Di Balik Perayaan Hari Kelahiran Nabi

Dan pada saat ummat Islam memasuki bulan Agung atau bulan Rabi’ul Awwal kelahiran manusia agung nan suci kembali terbayang, terkenanglah kita akan jasa-jasa beliau shalallahu ‘alaihi wasallam yang luar biasa. Ummat manusia menyambut gembira, dan mereka sangat amatlah patut untuk berbahagia, sebab yang diperingati adalah rahmat terbesar dari Allah Ta’ala yang dipersembahkan kepada segenap alam semesta.

Inilah dampak dari perayaan/peringatan yang hanya dilakukan setahun sekali. Hanya pada bulan itu saja kita ingat kepada Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Setelah bulan itu Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam kita lupakan dengan sepinya kembali Masjid-masjid/Surau-surau/Langgar-langgar.

Padahal kalaulah kita mau selalu mengangungkan dan mengingat beliau, maka seharusnya kita memakmurkan Masjid/Surau/Langgar setiap hari dengan mengkaji dan memperdalam isi dan kandungan Al-Qur’an/Hadist-hadits yang shahih dengan pemahaman para sahabat.

Sehingga terciptanya generasi yang kaffah dalam menegakkan kebenaran Islam. Bukan semata-mata acara seremonial, dengan menutup jalan, bahkan dengan arak-arakan yang menyusahkan pemakai jalan lain dan menghamburkan uang yang tidak sedikit, sementara sebagian besar umat Islam Indonesia hidup berada dibawah kemiskinan.

Padahal Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam, hanyalah berkata bahwa Aku berpuasa pada hari kelahiranku. Bukankah beliau bisa mengumpulkan orang di Masjid untuk membuat kegiatan pada tanggal 12 Rabiul Awal dimaksud. Akan tetapi hanya shaum pada tiap hari Senin. Ini menandakan bahwa kita harus selalu mengingat amalan kita setiap saat, bukannya setahun sekali dengan jor-joran dan setelah itu hanya tinggal kenangan dan pada umumnya pada acara Maulidan tersebut yang terjadi bukannya kegiatan menjadi tuntunan, akan tetapi hanya sebagai tontonan belaka. Naudzubillahi Tsumma Naudzubillahi Min Dzalik.

Dan jelas acara merayakan Ulang Tahun hanya mengikuti cara-cara Nasrani.

Lihat saja sekarang Ceramah Agama dibarengi dengan acara nyanyian-nyanyian, walaupun katanya nyanyian itu berbau Islam.

Akan tetapi dalam beberapa Hadist Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam melarang kita bernyanyi dalam bentuk apapun.

Inilah bukti bahwa pengaruh Nasrani dan Hindu sudah melekat ditubuh umat Islam. Ditambah lagi banyaknya orang Islam yang tidak suka Islam, sehingga walaupun kita di Indonesia ini mayoritas, akan tetapi bagaikan buih di Samudra atau bagaikan bebek-bebek yang mudah diatur oleh penggembalanya.

Dan ketahuilah dalam Surah Al-Baqarah ayat 120 Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ( surat al baqarah : 120 )

Tak akan suka orang Nasrani dan Yahudi hingga kita mengikuti cara-cara dan ajaran mereka. Mereka berkata kalian boleh menjalankan kegiatan keagamaan kalian tapi cara-caranya sepertiku.

Semisal boleh buat acara pengajian, tapi ditambah nyanyian dan musik. Boleh berjilbab, tapi yang ketat dan dengan model-model yang merangsang (ala Selebriti).

Boleh shalat, tapi tonton dulu Siaran langsung berita-berita terbaik yang pada umumnya disiarkan langsung dan dipandu oleh penyiar-penyiar yang mengaku beragama Islam dan dihadiri pula oleh para tokoh yang bukan saja beragama Islam, akan tetapi sebagai tokoh di atas nama lembaga Islam (PERHATIKAN SAAT SESAAT SUDAH AZAN MAGHRIB, Diberbagai stasiun TV Full dengan siaran berita siaran langsung dan ada wawancara dengan tokoh Islam.

Bahkan sesudah dikumandangkannya azan Subuh, masih ada Siaran Langsung Ceramah Subuh diberbagai Stasiun TV (apalagi di Bulan Ramadhan dengan berbagai Siaran Langsung yang dipandu dan dihadiri oleh orang yang mengaku beragama Islam).

Bahkan pada siang hari Jum’at mereka buat film-film yang disukai para penonton dengan tujuan agar kita tak berangkat ke Mesjid. Dan banyak Stasiun TV yang juga buat film/sinetron pada saat Maghrib, sehingga membuat kita lalai untuk melaksanakan Shalat. Akan tetapi semua tokoh-tokoh yang katanya berjuang atas nama Islam bungkam seribu bahasa.

Agama hanya dijadikan alat mencari uang dan kekuasaan.

APALAGI ADA KELOMPOK ISLAM LIBERAL YANG BENAR-BENAR MERUSAK IMAN DAN AQIDAH, BAHKAN MERUSAK AKHLAK UMAT ISLAM DENGAN PENYIMPANGANNYA SECARA TERANG-TERANGAN KEPADA AL-QUR’AN DAN HADIST RASULLULLAH shalallahu ‘alaihi wasallam

Inikah yang diajarkan Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam??

Seperti seseorang diperbolehkan menabuh rebana dihadapan Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dikarenakan nazarnya. Jika bukan karena nazar, maka Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam melarangnya, : seperti tertera dibawah ini, Bahkan ada suatu hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Abu Daud, dan Ahmad diceritakan, bahwa tatkala Raulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tiba dari sebuah peperangan, seorang budak wanita berkulit hitam datang menemui beliau membawa rebana sembari berkata, “Duhai Rasulullah, aku telah bernazar, jika Allah Ta’ala mengembalikan dirimu dalam keadaan selamat, aku akan menabuh rebana dan menyanyi dihadapanmu,” maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Jika engkau telah bernazar, tunaikanlah nazarmu, Jika tidak, jangan.”.

Dan tentang ziarah kubur, yang kami tahu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam hanya memperbolehkan perjalanan jauh (musafir) untuk mengunjungi 3 tempat, yakni Masjidil Haram; Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha.

Dan kami belum menemukan Hadist (baik yang dhaif apalagi yang shahih), menerangkan bahwa Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menyengaja berziarah ke kuburan Orangtua beliau, dan Sanak Keluarga lainnya, juga Siti Khadijah dan para Sahabat yang lebih dahulu wafat ketika Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam masih hidup.

Bahkan Khalifaturraasyidin juga tidak ada riwayatnya menyengaja bepergian untuk berziarah ke makam Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Misalkan Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu karena berada di Makkah lalu mengajak sahabat-sahabat lainnya untuk berziarah ke makam Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam di Madinah. (JIKA ADA HADISTNYA DAN RIWAYATNYA MOHON KAMI DIBERITAHU).

Anehnya dizaman kini berziarah itu berkali-kali, bahkan menjadi kewajiban setahun sekali.

Dan mendatangi kuburan-kuburan tertentu seperti ke Cirebon, Tuban, Banten, Gersik, Mbah Priuk dan lain-lain untuk meminta barakah dan yang aneh-aneh lainnya dilestarikan dan bahkan jadi ajang bisnis para Ustadz/ah dan sekelasnya.

Dan dibilang ini sebagai tradisi yang Islami???

Bukankah ini bid’ah yang benar-benar sesat, akan tetapi kata mereka ini bid’ah hasanah dengan berbagai dalil yang dhaif.

Tidak ada tidak ada satu hadistpun dari Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang minta agar kuburannya diziarahi, akan tetapi ada beberapa orang yang dijuluki sebagai Ulama kita, sebelum ajal berpesan agar kuburannya untuk sering diziarahi oleh para murid-muridnya dan umat Islam lainnya.

Aneh bin aneh…

Bahkan para pelaku bid’ah ada yang mengadakan pengajian berhari-hari di rumah dan kuburan.

Yang jelas-jelas dalil Al-Qur’an dan Hadistnya kami belum pernah baca (JIKA ADA MOHON KAMI DIBERITAHU, MUNGKIN KAMI BELUM MENEMUKANNYA, maklum kami masih dalam taraf belajar).

Dan menurut pendapat kami pengajian dikuburan dan dirumah itu hanyalah semata akal-akalan para Ustadz kala itu yang malas bekerja keras dikarenakan menganggap dirinya kaum Priyayi, sehingga hadist yang berbunyi :

عن أنس رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (العبد إذا وضع في قبره وتولي وذهب أصحابه، حتى إنه ليسمع قرع نعالهم، أتاه ملكان….)

Dari Anas radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau bersabda : “Seorang hamba (yang mati) baru saja diletakkan dikuburnya dan ditinggalkan oleh keluarganya, hingga ia ia mendengar langkah kaki sandal mereka (yang sedang beranjak pulang), yang kemudian dua orang malaikat mendatanginya…” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1338, Muslim no. 2870, Abu Dawud no. 3231, dan yang lainnya].

Maka agar malaikat tak kunjung datang, mayyit harus ditunggu dan dingajiin supaya dia dapat tuntunan dalam menjawab pertanyaan malaikat.

Dan untuk itu keluarga mayyit harus mengeluarkan dana untuk biaya dimaksud, maka selamatlah para kaum Priyayi yang malas bekerja itu untuk makan dan minumnya selama 40 hari, dengan harapan hari-hari berikutnya ada yang meninggal lagi, maka amanlah perut dan kantongnya.

Dan pada setiap saya melihat acara tersebut, sang Ustadz selalu berkata bahwa kegiatan pengajian, tahlil dan talqin ini bukti nyata seorang anak soleh yang berbakti pada Orangtuanya dengan menyebutkan berbagai dalil yang kita tak tahu keshahihannya sebagai alat rujukan untuk menyatakan itu sudah sesuai dengan ajaran dan tuntunanNya.

Padahal untuk acara tersebut, anak terpaksa menjual sebagian tanah peninggalan orangtuanya atau utang sana sini demi menjaga tradisi yang dibuat-buat oleh kaum bid’ah.

Dan tinggallah keluarga yang ditinggal kian terpuruk, padahal sudah seharusnya kewajiban kaum muslimin untuk melindungi para anak yatim.

Akan tetapi yang terjadi para Ustadz dan sejenisnya itu bergembira/berbahagia di atas penderitaan orang lain.

Kita ambil lagi sebagian dari kalimat :

Dan hal yang saya paparkan diatas , yaitu tentang perbuatan Umar radhiyallahu ‘anhu membuat sholat tarawih berjama’ah, tidak dikatakan sebagai bid’ah,

نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” (HR. Bukhari no. 2010)

Pembagian bid’ah semacam ini membuat sebagian orang rancu dan salah paham. Akhirnya sebagian orang mengatakan bahwa bid’ah itu ada yang baik (bid’ah hasanah) dan ada yang tercela (bid’ah sayyi’ah).

Sehingga untuk sebagian perkara bid’ah seperti merayakan maulid Nabi atau shalat nisfu Sya’ban yang tidak ada dalilnya atau pendalilannya kurang tepat, mereka membela bid’ah mereka ini dengan mengatakan ‘Ini kan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah)’.

Padahal kalau kita melihat kembali dalil-dalil yang telah disebutkan di atas baik dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun perkataan sahabat,  semua riwayat yang ada menunjukkan bahwa bid’ah itu tercela dan sesat.

Oleh karena itu, perlu sekali pembaca sekalian mengetahui sedikit kerancuan ini dan jawabannya agar dapat mengetahui hakikat bid’ah yang sebenarnya.

Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa ‘Umar bin Al Khaththab pernah menyatakan bahwa shalat tarawih yang dia hidupkan adalah “sebaik-baik bid’ah”? Dari perkataan beliau ini menurut mereka, ada bid’ah hasanah (yang baik).

Sanggahan: Ingatlah para sahabat tidak mungkin melakukan bid’ah. Yang dimaksud dengan bid’ah dalam perkataan ‘Umar adalah bid’ah secara bahasa Arab yang berarti sesuatu yang baru.

Jika ada yang masih ngotot bahwa tidak semua bid’ah sesat, ada di sana bid’ah yang baik (hasanah), maka cukup kami katakan: Kalau ‘Umar menghidupkan shalat tarawih dan beliau katakan sebagai bid’ah, hal ini ada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melaksanakan shalat tarawih di awal-awal Ramadhan. Namun karena takut amalan tersebut dianggap wajib, maka beliau tidak menunaikannya lagi. Jadi, intinya ‘Umar memiliki dasar dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sekarang, apa maulid Nabi memiliki dasar dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana shalat tarawih yang dihidupkan oleh ‘Umar[?] Jawabannya tidak sama sekali. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah merayakan hari kelahirannya, begitu pula para sahabat, tabi’in, dan para imam madzhab tidak ada yang merayakannya. Sehingga maulid tidak bisa kita sebut bid’ah hasanah. Yang lebih tepat maulid adalah bid’ah madzmumah (tercela) sebagaimana yang dikatakan oleh Asy Syuqairiy dan Al Fakihaniy yang telah kami sebutkan dalam tulisan sebelumnya.

Wahai Saudaraku, setahu kita bahwa Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga sudah pernah menjadi Imam Shalat Tarawih, akan tetapi hanya 3 malam saja beliau lakukan. Dan selanjutnya di Imami oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Dengan alasan takut kalau shalat tarawih akan dianggap sebagai shalat yang diwajibkan. Ini berarti bahwa pada masa Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam hidup, shalat Tarawih sudah dilaksanakan berjama’ah. Dan ada riwayat dari Sahabat radhiyallahu ‘anhum :

“Kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari. Kemudian beliau mendatangi kami lalu memberi nasehat yang begitu menyentuh, yang membuat air mata ini bercucuran, dan membuat hati ini bergemetar (takut).” Lalu ada yang mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا

“Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasehat perpisahan. Lalu apa yang engkau akan wasiatkan pada kami?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud dan Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

Jadi dimana letak bid’ahnya shalat tarawih??

Karena itu juga pernah dilakukan ketika Rasulullah hidup, terlebih lagi para sahabat sudah mendapat rekomendasi melalui haditsnya, “Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. “

Ini namanya bukan bid’ah dikarenakan adanya pernyataan Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam…

Wahai Saudaraku, jikalah kita bilang bahwa kita sangat cinta kepada Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan kita sangat menginginkan Surganya ALLAH, maka sudah barang tentu para Sahabat, Tabi’in, Tabit-Tabi’in, Imam yang empat serta Imam yang hidup dizaman mereka adalah orang yang sangat mencintai Allah dan orang-orang yang mentaati apa yang disampaikan oleh RasulNya, ketimbang kita ataupun para Ulama/Ustadz dan sejenisnya yang hidup jauh setelah zaman mereka.

Dan apalagi para Sahabat yang hidup dizaman Rasullullah dan Khalifaturraasyidin sudah barang tentu akan banyak melakukan Ibadah dan kegiatan yang menurut mereka amat baik, dikarenakan Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan langsung mengomentari apakah yang mereka perbuat itu sudah sesuai ketentuan Allah dan RasulNya atau tidak. Dan banyak Hadist lahir merupakan kegiatan para Sahabat yang didiamkan, dikoreksi atau tidak diperbolehkan oleh Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam setelah mendapat petunjuk dari Allah ta’ala.

Akan tetapi para Ulama/Ustadz yang hidup setelah abad kelima Hijrahlah yang banyak memberi dalil dan ajaran-ajaran tambahan dalam bentuk bidah dengan diberi bungkus sebagai bid’ah hasanah.

Dimana pada masa itu kejahilan dan kemunafikan serta berbagai paham sesat sudah kian merajalela dan pemerintah serta penguasa yang menjalankan dan berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadist Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam kian langka, dimana kekuasaan dan uang sudah menjadi kiblat dalam kehidupan dunia.

Lalu timbullah berbagai pendapat untuk melaksanakan perintah agama secara instant dan gampang dengan pahala yang jumlahnya belipat-lipat sehingga lahirlah berbagai fatwa ini baik dan itu baik.

Padahal baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah dan RasulNya, sesuai dengan Firman Allah ta’ala dalam Surat Al-Kahfi ayat 103, 104 dan 105 yang intinya menyatakan ORANG MERUGI ADALAH ORANG YANG TELAH SIA-SIA BERBUAT BAIK MENURUT VERSINYA SENDIRI DAN PERBUATAN BAIK ITU TIDAK SESUAI AYAT-AYAT ALLAH SWT, SEHINGGA HAPUSLAH AMALAN MEREKA.

Karena banyak sekarang amalan-amalan kita yang tidak ketemu Hadist dan dasarnya di Al-Qur’an, kecuali semata-mata hanya ITU KAN BAIK, INI KAN BAIK.

Yang kita tahu, lebih gampang menyadarkan orang berbuat maksiat ketimbang orang berbuat bid’ah.

Karena orang yang berbuat maksiat, Dia begitu yakin bahwa yang dia buat adalah perbuatan salah, akan tetapi dia sudah keenakan mengerjakannya.

Dan orang yang berbuat BID’AH tidak menyadari perbuatannya itu salah, karena Ia hanya beralasan Inikan sudah dijalankan dari Ulama-ulama/Ustadz/Orangtua-orangtua kita terdahulu dan toh ini baik untuk nambahin pahala, sementara Nash Al-Qur’an dan Hadist tak ada yang mendukung.

Demikian saja dulu dari Saya hamba yang dhaif, mudah-mudahan tanggapan ini dapat didiskusikan, sehingga kita benar-benar menjadi penghikut setia Rasullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan termasuk satu golongan (Ahlus Sunnah) yang terbebas dari kesesatan.

Menjadi orang yang mengikuti jalan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya (salafush sholih) inilah yang selamat dari neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan; satu golongan masuk surga, 70 golongan masuk neraka. Nashrani terpecah menjadi 72 golongan; satu golongan masuk surga, 71 golongan masuk neraka. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, umatku akan terpecah menjadi 73 golongan; satu golongan masuk surga dan 72 golongan masuk neraka. Ada sahabat yang bertanya,’Wahai Rasulullah! Siapa mereka yang masuk surga itu?’ Beliau menjawab, ‘Mereka adalah Al-Jama’ah‘.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, dishahihkan Syaikh Al Albani). Dalam riwayat lain para sahabat bertanya,’Siapakah mereka wahai Rasulullah?‘ Beliau menjawab,‘Orang yang mengikuti jalan hidupku dan para sahabatku.‘ (HR. Tirmidzi)

Dan banyak golongan yang mengaku sebagai Ahlussunnah Waljama’ah, akan tetapi kurafat, syirik dan bid’ah masih dijalankan.

Wallahu a’lam…

Mudah-mudahan bermanfaat

Sumber tulisan diambil dari komentar blog ini ( Hidayat ), dengan beberapa tambahan dan koreksi

12 thoughts on “Di Balik Perayaan Hari Kelahiran Nabi

  • Januari 19, 2012 pada 11:09 pm
    Permalink

    Assalamualaikum WR Wb,

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Kalau toh peringatan Maulid Nabi diisi dengan ceramah agama di masjid, ini menandakan bahwa umat sekarang mendengarkan ceramah hanya pada acara itu saja. padahal “ngaji: tau mencari ilmu itu harus dilakukan setiap saat.

    Sebenarnya bukan isi dari peringatan maulid itu yang lebih pokok sih, tapi ritual tahunannya, trus dihubung-hubungkan dengan kematian Rasulullah, jadilah ritual tersebut seperti hari raya,
    kalau mau ngaji sih tinggal buat aja acara pengajian, terlepas dari hari meninggalnya rasulullah atau siapapun,

    Satu yang pingin saya dapatkan ustad, tolong jelaskan mengenai Barzanji, asal muasal dan artinya. Kata orang ada isinya yang menyesatkan.

    Tentang barzanji, silahkan baca disini

    Atau bisa baca disini
    Atau dengarkan audionya disini

    Syukron, Wassalamualaikum wr.wb

    Afwan, wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Balas
  • Januari 23, 2013 pada 5:27 am
    Permalink

    bagaimana dgn syubhat ini mas,
    http://www.deleted/wahabi-merayakan-haul-ngusaimin.html?m=1 ana butuh jawaban yg jelas

    Terimakasih mas jhony
    Jika ada perbuatan penguasa yang bertentangan dengan ajaran rasulullah, maka bukan berarti ajaran rasulullah itu yg sesat, atau pemahaman salaf yg tidak benar,
    Banyak kok perbuatan penguasa yang menyelisihi ajaran rasulullah,
    Tentang perayaan haul masyaikh ahlussunnah, itu juga para ulama tentu sudah menasehati penguasa, dan menasehati penguasa itu dilakukan 4 mata, dan tidak dipublikasikan ttg nasehatnya, jika penguasa menerima, alhamdulillah, jika penguasa menolak, maka kita sdh menyampaikan nasehat

    Demikian pula apa yg dilakukan pemerintah saudi yang mana mereka menyokong dakwah salafus shalih, para ulama banyak disana, kenapa kok merayakan haul? ini bukanlah sebagai dalil bolehnya perayaan haul,.

    Itu semua adalah perbuatan penguasa, nanti mereka yg akan dimintai pertanggungan jawab dihadapan Allah,
    Kewajiban kita, taat kepada penguasa dalam hal yg bukan maksiat, dan tidak membeberkan aib penguasa ditengah2 masyarakat, apalagi di indonesia, apa manfaatnya buat pemerintah saudi? apakah dgn dibeberkan perbuatan tsb di indonesia,lantas bisa berpengaruh kpd pemerintah saudi?? tidak sama sekali, padahal saudi begitu gigih mendakwahkan dakwah salafus shalih,

    Ketika jaman sahabat masih hidup pun pernah ada penguasa yg melakukan kemaksiatan, bahkan membunuhi para ulama, bukankah itu bukan ajaran salafus shalih, apalagi perbuatan penguasa spt perayaan haul,.. lalu apa sikap para sahabat kala itu??? mereka tetap taat, tidak membeberkan aib penguasa, tidak memberontak,.. tetap bersabar dengan kemaksiatan yg dilakukan penguasa, bahkan mendoakan kebaikan untuk penguasanya

    Balas
    • Januari 24, 2013 pada 9:04 pm
      Permalink

      kalau wahabi melakukan haul tidak kamu sesatkan. kamu bidahkan.
      gimana sih ? tapi kalau kelompok lain langsung kamu hujat

      terimakasih mas pauji, saya mau tanya, apa sih definisi wahabi yg anda pahami??

      Balas
    • Januari 30, 2013 pada 12:49 pm
      Permalink

      assalamualaikum warah matullahi wabarakatuh,

      Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

      terima kasih atas penjelasan nya.syubhat2 sprt ini atau yg semisal sering di gunakan oleh ahlul bid’ah dlm berdiskusi

      Balas
  • Januari 24, 2013 pada 3:05 am
    Permalink

    Assalamualaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    afwan kok enggak nyambung ama judulnya? afwan ya?

    ngga nyambung ya, sebenarnya nyambung, di paragraf awal saja sih, setelahnya pemaparan yg mudah2an bisa mencerahkan,

    Balas
  • Januari 29, 2013 pada 6:54 am
    Permalink

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan; satu golongan masuk surga, 70 golongan masuk neraka. Nashrani terpecah menjadi 72 golongan; satu golongan masuk surga, 71 golongan masuk neraka. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, umatku akan terpecah menjadi 73 golongan; satu golongan masuk surga dan 72 golongan masuk neraka. Ada sahabat yang bertanya,’Wahai Rasulullah! Siapa mereka yang masuk surga itu?’ Beliau menjawab, ‘Mereka adalah Al-Jama’ah‘.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, dishahihkan Syaikh Al Albani). Dalam riwayat lain para sahabat bertanya,’Siapakah mereka wahai Rasulullah?‘ Beliau menjawab,‘Orang yang mengikuti jalan hidupku dan para sahabatku.‘ (HR. Tirmidzi)

    Siapakah al Jama’ah itu ? apakah antum (berdiri sendiri), atau ana (berdiri sendiri) atau sekelompok/group dan siapakah orang-orangnya/nama kelompoknya ?…kalau dahulu kaum muhajirin dan anshar (surah At Taubah ayat 100) nah kalau sekarang siapa ya..? sehingga ana mau bergabung.
    Dijawab atau ndak dijawab ana ucapkan terimakasih, Jazakallahu Khoiron.

    Terimakasih mas Surya,
    Tentang apa arti jamaah, sudah pernah saya posting, silahkan baca disini
    Dalam surat attaubah ayat 100 sendiri sudah jelas,. siapa mereka sekarang ini? mereka adalah orang-orang yang mengikuti kaum anshar dan muhajirin (sahabat) dengan kebaikan,. merekalah orang-orang yang mengikuti pemahaman para sahabat/salafus shalih,

    Alhamdulillah taklim-taklim yang mendakwahkan islam berdasarkan pemahaman para sahabat sudah sangat banyak bertebaran di negeri ini, dimanakah anda tinggal? barangkali saya bisa memberi tahu tempat taklim yg dekat dengan tempat tinggal anda,
    Jazakallahu khairan,

    Balas
    • Januari 30, 2013 pada 1:40 am
      Permalink

      Ya Ustadz,
      Di kota Sidoarjo. Dimanakah kami bisa bersilaturahim bersama saudara-saudara jama’ah ?

      Alhamdulillah di sidoarjo juga sudah ada kajian yang menyampaikan dakwah salafus shalih ini, silahkan anda pilih sendiri waktu dan tempatnya,
      silahkan klik link ini

      Balas
      • Januari 30, 2013 pada 6:55 am
        Permalink

        Terimakasih Informasinya, semoga saya bisa berjama’ah dan memperoleh ilmunya di salah satu masjidnya Insya Allah.

        Setelah saya baca artikel yang di link, saya temukan :

        “Kesimpulannya, Al Jama’ah adalah bersatunya umat pada imam yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah. Dan jelas bahwa persatuan yang tidak sesuai sunnah tidak disebut Al Jama’ah yang disebut dalam hadits-hadits” (Al I’tisham 2/260-265, dinukil dari Fatwa Lajnah Ad Daimah 76/276)

        terimakasih mas, penjelasan diatas itu adalah imam /pemimpin,
        coba baca sebelum kalimat diatas, saya copaskan disini
        Hadits-Hadits Tentang Al Jama’ah

        Untuk memahami makna Al Jama’ah, mari kita simak beberapa hadits yang memuatnya.

        Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

        أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

        “Ketahuilah sesungguhnya umat sebelum kalian dari Ahli Kitab berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan. 72 golongan di neraka, dan 1 golongan di surga. Merekalah Al Jama’ah” (HR. Abu Daud 4597, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abi Daud)

        Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

        عليكم بالجماعة ، وإياكم والفرقة ، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد .من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة .ن سرته حسنته وساءته سيئته فذلكم المؤمن

        “Berpeganglah pada Al Jama’ah dan tinggalkan kekelompokan. Karena setan itu bersama orang yang bersendirian dan setan akan berada lebih jauh jika orang tersebut berdua. Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah surga, maka berpeganglah pada Al Jama’ah. Barangsiapa merasa senang bisa melakukan amal kebajikan dan bersusah hati manakala berbuat maksiat maka itulah seorang mu’min” (HR. Tirmidzi no.2165, ia berkata: “Hasan shahih gharib dengan sanad ini”)

        Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

        ستكون بعدي هنات وهنات، فمن رأيتموه فارق الجماعة، أو يريد أن يفرق أمر أمة محمد كائنا من كان فاقتلوه ؛ فإن يد الله مع الجماعة، و إن الشيطان مع من فارق الجماعة يركض

        “Sepeninggalku akan ada huru-hara yang terjadi terus-menerus. Jika diantara kalian melihat orang yang memecah belah Al Jama’ah atau menginginkan perpecahan dalam urusan umatku bagaimana pun bentuknya, maka perangilah ia. Karena tangan Allah itu berada pada Al Jama’ah. Karena setan itu berlari bersama orang yang hendak memecah belah Al Jama’ah” (HR. As Suyuthi dalam Al Jami’ Ash Shaghir 4672, dishahihkan Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shahih 3621)

        Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

        من رأى من أميره شيئا يكرهه فليصبر عليه فإنه من فارق الجماعة شبرا فمات ، إلا مات ميتة جاهلية

        “Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai dari pemimpinnya, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang keluar dari Al Jama’ah sejengkal saja lalu mati, ia mati sebagai bangkai Jahiliah” (HR. Bukhari no.7054,7143, Muslim no.1848, 1849)

        Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

        والذي لا إله غيره ! لا يحل دم رجل مسلم يشهد أن لا إله إلا الله ، وأني رسول الله ، إلا ثلاثة نفر : التارك الإسلام ، المفارق للجماعة أو الجماعة ( شك فيه أحمد ) . والثيب الزاني.والنفس بالنفس

        “Demi Allah, darah seorang yang bersyahadat tidak lah halal kecuali karena tiga sebab: keluar dari Islam atau keluar dari Al Jama’ah, orang tua yang berzina dan membunuh” (HR. Muslim no.1676)

        Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

        من مات مفارقا للجماعة فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه

        “Barangsiapa yang mati dalam keadaan memisahkan diri dari Al Jama’ah, maka ia telah melepaskan tali Islam dari lehernya” (HR Bukhari dalam Tarikh Al Kabir 1/325. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ 6410)

        Makna Al Jama’ah

        Secara bahasa, makna Al Jama’ah adalah:

        الجماعة هي الاجتماع ، وضدها الفرقة ، وإن كان لفظ الجماعة قد صار اسما لنفس القوم المجتمعين

        “Al Jama’ah artinya perkumpulan, lawan dari kekelompokan. Walau terkadang Al Jama’ah juga artinya sebuah kaum dimana orang-orang berkumpul” (Majmu’ Fatawa Ibni Taimiyah, 3/157)

        Namun dalam terminologi syar’i, para ulama menjabarkan banyak definisi sesuai dengan banyaknya hadits yang memuat istilah tersebut.

        Sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu, menafsirkan istilah Al Jama’ah:

        الجماعة ما وافق الحق وإن كنت وحدك

        “Al Jama’ah adalah siapa saja yang sesuai dengan kebenaran walaupun engkau sendiri”

        Dalam riwayat lain:

        وَيحك أَن جُمْهُور النَّاس فارقوا الْجَمَاعَة وَأَن الْجَمَاعَة مَا وَافق طَاعَة الله تَعَالَى

        “Ketahuilah, sesungguhnya kebanyakan manusia telah keluar dari Al Jama’ah. Dan Al Jama’ah itu adalah yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala” (Dinukil dari Ighatsatul Lahfan Min Mashayid Asy Syaithan, 1/70)

        Siapakah Imam yang dimaksud ?, apakah di Sidoarjo Sudah ada namanya atau di Indonesia sudah ada, dimana beliau tinggal ?? Mohon tanggapan.

        Imam yang dimaksud bukanlah imam kelompok tertentu, tapi imam yang mempunyai kekuasaan,bukan imam jamaah pengajian,imam kelompok spt LDII,HTI,
        kalau di indonesia imamnya adalah presiden, jika presiden RI mewajibkan kita untuk berbaiat, maka kita wajib berbaiat kepadanya,

        jadi di sidoarjo tidak ada imam yang seperti itu,.

        Balas
      • Januari 31, 2013 pada 2:07 am
        Permalink

        “Terimakasih mas, penjelasan diatas itu adalah imam /pemimpin,”……..kalau di indonesia imamnya adalah presiden, jika presiden RI mewajibkan kita untuk berbaiat, maka kita wajib berbaiat kepadanya,

        jadi di sidoarjo tidak ada imam yang seperti itu,.”

        Berdasarkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

        عليكم بالجماعة ، وإياكم والفرقة ، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد .من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة .ن سرته حسنته وساءته سيئته فذلكم المؤمن

        “Berpeganglah pada Al Jama’ah dan tinggalkan kekelompokan. Karena setan itu bersama orang yang bersendirian dan setan akan berada lebih jauh jika orang tersebut berdua …………. (HR. Tirmidzi no.2165, ia berkata: “Hasan shahih gharib dengan sanad ini”)

        Lha Kalau Presidennya saja menghadiri peringatan Maulid Nabi …. juga memberikan sambutan, lantas bagaimana ?
        Apakah saya, anda, dia, kami, kita, mereka tidak termasuk Al Jama’ah ?

        Jadi untuk apa kita saling berdebat beragumentasi berbantahan kepada sesuatu yang tidak jelas. Bukankah tujuan akhir hidup ini ialah bertemu dengan sang pencipta. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

        Jika presiden RI mewajibkan rakyatnya berbaiat, maka kita sebagai orang islam yang mentaati perintah Allah dan rasulnya wajib berbaiat,
        terlepas kemaksiatan yg dilakukan oleh pemimpin tersebut mas,

        Allah tidak akan memintai pertanggungjawaban kepada kita tentang pemimpin kita,.justru kita yg akan dimintai pertanggunganjawab bagaimana sikap kita kepada pemimpin/penguasa,

        Pemimpin itu bukanlah orang suci,bukan orang yang terbebas dari kesalahan,.
        Ingat jaman dahulu, dijaman sahabat, pernah dipimpin oleh penguasa yang dzalim, dimana penguasa tersebut membunuh para ulama, apakah pemimpin seperti itu sesuai dengan quran dan sunnah?? and mungkin kenal dengan namanya, hajjaj bin yusuf,

        Pada saat itu para sahabat masih hidup, apa sikap para sahabat? apakah mencabut baiat mereka?? tidak,. mereka tetap berbaiat, taat kepada pemimpin tersebut, tidak memberontak, dan bersabar atas perlakuan pemimpin tsb,

        Balas
      • Januari 31, 2013 pada 3:29 am
        Permalink

        Tanggapan pada Kutipan #4,

        Ya Ustadz, Kok jawaban anda presiden sih !!!!, mana ada presiden sekarang berdasarkan Alquran dan Assunnah ???? tidakkah UUnya yang dipergunakan berdasarkan rapat manusia ??

        Maksudnya jika presiden indonesia mewajibkan berbaiat, maka kita wajib berbaiat, .. itu yang dimaksud imam dalam hal kepemimpinan, bukan imam jamaah tertentu, sebab jika ada imam lebih dari satu, maka imam yang lain harus dibunuh, imam yang dibaiat itu cuma satu saja, berbeda dengan yang ada di indonesia, banyak yang mengaku sebagai imam yang harus di baiat,.

        Kenapa kok jawaban anda bukan Alim Ulama A atau B atau C atau Dst. yang dijadikan Imam ???

        Berarti anda tidak membaca secara teliti, sehingga anda membawakan kesimpulan yg diatas, itu maksudnya imam yang mempunyai kekuasaan,.
        Kalau ulama, itu juga termasuk imam, alim ulama juga,. beda dengan imam yang wajib dibaiat, imam yg wajib dibaiat adalah jika dia menjabat sebagai pemimpin/penguasa, lalu mewajibkan rakyatnya berbaiat,

        jadi jika yg dimaksud imamnya itu si A,si B, si C , maka utk saat ini tdk ada, imam yg dibaiat,nanti mungkin jika ada daulah islam diatas manhaj nubuwah sdh tegak,

        Padahal sudah jelas kasus kita ini adalah Al Jama’ah (bersatunya umat pada imam yang sesuai dengan kitabullah dan asssunnah) yang dijadikan sebagai pegangan.

        silahkan baca lagi lebih lanjut artikel tsb,. insya Allah sudah sangat jelas

        Perlu anda ketahui, jaman dahulu juga ada imam yang dibaiat, dan perilakunya tidak sesuai dengan quran dan sunnah, tapi para sahabat tetap mentaatinya,.. pada masa siapa? anda mungkin pernah dengar betap kejamnya pemerintahan hajjaj bin yusuf,.

        Balas
      • Januari 31, 2013 pada 9:24 am
        Permalink

        Kutipan # 5

        Ya Ustadz, Berdasarkan yang anda sampaikan dbawah ini :
        “Pada saat itu para sahabat masih hidup, apa sikap para sahabat? apakah mencabut baiat mereka?? tidak,. mereka tetap berbaiat, taat kepada pemimpin tersebut, tidak memberontak, dan bersabar atas perlakuan pemimpin tsb,”

        Jadi kalau presiden/imam yang dibaiat tersebut mengadakan acara Maulid Nabi, Kita akan ikut serta bersamanya dan tidak boleh mengatakan bahwa presiden telah melakukan bid’ah dan tempatnya di Neraka. Apakah begitu ??

        Mohon penjelasan.

        Kita tetap taat kepada penguasa,
        sedangkan jika penguasa menyuruh kita untuk berbuat maksiat, maka kita tidak boleh mentaati dalam kemaksiatan yg diperintahkan tersebut,.
        tapi kita tidak mencabut baiat/ketaatan kita kepada penguasa,.
        Anda tahu tentang kisah imam ahmad bin hambal? dimana penguasa kala itu mengatakan alquran adalah makhluk, dan penguasa ini memaksa rakyatnya agar mengikuti pemahaman penguasa tsb, jika tidak mau maka akan disiksa,bahkan dibunuh,
        Apa yang dilakukan oleh imam ahmad? beliau tetap taat kepada penguasa, tidak memberontak,padahal beliau mampu, mengingat imam ahmad seoarang imam,ulama, yang akan didengar ucapannya oleh ribuan pengikutnya,. beliau tetap taat kepada penguasa, tapi tidak mau mengikuti pemahaman penguasa tsb, yaitu alquran adalah makhluk,. hingga beliau disiksa,dipenjara, bahkan teman2 imam ahmad ada yang tidak tahan, hingga terpaksa menuruti kemauan penguasa, bahkan ada juga yang bertahan hingga dia binasa ditangan penguasa,.

        Jadi perlu di ingat disini, taat kepada penguasa itu dalam hal yang tidak bertentangan dgn syariat,. bukan mentaati ketika disuruh bermaksiat,.
        Mudah2an bisa dipahami,

        contoh dalam hal ini, jika kita disuruh melakukan maulid nabi oleh penguasa, maka kita tidak boleh taat dalam hal ini, tapi ketaatan kepada pemerintah dalam hal lainnya masih tetap kita lakukan, misalkan pemerintah menganjurkan rakyatnya mentaati peraturan lalu lintas,
        Bukan karena pemerintah menyuruh kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syariat,lalu hilang semua ketaatan kita kepada pemerintah,.. ini adalah hal yang keliru,

        Balas
      • Februari 1, 2013 pada 2:09 am
        Permalink

        Lanjutan kutipan #7

        Yang anda sampaikan saya pahami bahwa adalah acara Maulid Nabi itu adalah maksiat dan dilarang untuk dilaksanakan, disamping itu juga perbuatan ini meniru-niru kaum non muslim.

        Dan ketahuilah dalam Surah Al-Baqarah ayat 120 Allah subhanahu wata’ala berfirman :

        وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

        Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ( QS. Al Baqarah : 120 )

        Alhamdulillah, allah memberikan kepahaman kepada anda,
        Betul, maulid itu salahsatunya mengikuti cara2 orang nasrani, dimana mereka merayakan kelahiran nabi isa dgn mengadakan natal, disamping itu mereka juga merayakan diangkatnya nabi isa dgn istilah kenaikan isa almasih, maka ada kaum muslimin yg mengekor kepada mereka dengan mengadakan isra mi’raj,. na’udzubillahi mindzalik dari perbuatan mengikuti cara-cara nasrani, bahkan rasulullah dengan tegas melarang kita menyerupai cara2 orang yahudi dan nasrani

        Syukron. Jazakallahu khoiron.

        afwan, jazakallahu khairan

        Ya Allah Engkau telah menunjukkan jalan yang lurus kepada kami, tidak ada kata yang bisa kami ucapkan kecuali Alhamdulillahirrabil ‘alamien. Ya Allah Ya Malik, Jadikanlah kami ini termasuk golongan al jama’ah itu dan jadikanlah diri kami masuk kedalam golongan 70 ribu itu, ya Salam, ya Wahab. ya Ghafur, ya Rahiem. Allahuma Sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad. Walhamdulillahi rabbil ‘alamien.

        Amiin

        Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *