Cara Mudah Menentukan Arah Kiblat Bagi Warga Negara Indonesia

ARAH KIBLAT Bagi Negeri Indonesia

Pertanyaan.
Masjid di komplek saya, pada waktu dibangun oleh developer arahnya mengarah ke barat mengikuti arah bangunan perumahan. Setelah lama berjalan, ada seorang ustadz mengkritik keberadaan arah kiblat masjid tersebut. Sehingga oleh pengurus masjid di belokkanlah arah kiblatnya menjadi miring, lebih kurang 26 derajat dari arah barat, sesuai dengan ketentuan petunjuk arah kiblat di daerah saya. Jadi, bangunan masjid itu tetap lurus, sedangkan di dalam masjid serong sesuai dengan arah kiblat.

Yang ingin saya tanyakan: (1) Bagaimana keberadaan masjid tersebut? (2) Apakah kita boleh shalat dengan mengikuti bangunan masjid, yaitu lurus ke arah barat, atau kita shalat miring mengikuti arah kiblat yang sudah disesuaikan?
Atas jawabannya, saya ucapkan jazakallahu khair.

Jawaban.
Sebagaimana telah diketahui, menghadap kiblat merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil-Haram. [al-Baqarah/2:149].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada seseorang yang melakukan shalat dengan buruk:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغْ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ

Jika engkau berdiri untuk melakukan shalat, maka sempurnakanlah wudhu`, kemudian menghadaplah kiblat, lalu bertakbirlah!

Demikian pula umat Islam telah ijma’ (bersepakat) tentang kewajiban menghadap kiblat ketika shalat. Oleh karena itu, orang yang berada di dekat Ka’bah wajib menghadap langsung bangunan Ka’bah itu. Adapun bagi yang jauh dari Ka’bah, maka cukup dengan menghadap ke arahnya, sebagaimana disebutkan oleh ayat di atas. Misalnya, seseorang yang berada di sebelah utara Ka’bah, seperti kota Madinah, maka kiblatnya adalah arah selatan, yaitu yang ada antara timur dan barat.

Tidak perlu menghitung derajat kemiringannya untuk mengarah ke Ka’bah, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ

Arah antara timur dan barat adalah kiblat.

Demikian juga bagi kaum Muslimin di Indonesia, karena berada di sebelah timur Ka’bah, maka kiblatnya ialah arah barat, dan tidak perlu menghitung derajat kemiringan ke arah utara. Yaitu anggapan bahwa kiblat itu menghadap ke arah barat, namun agak miring ke utara 26 derajat atau semacamnya

Mengapa, karena hal ini dikhawatirkan termasuk ghuluw (sikap melewati batas) dalam beragama. Selain itu, hal tersebut akan membawa kebingungan dan musibah bagi kaum muslimin. Misalnya masjid-masjid yang sekarang sudah dibangun, seandainya diukur derajatnya dengan kompas ke arah kiblat, lalu dianggap kurang tepat, maka kemudian masjid itu harus dirombak, atau menghadap kiblatnya dimiringkan dari bangunan masjid; yang demikian ini akan membawa musibah.

Oleh karena itu, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata: “Adapun ilmu astronomi, jika seseorang mempelajari darinya perkara yang dibutuhkan untuk penunjuk arah, mengetahui kiblat, dan mengetahui jalan-jalan, hal itu boleh menurut jumhur (mayoritas ulama). Sedangkan selebihnya, maka ia tidak membutuhkannya, karena hal itu akan menyibukkannya dari perkara yang lebih penting darinya. Dan memperdalam ilmu astronomi, kemungkinan akan membawa kepada prasangka buruk kepada mihrab-mihrab kaum muslimin di kota-kota mereka, sebagaimana hal itu sering terjadi dari sebagian ulama dahulu dan sekarang. Hal ini akan membawa kepada keyakinan, dengan beranggapan adanya kesalahan para sahabat dan tabi’in dalam shalat mereka di banyak kota, sedangkan (keyakinan) yang seperti ini batil.

Imam Ahmad rahimahullah telah mengingkari perbuatan berdalil dengan bintang jadyu (bintang yang berada di dekat kutub untuk mengetahui kiblat), dan beliau berkata: ”Yang datang (dari Nabi, Red.) hanyalah ‘arah antara timur dan barat adalah kiblat’. Yakni, tidak ada dalil yang menunjukkan bintang tersebut atau bintang-bintang lainnya (sebagai petunjuk arah kiblat)”.

Dari penjelasan ini, maka sebaiknya arah kiblat di masjid tersebut dikembalikan seperti semula, untuk menetramkan kaum muslimin dalam beragama. Wallahu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XII/Jumadil Ula 1429/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Sumber: https://almanhaj.or.id/2532-arah-kiblat-musafir-nazil-mengqashar-shalat-arti-hayya-alal-falah.html

Print Friendly, PDF & Email

Arah Kiblat Orang Indonesia Arah Kiblat Menurut Pemerintah Indonesia Kiblat Indonesia ?iblat Benarkah Arah Kiblat Menghadap Matahari Terbit

6 Comments

  1. Assalaamu’alaikum Wr. Wb.
    Salam kenal, saya Aries Hanggono dari Klaten, Jawa Tengah.

    Terkait Fatwa MUI No. 03/2010 yang sampeyan tulis, bukankah itu sudah dikoreksi dengan Fatwa MUI No. 05/2010. Intinya, arah kiblat bagi kaum muslim Indonesia bukan arah “barat” (Fatwa No. 03) melainkan “barat laut” (Fatwa No. 05) dengan besaran azimut sesuai daerah masing-masing, yakni berkisar 20 – 26 derajat dari Barat ke arah Barat Laut.

    Berdasarkan hasil perhitungan azimuth para ahli, untuk Indonesia, azimuth terkecilnya adalah 290 09’ 26.11” di Marauke serta azimuth terbesar 295 33’ 14.98” di Bengkulu Selatan, artinya untuk Merauke dari arah barat diputar ke kanan (arah utara) sebesar 20 derajad 09′ 26.11″ dan di Bengkulu Selatan diputar kekanan 25 derajad 33’ 14.98”.

    Jadi bukan ke Barat persis, sebab kalau ke arah barat persis (0 derajad) maka kiblat akan mengarah ke Tanzania dan Angola.

    Terimakasih mas Aries,.
    Patokan kita dalam menentukan arah kiblat bukan dengan menggunakan kompas, harus pas sekali, dan tidak akan bisa pas, walaupun dengan dibantu oleh alat secanggih apapun, pasti akan melenceng,.

    Kita disuruh menghadap arah ka’bah, bukan persis sekali ke ka’bah,

    Untuk penduduk madinah saja Rasulullah menjelaskan arah kiblat untuk warga madinah adalah antara timur dan barat,

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan para sahabat untuk shalat persis menghadap Ka’bah. Beliau bersabda, “Antara timur dan barat adalah kiblat.” (HR. Turmudzi & dishahihkan Al-Albani)

    Hadis ini beliau sampaikan ketika beliau di Madinah, sedangkan Mekkah berada di sebelah selatan. Beliau mengajarkan kepada para sahabat bahwa selama menghadap ke selatan (antara timur dan barat) maka sudah dianggap menghadap kiblat. Beliau tidak memerintahkan untuk menghadap tepat persis ke Ka’bah namun beliau hanya menetapkan arahnya, yaitu ke selatan.

    Jadi untuk indonesia arah kiblatnya adalah antara utara dan selatan,. bebas, ngga perlu pas unutk ukuran derajatnya,. sebab pasti AKAN MELENCENG DARI KA’BAH, walaupun sudah sesuai derajatnya, apalagi shaf shalatnya adalah lurus, tidak melengkung sebagaimana di masjidl haram,

    Ka’bah ukurannya kecil, sedangkan masjid nabawi saja tidak semua yang berada di shaf terdepan bisa menghadap ka’bah persis, sebab ukuran masjid nabawi jauh lebih besar dari ukuran ka’bah itu sendiri,.. nah, apalagi di indonesia,. setepat apapun, maka akan susah utk menghadap persis ke ka’bah, walaupun sudah tepat garis derajatnya,

  2. kemana saya minta sertifikat arah kiblat di kabupaten serang

    tidak usah pake sertifikat segala mas,. kiblat indonesia ya arah barat, antara selatan dan utara, itulah kiblat bagi yang ada di indonesia,.

  3. Supaya kita satu kata dan satu perbuatan ikutilah FATWA MUI yaitu fatwa NO:5 TH 2010 arah kiblat syalat orang Indonesia adalah arah BARAT LAUT.

    Ikutilah DALIL, bukan ikuti fatwa yang menyelisihi DALIL,
    Jika ada fatwa MUI yang sejalan dengan DALIL, maka silahkan ikuti, karena Dalilnya, bukan karena fatwanya

  4. Ikuti fatwa MUI. jangan keras kepala. Mereka bukan kumpulan orang bodoh.

    Ikuti DALIL dari NABI.
    Jangan keras kepala.
    Nabi itu utusan Allah,manusia yang paling mulia di dunia ini, paling paham tentang ajaran islam,

    MUI wajib ikut petunjuk NABI, bukan kita ikut fatwa yang menyalahi DALIL dari NABI

  5. dalil adalah dasar kita beribadah, tdk ada dalil tdk boleh lakukan ibadah. Islam adalah sunnah dan sunnah adalah Islam. sunnah adalah jalan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*