Bias-Bias Kebahagiaan Dalam Keluarga Besarku

Banyak anak itu merepotkan! Begitulah pendapat kebanyakan orang. Demikian pula pendapat ibu-ibu di lingkunganku tinggal. Dalam pandangan mereka, kala melihat anak-anakku bertengkar, menangis berebutan mainan ataupun makanan, dipandang sebagai suatu hal yang memalukan. Tapi bagiku tidak, walau tidak berarti pula aku bangga dengan keadaan yang seperti itu.

Pertengkaran anak-anak adalah normal, namanya juga anak-anak. Bahkan kalau mereka tak bertengkar malah itu suatu kelainan Bagaimana tidak, seorang anak yang hanya bengong saja saat mainannya diambil kakaknya, berarti tidak punya respon untuk membalas ataupun mempertahankan mainannya.

Anak-anak bertengkar bukan suatu yang buruk, karena dari pertengkaran itu mereka jadi tahu arti berdamai. Juga ketika berebut mainan ataupun makanan, mereka jadi tahu yang mana hak mereka, dan mana yang bukan. Tapi itu semua juga tergantung bagaimana kita selaku orangtua mengarahkan mereka.

Bertengkar, berebut mainan, itu adalah dunia anak. Bagaimana kalau cuma satu anak? Tentunya hanya itu-itu saja yang ada. Dari pengamatan di lingkunganku tinggal, ada beberapa orang yang hanya punya satu anak. Ada yang beralasan trauma dengan melahirkan yang sulit, beralasan takut tidak terurus, dan juga ada yang beralasan nanti kalau sudah berhasil dan punya rumah baru punya anak lagi. Ada lagi yang bilang bahwa satu saja sudah repot, apalagi banyak?

Namanya juga pendapat masing-masing orang, tapi yang jadi prinsipku, banyak itu lebih bagus daripada satu. Aku pernah merasakan waktu baru punya anak satu, waktu dibawa neneknya pergi,… rasanya sepi, apalagi kalau diambil yang punya… yang di atas sana…, terbayang seperti itu.

Memang banyak anak itu repot, tapi kalau dihitung secara matematis satu anak satu pahala… bagaimana dengan banyak anak? Memang tidak gampang mengurus banyak anak, dan tidak semudah membalik telapak tangan kita mendapatkan surga Allah subhanahu wata’ala.

Pada kehamilan anakku yang keempat, banyak pertentangan juga dari keluargaku sendiri, dan juga orang lain yang sebenarnya tak perlu diurusi. Ada juga tetangga yang tanya, “Habis ini mau nambah lagi Mbak…?!” Tentu saja aku jawab, “Ya… Insya Allah subhanahu wata’ala.” Alhamdulillah beberapa waktu kemudian aku hamil lagi anak yang kelima, dekat memang jarak kelahirannya dengan anak yang keempat, yang belum genap satu tahun dan juga belum bisa jalan. Banyak omongan keluar dari A sampai Z, tapi aku tak perduli. Anak adalah karunia Allah subhanahu wata’ala, satu amanah yang banyak menjanjikan pahala di sisi-Nya.

Sejak sebelum menikah aku sudah suka dengan banyak anak. Pertama karena itu sunnah Nabi, kedua karena aku dari keluarga besar pula. Pertama kaena itu sunnah Nabi, kedua karena aku dari keluarga besar pula, aku anak ketiga dari enam bersaudara. Latar belakang keluargaku, tak begitu mengenal agama. Kami hanya tahu shalat saja. Itu pun anya ikut-ikutan. Satu hal yang jadi impianku saat itu, membangun keluarga besar di atas dien yang benar.

Dan Alhamdulillah kini keluarga besar itu kudapatkan. Aku mendapatkan suami yang shalih, yang tahu tentang agama dan bisa mengajari aku dan anak-anakku. Mereka masih kecil tapi sudah tahu tentang shalat, doa-doa dan semacamnya. Terbayang kalau mereka sudah besar dan benar-benar mengamalkan ilmu agamanya. Betapa indahnya.

Aku selalu berdoa semoga kemudahan diberikan pada keluarga kami, dicukupkan rezeki kami, dan agar anak-anakku menjadi sehat, shalih dan shalihah.

Jujur saja, memang repot mengurus banyak anak, namun alhamdulillah aku tidak terlalu kerepotan. Suamiku banyak membantu, juga ibu mertuaku. Walaupun kadang terjadi salah paham di antara kami, tapi masih dalam batas normal. Kukatakan normal, karena aku juga harus maklum dengan keadaannya yang sudah tua, sehingga kesehatan dan kemampuannya sudah banyak berkurang. Salah paham dengan mertua, ternyata bukan aku saja yang mengalaminya. Banyak wanita ataupun ibu-ibu yang mengeluhkan soal hubungan mereka dengan mertua, dan kebanyakan sama persoalannya.

Satu hal lagi kendala punya banyak anak yang ditakuti orang, yaitu soal pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, yang  juga kualami, namun aku tak takut menjalani. Rezeki masing-masing orang sudah ada yang mengatur. Pernah suatu ketika aku hanya punya uang Rp. 1200,00 saja, sedangkan suamiku tidak ada pekerjaan di tempat kerjanya. Pertolongan Allah subhanahu wata’ala pun datang tak disangka-sangka. Besoknya suamiku dapat kerja dari tempat lainnya, dan juga ada yang berbaik hati menyedekahkan sebagian hartanya untuk kami. Dari situ aku selalu optimis bahwa masing-masing orang sudah punya rejekinya sendiri-sendiri, dan kalau sudah rejekinya tidak akan kemana-mana, tapi kalau memang belum rejeki kita, memang harus sabar. Bersikap qana’ah adalah kunci utama untuk bersabar.

Kini, aku tinggal menghitung hari saat-saat kelahiran anakku yang kelima. Gundah juga pada saat hamil tua ini. Suamiku berencana akan pergi jauh untuk menuntut ilmu dan aku harus bisa mengurus sendiri anak-anakku jika ditinggal pergi. Antar jemput sekolah yang lumayan jauh, sempat jadi bahan pikiranku. Bagaimana kalau anakku lahir di jalan saat aku menjemput sekolah kakak-kakaknya? Aku hanya tawakal saja, pasti ada jalan keluarnya.

Alhamdulillah suamiku tak jadi berangkat … lega rasanya. Keempat anakku lahir ditunggui ayahnya, dan itu satu hal yang membahagiakan. Bagaimana jadinya jika kelahiran anakku yang kelima ini tak ada ayahnya di sisinya. Semua kuserahkan kepada yang di atas, karena hanya kepada-Nya aku memohon pertolongan dan kemudahan.

Terbayang lagi rasanya melahirkan, sakit memang … Tapi aku harus kuat, karena itu sudah menjadi kodrat wanita.

Dulu sewaktu aku masih bekerja di rumah bidan, banyak kujumpai berbagai macam bentuk kesakitan karena proses persalinan. Ada yang cepat lahir … dan ada juga yang lama. Aku yang merasakan kesakitan satu hari satu malam, si bayi mungil baru bisa keluar. Rasa sakit dan sedih akan lebih terasa, bila ternyata si kecil tidak bisa terselamatkan.

Alhamdulillah, sudah empat kali aku melahirkan, dan Allah subhanahu wata’ala selalu memberikan kemudahan kepadaku. Semoga kelahiran anakku yang kelima demikian juga. Setidaknya sekian banyak proses kelahiran yang kutemui, alhamdulillah aku termasuk mudah dalam melahirkan … walaupun sakitnya tak tertahankan.

Untuk saudaraku muslimah … jangan takut punya banyak anak. Anak adalah ladang amal kita, walaupun memang tidak mudah menjalaninya. Untuk itu, kita harus tetap berusaha semampu kita. Insya Allah, banyak anak akan membawa nikmat.

Dinukil dari majalah Nikah vol. 6, No.5, Agustus 007

0 thoughts on “Bias-Bias Kebahagiaan Dalam Keluarga Besarku

  • Desember 6, 2010 pada 6:30 pm
    Permalink

    alhamdulillah,lega setelah membaca artikel ini.karena belakangan ini sy merasa kesulitan mengurusi anak2 sy yg msh kecil,sedangkan sy sedang mengandung anak ke 4.semoga allah swt memberikan kami kemudahan tuk membina keluarga yg bahagia dunia akhirat,ammiin.trims

    Mudah-mudahan Allah membalas segala jerih payah ibu,
    Ibu rumah tangga adalah tugas yang sangat mulia
    Ditangan seorang ibu tercetak generasi-generasi tunas bangsa,
    Ditangan seorang ibu tercetak para ulama
    Ya, ditangan seorang ibu,…bukan ditangan pembantu yang kurang ilmu, sementara sang ibu memberikan ilmunya kepada orang lain, anaknya sendiri dididik oleh pembantu,…

    Terkadang terbalik memang, sang ibu mengejar gelar hingga S1,S2, atau S3
    Tapi bukan untuk anaknya, untuk orang lain,..
    Anaknya dididik oleh pembantu yang mendapat gelar SD negeri 1 atau SMP negeri 1

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *