Hukum Asal Istri Mintai Cerai Adalah HARAM, Situasi Seperti Apakah Yang Dibolehkan Istri Minta Cerai? | Hukum Cerai

Hukum Asal Istri Mintai Cerai Adalah HARAM, Situasi Seperti Apakah Yang Dibolehkan Istri Minta Cerai?

Hukum Cerai Istri Minta Cerai Istri Meninggalkan Suami Dan Minta Cerai Hukum Istri Mengatakan Cerai Kepada Suami Hukum Istri Minta Cerai

KAPAN ISTRI BOLEH MINTA CERAI?

hukum asal cerai adalah haramBerapa lalu saya dikejutkan dengan sebuah pertanyaan :

“Assalamualaikum….afwan ust. Mengganggu, teman ana punya problem…..setelah 17 tahun berumah tangga dan sudah mempunyai 1 anak (itupun dengan susah payah karena harus melalui pengobatan baru punya anak qodarolloh). Tapi itu tidak masalah.

Berjalannya waktu seorang istri minta cerai dengan alasan karena suaminya jelek tapi akhlak dan agamanya lumayan,sehingga istri itu memenuhi hak suamipun jadi tidak ikhlas dll. (itu juga setelah adanya teman-teman yg ngomong dan sekarang sedang berhubungan sms-an dengan seorang laki-laki lain).

Dia dengerin seorang ustadz berkata cerai dengan alasan jelek boleh walaupun akhlak dan agamanya baik, tapi harus mengembalikan maharnya……mohon ditanggapi…”

JAWABAN;

Diantara indahnya syari’at Islam adalah memberi jalan keluar bagi pasangan suami istri jika mereka memang tidak bisa memperoleh kebahagiaan dan kasih sayang diantara mereka. Diantara jalan keluar yang diberikan syari’at adalah perceraian, yang berada ditangan para lelaki (karena para lelakilah yang membayar mahar, biaya pernikahan, serta menanggung nafkah keluarga), akan tetapi tentu dengan persyaratan yang diletakan oleh Syari’at. Syari’at tidak menjadikan perceraian di tangan para wanita, karena secara umum kaum lelaki lebih berpikir panjang dan lebih stabil dalam mengambil keputusan. Berbeda dengan para wanita yang sering mengalami kondisi yang bisa merubah pola berfikirnya, seperti tatkala kondisi haid, atau tatkala mengandung, dan lain-lain, sehingga terkadang perasaan lebih didahulukan dari pada pikiran.

Para lelaki pun tidak dianjurkan untuk langsung beranjak ke jenjang perceraian kecuali setelah berusaha dan berusaha…, baik berusaha menasehati istri, atau melalu jalur islah (usaha damai) dari perwakilan dari dua  belah pihak dan usaha-usaha yang lainnya.

Demikian juga tatkala seorang lelaki hendak mencerai, maka ia tidak boleh mencerai tatkala sang istri sedang haid, atau tatkala sang istri telah bersih/suci akan tetapi ia telah menjimaknya.

Bila ternyata sang istri mendapati sikap buruk pada sang suami maka syari’at membolehkan kepada sang wanita untuk melakukan khulu’ yaitu meminta suami untuk memutuskan akad pernikahan.

Hukum Asal Wanita Meminta Cerai Adalah Haram

Tentunya kita mengetahui bahwasanya asalnya seorang wanita dilarang untuk meminta dicerai.

Nabi shallallahu ‘alaiahi wa sallam bersabda:

أيُّما امرأةٍ سألت زوجَها طلاقاً فِي غَير مَا بَأْسٍ؛ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الجَنَّةِ

“Wanita mana saja yang meminta kepada suaminya untuk dicerai tanpa kondisi mendesak maka haram baginya bau surga” (HR Abu Dawud no 1928, At-Thirmidzi dan Ibnu Maajah, dan dihahihkan oleh Syaikh Albani)

Hadits ini menunjukkan ancaman yang sangat keras bagi seorang wanita yang meminta perceraian tanpa ada sebab yang syar’i yang kuat yang membolehkannya untuk meminta cerai. Berkata Abu At-Toyyib Al’Adziim Aabaadi, “Yaitu tanpa ada kondisi mendesak memaksanya untuk meminta cerai…((Maka haram baginya bau surga)) yaitu ia terhalang dari mencium harumnya surga, dan ini merupakan bentuk ancaman dan bahkan bentuk mubaalaghoh (berlebih-lebihan) dalam ancaman, atau terjadinya hal tersebut pada satu kondisi tertentu yaitu artinya ia tidak mencium wanginya surga tatkala tercium oleh orang-orang yang bertakwa yang pertama kali mencium wanginya surga, atau memang sama sekali ia tidak mencium wanginya surga. dan ini merupakan bentuk berlebih-lebihan dalam ancaman” (‘Aunul Ma’buud 6/308)

Ibnu Hajar berkata :

أن الأخبار الواردة في ترهيب المرأة من طلب طلاق زوجها محمولة على ما إذا لم يكن بسبب يقتضى ذلك

“Sesungguhnya hadits-hadits yang datang tentang ancaman terhadap wanita yang meminta cerai, dibawakan kepada jika sang wanita meminta cerai tanpa sebab” (Fathul Baari 9/402)

Silahkan baca kembali artikel “Ceraikan Aku…!!!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

الْمُخْتَلِعَاتُ وَالْمُنْتَزِعَاتُ هُنَّ الْمُنَافِقَاتُ

“Para wanita yang khulu’ dari suaminya dan melepaskan dirinya dari suaminya, mereka itulah para wanita munafiq” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 632)

Yaitu para wanita yang mengeluarkan biaya untuk meminta cerai dari suami mereka tanpa ada udzur yang syari’ (lihat At-Taisiir bi Syarh Al-Jaami’ As-Shogiir 1/607)

Sebab-Sebab Dibolehkan Khulu’

Para ulama telah menyebutkan perkara-perkara yang membolehkan seorang wanita meminta khulu’ (pisah) dari suaminya.

Diantara perkara-perkara tersebut adalah :

1. Jika sang suami sangat nampak membenci sang istri, akan tetapi sang suami sengaja tidak ingin menceraikan sang istri agar sang istri menjadi seperti wanita yang tergantung

2. Akhlak suami yang buruk terhadap sang istri, seperti suka menghinanya atau suka memukulnya.

3. Agama sang suami yang buruk, seperti sang suami yang terlalu sering melakukan dosa-dosa, seperti minum khomr, berjudi, berzina, atau sering meninggalkan sholat, suka mendengar music, dll

4. Jika sang suami tidak menunaikan hak utama sang istri, seperti tidak memberikan nafkah kepadanya, atau tidak membelikan pakaian untuknya, dan kebutuhan-kebutuhan primer yang lainnya, padahal sang suami mampu.

5. Jika sang suami ternyata tidak bisa menggauli istrinya dengan baik, misalnya jika sang suami cacat, atau tidak bisa melakukan hubungan biologis, atau tidak adil dalam mabit (jatah menginap), atau tidak mau atau jarang memenuhi kebutuhan biologisnya karena condong kepada istri yang lain

6. Jika sang wanita sama sekali tidak membenci sang suami, hanya saja sang wanita khawatir tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri sehingga tidak bisa menunaikan hak-hak suaminya dengan baik. Maka boleh baginya meminta agar suaminya meridoinya untuk khulu’, karena ia khawatir terjerumus dalam dosa karena tidak bisa menunaikan hak-hak suami

7. Jika sang istri membenci suaminya bukan karena akhlak yang buruk, dan juga bukan karena agama suami yang buruk. Akan tetapi sang istri tidak bisa mencintai sang suami karena kekurangan pada jasadnya, seperti cacat, atau buruknya suami

(Silahkan lihat Roudhotut Toolibiin 7/374, dan juga fatwa Syaikh Ibn Jibrin rahimahullah di http://islamqa.info/ar/ref/1859)

Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata :

وجمله الأمر أن المرأة إذا كرهت زوجها لخلقه أو خلقه أو دينه أو كبره أو ضعفه أو نحو ذلك وخشيت أن لا تؤدي  حق الله في طاعته جاز لها أن تخالعه بعوض تفتدي به نفسها

“Dan kesimpulannya bahwasanya seorang wanita jika membenci suaminya karena akhlaknya atau perawakannya/rupa dan jasadnya atau karena agamanya, atau karena tuanya, atau lemahnya, dan yang semisalnya, dan ia khawatir tidak bisa menunaikan hak Allah dalam mentaati sang suami maka boleh baginya untuk meminta khulu’ kepada suaminya dengan memberikan biaya/ganti untuk membebaskan dirinya” (Al-Mughni 8/174)

Meminta Cerai Karena Suami Buruk Rupa

Para ulama telah menyebutkan bahwa boleh bagi seorang wanita yang meminta cerai dikarenakan tidak bisa meraih kebahagiaan dikarenakan sang suami buruk rupa. Dalil akan hal ini adalah kisah istri sahabat Tsabit bin Qois yang meminta cerai darinya. Ibnu Abbas meriwayatkan :

أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعْتِبُ عَلَيْهِ فِي خُلُقٍ وَلا دِينٍ ، وَلَكِنِّي أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِي الْإِسْلَامِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ ؟ قَالَتْ : نَعَمْ . قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اقْبَلْ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً

“Bahwasanya istri Tsaabit bin Qois mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, suamiku Tsaabit bin Qois tidaklah aku mencela akhlaknya dan tidak pula agamanya, akan tetapi aku takut berbuat kekufuran dalam Islam”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apakah engkau (bersedia) mengembalikan kebunnya (yang ia berikan sebagai maharmu-pen)?”.

Maka ia berkata, “Iya”. Rasulullah pun berkata kepada Tsaabit, “Terimalah kembali kebun tersebut dan ceraikanlah ia !” (HR Al-Bukhari no 5373)

Dalam riwayat ini jelas bahwa istri Tsaabit bin Qois sama sekali tidak mengeluhkan akan buruknya akhlak suaminya atau kurangnya agama suaminya. Akan tetapi ia mengeluhkan tentang perkara yang lain. Apakah perkara tersebut??

Dalam sebagian riwayat yang lain menjelaskan bahwa istri Tsabit meminta khulu’ karena buruk rupanya Tsabit.

عن حجاج عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال كانت حبيبة بنت سهل تحت ثابت بن قيس بن شماس وكان رجلا دميما فقالت يا رسول الله والله لولا مخافة الله إذا دخل علي لبصقت في وجهه

Dari Hajjaj dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dan dari kakeknya berkata, “Dahulu Habibah binti Sahl adalah istri Tsaabit bin Qois bin Syammaas. Dan Tsaabit adalah seorang lelaki buruk dan pendek, maka Habibah berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, kalau bukan karena takut kepada Allah maka jika ia masuk menemuiku maka aku akan meludahi wajahnya”. (HR Ibnu Maajah no 2057 dan didho’ifkan oleh Syaikh Al-Albani)

Namun telah datang dalam riwayat yang shahih dari Ibnu Abbas berkata:

إن أول خلع كان في الإسلام، أخت عبد الله بن أبي، أنها أتت رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت: يا رسول الله لا يجمع رأسي ورأسه شيء أبدا! إني رفعت جانب الخباء، فرأيته أقبل في عدة، فإذا هو أشدهم سوادا، وأقصرهم قامة، وأقبحهم وجها! قال زوجها: يا رسول الله، إني أعطيتها أفضل مالي! حديقة، فإن ردت على حديقتي! قال:”ما تقولين؟” قالت: نعم، وإن شاء زدته! قال: ففرق بينهما

“Khulu’ yang pertama kali dalam sejarah Islam adalah khulu’nya saudari Abdullah bin Ubay (Yaitu Jamilah bintu Abdullah bin Ubay bin Saluul gembong orang munafiq, dan saudara Jamilah bernama Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Saluul-pen). Ia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tidak mungkin ada sesuatu yang bisa menyatukan kepalaku dengan kepala Tsabit selamanya. Aku telah mengangkat sisi tirai maka aku melihatnya datang bersama beberapa orang. Ternyata Tsaabit adalah yang paling hitam diantara mereka, yang paling pendek, dan yang paling jelek wajahnya”

Suaminya (Tsaabit) berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah memberikan kepadanya hartaku yang terbaik, sebuah kebun, jika kebunku dikembalikan, (maka aku setuju untuk berpisah)”. Nabi berkata, “Apa pendapatmu (wahai jamilah)?”. Jamilah berkata, “Setuju, dan jika dia mau akan aku tambah”. Maka Nabipun memisahkan antara keduanya” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At-Thobari dalam tafsirnya (4/552-553, no 3807), tatkala menafsirkan surat Al-Baqoroh ayat 229, dan sanadnya dinilai shahih oleh para pentahqiq Tafsir At-Thobari)

Catatan :

Pertama : Para ulama berselisih tentang nama istri Tsabit bin Qois, apakah namanya Jamilah binti Abdillah bin Ubay bin Saluul ataukah Habibah binti Sahl?. Akan tetapi Ibnu Hajar rahimahullah condong bahwa Tsabit pernah menikahi Habibah lalu terjadi khuluk, kemudian ia menikahi Jamilah dan juga terjadi khulu’ (lihat Fathul Baari 9/399)

Kedua : Dalam sebagian riwayat yang shahih menunjukkan bahwa Tsaabit bin Qois radhiallahu ‘anhu pernah memukul istrinya hingga tangannya patah. Sehingga inilah yang dikeluhkan oleh istri beliau sehingga minta khulu’

Dari Ar-Rubayyi’ bin Mu’awwidz berkata :

أن ثابت بن قيس بن شماس ضرب امرأته فكسر يدها وهي جميلة بنت عبد الله بن أبي فأتى أخوها يشتكيه إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فأرسل رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى ثابت فقال له خذ الذي لها عليك وخل سبيلها قال نعم فأمرها رسول الله صلى الله عليه و سلم أن تتربص حيضة واحدة فتلحق بأهلها

“Sesungguhnya Tsaabit bin Qois bin Syammaas memukul istrinya hingga mematahkan tangannya. Istrinya adalah Jamilah binti Abdillah bin Ubay. Maka saudara laki-lakinya pun mendatangi Nabi mengeluhkannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan ke Tsabit dan berkata, “Ambillah harta milik istrimu yang wajib atasmu dan ceraikanlah dia”. Maka Tsaabit berkata, “Iya”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Jamilah untuk menunggu (masa ‘iddah) satu kali haid. Lalu iapun pergi ke keluarganya” (HR An-Nasaai no 3487 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ سَهْلٍ كَانَتْ عِنْدَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ فَضَرَبَهَا فَكَسَرَ بَعْضَهَا فَأَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَعْدَ الصُّبْحِ فَاشْتَكَتْهُ إِلَيْهِ فَدَعَا النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ثَابِتًا فَقَالَ « خُذْ بَعْضَ مَالِهَا وَفَارِقْهَا ».

فَقَالَ وَيَصْلُحُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « نَعَمْ ». قَالَ فَإِنِّى أَصْدَقْتُهَا حَدِيقَتَيْنِ وَهُمَا بِيَدِهَا فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « خُذْهُمَا فَفَارِقْهَا ». فَفَعَلَ.

Dari Aisyah bahwasanya Habibah binti Sahl dulunya istri Tsabit bin Qois, lalu Tsabit memukulnya hingga patahlah sebagian anggota tubuhnya. Habibah pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah subuh dan mengadukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang suaminya. Maka Nabi berkata kepada Tsabit, “Ambillah sebagian harta Habibah, dan berpisahlah darinya”

Tsaabit berkata, “Apakah dibenarkan hal ini wahai Rasulullah?”, Nabi berkata, “Benar”. Tsabit berkata, “Aku telah memberikan kepadanya mahar berupa dua kebun, dan keduanya berada padanya”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ambilah kedua kebun tersebut dan berpisalah dengannya”. (HR Abu Dawud no 2230, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Dari riwayat-riwayat yang ada, seakan-akan ada pertentangan, karena sebagian riwayat menunjukkan bahwa istri Tsabit meminta cerai karena perangai Tsaabit yang telah memukulnya hingga menyebabkan patah tangan. Dan sebagian riwayat yang lain sangat jelas dan tegas bahwa sang istri tidak mencela akhlak dan agama Tsaabit, akan yang dikeluhkan ada kondisi tubuh Tsaabit yang hitam, pendek, dan buruk rupa.

Ibnu Hajar menjamak kedua model riwayat diatas dengan menyebutkan suatu riwayat dimana istri Tsabit berkata :

والله ما أعتب على ثابت في دين ولا خلق ولكني أكره الكفر في الإسلام لا أطيقه بغضا

“Demi Allah aku tidak mencela Tsabit karena agamanya dan juga akhlaknya, akan tetapi aku takutkan kekufuran dalam Islam, aku tidak sanggup dengannya karena aku membencinya” (HR Ibnu Maajah no 1673 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

لكن تقدم من رواية النسائي أنه كسر يدها فيحمل على أنها أرادت أنه سيء الخلق لكنها ما تعيبه بذلك بل بشيء آخر … لكن لم تشكه واحدة منهما بسبب ذلك بل وقع التصريح بسبب آخر وهو أنه كان دميم الخلقة

“Akan tetapi telah lalu dalam riwayat An-Nasaai bahwasanya Tsaabit mematahkan tangan sang istri, maka dibawakan kepada makna bahwasanya sang istri ingin mengatakan bahwa Tsabit buruk akhlaknya akan tetapi ia tidak mencela Tsaabit karena hal itu, akan tetapi karena perkara yang lain…tidak seorangpun dari kedua istrinya (Jamilah maupun Habibah) yang mencela Tsabit karena “sebab mematahkan tulang”, akan tetapi telah datang penjelasan yang tegas akan sebab yang lain, yaitu perawakan Tsaabit buruk” (Fathul Baari 9/400)

Dari sinilah para ulama menyatakan bahwa diantara salah satu sebab yang membolehkan seorang wanita meminta khulu’ adalah jika sang suami buruk rupa, dan sang istri sama sekali tidak bisa mencintai sang suami. Dan jika sudah tidak cinta maka sulit untuk meraih kebahagiaan dan kasih sayang yang merupakan salah satu dari tujuan pernikahan. Wallahu A’lam.

AKAN TETAPI…

Yang mengherankan saya dari pertanyaan yang ditujukan kepada saya di atas, bahwasanya bagaimana bisa muncul pernyataan bahwa sang suami jelek setelah berjalannya pernikahan selama 17 tahun??

Dzohir dari pertanyaan di atas bahwasanya sang suami tidaklah jelek-jelek amat, tidak sebagaimana yang disebutkan tentang Tsabit yang hitam, pendek, dan buruk rupa, bahkan paling hitam, paling pendek, dan paling buruk diantara teman-temannya (sebagaimana pengakuan istrinya Jamilah).

Buktinya…pernikahan mereka berdua bisa berjalan selama 17 tahun, bahkan berhasil memiliki seorang anak setelah melalui usaha susah payah… Ini menunjukan –wallahu A’lam- bahwa sang suami bukanlah seorang yang buruk rupa, akan tetapi menjadi buruk rupa setelah sang istri mulai menjalin hubungan dengan lelaki lain…

Oleh karenanya hendaknya sang istri takut kepada Allah dan takutlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wanita yang meminta cerai tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at…dan hendaknya sang suami bersabar dan banyak berdoa kepada Allah agar istrinya kembali menjadi baik. Dan jika memang sang istri keras kepala dan menghina sang suami dengan menyatakan wajahnya jelek, maka saya rasa masih banyak wanita yang lebih sholehah dan lebih baik dari seorang istri pengkhianat yang menjalin hubungan dengan lelaki lain. Hanya kepada Allalah kita meminta agar menumbuhkan kasih sayang diantara pasangan suami istri dari kaum muslimin…hanya kepada Allahlah tempat mengadu dan berkeluh kesah.

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 26-04-1434 H / 08 Maret 2013 M
Abu Abdil Muhsin Firanda
sumber : http://firanda.com/index.php/konsultasi/keluarga/399-kapan-istri-boleh-minta-cerai

Menghadapi Istri Minta Cerai Hukum Istri Minta Cerai Dalam Islam Sikap Suami Ketika Istri Minta Cerai Hukum Istri Minta Cerai Saat Hamil Pengen Cerai Tp Gmn Cranta

Arsip Artikel

11 Comments on Hukum Asal Istri Mintai Cerai Adalah HARAM, Situasi Seperti Apakah Yang Dibolehkan Istri Minta Cerai?

  1. ass sahabatku.
    langsung saja ya..
    saya dan istri saya masih saling mencintai dan baru punya anak perempuan umur 2 bln sekarang.

    saya kesal baru tinggal 3 hari mertua minta pinjaman uang kepada kami dan katanya mau dikembalikan 3 hari dan saya beri uang pinjaman 1jta kepadanya tpi sampai sekarang belum dikembalikan.

    masalahnya terjadi 1 bln yg lalu ketika saya dan istri pindah dirumah mertua saya(ortu istri) masalah terjadi karna mertua saya terlalu ikut campur urusan rumah tangga saya,tentang masih memanjakan istri saya(anaknya sendiri) mengajarkan untuk tidak melayani suami dalam kewajiban istri memasak,buat minuman,dan mencuci pakaian.

    menurut mertua saya agar semua itu saya sendiri saja yang melakukannya.saya dlm keadaan emosi saya membatah omongan mertua saya dan timbulah masalah yg serius.

    ibu mertua saya mengadu ke suaminya(bpk mertua) dan dia langsung memarahi saya habis2 an tanpa menyaanyakan masalah yg sebenarnya terjadi.

    saya hanya diam saja saat bpk mertua saya memarahi saya.lalu mereka pergi.dan yg ku sesali ketika saya ada masalah dngan mertua istri saya sama sekali tidak membela sya sama sekali.

    lalu saya bilang ke istri saya klo sya sudah gk tahan ,nyaman hidup disini saya bermusyawarah sama istri sya berdua didlm kamar bagai mana kalo kita hidup ngekost saja dan istri saya menyetujui kita kost saja dan saya bilang besok pagi saya pergi cari2 kost dan istri saya menyetujui juga dan berkata mau dibangunin jam erapa besok pagi sya jwb jam 6 pagi menurut sya lebih cepat lebih baik krna sya sudah gk nyaman dngan mertua sya.

    disaat sy pergi dan siang hari sya baru dapat kost sya sms istri sya bhwa sya sudah dapet kost alhamdullah tpi istri sya tdak membalas sms sya dan sya tlpon berkali2 juga tdak diangkat tlpon sya dan sms berkali2 pun tak dibls 2 jam baru dibls sms sya katanya sedang pergi ketegal menemani adiknya beli bahan baju.

    lalu ibu saya kebetulan habis kondangan dan melewati rumah mertua dan hub sya klo dia nanti plang kondangan mau mampir berkunjung pengin lihat cucu ya sya jwb ya silahkan mah,ketika ibu saya datang ternyata istri sya ad dirumah dan terlihat matanya habis menangis dimarahi ortunya.

    dan disitu ibu sya datang suasa na memanas mertua sya ngomong ke ibu sya dngan muka garam dan terlibat pertengkaran antara ibu dan ibu mertua.

    ketika ibu sya hendak pergi plang ibu mertua berkata agar pakaian sya dibawa lalu ibu sya marah dan tidak membawa pakaian sya dan berkata itu urusan anak biar anak yg menyelesaikan sndiri.

    lalu saya dihub ibu suruh plang kerumah dulu ad suatu yg penting diomongin.dan paginya sya pergi menuju ke rumah mertua dan sya pun ketemu mertua langsung menyapa dengan berjabat tangan dan meminta maap tpi mertua diam sja dngan muka garam disitu sya langsung diusir.dan istri sya memilih ikut ibunya sndiri ketimbang suaminya.

    dan sya pun pergi meninggalkan nya sebelum sya pergi sya memberi uang dan susu ibu menyusui,dan ibu mertua sya malah parahnya lagi kita suruh bercerai tpi ku diam saja lalu pergi dan seminggu kemudian ku kembali bermaksud menjemput istri saya dan anak saya tpi lagi2 sya mendpatkan kelakuan yg tak enak dan parahnya istri sya memilih ikut ibunya ketimbang suaminya.

    tpi sya heran ketika sya sms dngan istri sya dia masih cinta sms mesrah kepada sya.sya bingun ap yg sebenarnya terjadi dngan istri sya??

    dua minggu kemudian sya datang kembali tpi lagi2 sya mendapatkan perlakuan tidak baik,mau ngendong anak sendiri pun tidak dibolehkan.sya dicuwekin dan didiemin disitu,dan ditinggal pergi.apa yang mesti lakukan untuk mempertahankan rumah tangga saya??

    Terimakasih anggoro,.
    Anda bisa mengajak istri anda pergi dari rumah mertua, tanpa seijin mertua, karena itu sudah menjadi istri anda, dan kewajiban istri untuk taat kepada anda itu lebih besar daripada ke ortu istri itu sendiri,.

    Memang sebaiknya jika sudah menikah, jangan tinggal bersama mertua , atau ortu si istri,lebih baik tinggal di rumah sendiri walaupun kost atau ngontrak, tidak mengapa,.
    Perlakuan mertua kepada anda itu adalah salah, mertua tidak berhak melarang seperti diatas,

    Cobalah anda hubungi istri anda, dan sampaikan tentang wajib istri berbakti kepada suami melebihi baktinya dia kepada orang tuanya,.
    Janganlah durhaka kepada suami, ingat, neraka sebagian besar penghuninya adalah wanita, disebabkan mereka durhaka kepada suaminya,.

    Mungkin istri merasa takut dengan ortunya, dan tidak paham bahwa istri itu lebih wajib berbakti kepada suami, dan suami yang lebih berhak kepada istrinya daripada ortu istri itu sendiri,.

    Cobalah sms atau nelpon ke istri utk diajak pindah ke kost anda, bicaralah baik-baik kepada mertua, jika masih tidak di ijinkan, tidak mengapa mengajak pergi istri tanpa seijin mertua, karena istri itu hak anda,

    Bukan dicap sebagai anak durhaka jika si istri memilih ikut suami, karena sudah seharusnya si istri milih suami daripada kepada ortunya sendiri,

    Jika dia milih suami, dia telah mentaati allah, jika dia memilih ortunya sendiri, dan meninggalkan suami, maka dia telah durhaka kepada suami, dan sedang bermaksiat kepada Allah,.

    Silahkan istri suruh baca artikel ini, klik link ini

  2. Assalamualaikum..

    Bagaimana jika suami menikah tanpa sepengetahuan dan ijin istri, kemudian stlh bbrp tahun istri mengetahui dan menggugat cerai suami, bagamana hukum istri yg menggugat cerai suami tersebut? Jazakumullah khairan…

    wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    menikah lagi itu tidak perlu ijin dengan istri,.
    tapi sebaiknya dipikirkan masalah dampak negatif dan positifnya,.
    Jika sudah terjadi, dan si istri menggugat cerai, ini juga tidak dibenarkan dalam islam, jika tanpa alasan yang dibenarkan,. apa motif minta cerainya,
    Jika motifnya karena istri kedua itu buruk agamanya, atau malah orang kafir, maka boleh si istri meminta suami menceraikan istri keduanya, bukan si istri minta dicerai,.

  3. ass…
    bagaiman jika seorang istri mnta cerai tetapi suami tetap mempertahan kan dmi keluarga n anak…tolong sy mnta solusi ny…

    Wa’alaikumusalam warahmatullah,.
    Cerai dan talak itu ada di tangan suami,.
    hukum asal istri minta cerai,itu adalah haram, bahkan ada ancaman bagi istri yang minta cerai tanpa alasan syar’i,.. yaitu tidak akan mencium aroma surga,.
    Di artikel sudah dijelaskan, kapan boleh istri minta cerai,. silahkan dibaca lagi

  4. Saya seorang istri yg sudah 17 th berumah tangga dan sudah dikaruniayi 3 orang anak
    Saya sudah jatuh talak 2
    Suami saya tidak bisa menjadi imam dlm rumah tangga saya
    Saya sudah banyak bersabar dan selalu menasehati tp dia tetep nhk sholat
    Apakah saya salah kl minta cerai dr suami dgn alasan dia tidak menjalankan syariat agama
    Bagaimana jika dia tidak mau menceraikan saya padahal saya tau surga istri tergantung pada ridho suami tp kl kasih nafkah selalu diungkit2 kayak ngk iklas mohon jawabannya dan apa doa supaya saya terlepas dr suami yg seperti ini

    Jika suami tidak mau shalat, sudah dinasehati dengan cara yang baik,. dan tetap tidak mau shalat, maka ibu bisa menggugat cerai ke pengadilan, minta khulu,. biar pengadilan yang memutuskan, dan tidak perlu suami menceraikan atau tidak, jika pengadilan sudah memutuskan, maka jatuh talak,.

    Jadi istri tidak berdosa, sudah dibahas di artikel di atas, poin 3
    3. Agama sang suami yang buruk, seperti sang suami yang terlalu sering melakukan dosa-dosa, seperti minum khomr, berjudi, berzina, atau sering meninggalkan sholat, suka mendengar music, dll

  5. Aku berumahtangga 5 tahun tapi suamiku cuma pernah menunaikan perintah agama,dn istri mau berhijab juga gk boleh,dn saya tiap malam terus menerus d gauli,
    saya sudah tak kuat lagi kalau di gauli tiap malam.
    terus saya minta di ceraikan tapi suami saya gk mau menceraikanku.
    bagaimana caranya agar saya bisa pisah sama suamik?

    Jika suami tidak pernah menunaikan perintah agama, lalu anda juga tidak boleh taat kepada Allah dengan berhijab, ditambah lagi anda tidak kuat setiap malam digauli,. maka anda boleh saja menggugat cerai ke pengadilan,.
    Biar pengadilan yang memutuskan, anda minta khulu, kembalikan mahar yang dulu diberikan oleh suami,.

  6. Assalamualaikum wr.wb.

    Saya seorang istri yang sudah menikah 15 tahun lamanya, dan mempunyai 2 orang anak. Selama menikah, suami hanya bekerja beberapa tahun saja, dan sudah hampir 6 tahun ini suami sudah tidak bekerja dan sama sekali tidak memberi nafkah. Saya sudah banyak besabar, tapi dengan semakin besar anak dan kebutuhan hidup semakin meningkat, sehingga saya sudah tidak sanggup lagi menanggung beban ini.
    Salahkan saya menginginkan perpisahan dengan suami ?

    Tetapi suami tidak mau bercerai, dia selalu berkata kasihan anak. padahal anak-anak pun sudah tidak respek melihat ayahnya tidak bekerja. Dan kami selalu bertengkar sehingga mengganggu perkembangan anak juga.

    Saya merasa pernikahan ini sudah tidak sehat, dan apabila dilanjutkan malah banyak mudharatnya.
    Bagaimana caranya agar suami dapat mengerti dan mau berpisah ?

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
    Anda datang saja ke pengadilan agama dan mengajukan gugat cerai (khulu), nanti pengadilan yang memutuskan,. dan suami tidak bisa rujuk jika terjadi perceraian dengan jalan khulu

  7. Asalamualaikum,,,
    saya mau tanya,hukum nya bagaimana klo seorang istri sudah berkata kasar terhadap suami.
    dan suami merasa kesal sehingga harus mengeluarkan kata2 kasar juga.
    terus si istri minta cerai langsung,,,hukum nya gimana ya.

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Istri tersebut wajib bertaubat,. tidak selayaknya berkata kasar kepada suaminya,.
    Istri wajib berbakti dan taat pada suaminya, melebihi bakti dan taatnya pada ortu si istri,.
    Beranikah istri berkata kasar kepada orangtuanya? tentu tidak berani, bahkan takut terhadap kutukan orangtua, atau dicap sebagai anak durhaka,..
    Nah, seharusnya kepada suami lebih takut lagi,.
    Ingat,.. mayoritas penghuni neraka itu adalah para wanita,.
    Apa sebabnya? karena durhaka kepada suaminya,..

    Jadi,. minta maaflah kepada suami, jangan berkata kasar kepada suami, jika suami bersalah, nasehati dengan cara yang paling baik,.
    Melalui suami, istri bisa masuk surga, bisa juga masuk neraka, silahkan baca ulasannya disini

    Cerai itu baru sah jika suami yang menyatakannya, bukan istri yang mengatakan,.
    Sejuta kali istri mengatakan cerai,.. itu ga akan pernah jatuh, tapi satu kali suami mengatakan kata cerai, maka sah, jatuh talaknya

  8. Assalualaikum..

    Saya mau berkonsultasi mohon di bantu jawaban untuk pertanyaan saya

    Saya berpisah dgn suami saya pada februari 2015, setelah 7bln tidak serumah dia masih tetap mengirim uang untuk menafkahi saya dan anak saya dgn biaya 5jt/bln.
    Setelah itu karna dia tidak pernah pulang  akhir.a saya dtg ke kota.a untuk bertemu dan memberi keputusan kepada.a, dan saya berkata “kalau memang kamu gk pernah pulang lagi lebih baik kita pisah, dan kalau saya pulang saya akan urus surat cerai”
    Lalu dia menjawab “kalau mamang itu mau kamu saya turutin tapi kalau keinginan saya pribadi saya tidak ingin menceraikanmu atau berpisah dgn kamu”

    Setelah september 2015 (9bln yg lalu) saya memberikan.a keputusan lalu bulan berikut.a nominal nafkah sudah berubah menjadi 3jt untuk anak itupun tidak rutin..dan sampai saat ini uang itupun masih saya makan (gunakan untuk biaya makan saya)
    Dan sampai saat ini saya sama sekali belum mengurus surat cerai..

    jika dihitung sampai saat ini saya pisah ranjang 18bln dan tdk pernah berhubungan intim.

     Mohon di bantu jawabanan apakah saat ini saya masih sah sebagai istri.a dalam hukum agama islam?? Atau tidak.

    Wassalam..

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    Dari pemaparan ibu diatas, ibu masih sah sebagai istrinya,..

    Cerai itu ada di tangan suami, bukan ditangan istri, jadi ibu wajib berbakti pada suami, mentaatinya,..

    Ngga ada alasan ibu berpisah atau minta cerai,

    Apa alasan ibu pisah ranjang,

  9. Assalualaikum..

    saya cuma mau tanya,,
    didalam hati mengucap cerai, tetapi tidak sampai mulut mengucap…
    apakah ini termasuk jatuh talak…
    intinya tidak mengucapkan… tetapi hanya didalam hati
    terimakasih,,,
    Wassalam..

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Tidak jatuh, jika belum diucapkan,.
    Tapi akan jatuh jika diucapkan walaupun tanpa niat

  10. Assalamu’alaikum.

    Beberapa Artikel telah saya baca bahwa istri tdak bisa menceraikan suami meski berkali-kali mengucap kata cere.
    Saya punya masalah..seblum mnikah saya prnah mnjalin hbngan pcaran dngn mntan pacar saya dan sempat ingin menikah namun karena ketidak mauan ortu sayapun berpisah dngnnya.
    2 thun kmdian saya bertemu seorang wanita yg benar-benar sayang saya,,namun dia tau tntang mantan pcar. Dan saya mmilih tuk mnkh dngnnya.

    Sebulan berjalan pernikahan..dia selalu ingin membahas tntang mntan pacar saya..krna sudah mnikah saya sellu terbuka semuanya.
    setiap harinya istri saya mulai memikirkan mntan pcar saya…mulai terjdi pertikaian dlm rmh tngga nmun saya berusaha meredahkannya.
    suatu ktika dia pergi kluar kota..mulai trjadi pertikaian..dan istri saya bersumpah d hadapan Al-Qur’an ingin bercerai dan tdak mau melanjutkan hbngan.

    3 hari kemudian saya menghubunginya supaya baikkan.
    Alhamdulillah dia mau baikan dan berhubunan baik sprti biasa.
    Prtanyaannya: apkah telah terjadi perceraian karena bersumpah d hadapan al Qur’an..???

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Cerai itu ada di tangan SUAMI, walaupun istri melakukan seperti itu, itu belum jatuh cerai, karena bukan suami yang menjatuhkannya,.

    Berbeda misalkan istri minta cerai, lalu suami mengabulkan permintaan si istri tersebut, itu baru cerai,.

    Sebaiknya anda tutup rapat-rapat kisah masa lalu dengan pacar anda, jangan dibuka, justru anda wajib bertaubat dari pacaran tersebut, benci mengingat-ingat masa lalu, bukan malah diceritakan ke istri anda,.

  11. Asslamualaikum
    Saya sudah menikah 15 tahun dan belum dikaruniai seorang anak . dan sudah berikhtiar ( berobat ) kemana mana .

    Suami saya memiliki 2 adik perempuan yang keduanya sudah menikah lebih dari 6 tahun juga belum ada yang memiliki keturunan.

    Salah satu adiknya bahkan sudah menikah dua kali hingga bercerai 2 kali juga tidak memiliki keturunan .

    Saat ini Suami saya ingin menikah lagi karena mengharap ada keturunan dari perempuan lain .

    Saya tidak pernah menentang poligami karena itu ada didalam AlQuran dan sunnah .

    Apakah berdosa jika saya mengikhlaskan suami saya menikah lagi tetapi meminta cerai kepadanya .

    Dengan alasan karena saya tidak bisa memberikan dia keturunan , alasan lain yaitu saya tidak ingin saya menjadi dzolim ketika menjalani poligami , banyak rasa iri , dengki ,cemburu yang tak tercontrol takut berakibat akan banyak pertengkaran yang justru rumah tangga tidak sakinah mawadah warahmah. saya tidak mau d menjadi istri yang seperti itu .

    Dan suami saya menginjinkan saya meminta cerai bahkan tanpa pertengkaran sama sekali .

    mungkin karena ikatan kami yang dekat sehingga ini dimusyawarahkan dari hati ke hati .

    Awalnya suami tidak menyetujui jika harus bercerai , namun karena alasan saya tadi maka akhirnya beliau menyetujui perceraian dan akan kami proses bersama .

    Saya ingin menanyakan :
    Dosakah saya dengan meminta cerai ini ?

    Apakah Allah mengampuni saya ?

    sedangkan Allah tidak menyukai perceraian
    Setelah perceraian ,apakah ada kesempatan saya untuk mendapat syurga dengan makin mendekatkan diri padaNya ? Mohon pencerahan ..

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah
    Itu bukan alasan syar’i ibu meminta cerai, justru takutnya ibu terkena ancaman diharamkan aroma surga bagi istri yang meminta cerai tanpa alasan syar’i

    Seharusnya ibu dukung suami, tetap mencintai suami, tetap menjadi istri yang berbakti pada suami..

    Cemburu, pasti ada ibu, jangankan ibu, istri Rasulullah, wanita yang cerdas dan dijamin masuk surga, Aisyah merasa cemburu hingga memecahkan piring yang dibawa oleh istri rasulullah yg lain..

    Cemburu itu berarti tanda cinta, hanya jangan berlebihan,

    Justru ibu bisa berkompetisi dgn istri muda suami, ibu perbagus akhlak ibu,pelayanan ibu,..

    Mudah2an dgn hal tersebut Allah masukan ibu ke dalam surga dari pintu mana saja yg ibu sukai..

    Tidak ada jaminan setelah bercerai ibu bisa lebih konsen mendekatkan diri pada Allah,

    Justru kesempatan itu lbh terbuka saat ibu menjadi istri, bkn setelah bercerai

    Ibu bisa fokus mendekatkan diri pada Allah, karena suami yang mencari nafkah, isrti diam di rumah menunggui istana suami,

    Jadi ibu, jangan sia-siakan kesempatan tersebut, baca postingan ini

    Ibu katakan ikhlas suami menikah lagi tapi ibu minta cerai,
    Ini adalah pengakuan yang saling bertolak belakang,

    Jika ibu ikhlas, maka ibu dukung suami,dan tidak meminta cerai karena suami menikah lagi,

    Justru bantu suami, kalau bisa ibu sendiri yang mencarikan calon istrinya, tidak mengapa koq bu,

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*