Bertemu Dan Dialognya Nabi Muhammad Dengan Nabi Musa Ketika Isra’ Mi’raj

Nabi Sulaiman Bertemu Nabi Muhammad Saw Nabi Muhammad Bertemu Nabi Isa Kisah Nabi Muhammad Bertemu Nabi Isa Pertemuan Nabi Muhammad Dengan Nabi Isa Kisah Nabi Musa Bertemu Nabi Adam

Kisah Isra’ Mi’raj ( Ini juga bukti bahwa Allah ada di Atas , bukan di mana-mana )

isra-mirajPeristiwa Isra’ Mi’raj adalah salah satu peristiwa yang agung dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian orang meyakini kisah yang menakjubkan ini terjadi pada Bulan Rajab. Benarkah demikian? Bagaimanakah cerita kisah ini? Kapan sebenarnya  terjadinya kisah ini? Bagaimana pula hukum merayakan perayaan Isra’ Mi’raj? Simak  pembahasannya dalam tulisan yang ringkas ini.

Pengertian Isra’ Mi’raj

Isra` secara bahasa berasal dari kata ‘saro’ bermakna perjalanan di malam hari. Adapun secara istilah, Isra` adalah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Jibril dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Palestina), berdasarkan firman Allah :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha “ (Al Isra’:1)

Mi’raj secara bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk naik. Adapun secara istilah, Mi’raj bermakna tangga khusus yang digunakan oleh  Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam untuk naik dari bumi menuju ke atas langit, berdasarkan firman Allah dalam surat An Najm ayat 1-18.[1]

Kisah Isra’ Mi’raj

Secara umum, kisah yang menakjubkan ini  disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam Al-Qur`an dalam firman-Nya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra` : 1)

Juga dalam firman-Nya:

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى. مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى. وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى. عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى. ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى. وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى. فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى. فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى. مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى. أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى. وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى. إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى. مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى. لَقَدْ رَأَى مِنْ ءَايَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”. (QS. An-Najm : 1-18)

Adapun rincian dan urutan kejadiannya banyak terdapat dalam hadits yang shahih dengan berbagai riwayat. Syaikh Al Albani rahimahullah dalam kitab beliau yang berjudul Al Isra` wal Mi’raj menyebutkan 16 shahabat yang meriwayatkan kisah ini. Mereka adalah: Anas bin Malik, Abu Dzar, Malik bin Sha’sha’ah, Ibnu ‘Abbas, Jabir, Abu Hurairah, Ubay bin Ka’ab, Buraidah ibnul Hushaib Al-Aslamy, Hudzaifah ibnul Yaman, Syaddad bin Aus, Shuhaib, Abdurrahman bin Qurath, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud, ‘Ali, dan ‘Umar radhiallahu ‘anhum ajma’in.

Di antara hadits shahih yang menyebutkan kisah ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya , dari sahabat Anas bin Malik :Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 Didatangkan kepadaku Buraaq – yaitu yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya (maksudnya langkahnya sejauh pandangannya). Maka sayapun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat yang digunakan untuk mengikat tunggangan para Nabi. Kemudian saya masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat kemudian keluar . Kemudian datang kepadaku Jibril  ‘alaihis salaam dengan membawa bejana berisi  khamar dan bejana berisi air susu. Aku memilih bejana yang berisi air susu. Jibril kemudian berkata : “ Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah”.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit (pertama) dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?”

Dia menjawab:“Jibril”.

Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?”

Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?”

Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Adam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian kami naik ke langit kedua, lalu Jibril ‘alaihis salaam  meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?”

Dia menjawab: “Jibril”.

Dikatakan lagi:“Siapa yang bersamamu?”

Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?”

Dia menjawab:“Dia telah diutus”.

Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kedua) dan saya bertemu dengan Nabi ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya shallawatullahi ‘alaihimaa, Beliau berdua menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit ketiga dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?”

Dia menjawab:“Jibril”.

Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?”

Dia menjawab:“Muhammad”

Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?”

Dia menjawab:“Dia telah diutus”.

Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan Yusuf ‘alaihis salaam yang beliau telah diberi separuh dari kebagusan(wajah). Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit keempat dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?”

Dia menjawab:“Jibril”.

Dikatakan lagi“Siapa yang bersamamu?”

Dia menjawab: “Muhammad”

Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?”

Dia menjawab: “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit keempat) dan saya bertemu dengan  Idris alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Allah berfirman yang artinya : “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi” (Maryam:57).

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit kelima dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?”

Dia menjawab:“Jibril”.

Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?”

Dia menjawab:“Muhammad”

Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?”

Dia menjawab:“Dia telah diutus”.

Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kelima) dan saya bertemu dengan  Harun alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit keenam dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?”

Dia menjawab:“Jibril”.

Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?”

Dia menjawab: “Muhammad”

Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?”

Dia menjawab:“Dia telah diutus”.

Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Musa. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit ketujuh dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?”

Dia menjawab: “Jibril”.

Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?”

Dia menjawab, “Muhammad”

Dikatakan, “Apakah dia telah diutus?”

Dia menjawab, “Dia telah diutus”.

Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketujuh) dan saya bertemu dengan Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggunya ke Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul Mamuur tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali lagi.

Kemudian Ibrahim pergi bersamaku ke Sidratul MuntahaTernyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar.

Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, diapun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mengambarkan keindahannya

 Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. 

Kemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam. 

Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”.

Saya menjawab: “50 shalat”.

Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”.

Beliau bersabda :“Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”.

Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata:“Allah mengurangi untukku 5 shalat”.

Dia berkata:“Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”.

Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman:

“Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”.

Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa ’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya”. (H.R Muslim 162)

Untuk lebih lengkapnya, silahkan merujuk ke kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2968 dan 3598 dan Shahih Muslim nomor 162-168 dan juga kitab-kitab hadits lainnya yang menyebutkan kisah ini. Terdapat pula tambahan riwayat tentang kisah ini yang tidak disebutkan dalam hadits di atas.

Kapankah Isra` dan Mi’raj?

Sebagian orang meyakini bahwa peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 Rajab. Padahal, para ulama ahli sejarah berbeda pendapat tentang tanggal kejadian kisah ini. Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai penetapan waktu terjadinya Isra’ Mi’raj , yaitu[2] :

  1. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun tatkala Allah memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nubuwah (kenabian). Ini adalah pendapat Imam Ath Thabari rahimahullah.
  2. Perisitiwa tersebut terjadi lima tahun setelah diutus sebagai rasul. Ini adalah pendapat yang dirajihkan oleh Imam An Nawawi dan Al Qurthubirahimahumallah.
  3. Peristiwa tersebut terjadi pada malam tanggal dua puluh tujuh Bulan Rajab tahun kesepuluh kenabian. Ini adalah pendapat Al Allamah Al Manshurfuri rahimahullah.
  4. Ada yang berpendapat, peristiwa tersebut terjadi enam bulan sebelum hijrah, atau pada bulan Muharram tahun ketiga belas setelah kenabian.
  5. Ada yang berpendapat, peristiwa tersebut terjadi setahun dua bulan sebelum hijrah, tepatnya pada bulan Muharram tahun ketiga belas setelah kenabian.
  6. Ada yang berpendapat, peristiwa tersebut terjadi setahun sebelum hijrah, atau pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ketiga belas setelah kenabian.

Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri hafidzahullah menjelaskan : “Tiga pendapat pertama tertolak. Alasannya karena Khadijah radhiyallahu ‘anhameninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun kesepuluh setelah kenabian, sementara ketika beliau meninggal belum ada kewajiban shalat lima waktu. Juga tidak ada perbedaan pendapat bahwa diwajibkannya shalat lima waktu adalah pada saat peristiwa Isra’ Mi’raj. Sedangakan tiga pendapat lainnya, aku  tidak mengetahui mana yang lebih rajih. Namun jika dilihat dari kandungan surat Al Isra’ menunjukkan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada masa-masa akhir sebelum hijrah.”

Dapat kita simpulkan dari penjelasan di atas bahwa Isra` dan Mi’raj tidak diketahui secara pasti pada kapan waktu terjadinya. Ini menunjukkan bahwa mengetahui kapan waktu terjadinya Isra’ Mi’raj bukanlah suatu hal yang penting. Lagipula, tidak terdapat  sedikitpun faedah keagamaan dengan mengetahuinya. Seandainya ada faidahnya maka pasti Allah akan menjelaskannya kepada kita. Maka memastikan kejadian Isra’ Mi’raj terjadi pada Bulan Rajab adalah suatu kekeliruan. Wallahu ‘alam..

Sikap Seorang Muslim Terhadap Kisah Isra’ Mi’raj

Berita-berita yang datang dalam kisah Isra’ Miraj seperti sampainya beliau ke Baitul Maqdis, kemudian berjumpa dengan para nabi dan shalat mengimami mereka, serta berita-berita lain yang terdapat dalam hadits- hadits yang shahih merupakan perkara ghaib. Sikap ahlussunnah wal jama’ahterhadap kisah-kisah seperti ini harus mencakup kaedah berikut :

  1. Menerima berita tersebut.
  2. Mengimani tentang kebenaran berita tersebut.
  3. Tidak menolak berita tersebut atau mengubah berita tersebut sesuai dengan kenyataannya.

Kewajiban kita adalah beriman sesuai dengan berita yang datang terhadap seluruh perkara-perkara ghaib yang Allah Ta’ala kabarkan kepada kita atau dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.[3]

Hendaknya kita meneladani sifat para sahabat radhiyallahu ‘anhum terhadap berita dari Allah dan rasul-Nya. Dikisahkan dalam sebuah riwayat bahwa setelah peristiwa Isra’ Mi’raj, orang-orang musyrikin datang menemui Abu Bakar As Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Mereka mengatakan : “Lihatlah apa yang telah diucapkan temanmu (yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)!”

Abu Bakar berkata : “Apa yang beliau ucapkan?”.

Orang-orang musyrik berkata : “Dia menyangka bahwasanya dia telah pergi ke Baitul Maqdis dan kemudian dinaikkan ke langit, dan peristiwa tersebut hanya berlangsung satu malam”.

Abu Bakar berkata : “Jika memang beliau yang mengucapkan, maka sungguh berita tersebut benar sesuai yang beliau ucapkan karena sesungguhnya beliau adalah orang yang jujur”.

Orang-orang musyrik kembali bertanya: “Mengapa demikian?”.

Abu Bakar menjawab: “Aku membenarkan seandainya berita tersebut lebih dari yang kalian kabarkan. Aku membenarkan berita langit yang turun kepada beliau, bagaimana mungkin aku tidak membenarkan beliau tentang perjalanan ke Baitul Maqdis ini?” (Hadits diriwayakan oleh Imam Hakim dalam Al Mustadrak 4407 dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha).[4]

Perhatikan bagaimana sikap Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu terhadap berita yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam. Beliau langsung membenarkan dan mempercayai berita tersebut. Beliau tidak banyak bertanya, meskipun peristiwa tersebut mustahil dilakukan dengan teknologi pada saat itu. Demikianlah seharusnya sikap seorang muslim terhadap setiap berita yang shahih dari Allah dan rasul-Nya.

Hikmah Terjadinya Isra`

Apakah hikmah terjadinya Isra`, kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak Mi’raj langsung dari Mekkah padahal hal tersebut memungkinkan? Para ulama menyebutkan ada beberapa hikmah terjadinya peristiwa  Isra`, yaitu:

  1. Perjalanan  Isra’ di bumi dari Mekkah ke Baitul Maqdis lebih memperkuat hujjah bagi orang-orang musyrik. Jika beliau langsung Mi’raj ke langit,  seandainya ditanya oleh orang-orang musyrik maka beliau tidak mempunyai alasan yang memperkuat kisah perjalanan yang beliau alami.  Oleh karena itu ketika orang-orang musyrik datang dan bertanya kepada beliau, beliau menceritakan tentang kafilah yang beliau temui selama perjalanan Isra’. Tatkala kafilah tersebut pulang dan orang-orang musyrik bertanya kepada mereka, orang-orang musyrik baru mengetahui benarlah apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Untuk menampakkan hubungan antara Mekkah dan Baitul Maqdis yang keduanya merupakan kiblat kaum muslimin. Tidaklah pengikut para nabi menghadapkan wajah mereka untuk beribadah keculali ke Baitul Maqdis dan Makkah Al Mukarramah. Sekaligus ini menujukkan keutamaan beliau melihat kedua kiblat dalam satu malam.
  3. Untuk menampakkan keutamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan para nabi yang lainnya. Beliau berjumpa dengan mereka di Baitul Maqdis lalu beliau shalat mengimami mereka.[5]

Faedah Kisah

Kisah yang agung ini sarat akan banyak faedah, di antaranya :

  1. Kisah Isra’ Mi’raj termasuk tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla.
  2. Peristiwa ini juga menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seluruh nabi dan rasul’alaihimus shalatu wa salaam
  3. Peristiwa yang agung ini menunjukkan keimanan para sahabat radhiyallahu’anhumMereka meyakini kebenaran berita tentang kisah ini, tidak sebagaimana perbuatan orang-orang kafir Quraisy.
  4. Isra` dan Mi’raj terjadi dengan jasad dan ruh beliau, dalam keadaan terjaga. Ini adalah pendapat jumhur (kebanyakan) ulama, muhadditsin, danfuqaha, serta inilah pendapat yang paling kuat di kalangan para ulama Ahlus sunnah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra` : 1)

Penyebutan kata ‘hamba’ digunakan untuk ruh dan jasad secara bersamaan. Inilah yang terdapat dalam hadits-hadits Bukhari dan Muslim dengan riwayat yang beraneka ragam bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa salaam melakukan Isra` dan Mi’raj dengan jasad beliau dalam keadaan terjaga.

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Lum’atul I’tiqad “… Contohnya hadits Isra` dan Mi’raj, beliau mengalaminya dalam keadaan terjaga, bukan dalam keadaan tidur, karena (kafir) Quraisy mengingkari dan sombong terhadapnya (peristiwa itu), padahal mereka tidak mengingkari mimpi”[6]

Imam Ath Thahawi rahimahullah berkata : “Mi’raj adalah benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa salaam telah melakukan Isra` dan Mi’raj dengan tubuh beliau dalam keadaan terjaga ke atas langit…”[7]

  1. Penetapan akan ketinggian Allah Ta’ala dengan ketinggian zat-Nya dengan sebenar-benarnya sesuai dengan keagungan Allah, yakni Allah tinggiberada di atas langit ketujuh, di atas ‘arsy-Nya. Ini merupakan akidah kaum muslimin seluruhnya dari dahulu hingga sekarang.
  2. Mengimani perkara-perkara ghaib yang disebutkan dalam hadits di atas, seperti: BuraaqMi’raj, para malaikat penjaga langit, adanya pintu-pintu langit, Baitul Ma’murSidratul Muntaha beserta sifat-sifatnya, surga, dan selainnya.
  3. Penetapan tentang hidupnya para Nabi ‘alaihimus salaam di kubur-kubur mereka, akan tetapi dengan kehidupan barzakhiah, bukan seperti kehidupan mereka di dunia. Oleh karena itulah, di sini tidak ada dalil yang membolehkan seseorang untuk berdoa, bertawasul, atau meminta syafa’at kepada para Nabi dengan alasan mereka masih hidup. Syaikh Shalih Alu Syaikh rahimahullah menjelaskan  bahwa Nabi Muhammadshalallahu ‘alaihi wa salaam dalam Mi’raj menemui ruh para Nabi kecuali Nabi Isa ‘alaihis salaam. Nabi menemui jasad Nabi Isa  karena jasad dan ruh beliau dibawa ke langit dan beliau belum wafat.[8]
  4. Banyaknya jumlah para malaikat dan tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah.
  5. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga adalah kalimur Rahman (orang yang diajak bicara langsung oleh Ar Rahman).
  6. Allah Ta’ala memiliki sifat kalam (berbicara) dengan pembicaraan yang sebenar-benarnya.
  7. Tingginya kedudukan shalat wajib dalam Islam, karena Allah langsung yang memerintahkan kewajiban ini.
  8. Kasih sayang dan perhatian Nabi Musa’alaihis salaam terhadap umat Islam, ketika beliau menyuruh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diringankan kewajiban shalat.
  9. Penetapan adanya nasakh (penghapusan hukum) dalam syariat Islam, serta bolehnya me-nasakh suatu perintah walaupun belum sempat dikerjakan sebelumnya, yakni tentang kewajiban shalat yang awalnya lima puluh rakaat menjadi lima rakaat.
  10. Surga dan neraka sudah ada sekarang, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihat keduanya ketika Mi’raj.
  11. Para ulama berbeda pendapat apakah Nabi melihat Allah pada saat Mi’raj. Ada tiga pendapat yang populer : Nabi melihat Allah dengan penglihatan, Nabi melihat Allah dengan hati, dan Nabi tidak melihat Allah namun hanya mendengar kalam Allah.
  12. Pendapat yang benar bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj hanya berlangusng satu kali saja dan tidak berulang.
  13. Barangsiapa yang mengingkari Isra`, maka dia telah kafir, karena dia berarti menganggap Allah berdusta. Barangsiapa yang mengingkari Mi’rajmaka tidak dikafirkan kecuali setelah ditegakkan padanya hujjah serta dijelaskan padanya kebenaran.

Hukum Mengadakan Perayaan Isra` Mi’raj

Bagaimana hukum mengadakan perayaan Isra’ Mi’raj? Berdasarkan dari penjelasan di atas, nampak jelas bagi kita bahwa perayaan Isra` Mi’raj tidak boleh dikerjakan, bahkan merupakan perkara bid’ah, karena dua alasan :

  1. Malam Isra` Mi’raj tidak diketahui secara pasti kapan terjadinya. Banyaknya perselisihan di kalangan para ulama, bahkan para sahabat dalam penentuan kapan terjadinya Isra` dan Mi’raj, merupakan dalil yang sangat jelas menunjukkan bahwa mereka tidaklah menaruh perhatian yang besar tentang waktu terjadinya. Jika waktu terjadinya saja tidak disepakati, bagaimana mungkin bisa dilakukan perayaan Isra’ Mi’raj?
  2. Dari sisi syari’at, perayaan ini juga tidak memiliki landasan. Seandainya perayaan tersebut adalah bagian dari syariat Allah, maka pasti akan dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, atau minimal beliau sampaikan kepada ummatnya. Seandainya beliau dan para sahabat  mengerjakannya atau menyampaikannya, maka ajaran tersebut akan sampai kepada kita.

Jadi, tatkala tidak ada sedikitpun dalil tentang hal tersebut,  maka perayaan Isra’ Mi’raj  bukan bagian dari ajaran Islam. Jika dia bukan bagian dari agama Islam, maka tidak boleh bagi kita untuk beribadah dan bertaqarrub kepada Allah Ta’ala dengan perbuatan tersebut. Bahkan merayakannya termasukperbuatan bid’ah yang tercela.

Berikut di antara  fatwa ulama dalam masalah ini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya : ”Pertanyaan ini tentang perayaan malam Isra’ Mi’raj yang terjadi di Sudan. Kami merayakan malam Isra’ Mi’raj rutin setiap tahun,  Apakah perayaan tersebut memiliki sumber dari Al Qur’an dan As Sunnah atau pernah terjadi di masa Khulafaur Rasyidin atau pada zaman tabi’in? Berilah petunjuk kepadaku karena saya bingung dalam masalah ini. Terimakasih atas jawaban Anda.”

Jawaban Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah : “Perayaan seperti itu tidak memiliki dasar dari Al Qur’an dan As Sunnah dan tidak pula pada zaman Khulafaur Rasyidin . Petunjuk yang ada dalam Al Qur’an  dan sunnah rasul-Nya justru menolak perbuatan bid’ah tersebut karena Allah Ta’ala mengingkari orang-orang  yang menjadikan syariat bagi mereka selain syariat Allah termasuk perbuatan syirik, sebagaimana firman Allah :

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّه

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy Syuura:21)

Dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

“ Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari Allah dan rasul-Nya maka amalan tersebut tertolak “.

Perayaan malam Isra’ Mi’raj bukan merupakan perintah Allah dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammemperingatkan ummatnya dalam setiap khutbah Jum’at melalui sabda beliau :

أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah firman Allah  dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah perkara baru dalam agama, dan setiap bid’ah adalah sesat.”[9]

Semoga paparan ringkas ini dapat menambah ilmu dan wawsan kita, serta dapat menambah keimanan kita. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad

Penyusun : Adika M.

Artikel Muslim.Or.Id


[1] Lihat Syarh Lumatil I’tiqaad li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 58-59

[2] Lihat pembahsan ini dalam Ar Rahiqul Makhtum 108

[3] Syarh Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah li Syaikh Shalih Alu Syaikh 444

[4] Lihat Syarh Al Ushuul Ats Tsalatsah li Syaikh Shalih Fauzan 201

[5] Lihat  Syarh Al ‘Aqidah  Ath Thahawiyah li Syaikh Shalih Alu Syaikh 451-452

[6] Lihat dalam Syarh Lum’atil I’tiqad li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 58

[7] Matan ‘Al Aqidah Ath Thahawiyah

[8] Lihat dalam Syarh  Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah li Syaikh Shalih Alu Syaikh 454

[9] Penggalan dari fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin  rahimahullah dalam Fatawa Nuur ‘alaa Ad Darb. Diakses darihttp://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_675.shtml)

sumber : http://muslim.or.id/aqidah/kisah-isra-miraj.html

 

Dialog Nabi Muhammad Dengan Nabi Isa Kisah Nabi Muhammad Naik Ke Langit Kisah Nabi Musa Ingin Melihat Allah Swt Kisah Nabi Muhammad Kisah Perjalanan Nabi Muhammad Ke Sidratul Muntaha

17 Comments

  1. saya pernah mendengar kajian yg mempertanyakan mengapa yg menyuruh nabi saw meminta keringanan sholat adalah nabi musa. kenapa musa? kok bukan nabi ibrahim?

    jangan2 ini hadits yg diselundupkan oleh kaum nabi musa(yahudi), agar seolah2 mereka bisa bilang=tuh nabi ente aja menemui musa , disuruh2 musa. nabi ente kurang berilmu karena gak paham kalo shalat 50 rakaat itu memberatkan umat.. bagaimana redaksi?

    sepertinya kajian itu masuk akal juga?

    Seandainya yang mengatakan seperti itu adalah seorang MUSLIM, atau TOKOH MUSLIM, maka dipertanyakan syahadatnya,. padahal dia sudah bersyahadat WA ASYHADUANNA MUHAMMADAN RASULULLAH, dan saya bersaksi bahwa nabi muhammad itu utusan Allah,. konsekwensi dari syahadat tersebut adalah menerima semua berita dari Rasulullah, sebab yang menceritakan hal tersebut adalah rasulullah sendiri,.

    bukan di akal-akalin dalil tersebut, bukan logika yang bermain,… fungsi akal terhadap dalil sudah jelas,. SILAHKAN BACA DISINI

  2. Tolong dijawab sekali lagi, dalam peristiwa Isra Miraj dikatakan Nabi Muhammad bertemu dan berdialog dengan Nabi Musa, yang ingin saya tanyakan adalah bahasa apa yang Sedigunakan kedua Nabi tersebut, itu saja.

    Tolong dijawab ya, terima kasih.

    Terimakasih mas irfan, mohon maaf, baru sempet mbales,.
    Jika melihat hadits2 tersebut, percakapan tersebut menggunakan bahasa arab, karena nabi berdialog menggunakan bahasa arab,

    • Kalau pakai bahasa Arab, bagaimana dengan Musa yang orang Israel ???
      adakah fakta yang menunjukan bahwa Musa bisa berbahasa Arab ???

      Jangankan dengan Nabi Musa,rasulullah pernah berbicara dengan unta, paham bahasanya, rasulullah juga pernah mendengar tangisan pohon kurma,

      Apa susahnya bagi Allah membuat Nabi Muhammad bisa berdialog dengan Musa?

      Nanti di akherat, mulut kita akan dikunci, dan yang berbicara adalah anggota badan kita,..

      Allah maha kuasa menjadikan tangan bisa berbicara,kaki bisa berbicara,..

      Apa susahnya menjadikan nabi bisa berbicara dan bahasanya bisa dipahami oleh keduanya?

      itu mudah bagi Allah

  3. Kalau MUhammad berbahasa arab saya yakin tetapi bagaimana dengan musa dia bukan orang arab jadi tidak mungkin dia berbahasa arab

    Terimakasih mas irfan,.
    dalam alquran iblis, nabi adam, pun berkata dengan bahasa arab, demikian pula nabi yusuf,bahkan firaun juga yang sejaman dengan nabi musa, dalam alquran dikisahkan berkata dengan bahasa arab,Allah berkata kepada nabi musa pun menggunakan bahasa arab,

    • Apakah Allah hanya tahu bahasa arab, mengap semuanya harus berbahasa arab, adam sampai isa bukan orang arab dimana logikanya dan mengapa pula dialquran orang yang bukan arab diubah menjadi arab, contohnya seperti : Yitro menjadi Syuaib (mertua nabi musa), samson menjadi syam’un (asal kisah malam lailatul qadr).

      Semua Nabi berasal dari timur tengah, tetapi bukan berarti mereka semua orang arab, tolong disampaikan alasannya secara logika dan tunjukkan bukti otentiknya.

      Kabar GHAIB, ga bisa dilogikan mas,. justru logika wajib TUNDUK kepada Dalil,.
      Yang disampaikan Rasulullah adalah dalil,.
      Kewajiban akal kita adalah membenarkan dalil,.

      Kalau semuanya harus di logikakan,.
      Baik, saya coba tes ,
      Apakah anda punya AKAL?
      Dimana letak akal anda, seperti apa bentuknya, bisakah anda membuktikannya?
      Sekarang jaman canggih, secanggih canggihnya jaman, teknologi maju, belum ada tuh alat teknologi yang bisa mendeteksi letak akal dan seperti apa bentuknya,..

      Silahkan mas irfan, bisa tidak anda menunjukkan letak akal anda, dan seperti apa bentuknya,.
      Kalau tidak bisa, apa saya menyebut anda berarti tidak punya akal?

      Bagaimana sikap akal terhadap dalil? silahkan baca disini

  4. Mengapa komentar saya tentang bahasa yang digunakan musa bertemu dengan muhammad s/d saat ini belum dijawab, tolong dong dijawab

    Kalau yang diceritakan dalam alquran menggunakan bahasa arab, tapi kalau pas sedang bicara dengan nabi musa, maka saya tidak tahu, sebab saya tidak diajak, dan belum lahir kala itu,. ini jawaban saya mas irfan, jadi saya tidak tahu,

    Apakah jika tahu jawabannya, itu bisa menambah keimanan anda, atau anda tidak percaya dengan bertemunya nabi saat itu?

    • ingin menambahkan saja buat mas irfan.. ga penting bahasa apa, yang penting kita meyakini. Otomatis ente nanti juga bisa bahasa arab di akherat nanti, insyallah. Contohnya nanti kita di alam kubur juga tanya jawab sama malaikat pake bahasa arab.

      Kewajiban kita terhadap kabar dari Rasulullah, adalah membenarkannya,.

      Para sahabat yang hidup sejaman dengan Rasul, dan mendengarkan kabar tersebut langsung saja tidak bertanya, ya Rasul dengan bahasa apa engkau berbicara dengan nabi Musa?

      Para sahabat taslim, sami’na wa atha’na, kami mendengar dan kami taat,.

  5. parah..
    tadiny gw kira loe bener2 manhaj salaf,hadist selundupan yahudi yang lebih mirip cerita dongeng kok di percaya,ada puluhan pertanyaan yang bisa d tanyakan tentang anehny hadist ini,karena bertentangan dengan hadist shahih yang lain..
    makany jgn cuma bisa copas,pelajari dulu,parah..

    Terimakasih mas arif,.
    Banyak lho orang yahudi lebih paham hadits daripada orang islam saat ini,.
    Jika kisah bertemunya Rasulullah dengan nabi musa itu anda ingkari, dan menganggap itu selundupan yahudi, maka saya katakan jika itu benar, maka si yahudi lebih paham hadits bertemunya nabi muhammad dng nabi musa daripada anda,.
    mari belajar lagi mas, tunjukkan dimana hadits lain yg bertentangan,…

  6. jd loe belum ngerti di mana anehny hahaha..salah satun keanehan dalam
    hadist ini, bahwa sebelum menuju
    langit Rosulullah sholat dua rakaat
    di Baitul Maqdis, sedangkan
    menurut kisah hadis tersebut,
    perintah sholat belum diterima.. kewajiban sholat sudah ditetapkan Allah pada tahun awal Kenabian dengan turunnyasurah al Muzammil ayat 1 – 9, jauhsebelum turunnya Surah Al Isra pada tahun ke empat Kerasulan.apa perlu gw posting ayat al quran y menyebutkan di mana roh orang y sdh mati berada?? Ayat 6/115, 10/64,
    menyatakan tiada perubahan bagi
    Kalimat ALLAH, dan Ayat 33/62,
    35/43, menyatakan tiada perubahan
    bagi Ketentuan ALLAH dan Ayat 30/30
    menyatakan tiada perubahan bagi
    Ciptaan ALLAH. Nabi Muhammad adalah semuliapara Nabi. Beliau tidak pernahmembantah atau minta dispensasi tugas dari Allah.
    Sedangkan yang biasa menawar
    dan membantah perintah Allah
    dan rasulNya sejak dahulu adalah
    orang kafir dari Bani Israil. Fakta
    ini dapat kita temukan dalam
    nash Al Quran dan Hadits yang
    shahih. Maka mustahil rosul kita
    mengadakan tawar menawar
    kepada Musa apalagi kepada
    Allah. Sedangkan seluruh rosul
    telah berjanji kepada Allah untuk
    beriman dan menolong misi
    Muhammad Rasulullah (Qs. 3:81).loe tau gak syarat hadist shahih tuh??bukan hanya jelas sanad & perawiny,tp jg matan ato isiny tdk bertentangan dgn al quran dan hadist shahih lain.gw rasa cm loe y mengaku2 manhaj salaf y menshahihkan hadist ini,mending loe gabung aja ma orang2 y berprinsip “ibadah kami tdk perlu dalil yang pnting ada besek & amplop”..sebagai muslim kita wajib percaya dgn peristiwa isra mikraj,tp bukan percaya dgn dongeng ala hadist lemah ini,makany kita di beri otak ma Allah biar bisa berpikir,bknny nelan mentah2 ucapan guru loe,manusia maksum tuh cm Rasulullah,jd para perawi hadist itu bisa jg salah,jangan taklid buta makany,gunakan jg otak ma pikiran,kecuali soal tauhid,klo loe telan mentah2 semua dgn alasan konskuensi syahadat pantas otak loe gak jalan..

    Perintah shalat yang belum diterima itu adalah shalat wajib 5 waktu dalam sehari semalam,.
    Adapun shalat itu sudah dikenal oleh nabi-nabi sebelumnya,.
    Jadi anda saja yang gagal paham dengan uraian yang begitu panjang,.
    Janganlah anda kedepankan akal anda yang sangat terbatas dalam memahami dalil,.

    Saya tanya, apakah anda bersaksi bahwa NABI MUHAMMAD ITU UTUSAN ALLAH?
    Jika anda bersaksi, maka anda wajib menerima berita yang datang dari Rasulullah, bukan membandingkan dengan akal atau logika anda,.
    Persaksian anda ditanyakan jika anda tidak membenarkan apa yang Rasulullah sampaikan, termasuk bertemunya Rasulullah dengan nabi musa

  7. Itukan menurut Al Quran, sedangkan Allah katanya mengerti segala bahasa, masa kesemua nabi yang tidak orang arab, Allah menggunakan bahasa Arab, lagipula yang saya tanyakan bahasa apa yang digunakan Musa ketika bertemu Muhammad, sedangkan Musa tidak berasal dari arab, tolong dijawab secara logika dan universal jangan hanya menurut islam, tetapi juga menurut data otentik

    Bertemunya Nabi Muhammad dan Musa di langit, itu perkara ghaib bagi kita, kewajiban kita terhadap kabar yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, cukup sekedar mengimaninya saja, tidak usah bertanya macam-macam yang tidak dijelaskan oleh Rasul,

    Allah sangat mampu menjadikan nabi bisa berkomunikasi dengan musa walaupun dengan bahasa yang berbeda,
    Nabi saja bisa paham ketika ada unta yang menangis dan mengadu kepada Rasulullah,
    Demikian pula nabi mendengar tangisan pohon kurma, Allah maha kuasa,.

    • boleh saya bantu jawab min ?
      Nabi Sulaiman diberikan mujizat oleh Allah bisa memahami dan berbicara dengan bahasa binatang, Beliau berkomunikasi dengan Binatang.

      Allah sangat mampu menjadikan Nabi Sulaiman bisa berkomunikasi dengan bahasa binatang, tugas kita mengimani.

      ketika ditanyai malaikat di dalam kubur, nanti di alam barzakh dan di padang mahsyar semua makhluk menggunakan bahasa yang sama saat berkomunikasi, logikanya padahal didunia menggunakan bahasa yang berbeda-beda.

      itulah Allah sangat mampu menjadikan apa yang menjadi kehendakNya.

      wallahu ‘alambisshawaab

      Betul, Allah sangat mampu, bahkan seorang bayi saja bisa berkomunikasi, ingat ketika maryam melahirkan isa, lalu kaumnya bertanya kepada maryam, lalu isa yang masih bayi bisa menjelaskan siapa dirinya,…

    • pake bahasa NGAPAK mas irfan…
      he..he..he.. si mas yg satu ini kykny penasaran bgt deh…

      cukup diimani saja lah… gk usah bnyk takon, ntar malah pusing sendiri.
      kami dengar dan kami patuh!

      Dimaklumi bae mas…

  8. Kenapa ya isra miraj masih juga menjadi polemik pro kontra ?
    Keasliannya saja sudah pasti tidak jelas, kenapa juga diperdebatkan terus?
    Muhammad sdh mati, dia saksi bisu, dan tidak bakal datang lg ke dunia.

    Ayoolah kita terima yg sdh pasti saat ini, yaitu ROH KUDUS yg akan menuntun jalan kita menyambut kedatangan TUHAN YESUS yg sdh pasti akan menjadi Hakim Adil untuk kedatanganNYA kedua nanti.
    Salom

    Sebutkan satu ayat saja dari INJIL yang menyatakan kita disuruh menyembah YESUS, jika ada, saya mau lah masuk KRISTEN,. SILAHKAN mbah beedjo,. kasih tahu yah,.?

    Ini ada hadiah ayat-ayat dari injil, baca ya?
    1. Yehezkiel 23: 1-21, ayat-ayat jorok tentang seksual.
    2. Yehezkiel 16: 22-38, ayat porno yang bugil-bugil.
    3. Ulangan 23: 1-2, Tuhan menyebut “Buah Pelir”
    4. Hosa 3: 1, nabi Hosea disuruh Tuhan untuk mencintai perempuan yang suka bersundal (pelacur) dan berzinah
    5. Kidung agung 4:1-7, puisi rayuan yang memuji kecantikan dengan menyebut buah dada dan susu
    6. Kejadian 38:8-9, kisah asal-usul onani (masturbasi) oleh leluhur Yesus
    7. Kidung Agung 7:6-13. Puisi Kenikmatan Cinta

    Sampaikan ke orang kristen lainnya juga yaa?

    Mau yang lain, dan jangan kaget ya, baca disini

  9. Bid’ah itu apa ya…
    Kalo isi kegiatannya positif ngajak orang berbuat baik, apa masih bid’ah. Apa kita kajian hal begini di HP ga bid’ah..

    Bidah itu apa ya?
    Bidah itu adalah perkara perkara baru DALAM MASALAH AGAMA / IBADAH yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah,
    Jadi HP, mobil, pesawat,internet,.itu tidak termasuk dalam perkara agama, jadi boleh boleh saja,.
    Untuk lebih jelasnya, silahkan dibaca postingan tentang bidah menurut logika, silahkan dibaca disini

  10. untuk mas beedjo,,,,

    maha suci allah yang tidak tidur dan tidak lupa.itulah ALLAH tuhan yang kami sembah.

    tidak bisa di bayangkan seandainya ALLah ketiduran 1 detik pun apa jadinya semesta alam beserta isinya ini,,,tidak bisa di bayangkan.

    Sekarang bandingkan dengan tuhanmu yang mati di kayu salib,bukan sedetik tapi bahkan sampai sekarang yang kalian masih memperingatinya,,,bayangkanlah…..

    jadi apa alam jagad raya ini.

    Apakah ini bukti bahwa yesus adalah tuhan,,,

    coba dipikirkan dengan hati yang ikhlas dan rasa yang mendalam,,,,

    Mau nyembah tuhan yang bisa disalib?? hanya orang bodoh saja yang melakukan demikian…

    Dalam kitab injil saja tidak ada satupun ayat yang menyebutkan kalau yesus itu adalah tuhan, dan tidak ada satu ayatpun yang memerintahkan untuk menyembah yesus..

  11. Saya orang jawa. Tapi kalo ketemu teman saya yang orang Belgia (Belgium) kami ngobrolnya pake bahasa inggris, gak pake bahasa jawa ataupun bahasa Belgia.

    Dari sini saja aku bisa paham kalo nabi Musa dan nabi muhammad obrolannya bisa nyambung meskipun mereka beda bangsa.

    Apalagi bahasa yang dipake orang2 israel banyak kemiripan dg bahasa arab.

    Kira2 kayak orang surabaya ngobrol sama orang brebes, meskipun sama2 bahasa jawa tapi sudah sangat jauh berbeda dialek, logat, kosakata, dan struktur kalimatnya.

    Lagian namanya nabi pasti gak bodoh, mereka tentu diberi kemampuan menggunakan ‘bahasa langit’ yang kita yakini adalah bahasa arab. Kita menghadap Allah tiap hari pakai ‘bahasa lagit’ yang berupa bahasa arab lho, padahal kita orang indonesia yang notabene banyak gak paham bahasa arab. Tapi pas sholat kita paham dg kalimat2 yang kita ucapkan karena kita tahu artinya. Begitu.

    Semoga ini mengakhiri perdebatan gak mutu yang terjadi antara mas irfan dan admin.

    Pengibaratan anda ga nyambung,
    Berbeda dengan kabar dari Rasulullah,

    Nabi Sulaiman bisa berbicara dengan hewan,..
    Nabi Muhammad pernah berbicara dengan unta, dan unta berbicara dengan Rasulullah, pohon kurma pun menangis,..

    Apa sulitnya bagi Allah membuat Nabi Muhammad bisa berkomunikasi dengan nabi-nabi sebelumnya??

    Jadi Allah sangat mampu menjadikan nabi Muhammad memahami ucapan nabi musa, dan nabi musa memahami ucapan nabi muhammad, walaupun berbicara dgn bahasa masing-masing

    Kewajiban kita kepada kabar yang Rasulullah kabarkan adalah Mengimani dan membenarkannya, bkn mempertanyakannya,

    Bukankah kita mengucapkan waasyhadu anna muhammadan rasuulullah??

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*