• Sat. Oct 24th, 2020

aslibumiayu.net

Bisa Karena Terbiasa

Bagaimana Cara Rasul Memperbaiki Umat Sehingga Allah Memberikan Kekuasaan Yang Kuat

DAKWAH TAUHID DAKWAH PARA RASUL

Tidaklah Allah mengutus para rasul melainkan agar mereka menyeru umat manusia untuk beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi kesyirikan. Atas dasar ini dakwah kepada tauhid harus menjadi prioritas utama para juru dakwah dalam menjalani prosesi dakwah mereka.

Tujuan Diutusnya Para Rasul

Sungguh Allah telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab hanya dengan satu tujuan, yaitu menjelaskan kepada umat manusia aqidah yang benar serta menjelaskan apa yang dapat membatalkannya, yang bertentangan dengannya serta yang dapat mengurangi kesempurnaannya.

Maka berdakwah kepada aqidah Islam merupakan permulaan dakwah para rasul, tidaklah mereka mengawali dakwahnya, melainkan menyeru manusia untuk berpaling dari beribadah kepada ‘Ibad (manusia)menuju beribadah kepada Rabbul ‘ibad (Penguasa manusia).

Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu“. (QS. An-Nahl: 36)

Dia  juga berfirman:

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya:”Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al-Anbiyaa’: 25)

Dan setiap rasul menyeru kepada umatnya di awal dakwah mereka:

“Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Ilah selain Dia.(QS. Huud: 50)

Inilah prioritas utama dakwah para nabi dan rasul. Sedangkan membangun kekuatan politik dan militer guna membentuk suatu daulah (negara) bukanlah permulaan dakwah mereka; Mengokohkan sistem perekonomian umat atau hal lain yang kurang esensial, dalam masa-masa awal mengemban risalah ilahiyah di persada bumi ini, tidak dijadikan fokus utama dalam berdakwah.

Manusia Butuh Dakwah Tauhid

Maka sungguh naif, bila dewasa ini kita jumpai beberapa Harakah (pergerakan) Islamiyah terutama di negeri ini, sangat bersemangat dalam menyuarakan hak-hak kebenaran akan tetapi melalaikan dakwah kepada perbaikan aqidah.

Mereka membiarkan kabut kesyirikan dan paganisme menyelimuti masyarakat mereka hanya dengan alasan klasik, menjaga persatuan umat; Tapi persatuan apa yang hendak mereka raih?

Apakah persatuan di atas kesesatan dan kebathilan? Entahlah apa yang dicari dibalik semua klaim ini.

Apakah mata mereka tidak melihat atau telinga mereka tidak mendengar realita kesyirikan yang semakin merajalela laksana jamur di musim hujan?

Tempat keramat yang semakin ramai dari pengunjung, layar televisi yang kian hari kian dipenuhi sajian-sajian berbau mistik dan seabrek penyimpangan lainnya menjadi bukti kongkrit di hadapan mata. Sadarlah wahai orang-orang yang memiliki akal!

Masyarakat anda sangat membutuhkan sentuhan-sentuhan ilmu aqidah untuk memperbaiki keyakinan mereka.

Agama ini bila semakin jauh dari jaman kenabian sebagai sumber cahayanya, maka akan semakin  besar kemungkinan ia terkontaminasi dengan berbagai syubhat dan penyimpangan sebagaimana air yang telah jauh dari sumbernya. Realita telah menjadi saksi akan hal ini, berapa banyak penyimpangan yang menyusup masuk ke dalam agama Islam?

Berapa banyak pemikiran-pemikiran nyeleneh yang tumbuh berkembang di kepala para intelektual muslim?

Berbagai  bentuk penyimpangan baik yang diadopsi dari orang-orang tak bertuhan maupun yang memiliki banyak tuhan telah bercampur dengan aqidah sebagian besar kaum muslimin.

Dengan demikian, dakwah kepada perbaikan aqidah harus senantiasa digalakkan guna menjaga danmembantah pemikiran-pemikiran sesat tersebut, yang senantiasa diusung oleh setan-setan berwujud manusia pada setiap jaman maupun tempat untuk menjauhkankan manusia dari fitrah penciptaannya.

Ketahuilah, wahai saudaraku –semoga Allah merahmatimu-! Fitrah manusia yang lurus adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah, Dzat yang telah menciptakan mereka.

Allah berfirman:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus.(QS. Ar-Rum: 30)

Semua manusia yang berada dibumi ini dilahirkan dalam keadaan memiliki keyakinan yang benar terhadap Rabb mereka karena demikianlah mereka difitrahkan, hanya saja orang tua dan lingkungannyalah yang membuat mereka  keluar dari rel fitrah yang seharusnya ditempuh.

Dakwah Tauhid Dakwah Rasulullah

Allah berfirman kepada Nabi-Nya:

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108)

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata ketika mengomentari ayat ini: “Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk memberitahukan kepada manusia bahwa jalan ini yaitu metode, jalan dan sunnahnya adalah berdakwah kepada persaksian tiada ilah (sesembahan) yang berhak untuk disembah melainkan Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya…”

Jadi metode dakwah Rasulullah adalah menyeru manusia untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah, Dzat yang telah menciptakan mereka. Beliau sebagai figur da’i panutan telah memberikan contoh terbaik dalam berdakwah kepada manusia. Selama tiga belas tahun beliau di Mekah, dakwah kepada perbaikan aqidah merupakan prioritas utama yang beliau kedepankan. Beliau berusaha  menjadikan generasi yang hidup di sekeliling beliau, memiliki keyakinan yang benar terhadap Rabb mereka, berusaha memalingkan mereka dari ibadah kepada ilah yang banyak menuju ibadah kepada Al-Wahidu Al-Qahhar (Dzat Yang Maha Esa lagi Perkasa), yaitu Allah . Perbuatan beliau ini dianggap aneh oleh kaum Quraisy masa itu. Bagaimana ilah yang banyak dijadikan satu Ilah saja, ini merupakan hal yang aneh menurut mereka.

Allah berfirman menyebutkan perkataan mereka ini:

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.”(QS Shad: 5)

Dengan berakhirnya fase Mekah, bukan berarti dakwah kepada perbaikan aqidah juga ikut berakhir. Dakwah kepada perbaikan aqidah tetap beliau lakukan. Ketika fase Madinah beliau mengutus beberapa orang shahabat untuk mendakwahkan agama Allah yang mulia ini kepada penduduk daerah-daerah sekitarnya. Apa pesan beliau ketika mengutus mereka?

Inilah pesan Rasulullah kepada Muadz bin Jabal , ketika beliau mengutusnya ke Yaman:

“Sesungguhnya engkau mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka hendaklah yang pertama kali engkau dakwakan adalah persaksian tiada ilah yang yang berhak untuk disembah kecuali Allah –dalam riwayat lain: hendaklah mereka mengesakan Allah- dan aku adalah utusan Allah…”(HR Bukhari dan Muslim)

Hiraklius, penguasa salah satu negara super power (Romawia) saat itu berkata kepada Abu Sufyan, ketika ia bertanya tentang Nabi :

“Apa yang dia sampaikan kepada kalian?”

Abu Sufyan menjawab: “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mensekutukan-Nya dengan sesuatu pun serta tinggalkanlah apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian.”

Demikanlah gambaran dakwah Rasulullah. Lalu apakah kita akan mencari panutan selain beliau dalam perkara yang sangat penting ini?

Atau kita akan membuat metode baru dalam menjalani prosesi dakwah kita tanpa merujuk kembali kepada orang yang diutus untuk menjelaskan kepada umatnya semua perkara yang dapat mendekatkan mereka ke surga dan menjauhkan mereka dari neraka?

Atau jangan-jangan kita merasa lebih tahu dan lebih cerdas dalam menentukan metode yang tepat dalam berdakwah dari pada beliau. Dan metode tersebut belum beliau sampaikan kepada kita. Bila demikian keadaannya berarti kita secara tidak langsung telah menuduh beliau berkhianat terhadap risalah Islam yang lurus dan sempurna ini –Wal ‘iyadzu billah-.

Syaikh  Shalih bin Abdullah Al-Fauzan berkata:

“Dalam jalan dan sirah Rasulullah ketika berdakwah terdapat petunjuk yang sangat baik dan manhaj (metode) yang sangat sempurna. Dimana selama tiga belas tahun ketika beliau di Mekah beliau menyeru manusia kepada tauhid dan melarang mereka dari kesyirikan sebelum beliau memerintahkan mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa dan haji serta sebelum beliau melarang mereka dari memakan riba, berzina, mencuri dan membunuh jiwa tanpa hak.”

Penjelasan beliau ini sekaligus sebagai bantahan kepada pergerakan-pergerakan Islam dewasa ini yang tidak memperhatikan perbaikan aqidah dalam prosesi dakwah mereka.

“Bagaimana mereka menuntut untuk menerapkan hukum-hukum Allah atas pencuri dan pezina sebelum menuntut untuk diterapkan hukum-hukum Allah atas pelaku kesyirikan?

Bagaimana mereka menuntut untuk menerapakan hukum-hukum Allah atas dua orang yang berselisih dalam masalah kambing dan unta sebelum menuntut untuk diterapkan hukum-hukum Allah atas orang-orang yang beribadah kepada patung-patung dan kuburan serta atas orang-orang yang menyelewengkan nama dan sifat Allah lalu ia meniadakan serta memalingkan kalimatnya?”, tambah beliau.

Beliau juga menegaskan: “Sesungguhnya berhukum dengan syariat, menegakkan hudud (hukuman dalam islam), mendirikan daulah Islamiyah, meninggalkan perkara yang haram dan mengerjakan perkara yang wajib, semuanya merupakan hak-hak tauhid serta penyempurnanya, semuanya mengiringi tauhid. Maka mengapa pengiring diperhatikan sedangkan pokoknya ditinggalkan?”

(Manhajul Anbiya’ fied Da’wah ilallah oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali)

Sebagai penutup tulisan ini, sekali lagi kami tegaskan bahwa aqidah Islam yang shahih sangat dibutuhkan manusia pada jaman ini. Hendaknya dakwah kepadanya senantiasa digalakkan kapan dan di manapun tanpa ada batasan ruang dan waktu, apalagi dengan tersebarnya kejahilan dan fitnah yang melilit laksana banjir besar yang akan menenggelamkan bumi.

Sungguh benar kata Khalifah kedua kaum muslimin, Umar bin Khattab:

“Hampir-hampir terlepas ikatan-ikatan Islam sedikit demi sedikit. Apabila tumbuh dalam Islam orang yang tidak mengenal perbuatan jahiliyah.” Dan kaum muslimin di jaman ini kebanyakan mereka tidak mengetahui perkara jahiliyah sehingga terkadang mereka terjatuh ke dalamnya tanpa disadari.

Wallahu A’lam

(Ismail A Margam)

sumber : http://ukhuwahislamiah.com/dakwah-tauhid-dakwah-para-rasul/

Print Friendly, PDF & Email

Silahkan tinggalkan komentar di sini