiran saya kalo kita mengatakan bersemayam/bertempat/menetap maka logikanya harus ada yang ditempati, jadi tidak mungkin terpisah,maaf ini dari kedangkalan pikiran saya. mohon pencerahannya.

    terimakasih mas aris,.
    Jika kita membayangkan seperti apapun cerdasnya otak kita, ngga akan bisa,. karena itu tidak menambah keimanan kita, justru kewajiban kita hanya mengimani saja apa yg disampaikan oleh Allah,

    Allah mengatakan bahwa Allah bersemayam diatas Arsy, kewajiban kita hanya mengimani saja, tidak bertanya bagaimana cara istiwanya, dll,. karena itu urusan ghaib, tahu ngga mas aris, apa sih yg dimaksud ghaib? artinya itu tidak kita ketahui, karena Allah tidak menjelaskan bagaimana hakikat atau cara beristiwanya,.

    Rasulullah yang pernah isra mi’raj saja tidak tahu bagaimana cara beristiwanya rasulullah, padahal Rasulullah sudah pernah menembus hingga ke atas langit ke tujuh,. apalagi kita ,..

    Jadi kewajiban kita hanya mengimani dan membenarkan kabar yang Allah berikan melalui rasulnya,.

    Berdalam-dalam dengan memikirkan hal tsb, bisa mendatangkan keraguan kepada kita, karena setan begitu pandai, sehingga kita akhirnya mengingkari keberadaan Allah karena keterbatasan akal kita, atau ketidakmampuan akan kita mencerna akan berita itu,

    Mudah-mudahan postingan saya tentang arsy Allah bisa membuka wawasan anda, sengaja saya posting banyak artikel ttg arsy Allah, silahkan baca disini

    Di artikel tersebut diberikan gambaran tentang ukuran kursi Allah, Arsy Allah, Malaikat pemikul Arsy,.

    Walaupun Arsy di pikul oleh Malaikat, kursi Allah itu tempat kaki Allah, itu bukan berarti Allah bergantung kepadanya, Allah tidak bergantung kepadanya, dan tidak membutuhkan pertolongan makhluknya,. karena Allah maha kuasa,.

    Bahkan makhluk ciptaannya lah yg butuh kepada Allah,.

    berbeda dengan manusia yang bisa terbunuh oleh barang ciptaannya sendiri,.

    2.) dalam postingan diatas dikatakan Allah sendiri terpisah dari makhluk dan makhluk pun terpisah dari Allah. Allah tidak mungkin menyatu dan bercampur dengan makhluk-Nya. Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya di langit sana dan bukan menetap di bumi ini bersama makhluk-Nya.”[23]

    saya memahami ucapan Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya di langit sana yaitu Allah berada diatas Arsy bertempat dilangit bukankah Arsy dan Langit itu Mahluk, jadi apa mungkin Allah menyatu dan bercampur dgn mahluk padahal postingan diatas disebutkan tidak mungkin ?

    mohon pencerahannya terima kasih sebelumnya dan mohon maaf kl bahasanya acak2an, namanya juga belajar. mohon dmaklumi ya!

    iya mas, banyak yang kurang paham ttg hal ini, bukan mas aris saja,.
    silahkan baca artikel yg ini , disana dijelaskan tentang kursi Allah,. kursi Allah tempat telapak kaki Allah,. kursi Allah meliputi langit dan bumi,.

    terbayang betapa besarnya kursi Allah?

    di postingan lain ada pula hadits yang menjelaskan tujuh langit dan tujuh bumi ada di jari jemari Allah,

    Kewajiban kita terhadap hal-hal ghaib seperti ini adalah mengimani, meyakini, dan membenarkannya, bukan membayangkan dengan akal kita yang sangat terbatas,. dan kita ngga akan mampu,.

    Memikirkan besarnya arsy Allah, kursi Allah, atau memikirkan berapa besar langit yang kelihatan di depan mata kita saja kita merasa repot,. apalagi memikirkan hal yang tidak pernah kita lihat,.

    Mudah-mudahan ngga bingung lagi,. jika masih bingung silahkan komentar lagi,

  4. Maturnuwun untuk pencerahannya yang sangat lengkap dan panjang. Yang saya fahami dari pencerahan sebelumnya kurang lebihnya adalah Allah berada/bertempat/bersemayam dlangit diatas arsy/singgasana yang memiliki beberapa tiang dan dipikul oleh para Malaikat tetapi Allah terpisah dari mahluknya.

    seperti contoh : langit diatas kita( tidk menempel).

    Apakah pemahaman sy ini sesuai yg dimaksud dalam pencerahan ini ?

    Ya, Allah terpisah dari makhluknya, bersemayamnya Allah diatas arsy menunjukkan keberadaan Allah, bukan berarti Allah bersemayam di Arsy dan nempel dengan arsy, Allah tidak membutuhkan Arsy, kita imani saja, namun jika ada yang bertanya bagaimana sifat bersemayamnya, itu kita tidak mengetahuinya, karena Allah tidak menjelaskan,. dan itu urusan yang ghaib,

  5. Sejujurnya apa yang sudah saya fahami dari pencerahan tentang Allah berada/bertempat/menetap/bersemayam dilangit diatas arsy/singgasana namun terpisah dari mahluknya (sudah dibenarkan) masih meninggalkan ganjelan-ganjelan dalam pikiran saya :
    1. Kalo dikatakan Allah bertempat /berada/menetap maka pastinya Allah butuh tempat karena tidak mungkin dikatakan bertempat kalo tidak ada yang ditempati (tempat) , pastinya tidak terpisah.( ini pikiran saya lho) . Bulan diatas kita sebagaimana dicontohkan benar adanya :Bulan terpisah dari kita, sayangnya saya belum pernah mendengar ada orang yang mengatakan bulan bertempat pada kita, yang difahami banyak orang artinya bulan lebih tinggi dari kita. Jadi menurut pikiran saya contoh bulan diatas kita tidak semakna artinya dengan Allah bertempat diatas arsy namun terpisah dari mahluknya
    Kalo dikatakan Allah berada dilangit diatas Arsy namun terpisah, apakah maksudnya : Allah berada dilangit atau Allah tidak dilangit juga tidak di Arsy ? lalu Allah ada dimana, apakah masih ada tempat /ruang/alam selain samudera,langit dan Arsy ?

    2. Kalo dikatakan Allah berada dilangit diatas Arsy, maka yang kebayang dalam pikiran saya adalah arah yang biasa saya fahami (Atas-Bawah-Kiri-Kanan) , terus bagaimana saya memahami :“Sesungguhnya Allah sangat dekat kepada hambanya bahkan lebih dekat dari urat leher” ? padahal kita ada dibumi, apakah mungkin Allah ada di dua tempat ?

    3. Kalo sesuatu memiliki tempat dan arah, yang kebayang dalam pikiran saya adalah sebuah benda. Karena hanya benda/mahluk yang memiliki sebutan tempat dan arah. Sungguh saya berlindung kepada Allah atas keyakinan seperti ini karena sesungguhnya Allah tidak serupa dengan sesuatu apapun jua.

    4. Kalo dikatakan Allah bersemayam diatas Arsy, di pikiran saya muncul beberapa kemungkinan : – apakah Allah ada bersamaan dengan Arsy ?atau – Allah ada setelah arsy? Apakah Arsy lebih besar, sama besar, atau lebih kecil dari Allah ? Padahal keterangan yang pasti Allah itu ada pada saat tidak ada selainnya (Allah ada tanpa permulaan)

    5. Yang paling saya butuhkan sekarang ini adalah keterangan dalam Al Qur’an atau hadits yang menerangkan makna “Istiwa “ itu adalah bertempat/menetap dilangit diatas arsy. Dimana kira-kira saya mendapatkan keterangan tsb? Mohon bantuannya ya.. sekaligus mohon pencerahannya lagi. Matur nuwun. Ass.Wr.Wb.

    Terimakasih mas, sebenarnya kunci kebingungan anda itu cuma satu,.

    Anda memahami Hakikat Allah dengan STANDAR MAKHLUK,.. Padahal Allah tidak seperti makhluk, jika makhluk bersemayam, butuh tempat, Allah tidaklah sama dengan makhluk,

    Contoh lagi, Manusia bisa melihat, bisa mendengar, Apakah Allah bisa melihat dan bisa mendengar, jawabnya,.. YA, BISA, tapi melihat dan mendengarnya Allah berbeda dengan cara mendengar dan melihatnya manusia,… manusia ada keterbatasan dalam hal melihat dan mendengar,. sedangkan Allah, MAHA SEMPURNA PENDENGARAN DAN PENGLIHATANNYA,.. tidak sama dengan makhluk,.

    Jika kita memahami hakekat Allah dengan STANDAR MAKHLUK,. maka kita akan jatuh dalam kesalahan demi kesalahan, bahkan bisa berefek kita akan mengingkari Allah karena kebingungan kita,.

    Kebingungan-kebingungan diatas biasanya terjadi akibat belajar ilmu kalam, tasawuf,filsafat,. pemikiran yang mendewakan akal, sehingga dengan lancang membeberkan tentang perbuatan Allah dan dibenturkan dengan akal-akal mereka,.

    sehingga banyak pertanyaan2 akibat pemikiran yang salah tersebut, akhirnya terperangkap dalam jebakan setan yang memang menginginkan manusia agar ragu terhadap Allah dan kesempurnaannya,.

    Jadi tolong, menjelaskan perbuatan Allah jangan dengan standar makhluk, Allah bukanlah makhluk, dan Allah tidak serupa dengan makhluknya,.
    makhluk jika bersemayam butuh tempat, bahkan jika tinggal di manapun butuh ruang,. ini standar makhluk,. sedang Allah,.. ALLAH MAHA SEMPURNA, MAHA KUASA,, dan tidak serupa dengan makhluknya,

  6. Sekali lagi matur nuwun atas komennya
    1. MAHLUK
    Rasanya sudah sampe diujung pencerahan.Suka tidak suka, Mau nggak Mau,ketika mengatakan / memahami bahwa : Allah bertempat/menetap/bersamayam maka konsekwensi logisnya adalah mahluk.
    pernyataan Allah bertempat/menetap/bersemay
    am tidak sesuai baik secara akal maupun Al Qur’an/Hadits. Bagaimana mungkin ayat-ayat Alqur’an saling berlawanan, padahal Al Qur’an diturunkan untuk saling membenarkan yang satu dengan yang lainnya.
    ” Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah , tentulah mereka akan mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya”
    Atas dasar apa meyakini bahwa yang dimaksud Allah dengan Istiwa itu adalah bertempat/menetap/bersemayam? Bukankah hanya Allah yang mengetahui.

    Kita semua faham bahwa dalam Al Qur’an ada ayat-ayat Muhkamaat (jelas) dan ayat-ayat Mutasyaabihaat yaitu yang didalamnya terdapat kesamaran pengertian. maka barang siapa mengembalikan yang samar kepada yang jelas dari Al Qur’an serta menjadi ayat-ayat yang muhkam sebagai penentu bagi yang mutasyasbih, berati dia telah mendapatkan petunjuk.
    Menurut pikiran saya semua ayat-ayat Al Qur’an bisa difahami ( Bagaimana mungkin ada Ayat-ayat Al Qur’an yg tidak bisa difahami secara akal, padahal Al Qur’an itu petunjuk bagi manusia)
    ” Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir”

    2. AKAL
    Apakah setiap orang-orang yang memikirkan ayat-ayat Al Qur’an harus dikatakan Ahli Kalam ? Sempit banget pikiran kita.
    ” Dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya melainkan orang-orang yang berakal”
    Bagaimana mungkin kita bisa memahami ayat-ayat Al Qur’an kalo kita tidak menggunakan akal yang telah Allah anugerahkan kepada kita, bagaimana mungkin kita bisa membedakan yang Hak dan yang Bathil kalo tidak menggunakan akal kita padahal Al Qur’an itu adalah Al Furqon.?
    Sesungguhnya Allah mejadikan manusia sebagai khalifah, karena Allah memberi akal/Ilmu kepada manusia.
    Iblis dikeluarkan dari surga bukan karena kesombongan semata melainkan karena kebodohan iblis akan hakekat penciptaan manusia.

    saya menggunakan logika akal bukan bermaksud mendewakan akal tapi semata-mata sebagai sikap kehati-hatian. Buat saya perkara aqidah bukanlah perkara didunia semata tapi kelak saya pertanggung jawabkan di akhirat . Apalagi sekarang makin banyak bermunculan kelompok-kelompok dalam islam yang merasa paling islam sampe-sampe mengabaikan peringatan Allah dan RasulNya. Mereka saling sesat-menyesatkan bahkan Kafir- mengkafirkan sesama muslim. SUngguh Ya Allah, hambamu yg lemah, fakir dan hina
    ini memohon perlindunganMu dari buruknya ahlak dan hawa nafsyu, Amin.

    Semoga Allah menganugerahkan keberkahan kepada kita.Mohon Maaf bila ada kata yang tidak berkenan dihati. Maturnuwun, Ass.Wr.Wb.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
    Terimakasih, nyambung diskusinya,.
    Saya kasih perumpamaan tentang perbuatan Allah dan perbuatan Makhluk,.
    Allah melihat, manusia juga melihat,.
    Apakah konsekwensi melihat bagi Allah itu harus memiliki mata? ini konsekwensi logis bagi makhluk,. selain butuh mata maka butuh cahaya, selain itu matanya normal, bukan mata yang buta, sebab ada manusia yang punya mata, tapi tidak bisa melihat,.

    Nah, Allah tidak seperti itu konsekwensinya, Allah maha melihat dengan penglihatan yang sempurna yang berbeda dengan cara melihat yang dimiliki oleh manusia,. dan cara melihatnya Allah tidaklah sama seperti cara melihatnya manusia,.

    Jika kita berpikir tentang perbuatan Allah lalu kita berpikinya dengan cara-cara makhluk, dia telah terjatuh dalam kesalahan, yaitu MENYERUPAKAN PERBUATAN ALLAH DENGAN PERBUATAN MAKHLUKNYA

    Anda mengatakan fungsi akal bukan untuk memikirkan ayat-ayat allah, tapi membenturkan dalil dengan logika atau akal, padahal fungsi akal terhadap dalil itu ibarat mata dengan cahaya, akal adalah mata, dan cahaya adalah dalil, tanpa cahaya mata tidak bisa melihat,

    Saya sudah memposting tentang hal ini mas aris, silahkan anda baca artikelnya, tentang fungsi akal , baca disini

    Bagaimana sikap kita, jika menganggap seolah-olah dalil tersebut bertentangan dengan akal kita, saya juga sudah mempostingnya , silahkan baca disini

    Tentang kafir mengkafirkan juga perkara yang sangat berat, bukan urusan sepele,. saya juga sering dituduh oleh pembaca blog yg sakit, dianggap suka mengkafir-kafirkan kelompok lain, mudah2an anda tidak mencap begitu juga thd saya,. saya sudah memposting bahaya mengkafirkan, silahkan baca disini

    SAYA JUGA BERSEDIA MENUTUP BLOG INI JIKA ADA SATU SAJA KATA-KATA SAYA YANG MENGKAFIRKAN ORANG LAIN,. silahkan copas disini , dan saya akan menutup BLOG INI,.

  7. Ass. Wr.Wb Lanjut lagi ya… dalam pencerahan yang lalu dikatakan : ” saya memahami hakekat Allah dengan Standar Mahluk”
    1. karena memang yang layak disebut/ disifati ” Bertempat/Menetap/Bersemayam ” itu hanya Mahluk/Benda.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    Terimakasih mas aris,.
    Allah juga mempunya sifat, semua nama-nama Allah itu mengandung sifat, asma’ul husna yg disebutkan ada 99 nama, itu semua mengandung sifat Allah, seperti namanya,.
    jadi anggapan anda bahwa yg layak disifati hanya makhluk/benda, itu adalah hal yang jauh dari kebenaran,.
    kata bismillahirrahmaanirrahiim saja mengandung nama dan sifat, yaitu Arrahmaan dan Arrahiim,. dan Allah mempunyai sifat Arrahmaan dan Arrahiim juga,.

    2. Sampai saat ini permintaan/pertanyaan saya belum dipenuhi yaitu : Keterangan dalam Al Qur’an dan Hadits yang menyatakan kata Istiwa itu adalah bertempat/menetap/bersemayam.

    saya koreksi, Allah tidak bertempat, sebab tempat itu makhluk,ruang dan waktu adalah makhluk Allah, Allah sangat mampu menyatukan jarak antara timur dan barat, Allah sangat mampu menyingkat waktu,.sebab waktu adalah ciptaan Allah,.

    jadi kata bertempat, atau menetap, itu kurang tepat, berbeda dengan bersemayam,

    Untuk pertanyaan yang satu ini saya sudah posting, silahkan anda baca dengan teliti, klik link ini

    Jika kurang jelas, bisa baca postingan yang lain tentang istiwa, silahkan klik link ini

    3. Menurut saya justru Anda yang menggunakan standar mahluk mengingat contoh-contoh atau permisalan selalu membandingkan Allah dengan mahluk, pertanyaannya Layakkah Allah kita bandingkan/samakan dengan mahluk ? seperti misalnya Allah memiliki tangan ( tagan hakiki – posting sebelumnya ) tapi tidak sama dengan Tangan kita. meskipun tidak sama, tetap saja namanya tangan. rasanya ketika orang mendengar perkataan tangan, yang kebayang pasti tangan mahluk.

    kesamaan nama, tidak mengharuskan kesamaan dzatnya, nama boleh sama, tapi hakekat berbeda,.
    saya ambil contoh untuk sesama makhluk saja,.
    Anda punya kaki, meja punya kaki, demikian pula gunung pun punya kaki, apakah sama bentuknya, sifatnya? ini hanya untuk memudahkan cara berpikir anda saja,.

    Kita punya kaki, Allah punya kaki,.
    Kita bukan ghaib, terlihat, kita bisa melihat kaki kita,. sedangkan Allah,. ghaib, kita tidak tahu,bahkan rasulullah saja tidak tahu bagaimana kaki Allah, maka kita imani saja, tanpa bertanya seperti apa kaki Allah tersebut, jadi jangan dibayang-bayangkan, jangan berpikir seperti kaki makhluk,.

    saya rasa perumpamaan saya mudah sekali dipahami, bukan saya sedang menyamakan antara kaki manusia yg merupakan makhluk, disamakan dengan kaki Allah,. apakah ini tidak anda pahami,.. sebab Allah berfirman, Allah tidaklah serupa dengan makhluknya, dan Allah maha melihat dan maha mendengar,.
    itu dalam ayat, Allah berkata bahwa Allah tidak serupa dgn makhluknya, tapi Allah berkata maha mendengar dan maha melihat,. bukankah mendengar dan melihat itu sifat makhluk juga,.. Allah juga melihat dan mendengar,.. tapi yang luput dari pemahaman anda, anda tidak paham, cara melihat dan mendengar Allah berbeda dengan cara mendengar dan melihatnya manusia,… masa ini ngga paham-paham juga,.. mudah-mudahan Allah memudahkan anda untuk memahaminya,

    Pertanyaan sekaligus permintaan : Dimana saya bisa mendapatkan keterangan dalam Al Qur’an/Hadits yang dimaksud kaya ” Yad ” adalah tangan (hakiki)?!!!

    Baiklah mas aris, mudah-mudahan dengan ayat ini, anda paham, silahkan buka alquran anda, untuk ngecek saja, barangkali ayat yang saya nukilkan ini berbeda di quran yang anda buka,.

    قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ
    “Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” [QS. Shaad : 75].

  8. Ass. Wr.Wb. Maturnuwun 1x lagi atas komennya.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh

    Saya mau nanya nich, Apakah Anda menyadari konsekwensi dari komen diatas ?

    Terimakasih atas komentar-komentarnya, saya sangat berterimakasih kepada komentar anda, walaupun anda misalkan tidak bisa mencerna jawaban-jawaban dari saya, itu tidak mengapa, banyak pembaca yang mengambil manfaat dari pertanyaan anda,.
    Hidayah itu hanya milik Allah, saya sih sekedar menyampaikan saja,. sebagaimana postingan ini

    Saya sangat paham dengan jawaban koment-koment diatas, padahal saya sudah berusaha dengan memberikan permisalan-permisalan yang sederhana, tentu diharapkan agar anda paham,. kesamaan nama, tidak mengharuskan kesamaan hakekat,. saya kasih contoh lagi, yang mudah-mudahan anda paham,.

    Nanti di SURGA ada sungai, ada sungai madu, ada sungai susu,ada sungai khamr, apakah yang terbayang di benak anda? apakah sungai seperti yang ada di dunia?? hanya airnya saja berupa susu,madu,khamr? TIDAK,. sama sekali beda,. sebab kenikmatan di surga itu TIDAK PERNAH TERBETIK DALAM HATI,TERBAYANG OLEH MATA,

    sebagaimana kuat anda berkhayal tentang sungai terindah di dunia, tak akan pernah sama dengan sungai di surga, baik bentuknya atau keindahannya

    A. Ralat kata dari Bertempat/Menetap/Bersemayam menjadi hanya bersemayam konsekwensinya :
    1) Menunjukkan Anda Kurang faham dengan makna kata Bertempat/Menetap/Bersemayam
    2. Anda tidak faham dengan apa yg diyakini/diimani.
    3) Anda telah menyelisihi pendapat/keyakinan/iman para imam2 Anda ( Ibn.Taimiyah, Utsaimin dll sebangsanya)

    Sebutkan pendapat ibnu taimiyah atau syaikh utsaimin tersebut, itu jika anda tidak berdusta atas namanya,. silahkan kang aris,.

    B. Tangan Allah berbeda dengan tangan Mahuk, konsekwensinya :
    1. Anda kurang faham makna pernyataan : Allah tidak serupa dengan sesuatu apapun
    2. Anda kurang maksimal dalam memikirkan ayat-ayat Allah ( Al qur’an)
    3. Anda kurang mau menelaah pendapat orang lain khususnya pendapat ulama2.

    Pendapat siapa yang lebih diterima dari pendapat rasulullah??
    Rasulullah saja sebagai utusan Allah tidak menjelaskan hakekat arti tangan Allah, lalu kita disuruh menerima pendapat orang selain rasulullah??
    tolong sebutkan pendapat ulama-ulama tersebut, jika anda tidak berdusta atas nama ulama,. silahkan kang aris,

    C. Sifat
    1. Anda kurang faham dengan sifat2 Allah khusunya sifat Wajib Bagi Allah.
    2. Anda kurang memahami apa yang Anda ucapkan.

    Sebenarnya siapa yang ngga paham, ataukah anda yang kebingungan? he.he.he.. kalau tidak paham mbok ya nanya kang, jangan karena otak anda ngga paham-paham, malah ngambil kesimpulan sendiri seperti itu,

    D.Kesimpulan :
    Bagaimana mungkin kita meyakini sesuatu yang tidak kita fahami. ??? dan jangan jadikan copas/postng menjadi sebuah kebiasaan.

    JALAN SELAMAT ADALAH memahami dan mengamalkan ajaran islam ini dengan COPAS , COPI PASTE dari ajaran rasulullah, tanpa tambahan dan pengurangan, namanya juga copi paste, PLEK gitu kang,.
    tentu meng kopi nya dari sumber yang benar, dengan pemahaman yang benar, bukan pemahaman yang rusak,
    Dan saya akan terus meng COPAS dan MEREPOSTING artikel-artikel dari sumber terpercaya,.. walhamdulillah, banyak yang mengambil manfaat, walaupun anda tidak bisa mengambil manfaat, padahal permintaan pertanyaan anda sudah saya jawab, termasuk ketika anda ingin ayat yang menunjukkan tentang kedua tangan Allah, sudah saya kasih,. lalu anda bingung??

    Dengan permohonan Maaf, kita tutup pencerahan ini, Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk dan haidayahnya kpd kita, AMin…..

    Saya maafkan, dan justru saya berterimakasih, dengan komentar-komentar dari anda, komentar dari pencari kebenaran, walaupun anda belum bisa mudeng, alias masih bingung, mudah-mudahan Allah memberikan kepada anda kepahaman tntang ajaran islam yang benar,. Aamiin,.

    Sekali lagi, terimakasih,.. diskusi ini bisa bermanfaat buat pembaca, sekiranya anda belum bisa mengambil manfaat, itu tidak mengapa, karena semua itu butuh proses,. mungkin saat ini anda belum paham, masih bingung, mudah-mudahan seiring berlalunya waktu, dengan kejernihan hati anda, anda akan diberi kepahaman,.

  9. Ibn Taimiyah Keyakinan bahwa Allah berada pada tempat dan bahwa Allah memiliki bentuk dan ukuran dengan sangat jelas ia sebutkan dalam karya-karyanya sendiri. Di antaranya dalam karyanya berjudul Muwafaqat Sharih al-Ma’qul, Ibn
    Taimiyah menuliskan sebagai berikut:
    “Semua manusia, baik dari orang-orang kafir maupun orang-orang mukmin telah sepakat bahwa Allah bertempat di langit, dan bahwa Dia diliputi dan dibatasi oleh langit tersebut, kecuali pendapat al-Marisi dan para pengikutnya yang sesat. Bahkan anak-anak kecil yang belum mencapai umur baligh apa bila mereka bersedih karena tertimpa sesuatu maka mereka akan mengangkat tangan ke arah atas berdoa kepada Tuhan mereka yang berada di langit, tidak kepada apapun selain langit tersebut. Setiap orang lebih tahu tentang Allah dan tempat-Nya di banding

    Mohon pendapat antum ttg keyakinan Ibn. Taimiyah tsb ?

    terimakasih mas aris,
    karena komentar mas aris, saya postingkan artikel baru, Ibnu taimiyah ketika ditanya tentang dimana Allah, jawaban yang sangat jelas, dan anda bisa membuka sendiri di kitab yang ditulis oleh Ibnu taimiyah sendiri, silahkan anda baca sendiri postingannya disini

    Banyak sekali musuh-musuh yang membenci dakwah yang benar, mereka mau menipu kaum muslimin, seolah-olah Ibnu taimiyah salah dalam menjelaskan makna tentang istiwanya Allah, saya sudah memposting juga tentang tuduhan mujassimah, bisa dilihat dipostingan ini

    Sekali lagi terimakasih mas aris atas komentarnya, anda membaca link tentang ibnu taimiyah dari link para pembenci ibnu taimiyah, lalu anda sampaikan dikoment ini untuk minta penjelasan ttg hal tersebut, ini bagus,. jadi biar bisa clear kebingungan anda,.

  10. Ass.Wr.Wb. makasih komennya, dengan tidak mengabaikan pencerahan dan postingan2 antum apakah tidak sebaiknya membuktikan dulu apakah perkataaan ibn taimiyah dalam buku/kitab Muwafaqat Sharih al-Ma’qul, benar atau tidak itu yang lebih penting buat saya. Yang saya cari adalah kebanaran, dan saya tidak melihat dari mana datangnya kebenaran itu .makasih.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
    silahkan antum nukilkan dari kitab tersebut teks aslinya, bukan terjemahannya, sehingga kebenaran tersebut akan terungkap,. bukan sekedar terjemahan,.

    • Ass.Wr.Wb. Sejujunya saya nggak bisa menmpilkan teks aslinya karena sy nggak memiliki kitab tsb.tetapi menurut sy menjadikewajiban antum utk mencarinya jika antum tdk menyelisihi pendapat imam antum.Kl memperhatikan postingan yg lalu yg ditulis abduh tuasikal rasanya perkataan tsb, benar adanya.monggo dicek.!
      Perihal Allah memiliki tangan sebagaimana ayat Al Qur’an yang antum kutip, saya mohon pendapat antum ttg ayat Al Qur’an yg berbunyi ” Segala sesuatu akan binasa kecuali WajahNya”

      Saya rada heran dengan antum, membayangkan surga, susu, sungai antum nggak bisa tetapi dengan fasih antum bisa membayang Allah, apakah dalam pemahaman antum wujud Allah sebagaimana manusia tetapi tidak sama?

      Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
      terimakasih mas aris,
      kenapa heran, kesamaan nama tidak mengharuskan sama barangnya,
      contoh, anda punya kaki, monyet punya kaki,ayam punya kaki,kelabang punya kaki,.. nah,. apakah kaki anda sama dengan kaki makhluk-makhluk setelahnya?? jika anda menjawab, ya, sama, saya nilai anda mungkin sudah tidak normal lagi akalnya,
      Padahal itu sama-sama makhluk, sama-sama KAKI namanya, tapi rupanya berbeda-beda,.
      Sedangkan susu ,sungai,madu,emas di SURGA,. itu tidak sama dengan yang di dunia, apa alasannya?? sebab di surga,. tidak pernah terlihat oleh mata, terpikir dalam hati,.. nah,. susu,sungai,madu,emas di dunia, kita sudah melihatnya, dan di surga apakah sama??? SAMA SEKALI TIDAK SAMA,..
      mudah-mudahan ini bisa anda pahami, tidak heran lagi,. ingat,. kesamaan nama tidaklah mesti sama hakekatnya,.

      Mengingat :
      Perkataan syech Utsaimin :: ” Tidak ada yang sesuatupun yang semisal denganNya” Tidak ada yg semisal denganNya, maksudnya dalam IlmuNya,kodratNya, PendengaranNya,PenglihatanNya,KeperkasaanNya, HikmahNya,Rahmatnya, dan sifat-sifatNya yg lain. (terjemahan syarah aqidah wasithiyah Penerbit Pustaka Sahifa terbitan pertama hal 128) pastikan kebenarannya.

      Lalu apa yang anda tidak paham dalam perkataan syaikh utsaimin diatas? sudah sangat jelas,. Allah tidak serupa dengan makhluknya,.
      Makhluk mendengar, allah mendengar, apakah pendengaran Allah sama dengan pendengaran makhluk? jawabnya TIDAK SAMA
      Makhluk melihat, Allah melihat, apakah penglihatan Allah sama dengan penglihatan makhluk? jawabnya TIDAK SAMA,..
      Apakah cara mendengar dan melihatnya Allah sama dengan mendengar dan melihatnya makhluk? jawabnya TIDAK SAMA,..
      Apakah anda kurang bisa memahami penjelasan yg sudah begitu jelas ini?

      ingat,. kesamaan nama tidaklah mengharuskan kesamaan hakekatnya

      Perkataanyg kedua :Jika anda berkata, apa bentuk yg dimiliki Allah yg dalam bentuk tersebut Adam diciptakan ?
      Kami jawab : Sesungguhnya Allah memiliki wajah, mata,tangan dan kaki,akan tetapi tidak berarti bahwa semua itu semisal dg apa yg dimiliki oleh manusia. Ada segi kemiripan, akan tetapi tidak berarti sama persis sebagaimana rombongan surga pertama memiliki sisi kemiripan dengan rembulan akan tetapi tidak sama persis. (terjemahan syarah aqidah wasithiyah Penerbit Pustaka Sahifa terbitan pertama hal 102) pastikan kebenarannya dan mohon komennya,Maturnuwun

      jawabannya sebenarnya masih mengulang dari jawaban diatas sebelumnya,.
      Kesamaan nama, tidaklah mengharuskan kesamaan hakekat,. sebab Allah tidak serupa dengan makhluknya,.
      penjelasan yg sudah begitu jelas,.
      Allah punya wajah, dan kenikmatan yang tertinggi di surga kelak adalah MELIHAT WAJAH ALLAH SECARA LANGSUNG,. tapi anda jangan pernah membayangkan wajah makhluk ciptaan Allah, sebab wajah Allah tidaklah sama dengan wajah makhluknya,.
      Anda punya wajah, monyet punya wajah atau tidak? jawabnya PUNYA,. apakah wajah anda sama dengan wajah monyet? silahkan anda jawab sendiri,.
      Padahal sama-sama wajah, dan sama-sama makhluk, tapi berbeda bentuknya, bukankah begitu? sama tidak wajah anda dengan wajah monyet? jika anda menjawab SAMA, saya rasa anda sudah hilang akal sehatnya,.

      Mohon maaf, jika penjelasan saya rada menyinggung perasaan anda, bukan saya ingin menyamakan wajah anda dengan wajah monyet,. ini untuk memahamkan anda saja, BAHWA KESAMAAN NAMA TIDAK MESTI SAMA BENTUKNYA, buktinya,.. wajah anda kan tidak sama dengan wajah monyet,.

      • Ass.wr.Wb. Sejujurnya saya membutuhkan pencerahan antum ttg kedua perkataan tsb. maturnuwun.

        Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
        terimakasih mas aris, masih setia mampir disini,.
        mohon maaf, jika terlalu lama membalas komentar anda,. berat soalnya,. harus menjawab dengan jawaban yang membuat anda paham, ngga njelimet,. sdh saya jawab,.

      • Ass. Wr.Wb. Terima kash atas pencerahannya.

        Tapi keliatannya antum koq sinis ya, Mestinya seorang pencerah memiliki ahlak yg santun, hati yang lapang, kanbegitu yg dicontohkan Rasulullah, bener nggak ?

        Saya menjelaskan dengan hati yang lapang kok, biar anda paham saya gambarkan dengan permisalan yang mudah2an bisa dipahami

        Perkataan syech Utsaimin :: ” Tidak ada sesuatupun yang semisal denganNya” Tidak ada yg semisal denganNya, maksudnya dalam IlmuNya,kodratNya, PendengaranNya,PenglihatanNya,KeperkasaanNya, HikmahNya,Rahmatnya, dan sifat-sifatNya yg lain bukankah ini berarti dalam segi bentuk “sama ” dengan mahluknya (Manusia).hal ini ditegaskan dg perkataan yg kedua :

        Sesungguhnya Allah memiliki wajah, mata,tangan dan kaki,akan tetapi tidak berarti bahwa semua itu semisal dg apa yg dimiliki oleh manusia. Ada segi kemiripan, akan tetapi tidak berarti sama persis sebagaimana rombongan surga pertama memiliki sisi kemiripan dengan rembulan akan tetapi tidak sama persis.

        dgn jelas disebutkan :”ada segi kemiripan meskipun Tidak sama persis” dgn yg namanya manusia.
        Perkataan “ada” sama artinya telah menetapkan adanya bentuk ( fisik) bagi Allah.

        Dengan demikian rasanya tidak brlebihan jika kemudian Abu Salafy menjustifikasi bahwa wahabi =Mujasimah., juga pernyataan saya diawal pencerahan bahwa Tuhannya wahabi tidak sama dengan Tuhannya Abu Salafy.
        Nggak opo2 kl wajah saya di perbandingkan dengan monyet.

        Monyet juga kan ciptaan Allah, barang siapa merendahkan/melecehkan ciptaanNya sama artinya merendahkan/melecehkan Allah Azza Wajalla, bukankah begitu ? Hati2 lho karena hanya hati yang bersih yg diterima Allah.

        sudah saya sebutkan tentang persamaan nama tidak mengharuskan kesamaan rupa,,
        contoh sederhana saja anda bernama aris, lalu ada sepuluh orang yang bernama aris juga, apakah wajahnya sama rupanya?

        sedangkan Allah, Allah memiliki wajah,mata,tangan,.. dan Allah berfirman bahwa Allah tidak serupa sama sekali dengan ciptaannya, jadi tidak ada yang mirip sama sekali, kita berusaha membayangkanpun ngga akan bisa,

        Usul, bolehkan ?
        1. Sebelum memberi pencerahan baca dulu kitab rujukannya (kl antum punya) jadi pencerahannnya berdasarkan ilmu bukan emosi dan sinis gitu ?!….

        Jika berdasarkan ilmu yang sdh begitu jelas tidak masuk, mudah-mudahan dgn perumpamaan akan menjadi lebih bisa dipahami, bukan ditanggapi dengan perasaan juga, sehingga tersinggung karena wajah anda dibandingkan dengan wajah monyet, mungkin beda halnya jika diserupakan dengan wajah artis yg bernama aris juga,. dan tentunya beda juga kan?

        2. Hindari rasa emosi karena emosi menunjukkan …..

        anda tidak bisa membedakan mana emosi mana bukan, lah wong saya koment juga sambil geli, campur lucu, bukan dengan emosi, saya sedang mencari perumpamaan yg bisa membuat logika anda jalan, karena pakai dalil ngga mempan,

        3. Fahami setiap ucapan antum. karena akan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah.
        Makasih ya mohon maaf kl ada salahnya.

        saya paham, justru dengan perkataan tsb guna membuat antum paham, saya sdh bingung gimana memahamkan anda,

        sudah bolak balik saya berusah menjelaskan, sdh saya contohkan seperti di surga ada sungai,ada madu,ada emas,.. tapi sungai,madu,emas, itu semua tidak serupa dengan sungai,madu,emas di dunia, baik bentuknya atau rupanya,. anda berkhayal ttg sungai terindah yang ada di dunia, itu tidak akan pernah sama sekali dgn sungai di surga,.. demikian pula wajah,mata,tangan Allah,. maka sama sekali tidak serupa dgn wajah,mata,tangan makhluknya,.

        lah wong sungai yang ada di surga dan sungai yang ada di dunia saja yang sama-sama makhluk, itu walaupun sama namnya tapi bentuk dan hakikatnya berbeda,. padahal itu sama-sama makhluk,..

        makanya saya bandingkan wajah anda dengn wajah monyet, itu agar anda paham, bukan sedang melecehkan anda,

  11. Persembahan Buat Salafi Wahhabi Taimi Takfiri

    Ibnu Taimiyah Memalsu Demi Mengkafirkan Kaum Muslimin!

    hasan_FarhanIbnu Taimiyyah –seperti para Ekstrimis Salafi lainnya- gemar mencari-cari fatwa-fatwa miring yang penting di dalamnya ada poin pengkafiran kaum Muslimin. Adapun Al Qur’an yang suci mereka letakkan di belakang punggung mereka!

    Harap dirujuk fatwa bagian pertama pada edisi sebelumnya

    Fatwa Kedua:

    Ibnu Taimiyyah berfatwa dalam Majmû’ Fatâwâ-nya,6/353:

    “Barang siapa mengatakan bahwa ia Mukmin maka ia telah KAFIR! Dan barang siapa berkata bahwa ia di surga maka ia di NERAKA!” ucapan itu ia nisbatkan kepada Umar ra.

    Ini adalah “kode rahasia” guna mengkafirkan kaum Muslimin, baik pengikutnya sendiri maupun selainnya. Karena semua mereka mengatakan kami adalah orang-orang Mukmin. Tetapi jika mereka (Pengekor Ibnu Taimiyyah) mengetahui fatwa ini, mereka segera mencarikan uzur dan alasan pembelaan dengan cara apapun!

    Fatwa Ketiga:

    Dalam rangka membantah kaum Asy’ari, Mu’tazilah dan Zaidiyah serta kelompok lain yang menakwil ru’yah (melihat Allah dengan bukan melihat dengan mata telanjang_pen), Ibnu Taimiyyah berfatwa dalam Majmû’ Fatâwâ-nya,6/468:

    “Pendapat yang dipilih Jumhur adalah bahwa siapa yang mengingkari “Melihat Allah di akhirat” maka ia KAFIR!.”

    Sedangkan para ulama yang menolak akidah Ru’yatullah memiliki ayat:
    لا تُدْرِكُهُ الْأَبْصارُ

    “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata.” (QS. Al Anâm [6];103)

    Kendati demikian mereka tidak memfatwakan: Siapa yang percaya bahwa mata dapat mencapai dan melihat Allah maka ia KAFIR! Dan jika ada yang mengatakan demikian, ia segera kita salahkan dan tidak kita terima… Kekafiran itu kaitannya dengan hati, yaitu seorang membenci nash suci setelah ia meyakini bahwa itu adalah nash yang shahih dan gamblang maknanya. Tidak dilontarkan asal-asalan dalam kekacauan sikap pengkafiran yang sedang mereka kawal ini.

    Mereka (Salafi) tidak menghargai Allah dengan sebenar penghormatan. Mereka memotong-motong Allah dan menjadikan-Nya berbagian-bagian, menghinakan dan menggambarkan Allah dengan gambaran makhluk lalu setelahnya mereka mengatakan: “tapi tanpa penyerupaan dan tanpa menganggurkan dan tidak juga menakwil!!” mereka adalah pakar penipuan dan bermakar.

    Seandainya mereka mau menggambarkan Allah dengan gambaran apapun yang mereka maukan itu urusan mereka, mereka bebas. Karena memang hanya sekadar itu akal mereka! Tetapi masalahnya adalah mereka mengingingkan memaksa kaum Muslimin meyakini kanaifan akidah itu, jika kaum Muslimin menolak, mereka segera dianggap KAFIR dan HALAL DARAH_DARAH mereka! Di sini, kita harus bangkit menghadapi mereka dengan keteguhan sikap, sabar dan ulet serta membongkar kedok kasesatan akidah mereka yang mereka rahasiakan. Kita harus memerangi mereka dengan senjata pemikiran, dalil dan argumentasi kokoh sehingga kedok kepalsuan mereka terbongkar di hadapan para pengikut buta mereka!

    . . Ibnu Taimiyyah berkata dalam Majmû’ Fatâwâ-nya,12/161:

    “Barangsiapa berkata bahwa Al Qur’an itu Makhluk maka ia KAFIR!.”

    Ini jelas pengkafiran yang nyata… ya, pengkafiran nyata terhadap kaum Zaidiyah, Ibadhiyyah, Syi’ah Imamiyah dan Dzadhiriyyah. Selain itu, tidak ada dalam nash penegasan bahwa apakah Al Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk… tidak juga dalam Sunnah. Lalu mengapa mereka bringas menebar PENGKAFIRAN??

    Dan yang lainnya pun memiliki nash-nash yang samar bagi mereka. Lalu mereka juga mengkafirkan orang lain. Kami menolak kedua pihak ini. Mereka mengatakan AL Qur’an itu makhluk sebab ia adalah sesuatu yang diturunkan dan dipisah-pisah… dll dan semua itu adalah bukti ia dikenai pekerjaan.

    Adapun Ekstrimis Salafi berdalil dengan firman Allah:
    حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ

    “ … supaya ia sempat mendengar Kalam Allah.” (QS. At Taubah [9];6)

    Penentang mereka berkata, itu adalah bentuk Majâz seperti kata: Baitullah/Rumah Allah dan Nâqatullah/Unta Allah. Ia disandarkan kepada Allah sebagai penghormatan (bukan berarti Allah punya rumah tenpat tinggal_pen). Kami berkata: Al Qur’an itu adalah Kalam Allah yang diturunkan, dipisah-pisah/dirinci, ia muhkam dan ia mutasyâbih … Kami mengikuti redaksi pilihan Al Qur’an, tidak menambah atau mengurangi barang satu huruf pun. Dan ternyata kami tidak menemukan sebutan bahwa Al Qur’an itu MAKHLUK atau BUKAN MAKHLUK! Dan kami melihat bahwa kisruh seputar apakah Al Qur’an itu MAKHLUK atau BUKAN MAKHLUK telah menyeret semua pihak keluar dari rel nash. Dan barangsiapa menambah-nambah atas Allah berarti ia telah mengurangi! Tidak ada kebutuhan untuk mencebur dalam kubangan kekacauan ini dan sikap berlebihan dalam meng-atraksikan kebolehan akal dan pikiran!

    (Bersambung InsyaAllah)

    terimakasih mas aris,.semakin ketahuan,. kemana arah pembelaan anda,.
    untuk anda dan orang-orang yang semisalnya, saya postingkan artikel ini, silahkan dibaca, dan para pembaca akan menilai sendiri, betapa sang komentator ini hanya taklid buta, dan menukil artikel dari orang yang tidak amanah, bandingkan dengan artikel yg sudah saya posting disini , perkataan Ibnu taimiyah langsung yang sangat hati-hati dalam urusan kafir mengkafirkan ini, dan banyaknya ulama yg mengatakan sebagaimana tulisan komentator, bukan cuma Ibnu Taimiyah doang,.

    KATA IMAM MALIK ( GURUNYA IMAM SYAFII)
    Yang mengatakan bahwa Alquran adalah makhluk, itu bukan HANYA KAFIR,.. tapi ZINDIQ
    dan…
    WAJIB DIBUNUH,.. ini yang mengatakan bukan Ibnu Taimiyah lho,.

    Imam Malik bin Anas ketika ditanya tentang orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah mahluk, beliau menjawab: “Orang itu adalah zindiq(*), maka bunuhlah dia”. (Dinukil dari Siyar A’alam An Nubala’ 8/99).

    Jadi, anda membawakan ucapan ibnu taimiyah adalah keliru,. ternyata GURUNYA IMAM SYAFII juga sudah mengatakan lebih dahulu,.

    Imam As Syafi’i ketika mendengar Hafes Al Fared berkata: “Al-Qur’an adalah mahluk” beliau langsung berkata kepadanya: “Engkau telah kufur kepada Allah”. (Dinukil Dari Siyar A’alam An Nubala’ 10/30, & Mujmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 23/349)

    Ibnu Taimiyah hanya menukil perkataan ulama sebelumnya di kitab beliau,. jadi tuduhan si komentator itu tuduhan yang semakin membuktikan bahwa Ibnu Taimiyah tidak bersalah, dan benar mengatakan seperti itu,.

  12. assalamu’alaikum akhi, tentang sifat istiwa adalah merupakan aqidah yang sangat besar, maka saya katakan al ilmu qoblal qoul wal amal. pelajari perkataan para sahabat rodhiallahu anhum, para tabi’in, atbaut tabi’ian, para imam, dan para ulama setelahnya yang mengikuti pemahaman salaful ummah, baru komentar.

    yap,.. betul sekali,.

  13. Yg lucu itu udah dijawab, ditanya lagi dan terus2an.. diberi perumpamaan, gak ngeh jg.

    Ehh pas ujungnya kebuka kedoknya, awalnya mah lembut bertanya seolah2 dia tdk mengetahui apa2. Tapi akhirnya TENGG TONGGG… Ingin hati membuktikan kesalahan ibn Taimiyah rohimahulloh, ehh kena deh dikasih perkataan imam Malik rohimahulloh yg lebih dulu daripada ibn Taimiyah..

    Ya,.. biarin mas… misalkan dia ngga paham, saya optimis, banyak pembaca yang paham,..
    Karena pertanyaan dia, akhirnya membuat paham pembaca yang lainnya

    • katanya anu ….satunya bilang katanya anu ….apakah tidak menjadi pikiran ,alquran nya sama ..hadis nya sama …kok bisa banyak perbedaan ,dan kelompok perbedaan yg besar dalam islam ada dlm madzahab …si sunny bilang …syiah kafir….si syiah bilang sunny kafir …juga postingan diatas dan dialog dibawahnya banyak sekali kalimat kalau begini kafir ….telah kafir…..si anu bilang kafir karena……saya yg awam bukan tambah hidayah dan tambah iman membaca yg seperti ini malah tambah ragu akan keislaman saya yg saya mau ikuti yg mana ???…semua mengaku mengikuti dalil alquran dan hadis…kok bisa berbeda dlm memahinya???

      Kalau kita berilmu, tentu tidak akan bingung..
      Orang yang mengingkari ayat alquran, walaupun satu huruf saja, itu bisa KAFIR, apalagi mengingkari sebagian besar alquran,

      Syiah mengakui bahwa Alquran mereka itu tiga kali lipat dari alquran yang ada sekarang,..

      Jadi alquran kita yang sekarang itu tidak seperti alquran orang syiah yang masih sama imam mahdi mereka yang masih bersembunyi di gua hingga saat ini belum keluar, makanya di negara syiah iran itu belum wajib shalat jumat, nunggu imam mahdinya keluar…

      Makanya jangan heran jika di iran jarang sekali ada pelaksanaan shalat jumat oleh orang syiah, padahal ngakunya iran itu adalah negara islam, itu klaim dusta, yang benar Iran itu adalah negara syiah, silahkan lihat disini

  14. Alhamdulillah,saya banyak mengambil manfaat dari tanya jawab ini, semakin menguatkan keyakinan kemuliaan Allah Subhana wa taala diatas segalanya,

    saya mengambil beberapa kesimpulan penting : penyebutan sama nama tidaklah menjadikan sama hakikatnya, kita imani saja apa yang dikhabarkan oleh Allah dan Rasul Nya tanpa membagaimanakannya, sebagaimana pemahaman para shahabat RA semoga hati kita diberikan kelembutan dan kemudahan untuk mempelajari ilmu yang haq, dan menerima kebenaran dan dijauhkan dari sifat sombong aamiin

    Alhamdulillah,..
    Mudah2an semakin banyak pembaca yang mendapatkan hidayah taufik,

    Aamiin

  15. hadeeeuh…
    mata saya sampe muter2 nih baca komen si aris.
    kang admin yg sabar aja ya…..klo dapet pengunjung model si aris yang mencari pembenaran bukan kebenaran.
    kalaupun dia masih kekeuh dalam pendiriannya, paling nggak nanti ada pembaca yg bisa ngambil pelajaran atau malah dapet hidayah setelah baca komen tsb…
    pokoke tetap semangat deh, jgn bosan2 jawab komen dari para pembaca, semoga blog ini bisa menjadi ladang ilmu yg berkah utk kita semua…

    Mudah-mudahan Mas Aris sudah paham,
    Saya memaklumi koq, jika semisal mas aris seperti itu, sebab selevel buya y da kyai IR saja salah paham tentang dimana Allah, bahkan kalau buya y lebih ekstrim, jika ada orang yang bertanya dimana Allah, lalu dijawab Allah di atas, kata buya itu ciri kelompok sesat, ada video perkataan buya ini

Leave a Reply to didik Cancel reply

Your email address will not be published.


*