Berapa Ukuran Tebalnya Langit, Jarak Antar Langit, Dibandingkan Dengan Keagungan Allah, Sangatlah Kecil

Keagungan Allah Tidak Dapat Dibandingkan Dengan Jarak Bumi Ke Langit Pertama Berapa Tinggi Langit Ketinggian Langit Hadits Tentang Langit

Memahami Kebesaran dan Keagungan Allah

Takbir berarti mengagungkan Allah Ta’ala dan meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih agung dari Dia. Sehingga setiap yang agung selain Dia tetap kecil. Semua kekuatan tunduk kepada-Nya. Dia sanggup memaksa apa saja, siapa saja dan kapan saja. Seluruh makhluk takluk dengan merendahkan diri terhadap keagungan, kebesaran, kesombongan, keluhuran dan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu. Seluruh makhluk bersimpuh di hadapan-Nya dan di bawah keputusan-Nya.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullahu mengatakan, “Yang dimaksud dengan takbir ialah menjadikan Allah di mata seorang hamba lebih besar daripada segala sesuatu, seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam kepada Adi bin Hatim,

‘Hai Adi, apa yang membuatmu keberatan?

Kenapa kamu merasa keberatan mengucap laa ilaaha illallah?

Kamu kan tahu bahwa memang tidak ada Tuhan (yang  berhak disembah) selain Allah? Hai Adi, apa yang membuatmu keberatan? Kenapa kamu merasa keberatan mengucap Allahu Akbar? Bukankah memang tidak ada sesuatu pun yang lebih besar dari-Nya?’

Ini menyangkal pendapat orang yang mengartikan kalimat akbar sama dengan kalimat kabiir atau sangat besar.” [al-Fatawa V/239. Hadits Adi terdapat dalam al-Musnad IV/378, Sunan at-Tirmidzi no 2935, Shahih Ibnu Hibban no 7206]

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya ia berkata, “Antara langit dunia dan langit berikutnya jaraknya adalah perjalanan yang ditempuh selama 500 tahun, antara masing-masing langit juga 500 tahun, antara langit lapis tujuh sampai tahta Kursi juga 500 tahun, antara tahta Kursi sampai air juga 500 tahun, dan ‘Arsy itu berada di atas air. Allah di atas ‘Arsy. Dia bisa melihat semua amal kalian.” [Diriwayatkan ad-Darimi dalam al-Radd Ala al-Jahmiyah hal 26-27, ath-Thabrani dalam al-Kabir IX/228, Abu Syaikh dalam al-‘Azhamah II/689, al-Baihaqi dalam al-Asma wa al-Shifat II/290, dll]

Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Tujuh langit yang ada dalam tahta Kursi adalah laksana tujuh keping uang dirham yang diletakan di atas sebuah perisai.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya III/10, dan dalam isnadnya terdapat nama Abdurrahman bin Zaid bin Aslam seorang perawi yang dhaif. Zaid adalah seorang tabi’in. Jadi hadits ini mursal]

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ‘Tahta Kursi dibanding ‘Arsy itu laksana sebuah lingkaran besi yang dilempar di tengah-tengah tanah lapang yang sangat luas.” [Diriwayatkan Abu Na’im dalam al-Hilyah I/166, Abu Syaikh dalam al-‘Azhamah II/648-649, al-, al-Baihaqi dalam al-Asma wa al-Shifat II/300-301, dll. Dinilai shahih dengan semua jalan-jalannya oleh al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah no 109]

Mengenai Kursi, Allah Ta’ala berfirman dalam ayat Kursi,

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ

“Kursi Allah meliputi langit dan bumi.” (QS al-Baqarah: 255)

Kursi adalah salah satu makhluk Allah. Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata:

إنه موضع قدمي الله عز وجل

“Kursi adalah tempat kedua telapak kaki Allah.” [Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Mukhtasar al-‘Uluw 40]

Sedangkan mengenai ‘Arsy bahwasanya ’Arsy merupakan makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling besar dan luas serta agung dan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersemayam di atasnya.

Al-Quran dan as-Sunnah telah menunjukkan kebesaran dan keluasan ‘Arsy seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

“Dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung.” [QS at-Taubah: 129]

Berkata Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini: bermakna Dia lah pemilik dan pencipta segala sesuatu; karena Dia Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung yang merupakan atapnya para makhluk dan semua makhluk dari langit dan bumi dan yang ada pada keduanya dibawah ‘Arsy. [Tafsir Ibnu Katsir 2/404]

Dan dari hadits-hadits Nabi adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الله عَلَى عَرْشِهِ وَ إِنَّ عَرْشَهُ عَلَى سَمَوَاتِهِ وَ أَرْضِهِ كَهَكَذَا وَ قَالَ بِأَصَابِعِهِ مِثْلَ اْلقُبَّةِ

“Sesungguhnya Allah diatas ‘Arsy-Nya dan ‘Arsy-Nya di atas langit-langit dan bumi, seperti begini dan memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti kubah.” [HR Ibnu Abi Ashim dalam Assunnah 1/252]

Disini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan ‘Arsy seperti kubah atas alam ini yang terdiri dari langit-langit dan bumi serta isinya dan seperti atap untuk keduanya, disini sangat jelas menunjukkan keagungan, kebesaran dan keluasan ‘Arsy, bukan hanya lebih besar dari langit-langit dan bumi akan tetapi keluasannya tidak dapat dibayangkan oleh kita, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu,

يَاأَبَا ذَرٍّ مَا السَمَوَاتُ السَبْعُ فِيْ الكُرْسِي إِلاَ كَحَلَقَةِ مُلْقَاةٌ بِأَرْضِ فَلاَة وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الكُرْسِي كَفَضْل الفلاَةِ عَلَى الحَلَقَةِ

“Wahai Abu Dzar tidaklah langit yang tujuh dibanding Kursi kecuali seperti lingkaran (gelang) yang dilemparkan ke tanah lapang, dan besarnya ‘Arsy dibandingkan dengan Kursi seperti lebih besarnya tanah lapang dari lingkaran (gelang).”

Dan dalam riwayat yang lain,

مَا السَمَوَاتُ السَبْعُ وَالأَرْضُوْنَ السَبْعُ وَمَا بَيْنَهُنَّ وَمَا فَيْهِنَّ فِيْ الكُرْسِي إِلاَ كَحَلَقَةِ مُلْقَاةٌ بِأَرْضِ فَلاَة وَإِنَّ الكُرْسِي بِمَا فِيْهِ بِالنِسْبَةِ إلَىالْعَرْشِ عَلَى كتِلْكَ الحَلَقَةِ عَلَىتِلْكَ الفلاَةِ

“Tidak langit yang tujuh dan bumi yang tujuh dan apa yang ada diantara dan di dalamnya dibandingkan dengan Kursi kecuali seperti lingkaran (gelang) yang dilempar ke tanah lapang, dan Kursi dengan apa yang ada didalamnya dibandingkan dengan ‘Arsy seperti lingkaran (gelang) tersebut pada tanah lapang tersebut.” [Berkata Syaikh al-Albani dalam Silsilah Ahadits al-Shahihah No.109, “dan kesimpulannya hadits ini dengan jalan-jalan periwayatan (yang ada) shohih.”]

Seharusnya seorang muslim mau merenungkan betapa besarnya langit dibanding bumi, betapa agungnya tahta Kursi dibanding langit dan betapa agungnya ‘Arsy dibanding tahta Kursi. Akal tidak akan sanggup menjangkau keberadaan dan tata cara semua itu yang hanya merupakan makhluk.

Lalu bagaimana dengan keberadaan Tuhan yang menciptakan semua itu!

Keagungan dan kebesaran sifat-sifat-Nya jelas terlampau agung untuk bisa ditembus oleh akal pikiran manusia yang paling hebat sekalipun. Karena itu ada riwayat hadits yang melarang untuk memikirkan Allah, mengingat semua akal dan pikiran pasti tidak akan mampu menjangkaunya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

“Berpikirlah tentang nikmat-nikmat Allah dan jangan berpikir tentang dzat Allah.”

[Diriwayatkan al-Laka’i dalam Syarah al-I’tiqad III/525 dan Abu Syaikh dalam al-‘Azhamah II/210 dari hadits Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu. Isnadnya dhaif sekali. Tetapi ia diperkuat oleh hadits Abu Hurairah, Abdullah bin Salam, Abu Dzar dan ibnu Abbas. Al-Albani menganggapnya sebagai hadits hasan dalam al-Silsilah al-Shahihah no 1788]

Berpikir yang diperintahkan di sini, seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Qayyim rahimahullahu, adalah yang bisa menimbulkan dua pengetahuan dalam hati dan berkembang daripadanya pengetahuan ketiga. [Miftah Dar al-Sa’adah hal 181] Hal itu menjadi jelas dengan contoh sebagai berikut.

Apabila hati seorang muslim dapat merasakan akan kebesaran makhluk seperti langit, bumi, tahta kursi, ‘Arsy dan sebagainya, kemudian timbul dalam hatinya rasa ketidakmampuan memikirkan dan menjangkau semua itu, maka akan muncul pengetahuan ketiga yakni kebesaran dan keagungan Tuhan yang menciptakan jenis makhluk-makhluk tersebut yang tidak mungkin dapat diliput serta dicerna oleh akal pikiran.

Allah berfirman, “Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan tidak mempunyai penolong (untuk menjaga-Nya) dari kehinaan dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.’” (QS al-Isra: 111)

***

Diringkas dari Fiqih Do’a & Dzikir Bab Keutamaan Takbir dan Bab Makna & Penjelasan Takbir karya Abdurrazak bin Abdul Muhsin al-Badr, Darul Falah 2001 dengan beberapa tambahan dari http://muslim.or.id/tafsir/faedah-dari-ayat-kursi.html dan http://almanhaj.or.id/content/3048/slash/0

reposting : http://alhilyahblog.wordpress.com/2012/05/22/keutamaan-takbir-serta-memahami-kebesaran-dan-keagungan-allah/

Print Friendly, PDF & Email

Jarak Antara Langit Pertama Dan Kedua Hadist Tentang Luas Langit Berapa Ketinggian Langit Berapa Tinggi Langit Pertama Luas 7 Langit

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*